Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KAIDAH PENULIASAN SOAL PILIHAN GANDA (Oleh : NURIL ANWAR, S.Pd. Dari: Proyek Penulisan Kisi-kisi & Soal UN)

KAIDAH PENULIASAN SOAL PILIHAN GANDA
(Oleh : NURIL ANWAR, S.Pd. Dari: Proyek Penulisan Kisi-kisi & Soal UN)

§ MATERI
§ KONSTRUKSI
§ BAHASA

MATERI:
1. Soal harus sesuai dengan indikator
2. Pilihan jawaban harus homogen & logis.
3.Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar.

KONSTRUKSI
1.Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas
2.Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
3. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.
4. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
5. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
6. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan,”semua pilihan jawaban di atas salah”, atau” semua pilihan jawaban di atas benar”.
7. Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut.
8. Gambar,grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
9.Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

BAHASA:
1. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa indonesia
2. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat
3. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian

CONTOH:
1. Soal harus sesuai dengan indikator
Indikator:
disajikan sebuah kalimat, siswa dapat menentukan sinonim salah satu kata dari kalimat tersebut
Soal:
Kalimat berikut yang menggunakan sinonim kata adalah …
a. Bu ani mendidik anaknya dengan lemah lembut.
b. Orang kaya itu sukses dalam pekerjaannya
c. Adikku adalah anak cerdik dan pandai.
d. Perempuan itu ternyata masih gadis
Soal yang benar adalah:
Sumber daya alam belum dieksploitasi secara optimal.
Sinonim kata eksploitasi pada kalimat di tersebut adalah….

2. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas
Indikator:
Disajikan penggalan cerita siswa dapat mengungkapkan nilai yang terkandung dalam cerita tersebut

Beliau melarang saya naik ke atap rumah untuk bermain layang-layangnpada tengah hari. Menurut nenek, tengah hari adalah saatnya nenek sihir menangkap anak-anak keluyuran, untuk dimakan isi perutnya. Tampaknya nenek sihir sangat lapar pada tengah hari, dan makanan yang sangat disenangi adalah hati segar anak-anak. Sebenarnya saya ingin bertanya tentang nenek sihir, tetapi kata nenek bicara soal itu adalah tabu.
Pengungkapan nilai-nilai yang ada pada penggalan di atas adalah…
a. Nilai sosial budaya
b. Nilai pendidikan
c. Nilai hiburan
d. Nilai moral
kunci : b
(salah)

3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar
Soal:
Puisi berikut yang merupakan karya chairil anwar adalah…
a. Diponegoro
b. Berdiri aku
c. Karangan bunga
d. Gadis peminta-minta
Kunci jawaban: a dan d
Catatan :
Pilihan a atau d seharusnya diganti dengan “doa ibu”

4. Pokok soal tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar
Soal:
majas personifikasi yaitu majas yang mengibaratkan benda mati seolah-olah hidup. Kalimat berikut yang menggunakan majas personifikasi adalah…
a. Nyiur melambai-lambai di tepi pantai
b. Jeritan anak itu memecahkan telingaku.
c. Raja hutan akan keluar dari kandangnya
d. Mukanya pucat pasi bagai bulan kesiangan.
Kunci jawaban : a
Catatan:
Soal yang bercetak miring seharusnya tidak diperlukan.

5. Pokok soal tidak mengandun pernyataan yang bersifat negatif ganda
Soal:
Penggunaan kata depan pada kalimat di bawah ini tidak benar, kecuali…
a. Bekerja lebih baik dari diam.
b. Bandung lebih ramai dari solo.
c. Buku ani lebih tebal daripada buku siti.
d. Cincin daripada ibunya hilang kemarin.
Kunci : c

6. Pokok soal tidak mengandun pernyataan yang bersifat negatif ganda
Penjelasan :
adanya dua kata negatif sperti bukan, tidak, tanpa, kecuali pada pokok soal dapat membingungkan siswa. Siswa akan berpikir terlalu lama untuk memahami masalah pada soal karena adanya pernyataan negatif ganda.

7. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama
Soal:
kalimat berikut yang menggunakan kata umum adalah…
a. Anggrek harganya mahal.
b. Bunga teratai tumbuh di rawa-rawa.
c. Wanita menyukai aroma bunga melati.
d. Pekarangan rumah sederhana itu akan terasa lebih indah bila ditanami bunga.
Kunci : d
Penjelasan
Pilihan jawaban d terlalu panjang sehingga jika diperbaiki menjadi:
rumah itu terasa indah bila ditanami bunga

8. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan yang berbunyi”semua pilihan jawaban itu salah” atau”semua jawaban itu benar
Contoh soal:
kalimat di bawah ini yang menggunakan kata depan secara tepat adalah…
a. Bekerja lebih baik dari diam.
b. Bandung lebih ramai dari solo.
c. Cincin daripada ibunya hilang kemarin.
d. Semua jawaban di atas betul
kunci : d

9. Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka (kronologis)
Contoh soal :
Tabet proyek pengembangan budidaya perkebunan
No.
Unit pelayanan
Areal Dalam Ha
Jumlah
Th.1995
Th.1996
Th.1997
Th.1998
1.
Pelabuhan Ratu
76
412
409
170
1067
2.
Sukanegara
70
432
542
70
1114
3.
Soreang
120
400
440
300
1260
4.
Bayongbong
150
317
703
512
1682
5.
Ciamis
170
273
213
432
1088
6.
200
250
314
487
1251
1251
10. Pilihan jawaban tidak mengulang kata/frase yang bukan satu kesatuan
Contoh soal:
A: have you ever been to bali?
B: yes, ….
Yes, i have been to bali twice.
a. Yes, i have been to bali last year.
b. Yes, i have been to bali since january.
c. Yes, i have been to bali two years ago.
Kunci jawaban : a
Penjelasan:
Seharusnya kata yes dalam pilihan jawaban dibuang

11. Gambar, grafik, diagram dll yang terdapat dalam soal harus jelas &berfungsi
Contoh soal:

Gambar di atas menunjukkan kedudukan matahari, bulan, dan bumi. Peristiwa yang sedang terjadi adalah…
a. Rotasi bumi
b. Gerhana bulan
c. Gerhana matahari
d. Revolusi bumi
Kunci jawaban: c
Penjelasan:
Gambar di atas kurang berfungsi, seharusnya ditambah gambar matahari lengkap dengan kode gambar dan bayangan hitam.

12. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja

Contoh soal:
Majas sering digunakan dalam kalimat. Salah satu kalimat yang menggunakan majas personifikasi adalah….
a. Hari masih pagi, gunung pun berselimut awan .
b. Pekik reformasi menggema di seluruh indonesia.
c. Wajah pemain itu pucat bagai bulan kesiangan.
d. Dewi malam telah keluar dari balik awan.
kunci jawaban: a

Penjelasan:
Soal yang benar:
kalimat di bawah ini yang menggunakan majas personifikasi adalah….

13. Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

Contoh soal:
1. Peribahasa dari pernyataa “hanya orang bodoh sajalah yang terlalu banyak cakap” adalah….
a. Tong kosong nyaring bunyinya.
b. Tukang tidak membuang kayu.
c. Tinggal kulit pembalut tulang.
d. Tepuk sebelah tangan tak ada bunyi.
2. Ungkapan yang searti dengan kunci jawaban soal nomr 5 di atas terdapat pada kalimat…
a. Ia menerima cobaan dengan lapang dada.
b. Orang yang bermulut masis biasanya berbahaya.
c. Dia besar mulut sehingga tidak disuakai teman-temannya
d. Sejak suaminya meninggal dunia, ia menjadi lintah darat
Kunci jawabab: c

14. Rumusan butir soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa indonesia
Contoh soal:
Syakdiyah punya duit rp 20.000,00 dan maula rp 15.000,00. Mereka pengin beli bola voli seharga rp 30.000,00. Sisa duit syakdiyah dan maula adalah….
a. Rp 1.000,00
b. Rp 5.000,00
c. Rp 10.000,00
d. Rp 15.000,00
Kunci : b

Penjelasan:
Bahasa yang digunakan pada rumusan pokok soal tidak sesuai dengan kaidan bahasa indonesia yang baik dan benar.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
Kementerian pendidikan dan kebudayaan
November 2012

SISTEMATIKA
1.Pengantar
2.Strategi Pengembangan Pendidikan
3.Rasional Pengembangan Kurikulum
4.Kerangka Kerja Pengembangan Kurikulum
5.Elemen Perubahan Kurikulum
6.Standar Kompetensi Lulusan
7.Struktur Kurikulum
8.Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
9.Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kurikulum
10.Strategi Implementasi
11.Jadwal

1.Pengantar
PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA
1947 Rencana Pelajaran → Dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai
1964 Rencana Pendidikan Sekolah Dasar
1968 Kurikulum Sekolah Dasar
1973 Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)
1975 Kurikulum Sekolah Dasar
1984 Kurikulum 1984
1994Kurikulum 1994
1997 Revisi Kurikulum 1994
2004 Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
2013 Kurikulum 2013

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Aspek Filosofis
• Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat
• Kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi

Aspek Yuridis
RPJMN 2010-2014 SEKTOR PENDIDIKAN
• Perubahan metodologi pembelajaran
• Penataan kurikulum
INPRES NOMOR 1 TAHUN 2010
Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional: Penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-Nilai Budaya bangsa Untuk Membentuk Daya Saing Karakter Bangsa

Aspek Konseptual
• Relevansi
• Model Kurikulum Berbasis Kompetensi
• Kurikulum lebih dari sekedar dokumen
• Proses pembelajaran
a.Aktivitas belajar
b. Output belajar
c. Outcome belajar
• Penilaian
Kesesuaian teknik penilaian dengan kompetensi Penjenjangan penilaian

STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
* Pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi Efektivitas Pembelajaran (Kurikulum, Guru, ….)
* SD, SMP :Wajar Dikdas 9 Tahun Periode 1994-2012
* SMU: Mulai 2013 Dibahas sendiri
* Lama Tinggal di Sekolah :2-6 jam/minggu

STRATEGI PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN

RASIONALITAS PENAMBAHAN JAM PELAJARAN
• Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran
• Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran [KIPP di AS, Korea Selatan]
• Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat
• Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial

TOTAL NUMBER OF INTENDED INSTRUCTION HOURS IN PUBLIC INSTITUTIONS BETWEEN THE AGES OF 7 AND 14

3. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Permasalahan Kurikulum 2006
• Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya matapelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
• Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
• Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
• Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.
• Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
• Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
• Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
• Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

ALASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

ALASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

ALASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

IDENTIFIKASI KESENJANGAN KURIKULUM

4. Kerangka Kerja Pengembangan Kurikulum

5. Elemen Perubahan

Elemen Perubahan 3

6. Standar Kompetensi Lulusan

Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional—————————————————————–( UU No.20/2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 )————————————————–
Fungsi————————————————————————————————
Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,——————————————————————————————————————————————————————————
Tujuan————————————————————————————————-
* Untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan * * * Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) – RINCI

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) - RINCI

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) – RINCI

GRGRADASI ANTAR SATUAN PENDIDIKAN MEMPERHATIKAN:

 Perkembangan psikologis anak

  1. Lingkup dan kedalaman materi
  2. Kesinambungan
  3. Fungsi satuan pendidikan
  4. Lingkungan
  5. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) – RINGKAS

    STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) – RINGKAS

 

GRADASI ANTAR SATUAN PENDIDIKAN MEMPERHATIKAN;

  1. Perkembangan psikologis anak
  2. Lingkup dan kedalaman materi
  3. Kesinambungan
  4. Fungsi satuan pendidikan
  5. Lingkungan
  6. PERTIMBANGAN DALAM PERUMUSAN SKL
  7. Pertimbangan dalam Perumusan SKL

    Pertimbangan dalam Perumusan SKL

    RUANG  LINGKUP  SKL

  8. RUANG  LINGKUP  SKL

    RUANG LINGKUP SKL

  9. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN SIKAP

    STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN SIKAP+kETRAMPILAN

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN.jpg

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN.jpg

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN.jpg

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN.jpg

Instruction time per subject

Instruction time per subject

 

7D  STRUKTUR KURIKULUM DIKMEN/SMK

ISU KURIKULUM SMK

  • Ujian nasional sebaiknya tahun ke XI sehingga tahun ke XII konsentrasi ke ujian sertifikasi keahlian
  • Bidang keahlian yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan global
  • Penambahan life and career skills [bukan sebagai mata pelajaran]
  • Perlunya melibatkan pengguna [industri terkait] dalam penyusunan kurikulum
  • Pembelajaran SMK berbasis proyek dan sekolah terbuka bagi siswa untuk waktu yang lebih lama dari jam pelajaran.
  • Kesimbangan hard skill/competence dan soft skill/competence
  •  Perlunya membentuk kultur sekolah yang kondusif

 

STRUKTUR KURIKULUM SMK/MAK
Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi

Berdasarkan Permendikna

Berdasarkan Permendikna

***

  • Pendidikan menengah kejuruan berfungsi  a.l. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan para profesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat (PP 17/2010 pasal 76)
  • Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.2

    Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.2

 

CONTOH USULAN STRUKTUR KURIKULUM SMK

BIDANG STUDI KEAHLIAN TEKNOLOGI DAN REKAYASA

8. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR

PROSEDUR PENYUSUNAN KOMPETENSI DASAR BARU

Prosedur Penyusunan Kompetensi Dasar Baru

Prosedur Penyusunan Kompetensi Dasar Baru

9  FAKTOR  PENDUKUNG  KEBERHASILAN  IMPLEMENTASI  KURIKULUM

Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kurikulum.jpg

Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kurikulum.jpg

PENGEMBANGAN GURU

Pengembangan Guru

Pengembangan Guru

SISTEM IMPLEMENTASI KURIKULUM

Sistem Implementasi Kurikulum

Sistem Implementasi Kurikulum

10 STRATEGI IMPLEMENTASI

Kerangka Implementasi Kurikulum

Kerangka Implementasi Kurikulum

Kerangka Implementasi Kurikulum

Kelebihan Alternatif I

  1. Butuh waktu lebih singkat untuk menyiapkan:

-      Buku Teks

-      Pelatihan Guru

-      Administrasi Sekolah

-       Budaya Sekolah

  1. 2.      Memudahkan proses pendampingan karena jumlah kelas masih relatif terbatas
  2. 3.      Dapat dilakukan penyempurnaan untuk tahun berikutnya
  3. 4.      Tidak menyebabkan perubahan ditengah jalan bagi peserta didik karena implementasi dimulai pada awal tahapan jenjang satuan pendidikan
  4. 5.      Tidak mengganggu siswa yang sudah berada pada tahap akhir jenjang satuan pendidikan

 

Jadwal Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013

adwal Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013

adwal Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran

Posted on 12 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah:——————————————————————–
(1) pendekatan pembelajaran,——————————————————–
(2) strategi pembelajaran,———————————————————-
(3) metode pembelajaran;————————————————————
(4) teknik pembelajaran;————————————————————
(5) taktik pembelajaran; dan——————————————————–
(6) model pembelajaran.————————————————————
Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:——
(1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan————————————————————–
(2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1.Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1.Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4.Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
==========
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran

Posted on 12 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT
1. MAKNA BELAJAR DAN MENGAJAR——————————————————
Belajar dan mengajar adalah dua aktivitas yang hampir tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya, terutama dalam prakteknya di sekolah-sekolah. Bahkan apabila keduanya telah digerakkan secara sadar dan bertujuan, maka rangkaian interaksi belajar-mengajar akan segera terjadi. Sehubungan dengan hal ini ada baiknya kedua istilah tersebut untuk dibahas.——————————————————
A. Belajar————————————————————————–
Kita masih ingat bahwa “belajar” pernah dipandang sebagai proses penambahan pengetahuan. Bahkan pandangan ini mungkin hingga sekarang masih berlaku bagi sebagian orang di negeri ini. Akibatnya, “mengajar” pun dipandang sebagai proses penyampaian pengetahuan atau keterampilan dari seorang guru kepada siswanya.
Pandangan semacam itu tidak terlalu salah, akan tetapi masih sangat parsial, terlalu sempit, dan menjadikan siswa sebagai individu-individu yang pasif. Oleh sebab itu, pandangan tersebut perlu diletakkan pada perspektif yang lebih wajar sehingga ruang lingkup substansi belajar tidak hanya mencakup pengetahuan, tetapi juga keterampilan, nilai dan sikap.
Sebagai landasan pembahasan mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, berikut ini kami kemukakan beberapa definisi belajar yang dikemukakan oleh Drs.M.Ngalim Purwanto.MP (1990).—————————————————————–
a) Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975). “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang ( misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya ).”—————————————————
b) Gagne, dalam buku The conditions of Learning (1977). “ Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya ( performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
c) Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978). “ Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.”
d) Witherington,dalam buku Educational Psychology. “ Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yan menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.”
Dari definsi-definisi yang dikemukakan diatas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang merincikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa :
a)Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b)Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman : dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.—————————————————————–
c)Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap; harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lam periode waktu itu berlangsung sulit dtentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Ini berarti kita harus mengenyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung sementara.——-
d)Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: Perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah / berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.——————————————————————————
B.Mengajar————————————————————————–
Pada uraian di atas telah dikemukakan bahwa istilah belajar pernah dipandang sebagai proses penambahan pengetahuan. Senada dengan nuansa penafsiran terhadap belajar seperti itu, maka “mengajar “ pun pernah dianggap sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan. Pandangan demikian membawa konsekuensi logis terhadap situasi belajar –mengajar yang diwujudkan oleh guru, yakni proses belajar-mengajar (PBM) yang terjadi di dalamnya bersifat teacher-centered. Pengajaran menjadi berpusat pada guru mengajar lebih dominan daripada belajar. Guru berperan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa (information givers) atau dengan nama lain sebagai instructor. Oleh sebab itu, sumber belajar yang digunakan, maksimal hanya sebatas apa yang ada diantara dua kulit buku dan empat dinding kelas. Bahkan, banyak diantara mereka yang menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar. Akibatnya, siswa-siswa menjadi individu-individu yang pasif, kedaulatan merekapun pada akhirnya harus tunduk pada kekuasaan guru. Mereka tidak dididik untuk berfikir kritis, berlatih menemukan konsep atau prinsip, ataupun untuk mengembangkan kreatifitasnya. Mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan yang perubahan-perubahannya sangat cepat, bahkan dapat terjadi dalam hitungan detik seperti sekarang ini. Hal ini bisa terjadi pada masa mendatang, karena dengan penerapan konsep mengajar semacam itu, siswa-siswa tidak dididik untuk belajar sebagai manusia seutuhnya, sementara kita berharap agar kelak siswa-siswa menjadi orang-orang yang terdidik, tidak sekedar tersekolah atau belajar.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka mengajar sepantasnya dipandang sebagai upaya atau proses yang dilakukan oleh seorang guru untuk membuat siswa-siswanya belajar. Dalam hal ini guru berupaya untuk membelajarkan siswa-siswanya, dan sebaliknya para siswa menjadi pembelajar-pembelajar yang aktif, kritis dan kreatif. Dengan cara ini interaksi belajar mengajar dapat terjadi, dan pengajaran tidak lagi bersifat teacher-centered, karena telah bergeser pada kontinum pengajaran yang lebih bersifat student-centered. Pertanyaan selanjutnya, yang menggelitik kita selaku guru yang bertugas pada era informasi ini yaitu : Apakah diantara kita yang terlanjur telah menerapkan pengajaran bersifat teacher-centered akan segera berubah kearah student-centered ?——————————————————————
2. MAKNA PEMBELAJARAN——————————————————————
Istilah pembelajaran mengundang berbagai kontroversi diberbagai kalangan pakar pendidikan, terutama di antara guru-guru di sekolah. Hal ini disebabkan oleh demikian luasnya ruang lingkup pembelajaran, sehingga yang menjadi subyek belajar atau pembelajarpun bukan hanya siswa dan mahasiswa, tetapi juga peserta penataran/pelatihan atau pendidikan dan pelatihan (diklat), kursus, seminar, diskusi panel, symposium, dan bahkan siapa saja yang berupaya membelajarkan diri sendiri.
Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatau system atau proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien (Depdiknas,Model pembelajaran IPA SD,2003). Dengan demikian, jika pembelajaran dianggap sebagai suatu system, maka berarti pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran. Sebaliknya bila pembelajaran dianggap sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Proses tersebut dimulai dari merencanakan program pengajaran tahunan, semester, dan penyusunan persiapan mengajar (lesson plan) berikut penyiapan perangkat kelengkapannya antara lain alat peraga, dan alat-alat evaluasi. Persiapan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan guru untuk membaca buku-buku atau media cetak lainnya yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disajikan kepada para siswa dan mengecek jumlah dan keberfungsian alat peraga yang akan digunakan.
Setelah persiapan tersebut, guru melaksanakan kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan mengacu pada persiapan pembelajaran yang telah dibuatnya. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, struktur dan dan situasi pembelajaran yang diwujudkan guru akan banyak dipengaruhi oleh pendekatan atau strategi dan meode-metode pembelajaran yang telah dipilih dan dirancang penerapannya, serta filosofi kerja dan komitmen guru yang bersangkutan, persepsi, dan sikapnya terhadap siswa. Jadi semuanya itu akan menentukan terhadap struktur pembelajaran.—————————————————————————————————————————–
Pengembangan Metode dan Teknik Pembelajaran
Dalam perkembangan di dunia pendidikan Pengembangan Metode dan Teknik Pembelajaran sangat pesat dan para pakar pendidikan pun lebih giat memikirkan metode apa yang akan di gunakan dalam pembelajaran Sesuai dengan cara penggunaannya, metode pembelajaran dikalangan pendidikan diantaranya:————————————-
1.Metode ceramah, inti kegiatannya adalah memberikan orientasi atau penjelasan mengenai suatu definisi, pengertian, konsep, hukum, dan sejenisnya. Metode ceramah akan efektif apabila digabungkan dengan metode lainnya.—————————–
2.Metode demonstrasi, yaitu pengajar melakukan peragaan suatu proses, suatu kerja, keterampilan tertentu, atau suatu penampilan, dihadapan pembelajar.Metode demonstrasi, terdiri atas metode demonstrasi pasif (pembelajar hanya mengamati) dan metode demonstrasi aktif (sebagian pembelajar mencoba mendemonstrasikan kembali). Penggunaan metode demonstrasi aktif dapat mempertinggi retensi dan metode ini sangat sesuai untuk mengajarkan ketrerampilan proses, penampilan, dan kerja.—————-
3.Metode diskusi, dapat diterapkan sebagai diskusi kelas atau kelompok. Diskusi akan lebih baik apabila dilakukan dalam kelompok. Dalam kegiatan diskusi menghasilkan interaksi antara siswa dengan siswa dan gguru dengan siswa—————————
4.Metode tutorial, lebih cenderung sebagai kegiatan melajar mandirii. Bahan ajar diberikan kepada pembelajar untuk dikembangkan. Selama melaksanakan pengembangan bahan ajar, pembelajar diberi kesempatan untuk konsultasi dengan pengajar.————–
5.Metode simulasi, mewajibkan kepada pembelajar untuk melakukan simulasi tentang suatu peran, kegiatan khusus atau ,menggunakan simulator.——————————-
6.Metode praktikum, menitikberatkan pada kegiatan untuk melakukan pengamatan, percobaan, pengumpulan data, yang dilakukan di laboratorium atau ditempat lain yang disamakan dengan laboratorium atau workshop.———————————————–
7.Metode proyek, pada umumnya sama dengan metode praktikum, akan tetapi pelaksanaannya memerlukan perencanaan (proposal) yang mencakup rancangan, penjadwalan, kebutuhan bahan, dan sebagainya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Penggunaan Indikator Kinerja Guru

Penggunaan Indikator Kinerja Guru

Tujuan: Memperkenalkan kepada calon penilai tentang cara menggunakan indikator kinerja sebagai pembanding untuk mengevaluasi kinerja guru.

Bahan: Satu video pembelajaran (SMPN 28 Bandung, Ibu Elis Rosdiawati, Bahasa Inggris); video yang digunakan berdurasi 2 x 10 menit (Segmen 1 dan 2); lembar kerja, lembar evaluasi dan laporan (versi lengkap), RPP tidak diperlukan karena tidak digunakan dalam penilaian di Kompetensi 6.

Kegiatan: Latihan ini fokus untuk melakukan penilaian pada Kompetensi 6:
1.Bacalah pernyataan kompetensi (deskripsi, indikator, dan proses penilaian) hanya untuk Kompetensi 6.
2.Simaklah segmen 1 contoh proses pembelajaran dan buatlah deskripsi/catatan proses pembelajaran yang diamati berdasarkan langkah-langkah dalam proses penilaian.
3.Sampaikanlah hal-hal yang telah dideskripsikan ke depan forum dan tentukanlah apakah informasi yang disampaikan sudah cukup untuk melakukan penilaian dari seluruh indikator atau belum. Bila belum cukup simaklah video segmen ke dua.
4.Lakukanlah penilaian untuk setiap indikator kompetensi dan hitunglah total nilai.
5.Nilai, alasan-alasan pemberian nilai, dan catatan-catatan lain yang dibuat oleh masing-masing peserta kemudian dibandingkan di dalam kelompok, dengan memperhatikan: a) tingkat kepentingan setiap rincian catatan; b) kecocokan antara catatan-catatan tersebut, indikatornya, dan nilai yang diberikan untuk setiap indikator.
6.Bandingkanlah jawaban kelompok dengan model jawaban.

PENGAMATAN

PENGAMATAN

PENILAIAN

PENILAIAN

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s