Three Passover poems shared by three friends

Originally posted on Nexus:

IMG_3869

On the second night of Passover, three Passover poems shared by friends:

The first by Jane Hirshfield:

xxxx

In a Room with Five People, Six Griefs

In a room with five people, six griefs.

Some you will hear of, some not.

Let the room hold them, their fears, their anger.

Let there be walls and windows, a ceiling.

A door through which time

changer of everything

can enter.

A second by Irena Klapfisz:

Bashert These words are dedicated to those who died These words are dedicated to those who died because they had no love and felt alone in the world because they were afraid to be alone and tried to stick it out because they could not ask because they were shunned because they were sick and their bodies could not resist the disease because they played it safe because they had no connections because they had no faith because…

View original 577 more words

15th Amendment

sumberbelajarsmkn10malang:

remember to histories is the great natiom

Originally posted on Nexus:

bhm15thamendmentcelebration

Today is the anniversary of the ratification of the Fifteenth Amendment in 1870, the amendment securing the right of black males to vote, though the word black is not mentioned in the amendment itself.

During Reconstruction, the period right after the Civil War, the Thirteenth Amendment abolishing slavery and the Fourteenth Amendment granting citizenship to all who are born here were ratified. Though the Reconstruction Acts passed by the Radical Republicans in 1867 required confederate states to include black male suffrage in their reconstituted constitutions, the majority of northern states still continued to deny blacks the right to vote. This hypocrisy truly riled the white south.

In 1867, the Republicans’ once large lead over the white supremacist Democratic party was shrinking, threatening a loss of their control of congress. The Republicans felt if they could make sure that blacks could vote in all the states, their hold on power would…

View original 391 more words

PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Agar budaya dan iklim sekolah kondusif dan tercipta harmonisasi kerja, di sekolah perlu dibangun suasana keterbukaan, obyektivitas penilaian, dan tentunya upaya mewujudkan kesejahteraan anggota. Berilah penghargaan yang sesuai untuk guru, karyawan dan siswa yang benar-benar pantas untuk mereka terima sebagai hadiah atas usaha dan hasil kerja mereka. Dengan pendekatan manusiawi, saling asah-asih dan asuh sangat diyakini kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan tercapai dan hal ini akan sangat menunjang pencapaian tujuan sekolah yang telah ditetapkan.

via PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN.

Potensi TIK dalamPembelajaran

Perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas, segala aktivitas, kehidupan, cara kerja, metode belajar, gaya hidup maupun cara berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan TIK harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka mempunyai  bekal  pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari, bahkan bisa juga dikembangkan menjadi kegiatan wira usaha.

Manusia secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa memanfaatkan TIK secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. Siswa yang telah mengikuti dan memahami serta mempraktekkan TIK akan memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk memahami berbagai TIK dan menggunakannya secara efektif. Selain dampak positif, siswa mampu memahami dampak negatif, dan keterbatasan TIK, serta mampu memanfaatkan TIK untuk mendukung proses pembelajaran dan memanfatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semakin banyaknya situs pertemanan seperti facebook, twitter, friendster, dan myspace membuat komunikasi dan saling bertukar informasi semakin mudah. Belum lagi semakin menjamurnya tempat membuat blog gratis di internet seperti wordpress, blogspot, livejurnal, dan multiply. Membuat kita dituntut bukan hanya mampu mencari dan memanfaatkan informasi saja, tetapi juga mampu menciptakan informasi di internet melalui blog yang kita kelola dan terupdate dengan baik. Di sanalah muncul kreativitas menulis yang membuat orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan yang kita buat. Namun sayangnya, kebiasaan menulis dan membaca belum menjadi budaya masyarakat Indonesia, termasuk guru dan siswa di sekolah. Para guru TIK dituntut agar para peserta didiknya mampu memanfaatkan TIK untuk mengembangkan kreativitas menulis.

Pendidikan sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan pembahuruan-pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman. Keberhasilan dalam pendidikan selalu berhubungan erat dengan kemajuan suatu bangsa yang berdampak meningkatnyakesejahteraan kehidupan masyarakat. Pada era teknologi tinggi (high technology) perkembangan dan transformasi ilmu berjalan begitu cepat. Akibatnya, sistem pendidikan konvensional tidak akan mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.

Pendekatan-pendekatan modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu untuk Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu:

Learning to know (belajar untuk menguasai. pengetahuan), Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ), Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat).

Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah.

Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan  TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:

(1) dari pelatihan ke penampilan,

(2) dari ruang kelas ke, di mana dan kapan saja,

(3) dari kertas ke “on line” atau saluran,

(4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, dan

(5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan  dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa.

Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik beajar secara aktif.

Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin popuper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:

(1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,

(2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,

(3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.  Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, video tape, transmisi satellite atau komputer (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).

Saat ini e-learning telah berkembang dalam  berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruc-tion), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dan sebagainya.

Selain e-learning, potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library.  Adanya laboratorium virtual (virtual lab) memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik, tetapi dengan menggunakan media komputer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut.

Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Globalisasi juga membawa peran yang sangat penting dalam mengarahkan dunia pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Sebenarnya, ada empat level pemanfaatan TIK untuk pendidikan menurut UNESCO, yaitu:

Level 1: Emerging - baru menyadari pentingnya TIK untuk pendidikan;

Level 2: Applying – baru mempelajari TIK (learning tom use ICT);

Level 3: Integrating – belajar melalui dan atau meng-gunakan TIK (using ICT to learn); Level 4: Transforming – dimana TIK telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum.

Salah satu bentuk produk TIK yang sedang “ngetrend” saat ini adalah internet  yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.

Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian, maka  pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat  tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama.

Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul “Rebooting: The Mind Starts at School”. Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai “cyber classroom” atau “ruang kelas maya” sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut “interactive learning” atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.

Robin Paul Ajjelo juga mengemukakan secara ilustratif bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini,  akan tetapi berupa:

(1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara,

(2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator, dsb.

(3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV,

(4) alat-alat musik,

(5) alat olah raga, dan

(6) bingkisan untuk makan siang.

Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.

Namun sayangnya, di negeri kita yang kaya ini, dan terdiri dari berbagai pulau, hal di atas masih seperti mimpi karena struktur dan kultur serta SDM guru yang profesional belum merata dengan baik. Di berbagai kota besar seperti Jakarta misalnya, beberapa sekolah maju dan internasional telah mengaplikasikannya, tetapi buat sekolah-sekolah di daerah, mungkin masih jauh panggang dari api dalam mengaplikasikan TIK.

Meskipun TIK dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Terkadang anak-anak lebih senang bermain games ketimbang materi yang diberikan oleh guru. Karena games sangat menarik peserta didik untuk rehat sejenak dari segala pembelajaran yang diterimanya di sekolah. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dan sebagainya.

Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing

Rahasia Kitab Tujuh, Motinggo Busye

Sejak ribuan lebah itu berhasil diusir oleh Pita Loka secara ajaib. Penduduk Kumayan merasa berhutang budi padanya. Tiap hari ada saja di antara penduduk yang datang ke rumah Pita Loka membawa beras, telur, padi, tebu, kelapa, minyak tanah, bahkan uang sebagai ucapan terimakasih Ki Putih Kelabu melihat perubahan gelagat Pita Loka setelah kehadiran tamu-tamu itu. Lalu dia menegur puterinya: “Pita Loka, sikapmu berubah jadi angkuh kepada mereka. Bukankah sikap itu tidak baik?”
“Memang itu saya sengaja, ayah”, sahut Pita Loka.
“Disengaja? Ah itu lebih buruk lagi” ujar Ki Putih Kelabu.
“Tapi akan lebih buruk lagi apabila terlalu saya layani penghormatan mereka. Saya akan
dikultuskan mereka menjadi Manusia Sakti. Padahal saya tidak memiliki apa-apa. Kecuali menjadi manusia biasa”. Ki Putih Kelabu tampak kecewa. Memang hari demi hari, setelah diselidikinya segala tingkah laku Pita Loka, puterinya tidak memperlihatkan perilaku yang ganjil-ganjil. Kembalinya dari Guha Lebah dan pernah termashur karena dianggap berhasil dalam ngelmu, lalu berhasilnya dia mengusir ribuan lebah yang sempat membuat penduduk Kumayan lumpuh dalam sakit dan panik itu, seakan-akan suatu peristiwa “biasa” saja. Yang paling mengejutkan Ki Putih Kelabu dan orang-orang di hari-hari belakangan ini adalah kegiatan Pita Loka mengurus legalisasi sekolahnya. Dia mundar-mandir ke Kakanwil PDK di Kumayan untuk mendaftarkan diri ikut ujian masuk ke SMA yang dibangun didesa itu.
“Kau mau bersekolah lagi, nak?” tanya sang ayah. “Lho, apa itu tak wajar?” tanya Pita Loka pada sang penanya. “Kau akan menjadi cerita dari mulut ke mulut bila bersekolah lagi”, ujar sang ayah, “Padahal di desa kita ini nama keluarga kita sedang naik. Dihormati. Dan terutama kau, sedang disegani”.
Percakapan itu terhenti, karena ada tamu.
“Itu Ki Lading Ganda bertamu lagi, ayah”, ujar Pita Loka, “Jika dia akan bertemu denganku, katakan aku sibukbelajar untuk ujian”.
“Baik”. kata ayah. yang lantas menuju beranda menyambut kedatangan Ki Lading Ganda. Setelah dipersilahkan duduk. Ki Lading Ganda bertanya: “Mana Ki Pita Loka?”
“Ki Pita Loka? Anda menyebutnya dengan Ki dihadapan namanya?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Memang kini, mau tak mau, kita musti mengakui dia sebagai seorang Guru. Jadi pantas dia disebut Ki Pita Loka. Karena dia puteri anda, maka anda menganggap Ki Pita Loka sebagai manusia biasa-biasa saja. Padahal dia salah satu orang sakti di Kumayan ini. menggenapi yang enam. Aku merasa, karena yang enam telah berkurang satu, maka dia setidaknya menggantikan kedudukan Ki Karat untuk menjadi Ketua kita. Jabatan ini kuanggap wajar, dan aku telah merembugkannya dengan tiga harimau Kumayan lainnya”. Ki Putih Kelabu sebetulnya tak dapat mengelak kenyataan yang dikemukakan oleh Ki Lading Ganda ini. Dia tercenung beberapa saat, kamudian berkata: “Dia sulit untuk diajak berunding!” “Memang begitulah watak dari tiap Guru Besar. Puterimu itu Guru Besar, bukan sekedar anak perawan biasa”, kata Ki Lading Ganda. “Tapi bagaimana akalku?” tanya Ki Putih Kelabu. “Panggil dia! Katakan Ki Lading Ganda ingin bicara sebentar dengan Guru Besar Pita Loka yang dia hormati!” Ki Putih Kelabu lalu masuk ke kamar Pita Loka. Memang Pita Loka sedang menghadapi beberapa buku. Pita Loka bertanya: “Sudah pulangkah Ki Lading Ganda ayah?” “Belum. Dia mohon menghadap kau!” “menghadap? Apa saya ini orang berkedudukan tinggi sampai seorang Ki Lading Ganda mau menghadap saya? Ah, katakan aku sibuk, ayah?” Ujar Pita Loka dan mulai menekuni buku Fisika. “Aku telah gagal membujuknya”, kata Ki Putih Kelabu.
“Tapi ini penting. Katakan pada Guru Besar itu, bahwa desa Kumayan sedang terancam. Katakan pada beliau,aku butuh seorang penafsir mimpi. Dan itu tidak lain kecuali Ki Pita Loka”, kata Ki Lading Ganda serius. Setelah memberitahukan pada Pita Loka. barulahah Pita Loka keluar dari kamarnya, lalu menerima tamunya. Sang Tamu, salah seorang dari Enam Harimau Kumayan, menghatur sembah pada Pita Loka. Lalu dia menceritakan mimpinya itu.
“Seorang wanita berpedang emas, menyatakan diri sebagai Ki Ratu Turki, memaklumkan akan menyerang lima harimau Kumayan serta keturunannya. Saya hanya ingin tahu takwil dari mimpi ini”, kata Ki Lading Ganda.
“Sebenarnya yang ahli mimpi itu Guru Gumara”, kata Ki Pita Loka. Ki Lading Ganda maklum, bahwa ucapan Ki Pita Loka itu adalah pengertian lain yang halus, bahwa dia menolak ajakan itu. Tapi dia tidak boleh berkecil hati, selagi hatinya masih menganggap Ki Pita Loka sebagai “Guru Besar”. Dengan kecewa, dia menyatakan pamit. Namun sempat bertanya: “Di mana Guru Gumara sekarang ini?”
“Seingat saya terakhir kali dia berada di Bukit Lebah. Setelah itu saya tidak tahu beliau pergi ke mana”.
“Desa kita semakin aneh. Tiga hari yang lalu ada seorang lelaki compang-camping. Duduk di gardu. Aku menyapanya. Dia diam. Gerak-geriknya memperlihatkan dirinya seorang yang berilmu”.
Ki Pita Loka tertarik, lalu bertanya: “Bapak tidak menanyakan namanya?” Grafity,  “Ada”.
“Siapa namanya?” “Disebutnya Dasa Laksana. Melihat nama begini, aku makin yakin dia orang berilmu, setidaknya sedang ngelmu. Atau menyamar”. “Dia menanyakan sesuatu?” tanya Pita Loka.
“Justru pertanyaannya inilah yang kuanggap ada kaitannya dengan mimpiku itu”, kata Ki Lading Ganda, yang kali ini dipersilahkan duduk kembali oleh Pita Loka. “Apa yang dia tanyakan?” tanya Pita Loka. “Alamat pemilik Kitab Tujuh”, jawab Ki Lading Ganda. “Itu saya baru dengar”, kata Pita Loka. “Tapi apa jawab Bapak?” “Saya tak menjawabnya. Itulah sebabnya saya ke sini. Kau yang telah berhadapan dengan Ki Tunggal, Ki Rotan maupun Ki Ibrahim Arkam, setidaknya pernah mendengar nama Kitab Tujuh itu. Dan pengembara tak dikenal itu minta dengan sopan kepadaku. agar diizinkan mendapatkan sebatang tebu merah di kebun Katib Endah. Kuizinkan saja. Lalu dia numpang tidur di gardu itu.Tapi keesokan harinya dia menghilang. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Ki Ratu Turki yang berpedang, yang mengumumkan akan menyerang Kumayan dan menghabiskan lima Harimau Kumayan serta keturunannya!”
Wajah Ki Lading Ganda berkeringat pertanda dia tak berdusta.
“Semoga saja dalam waktu tak lama, Guru Gumara sudah berada di Kumayan”, kata Pita Loka. “Aku mengusulkan, antara kau dan dia dijalin satu perkawinan yang syah. Supaya desa kita menjadi kuat karena dipagari oleh 7 harimau”, kata Ki Lading Ganda dengan nada memohon. Pita Loka hanya tersenyum simpul. Lalu Ki Lading Ganda melanjutkan: “Perkawinan itu akan direstui seluruh guru di Kumayan, dan, kukira Ayahmu yang terhormat ini. Bukan begitu Ki Putih Kelabu?” dan ditatapnya Ki Putih Kelabu, yang melirik pada Pita Loka.
“Jika memang itu jodoh. tak ada persoalan”. kata Ki Pita Loka jujur.
“Aku berani menyatakannya, karena sebelum Ki Gumara meninggalkan Kumayan, dia berpamitan kepada Lima Harimau di sini, terakhir padaku. Dia menyebutkan, dia minta restu karena akan menjemput Pita Loka dan adiknya, Harwati. Kami menafsirkan, bahwa islilah menjemput kau itu berarti akan melamarmu dan memperisteri anda. Dan Harwati kuanggap sebagai pengiring calon pengantin. Bukankah akan menjadi hebat, keturunan Ki Karat menjalin hubungan darah dengan keturunan Ki Putih Kelabu?” “Baiklah itu kita bicarakan di kemudian hari. Sekarang ini saya akan siap ujian masuk ke SMA. Lebih tiga tahun saya tak menyentuh buku pelajaran sekolah. Hal ini sama pentingnya dengan maklumat penyerbuan Ki Ratu Turki dalam mimpi tuan itu, Tuan Guru Lading Ganda”. Grafity,  “Jadi saya pulang hampa, tanpa membawa takwil mimpi itu?” tanya Ki Lading Ganda.
“Sudah saya anjurkan tuan bersabar sampai kembalinya Guru Gumara”, kata Pita Loka.
“Jika dia tidak kembali?” tanya Ki Lading Ganda. “Kita berpegang pada pepatah nenek moyang saja:
“Musuh pantang dicari, tapi jika datang pantang dielakkan”. Bukan begitu, ayah?” Pita Loka menoleh pada ayahnya, yang kemudian mengangguk-angguk ta”zim…
“Jadi wajar, Ki Putih Kelabu, jika saya menyebut puteri tuan ini sebagai Guru Besar. Guru besar hanya mengurus soal-soal yang besar. Tapi maaf, Ki Pita Loka . . . saya pun tidak bisa memperoleh pengetahuan mengenai Kitab Tujuh?”
“Kitab Tujuh?” Pita Loka kembali bertanya, “Saya malah baru mendengarnya sekali ini, dari anda!
Tidak anda tanyakan perihal Kitab Tujuh itu kepada orang pengembara itu?”
“Rasanya, tidak perlu. Kalau dia mencari kitab itu ke Kumayan sini, itu berarti kitab itu ada di sini”, kata Ki Lading Ganda. Mendengar itu Pita Loka tersenyum. Bahkan memberi jawaban yang secara disengaja mengecewakan: “Biarpun di sini, misalnya, saya tidak tertarik dengan masalah-masalah kesaktian lagi. Lebih seribu hari saya tekun dalam dunia begitu”.
Setelah perginya Ki Lading Ganda, terjadilah pertengkaran. Ki Putih Kelabu mengecam Pita Loka:
“Kau merendah. Kadang, merendah yang berkelebihan sama saja denqan sikap tinggi hati!”
“Itu perasaan ayah. Orang perasa selalu kurang suka berfikir”.
“Kau anggap aku goblok?” tanya sang ayah.
“Memang begitu. Otak ditaruh Tuhan letaknya dalam kepala. Kepala di atas. Dan hati, dalam dada. Letaknya dibawah kepala. Saya ingin penduduk Kumayan ini, termasuk ayah dan Ki Lading Ganda lebih mengutamakan otak dari hati. Biarpun hati berkata begini begitu, tapi yang memutuskan haruslah otak. Di bagian yang tertinggi dari hidup manusia”, kata Pita Loka. Tapi gadis ini menyesal melihat ayahnya murung di sore hari itu. Dan untuk mengobati hati ayah yang luka, malamnya dia suguhi makanan lezat yang ia masak sendiri dengan tekun. Ayahnya berlinang airmata ketika menikmati hidangan malam. Tapi muncul lagi tamu. Lagi – lagi, tamu itu Ki Lading Ganda. Perubahan tampak pada sikap menerima tamu yang diperlihatkan Pita Loka. “Lelaki aneh itu muncul lagi”, kata Ki Lading Ganda.
“Di mana dia?” tanya Pita Loka kaget. “Di gardu itu”.
“Apa katanya?”  “Dia minta padaku, agar dia diperkenalkan pada Ki Pita Loka”, ujar sang guru.
“Ah, saya tak kenal dia”“. ujar Pita Loka berdusta.
“Anda tak kenal manusia yang bernama Dasa Laksana?”
“Baiklah, tapi apa kepentingannya?” tanya Pita Loka.
“Dia akan menyampaikan suatu pesan. Dan itu harus tuan guru sendiri yang mendengarnya”.
kata Ki Lading Ganda. Mendengar ucapan itu, meremang bulu kuduk Pita Loka. Dia lalu bertanya: “Di mana dia sekarang?”
“Masih di gardu” kata Ki Lading Ganda.
“Baik. Saya akan ke sana ”, kata Ki Pita Loka.
“Bersama saya?”
“Tentu. Bersama tuan guru”, kata Ki Lading Ganda. Pita Loka lalu berkata pada ayahnya : “Sebaiknya ayah tak ikut”.
Ki Putih Kelabu tentu merasa kecewa. Pita Loka berjalan dengan langkah tegap bersama Ki Lading Ganda. Menjelang sampai ke gardu, dia melihat begitu banyak anak-anak dan orang dewasa yang berkumpul. Pita Loka memberi isyarat agar mereka menepi. Dan mereka patuh. Yang  didapatinya adalah Dasa Laksana yang tubuhnya amat kotor dengan pakaian hitam compang – camping. Begitu Dasa Laksana melihat kehadiran Ki Pita Loka, dia langsung menyeruduk ke kaki dan mencium jari-jari kakinya seraya berkata: “Ampuni saya, Guru. Saya ke sini sekedar lewat. Dan ingin memberitahukan, bahwa Ki Ratu Turki akan menyerang desa ini secara mengerikan!”
“Siapa dia?” “Anda lebih tahu, Guru!” “Jika anda bertemu dengan dia, pesankan padanya agar dia membatalkan maksudnya sebelum dirinya celaka”, wajah Pita Loka berubah menjadi penuh wibawa karena dipenuhi perasaan sabar yang berjuta. “Dia akan merebut Kitab Tujuh itu”, kata Dasa Laksana lagi. “KITAB TUJUH?” Pita Loka terheran. “Hanya anda yang mengetahuinya. Tapi juga Ki Ratu Turki?”. “Baik. Kalau demikian, kamu akan meninggalkan Kumayan. Silahkan berangkat”. “Tapi saya memohon sesuatu”, kata Dasa Laksana. “Mohonlah pada Tuhan. Jangan pada saya. Saya manusia biasa”, ujar Pita Loka. Ucapannya ini disambut orang-orang dengan dengung suara kagum. Mereka kagum. orang yang mereka kenal sakti, hanya mengaku manusia biasa. Namun telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa dia begitu dihormati, bahkan oleh Ki Lading Ganda yang terkenal sombong itu, yang bertindak jadi pengawalnya malah. Sementara itu, bagai seorang sinting yang jadi tontonan rakyat. Dasa Laksana mengunyah tebu dan pamitan lagi. Secara menyembah di duli kaki Pita Loka. Dia kemudian berlalu diiringi anak-anak dan orang dewasa. Ternyata dia belum meninggalkan Kumayan. Sebab dia pergi ke Bukit Kumayan yang terdiri dari batu-batuan menyan yang memancarkan bau harum menusuk hidung. Batu-batuan menyan itu memancarkan sinar oleh kerlipan pecahan sudut-sudutnya. Beberapa orang mulai meninggalkan dia. Tapi malam itu muncullah Ki Lading Ganda yang menggertaknya: “Hai, bukankah kau mesti pergi dari sini?” Mendengar bentakan Ki Lading Ganda itu, mendadak Dasa Laksana berdiri dengan berkelebat. Dia tampak siap tempur. Keadaannya yang tampak lemah bagai orang sinting, berubah gagah perkasa. “Jangan gertak aku dengan suara bentakmu. Kalau memang aku bersalah, tampilkan golokmu yang terkenal dengan sebutan Lading Ganda itu!” tantang Dasa Laksana. Tapi Ki Lading Ganda menjadi waspada. Dia tak segera naik pitam sebagaimana biasanya. Dia lalu meyakini dirinya, bahwa antara pengembara tak dikenalnya ini, ada hubungan perguruan dengan Ki Pita Loka. Padahal dia sudah menaruh hormat pada Ki Pita Loka. “Saudara Dasa Laksana. Saya heran mengapa anda belum juga meninggalkan Kumayan?” “Karena saya kecewa dengan Sang Guru. Desa ini akan hancur”, katanya.
“Berikan padaku keterangan kehebatan Ki Ratu Turki”.
“Dia memiliki pedang. tapi lebih dari itu dia dia dikawal oleh seorang lelaki dengan ilmu yang amat tinggi”.
“Tahu anda siapa lelaki itu?” tanya Ki Lading Ganda.
“Ki Gumara”.
“Ki Gumara? Jadi dia meninggalkan Kumayan ini untuk bersekutu dengan Ki Ratu Turki itu?”
“Ya. Dua orang inilah yang akan membantai guru saya yang terhormat, sehingga saya harus melaporkannya. Saya sendiri orang hina dina”, kata pengembara kotor menjijikkan itu. “Apa tujuannya menghancurkan desa kami ini?”
“Dia hanya ingin memiliki Kitab Tujuh, yang katanya disimpan oleh Ki Pita Loka. Kalau kitab itu tidak diserahkan, dua-duanya akan melakukan pembantaian besar-besaran terhadap 5 harimau Kumayan tanpa ampunan”.
“Kalau begitu, anda utusan mereka!” tuduh Ki LadingGanda.
“Saya bukan utusan. Jika saya gagal mendapatkan Kitab Tujuh itu, saya akan dipenggal. Saya hanya orang hina yang terancam. Maka saya tidak berani kembali. Tapi jika dalam 7 hari saya tidak kembali, penyerbuan itu akan terjadi”.
Ki Lading Ganda lantas berubah sikap. Dia pun merasa ingin memiliki Kitab Tujuh itu.
“Kalau begitu, jika anda masih di Kumayan ini selama 7 hari berikut ini, anda akan jadi biangkeladi bagi kami. Secara baik-baik, seperti juga gurumu Ki Pita Loka menyarankan, sebaiknya engkau pergi tinggalkan Kumayan ini”.
“Tidak”, bantah pengembara kotor itu. “Kalau begitu anda membangkang atas perintah salah satu penguasa desa ini. Kamu sudah kenal pada saya. Dan apa senjata saya. Hanya karena kamu bekas murid Ki Pita Loka sajalah maka saya tak sudi melakukan kekerasan”.
“Silahkan main keras pada saya”, tantang Dasa Laksana. “Jangan kau panasi hatiku, wahai tamu tak dikenal. Kuulangi perintahku yang tulus, agar anda meninggalkan Kumayan ini sebelum golokku aku cabut!” “Silahkan cabut!” tantang Dasa Laksana. Dalam sekelebatan. Ki Lading Ganda mencabut goloknya yang bermata dua. Dia permainkan senjata saktinya untuk menakut-nakuti lawannya. Kejadian ini disaksikan dari tempat gelap oleh Pita Loka. Ketika pertempuran itu barusan saja akan segera dimulai. Ki Lading Ganda yang sudah melakukan loncatan pancingan, menghunjam langkah berbalik mendengar teriakan dari tempat kelam. “Hentikan, Ki Lading!” seru Pita Loka. Wibawa langkah-langkah kependekarannya segera tampil. Pita Loka membuat Dasa Laksana surut, begitu pun Ki Lading Ganda. “Tuan Guru”, ujarnya pada Ki Lading Ganda.
“Anda tak usah melayani seorang yang ilmunya rendah dan berjiwa laknat. Dia cukup diperlakukan ibarat seekor lalat”. “Guru Besar” Dasa Laksana segera menyungkur diri ke duli jari kaki Pita Loka dan dengan nada berhiba-hiba dia berkata: “Ampuni segala kesalahan saya yang lalu, semasa berguru pada anda. Saya harap, sekarang ini janganlah saya diperlakukan sebagai pengkhianat. Saya ingin bermukim di Kumayan ini hanya untuk mencari keselamatan diri saya dari ancaman Ki Ratu Turki dan pengawalnya Ki Gumara”. “Omong kosong. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup aku tak percaya lagi padamu, Dasa Laksana! Kamu adalah korban laknat binatang-binatang rimba yang pernah engkau bunuh. Percayalah, matimu nanti pun tidak lebih dari matinya seekor binatang yang pernah kau bunuh. Ayo angkat kaki dari desa kami yang telah aman tenteram ini!” bentak Pita Loka dengan nada suara gemuruh. Tentu saja Ki Lading Ganda terkejut atas sikap tegas Ki Pita Loka. Terutama tuduhan blak-blakan pada diri pengembara aneh yang hampir saja dihajarnya. Dan dia lebih takjub lagi ketika melihat pengembara sinting itu segera enyah meninggalkan Bukit Kumayan. Ki Lading Ganda melangkah sopan menghampiri Ki Pita Loka. Lalu bertanya sepertinya seorang murid bertanya pada sang guru: “Ki Guru, apa artinya ini semua?” “Mestinya tuan sudah maklum. Ingat kembali yang tadi diucapkan Dasa Laksana? Saya mendengarkannya di balik semak, sejak tuan guru muncul menemuinya lalu mendengarkan apa ocehannya. Semuanya itu tidak usah dipercayai. Dia hanya datang untuk mengacau perasaan kita semua”. “Tapi Ki Guru Pita Loka”, ujar Ki Lading Ganda mendekat lagi, “Saya rasa ada benarnya jika dia katakan, bahwa Ki Gumara melibatkan diri dengan Ki Ratu Turki”.
Ki Pita Loka terdiam sesaat. Kemudian dia berkata:
“Anda seorang tua. Anda tak usah risau dan kuatir apa yang diperbuat anak-anakmuda. Seorang pendekar dihormati dan pantas dikuatirkan apabila ilmunya tinggi, dan sementara itu usianya dan pengalamannya besar”.
“Maksud tuan guru muda . . . saya tak usah merisaukan berita mengenai Ki Gumara?”
“Pendeknya, dia bukan seperti yang anda duga, Guru Tua”, ujar Pita Loka lalu memberi tanda pamit dengan kedua telapak tangan bersungkem ke arah Ki Lading Ganda. Ki Lading Ganda pulang dengan pikiran kacau. Tetapi, Pita Loka pun mulai jadi bimbang. Ayahnya mengetuk pintu kamarnya. Setelah masuk, dia bertanya: “Di mana-mana warung yang aku kunjungi, malam ini ada kesan penduduk semakin resah. Apa yang diucapkan pengembara fakir itu, kelihatannya mempengaruhi rakyat. Apa pendapatmu?”
“Saya tak punya pendapat”, kata Ki Pita Loka.
“Itu tak baik. Kau lebih mengetahui dari kami. Tapi kau berlagak tenang. Ceritakanlah pada ayahmu, apa sebenarnya yang akan terjadi? Kenapa Kitab Tujuh itu dicari-cari dan bakal menimbulkan bencana?”
Ki Putih Kelabu menjadi geram karena Pita Loka hanya membungkam. Malah dia lebih jengkel ketika Pita Loka berkata: “Saya malam ini belajar. Karena besok akan ujian ekstension “ “Baiklah. Itulah perbedaan ilmuwan dengan pendekar. Ilmuwan sibuk meramu jamu, kendati dunia sekeliling kebakaran dia akan terus meramu jamu. Tapi seorang pendekar akan melempar gelas jamu bila teriadi kehebohan”, kata Ki Putih Kelabu dengan nada mendongkol. Sebenarnya orangtua itu sedang memancing sikap Pita Loka. Dia menganggap, Pita Loka berubah sikap untuk menjadi pelajar sekolah SMA hanyalah untuk menutupi ilmu yang telah dia petik selama 1000 hari dari Bukit Lebah. Yang dia inginkan dari Pita Loka adalah reaksi. Tapi Pita Loka kelihatan tidak perduli. Dia juga tidak perduli ketika bergerombol anak-anak muda yang ikut ujian ekstension SMA menanyakan isyu terancamnya desa Kumayan.
“Itu pekerjaan para pendekar. Kita bukan pendekar. Kita calon pelajar. Pelajar SMA. Buat apa kita sibuk – sibuk. Kita tunggu saja bel ujian berbunyi, lalu siapkan diri untuk menjawab soal-soal”. kata Pita Loka. Ketika bel ujian berbunyi, Pita Loka memasuki lokal untuk ujian. Seluruh calon murid SMA yang mendaftar ada 14 orang, termasuk Pita Loka. Ujian ini diberikan kesempatan oleh Kakanwil untuk mengurangi banyaknya anak-anak muda liar yang suka bergerombol. Tapi Pita Loka tidak sedikit pun memperlihatkan tanda-tanda berpura-pura. Dia tak menunjukkan tanda kependekaran sedikit pun kecuali saat dia mengusir lebah-lebah dulu dan apa yang dia perbuat semalam, sewaktu mengusir Dasa Laksana. Tetapi menjelang bel ujian hari itu berbunyi, seorang penduduk minta ijin pada pengawas ujian untuk menemui Pita Loka. Pita Loka menyelesaikan dua soal lagi, baru kemudian menemui Pak Tenong itu. Dia bertanya:
“Ada apa menemui saya, Pak?”
“Anakku Daim diculik! Apakah bisa membantu?” tanya Pak Tenong.
“Jangan minta bantuan saya. Saya hanya manusia biasa,Pak. Mintalah bantuan Ki Lading Ganda”.
“Dia menyuruh saya ke sini, Ki Pita Loka. Dia katakan, inilah awal dari serangan nyata yang akan dibuktikan Ki Ratu Turki. Anak Rekasa juga diculik. Ada tujuh anak remaja di sini kena culik.”
““Tapi saya lima hari ini menghadapi ujian, Pak. Tak mungkin saya dapat membantu. Maafkan saya”, kata Ki Pita Loka. Orang yang tertimpa musibah itu menangis meratap, berlutut di hadapan Pita Loka. Tapi Pita Loka hanya berkata: “Jangan jadikan saya ini dewa. Sungguh mati , saya tak punya daya kekuatan apa-apa”.
Tapi, hati Pita Loka betul-betul tergugah setelah pada malam harinya muncul Paman Kurukjahi. Dia membawa sepotong tangan buntung dan berkata: “Wahai pendekar muda, apa perasaanmu satelah melihat sepotong tangan ini?”. Tampak darah membersit di wajah Pita Loka, seakan –akan dia tak dapat menahan amarahnya. Tangan itu begitu dia kenal, tangan saudara sepupunya yang paling pandai bermain gitar dan kecapi.
“Karena cincin yang kukenal masih ada di jari tangan ini, aku tahu ini tangan sepupuku Agung Kifli. Di mana tangan ini paman temukan?” tanya Pita Loka dengan mata tak berkejap. Kurujakhi bertanya pula; “Apa perlu kusebutkan tempatnya? Mana yang penting, tangan anakku atau orang yang memotongnya?”
“Kalau begitu saya ditantang”, kata Pita Loka.
“Bukankah sejak beberapa hari ini kau ditantang? Rakyat sudah cemas sejak tersebarnya berita, bahwa bumi Kumayan akan dihancurkan oleh Ki Ratu Turki. Dan aku dengar dia pun bekerja sama dengan anak Ki Karat dari istrinya yang lain, seorang guru yang pernah dihormati !.
Di mana anda berdiri dalam ancaman ini?”
“Saya berdiri di bumi kelahiranku, Paman!”
“Nah, bangkitlah! Ajaklah semua harimau-harimau Kumayan ini, termasuk ayahmu, untuk menyerang musuh terlebih dahulu sebelum kita ditakut-takutinya dengan penculikan dan potong tangan! “ Pita Loka diam.  “Jadi paman menganggap Pedang Turki yang memotong tangan sepupuku?” tanya Pita Loka dengan tatapan mata menantang.
“Ya! Bahkan aku tahu di mana bajingan – bajingan itu bermukim!”
“Paman salah”, kata Pita Loka. “Saya berani menjamin, pedang Turki tidak melakukan pemotongan sekasar ini. Tangan ini ditebas oleh golok yang kasar, ini perbuatan adu domba, supaya kita mendapat kesan bahwa Ki Ralu Turki maupun Guru Gumara adalah pendekar-pendekar kejam. Tidak. Aku tidak percaya bahwa penculikan maupun kekejaman begini dilakukan oleh pendekar kelas satu. Ini kerja pendekar kelas kambing!”
Dan tanpa diduga sedikit pun Pita Loka seakan–akan menjelma menjadi seorang cekatan dengan dua langkah lompatan langsung melocat ke halaman. Pita Loka tidak bersenjata. Dengan tangan kosong seakan – akan dia menjadi angin limbubu yang kecepatan larinya sudah tak dapat dilihat oleh mata lagi. Dan orang tak sempat mengetahui, bahwa dia sudah berlompatan dari dahan ke dahan begitu lincahnya melebihi lincahnya seekor simpai hutan. Dan ketika dia tiba di perbatasan desa Kumayan, menghadap ke Bukit Anggun dia terhenti sejenak. Dia melihat di situ asap api. Pertanda di situ ada sebuah perkampungan. Dia tiba-tiba yakin, bahwa dia harus kesana! Dia yakin, orang yang dia cari pasti ada di desa Anggun. Desa ini tempat pelarian penjahat kotor, bajingan tengik, dan para pendekar yang gagal mengguru karena ingin cepat pandai. Dia tak ingin muncul di desa Anggun ketika hari sudah terang. Dia ingin menyergap musuh yang dicurigainya justru menjelang datangnya pagi hari. Desa Anggun sekelilingnya dipagari oleh belahan bambu, dan dibuat pula selokan –selokan penjebak. Begitu dia memasuki pintu gerbang desa, Pita Loka menyepak pagar itu dengan obrak- abrik bagai orang kesetanan. Beberapa pohon dia terjang hingga roboh. Dan anjing penjaga yang menyeruduk padanya dia terjang dengan tendangan yang mengerikan, anj ing itu bagai terlempar terbang ke bubungan rumah. Dan seluruh desa terbangun. “Aku. Pita Loka dari desa Kumayan, menuntut nyawa satu orang biadab yang sedang aku cari!”
teriak Pita Loka dengan berkacak pinggang. Kebenciannya sudah seleher, tinggal muntah saja lagi . Di sini tak ada kepala desa. Yang ada orang pemberani yang paling banyak membunuh dan paling jahat dan dia diberi gelar Tua Anggun. Nah, Pita Loka dengan sikap agak sabar melihat munculnya Tua Anggun. “Siapa yang tuan cari?” tanya Tua Anggun.
“Kuharap, sebelum matahari terbit, serahkan nyawa dan badan Dasa Laksana. Hidup atau mati,
serahkan 17 remaja yang dia culik dan potong tangannya, termasuk sepupu saya Agung Kifli!”
Suara teriak Ki Pita Loka cukup menggentarkan perasaan Raja Penjahat itu. Dia berkata: “Aku kenal nama tuan guru dari si busuk yang berlindung di sini itu. Kami menamakan dia itu Si Busuk. Diakah yang tuan muda inginkan?”
“Ya. Dia Hidup atau mati!” bentak Pita Loka. Dan dalam sekelebatan Tua Anggun sudah menyeret Dasa Laksana, ketika dia terkulai sehabis semalam suntuk berbuat homoseksual dengan pemuda yang dia culik. Ada tiga yang di potong tangannya karena menolak sanggama itu. Dengan sangat penasaran, begitu Dasa Laksana diserahkan ke hadapan Pita Loka, maka Ki Pita Loka ngamuk dengan tiada belas kasihan. Ketika kepala Dasa menelangsa menghatur sembah. Jari-jari tangan yang menghatur sembah itu disikatnya dengan sabetan sepakan dahsyat…. Dasa Laksana menjerit kesakitan. Dan dia merangkak lagi, menghatur sembah lagi. Ki Pita Loka menyabet lagi dengan sepakan hingga Dasa Laksana melintir, berguling-guling dengan menjerit. Tapi Dasa Laksana nelangsa lagi dengan merangkak. Kali inilah Ki Pita Loka tidak bisa menahan amarahnya. Diangkatnya tubuh Dasa Laksana yang sedang merangkak itu, lalu dia lemparkan kepagar-pagar bambu yang jadi pembatas desa Anggun itu. Pagar itu ambruk, dan tubuh Dasa Laksana terlempar. Seluruh penduduk yang terdiri dari keluarga bajingan – bajingan perampok penyamun pun pada berkeluaran. Tapi Dasa Laksana bagai orang mabuk terhuyung menghampiri Ki Pita Loka lagi. Dia merangkak dan menghatur sembahnya lagi. Matanya melihat pada penduduk,biang kejahatan itu dengan mohon dikasihani. Tapi Ki Pita Loka, tanpa kasihan menyergapnya dengan kedua tangan, mengangkatnya, lalu melemparnya bagai melempar karung basah. Tubuh Dasa menghajar penduduk dan mereka berteriak secara serentak:”Bunuh pendekar sinting itu!”
Saudara sepupu Ki Pita Loka yang bertangan buntung – Agung Kifli – lalu menyergap Pita Loka:
“Ayoh lari, sanak!” “Tidak!”, ujar Ki Pita Loka dengan menebah dada dan berseru kepada penduduk Anggun: “Ayoh siapa yang siap mau membunuh pendekar sinting, mari serahkan nyawa kalian!”
Dalam keadaan mereka ragu, dengan satu putaran gasing gila. Ki Pita Loka menyeruduk dengan melakukan tendangan putaran bertubi-tubi ke arah muka, tanpa pilih bulu, sehingga mereka ambruk satu demi satu. Sungguh suatu perkelahian tunggal yang teramat seru, satu pendekar lawan 40 orang keluarga penjahat. Diantara mereka ada yang pingsan. Bahkan ada yang langsung mati konyol apabila sabetan tendangan lingkar itu tepat mengenai jantung… “Kalian sudah puas dengan kejahatan. Jadi harus dijahati juga,” ujar Ki Pita Loka seraya menyeret tangan kanan Agung Kifli dan berkata lagi: “Ayoh saudara sepupuku kita kembali ke Desa Kumayan. Bawa semua temanmu yang kena culik!”
Tapi secara naluriah, ketika pergulatan sengit Pita Loka menghancurkan penduduk jahat ini, ketujuh belas anak-anak remaja yang telah diculik Dasa Laksana itu telah menyisih ke balik pagar. Sehingga dengan amat mudah mereka digiring ke luar desa Anggun, desa Perampokan itu, mengikuti langkah Ki Pita Loka. Biarpun dirasakan oleh Ki Pita Loka langkahnya biasa, namun bagi ke 17 anak-anak remaja yang malang itu dirasakannya langkah itu amat gesit sekali. Tapi mereka tiada mengeluh dan cengeng. Mereka malah mengira, bahwa Dasa Laksana kelak akan menguntit mereka dan belakang. Semalam suntuk rombongan itu berlalu meninggalkan desa celaka itu. Semua mereka sudah buntung tangan kanannya, digolok oleh Dasa Laksana. Semua mereka justru dikorbankan untuk mempertakuti hati penduduk Desa Kumayan. Dengan dongengnya di gardu peronda di desa Kumayan tempo hari, Dasa Laksana akan memberikan kesan, bahwa ke17 anak remaja yang ia culik dan potong tangannya adalah korban dan pemilik Pedang Ratu Turki. Lalu, cahaya matahari muncul dari Bukit Kerambil. Bukit ini bukit bagian barat dari gugusan bukit-bukit barisan. Diantara anak-anak remaja itu kelihatan ada yang tak kuat lagi berjalan karena tanpa henti berjalan terus sejak diselamatkan Ki Pita Loka. Ada tiga orang yang jatuh pingsan. Ki Pita Loka memperhatikan, siapa yang paling sigap membantu yang pingsan-pingsan itu. Dan dia senang karena diantara yang membantu itu ada saudara sepupunya, Agung Kifli. Ada sepuluh orang semuanya yang pingsan. Dan penolongnya tetap saja, yaitu Agung Kifli dan lima lainnya. Enam orang itu, menurut ruguhan batin Ki Pita Loka, adalah remaja – remaja yang berhati suci. Dia biarkan saja enam anak baik itu berusaha menyadarkan sepuluh anak yang pingsan itu. Diantara yang barusan sadar, cengeng meronta dan berkata: “Kembalikan kami ke Kumayan.” “Kembalikan”, kami ke rumah,” kata yang lain. Seluruhnya sudah sepuluh orang.”
“Siapa diantara kalian yang ingin kembali?”
Satu dua tiga sampai sepuluh. Tapi ada seorang, yang tampaknya bimbang. Dialah yang dipanggil oleh Ki Pita Loka sewaktu matahari telah terbit benderang. Anak itu berusia sekitar 16 tahun. Tegap tapi sikapnya ragu. Tapi dia punya kelebihan dari sepuluh yang lainnya. Lalu, tampil pula anak yang ke 12. Dia tampil dan memperkenalkan dirinya:
“Kakak barangkali tak kenal saya. Saya Rauf, teman Jadim.”
“Jadi kau yang bernama Jadim?” tanya Ki Pita Loka kepada yang peragu.
“Ya. Kak,”
“Jadim dan Rauf akan memimpin rombongan 10 orang ini ke Kumayan.”
“Kami tidak tahu jalan, kak,” kata Rauf.
“Jangan kuatir. Saya akan menolong kalian,” ujar Ki Pita Loka seraya meraih kepala Jadim dan Rauf. Pita Loka meniup ubun kepala anak-anak yang berdua itu setelah memohon dari Tuhan. “Perhatikan telunjuk tanganku,” kata Pita Loka. Dua anak itu memperhatikan telunjuk Pita Loka. Juga 10 anak lainnya. Dan ketika itu Pita Loka berkata: “Tembus hutan ini, tanpa merubah arah jalan terus turun naik bukit dan lembah. Supaya jangan lelah, sembari bernyanyi.”
Anak-anak itu tampak dibangkitkan rasa keberaniannya. Mereka mulai bernyanyi lagu Pramuka, dipimpin oleh Jadim dan Rauf. Makin lama lambaian tangan mereka disertai nyanyian mereka semakin bertambah jauh Setelah mereka menghilang, enam remaja yang tak ikut pulang ke Kumayan serentak menghadapkan mukanya pada Ki Pita Loka. Tentu yang terlebih dahulu bertanya adalah saudara sepupu Pita Loka. Agung Kifii bertanya: “Bisakah kami ini kau isi dengan ilmu?”
“Ilmu apa?” tanya Ki Pita Loka.
“Ilmu yang berisi keberanian kami untuk membalaskan dendam pada Dasa Laksana setan gila itu!”
Ki Pita Loka tertawa: “Permintaanmu terlalu rendah.”
“Lihatlah tangan kiriku ini, tidak ada gunanya lagi dan tidak bisa dipakai untuk menekan senar gitar maupun kecapi!” kata Agung Kifli.
“Maka tadi saya pilih yang kembali, dan yang akan ikut dengan saya. Firasatmu betul bahwa kalian akan kuajak ngelmu. Manusia semua sama, sebab Tuhan adil. Tapi yang berilmu lebih tinggi dari yang malas.” kata Pita Loka. “Saya minta dijelaskan kenapa ilmu yang diminta Agung Kifli tadi bernilai rendah.” ujar si kurus kecil yang bernama Caruk Putih. “Kerendahan satu ilmu bisa dilihat dari tujuannya,” kata Ki Pita Loka. “Bukankah tujuan membalaskan dendam itu juga baik?”tanya Caruk dengan nada penasaran. Balas dendam selalu bernilai rendah. Tapi jika kalian ngelmu untuk menghancurkan kejahatan dan menegakkan yang benar, itulah ilmu yang tinggi. Untuk itu kalian merupakan orang-orang pilihanku.”
“Termasuk saya?” tanya seorang remaja bernama Aria.
“Termasuk kamu. Aria, juga Sura, juga Abang Ijo dan Talago Biru. Pendeknya kalian harus mengucapkan ikrar padaku.” kata Pita Loka.
Lalu mereka pun mengangkat ikrar. Mereka ikuti apa yang diucapkan Ki Pita Loka, tanpa nada sumbang. Ikrar itu bergema dengan nada yang hampir-hampir tunggal, membangkitkan kesatuan semangat dan kesatuan tujuan. Kesatuan yang manunggal antara Guru dan murid dalam kata dan perbuatan memanglah persyaratan ilmu persilatan. Dan Ki Pita Loka mendapatkan cara membimbing ilmu pada muridnya ini karena ia seorang yang jiwanya ikhlas, disamping oleh otak yang cerdas. Otak yang cerdas tapi jiwa kotor tak memungkinkan seorang pendekar naik derajat menjadi Guru Besar. Ukuran kebesaran adalah energi. Maka Pita Loka memulainya pun dengan takaran energi. sedikit bicara, tapi tiap patah kata ada ikatan. Dan hanya orang yang mampu duduk bersila dengan baik, seluruh energi terkendali. Ki pita Loka duduk bersila. Enam muridnya pun duduk bersila. Ki Pita Loka memberi perintah dengan nada dalam: “Hening…….”
Keadaan pun hening, seakan tiap napas yang ditarik dan dihembus kedengaran begitu nyata. Karena napas adalah sumber energi dalam diri manusia, itulah pula yang mesti diatur. “Tarik napas ke puser perutmu,” perintah Sang Guru. “Angkat perlahan ke atas menuju kepala, dan salurkan menuju ubun-ubunmu, dan buanglah kesana”, perintah Sang Guru lagi.
“Ambil lagi napas, tarik ke puser, angkat ke atas, dan buang!”
“Ambil lagi. Tarik ke bawah. Angkat ke atas. Dan buang lagi.”
Pelajaran awal itu, yang hanya bermain napas dengan kedudukan bersila tanpa gerak. yang dilakukan seluruhnya detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam, menciptakan keasyikan pada Sang Guru dan Para Murid. Dapat dibayangkan setelah enam jam bermain napas saja, keringat mereka mengocor seperti kuli mengangkut satu balok pohon yang besar. Keasyikan tidak pernah merangsang lapar. Yang dibuang oleh energi adalah keringat. Dan keringat itu adalah sampah. Inilah awal pembersihan diri, sebab Ki Pita Loka ingin membuat enam anak buntung ini menjadi enam pendekar sejati. Pendekar sejati bisa saja menghadapi empat puluh musuh. Dan dia seorang diri dengan kekuatan energi dapat saja menumpas 40 lawan tanpa mengeluarkan keringat setetespun. Itulah yang sedang diisinya kepada enam remaja buntung itu. Kelak mereka tidak harus merasa kurang karena kebuntungannya. Sebab setiap yang kurang pasti ada kelebihan di bidang lain. Dan telah dua kali matahari terbit dan dua kali pula matahari terbenam. Tahukah enam remaja buntung itu bahwa waktu telah berjalan dua hari?
Tidak. Waktu bukan soal yang penting lagi. Keasyikan menyatukan diri dengan energi telah membuat seseorang yang asyik itu tidak lagi memperhitungkan waktu. Dan telah tiga hari Guru mengajarkan muridnya dalam keasyikan bersatu dalam gerak nafas, gerak yang tanpa gerak. Dan kemanakah nafas yang telah tiga hari diasyikkan itu menuju? Nafas itu mengembara menuju tempat yang kosong. Dan kosong itu adalah diam dan hening. Maka jarak perginya pun tanpa takaran lagi. Hembusan nafas tadi singgah di tempat yang kosong. Singgahnya nafas tujuh manusia asyik dari lembah itu menggebu bagai geledek, dan terciptalah benturan. Yang terbentur adalah yang diam. Yang diam pada detik itu adalah seorang lelaki yang duduk hening tenang, yang mendadak terkejut karena terkena benturan. Matanya melotot kaget lelaki itu menatap gadis di depannya, dan gadis itu bertanya: “Kak Gumara, apa yang terjadi?” “Ada sesuatu yang sedang bergerak di luar kita,” ujar Gumara. Jawaban ini merisaukan gadis itu. Dan rupanya yang terkena benturan bukan saja manusia Gumara. Binatang pun terkejut. Beberapa ekor ular Piransa gelisah dari sarangnya, lalu serentak merayap ke luar dari lubangnya. Gumara semakin merasakan benturan ke tubuhnya yang semakin hebat sehingga ia tambah gelisah, ia terkejut mendengar gadis di hadapannya terpekik menjerit lantang seraya menghunus pedang. Hampir saja pedang di tangan gadis itu membabat 100 ekor ular kecil yang merayap ke arahnya. “Aku Ki Harwati!” teriaknya ke arah ular-ular itu. Satu diantara 100 ular itu merayap sendirian, sementara yang lainnya diam. Ular kecil itu merayap menuju dengkul Ki Harwati, menuju perutnya, lalu ke dada, lalu melintasi leher dan akhirnya ke kepala. Tepat di kening Ki Harwati, ular kecil belang kuning itu menciptakan belitan. Kini ular itu bagai selembar saputangan tergulung yang melingkari kepala Ki Harwati. “Lihat, Kak Gumara? Ini hasil pertapaan saya!” serunya.
““Belum tentu. Tiap senjata yang berada di diri seorang pendekar mengandung resiko. Pendekar harus memeliharanya. dan harus tahu dengan jitu menggunakannya,” kata Gumara.
“Ular piransa ini menjadi senjataku. Sesuai dengan wangsit yang aku terima, bahwa namaku harus dirubah menjadi Ki Harwati Piransa. Dan aku kini telah berkedudukan sebagai Guru Besar! Kau kini bukan lagi kakakku dan pelindungku! Kau kini jadi budakku!” mata Ki Harwati Pi ransa melotot tanpa berkedip menatap Gumara. Gumara merasa aneh menyaksikan tingkah Ki Harwati. Ketika keanehan itu dia renungi, kendati beberapa detik, meledaklah perasaan berontak dalam diri Ki Gumara, sehingga dia berteriak: “Kau memakai ilmu Sesat! Kau sesat, kau sesat, kau sesattttttt” Tapi energi teriakannya itu sudah melampaui takaran. Setelah itu dia lemah, dan semakin lemah Setelah itu Gumara tidak dapat merenung, kendati sedetik. Juga dia tak berdaya menggerakkan anggota tubuhnya, biarpun sedetik saja.
“Tugasmu sekarang adalah mengawalku. Kau budakku. Kau harus patuh terhadap semua perintahku. Aku Guru Besarmu, aku Guru Besar semua gurul”
Nada itu penuh. Dan penuh kebanggaan.
“Kita hanrus memilih waktu untuk berangkat,” kata Ki Harwati.
“Ya….!”
“Kita harus menyerang musuh!” “Ya ……!”
“Kau kini semut pekerja. Dan akulah Ratumu!” ““Ya. Apa yang harus saya perbuat?” tanya Gumara dengan muka dungu. “Karena kelebihanmu mentakwilkan mimpi, carilah sebuah mimpi!” kata Ki Harwati. Dan dengan kedungu-dunguan, Gumara mematuhi. Dia menggeletak, lalu tidur. Dan tidurnya itu mirip seperti menggeletaknya seekor ular sanca. Ki Harwati tegang memperhatikan kelelapan tidur saudara tirinya itu. Kemudian tubuh Gumara bergerak, menggeleong, dan tegang sekali Ki Harwati bertanya: “Kamu dapatkan mimpi, hei dungu?!”
“Tidak.”
Pedang Raja Turki dalam sekelebatan sudah dicabut dari sarangnya. Dan dengan kesetanan pedang itu dihantamkan ke kening Gumara, sekalipun bukan dengan mata tajamnya. Punggung pedang itu membentur nyaring di kepala Gumara, ibarat logam membentur batu padas sehingga tercipta suara nyaring. “Dungu!” bentak Ki Harwati lagi. “Aku lapar,”kata Gumara. “Tidak ada makanan di sini”, jawab Ki Harwati. “Beri aku makanan,” ujar Gumara dengan mulut kemudian melongok. Dia tampak begitu dongok. Lalu berbaring lagi, bagai berbaringnya ular yang kekenyangan yang amat malas. “Kau hanya menjadi bebanku,” ujar Harwati. Tiba-tiba kepala Ki Karwati pusing. Dia telah dipatuk oleh ular Piransa pada saat sedetik menjelang pusing. Bisa ular itu sudah menjalari tubuhnya. Tapi ia masih menyadari, mungkin ha ini bagian dari pengisian tingkatan ilmunya. Dia mencoba berdiri. Dia teler bagai pemabuk. Dan secara samar dia melihat lengkungan pelangi di hadapannya. Lalu dia melihat tujuh bintang berjatuhan dari langit. Dan dia berseru: “Tujuh tai bintang jatuh di Sana! Itulah seluruh kebenaran wangsit yang kuterima. Aku yang akan menerima warisan ilmu Kitab Tujuh itu!” Dia guncang tubuh Gumara. Tapi Gumara tidur ngorok seperti tidurnya orang dongok. “Bangsat! Bangsat!” maki Ki Harwati, “Dasa Laksana bangsat! Murid pengkhianat itu belum juga kembali! Padahal aku sudah menyaksikan tujuh tai bintang jatuh!”
Dia petengtengan. Dia berjalan terhuyung bagai orang sinting. Dan kalau dia melihat Gumara, dia benci dan ditendangnya pantat kakak tirinya itu. Kemudian dia merasa amat gerah. Karena kepalanya gatal, dia merenggut rambut di kepalanya, tapi yang terpegang adalah ular yang melingkari kepalanya. Sementara itu, Ki Pita Loka sudah melangkah bersama enam muridnya menuju sebuah bukit yang dikenal bernama Bukit Kawung. Tidak ada kawung di bukit itu. Yang ada cuma batu. Batu itu sebetulnya dulu sering diambil orang sebesar biji salak karena keistimewaannya. Kalau kapas kawung ditempelkan ke batu kawung itu, lalu digeserkan logam baja, maka terciptaiah api. Untuk apa Ki Pita Loka ke sini? Karena ia mendapat ilham untuk meningkatkan latihan jasmani murid-muridnya. Karena semua ilmu ibarat roda. Ia kembali kepada sumbunya. “Kita berhenti di pusat bukit ini,” kata Ki Pita Loka. Enam remaja buntung kontan saja duduk bersila, menciptakan lingkaran dan sumbu lingkaran itu adalah duduknya sang Guru. “Karena semua kalian pernah sekolah, kalian sudah tahu apa itu gas. Gas itu adalah zat yang memiliki energi. Dalam diri kalian, dengan aturan pernafasan, sudah ada sumber gas. Dan itu harus kila turunkan ke titik awal. Kita harus kembali lagi menjadi api. Coba kini kalian kumpulkan energi, sampai tubuh merasa ringan. Tapi jangan ada yang kaget apabila tubuh kalian terbakar.” Enam remaja buntung dipimpin Guru, sedang melaksanakan amalan itu. Mereka menjadi iibaratnya kawung yang sedang berada di batu, menciptakan pergeseran logam baja. Dan terbitlah tujuh kelompok api. Ya, tujuh insan itu lama kelamaan bagai tujuh lidah api. “Dan api akan padam oleh air. Api hanya dapat padam oleh air,” ujar Sang Guru. Sungguh ajaib. Ketika tiap murid sudah merasa dirinya mengelotok oleh api, hujan gerimis pun bercucuran dari langit. Memang perih sekali, tapi hampir tak terasa. Api itu padam. Yang tinggal adalah tujuh manusia, Ki Pita Loka dengan murid-muridnya, enam remaja buntung. “Kini kita sudah membumi. Kita sudah menjadi benda padat, sepadat tanah. Tanah adalah asal manusia. Marilah kita menyatukan diri dengan tanah, seakan-akan kita ini kembali ke dalam kubur, kembali ke asal,” Ujar Ki Pita Loka. Murid yang mematuhi amalan Sang Guru tentulah murid yang baik. Dan remaja-remaja buntung ini merelakan dirinya memasuki alam “kematian”, entah untuk berapa lama. Lama itu waktu. Waktu itu jadi tak penting. Mereka sampai ke sebuah Lembah yang sama sekali belum mereka kenal. Tetapi Pita Loka pernah mendengar tentang lembah ini ketika dia berusia Tujuh tahun dahulu, yang diceritakan oleh Ki Putih Kelabu,ayahnya. Menurut ayahnya. Lembah ini dulunya dikenal dengan sebutan Lembah Tujuh Bidadari.
Agung Kifli bertanya pada Pita Loka: “Ki Pita, apakah perjalanan kita bukan kesasar?”
“O, kita tidak kesasar. Justru aku ke sini sengaja mengajak enam orang diantara kali an yang kena culik, sedangkan yang 11 orang kusuruh pulang ke Kumayan.”
“Lalu untuk apa kita ke sini?” tanya Agung Kifli.
““Yang terang bukan untuk berdarmawisata.”
“Saya dan teman-teman amat lelah,” ujar Agung Kifli.
“Itu wajar saja. Tujuh hari perjalanan tanpa istirahat sebetulnya aku sengaja untuk melatih kalian yang berenam. Kalian yang berenam adalah orang-orang pilihanku. Kalianlah kelak yang akan dikenal dengan sebutan “Enam Pendekar Buntung”.
“Wah, kami akan dijadikan pendekar?” kata Agung Kifli tercengang. “Ya. Setiap kejadian pada diri seseorang ada hikmahnya. Anggaplah oleh kalian bahwa hikmah dipotongnya tangan kalian oleh orang sinting Dasa Laksana itu justru untuk sesuatu yang berguna di kemudian hari.”
“Tapi aku tidak bercita-cita jadi pendekar,”kata Agung Kifli.
“Memang itu betul. Namun aku tidak melarangmu bermain gitar. Sayang, gitar dan kecapimu Tidak ada di sini,” kata Ki Pita Loka.
“Tapi aku dapat membuatnya! Dari buah labu yang dikeringkan,” kata Agung Kifli, “Apakah orang yang belajar ilmu persilatan dilarang main musik?”
“Tidak ada larangan kesenangan pribadi buat suatu ilmu yang tinggi,” kata Ki Pita Loka. Sementara Ki Pita Loka melihat keadaan sekeliling dan menikmati senja yang indah itu, dia melihat memang Agung Kifli dalam keadaan mengantuk. Dan tanpa minta ijin lebih dulu, si buntung bekas pemain gitar dan kecapi di Kumayan itu pun rebah di rumputan bawah pohon dina – dina. Sedangkan lima temannya yang buntung lainnya, sudah sejak tiba menjatuhkan diri di rumputan, di bawah pohonan dina-dina yang daunnya lebat. Dia telah tertidur pulas. Tetapi lebih pulas lagi tidur lima anak remaja lainnya itu. Sura, Abang, Aria, Talago dan Caruk yang bertubuh kecil itu sudah lama tidur ngorok. Dan ketika semua remaja yang bertangan buntung itu dilihat Ki Pita Loka sudah tidur pulas, barulah secara diam – diam Ki Pita Loka meninggalkan mereka. Hal ini karena suatu ilham. Ketika itu Ki Pita Loka sedang menatap langit malam yang biru, dengan sebuah bintang Timur yang tak gemerlap. Bintang itu bintang Venus dengan tenaga cahaya abadi tanpa gigilan sinar seperti bintang lainnya. Lalu dari bintang Venus itu terbentuk semacam corong kerucut berbentuk kelembutan. Hal itu ditafsirkan oleh Ki Pita Loka sebagai petunjuk. Bahwa pada sudut kerucut itu terletak satu tempat yang istimewa di lembah ini. Itu berarti pula, dalam dunia ilmu kedalaman, bahwa Ki Pita Loka mendapat perintah untuk pergi ke tempat itu. Maka dia pun melangkah ke sana . Ya, ada bundaran cahaya dilihatnya pada rumputan yang membentang di hadapan. Pada titik sinar yang terkuat, kesitulah Ki Pita Loka melangkah, lalu dia duduk di sana . Dia bersila di sana bagaikan sikap bersila semua Nabi dan semua Guru dan Kiyahi. Dia mengatur pernafasan dengan sebaik-baik napas, sikap semedi yang kosong namun agung. Kemudian terdengarlah bisikan-bisikan yang indah sewaktu Ki Pita Loka memejamkan matanya.Bisikan-bisikan itu datang dari tujuh penjuru. Lalu tempat kerucut bintang Timur itu pun berubah bertambah terang. Tepat pada waktu itu, tenaga gelombang Ki Pita Loka mencoba menjangkau jiwa sepupunya Agung Kifli. Jiwa yang dengan tenang sedang beristirahat sepertinya mene rima getaran gelombang hingga dia terbangun. Ketika Agung terbangun dari tidurnya, dia mendapatkan dirinya di bawah pohon dina-dina yang berdaun lebat Dilihatnya lima temannya tidur dengan lena. Dia jadi takut karena tidak melihat Ki Pita Loka. Ketakutan itu menyiksa diri. Apalagi indera hidungnya serasa mencium bau bunga. Dan bunga yang menyebarkan bau di sekeliling yaitu seakan – akan bunga yang digunakan pemandi mayat. Dia merinding. Lalu dia duduk. Dia tak berani melihat ke sekitar. Tapi tiba- tiba seperti ada kekuatan yang mengangkat dagunya. Sehingga dia melihat keseliling. Sewaktu dilihatnya ada satu sosok berubah hitam tampak samar mendekat, Agung Kifli saperti akan menjerit memanggil Ki Pita Loka untuk minta bantuan. Ketegangan itu semakin membuat Agung Kifli menggigil. Sosok berjubah hitam itu semakin mendekat dan mendekat jua. Agung Kifli rasanya ingin berteriak. Tapi lidahnya kelu. Dan dia agak geram juga sebab Ki Pita Loka, yang diharapkannya akan memberi pertolongan, tidak tampak. Dalam jarak lima meter itu. Agung Kifli lalu tak berani lagi melihat ke depan. Dongkolnya, dia lihat lima teman-temannya tidur begitu pulas. Dan, Agung pun memberanikan diri untuk bicara. kendati dengan memunggungi tamu tak dikenal itu. “Aku ingin tahu, apakah anda manusia?”
“Bukan…….”
“Bah! Dan ….. siapa anda?” suara Agung menggigil.
“Aku bukan manusia!” sahut sosok yang rasanya (mungkin) makin mendekat.
“Jadi katakan siapa anda?!” suara Agung rasanya keras, padahal cuma sayup kedengaran.
“Aku makhuk halus,” kata suara dari belakang. Agung Kifli lalu memejamkan mata untuk menahan takut.
“Kenapa anda ke sini?” tanya Agung Kifli….
“Ingin berkenalan.”
“Tapi aku takut,” ujar Agung tambah gentar.
“Jangan takut. Aku bukan mahluk halus yang jahat,” suara itu kedengaran lagi, dari belakang punggungnya. Dan rasanya tambah dekat. Agung Kifli semakin memejamkan matanya. Keringat dinginnya semakin deras mengocor. Dan dia gemetar sekali ketika berkata: “Aku bukannya tak sudi untuk berkenalan denganmu. Tapi aku takut. Aku tidak mengalami kejadian seperti ini!”
“Baiklah. Kami tak pernah memaksa?” kata suara itu. “Kami? Jadi kau lebih dari satu,” seru Agung Kifli. “Memang kami semuanya bertujuh.” Ujar suara itu. Agung Kifli lalu ingat nama Lembah ini. Lembah Tujuh Bidadari. Tentu dia mahluk halus, salah satu dari bidadari itu. Rasanya dia ingin membalik tubuh agar dapat melihat salah seorang bidadari Lembah ini, yang ingin berkenalan dengan dia. Tapi rasa inginnya dikalahkan oleh rasa kecutnya. Kini Agung Kifli menutup muka. Hening suasana, tak ada suara dan kata-kata lagi. Mendadak, dalam keadaan senyap begitu, Agung Kifli mendengar suara langkah menjauh. Tentu sosok berjubah hitam tadi telah berlalu. Dia cepat memberanikan diri untuk menoleh. Sayang, sosok tadi sudah melenyap dalam kegelapan.  Tapi Agung amat kaget karena hanya dalam jarak satu meter dari tempat dia duduk ketakutan itu, didapatinya sebuah gitar dan kecapi. Dan karena dia merasa terheran-heran,diberanikannya memegang gitar dan kecapi kecil itu. Tentu kini dengan sebelah tangan saja. Karena tangannya sudah buntung satu, yang kiri. korban dari penipuan Dasa Laksana yang jahat itu. Darimana gitar ini diambil sosok berjubah hitam tadi? tanya Agung Kifli dengan heran, dalam hati. Ketika itulah dia mendengar salah seorang remaja yang ketiduran memanggil namanya: “Hai Agung, kamu mengigau?”
“Kemari sini, Caruk Putih!” ujar Agung gelagapan saking herannya, “Kau lihat gitar ini mendadak ada di sini!”
“Padahal ketika kita diculik, pakaian kita pun tak sempurna,” ujar Caruk Putih. “Ini keajaiban dari ilmu Gaib”. kata Agung Kifli. Lalu terbangun pula Talago Biru. “Talago, apa kau tidak melihat ini!” tanya Agung Kifli. Tapi Talago Biru tidak memberi reaksi. Dia sedang menatap ke satu titik di kejauhan. Namun dia bisa juga melirik pada gitar dan kecapi yang diperagakan oleh Agung Kifli tadi. Aria dan Sura sama terbangun serentak. Mereka malah kaget dan berseru : “Hai, siapa yang membawakan gitarmu?”
“Kurasa salah seorang dari tujuh bidadari di Lembah ini,” kata Agung Kifli. “Keajaiban hanya diperbuat oleh pelaku-pelaku yang ghaib.”
“Kita benar-benar mendapatkan guru sejati,” kata Aria. “Kita mengalami kebuntungan tangan. Tapi kita menemukan kehidupan yang baru,” ujar Abang Ijo. Sebagai anak-anak putus sekolah, enam remaja itu seakan – akan dilimpahi kurnia, berupa hadiah dari Tuhan sehabis disiksa oleh kebiadaban. Kini mereka merasa, bahwa kemalangan, musibah dan penderitaan, tidak selalu berakibat buruk. “Hei, diam!” mendadak Agung Kifli terdongak menatap ke arah Timur. Juga lima remaja bunting lainnya secara serentak menolehkan pandangan ke jurusan yang ditatap Agung Kifli itu. Tiba-tiba Agung Kifli melihat sosok di arah kejauhan. Dia sikut bahu Abang ljo: “Hai, ada kau lihat sosok mendekati kita?” “Mungkin bidadarimu tadi !” kata Abang ljo. “Mainkan gitarmu!” ujar Sura Jingga. “Taklukkan dia!” tambah Aria Kuning. Agung Kifli kemudian menoleh pada Talago Biru. Talago Biru pendiam dingin, tidak sepotongpun melontarkan kegembiraan. “Bicaralah Talago!” ujar Caruk Putih, yang terkecil diantara lima anak remaja yang buntung itu, bahkan yang terlincah. Caruk Putih malahan bangkit dari duduk dan berkata: “Kalau kalian semuanya tidak berani, biar aku yang maju.”
Mendadak Talago Biru berkata: “Jangan, itu yang datang bukan bidadari yang tadi menggoda Agung Kifli.”
“Kau bisa melihat siapa yang datang?” tanya Agung Kifli, yang serentak bertanya dengan si Caruk Putih.
“Ya. Aku bisa melihat seseorang dalam gelap. Sejak dulu,” kata Talago Biru. Agung Kifli heran, dan bertanya: “Kau belajar ilmu melihat kegelapan dimana, Talago?”
“Lihatlah alis mataku. Apakah aku punya alis mata?” tanya Talago Biru dengan nada dingin.
Agung Kifli, Abang Ijo, Sura Jingga dan Aria Kuning berebutan ingin melihat alis mata Talago Biru.
“Ajaib. Kau tidak punya alis mata!” mereka terheran semua.
“Aku mirip ayam jantan dan anjing malam. Tidak punya alis, jadi bisa melihat sesuatu dalam gelap. Termasuk mahluk halus, jika ada,” kata Talago dengan nada tanpa menyombong.
“Yang datang itu,” sambungnya, “Adalah Ki Pita Loka”. “Ha?”
“Sejak aku dibangunkan, aku sudah melihat dia turun dari bukit itu, lalu beliau menuju ke sini.”
kata Talago Biru. Enam remaja itu gembira sekali. Mereka dengan nafas sesak menunggu kedatangan Ki Pita Loka yang sudah menghilang sejak keenam mereka ketiduran. Dan ketika Pita Loka mendekat, serentak mereka bertanya: “Dari mana Ki Guru?” “Aku kembali dari bersemedi,” kata Ki Pita Loka.
“Saya menanti anda dengan cemas.” “Tentu kau mengalami sesuatu.” kata Ki Pita Loka, menerka.
“Sepertinya Guru sudah mengetahui,” kata Agung Kifli. “Memang akulah yang memerintahkan bidadari itu menemui kau, dan berkenalan dengan kau.” “Juga anda yang menyuruhnya membawakan gitar dan kecapi ini?” tanya Agung Kifli seraya memperlihatkan gitar dan kecapi miliknya.
“Ya. Setelah dalam semedi aku ketahui, bahwa tujuh bidadari yang diceritakan oleh ayahku dulu adalah jin-jin pekerja, maka aku membaca ayat-ayat Sulaiman untuk menjinakkan mereka. Kalian mungkin sudah tahu dari pengajian di Kitab Suci, bahwa Nabi Sulaiman menjadikan jin – jin itu sebagai pekerja. Merekalah yang mengangkat batu – batu pualam terindah dari Laut Tengah. Dan merekalah yang membuatkannya Istana dan Gudang Intan. Sementara ini, kalian belum akan aku warisi Ilmu Amsal Sulaiman untuk memerintah para jin yang tujuh di Lembah ini. Jika ilmu kalian sudah meningkat, tentu akan saya warisi amsal itu!”
Caruk Putih menyela mendadak: “Tuan Guru, kenapa kepadaku tidak tuan utus bidadari seperti Agung Kifli?”
“Semua akan mendapatkan giliran. Malam pertama Agung Kifli, Malam kedua, Abang ljo, Malam berikutnya Sura, selanjutnya Aria, dan kemudian Talago, dan terakhir engkau, Caruk!”
“Hah. Cantikkah dia, Guru?” tanya Caruk.
“Tanyakan pada Agung Kifli. Tapi menurut laporan bidadari ungu itu pada saya. Agung Kifli tidak sudi melihat wajahnya. Setelah dia pergi, barulah Agung melihat tapi sudah terlambat, sebab dia sudah ditelan kegelapan. Tiap kalian akan mendapatkan satu warna. Dan tiap warna adalah kekuatan kalian. Cepat Caruk Putih bertanya: “Apakah warna untuk saya?”
“Sesuai dengan namamu. Yang akan mendatangi kau adalah bidadari putih. Dan engkaulah satu-satunya diantara kalian yang berenam ini yang paling banyak akan mengalami cobaan. Tapi jangan takut. Ujian yang tersulit pertanda bagi murid yang terbaik. Bukan begitu saudara sepupuku?”
Agung Kifli mengangguk dan berkata: “Saya masih heran bagaimana bidadari saya itu begitu cepat ke Kumayan menjemput gitar dan kecapiku.”
“Dia memiliki kesigapan pesuruh Ratu Bilkis di dalam Kitab Suci. Waktu dan jarak serta cuaca, tidak mempengaruhinya. Tetapi kita semua harus eling dan waspada. Sebab dalam jarak tujuh bukit di selatan kita ini, ada calon Guru Besar yang juga berminat atas Kitab Tujuh yang justru sedang kita cari kini!” Dan seperti yang dikatakan oleh Ki Pita Loka, memanglah betul semuanya. Apa yang sedang diperbuat tujuh orang itu, di Lembah Tujuh Bidadari itu, diketahui oleh seorang calon Guru Besar. Cuma saja Ki Pita Loka tidak menyebutkan siapa calon Guru Besar itu. Dia tidak lain adalah Ki Harwati yang kini sudah melengkapi namanya dengan Ki Harwati Piransa yang sudah menjinakkan ular Piransa, ular belang kuning sebesar telunjuk jari tapi berkepala dua. Ular Piransa ini sudah langka di dunia, sejak taufan Nuh terjadi ribuan abad yang silam.
Ki Harwati berkata kepada Gumara: “Dungu! Kita harus meninggalkan Guha Piransa ini, Dungu!”
Dengan dungu Gumara tercengang: “Bukankah kita sudah hidup enak di sini? Aku enggan pergi dari sini.” Dengan punggung pedang Turki, disabetnya punggung Gumara. Gumara tertawa menyeringai. Dan berkata; Lagi! Lagi! Enak sekali!”
“Jangan tunggu sampai aku marah, Dungu! Apa kau mau kutebas dengan mata pedangku ini?”
mata Ki Harwati Piransa jadi liar. Dan ular piransa yang melilit di kepalanya pun ikut mendelikkan mata pada Gumara, yang tingkah lakunya sudah begitu berubah seperti anak kecil.
“Berhentilah makan buah delima itu, Dungu!” bentak Ki Harwati Piransa.
“Ini enak. Enak. Enaak!” dan Gumara yang dungu itupun menari-nari. Ki Harwati sudah tidak sabaran lagi. Dia kemudian menghardik seraya menjewer telinga Gumara:
“Kau akan ikut aku, atau aku tinggalkan sendirian di sini?”
“Hemmm ….. Aku enak di sini. Di sini banyak buah delima!” seru Gumara dengan berjingkrak. Kelakuannya memang sudah mirip anak kecil berusia 3 tahun. Dan hal ini sudah amat menyebalkan Ki Harwati Piransa. Saking sebalnya. ditendangnya pantat Gumara yang sedang berjoget itu. Gumara berteriak kesakitan, tapi kemudian tertawa terkekeh-kekeh. “Waktu tinggal sedikit lagi, Dungu!” bentak Harwati, “Jika Kitab Tujuh itu sudah jatuh ke tangan sainganku, percuma aku bertapa 100 hari di Guha Piransa ini!” Gumara yang ketawa konyol, mendadak berubah tenang. Bahkan wajahnya datar bagai mayat tak bernyawa. Dia berdiri tegak. Dia tak mendengar suatu apa pun. Tak nampak wajahnya berubah ketika dia kena bentak Ki Harwati Piransa. Bahkan dia membisu ketika diajak bicara. “Kamu bisu, Dungu!” bentak Ki Harwati dongkol. “U-u …. U …. u!” suara Gumara benar-benar mirip orang bisu. Kalau tadi dia tampak begitu dungu, kini dia seperti benar-benar bisu.
“Dungu! Bicaralah? Ketawalah!” teriak: Ki Harwati Piransa “U-a-U-a-u”“
Ki Harwati menyarungkan pedang Turkinya. Dan dia kemudian berpegang pada ujung bahu Gumara, mengguncang tubuh Gumara dan berteriak panik: “Dia mendadak bisu”
“U-u!”
“Kau bisu!”
“U-a-uuu”
Ki Harwati hampir akan menangis menyaksikan keadaan tragis saudara tirinya. “Aku tidak bisa benci lagi kepadamu, saudara tiriku,” ujar Ki Harwati seraya kebingungan. Tapi kemudian, dengan putus asa bercampur dongkol, diseretnya lengan Gumara. Dan ketika menuruni tebing Bukit Piransa yang curam. Gumara dipegangi terus. Kuatir kalau jatuh. Tapi Gumara dengan u-au bisunya, membandel. Dipegang begitu, malah dia menyentak. Akibatnya dia terpeleset. Dan bergulinganlah si bisu itu diantara batu-batuan yang menghambat akar tebing. Dan setiba di bawah tubuhnya diam tak bergerak. Ki Harwati menjerit lantang. Gema jeritannya bergaung di dalam tebing itu. Beberapa batu besar bergeser. Bahkan ada yang runtuh oleh getaran teriakan Ki Harwati Piransa itu, saking kerasnya. Getaran itu pula yang menyentak kesadaran Gumara dan pingsannya. Dia berdiri. Mencari darimana sumber teriakan menggetarkan tadi. Ketika dia melihat Harwati di atas itu, kini Gumara yang berteriak; “Kamukah di atas itu, adikku?!”
Ki Harwati piransa menjadi kaget, karena si dungu dan bisu itu sepertinya sudah normal kembali. Memang Gumara sudah menjadi normal kembali. Kelihatan tingkahnya yang cemas menyaksikan Harwati menuruni tebing dengan kecepatan seekor belalang betina. Dan ketika Ki Harwati Piransa tiba di bawah. dipeluknya Harwati dengan sisa kecemasan seraya bertanya: “Kenapa kamu gegabah seperti belalang turun ke bawah?”. Ki Harwati masih terpana menyaksikan keajaiban ini. “Aku mohon ampun padamu, Ki Guru, abangku …. karena selama ini telah aku perlakukan kau sebagai budak, jadi kini aku gembira. Bahkan kuatir, bahwa kau baru melewati dua cobaan ujian ilmumu dengan dungu dan bisu. Kita kemana sekarang?” tanya Ki Harwati menguji. “Kita harus segera ke Lembah Tujuh Bidadari”, ujar Gumara. Kemudian, dengan tenaga yang baru dan segar, Gumara membantu terus Ki Harwati Piransa menaiki pebukitan baru di sebalik pebukitan Bukit Piransa.
“Kebetulan hujan gerimis tiba”. kata Gumara setiba di atas. “Kenapa?”
“Hujan gerimis dalam cuaca panas senja ini menciptakan lengkungan pelangi! Tidak kau lihat warna pelangi di depan kita ini?” tanya Gumara.
“Apa maksudnya?”
“Coba perhatikan! Berapa buah bukit warna pelangi yang melengkung itu jaraknya?”
Tampak oleh Ki Harwati, lengkungan pelangi itu melangkahi tujuh buah bukit. Dan dia pun berkata: “Tujuh buah bukit!”
“Ke tempat jatuhnya pelangi yang melengkung melangkahi bukit itulah kita harus pergi. Di tempat jatuhnya pelangi itu, di situlah terletak Lembah Tujuh Bidadari. Berdasarkan mimpiku tadi, di situlah beradanya Kitab Tujuh”.
“Mimpi?”
“Aku barusan mimpi tadi di bawah sana itu!” kata Gumara.
Ki Harwati bertambah heran. Dia ingat, memang akang tirinya Gumara tadi jatuh dan pingan. Tapi ketika itu ia terjatuh kepeleset karena kedunguannya dan dia jadi bisu.
Apakah pingsan sejenak di bawah itu tadi ibarat dia tidur bermimpi?
“Ceritakan mimpi itu”, kata Ki Harwati.
“Mimpiku benilai mimpi Nabi-nabi. Ibarat mimpi Nabi Sulaiman atau Nabi Jusuf”. kata Gumara.
“Kita berangkat saja ke sana ”, kata Harwati, “Soal mimpi itu bisa kau ceritakan dalam perjalanan. Aku tidak sabaran lagi untuk mendapatkan Kitab Tujuh itu”.
“Berdasarkan mimpiku, ada yang mesti ditinggalkan”, kata Gumara.
“Ditinggalkan? Apa itu?”
“Dua barang yang diharamkan oleh Kitab Tujuh”, ujar Gumara.
“Katakan apa itu!” ujarKi Harwati tak sabaran. Gumara tertegun sejenak, lalu berkata: “Dua barang yang kau sayangi. Yaitu ular piransa yang melilit di kepalamu itu. Dan Pedang Turki itu!”
Mendengar itu, wajah Ki Harwati Piransa berubah menjadi geram.
“Kau jangan mencoba memperbudakku! Kau masih berkedudukan sebagai budakku sejak aku mendapatkan kesaktian Pedang Turki dan Ular Piransa ini!” Dan ular kecil belang kuning berkepala dua yang melilit di kepala Ki Harwati itu bergerak-gerak menggeliat. Ki Harwati Piransa merasakan hal itu. Dan dia menatap pada Gumara dengan tatapan angkuh, lalu berkata: “Tidak kau lihat senjataku sedang marah di atas kepalaku?” “Aku melihatnya”, kata Gumara. Dalam sekelebatan, Ki Harwati mencabut pedang Turkinya. Pedang itu tambah gemerlapan, terutama matanya, ketika diacu-acukan oleh Ki Harwati ke hadapan Gumara. Gumara menyaksikan gertakan yang berbahaya itu. “Itulah syarat dari mimpiku itu. Kita harus hadir di Lembah Tujuh Bidadari dalam keadaan tangan kosong. Tanpa senjata”, kata Gumara.
“Ucapanmu seakan-akan memperbudakku! Kau budakku! Kau harus tunduk dengan perintahku.Bukannya aku yang harus tunduk dengan perintahmu! Apalagi itu perintah berasal dari mimpi!” Ular Piransa sebesar telunjuk dengan warna belang kuning itu semakin menggeliat di jidat Ki Harwati Piransa. Dan ketika dia akan sarungkan pedang Turkinya itu, ternyata bilah pedang itu tidak bisa masuk pada sarungnya.
“Ini satu pertanda, bahwa salah satu dari senjata-senjataku ini musti makan orang”, kata Ki Harwati Piransa dengan menatap buas kepada Gumara.
“Kalau begitu, dengan kata lain, aku harus jadi korban. Jadi tumbal”, pancing Gumara menahan marah.
“Kecuali jika kita berangkat ke Lembah Tujuh Bidadari tanpa syarat”, kata Ki Harwati dengan nada marah. Betapa pun gondok dan terhina. Gumara masih bisa menguasai marah. “Keinginanmu terlalu banyak, wahai calon Guru Besar!” kata Gumara dengan nada jantan. Kejantanan nada suara Gumara, ditafsirkan batin Harwati sebagai keangkuhan. Dibentaknya kakak tirinya itu:
“Kalau begitu, kamu yang harus tinggal di sini! Aku sudah tahu di mana letak Lembah sakti itu. Kau tak usah mengawalku, sekalipun kedudukanmu masih budakku!”
Bentakan itu sungguh bringas. Bagai singa betina lapar, Ki Harwati menghentakkan kakinya kebumi dua kali, lalu berkata: “Selamat tinggal, budak!”
“Kau terlalu durhaka, adikku”, ujar Gumara dengan nada pedih. Hatinya terluka. Dia melihat betapa cepatnya langkah Harwati menyusupi ilalang dalam hujan gerimis itu, tanpa bisa dicegah. Gumara masih berdiri terpaku dengan hati geram dan penuh kekuatiran. Ki rotan yang juga merasa mendapatkan wangsit untuk memiliki Kitab Tujuh, mengapungkan diri di atas sungai. Karena ia menyesuaikan dirinya dengan takwil mimpi malam sebelumnya, bahwa banjir akan tiba, sementara ini dibiarkan dirinya mengapung, kadang dia menyangkut pada akar kayu di tebing sungai itu. Ya. sungai Selawi akan mengalami banjir besar. Menjelang tengah hari, Ki Rotan yang mengapung itu merasa gembira. Mimpinya mulai memperlihatkan bukti! Tendangan arus dibawah tubuhnya yang mengapung mulai terasa keras. Sementara kupingnya mendengar suara gemuruh di sebelah mudik sana!Tanda di hulu sungai Selawi sudah mulai banjir besar”
“Mimpiku menjadi kenyataan!” dia berseru ketika tendangan arus sungai bertambah keras. Dan matanya melihat jelas, di arah hulu sana , sungai Selawi mulai bergulung-gulung bagai tikar raksasa yang dibuka. Ia seakan-akan sudah separoh sadar saking gembira! Ia seakan siap untuk ditelan gelombang sungai Selawi yang dahsyat itu ! Mendadak di dengarnya suara teriak keras dari atas tebing.” Hai lelaki! Cepat ketepi!”.
Suara itu suara seoraing wanita. Dan wanita itu sepertinya gadis yang masih perawan. “Aku Ratu Senik. memperingatkan tuan!” seru suara itu. Nama itu dikenal oleh Ki Rotan. Dia menjadi bimbang. Dia lalu manggepakan kakinya, hingga dia ke tepi. Lalu cepat dia raih akar pohon tebing, dan cepat memanjat ke atas tebing. Separuh panjatan, air sungai Selawi menggerutu menghantam tebing kiri dan kanan, menciptakan bunyi berdengus mengerikan. Dan Ki Rotan selamat dari telanan sungai bah itu . . . Ketika Ki Rotan merangkak terus ke atas, wanita tadi sudah seperti menyambut kedatangannya. Ketika dia memperbaiki rambutnya, Ki Rotan pun melirik dengan sorot birahi padanya. Dan mata wanita itu tunduk dan Ki Rotan pun berkata: “Sebutkan nama tuan sekali lagi!” “Namaku Ratu Senik”, ucapnya. Ketika berbicara sekalimat singkat itu, tampaklah gigi wanita itu telah dikikir rata, bukti bahwa dia telah menikah. “Anda seorang janda?” tanya Ki Rotan. “Ya”.
“Kalau begitu anda adalah janda Guru Besar guru semua guru?”
“Betul, Saya ini janda Ki Tunggal harimau pertama di kawasan seratus bukit dan dua puluh lima sungai”, kata Ki Ratu Senik. Birahi Ki Rotan lalu semakin menyala, sebab dalam mimpinya yang dia dapat semalam berdasar wangsit yang ia terima adalah kalimat terpenting. “Jika engkau berhasil meniduri janda Guru Besar, segera ilmu itu akan menitis lewat dia kepada anda. Dan anda akan mendapatkan Kitab Tujuh seperti anda menanti jatuhnya anai-anai setelah menikmati lampu terang”.
“Tapi tuan Ratu tidak memegang tongkat”, kata Ki Rotan.
“Tuan ragu?” tanya Ratu Senik. “Bukan ragu. Tiap guru senantiasa ditemani tongkat, mengingat harus berjalan jauh”. “Saya bukan guru. Saya hanya pewaris ilmu dan suamiku yang telah sampai ajal. Menurut suamiku, musuhku bukan pendekar pria. Tapi pendekar wanita”.
Ki Rotan makin yakin, apalagi bumi yang dia pijak saat itu adalah bumi pertapaan Ki Tunggal, yang syah kebenarannya! Mulailah Ki Rotan digelimangi nafsu untuk tidur dengan wanita itu. Seluruh otot tubuhnya jadi kejang dan tegang. Lalu dia berkata: “Saya kuatir malam ini turun hujan lebat, dan saya tidak punya tempat berteduh”. “Kenapa tuan cemas?” Mari ke gubukku. Di sana saya dapat menyelimuti anda dengan kain berlapis-lapis”, kata Ki Senik. “Ketika saya tuan selimuti, tuan tentu kedinginan”, kata Ki Rotan. Wanita itu tarsenyum akrab, dan dari pelipis matanya tampak urat kegarangan bagai seekor cacing hidup dilapis kulit kuning dan licinnya. Wanita itu memberi isyarat agar Ki Rotan mengikuti dia menuju pondok pertapaan almarhum Ki Tunggal yang terbukti lagi syah dan benarnya. Pondok padepokan itu seluruhnya terbuat dari daun nipah. Dan bila Ki Rotan masih ragu, janda itu sendiri pun bimbang mengajak masuk. Nah, waktu hujan turun menjelang senja, waktu itulah Ki Rotan yang sedang berdiri bagaikan patung mendengar tutur manis janda itu:
“Nanti tuan sakit terkena hujan lebat yang akan turun. Masuklah, tak baik lama berpatung diri di pintu?”  Ki rotan pun masuk. Satu obor kecil yang cahayanya terpelihara, membuat sinarnya menciptakan suasana merangsang. Hujan tobat pun menjadikan bunyiannya menggelorakan dada. Sementara selingan angin seakan-akan menghembus – hembuskan nafasnya ke dalam paru-paru Ki Rotan. Petir dan geledek silih berganti ketika malam tiba. Dan janda itu pun menyodorkan makanan umbi dan minuman nira. “Makanan apa ini?” tanya Ki Rotan memancing. “Makanan istimewa, yang selalu aku hidangkan pada suamiku menjelang waktu tidur tiba,”ujar Ki Senik “Ho-ho!”
“Ini umbi pasak bumi. Dan ini nira Tapanuli yang bisa merangsang lelaki”.
“Aha … !” Ki Rotan tertawa dan dia menoleh ke arah janda itu dengan mata jelalatan.
“Saya tahu siapa anda”, kata Ki Senik.
“Seluruhnya tentang diriku?”“
“Suamiku telah menceritakannya. Anda adalah lelaki yang gagal memperkosa wanita, termasuk murid anda Ki Harwati. Padahal perkosaan itu adalah perbuatan zina yang selalu membatalkan peningkatan derajatmu”, ujar janda itu. Ki Rotan berubah jadi kecut hati. Tapi kata-kata berikutnya dari mulut kecil janda itu segera menghiburnya. “Kecuali apabila suka sama suka, malaikat pun menjadi saksi syahnya suatu hubungan”.
“Anda kuatir akan aku perkosa?” tanya Ki Rotan bimbang, memancing. “Jika tuan berniat memperkosa saya, saya kuatir ilmu anda akan menjadi bambu buta. Itu adalah sifat tergesa yang melawan kodrat alam. Yang dapat dibenarkan apabila suka sama suka lalu menjadilah dua mahluk lain jenis sebagai suami-isteri”, kata Ki Senik yang ucapan itu segera membangkitkan rangsangan. Ketika Ki Rotan beranjak duduk ingin membelai kepala Ki Senik, janda itu berkata. .. Kekuatan anda mutunya akan di bawah kadar suamiku almarhum jika tuan tidak makan umbi pasak bumi masakanku dan meminum nira pembangkit tenaga”. Dan dia pun bersabar hati mengikuti saran janda itu. Dan dia mendapat kehormatan disuapi makan malam, dan diminumkan nira itu. Tapi di waktu telah kenyang dia, dia berkata: “ Bolehkah tanya tidur sekarang? Mataku sudah berat sekarang”. “Sebelum tuan masuk selimut terlebih dulu wajib menyatakan ikrar, agar semua yang tuan perbuat pada saya akan saya jalin dengan apa yang saya persembahkan. Dan menjadi syah jika tujuh malaikat mendengarkan ikrar tuan”.
Janda itu mengulurkan tangan, yang telapaknya dipegang oleh Ki Rotan. Lalu janda itu menuntut kata-kata ikrar dimaksud: ““Saya. Ki Rotan, dengan saksi tujuh malaikat, mengawini Ki Ratu Senik, janda Ki Tunggal yang merupakan Guru dari segala Guru di seratus bukit ini yang dikawa oleh selawe sungai, dan menjadikannya isteri syah saya, sehingga tidur dan makan dengan dia bukan lagi merupakan perzinaan”. Kata-kata ikrar yang diikuti Ki Rotan itu cukup fasih sehingga Ki Rotan langsung saja menerkam tubuh janda itu tanpa menunggu diselimuti. “Sungguh tuan ini seorang lelaki sempurna”“, demikian pujian Ki Senik sehabis dia mandi keramas dengan tujuh kembang pilihan.
“Tapi saya harus mengembara lagi”, kata Ki Rotan.
“Mencari Kitab Tujuh. “
“Ya”.
“Keinginan tuan dituntut oleh kesabaran. Tuan tak beda dengan Ki Harwati, yang kemarin pagi mendatangiku ke sini, memaksa aku untuk memperlihatkan Kitab Perjalanan untuk mendapatkan peta persembunyian Kitab Tujuh Lupakah tuan bahwa, tuan tidak bisa pergi sendiri? saya ini isteri, garwa tuan, dan wajib menemani anda sampai mati? Dan pernahkah tuan mendengar, cobaan dan ujian yang harus dialami untuk mendapatkan Kitab Tujuh itu?”
“Aku lalu berfikir tentang Ki Harwati”, kata Ki Rotan, “Rupanya dia lebih dahulu melangkah dariku, sebelum aku sendiri melangkah”. “Jangan kecewa. Siapa yang melangkah duluan, belum tentu dialah yang duluan sampai”, kata Ki Ratu Senik. “Tapi akulah yang mendapatkan wangsit”, ujar Ki Rotan. “Wangsit itu hanya petunjuk. Wangsit harus disertai dengan lakon. Tiap lakon mengalami perjuangan. Jika tuan bersikeras pergi sendiri, tuan akan menderitakannya sandiri. Jika saya ikut, keadaan jadi lain. Satu tugas besar dan berat, lebih ringan dilakukan berdua”………………….. Ki rotan seutuhnya percaya kepada ucapan Ki Ratu Senik, karena isterinya ini bukan perempuan sembarangan. “Tadi engkau menyebutkan nama Ki Harwati. Dan kau pun kenal siapa dia dengan baik. Kau bilang, dia kesini memaksamu untuk menanyakan Kitab Perjalanan. Untuk mengetahui peta letak Kitab Tujuh itu. Kalau begitu, Bukit Tunggal ini adalah pusat semua ilmu dan kitab. Jika tidak, kenapa dia berkali-kali harus ke sini”.
“Itu mungkin benar. Tapi seluruh rahasia itu ada pada Ki Tunggal. Padahal begitu beliau mati, terkuburlah seluruh rahasia itu”.
“Jadi apa artinya perkawinan kau dan saya ini?” tanya Ki Rotan.
“Tentu saja ada. Jika aku hamil, aku akan melahirkan keturunanmu!”
“Bukan itu makna pertanyaanku!”
“Setidaknya, memenuhi kebutuhan kelamin anda dan saya, tuan guru”.
“Ah, yang aku harapkan dan kau bukan sekedar kebutuhan kelamin. Aku juga butuh tuah darimu karena kau bekas isteri pendekar bertuah”, kata Ki Rotan. Ki Ratu Senik memegang bahu suaminya. Dan dia berkata lirih: “Kalau demikian, ikrar perkawinan kita tak lebih dari perkawinan hewan. Begitukah anggapan tuan?”
“Kau harus memberi sasuatu padaku”, kata Ki Rotan.
“Apa yang harus kuberi?”
“Bermacam-macam rahasia. Setidaknya Tuan Guru Tunggal pernah bercerita padamu tentang rahasia hidup beberapa pendekar dan calon pewaris ilmu sakti. Pernahkah beliau ketika hidup menceritakan tentang pendekar wanita Ki Harwati?” tanya Ki Rotan.
“Pernah ada disebutkan, bahwa dia akan mewarisi Pedang Ratu Turki. Dan kulihat buktinya, pendekar wanita ini memilikinya, ditaruh di pinggangnya ketika dia datang”.
“Apa lagi?”
“Satu hal terjadi di luar ramalan itu!” kata Ki Senik.
“Ada kelainan?”
“Dia tidak menjadi pemilik Kitab Makom Mahmuda. Padahal gandengan Pedang Turki itu haruslah kitab itu, agar pedang itu tidak salah penggal, kerena pemilik kitab itu tahu jalan masuk dan jalan ke luar yang benar. Karena kedudukan pemilik dua barang sakti itu meliputi cahaya batin. Ini malah sebaliknya. Dia seakan-akan gelap, tak tahu arah, malah ke sini menanyakan padaku Kitab “Menurutmu . . . apa kekurangan Pendekar Harwati?” tanya Ki Rotan. “Mungkin kekurangannya adalah dia berjiwa serakah”, kata Ki Senik.
“Koq anda tahu?”
“Dia memiiliki Mahkota Ular. Di kepalanya ada ular Piransa belang kuning, yang mungkin akan selalu menyesatkan dia. Tidak semua pandekar harus menerima tawaran untuk menghiasi dirinya dengan barang – barang sakti. Menurut almarhum suamiku, tiap pendekar yang baik memiliki benda sakti kembar. Sebagai contoh: bila memiilki pedang sakti, harus punya satu kitab sakti. Juga pribadi pendekar harus kembar: Jika dia punya watak baik, harus disertai watak berkorban. Jika dia punya watak buruk, dia pun harus punya sifat mau menguasai orang lain. Apa anda masih buta dari ilmu satu ini?”
“Bukan begitu, istriku! Apa kau berpendapat dia terhalang mendapatkan Kitab Makom Mahmuda itu karena dia memelihara ular perhiasan?” ,
“Kukira betul demikian”, kata Ki Ratu Senik.
“Ada satu pertanyaan pentingku”, kata Ki Rotan.
“Cobalah menanyakan, selagi aku bisa menjawab”.
“Pertanyaan terpenting buatku, selain Ki Harwati, siapa lagi nama pendekar terpenting di kawasan seratus bukit ini?”tanya Ki Rotan.
“Dia masih turunan Ki Karat. Namanya Ki Gumara. Setelah matinya harimau tua … almarhum suamiku … kudengar Ki Gumara mengisi kekosongan itu. Harimau Tujuh akan tetap tujuh selamanya”.
“Namaku tak beliau sebut?”
“Ada . Tapi tidak dalam urutan penting, seperti halnya nama Ki Ibrahim Arkam”.
“Ada pernah juga disebut nama Pendekar Pita Loka?” tanya Ki Rotan. Ki Senik tardiam sesaat. Menurut ingatannya, nama ini tidak boleh disebutkan oleh siapapun kendati mengetahui rahasia kelebihannya. Jika dilanggar sumpah ini, maka Ki Senik akan melahirkan anak cacat. Diamnya Ki Senik, membuat Ki Rotan curiga, lalu menuding:
“Kau mau merahasiakan kelebihan Pendekar wanita yang satu ini?”
““Bukan aku ingin merahasiakan pada anda. Bukankah anda suamiku? Tapi sekiranya aku menceritakan perihal dia ini, aku akan dikutuk oleh sumpah yang sudah aku janjikan pada Guru semua pendekar. Almarhum Ki Tunggal”. “ Ki rotan menjadi merah wajahnya. Dia berusaha menahan amarah. Namun yang akan dilampiaskan kemarahannya adalah bukan sembarang perempuan. Ketika rasa ngeri itu melintas, wujud pribadinya jadi lemah lembut. Dia bertanya dangan nada merendah:
“Bolehkah aku mengetahui, dari tujuh pendekar harimau itu, detik ini ada berapa pendekar yang bersibuk diri?”
“Tiap kejadian, selalu tiga pendekar bersibuk diri”. “Dari tujuh harimau itu?”
“Belum tujuh harimau itu seluruhnya bersibuk. Pokoknya, satu diantara tujuh harimau itu harus menjalani kesibukan “.
“Setidaknya kamu diberitahu ke mana Ki Harwati pergi?”, kata Ki Rotan.
“Jika pun dia berkata, belum tentu langkahnya ke sana . Pendeknya dia akan selalu dirundung kegelapan selagi dia campuradukkan Pedang Ratu Turki dengan memeli hara barang sakti selain Kitab Makom Mahmuda. Selagi minyak tidak dapat disatukan dengan air, begitupun ilmu hitam tidak dapat dibaurkan dengan ilmu putih”.
“Apakah pernah kau berjumpa dengan pendekar sinting?” tanya Ki Rotan.
“Oh, lelaki gila itu? Maksud tuan Ki Dasa Laksana?”
“Ya!”
““Dia pemilik ilmu Setan”;
“Setidaknya salah satu dari ramalannya bisa terbukti !” ujar Ki Rotan.
“Memang dia meramalkan ketika mampir kesini, bahwa Ki Harwati akan menyerbu Desa Kumayan, membunuh beberapa orang tak berdosa dan memenggal lengan 17 remaja sebagai tumbal mendapatkan buku Kitab Tujuh”.
“Dia juga manyebut nama tempat tersimpannya KitabTujuh”.
“Dia hanya menduga, Kitab Tujuh itu ada di Bukit Kumayan!”.
“Dia ke Bukit Kumayan?” desak Ki Rotan. “Entahlah. Tapi jangan dengar ucapan orang gila. Berteman dengan setan, penghulunya adalah iblis-iblis. Aku ngeri jika anda dipengaruhi oleh ucapannya”, kata Ki Senik. “Kini hampir jelas bagiku, apa yang kau rahasiakan pada saya tentang Ki Pita Loka. Dia puteri Ki putih Kelabu. Dia berasal dari Kumayan. Jadi anda merahasiakan ini sebab kuatir saya akan mengembara ke Kumayan, lalu meninggalkan anda. Sedangkan perkawinan kita baru satu malam” Mendengar tantangan itu, Ki Senik bersedih hati. Dia pernah dengar juga tentang ambisi Ki Rotan yang kobarannya bagai api. Ki Rotan pun tahu kelemahan wanita muda ini. Kelemahannya adalah sex..Jadi pada malam harinya, dicumbunya isterinya itu, tetapi setiap isterinya minta disetubuhi, dia selalu menolak. Hanya dibuatnya ketagihan birahi belaka! “Katakan dulu rahasia Kitab Tujuh itu, agar akulah jadi pemiliknya. Tidakkah kau bangga, apabila aku menjadi raja dari semua guru, temasuk raja dari harimau yang tujuh?
“Jangan bujuk aku sehingga melanggar sumpah”, kata Ki Senik.
““Kau takut anakmu akan cacat?”
“Tentu. Karena itulah inti sumpahku!”
“Kau kalau begitu berpihak kepada Ki Pita Loka? Dia toh musuh saya, dan musuh saya berarti musuh kau !”
Lalu terus saja dibelainya tubuh isterinya agar wanita itu ketagihan dengan rasa birahi dan memanglah usahanya mendekati hasil. Ki Senik meronta dengan dengus nafasnya yang deras, memeluk Ki Rotan secara membabi buta, tapi Ki Rotan mendorong tubuh isterinya sehingga jatuh lagi ke sampingnya.
“Berikan satu rahasia itu”, kata Ki Rotan.
“Tapi penuhi keinginankul” kata Ki Senik. “Tentu”. “Kau sertakan saya ikut ke sana ?” tanya Ki Senik. “Itu soal mudah. Sebutkan dulu rahasianya!” “Rahasianya di … Lembah Tujuh Bidadari”. ujar Ki Senik yang terus menerkam tubuh suaminya dan menyerangnya dengan beringas sampai tercapailah kebutuhan indahnya akan persetubuhan. Sepuas apa yang dia butuhi itu, dengan bermandi peluh dia pun tergelimpang di samping suaminya bagai seorang yang pingsan. Dia barusan terjaga dari tidur pulasnya, ketika cahaya matahari memasuki celah dinding nipah. Tapi ketika dia meraih pakaiannya, segera dia sadari, bahwa kenikmatannya semalam sudah dikhianati oleh sumpah yang dilanggar, dia meraba perutnya, dan yakin bahwa dia akan hamil sebagai akibat kepuasannya semalam. Ah, ketika dia mencari-cari suaminya, Ki Rotan sudah tak ada lagi. Ki Rotan sudah meninggalkan Bukit Tunggal, bahkan sudah terlibat dengan pergumulan menyeberangi sungai Selawi yang airnya buas akibat banjir. Ki rotan sebenarnya sudah hampir dapat meraih akar pohon ganjuling, namun dia lepas lagi. Lalu tubuhnya membentur satu batu besar, terbanting lagi ke kiri dan ke kanan. Di luar dugaan, Ki Harwati ternyata mengalami musibah banjir sungai Selawi, lebih hebat lagi dan yang dialami oleh Ki Rotan. Dia selama dua hari satu malam terombang – ambing dihempaskan arus sungai Selawi, karena kesalahan menempuh jalan setelah dia pergi meninggalkan Ki Senik menuju mudik. Dia yang merasa dirinya mampu meniti arus sungai, mendadak sontak diserbu oleh banjir raksasa dari arah hulu sungai itu. Dikiranya mudah melawan arus mendadak. Dan dia hampir saja tanggelam hanya karena ular piransa yang membelit keningnya copot dari lilitan kepalanya. Dia lebih mengutamakan mencari ular sebesar telunjuk jari itu ketimbang berusahamenyelamatkan diri. Dan seluruhnya berurusan dengan nasib malang atau melintang. Dia tersangkut pada akar pohon gading hijau yang akarnya mencengkeram sungai. Lalu tak bisa lepas lagi seperti masuk perangkap. Ketika itu pulalah, setelah beberapa jam dalam perangkap akar tanpa daya, dia melihat satu sosok terlempar membentur batu tebing ke kiri dan ke kanan. Ki Harwati berteriak:
“Tolong …..! Tolong!”. Ki Rotan segera mencoba mengendalikan diri dari hempasan arus sungai Selawi yang mengamuk itu, menuju suara minta tolong itu. Usahanya berhasil. Dan dia tercengang ketika memegang akar pohon gading hijau yang sepertinya memenjarakan Ki Harwati. “Ki Rotan, tolong cabut pedangku, dan tebaslah akar pohon gading hijau ini!”, ujar Ki Harwati dengan nafas terengah mau manyerah. “Aku bisa saja mengeluarkan kamu dari penjara musibah ini. Tapi kau harus bersedia bersamaku mencari Lembah Tujuh Bidadari”, kata Ki Rotan. “Kini, bahkan diriku sendiri pun seutuhnya kusediakan memberinya pada tuan, tidak menolak lagi seperti dulu, asal saya terlepas dari cengkeraman akar pohon gading hijau ini. Tolong cabutkan pedang saktiku ini, tuan Guru”. “Baik, baik, Jika kau langgar janjimu, kau akan celaka”, kata Ki Rotan. Dengan susah payah, Ki Rotan berusaha mencabut pedang Turki itu dari sarangnya yang terjepit di pinggang Ki Harwati. Tetapi rupanya mencabut pedang sakti begitu tidak semudah mencabut pisau di pinggang tukang mangga. Begitu semangatnya Ki Rotan berusaha untuk mencabut, sementara Ki Harwati pun sudah meronta-ronta dengan lebih bersemangat untuk membebaskan diri, segera setelah ….. pedang itu tercabut maka bergemuruhlah air yang mendadak datang dari arah hulu, banjir yang lebih besar sehingga pohon gading hijau di tepi tebing itu tumbang. Satu kilatan kelihatan, yakni kilatan mata pedang yang terpelanting entah ke mana. Sementara itu pula Ki Harwati terseret bersama-sama akar pohon yang hanyut menuju hilir, disertai oleh suara gegap gempita. Ki Rotan sendiri lebih mengutamakan keselamatan dirinya daripada dia sendiri tenggelam. Dia terseret labih cepat ketimbang Ki Harwati yang masih terkena cengkeraman akar pohon raksasa itu. Tapi dalam berusaha menyelamatkan nyawanya, Ki Harwati pun dapat membebaskan dirinya dari cengkeraman akar. Hanya karena suatu kebetulan pohon itu membelintang dan Ki Harwati tetap diseret arus lalu lepas. Dia berenang kian kemari untuk mencari keselamatan. Sampai akhirnya dia melihat tangan menggapai-gapai di tengah sungai lebih kehilir sana , tak lain tangan Ki Rotan yang mohon pertolongan. Banjir sungai Selawi yang bentuknya bagai lingkaran ular itu, telah menantikan nasib dua pendekar lain jenis ini berkali-kali saling tolong menolong. Dan kedua-duanya berhasil selamat dengan saling berpegangan sewaktu arus menyeret mereka ke cabang sungai yang ke kiri. Ketika itu hari senja, sewaktu Ki Harwati tanpa sengaja berseru:
“Lihatlah pelangi di langit itu! Aku sudah mnemukan tempat yang mesti dituju!” Tampak memang Bukit Segundul sebagai petunjuk di sebelah Bukit Api. Di belahannya itulah Lembah Tujuh Bidadari. Namun dalam kegembiraan itu Ki Harwati menyesali: “Sayang senjata saktiku dua-duanya lenyap karena musibah ini”. “Jangan berdukacita, Guru Muda. Saya siap mengawal tuan untuk sampai ke tempat itu. Bukankah yang tuan maksud, di tempat lengkung pelangi jatuh itu terletak Lembah Tujuh Bidadari, dan di sana pula bersemayam Kitab Tujuh?”. Ki Harwati terdongak kaget. Sebelum dia bertanya:”Jangan dikira hanya tuan Guru saja yang mengetahui rahasia itu. Istriku janda pendekar besar Ki Tunggal. Satu diantara kita akan menjadi pemilik Kitab Tujuh itu. Hal itu tak perlu anda rahasiakan lagi”, kata Ki Rotan, yang membuat Ki Harwati tambah melongo.  AKHIRNYA, Ki Harwati terpukau oleh ramalan – ramalan yang diucapkan Ki Rotan sehingga dia berkata: “Sekiranya aku ikuti apa yang dituturkan kakakku Gumara, mungkin segalanya dengan mudah aku petik”, lalu meneruskan langkah. “Itu tetap saja sulit, karena satu pekerjaan besar lebih baik dilakukan dua orang daripada satu orang” ujar Ki Rotan yang sebenarnya menjiplak ucapan Ki Senik. Mereka melanjutkan langkah sembari terus bicara. “Bagaimana caranya?”, tanya Ki Harwati. “Bukankah kau berjanji akan menyerahkan dirimu seutuh tubuhmu jika kau selamat dari bencana sungai Selawi?” usik Ki Rotan. “Itulah kelemahan tuan, Tuan Guru”, kata Ki Harwati. “Dan kelemahanmu aku tahu pula. Kau pendekar serakah. Kau yakinilah, bahwa bukan kamu yang akan mendapatkan Kitab Tujuh itu”, kata Ki Rotan. Mendengar ucapan itu, langkah Ki Harwati terhenti. Ki Rotan merasa terancam bahaya jika Ki Harwati mengamuk. Lalu dia merasa butuh teman dan ditempuhnya cara bijaksana dan damai. “Kita dari dulu selalu berkait dengan hutang budi. Jangan sampai kau tersinggung oleh ucapanku. Perjalanan kita masih jauh, setidaknya turun naik jurang sebanyak lekukan enam kali lagi. Mari kita tidak bicara sepatah kata pun. Kita menuju jatuhnya pelangi sekarang…” Dan alangkah terkejutnya Ki Harwati maupun Ki Rotan, sebab warna lengkung pelangi itu hilang seketika itu juga, kendati gerimis dan cahaya matahari masih ada. Keduanya kehilangan pedoman, saling bertanya:
“Di mana kita?” Ki Rotan melihat satu jalan lurus. Ki Harwati juga melihat jalan lurus itu. Keduanya kehilangan akal, sampai muncul seseorang dari balik sebuah bukit ilalang. Orang itu melangkah bagaikan orang mabuk, dari arah Bukit Anggun. Ketawanya membelah angkasa, langkahnya sempoyongan. “Kalian berdua tentu tak lupa siapa saya”, kata orang itu. “Ki Dasa Laksana!” seru Ki Harwati serentak dengan Ki Rotan. “Kalian berdua tersesat. Dan butuh aku tentunya”, kata Ki Dasa Laksana. “Betul, kau penolong kami”, kata Ki Harwati. “Jangan tuan guru muda”, kata Ki Rotan memperingatkan, “Janda Ki Tunggal yang aku kawini sudah meyakinkan diriku, bahwa ilmu Ki Dasa ini adalah ilmu Setan dengan iblis sebagai Penghulunya. Jika kita dengar apa yang diucapkannya, kita malah tidak mendapatkan apa yang kita cari”. “Aku potong pembicaraanmu, tikus tua bangka! Aku tahu apa yang kalian cari. Padahal aku telah memilikinya. Telah aku tumpas Ki Pita Loka, dan telah kusimpan Kitab Tujuh itu. Jika kalian berdua ingin mendapatkan tuah Kitab Tujuh, dan berguru kepadaku, syaratnya sedarhana”. “Apa?” tanya Ki Harwati terkena pesona. “Sederhana. Kalian berdua, bersama aku, menuju Desa Kumayan. Kita habisi nyawa enam harimau yang bercokol di sana , kita rubah tata hidup orang di Kumayan. Dan kita bertiga baru syah menjadi orang-orang sakti. Tahukah kalian, bahwa panghalang semua ilmu sakti itu hanya satu orang, yaitu Ki Pita Loka. Sedangkan dia sudah aku bunuh di Lembah Tujuh Bidadari dalam perang tanding yang dahsyat. Kalau kalian tidak percaya, mari kita lewati kuburannya”. Ki Rotan kini ikut terpesona. Langkahnya jadi besar mengikuti langkah Ki Dasa Laksana yang seleboran kayak orang mabok itu. Ketika sampai ke satu lembah, dia menunjuk tujuh pancang kuburan. Ki Harwati tercengang. Enam kuburan berisi enam potongan tangan dan satu kuburan lagi tidak. “Yang tidak sempat aku potong tangannya hanya satu ini, Ki Pita Loka. Tahukah kalian, mengapa Ki Pita Loka gagal mendapatkan Kitab Tujuh? Ini, enam pemuda remaja, pria-pria muda yang berguru padanya. semuanya dia ambil bujangnya melalui perkosaan halus. Dia kena laknat tujuh bidadari. Dan kampungnya Desa Kumayan pun dilaknat para guru, sebab dia anak Ki Putih Kelabu, salah satu dari harimau yang tujuh yang disegani, yang kini jumlahnya jadi enam karena matinya Ki Tunggal. Jadi, kalian berdua harus berterimakasih dipertemukan dengan saya. Ayoh melanjutkan perjalanan. Kita ke Kumayan. Kita goncang desa enam harimau itu. Kita bunuh satu persatu orang-orang yang disegani, sehingga seluruh penduduk jadi kecut. Dan kita bertiga akan ditakuti!” Semangat Ki Harwati, begitu juga Ki Rotan, berkobar. Dan ketika mereka menemukan seorang lelaki utas bersama isterinya, Ki Dasa Laksana memanggil mereka. Ternyata mereka orang utas asal Kumayan. Ki Dasa Laksana dalam sekelebatan memenggal lengan lelaki utas itu. Isterinya melolong ketakutan. “Jangan kuatir. Kami bertiga cuma butuh tumbal lengan suamimu ini. Kalian berdua tidak akan kami bunuh. Pulang tenang ke Kumayan, beritahu pada penduduk, bahwa tiga pendekar pimpinan Ki Harwati akan menyerang desa kalian, kecuali jika penduduk bertekuk lutut.” Gumara barusan saja melepas lelah di Bukit Kumayan setelah melalui perjalanan panjang. Dia kuatir, kembalinya ke Kumayan akan dielu – elukan penduduk secara berkelebihan. Pakaiannya yang compang camping merisaukannya dan pastilah akan dianggap keanehan. Dan apabila dia langsung kembali ke rumahnya yang masih terikat kontrak sewa itu, pastilah juga dia akan berpergokan dengan salah seorang tukang ronda. Dan mungkin pula rumahnya itu sudah dikontrakkan lagi kepada orang lain sebab bisa saja dirinya dianggap “hilang”, dan setiap perkataan hilang akan punya dua makna. Hilang mati, atau hilang sebagai manusia biasa yang akan menjelma menjadi manusia istimewa, Jika anggapan yang terakhir ini timbul, dia akan dikira nanti sudah menjadi “Dukun Sakti” Tapi pakaian kumal dan compang camping ini harus segera diganti sebelum dia dipergoki satu orang penduduk Kumayan. Dia tiba-tiba ingat pada mantera “ilmu silap mata” yang pernah diwariskan ayahnya sebelum Ki Karat itu wafat;
Ada karena aku ada
Aku ada karena ada
Aku tiada karena ada
Sembilan liang lima pancar Lima pancar sembilan liang
Aku ada karena sinar
Tiada sinar aku menghilang!
Lang kata berbilang
Aku hilang dalam Lang Karena keyakinannya pada ilmu hilang itu, diamalkannya membaca mantera itu. Seketika itu juga
menjelma seekor harimau. Dan di atas punggung harimau itulah kini Gumara berada Amalan mantera itu terus saja dia ucapkan. Dan dia telah tiba memasuki pekarangan rumah. Ternyata rumah itu sudah berpenghuni. Gumara memutar pegangan pintu, lalu pintu terbuka tanpa suara. Gumara melihat seorang lelaki tidur diambin. Lelaki itu tidur nyenyak. Gumara masuk ke kamar.
Dan dia melihat kopornya masih utuh. Dia ambil sepasang baju dan celana, lalu dia menukarnya di kamar mandi. Dia ganti sepatunya. Lalu dia buang pakaian usang dan sepatu usangnya yang lusuh dan koyak. Kemudian dia keluar rumah setelah bersisir rapi. Setiba di luar rumah dia diciumi harimau yang jadi tunggangannya tadi. Tanda harimau itu berpamitan dengan dia. Harimau itu menggelicik memasuki kebun jeruk. Dan menghilang. Amalan mantera dia akhiri dengan usiran halus, lalu dia coba memutar pegangan pintu rumah itu. Pintu tak bisa lagi dibuka seperti tadi Gumara puas, karena kini dia kembali menjadi manusia ragawi, nyata, dan terlihat orang. Barulah dia mengetuk pintu. Lelaki yang tadi tidur diambin bambu lalu melihat jam tangan . Tengah malam Ketukan itu didengarnya lagi. Lalu lelaki itu agak kecut bertanya: “Siapa di luar? Ada yang mengetuk?”
“Saya”.
“Siapa?!” agak merinding lelaki tadi berseru gemetar.
“Saya. Guru Gumara”, ujar Gumara
Lelaki tadi agak gentar sejenak. Dia ditugaskan menjadi Guru Matematika di Kumayan karena
alasan bahwa Guru Gumara telah meninggal dunia. Kini ada orang mengaku bernama Gumara?
Orang mati hidup lagi?
Didengarnya lagi ketukan pintu.
Lelaki itu tambah kecut, kendati suaranya lantang membentak: “Siapa di luar!”
“Saya. Guru Gumara”. sahut Gumara.
Lelaki itu jadi ketakutan. Kisah mengenai Guru Gumara sudah hampir jadi dongeng, termasuk
kisah Harwati dan Pita Loka di kawasan Kumayan ini.
“Apa saya tidak salah dengar?” tanya lelaki itu gugup.
“Bukalah dulu pintu ini”, ujar Gumara.
“Tidak, tidak! Saya tidak berani! Saya dengar Bapak sudah … mati!”. Gumara bersitenang
beberapa saat. Dia tahu dirinya sedang diintip. Dia tidak boleh membuat orang lain takut. “Bukalah. Aku masih hidup. Yang bicara pada anda sekarang ini manusia. Bukan roh. Tapi Gumara, guru SMP Kumayan”, ujar Gumara dangan nada meyakinkan.
Lelaki itu membuka pintu. Wajahnya basah kuyup oleh keringat dingin, pucat dan masih curiga.
Gumara masuk dan berkata: “Jangan takut. Aku bukan mahluk halus, kan ? Siapa namamu? Apa pekerjaanmu?”
“Silahkan duduk, Pak Gumara. Nama saya Alif. Pekerjaan saya guru matematika yang
menggantikan bapak selama Bapak menghilang”, dan Alif pun jadi ramah. Bahkan menawarkan
Gumara makan. Tapi Gumara sedang mengamalkan puasa yang mesti dilakukannya siang malam
bagi pembersihan diri. Alif merupakan manusia pertama yang tak dapat menyembunyikan kegembiraannya karena hadirnya Guru Gumara di desa Kumayan. Setelah disediakannya tempat tidur bagi tamunya, dan dipersilahkannya Gumara beristirahat,
maka guru matematika itu pertamakali memberanikan diri ke luar rumah di tengah malam itu. Yang dia datangi adalah Ki Putih Kelabu, dan langsung memberitakan kedatangan Gumara. Ki Putih Kelabu terdongak demi mendengar kedatangan Gumara.
“Beritakan juga pada Ki Lading Ganda dan semua pendekar di Kumayan ini, nak Alif”. kata Ki Putih Kelabu.
“Sudah lama penduduk Kumayan gusar. Baiklah, akan saya hubungi semua orang”, ujar Guru matematika itu dengan langkah girang meninggalkan rumah pendekar Kelabu itu. Risaunya hati Ki Putih Kelabu terhadap menghilangnya putrinya yang baru kembali, Ki Pita Loka —— bukannya kerisauannya yang besar. Tetapi yang sungguh merisaukannya adalah sebelas
orang anak remaja yang kembali ke Kumayan dalam keadaan tangan buntung. Justru kepergian Ki Pita Loka dengan enam anak remaja buntung lainnya itu seperti diberitakan 11 anak yang pulang, adalah kabar baik. Dia yakin Ki Pita Loka bukan pergi sembarang pergi. Ia pasti pergi untuk suatu maksud besar. Tapi, risaunya bangkit lagi ketika Lambada orang utas yang tangannya dibuntungi sembari dititip pesan: Bahwa penduduk Kumayan akan dihabisi. Tak jelas pula suami isteri Lambada orang utas siapa pengancam itu. Tapi dia sudah dibuntungi sedikit menciptakan keyakinan, bahwa pengancam itu menganut Ilmu Iblis. Kini, Guru Gumara sudah kembali. Harapan Ki Putih Kelabu mulai bersemai di hati. Begitupun Ki Lading Ganda setelah mendapat kabar dari Guru Alif, sedikitnya merasa terhibur. Tapi Ki Lading Ganda maupun Ki Putih Kelabu, pagi hari ketika mendatangi Guru Gumara lantas kecewa. “Tuan adalah Harimau Ketujuh, pendekar pelengkap. Anda yang membuat enam harimau bersatu, dan anda adalah Yang Ketujuh”, ujar Ki Lading Ganda.
“Saya manusia biasa. Saya kesini akan kembali jadi guru biasa, guru sekolah. Jangan sebutkan
diriku Harimau Ketujuh julukan itu terlalu berat bagiku”. Sungguh, kerendahan hati yang menjengkelkan dua guru yang datang. Tiga pendekar harimau yang lain sudah tak bersedia datang karena berpendapat bahwa Gumara dirasakan amat angkuh.
“Jadi anda tetap tidak bersedia jika desa Kumayan akan diobrak-abrrk pengacau?”
“Desa ini kan tersedia sarana keamanan?” kata Gumara.
“Memang sekiranya perampok, maling dan pemberontak yang datang ke sini, polisi kira – kira cukup untuk mengatasinya. Tapi saat ini desa kita justru mau dikacau oleh pemilik ilmu Hitam, ilmu iblis? Kita semua ini, yang merasa diri memiliki ilmu Putih harus turun tangan lebih dulu”. “Saya rasa semua itu baru gertak sambal”, ujar Gumara.
“Ha?” Ki Lading Ganda terdongak.
“Mau bukti?” tanya Ki Putih Kelabu sedikit geram,
“Nah, kalau tuan mau bukti, panggil sebelas remaja di luar itu, dan juga Lambada yang sudah dibuntungi! Ayoh panggil kesini tuan Khatib!” serunya. Tuan Khatib memanggil sebelas anak bertangan buntung. Ketika dilihatnya Lambada si orang utas, dia pun dipanggil Khatib: “Kamu juga, orang utas”.
Sebelas remaja, dan satu orang utas, dihadapkan pada Gumara. Gumara hanya diam. Tapi kendati wajahnya tak ada reaksi, namun keringat yang bermanik – manik dikeningnya itu adalah bukti terperangahnya dia. Dia diam membisu, kemudian berkata: “Aku menyatakan duka dan prihatin atas dibuntunginya lengan adik – adik tak berdosa ini. Mau pun anda, orang utas
Lambada. Tapi siapa di antara kalian yang jadi korban ini yang mengetahui pelaku kekejaman ini?”
“Seorang lelaki”, ujar anak buntung. “Dan kau?” “Juga seorang lelaki”, kata Lambada, “Cuma saya segan untuk menambahkan carita ini”. “Katakan saja padaku”, kata Gumara. “Soalnya dia ada pertalian darah dengan Guru yang dimuliakan di sini, yakni Tuan Guru Karat yang sudah meninggal”, kata orang utas itu.Gumara terdongak. Terbayang olehnya Harwati, adik
tirinya. Dia jadi malu oleh keterangan ini, berdiri tegak dan berkata tenang: “Dia yang dimaksud adalah saudara satu darah denganku. Lain Ibu. Aku meninggalkan Kumayan karena ingin meluruskan jalan ilmunya. Lalu apakah adik perempuanku itu yang memotong dengan Pedang Turki itu?” Orang utas yang digelari Lambada itu menggelengkan kepala. Hal ini membuat semua orang terheran-heran. Gumara lalu mendesak: “Jadi siapa yang memotong lengan anda. Lambada?”
“Lelaki itu!”
“Bukun Ki Harwati dengan pedang Turkinya?”
“Wanita itu tidak punya senjata. Apalagi pedang. Yang memegang golok panjang adalah lelaki itu.”, ujar Lambada.
“Ceritakan pada kami siapa lelaki itu!”
“Tak dia sebut namanya. Saya dipanggil, ditanyakan, lalu dipotong. Dia sepertinya orang gila”, kata Lambada.
“Ini tentu Dasa Laksana”, ujar Gumara.
“Betul, itulah orang menyebut namanya di desa Anggun waktu kami disekap”, kata beberapa anak buntung
“Ada yang lain?” tanya Gumara.
“Ada lagi satu lelaki tua, agak bongkok” Gumara lalu ingat Ki Rotan.
“Baiklah, kini aku tahu bahwa komplotan ilmu Hitam ini adalah Dasa Laksana yang menjadi biang keladinya. Jika adikku sudah tidak memegang senjata sakti Ki Turki itu, ini berarti dia tak memiliki daya apa-apa lagi namun Gumara bertanya sekali lagi pada orang utas itu: “Tuan tidak melihat ada ular Piransa membelit di kening wanita itu?”
“Hanya rambut terjurai, tidak ada apa – apanya”, kata Lambada.
Ki Lading Ganda yang tidak sabar lagi lalu berkata pada Gumara: “Tuan Guru Ketujuh, sekiranya hati tuan tak tergerak, mulut tuan membisu, maka tuan termasuk orang yang tidak berperasaan”. ““Hanya karena adik saya terlibat ya?” tanya Gumara kesal.
“Hanya karena mata tuan buta atas sebelah tangan remaja yang tak berguna lagi, dan satu tangan lelaki utas yang awam yang sudah dikorbankan gerombolan adik tiri tuan”, kata Lading Ganda. Gumara diam. Dia tutupi mukanya entah karena malu.
Tapi kemudian berkata pada yang hadir: “Pulanglah kalian semua ke rumah masing – masing dengan jiwa damai dan berserah pada takdir Tuhan”.
“Kami tak mau!” ujar seorang ibu, “Anakku sudah buntung!”
“Tapi ibu musti tahu, bukanlah saya yang membuntungi tangan putera ibu”.
“Kalau begitu tuan pengecut!” kata ibu itu. Gumara tak merasa perlu menjawab. Dia lalu duduk kembali. Tinjunya dia kepal.
Sementara itu, dimulai oleh Ki Putih Kelabu yang menyatakan pamit, disusul oleh Ki Lading Ganda, lalu satu demi satu penduduk yang berkumpul di pekarangan rumah Gumara yang kini jadi rumah Guru Alif itu, berangkat pergi meninggalka Gumara. Tapi masih ada lagi tiga orang ibu yang tidak bersedia pergi. Satu orang di antaranya minta izin bicara. Gumara pun mempersilahkan. “Saya bukan ibu dari anak yang sebelas. Saya ini ibu anak lelaki Talago biru yang menurut cerita temannya yang lain sudah dipotong tangannya oleh komplotan adik tiri tuan. Dari Ki Putih Kelabu saya sudah diberi jaminan, anakku akan diajari ilmu oleh puteri Pita Loka untuk menuntut bela atas kehormatannya. Kini saya ini wanita, janda, tak punya ilmu dan keberanian. Kalau saya sudah menyatakan kebulatan tekad membela negeri ini dihadapan Ki Putih Kelabu dan Ki Ganda, bagaimana tekad tuan? Saya ingin dengar!” Gumara menyahut singkat: “Saya hormat pada ibu!”
“Tuan tak usah menghormati saya. Lebih baik kambing yang menyatakan hormatnya kepadaku! yang saya ingin dengar sikap tuan!”
“Ibu tak usah mendengarnya. Buat apa saya bicara sekarang, karena nilainya hanyalah angjn, tanpa bukti nyata”, ujar Gumara.
“Mulut tuan cukup bebal. Saya meragukan cerita orang, bahwa tuan ini mewarisi titisan darah Ki Karat yang kami agungkan. Kami juga meragukan jaminan Ki Lading Ganda, bahwa tuan inilah Harimau Ketujuh di Kumayan ini, satu-satunya benteng utama negeri ini dari serangan musuh. Saya kira, tuan memang punya sedikit perasaan. Tapi karena adik tuan yang genit itu, Ki Harwati yang sudah bartekuk lutut pada ilmu Setan, maka pendirian tuan jadi bimbang”.
Gumara diam saja. Telinganya bagai terbakar. Tapi dia dapat mengendalikan kesabarannya!
Malamnya ketika ditawari makan, Gumara berkata pada guru Alif: “Aku malu menikmati hasil ladang penduduk sini. Aku akan pergi cari angin ke luar”. Gumara rupanya secara rahasia menuju Bukit Kumayan.
Di tengah “paku” Bukit Kumayan itu dia duduk bersila. Air matanya bercucuran.
Sunyi alam sekeliling. Burung-burung hantu yang biasanya berdekuk, kelihatannya enggan bersuara.
Juga jangkrik-jangkrik maupun kodok bangkong, enggan untuk memecah kesunyian tengah malam itu. Kadang terdengar deru angin, tapi saat ini angin pun seakan enggan berderu. Cemara-cemara yang susun bersusun di tepi bukit tidak bergoyang pertanda tak ada angin. Tetapi Gumara mendadak menghentikan tangisnya. Ketika telinganya mendengar sejarak tiga
ratus langkah di selatan sepertinya ada orang mendekat. Telinganya jadi tambah tajam ketika dia mendengar bunyi logam bergeser. Lalu hatinya berdetak: “Ini tentulah Lading Ganda. Dialah pemilik satu pedang yang jika dicabut menjadi dua pedang”.
Firasatnya timbul. Lading Ganda akan datang untuk menghabisi jiwanya. Kini berdasarkan ketajaman indera keenamnya, pendengarannya diberitahu bahwa langkah itu semakin dekat, tinggal sekira 100 langkah lagi. Benar, langkah itu cukup cepat untuk menjadi dua puluh satu langkah lagi dari jarak duduk Gumara, lalu berhenti. Gumara membelakang. Dia mendengar suara logam beradu, senjata Ki Lading Ganda.
“Tuan, aku datang untuk menghabisi diri tuan”, terdengar suara. Gumara menghembuskan nafas panjang, amat lama, seakan-akan mengeluarkan semua hawa dalam dirinya. Sedang ketika dia menghelanya lagi, pendek saja, dan hembusannya panjang lagi, hingga menggoyangkan daun-daun kaca piring yang berumpun sekitar 10 langkah dari duduknya. “Tuan, dulu saya berminat mengambilmu mantu. Juga Ki Putih Kelabu. Tapi kedatanganku di sini atas izin Ki Putih Kelabu maupun tiga harimau lainnya. Kami berlima sudah mengucapkan ikrar, bahwa tuan itu manusia tak berguna di Kumayan Ini. Hewan masih lebih berguna dari tuan. Jadi aku diutus untuk menghabisi tuan”.
Gumara tak bergerak sedikitpun. Juga ketika Ki Lading Ganda sudah memulai dengan bunga persilatan, termasuk tempelan kependekaran yang sudah diisikan oleh empat pendekar lainnya. Jadi Ki Lading Ganda sudah berisikan lima jenis persilatan dalam satu diri ! Gumara hanya bergerak sedikit sewaktu satu sabetan lading keramat mau menebas kapalanya,
yaitu gerakan menunduk. Angin dari dua ujung kaki pendekar bergolok itu sempat mendesing di kedua telinga Gumara. Lalu Gumara melihat dua logam tajam berkilau serentak terayun ke arah dirinya, tetapi sebelum membelah kepalanya, Gumara cuma berguling menghindar perlahan. Akibatnya satu tendangan manyamping mengenai bahunya. Tendangan Ki Lading Ganda itu
sedemikian kerasnya, sampai melemparkan tubuh Gumara yang tadinya membulat, membentur dua pohon cemara, dan membuat pohon cemara itu terpotong dua-duanya bagai digergaji rata. Gumara sendiri membinasakan tigabelas pohonan pisang berumpun, dan dia seakan – akan harus menggeletak di atas bantalan pohon pisang yang jadinya berjajar itu.
Ki Lading Ganda tiba-tiba yakin bahwa Gumara hancur karena buktinya dua batang pohon Damara patah terpotong seperti digergaji. “Mampus kau, manusia angkuh!”ujar Ki Lading Ganda mengutuk. Eh tiba – tiba pula muncul dengan sempoyongan Gumara dari balik rumpunan pohon sawo di arah timur. Dia seakan – akan mau menyerahkan diri kepada Ki Lading Ganda. Langkahnya tidak memperlihatkan kesiapan sedikitpun untuk bertarung. Hal ini membuat Ki Lading Ganda menantinya, membuat acuan untuk melakukan lompatan sembari akan menebas perut Gumara. Itu dilakukannya dalam jarak duabelas meter. Dia membuat jungkir balik dua kali sebagai tipuan salto, dan ketika menjungkir yang ketiga kali dia ayunkan dua golok kembarnya itu yang berkilat membabat tubuh Gumara. Tampaknya tubuh itu sudah terbabat, tapi Ki Lading Ganda terheran-
heran mencarinya entah kemana namun tak kelihatan. Meloncat tinggikah dia tadi? Lalu tampak ada orang turun dari pohon aru – aru yang tinggi. Turun begitu saja ibarat turunnya kera pemanjat kelapa yang terlatih. Sebelum orang itu, yang tak lain Gumara, sampai turun benar, maka Ki Lading Ganda ingin mempergunakan kesempatan terbaiknya: Dia nanti dan dua golok kembarnya membabat. Saking kuatnya, golok itu menancap di pohon aru-aru itu, begitu dalamnya. Yang dirasa Ki Lading Ganda ketika di babatkan goloknya itu adalah desingan angin di alas kepalanya. Memang betul. Ki Gumara sudah duduk bersila di tengah “paku” Bukit Kumayan itu. Ki Lading Ganda masih berusaha mencabut goloknya yang menancap. Saking kerasnya tebasan golok dan
tancapannya itu, hingga dua mata golok itu sudah hampir beradu, dalam jarak satu belahan lidi saja lagi! “Maafkan, saya menyusahkan tuan saja”, ujar Gumara, lalu meninggalkan Ki Lading Ganda. Barulah ketika fajar menyingsing Ki Lading Ganda berhasil melepaskan tancapan goloknya, sementara Gumara sudah ngorok di rumah ketika itu … Dan ketika Gumara tidur nyenyak itulah, dia dibangunkan oleh Guru Alif yang akan pergi mengajar. Ada lima orang tamu penting yang minta bertemu dengan Gumara. “Siapa mereka?” tanya Gumara.
“Selain Ki Lading Ganda dan Ki Putih Kelabu, yang tiga lagi saya tak mengenalinya”, kata Guru Alif.
“Di mana mereka sekarang?” tanya Gumara.
“Semuanya tak bersedia naik. Semuanya di pekarangan”, ujar Guru Alif. Gumara bersitenang sejenak. Lalu dia ke kamar mandi. Dia mencuci muka sejenak. Lalu bersisir merapikan rambut. Kemudian dia membuka pintu depan. Dalam sekelebatan dia tidak heran, di balik tiap rumpunan pohon telah terdengar deru auman harimau. Lima pendekar secara langsung sudah menjelmakan
diri mereka menjadi lima ekor harimau! Gumara sadar, bahwa dia sedang dalam ujian. Dan taruhan! Dia bebaskan dirinya dari sikap jengkel atau bangga. Dia tarik nafasnya dalam-dalam, seakan-akan seluruh nyawanya sudah kosong. Dan ketika dia merasa seluruh dirinya menjadi ringan, dia menuruni tangga rumah sampai ke pelataran tanah, pelataran pekarangan.
Setiba di sana , dia sudah merasa seringan awan bergantung. Dia telah melepaskan dirinya dari seluruh pengertian hayati dan ragani. Ujud raga kasarnya yang terlihat adalah wujud Guru Gumara yang tak meyakinkan sama sekali. Dia melangkah ringan menerobos semak-semak, diiring dari belakang oleh wujud ragani lima ekor harimau. Daun-daun seakan merunduk memberi salam takzim kepada Gumara yang melangkah santai. Kadang memang dia harus menyerempet daun-daun itu, namun “hanya sedikit yang terkibas. Bahkan daun singkong kuning yang sudah siap untuk rontok oleh hembusan angin, ketika tergeser oleh tubuh Gumara yang menyerempetnya, tak jadi gugur ke tanah. Gumara terus melangkah menginjak rumputan yang masih berembun. Tapi rumputan itu seakan-akan tidak meninggalkan bekas telapak kaki Gumara yang baru menginjaknya.
Setiba di tepi Bukit Kumayan, Gumara berhenti sejenak. Lima harimau yang menggiringnya dari belakang pun hati-hati berhenti.
Ada yang mengibaskan ekornya. Ada yang mulai mengaum. Tanda tak sabar. Gumara melirik, dia mengetahui itulah penjelmaan Ki Lading Ganda. Di bawah sana itu, di sudut tiga Bukit Kumayan, kedengaran suara gemericik Pancuran Mayang.
Air terjun itu dikenal tabu oleh penduduk. Tapi Gumara harus ke sana . Ketika langkahnya baru empat puluh kali pijakan menuju bawah itu, harimau yang paling geram aumannya mendadak meloncat ke depan, mencegat, mencekerkan cakarnya pada tanah kucing menggali. Ketegangan amat terasa. Seekor harimau yang lebih lembut gerakannya, dengan tanda khusus putih – putih bergaris di sela abu-abu mencegat pula. Ia tahu, dia ini tak lain pendekar paling disegani: Ki Putih Kelabu. Tiga lainnya pun sudah maju ke depan. Menghadang semuanya Ketika itu Gumara semestinya menampilkan kesejatiannya, menjelmakan
dirinya pula pada kependekaran, melengkapkan yang lima jadi enam. Tapi Gumara Cuma menghentakkan nafas dari ubun kepala ke pusar-pusarnya dangan satu hentakan nafas yang padat. Dirinya melayang melompati lima pendekar yang siap mencegatnya. Dia melayang bagai kapas diterbangkan angin. Satu lompatan layang itu mampu melampaui
jarak 12 meter, lalu turun bagaikan seekor bangau. Dan kakinya menciptakan suara gemericik cipratan air sewaktu sampai di depan Pancuran Mayang. Ketika dia menoleh ke atas bukit sana, yang disaksikannya adalah lima orang pendekar manusia:
Ki Lading Ganda. Ki Putih Kelabu, Ki Rangga dan Ki Zarah dan Ki Lafaz. “Hai tuan-tuan, mari mandi di Pancuran Mayang”, ujar Gumara. Gumara mendengar suara Ki Putih Kelabu yang menyahuti di atas itu: “Tuan muda, ajari kami”.
“Aku hanya mengajak kalian mandi”, sambut Gumara. “Ajari kami mandi”, kata Ki Putih Kelabu.
Gumara hanya menyahuti: “Lihatlah apa yang aku perbuat, dari jauh”.
Gumara menhenyakkan nafasnya dari ubun ke puser, sembari satu tangannya menebas air terjun itu. Lima pendekar menyaksikan air terjun itu terpotong dua. Yang di atas tak lagi mau turun ke bawah, tapi kemudian turun lagi sewaktu Gumara menghela nafasnya dari puser ke ubun kepala. Dia sabet lagi air terjun itu dengan tangan kiri. Kejadiannya sama seperti yang pertama. Seluruh amalan itu dia perlihatkan sebanyak 41 kali. Lima nafas besar di atas melepaskan ketegangan dan kekaguman. BELUM habis lima pendekar menyaksikan pelajaran itu, mereka semua menoleh ke arah suara seorang perempuan minta tolong. Perempuan itu dengan histeris memegang tubuh Ki Lading Ganda yang dia kenal jagoan; “Tuan
guru! Kumayan mandi darah ! banyak orang dibunuh oleh pendekar sinting!” Ki Putih Kelabu kalap, dan menoleh ke pancuran di bawah situ. Ki Lading Ganda malah memanggil ke bawah: “Gumara, bantulah kami!” Tapi guru yang tiga lagi justru melihat Gumara sudah tak berada di Pancuran Mayang sembari tercengang heran. Ya, dia sudah melakukan sebelas lompatan ke atas tanpa diketahui oleh lima pendekar itu, dan kini berhadepan dengan seorang pendekar yang mempermainkan goloknya, seorang wanita berambut sarang laba-laba yang tak lain Harwati yang ketawa cekikikan melulu, dan … Ki Rotan Sebenarnya baru tiga orang menggelimpang membasahi tanah Kumayan. Mereka terkena golok liar Ki Dasa laksana yang masih menari dengan goloknya. Gumara dalam sekelebatan seakan bagai seekor bangau yang mengibaskan telapak -tangannya ketika golok itu akan menyabet lehernya. Golok itu membal, lalu mata golok itu menghantam tangan Dasa Laksana. Darah manyembur dari pergelangan tangan pendekar sinting itu, dan dia berteriak Mendengar teriak itulah Ki Rotan bangkit dengan kemarahan hebat, menghambur dengan kedua kaki menjepit leher Gumara. Gumara cuma mengangguk sedikit, tapi tubuh Ki Rotan dan jepitan kakinya berbalik lepas, terlempar sekitar sepertiga lapangan bola. Detik itulah Gumara mencengkeram tubuh Ki Harwati yang menjerit histeris, dan berkata: “Ingat siapa dirimu!”
Ki Harwati menguakkan dua tangannya, lalu mundur membuka kuda-kuda. Dengan ayunan kaki ke kiri sekali, lalu kaki kanannya menguak lebar dari tubuhnya menerobos bagaikan seekor buaya menyarang dari bawah. Gumara terkena sabetan kaki adik tirinya itu bagaikan manusia terkena sabetan ekor buaya. Gumara melompat dangan dua tangan mengincar belahan mulut Harwati, ibaratnya pawing buaya menaklukkan buaya. Kendati kaki Harwti berkelabat bagai ekor buaya menyabet, namun
mulutnya sudah dikuak seakan-akan merusak pernafasan. Waktu itulah Ki Rotan menyabet tangan tongkatnya, tapi Gumara sudah menangkis sabetan itu dengan memiringkan tubuh dan tongkat itu terlempar kena telapak kaki Gumara.
Ki Harwati pingsan. Ki Dasa Laksana yang masih melintir bergulingan di tanah menahankan nyeri tangan kirinya yang
hampir buntung itu, begitu melihat Ki Harwati pingsan, lalu melarikan diri. Tapi di mulut jalan sudah muncul lima pendekar utama Kumayan, yang ingin menangkap musuhnya itu hidup-hidup. Melihat keadaannya terkepung, Ki Dasa Laksana menjatuhkan diri
dengan kata-kata sembahan:
“Aku menyerah. Aku akan segera menyingkir!”
Ki Lading Ganda tidak sabaran lagi, lalu dia berkelebat maju satu langkah, mencabut goloknya yang ampuh, dan golok itu menjadi kembar. Dia tancapkan golok kanannya tepat di tangan kiri Dasa Laksana yang baru akan berdiri sembari acukan tangan. Lunaslah tangan kirinya dalam keadaan buntung total. Tetapi dia sempat menyerempet lepas dari kepungan setelah terkena satu tendangan menyamping yang dihantamkan Ki Putih Kelabu, sehingga dia terlempar sejauh 44 depa dan menabrak satu pohon pinang yang roboh seketika. Buah pinang yang lepas dari jurai mengenai kepala Ki Dasa Laksana, yang justru mengisi kekuatan baru bagi pendekar sinting ini. Dengan tangan buntung satu, dia berubah menjadi menggila. Dia membabi buta menyerang siapa saja yang berdiri. Seorang anak kecil terpekik lalu tubuhnya menabrak dinding rumah. Dinding itu hancur dan anak itu mati, ibunya menjerit. Ya … Dasa Laksana mengamuk bagai seekor babi yang buta. Dia membabi buta menggasak tubuh Gumara tetapi cuma kena srempetannya saja sebab Gumara mengelak sembari mengelak pula menangkis pukulan
gandengan tinju sekeras batu yang dilampiaskan Harwati. Tinju Harwati mengenai batu kilo meter, dan batu itu hancur bagai es kena palu pembelah. Harwati bertambah semangat ketika dilihatnya Data Laksana dengan tangan buntung menyerang
membabi buta, saking butanya serangannya mendongkak tubuh Ki Rotan yang mental ke udara. Tapi dia sempat sadar, sebab menjelang kakinya jatuh ke tanah, sempat menyabet leher Gumara, yang tunduk hingga Ki Rotan jumpalitan. Ki Lading Ganda kini masuk dengan penasaran. Hanya kilatan goloknya saja yang tampak karena cepatnya permainan silatnya.
Tapi belum satupun pukulan goloknya yang tepat. Dua kepal daging paha Ki Rotan tercubit oleh golok, lalu Ki Rotan lari. Serasa hanya beberapa menit saja perkelahian itu seluruhnya, lalu … sepi sekitar. Sungguh dahsyat. Sungguh, jika dilihat begitu banyaknya debu sekeliling lapangan perkelahian yang barusan berlalu …. dan bagaimana begitu lama debu itu turun, itulah bukti nyata. Betapa lama dahsyatnya pertempuran yang barusan berlalu. Kependekaran kadang – kadang disertai kelicikan juga. Tapi Gumara tidaklah kaget seperti kagetnya Ki Lading Ganda sewaktu usai perkelahian tidak menyaksikan bagaimana caranya Ki Harwati, Ki Rotan dan Dasa Laksana melarikan diri. Lima pendekar itu semuanya cemas. Tapi Gumara tidak. Dia seakan-akan sudah mengetahui kemana mereka itu melarikan diri. “Kita akan tenteram selama 100 hari”, ujarnya. Ki Putih Kelabu yang paling yakin pada ucapan Gumara. Dia mendekati pendekar yang teramat tenang itu, dan bertanya “Apakah ramalan anda ini didapat dari mimpi?” “Ya” sahut Gumara. “Kalau begitu saya tambah yakin, Ki Guru berkata benar, bahwa dalam kurun waktu 100 hari desa Kumayan akan tenteram. Sebetulnya saya ingin bicara empat mata saja dengan Ki Gumara”, ujar Ki Putih Kelabu. Ki Lading Ganda cepat memotong: “Jika demikian saya akan mengundurkan diri bersama teman- teman. Oh ya, saya minta maaf atas kelancangan saya pada Tuan Guru Muda Gumara”. Mereka berpelukan. Setelah Ki Lading Ganda pergi, Ki Putih Kelabu berkata pada Gumara: “Tuan Guru. Saya ingin mengundang anda makan malam di rumah saya. Itulah yang akan saya sampaikan empat mata”.
“Baik. Pak. Saya akan datang setelah mahgrib”, ujar Gumara.
Gumara lalu pamitan, dan dia melangkah menuju sekolah SMP, bekas tempat dia mengajar. Di sekolah itu, tiada lagi bekas muridnya. Gumara mengetuk pintu ruang Dewan Guru, dan beberapa orang guru lama yang dia kenal menyambutnya. Tapi tidak ada seorang pun yang menanyakan soal kepergiannya yang misterius. Dan tidak pula ada yang berbasa basi kepadanya untuk kembali mengajar di SMP itu. Karena itu Gumara pula yang memulai: “Saya rindu berdiri di depan kelas kembali. Permohonan saya untuk mengajar, belum saya ajukan. Tapi apakah Kanwil disini kira – kira bersedia menerima saya kembali?”
Menyela Direktur SMP Kumayan: “Sebaiknya melamar mengajar matematika di SMA saja, yang baru akan diresmikan tak lama lagi” “.
“Sepertinya akan sulit. Kepergian saya tanpa izin. Tapi keinginan saya yang sesungguhnya justru mengajar di SMP ini. Apa Pak Direktur punya salinan berkas saya diberhentikan?”
“Sabaiknya ditanyakan pada Pak Kakanwil. Beliau lebih tahu”, kata Pak Direktur.
Lalu Gumara pamit dengan sopan. Diluar dugaan, di kantor Kanwil dia disambut hangat. Namun bukan sebagai guru SMP. Dia disambut karena sudah tersiar berita dari mulut ke mulut, bahwa dekat lapangan Bukit Kumayan barusan saja Guru Gumara menumpas pengacau. “Itu soal kebetulan, Pak Kakanwil”, ujar Gumara, “Setiap munculnya kekacauan, pasti akan muncul pula orang yang menertibkannya. Yang saya urus sekarang ini ke sini, soal status saya sebagai guru SMP Kumayan. Apakah saya sudah dipecat?”
“Saya sulit melindungi anda, Pak Gumara. Soalnya pemberhentian anda itu karena kurangnya anda menegakkan displin guru. Tiga Tahun lebih tanpa memberitahu anda ke mana, cukup merepotkan kami membela anda ketika Inspektur SMP datang ke Kumayan ini melakukan inspeksi, jadi posisi saya pun sulit”. Mendadak muncul seorang anak muda buntung, tangan menyerobot masuk: “Guru Gumara ada di sini, Pak?” “Saya Guru Gumara. Adik perlu apa?”
“Orang bilang, keadaan desa Kumayan akan tenteram 100 hari Apa betul itu, Pak?” tanya anak buntung itu. Gumara lebih tertarik melihat tangan buntung itu. Diraihnya bahu anak itu, dielusnya tangan butung itu. Dan bertanya: “Musibah apa yang menyebabkan tanganmu begini?” “Kami semuanya 17 orang mengalami musibah “, kata anak itu.
“Siapa namamu?”
“Makara, Pak”.
“Mana temanmu yang 16 orang lagi?” tanya Gumara.
“Kami yang kembali ke Kumayan cuma 11 orang”, kata Makara.
“Lalu yang enam lagi kemana ? “ tanya Gumara.
“Mereka diajak oleh puteri Ki Putih Kelabu entah ke mana, Pak!”
Gumara lalu menepuk bahu Makara dan berkata; “Kamu beruntung pulang ke Kumayan. Jadi bisa melanjutkan sekolah. Masih sekolah kan ?”
“Masih, Pak Tapi sekarang menulis dangan tangan kiri karena buntung. Tapi kami 11 orang dianggap jagoan di Kumayan ini, Pak”
“Ingatlah, jagoan hari ini belum tentu jagoan esok hari. Karena mungkin besok akan ada jagoan yang lebih jago. Tapi sejago-jago ayam jago, masih kalah dengan ayam betina. Ayam jago hanya menyumbangkan dagingnya, tapi ayam betina menyumbangkan dagingnya dan telur-telurnya bagi manusia. Nah, jangan kamu pikirkan lagi soal desa Kumayan. Dan jangan sekali-kali menganggap aku ini jagoan” Tetapi anak itu puas karena telah bertemu dengan seorang “pahlawan Kumayan” yang sudah jadi cerita dari mulut ke mulut sebab sudah mengusir tiga pengacau. Tapi hari itu sampai magrib Gumara diliputi perenungan. Tentu tidak lain dia merenungi nasib  Pita Loka yang pasti sebentar lagi akan ditanya oleh Ki Putih Kelabu. Ketika dia memasuki rumah Ki Putih Kelabu, dia merasakan ada satu tenaga, yang mirip kekuatan magnit. Di cobanya melayani tenaga itu dengan perlawanan nafas, tapi rasanya kekuatannya jauh besar. Langkah Gumara dirasanya berat sewaktu masuk ke ruang tamu. Ki Putih Kelabu belum nampak. Tapi dia sudah yakin, bahwa kekuatan magnit tadi bukannya dikirimkan oleh Ki Putih Kelabu. Orangtua itu bukan guru yang jahat yang punya kesukaan mencoba – cobakan.  Begitu Ki Putih Kelabu muncul, Gumara sudah duduk bersila di lantai yang dilapisi tikar rotan Bugis. “Apa yang tuan rasakan saat ini?” tanya Ki Putih Kelabu. Gumara hanya diam saja, sebab dia sedang melayani semacam serangan gaib entah dari mana.
“Apa tuan merasa ada kelainan?” tanya Ki Putih Kelabu. Gumara cuma mengangguk. Dia tidak akan bicara. Sebelum jelas siapa ssbenarnya di balik serangan berkekuatan magnit ini.
“Kalau begitu, apa yang anda rasakan tentu saya rasakan juga. Rasanya tengkuk saya ini berat
sekarang”. Ujar Ki Putih Kelabu dan lalu bertanya pada Gumara: “Anda juga merasakan tengkuk berat?”
Gumara mengangguk. Lalu Ki Putih Kelabu bertanya lagi:
“Ada semacam bau wangi?”
Juga Gumara mengangguk. “Apa guru mau pindah tempat duduk?” tanya Ki Putih Kelabu seraya menunjuk ke tempat dimaksud. Yaitu tempat yang menghadap ke pintu. Gumara menggelengkan kepala, menolak. “Tadi langkah kaki saya berat sekali, seperti digantung besi”, ujar Ki Putih Kelabu, lalu bertanya: “Anda juga merasa begitu waktu masuk ke sini?”
Gumara mengangguk.
“Wah. ini harus kita lawan”, kata Ki Putih Kelabu.
Gumara tidak memberi reaksi. Dia tiba-tiba merasa ada benda yang berat menghimpit kepalanya, sepertinya piring raksasa. Gumara mengatur pernafasan! Gumara mencoba memenuhi isi lambung dengan tarikan kepusar, dan kemudian manyalurkan gelombang udara itu merambat urat – urat darah ka atas, menuju ubun kepala. Ketika tiba di ubun kepala, Gumara seperti memompa ke luar udara gelombang tadi. Wajah Gumara bercucuran keringat. Keringat itu semakin menderas. Ubun kepala Gumara seperti mendidih, Ki Putih Kelabu melihat asap atau uap yang mengepul di ubun kepala Gumara. Tiba-tiba tampak ada semacam kilat yang melesat dari kepala Gumara. Lalu loteng yang terbuat dari papan kepayau itupun berlobang. Gumara waspada tidak menghentikan pangaturan nafasnya, ada gelombang di lambung bisa terus dihalau ke ubun kepala. Kelihatan lagi oleh Ki Putih Kelabu satu bundaran bagai kilat melesat. Bila benda itu membentur loteng kayu kepayau, tampak loteng itu berlubang. Kini Gumara benar – benar bermandi keringat. Benda yang bertengger di ubun kepalanya itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya, sehingga tanpa disadari Gumara terpaksa minta  bantuan ke dua belah lengannya. Tinju dia genggam. Tinju itu sejak ditaruh di dua dengkulnya sudah dicobanya berisi kekuatan pembantu. Kini, sembari bersila itu, Gumara mengumpulkan kekuatan pada dua ujung tinju itu. Tinju itu didorongnya ke depan, ke samping, ke bawah, dan kemudian dua tinju itu menghantam ke atas, tepat di depan batang hidungnya sendiri. Tinju itu mengenai satu benda yang menciptakan bunyi logam, tapi logamnya tak tampak. Namun kilatan cahaya yang melesat ke loteng cukup tegas. Loteng itu hancur. Dan dalam keadaan bersila, mengepal tinju. Gumara menganggap serangan musuh tak dikenal itu sudah berakhir. Ki putih kelabu yang selama terjadinya serangan tanpa raga itu begitu tegang, kini tampak tenang.
“Maaf, saya akan pamitan dulu”, ujar Gumara.
“Jangan, nak”.
“Sekali lagi, maaf”, ujar Gumara, dari bersila langsung berdiri.
“Saya ingin tahu siapa penyerang tadi?”
“Murid iblis”, kata Gumara.
Lalu dia memberi salam pada Ki Putih Kelabu, dengan cara penghormatan yang luar biasa
hebatnya. Telapak tangannya dia tempel ke kening, lalu merendahkan kepala, lalu berlalu.
Dan telapak tangan yang menempel di kening itu baru dia lepas dari keningnya setelah dia tiba di pekarangan. Jalan kecil menuju rumahnya lengang, Gumara melangkah dengan perlahan dan semakin perlahan. Sebab kakinya seperti diberati lagi. Gumara mencoba melangkah, semakin tebal rasanya tapak kakinya. Dan Gumara kini memutuskan untuk meladeni gangguan lawan, sekali lagi! Dalam berdiri itu Gumara menggenggam dua tinjunya. Lalu tinju itu dibuang kesamping kiri dan ke kanan. Dan bergantian, tinju kanan dan kiri menebah dada. Delapan kali debahan dada kiri dan kanan, Gumara tiba-tiba melihat satu lesatan sinar menuju ke arah mukanya, tapi cepat Gumara menangkisnya dengan dua tinjunya terhantamkan ke depan. Bunyi logam berdenting disertai kilatan sinar yang melesat berjumpalitan di udara. Di udara dia menjadi semacam kepulan asap ledakan. Dan ketika mata kanan Gumara melihat ada sinar menyerang dari kanan, Gumara menangkisnya dengan tinju dan kedengaran bunyi logam disertai kilat melesat ke udara. Lalu di udara tampak asap bagai kembang api pecah. Lalu datang lagi serangan dari kiri. Bunyi logam membentur kedengaran tepat ketika tinju tangan kiri Gumara dia buang ke kiri. Tanpa perduli dia kemudian meneruskan langkah yang ringan. Sampailah dia di pekarangan rumah yang ditempati Alif. Begitu akan masuk pekarangan. belum lagi sampai di tangga, Gumara melihat sosok berdiri di hadapannya, dalam jarak tiga meter, seperti mencegat. Sosok itu diam berdiri. Gumara pun mengambil posisi diam berdiri. Gumara mengepal tinju. Lawannya pun mengepal tinju. Gumara mengangkat dua tinjunya, lalu menebah tinju itu ke dada. Lawannya itu pun berbuat sama. Gumara memekarkan tinjunya, lawannya pun demikian. Jari-Jari mekar itu kemudian merambat dari paha, naik ke dada lalu dia buang ke depan. Di sini lawannya pun melakukan hal sama. Bahkan ketika sama – sama membuang telapak tangan ke depan, dua telapak tangan itu seakan – akan hampir saling menempel. Jarak dua telapak tangan yang hampir menempel itu hanya berjarak tiga centimeter saja. Tapi apakah yang sedang terjadi? Telapak tangan Gumara, maupun telapak tangan lawannya, sama-sama mengeluarkan keringat. Sama-sama keringat menetes. Bahkan kadang diseling oleh pijaran api. Gumara masih barada dalam hembusan satu helai nafas yang secara berangsur dikeluarkannya sedikit – sedikit Dia hematkan energi untuk mengangsur satu nafas itu agar tidak terlanjur terhambur. Wajah Gumara mulai mandi sinar kehijauan karena percikan keringat. Begitupun lawannya. Sehingga makin lama semakin jelas siapakah lawannya itu. Lama kelamaan wajah itu berupa wajah Ki Karat, ayah kandungnya sendiri. Tapi Gumara tidak tergoda untuk berseru setelah mengenal wajah itu, sebab dia kuatir itu cumalah godaan belaka. Dia terus mengontrol nafasnya, yang tiap per 1000 detik adalah pancaran kekuatan cahaya. Gumara tahu,dirinya dipenuhi mega elektro magnetik, yang demikian dahsyatnya, yang jika ditempelkan neon sekian ribu watt maka cahayanya akan menerangi seluruh desa Kumayan. Makin lama, yang dia kira lawannya, semakin jelas kehijauan, dan, dan, dan itu tak lain adalah ayahnya. Makin lama wajah ayahnya semakin nyata. Jika benar ini ayah, tentu ayah sedang mambuktikan dirinya sebagai lawan, bukan sebagai guru. Kekuatan yang dikirimkan ayah lewat gelombang sinar radiasi ini pun tampaknya tak tanggung-tanggung. Kekuatan begini, jika tak teliti, bisa membunuh. Gumara ingin memperingatkan ayahnya yang sudah mati itu, tapi dia sudah yakin. Ilham seakan datang arwah ayahnya sedang murka, khusus datang dalam alam kematian barzah ke bumi nyata ini, untuk suatu peringatan. Tapi aneh, lama kelamaan lawannya ini melemah dan melemah. Di tepi tebing dibalik lembah Air terjun Mayang, di malam gulita itu Harwati membanting tubuhnya ke permukaan makam. Makam itu mengepulkan asap. Ki Harwati putus asa. Matanya terbeliak nanar, menatap Ki Rotan yang kelihatan tegang. Ki Rotan bertanya : “Gagalkah roh Ki Karat membantumu?”
“Asap itu sebagai bukti”, ujar Ki Harwati.
“Aku memang menduga begitu. Betapapun hebatnya ilmu Ki Karat, mungkin masih lebih tinggi ilmu Ki Gumara. Selain itu, roh guru yang sudah mati tentu lebih rendah dari roh guru yang masih hidup”. Ki Harwati merangkul lagi makam ayahnya. Dan asap itu makin lama semakin menghilang. Yang tinggal hanyalah bau menyan. Tiba-tiba saja, dalam putus asa itu, Ki Harwati melihat ada benda kecil bergerak. Ternyata seekor kalajengking sedang merayap dari arah batu nisan pekuburan Ki Karat. Ki Rotan setengah berseru:”Itu dia bantuan baru ayahmu!”
Kalajengking itu merayap perlahan, lalu menyusul satu kalajengking lagi dan satu kalajengking lagi, kemudian puluhan dan ratusan kalajengking sudah mengerubungi permukaan kuburan Guru yang sudah mati itu. Ki Harwati mencoba menahan ketegangan dan kegembiraan. Ketika Ki Rotan mau berkata, dia memberi larangan:
“Jangan ganggu aku, Ki Rotan”.
Kalajengking itu sudah merayap dengan ramah melalui paha Harwati, terus berlomba menaiki dada dan punggungnya, lehernya, kemudian memenuhi rambut dan mukanya. Ki Rotan tambah tegang karena tidak memahami apa yang akan terjadi selanjutnya. Seluruh wajah Harwati sudah tertutup oleh Kalajengking. Dia kelihatan begitu mengerikan. Dia seakan menanti isyarat roh ayahnya, apa maksud dari “Kiriman kalajengking” ini. Lalu muncullah isyarat itu! Harwati seakan-akan diharuskan berdiri, sepertinya harus bangkit dari perasaan kalah dan putus asa. Dia kemudian melangkah lebih tegap tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Ki Rotan yang kebingungan. Dan dengan digayuti ribuan kalajengking itu, Ki Harwati agaknya dituntun ke arah Barat, ia menuju ke air terjun Mayang yang dianggap tabu mendatanginya kecuali atas izin. Ketika Ki Rotan ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan membuntuti Ki Harwati dari belakang, dia agak kaget. Sebab Ki Harwati berhenti mendadak, dan membalik ke arahnya. Lalu beberapa ekor kalajengking yang bergayutan turun dari tubuh Ki Harwati. Binatang-binatang mengerikan ini menjalar seakan mau menyerbu Ki Rotan. Ki Rotan mundur dengan panik, tapi dia tidak melihat pada jurang belakangnya. Yang kedengaran kemudian adalah teriakan Ki Rotan yang melolong memecah malam gulita. Dia terjatuh ke jurang di bawah itu. Dan Ki Harwati malanjutkan melangkah ke tujuannya setelah bebarapa ekor kalajengking itu kembali bergayutan ke tubuhnya. Ki Harwati tiba di air terjun Mayang menjelang terbitnya matahari. Di sini rupanya dia harus mandi mensucikan diri bersama ribuan kalajengking itu. Tubuh Ki Harwati menggigil. Dan dia merasakan sesuatu kekuatan yang maha hebat ketika tubuhnya itu, tanpa terasa, telah menyelusup secara ajaib sekali ribuan kalajengking itu …. seluruhnya seperti merayap ke dalam darahnya, dan dia merasakan ada kekuatan dahsyat yang sedang memasuki tubuhnya. Tapi, beginilah rupanya seorang pendekar yang sedang kehilangan guru. Dia tidak tahu apa yang  mesti diperbuatnya ketika tiba-tiba muncul satu tenaga yang membuat dia jumpalitan diantara batu-batuan itu, lalu ……. meloncat keatas dan hinggap di tepi tebing. Lalu seluruh geraknya bagai spiral angin puyuh. Beberapa pohonan terpaksa menyerah roboh apabila terkena tubuhnya yang melesat hebat. Tidak satu mahkluk pun dapat mengetahui kemana tujuannya. Hanya matahari cerah yang memberitahukan dimana kemudian Harwati berada. Dia sendiri tidak mengetahui dimana dia berada, apabila dia tidak bertemu secara mengejutkan dengan seorang pendekar muda. Pendekar muda itu bertangan buntung. Dia terkejut mendapatkan seorang wanita beringas yang seperti menancap mendadak berdiri dihadapannya.
“Siapa kau!” bentak Ki Harwati pada pemuda buntung itu.
“Aku Talago biru”, ujar pemuda buntung itu.
“Ikut aku!” perintah Ki Harwati
“Tidak, tidak, ….. saya tidak akan mengikuti anda. Anda bukan guru saya!”
Ki Harwati penasaran dan menghampiri pemuda buntung itu dengan sikap mengancam:
“Kalau begitu sebutkan guru kau.Dan hadapkan padaku!”
Talago biru dengan tenang menatap pada Ki Harwati. Dia tidak tahu persis siapa sebenarnya pendekar yang beringas ini. Pengalamannya selama berguru kepada Ki Pita Loka tidak pernahmendapatkan pelajaran untuk menggertak. Tapi kini? dia Temukan pendekar beringas yang masuk dengan gertakan, “Katakan siapa Gurumu, Buntung!” bentak Ki Harwati. “Itu bukan cara yang terhormat. Anda tidak usah berharap menemui dia sebelum anda melewati mayat saya”, ujar Talago biru. Ki Harwati bertambah beringas, dan serta mena dihantamnya muka Talago biru. Anak muda itu terbengong sejenak. Tinju yang mendarat dimukanya mirip sengatan binatang berbisa. Seketika wajahnya memar, membengkak dan tiba-tiba saja dia merasa amat haus. Talago biru dalam sekejap seperti edan, karena dia haus dan panas. Dia butuh air. Tetapdia selalu ingat, pantangan-pantangan yang pernah diajarkan Ki Pita Loka. Jika dia haus dan panas oleh sengatan binatang berbisa, dia bukan mencari air. Tetapi dia harus menciptakan api dan membakar diri ke dalam api. Dalam kaadaan jumpalitan seperti edan itu, Harwati mentertawakannya. Tapi batu yang dia pukul berkali-kali itu adalah usahanya menciptakan api. Benar. Pukulan terkeras pada batu itu membuat nyala api, yang segera menyambar ilalang.Batang kering itu terbakar. Dan ketika itulah Talago biru menghamburkan tubuhnya ke dalam ilalang yang terbakar itu!
“Pedekar gila kau!” teriak Harwati melihat pemuda buntung itu terkurung dalam ilalang yang menyala. Tapi,seteleh api itu padam, Harwati melihat keajaiban. Diantara hitamnya asap bekas api yang hampir padam itu, dia melihat sosok pemuda bunting tadi, keras dan menakutkan melangkah tegap kearahnya, lalu meludah dangan semburan.
Semburan ludah itu mengenai wajah Ki Harwati. Mulanya dia akan ngamuk, tetapi kemudian dia merasa ada beberapa benda yang menyangkut di wajahnya, bersama-sama dengan ludah itu. Ternyata bersama ludah yang disemburkan pendekar buntung itu adalah bangkai lima ekor kalajengking. “Sungguh ilmu anda rendah sekali, pendekar!” ujar Talago biru.
“Kalau demikian saya perlu belajar pada anda, anak muda!”
“Anda sudah menghabiskan usia anda. Anda tidak layak untuk diajak bicara”, kata Talago biru, yang berkelebat menyusup semak secara mencengangkan, Harwati berusaha mengejarnya, Tapi dia gagal. Talago biru dengan pelajaran terakhirnya untuk berkelebat cepat telah tiba di padepokan Tujuh Bidadari. Dia dapati Ki Pita Loka sedang bersemedi, sedangkan sejenak lagi hari pun akan jadimalam Talago biru harus menanti sampai semedi itu selesai. Begitu semadi itu selesai Ki Pita Loka menoleh ke arah Talago biru dan bertanya: “ Sudahkah kau lakukan apa yang saya perintahkan ?” “Belum “, sahut Talago biru. “Belum? Saya yakin sudah. Kau sudah pada tingkatan ilmu yang lebih tinggi. Yaitu braja-geni kokoh perkasa di sulut api !”
Talago biru tercengang. Dia berkata:”Itukah yang tuan Guru maksud kan ?”
“Itulah semuanya! Kau diserang musuh yang menyimpan ilmu barzah, kau disengat oleh
binatang peliharaannya berupa jin menyerupai binatang menyengat, lalu kau terkena bisa yang mengakibatkan panas dan haus. Lalu kau pukul batu dekat ilalang. Lalu terbitlah api yang membakar. Dan kau terjun ke api itu sesuai perintahku. Lalu kau selamat”
Talago biru tercengang. Dengan nada lugu dia berseru:” Rasanya yang saya alami tadi adalah
pendekar dan musuh yang mengerikan”.
“Dia sedang mengalami terus alam kemasukan. Tahukah kamu siapa dia ?” tanya Ki Pita Loka.
“Saya tak tahu. Dia beringas dan cukup mengerikan!”.
“Dialah Ki Harwati, sekutu dari pendekar Ki Dasa Laksana yang telah membuntungi tanganmu buntung. Di kawasan ini ada tiga pendekar liar, yang semuanya kehilangan guru karena rakusnya pada ilmu. Tapi pendekar wanita yang kamu temui itu kelak akan merupakan lawan kita yang tangguh. Kini ketiganya berpencar karena masing-masing tanpa ikatan ikrar dan semuanya kehilangan mata angin. Kau harus tahu, muridku, pendekar yang baik adalah yang tahu mata angin”. “Terima kasih, Tuan Guru”, ujar Talago biru. “Sebelum datang bencana, aku akan titiskan ke tubuhmu Kitab Pertama dari tujuh buah yang sedang kita cari”. kata Ki Pita Loka.
“Berikan ilmu itu padaku, Ki Guru!” “Pergilah mandi dengan bunga mayat”“, ujar Ki Pita Loka, “Nanti setelah selsai, kau harus datang ke Padepokan dengan selembar kain yang tanpa
jahitan”. Tubuh talago biru benar-benar memperlihatkan tubuh lelaki jantan yang perkasa dan kekar. Usianya yang enam belas tahun sepertinya tidak sesuai dengan bentuknya, karena ia lebih tepat jika dijuluki kuda. Kakinya, badannya, lengannya, kepalanya, hanya bisa ditandingi oleh bentuk kuda jantan. Terlebih ketika Talago biru harus mandi telanjang, dan membersihkan seluruh kotoran tubuhnya itu dengan air bunga mayat, maka siapapun yang melihatnya, termasuk lelaki (apalagi wanita)akan terkesan pada bentuk otot tubuhnya itu, mulai dari kaki sampai leher. Ketika itu pulalah Ki Harwati tergiur dari balik semak pohon bambu tulup. Apalagi sinar matahari terbenam seperti menyinari cahaya ke tubuh Talago biru, sehingga lekukan otot perkasa itu seakan-akan mampu memberi rangsang pada 10 wanita secara serempak. Ki Harwati kehilangan tujuan, kehilangan mata angin.Dia sebetulnya sudah tidak sabaran lagi sampai Talago biru mengenakan selembar pakaian lebar, yang seteteh digulung-gulung mirip seperti pendeta Budha. Tapi, begitu Talago biru akan meninggalkan pancuran mandi itu, dia sekelebat melihat sosok di balik rumpun bambu tulup. Dia terpana beberapa saat karena rasa-rasanya dia mengenal manusia itu , termasuk pakaian hitam yang dikena-kannya. Namun dia melangkah terus. Tapi dia kena cegat.
Ki Harwati telah berdiri di situ, dan berkata: “Kamu benar – benar salinan dari Gumara”.
“Anda siapa?”
“Aku dilahirkan untuk kaGuru kepada pendekar yang bernama Gumara. Kenalkah kau?”
“Belum”, sahut Talago Biru.
“Engkau rugi. Dia adalah pendekar merangkap Guru dari semua guru yang membentang dari kawasan Kumayan sampai Bukit Lebah di selatan. Man bersamaku menghadap beliau”. Talago Biru tergoda oleh buah dada yang jelas kelihatan, sewaktu wanita ttu menyediakan diri membuang sehelai daun bambu kering yang menyela pada jari kaki Talago. Kemudian Talago Biru terpesona sewaktu jari wanita itu meraba betisnya, seakan-akan menyelusupi bulu kakinya. Harwati terus meraba semakin ke atas. Talago Biru semakin berdiam diri dan dalam ketegangan lelaki yang amat sangat, dia seakan-akan melayang dalam
kenikmatan, yang dalam sekejap mata membuat dia terhambur dengan berkelebat sambil berseru: “Celaka aku! Celaka aku!” Dia menumpas setiap pohonan yang menghalanginya sewaktu dia berlari seperti seorang yang merasa salah. Dengan wajah yang masih dirundung rasa dosa, Talago Biru sampai ke tempat semedi Ki Pita Loka. Namun dia tidak berani masuk.
Tapi didengarnya suara sang guru dari dalam: “Kamukah itu, Talago Biru?”
“Ya, Tuan Guru”.
“Kamu tidak kuperkenankan bertemu denganku selama 21 hari”, ujar Ki Pita Loka, “Karena di
sekitar tempatku ini aku merasakan bau air mani yang basi yang membuat aku hampir muntah”. Belum pernah dia dimaki dengan ucapan lembut namun melukai ini. Mendadak saja Talago Biru tidak akan menjadikan dirinya pemimpin dari lima temannya yang lain. Yang selama ini lamban dalam kemajuan memperdalam ilmu. Mendadak saja Talago Biru teringat pada wanita jelita di sana tadi, lalu terangkum kembali ucapan wanita itu. Bahwa guru dari segala Guru adalah Gumara.
Seingat Talago, tak jauh dan pancuran mandi itu ada gundukan 17 buah batu besar, yang bentuknya mirip sebuah guha. Dia yakin, tentu wanita tadi ada di guha itu. Lalu secara rahasia dia susuri lebih dulu pancuran mandi. Dengan berkelebat langkah belalang, dia sudah tiba di depan pintu guha. “Ada orang di dalam?” tanya Talago Biru. Harwati mandengar suara itu. Dia yakin itu suara lelaki. Dan ketika dia berlompatan mendapatkannya, sungguh benar, yang heran dihadapannya adalah lelaki dengan bentuk kuda jantan. “Aku ke sini karena sudah kena kutuk oleh guruku?” kata Talago. “Maka sudah waktunya kau kubantu. Tapi kenalkan kepadaku siapa gurumu itu”, kata Ki Harwati dengan membujuk yang disertai jarinya yang meraba bulu dada Talago Biru. Anehnya, ketika dia akan menyebut nama Ki Pita Loka, ketika itu pulalah Talago menjadi seperti lupa, dan lidahnya pun kelu. “Jika sekarang kau tidak bersedia, nanti jika lelahmu telah kuakhiri tentu kau akan sudi menyebut namanya”, kata Harwati yang membawa masuk pemuda kekar itu ke dalam guha. Ki pita loka memang sedang disiapkan untuk menjadi seorang Guru yang sejati. Guru sejati adalah pendekar lahir dan batin yang dapat menangkap sepak terjang musuh tapi juga dapat
mendengar bisik angin. Dan Guru yang sempurna karena dapat menangkap gerak ketiga yaitu gerak kosong. Kini, dalam semedi yang kusyuk sekarang ini, Ki Pita Loka dapat menangkap gerak kosong itu. Tak ada isyarat. Kecuali itu keyakinan akan sesuatu. Yang telah terjadi dan akan terjadi. Ia seperti berkata pada dirinya sendiri seketika musuh menangkap gerak kosong itu: Lima muridku diperangkap musuh. Kini satu lagi muridku diperangkap musuh. Namun ini bukan sebuah musibah kekeliruanku menafsirkan pertamakali, bahwa KitabTujuh yang kucari akan diwariskan pada 7 orang: aku dan enam muridku”. Setelah dia diam sejenak, lalu dia menafsirkan gerak kosong ini lagi: “Kenapa harus berdukacita kehilangan enam murid? Bukankah dengan memiliki satu buku sekarang ini, aku akan mewariskan enam buku lagi?” Pita Loka merasa matanya berat. Dalam duduk bersila itu dia sebenarnya sedang tidur. Tidur seperti manusia sedang mati duduk. Dan rupanya dia mendapatkan mimpi! Mimpi itu amat luar biasa. Dia melihat enam buah bintang jatuh pada sebuah bukit yang dia rasanya kenal. Dan keenam tahi bintang itu ditelan oleh seekor harimau yang punya garis bulu 41 bulatan.  Lalu Ki Pita Loka terbangun.
Malam sudah menjelang tibanya fajar meyingsing di ufuk timur. Pita Loka masih duduk bersila, memikirkan makna mimpi hebat itu. Lalu dia teringat seorang Guru penafsir mimpi yang jago. Dia adalah Guru Gumara. Rupanya ingatan pada Gumara inilah menuntun Ki Pita Loka untuk menafsirkan mimpi yang baru terjadi. Baru dia ingat.
Bukit yang ada di mimpi itu adalah Bukit Kumayan. Kalau demikian: “Tafsir mimpi itu adalah,enam bintang jatuh diterima olah salah satu dari harimau-harimau Kumayan. Ki Pita Loka mencoba mempedalam tafsir mimpinya tadi. Bukankah itu berarti, aku harus merebut enam bintang itu dari jagoan Kumayan? Enam bintang itu pastilah enam dari tujuh Kitab Sakti itu, tentunya! Kini, tinggal lagi bagaimana melaksanakan mimpi itu. Dibukanya Kitab Pertama yang telah menjadi miliknya sekarang. Dia membaca huruf-huruf kuno gundul tak bertanda. Tapi dia mengerti. Dan dia telah amalkan tiap tafsiran dalam Kitab itu, mulai dari pensucian diri, latihan gerak bayi dalam rahim ibu sampai gerak bayi keluar dari kandungan serta teriakan pertama. Penutup keterangan Kitab Pertama itu adalah kalimat yang hampir sulit terbaca saking kunonya; “Kitab Pertama ini harus diamalkan, dan dia disebut juga  Kitab Asal. Apabila pemegang Kitab ini sudah menyempurnakan amalnya, maka dia mempunyai kewajiban yang akan diamalkannya berikutnya setelah melewati satu mimpi di waktu dini hari. Kini tergantung si Pemlik Kitab ini, apakah dia melakonkan tafsir mimpi itu dengan betul dan baik, sebab kesalahan langkah akan menjadi sebuah musibah”.
Ki Pita Loka menutup Kitab Pertama itu. Dia kembali menggulungrya dengan bungkusan berupa kain kuning. Kitab itu sesuai dengan pesan, harus diikat sebagai ikat pinggang, di atas pusar. Setetah selesai semua, Ki Pita Loka mencoba memantapkan tafsiran mimpinya. Hati kecilnya berseru:
“Kembalilah ke Kumayan, rebut enam kitab lainnya itu agar ilmu kau lengkap”.
Dia lain menyempurnakan pakaiannya dan ikat rambutnya yang panjang. Setelah sempurna berdiri, Ki Pita Loka berkata pada tubuh gadis di hadapannya: “Terima kasih tujuh bidadari yang mengawalku ketika ngelmu. Aku akan meninggalkan kalian dan aku tidak perlu dikawal lagi”.
Tujuh gadis yang samar dalam kabut subuh itu menghilang bagai menguapnya embun. Ketika ia siap meninggalkan Lembah Tujuh Bidadari itu, sekonyong hatinya gentar.
Tubuhnya menggigil, bulu romanya merinding. Dan rasa takut pun muncul menggoda batin.
Melalui pengalaman, dia mencoba mengusir godaan itu. Dan dia melangkah lebih tegap lagi. Tapi dia tidak menyadari, bahwa langkahnya dibuntuti. Andaikata dia mengetahui bahwa dia dibuntuti tentu dia akan berbalik, menghadapi orang yang membuntuti itu. Dan orang yang membuntuti itu kebetulan jaraknya agak jauh. Orang itu hanya melihat arah pintasan yang dituju Ki Pita Loka. Setelah orang itu yakin bahwa Pita Loka menuju Kumayan, orang itu mengambil jalan pintas.
Ketika Ki Pita Loka melewati celah terowong Karakeling, dia sepertinya menjadi ragu. Dia merasa tak pernah melewati terowongan ini. Keraguan ki Pita Loka rupanya diintai oleh dua orang pengintip. Dua orang ini pun rupanya sedang membuntuti Ki Pita Loka sejak keluar dari Lembah Tujuh Bidadari.
“Bohong kamu bilang dia telah memiliki Kitab itu”.
“Percayalah, bahkan aku melihatnya sendiri. Dibungkus dengan kain kuning, dan jatuh dari angkasa ke pangkuannya pada hari Rebo Legi. Aku berdosa jika aku mendustaimu. Lihat, dia duduk di batu itu”.
“Mungkin dia kuatir tersesat”.
Memang Ki Pita Loka kuatir akan tersesat. Pedoman baginya sudah tak ada lagi, kecuali bintang. Letak desa Kumayan adalah pada ekor dari Bintang Bimasakti yang baru akan muncul menjelang tengah malam. “Sekarang saja kita rampas Kitab itu”, kata pengintip wanita itu„ yang tak lain adalah Ki Harwati. Dan pengintip pria, Talago Biru, kemudian meraih bahu Ki Harwati dan berbisik: “ Lihat, dia siapakan melanjutkan perjalanan”. “Sssst”, bisik Ki Harwati, “Dia justru mendengar suara kita. Telinganya amat tajam. setajam telinga burung.”
Memang telinga Ki Pita Loka tajam. Dia mendengar seperti ada dua manusia bercakap-cakap di atas celah terowongan Karakeling. Dia mencoba memancing dangan mendehem. Lalu, terdengarlah suaranya yang menantang:
“Siapa lagi di atas itu jika bukan musuhku?” Dan tantangan itu dipertegas lagi, bagai bunyi gemuruh:
“Ayoh turun kamu singa betina Kumayan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu! Dan kau … kuda jantan muda pengkhianat, kuharap kau turun juga!”. Ki Harwati menatap mata Talago Biru dengan tegang. Dia meraih bahu Talago Biru dan berbisik: “Dia tajam sekali. Begitu tajam sehingga dia mengenal diri kita masing-masing”. “Benar, Harwati. Ketajaman pendengaran adalah bagian dari kependekaran. Kau harus turun ke bawah. Jika tidak, aku yang naik ke atas”, terdengar ancaman itu begitu dahsyat.
Harwati menghela lengan Talago Biru: “Ayohl”
Talago Biru kecut seketika. Begitu Harwati menghela lengan Talago sekali lagi, mendadak sudah menancap di cabang pohon genuk itu … dua kaki Ki Pita Loka kokoh berdiri, berkacak pinggang. Dalam sekelebatan dia sudah melayang dengan terjangan menghentak ke pinggang Ki Harwati. Tetapi ketika Ki Harwati akan jatuh, satu tungkai kaki Talago Biru membantu menghalangi. Namun tanpa diperkirakannya, Talago merasakan kepalanya terkena tamparan Ki Pita Loka. Dia terlempar kesamping, lalu cepat bergayut di dahan pohon, mengayunkan tubuh yang kemudian melayang menyerbu ke tubuh gurunya sendiri, yang sedang berkacak pinggang sehabis menendang Ki Harwati. Ki Pita Loka berbalik dengan tendangan membelakang mengenai pangkal leher Talago sementara tendangan satunya mengenai perut Ki Harwati yang barusan saja akan menerjang. Ki Harwati kena terjangan itu bagaikan terbang mundur, dan dengan seluruh perasaan marah ketika punggungnya menabrak pohon, dia meneriakkan kutukan: “Mampus kau digigit kalajengking!”
Teriakan kutukan itu ampuh. Seratus mungkin dua ratus ekor kalajengking menghambur menuju tubuh Ki Pita Loka. Tetapi ketika itu pula Ki Pita Loka sudah membuat “tutupan” yaitu kedua telapak tangannya dengan gerak perlahan silih banting bersilang. Dan seratus atau dua ratus ekor kalajengking itu merasa bagai menerjang bara api ketika menabrak telapak tangan Ki Pita Loka. Kesemuanya jatuh ke tanah sebagai bangkai – bangkai binatang yang mati hangus. “Demikian tinggi ilmumu, Ki Pita Loka”, ujar Ki Harwati setelah menyaksikan bangkai-bangkai kalajengkingnya yang mati hangus. “Aku akan belajar padamu,” ujar Ki Harwati. “Aku juga mohon ampun Ki Guru atas durhakaku menyalahi pelajaran. Terimalah kami berdua sebagai murid”, kata Talago Biru. Ki Pita Loka tenang. Dikira sedang mempertimbangkan. Tahu-tahunya dia bagai terbang menguakkan dua kaki, satu kaki menerjang bahu kiri Talago Biru, dan satunya lagi menendang bahu kanan Harwati. Dua-duanya jatuh ke samping dengan teriakan-teriakan mengerikan. “Tolong aku … aku akan mati…!” Ki Pita Loka mendengar suara wanita di bawah tebing curam itu. Rupanya memang benar, dilihatnya Ki Harwati perutnya tertembus dahan runcing. Rasa kasihannya bangkit, dan dia cuma melakukan dua lompatan ke kiri dan ke kanan, lalu tubuhnya menempel di dinding tebing di sebelah Harwati yang tersangkut di dahan runcing. Dengan darurat jempol tangannya dilekatkan ke langit-langit mulut, lalu diusapkan ke perut Harwati. MELIHAT kesungguhan Ki Pita Loka merawat Ki Harwati, Talago Biru sadar betapa besar jiwa pendekar itu. ia pernah mendengar ajaran Ki Pita Loka, bahwa seorang pendekar barulah berjiwa besar apabila dia tidak memancung kepala musuhnya yang sudah tak berdaya. Dan seseorang takkan bisa menjadi pendekar yang baik apabila dia tak bisa menahan nafsu, terutama nafsu kelamin. Inilah yang menginsyafkan seketika Talago Biru. Dia menghampiri pada guru yang dikhianati, dan mengulurkan tangan kiri untuk minta maaf. Ki Pita Loka menatap Talago seraya berkata: “Aku kasihan padamu. Sesungguhnya, aku ingin menukar lengan buntungmu itu dengan ilmu yang mesti kamu pelajari dengan prihatin, dan sabar. Seorang pendekar harus memiliki yang dua ini: prihatin dan sabar. Lihatlah orang ini … “, lalu Ki Pita Loka menunjuk Ki Harwati
“Dia pernah belajar pada saya di Guha Lebah. Saya mengajarkannya sungguh – sungguh. Dia telah mendapat ilmu itu, dan karena ilmu itu bukan ilmu tempelan maka dia takkan hilang selama-lamanya sehingga ketika dia mau memerangi saya tadi bersama kamu, ilmu yang saya berikanlah yang dia pakai. Termasuk kau. Tapi pelajaran yang kalian dapat dariku belum selasai, jadi kalian takkan mungkin mengalahkanku”.
Wajah keguruannya yang berwibawa tampak menelan dua bekas muridnya. Ki Pita Loka kemudian bertanya pada Ki Harwati dan Talago Biru: “Apa yang kalian cari?
Kalau kalian berdua ingin mendapatkan Kitab Tujuh, ayoh ikut mengawalku. Tapi ingat, jangan ada di antara kalian yang berkhianat, sebab kalian akan celaka”.
Dan di luar dugaan, Ki Harwati berkata: “Soal Kitab Tujuh, ini urusan tuan Guru. Saya tidak ingin ikut campur. Terserah pada Talago akan ikut mengawal pendekar besar ini. Tapi saya tidak ikut”. Talago Biru menjadi bimbang. Dalam kebimbangan itu Ki Harwati cepat mengambil keputusan. Dia seret tangan Talago dengan merentak: “ Kamu ikut saya! “
Kebimbangan Talago Biru berakhir dengan ikutnya dia menjelang matahari terbit. Terbitnya matahari inilah yang memberi petunjuk kepada Ki Pita Loka mengenai peta Kumayan, desa yang akan di tuju. Kesabaran adalah modalnya. Bisa saja dia melangkah secepat kilat menerjang kiri dan kanan, tetapi tergesa-gesa bukanlah sifat seorang pendekar yang akan memetik kenaikan derajat. Celah Karakeling dia tinggalkan dengan langkah sebaliknya. Dibuatnya tubuhnya seringan mungkin, sehingga rumput – rumput sikejut yang mestinya tertutup jika terinjak, tetap mekar karena tiada terkena sentuhan telapak sang guru. Menjelang bukit kecil si Enam yang dinaikinya, Ki Pita Loka melihat tujuh buah bintik hitam. Karena bukit si Enam itu warnanya merah saga, maka bentuk bintik semakin jelas olehnya. Tujuh manusia. Makin dekat semakin jelas, Tujuh manusia itu buntung semua. Beberapa puluh langkah menjelang dia harus menjelang puncak bukit itu, terdengar ancaman dari atas: “Tujuh pendekar buntung meminta anda tidak melewati bukit ini”. Ki Pita Loka tetap melangkah ringan. Makin dekat semakin dirasanya dirinya lebih ringan dari kapas. Dan tahulah dia dalam sekejap mata, bahwa enam orang muridnya yang buntung kini sudah bergabung dengan Ki Dasa Laksana. Ki Pita Loka merasa perlunya berhati-hati. Dan diluar dugaannya, muncul seorang dari sebelah bukit itu. Dia bertongkat Dan dia menyatakan siapa dirinya: “Aku, Ki Rotan, bergabung untuk melengkapi angka tujuh menjadi delapan”. Lalu muncul dua orang lain, yang tak lain Ki Harwati dan Talago Biru. Ki Dasa Laksana lalu berkata: “Dengan munculnya dua Pendekar di sampingku, kami seluruhnya menjadi sepuluh. Kami yang sepuluh inilah satu gabungan dalam namaku: Dasa Laksana, karena akulah pemilik Sepuluh Kitab Pendekar yang engkau takkan pernah tahu dan menyentuhnya”.
Ki Pita Loka masih melangkah, perlahan sekali. Jika ada nasi bubur di permukaan tanah ketika Grafity, itu, pastilah takkan tampak bekas telapak kaki Ki Pita Loka karena menginjak bubur itu. Apa yang dia perbuat seluruhnya seperti kosong. Tak di lihat lagi sepuluh lawannya ketika itu. “Gebrak!” perintah Ki Dasa Laksana yang serta merta diikuti dengan suara teriakan lantang bergemuruh bagai lompatan belalang. Ki Pita Loka menjatuhkan diri sebelum gebrakan serentak itu menyerodok tubuhnya, dan dia bergulingan bagai bantal guling. SEKETIKA itu juga angin ribut menerbangkan tanah merah saga bukit si Enam itu. Ki Pita Loka sudah sampai di lembah bawah yang seluruhnya padang rumput. Dia bangun dengan ringan, dan mendengar suara riuh di belakangnya ibarat riuhnya belalang menyerbu. Ki Pita Loka bangkit perlahan, menghirup nafas dalam-dalam dengan perlahan, lalu dia menyalurkan kekuatannya mulai dari ubun kepala sampai ke ujung telapak kaki kanan.
Sentakan perlahan tapak kaki kanan kebelakang itu menciptakan angin menggebu yang menerkam sepuluh pendekar yang hanya tinggal dua puluh langkah lagi mendekatinya. Kesepuluh pendekar itu semuanya jumpalitan dengan lolongan suara yang mengerikan sekali. Ki Pita Loka sedikitpun tak menoleh ke belakang untuk menyaksikan kecelakaan yang menimpa
lawan-lawannya. Dia berdiri lamban, lalu melangkah lamban di atas padang rumput itu sampai ke kaki Bukit Kumayan.
Bukit itu terletak di sebelah Barat desa itu, dibatasi oleh dua pancuran. Serasa ada yang membisiki Ki Pita Loka, agar senja itu dia mandi di Pancuran Mayang. Tapi dia kuatir ini semuanya godaan setan, ia tetap percaya pada pesan ayahnya, bahwa pancuran itu tabu untuk mandi bagi yang bukan pendekar yang lengkap kesaktiannya. Namun ketika dia melangkah ke kanan, kaki kirinya dirasanya berat. Dia seaka – akan diwajibkan untuk membelok ke kiri, dan suara bisikan itu seakan semakin kuat untuk memerintahtahkannya mandi di Pancuran Mayang. Tapi ketetapan jiwa kependekarannya tidak mantap, sehingga kaki kiri mengalah pada kaki kanan. Dia meniti Pancuran Suri yang batu-batunya amat licin. Dan kemudian, tibalah Ki Pita Loka di seberang Bukit Kumayan yang bau menyannya sudah mulai menerpa hidung sebab pertukaran malam dan siang.
Malam benderang datang.
Bulan purnama penuh memanjat pohonan cemara yang dua di antaranya sudah buntung seperti kena penggal. Malam itu malam Kamis Wage yang bertepatan dengan malam kelahiran Pita Loka. Dia kini sedang berfikir, apakah akan pulang ke rumah lebih dulu menemui bapak? Ketika itu pulalah Ki Putih Kelabu yang sedang makan malam merasakan bau yang aneh. Bau tujuh macam kembang mayat. Dia tinggalkan santapannya. Dia membuka pintu ruang pendapo, dan alangkah kagetnya dia ketika dilihatnya yang muncul adalah Guru Gumara. “Hah, Guru!” Ki Putih Kelabu kaget Guru Gumara berpakaian putih, menatapnya tajam dan berkata: “Harap malam ini tuan guru tidak tidur. Karena saya baru saja dibangunkan oleh mimpi yang jarang terjadi?”. “Akan dibinasakanlah penduduk Kumayan?” tanya Ki Putih Kelabu. “Tidak, Tapi sebaiknya anda jangan turun tangan jika ada peristiwa yang terjadi”.
Lalu Guru Gumara berlalu. Dia datangi Ki Ladang Ganda, dan diucapkan kata – kata yang sama, begitupun kepada guru-guru yang lain. Seluruh Harimau Kumayan malam itu menjalankan tirakat. Sudah lewat dua jam dari tengah malam yang menegangkan, tak kedengaran satu suarapun yang mencurigai. Rupanya perintah itu dipatuhi oleh seluruh guru penjaga Kumayan karena rasa hormatnya mereka kepada wibawa yang dipancarkan sorot mata Gumara. Ketika itu Gumara sedang menggali sepetak tanah tak jauh dari Bukit Kumayan. Seluruh yang dilakukannya persis seperti yang dialaminya pada mimpi. Dan ketika mata pacul terdengar meleduk, tahulah Gumara bahwa itulah papan kayu ruyung yang tahan rayap. Perlahan jari tangannya membersihkan permukaan papan ruyung itu. Dia mengumpulkan tenaga untuk menyibak susunan papan ruyung itu dengan hati-hati. Tampaknya seluruhnya jadi begitu cepat Ki Pita Loka merasa waktunya tiba untuk meninggalkan tempat persembunyiannya di balik semak pohon kopi. Dia melihat orang yang membongkar tadi sudah pasti masuk ke dalam tanah. Dia hampiri tempat penggalian itu. Dia lihat susunan papan ruyung yang berada di samping lobang. Dan tanpa menanti waktu lagi, dia masuk ke dalam lobang. Hati-hati dengan usaha peringatan tubuh sempurna. Kini peranan telinga sungguh diutamakannya. Dia mendengar ada benda yang digeser dan dibuka di tempat gelap itu. Dia mendengar ada lembaran-lembaran yang sedang dibuka. Tapi di dalam sana itu tak ada cahaya apalagi lampu! Siapa orang tadi?
Pastilah orang itu sedang membaca Kitab yang Enam. Namun Ki Pita Loka tetap saja tidak mengetahui, bahwa orang yang di dalam itu adalah Guru Gumara. Kini Ki Pita Loka, yang merasa bahwa enam buah kitab itu adalah pelengkap dari Kitab Pertama yang dia miliki dan berada dalam sampul kain kuning di pinggangnya… melangkah ringan lagi untuk tarus masuk.
Sementara Ki Pita Loka merayap dalam gelap tanpa menimbulkan suara, Gumara meraba Kitab Ketujuh dengan jari-jarinya. Dia dapat membaca tulisan pada sampul kitab ketujuh itu, lewat cahaya yang muncul bagai neon kecil dari sepuluh kuku jarinya.
“Kitab ini yang ketujuh yang berupa Kitab Perdamaian tapi perdamaian ini tidak sempurna sebelum engkau dapatkan Kitab Pertama. Jagalah kukumu yang tajam”.
Baru Gumara bisa menghela nafas, karena sejak mendapatkan Enam Kitab dia terheran-heran karena seluruhnya bukan tujuh melainkan enam. Sesuai dengan pesan Kitab kedua yang pada kulit buku itu tertera kemestian membungkusnya kembali dengan kain kuning, maka Gumara melaksanakannya. Lalu keenam kitab itu dia ikatkan pada pinggangnya. Sebelum dia
meninggalkan lubang bentuk guha di bawah Bukit Kumayan itu, dia sempat mencium peti tempat kitab itu yang terbuat dari tembaga dilarang membawanya. Semula dia begitu gembira dan mampu menahan kegembiraan itu. Semula dia akan menyelesaikan Tugasnya pada malam Kamis Wage itu dan akan merencanakan mencari Kitab Pertama pada malam Jum”at Kliwon besok. Semulanya memang begitu…
Tapi begitu dia lihat sosok tak jelas di hadapannya, yang telah memasang kuda-kuda tapi tak jelas siapa, Gumara menghentikan langkah. Dia melakukan puncak permainan kependekarannya, sebagaimana dia melayani tantangan Ki Karat. Dia cuma berdiri tegak dengan dua tangan melipat silang di dada, menghela nafas dalam, meringankan seluruh gerakan otot dan urat, sehingga seluruh perjalanan darah seakan-akan tak mempunyai getaran lagi. Getaran itu sudah terpusat pada permainan nafas. Dan seluruh gerak adalah nafas. Kedua tangan terlipat itu menghadap ke depan. Tapi ternyata begitu pula lawannya yang tak dikenalnya. Dia merasa lawannya cukup kuat, tarasa sekali ada getaran elektron yang mendorongnya agar bergeser dari tempat berdirinya. Gumara merasa yakin dirinya dapat menahan kiriman getaran elektron itu, dan dia. Berusaha agar tumitnya tak bergeser. Tapi tiba-tiba dia merasa tumitnya bergeser. Ini berarti kekuatan lawannya cukup tangguh dan mempunyai gaya yang sama. Keringatnya menetes. Keringatnya menetes lagi. Dan Ki Pita Loka juga sudah basah kuyup. Keringatnya pun menetes. Dia berusaha untuk mengetahui lawannya. Tapi wajah dan bentuk tubuhnya pun tak jelas. Dia terus bertahan dengan perang nafas. Jarak antara telapak tangannya dan telapak tangan Gumara sudah tinggal beberapa senti meter lagi. Apabila kedua telapak tangan ini sempat beradu, maka akan terciptalah malapetaka besar antara dua pendekar. Akan terdengarlah suara petir dan empat potong tangan pendekar ini akan buntung semuanya. Urat leher Gumara sudah kejang, begitupun Ki Pita Loka, dan kedua pendekar itu tidak dapat mengenali masing-masing. Bila dua-duanya mau memaksakan diri, maka akan celaka. Namun kedua-duanya pun tidak mau menahan diri, menjaga saja agar letak telapak tangan itu berhadap–hadapan saja, tanpa ada geseran. Empat Jam sudah pertarungan itu berlangsung. Cuma karena tadi malam ada bulan puurnama, pagi datang sepertinya lebih lambat. Karena seluruh desa Kumayan diliputi embun yang turun menyirami bumi. Sinar matahari tak dapat menembus embun tebal itu. Tapi memang tampak ada sepuluh bintik yang bergerak teratur menuju Bukit Kumayan itu. Satu
di antaranya, Ki Harwati, berkata: “Kita telah tiba di Bukit Kumayan. Karena ini wilayah kekuasaan almarhum ayah saya, kalian yang sembilan orang menunggu di sini”. “Uu tidak bisa”, membantah Dasa Laksana, “Kita yang sepuluh ini berada di bawah panji keilmuan Kitab Sepuluh Dasa Laksana”. “Ki Harwati”. cegah Talago Biru, “Aku tidak suka anda membantah beliau”.
Ki Harwati kali ini tunduk pada perintah Talago Biru. Dan berdasarkan petunjuk Dasa Laksana, maka sepuluh mereka itu semuanya diam di tempat melihat dulu keadaan. “Aneh, embun pekat baru sekali ini terjadi”“, kata Ki Harwati.
“Apa tafsirannya?” tanya Ki Rotan.
“Tentu ada sesuatu yang menyelimuti kita. Ini berarti sedang ada rahasia di sekitar Bukit Kumayan sakti ini”, kata Ki Harwati.
Apa yang sedang terjadi memanglah demikian. Perasaan Gumara ketika menahan letihnya telapak tangannya berhadapan dengan lawan, merasa lawannya semakin kabur. Dia tak menyadari, bahwa tirai embun menyelusup ke dalam guha itu.
KI PITA LOKA pun agak heran. Lawannya malahan semakin lama semakin kabur, sehingga dia tak menyadari bahwa sebenarnya embun sudah memasuki guha itu. Pertempuran macam begini berbahaya. Jika sedikit saja tumit bergeser maka dorongan telapak tangan akan keluar dari poros getaran. Ya, yang sedang bertempur sebenarnya getaran nafas lawan getaran nafas. Dan Gumara tiba-tiba merasa bahwa ada dorongan kuat dari telapak tangan lawannya. Dia harus imbangi. Dia bergeser ke kanan sedikit, dan dengan serta merta jurus telapak tangannya berubah dan dia rasakan kukunya mencapai sasaran. Ki Pita Loka menahan nyeri di mata kanannya terkena kuku lawan, sehingga dia melakukan putaran tendangan lamban, yang sebenarnya amat kuat menghentak ke paha Gumara. Gumara menahan sakit sembari tersungkur dan dia merasakan sekali lagi tendangan lamban mengenai dadanya. Darah muncrat oleh tendangan lamban yang menggedebuk keras ke dadanya. Gumara bangkit lagi tetapi kakinya terkena serimpung, sehingga kini dia tahu bahwa lawannya adalah wanita. “Kamu itu Harwati?”“ tanya Gumara menduga adik tirinya. Pita Loka yang menyesal baru tahu lawannya adalah Guru Gumara, berusaha melarikan diri. Tetapi dia tersungkur kena serimpungan Gumara. Dia langsung merenggut rambut yang kebetulan kena sambernya, dan dia mau mencekik sambil berkata geram: “Kamu dilaknat ayahmul” Embun menyingkir cepat dan cahaya matahari melintas sekejap. Ketika itulah Gumara kaget melolot melihat orang yang digeramkannya itu ternyata Pita Loka. “Ki Pita Loka”“ serunya sedikit menyesal karena dilihatnya mata kanan Ki Pita Loka terbeset jari kukunya dan luka. “Aku telah buta sebelah”. ujar Ki Pita Loka.
Gumara begitu gugup berusaha mengambil lendir langit-langit mulutnya dan mencoba menggosok ke mata Pita Loka.
“Percuma, Guru”. Rasa menyesal Gumara melebihi dari kecamuk cintanya yang berkobar-kobar pada Pita Loka. “Saya rasa kamulah yang pantas memiliki buku ini, karena saya baru saja melihat warna kuning yang membelit di pinggangmu”, ujar Gumara. Ki Pita Loka kaget. Gumara menyibakkan pakaian putihnya. Dan warna kuning yang membelit di pinggangnya itu semakin jelas oleh sorot cahaya matahari yang masuk ke celah lubang galian. Ketika Gumara akan mencopot kain kuning pembungkus enam buah kitab penemuannya itu, Ki Pita Loka mencegah: “Jangan tuan Guru. Anda yang harus memiliki Kitab Tujuh ini”. Ki Pita Loka akan melepas ikat pinggang kuning yang melapis Kitab Pertama yang terselip di pinggangnya, tetapi Ki Gumara menolak: “Aku baru.membuktikan mimpiku. itupun sudah memuaskanku!” “Ada pesan dalam kitab-kirtab itu?” tanya Ki Pita Loka. “Ada. Pada Kitab Keenam ada pesan, bahwa aku harus menemukan Kitab Pertama sebelum hari Jum”at besok tiba. Dan pagi ini pagi Jum”at Kliwon. Dan kitab itu ada padamu”. “Tidak, Guru. Tidak! Saya tidak berhak mendapatkan Kitab Tujuh itu karena ilmu saya masih rendah. Lagi pula saya akan buta mata sebelah, selama-lamanya!” “Buta atau tidak butanya kau, sama saja buatku!” ucap Gumara, yang segera melepaskan ikat pinggang yang berisi enam buku itu. Pita Loka meronta, “Tidak, tidak!”
Tanpa mereka sadari, Ki Harwati sudah mendengar seluruh perdebatan itu. Dia langsung bagaikan terbang ke bawah menyambar ikat panggang kuning yang membungkus buku enam kitab, begitupun Ki Dasa Laksana langsung mempreteli ikat pinggang kuning yang melilit di pinggang Ki Pita Loka. Namun Gumara tidak tinggal diam. Begitu Ki Rotan turun ke lubang dia sudah nanti dengan terjangan membalik, sehingga tumit Gumara menghantam dagu Ki Rotan. Ki Rotan tak berdaya karena kepalanya melintir kebelakang dan tidak kembali lagi. Dia cuma meronta-ronta dalam keadaan sekarat. Ki Harwati berhasil membebaskan diri dari tendangan gading Ki Pita Loka. Dia akan lari, tetapi lengannya disambar oleh Gumara, sehingga ikat pinggang kuning itu kembali berada dalam tangan Gumara. Dasa Laksana sudah berlari jauh dengan kecepatan luar biasa melarikan ikat pinggang kuning berisi Kitab Pertama. Biarpun dalam keadaan mata sebelah. Ki Pita Loka menghambur meloncat keluar lubang, kakinya disamber Harwati namun berhasil jumpalitan. Ki pita loka dengan lari sekencang angin limbubu menerjang semua pohon yang merintanginya untuk mengejar terus Ki Dasa Laksana. Ki Dasa Laksana membalik dan merobohkan pohon pucung. Pohon itu meluncur cepat hendak menimpa Ki Pita Loka, tapi Pita Loka sudah terlebih dulu meloncat terbang yang justru meloncati pohon yang roboh itu. Bunyi berdembam bagaikan bom menggelegar keseluruh Kumayan. Begitulah besar pohon pucung yang roboh itu. Akar pohon itu sempat menyabet lengan buntung Dasa Laksana, tapi dia cepat mundur sembari memasang kuda-kuda ketika mendadak sontak Ki Pita Loka melakukan tendangan bangau merobek pipinya. Darah mengucur dari pipi Dasa Laksana, dan dia membalik ke samping seraya menungkaikan kakinya yang menyerobot tangan Ki Pita Loka. Ki Pita Loka tersungkur dan sebelumnya merobohkan pohon cemara yang ditabrak tubuhnya. Gumara melihat Ki Pita Loka dalam bahaya. Dia meloncati tubuh Harwati yang rupanya mau menghalanginya. Harwati mengejarnya, dan menjegalnya dengan memelintirkan tubuhnya sebanyak 36 kali putaran, sehingga Gumara harus mengakui kegesitan itu dengan menyungkurkan diri dengan dua telapak tangan ke tanah tapi membuat salto putaran tujuh kali jungkir balik, yang pada akhirnya putaran salto terakhirnya menyempatkan telapak tumitnya menghantam leher Ki Dasa Laksana. Ketika dalam keadaan terpelanting itulah Ki Pita Loka sudah mencegat tubuh itu, lalu menangkapnya dan melemparkannya ke pohon jenggarang yang tegap. Tulang rusuknya keluar disertai teriak kesakitan. Kesempatan ini membuat Ki Pita Loka dengan ceat menerkam tubuhnya yang mandi darah itu. Dia lepaskan ikat pinggang kuning yang membelit pinggang Ki Dasa Laksana, yang kelihatannya merintih. Tulang rusuk itu masih nongol merobek isi perutnya, warnanya putih gading diseling oleh kucuran darah. Setumpuk rambutnya ternyata lengket pada kulit pohon jenggareng lepas dari kulit kepalanya. Gumara hanya diam, membiarkan Ki Pita Loka menyiksa Ki Dasa Laksana dengan tamparan mundar mandir dengan telapak kaki kanan.
Rupanya Ki Pita Loka sudah puas melampiaskan kemarahannya, yang bukan sifat aslinya, karena kebutaan telah membuat dia kehilangan kontrol. Ki Harwati masih ingin meneruskan perang tanding itu, tetapi dia kehabisan nafas Gumara masih berdiri, dan matanya melihat bagaimana tujuh anak-anak muda buntung tangan pada melarikan diri satu demi satu.
Ki Pita Loka akhirnya cukup puas dengan membentak Ki Dasa Laksana: “Pergi kau dari bumi Kumayan. Jangan kotori desaku dengan darahmu yang kotor itu !”
Dengan satu tendangan tempelengan pada muka Ki Dasa Laksana, Ki Pita Loka mengangkat tubuh Ki Dasa Laksana kemudian memakinya: “Matilah kamu di desa Anggun sana, desa dari bajingan tengik!”
“Begitukah kau memperlakukan ilmu kependekaranmu?” Ki Harwati dalam nafas sesak bertanya di bawah pohon ceremai padanya. Ini mengejutkan Ki Pita Loka. Dia sadar kini, bahwa apa yang telah diperbuatnya yang terakhir atas Ki Dasa Laksana memang tindakan di luar batas. “Jika kamu tersinggung karena tindakan kasarku kepada manusia binatang Dasa Laksana, mohon dimaafkan. Panca inderaku sekarang kurang satu. Kau lihat! Mataku! buta satu!”.
Gumara merasa terkena sindiran itu dan segera menerkam tubuh Pita Loka lalu meluncurkan diri  berlutut, bersembah: “Ampuni saya pewaris Ilmu Sakti Tertinggi !! Engkau begitu mulia, tapi apa daya saya tak sengaja mencolok matamu!”
Ki Pita Loka menyerahkan ikat pinggang kuning berisi Kitab Satu itu kepada Gumara, yang masih berjongkok:
“Kau, tuan Guru, adalah orang yang lebih berhak. Hidupmu hanya patut apabila didampingi Harwati, yang mestinya anda bimbing ke ilmu yang benar. Kekalahan saya bukan karena kekuatan otot maupun otaknya. Kekalahan saya hanya kalah bersaing dengan wanita yang penuh ambisi. Harap diketahui, sama sekali saya tidak ada ambisi pada tuan, sebab tuan guru
lebih mulia”.
Ki Harwati baru menyadari siapa dirinya. Dia seharusnya mengakui kenyataan ini, apabila dia melihat begitu gencarnya langkah Gumara berlari mengejar Ki Pita Loka. Gumara terusmengejarnya sampai Ki Pita Loka memasuki rumah ayahnya, lalu menerkam pendekar tua Ki Putih Kelabu dengan kata-kata mengharukan: “Ayah, terimalah saya sebagai gadis biasa yang durhaka ini. Ayah, tolonglah mataku yang buta ini supaya bisa melihat lagi”. Sementara Harwati masih menangis tersedu di Bukit Kumayan, Gumara masuk dan berkata pada Ki Putih Kelabu: “Maafkan, kebutaan puteri tuan hanyalah karena kelancangan jari saya.” “Anda tentu dapat mengobatinya”, kata Ki Putih Kelabu.
“Dengan sangat menyesal, saya tidak bisa mengobatinya. Tapi cacat Pita Loka menjadi tanggung jawab saya..”
“Jangan menghibur orang buta, tuan Guru”, kata Ki Pita Loka.
“Aku bersumpah, jika perlu aku mati untuk menyembuhkan butamu itu, Ki Pita Loka”, ujar Gumara.
Ki Harwati yang sudah berada di pekarangan rumah Ki Putih Kelabu, telah mendengar tiap ucapan Gumara.
Tangisnya bertambah hebat dan dia tidak habis pikir mengapa cintanya pada kakak tirinya itu tidak pernah bisa punah dari hatinya.
TAMAT

Pantang berdendam

Kumayan Negeri Ilmu Hitam
Sejak Gumara tiba di desa Kumayan, dia sudah diberitahu. Bahwa desa Kumayan adalah biang dari segala ilmu hitam. Tetapi Gumara sudah diajari orang tuanya bagaimana mesti bersikap rendah hati. Dia tahu, bahwa dia tidak akan sebentar tinggal di Kumayan. Begitu dia menerima tugas untuk mengajar di desa ini, dia telah menyelidiki lebih dahulu siapa orang-orang yang diakui sebagai “Tetua” di sini. Lepas waktu maghrib setelah menempati rumah jabatan dari Guru Yunus, Gumara berkata “Saya akan pergi sebentar, Pak Yunus.” “Menghadap kepala sekolah?”
“Tidak. Itu besok. Saya akan ke rumah Lebai Karat,” sahut Gumara.
“Lho, anda mengenal nama itu di mana?” Yunus tercengang.
“Sebelum saya menerima tugas mengajar di sini.”
“Dia orang sakti, lho,” kata Pak Yunus.
“Saya tahu.”
“Dan jika anda salah masuk padanya, anda celaka.”
“Itu saya juga tahu.”
“Hati-hatilah. Desa Kumayan ini sering membuat penghuninya celaka.” Gumara disalami oleh Pak Yunus. Ujar lelaki itu pada Gumara, “Semoga selamat anda menghuni rumah ini, juga selamat menjadi guru selama di sini. Saya hanya petugas yang menyambut guru baru. Tapi tahukah anda, setiap penghuni baru di sini dicoba oleh juara-juara?”
Gumara hanya bisa diam. Dia juga tahu, Pak Yunus ini termasuk orang yang “ada isinya”. Setelah lelaki tua itu berlalu, Gumara menatap sekeliling. Sepi sekeliling. Memang beginilah desa Kumayan jika waktu maghrib telah berlalu. Namun dia harus menemui Lebai Karat. Dan, setelah dia mengunci pintu rumah jabatan itu, belum lagi dia siap melangkah, dirasakannya bulu kuduknya merinding semua.
Gumara mencoba mengatur nafas. Tentu ada sesuatu yang ghaib. Dia mendehem. Dan tak jauh darinya terdengar sahutan orang mendehem pula. Kedengarannya memang itu suara manusia. Tapi di sini, di Kumayan ini, semua yang lahiriah tampak sebagai manusia, belum tentu manusia.
Dan tanpa menoleh ke arah sahutan dehem tadi, Gumara berkata “Saya penghuni baru di sini, mohon ijin.” Terdengar suara mendehem. Gumara pun membalas dengan mendehem. Lalu terdengar sekelebatan suara makhluk meloncat meluncur memasuki ilalang. Dan barulah Gumara menoleh ke sana . Ilalang itu masih bergoyang, pertanda “Inyit” baru berlalu.
Di Kumayan orang tak pernah menyebut nama harimau. Mereka harus menyebut dengan sebutan “Inyit” agar tidak kuwalat. Dan Gumara kini lega, karena salah seorang mahluk halus di desa ini sudah muncul dengan sikap yang layak untuk memperkenalkan diri. Gumara memperbaiki selendang shawl yang melilit di lehernya. Lalu dia turun tangga rumah. Dia
harus jalan kaki sejauh dua kilometer untuk sampai ke rumah Lebai Karat. Peta untuk ke sana sudah dia hafal luar kepala.
Beberapa langkah setelah keluar dari pekarangan, ia harus ikuti jalan lurus yang sepi itu. Di kiri kanan jalan tidak ada rumah. Hanya padang ilalang belaka. Dan tentu semua orang tahu, di balik ilalang haruslah dicurigai bersarangnya harimau.
Namun Gumara melangkah pasti. Langkah itu barulah terhenti ketika dia mendengar suara wanita merintih. Siapa itu? Gumara menoleh ke arah ilalang itu. Dia yakin, rintihan itu datangnya dari sela-sela ilalang itu. Tentulah wanita itu embutuhkan pertolongan. Kemungkinan dia baru mendapat musibah diterkam binatang buas, tapi binatang itu melarikan diri. “Hai, siapa di sana ?” tanya Gumara. Dia mencoba menekan knop senter di tangan. Tapi entah mengapa lampu senter itu mendadak
tak bisa menyala. Rintihan itu semakin memelas. Gumara mendekati. Lalu dia sibakkan pohonan ilalang itu.
Ya Allah!
Seorang wanita terkapar, telentang luka parah, dalam pakaian minim pula. Jika Gumara bukan lelaki beriman, tentu dia mempunyai kesempatan untuk memperkosanya. “Siapa kau?” “Tolong,” desah wanita itu, “Tolong gendong aku.”
Gumara menaruh kasihan. Cuma ia agak ragu. Belum tentu wanita ini manusia. Dia terlalu cantik. Dan ketika Gumara mengangkatnya untuk membopongnya, ada terasa bau ular. “Kau begitu gagah,” ujar wanita yang dibopong Gumara pada bahunya itu. Gumara terus melangkah, dan terus merasakan bau aneh itu. Langkahnya terhenti ketika Gumara merasa
lernya dililit mesra oleh tangan wanita itu.

ULAR MEMBELIT
Gumara merinding. Sebab lilitan lengan wanita ini melebihi kemesraan karena merangsang birahinya. Ketegangan perasaan jantan begini tak boleh. Dan untunglah Gumara segera ingat soal bau itu. Itu bukan bau yang wajar sebab dia mengenal bau ular.
“Kamu ular!” teriak Gumara dengan nada marah seraya menyeruakkan lengan yang melilit itu. Memang benar, karena mendadak saja menjelma kepala ular yang mengerikan ingin mematok kepalanya. Gumara segera membanting diri ke tanah lain berguling agar benar-benar terjadi pergumulan bila ular ini lepas dari membelitnya. Sungguh ajaib. Begitu Gumara memutar gerak pinggang dengan teriak “Fuh!”, ular tadi secara ghaib menghilang. Dan rupanya, perkelahian seru itu disaksikan oleh seorang tua yang kemudian berkata “Di mana engkau belajar ilmu tangkisan sehingga Siti Marfuah lari terbirit?” “Siapa anda, Pak Tua?” tanya Gumara. “Bagusnya kamu sebut dulu siapa kamu”, kata Pak Tua itu.
“Namaku Gumara. Lengkapnya Gumara Peto Alam. Aku guru muda yang baru dibenum di desa Kumayan ini”. “Cuma sekadar itu?” tanya Pak Tua. Mendengar hal itu Gumara gugup. Keringat dinginnya mengocor. Seakan rahasia pribadi siap dibongkar orang. “Saya tahu, anak muda, bahwa kamu ke sini dengan rencana panjang. Kau akan membalas dendam pada seseorang. Demi cintamu pada ibumu, bukan? Lalu kau akan menghadap Lebai Karat malain ini juga! Untuk mendapatkan ilmunya? Padahal, Lebai Karat inilah yang memperkosa ibumu” Mata Gumara melotot. Wah, tak disangka!
Gumara menjadi tertarik, lalu bertanya “Siapa anda sebenarnya?” “Saya? Pernah mengenal nama Hum Belang?”
Suara itu berat, bergetar. Mengerikan. Tapi yang lebih mangerikan lagi pada perasaan Gumara seketika itu adalah, karena dia kenal nama itu. Dia telah diberitahu jauh hari sebelum ini, bahwa, apabila dia tinggal di Kumayan, harus bisa menyesuaikan diri dengan tokoh Hum Belang. Hum Belang menatap Gumara. Dia menyeringai dan benar-benar mirip dengan seringai harimau. “Kalau mau selamat, jangan lanjutkan perjalananmu, nak”, ujar PakTua itu. “Lalu, apa nasehat Pak Tua selanjutnya?” tanya Gumara. “Kau akan diketahui oleh Lebai Karat, bahwa kedatanganmu menghadapnya bukan untuk belajar. Tapi untuk membalas dendam. Kau akan celaka, anak muda”, ujar lelaki tua yang misterius ini. “Lalu, Pak Tua ada di sini sekarang, untuk maksud apa?” tanya Gumara. “Hanya mencoba mencegah langkah engkau”. “Jika saya tetap ingin melanjutkan?” tanya Gumara bernada pasti, tanpa maksud melagak menantang. “Itu hakmu. Terserah”, ujar Pak Tua yang masih perlu diragukan, apakah dia benar-benar Hum Belang yang tersohor ataukah sekedar mengaku-ngaku. Gumara membungkuk hormat pada Pak Tua itu, lalu melanjutkan perjalanan. Semakin gelap menjelang tengah malam ketika dia merasa tersesat. Kalau benar jajaran bintang di langit itu adalah jajaran Bima Sakti, itu berarti kini waktu tengah malam. Padahal jarak yang harus ditempuhnya cuma berjalan kaki sekitar dua kilometer saja. Setidaknya kini dia telah berjalan sekitar hampir lima jam. Grafity, http://admingroup.vndv.com Gumara sadar, bahwa dia benar-benar tersesat, untuk kembali, dia bingung, hendak menempuh jalan yang mana. Tapi tekad Gumara memang bulat. Dia membersihkan kelopak matanya agar pemandangan yang dilihatnya di sekitar bukanlah palsu. Alangkah bahagianya dia, setelah bersih diucek-uceknya kelopak matanya itu, dia melihat di langit letak bintang Bima Sakti itu. Juga hutan sekitar dan satu jalan kecil itu, yang tadi tidak ada. Barulah ia kini yakin, bahwa pandangan matanya telah “dibalikkan” oleh Pak Tua yang melarangnya menemui Lebai Karat Gumara membelokkan langkah. Alangkah gembiranya ia, ketika didengarnya suara motor. Ini sebagai pertanda, bahwa dia tidak sesat jalan. Sudah sering dia dengar bahwa memang ada sepeda motor yang disewakan naik turun lembah bagi orang-orang Jakarta yang akan menemui Lebai Karat untuk keperluan sesuatu. Gumara tinggal mengikuti suara motor itu saja. Ya, di sana itu, di rumah terpencil itu, tentu di situlah tinggalnya Lebai itu. Ketika Gumara tiba di sana , dia mendapati dua orang yang sedang diguyur air kembang. Lain tamu yang baru datang tadi masih didaftar. Gumara ragu, apakah dia perlu mendaftar?

KETUA SEMUA HARIMAU
Gumara ingin memperlihatkan sikap rendah hati. Di antara dua orang tamu lain yang sudah mendaftar, dia duduk. Lalu petugas pencatat bertanya padanya “Anda mau ketemu Ki Karat?” “Ya”. “Silahkan maju”, ujar petugas pencatat. Gumara berdiri dan menunjukkan kartu penduduknya. “Mau berobat atau ada keperluan lain, misalnya guna-guna?” tanya pencatat itu. “Oh, sama sekali bukan”, kata Gumara. “Lalu ke sini mau apa?” “Cuma mau jumpa Lebai Karat”, ujar Gumara.
“Barangkali permintaan anda ditolak, Tadi kesini naik apa? Naik ojek juga?” tanya pencatat. “Saya? Oh, saya akan jadi penduduk Kumayan, mas”, kata Gumara. Pencatat itu agak curiga. Dia mempersilahkan Gumara kembali duduk di tempat. Dengan kecurigaan yang tidak dapat disembunyikannya, pencatat itu akhirnya masuk ke dalam rumah. Sementara pencatat itu masuk, Gumara bertanya pada dua orang tamu itu “Bapak mau berobat ke sini?” “Ya, saya diracun orang. Lihat, badan saya sudah kurus kering, uang sudah habis. Cuma karena berebut pangkat di kantor badan jadi begini”, kata yang kurus. “Dan ibu?” tanya Gumara pada tamu yang satu lagi. “Saya dimadu. Suami saya kawin lagi. Mau minta bantuan Ki Karat supaya ami saya benci pada bini mudanya”, ujar wanita yang datangnya hampir serempak dengan Gumara. Gumara hanya menghela nafas sejenak. Lalu dia melihat pencatat tadi begitu sibuk dalam ruangan. Kemudian dia berkata “Bapak tadi yang namanya Gumara ya?” “Betul”. kata Gumara. “Bapak disilahkan Ki Karat masuk menghadap”, kata orang itu. “Baik”. Gumara menarik nafas sejenak, lalu berdiri dengan sikap dada lapang. Lalu dia melangkah perlahan menuju orang yang memanggil, Kemudian sebuah pintu dibukakan bagi Gumara. Gumara pun masuk ke dalam. Dia membungkuk hormat memberi salam pada lelaki tua yang duduk bersila di atas kasur empat segi. “Silahkan duduk, juragan”, ujar lelaki tua itu, yang sudah diketahui Gumara adalah Lebai Karat. Gumara duduk. Lalu dia merasakan ada bau tidak nyaman di hadapannya. Gumara seperti ketakutan. kendati Cuma sedetik saja. “Ada perasaan tidak enak ya?” tanya lelaki tua berjanggut putih. “Ya”. “Itu tanda kamu ada maksud tidak baik mau mencari saya”. Ucapan itu jelas sebuah tuduhan. Gumara siap untuk diuji. “Barangkali kamu mau mencoba?” tanya Ki Karat. “Mencoba apa, Guru?”
“Jangan bohong. Kamu ke sini mau membalas dendam”, ujar Ki Karat. “Tidak demikian. Saya menghadap kesini karena tahu bahwa bapak adalah Ketua dari semua Tetua di kawasan ini. Sedangkan saya ke sini mau menjadi Guru SMP dalam mata pelajaran Fisika dan Matematika. Supaya saya aman selama menjadi penduduk Kumayan, Saya pun ke sini, menghadap Bapak. Saya sudah dengar kesaktian bapak”. Ki Karat tersenyum senang. Dia jarang mau dipuji, kecuali pada saat ini. “Jadi itukah keperluanmu menghadap saya?” tanya Lebai Karat. “Ya, pakGuru”. “Tapi saya ingin jawaban yang kesatria, nak”. “Maksud Pak Guru?” tanya Gumara. “Kau dengan rendah hati menghadap saya ke sini bukan untuk mempersiapkan suatu maksud jahat?” Gumara sengaja tak menjawab, kecuali tersenyum lebar sembari berkata; “Ah, anda yang ilmunya begitu tinggi, tentu lebih tahu dari segala orang pandai”. Lalu Gumara melihat perubahan sosok di hadapannya, ketika dia menyeringai. itu bukan lagi seringai Lebai Karat. Tapi seringai seekor raja harimau. Dan harimau itu siap menerkam Gumara. Ia mundur, tapi Gumara tetap tenang duduk bersila. Harimau tadi mundur lagi, seakan-akan mau Grafity, http://admingroup.vndv.com mengambil acuan untuk melompati dan menerkam Gumara. Namun Gumara hanya tenang saja, kecuali mengatur nafas. Dua tamu di luar, dan juru catat tadi, justru merekalah yang gelisah.

LEHER YANG DIPOTONG
Tidak berapa lama kemudian, mereka melihat lelaki muda yang tadi disuruh masuk sudah muncul di luar. Petugas pencatat berubah menjadi hormat melihat munculnya Gumara. Lalu petugas pencatat memanggil nama lelaki kurus. Lelaki kurus itu dipersilahkan masuk. Waktu itu, Gumara sudah meninggalkan rumah Lebai Karat. Dia menganggap tugasnya sudah selesai, yaitu menghadap Ketua dari semua Tetua di desa Kumayan. Malam semakin jauh, namun langit semakin benderang gemintang. Seekor babi melintas sekelebatan. Dan Gumara tahu, mungkin itu bukan babi. Memang hampir di seluruh desa ini dipenuhi oleh mahluk jadi-jadian. Buat yang tidak memiliki kelebihan indera dan sekedar cuma punya lima (panca) indera saja, memang sulit untuk meraba mana yang salah dan mana yang benar. Yang anehnya, setiba di rumah jabatan menjelang tengah malam, Gumara agak terheran-heran sudah ada tamu tak diundang. Dia duduk di sebuah kursi dengan kepala menekur. Gumara memberi salam. Tamu itu menyahut, tanpa menolehkan muka. Gumara agak berhati-hati bertanya
“Dari mana anda masuk tadi?”
“Dari belakang”, ujar tamu tak dikenal dan tak di undang itu.
“Bagaimana anda bisa masuk, Pak?”
“Ini milik saya dulu. Tapi pemilikan rumah ini ada permainan uang sogok, sehingga saya
ditendang. Karena saya masih protes terus, nak, inilah akibatnya”, lalu lelaki tak dikenal itu
memperlihatkan wajah. Dan wajah itu begitu mengerikan. Yaitu adanya lima enam lubang, dan
lubang itu keluar semacam getah pepaya.
“Ki Karat yang punya kerjaan begini, nak”, ujar tamu tak dikenal itu.
“Oh, dia yang punya kerja”, kata Gumara seraya menghela nafas.
“Camat di sini juga ikut main. Tanah saya sudah banyak yang dicomot, nak. Pendeknya, yang
bandel akhirnya jadi mangsa ilmunya Ki Karat”, kata tamu itu.
“Nama Bapak siapa?” tanya Gumara.
“Tohing”.
“Maksud ke sini mau apa?” tanya Gumara.
“Mau minta pertolongan”.
“Pertolongan? Lewat saya?”
“Ya, saya mau minta tolong pada anak”, kata orang yang mengaku Pak Tohing.
“Coba terangkan”, kata Gumara.
“Saya tahu, antara nak Gumara dengan Ki Karat ada satu kaitan. Tapi itu cuma cerita orang. Dan saya juga tahu, tadi barusan saya dengar bahwa nak Gumara datang menghadap Ki Karat. Ini tindakan aman jika orang mau selamat tinggal di Kumayan. Pendeknya, calon penduduk sini yang sudah laporan pada Ki Karat, aman selamanya tidak akan diganggu. Lalu mengenai permohonan saya minta tulung nak Gumara, yaitu soal penyakit saya ini. Wah, sejak kena pertama, di sini, di sini, di sini, gatalnya bukan main. Nanti muncul lagi lobang di bagian sini, lalu keluar getah begini…aduh gatalnya bukan main”. Gumara memotong “Jadi jelas yang bikin teluh ini Ki Karat”.
“Ya”.
“Kenapa musti lewat saya. Bapak Tohing kan bisa pergi sendiri, minta kesembuhan pada Ki Karat?”
Lelaki tua ini lalu meneteskan airmata. Dengan nada hiba dia berkata “Ki Karat ilmunya nakal. Dia pasti nanti minta kehormatan bini saya”.
“Oh ya?” Gumara terpelongo.
“Sedikit yang tahu mengenai kenakalannya ini”. “Dia dukun cabul ya?”
“Bukan cabul. Tapi itulah syaratnya. Kalau syaratnya diminta begitu, kita tidak bisa mengelak”.
“Aku sungguh-sungguh kaget”, Gumara menghempaskan pantatnya pada jok kursi rotan, lalu melirik ke wajah Pak Tohing yang mengerikan itu.
“Baiklah, Pak Tohing. Saya akan membujuk Ki Karat agar penyakit anda bersedia dia cabut”, kata Gumara. Tohing kelihatan girang sekali. Tetapi, sungguh mengherankan, sewaktu Tohing keluar dari pekarangan rumah Gumara, dari balik pohon kapuk berkelibat sebuah golok. Dan leher Tohing putus seketika. Tampak orang melarikan diri setelah melihat Tohing roboh. Dan paginya Gumara kaget melihat begitu banyak orang berkumpul. Lebih kaget lagi sewaktu polisi meminta keterangan dari Gumara.

FITNAH ATAS CALON GURU
Yang lebih mengagetkan Gumara lagi, sebelum polisi mengajukan pertanyaan, seorang lelaki berpici memperkenalkan diri. “Oh, Pak Direktur”. “Ya, saya Direktur SMP di Kumayan sini”, kata orang yang berpici dan mengaku bernama Jamhur
itu. Pak Yunus, yang mengurusi rumah jabatan semalam, muncul pula dengan pertanyaan “Apa anda khilaf ketika menebas leher Tohing?” “Saya menebas leher Tohing? Ya, Tuhan, ini fitnah!” seru Gumara geram. “Tapi semua orang menyebutkan hal itu”, ujar Pak Yunus. Inspektur polisi menyela, “Akhirnya hukum yang menegakkan kebenaran. Boleh kami mengganggu sedikit?” Inspektur itu memperlihatkan borgol. Jiwa Gumara terkoyak oleh cara begini. “Bukti belum cukup saya membunuh Tohing, kenapa tangan saya harus diborgo!?” protes Gumara. “Kami kuatir anda akan memotong leher yang lain atau leher kami petugas keamanan. Tentu anda tidak menginginkan kami keras kan ?” suara inspektur itu lembut namun menyakitkan hati Gumara. Gumara, masih dalam berpakaian kaos oblong dengan bercelana jean, harus mengikuti perintah petugas keamanan yang syah di kecamatan ini. Dan karena kejadian ini pulalah nama Gumara dalam tempoh satu hari menjadi terkenal di seluruh kecamatan Kumayan. Dan desa itu membangkitkan orang-orang pada seni keindahan. Sebab semua ibu-ibu, dan semua gadis-gadis, lalu berkata “Gumara berwajah tampan”.
Ya, Gumara tampan. Dan hal ini pulalah yang menyebabkan Wati memberanikan diri muncul di kantor polisi, langsung minta diizinkan bicara dengan Gumara. Dan di balik terali besi kamar tahanan itu, Gumara tentunya heran karena munculnya seorang gadis jelita berambut panjang ingin bicara dengannya. “Katakan siapa kamu sebenamya. Saya tidak ingin kamu hanya menyebut Wati saja, atau Harwati saja. Kamu anak siapa?” “Saya anak seorang yang suka menolong”, kata Wati. “Siapa ayahmu?” tanya Gumara. Gadis jelita itu diam beberapa saat. Lalu dia berkata; “Ayahku adalah seorang yang disegani di sini, yang kakak datangi tadi malam”. Gumara melongo. Lalu bertanya polos “Jadi kamu puteri Ki Karat?”
“Ya Tuhan, kenapa kamu bersusah payah mendatangi saya?” “Lewat ayahku, anda dapat bebas dari tahanan. Ini hanya fitnah dari orang yang berhati busuk di sini karena anda ingin mengajar. Mungkin yang membuat ulah adalah seorang guru tua yang akan dipensiun lalu akan anda gantikan. Tapi, dengan dipotongnya leher Tohing semalam sekembali dari rumah kakak, si pembunuh ingin menjelekkan nama kakak!” Gumara terperangah beberapa detik. Dia kemudian berkata “Terima kasih atas uluran tanganmu. Sampaikan salam saya untuk Bapak”. “Jadi anda menolak uluran bantuan keluarga kami?” tanya Wati. “Lain kali, jika saya membutuhkan benar”. “Dan kali ini kakak akan menyelesaikannya sendiri?”
“Memang begitu. Hidup ini ibarat ilmu berhitung. Jika kita mau menyelesaikan sebuah hitungan, yang penting memggunakan rumusnya yang tepat baru soal dapat dicari dan diselesaikan. Jika minta bantuan bapak, mungkin kami berbeda rumus”.
Tampak, Wati kesal. Dan dia tak dapat menyembunyikan kekesalannya dengan berkata “Tahukah kakak bahwa penduduk Kumayan mengagumi wajah kakak yang tampan itu? Seolah anda adalah dewa ketampanan di sini. Tapi mereka tak tahu, di balik ketampanan kakak ini ada kekurangan. Bahkan itu cacad” “Cacad apa?” tanya Gumara. “Engkau sombong dan angkuh!” “Lho, orang yang percaya dan itu memang memberikan kesan sombong dan angkuh! Itu kawanmu yang salah”, kata Gumara. Gadis manis itu berdiam diri. “Kamu pun punya kekurangan di samping kelebihanmu, dik manis. Kelebihanmu mungkin karena kau yang tercantik di Kumayan ini. Kekuranganmu yaitu bibirmu judes, ucapanmu nyelekit di hati lelaki,” kata Gumara, “Terimakasih atas penghinaan tuan guru”, ujar Wati lalu merentak berlalu meninggalkan lorong kamar tahanan.

TAMU MENGERIKAN
Harwati pulang dengan langkah-langkah gemas. Lebai Karat menyambut puterinya dengan ketenangan seorang Guru.
“Dia pasti menolak tawaran jasa baikmu, Wati”. “Benar, Pak”, sahut Wati. “Aku sudah menduga”. “Dan kesombongannya menjijikkan!”, gerutu gadis itu. “Ya. Dia mungkin merasa dirinya mampu membebaskan tuduhan pembunuhan itu. Tapi kamu lihat dia masih dalam tahanan polisi ? tanya Ki Karat. “Biarlah dia mampus. Tapi kesan saya dia meremeh kan Bapak”, kata Harwati dengan harapan agar ayahnya ikut jadi gemas. Tetapi sifat waskita seorang Guru, Ketua dari harimau-harimau Kumayan ini, justru lebih menonjol. “Namun aku tahu siapa yang bekerja di balik pembunuhan Tohing ini”, ujar Ki Karat, “Ini pasti pekerjaan kawanku juga”. “Maksud bapak, ini kerja Pak Humbalang?” tanya Harwati. “Bukan. Ini pasti pekerjaan si Lading Ganda”. “Di mana Bapak tahu?” tanya sang anak.
“Setiap kerja iseng dengan golok, itu pasti kerja si Lading Ganda. Dia pasti tak suka Gumara ada di Kumayan ini”, kata sang Guru. Ramalan itu tepat Memang benar kepala Tohing terpisah dari badannya adalah akibat tebasan sebuah golok. Dan golok itu ditemukan polisi berada di langkan atap rumah jabatan Gumara. Sehingga menambah lagi bukti bahwa memang Gumara yang membunuh Pak Tohing. Dan malam ini Gumara tak bisa tidur, Karena nyamuk sangat banyak di kamar tahanan. Sedangkan ia satu-satunya berada di kamar tahananan itu, Tapi, ketika dia mengebaskan kain sarong mengusir nyamuk, dia tiba-tiba melihat ada satu gerak aneh di luar jeruji besi itu. “Siapa itu!” Gumara berseru mematikan puntung rokok. “Aku”. “Siapa?” “Tohing”, jawab sosok yang berdiri di kegelapan itu. “Hei, bukankah kau sudah mati terbunuh?”
“Bukan aku yang dibunuh pagi tadi. Aku masih hidup. Boleh aku mendekati kau, guru muda?” Gumara bukan menjadi puas atas jawaban itu. Malahan dia jadi ngeri. Jangan-jangan itu hantu, atau roh si Tohing yang masih berkeliaran! Tetapi, sebelum Gumara melarang, tubuh tinggi itu mendekat Karena cahaya lampu lorong amat suram, tak jelas sosok yang mendekatinya itu. Semakin dia mendekat, sepertinya semakin tinggi tubuhnya. Dan ini membuat Gumara merinding lalu memejamkan mata. Namun langkah sosok orang tinggi itu semakin dan semakin mendekat menuju jeruji kamar
tahanan itu. Dan kini terasa pula ban yang amat menusuk. Yaitu bau bunga mayat. “Jangan takut. Aku bukan hantu”, Gumara mendengar suara. “Tapi siapa anda?!” “Aku Tohing”. “Tidak. Tidak!” “Aku Tohing” Bukalah matamu, jangan takut”, suara itu kini lembut. Tapi Gumara tetap takut untuk membuka mata. Dia benar-benar ngeri saat ini. Sebab yang semacam ini dirasakannya bersuasana aneh.
“Hai, guru muda. Dengarlah. Percayalah. Aku Tohing yang masih tetap hidup sepulang dari rumahmu semalam”, kata suara di balik terali besi itu. “Jika kau tak mau melihatku, ulurkan tanganmu. Supaya bisa kubantu untuk meraba wajahku yang penuh bintil ini, yang penuh getah yang mirip getah pepaya ini”. Biarpun punya rasa ngeri, tapi hatinya agak terpikat untuk menyaksikan kebenaran ini. Siapa tahu memang dia ini Tohing. Dan aku bisa bebas dari tuduhan membunuh Tohing. Agak enggan, Gumara mengulurkan tangan kirinya. Maksudnya sedikitpun tiada membuka mata. Tapi setelah jarinya merasakan bintil-bintil yang menjijikkan itu, Gumara cepat menarik tangannya. Lalu matanya dibukanya! Bah, benar! Benar Tohing masih hidup. Mata Gumara melotot heran. Lalu didengarnya Tohing berkata “Beri aku sebatang rokok”. Dan Gumara merogoh kantong. Karena rokok itu ada di kantong belakang celana dalam, ia agak sulit mengeluarkannya. Dan setelah rokok itu dia dapatkan, maksudnya akan menyodorkan pada Tohing. Tetapi … yang dilihatnya adalah tubuh tanpa kepala! Gumara menjerit dan ketika dilihatnya lagi, sosok itu tak berkepala itu sudah menghilang. Sersan jaga Ahmad mendekat, lalu bertanya; “Kau melihat setan ya?”. Gumara tidak menjawab. Keringat dinginnya bercucuran, tak henti-henti.

NGERI TAPI DILUDAHI
Seharusnya Gumara tak usah sekaget itu. Sampai pagi dia tak tidur. Dia menyesali diri, mengapa dia setolol dan sepengecut itu. Dia sudah banyak mendengar ciri khas desa Kumayan ini. Terutama dari ibunya. Sehingga khayal mengenai yang aneh-aneh tentang desa ini sudah hidup semenjak dia kecil. Karena itu ketika muncul tawaran mengajar ke desa, dari tujuh desa yang diajukan maka dipilihnyalah desa Kumayan. Tetapi yang sebenarnya menghendaki dia kesini adalah ibunya. Juga ibunya yang menyuruh dia menemui Lebai Karat melebihi Pak Camat atau Kakanwil setempat Seharusnya pagi ini Gumara letih sekali. Tapi karena dia sudah puas memaki-maki ketololannya semalam, pagi ini dia seperti sadar apa yang mesti dilakukannya. Gumara segar bugar. Dia berolahraga di kamar tahanan, sehingga mencengangkan polisi-polisi jaga di sana. Tiba-tiba saja, muncul seseorang yang tidak dia kenal. Orang itu tua, bercakap-cakap sejenak dengan petugas jaga, lalu menuju ke kamar tahanan. Letaki tua itu bersikap amat sopan.
Ketika dia mengulurkan tangan menyalami Gumara, dia memperkenalkan dirinya “Panggil saya Pak Lading Ganda”. Namun genggaman salamannya tidak dia lepaskan setelah Gumara memperkenalkan nama dirinya.
“Apa maksud Bapak ke sini?” tanya Gumara.
“Tadi kau tidak melihat seseorang yang saya serahkan pada polisi?”
“Siapa dia?” tanya Gumara.
“Pendekar Cacing. Dialah yang membunuh si Tohing. Dia taruh goloknya di Kelangkan atap rumahmu. Jadi saya ke sini bukan ingin menonjolkan jasa baik saya. Tetapi hanya memberitahu, bahwa saya telah tangkap pembunuh Tohing yang sebenarnya. Satu jam lagi paling-paling tuan guru muda akan dibebaskan dari tahanan”, barulah lelaki tua itumelepaskan salamannya. Gumara hampir tak yakin akan keterangan ini. Dadanya seakan sesak. Dia tak mengira, bahwa di desa ini masih ada seseorang yang berbudi baik.
“Siapa nama Bapak? Mau bapak mengulangi?” ujar Gumara.
“Lading Ganda, Mampirlah ke padepokan saya setelah keluar. Nah, selamat atas kebebasanmu!”
ujar Pak tua Lading Ganda.
Rasanya terlalu singkat bagi Gumara pertemuan indah ini. Dia akhimya memang dipersilahkan keluar dari tahanan dan menerima surat pembebasan. Cuma, dengan syarat untuk 15 hari
berikutnya dia tidak diperkenankan meninggalkan kecamatan Kumayan. Kemudian dia
mengucapkan Terimakasih pada Letnan Amir, tapi Letnan Amir ber tanya “Pak Guru tahu lewat
jalan mana untuk sampai ke rumah?”
“Saya bisa menanyakannya ke sekolah tempat saya mengajar”, kata Gumara. Kebetulan di
tengah jalan dia sendiri pun sudah jadi perhatian banyak anak sekolah dan orang-orang. Dia
menanyakan rumah Pak .Yunus. Seorang murid mengantarnya ke SMP. Ah, aku belum mandi.
Kepada anak itu Gumara bertanya
“Mau menunjukkan rumah tempat pembunuhan Tohing terjadi?”
“Kenapa kakak dibebaskan?” tanya anak itu.
“Karena aku seorang Guru, bukan pembunuh. Pembunuhnya Pendekar Cacing, yang kini
meringkuk di bekas kamar tahananku”, kata Gumara.
Dengan diiring beberapa anak sekolah, Gumara tiba di rumah jabatan. Dia berusaha ramah
kepada anak-anak yang baik hati itu. Tapi dia perlu segera mandi. Sebab dia mesti menghadap
Bapak Kakanwil, lalu ke sekolah tempat dia harus mengajar.
“Maaf, kalian terlambat masuk kelas nanti. Kakak akan mandi dulu ya?” ujar Gumara
ramah.Setelah anak-anak itu pergi, Gumara siap untuk mandi pagi. Dia membawa handuk, tetapi
secara naluriah dia seperti nya merasakan sesuatu bau. Bau amis. Bau darah yang sudah
menginap! Bulu romanya merinding. Tapi dia tak ingin sekonyol tadi malam. Dia harus berani
dan mengusir khayal yang mirip dongeng itu.
Tapi ketika dia mendorong pintu kamar mandi, dia rasakan lagi bau lain. Bau bunga tujuh
macam, yaitu bau bunga untuk orang mati. Namun terus didorongnya pintu. Dia belalakkan mata
melihat sekeliling. Lalu dia mandi. Tetapi, sewaktu Gumara selesai mengenakan celana dalam,
lehemya seperti kena tepuk tangan. Dan dia berbalik … Bah! Tampak ada satu kepala
bergantung tanpa tubuh. Kepala itu kepala Tohing, penuh bintil dan nanah, dengan leher terjulur
dan mata terbelalak. Gumara kali ini tak mau tertipu oleh pandangan matanya. Dia melotot terus
menatap kepala tergantung itu, kemudian meludahinya dan berteriak “Setan!”. Gumara berhasil,
Dalam sekelebatan, sehabis diludahi, kepala tergantung mengerikan itu tenyap dari pandangan
matanya. Hatinya lega. Dan dia tetap lega ketika melangkah ke luar rumah menuju Kantor
Kakanwil.

TAK SUDI GAYA PAKSA
Sebelum langkahnya berbelok di simpang jalan yang menuju Kantor Kakanwil, terdengar seorang menegur “Nak Gumara”. Gumara menoleh. Kaget sekali dia. Tapi juga senang sekali. Sebab orang yang menegurnya itu adalah seseorang tempat Dia seharusnya berterimakasih. Dialah Pak Lading Ganda. “Mau ke mana?” tanya Lading Ganda. “Pagi ini saya harus laporan pada Pak Kakanwil”. “Mari mampir ke padepokan saya dulu”, ujar Lading Ganda. Gumara ragu. Lalu Pak tua itu berkata “Jika kau berkeberatan, lain waktu saja”, “Wah, jika saya berkeberatan, saya jadi manusia tak berbudi, pak”.
“Nah katau begitu silahkan mampir”, ujar si tua itu. Gumara memindahkan letak map ketangan kiri, Dia mengikuti langkah lelaki tua itu. Jalan orang tua itu begitu cepat. Jadi Gumara harus mengepit map lebih kuat dan melangkah lebih cepat.
Tapi…
Jarak ke padepokan pak tua ini tampaknya jauh. Keringat sudah mulai terasa di sekitar ketiak dan krah baju, Namun Gumara harus melangkah lebih cepat lagi, sebab Lading Ganda setiap disusul tampaknya malah mempercepat. Dan karena lelaki tua itu beberapa meter di depan Gumara, Gumara merasakan ada bau bangkai dari arah depan. Ibunya dulu pernah berkata semasa dia kecil, bahwa orang yang memiliki ilmu penjelmaan harimau memiliki pula bau bangkai, walaupun pada saat-saat tertentu saja.
Tapi usaha Gumara untuk menyusul pak tua yang bersicepat itu akhirnya berhasil. Dan ada kesan mengejutkan ketika dia mengikuti masuk pekarangan padepokan itu. Yaitu satu tubuh melintas di depan Gumara, bagai baru terlempar. Tubuh berbaju hitam-hitam itu terlempar sungguhan, menerjang rumpun pohon nenas. Dan pohon nenas itu terbongkar sampal akar-akamya.
“Mereka muridku. Mereka latihan. Jangan kaget”, kata Pak Lading Ganda.
Hanya tiga orang sedang berlatih. Gumara terpaksa mencopot sepatu. ini mengikuti Pak Lading yang mencopot sandalnya.

“Mari masuk”, ujar Lading Ganda. Gumara agak ragu, sehingga orangtua tadi mengulangi ajakan masuknya. Lalu Gumara melewati pendopo latihan itu. Dan masuk lewat pintu tak berdaun itu. Ada ruangan lebar di dalam. Ditiap sudut ada pot-pot berisi menyan yang dalam keadaan berasap. Tapi baunya tak menyengat, sebab cukup semerbak bagi hidung Gumara.
Pak Lading Ganda sudah bersila. Ujarnya; “Silahkan bersila saja di hadapanku”. Gumara “menaruh map di pahanya ketika bersila. Tapi Pak Lading memungut map itu seraya berkata “Yang di dalam ini semua tidak begitu penting di bandingkan persahabatan di antara kita”. “Tentu, pak” “Jika kamu ke Kumayan cuma mau menjadi Guru di SMP itu, tentu ada seseorang yanq berkecil hati”, kata Pak Lading, “Kenapa begitu, pak?” tanya Gumara. “Yah. Ada guru tua yang harus kamu gantikan”, kata Pak tua itu. “Wah soal itu saya kurang tahu. Yang terang saya dibutuhkan mengajarkan ilmu matematika dan fisika di Kumayan ini”, kata Gumara. “Hidup ini jangan sampai mengecilkan hati orang lain. Sebelum kamu datang, Pak Tarikh sudah bersedih hati. Sebab dialah yang akan minggir dan kamu maju sebagai penggantinya. Nah, sebelum kamu mati konyol diracun si Tarikh, ada baiknya ikuti nasehatku!” Gumara, betapapun harus berterimakasih, betapapun harus menghormati Pak Lading yang berbudi ini, dia merasa harus terlebih dahulu menghormati tugas yang dibebankan padanya. “Atau kamu akan bersedia mati diracun?” tanya Pak Lading Ganda. “Tapi saya belum mengerti maksud Bapak”, kata Gumara.

“Mudah saja. Mari kita bakar saja map ini, yang aku tahu berisi surat perintah tugas mengajar di Kumayan sini, di SMP sini. Kau tahu, aku membutuhkan murid, dan itu adalah kau. Sebab kau seorang bibit unggul”, kata Lading Ganda. Suaranya berusaha menekan, mempengaruhi, dan ingin menaklukkan Gumara secara tuntas. Justru cara beginilah yang tak disukai Gumara, betapapun dia berhutang budi pada lelaki tua ini. Lalu Gumara berusaha tak menyinggungnya. Yaitu menampilkan sikap tanpa kata. Yaitu cuma mengambil map itu, seraya berkata “Terima kasih atas ajakan Bapak. Ajakan itu mulia. Cuma, itu lebih baik lain kali saja”.

BELUM PERNAH BERKELAHI
Semua sikap dan ucapannya serba polos. Tapi bagi Lading Ganda justru kepolosan demikian
tidak dikehendakinya. Dia merasa, tak pernah ada seseorang yang berani menolak ajakannya.
Baru anak muda inilah !
Yang pertamakali pula!
Jadi, fikir tua, orang begini mesti dicoba.

Sewaktu Gumara bangkit sehabis bersalaman pamitan pada Lading Ganda, sebelum ia tegak
lurus berdiri, sebuah tendagan sapu menyapu pantatnya. Gumara terjungkir di permukaan batu-
batu pualam di ruangan itu. Dia malahan menyerosot meluncur. Ketika kepalanya hampir
membentur dinding, untunglah ada gerak refleks sehingga bahunyalah yang menghantam
dinding. Memang cukup sakit juga. Gumara belum pernah berkelahi. Dengan siapapun, semenjak kanak. Jadi dia tidak tahu cara mengelakkan serangan sewaktu dia dengar ucapan Lading Ganda; “Anak Keparat!” disertai satu tendangan yang hampir mencopot kepalanya andaikan dia tak menghindari tendangan itu
dengan menunduk. Semua kemampuan mengelak itu bukannya karena dia pandai bersilat Bahkan dia sendiri tercengang sewaktu tubuh Pak tua melontar ke langit-langit lalu turun cepat mau menginjaknya, namun Gumara bergulung-gulung menghindari injakan demi injakan yang gagal itu.
Malahan, saking ngeri, akhirnya Gumara lari tunggang langgang meninggalkan padepokan. Dan
malahan dia amat terheran-heran, mengapa dia dapat lari sedemikian cepatnya seperti derasnya
angin limbubu.
Padahal tadi sewaktu mengikuti langkah cepat Pak tua Lading Ganda dia merasa lelah.
Kini, di depan kantor Kakanwil, Gumara sedikit pun tak merasa lelah. Dia malahan santai. Masuk
menghadap. Segala pembicaraan menjadi lancar. Juga dia merasa amat lancar sewaktu
menghadap Pak Camat memperkenalkan diri, terlebih lagi menghadap Pak Direktur SMP dan Grafity, http://admingroup.vndv.com
15
berkenalan dengan semua guru. Yang mencengangkan dia, dia cukup merasa aman ketika
berkenalan dengan pak Tarikh, malahan dipeluk oleh guru tua itu seperti bapak memeluk
anaknya.
“Nanti jam 10.30 giliran saya mengajar, sebaiknya Pak Gumara bersama saya masuk kelas dan
saya perkenalkan dengan murid-murid”, ujar Pak Tarikh. Keramahan Pak Tarikh ini pun
sebenarnya tidak menerbitkan rasa jengkelnya kepada Pak Lading Ganda. Atau mau
menuduhnya si tua pendusta Tidak! Dia cuma mendapatkan kesan tercengang-cengang saja dari
seluruh pengalaman singkat namun bertubi-tubi semenjak dia memasuki wilayah Kumayan ini.
Maka, ketika sehabis diperkenalkan dan dipersilakan mengajar di Kelas I B itu, Gumara
menganggap dirinya bukan sebagai guru baru di sekolah ini.
“Kalian pernah mendapatkan pelajaran matematika dari Pak Tarikh. Dan saya akan mengulangi
sedikit dari pelajaran dasar, sekedar sebagai ulangan. Dan ini bukan berarti pelajaran dari saya
berbeda dari Pak Tarikh. Maksud saya cuma menjelaskan, bahwa yang yang saya ulangi adalah
semua yang pernah diajarkan Pak Tarikh”, kata Gumara. Hal itu diucapkannya satelah guru tua
tadi keluar kelas.
“Jangan kira saya lebih pandai dari Pak Tarikh. Karena beliau guru senior, lebih tua. Lebih
berpengalaman. Tentulah beliau lebih pandai dari saya. Saya baru berpengalaman dua tahun
mengajar. Itupun sebagai guru bantu. Berhubung Pak Tarikh memasuki pensiun. saya ditawari
ke sini, dan saya mengajar”.
“Pak Guru”, seorang murid lelaki mengacungkan tangan,
“Yah, nama kamu siapa?”
“Dalip, pak. Saya ingin menanyakan apakah betul Pak Guru ditahan polisi kemarin pagi?”
Gumar hanya tersenyum dan menjawab ramah “Itu persoalan pribadi yang akan menghabiskan
waktu jika dibeberkan dikelas ini. Tapi baiklah saya jawab singkat Saya ditahan, itu benar. Tapi
saya tadi pagi dibebaskan dari tahanan, juga benar Buktinya sekarang saya mengajar disini”.
Enak memang pengalaman pertama pada siang ini bagi Gumara. Tapi yang tidak enak, setelah
dia diberi sepeda oleh Direktur SMP, masih menuntun sepeda, ada suara teguran dari arah
warung kopi “Pak Guru Gumara!”,
Gumara menoleh ke arah warung.
Bah! Ada seseorang yang nyengir. Melambai padanya. Dan dia adalah Pak Lading ganda, yang
melambai berseru “Mari masuk makan siang bersamaku!” Ajakan ini sungguh sebuah tantangan. Tak mungkin seorang guru makan di warung yang memberi kesan inilah warung preman, manusia-manusia koboi. Gumara hanya menghampir menuntun sepeda, lalu berkata “Maaf, terimakasih”. Lalu akan dinaikinya sepedanya itu. Tapi terdengar bunyi desis pada ban belakang. rupanya gembos. Eh, ban depan berdesis juga.
MASIH BERBAIK SANGKA
Sepeda itu terpaksa dituntun oleh Gumara. Tentu saja, mendorong sepeda yang kedua-dua Grafity,
bannya kempis, buat seorang guru baru, memalukan. Apa lagi dia tak tahu di mana tempat
tukang tambal ban. Tapi Gumara punya cukup peralatan yang dibawanya ke Kumayan ini,
bahkan sampai jarum pentul sekalipun. Dia berniat akan menambal ban itu sendiri di rumah.
Memang kadangkala dia menjadi orang aneh dengan menuntun sepeda begitu. Namun dia
berharap, orang yang menontonnya itu bukan karena mau menonton guru baru yang menuntun
sepeda, melainkan hanya ingin mengenal seorang penduduk baru saja. Tapi menjelang dia berbelok ke gang rumahnya, dia disapa seseorang. Orang itu memakai dastar, berkain sarung dililit ke leher, berpakaian hitam-hitam, bersandal jepit terbuat dari kulit Kayaknya orang ini pendekar silat Sapa orang ini cukup ramah “Dua ban kempes ya guru muda?”
“Betul”, sahut Gumara.
“Mampir ke rumah saya, guru!”
“Terimakasih”.
“Kalau begitu ke ladang saya!”
“Lain kali saja, Pak”.
Orang itu ramah memperkenalkan dirinya “Saya Ki Limbubu”. “Saya Gumara”.
“Saya sudah tahu. Tapi memang aneh dua ban kempes sekaligus. Apa anda melindas tumpukan
beling?” tanya Ki Limbubu. “Tidak”, sahut Gumara, “Dua-dua ban ini kempis dalam jarak semenit sebelum saya naiki”.
“Kalau begitu kempisnya bukan karena paku atau beling kaca. Ini tentunya dikempiskan oleh
kuku-kuku yang tajam”, ujar Ki Limbubu.
Gumara tak paham kata-kata itu. Atau dia kurang perhatian karena merasa perut lapar, Apalagi
dia tak enak jika Pak Yunus yang mengantarkan makanan rantangan harus menunggu lama di
depan rumahnya. Maka dia pun mengangguk hormat pertanda pamitan.
Maka, ketika dia tiba di pekarangan, dia pun menyatakan maaf pada Pak Yunus. Lalu dia tak lupa
menceritakan bertemu Ki Limbubu.
“Dia juga manusia harimau”, kata Pak Yunus.
“Oh ya”, Gumara agak heran, lalu “Pantas dia mengambil istilah kuku ketika dia mencurigai
penyebab kempisnya ban sepeda saya”.
“Di sini kita tak boleh melukai hati seseorang”, kata Pak Yunus. Ucapan ini membuat Gumara tak
dapat menghabiskan makanan rantangnya. Kini dia tatap lagi rantang yang masih ada isi itu.
Melintas perasaan ganjil yang membuatnya me rinding. Yaitu kenangan pada ucapan Pak Lading
Ganda soal peringatan akan diracun.
Lalu Gumara pun ingat pesan ibu, agar di Kumayan menghindari diri daripada makan di warung.
Ah, Gumara pada akhirnya menanakan lagi pesan ibu agar dia selalu berbaik sangka. Adalah Grafity,
buruk sangka jika menduga makanan rantang itu berisi racun. Tetapi ketika dia lihat sepedanya
yang belum dia tambal itu, Jika betul dugaan Ki Limbubu bahwa kempisnya ban karena torehan
kuku, bagaimana mungkin harus terus berbaik sangka?
Gumara buru-buru menanggalkan ban sepeda itu. Dan memeriksa ban dalamnya. Tampaknya,
melihat koyaknya amat lebar, mungkin saja yang mengoyak ban itu adalah harimau suruhan
lewat kukunya. Tapi, fikir Gumara lagi, daripada dia berburuk sangka, lebih baik ditambalnya saja
ban sepeda itu. Dan dia pun mulai menambal. Setelah selesai dua-duanya ditambalnya, lalu
dipompanya, dia sandarkan kembali sepeda itu pada tiang lunas rumah. Kemudian dia mencuci
pakaian. Dan senja pun tiba dengan cepat. Menjelang malam, muncul Pak Yunus membawa
rantang. Beliau heran makanan tak dihabisi Gumara.
“Kurang enak masakannya?” tanya Pak Yunus.
“Siapa yang memasak?”
“Isteri Pak Tarikh”, sahut Pak Yunus.
Seketika itu juga darah berdesir di dada Gumara. Namun dengan keberanian dan keyakinan pada
mujizad kata bismillah, Gumara melahap juga makanan rantang masakan Bu Tarikh. Dia merasa
tak diliputi firasat buruk. Tetapi pada hari ke lima , bukan saja firasat buruk yang dirasakan
Gumara sehabis makan malam. Gumara muntah. Dan gumpalan-gumpalan darah segar
berhamburan dari mulutnya. Bahkan dadanya sesak. Ketika itu Gumara harus memutuskan,
apakah dia mesti ke Puskesmas ataukah mendatangi Pak Lading Ganda. Gumara tak ingin pula
berburuk sangka. Dia cepat naik sepeda menuju Puskesmas. Dia mendapat suntikan. Dan darah
pun terhenti keluar dari mulutnya.
“Jangan menduga anda diracun orang, Pak Guru”, ujar dokter muda Kadir.
“Saya ke sini adalah bukti saya tak curiga. Kalau tidak, saya tentu ke dukun”, kata Gumara.
“Namun, kemungkinan anda diracun orang iseng pun ada”, ujar dr. Kadir.
Mendengar ucapan dr. Kadir itu pun wajah Gumara tidak berubah. Seolah-olah dia memang tidak
diracun seseorang pun. Lalu dia pamitan pada Dokter muda itu seraya berkata “Terimakasih,
dokter. Anda muda, saya pun muda. Anda bertugas di sini berbakti untuk Peri Kemanusiaan.
Saya pun mengajar di Kumayan ini atas keikhlasan yang bertolak dari dasar Peri kemanusiaan
jua. Tapi, sebelum saya pamit saya ingin bertanya, apakah anda bertugas di sini sudah cukup
lama?”
“Cukupanlah. Tiga tahun persis di bulan depan”.
“Pernahkah Anda diracun orang di sini?”
“Ya, pernah sekali”
“Lalu apa cara Anda mengatasi, dr, Kadir?”
“Saya terpaksa berguru”, ujar dr. Kadir.
“Siapa puru anda?”
“Tuan Putih Kelabu”, ucap sang dokter agak gugup.
“O, dia. Dia termasuk Tujuh Manusia Harimau di sini, bukan?”
Dokter” muda itu tercengang.
“Pak Guru mengetahuinya?” tanyanya.
“Ya”.
“Tetapi di Kumayan ini, termasuk guru saya Putih Kelabu itu, cuma ada Enam Harimau”, lalu dokter muda itu bertanya “ dari mana ada keterangan di Kumayan ini ada Harimau Tujuh? Buktinya, pancuran Pemandian Umum di sini pun cuma Enam Pancuran”. Gumara tersenyum lembut, lalu bertanya “Sulitkah untuk belajar pada Sang Guru Putih Kelabu?”
“Jika anda rajin membaca, kedalaman ilmunya berdasarkan Kitab. Dan dia tidak pernah
mengandalkan kekuatan fisik. Dia lebih cenderung pada dunia obat-obatan”.
Dr. Kadir lalu menambahkan “Murid anda ada yang anak syah Tuan Putih Kalabu jika saya tak salah duga”.
“Siapa nama murid saya itu?” tanya Gumara ingin tahu.
Tampaknya sang dokter agak berat menyebut nama itu. Dia cuma berkata “Pokoknya yang tercantik di kelas, yang namanya aneh”.
Dengan segera Gumara dapat Mengingatnya “O, nama itu memang aneh. Pita Loka. Rambutnya pun bagus. Memang diakah anak kandung Tuan Guru Putih Kelabu?”
“Betul. Tapi maaf jika saya terpaksa menyebutkan, bahwa si Pita Loka Konon kabarnya sudah ditaksir orang”.
“Ditaksir orang? Maksud pak dokter sudah bertunangan?” tanya Gumara seolah bernapsu. “Begitulah menurut pendengaran saya”,”, jawab sang dokter.
“Oh, jika wanita belum bersuami, apalagi belum bertunangan, itu masih berupa bunga di kebun yang jika Tuhan kehendaki dapat saja dipetik. Tapi harap tuan muda ketahui, saya bukanlah type lelaki yang mudah jatuh cinta. Oh, sudah banyak obrolan kita. Jadi sekedar mencegah keracunan, suntikan tadi sudah cukup, bukan?” “Sudah cukup”, sahut dokter muda itu.
“Terima kasih karena anda menolak pembayaran”, ujar Gumara lalu melambai hormat dan berlalu menuju rumahnya. Dan dalam perjalanan pulang ke rumahnya itu, dia dicegat seorang tua di tengah jalan. “Maaf, Bapak ingin bicara dengan saya?” tanya Gumara sopan, “Saya mau minta api.” Gumara buru-buru memberikan korek api gas. Setelah menyulut, sebelum sempat Gumara orangtua itu berlalu.
Yang agak aneh pada perasaan Gumara ketika itu adalah kopiah yang dikenakan orangtua itu. Warnanya mengingatkan kemungkinan itu. Kopiah itu berwama putih dan berwama kelabu, Jangan-jangan, dialah Tuan Guru Putih Kelabu. Setiba di rumah, Gumara masih mencoba mengingat kopiah orangtua tadi. Dan secara tiba-tiba saja terjadi kejutan. Pintu terdengar diketuk. Gumara tenang dan membuka pintu. Terdengar salam dan dilihatnya ada orang membungkukkan tubuh begitu hormatnya “Maafkan saya tadi jika kurang sopan meminta api rokok, Tuan Gumara”. “Bapak tentu Tuan Guru Putih Kelabu”, ujar Gumara seraya mempersilahkan masuk. “Benar”, sahut orangtua itu melangkah sopan.
“Tapi begitu secepat kilat secara mendadak Bapak sudah di sini. Dengan kendaraan apa Bapak ke sini?” tanya Gumara masih heran. “Katakanlah dengan angin”, ujar sang Guru. Gumara bukan orangnya yang sok merahasiakan rasa terkajut. Nafasnya terhempas dan bibirnya menanya “Berkendaraan angin Pak Guru ke sini? Wah, ilmu anda amat tinggi sekali?”
“Anak muda salah, Yang datang menghadap sebetulnya ilmunya rendah. Saya mendatangi anda, itu berarti ilmu andalah yang tinggi!” “Ha? Ilmu saya? Saya cuma Guru Ilmu Matematika, Tuan Guru!” “Itu bukti ilmu anda tinggi. Anda merendah sampai ke bawah bumi, sehingga saya tak dapat mengenali anda. Tapi agar saya jangan merasa terjerumus mengagumi anda, saya nyatakan apa maksud saya menemui Guru Gumara sekarang?” “Silahkan, Tuan Guru”, ujar Gumara amat sopan. “Begini! Saya dengar tuan menjadi guru di sini. Di sekolah tempat anda mengajar, di situ ada anak perempuan saya. Dia masih gadis mentah. Belum punya kematangan. Karena anda gurunya di sana , saya mohon anda melindungi Pita Loka dari segala kemungkinan!” Gumara terpelongo beberapa detik. “Jadi Pita Loka itu puteri Tuan Guru?” tanya Gumara. “Betul. Dia bandel, jika berkata melukai orang. Jadi ada kemungkinan anakku itu dijahati orang. Sebelum hal itu terjadi, mohon perlindungan anda, Tuan Guru Gumara”. Begitu santun dan hormatnya orangtua itu, sampai Gumara terlena di ambang pintu sewaktu melepasnya. Tapi terlena itu mendadak berubah menjadi terpelongo ketika orangtua itu dalam sekejap mata hilang
berbentuk asap putih kelabu Secepat angin beliung. Dan sewaktu mengajar di depan kelas, Gumara lebih dahulu bertanya “Siapa di antara kalian di kelas ini yang paling gemar pada matematika?” “Wah, itu pertanyaan bohong”, kata seorang murid
Dan waktu Gumara melihat murid itu, temyata suara jelas itu dari Pita Loka. “Kamu yang bernama Pita Loka?” tanya Gumara, “Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula”, jawab murid itu.
Memang mulutnya culas dan judes. Gumara hanya tersenyum. Lalu dia mencatat nama murid-murid yang menjadikan pelajaran matematika sebagai mata pelajaran favorit. Tapi Pita Loka tidak mengacukan telunjuknya. Sekedar menguji sejauh mana kemampuan murid di sini terhadap mata pelajaran matematika, Gumara membuat lima soal di papan tulis.
“Wuwwww”, gerutu murid sekelas.
Gumara membalik pada mereka, bertanya “Kenapa berteriak wuuu?”
“Guru baru jangan kejam, Pak!”
“Lho, koq saya dibilang kejam?” Gumara bertanya tertawa.
“Soalnya lima , sulit-sulit lagi”, ujar Pita Loka.
“Buat yang pandai tidak ada yang sulit”.
“Buat yang bodoh seperti saya, tentu itu sulit, Pak”, ujar Pita Loka. Gumara tertawa menyengir sejenak, lalu tidak dilayaninya lagi ocehan murid itu. Ketika semua murid menyerahkan jawaban soal, hanya Pita Loka yang menyerahkan kertas tanpa jawaban soal. Yang ditulis cuma salinan soal dari papan tulis belaka. Malahan, setelah salinan soal no. 5, Pita Loka menulis kalimat

KARENA GURU LEBIH PANDAI DARI MURID, SEBAIKNYA LIMA SOAL INI DIJAWAB OLEH PAK GURU SAJA.
Pita Loka …
Gumara ternyata bukan guru sembarangan. Setelah membaca itu, dia peragakan kertas itu ke hadapan murid-murid itu, disertai tanya “Siapa Pita Loka yang cukup sok ini?”
“Saya, Pak Guru” jawab gadis itu. “Oh kamu, ya. Saya minta kamu beristirahat di luar kelas saja”, ucap Gumara cukup lembut, tapi tegas. Seketika kelas pun hening. Wajah Pita Loka merah padam karena dlanggapnya dirinya dipermalukan guru baru itu. Tapi dia pun cukup tabah, Dia merentak berdiri, lalu melangkah dengan masgul meninggalkan kelas. Seperginya, Gumara berkata penuh wibawa “Harap kamu ketahui, setiap pekerjaan bersama, butuh pimpinan. Begitupun belajar, adalah pekerjaan
bersama. Guru, dalam hal ini saya, jadi pimpinan. Jadi setiap yang menciptakan hilangnya wibawa dalam satu pekerjaan bersama, dianggap melanggar konsensus, dan dia berhak menerima perintah agar minggir. Jelas oleh kalian?”
Murid-murid semuanya terdiam.
Murid-murid kelas yang terdiam itu mendadak menjerit. Karena mereka melihat Pak Guru Gumara muntah. Lalu bergumpal darah pun turut dimuntahnya.
“Pak Guru muntah darah!” teriak di antara mereka. Pita Loka mendengar juga suara itu. Lalu dia menjenguk ke dalam. Bahkan dia juga mendengar suara sumbang dalam kelasnya “Wah, Pak Guru dikerjain oleh Pita Loka”. Mendadak saja suara gumam dugaan itu terhenti karena terdengar bentakan seorang gadis yang baru masuk ke kelas itu, dari kelas lain “Kalian jangan menyebar fitnah!”
“Hai, Harwati!” seru Pita Loka yang meloncat masuk kelas. Pak Guru Gumara masih mengurut dadanya yang dirasanya terbakar, untuk mengurangi darah yang meleleh dari bibirnya.
“Saya jadi terkena fitnah, Wati”, kata Pita Loka. Tetapi Harwati rupanya tidak menjawab. Dia sedang berkonsentrasi dengan menyerap saringan napas, Tiap serapan yang dilakukannya, Gumara merasa napasnya teratur. Dan panas yang membakar dada berkurang. Harwati terus bagai orang bersemedi dengan kedua tangan bersilang di dada.
Rupanya Harwati membuat bejana abstrak antara pernapasan Gumara dengan pernapasannya. Lalu, puncaknya yang menegangkan semua orang, adalah sikap Harwati yang tenang meniupkan napasnya keluar mulut. Terciptalah pemandangan aneh mengagumkan. Dari mulutnya keluarlah gelembung-gelembung merah jambu bagai gelembung sabun. Tiap gelembung itu menabrak dinding dan pecah di sana , tampaklah bercik merah muda itu menjadi semacam percikan darah. Pada puncak yang paling menegangkan, ketika Harwati menghembuskan gelembung terakhir, bukan gelembung lagi yang terlempar dari mulutnya. Melainkan segumpal darah beku.
Baru setelah itu dia berkata; “Tolong berikan padaku segelas air putih”. Beberapa murid bersibuk
diri mendapatkan segelas air putih dari warung depan sekotah. Lalu Harwati berkumur-kumur
dengan air itu. Setelah itu barulah ada gema pembicaraan dari murid ke murid, guru ke guru,
dan juga Kepala Sekolah.
Pita Loka terkagum-kagum, lalu duduk di bangkunya, Gumara berkata pada Wati, “Terimakasih
atas bantuanmu, Dadaku kini lapang”.
Betapa gembira hati Harwati oleh ucapan itu. Wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa bangga
dan bahagia. Matanya melirik pada Pak Guru Gumara dengan lirikan getaran asmara, Lalu
“Kembalilah kamu ke kelasmu”, ujar Gumara.
Harwati kembali ke kelasnya. Gumara kembali berdiri menghadapi muridnya. Dia menatap pada
Pita Loka. Kelas tegang sejenak, begitu pun Pita Loka.
“Bapak curiga pada saya?” Pita Loka bertanya dengan nada cemas.
“Kamu begitu manis, tak mungkin melakukan hal yang kecil”, jawab Gumara.
Mendengar itu Pita Loka tersenyum ceria . Dia mengacukan telunjuk. Gumara heran dan
bertanya “Mau apa kamu, Pita Loka?” tanya sang guru, “Saya mohon dapat menjawab lima soal Bapak di papan tulis”, ujar Pita Loka.
Gumara tercengang. Dia melihat ke papan tulis di mana tertera lima soal yang dibuatnya untuk seluruh murid, tapi yang tak dikerjakan Pita Loka.
“Silahkan ke depan”, ujar Gumara.
Pita Loka mengambil sebatang kapur tulis. Dengan cepat dikerjakan satu demi satu soal matematika itu. Seluruhnya diselesaikannya dalam lima menit saja, Gumara tercengang dan berseru “Wah, kamu anak genius!”
“Semua soal betul jawabannya”, tambah sang guru dengan nada kagum. Mendengar pujian itu,
Pita Loka kelihatan berbinar-binar matanya. Dan dengan malu-malu dia berkata bernada renyai,
“Tapi sepandai-pandai saya, tentu lebih pandai Pak Guru”.
“Ayahmu Tuan Guru Putih Kelabu, ya?” tanya Gumara.

“Koq Bapak tahu?” tanya Pita Loka senang.

“Saya tahu”, ujar sang guru.

Murid yang cantik itu tampak senang sembari memperbaiki bagian depan rambutnya. Karena
diperhatikan seluruh biji mata di kelas, gadis inipun jadi salah tingkah. Lalu dia berkata “Maafkan
kesalahan saya tadi sampai saya diusir. Tapi Pak. karena kebetulan Bapak saya Ki Putih Kelabu,
harap Bapak dan teman-teman sokelas ini jangan lagi mencurigai bahwa muntah darah Bapak
tadi karena perbuatan saya. Saya memang berilmu. Tapi ilmu matematika. Ilmu akal. Bukan ilmu
akal-akalan”.
“Percayalah, Bapak dan teman-temanmu tak mencurigaimu, Pita Loka dan selanjutnya marilah
kita lanjutkan pelajaran dengan rumus baru”, ujar Gumara.
Lalu ketika jam istirahat tiba, muncullah pembicaraan di emper-emper sekolah itu pertaruhan dan
spekulasi.
“Aku bertaruh, Pita Loka yang nantinya jadi isteri Pak Gumara”, ujar seorang gadis.
“O, tak mungkin. Harwati yang akan jadi tunangannya”.
“Apa alasanmu, Rika?”
“Alasanku berdasarkan budi baik. Orang Indonesia itu, betapapun tinggi derajat atau
kesombongannya, masih bertolak pada budi baik. Dan orang Indonesia termasuk penduduk bumi
yang suka membalas budi. Bukankah ketika Pak Gumara muntah darah, yang menolongnya
sembuh adalah Harwati? Tentu Pak Gumara suatu saat akan membalas budi itu, dan yang
terkekal adalah melamarnya?” Setelah Rika menjelaskan alasannya, temannya Dina menangkis pula “Tapi taruhlah Pak Gumara ingin membalas budi. Apakah harus selalu dengan Cinta?” “Pembalasan budi yang terbaik adalah memilih balasan yang terbaik dari semua yang baik. Yang
terbaik balasannya adalah jalinan kasih melalui cinta”, ujar Rika. Grafity,
“Tapi Pak Gumara tampaknya jenis lelaki yang berbeda”, kata Dina.
“Berbeda bagaimana?” tanya Rika.
“Istimewa. Kulihat dia tidak begitu kagum dengan pengobatan Harwati. Reaksi wajahnya wajar-
wajar saja. Tetapi ketika dilihatnya Pita Loka menyelesaikan lima soal dalam lima menit saja,
wajah Pak Gumara bersinar berbinar-binar. Kagum dan tercengang. Ini bisa membuat bibit
asmara ”.
Beberapa cewek bertepuk tangan atas analisa Dina. Rika sediri pun terecengang. Memang
penduduk Kumayan telah diwarisi sikap budaya yang merupakan paduan tehnologi dan cara
berfikir maju bersamaan dengan tradisi kuno yang dipelihara, termasuk ilmu-ilmu ghaib.
Remajanya paling suka menganalisa sesuatu secara rasional, namun tetap pula menghargai yang
tradisional tapi yang belum terpecahkan oleh tehnologi dan ilmu mutakhir, seperti ilmu-ilmu
ghaib dan soal paranormal.
Rika lalu berdebat; “Aku melihat, dan mendengar sendiri, bahwa Harwati menaruh cinta pertama
lewat pandangan pertama pada Pak Gumara”.
“Lalu kamu bikin kesimpulan Harwati bisa menarik simpati?”
Dina mendebat, dan melanjutkan debatnya “Lalu dengan demikian kamu beranggapan bahwa
Harwati dengan mudah bisa mencantol Pak Gumara?”
“Hai, aku koq jadi bahan gunjingan?” mendadak muncul saja Harwati ke kelompok itu bersama
Pita Loka.
“Kurasa akulah yang bisa mencantol Pak Guru”, ujar Pita Loka. Ucapan Pita Loka ini
mengagetkan Harwati. Telinganya merah padam seakan disengat kala. Harwati melirik pada Pita
Loka dan berkata “Kamu memang yang tercantik, Pita Loka. Tetapi dalam soal cantol menyantol
itu ada faktor nasib”.
“Wah Nasib? Apa itu ada rumusnya?” tanya Pita Loka.
Rumusnya di tangan Tuhan”, jawab Harwati.
“Jawabmu itu tidak ilmiah”, kata Pita Loka.
“Tapi cantol menyantol dan sejenisnya yang bernama cinta itu “kan masuk dalam klasifikasi
jodoh”, ucap Harwati.
“Jadi kamu akan memojokkan saya, yang pada akhirnya tiba kita pada dogma, bahwa jodoh,
langkah, rejeki dan maut ada di tangan Tuhan?” debat Pita Loka.
Dina dan Rika memperhatikan dengan tekun perdebatan itu, terlebih murid lain yang ber-IQ
rendah. Tampaknya Harwati terdesak, lalu berkata “Di atas kertas memang kamu yang paling
mendapat simpati Pak Guru. Karena kamu Jagoan matematika. Karena kamu cantik. Karena
kamu puteri Tuan Guru Terpandang, Putih Kelabu yang bijak bestari. Tetapi dari fihakku sudah
terekam sejarah, Yaitu kepada siapa pertama kali Pak Guru menghadap manusia di Kumayan ini.
Ya, semua tahu dia menghadap Ki Karat, kendati dia dijuluki Harimau Komersil dari yang iri hati.
Bukankah kau sendiri ketika kita bertengkar dulu menyebutku dengan ejekan Puteri Harimau
Komersil? Ingat?”
“Wah, sorry. Ini bukan debat sehat lagi. Unsur emosi sudah terlibat. Jadi saya mundur dari
pembicaraan”, kata Pita Loka lalu meninggalkan teman-teman gadis sebaya, masuk ke dalam
kelas.
“Aku pendukungmu”, ujar Rika memegang bahu Harwati,
“Dan aku pendukung Pita Loka”, kata Dina.
“Wajar, karena di kelasmu engkau juara matematika juga”, tuding Harwati dengan tertawa
renyai.
Setelah itu kelompok itu membubarkan diri sebab lonceng masuk kelas sudah berbunyi. Tetapi di
dalam kelas, Harwati tampak begitu gelisah. Seakan hatinya tak sabaran lagi menanti Pak
Gumara masuk mengajar di kelasnya.
Gumara memasuki kelas Harwati dengan senyum yang lega. Tentu hal ini membuat Harwati
senang, Tetapi dia benar-benar merasa risau karena sudah pasti Pak Gumara terkena racun.
Kebetulan Pak Gumara memberikan soalan matematika yang musti diselesaikan dalam kelas. Jadi
Pak Gumara harus berkeliling dari bangku-kebangku. Untuk memperhatikan apa yang diperbuat
setiap murid. Pada giliran Pak Gumara sampai ke bangku Harwati, Harwati bertanya
“Apa setelah maghrib Bapak ada waktu ke mmah saya?” Gumara agak kaget. Dia bertanya
“Untuk keperluan apa?”
“Ya, siapa tahu ada yang dapat Bapak bicarakan dengan Ayahku”, ujar Harwati.
Gumara segera faham. Harwati adalah puteri Lebai Karat, seorang guru yang disegani di
Kumayan.
“Saya rasa, saya memang perlu datang”, ujar Gumara.
“Terimakasih, Pak”, ujar gadis itu.
Gumara pulang dari mengajar dengan pikiran tenang, Ketika Yunus tiba membawa makanan
rantang, Gumara bertanya; “Pak Yunus. Saya ingin bertanya. Sebagai penduduk baru di
Kumayan ini, apa kedatangan saya melukai hati Pak Tarikh?”
“Melukai hati?” tanya Pak Yunus heran.
“Lebih baik Pak Yunus tidak menyembunyikan sesuatu. Tiap Pak Yunus membawa makanan ke
sini, apakah Bapak tak pernah curiga?”
“Curiga bagaimana?” tanya Yunus.
“Bahwa makanan itu berisi racun?” tanya Gumara.
Mata Gumara dengan tajam menatap pada Pak Yunus.
“Anda mungkin belum mengenal saya”, ujar Gumara.
“Jangan tuduh saya menjadi perantara si pemberi racun. Saya cuma membawa makanan rantang. Tapi tak pernah berfikir bahwa makanan yang saya bawa ini diberi racun oleh ibu atau Pak Tarikh”.
“Tadi siang saya muntah darah di depan kelas”, ujar Gumara. Yunus terdiam, tapi dia ketakutan.
“Kalau begitu sebaiknya masakan yang saya bawa ini jangan Pak Guru makan lagi”, kata Yunus,
“Wah, itu tindakan tidak terpuji”, Ujar Gumara. “Daripada anda mati terkena racun? Bukankah itu perbuatan tolol ?” “Biarkan makanan rantang ini dikirimi terus.
Tapi … “, Gumara mengambil rantang demi rantang. Lalu dia berkata “Mari ikuti saya!”
Pak Yunus mengikuti Gumara menuju kamar mandi. Dan dia terpelongo ketika Gumara
membuang makanan itu. Terlebih kaget lagi ketika Gumara didengarnya berkata geram
“Makanan dari setan, sebaiknya untuk setan”. Lalu makanan yang sudah ditumpah ke lantai kamar mandi itu disiram Gumara “Siapa yang belum kenal siapa Gumara Peto Alam mestilah menganggap dia leceh. Tapi aku pernah digelari ibuku sipahit lidah”.
Dengan meludahi bekas-bekas makanan itu, Gumara berkata geram; “Kembali pada yang mengirimkan”
Ia meludah lagi “Semoga pahit terus lidahku!” Ucapan Gumara bagaikan angin taufan yang dapat merubuhkan raksasa dalam sedetik. Pada detik itu pula, Bu Tarikh jatuh terpeleset di kamar mandi. Dia bagaikan orang kemasukan. Dia menggelepar. Pak Tarikh datang. Lalu menggotong isterinya masuk ke kamar tidur. Wanita itu mengigau “Aku melihat raja harimau ketika masuk kamar mandi!”
“Ha?” Tarikh melotot
“Raja Harimau!” teriak bu Tarikh.
“Tentu kamu lagi diteluh oleh si Lebai Karat!”
“Bukan! Bukan Lebai Karat!”
“Siapa? Lading Ganda?” desak Tarikh.
“Harimau yang tidak kukenal di sini. Harimau perkasa!”
Pak Tarikh mencoba memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba dia melotot melihat isterinya muntah darah.
Lelaki itu serentak berteriak “Kau muntah darah! Kau diracun orang!” Wanita itu menangis terus, dan menggugu-gugu. Lalu dalam keadaan tak sadarkan diri dia berkata “Tolong panggilkan Guru Peto Alam”.
“Siapa itu? Siapa Guru Peto Alam?” tanya Pak Tarikh.
“Yang mengajar matematika, guru baru!”
“Gumara?” tanya Tarikh lebih tercengang.
“Cepat panggilkan sebelum aku mati. Dialah harimau raksasa itu! Cepat, cepat, cepattttt!”,
Darah kental terus meleleh, sementara Pak Tarikh dengan naik sepeda cepat menuju rumah
Gumara. Ia cuma menemukan Pak Yunus yang berada di rumah itu.
“Dia sedang pergi”, kata Yunus.
“Kemana?”
“Entah”.
Pak Tarikh jadi kebingungan. Ki Lebai Karat menatap tajam pada mata Gumara “Anda sebaiknya segera pulang. Aku tahu, ada seseorang yang membutuhkan kau, Peto Alam. “Membutuhkan saya, Pak?”
“Ya. Dia dalam keadaan sekarat”.
“Siapa dia?” tanya Gumara heran.
“Seorang wanita”.
“Wanita?”
“Jika kau tidak segera menemuinya, dia akan mati”, ujar Ki Karat.
Gumara tenang bertanya “Katakan pada saya nama wanita itu !”
“Kau tau”.
“Tidak, Pak. Demi Tuhan saya tak kenal”.
Ki Lebai Karat hanya tersenyum ramah. Lalu dibelainya kepala Gumara seraya berkata; “Peto
Alam. Kau cepat saja meninggalkan tempat ini, Isteri si Tarikh sedang sekarat membutuhkan
kau. Kukatakan untuk kedua kalinya, jika kau tak segera menolongnya, dia mati. Nanti kau
berdosa, nak!”
Harwati berada di pintu, berusaha mencegat Gumara sewaktu Gumara akan keluar. Tapi tak
sempat dia mengucapkan sepotong katapun. Malah dia ternganga melihat Gumara meloncat dan
berlari secepat kilat bagaikan angin limbubu!
Dan bagaikan angin limbubu sepertinya Gumara menerjang pohon-pohon kecil yang berpatahan.
Konsentrasi Gumara yang hebat telah mengalahkan seluruh jurang kecil maupun sungai kecil
yang dia lompati, demi tertolongnya nyawa Bu Tarikh.
Aneh sekali, ketika Gumara memasuki rumah Tarikh, wanita yang tak sadar dan muntah darah
itu berteriak, bagai mengenalnya “Peto Alam, tolong hentikan muntahku”.
Gumara heran, dan tak tahu menahu bagaimana caranya. Sebab dia bukan dukun. Dia cuma
memekap mulut wanita itu. Lalu wanita itu menggelepar. Tetapi kemudian setelah Gumara
melihat wanita itu sudah sadarkan diri, pekapan telapak tangannya pada mulut Bu Tarikh
dilepasnya.
Darah tak keluar lagi. Bu Tarikh lalu duduk bersimpuh. Dia melihat Gumara berdiri, tapi
dijambanya kaki lelaki muda itu, seraya bersembah; “Ampuni kesalahan saya. Hampir saja saya
mati konyol, Peto Alam”.
Semua yang menyaksikan kejadian itu tercengang. Mereka bergumam. Tapi Gumara kemudian
berkata; “Tolong buatkan makanan yang lebih enak besok ya Bu Tarikh?” Pak Tarikh lalu
menoleh pada isterinya. Ada bahasa rahasia antara kedua suami isteri itu, tanpa berkata
sepatahpun.
Seperginya Gumara, Pak Tarikh memberitahu pada tetangga-tetangga yang menengok kejadian
seram tadi “Maaf, mungkin kalian semua sudah lelah, dan isteriku pun lelah”.
Semua tamu pulang. Sepulangnya mereka Pak Tarikh berkata pada isterinya, “Ternyata kau lebih
dulu dari saya”.
“Aku menyesal telah meracuni dia”, kata Bu Tarikh.
“Sekarang tahulah kita, dia bukan sembarang manusia. Jangan-jangan dia memiliki ilmu Harimau
Juga”, kata Pak Tarikh.
Sementara itu Gumara telah tiba di rumah.
Pak Yunus bertanya “Sempat bertemu dengan Lebai Karat?”
“Sempat”, sahut Gumara membuka jacketriya.
“Lalu, besok makanan rantang kita minta pada orang lain?”
“Jangan. Itu akan menyinggung perasaan. Tetap saja minta makanan rantang dari Bu Tarikh”.
Yunus melongo sesaat, lalu dia pamitan.
Dan Gumara kemudian menggeletak di balai-balai. Kedua telapak tangannya dijadikan bantalan.
Ketika itu dia seakan berbicara dengan dirinya sendiri “Aku datang ke Kumayan ini untuk
kebaikan. Kenapa aku disambut dengan kejahatan berturut-turut”.

Dan pagi harinya Gumara kaget sekali mendengar suara ketukan pintu yang agak keras. Ketika
dia buka, dilihatnya Pita Loka yang cantik sudah berdiri di depan pintu. Gadis itu bertanya “Pagi
ini Bapak tidak mengajar?”
“Pagi ini tidak”, ujar Gumara.
“Jam berapa Bapak mengajar?”
“Jam sepuluh”.
Dan barusan saja Pita Loka akan pamit, muncul pula Harwati. Harwati menyapa Pita Loka. lalu
dia bertanya pada Gumara; “Berhasilkah pak Guru tadi malam?”
“Berhasil. Tapi aku bukan dukun. Aku hanya menuruti perintah Ayahmu saja, Wati”.
Ucapan itu menjadi tanda tanya bagi Pita Loka, yang masih sempat mendengar seraya keluar
dari pekarangan. Maka ditunggunya Harwati di pekarangan. Tetapi sampai dekat lonceng masuk
kelas pelajaran pertama berbunyi, Pita Loka belum melihat Harwati muncul. Perasaan
cemburunya pun berkobar. Dan rupanya, persaingan antara Harwati dan Pita Loka tidak dapat dirahasiakan lagi. Bahkan hal ini sampai ke telinga Ki Putih Kelabu, ayah Pita Loka. Ayah yang bijak itu memanggil Pita Loka ketika gadis ini pulang dari sekolah.
“Saya gembira dan karena itu ingin bicara denganmu, nak”, ujar sang Ayah.
“Gembira karena apa, Ayah? Dan bicara tentang apa?” tanya Pita Loka.
“Saya gembira karena mendengar kau jatuh hati pada Guru Gumara”.
“Hmmm”.
“Dan saya ingin bicara tentang itu, nak.”
Sang Ayah memilin-milin Jenggotnya. Dia sebenarnya gemetaran. Tapi dia memaksakan diri juga
untuk berkata “Segembira-gembira seorang ayah, tetapi jika ada sesuatu yang kurang wajar,
perlu dikatakan juga, Pita Loka”
“Katakan saja. Jangan bicara bertele-tele”, kata Pita Loka.
“Kau . . . akan sia-sia, Pita Loka!”
“Saya akan berhasil. Berhasil menyantol Pak Guru Gumara”, ujar gadis itu dengan nada ketus.
“Nanti kau akan kecewa”, kata Ki Putih Kelabu.
“Dari sudut apa ayah berkesimpulan begitu?”
“Dari sudut ilmuku, tentu”.
“Ilmu ayah itu tidak rasional. Tapi alasan saya pasti masuk akal. Pak Gumara akan terpikat pada
saya, sebab saya menyenangi ilmu Matematika. Dan dia selalu kagum jika ada soal saya cepat
menjawabnya”.
“Itu sajakah alasanmu?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Alasan lain adalah karena saya lebih cantik dari Harwati. Semua teman bilang begitu”.
“Tapi saya tetap gembira, karena kamu selalu punya keyakinan teguh berdasarkan otak encermu
itu. Namun ada kenyataan lain yang tidak dapat kau bantah. Tahukah kau, sejak dia berada di
Kumayan ini tidak seorang pun guru-guru yang dia datangi rumahnya, kecuali Ki Lebai Karat?
Dia guru besar, memang itu wajar. Tapi aku tahu, Harwati lebih gesit mengajak Gumara ke
rumahnya dengan alasan berhubungan dengan ayahnya. Dalam matematika kamu memang
hebat, tapi dalam hal siasat Harwati lebih hebat”, Pita Loka hanya tersenyum sinis. Lalu berkata
gagah “Saya tidak sudi numpang bercinta dengan nama besar ayahku. Harwati menumpang
dengan nama besar Ki Lebai Karat. Saya ingin berjuang sendirian, tanpa bantuan. Tapi Harwati
juga berjuang mau merebut Gumara dengan bantuan ayah”,
“Dan dia akan menang”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Huh! Pak Guru tidak pernah kagum pada seseorang yang nebeng dengan kebesaran ayahnya.
Dia kagum padaku, aku yakini itu!” ujar Pita Loka tandas. Hal ini membuat Ki Putih Kelabu
penasaran. Tengah malam dia duduk bersila menyatukan konsentrasi. Lalu dia menjelma menjadi
seekor harimau. Dan dia menyelinap keluar rumah secara rahasia. Keluar masuk kebun jeruk dan
kebun pisang, di tengah malam itu Ki Putih Kelabu sampai juga ke pekarangan rumah Gumara.
Gumara sedang tidur pulas, Tapi kepulasannya terganggu oleh suatu bau yang amis. Bau
bangkai! Dia menyelidiki keadaan sekeliling.
Lalu dia membuka pintu.
Gumara tersentak sejenak begitu melihat seekor harimau bersimpuh tepat di depan tangga
rumahnya ia tahu, itu bukan harimau sejati, tapi harimau jadi-jadian. Dan ia yakin, ini salah
seekor dari harimau-harimau Kumayan yang sakti. Ia berkata pada harimau itu dalam bahasa
manusia “Silahkan bertamu, tuan. Tapi jika tuan memasuki rumahku ini, harap tuan menjelma
jadi manusia biasa saja”. Gumara sengaja meninggalkan pintu masuk ke dalam, lalu dia duduk
menanti. Lalu kedengaran pintu berciut. Gumara mendongak menatap, Tampak olehnya lelaki
tua berjenggot dan Gumara amat kagum melihat kebersihan wajah lelaki tua itu.
“Anda belum mengenal siapa saya”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Saya mengenal tuan, Bukankah tuan adalah Ki Putih Kelabu, ayah Pita Loka yang pintar
matematika?”
“Betul”.
“Tentu ada keperluan penting maka tuan di tengah malam ke sini”.
“Betul. Saya ingin membicarakan sesuatu. Sesuatu yang penting bagi diri saya, keluarga saya
maupun keturunan saya”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Saya kira ada baiknya tuan bicara terus terang”, kata Gumara.
“Baiklah. Kami dari keturunan baik-baik dan karena itu ingin menjalin darah dengan keturunan
yang baik pula. Maksud saya, sebelum didahului orang lain, ada baiknya saya mendahului.
Secara ringkas, saya ingin agar nak Gumara Peto Alam segera saja bertunangan dengan anak
saya Pita Loka. Saya kuatir, saya memiliki saingan berat, puteri Ki Lebai Karat yang konon
menaruh hati pada anda”. Gumara mencoba tersenyum. Kendati senyumnya pahit. Dan kepahitan senyum itu dirasakan oleh Ki Putih Kelabu. Orangtua itu mulai merasa tak enak badan. Dia menjadi rikuh. Apalagi
Gumara hanya berdiam diri saja.
Ki Putih Kelabu mencoba menatap mata Gumara. Dia mencoba mengukur sampai di mana ilmu
ghaib yang dimiliki Gumara.
Dan dengan memberanikan diri, Ki Putih Kelabu bertanya
“Anda menolak?”
Gumara hanya berdiam diri. Dia mencoba tersenyum lagi. Tapi pahit lagi! Dan Ki Putih Kelabu
seketika menjadi malu. Dia bertanya dengan menahan malu “Jadi anda telah ada pilihan?”
“Belum!”
“Anda jangan berdustal”
“Jangan marah, pak. Kita baik-baik saja. Saya tidak berdusta, dan saya memang belum ada
pilihan”, kata Gumara, tenang.
Ki Putih Kelabu mulai geram. Terdengar dengus nafasnya yang sesak, nafas harimau!
“Puteri tuan, Pita Loka, rasanya belum patut diperisteri. Baik oleh saya, maupun oleh lelaki lain.
Dia terlalu muda”, kata Gumara.
“Anda hanya berkilah, Peto A/am!” Aku ingin menguji, sampai mana batas maluku!” suara Ki
Putih Kelabu menjadi tambah geram.
“Tuan jangan tantang aku berkelahi, Ki Putih Kelabu!” ujar Gumara, “Aku tak pandai berkelahi.
Aku hanya guru matematika”. Tapi ucapan Gumara yang sabar, bukan menjadi air si dingin. Malah ucapan Gumara dianggap air mendidih yang disiramkan ke mukanya. Ki Putih Kelabu dengan secepat kilat meloncat dan tubuhnya langsung berubah menjadi seekor harimau.
“Pulanglah anda!” pinta Gumara.
Tetapi harimau itu menggeram dengan bengis. Dengan satu gerak mundur, dia lalu meloncat ke
depan menerkam Gumara. Gumara mencoba menangkis dengan tendangan sembari jatuh miring. tendangan itu agaknya begitu hebat, sehingga darah bercucuran dari tulang rusuk sang harimau. Harimau itu tetap saja
menghambur deras, menerkam Gumara. Tetapi Gumara mengibaskan lengan untuk mengelak,
sehingga sang lawan tersungkur setelah menghajar sebuah kursi sampai hancur.
Gumara tegak tegap menanti.
Dia berharap si tua itu kapok. Dia menghirup nafas sejenak, dan hampir saja lengah. Satu
tubrukan ditangkisnya dengan tinju. Tepat mengenai dada harimau itu sebelum cakarnya
mengenai muka Gumara.
Rupanya tinju itu begitu ampuh.
Terdengar suara hentakan nafas dari mulut harimau itu menjelang dia jatuh tertelentang.
Gumara tidak ingin melayaninya lagi. Gumara langsung ke kamar mandi. Dia handuki
keringatnya. Keringatnya menetes lagi. Dia berhanduk lagi! Dan kemudian dia melihat pada jam
dinding. Wah, satu jam kami telah berkelahi. Tapi rupanya perkelahian sedemikian hebat dan
cepatnya. Keringatnya dihapusnya lagi dan dipungutnya pecahan kursi tadi, sembari melirik ke
tubuh yang terlentang di lantai itu. Dan tubuh itu bukan tubuh harimau iagi. Tetapi tubuh lelaki
tua, Ki Putih Kelabu.
Jidatnya berbekas lima garis yang masih menetes luka.
Rusuk bajunya robek dan dari sana tampak juga darah.
Gumara kasihan juga padanya. Dalam keadaan si tua pingsan itu, Gumara mendekapkan telapak
tangan pada luka di jidat dan di perut. Hingga keringlah seketika.
Lalu Ki Putih Kelabu siuman dari pingsan. Dan bangun dengan meringis. Dia memegang
dadanya, Gumara berkata, “Pak, coba buka pakaian tuan. Tadi saya tinju dada tuan”.
Ki Putih Kelabu membuka pakaiannya. Tampak bekas tinju Gumara membiru di dadanya. Lalu
Gumara melekatkan jempol jari ke langit-langit mulut. Lumeran dari langit-langit mulut itu
digosokkan Gumara ke dada yang biru itu. Ki Putih Kelabu meringis, Gumara berkata, “Tahankan
sebentar”, lalu dia barut dengan jempol jarinya ke bekas tinju yang membiru itu.
“Aku ingin berguru padamu, Peto Alam”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Cukup puteri anda saja yang berguru matematika pada saya”, sahut Gumara.
“Di mana kamu belajr ilmu macanan begitu hebatnya?” ujar Pak Tua.
“Belajar? Saya tak pernah belajar kecuali untuk menjadi guru sekolah SMP saja”.
“Luar biasa!” ujar Ki Putih Kelabu.
“Ah, saya cuma orang biasa saja”.
Setelah mohon maaf pada Gumara, Ki Putih Kelabu pun pulang. Dia melihat wajahnya di cermin,
Bekas cakaran layaknya! Juga di perut bekas cakaran macan juga! Ha? Dan rupanya, perkelahian seru yang satu jam malam itu, membuat Ki Putih Kelabu lelah sekali. Dia tidur menggeletak begitu saja bagaikan orang mati, sampai tiba waktunya subuh. Betapa terkejutnya Pita Loka sewaktu kembali dari surau, mendapatkan ayahnya ketiduran. Dia kasihan melihat sang ayah bagai lelaki tua tidak diurus sepertinya! Diciumnya kening sang ayah dengan sayang. Tapi dia amat terkejut melihat bekas guratan luka yang mengering!
“Ayah!”
“Apa Pita?”
“Ini bekas luka?”
Lalu diguncangnya sang ayah dengan kesal. Tapi Ki Putih Kelabu pun kesal pula sebab letihnya
belum hilang.
“Ini di jidat ayah semacam bekas cakaran yang mengering, apa ayah kembali berkelahi dengan
Ki Lebai Karat?” tanya Pita Loka.
“Bukan”, sahut Ki Putih Kelabu.
Ayah jangan berdusta!”
“Sungguh bukan, Pita. ini cuma perkelahian dengan harimau biasa. Aku tadi malam ingin berlatih
silat lagi, lalu kuundang si Mantege”. Setelah menyiapkan sarapan pagi dengan kopi daun (kopi daun adalah ternikmat bagi pewaris ilmu harimau . . . maka Pita Loka menyelidiki lagi bekas luka di kening itu. “Itu bukan bekas cakaran harimau, pasti cakaran Ketua Harimau. Rupanya ayah ingin
membuktikan diri lebih hebat dari Ki Karat, ya?”
“Lagi-lagi kau sebut lagi nama Ki Karat! Kau kira ia pantas kulawan untuk menggertak dia? Untuk
membuktikan padanya, bahwa jika aku menang dari Ki Karat lantas kau patut jadi isteri
Gumara?”
“Ayah harimau tua yang konyol”, Pita Loka menggerutu.
“Sebentar, Pita!” ujar Ki Putih Kelabu geram.
“Aku mau menyiapkan buku-buku pelajaran”, Pita Loka tak acuh.
Ki Putih Kelabu mendatangi puterinya tercinta. Dibelainya rambut Pita Loka yang sedang berkaca
di kaca hias antik itu, lalu bertanya “Kau kira kamu begitu cantik dari Harwati, sehingga Gumara
Peto Alam bisa tergiur padamu?”

Mendengar ucapan ayahnya itu, Pita Loka berkata geram “Yang jelas, saya tidak membutuhkan
dukungan ayah dalam bersaing dengan Harwati !”

Dan Pita Loka mengulangi kemba!i kejengkelannya “Ayah konyol”.
Ki Putih Kelabu meninggalkan puterinya menuju ruang tengah. Sembari tegak dia menikmati kopi
daun. Dia berkata “Semoga kamu dengar, Ki Karat bukan sainganku. Tapi pasti, Harwati
sainganmu. Kau tidak memiliki kelebihan apa-apa dari sainganmu”.
Ucapan itu didengar Pita Loka yang sedang bersisir. Gadis itu melempar sisir ke tempat tidur. Dia
melangkah jantan mendekati sang ayah lalu membalas “Harwati tidak pantas jadi saingan saya”.
“Kau mengira Gumara mencintaimu, ya nak?” tanya sang ayah bernada sedih.
“Ya”. “Kalau ya, potong semua kuku-kuku harimauku”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Kenapa ayah begini pesimis? Tak layak seorang jagoan di antara enam jagoan Kumayan ini
untuk berkata demikian!” ujar Pita Loka.
“Kini di Kumayan bukannya enam jagoan lagi yang menjadi pagar kejantanan. Kini di Kumayan
telah ada tujuh jagoan, anakku!”
Tujuh?” tanya Pita Loka heran.
“Betul, tujuh. Yang ketujuh itu adalah Gumara Peto Alam”.
Mendengar itu, Pita Loka tersenyum menyeringai. Hatinya begitu yakin ketika berkata “Tidak
pernah saya dengar, jagoan yang berilmu tinggi pantas terkena racun sampai muntah darah”.
“Itu aku tahu. Aku sudah faham mendengar laporanmu ketika Gumara muntah darah di dalam
kelas. Lalu Harwati yang mengobatinya dengan ilmu warisan ayahnya yang hebat. Tapi siapa
tahu itu cuma siasat saja? Untuk mengelabui anggapan enam harimau Kumayan lainnya? Baru
terbukti dia bukan jagoan ilmu ghaib jika dia mati diracun!”
Pita Loka mencoba mencerca analisa ayahnya. Baru dia berkata kemudian dengan nada pasti
“Dia lebih menyukai ilmu matematika ketimbang ilmu ghaib yang tidak masuk akal itu. Dia bukan
tampang manusia yang gemar berkelahi. Dia lebih pantas untuk dicintai daripada untuk dilawan,
ayah!”
“Soal begitu, aku tak usah kau ajari, anakku! Akulah yang pantas mengajari kamu. bahwa Jagoan
yang menyamar lebih berbahaya daripada yang suka pamer kekuatan. Gumara hadir di Kumayan
ini bukan untuk jadi guru sekolah. Tapi untuk menggenapi kami yang enam menjadi tujuh. Harap
kau ketahui, angka tujuh adalah angka keramat, seperti semua angka ganjil 1, 3, 5, 7.
Sedangkan 8, 9, 10 pun masih bisa dibagi!”
Otak matematika Pita Loka lantas menjabarkan angka itu. Senyumlah dia.
Di depan kelas, Guru Gumara sedang menerangkan pelajaran “Berdasarkan penjabaran secara
matematis, angka 19 merupakan yang tertinggi. Dan itu penemuan saya, bukan Wagner dan
bukan Einstein. Angka 19 adalah pilar tertinggi dari semua angka!”
Pita Loka unjuk telunjuk “Bukannya angka 7 yang tertinggi, Pak?”
“Menurut saya, bukan angka 7. Menurut penelitian saya secara pribadi, angka 7 masih
mengandung unsur relativitas. Tetapi angka 19 adalah angka konkrit yang benar-benar tertinggi
dan tak bisa dibagi. Kalau kamu tak percaya, Pita Loka, tanyakan saja kepada ayahmu”.
Semua murid tertawa. Mereka mentertawakan Pita Loka, sebab selama ini Pita Loka mampu
menjawab, namun kali ini dia terbengong-bengong.
Dan dia pun tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang kagum dan jatuh cinta itu, seketika dia
memberi komentar “Pak Guru lebih pandai dan sarjana dunia mana pun”.
“Aku cuma menemukan teori matematika yang kusebut tadi itu berdasarkan ayat Kitab Suci yang
berbunyi Di atas itu, ada 19. Apa maksud ayat ini kecuali sebuah teori berdasarkan matematika?
Ingatlah jika ayat itu berbunyi dalam Bahasa Inggerisnya Over it are nineteen. Di atas itu ada
sembilanbelas. Nah, kini ada baiknya kita membuat soal”.
“Wuuuuu”, gerutu murid di kelas, sebab mereka kurang senang apabila soalan matematika
dibuat dalam kelas.
Ketika murid sibuk menjawab soal, muncul Lading Ganda ke dalam kelas. Beliau dihormati ketika
masuk oleh Gumara yang bertanya “Tuan guru ingin bertemu dengan saya?”
“Ya. Saya ingin bicara sebentar, Peto Alam”, ujar Lading Ganda.
Mereka berdua menghindari kelas dan keluar. Lelaki tua itu berbisik “Maukah kau menolong
keluarga kami?”
“Apa yang bisa saya tolong?” tanya Gumara.
“Puteriku yang sudah bersuami, diguna-gunakan orang.
Dia sekarang membLiat aib keluarga kami, merangkaki dinding!” ujar Lading Ganda.
“Wah, saya bukan dukun, Tuan!” ujar Gumara.
“Jadi Tuan menolak” permohonan saya yang cukup rendah hati?” tanya Lading Ganda dengan
nada ancaman.
“Kalau begitu, akan saya coba sepulang mengajar nanti”, ujar Gumara. Tetapi Harwati
memperhatikan dari kelasnya dengan cermat. Dia melihat ada hal yang tidak wajar apabila
jagoan semacam Lading Ganda mendatangi Gumara ketika Gumara mengajar di kelas Pita Loka.
Maka ketika ada kesempatan pada jam istirahat, Harwati mendatangi Gumara yang kebetulan
sedang berdebat dengan Pita Loka. Kata Harwati pada Pita Loka “Maaf saya mengganggu
pembicaraanmu dengan Pak Guru. Saya bisa bicara sebentar saja dengan Pak Guru?”
“Boleh. Tapi Pita Loka sebaiknya ikut mendengar. Sebab saya tak suka pembicaraan rahasia”,
ujar Gumara.
“Ah, dia akan mentertawakan saya, Pak”, ujar Harwati.
“Kalau begitu saya menyingkir demi sopan santun”, ujar Pita Loka yang segera menghindar.
“Ada apa sih?” tanya Gumara.
“Tadi Lading Ganda menemui bapak?” tanya Harwati.
“Ya betul.”.
“Puterinya terkena guna-guna. Tentu bapak dimintainya pertolongan”, ujar Harwati.
“Betul. Saya sudah berjanji datang ke rumahnya”.
“Hati-hati, Pak. Itu cuma samaran. Bapak tahu, di Kumayan ini ada enam jagoan. Satu di
antaranya Lading Ganda. Tiap jagoan di Kumayan, ingin menguji ilmu bapak. Itu tipu muslihat
Lading Ganda saja, pak”.
Gumara hanya tersenyum santai “Ah, kita tak bolah buruk sangka pada siapa pun. Saya hadir di
Kumayan dengan maksud baik. Sebagai guru sekolah. Kamu tak usah risau”. Mendengar
penolakan sarannya itu, Harwati amat kecewa. Dan cemas! Sehingga dia ingin menanamkan budi
baiknya lagi kepada sang guru. Maka dia buru-buru pulang sebelum jam belajar habis hari itu.
Dia khusus berjalan melewati rumah Lading Ganda. Memang kedengaran suara teriakan histeris Grafity,
orang kesurupan. Dan karena itu pula ada alasan baginya untuk mampir ke rumah Ki Lading
Ganda, Ketika dilihatnya Pina– Puteri sulung Lading Ganda–merangkaki dinding dengan
berteriak-teriak, Harwati berkonsentrasi sejenak. Ki Lading Ganda tahu bahwa puteri Ki Lebai
Karat saat itu sedang berkonsentrasi. Tepat ketika itu Gumara memberi salam ke seisi rumah
untuk masuk.
Konsentrasi Harwati tetap tak buyar dengan datangnya Gumara. Gumara pun akhirnya tahu
Harwati sedang berkonsentrasi dan sedang mendapat kesulitan. Gumara ingin membantu
Harwati yang sedang mendapat kesulitan. Diam-diam dia menatap mata Pina yang kayak mata
setan. Tiga belas orang yang hadir tegang semuanya. Tapi semuanya tak mengetahui apa yang sedang
diperbuat Gumara, sebab semua mata memperhatikan tingkah Harwati yang begitu tegang
dalam konsentrasi. Juga semua orang tak mengetahui ketika Gumara melenguh dan lenguhannya
bagaikan menampar muka Pina. Dan Pina terbanting di lantai lalu sadarkan diri.
Ketika itu pula Harwati mengembangkan jari-jarinya yang tadi tergenggam bagai tinju.
“Nah, Ki Lading Ganda sebaiknya berterimakasih kepada puteri Ki Karat. Saya kira puteri anda
telah sembuh total”, ujar Gumara.
Harwati senang sekali, sebab di balik kalimat gurunya ini tersembunyi pujian tak langsung.
Lalu, ketika Harwati pamitan pada keluarga Lading Ganda, maka Gumara pun ikut berpamitan.
Dengan alasan terburu waktu, Gumara menolak minuman kopi daun yang disediakan Lading
Ganda untuknya, juga untuk Harwati. Gumara dan Harwati jalan beriringan. Jalan itu menuju rumah Gumara. Harwati berkata “Saya cemas sekali bapak akan lebih dulu tiba di rumah Ki Lading Ganda. Maka saya segera meninggalkan kelas sebelum pelajaran selesai”.
“Kau masih saja berburuk sangka”, kata Gumara.
“Itu hal yang pasti. Bapak tahu, yang meracun bapak sebetulnya bukannya bu Tarikh. Bu Tarikh
cuma minta rempah-rempah racun itu kepada Lading Ganda untuk dia masukkan ke dalam makanan rantang yang diantar Pak Yunus. Tahukah bapak bahwa ayahku mati-matian melakukan pengobatan terhadap Bu Tarikh dalam jarak jauh sewaktu ayahku menyuruh bapak segera menemui Bu Tarikh?”
“Salam terimakasihku pada Ki Karat, ayahmu, atas bantuan dari jauh itu. Juga terimakasih padamu yang tadi sudah mendahuluiku mengobati si Pina sebelum saya kena jebakan Lading Ganda”.
Di samping jalan itu, Pita Loka memergoki Harwati dan Guru Gumara sedang melangkah berdampingan. Pita Loka bukan menghindar, tetapi menggabung. Dan langsung saja berkata mengolok gurunya; “Wah, Pak Guru barusan saja jadi dukun menyembuhkan Ki Lading Ganda ya?”
Harwati mendongak kepada Pita Loka “Itu hanya jebakan, karena itu aku mendahului datang ke
rumah si Pina. Yang membuat si Pina histeris kayak orang gila itu kan ayahnya sendiri, Pita?”
“O, jadinya kau yang dukun, Wati?” Pita Loka sinis.
“Kau jangan menyindir, Pita”, ujar Harwati.
Kemudian Gumara berhenti melangkah “Saya akan istirahat. selamat siang”.
Harwati dan Pita Loka sadar bahwa mereka berdua ditinggalkan Gumara yang langsung
memasuki pekarangan rumahnya.
“Saya rasa kita berdua tak usah bersaing lagi, Wati”, ujar Pita Loka sewaktu keduanya sama
melangkah meninggalkan tempat mereka tercengang tadi.
“Apa kau merasa saya menyaingi kamu?” tanya Harwati.
“Saya merasa begitu”, kata Pita Loka.
“Saya hanya menyelamatkan Pak Guru”, ujar Harwati.
“Untuk menanam budi baik kedua kalinya?”
“Ya”. sahut Harwati tegas.
“Tapi budimu tetap saja tidak dibalasnya dengan cintanya. Dia lebih menyukai ilmu matematika
dari ilmu ghaibmu itu, Wati. Tapi jika pun dia bersimpati karena di kelasku akulah jagoan
matematika, toh Pak Guru tidak juga akan jatuh cinta pada saya. Itu maka kau dan saya tidak
perlu bersaing lagi. Secara singkat, Wati . . . di Kumayan ini tak ada satu manusia pun yang
ditakuti, dikagumi dan dicintai Pak Guru. Termasuk enam manusia harimau yang hebat-hebat
seperti ayahmu, ayah saya maupun Lading Ganda. Kita hanya kehabisan energi untuk
mamperebutkan Pak Guru”.
Harwati terdiam sejenak, meski hatinya jengkel.
Dan mereka berdua tetap berjalan seiring, sekalipun dengan batin yang bertentangan. Mereka
membelok ke kanan bersama. Jalan kecil ini kelak akan sampai di rumah Pita Loka. Namun
Harwati harus melewatinya sebelum dia menuju jalan pintas ke rumahnya.
“Berdasarkan akal sehat, Pak Guru datang ke Kumayan demi karirnya sebagai guru. Karir itu
memerlukan menjaga nama baik agar terhindar dari fitnah. Tapi kau dan saya cukup sehat pula
tergila-gila pada Pak Gumara. itu hal yang wajar. Namun setelah saya fikir secara sehat, kita
berdua bukan tergila-giia. Kita berdua sebenarnya gila. Mencintai pak guru itu kan gila?
Sedangkan tadi kita berdua tidak diajaknya mampir”.
“Itu karena kau muncul. Jika tadi kau tidak muncul sebagai orang ketiga, secara sehat Pak Guru
akan mengajak saya untuk mampir. Itu wajar saja, sebab saya telah menolong dia dari jebakan
Lading Ganda. Kini jelas olehmu bahwa kau salah duga. Kau menganggap saya ini saingan kamu.
Padahal saya tidak punya saingan seorang gadis pun dalam merebut hati Pak Guru”.
“Kau ingin mampir ke rumahku?” tanya Pita Loka setiba di depan rumah.
“Terimakasih. Dan renungi ucapan terakhirku tadi” ujar Harwati.
Setiba di rumah, Pita Loka benar-benar merenungi ucapan Harwati. Namun dia akhirnya berkata
sendiri “Tolol dia mengira menanam budi itu sebagai perbuatan konkrit. cuma perbuatan abstrak,
dan Pak Guru tidak kagum pada hal-hal abstrak”.
Ki Putih Kelabu yang mendengar Pita Loka bicara sendirian lalu nyeleluk “Kau bisa jadi gila,
anakku!” Pita Loka tersadar dan merasa malu. Namun dia cepat menjawab “Saya bisa jadi gila? Saya rasa
tidak”,
“Barusan saja aku duduk di warung. Orang-orang mengagumi Harwati, karena dia barusan saja
membela Gumara Peto Alam sebelum si Peto Alam terjebak dengan pancingan yang dibuat
Lading Ganda”.
“Lalu ayah kira itu budi baik?”
“Budi baik! Budi baik mengatasi harta kekayaan. Budi baik mengatasi orang-orang pintar berotak
encer sepertimu. Kau sudah ketinggalan dua langkah dari Harwati, kendati kau mengira kamu
cantik!”
Pita Loka merasa dilukai ayahnya.
“Lalu ayah gembira jika saya gagal memikat Gumara Peto Alam yang hebat itu? Lalu ayah
gembira jika Harwati yang lebih berhasil dari saya?”
“Aku malah jadi sedih!” Ki Putih Kelabu menghentakkan kaki ke lantai papan rumahnya,” Selain
sedih aku malu! Malu kalau semua orang tahu bahwa puteri Ki Putih Kelabu kalah bersaing
dengan puteri Ki Lebai Karat, Malu ini bagiku hanya dapat ditebus dengan nyawa”.
“Saya juga malu jika ada orang yang tahu bahwa ayah beradu kekuatan dengan Ki Lebai Karat
demi supaya saya menang dalam persaingan. Saya juga malu pada bekas luka cakaran di jidat
ayah, dicakar oleh Ketua Harimau yang tak bisa ayah tandingi”.
“Hei dengar, Pita Loka!” ujar Ki Putih Kelabu dengan nada sedih, Dia duduk di kursi goyang, dan
suaranya pun luruh “Jangan kaget, apabila bekas cakaran ini bukannya bekas kuku Ki Karat. Ini
bekas cakaran Gumara!”
“Ayah! Jangan memfitnah!” seru Pita Loka.
“Aku tak menggemari fitnah. Harap saja kau rahasiakan hal ini. Demi cintaku padamu, harus
kuceritakan hal ini kepadamu. Demi cintaku padamu, justru akulah yang menginginkan Gumara
jadi suamimu. Demi keturunan darah keluarga kita akan berkembangbiak, beranak pinak. Tengah
malam aku datangi dia. Aku secara jantan meminta kepadanya, agar dia sudi memperisterimu.
Tapi harap kau jangan sedih, dia menolak saranku itu!”
Pita Loka terdongak kaget.
“Aku sedih, demi cintaku padamu, Aku malu, demi kehormatanku sebagai ayah, lalu aku
keluarkan semua ilmuku. Kami berkelahi. Namun dia menang. Jadi, aku telah kalah dua kali,
anakku!” Pita Loka melihat ayahnya meneteskan airmata. Tanpa dia sadari, betapa pun dia coba
bertahan, airmatanya pun ikut berhamburan,
“Ayah salah langkah”, ujar Pita Loka dengan pilu.
“Memang aku salah langkah”.
“Tanpa sadar, ayah telah menjegal saya”, kata Pita Loka.
“Yah, ini terpaksa kau ketahui. Aku harus mengajarmu jujur, terus terang dan hal ini kupupuk
dalam jiwamu sejak kecil. Kini kau dan ayahmu sama sedih dan sama malu!”
Pita Loka melompat menyambar tubuh ayahnya, memeluknya “Jangan berkecil hati, ayah.
Memang saya pun jadi sedih dan malu karena tindakan ayah yang tergesa-gesa. Saya akan
berusaha untuk menjadi pemenang dalam persaingan merebut hati Pak Gumara”.
“Tidak perlu lagi. Persaingan itu sudah tak ada lagi. Dengan perbuatanku yang salah langkah itu,
persaingan itu musnah sudah, Dan kini, Harwati yang merupakan satu-satunya pemenang”.
“Tidak, ayah”, bantah Pita Loka, “Jalan apa pun akan saya tempuh untuk menebus sedih dan
malu ini, Jalan apa pun!”
“Lalu apa rencanamu?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Kini saya meyakini yang ghaib. Di atas segala yang konkrit dan nyata, ada keghaiban yang
tersembuyi, yang mesti dicari mata hati manusia. Saya akan meninggalkan cara konkrit, demi
sedih dan malu ini”.
Alangkah gembiranya sang ayah.
“Kau akan mencari guru penakluk?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Ya”.
“Alangkah senangnya hatiku! Kucoba mengajarkan, demi mewarisi ilmuku padamu, kau tolak
selama ini! Kini kau sendiri menyatakan padaku akan berguru. Boleh ayah tahu kepada siapa kau
akan berguru?” “
“Yang terang bukan kepada Pak Gumara Peto Alam. Ayah bilang, Peto Alam adalah harimau yang
ketujuh di Kumayan. Tapi saya akan berguru kepada Harimau Yang ke -19”.
Mendengar angka yang aneh itu, Ki Putih Kelabu kuatir puterinya sudah menjadi gila.
Sebaliknya, Gumara kini merasa dirinya lebih aman dari dulu. Kalau ibunya bercerita tentang
desa Kumayan begitu mengerikan, kini Gumara tidak melihat kengerian itu.
Tapi dia pun sadar, bahwa dia sebenarnya dicintai oleh dua gadis cantik di Kumayan ini. Namun
tujuan Gumara ke sini bukan untuk bercinta. Semata-mata memenuhi khayalannya di masa
kanak, lalu ingin bertemu dengan Ketua Para Harimau Kumayan, dan kebetulan ditugaskan
mengajar matematika ke sini.
Gumara mempunyai kesan, kota kecil kecamatan ini sesungguhnya memiliki bibit-bibit manusia
unggul dalam llmu Fisika dan llmu Matematika. Dia berharap, salah seorang daripada bibit unggul
itu dapat melanjutkan ilmu ke kota agar dia menjadi sarjana dan ilmuwan. Dia telah menguji
ketajaman otak bibit unggul ini. Pendeknya semua soal dapat dijawab tangkas oleh Pita Loka.
Dan suatu hari di depan kelas Gumara bertanya pada Pita Loka yang barusan menyelesaikan
soalan dalam waktu lima menit dari waktu setengah jam yang disediakan.
“Setamat SMP, ke mana kamu akan melanjutan pelajaran?” tanya Gumara.
“Kawin”, ujar murid lelaki. Ini membuat seisi kelas ketawa terkakah. Pita Loka biasanya tersipu-
sipu malu tapi setuju. Kini dia berubah banyak. Dia yang gemar bercanda dan suka mendebat,
berubah menjadi pendiam. Hal itu pun diketahui oleh Gumara.
“Kamu pendiam sekarang, Pita Loka”, ujar Gumara.
“Patah hati, Pak”, kata murid-murid lelaki. Seisi kelas tertawa terkakah-kakah lagi. Segera saja
Gumara ingat pada kedatangan Pak Putih Kelabu dulu, Yang menyuruhnya melamar puterinya
itu. Yang ditolaknya. Yang menyebabkan uji adu tenaga. Yang mungkin saja hal itu
diceritakannya pada Pita Loka, sehingga kelincahan Pita Loka yang dulu memikat, kini lenyap.
Hal ini pun diketahui oleh Hura Gatali, sekalipun hanya reka-rekaan saja. Hura Gatali yang
bertubuh kekar itu, yang pernah dianggap pahlawan muda setelah berhasil membunuh seekor
ular sanca yang panjanguya 15 meter itu, sekarang mencoba mendekati Pita Loka. Dicegatnya
Pita Loka sepulang dari sekolah.
“Boleh saya temani kau pulang?” tanya Hura Gatali.
“Tidak”.
“Wah, mentang-mentang kamu cantik ya, saya ini kau kira pengemis cinta!”
“Masa bodoh!” balas Pita Loka.
Memang teman kecantikan adalah judes dan angkuh”, ujar Hura Gatali.
Pita Loka berhenti sejenak. Ingin saja diludahinya pemuda iseng itu. Lalu dia melanjutkan
melangkah. Dan Hura Gatali melanjutkan menggoda.
“Percuma kamu mengharapkan cinta Pak Gurumu. Semua orang tahu, bahwa Pak Gurumu lebih
suka pada Harwati. Jadi sebaiknya kamu dengan saya saja”, ujar Hura Gatali menggoda.
Pita Loka menghentikan langkah. Dia menatap Hura Gatali. Kali ini bukan muka Hura Gatali yang
diludahinya. Tapi tanah bumi yang dia ludahi sembari memaki
“ Lelaki tak tahu sopan santun!”
Dan Pita Loka melangkah bergegas pergi. Dan Hura Gatali terdiam malu. Wajahnya merah
padam sampai Pita Loka hilang di simpang jalan.
Hura Gatali geram. Dilihatnya tanah bumi itu. Di situ masih tersisa air ludah Pita Loka. Niat jahat
pun memperangkap batinnya. Dikoreknya tanah yang terkena ludah Pita Loka. Lalu
dibungkusnya tanah itu dengan sapu-tangan, Dan dengan langkah dendam, Hura Gatali langsung
menuju rumah Ki Lading Ganda.
“Saya menyerah sekarang, Ki Lading Ganda”, ujar Hura Gatali.
“O, saya faham. Kamu menyerah untuk belajar ilmu pada saya sebab kamu membutuhkan
sesuatu. Dulu, ketika jadi pahlawan Kumayan karena berhasil membunuh ular sanca raksasa,
saya sendiri menganjurkan padamu untuk mempertinggi keberanianmu dengan belajar padaku.
Kini kamu menyerah, tentu ada sebabnya”.
“Ya, tentu ada sebabnya. Saya menyerah untuk belajar dengan tuan, tapi dengan syarat agar
tuan berikan bukti kepandaian tuan padaku lebih dulu”, ujar Hura Gatati seraya mengeluarkan
saputangan pembungkus tanah yang berisi bekas ludah Pita Loka. Digelarkannya saputangan
yang berisi tanah basah itu. Dan berkatalah pemuda itu.
“Selagi ludahnya belum kering, saya minta anda kerjakan puteri Ki Putih Kelabu. Namanya Pita
Loka, dia hina saya dan dia ludahi bumi. Tak ada malu paling besar selain penghinaan ini. Karena
ludah ini datang dari mulut, dapatkah anda rusak mulutnya yang cantik itu?”
Ki Lading Ganda tersenyum senang. Dia suruh Hura Gatali menghampirinya. Setelah Hura Gatali
mendekat, dibelainya kepala pemuda ganteng itu, Dia berbisik; “Sekarang aku senang. Karena
semua anak harimau di desa Kumayan ini perempuan termasuk semua anakku, kini ada yang
akan mewarisi ilmuku. Aku yakin dapat merusak mulut yang cantik itu menjadi buruk!”
Malam itu juga, Hura Gatali diminta untuk menyaksikan pekerjaan itu. Ki Lading Ganda duduk
bersila di kamar tempat dia selalu bersemedi. Hura Gatali di sampingnya. Lalu Ki Lading Ganda
mencabut dua goloknya sekaligus mengadu mata golok itu sehingga terdengar bunyi disertai
kilatan api. Dan golok itu seketika itu juga dari dua menjadi satu. Kalau tadi mata golok itu cuma
satu, kini mata golok itu menjadi berganda, muka dan belakang, tapi gagangnya pun menjadi
kembar. Golok dua yang menjadi satu itu pun ditaruh Lading Ganda di atas tikar. Lalu dia berkata pada
Hura Gatali “Taruh buah pepaya itu di depan golokku ini, Hura”.

Hura menaruh buah pepaya itu.
“Jika pepaya ini kepala si Pita Loka anak si Putih Kelabu anak si Mayang Saga anak si Peto
Gaharu . . . coba kamu tunjuk saja di mana mulut Pita Loka!” Hura Gatali menunjuk kira-kira
tempat mulut Pita Loka.
“Rupanya dari mulut ini keluar ludah penghinaan Pita Loka kepada Hura Gatali”, ujar sang guru
seraya memungut tanah bekas ludah Pita Loka dari saputangan, lalu memolesnya pada buah
pepaya yang ditunjuk Hura Gatali tadi.
Ujung golok lalu ditusuknya sedikit pada tepi bibir imajiner itu, dan getah pepaya itu mulai
menyembul. Lalu keluar.
“Beginilah jadinya mulut Pita Loka yang menghinamu”, ujar sang guru. Hura Gatali senang
seketika.
“Itu semacam koreng bernanah ya tuan?” tanya Hura Gatali.
“Dan tidak akan sembuh”, ujar Ki Lading Ganda.
“Tapi jika ayahnya Ki Putih Kelabu lalu minta pertolongan Ki Lebai Karat, bagaimana pak?” tanya
Hura Gatali.
“Dia takkan mau, itu merusak gengsi. Mereka berdua merasa sama berilmu tinggi”, ujar Ki Lading
Ganda. Lalu, bahu Hura Gatali ditepuknya.
“Kapan saya bisa melihat buktinya, bahwa mulut Pita Loka berkoreng dan bernanah ini, pak?”
tanya pemuda ganteng itu.
“Besok pagi mampir saja ke rumahnya. Cari alasan untuk bertemu muka. Dan kau berhak Grafity,
menghina mulutnya yang korengan dan bernanah itu”, ujar sang guru.
Ketika Hura Gatali tergesa hendak pergi, Ki Lading Ganda menyergap tangannya, “Kapan kamu
akan belajar padaku?”
“Jika ilmu bapak sudah saya saksikan”, sahut Hura Gatali.
“Memang kamu calon jagoan”, kata Ki Lading Ganda, “Sebab setiap jagoan senantiasa punya
kesan angkuh yang sebetulnya harga diri!”
Pada saat yang sama di tengah malam itu, Pita Loka merintih kesakitan. Dia merasa mulutnya
gatal. Ketika dirabanya mulutnya, terasa melendung bagai bisul. Cepat Pita Loka melompat
menuju kaca hias antik. Dan dilihatnya wajahnya di kaca itu. Melihat lendungan bisul di sekitar
mulutnya, Pita Loka bukan menjerit. Dia hanya menahankan rasa gatal itu, dan seketika itu juga
tahu siapa yang mengerjakan ini.
Dia bersitenang sejenak. Rasa gatal dia lawan. Rasa takut dia singkirkan. Dan ketika sebuah
koreng (bisul) itu pecah, nanah pun keluar. Pita Loka kembali ke kaca. Dia lihat nanah busuk itu
menetes sedikit demi sedikit. Dan ketika pagi ayahnya bangun, Pita Loka bukannya mengadu
pada sang ayah. Dia tunggu sampai reaksi ayah muncul. Betul. Ayahnya terpana sejenak melihat
mulut anaknya yang dihiasi koreng bernanah.
“Aku tahu siapa yang membuatku. Tapi kuharap, jangan ayah membantuku”, ujar Pita Loka.
“Bagaimana kamu ini, Pita? Aku sudah dapat menerka, bahwa ini diperbuat oleh si Hura Gatali
bin Dang Samar bin Abdi Kumat bin Taja Gugu. Dan dia pasti minta kepandaian si Lading Ganda,
sebab Lading Ganda bersimpati pada anak muda itu ketika berhasil membunuh ular sanca
tempohari. Nah, masihkah kau keras kepala tidak minta bantuanku?”
“Saya dapat mengatasinya sendiri”, ujar Pita Loka. Setelah melayani ayahnya sarapan pagi, Pita
Loka pergi ke rumah dr. Kadir. Dokter itu belum bangun. Begitu dia bangun dan melihat mulut
Pita Loka, sang dokter risau.
“Saya minta pak dokter menyuntikkan obat antibiotik”, kata Pita Loka.
“Ini bukan koreng biasa”, kata sang dokter.
“Persetan dengan ilmu setan, Pendeknya saya minta dokter menyuntik saya dengan obat anti
biotik beserta obatnya”, segera Pita Loka menaruhkan uang di atas meja.
Setelah Pita Loka disuntik, lalu dokter memberikan kapsul anti biotik pada Pita Loka seraya
berkata “Semoga cepat sembuh”.
Pita Loka ketika keluar dari pekarangan rumah dokter menjadi tontonan tetangga. Mereka saling
berbisik, “Kenapa dia tidak berobat pada ayahnya saja? Bukankah itu mudah disembuhkan?”
Setiba di rumah, Pita Loka kembali dibujuk ayahnya, Tapi Pita Loka menolak.
Pita Loka teramat tenang. Rasa gatal ditahannya. Dia mencoba penyakit ilmu teluh ini dapat
diatasi secara akal sehat saja. Namun tekadang dia tergoda untuk belajar ilmu sakti pada
seorang guru yang jauh melebihi enam harimau Kumayan tersohor. Cuma ketika dia digoda
untuk itu, hatinya bertanya “Tapi apa ilmu sakti begini di zaman moderen mampu melawan bom
kimia?”
Lalu dia persiapkan buku-buku sekolahnya. Ketika akan berangkat, Ki Putih Kelabu menegurnya,
“Pita, coba kau menghadap pada ayah”.
Pita Loka berbalik dan menghadap. Sang ayah tampak begitu sedihnya melihat puterinya yang
cantik berubah jadi buruk.
“Kenapa kau masih akan ke sekolah, padahal mukamu . . . . “
“ . . . Mukaku jelek? Ah, kecantikan dan keburukan itu pun relatif. Seorang gadis cantik setelah
usianya tua pun jadi jelek”, sahut Pita Loka, “Saya akan berangkat sekolah sekarang!”
“Pita!”
“Ya ayah?”
“Apa nanti pembicaraan orang-orang mengenai kau?”
“Justru itu yang saya harapkan. Mereka membicarakan saya. Dan mereka tahu, saya tidak minta
bantuan ayah. Lalu berobat pada dokter Kadir”, kata Pita Loka.
“Itu akan membuatku jadi malu”. kata Ki Putih Kelabu “Setidaknya mereka menganggap ilmuku
lebih rendah dari ilmu si Lading Ganda, sehingga tidak mampu mengobati teluhan dia”.
“Biarlah tiap orang Kumayan membicarakan itu, Agar mereka yakin, saya tidak bersedia
menerima warisan ilmu ayahku”, kata Pita Loka.
Susah bagi Ki Putih Kelabu untuk marah pada puterinya. Karena dia amat begitu sayang.
Setiba di sekolah, Pita Loka jadi tontonan murid -murid. Dia santai saja. Tapi Harwati memegang
kedua bahunya “Hai, kamu diteluh seseorang!”
“Ya”.
“Minta bantuanlah pada ayahmu!” ujar Harwati.
“Aku tidak membutuhkan bantuan siapa pun”.
“Atau kau sedia jika saya yang membantumu?” tanya Harwati.
Pita Loka tersenyum “Alangkah luhurnya budimu, Wati!”
“Kau bersedia kuobati,sekarang juga?” tanya Harwati.
“Aku menghormati kesucian hatimu, Tersentuh hati nuranimu melihat temanmu menderita teluh
musuh. Alangkah baiknya kau, Harwati”, ujar Pita Loka.
“Tapi kau menolak kuobati?” tanya Harwati.
“Ya”.
Ketika Pita Loka memasuki kelas, semua biji mata tertuju pada mulut Pita Loka. Dan hari itu tidak
ada jam pelajaran matematika. Tapi ketika jam pelajaran ilmu Fisika dan Pak Guru Gumara
memasuki kelas, murid-murid berkata “Pak, obatilah mulut Pita Loka”.
Barulah Gumara sempat melihat gadis manis yang kini sekitar bibirnya ditumbuhi koreng.
Wajahnya tenang. Tanpa kelihatan satu reaksi mengasihani. Ia seakan-akan sedang diuji seluruh
kelas untuk bersikap.
“Saya sudah pergi berobat pada dokter Kadir, pak. Sudah disuntik”, kata Pita Loka.
“Kenapa tidak berobat pada ayahmu sendiri?” tanya Parlindungan.
“Ayahku bukan seorang dokter”, sahut Pita Loka yang. membuat seluruh kelas heboh tertawa.
Tetapi, seharian mengajar itu, Guru Gumara risau. Dia kuatir apabila dia obati Pita Loka, akan
muncul dua macam isyu. Isyu pertama adalah, dia akan dianggap dukun sakti. Isyu kedua,
mungkin dia dianggap mencintai Pita Loka.
Ketika Pita Loka pulang ke rumah, ayahnya tak didapatinya. Tapi jelas, ayah tampaknya sudah
makan siang, Ada bekas tanda-tanda sudah makan siangnya ayah. Tapi kemana pula ayah pergi?
Pita Loka menduga, ayah akan menempuh jalan sendiri, demi cintanya padaku, mencoba
mengembalikan sakit teluh ini kepada pengirimnya.
Sehabis makan siang, Harwati muncul. Dia berkata ramah Ayoh ikut aku ke rumahku.
“Aku tahu kau risau melihat keadaanku. Dan kau akan minta bantuan ayahmu, sebab dia Ketua
Harimau Kumayan. Terimakasih atas simpatimu. Aku dapat sembuh sendiri”. Harwati pamit pada
Pita Loka. Setiba di rumahnya, kejadian yang dialami Pita Loka diceritakannya pada ayahnya.
Ki Lebai Karat menjawab singkat “Kalau memang Pita Loka itu turunan syah Ki Putih Kelabu, dia
akan sembuh sendiri”.
“Apa sikap ayah jika terjadi pertarungan antara dua harimau?”
“Maksudmu pertarungan Ki Putih Kelabu dan Ki Lading Ganda?” tanya Ki Karat.
“Jadi ayah mengetahui, teluh itu dibuat oleh Lading Ganda?”
“Ya, jika pun terjadi pertarungan, itu biasa di antara kami”.
Matahari mulai menggelincir. Tetapi dua lelaki tua itu masih saja bertarung sejak waktu asyar
tadi. Jadi sudah dua jam lebih dua jagoan itu beradu tenaga. Tubuh mereka sudah bercampur
tanah lumpur. Sebagian lagi menyelip daun-daunan.
Memang, Bukit Anggun konon tempat berkelahinya harimau-harimau Kumayan. Sebagian sisi
bukit itu berlumpur tempat turunnya bangau-bangau. Kini, menjelang magrib, Ki Putih Kelabu
dan Ki Lading Ganda masih saja bertarung. Pertarungan itu mungkin jadi lama karena tanpa
senjata. Juga mereka sudah berjanji secara satria, bahwa mereka satu sama lain tidak akan
menjelma menjadi harimau.
Kini, nafas kedua lelaki tua itu mulai sama sesak.
Tanaman liar berupa pohonan kecil setinggi badan umumnya sudah rusak, Biarpun lelah, kedua jagoan itu tak seorangpun yang mau mengusulkan dihentikannya perkelahian itu. Dengan sempoyongan, Ki Putih Kelabu maju lagi menuju Ki Lading Ganda yang juga melangkah sempoyongan.
Ki Putih Kelabu mengambil napas dalam-dalam, lalu menghantamkan tinjunya ke dada Ki Lading Ganda. Lading Ganda terlambat mengelak. Dia terpelanting jungkir balik sampai ke lumpur. Lain Ki Putth Kelabu menghampirinya. Ketika Ki Lading Ganda merasa sulit untuk ke luar dari lumpur,
waktu itulah Ki Putih Kelabu menghantam leher Ki Lading Ganda dengan ujung kakinya, Namun
dia sendiri berteriak kesakitan dan jatuh terhempas di tepi lumpur.
Ki Putih Kelabu berusaha bangkit. Hampir tegak, dia jatuh lagi.
Ki Lading Ganda pun berusaha untuk bangkit sekeluarnya dari lumpur. Tapi dia tidak berdaya,
lalu jatuh pula.
Kini kedua jagoan itu sama menelentang dalam jarak dekat dalam lelah dan sesak napas. Mata
mereka menatap langit. Ki Putih Kelabu berkata dengan napas sepotong sepotong “Kau belum
juga mau menyerah?”
“Belum”.
“Bangsat kau!”teriak Ki Putih Kelabu.
Langit semakin merah jingga, pertanda malam akan tiba. Ki Putih Kelabu berusaha sekuat tenaga
untuk berdiri. Begitu dia berdiri, setelah tiga langkah dia berjalan, dilangkah keempat dia
berteriak seraya mencuatkan tubuhnya ke udara, lalu kedua kakinya menghentak ke perut Ki
Lading Ganda.
“Adddduuuuuh!” teriak Lading Ganda menahankan nyeri perutnya.
“Mampus kau!” seru Ki Putih Kelabu.
Serentak dengan itu, setelah mengumpulkan tenaga, Lading Ganda bangkit yang langsung
mengejar dan menubruk tubuh Ki Putih Kelabu dengan sabetan gasingan. Ki Putih Kelabu tegak
teguh berdiri, lalu setelah itu dia jatuh tersungkur. Ketika dia menelentang untuk bangkit, dari
pandangan matanya di udara ada dua kaki yang mau menghentak perutnya. Cepat dia berkelit
berguling dan didengarnya suara teriakan, “Aduh kakiku patah!”
Memang kaki Ki Lading Ganda patah seketika.
Ki Putih Kelabu hanya menatapnya saja dengan menyeringai, lalu dia berucap “Patah kakimu
sudah cukup bagiku.”
Lalu Ki Putih Kelabu pulang dengan hati yang sudah puas. Sewaktu dia melintasi rumah Gumara,
ia berfikir sejenak. Perlukah aku mampir? Dia merasa perlu.
Begitu dia mengetuk pintu dan terbuka, tampaklah olehnya Gumara tercengang, Gumara
bertanya “Kenapa bapak mandi lumpur dan darah ?”
“Aku ingin pulang dalam keadaan bersih,bolehkah aku numpang mandi di sini?”
“Tentu.”
“Boleh aku memetik daun sirih di pekaranganmu itu . .sementara itu aku minta tolong dengan
sembah 10 jari agar kau sudi menjerang air panas?”
“Tentu, tuan Guru”, ujar Gumara dengan nada hormat. Gumara segera menjerang air panas,
sementara Ki Putih Kelabu memetik daun sirih. Setelah penuh dua kantong baju Cina, sirih itu
dibawa masuk. Dan langsung saja dimasukkan ke jerangan air. Dia membuka pakaiannya,
kecuali celana dalam. Gumara masuk ke kamar.
Tapi dia tak menyaksikan bagaimana Ki Putih Kelabu berbuat sesuatu di depan tungku. Dia
berkonsentrasi dengan mantera — Panas api panas matahari panas kau tungku panas kau
tungku panas matahari —.
Jerangan air berisi daun sirih itu menggelegak mendidih. Lalu dia basuh luka-luka di tubuhnya
dengan airpanas bercampur daun sirih yang jadi hancur macam bubur. Baru kemudian dia
mandikan seluruh tubuhnya. Tiba-tiba Ki Putih Kelabu mendengar suara Gumara “Pak, ini
pakaian untuk salin, pakaian Cina saya dan celana batik saya. Semoga muat di tubuh bapak.”
Aduh betapa senangnya hati si tua dengan penghormatan itu. Apalagi baju Cina maupun celana
batik itu begitu pas. Dia ke luar dari kamar mandi dia berkata “Pita Loka mengira aku barusan
kembali dari pesta.”
Setiba Ki Putih Kelabu di rumahnya. dia mengharapkan dipuji oleh Pita Loka karena berpakaian rapi. Tapi sekonyong yang muncul malah pertanyaan “Di mana ayah berkelahi dengan Ki Lading Ganda ?”
Sembari duduk menghempas, Ki Putih Kelabu terpaksa mengaku; “Kami bakuhantam di Bukit Anggun”
“Ayah menang?”
“Dia patah kaki. Aku tentu menang.”
“Ayah menang, tapi ayah tidak menaklukkan dia. Dia tidak menyerah, bukan?”
“Betul.”
“Lalu . ,. .. baju Cina yang rapi ini tentulah ayah pinjam pada Guru Gumara”, ujar Pita Loka.
“Dari mana kau tahu, heh?”
“Dari huruf G di kantong”.
Ki Putih Kelabu langsung duduk bersila pada tikar permadani Bagdad, menyantap makan malam.
“Masih gatal koreng teluh kamu itu?”
“Tidak lagi, ayah.”
“Besok akan sembuh. Percayalah. Biarpun dia tidak menyerah, patah kaki itu bukti kekalahannya.
Kami harimau yang berenam di Kumayan ini. seburuk-buruk laku kami, masih menghargai
kelebihan lawan. Dengan patah kaki, kini pun dia mengakui kelebihanku daripadanya. Pengakuan
itu mengurangi mantera-manteranya sewaktu dia menteluh kau. Kurasa besok pagi ketika kau
bangun, kau dapati wajahmu sudah cantik kembali!”
Pita Loka terharu. Sewaktu dia menunggui ayahnya yang makan dengan lahap, airmata gadis
jelita itu pun berluruhan. Lalu airmata itu disaksikan Ki Putih Kelabu. Tak ada bicara di antara Grafity,
keduanya. Tapi luruhnya airmata sang ayah, membuktikan, jalinan kasih antara anak dan ayah
maupun sebaliknya amat indah. Seindah angin yang menyanyi sembari mengipas keringat Ki
Putih Kelabu yang akhirnya kekenyangan makan.
Malam itu Pita Loka menyukuri nikmat kehidupan
“Ya Tuhan, aku bersyukur punya ayah seperti Ki Putih Kelabu yang selalu sayang padaku. Hanya
padamu jua aku bersyukur dan memohon kesembuhan.”
Lalu dia memicingkan mata, tertidur pulas. Paginya ketika dia membuka mata, pertama teringat
kembali ucapan ayahnya bahwa wajahnya akan sembuh. Ketika dia meraba mulut dan
sekitarnya, dia tak merasa ada bentolan-bentolan koreng teluh. Cepat dia melompat menuju kaca
hias. Dan dia berucap lagi dengan berlinangan airmata, “Terimakasih padaMu Tuhanku, aku
kausembuhkan.”
Ketika sarapan pagi, sang ayah berkata “Kini sudah waktunya kau menyediakan diri berguru
pada ayahmu.”
“Usulan yang baik. Tapi lebih baik lagi jika ayah mengusulkan supaya saya berguru pada
Harimau Ke Sembilan Belas, bukan Harimau ke Dua ayahku sendiri.”
“Tapi si Wati berguru juga pada Ki Karat”, ujar sang ayah.
“Dia berbeda dengan saya”, kata Pita Loka.
Dan Harwati pun kaget ketika Pita Loka memasuki pekarangan sekolahnya dalam keadaan cantik
kembali.
“Ini hasil kerja keras ayahmu membela anak. Kudengar dia berbakuhantam selama tiga jam di
Bukit Anggun melawan Ki Lading Ganda”, ujar Harwati.
“Benar. Dan ayah menang.”
“Tadi pagi ketika kutemui di jalan, Ki Lading Ganda kakinya pincang,”
“Itu hasil pekelahian seru itu”, ujar Pita Loka, “Tapi tawaran ayah agar aku mewarisi ilmunya,
aku tolak. Aku ingin jadi penerbang pesawat jet, bukan jadi harimau. Beda dengan kau, yang
belajar mantap dari ayahmu, Sudah sejauh mana ilmu yang kau dapat ?”
Harwati bangga menjawab, “Taruhlah tumpukan bara panas, aku akan berjalan di atasnya
dengan telapak telanjang.”
“Itu Ilmu Nabi Ibrahim”, kata Pita Loka.
“Ada baiknya kau belajar pada ayahmu”, anjur Harwati.
“Aku ingin belajar ilmu harimau pada Guru Gumara”, kata Pita Loka.
Seketika itu juga Harwati ternganga, lalu bertanya “Sudah kau kemukakan maksudmu?”
“Tidak, aku hanya sekedar mengujimu saja, kau cemburu atau tidak pada ucapanku.”
“Aku cemburu”, kata Harwati.
“Apa alasan cemburumu padaku?”
“Kurasa dia lebih sayang kepadamu”, kata Harwati.
Pita Loka kaget “Jangan kau bohong.”
“Buktinya kemarin sore dia minta ayahku agar menyembuhkan sakit terkena teluh yang kau
derita. Dia sendiri meminta pada ayahku, apakah itu bukannya bukti bahwa dia lebih cinta
padamu daripada pada saya?”
Pita Loka melongo.
Dan rupanya, ucapan Harwati itu telah melecut kembali semangat Pita Loka untuk memenangkan
persaingan. Ketika bubaran sekolah, Pita Loka menyamperi Guru Gumara dan berkata “Bapak
tidak pulang naik sepeda kan ?”
“Ya, betul. Ada apa?”
“Boleh saya berjalan pulang seiring dengan bapak?” tanya Pita Loka,
“Boleh saja”, sahut Gumara.
Harwati meneliti dari jarak jauh sewaktu Guru Gumara berjalan seiring dengan Pita Loka. Dia
ingin melihat akhir perjalanan itu.
Ketika membelok ke jalan kecil, Harwati juga ikut membuntut dari jarak jauh. Pita Loka dengan gugup berkata “Pak, besar terimakasihku pada Bapak, yang membuang waktu meringankan langkah ke rumah Guru Lebai Karat agar saya yang terkena teluh diobati beliau.”
“Saya?” Gumara terheran.
“Jadi bukannya kemarin sore bapak ke sana ?”
“Saya ada di rumah memperbaiki sepedaku yang suka dicakar kuku”, kata Guru Gumara.
“O,maafkan. Jadi bapak bukan ke sana ”, kata Pita Loka.
“Untuk apa saya ke sana . Saya tidak akan kedukun selagi ilmu kedokteran dapat menolong
diriku. Ketika saya muntah darah, saya ke dokter Kadir, murid ayahmu itu.” Pita Loka sulit untuk
menyembunyikan malu mukanya. Dia tahu Harwati membuntuti dari belakang tadi. Rupanya dia
ingin melihatku malumuka.
“Baiklah pak, kita pisah di sini”, ujar Pita Loka.
Pita Loka melangkah berbalik agar dia dapat bertemu dengan Harwati. Begitu dia berpapasan,
Pita Loka langsung menuding “Kamu . . . . si cantik busuk!”
Pada malam itu juga, mengingat betapa dongkolnya dia pada Harwati, Pita Loka ingin berbicara
resmi dengan ayahnya.
“Ayah, katakan padaku, siapa Guru Ayah?” Ki Putih Kelabu tentu saja gembira.
“Kau ingin belajar?”
“Saya ingin belajar. Tapi tidak menuntut ilmu pada ayah, Katakan padaku Guru Ayah.”
“Guruku Harimau Tunggal”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Guru dari enam harimau di Kumayan ini ?”
“Benar”.
“Tapi setelah mendapatkan ilmu dari Harimau Tunggal, lalu kalian yang berenam
mengembangkan ilmunya sendiri-sendiri.”
“Begitulah jalan yang kami tempuh”, kata Ki Putih Kelabu.
“Tunjukkan padaku di mana Harimau Tunggal berada”, kata Pita Loka.
“Kenapa?”
“Bukankah di Kumayan baru ada enam harimau? Aku akan menjadi Harimau Yang Ketujuh”, ujar
Pita Loka.
Mendengar ucapan puterinya itu, Ki Putih Kelabu bukan bersemangat. Tetapi beliau menyesali
“Sayang kamu terlambat, nak. Harimau yang ke Tujuh itu sudah hadir dan hidup di Kumayan
ini.”
“Siapa?”
“Kau sudah tahu”.
“Siapa, ayah?” Pita Loka agak memaksa.
“Guru matematikamu itu. Guru Gumara Peto Alam”, ujar sang ayah.
Pita Loka tertawa mencemooh “Tidak mungkin. Dia tak meyakini ilmu yang ghaib-ghaib. Sama
halnya dengan saya sebelum saya terperangkap dua tiga kali untuk membuktikan ilmu nyata
lebih tinggi dari ilmu tak nyata.”
Putih Kelabu dalam kesulitan. Dia kenal benar puterinya ini keras kepala. Tapi sikap keras kepala
ini cukup sebagai modal.
“Lewatilah Bukit Anggun. Jika tiba dibukit itu, kau pandang ke timur. Di situ ada satu bukit lagi,
namanya Bukit Kerambil. Di sana ada guru yang khusus mengajarkan silat kera. Lalu kau lewati
lembah di bawahnya untuk sampai kepada Bukit Cangang, di mana di situ kau akan menemukan
ahli-ahli sihir yang membikin orang tercengang-cengang. Semua bukit itu ada anaknya, kecuali
sebuah bukit terakhir, Bukit Tunggal. Di sana ada sebuah guha. Di situ ada seorang lelaki tua
pertapa. Beliaulah Harimau Tunggal. Tapi …..………. apakah kau sanggup, menempuh jarak itu
dengan syarat berpuasa siang malam? Seluruhnya 40 hari baru kau akan tiba di sana . Beliau
tentu akan gembira apabila kau minta diajari ilmu harimau, untuk pelengkap Harimau Yang Enam
di Kumayan. Beliau sudah lama berharap mempunyai murid wanita, tapi tak ada yang ke sini,
Apakah kau berani sendirian ?”
“Berani”, ujar Pita Loka dengan mantap.
“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Sekolah untuk mendidik orang jadi pandai, tapi bukan mendidik bagaimana mengatasi dibikin malu orang.
Tekad Pita Loka semakin berkobar, ketika suatu pagi dia pergoki Harwati barusan saja ke luar
dari rumah Guru Gumara. Kobaran itu tak lain dan tak bukan adalah tujuan untuk berguru
kepada Harimau Tunggal yang tempat pertapaannya adalah di BukitTunggal. Pita Loka merasa
pedih hatinya karena dia telah dipotong kompas oleh Harwati secara kurang jujur. Hatinya
berkata “Suatu ketika, aku akan membalas dendam.”
Karena cemburu butanya itu, setiba Harwati di sekolah, Pita Loka mencegatnya. Matanya
bemyala, nafasnya sesak. Dia tidak lagi menggunakan akal sehat yang dia agungkan selama ini.
Dia langsung main todong tanya “Hai, sejak subuh atau sejak semalam kamu di rumah Guru
Gumara ?”
Harwati tahu apa maksud pertanyaan itu. Karena itu dia cuma berkilah, sekedar memanaskan
hati Pita Loka, dengan jawaban; “Itu rahasia pribadi.”
“Kau sudah melakukan persaingan tak jujur, Wati”, ujar Pita Loka.
“Itu wajar saja, kan ? Kurasa, aku sah yang pertama jatuh cinta dengan pandangan pertamaku.
Jadi aku berhak menghalangi siapapun untuk mencintai dia, dengan cara apapun. Kejujuran
dalam bercinta hanya bagi dua insan yang bercinta saja, kepada siapapun di luar yang berdua,
boleh saja kita berdusta. Dusta itu halal demi eratnya pertalian hidup.”
“O, begitu falsafahmu ya?” Pita Loka mulai panas.
“Kau jangan coba adu tenaga denganku. Injak dulu olehmu bara panas dengan telapak kaki
telanjang, nanti baru kau berhak melawanku”, ujar Harwati.
Ucapan Harwati semakin memperteguh tekad Pita Loka untuk mendapatkan gelar Harimau.
Gumara tak berhak untuk mendapatkan gelar Harimau Yang Ketujuh, sebab dia bukan orang
aseli Kumayan, fikirnya. Aku akan mendahului dia sebelum penduduk Kumayan menobatkannya
sebagai harimau terakhir di negeri ini.
“Berani kamu menginjak bara api?” tanya Harwati menantang.
Pertengkaran itu dekat pagar. Kebetulan ada orang merokok di warung. Harwati meminjam rokok
orang itu dan mendemonstrasikan ilmunya. Te!apak kakinya yang bersih kemerahan itu,
disundutnya dengan api di ujung rokok. Perlahan, perlahan, dan dengan perlahan api itu padam.
Harwati langsung berkata “Lihat, api padam, tapi tak ada bekas melepuh atau memar di
permukaan telapak kakiku. Kau mau coba seperti yang kulakukan tadi?”
Pita Loka jadi malu, kuatir dia akan gagal.
Dengan sedih tanpa sepatah kata pun, dia masuk kelas. Dalam kelas, pelajaran guru-guru lain,
diperhatikan dengan tekun. Terutama ketika ibu Wamiri mengajar mata pelajaran Sejarah. Pita
Loka bertanya “Apakah ibu pernah mendengar nama Harimau Tungga!?”
“Siapa itu, Pita ?”
“Dia seorang pahlawan besar. Apa tercatat dalam sejarah, Bu?”
“Kita kurang mengenalnya. Mungkin dia pahlawan kecil, pahlawan lokal”.
“Memang seorang Pahlawan, tidak selalu mesti terkenal. Ketika patroli Belanda akan menyerbu
desa Kumayan, pahlawan tak dikenal Harimau Tunggal membiarkan tank-tank musuh itu lewat,
Lalu dirubahnya pandangan mata Belanda itu, sehingga semuanya Jatuh masuk tebing. Ketika itu
orang berfikir cuma suatu kecelakaan, Bu Guru. Dan Harimau Tunggal tidak menceritakan kisah
kepahlawanan itu kecuali pada ayah saya. Maka ia tak dikenal, dia dianggap sebagai pahlawan
lokal. Padahal 20 tank musuh yang masuk jurang, Bu!”
“Terimakasih atas keteranganmu, Pita. Tapi ada pertanyaan lain sejalan dengan mata pelajaran
yang barusan ibu berikan pada kalian?”
“Ada lagi, Bu”, ujar Pita Loka.
“Silahkan, Pita!”
“Guru tidak pernah disebut oleh sejarah, Karena itu bisa saja seorang Hitler yang tak bermoral
diejek-ejek oleh sejarah. Tapi guru yang tak bermoral tak pernah diejek oleh Sejarah kan Bu?”
“Siapa guru yang tak bermoral, Pita?” tanya Bu Wamiri.
“Yaitu guru yang bermain cinta dengan murid perempuan”, ujar Pita Loka.
Seisi kelas tertawa berderai, dikira Pita Loka melucu. Padahal wajah Pita Loka tetap saja geram.
Dan dia tetap saja berwajah geram sewaktu Guru Gumara memasuki kelas. Seperti biasa, dia
mengembalikan buku-buku PR yang sudah beliau periksa. Pita Loka menerima buku PR-nya, dan
tentu dapat angka 10. Kemudian, seperti biasa, Gumara berkata, “Kalian akan bapak berikan
rumus baru.”
“Lagi-lagi rumus”, Pita Loka menggerutu.
“Siapa yang menggerutu itu?” tanya Gumara ramah.
Ketika dia menoleh mau melihat yang mengacungkan tangan, Gumara kaget. Sebab selama ini
Pita Loka paling getol dengan urusan rumus.
“Hai, koq kamu tiba-tiba seperti anti matematika?” tanya Gumara.
“Karena matematika tunduk pada rumus, maka matematika tidak mengenal moral. Jadi saya
berpendapat, matematika adalah musuh manusia”, ujar Pita Loka. Gumara tenang, lalu berkata
“Kalau tak suka, silahkan ke luar.”
Pita Loka bukannya sedih diusir dari dalam kelas. Malahan dia santai ke luar kelas. Dan Gumara
dengan tenang melanjutkan mengajar.
Tapi lebih dulu dia memberi komentar “Saya kagum pada orang pintar. Tapi saya tidak suka pada
orang kebelinger. Orang pinter sering kebelinger. Tahu kamu apa arti kebelinger? Inilah
rumusnya.”
Lalu Guru Gunnara menulis rumus matematikanya di papan tulis;
0 = 0
Barulah beliau mengajar rumus yang dia janjikan tadi. Hal ini tidak dibicarakannya kepada Dewan Guru yang biasanya duduk ngobrol pada jam istirahat. Tetapi keesokan harinya, ketika Guru Gumara memasuki kelas, dia melihat ada tulisan di papan tulis
MATEMATIKA = TANPA MORAL
TANPA MORAL = MUSUH MANUSIA
MATEMATIKA = MUSUH MANUSIA
MUSUH MANUSIA = NOL (0)
MATEMATIKA = NOL (0)
NOL = NOL
0 = 0
Belum pernah Gumara marah dengan wajah merah padam. Kali ini wajahnya merah padam. Dia
langsung menuding PitaLoka “Kamu yang membuat rumus konyol itu?”
“Betul, pak. Apa hukumannya kali ini?” tanya Pita Loka.
“Saya akan mengusulkan pada Dewan Guru supaya kamu dipecat. Ini kelas, bukan ruang sidang
DPR, mengerti ?”
“Saya tidak mengerti”, ujar Pita Loka, “Kalau matematika saya mengerti Pak. Tapi mengerti
bukan berarti setuju.”
“Kalau kamu tidak setuju dengan kurikulum, silahkan minta berhenti.” kata Gumara.
“Saya tak akan minta berhenti. Saya lebih suka dipecat”, ujar Pita Loka.
Gumara menahan geram. Lalu dengan tenang beliau berkata “Keluar kamu.”
Tapi dengan tenang pula Pita Loka ke luar kelas. Juga dengan tenang ketika dia menerima surat
pemecatan dari Kepala Sekolah yang disepakati oleh Dewan Guru. Surat itu diserahkannya pada
ayahnya. Ki Putih Kelabu hanya menggeleng-gelengkan kepala “Aku tahu. yang kau benci bukan
ilmu matematikanya. Tapi Gumara, guru matematikanya.
“Kenapa kau berubah picik?” Pita Loka tahu ayahnya marah, sekalipun berkata lembut. Tapi
semula dia kira, pemecatannya itu membuat ayahnya berpihak padanya. Bukan pada Gumara,
Maka dengan hati yang luluh, Pita Loka lari ke kamar, dan membanting diri ke kasur.
“Yang membuat kau merasa begini, adalah soal jodoh. Soal yang ghaib, yang cuma Tuhan Maha
Tahu. Ayah tidak menyangka, kamu begini gila mencintai Gumara. Padahal ada pemuda tampan
dan gagah, yang dulu begitu baik, yang mencintaimu, koq kamu tolak cintanya? Apakah kau
mencintai Gumara?”
“Tidak, saya membencinya”, sahut Pita Loka.
“Kalau kau sudah membencinya, apa tindakanmu selanjutnya?”
“Aku akan memohon suatu permintaan”, ujar Pita Loka seraya merangkul sang ayah. Dan Ki
Putih Kelabu merasa amat terharu karena belum pernah menyaksikan puterinya tersayang begini
sedih dan pilu.
“Katakan, akan ayah kabulkan, Pita”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Aku mohon, malam ini juga, supaya ayah mewariskan satu saja ilmu mantera untuk saya,” ujar
Pita Loka.
“Baiklah. Mantera apa yang kau minta?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Mantera untuk membikin pikiran seseorang menjadi kacau” ujar Pita Loka.
“Ha? Wah, itu tak baik, aku tak mau!” Ki Putih Kelabu menolak tegas.
Pita Loka menangis sejadi-jadinya. Dia peluk ayahnya erat, lalu berkata “Belum pernah saya
meminta pada ayah. Saya telah dibuatnya malu. Kali ini saya ingin membalas malu itu.”
“Tidak bisa, Pita”, ujar sang ayah berat.
Dia tetap merasa berat, sekalipun sudah tiga jam Pita Loka menangis sampai larut malam,
sampai bengkak matanya. Ki Putih Kelabu, demi cintanya pada anak gadis tunggalnya, akhirnya
menyerah, “Kendati berat, terpaksa kuberikan. Tapi selesai membaca mantera itu, kau harus
meninggalkan Kumayan, sekalipun tebusannya adalah mati bagimu.”
Airmata Ki Putih Kelabu tertahan lalu bercucuran melihat Pita Loka begitu teguh ampuh
berkonsentrasi membaca mantera itu, dengan telunjuk bergerak di atas sebuah piring sebagai
syaratnya. Ketika telunjuk itu berhenti, Ki Putih Kelabu terdongak kaget, dan, berseru, “Cepatlah
pergi dari sini”,
Rupanya Pita Loka sudah slap untuk pergi. Begitu cepat langkahnya ke luar masuk hutan rimba,
menjelang matahari terbit dia sudah melewati Bukit Anggun dan tanpa istirahat dia mulai
mendaki Bukit kedua, Bukit Kerambil.
Gumara resah seharian. Biasanya, sepulang dari mengajar dia masih sempat membaca beberapa
buku-buku atau catatan. Hari ini, sehabis makan siang dia langsung mengantuk dan tidur. Dan
sewaktu bangun dari tidur, dia kembali resah tanpa tahu sebab-sebab keresahan.
Keresahan itu tampak ketika dia mengajar matematika atau fisika di depan kelas. Hal ini
diketahui hanya oleh seseorang yang memperhatikannya dengan cara saksama.
Dan yang memperhatikan hal itu adalah Harwati. Maka pada jam istirahat terakhir, Harwati
sengaja mendekati Guru Gumara yang tidak berada di ruang Dewan Guru melainkan di bawah
pohon flamboyan di pekarangan sekolah. Pak Guru sedang memegang dahan flamboyan yang
merendah.
“Wah, kali ini koq Bapak ada di sini?” tanya Harwati. Gumara diam saja.
“Kalau pulang jalan kaki, boleh Wati menemani Bapak?” tanya Harwati. Juga Gumara diam saja.
Dan sewaktu guru itu pulang sehabis bubaran sekolah, dengan lngkah yang dipercepat seperti
di”kejar”nya Guru Gumara. Setelah seiring, Harwati bertanya “Sudah tahukah Bapak, setelah
dipecat si Pita Loka melarikan diri dari Kumayan?”
“Dia minggat?” tanya Gumara.
“Mungkin minggat. Hai ini diberitahukan sendiri oleh tuan guru Ki Putih Kelabu pada ayahku,
Sebagai laporan bahwa puterinya pergi entah ke mana.”
Langkah Gumara dan Harwati terus menyelusuri jalan kampung yang kecil itu. Dan Gumara tak
memberikan komentar apa-apa.
“Saya duga Bapak sedih atas kepergian Pita Loka”, tuding Harwati.
Karena Gumara diam saja, Harwati mengepungnya dengan pertanyaan, “Apa Bapak jadi risau
begini karena mencintainya ?”
“Mencintai Pita Loka? Ah. itu cuma tuduhanmu”, kata sang guru.
“Kalau begitu apa yang membuat Bapak kelihatan murung ?”
“Entah, saya tak tahu.”
Harwati lebih mengepungnya “Jadi kemurungan Bapak bukan karena kepergian Pita Loka dari
Kumayan?”
“Sama sekali bukan,” sahut Gumara.
Alangkah senangnya hati Harwati mendengar jawaban itu. Hal itulah yang dia harapkan, Tetapi
anehnya, malam itu Gumara bermimpi! Dia bermimpi melihat Pita Loka sedang dikerubungi kera-
kera besar di sebuah hutan. Ia menganggap mimpi ini ada takwilnya. Begitu terbangun, Gumara
memikirkan takwil mimpi itu untuk mencari tafsirannya.
Dan anehnya, apa yang ada dalam mimpi Guru Gumara itu, memang sedang dialami Pita Loka.
Pita Loka berputar di sekitar lorong-lorong-sesat yang diperbuat penduduk Bukit Kerambil. Dua
hari dua malam Pita Loka berjalan di sekitar tempat yang sama, digiring o!eh monyet-monyet
kecil, Karena letih, Pita Loka duduk pada sebuah batu. Seingat dia, ayahnya tidak menceritakan
lebih terperinci mengenai lorong sesat Bukit Kerambil ini. Namun dia usahakan agar dia tetap
memenuhi puasa, sebab puasa 40 hari itu musti dia lakukan sampai dia tiba di Bukit Tunggal
tujuan terakhirnya.
Mendadak melompat ke depannya seekor kera besar.
Jelas itu raja dari kera-kera yang menggiringnya. Waktu itu matahari telah terbit. Pita Loka
meneliti kera besar itu. Agaknya dia bukan kera, tapi manusia berwujud kera. Tampaknya kera
itu menawarkan kelapa yang sudah berlubang. Kelapa muda! Ah, tawaran yang ramah, Pita Loka
menggelengkan kepala. Kera besar itu memberikan contoh bahwa kelapa hijau yang diberinya itu
untuk minum. Kera itu minum dan tertawa. Pita Loka langsung berfirasat, bahwa ini jebakan.
“Saya puasa, tuan”, sahut Pita Loka ketika kera besar itu sepertinya memaksanya untuk minum.
Lalu kera itu membelah kelapa itu, dan mengambil daging kelapa. Baunya harum seakan menguji
daya tahan Pita Loka yang sudah 3 hari berpuasa siang malam. Kera itu menggodanya dengan
unjuk cara, memakan daging kelapa itu. Pita Loka mengulangi penolakannya “Saya puasa, tuan.”
Untuk mengelak, Pita Loka melanjutkan langkah. Namun dia kembali lagi ke tempat semula,
dengan bukti bekas belahan kelapa hijau tadi. Pita berkata “Aku tak sudi terjebak dalam
labyrinth. Lorong sesat ini sengaja menjebakku untuk menetap di Bukit Kerambil.”
“Ya, menetaplah di sini”, lalu dengan cepat Pita membalik tubuhnya dan mendengar seorang
berkata, ternyata memang manusia, berwujud orangtua. Orangtua itu memegang rantai.
“Jika kamu menolak, kamu kami tawan”, ujar lelaki tua itu.
Pita Loka melihat dirinya dikepung oleh kera-kera. Tetapi dia seketika itu juga merasa yakin
bahwa dia mampu mengalahkan si tua, Dia tidak menunggu sampai kena rantai. Dia hentakkan
kedua telapak kakinya ke dada si tua itu dengan sekuat tenaga dan loncatan macan. Lelaki tua
itu memang terjengkang jatuh, namun bangkit lagi dengan gerak gerik menyeramkan.
Pita Loka tidak menunggu waktu sampai lelaki tua itu berdiri teguh. Langsung saja dia lompati
dengan sebuah tendangan sebagaimana pemain bola sayap kanan menendang bola ke gol
dengan tujuan membobolkan gawang lawan. Di luar dugaan tendangan itu mengenai rusuk lelaki
tua itu. Lelaki tua itu tersungkur. Tapi kera-kera yang mengepungnya tampak hanya menontoni
saja.
Aneh! Begitu lelaki tua itu tersungkur, tampak ada jalan ke luar. Tampak bukit di hadapannya.
Itulah Bukit Cangang yang dikatakan ayah! Pita cepat melarikan diri melewati jalan “ke luar” di
hadapannya. Tetapi kalau dia tidak cekatan, tentulah dia sudah masuk ke jurang. Jalan “keluar”
itu rupanya jebakan bagi siapa yang mencoba melarikan diri dari Bukit Kerambil ini.
Bagai rem yang pakem, Pita Loka menghentikan langkah, sementara suara batu-batu
bergelundungan ke bawah menciptakan gema di lembah bawah. Pita Loka mau segera berbalik,
tapi lelaki tua yang tadi dia sungkurkan kini telah mencegatnya.
“Pilihan hanya dua, anak perawan. Kalau terus mati masuk jurang, atau menyerah dan belajar
pada kami”, kata lelaki tua itu.
“Belajar apa, tuan?” tanya Pita Loka berpura-pura ramah.
“Belajar ilmu silat kera,” sahut lelaki tua itu.
“Berapa lama pelajarannya?”
“Tujuh tahun”, sahut lelaki tua itu, mengulurkan tangan.
Uluran tangan itulah yang membuat Pita Loka mendapatkan siasat. Diterimanya jabat tangan itu,
tetapi kemudian dia remas telapak tangannya dengan tekukan kuat, sehingga lelaki tua itu
mendadak mencakar-cakar Pita Loka. Setika dia berteriak kesakitan, dia berubah menjadi seekor
kera besar. Ya kera besar yang pertama menawarkan minum air kelapa dan menawarkan daging
kelapa.
Pita Loka tidak sedikitpun mengurangi remasan dan tekukannya, membiarkan kera besar itu
menjerit-jerit. Pada saat yang sudah dianggapnya tepat, Pita Loka membungkuk sedikit untuk
mengambil tenaga mengentakan tubuh untuk membanting kera besar itu. Bantingan itu sangat
sempurna! Kera besar itu menggelepar begitu terjengkang di tanah. Dan pita Loka cepat melarikan diri
ketika dia melihat adanya batu bersusun kayak tangga. Dia tidak terjebak o!eh jalan lurus di
depan, karena dia menduga dalam sedetik bahwa itu cuma jalan “ke luar” jebakan lagi. Betullah.
Setelah sekuat tenaga dia naik tangga itu tampaklah rumpunan pohon-pohon kelapa dan dia
lintasi pohon-pohon kelapa itu mengarah ke Bukit nun jauh di sana , yang tak lain tentulah Bukit
Cangang. Dia tidak tercengang menatapi Bukit Cangang itu, tetapi dengan meluncur dia terus
turun ke lembah di bawah, berbelok-belok di sela-sela pohon petai cina.
Dan pada tengah hari, Pita Loka sudah sampai pada lembah yang terbawah. Nafasnya sesak, dan Grafity,
sungai yang mengalir itu membuat dirinya tambah sesak nafas. Lalu rasa haus mulai
menggodanya. Tapi dia ingin mempertahankan tekad bulat untuk tetap berpuasa 40 hari siang
malam dalam perjalanan ke Bukit Tunggal.
Tiba-tiba dia memutuskan untuk menyeberangi sungai itu. Ketika dia mencelupkan kaki,
dirasanya betapa nikmatnya air pada telapak kakinya. Menyegarkan tubuh secara menyeluruh!
Namun Pita Loka tak tergoda berlama-lama mencelupkan kaki. Dia melangkah di air, dan
terdengar bunyi kecipak air. Dia meloncat ke sebuah batu, Tapi ketika dia sudah meloncat pula
ke batu yang kedua, mendadak muncul seperti potongan kayu. Ternyata itu punggung seekor
huaya. Adanya sungai yang berbuaya itu pun tidak pernah dituturkan oleh ayahnya. Tapi satu hal
yang membuat dia selalu berani, karena ayah berpesan pada suatu malam dulu “Jika kau
menemui halangan menjelang tiba di Bukit Tunggal, kau mantapkan hati bahwa rintangan itu
dapat kau kalahkan.” Kini Pita Loka bersikuat batin. Dia kumpulkan tenaga untuk meloncat ke batu besar yang dirintangi oleh punggung buaya itu. Punggung buaya itu hanya jebakan saja.
Lalu . .. .. setelah tenaga terkumpul dan batin membaja, Pita Loka meloncat ke batu besar itu
melangkahi dahan kayu jebakan punggung buaya itu. Satu pukulan keras menampar tubuhnya
sehingga Pita Loka jatuh terjerembab ke permukaan batu. Dianggapnya saja punggungnya tak
sakit. Lalu dia berdiri tetapi di hadapannya dia melihat ada benda kayak gergaii yang mau menampar
mulanya. Pita Loka tidak mengelak. Dia nanti beberapa detik menjelang benda itu tepat untuk
dipegang sebelum menampar. Seketika dia pegang saja ekor buaya itu, yang licin, namun
akhirnya terpegang erat, yang kemudian ternyata sebuah kaki manusia.
Manusianya menggelepar dalam sungai, berkecipak-kecipak.
Pita Loka berusaha agar tidak kecebur. Dia terus bertahan dengan dua telapak kaki bagai
dipakukan pada permukaan batu besar itu. Dia biarkan manusia yang menggelepar itu mereguk
air sampai pengap dalam usaha membebaskan diri dari cengkeraman cekatan tangan Pita Loka.
Setelah dia sesak nafas, Pita Loka menghela ujud manusia itu. Yang ternyata lelaki tua berkaki
satu. Pita Loka bersikuat hati untuk tidak terbujuk oleh rasa kasihan padanya, karena kuatir
rengek si tua hanya jebakan. Malahan dia segera melompat ke sebuah batu dan kemudian ke
batu-batu yang menyembul di permukaan sungai, sampai dia mencapai tepi sungai di seberang
itu. Dia tidak tunggu waktu tergoda haus oleh wanginya bau sungai. Dia terus memanjati tebing
dengan berpegang pada akar-akar besar. Lalu memanjati Bukit Cangang.
Dikumayan, malam itu Gumara berteriak nyaring karena sebuah mimpi. Teriakan ini membuat
Talang Padu, jirannya di sebelah rumah yang dibatasi kebun sirih, terbangun dan segera menuju
rumah Gumara. Diketuknya pintu rumah guru yang dikenalnya amat berbudi itu,
“Siapa?” tanya Gumara menghapus keringat.
“Saya, Pak Talang”, sahut Talang Padu.
Talang Padu dikenal baik oleh Gumara setelah mendapat keterangan dan Harwati. Dia bernama
Sariman, tapi setelah berilmu dia digelari Ta!ang Padu. Dia terima gelar itu setelah bertaubat dari
ilmu hitam dan cuma bertani dan bersembahyang saja setelah bertobat itu. Begitu Gumara
membuka pintu, Talang Padu masuk.
“Sepertinya nak Gumara cuma bermimpi”, kata Talang Padu.
“Ya. Saya mimpi melihat seorang yang saya kenal sedang disihir oleh ahli telepati di satu bukit”,
kata Gumara.
“Oh, saya tahu bukit itu, Bukit Cangang. Di situ berkumpul ahli sihir, dan bahkan saya pun
sebelum bertobat menuntut ilmu sihir di sana . Yah, tak mungkin nak Gumara tak diceritakan
orang mengenai masa silam saya. Saya punya masa silam yang buruk, yaitu gemar mengganggu
rumah tangga orang yang sedang damai. Caranya menaruhkan sebuah batu di talang air rumah
orang yang damai suami isteri itu. Setelah itu, batu yang sudah saya isi dengan sihir itu akan
menciptakan pertengkaran rumah tangga. Akhirnya Ki Putih Kelabu yang menaklukkan saya
sampai saya digelari si Talang Padu.”
Setelah bicara tentang dirinya, kini dia bertanya “Boleh saya tahu siapa orang yang anda kenal
dalam mimpi itu?” Gumara menggelengkan kepala. Dia memejamkan mata sambil mengingat
mimpi yang barusan berlalu. Mimpi itu masih segar. Tampak olehnya Pita Loka dihadapkan pada
duabelas orang tua. Karena tidak sudi menjadi murid, satu dari 12-tua itu mencekik leher Pita
Loka. Ketika itulah karena kasihan menyaksikan, Gumara menjerit dengan teriakan ketakutan
…….. lalu dia terbangun dalam keadaan mandi peluh.
Talang Padu lalu pamitan pulang. Dan Gumara tak dapat tidur hingga pagi. Paginya setelah dia
berkemas untuk menomon pertandingan olahraga volley, muncullah Harwati dalam pakaian
celana panjang olahraga berwarna merah berstrip dua putih. Dalam pakaian “training” itu,
Harwati tampak lebih jelita dan gagah. Dia akan memperkuat regu SMP melawan regu Muspida.
Lalu Harwati berjalan seiring dengan Guru Gumara.
“Saya tadi pagi dapat informasi dari ayah”, ujar Harwati.
“Informasi? Mengenai apa?”
“Ada info mengenai Pita Loka. Dia rupanya bukan minggat. Tentu saja ayahnya merahasiakan
kepergiannya.
Ayah barusan kembali dari tempat pertapaan, dan menerima wangsit bahwa Pita Loka sedang
menuju Bukit Tunggal untuk menuntut ilmu ghaib pada Ki Harimau Tunggal. Anehnya, ayah
gembira!” Harwati menunggu reaksi Gumara. Tapi Gumara merahasiakan mimpinya semalam.
Dia berdiam diri.
Juga sehabis pertandingan volley, Gumara berdiam diri. Dia menolak Harwati untuk pulang
bersama. Dan ingin jalan sendirian ke suatu tempat. Dia ingin duduk di puncak Bukit Kumayan,
bukit satu-satunya di sebelah kidul yang tidak ditumbuhi pohonan. Anehnya, bukit itu bundar.
Dan mungkin di situ ada kadar menyan yang banyak, atau bisa juga seluruh bukit bundar itu
adalah bukit menyan. Menikmati bau menyan di Bukit Kumayan itu, bukan menciptakan
ketenangan. Malah dia gelisah. Lebih heran lagi muncul Lading Ganda. Lalu Ki Lading Ganda
berkata “Hati-hati duduk di bukit yang seluruhnya berisi menyan raksasa ini. Kalau di sini terjadi
perkelahian, maka yang mati akan masuk ke tanah tak ke luar lagi jadi tumbal dan jadi batu
menyan.”
Gumara hanya melirik. Ki Lading Ganda lalu bersimpuh menghadap pada Gumara yang
bersimpuh pula. Ki Lading Ganda berkata “Percuma tuan guru mengingat Pita Loka di sini.
Karena aku mendapatkan ilmu peramal dari guruku, aku ingin menyatakan ramalanku!”
“Tak usahlah, Ki. Saya tak percaya ramalan”, ujar Gumara.
“Namun ingin saya nyatakan. Saya ramalkan Pita Loka bukan minggat sebab malu dipecat, tapi
melarikan diri ke satu tempat menuntut ilmu. Harimau yang enam termasuk Ki Putih Kelabu pasti
sudah tahu ke mana perginya. Dia akan kembali ke Kumayan untuk jadi musuh tuan guru. Dan
Harwati? Saya ramalkan takkan jadi isteri anda. Memang dia mencintai tuan dan tuanpun
mencintainya. Tapi lebih tepat jika tuan mengawini Keni, puteriku, adik si Pina.”
Keni memang cantik, Tapi Gumara diam. Dan Ki Lading Ganda menjebaknya dengan berkata
“Kalau anda diam, berarti setuju.”
Gumara terpaksa jadi marah. Kemarahan inilah yang diharapkan Lading Ganda. Berdiri merentak,
Gumara berkata merentak pula “Jangan lamar aku. Sebab aku ingin hidup membujang!”. Ki
Lading Ganda bagai mencegatnya. Lalu orangtua itu berkata, “Penolakan berarti penghinaan.
Kalau anda jantan, jangan dulu pergi. Layani dulu permintaanku.
Aku ingin mencoba ilmumu.”
Gumara tenang. Teramat tenang. Matahari sore agak menyilaukan Gumara yang sedang berdiri
berhadapan dengan Ki Lading Ganda. Ki Lading Ganda menggertaknya “Jika kau tak menyerah,
kau akan kuhabisi sekarang!”
Langsung saja lelaki tua itu dengan dua tangannya mencabut dua buah golok dari pinggangnya.
Dalam sekelebatan golok itu diadunya dan menciptakan kilatan api dan bunyi nyaring, Golok itu
seketika berubah menjadi satu golok yang bergagang kembar dan bermata dua.
Gumara berdiam diri, namun tak mengucapkan kata-kata menyerah. Tetapi hatinya menganggap
ilmu si tua ini amat rendah. Sekelebatan tampak olehnya sinar yang melayang mau menebasnya,
membuat Gumara merunduk menjatuhkan diri sebab sinar itulah sinar mata golok yang mau
menebas lehernya. Begitu dia menjatuhkan diri, Ki Lading Ganda menyerang dari belakang,
tetapi kaki kanan Gumara menuat menangkis dengan putaran. Tepat mengenai Ki Lading Ganda
sampai ia terjengkang.
Gumara tidak mengambil sikap menyerang, melainkan bertahan. Terutama menyalurkan
ketenangan nafas. Waktu dia hendak berdiri, satu kilatan menghantam bahunya. Golok itu tepat
mengenai bahu kanan, tetapi golok itu membal, terpelanting lepas dari tangan Ki Lading Ganda.
Ki Lading Ganda sudah menduga bahwa itu akan membuat tangan kanan Gumara copot. Kini dia
terpelongo, terheran-heran. Dia tidak memungut goloknya. Tapi cepat menghatur sembah
sungkem layaknya, berlutut dihadapan dengkul Gumara. Katanya, “Anda rupanya diam-diam
punya ilmu kebal.”
Gumara berpekak-telinga seolah tak mendengar. Dia melangkah, dengan maksud meninggalkan
Ki Lading Ganda. Tetapi Ki Lading Ganda menungkai dengan kakinya sehingga Gumara jatuh
tersungkur. Dia bangun lagi. Tapi lalu pergi setelah membersihkan tanah yang diciumnya oleh
mukanya sewaktu tersungkur tadi.
Ki Lading Ganda masih duduk di puncak Bukit Kumayan itu bagai terpesona. Setelah diambil
goloknya yang tadi terpelanting itu, lalu golok itu ditetakannya ke keningnya. Sebuah dari
kembarannya meloncat ke udara, dan disanggep oleh tangan kiri Ki Lading Ganda. Dengan
serempak kedua golok itu masuk ke sarung-sarungnya kiri kanan di pinggang lelaki tua itu.
Ketika Gumara tiba di rumahnya, ia kaget melihat sudah tersedia hidangan di meja selain
rantang kiriman Pak Yunus. Lalu muncul Harwati dari dapur„ Rupanya dia!ah yang telah Grafity,
memasak makanan siang ini.
“Jika ayahmu tahu, kurasa dia akan marah kau ada di rumahku”, kata Gumara. Dan memang
benarlah apa yang dikatakan Gumara senja itu. Setiba di rumah Harwati dipanggil oleh ayahnya.
Sebelum ayahnya bicara, Harwati berkata “Sudah banyak orang yang mau berobat pada ayah.”
“Katakan pada mereka, hari ini aku tidak melayani tamu, kecuali orang yang sakit parah.”
“Tapi ada satu tamu, pejabat penting dari kota , ingin minta perkukuh jabatan pada bapak,
katanya. Malah dia ingin didahulukan”, ujar Harwati.
Dengan langkah geram Ki Lebai Karat keluar dari ruangannya menemui tamu itu. Dan tamu itu
memperkenalkan diri sebagai tamu dari kota . Drs. Jamal Wangsadan menyatakan hasratnya
untuk diangkat sebagai walikota.
“Oh, itu mudah saja. Tuan tak usah mendatangi Ki Karat. Berbakti pada kepentingan rakyat
dengan baik, sampai Pak Gubernur tahu bahwa anda paling tepat untuk menjadi walikota. Itu
saja. Saya kira tuan sakit atau berkelahi dengan isteri.”
Ucapannya yang kedengaran angkuh itu membuat Drs. Jamal Wangsa pun mengimbanginya
dengan keangkuhan.
Katanya “Saya kira, begitu saya dengar bapak adalah dukun sakti, bapak dapat berbuat segala-
galanya.”
“Oh, yang bisa berbuat Segala-Galanya itu, cuma Tuhan Maha Pencipta Semesta Alam. Bukan
saya. Saya rasa tuan salah alamat”, kata Ki Karat.
Lalu Ki Karat menyuruh masuk seorang ibu tua yang lumpuh, Setelah Ibu tua lumpuh itu ke luar lagi sehabis diobati, ia tak lagi dibimbing. Ia malahan menolak untuk dipegangi. Ia melangkah dengan sempurna. Sehabis seluruh pasien di obati oleh Ki Lebai Karat, kini Harwati mendengar namanya diteriaki oleh ayahnya. Dia merasa nada itu tinggi, terlalu tinggi, dan benarlah ramalan Pak Guru bahwa dia akan di marahi. Wajah ayahnya setelah berhadapan tampaknya begitu geram.
“Aku tidak setuju kau terlalu rapat dengan Peto Alam.
Gumara Peto Alam itu hanya tepat sebagai guru sekolahmu, saudaramu dan bukan calon
suamimu. Orang menyampaikan kau sibuk memasaki di rumahnya, padahal rumahnya tak
pernah ada asap dapur sebab dia menerima kiriman rantangan dari guru Tarikh,”
Mendengar kata-kata ayahnya itu, Harwati berlinang airmata. Dan dia tampaknya melawan
dengan tudingan tuduhan “Pantas ayah begitu senang mendengar Pita Loka pergi berguru ke
Bukit Tunggal. Jadi ayah lebih rela apabila kelak Pita Loka menjadi isteri Gumara Peto Alam
ketimbang aku, ya?”
Ayah yang berbudi itu lalu membelai kepala Harwati setelah tak kuasa mendengar isak tangis
anaknya, Katanya; “Gumara itu bukan dampinganmu, nak!”
Dibelai dengan ucapan yang begitu, bukannya membuat Harwati lega, malahan tambah terisak-
isak. Semalannan dia tak dapat tidur. Menjelang subuh tiba, Harwati menemukan keputusan
sendiri. Dia secara rahasia memasuki kamar-pertapaan ayahnya. Dibongkamya semua buku yang Grafity,
berisi mantera-mantera yang bertulisan arab-gundul. Tanpa tanda baca. Tapi Harwati dapat
membacanya karena tulisan arab-gundul itu bukan berbahasa Arab melainkan mantera-mantera
berbahasa daerahnya sendiri. Karena kamar ini jarang dimasuki ayahnya, Harwati bertambah
tekun mencari satu kitab yang berisi rumusan-rumusan pikat. Kitab Pikat yang dicarinya itu
agaknya disembunyikan ayah, fikirnya. Lalu dia melihat ada sebuah gembok pada lantai papan.
Rupanya ayah membuat lantai itu berpintu, Gembok itu membuat dia penasaran. Karena dia
harus mencari kunci. Dia cari tempat kunci itu. Dan dia temui. Semua kunci dicobakannya pada
gembok itu. Seluruhnya tujuhpuluh buah kunci. Dan pada kunci bernomor arabgundul 49,
Harwati lega karena kunci itu cocok.
Pintu rahasia itu kini dia buka. Jika saja dia tidak diwarisi keberanian, tentu dia menjerit melihat
seekor kelabang hitam berkaki 33 yang muncul dari lemari bawah tanah itu. Kelabang hitam itu
menatapnya lama, tapi lama-kelamaan mengerikan sekali.
Tiba-tiba Harwati menjerit sewaktu kelabang hitam itu melompat ke arah kepalanya. Ki Karat
yang sedang makan siang segera bertindak cekatan menuju kamar pertapaan. Dia dapati
puterinya pingsan, Dia langsung menoleh ke lemari bawah tanah yang pintunya terbuka. Dia
membaca-baca mantera. Lalu merangkaklah kelabang-hitam berkaki 33 itu. Begitu patuh. Begitu
ketakutan gayanya merangkak. Dia lalu merangkak ke kening Harwati. Tambah ada beberapa
tetes seperti minyak yang dipoleskannya dengan sungutnya ke kening yang membundar biru itu.
Makin lama kening itu berkurang birunya, tapi Harwati belum sadarkan diri. Tampaknya kelabang
hitam itu sudah menyelesaikan tugasnya, lalu kembali menuju sarangnya, yakni lemari rahasia
tadi. Ketika kelabang hitam itu hampir pada tepi pintu, Ki Karat membentak ke arahnya;
“Mampus kau!”
Kelabang itu terjengkang menelentang seketika.
Malahan dia diinjak-injak oleh Ki Lebai Karat. Dan rupanya Harwati tersadar dari pingaannya
karena bentakan ayahnya pada kelabang hitam tadi. Dia kemudian duduk. Dia belum tahu ada
ayahnya di kamar pertapaan itu. Dia mencari-cari kelabang hitam yang menyengat keningnya
tadi. Ketika dilihatnya kelabang itu sudah remuk, barulah Harwati sadar tentu ada seseorang
yang menginjaknya.
Barulah dia menoleh sekeliling. Tolehannya terhenti pada wujud ayahnya yang duduk tenang di
korsi goyang. Dan Ki Karat pun berkata “Terpaksa kubunuh si penjaga itu hanya karena kelakuan
kau. Memang kitab itu, Kitab Pikat itu, aku sengaja sembunyikan. Sudah kuterka sekali waktu
kau akan mencarinya. Tapi dengan menggembognya, itu berarti termasuk kamu dilarang
membacanya.”
“Kenapa ayah?”
“Kitab Pikat itu penemuanku sendiri setelah selesai berguru pada Ki Macan Tunggal.
Sesungguhnya dia sebuah kitab yang buruk dan merusak. Jadi kuharap, jangan sekali-kali kau
baca kitab itu, sekalipun si kelabang penjaga sudah mampus. Aku tahu, kau amat cinta pada
Peto Alam. Tapi masih banyak pria yang mungkin lebih baik sebagai dampinganmu. Cinta itu
berbuah perkawinan. Kau bukan sakedar dampingan suami, tetapi isteri itu harus menjadi garwa
suaminya. Tahukah kau arti garwa?”
“Tahu, ayah, ketika Wati berusia 12 dan mulai menstruasi, ayah menerangkan arti garwa itu.
Saya mohon maaf dan ampunan ayah atas kelancangan saya”, lalu dia meraung dengan suara
ratapan yang menghibakan hati.
Hati Ki Lebai Karat memang hiba. Tetapi dia tidak ingin mewarisi pada Harwati ilmu memikat Grafity,
yang dangkal. Dan batinnya tetap tidak rela apabila Harwati justru akan menjadi garwa bagi
Gumara Peto Alam.
Kemurungan Ki Lebai Karat itu membuat kawanan empat sekawan Harimau Kumayan yang
dipimpin Ki Lading Ganda, adalah termasuk yang ditolak oleh ayah Harwati. Empat lelaki tua itu
pulang dengan kecewa, juga orang-orang yang akan berdukun kecuali yang sakit keras.
Dan sejak larangan ayahnya itu dimaklumkan, Harwati tetap saja mengukuhkan perasaan
cintanya pada Gumara. Tapi memasuki pekarangan Gumara, dia tak berani. Dan takkan pernah
berani, sebab dia tahu jika ayah mengutuk seseorang. Akibatnya akan selalu negatif.
Dan di sekolah, pada hari Kamis itu, seluruh murid tercengang ketika melihat Guru Gumara jatuh
pingsan sewaktu mengajar, Guru itu digotong murid lelaki, namun Harwati ikut memegangi
kepala Gumara sambil berdesih-desih membaca mantera bagi seseorang yang pingsan. Harwati
gembira, manteranya kabul dan Guru Gumara sadarkan diri di ruang Dewan Guru.
Tak ada desas-desus, Tapi hari berikutnya, ketika Guru Gumara mengajar !agi di kelas IPA itu,
ucapannya tiba-tiba aneh Saya sering pusing, siapa di antara kalian yang sering bawa obat
pening kepala?”. Semuanya heran membisu.
Hari demi hari, pribadi Guru Gumara berubah. Anak-anak SMP Kumayan membicarakan hal ini.
Tetapi, yang paling cemas adalah Harwati. Dan pada suatu hari Harwati berkata pada ayahnya
“Ayah, jika saya melaporkan hal ini pada ayah, jangan ayah mengira karena saya mencintainya,
dan saya kepingin jadi garwa-nya. Ini adalah soal Prikemanusiaan”.
“Mengenai nasib Gumara?” tanya Ki Karat.
“Ya”.
“Aku sudah lebih dulu mendapat berita”.
“Dari mana?”
“Dari Harimau Yang Empat, dipimpin oleh Ki Lading .Ganda. Semua laporannya masuk akal.”
“Tentang pergunjingan orang mengenai Guru Gumara?”
“Ya, tentang si Peto Alam itu. Mulanya kukira karena Lading Ganda merasa iri tak habis-habis
kepada Ki Putih Kelabu,”
“Nah, itulah yang akan saya laporkan”, ujar Harwati gembira, “Yaitu terlibatnya Ki Putih Kelabu
dalam penyakit aneh Guru kami itu, Pak. Seakan dia diperbuat malu di hadapan murid-murid.
Tapi kami murid-murid tidak terpengaruh oleh kegugupan, mudah lupa kadangkala ketololan Pak
Guru kami itu. Saya sudah mempengaruhi teman sejak awal, bahwa pasti Pak Gumara dikerjain
orang. Pendeknya, wibawa Pak Gumara tidak menurun. Soalnya, Ayah . . . kasihan kita pada dia.
Kita harus selidiki siapa yang bikin gara-gara. Saya cenderung untuk menduga ini semua
perbuatan halus dan licik Ki Putih Kelabu. Dia membalas penghinaan terhadap Pita Loka.
Bayangkan halusnya teluh Ki Putih Kelabu. Sudah 21 hari Pita Loka melarikan diri, baru akhir-
akhir inilah muncul penyakit aneh Pak Gumara”.
Ki Lebai Karat terdiam. Ia sebetulnya kagum pada puterinya. Masuk akal memang, yang
mengerjai Gumara adalah Ki Putih Kelabu. Memang teluh. Tapi lelaki tua ini berkata yakin “Ki
Putih Kelabu mungkin saja terluka hatinya. Tapi dia tidak sejahat Lading Ganda”. Grafity,
Harwati jadi tidak puas. Namun dia kembali lega ketika ayahnya berkata “Nanti akan kupilih hari
memanggil dia. Kalau dia tak datang, itu suatu tanda bahwa dia perlu dicurigai”.
Keesokan harinya, ketika melalui jalan yang melewati rumah Guru Gumara, Harwati mampir.
Mampirnya dia kebetulan terlihat oleh Hura Gatali. Hura Gatali menyelidiki di bawah pohon randu
depan rumah Gumara. Harwati mengabarkan usulnya kepada ayahnya, agar sang guru
bersimpati padanya. Gumara berkata “Sebetulnya aku tak ingin melibatkan hal ini melalui
ayahmu. Tapi nyeri di kepala ini menyebalkan sekali”.
“Yang semacam mimpi aneh, pernah Pak Guru alami ndak?” tanya Harwati, Gumara hampir
menceritakan mimpinya yang dua kali, yaitu ketika dia mimpi Pita Loka di Bukit Kerambil disergap
kera dan mimpinya tentang Pita Loka yang terjebak dengan ahli-ahli sihir di Bukit Cangang.
“Yah, tak usahlah aku ceritakan”, ucap Gumara.
“Katakanlah, supaya ayahku dapat mempermudah pemecahannya”, kata Harwati.
“Mimpi itu mengerikan, semalam . . .. Ah, tak usah saya ceritakan. Mari kita berangkat ke
sekolah, sudah dekat setengah tujuh”, kata Gumara. Nah, ketika turun tangga rumah di
pekarangan, Hura Gatali yang penuh selidik itu pun mulai nguping. Dia mendengar percakapan
Gumara dan Harwati.
“Katakanlah mimpi Pak Guru itu”, ujar Harwati.
Saat itu Gumara kebetulan kurang kontrol. Penyakitnya kambuh. Dan dia bicara tanpa tahu
akibatnya, padahal dia ingin merahasiakannya agar orang-orang Kumayan tidak bertambah
jengkel pada Pita Loka atau Putih Kelabu.
Gumara bercerita, didengar baik oleh Hura Gatali “Begini, Wati. Tadi malam itu saya menjadi
yakin, bahwa Pita Loka sudah berguru pada ahli-ahli sihir dan teluh di Bukit Cangang!”
“Astagfir, ya Tuhan!”
“Dia berguru di sana, mungkin ilmunya kelak akan sejalan dengan Lading Ganda” Mendengar
ucapan ini, Hura Gatali yang sembunyi di balik pohon randu menjadi geram. Ditunggunya sampai
Gumara lewat dua langkah, lalu dia hantam dengan tendangan ke sudut pinggang.
“Aduh, sakitnya!” teriak Gumara. Dia seperti orang mabuk. Geraknya lamban . Dia hanya
menangkis tidak pernah menyerang. ia seperti satria mabuk. Tiga sampai lima kali tendangan
Gatali ditangkisnya jatuh bangun. Harwati menjadi murka sekali, lalu dia lepaskan tendangan
giling-tebu hingga Hura Gatali jatuh jungkir balik kayak orang bersalto. Hura Gataili jadi ragu.
Gumara seperti mabuk mendekatinya, dan menyodokkan kepalanya ke perut Hura dengan
lamban.
Kepala itu dipelintir oleh Hura.
Pelintiran itu menyebabkan Harwati dengan buas melakukan tendangan berbalik badan tepat
mengenai dada Hura Gatali. Darah kental menyembur seketika dari mulut pemuda yang sempat
dikenal sebagai Pahlawan Ular Sanca itu. Dia tersungkur. Lalu Harwati menggunakan
kesempatan itu menyeret tubuh gurunya sekuat tenaga, masuk kembali ke pekarangan rumah
Gumara.
Gumara tersenyum, lalu meronta minta dilepas. Dia macam orang gila merangkak memasuki
pintu rumah. Harwati kehilangan akal. Dia mau melihat dulu keadaan di luar. Di luar, di tempat
Hura jatuh muntah darah, dia pun tak ada lagi di situ!
Harwati kalang kabut kembali dia masuk rumah, dan didapatinya Gumara bukan duduk, tapi
macam binatang berkaki empat layaknya. Telapak tangan di lantai papan, dan dengkul pun
menekan lantai. Raut wajahnya macam orang bodo.
Harwati segera berlari kencang menuju rumah, Dengan nafas sesak, dia masuk rumah, “Ayah!
Ayah! Ayah!” Ki Lebai Karat tak di rumah. Ternyata beliau dengan lewat hutan kecil menempuh
jalan pintas yang begitu kencang langkahnya sampai merobohkan sekian pohon pisang, pohon
petai cina ataupun pohon akasia lainnya.
Dia tiba di rumah Gumara bagaikan harimau yang sedang cemas. Begitu dia masuk, didapatinya
Gumara menjulurkan lidah, Bengong. Macam binatang berkaki empat. Melihat kejadian itu,
teteslah airmata Ketua Harimau Yang Enam di Kumayan itu, dan menyergap Gumara dengan
pelukan erat “O, Peto Alam . . . Kenapa kau jadi menderita begini, nak?”
“He-he-he . . . . “
“Peto Alam!” bentak Ki Lebai Karat sembari terpaksa menampar Gumara agar segera sadar. Tapi
Gumara tersenyum lebar, seperti orang teler yang kesenangan disakiti;
“He-he-he . . . tuan Ki Karat ya?”
“O, Peto, bangkit dan berdirilah! Lawan musuhmu dengan kepala tegak!”, dan didekapnya kepala
Gumara. Diangkatnya untuk berdiri, tapi Gumara menjatuhkan dirinya lagi ke lantai bagai
binatang berkaki empat; “He, he . . . . “
Tampaklah kecemasan luarbiasa di wajah Ki Lebai Karat. Dibiarkannya Gumara begitu saja.
Orangtua itu lalu duduk di kursi, terperangah. Dia sedang memilih cara terbaik Menghancur-
luluhkan Ki Putih Kelabu . . . atau . . . mengobati Gumara lebih dulu. Untuk keduanya diperlukan
tindakan sportip. Lalu dilihatnya lagi Gumara. Hati Ki Karat hancur luluh tak tahan melihat Peto
Alam lebih gila dari orang gila, lebih pikun dari orang pikun, lebih teler dari orang mabuk.
“Gumara, sadarlah nak”” bentak Ki Lebai Karat. Bentakan dahsyat ini membuat Harwati tak jadi
masuk pintu. Dia, hanya mengintip lewat celah, memperhatikan apa yang diperbuat ayahnya.
Harwati melihat satu kejadian yang aneh. Dilihatnya ayahnya memeluk kepala Gumara,
membelainya dengan cucuran airmata, dan berkata “O, Peto Alam . , , sekiranya aku boleh
kembali pada ilmu kasar, aku mampu mengembalikan pikun kau ini pada pembuatnya.
Ah, kasihan aku melihat kau!”
Harwati bercucuran airmata babagia mendengarnya. Dia masuk tetapi kaget ketika ayahnya
mendadak berubah sikap menghapus airmata dengan cepat dan segera menjadi gugup namun
gagah.
Mendadak saja ayah itu meninggalkan Harwati dan Gumara. Dia kemudian menuju rumah Ki
Putih Kelabu, hal yang tak pernah diperbuatnya sebelumnya! Kesombongannya Karena dialah
ketua Harimau Kumayan ditanggalkannya. Dia sangat hormat ketika bertanya pada Ki Putih
Kelabu “Bolehkah hamba masuk?”
“O, tuan Ketua . . . kenapa tidak
Hati-hati ia duduk. Hati-hati ia berkata “Aku mohon pertolonganmu. Dengan segala kerendahan
hati, dengan sepuluh jari tanganku disertai satu kepalaku, kumohon kau obati si Peto Alam”.
Ki Putih Kelabu jadi terheran-heran melihat Sang Ketua begitu merendah. Dia jadi kebingungan.
Dan dengan nafas tersengal-sengal dia berkata menyerah
“Mungkin tuan Ketua tidak percaya, bahwa bukan saya membuatnya”.
“Kalau begitu aku mohon petunjuk”, ujar Ki Karat. Ki Putih Kelabu berada di persimpangan
pikiran. Jika diberinya petunjuk, Pita Loka puterinya tercinta akan menanggung akibatnya. Jika
ditolak, penolakan ini tidak sesuai dengan sifatnya yang dia punyai. Kalau berdalih, pasti Ki Karat
akan tahu alasannya dibuat-buat. Lalu dia Cuma bertanya “Kenapa tuan Ketua begitu
bersemangat membela nasib seorang yang tak ada kaitan darahnya dengan tuan?”
Di luar dugaan, itu membuat Ki Karat bukannya bersemangat, tapi mundur dan berkata “Kalau
begitu, baiklah aku akan atasi sendiri. Jika atap gagal diraih, terpaksalah anak tangga terbawah
yang kuperbuat. Kumaklumkan dari sekarang, kucopot kedudukanku sebagai Ketua. Aku terpaksa
menempuh anak tangga yang terendah”.
Dengan cekatan beliau pulang. Mandi kembang dan berkata “Harimau Tunggal aku terpaksa
melepaskan ilmu yang kau berikan, demi nyawa Peto Alam!”
Pada detik itu juga, di sebuah guha di Bukit Tunggal di tempat pertapaan nya, lelaki tua keriput
berambut putih tersentak dari duduk rapinya bersila.
Sebuah keris jatuh di hadapannya. Dibacanya huruf arab gundul pada gagang keris itu, tertera
nama Ki Putih Kelabu. Dan beliau cuma diam memegang keris itu. Gagangnya terbuat dari kayu
cendana mengering bagai areng pikulan. Dan batangan logam keris berukir itu meleleh hancur
berjatuhan di permukaan tanah.
Pada detik itu juga. Ki Lebai Karat dalam keadaan telanjang menebah dadanya sendiri, “Aku kini
Ki Gumilang yang dulu!”
Tindak-tanduknya jadi kasar. Dan ketika dia masuk ke rumah, dia dapati Harwati tersenyum-
senyum dan berkata “Dia sudah sembuh!”
“Apa kamu bilang?”
“Peto Alam yang ayah sayangi sudah sembuh. Saya kira dia sendiri yang menyembuhkan dirinya,
bukan saya dan bukan ayah”, ujar Harwati. Dan pada waktu makan malam, Harwati berkata
pada ayahnya, “Tahu ayah berita gembira yang perlu saya sampaikan?”
“Katakan, anak tolol” bentak lelaki tua yang kini merasa Ki Gumilang.
Hal pertama Hati saya luluh bahagia sewaktu ayah memeluk Gumara Dan hal kedua yang membahagiakan hatiku Cinta saya berbalas!”
“Apa katamu, goblok!”
“Dia membalas ucapan cinta saya. Dia juga berkata, bahwa dia bersedia melamar saya. Dan saya
akan dengan segera menjadi garwa atau isterinya. Oh, ayah, betapa bersyukurnya diriku sehabis
musibah ini
Ki Gumilang Jalang tersenyum menyeringai. Dia geleng-geleng kepala, lalu tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalau kau bahagia dua kali, malam ini kumaklumkan padamu, bahwa aku benci dua kali.
Pertama benci pada diriku sendiri, kedua aku benci pada Gumara. Malu aku kalau dia melamar kamu, Harwati!”
“Ayah, betapa takaburnya ayah!” seru Harwati.
Dan tiba-tiba lelaki tua yang amat dihormati itu membuat Harwati jadi ngeri. Sorot matanya
jalang. Biarpun dalam jarak jauh, seakan-akan mata ayahnya berkobar nafsu sampai Harwati
berteriak, “Ayah! Ayah akan jadi gila! Itu bukan sorot mata Ki Lebai Karat yang mulia! Sorot mata
ayah adalah sorot mata lelaki pejantan yang suka melacur!”
Ki Gumilang bukannya jadi malu karena ucapan puterinya. Dia malah mendekat ingin meraih
rambut Harwati, tapi gadis itu segera melakukan tindakan cepat memutar tubuh dan menyepak
ke belakang sampai Ki Gumilang terjungkal setelah telapak Harwati mengenai dadanya.
“Baik, aku kalah”, kata lelaki tua itu.
“Nikahkan saya segera dengan Gumara!”
“Oh, itu boleh saja”, ujar Ki Gumilang.
Dan dengan nada terharu, Harwati berkata, “Terimakasih untuk ayah. Terimakasih untuk Ketua
Harimau Yang Enam atas dikabulkannya permohonan ini. Tapi kapan ayah menerima Guru
Gumara Peto Alam untuk melamar saya?”
“Pertama akan kujawab dulu soal yang sulit untuk dirahasiakan lagi. Kau tentu sudah melihat
bahwa ayahmu sudah berubah”, kata lelaki tua itu.
“Memang hari ini saya lihat ayah halus, tapi kepadaku berubah kasar, Toh ayah sayang pada
Gumara, dan sayang pada saya. Buat apa lama-lama ditunda perkawinan kami?” tanya Harwati.
“Perlu kau ketahui mengapa aku berubah watak?”
“Tidak perlu, yang perlu kawini kami segera”, ujar Harwati.
“Itu soal ringan. Tapi soal pelik yang menggoncang jiwaku sekarang ini mesti kau ketahui. Dulu,
ataupun malam ini, pada hakikatnya aku tak sudi kau mencintai Gumara, begitu pun aku tak sudi
Gumara mencintai kau, Apalagi Gumara kawin dengan kau!”
Harwati terdongak mendengarnya. Dia cepat membalik dan menuding.
”Kenapa ayah tidak semulia dulu?”
“Karena aku tak patut dimuliakan lagi. Tanyalah pada Ki Putih Kelabu, bahwa aku telah mencopot
gelar Ketuaku di Kumayan ini. Hanya karena Gumara. Lalu, apa masuk akal kalau lamarannya
kuterima?”
“Lidah ayah kini bercabang! Harimau yang aku segani, ayah yang aku hormati, kini lidahnya tak
dapat dipercaya lagi. Sebentar setuju, sebentar menolak. Di mana pendirian ayah yang Grafity,
sebenarnya?”
Lelaki tua itu hanya diam. Hatinya sedang membeku, Lalu secara mendadak dia tarik kaki kursi
kecil dan dia lempar kursi itu pada Harwati. Harwati kaget ketika ayahnya meloncat mau
menerkam dia. Dia terpaksa mengeluarkan tangkisan dengan tendangan melurus ke leher
ayahnya sampai ayahnya tersungkur. Tapi, kali ini sang anak terheran-heran. Pencak silat itu,
yang diajarkan ayah, sepertinya tak mampu ditangkis ayah, Kenapa? Jiwanya berubah, raganya
pun tidak memperlihatkan kemampuan bersilat seorang Ketua. Apalagi Ketua Macan. Dan
Harwati tambah kaget karena dilihatnya ayahnya pingsan! Jagoan pingsan?
Dan ternyata kemudian, sebelah badan ayahnya lumpuh. Harwati kuatir ilmu ayahnya yang dulu
itu sudah pudar. Mungkin sebagaimana ilmu itu rumah yang dikontrak penghuninya,
penghuninya pergi karena kontraknya habis.
Pagi buta, Harwati mendatangi Gumara. Gumara senang dan mengulangi ucapannya kemarin
“Terimakasih karena kamu yang pertama ketika saya sadar dari kemabukan aneh itu. Tapi tentu
terimakasih pada ayahmu yang baik hati. Dan barusan saja pergi Ki Putih Kelabu dari sini setelah
menjenguk saya”.
“Apa perlunya Putih Kelabu ke sini?” tanya Harwati.
“Mulanya kedatangannya ingin mengobati saya. Namun setelah dilihatnya saya segar bugar, dia
malahan heran. Setelah mengucapkan selamat sembuh, dia pergi. Barusan saja dia pergi”, ujar
Gumara.
“Hampir aku curiga atas kedatangannya”, kata Harwati.
“Apa lagi yang perlu kau curigai. Toh sebentar lagi aku menjadi suamimu dan kau jadi isteriku”.
Harwati tersenyum senang, lalu bertanya “Apakah tidak sebaiknya segera melamar?”
“Tak usah terburu-buru”, kata Gumara.
“Tapi ada kabar sedih. Ayahku lumpuh. Badannya mati sebelah. Aku kuatir ayah berlarut dan
mati, kita kehilangan waktu perkawinan yang tepat”, kata Harwati. Gumara tercengang
mendengar ayah Harwati bisa menderita sakit badan mati sebelah, Tapi Harwati tidak
menceritakan kejadian yang sesungguhnya.
“Kalau begitu aku perlu menemui beliau”” ujar Gumara.
“Maka pagi ini aku ke sini agak kepagian. Sebab selain hari ini hari Minggu, juga ayah sudah
memin
“Wah, kalau begitu sekarang sajalah kita ke rumahmu”, ujar Gumara.
Tak ada hal yang lebih menyenangkan bagi Harwati kecuali sikap Gumara Minggu pagi ini! Dia
memang tidak ingin terlambat, takut keduluan Pita Loka saja! Ya, siapa tahu Pita Loka mendadak
kembali dari perguruan sihir, lalu merebut hati Gumara dengan caranya sendiri?
Dan kedua pasangan insan itu melangkah. Jalan sunyi. Kesunyian itu bertambah lagi sunyinya
karena udara berkabut berhubung tibanya musim panas dl kawasan Kumayan. Harwati tiba-tiba
merasa perasaannya tak enak. Dia berbisik sembari memegangi lengan Gumara “Aku tiba-tiba
ngeri”.
Barulah saat ini Gumara menemukan pertanyaan yang selalu mengganggunya. Sejak tiba di
Kumayan yang dia teruji oleh beberapa orang lawan. Tapi semua bisa diatasi. Yang
mengherankannya ketika dihajar oleh Hura Gatali tempohari, dalam keadaan seperti teler dan
mabuk, dan masih bereaksi, cuma lamban. Tapi serangan Hura Gatali yang mengenai tubuhnya
tidak sakit. Seperti tidak lukanya dia dibacok golok sakti Lading Ganda di Bukit Menyan.
“Kaulah orang yang memberi jawaban dari pertanyaanku sejak kanak. Kenapa aku pandai
mengelak jika diserang. Yah, mungkin saja ini warisan dari ayahku”.
“Siapa ayahmu?” tanya Harwati.
“Aku cuma kagum cerita ibuku mengenai ayahku. Tapi tentu dia orang sakti. Ilmunya pasti
tinggi, sedemikian tingginya dia warisi pada diriku, kemungkinan ketika aku masih dalam
kandungan ibuku”, suaranya gembira, dan tanpa mereka sadari telah sampailah mereka ke
padepokan Ki Lebai Karat.
Begitu masuk ke rumah memberi salam, Gumara mempunyai perasaan bahwa rumah ini seperti
sedang mengalami perubahan. Entah apanya yang berubah. Dan dia terkejut melihat ayah
Harwati terbaring. Lalu disapanya ramah orangtua yang badannya mati sebelah itu.
“Jangan kalian berdua kuatir. Aku akan sembuh dan kuat perkasa lagi seperti masa mudaku. Apa
maksud kedatangan kau ke sini Peto Alam?”
“Pertama saya ingin menjenguk tuan yang sakit”, kata Gunnara.
“Lalu apa lagi, Peto Alam?” tanya ayah Harwati.
“Dia ingin melamar saya pada ayah”, potong Harwati yang tak sabaran. Sang ayah menatap
berang pada Harwati
“Kau sebaiknya tak mendengar kata-kata lamaran Gumara. Jika kau tak ngeri kesakitan kau tidak
akan luntur, ikuti nasehat ayahmu Kau keluar. Tinggalkan kami berdua. Dan jangan sekali-sekali
mengintip atau nguping apa yang kami bicarakan, mengerti?!”
“Mengerti, ayah”, ujar Harwati.
Dia sungguh-sungguh menepati janji. Dia malahan pergi ke sebuah kebun jeruk dan menikmati
keharuman limau-limau ranum itu.
“Aku hargai kau, Peto Alam, sebagai pria bujangan, bicara langsung melamar puteriku. Tapi aku
pun ingin menjawabuya secara jantan AKU MENOLAK LAMARANMU DAN TAK KURIDOI
JIKA KALIAN BERDUA KAWIN LARI”
Gumara terperangah. Airmatanya berlinang. Tapi anehnya, jiwanya tenteram dan langkah mereka berdua makin hati-hati. Derak suara dahan yang terpijak seakan menimbulkan gema. Kadangkala keduanya berhenti karena keraguan akan sesat. Mendadak Gumara merinding. Dan berbisik; “Bau apa yang kau rasakan?”
“Bau bangkai”, ujar Harwati. “Tentu ada salah seorang tua di sekitar sini”, ujar Gumara. Harwati mendadak merinding lagi. Dipegang eratnya lengan Gumara, lalu dia berbisik “Kau rasakan bau menyan?”
“Ya, bau setanggi”, ucap Gumara. “Kita berhenti dahulu”, ucap Harwati gemetaran.
Dia belum pernah segemetar pagi berkabut begini. Tadi pun sudah ada kabut ketika dia ke
rumah Gumara, lewat jalan ini juga. Tapi kini tambah tebal. Dan itu mempertebal kengeriannya kini !
“Ada bayang sosok mendekat”, bisik Harwati. Gumara berdiam diri. Mendadak angin kencang berhembus ketika bayangan sosok manusia mendekat itu semakin dekat. Kabut terusir oleh derasnya angin. Dan makin nyatalah siapa yang mendekat itu. “O, Kau, Hura Gutali”, ujar Gumara geram. “Apa yang kau mau lakukan?”
“Aku, bersama seluruh murid yang setia ke Ki Cangan siap menghabisimu. Dan kau harus tahu, ahwa Pita Loka sekarang sudah sealiran dengan kami. Kau berdua perlu dihabisi”, kata Hura Gutali.
“Ingatlah kau Jagoan muda usia. Bahwa siapa pun manusianya, di Kumayan ini harus mengenal pantangan. Disini pantang berdemdam,” ujar Gumara, yang mendadak dilihat Hura Gutali menjelma menjadi seekor harimau. Tapi Gumara sendiri tidak menyadari dirinya berubah bentuk. Geraknya bagai siap untuk menerkam. Dan Hura Gutali ingin mengalihkan perhatian Gumara dengan jalan seakan-akan hendak menerkam Harwati. Ketika Hura Gatali siap untuk melakukan, tendangan suara mengaum yang mengerikan Gumara sekaligus menerkam Hura Gutali. Hura Gutali berteriak kesakitan terkena cakaran, dan dengan meraung-raung kesakitan di melarikan diri. Sementara itu Harwati hanya berdiam diri bagai patung.
“Heran, ilmu apakah yang kau punyai sehingga dia meraung setelah kau serang”, kata Harwati. “Ilmu rasional saja, tanpa mantera. Ada aksi, ada reaksi. Tindakanku tadi diluar dugaanku, diluar kemauanku, datang saja secara mendadak”, kata Gumara. Cepat Harwati berkata, “kalau begitu ilmumu diwarisi ketika anda lahir. Jadi tanpa menuntut-nuntut!”
Lelaki tua itu batuk-batuk sejenak. Lalu, “Mari kulanjutkan alasanku menolak lamaran, Pertama kedatanganmu menemuiku karena disuruh ibumu, bila ke Kumayan, kau harus pertama kali menemuiku. Kau tahu, ibumu adalah wanita yang paling cantik? Dia bukan isteriku. Dia isteri seseorang yang malah tidak aku kenal. Dan ketika namaku termashur sampai jauh ke luar Kumayan, ibumu muncul ingin berobat padaku karena katanya dia mandul. Ingat, namaku ketika itu Ki Dukun Gumilang. Aku pada mulanya bukan berniat cabul pada ibumu. Tapi aku maupun dia, begitu saling pandang pertama kali, sama-sama jatuh cinta. Demikianlah, tiap dia berobat
padaku, kami melakukan hubungan gelap. Harap kau jangan sedih, itu semua bukan atas kemauanku. Lalu dia hamil. Sejak hamil tua dia tak ke sini lagi hingga hari ini. Sempat aku pesan padanya, agar kalau dia melahirkan, berilah nama anaknya Peto Alam. Tapi entah bagaimana dia menambah nama itu menjadi Gumara Peto Alam. Dalam bahasa kami di sini, dalam kamus kuno, Peto artinya Putera. Jadi Gumara adalah putera alam. Tapi kenapa kau tidak sedih?” Gumara berdiam diri. Dia terus berdiam diri. Tapi dalam diam itu jantungnya bergerak teratur, dan batinnya menyatakan ingin mengobati Ki Lebai Karat dan ingin mengembalikan wibawanya. Lalu dia menoleh pada Ki Lebai Karat. Lelaki tua itu terheran-heran, “Izinkan aku menyebut tuan dengan sebutan Ayah. Aku tak menolak takdir ini. Kuterima takdir ini. Coba bangunlah ayah, semoga ayah telah kusembuhkan”.
Ki Lebai Karat tercengang. Dia langsung bisa duduk. Dan tetap tegar berdiri. “Bagaimana caranya melunakkan hati Harwati? Bukankah dia adikmu, biarpun adik tirilah namanya namun dia sedarah denganmu, sama-sama titisanku!”, ucap Ki Lebai Karat.
“Akan kurubah secara berangsur lewat kekuatan batin yang kini makin yakin aku, bahwa ini kumiliki sebagai rahmat Maha Pencipta Alam, secara gaib. Ayah tak perlu merisaukannya. Aku akan mencoba secara sabar dan berangsur-angsur agar cintanya padaku pupus perlahan.” Gumara semakin tenang. Juga dia tenang tanpa haru ketika Ki Lebai Karat, ayah kontannya, memeluknya erat. Dan ketika itulah Harwati masuk lagi dan mendapatkan Gumara dan ayahnya sedang berpeluk erat. Dia tentu mengira, lamaran Gumara diterima ayahnya. Padahal perkiraan itu meleset. Perkawman itu tidak akan terjadi, tidak pernah akan dia alami, selama-lamanya. Ketika Gumara pamitan, Harwati melepas kepergiannya dengan hati yang sangat-sangat bahagia. Ki Lebai Karat pun lega saat itu, dan beliau pantas merasa bahagia yang paling bahagia da!am hidupnya.
TAMAT
(Berlanjut ke episode: Misteri Tirai Setanggi)
Grafity, http://admingroup.vndv.com