15th Amendment

sumberbelajarsmkn10malang:

remember to histories is the great natiom

Originally posted on Nexus:

bhm15thamendmentcelebration

Today is the anniversary of the ratification of the Fifteenth Amendment in 1870, the amendment securing the right of black males to vote, though the word black is not mentioned in the amendment itself.

During Reconstruction, the period right after the Civil War, the Thirteenth Amendment abolishing slavery and the Fourteenth Amendment granting citizenship to all who are born here were ratified. Though the Reconstruction Acts passed by the Radical Republicans in 1867 required confederate states to include black male suffrage in their reconstituted constitutions, the majority of northern states still continued to deny blacks the right to vote. This hypocrisy truly riled the white south.

In 1867, the Republicans’ once large lead over the white supremacist Democratic party was shrinking, threatening a loss of their control of congress. The Republicans felt if they could make sure that blacks could vote in all the states, their hold on power would…

View original 391 more words

PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Agar budaya dan iklim sekolah kondusif dan tercipta harmonisasi kerja, di sekolah perlu dibangun suasana keterbukaan, obyektivitas penilaian, dan tentunya upaya mewujudkan kesejahteraan anggota. Berilah penghargaan yang sesuai untuk guru, karyawan dan siswa yang benar-benar pantas untuk mereka terima sebagai hadiah atas usaha dan hasil kerja mereka. Dengan pendekatan manusiawi, saling asah-asih dan asuh sangat diyakini kepemimpinan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif akan tercapai dan hal ini akan sangat menunjang pencapaian tujuan sekolah yang telah ditetapkan.

via PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN.

Potensi TIK dalamPembelajaran

Perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat

dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas, segala aktivitas, kehidupan, cara kerja, metode belajar, gaya hidup maupun cara berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan TIK harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka mempunyai  bekal  pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari, bahkan bisa juga dikembangkan menjadi kegiatan wira usaha.

Manusia secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa

memanfaatkan TIK secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan

menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. Siswa yang telah mengikuti dan

memahami serta mempraktekkan TIK akan memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk

memahami berbagai TIK dan menggunakannya secara efektif. Selain dampak positif, siswa

mampu memahami dampak negatif, dan keterbatasan TIK, serta mampu memanfaatkan TIK

untuk mendukung proses pembelajaran dan memanfatkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan semakin banyaknya situs pertemanan seperti facebook, twitter, friendster, dan

myspace membuat komunikasi dan saling bertukar informasi semakin mudah. Belum lagi

semakin menjamurnya tempat membuat blog gratis di internet seperti wordpress, blogspot,

livejurnal, dan multiply. Membuat kita dituntut bukan hanya mampu mencari dan

memanfaatkan informasi saja, tetapi juga mampu menciptakan informasi di internet melalui

blog yang kita kelola dan terupdate dengan baik. Di sanalah muncul kreativitas menulis yang

membuat orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan yang kita buat. Namun sayangnya,

kebiasaan menulis dan membaca belum menjadi budaya masyarakat Indonesia, termasuk

guru dan siswa di sekolah. Para guru TIK dituntut agar para peserta didiknya mampu

memanfaatkan TIK untuk mengembangkan kreativitas menulis.

Pendidikan sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan pembahuruan-

pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman. Keberhasilan dalam pendidikan selalu

berhubungan erat dengan kemajuan suatu bangsa yang berdampak meningkatnya

kesejahteraan kehidupan masyarakat. Pada era teknologi tinggi (high technology)

perkembangan dan transformasi ilmu berjalan begitu cepat. Akibatnya, sistem pendidikan

konvensional tidak akan mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.

Pendekatan-pendekatan modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu untuk

Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran, yaitu:

Learning to know (belajar untuk menguasai. pengetahuan)
Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ),

Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri), dan

Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat).

Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini, para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah.

Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan  TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:

(1) dari pelatihan ke penampilan,

(2) dari ruang kelas ke, di mana dan kapan saja,

(3) dari kertas ke “on line” atau saluran,

(4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, dan

(5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan  dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik beajar secara aktif.

Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin popuper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:

(1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi,

(2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,

(3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.  Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, video tape, transmisi satellite atau komputer (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).

Saat ini e-learning telah berkembang dalam  berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruc-tion), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dan sebagainya.

Selain e-learning, potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library.  Adanya laboratorium virtual (virtual lab) memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik, tetapi dengan menggunakan media komputer. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut.

Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. Globalisasi juga membawa peran yang sangat penting dalam mengarahkan dunia pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Sebenarnya, ada empat level pemanfaatan TIK untuk pendidikan menurut UNESCO, yaitu:

Level 1: Emerging - baru menyadari pentingnya TIK untuk pendidikan;

Level 2: Applying – baru mempelajari TIK (learning tom use ICT);

Level 3: Integrating – belajar melalui dan atau meng-gunakan TIK (using ICT to learn); Level 4: Transforming – dimana TIK telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum.

Salah satu bentuk produk TIK yang sedang “ngetrend” saat ini adalah internet  yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.

Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian, maka  pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat  tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama.

Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul “Rebooting: The Mind Starts at School”. Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai “cyber classroom” atau “ruang kelas maya” sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut “interactive learning” atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Anak-anak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. Dalam situasi seperti ini, guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas.

Robin Paul Ajjelo juga mengemukakan secara ilustratif bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini,  akan tetapi berupa: (1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel, yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan, materi untuk dilihat atau didengar, dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara,

(2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi, uang elektronik, kode sekuriti untuk masuk rumah, kalkulator, dsb.

(3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak, akses internet, permainan, musik, dan TV,

(4) alat-alat musik,

(5) alat olah raga, dan

(6) bingkisan untuk makan siang.

Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar.

Namun sayangnya, di negeri kita yang kaya ini, dan terdiri dari berbagai pulau, hal di atas masih seperti mimpi karena struktur dan kultur serta SDM guru yang profesional belum merata dengan baik. Di berbagai kota besar seperti Jakarta misalnya, beberapa sekolah maju dan internasional telah mengaplikasikannya, tetapi buat sekolah-sekolah di daerah, mungkin masih jauh panggang dari api dalam mengaplikasikan TIK.

Meskipun TIK dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Terkadang anak-anak lebih senang bermain games ketimbang materi yang diberikan oleh guru. Karena games sangat menarik peserta didik untuk rehat sejenak dari segala pembelajaran yang diterimanya di sekolah. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dan sebagainya.

Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing

Rahasia Kitab Tujuh, Motinggo Busye

Sejak ribuan lebah itu berhasil diusir oleh Pita Loka secara ajaib. Penduduk Kumayan merasa berhutang budi padanya. Tiap hari ada saja di antara penduduk yang datang ke rumah Pita Loka membawa beras, telur, padi, tebu, kelapa, minyak tanah, bahkan uang sebagai ucapan terimakasih Ki Putih Kelabu melihat perubahan gelagat Pita Loka setelah kehadiran tamu-tamu itu. Lalu dia menegur puterinya: “Pita Loka, sikapmu berubah jadi angkuh kepada mereka. Bukankah sikap itu tidak baik?”
“Memang itu saya sengaja, ayah”, sahut Pita Loka.
“Disengaja? Ah itu lebih buruk lagi” ujar Ki Putih Kelabu.
“Tapi akan lebih buruk lagi apabila terlalu saya layani penghormatan mereka. Saya akan
dikultuskan mereka menjadi Manusia Sakti. Padahal saya tidak memiliki apa-apa. Kecuali menjadi manusia biasa”. Ki Putih Kelabu tampak kecewa. Memang hari demi hari, setelah diselidikinya segala tingkah laku Pita Loka, puterinya tidak memperlihatkan perilaku yang ganjil-ganjil. Kembalinya dari Guha Lebah dan pernah termashur karena dianggap berhasil dalam ngelmu, lalu berhasilnya dia mengusir ribuan lebah yang sempat membuat penduduk Kumayan lumpuh dalam sakit dan panik itu, seakan-akan suatu peristiwa “biasa” saja. Yang paling mengejutkan Ki Putih Kelabu dan orang-orang di hari-hari belakangan ini adalah kegiatan Pita Loka mengurus legalisasi sekolahnya. Dia mundar-mandir ke Kakanwil PDK di Kumayan untuk mendaftarkan diri ikut ujian masuk ke SMA yang dibangun didesa itu.
“Kau mau bersekolah lagi, nak?” tanya sang ayah. “Lho, apa itu tak wajar?” tanya Pita Loka pada sang penanya. “Kau akan menjadi cerita dari mulut ke mulut bila bersekolah lagi”, ujar sang ayah, “Padahal di desa kita ini nama keluarga kita sedang naik. Dihormati. Dan terutama kau, sedang disegani”.
Percakapan itu terhenti, karena ada tamu.
“Itu Ki Lading Ganda bertamu lagi, ayah”, ujar Pita Loka, “Jika dia akan bertemu denganku, katakan aku sibukbelajar untuk ujian”.
“Baik”. kata ayah. yang lantas menuju beranda menyambut kedatangan Ki Lading Ganda. Setelah dipersilahkan duduk. Ki Lading Ganda bertanya: “Mana Ki Pita Loka?”
“Ki Pita Loka? Anda menyebutnya dengan Ki dihadapan namanya?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Memang kini, mau tak mau, kita musti mengakui dia sebagai seorang Guru. Jadi pantas dia disebut Ki Pita Loka. Karena dia puteri anda, maka anda menganggap Ki Pita Loka sebagai manusia biasa-biasa saja. Padahal dia salah satu orang sakti di Kumayan ini. menggenapi yang enam. Aku merasa, karena yang enam telah berkurang satu, maka dia setidaknya menggantikan kedudukan Ki Karat untuk menjadi Ketua kita. Jabatan ini kuanggap wajar, dan aku telah merembugkannya dengan tiga harimau Kumayan lainnya”. Ki Putih Kelabu sebetulnya tak dapat mengelak kenyataan yang dikemukakan oleh Ki Lading Ganda ini. Dia tercenung beberapa saat, kamudian berkata: “Dia sulit untuk diajak berunding!” “Memang begitulah watak dari tiap Guru Besar. Puterimu itu Guru Besar, bukan sekedar anak perawan biasa”, kata Ki Lading Ganda. “Tapi bagaimana akalku?” tanya Ki Putih Kelabu. “Panggil dia! Katakan Ki Lading Ganda ingin bicara sebentar dengan Guru Besar Pita Loka yang dia hormati!” Ki Putih Kelabu lalu masuk ke kamar Pita Loka. Memang Pita Loka sedang menghadapi beberapa buku. Pita Loka bertanya: “Sudah pulangkah Ki Lading Ganda ayah?” “Belum. Dia mohon menghadap kau!” “menghadap? Apa saya ini orang berkedudukan tinggi sampai seorang Ki Lading Ganda mau menghadap saya? Ah, katakan aku sibuk, ayah?” Ujar Pita Loka dan mulai menekuni buku Fisika. “Aku telah gagal membujuknya”, kata Ki Putih Kelabu.
“Tapi ini penting. Katakan pada Guru Besar itu, bahwa desa Kumayan sedang terancam. Katakan pada beliau,aku butuh seorang penafsir mimpi. Dan itu tidak lain kecuali Ki Pita Loka”, kata Ki Lading Ganda serius. Setelah memberitahukan pada Pita Loka. barulahah Pita Loka keluar dari kamarnya, lalu menerima tamunya. Sang Tamu, salah seorang dari Enam Harimau Kumayan, menghatur sembah pada Pita Loka. Lalu dia menceritakan mimpinya itu.
“Seorang wanita berpedang emas, menyatakan diri sebagai Ki Ratu Turki, memaklumkan akan menyerang lima harimau Kumayan serta keturunannya. Saya hanya ingin tahu takwil dari mimpi ini”, kata Ki Lading Ganda.
“Sebenarnya yang ahli mimpi itu Guru Gumara”, kata Ki Pita Loka. Ki Lading Ganda maklum, bahwa ucapan Ki Pita Loka itu adalah pengertian lain yang halus, bahwa dia menolak ajakan itu. Tapi dia tidak boleh berkecil hati, selagi hatinya masih menganggap Ki Pita Loka sebagai “Guru Besar”. Dengan kecewa, dia menyatakan pamit. Namun sempat bertanya: “Di mana Guru Gumara sekarang ini?”
“Seingat saya terakhir kali dia berada di Bukit Lebah. Setelah itu saya tidak tahu beliau pergi ke mana”.
“Desa kita semakin aneh. Tiga hari yang lalu ada seorang lelaki compang-camping. Duduk di gardu. Aku menyapanya. Dia diam. Gerak-geriknya memperlihatkan dirinya seorang yang berilmu”.
Ki Pita Loka tertarik, lalu bertanya: “Bapak tidak menanyakan namanya?” Grafity,  “Ada”.
“Siapa namanya?” “Disebutnya Dasa Laksana. Melihat nama begini, aku makin yakin dia orang berilmu, setidaknya sedang ngelmu. Atau menyamar”. “Dia menanyakan sesuatu?” tanya Pita Loka.
“Justru pertanyaannya inilah yang kuanggap ada kaitannya dengan mimpiku itu”, kata Ki Lading Ganda, yang kali ini dipersilahkan duduk kembali oleh Pita Loka. “Apa yang dia tanyakan?” tanya Pita Loka. “Alamat pemilik Kitab Tujuh”, jawab Ki Lading Ganda. “Itu saya baru dengar”, kata Pita Loka. “Tapi apa jawab Bapak?” “Saya tak menjawabnya. Itulah sebabnya saya ke sini. Kau yang telah berhadapan dengan Ki Tunggal, Ki Rotan maupun Ki Ibrahim Arkam, setidaknya pernah mendengar nama Kitab Tujuh itu. Dan pengembara tak dikenal itu minta dengan sopan kepadaku. agar diizinkan mendapatkan sebatang tebu merah di kebun Katib Endah. Kuizinkan saja. Lalu dia numpang tidur di gardu itu.Tapi keesokan harinya dia menghilang. Lalu aku bermimpi bertemu dengan Ki Ratu Turki yang berpedang, yang mengumumkan akan menyerang Kumayan dan menghabiskan lima Harimau Kumayan serta keturunannya!”
Wajah Ki Lading Ganda berkeringat pertanda dia tak berdusta.
“Semoga saja dalam waktu tak lama, Guru Gumara sudah berada di Kumayan”, kata Pita Loka. “Aku mengusulkan, antara kau dan dia dijalin satu perkawinan yang syah. Supaya desa kita menjadi kuat karena dipagari oleh 7 harimau”, kata Ki Lading Ganda dengan nada memohon. Pita Loka hanya tersenyum simpul. Lalu Ki Lading Ganda melanjutkan: “Perkawinan itu akan direstui seluruh guru di Kumayan, dan, kukira Ayahmu yang terhormat ini. Bukan begitu Ki Putih Kelabu?” dan ditatapnya Ki Putih Kelabu, yang melirik pada Pita Loka.
“Jika memang itu jodoh. tak ada persoalan”. kata Ki Pita Loka jujur.
“Aku berani menyatakannya, karena sebelum Ki Gumara meninggalkan Kumayan, dia berpamitan kepada Lima Harimau di sini, terakhir padaku. Dia menyebutkan, dia minta restu karena akan menjemput Pita Loka dan adiknya, Harwati. Kami menafsirkan, bahwa islilah menjemput kau itu berarti akan melamarmu dan memperisteri anda. Dan Harwati kuanggap sebagai pengiring calon pengantin. Bukankah akan menjadi hebat, keturunan Ki Karat menjalin hubungan darah dengan keturunan Ki Putih Kelabu?” “Baiklah itu kita bicarakan di kemudian hari. Sekarang ini saya akan siap ujian masuk ke SMA. Lebih tiga tahun saya tak menyentuh buku pelajaran sekolah. Hal ini sama pentingnya dengan maklumat penyerbuan Ki Ratu Turki dalam mimpi tuan itu, Tuan Guru Lading Ganda”. Grafity,  “Jadi saya pulang hampa, tanpa membawa takwil mimpi itu?” tanya Ki Lading Ganda.
“Sudah saya anjurkan tuan bersabar sampai kembalinya Guru Gumara”, kata Pita Loka.
“Jika dia tidak kembali?” tanya Ki Lading Ganda. “Kita berpegang pada pepatah nenek moyang saja:
“Musuh pantang dicari, tapi jika datang pantang dielakkan”. Bukan begitu, ayah?” Pita Loka menoleh pada ayahnya, yang kemudian mengangguk-angguk ta”zim…
“Jadi wajar, Ki Putih Kelabu, jika saya menyebut puteri tuan ini sebagai Guru Besar. Guru besar hanya mengurus soal-soal yang besar. Tapi maaf, Ki Pita Loka . . . saya pun tidak bisa memperoleh pengetahuan mengenai Kitab Tujuh?”
“Kitab Tujuh?” Pita Loka kembali bertanya, “Saya malah baru mendengarnya sekali ini, dari anda!
Tidak anda tanyakan perihal Kitab Tujuh itu kepada orang pengembara itu?”
“Rasanya, tidak perlu. Kalau dia mencari kitab itu ke Kumayan sini, itu berarti kitab itu ada di sini”, kata Ki Lading Ganda. Mendengar itu Pita Loka tersenyum. Bahkan memberi jawaban yang secara disengaja mengecewakan: “Biarpun di sini, misalnya, saya tidak tertarik dengan masalah-masalah kesaktian lagi. Lebih seribu hari saya tekun dalam dunia begitu”.
Setelah perginya Ki Lading Ganda, terjadilah pertengkaran. Ki Putih Kelabu mengecam Pita Loka:
“Kau merendah. Kadang, merendah yang berkelebihan sama saja denqan sikap tinggi hati!”
“Itu perasaan ayah. Orang perasa selalu kurang suka berfikir”.
“Kau anggap aku goblok?” tanya sang ayah.
“Memang begitu. Otak ditaruh Tuhan letaknya dalam kepala. Kepala di atas. Dan hati, dalam dada. Letaknya dibawah kepala. Saya ingin penduduk Kumayan ini, termasuk ayah dan Ki Lading Ganda lebih mengutamakan otak dari hati. Biarpun hati berkata begini begitu, tapi yang memutuskan haruslah otak. Di bagian yang tertinggi dari hidup manusia”, kata Pita Loka. Tapi gadis ini menyesal melihat ayahnya murung di sore hari itu. Dan untuk mengobati hati ayah yang luka, malamnya dia suguhi makanan lezat yang ia masak sendiri dengan tekun. Ayahnya berlinang airmata ketika menikmati hidangan malam. Tapi muncul lagi tamu. Lagi – lagi, tamu itu Ki Lading Ganda. Perubahan tampak pada sikap menerima tamu yang diperlihatkan Pita Loka. “Lelaki aneh itu muncul lagi”, kata Ki Lading Ganda.
“Di mana dia?” tanya Pita Loka kaget. “Di gardu itu”.
“Apa katanya?”  “Dia minta padaku, agar dia diperkenalkan pada Ki Pita Loka”, ujar sang guru.
“Ah, saya tak kenal dia”“. ujar Pita Loka berdusta.
“Anda tak kenal manusia yang bernama Dasa Laksana?”
“Baiklah, tapi apa kepentingannya?” tanya Pita Loka.
“Dia akan menyampaikan suatu pesan. Dan itu harus tuan guru sendiri yang mendengarnya”.
kata Ki Lading Ganda. Mendengar ucapan itu, meremang bulu kuduk Pita Loka. Dia lalu bertanya: “Di mana dia sekarang?”
“Masih di gardu” kata Ki Lading Ganda.
“Baik. Saya akan ke sana ”, kata Ki Pita Loka.
“Bersama saya?”
“Tentu. Bersama tuan guru”, kata Ki Lading Ganda. Pita Loka lalu berkata pada ayahnya : “Sebaiknya ayah tak ikut”.
Ki Putih Kelabu tentu merasa kecewa. Pita Loka berjalan dengan langkah tegap bersama Ki Lading Ganda. Menjelang sampai ke gardu, dia melihat begitu banyak anak-anak dan orang dewasa yang berkumpul. Pita Loka memberi isyarat agar mereka menepi. Dan mereka patuh. Yang  didapatinya adalah Dasa Laksana yang tubuhnya amat kotor dengan pakaian hitam compang – camping. Begitu Dasa Laksana melihat kehadiran Ki Pita Loka, dia langsung menyeruduk ke kaki dan mencium jari-jari kakinya seraya berkata: “Ampuni saya, Guru. Saya ke sini sekedar lewat. Dan ingin memberitahukan, bahwa Ki Ratu Turki akan menyerang desa ini secara mengerikan!”
“Siapa dia?” “Anda lebih tahu, Guru!” “Jika anda bertemu dengan dia, pesankan padanya agar dia membatalkan maksudnya sebelum dirinya celaka”, wajah Pita Loka berubah menjadi penuh wibawa karena dipenuhi perasaan sabar yang berjuta. “Dia akan merebut Kitab Tujuh itu”, kata Dasa Laksana lagi. “KITAB TUJUH?” Pita Loka terheran. “Hanya anda yang mengetahuinya. Tapi juga Ki Ratu Turki?”. “Baik. Kalau demikian, kamu akan meninggalkan Kumayan. Silahkan berangkat”. “Tapi saya memohon sesuatu”, kata Dasa Laksana. “Mohonlah pada Tuhan. Jangan pada saya. Saya manusia biasa”, ujar Pita Loka. Ucapannya ini disambut orang-orang dengan dengung suara kagum. Mereka kagum. orang yang mereka kenal sakti, hanya mengaku manusia biasa. Namun telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa dia begitu dihormati, bahkan oleh Ki Lading Ganda yang terkenal sombong itu, yang bertindak jadi pengawalnya malah. Sementara itu, bagai seorang sinting yang jadi tontonan rakyat. Dasa Laksana mengunyah tebu dan pamitan lagi. Secara menyembah di duli kaki Pita Loka. Dia kemudian berlalu diiringi anak-anak dan orang dewasa. Ternyata dia belum meninggalkan Kumayan. Sebab dia pergi ke Bukit Kumayan yang terdiri dari batu-batuan menyan yang memancarkan bau harum menusuk hidung. Batu-batuan menyan itu memancarkan sinar oleh kerlipan pecahan sudut-sudutnya. Beberapa orang mulai meninggalkan dia. Tapi malam itu muncullah Ki Lading Ganda yang menggertaknya: “Hai, bukankah kau mesti pergi dari sini?” Mendengar bentakan Ki Lading Ganda itu, mendadak Dasa Laksana berdiri dengan berkelebat. Dia tampak siap tempur. Keadaannya yang tampak lemah bagai orang sinting, berubah gagah perkasa. “Jangan gertak aku dengan suara bentakmu. Kalau memang aku bersalah, tampilkan golokmu yang terkenal dengan sebutan Lading Ganda itu!” tantang Dasa Laksana. Tapi Ki Lading Ganda menjadi waspada. Dia tak segera naik pitam sebagaimana biasanya. Dia lalu meyakini dirinya, bahwa antara pengembara tak dikenalnya ini, ada hubungan perguruan dengan Ki Pita Loka. Padahal dia sudah menaruh hormat pada Ki Pita Loka. “Saudara Dasa Laksana. Saya heran mengapa anda belum juga meninggalkan Kumayan?” “Karena saya kecewa dengan Sang Guru. Desa ini akan hancur”, katanya.
“Berikan padaku keterangan kehebatan Ki Ratu Turki”.
“Dia memiliki pedang. tapi lebih dari itu dia dia dikawal oleh seorang lelaki dengan ilmu yang amat tinggi”.
“Tahu anda siapa lelaki itu?” tanya Ki Lading Ganda.
“Ki Gumara”.
“Ki Gumara? Jadi dia meninggalkan Kumayan ini untuk bersekutu dengan Ki Ratu Turki itu?”
“Ya. Dua orang inilah yang akan membantai guru saya yang terhormat, sehingga saya harus melaporkannya. Saya sendiri orang hina dina”, kata pengembara kotor menjijikkan itu. “Apa tujuannya menghancurkan desa kami ini?”
“Dia hanya ingin memiliki Kitab Tujuh, yang katanya disimpan oleh Ki Pita Loka. Kalau kitab itu tidak diserahkan, dua-duanya akan melakukan pembantaian besar-besaran terhadap 5 harimau Kumayan tanpa ampunan”.
“Kalau begitu, anda utusan mereka!” tuduh Ki LadingGanda.
“Saya bukan utusan. Jika saya gagal mendapatkan Kitab Tujuh itu, saya akan dipenggal. Saya hanya orang hina yang terancam. Maka saya tidak berani kembali. Tapi jika dalam 7 hari saya tidak kembali, penyerbuan itu akan terjadi”.
Ki Lading Ganda lantas berubah sikap. Dia pun merasa ingin memiliki Kitab Tujuh itu.
“Kalau begitu, jika anda masih di Kumayan ini selama 7 hari berikut ini, anda akan jadi biangkeladi bagi kami. Secara baik-baik, seperti juga gurumu Ki Pita Loka menyarankan, sebaiknya engkau pergi tinggalkan Kumayan ini”.
“Tidak”, bantah pengembara kotor itu. “Kalau begitu anda membangkang atas perintah salah satu penguasa desa ini. Kamu sudah kenal pada saya. Dan apa senjata saya. Hanya karena kamu bekas murid Ki Pita Loka sajalah maka saya tak sudi melakukan kekerasan”.
“Silahkan main keras pada saya”, tantang Dasa Laksana. “Jangan kau panasi hatiku, wahai tamu tak dikenal. Kuulangi perintahku yang tulus, agar anda meninggalkan Kumayan ini sebelum golokku aku cabut!” “Silahkan cabut!” tantang Dasa Laksana. Dalam sekelebatan. Ki Lading Ganda mencabut goloknya yang bermata dua. Dia permainkan senjata saktinya untuk menakut-nakuti lawannya. Kejadian ini disaksikan dari tempat gelap oleh Pita Loka. Ketika pertempuran itu barusan saja akan segera dimulai. Ki Lading Ganda yang sudah melakukan loncatan pancingan, menghunjam langkah berbalik mendengar teriakan dari tempat kelam. “Hentikan, Ki Lading!” seru Pita Loka. Wibawa langkah-langkah kependekarannya segera tampil. Pita Loka membuat Dasa Laksana surut, begitu pun Ki Lading Ganda. “Tuan Guru”, ujarnya pada Ki Lading Ganda.
“Anda tak usah melayani seorang yang ilmunya rendah dan berjiwa laknat. Dia cukup diperlakukan ibarat seekor lalat”. “Guru Besar” Dasa Laksana segera menyungkur diri ke duli jari kaki Pita Loka dan dengan nada berhiba-hiba dia berkata: “Ampuni segala kesalahan saya yang lalu, semasa berguru pada anda. Saya harap, sekarang ini janganlah saya diperlakukan sebagai pengkhianat. Saya ingin bermukim di Kumayan ini hanya untuk mencari keselamatan diri saya dari ancaman Ki Ratu Turki dan pengawalnya Ki Gumara”. “Omong kosong. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup aku tak percaya lagi padamu, Dasa Laksana! Kamu adalah korban laknat binatang-binatang rimba yang pernah engkau bunuh. Percayalah, matimu nanti pun tidak lebih dari matinya seekor binatang yang pernah kau bunuh. Ayo angkat kaki dari desa kami yang telah aman tenteram ini!” bentak Pita Loka dengan nada suara gemuruh. Tentu saja Ki Lading Ganda terkejut atas sikap tegas Ki Pita Loka. Terutama tuduhan blak-blakan pada diri pengembara aneh yang hampir saja dihajarnya. Dan dia lebih takjub lagi ketika melihat pengembara sinting itu segera enyah meninggalkan Bukit Kumayan. Ki Lading Ganda melangkah sopan menghampiri Ki Pita Loka. Lalu bertanya sepertinya seorang murid bertanya pada sang guru: “Ki Guru, apa artinya ini semua?” “Mestinya tuan sudah maklum. Ingat kembali yang tadi diucapkan Dasa Laksana? Saya mendengarkannya di balik semak, sejak tuan guru muncul menemuinya lalu mendengarkan apa ocehannya. Semuanya itu tidak usah dipercayai. Dia hanya datang untuk mengacau perasaan kita semua”. “Tapi Ki Guru Pita Loka”, ujar Ki Lading Ganda mendekat lagi, “Saya rasa ada benarnya jika dia katakan, bahwa Ki Gumara melibatkan diri dengan Ki Ratu Turki”.
Ki Pita Loka terdiam sesaat. Kemudian dia berkata:
“Anda seorang tua. Anda tak usah risau dan kuatir apa yang diperbuat anak-anakmuda. Seorang pendekar dihormati dan pantas dikuatirkan apabila ilmunya tinggi, dan sementara itu usianya dan pengalamannya besar”.
“Maksud tuan guru muda . . . saya tak usah merisaukan berita mengenai Ki Gumara?”
“Pendeknya, dia bukan seperti yang anda duga, Guru Tua”, ujar Pita Loka lalu memberi tanda pamit dengan kedua telapak tangan bersungkem ke arah Ki Lading Ganda. Ki Lading Ganda pulang dengan pikiran kacau. Tetapi, Pita Loka pun mulai jadi bimbang. Ayahnya mengetuk pintu kamarnya. Setelah masuk, dia bertanya: “Di mana-mana warung yang aku kunjungi, malam ini ada kesan penduduk semakin resah. Apa yang diucapkan pengembara fakir itu, kelihatannya mempengaruhi rakyat. Apa pendapatmu?”
“Saya tak punya pendapat”, kata Ki Pita Loka.
“Itu tak baik. Kau lebih mengetahui dari kami. Tapi kau berlagak tenang. Ceritakanlah pada ayahmu, apa sebenarnya yang akan terjadi? Kenapa Kitab Tujuh itu dicari-cari dan bakal menimbulkan bencana?”
Ki Putih Kelabu menjadi geram karena Pita Loka hanya membungkam. Malah dia lebih jengkel ketika Pita Loka berkata: “Saya malam ini belajar. Karena besok akan ujian ekstension “ “Baiklah. Itulah perbedaan ilmuwan dengan pendekar. Ilmuwan sibuk meramu jamu, kendati dunia sekeliling kebakaran dia akan terus meramu jamu. Tapi seorang pendekar akan melempar gelas jamu bila teriadi kehebohan”, kata Ki Putih Kelabu dengan nada mendongkol. Sebenarnya orangtua itu sedang memancing sikap Pita Loka. Dia menganggap, Pita Loka berubah sikap untuk menjadi pelajar sekolah SMA hanyalah untuk menutupi ilmu yang telah dia petik selama 1000 hari dari Bukit Lebah. Yang dia inginkan dari Pita Loka adalah reaksi. Tapi Pita Loka kelihatan tidak perduli. Dia juga tidak perduli ketika bergerombol anak-anak muda yang ikut ujian ekstension SMA menanyakan isyu terancamnya desa Kumayan.
“Itu pekerjaan para pendekar. Kita bukan pendekar. Kita calon pelajar. Pelajar SMA. Buat apa kita sibuk – sibuk. Kita tunggu saja bel ujian berbunyi, lalu siapkan diri untuk menjawab soal-soal”. kata Pita Loka. Ketika bel ujian berbunyi, Pita Loka memasuki lokal untuk ujian. Seluruh calon murid SMA yang mendaftar ada 14 orang, termasuk Pita Loka. Ujian ini diberikan kesempatan oleh Kakanwil untuk mengurangi banyaknya anak-anak muda liar yang suka bergerombol. Tapi Pita Loka tidak sedikit pun memperlihatkan tanda-tanda berpura-pura. Dia tak menunjukkan tanda kependekaran sedikit pun kecuali saat dia mengusir lebah-lebah dulu dan apa yang dia perbuat semalam, sewaktu mengusir Dasa Laksana. Tetapi menjelang bel ujian hari itu berbunyi, seorang penduduk minta ijin pada pengawas ujian untuk menemui Pita Loka. Pita Loka menyelesaikan dua soal lagi, baru kemudian menemui Pak Tenong itu. Dia bertanya:
“Ada apa menemui saya, Pak?”
“Anakku Daim diculik! Apakah bisa membantu?” tanya Pak Tenong.
“Jangan minta bantuan saya. Saya hanya manusia biasa,Pak. Mintalah bantuan Ki Lading Ganda”.
“Dia menyuruh saya ke sini, Ki Pita Loka. Dia katakan, inilah awal dari serangan nyata yang akan dibuktikan Ki Ratu Turki. Anak Rekasa juga diculik. Ada tujuh anak remaja di sini kena culik.”
““Tapi saya lima hari ini menghadapi ujian, Pak. Tak mungkin saya dapat membantu. Maafkan saya”, kata Ki Pita Loka. Orang yang tertimpa musibah itu menangis meratap, berlutut di hadapan Pita Loka. Tapi Pita Loka hanya berkata: “Jangan jadikan saya ini dewa. Sungguh mati , saya tak punya daya kekuatan apa-apa”.
Tapi, hati Pita Loka betul-betul tergugah setelah pada malam harinya muncul Paman Kurukjahi. Dia membawa sepotong tangan buntung dan berkata: “Wahai pendekar muda, apa perasaanmu satelah melihat sepotong tangan ini?”. Tampak darah membersit di wajah Pita Loka, seakan –akan dia tak dapat menahan amarahnya. Tangan itu begitu dia kenal, tangan saudara sepupunya yang paling pandai bermain gitar dan kecapi.
“Karena cincin yang kukenal masih ada di jari tangan ini, aku tahu ini tangan sepupuku Agung Kifli. Di mana tangan ini paman temukan?” tanya Pita Loka dengan mata tak berkejap. Kurujakhi bertanya pula; “Apa perlu kusebutkan tempatnya? Mana yang penting, tangan anakku atau orang yang memotongnya?”
“Kalau begitu saya ditantang”, kata Pita Loka.
“Bukankah sejak beberapa hari ini kau ditantang? Rakyat sudah cemas sejak tersebarnya berita, bahwa bumi Kumayan akan dihancurkan oleh Ki Ratu Turki. Dan aku dengar dia pun bekerja sama dengan anak Ki Karat dari istrinya yang lain, seorang guru yang pernah dihormati !.
Di mana anda berdiri dalam ancaman ini?”
“Saya berdiri di bumi kelahiranku, Paman!”
“Nah, bangkitlah! Ajaklah semua harimau-harimau Kumayan ini, termasuk ayahmu, untuk menyerang musuh terlebih dahulu sebelum kita ditakut-takutinya dengan penculikan dan potong tangan! “ Pita Loka diam.  “Jadi paman menganggap Pedang Turki yang memotong tangan sepupuku?” tanya Pita Loka dengan tatapan mata menantang.
“Ya! Bahkan aku tahu di mana bajingan – bajingan itu bermukim!”
“Paman salah”, kata Pita Loka. “Saya berani menjamin, pedang Turki tidak melakukan pemotongan sekasar ini. Tangan ini ditebas oleh golok yang kasar, ini perbuatan adu domba, supaya kita mendapat kesan bahwa Ki Ralu Turki maupun Guru Gumara adalah pendekar-pendekar kejam. Tidak. Aku tidak percaya bahwa penculikan maupun kekejaman begini dilakukan oleh pendekar kelas satu. Ini kerja pendekar kelas kambing!”
Dan tanpa diduga sedikit pun Pita Loka seakan–akan menjelma menjadi seorang cekatan dengan dua langkah lompatan langsung melocat ke halaman. Pita Loka tidak bersenjata. Dengan tangan kosong seakan – akan dia menjadi angin limbubu yang kecepatan larinya sudah tak dapat dilihat oleh mata lagi. Dan orang tak sempat mengetahui, bahwa dia sudah berlompatan dari dahan ke dahan begitu lincahnya melebihi lincahnya seekor simpai hutan. Dan ketika dia tiba di perbatasan desa Kumayan, menghadap ke Bukit Anggun dia terhenti sejenak. Dia melihat di situ asap api. Pertanda di situ ada sebuah perkampungan. Dia tiba-tiba yakin, bahwa dia harus kesana! Dia yakin, orang yang dia cari pasti ada di desa Anggun. Desa ini tempat pelarian penjahat kotor, bajingan tengik, dan para pendekar yang gagal mengguru karena ingin cepat pandai. Dia tak ingin muncul di desa Anggun ketika hari sudah terang. Dia ingin menyergap musuh yang dicurigainya justru menjelang datangnya pagi hari. Desa Anggun sekelilingnya dipagari oleh belahan bambu, dan dibuat pula selokan –selokan penjebak. Begitu dia memasuki pintu gerbang desa, Pita Loka menyepak pagar itu dengan obrak- abrik bagai orang kesetanan. Beberapa pohon dia terjang hingga roboh. Dan anjing penjaga yang menyeruduk padanya dia terjang dengan tendangan yang mengerikan, anj ing itu bagai terlempar terbang ke bubungan rumah. Dan seluruh desa terbangun. “Aku. Pita Loka dari desa Kumayan, menuntut nyawa satu orang biadab yang sedang aku cari!”
teriak Pita Loka dengan berkacak pinggang. Kebenciannya sudah seleher, tinggal muntah saja lagi . Di sini tak ada kepala desa. Yang ada orang pemberani yang paling banyak membunuh dan paling jahat dan dia diberi gelar Tua Anggun. Nah, Pita Loka dengan sikap agak sabar melihat munculnya Tua Anggun. “Siapa yang tuan cari?” tanya Tua Anggun.
“Kuharap, sebelum matahari terbit, serahkan nyawa dan badan Dasa Laksana. Hidup atau mati,
serahkan 17 remaja yang dia culik dan potong tangannya, termasuk sepupu saya Agung Kifli!”
Suara teriak Ki Pita Loka cukup menggentarkan perasaan Raja Penjahat itu. Dia berkata: “Aku kenal nama tuan guru dari si busuk yang berlindung di sini itu. Kami menamakan dia itu Si Busuk. Diakah yang tuan muda inginkan?”
“Ya. Dia Hidup atau mati!” bentak Pita Loka. Dan dalam sekelebatan Tua Anggun sudah menyeret Dasa Laksana, ketika dia terkulai sehabis semalam suntuk berbuat homoseksual dengan pemuda yang dia culik. Ada tiga yang di potong tangannya karena menolak sanggama itu. Dengan sangat penasaran, begitu Dasa Laksana diserahkan ke hadapan Pita Loka, maka Ki Pita Loka ngamuk dengan tiada belas kasihan. Ketika kepala Dasa menelangsa menghatur sembah. Jari-jari tangan yang menghatur sembah itu disikatnya dengan sabetan sepakan dahsyat…. Dasa Laksana menjerit kesakitan. Dan dia merangkak lagi, menghatur sembah lagi. Ki Pita Loka menyabet lagi dengan sepakan hingga Dasa Laksana melintir, berguling-guling dengan menjerit. Tapi Dasa Laksana nelangsa lagi dengan merangkak. Kali inilah Ki Pita Loka tidak bisa menahan amarahnya. Diangkatnya tubuh Dasa Laksana yang sedang merangkak itu, lalu dia lemparkan kepagar-pagar bambu yang jadi pembatas desa Anggun itu. Pagar itu ambruk, dan tubuh Dasa Laksana terlempar. Seluruh penduduk yang terdiri dari keluarga bajingan – bajingan perampok penyamun pun pada berkeluaran. Tapi Dasa Laksana bagai orang mabuk terhuyung menghampiri Ki Pita Loka lagi. Dia merangkak dan menghatur sembahnya lagi. Matanya melihat pada penduduk,biang kejahatan itu dengan mohon dikasihani. Tapi Ki Pita Loka, tanpa kasihan menyergapnya dengan kedua tangan, mengangkatnya, lalu melemparnya bagai melempar karung basah. Tubuh Dasa menghajar penduduk dan mereka berteriak secara serentak:”Bunuh pendekar sinting itu!”
Saudara sepupu Ki Pita Loka yang bertangan buntung – Agung Kifli – lalu menyergap Pita Loka:
“Ayoh lari, sanak!” “Tidak!”, ujar Ki Pita Loka dengan menebah dada dan berseru kepada penduduk Anggun: “Ayoh siapa yang siap mau membunuh pendekar sinting, mari serahkan nyawa kalian!”
Dalam keadaan mereka ragu, dengan satu putaran gasing gila. Ki Pita Loka menyeruduk dengan melakukan tendangan putaran bertubi-tubi ke arah muka, tanpa pilih bulu, sehingga mereka ambruk satu demi satu. Sungguh suatu perkelahian tunggal yang teramat seru, satu pendekar lawan 40 orang keluarga penjahat. Diantara mereka ada yang pingsan. Bahkan ada yang langsung mati konyol apabila sabetan tendangan lingkar itu tepat mengenai jantung… “Kalian sudah puas dengan kejahatan. Jadi harus dijahati juga,” ujar Ki Pita Loka seraya menyeret tangan kanan Agung Kifli dan berkata lagi: “Ayoh saudara sepupuku kita kembali ke Desa Kumayan. Bawa semua temanmu yang kena culik!”
Tapi secara naluriah, ketika pergulatan sengit Pita Loka menghancurkan penduduk jahat ini, ketujuh belas anak-anak remaja yang telah diculik Dasa Laksana itu telah menyisih ke balik pagar. Sehingga dengan amat mudah mereka digiring ke luar desa Anggun, desa Perampokan itu, mengikuti langkah Ki Pita Loka. Biarpun dirasakan oleh Ki Pita Loka langkahnya biasa, namun bagi ke 17 anak-anak remaja yang malang itu dirasakannya langkah itu amat gesit sekali. Tapi mereka tiada mengeluh dan cengeng. Mereka malah mengira, bahwa Dasa Laksana kelak akan menguntit mereka dan belakang. Semalam suntuk rombongan itu berlalu meninggalkan desa celaka itu. Semua mereka sudah buntung tangan kanannya, digolok oleh Dasa Laksana. Semua mereka justru dikorbankan untuk mempertakuti hati penduduk Desa Kumayan. Dengan dongengnya di gardu peronda di desa Kumayan tempo hari, Dasa Laksana akan memberikan kesan, bahwa ke17 anak remaja yang ia culik dan potong tangannya adalah korban dan pemilik Pedang Ratu Turki. Lalu, cahaya matahari muncul dari Bukit Kerambil. Bukit ini bukit bagian barat dari gugusan bukit-bukit barisan. Diantara anak-anak remaja itu kelihatan ada yang tak kuat lagi berjalan karena tanpa henti berjalan terus sejak diselamatkan Ki Pita Loka. Ada tiga orang yang jatuh pingsan. Ki Pita Loka memperhatikan, siapa yang paling sigap membantu yang pingsan-pingsan itu. Dan dia senang karena diantara yang membantu itu ada saudara sepupunya, Agung Kifli. Ada sepuluh orang semuanya yang pingsan. Dan penolongnya tetap saja, yaitu Agung Kifli dan lima lainnya. Enam orang itu, menurut ruguhan batin Ki Pita Loka, adalah remaja – remaja yang berhati suci. Dia biarkan saja enam anak baik itu berusaha menyadarkan sepuluh anak yang pingsan itu. Diantara yang barusan sadar, cengeng meronta dan berkata: “Kembalikan kami ke Kumayan.” “Kembalikan”, kami ke rumah,” kata yang lain. Seluruhnya sudah sepuluh orang.”
“Siapa diantara kalian yang ingin kembali?”
Satu dua tiga sampai sepuluh. Tapi ada seorang, yang tampaknya bimbang. Dialah yang dipanggil oleh Ki Pita Loka sewaktu matahari telah terbit benderang. Anak itu berusia sekitar 16 tahun. Tegap tapi sikapnya ragu. Tapi dia punya kelebihan dari sepuluh yang lainnya. Lalu, tampil pula anak yang ke 12. Dia tampil dan memperkenalkan dirinya:
“Kakak barangkali tak kenal saya. Saya Rauf, teman Jadim.”
“Jadi kau yang bernama Jadim?” tanya Ki Pita Loka kepada yang peragu.
“Ya. Kak,”
“Jadim dan Rauf akan memimpin rombongan 10 orang ini ke Kumayan.”
“Kami tidak tahu jalan, kak,” kata Rauf.
“Jangan kuatir. Saya akan menolong kalian,” ujar Ki Pita Loka seraya meraih kepala Jadim dan Rauf. Pita Loka meniup ubun kepala anak-anak yang berdua itu setelah memohon dari Tuhan. “Perhatikan telunjuk tanganku,” kata Pita Loka. Dua anak itu memperhatikan telunjuk Pita Loka. Juga 10 anak lainnya. Dan ketika itu Pita Loka berkata: “Tembus hutan ini, tanpa merubah arah jalan terus turun naik bukit dan lembah. Supaya jangan lelah, sembari bernyanyi.”
Anak-anak itu tampak dibangkitkan rasa keberaniannya. Mereka mulai bernyanyi lagu Pramuka, dipimpin oleh Jadim dan Rauf. Makin lama lambaian tangan mereka disertai nyanyian mereka semakin bertambah jauh Setelah mereka menghilang, enam remaja yang tak ikut pulang ke Kumayan serentak menghadapkan mukanya pada Ki Pita Loka. Tentu yang terlebih dahulu bertanya adalah saudara sepupu Pita Loka. Agung Kifii bertanya: “Bisakah kami ini kau isi dengan ilmu?”
“Ilmu apa?” tanya Ki Pita Loka.
“Ilmu yang berisi keberanian kami untuk membalaskan dendam pada Dasa Laksana setan gila itu!”
Ki Pita Loka tertawa: “Permintaanmu terlalu rendah.”
“Lihatlah tangan kiriku ini, tidak ada gunanya lagi dan tidak bisa dipakai untuk menekan senar gitar maupun kecapi!” kata Agung Kifli.
“Maka tadi saya pilih yang kembali, dan yang akan ikut dengan saya. Firasatmu betul bahwa kalian akan kuajak ngelmu. Manusia semua sama, sebab Tuhan adil. Tapi yang berilmu lebih tinggi dari yang malas.” kata Pita Loka. “Saya minta dijelaskan kenapa ilmu yang diminta Agung Kifli tadi bernilai rendah.” ujar si kurus kecil yang bernama Caruk Putih. “Kerendahan satu ilmu bisa dilihat dari tujuannya,” kata Ki Pita Loka. “Bukankah tujuan membalaskan dendam itu juga baik?”tanya Caruk dengan nada penasaran. Balas dendam selalu bernilai rendah. Tapi jika kalian ngelmu untuk menghancurkan kejahatan dan menegakkan yang benar, itulah ilmu yang tinggi. Untuk itu kalian merupakan orang-orang pilihanku.”
“Termasuk saya?” tanya seorang remaja bernama Aria.
“Termasuk kamu. Aria, juga Sura, juga Abang Ijo dan Talago Biru. Pendeknya kalian harus mengucapkan ikrar padaku.” kata Pita Loka.
Lalu mereka pun mengangkat ikrar. Mereka ikuti apa yang diucapkan Ki Pita Loka, tanpa nada sumbang. Ikrar itu bergema dengan nada yang hampir-hampir tunggal, membangkitkan kesatuan semangat dan kesatuan tujuan. Kesatuan yang manunggal antara Guru dan murid dalam kata dan perbuatan memanglah persyaratan ilmu persilatan. Dan Ki Pita Loka mendapatkan cara membimbing ilmu pada muridnya ini karena ia seorang yang jiwanya ikhlas, disamping oleh otak yang cerdas. Otak yang cerdas tapi jiwa kotor tak memungkinkan seorang pendekar naik derajat menjadi Guru Besar. Ukuran kebesaran adalah energi. Maka Pita Loka memulainya pun dengan takaran energi. sedikit bicara, tapi tiap patah kata ada ikatan. Dan hanya orang yang mampu duduk bersila dengan baik, seluruh energi terkendali. Ki pita Loka duduk bersila. Enam muridnya pun duduk bersila. Ki Pita Loka memberi perintah dengan nada dalam: “Hening…….”
Keadaan pun hening, seakan tiap napas yang ditarik dan dihembus kedengaran begitu nyata. Karena napas adalah sumber energi dalam diri manusia, itulah pula yang mesti diatur. “Tarik napas ke puser perutmu,” perintah Sang Guru. “Angkat perlahan ke atas menuju kepala, dan salurkan menuju ubun-ubunmu, dan buanglah kesana”, perintah Sang Guru lagi.
“Ambil lagi napas, tarik ke puser, angkat ke atas, dan buang!”
“Ambil lagi. Tarik ke bawah. Angkat ke atas. Dan buang lagi.”
Pelajaran awal itu, yang hanya bermain napas dengan kedudukan bersila tanpa gerak. yang dilakukan seluruhnya detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam, menciptakan keasyikan pada Sang Guru dan Para Murid. Dapat dibayangkan setelah enam jam bermain napas saja, keringat mereka mengocor seperti kuli mengangkut satu balok pohon yang besar. Keasyikan tidak pernah merangsang lapar. Yang dibuang oleh energi adalah keringat. Dan keringat itu adalah sampah. Inilah awal pembersihan diri, sebab Ki Pita Loka ingin membuat enam anak buntung ini menjadi enam pendekar sejati. Pendekar sejati bisa saja menghadapi empat puluh musuh. Dan dia seorang diri dengan kekuatan energi dapat saja menumpas 40 lawan tanpa mengeluarkan keringat setetespun. Itulah yang sedang diisinya kepada enam remaja buntung itu. Kelak mereka tidak harus merasa kurang karena kebuntungannya. Sebab setiap yang kurang pasti ada kelebihan di bidang lain. Dan telah dua kali matahari terbit dan dua kali pula matahari terbenam. Tahukah enam remaja buntung itu bahwa waktu telah berjalan dua hari?
Tidak. Waktu bukan soal yang penting lagi. Keasyikan menyatukan diri dengan energi telah membuat seseorang yang asyik itu tidak lagi memperhitungkan waktu. Dan telah tiga hari Guru mengajarkan muridnya dalam keasyikan bersatu dalam gerak nafas, gerak yang tanpa gerak. Dan kemanakah nafas yang telah tiga hari diasyikkan itu menuju? Nafas itu mengembara menuju tempat yang kosong. Dan kosong itu adalah diam dan hening. Maka jarak perginya pun tanpa takaran lagi. Hembusan nafas tadi singgah di tempat yang kosong. Singgahnya nafas tujuh manusia asyik dari lembah itu menggebu bagai geledek, dan terciptalah benturan. Yang terbentur adalah yang diam. Yang diam pada detik itu adalah seorang lelaki yang duduk hening tenang, yang mendadak terkejut karena terkena benturan. Matanya melotot kaget lelaki itu menatap gadis di depannya, dan gadis itu bertanya: “Kak Gumara, apa yang terjadi?” “Ada sesuatu yang sedang bergerak di luar kita,” ujar Gumara. Jawaban ini merisaukan gadis itu. Dan rupanya yang terkena benturan bukan saja manusia Gumara. Binatang pun terkejut. Beberapa ekor ular Piransa gelisah dari sarangnya, lalu serentak merayap ke luar dari lubangnya. Gumara semakin merasakan benturan ke tubuhnya yang semakin hebat sehingga ia tambah gelisah, ia terkejut mendengar gadis di hadapannya terpekik menjerit lantang seraya menghunus pedang. Hampir saja pedang di tangan gadis itu membabat 100 ekor ular kecil yang merayap ke arahnya. “Aku Ki Harwati!” teriaknya ke arah ular-ular itu. Satu diantara 100 ular itu merayap sendirian, sementara yang lainnya diam. Ular kecil itu merayap menuju dengkul Ki Harwati, menuju perutnya, lalu ke dada, lalu melintasi leher dan akhirnya ke kepala. Tepat di kening Ki Harwati, ular kecil belang kuning itu menciptakan belitan. Kini ular itu bagai selembar saputangan tergulung yang melingkari kepala Ki Harwati. “Lihat, Kak Gumara? Ini hasil pertapaan saya!” serunya.
““Belum tentu. Tiap senjata yang berada di diri seorang pendekar mengandung resiko. Pendekar harus memeliharanya. dan harus tahu dengan jitu menggunakannya,” kata Gumara.
“Ular piransa ini menjadi senjataku. Sesuai dengan wangsit yang aku terima, bahwa namaku harus dirubah menjadi Ki Harwati Piransa. Dan aku kini telah berkedudukan sebagai Guru Besar! Kau kini bukan lagi kakakku dan pelindungku! Kau kini jadi budakku!” mata Ki Harwati Pi ransa melotot tanpa berkedip menatap Gumara. Gumara merasa aneh menyaksikan tingkah Ki Harwati. Ketika keanehan itu dia renungi, kendati beberapa detik, meledaklah perasaan berontak dalam diri Ki Gumara, sehingga dia berteriak: “Kau memakai ilmu Sesat! Kau sesat, kau sesat, kau sesattttttt” Tapi energi teriakannya itu sudah melampaui takaran. Setelah itu dia lemah, dan semakin lemah Setelah itu Gumara tidak dapat merenung, kendati sedetik. Juga dia tak berdaya menggerakkan anggota tubuhnya, biarpun sedetik saja.
“Tugasmu sekarang adalah mengawalku. Kau budakku. Kau harus patuh terhadap semua perintahku. Aku Guru Besarmu, aku Guru Besar semua gurul”
Nada itu penuh. Dan penuh kebanggaan.
“Kita hanrus memilih waktu untuk berangkat,” kata Ki Harwati.
“Ya….!”
“Kita harus menyerang musuh!” “Ya ……!”
“Kau kini semut pekerja. Dan akulah Ratumu!” ““Ya. Apa yang harus saya perbuat?” tanya Gumara dengan muka dungu. “Karena kelebihanmu mentakwilkan mimpi, carilah sebuah mimpi!” kata Ki Harwati. Dan dengan kedungu-dunguan, Gumara mematuhi. Dia menggeletak, lalu tidur. Dan tidurnya itu mirip seperti menggeletaknya seekor ular sanca. Ki Harwati tegang memperhatikan kelelapan tidur saudara tirinya itu. Kemudian tubuh Gumara bergerak, menggeleong, dan tegang sekali Ki Harwati bertanya: “Kamu dapatkan mimpi, hei dungu?!”
“Tidak.”
Pedang Raja Turki dalam sekelebatan sudah dicabut dari sarangnya. Dan dengan kesetanan pedang itu dihantamkan ke kening Gumara, sekalipun bukan dengan mata tajamnya. Punggung pedang itu membentur nyaring di kepala Gumara, ibarat logam membentur batu padas sehingga tercipta suara nyaring. “Dungu!” bentak Ki Harwati lagi. “Aku lapar,”kata Gumara. “Tidak ada makanan di sini”, jawab Ki Harwati. “Beri aku makanan,” ujar Gumara dengan mulut kemudian melongok. Dia tampak begitu dongok. Lalu berbaring lagi, bagai berbaringnya ular yang kekenyangan yang amat malas. “Kau hanya menjadi bebanku,” ujar Harwati. Tiba-tiba kepala Ki Karwati pusing. Dia telah dipatuk oleh ular Piransa pada saat sedetik menjelang pusing. Bisa ular itu sudah menjalari tubuhnya. Tapi ia masih menyadari, mungkin ha ini bagian dari pengisian tingkatan ilmunya. Dia mencoba berdiri. Dia teler bagai pemabuk. Dan secara samar dia melihat lengkungan pelangi di hadapannya. Lalu dia melihat tujuh bintang berjatuhan dari langit. Dan dia berseru: “Tujuh tai bintang jatuh di Sana! Itulah seluruh kebenaran wangsit yang kuterima. Aku yang akan menerima warisan ilmu Kitab Tujuh itu!” Dia guncang tubuh Gumara. Tapi Gumara tidur ngorok seperti tidurnya orang dongok. “Bangsat! Bangsat!” maki Ki Harwati, “Dasa Laksana bangsat! Murid pengkhianat itu belum juga kembali! Padahal aku sudah menyaksikan tujuh tai bintang jatuh!”
Dia petengtengan. Dia berjalan terhuyung bagai orang sinting. Dan kalau dia melihat Gumara, dia benci dan ditendangnya pantat kakak tirinya itu. Kemudian dia merasa amat gerah. Karena kepalanya gatal, dia merenggut rambut di kepalanya, tapi yang terpegang adalah ular yang melingkari kepalanya. Sementara itu, Ki Pita Loka sudah melangkah bersama enam muridnya menuju sebuah bukit yang dikenal bernama Bukit Kawung. Tidak ada kawung di bukit itu. Yang ada cuma batu. Batu itu sebetulnya dulu sering diambil orang sebesar biji salak karena keistimewaannya. Kalau kapas kawung ditempelkan ke batu kawung itu, lalu digeserkan logam baja, maka terciptaiah api. Untuk apa Ki Pita Loka ke sini? Karena ia mendapat ilham untuk meningkatkan latihan jasmani murid-muridnya. Karena semua ilmu ibarat roda. Ia kembali kepada sumbunya. “Kita berhenti di pusat bukit ini,” kata Ki Pita Loka. Enam remaja buntung kontan saja duduk bersila, menciptakan lingkaran dan sumbu lingkaran itu adalah duduknya sang Guru. “Karena semua kalian pernah sekolah, kalian sudah tahu apa itu gas. Gas itu adalah zat yang memiliki energi. Dalam diri kalian, dengan aturan pernafasan, sudah ada sumber gas. Dan itu harus kila turunkan ke titik awal. Kita harus kembali lagi menjadi api. Coba kini kalian kumpulkan energi, sampai tubuh merasa ringan. Tapi jangan ada yang kaget apabila tubuh kalian terbakar.” Enam remaja buntung dipimpin Guru, sedang melaksanakan amalan itu. Mereka menjadi iibaratnya kawung yang sedang berada di batu, menciptakan pergeseran logam baja. Dan terbitlah tujuh kelompok api. Ya, tujuh insan itu lama kelamaan bagai tujuh lidah api. “Dan api akan padam oleh air. Api hanya dapat padam oleh air,” ujar Sang Guru. Sungguh ajaib. Ketika tiap murid sudah merasa dirinya mengelotok oleh api, hujan gerimis pun bercucuran dari langit. Memang perih sekali, tapi hampir tak terasa. Api itu padam. Yang tinggal adalah tujuh manusia, Ki Pita Loka dengan murid-muridnya, enam remaja buntung. “Kini kita sudah membumi. Kita sudah menjadi benda padat, sepadat tanah. Tanah adalah asal manusia. Marilah kita menyatukan diri dengan tanah, seakan-akan kita ini kembali ke dalam kubur, kembali ke asal,” Ujar Ki Pita Loka. Murid yang mematuhi amalan Sang Guru tentulah murid yang baik. Dan remaja-remaja buntung ini merelakan dirinya memasuki alam “kematian”, entah untuk berapa lama. Lama itu waktu. Waktu itu jadi tak penting. Mereka sampai ke sebuah Lembah yang sama sekali belum mereka kenal. Tetapi Pita Loka pernah mendengar tentang lembah ini ketika dia berusia Tujuh tahun dahulu, yang diceritakan oleh Ki Putih Kelabu,ayahnya. Menurut ayahnya. Lembah ini dulunya dikenal dengan sebutan Lembah Tujuh Bidadari.
Agung Kifli bertanya pada Pita Loka: “Ki Pita, apakah perjalanan kita bukan kesasar?”
“O, kita tidak kesasar. Justru aku ke sini sengaja mengajak enam orang diantara kali an yang kena culik, sedangkan yang 11 orang kusuruh pulang ke Kumayan.”
“Lalu untuk apa kita ke sini?” tanya Agung Kifli.
““Yang terang bukan untuk berdarmawisata.”
“Saya dan teman-teman amat lelah,” ujar Agung Kifli.
“Itu wajar saja. Tujuh hari perjalanan tanpa istirahat sebetulnya aku sengaja untuk melatih kalian yang berenam. Kalian yang berenam adalah orang-orang pilihanku. Kalianlah kelak yang akan dikenal dengan sebutan “Enam Pendekar Buntung”.
“Wah, kami akan dijadikan pendekar?” kata Agung Kifli tercengang. “Ya. Setiap kejadian pada diri seseorang ada hikmahnya. Anggaplah oleh kalian bahwa hikmah dipotongnya tangan kalian oleh orang sinting Dasa Laksana itu justru untuk sesuatu yang berguna di kemudian hari.”
“Tapi aku tidak bercita-cita jadi pendekar,”kata Agung Kifli.
“Memang itu betul. Namun aku tidak melarangmu bermain gitar. Sayang, gitar dan kecapimu Tidak ada di sini,” kata Ki Pita Loka.
“Tapi aku dapat membuatnya! Dari buah labu yang dikeringkan,” kata Agung Kifli, “Apakah orang yang belajar ilmu persilatan dilarang main musik?”
“Tidak ada larangan kesenangan pribadi buat suatu ilmu yang tinggi,” kata Ki Pita Loka. Sementara Ki Pita Loka melihat keadaan sekeliling dan menikmati senja yang indah itu, dia melihat memang Agung Kifli dalam keadaan mengantuk. Dan tanpa minta ijin lebih dulu, si buntung bekas pemain gitar dan kecapi di Kumayan itu pun rebah di rumputan bawah pohon dina – dina. Sedangkan lima temannya yang buntung lainnya, sudah sejak tiba menjatuhkan diri di rumputan, di bawah pohonan dina-dina yang daunnya lebat. Dia telah tertidur pulas. Tetapi lebih pulas lagi tidur lima anak remaja lainnya itu. Sura, Abang, Aria, Talago dan Caruk yang bertubuh kecil itu sudah lama tidur ngorok. Dan ketika semua remaja yang bertangan buntung itu dilihat Ki Pita Loka sudah tidur pulas, barulah secara diam – diam Ki Pita Loka meninggalkan mereka. Hal ini karena suatu ilham. Ketika itu Ki Pita Loka sedang menatap langit malam yang biru, dengan sebuah bintang Timur yang tak gemerlap. Bintang itu bintang Venus dengan tenaga cahaya abadi tanpa gigilan sinar seperti bintang lainnya. Lalu dari bintang Venus itu terbentuk semacam corong kerucut berbentuk kelembutan. Hal itu ditafsirkan oleh Ki Pita Loka sebagai petunjuk. Bahwa pada sudut kerucut itu terletak satu tempat yang istimewa di lembah ini. Itu berarti pula, dalam dunia ilmu kedalaman, bahwa Ki Pita Loka mendapat perintah untuk pergi ke tempat itu. Maka dia pun melangkah ke sana . Ya, ada bundaran cahaya dilihatnya pada rumputan yang membentang di hadapan. Pada titik sinar yang terkuat, kesitulah Ki Pita Loka melangkah, lalu dia duduk di sana . Dia bersila di sana bagaikan sikap bersila semua Nabi dan semua Guru dan Kiyahi. Dia mengatur pernafasan dengan sebaik-baik napas, sikap semedi yang kosong namun agung. Kemudian terdengarlah bisikan-bisikan yang indah sewaktu Ki Pita Loka memejamkan matanya.Bisikan-bisikan itu datang dari tujuh penjuru. Lalu tempat kerucut bintang Timur itu pun berubah bertambah terang. Tepat pada waktu itu, tenaga gelombang Ki Pita Loka mencoba menjangkau jiwa sepupunya Agung Kifli. Jiwa yang dengan tenang sedang beristirahat sepertinya mene rima getaran gelombang hingga dia terbangun. Ketika Agung terbangun dari tidurnya, dia mendapatkan dirinya di bawah pohon dina-dina yang berdaun lebat Dilihatnya lima temannya tidur dengan lena. Dia jadi takut karena tidak melihat Ki Pita Loka. Ketakutan itu menyiksa diri. Apalagi indera hidungnya serasa mencium bau bunga. Dan bunga yang menyebarkan bau di sekeliling yaitu seakan – akan bunga yang digunakan pemandi mayat. Dia merinding. Lalu dia duduk. Dia tak berani melihat ke sekitar. Tapi tiba- tiba seperti ada kekuatan yang mengangkat dagunya. Sehingga dia melihat keseliling. Sewaktu dilihatnya ada satu sosok berubah hitam tampak samar mendekat, Agung Kifli saperti akan menjerit memanggil Ki Pita Loka untuk minta bantuan. Ketegangan itu semakin membuat Agung Kifli menggigil. Sosok berjubah hitam itu semakin mendekat dan mendekat jua. Agung Kifli rasanya ingin berteriak. Tapi lidahnya kelu. Dan dia agak geram juga sebab Ki Pita Loka, yang diharapkannya akan memberi pertolongan, tidak tampak. Dalam jarak lima meter itu. Agung Kifli lalu tak berani lagi melihat ke depan. Dongkolnya, dia lihat lima teman-temannya tidur begitu pulas. Dan, Agung pun memberanikan diri untuk bicara. kendati dengan memunggungi tamu tak dikenal itu. “Aku ingin tahu, apakah anda manusia?”
“Bukan…….”
“Bah! Dan ….. siapa anda?” suara Agung menggigil.
“Aku bukan manusia!” sahut sosok yang rasanya (mungkin) makin mendekat.
“Jadi katakan siapa anda?!” suara Agung rasanya keras, padahal cuma sayup kedengaran.
“Aku makhuk halus,” kata suara dari belakang. Agung Kifli lalu memejamkan mata untuk menahan takut.
“Kenapa anda ke sini?” tanya Agung Kifli….
“Ingin berkenalan.”
“Tapi aku takut,” ujar Agung tambah gentar.
“Jangan takut. Aku bukan mahluk halus yang jahat,” suara itu kedengaran lagi, dari belakang punggungnya. Dan rasanya tambah dekat. Agung Kifli semakin memejamkan matanya. Keringat dinginnya semakin deras mengocor. Dan dia gemetar sekali ketika berkata: “Aku bukannya tak sudi untuk berkenalan denganmu. Tapi aku takut. Aku tidak mengalami kejadian seperti ini!”
“Baiklah. Kami tak pernah memaksa?” kata suara itu. “Kami? Jadi kau lebih dari satu,” seru Agung Kifli. “Memang kami semuanya bertujuh.” Ujar suara itu. Agung Kifli lalu ingat nama Lembah ini. Lembah Tujuh Bidadari. Tentu dia mahluk halus, salah satu dari bidadari itu. Rasanya dia ingin membalik tubuh agar dapat melihat salah seorang bidadari Lembah ini, yang ingin berkenalan dengan dia. Tapi rasa inginnya dikalahkan oleh rasa kecutnya. Kini Agung Kifli menutup muka. Hening suasana, tak ada suara dan kata-kata lagi. Mendadak, dalam keadaan senyap begitu, Agung Kifli mendengar suara langkah menjauh. Tentu sosok berjubah hitam tadi telah berlalu. Dia cepat memberanikan diri untuk menoleh. Sayang, sosok tadi sudah melenyap dalam kegelapan.  Tapi Agung amat kaget karena hanya dalam jarak satu meter dari tempat dia duduk ketakutan itu, didapatinya sebuah gitar dan kecapi. Dan karena dia merasa terheran-heran,diberanikannya memegang gitar dan kecapi kecil itu. Tentu kini dengan sebelah tangan saja. Karena tangannya sudah buntung satu, yang kiri. korban dari penipuan Dasa Laksana yang jahat itu. Darimana gitar ini diambil sosok berjubah hitam tadi? tanya Agung Kifli dengan heran, dalam hati. Ketika itulah dia mendengar salah seorang remaja yang ketiduran memanggil namanya: “Hai Agung, kamu mengigau?”
“Kemari sini, Caruk Putih!” ujar Agung gelagapan saking herannya, “Kau lihat gitar ini mendadak ada di sini!”
“Padahal ketika kita diculik, pakaian kita pun tak sempurna,” ujar Caruk Putih. “Ini keajaiban dari ilmu Gaib”. kata Agung Kifli. Lalu terbangun pula Talago Biru. “Talago, apa kau tidak melihat ini!” tanya Agung Kifli. Tapi Talago Biru tidak memberi reaksi. Dia sedang menatap ke satu titik di kejauhan. Namun dia bisa juga melirik pada gitar dan kecapi yang diperagakan oleh Agung Kifli tadi. Aria dan Sura sama terbangun serentak. Mereka malah kaget dan berseru : “Hai, siapa yang membawakan gitarmu?”
“Kurasa salah seorang dari tujuh bidadari di Lembah ini,” kata Agung Kifli. “Keajaiban hanya diperbuat oleh pelaku-pelaku yang ghaib.”
“Kita benar-benar mendapatkan guru sejati,” kata Aria. “Kita mengalami kebuntungan tangan. Tapi kita menemukan kehidupan yang baru,” ujar Abang Ijo. Sebagai anak-anak putus sekolah, enam remaja itu seakan – akan dilimpahi kurnia, berupa hadiah dari Tuhan sehabis disiksa oleh kebiadaban. Kini mereka merasa, bahwa kemalangan, musibah dan penderitaan, tidak selalu berakibat buruk. “Hei, diam!” mendadak Agung Kifli terdongak menatap ke arah Timur. Juga lima remaja bunting lainnya secara serentak menolehkan pandangan ke jurusan yang ditatap Agung Kifli itu. Tiba-tiba Agung Kifli melihat sosok di arah kejauhan. Dia sikut bahu Abang ljo: “Hai, ada kau lihat sosok mendekati kita?” “Mungkin bidadarimu tadi !” kata Abang ljo. “Mainkan gitarmu!” ujar Sura Jingga. “Taklukkan dia!” tambah Aria Kuning. Agung Kifli kemudian menoleh pada Talago Biru. Talago Biru pendiam dingin, tidak sepotongpun melontarkan kegembiraan. “Bicaralah Talago!” ujar Caruk Putih, yang terkecil diantara lima anak remaja yang buntung itu, bahkan yang terlincah. Caruk Putih malahan bangkit dari duduk dan berkata: “Kalau kalian semuanya tidak berani, biar aku yang maju.”
Mendadak Talago Biru berkata: “Jangan, itu yang datang bukan bidadari yang tadi menggoda Agung Kifli.”
“Kau bisa melihat siapa yang datang?” tanya Agung Kifli, yang serentak bertanya dengan si Caruk Putih.
“Ya. Aku bisa melihat seseorang dalam gelap. Sejak dulu,” kata Talago Biru. Agung Kifli heran, dan bertanya: “Kau belajar ilmu melihat kegelapan dimana, Talago?”
“Lihatlah alis mataku. Apakah aku punya alis mata?” tanya Talago Biru dengan nada dingin.
Agung Kifli, Abang Ijo, Sura Jingga dan Aria Kuning berebutan ingin melihat alis mata Talago Biru.
“Ajaib. Kau tidak punya alis mata!” mereka terheran semua.
“Aku mirip ayam jantan dan anjing malam. Tidak punya alis, jadi bisa melihat sesuatu dalam gelap. Termasuk mahluk halus, jika ada,” kata Talago dengan nada tanpa menyombong.
“Yang datang itu,” sambungnya, “Adalah Ki Pita Loka”. “Ha?”
“Sejak aku dibangunkan, aku sudah melihat dia turun dari bukit itu, lalu beliau menuju ke sini.”
kata Talago Biru. Enam remaja itu gembira sekali. Mereka dengan nafas sesak menunggu kedatangan Ki Pita Loka yang sudah menghilang sejak keenam mereka ketiduran. Dan ketika Pita Loka mendekat, serentak mereka bertanya: “Dari mana Ki Guru?” “Aku kembali dari bersemedi,” kata Ki Pita Loka.
“Saya menanti anda dengan cemas.” “Tentu kau mengalami sesuatu.” kata Ki Pita Loka, menerka.
“Sepertinya Guru sudah mengetahui,” kata Agung Kifli. “Memang akulah yang memerintahkan bidadari itu menemui kau, dan berkenalan dengan kau.” “Juga anda yang menyuruhnya membawakan gitar dan kecapi ini?” tanya Agung Kifli seraya memperlihatkan gitar dan kecapi miliknya.
“Ya. Setelah dalam semedi aku ketahui, bahwa tujuh bidadari yang diceritakan oleh ayahku dulu adalah jin-jin pekerja, maka aku membaca ayat-ayat Sulaiman untuk menjinakkan mereka. Kalian mungkin sudah tahu dari pengajian di Kitab Suci, bahwa Nabi Sulaiman menjadikan jin – jin itu sebagai pekerja. Merekalah yang mengangkat batu – batu pualam terindah dari Laut Tengah. Dan merekalah yang membuatkannya Istana dan Gudang Intan. Sementara ini, kalian belum akan aku warisi Ilmu Amsal Sulaiman untuk memerintah para jin yang tujuh di Lembah ini. Jika ilmu kalian sudah meningkat, tentu akan saya warisi amsal itu!”
Caruk Putih menyela mendadak: “Tuan Guru, kenapa kepadaku tidak tuan utus bidadari seperti Agung Kifli?”
“Semua akan mendapatkan giliran. Malam pertama Agung Kifli, Malam kedua, Abang ljo, Malam berikutnya Sura, selanjutnya Aria, dan kemudian Talago, dan terakhir engkau, Caruk!”
“Hah. Cantikkah dia, Guru?” tanya Caruk.
“Tanyakan pada Agung Kifli. Tapi menurut laporan bidadari ungu itu pada saya. Agung Kifli tidak sudi melihat wajahnya. Setelah dia pergi, barulah Agung melihat tapi sudah terlambat, sebab dia sudah ditelan kegelapan. Tiap kalian akan mendapatkan satu warna. Dan tiap warna adalah kekuatan kalian. Cepat Caruk Putih bertanya: “Apakah warna untuk saya?”
“Sesuai dengan namamu. Yang akan mendatangi kau adalah bidadari putih. Dan engkaulah satu-satunya diantara kalian yang berenam ini yang paling banyak akan mengalami cobaan. Tapi jangan takut. Ujian yang tersulit pertanda bagi murid yang terbaik. Bukan begitu saudara sepupuku?”
Agung Kifli mengangguk dan berkata: “Saya masih heran bagaimana bidadari saya itu begitu cepat ke Kumayan menjemput gitar dan kecapiku.”
“Dia memiliki kesigapan pesuruh Ratu Bilkis di dalam Kitab Suci. Waktu dan jarak serta cuaca, tidak mempengaruhinya. Tetapi kita semua harus eling dan waspada. Sebab dalam jarak tujuh bukit di selatan kita ini, ada calon Guru Besar yang juga berminat atas Kitab Tujuh yang justru sedang kita cari kini!” Dan seperti yang dikatakan oleh Ki Pita Loka, memanglah betul semuanya. Apa yang sedang diperbuat tujuh orang itu, di Lembah Tujuh Bidadari itu, diketahui oleh seorang calon Guru Besar. Cuma saja Ki Pita Loka tidak menyebutkan siapa calon Guru Besar itu. Dia tidak lain adalah Ki Harwati yang kini sudah melengkapi namanya dengan Ki Harwati Piransa yang sudah menjinakkan ular Piransa, ular belang kuning sebesar telunjuk jari tapi berkepala dua. Ular Piransa ini sudah langka di dunia, sejak taufan Nuh terjadi ribuan abad yang silam.
Ki Harwati berkata kepada Gumara: “Dungu! Kita harus meninggalkan Guha Piransa ini, Dungu!”
Dengan dungu Gumara tercengang: “Bukankah kita sudah hidup enak di sini? Aku enggan pergi dari sini.” Dengan punggung pedang Turki, disabetnya punggung Gumara. Gumara tertawa menyeringai. Dan berkata; Lagi! Lagi! Enak sekali!”
“Jangan tunggu sampai aku marah, Dungu! Apa kau mau kutebas dengan mata pedangku ini?”
mata Ki Harwati Piransa jadi liar. Dan ular piransa yang melilit di kepalanya pun ikut mendelikkan mata pada Gumara, yang tingkah lakunya sudah begitu berubah seperti anak kecil.
“Berhentilah makan buah delima itu, Dungu!” bentak Ki Harwati Piransa.
“Ini enak. Enak. Enaak!” dan Gumara yang dungu itupun menari-nari. Ki Harwati sudah tidak sabaran lagi. Dia kemudian menghardik seraya menjewer telinga Gumara:
“Kau akan ikut aku, atau aku tinggalkan sendirian di sini?”
“Hemmm ….. Aku enak di sini. Di sini banyak buah delima!” seru Gumara dengan berjingkrak. Kelakuannya memang sudah mirip anak kecil berusia 3 tahun. Dan hal ini sudah amat menyebalkan Ki Harwati Piransa. Saking sebalnya. ditendangnya pantat Gumara yang sedang berjoget itu. Gumara berteriak kesakitan, tapi kemudian tertawa terkekeh-kekeh. “Waktu tinggal sedikit lagi, Dungu!” bentak Harwati, “Jika Kitab Tujuh itu sudah jatuh ke tangan sainganku, percuma aku bertapa 100 hari di Guha Piransa ini!” Gumara yang ketawa konyol, mendadak berubah tenang. Bahkan wajahnya datar bagai mayat tak bernyawa. Dia berdiri tegak. Dia tak mendengar suatu apa pun. Tak nampak wajahnya berubah ketika dia kena bentak Ki Harwati Piransa. Bahkan dia membisu ketika diajak bicara. “Kamu bisu, Dungu!” bentak Ki Harwati dongkol. “U-u …. U …. u!” suara Gumara benar-benar mirip orang bisu. Kalau tadi dia tampak begitu dungu, kini dia seperti benar-benar bisu.
“Dungu! Bicaralah? Ketawalah!” teriak: Ki Harwati Piransa “U-a-U-a-u”“
Ki Harwati menyarungkan pedang Turkinya. Dan dia kemudian berpegang pada ujung bahu Gumara, mengguncang tubuh Gumara dan berteriak panik: “Dia mendadak bisu”
“U-u!”
“Kau bisu!”
“U-a-uuu”
Ki Harwati hampir akan menangis menyaksikan keadaan tragis saudara tirinya. “Aku tidak bisa benci lagi kepadamu, saudara tiriku,” ujar Ki Harwati seraya kebingungan. Tapi kemudian, dengan putus asa bercampur dongkol, diseretnya lengan Gumara. Dan ketika menuruni tebing Bukit Piransa yang curam. Gumara dipegangi terus. Kuatir kalau jatuh. Tapi Gumara dengan u-au bisunya, membandel. Dipegang begitu, malah dia menyentak. Akibatnya dia terpeleset. Dan bergulinganlah si bisu itu diantara batu-batuan yang menghambat akar tebing. Dan setiba di bawah tubuhnya diam tak bergerak. Ki Harwati menjerit lantang. Gema jeritannya bergaung di dalam tebing itu. Beberapa batu besar bergeser. Bahkan ada yang runtuh oleh getaran teriakan Ki Harwati Piransa itu, saking kerasnya. Getaran itu pula yang menyentak kesadaran Gumara dan pingsannya. Dia berdiri. Mencari darimana sumber teriakan menggetarkan tadi. Ketika dia melihat Harwati di atas itu, kini Gumara yang berteriak; “Kamukah di atas itu, adikku?!”
Ki Harwati piransa menjadi kaget, karena si dungu dan bisu itu sepertinya sudah normal kembali. Memang Gumara sudah menjadi normal kembali. Kelihatan tingkahnya yang cemas menyaksikan Harwati menuruni tebing dengan kecepatan seekor belalang betina. Dan ketika Ki Harwati Piransa tiba di bawah. dipeluknya Harwati dengan sisa kecemasan seraya bertanya: “Kenapa kamu gegabah seperti belalang turun ke bawah?”. Ki Harwati masih terpana menyaksikan keajaiban ini. “Aku mohon ampun padamu, Ki Guru, abangku …. karena selama ini telah aku perlakukan kau sebagai budak, jadi kini aku gembira. Bahkan kuatir, bahwa kau baru melewati dua cobaan ujian ilmumu dengan dungu dan bisu. Kita kemana sekarang?” tanya Ki Harwati menguji. “Kita harus segera ke Lembah Tujuh Bidadari”, ujar Gumara. Kemudian, dengan tenaga yang baru dan segar, Gumara membantu terus Ki Harwati Piransa menaiki pebukitan baru di sebalik pebukitan Bukit Piransa.
“Kebetulan hujan gerimis tiba”. kata Gumara setiba di atas. “Kenapa?”
“Hujan gerimis dalam cuaca panas senja ini menciptakan lengkungan pelangi! Tidak kau lihat warna pelangi di depan kita ini?” tanya Gumara.
“Apa maksudnya?”
“Coba perhatikan! Berapa buah bukit warna pelangi yang melengkung itu jaraknya?”
Tampak oleh Ki Harwati, lengkungan pelangi itu melangkahi tujuh buah bukit. Dan dia pun berkata: “Tujuh buah bukit!”
“Ke tempat jatuhnya pelangi yang melengkung melangkahi bukit itulah kita harus pergi. Di tempat jatuhnya pelangi itu, di situlah terletak Lembah Tujuh Bidadari. Berdasarkan mimpiku tadi, di situlah beradanya Kitab Tujuh”.
“Mimpi?”
“Aku barusan mimpi tadi di bawah sana itu!” kata Gumara.
Ki Harwati bertambah heran. Dia ingat, memang akang tirinya Gumara tadi jatuh dan pingan. Tapi ketika itu ia terjatuh kepeleset karena kedunguannya dan dia jadi bisu.
Apakah pingsan sejenak di bawah itu tadi ibarat dia tidur bermimpi?
“Ceritakan mimpi itu”, kata Ki Harwati.
“Mimpiku benilai mimpi Nabi-nabi. Ibarat mimpi Nabi Sulaiman atau Nabi Jusuf”. kata Gumara.
“Kita berangkat saja ke sana ”, kata Harwati, “Soal mimpi itu bisa kau ceritakan dalam perjalanan. Aku tidak sabaran lagi untuk mendapatkan Kitab Tujuh itu”.
“Berdasarkan mimpiku, ada yang mesti ditinggalkan”, kata Gumara.
“Ditinggalkan? Apa itu?”
“Dua barang yang diharamkan oleh Kitab Tujuh”, ujar Gumara.
“Katakan apa itu!” ujarKi Harwati tak sabaran. Gumara tertegun sejenak, lalu berkata: “Dua barang yang kau sayangi. Yaitu ular piransa yang melilit di kepalamu itu. Dan Pedang Turki itu!”
Mendengar itu, wajah Ki Harwati Piransa berubah menjadi geram.
“Kau jangan mencoba memperbudakku! Kau masih berkedudukan sebagai budakku sejak aku mendapatkan kesaktian Pedang Turki dan Ular Piransa ini!” Dan ular kecil belang kuning berkepala dua yang melilit di kepala Ki Harwati itu bergerak-gerak menggeliat. Ki Harwati Piransa merasakan hal itu. Dan dia menatap pada Gumara dengan tatapan angkuh, lalu berkata: “Tidak kau lihat senjataku sedang marah di atas kepalaku?” “Aku melihatnya”, kata Gumara. Dalam sekelebatan, Ki Harwati mencabut pedang Turkinya. Pedang itu tambah gemerlapan, terutama matanya, ketika diacu-acukan oleh Ki Harwati ke hadapan Gumara. Gumara menyaksikan gertakan yang berbahaya itu. “Itulah syarat dari mimpiku itu. Kita harus hadir di Lembah Tujuh Bidadari dalam keadaan tangan kosong. Tanpa senjata”, kata Gumara.
“Ucapanmu seakan-akan memperbudakku! Kau budakku! Kau harus tunduk dengan perintahku.Bukannya aku yang harus tunduk dengan perintahmu! Apalagi itu perintah berasal dari mimpi!” Ular Piransa sebesar telunjuk dengan warna belang kuning itu semakin menggeliat di jidat Ki Harwati Piransa. Dan ketika dia akan sarungkan pedang Turkinya itu, ternyata bilah pedang itu tidak bisa masuk pada sarungnya.
“Ini satu pertanda, bahwa salah satu dari senjata-senjataku ini musti makan orang”, kata Ki Harwati Piransa dengan menatap buas kepada Gumara.
“Kalau begitu, dengan kata lain, aku harus jadi korban. Jadi tumbal”, pancing Gumara menahan marah.
“Kecuali jika kita berangkat ke Lembah Tujuh Bidadari tanpa syarat”, kata Ki Harwati dengan nada marah. Betapa pun gondok dan terhina. Gumara masih bisa menguasai marah. “Keinginanmu terlalu banyak, wahai calon Guru Besar!” kata Gumara dengan nada jantan. Kejantanan nada suara Gumara, ditafsirkan batin Harwati sebagai keangkuhan. Dibentaknya kakak tirinya itu:
“Kalau begitu, kamu yang harus tinggal di sini! Aku sudah tahu di mana letak Lembah sakti itu. Kau tak usah mengawalku, sekalipun kedudukanmu masih budakku!”
Bentakan itu sungguh bringas. Bagai singa betina lapar, Ki Harwati menghentakkan kakinya kebumi dua kali, lalu berkata: “Selamat tinggal, budak!”
“Kau terlalu durhaka, adikku”, ujar Gumara dengan nada pedih. Hatinya terluka. Dia melihat betapa cepatnya langkah Harwati menyusupi ilalang dalam hujan gerimis itu, tanpa bisa dicegah. Gumara masih berdiri terpaku dengan hati geram dan penuh kekuatiran. Ki rotan yang juga merasa mendapatkan wangsit untuk memiliki Kitab Tujuh, mengapungkan diri di atas sungai. Karena ia menyesuaikan dirinya dengan takwil mimpi malam sebelumnya, bahwa banjir akan tiba, sementara ini dibiarkan dirinya mengapung, kadang dia menyangkut pada akar kayu di tebing sungai itu. Ya. sungai Selawi akan mengalami banjir besar. Menjelang tengah hari, Ki Rotan yang mengapung itu merasa gembira. Mimpinya mulai memperlihatkan bukti! Tendangan arus dibawah tubuhnya yang mengapung mulai terasa keras. Sementara kupingnya mendengar suara gemuruh di sebelah mudik sana!Tanda di hulu sungai Selawi sudah mulai banjir besar”
“Mimpiku menjadi kenyataan!” dia berseru ketika tendangan arus sungai bertambah keras. Dan matanya melihat jelas, di arah hulu sana , sungai Selawi mulai bergulung-gulung bagai tikar raksasa yang dibuka. Ia seakan-akan sudah separoh sadar saking gembira! Ia seakan siap untuk ditelan gelombang sungai Selawi yang dahsyat itu ! Mendadak di dengarnya suara teriak keras dari atas tebing.” Hai lelaki! Cepat ketepi!”.
Suara itu suara seoraing wanita. Dan wanita itu sepertinya gadis yang masih perawan. “Aku Ratu Senik. memperingatkan tuan!” seru suara itu. Nama itu dikenal oleh Ki Rotan. Dia menjadi bimbang. Dia lalu manggepakan kakinya, hingga dia ke tepi. Lalu cepat dia raih akar pohon tebing, dan cepat memanjat ke atas tebing. Separuh panjatan, air sungai Selawi menggerutu menghantam tebing kiri dan kanan, menciptakan bunyi berdengus mengerikan. Dan Ki Rotan selamat dari telanan sungai bah itu . . . Ketika Ki Rotan merangkak terus ke atas, wanita tadi sudah seperti menyambut kedatangannya. Ketika dia memperbaiki rambutnya, Ki Rotan pun melirik dengan sorot birahi padanya. Dan mata wanita itu tunduk dan Ki Rotan pun berkata: “Sebutkan nama tuan sekali lagi!” “Namaku Ratu Senik”, ucapnya. Ketika berbicara sekalimat singkat itu, tampaklah gigi wanita itu telah dikikir rata, bukti bahwa dia telah menikah. “Anda seorang janda?” tanya Ki Rotan. “Ya”.
“Kalau begitu anda adalah janda Guru Besar guru semua guru?”
“Betul, Saya ini janda Ki Tunggal harimau pertama di kawasan seratus bukit dan dua puluh lima sungai”, kata Ki Ratu Senik. Birahi Ki Rotan lalu semakin menyala, sebab dalam mimpinya yang dia dapat semalam berdasar wangsit yang ia terima adalah kalimat terpenting. “Jika engkau berhasil meniduri janda Guru Besar, segera ilmu itu akan menitis lewat dia kepada anda. Dan anda akan mendapatkan Kitab Tujuh seperti anda menanti jatuhnya anai-anai setelah menikmati lampu terang”.
“Tapi tuan Ratu tidak memegang tongkat”, kata Ki Rotan.
“Tuan ragu?” tanya Ratu Senik. “Bukan ragu. Tiap guru senantiasa ditemani tongkat, mengingat harus berjalan jauh”. “Saya bukan guru. Saya hanya pewaris ilmu dan suamiku yang telah sampai ajal. Menurut suamiku, musuhku bukan pendekar pria. Tapi pendekar wanita”.
Ki Rotan makin yakin, apalagi bumi yang dia pijak saat itu adalah bumi pertapaan Ki Tunggal, yang syah kebenarannya! Mulailah Ki Rotan digelimangi nafsu untuk tidur dengan wanita itu. Seluruh otot tubuhnya jadi kejang dan tegang. Lalu dia berkata: “Saya kuatir malam ini turun hujan lebat, dan saya tidak punya tempat berteduh”. “Kenapa tuan cemas?” Mari ke gubukku. Di sana saya dapat menyelimuti anda dengan kain berlapis-lapis”, kata Ki Senik. “Ketika saya tuan selimuti, tuan tentu kedinginan”, kata Ki Rotan. Wanita itu tarsenyum akrab, dan dari pelipis matanya tampak urat kegarangan bagai seekor cacing hidup dilapis kulit kuning dan licinnya. Wanita itu memberi isyarat agar Ki Rotan mengikuti dia menuju pondok pertapaan almarhum Ki Tunggal yang terbukti lagi syah dan benarnya. Pondok padepokan itu seluruhnya terbuat dari daun nipah. Dan bila Ki Rotan masih ragu, janda itu sendiri pun bimbang mengajak masuk. Nah, waktu hujan turun menjelang senja, waktu itulah Ki Rotan yang sedang berdiri bagaikan patung mendengar tutur manis janda itu:
“Nanti tuan sakit terkena hujan lebat yang akan turun. Masuklah, tak baik lama berpatung diri di pintu?”  Ki rotan pun masuk. Satu obor kecil yang cahayanya terpelihara, membuat sinarnya menciptakan suasana merangsang. Hujan tobat pun menjadikan bunyiannya menggelorakan dada. Sementara selingan angin seakan-akan menghembus – hembuskan nafasnya ke dalam paru-paru Ki Rotan. Petir dan geledek silih berganti ketika malam tiba. Dan janda itu pun menyodorkan makanan umbi dan minuman nira. “Makanan apa ini?” tanya Ki Rotan memancing. “Makanan istimewa, yang selalu aku hidangkan pada suamiku menjelang waktu tidur tiba,”ujar Ki Senik “Ho-ho!”
“Ini umbi pasak bumi. Dan ini nira Tapanuli yang bisa merangsang lelaki”.
“Aha … !” Ki Rotan tertawa dan dia menoleh ke arah janda itu dengan mata jelalatan.
“Saya tahu siapa anda”, kata Ki Senik.
“Seluruhnya tentang diriku?”“
“Suamiku telah menceritakannya. Anda adalah lelaki yang gagal memperkosa wanita, termasuk murid anda Ki Harwati. Padahal perkosaan itu adalah perbuatan zina yang selalu membatalkan peningkatan derajatmu”, ujar janda itu. Ki Rotan berubah jadi kecut hati. Tapi kata-kata berikutnya dari mulut kecil janda itu segera menghiburnya. “Kecuali apabila suka sama suka, malaikat pun menjadi saksi syahnya suatu hubungan”.
“Anda kuatir akan aku perkosa?” tanya Ki Rotan bimbang, memancing. “Jika tuan berniat memperkosa saya, saya kuatir ilmu anda akan menjadi bambu buta. Itu adalah sifat tergesa yang melawan kodrat alam. Yang dapat dibenarkan apabila suka sama suka lalu menjadilah dua mahluk lain jenis sebagai suami-isteri”, kata Ki Senik yang ucapan itu segera membangkitkan rangsangan. Ketika Ki Rotan beranjak duduk ingin membelai kepala Ki Senik, janda itu berkata. .. Kekuatan anda mutunya akan di bawah kadar suamiku almarhum jika tuan tidak makan umbi pasak bumi masakanku dan meminum nira pembangkit tenaga”. Dan dia pun bersabar hati mengikuti saran janda itu. Dan dia mendapat kehormatan disuapi makan malam, dan diminumkan nira itu. Tapi di waktu telah kenyang dia, dia berkata: “ Bolehkah tanya tidur sekarang? Mataku sudah berat sekarang”. “Sebelum tuan masuk selimut terlebih dulu wajib menyatakan ikrar, agar semua yang tuan perbuat pada saya akan saya jalin dengan apa yang saya persembahkan. Dan menjadi syah jika tujuh malaikat mendengarkan ikrar tuan”.
Janda itu mengulurkan tangan, yang telapaknya dipegang oleh Ki Rotan. Lalu janda itu menuntut kata-kata ikrar dimaksud: ““Saya. Ki Rotan, dengan saksi tujuh malaikat, mengawini Ki Ratu Senik, janda Ki Tunggal yang merupakan Guru dari segala Guru di seratus bukit ini yang dikawa oleh selawe sungai, dan menjadikannya isteri syah saya, sehingga tidur dan makan dengan dia bukan lagi merupakan perzinaan”. Kata-kata ikrar yang diikuti Ki Rotan itu cukup fasih sehingga Ki Rotan langsung saja menerkam tubuh janda itu tanpa menunggu diselimuti. “Sungguh tuan ini seorang lelaki sempurna”“, demikian pujian Ki Senik sehabis dia mandi keramas dengan tujuh kembang pilihan.
“Tapi saya harus mengembara lagi”, kata Ki Rotan.
“Mencari Kitab Tujuh. “
“Ya”.
“Keinginan tuan dituntut oleh kesabaran. Tuan tak beda dengan Ki Harwati, yang kemarin pagi mendatangiku ke sini, memaksa aku untuk memperlihatkan Kitab Perjalanan untuk mendapatkan peta persembunyian Kitab Tujuh Lupakah tuan bahwa, tuan tidak bisa pergi sendiri? saya ini isteri, garwa tuan, dan wajib menemani anda sampai mati? Dan pernahkah tuan mendengar, cobaan dan ujian yang harus dialami untuk mendapatkan Kitab Tujuh itu?”
“Aku lalu berfikir tentang Ki Harwati”, kata Ki Rotan, “Rupanya dia lebih dahulu melangkah dariku, sebelum aku sendiri melangkah”. “Jangan kecewa. Siapa yang melangkah duluan, belum tentu dialah yang duluan sampai”, kata Ki Ratu Senik. “Tapi akulah yang mendapatkan wangsit”, ujar Ki Rotan. “Wangsit itu hanya petunjuk. Wangsit harus disertai dengan lakon. Tiap lakon mengalami perjuangan. Jika tuan bersikeras pergi sendiri, tuan akan menderitakannya sandiri. Jika saya ikut, keadaan jadi lain. Satu tugas besar dan berat, lebih ringan dilakukan berdua”………………….. Ki rotan seutuhnya percaya kepada ucapan Ki Ratu Senik, karena isterinya ini bukan perempuan sembarangan. “Tadi engkau menyebutkan nama Ki Harwati. Dan kau pun kenal siapa dia dengan baik. Kau bilang, dia kesini memaksamu untuk menanyakan Kitab Perjalanan. Untuk mengetahui peta letak Kitab Tujuh itu. Kalau begitu, Bukit Tunggal ini adalah pusat semua ilmu dan kitab. Jika tidak, kenapa dia berkali-kali harus ke sini”.
“Itu mungkin benar. Tapi seluruh rahasia itu ada pada Ki Tunggal. Padahal begitu beliau mati, terkuburlah seluruh rahasia itu”.
“Jadi apa artinya perkawinan kau dan saya ini?” tanya Ki Rotan.
“Tentu saja ada. Jika aku hamil, aku akan melahirkan keturunanmu!”
“Bukan itu makna pertanyaanku!”
“Setidaknya, memenuhi kebutuhan kelamin anda dan saya, tuan guru”.
“Ah, yang aku harapkan dan kau bukan sekedar kebutuhan kelamin. Aku juga butuh tuah darimu karena kau bekas isteri pendekar bertuah”, kata Ki Rotan. Ki Ratu Senik memegang bahu suaminya. Dan dia berkata lirih: “Kalau demikian, ikrar perkawinan kita tak lebih dari perkawinan hewan. Begitukah anggapan tuan?”
“Kau harus memberi sasuatu padaku”, kata Ki Rotan.
“Apa yang harus kuberi?”
“Bermacam-macam rahasia. Setidaknya Tuan Guru Tunggal pernah bercerita padamu tentang rahasia hidup beberapa pendekar dan calon pewaris ilmu sakti. Pernahkah beliau ketika hidup menceritakan tentang pendekar wanita Ki Harwati?” tanya Ki Rotan.
“Pernah ada disebutkan, bahwa dia akan mewarisi Pedang Ratu Turki. Dan kulihat buktinya, pendekar wanita ini memilikinya, ditaruh di pinggangnya ketika dia datang”.
“Apa lagi?”
“Satu hal terjadi di luar ramalan itu!” kata Ki Senik.
“Ada kelainan?”
“Dia tidak menjadi pemilik Kitab Makom Mahmuda. Padahal gandengan Pedang Turki itu haruslah kitab itu, agar pedang itu tidak salah penggal, kerena pemilik kitab itu tahu jalan masuk dan jalan ke luar yang benar. Karena kedudukan pemilik dua barang sakti itu meliputi cahaya batin. Ini malah sebaliknya. Dia seakan-akan gelap, tak tahu arah, malah ke sini menanyakan padaku Kitab “Menurutmu . . . apa kekurangan Pendekar Harwati?” tanya Ki Rotan. “Mungkin kekurangannya adalah dia berjiwa serakah”, kata Ki Senik.
“Koq anda tahu?”
“Dia memiiliki Mahkota Ular. Di kepalanya ada ular Piransa belang kuning, yang mungkin akan selalu menyesatkan dia. Tidak semua pandekar harus menerima tawaran untuk menghiasi dirinya dengan barang – barang sakti. Menurut almarhum suamiku, tiap pendekar yang baik memiliki benda sakti kembar. Sebagai contoh: bila memiilki pedang sakti, harus punya satu kitab sakti. Juga pribadi pendekar harus kembar: Jika dia punya watak baik, harus disertai watak berkorban. Jika dia punya watak buruk, dia pun harus punya sifat mau menguasai orang lain. Apa anda masih buta dari ilmu satu ini?”
“Bukan begitu, istriku! Apa kau berpendapat dia terhalang mendapatkan Kitab Makom Mahmuda itu karena dia memelihara ular perhiasan?” ,
“Kukira betul demikian”, kata Ki Ratu Senik.
“Ada satu pertanyaan pentingku”, kata Ki Rotan.
“Cobalah menanyakan, selagi aku bisa menjawab”.
“Pertanyaan terpenting buatku, selain Ki Harwati, siapa lagi nama pendekar terpenting di kawasan seratus bukit ini?”tanya Ki Rotan.
“Dia masih turunan Ki Karat. Namanya Ki Gumara. Setelah matinya harimau tua … almarhum suamiku … kudengar Ki Gumara mengisi kekosongan itu. Harimau Tujuh akan tetap tujuh selamanya”.
“Namaku tak beliau sebut?”
“Ada . Tapi tidak dalam urutan penting, seperti halnya nama Ki Ibrahim Arkam”.
“Ada pernah juga disebut nama Pendekar Pita Loka?” tanya Ki Rotan. Ki Senik tardiam sesaat. Menurut ingatannya, nama ini tidak boleh disebutkan oleh siapapun kendati mengetahui rahasia kelebihannya. Jika dilanggar sumpah ini, maka Ki Senik akan melahirkan anak cacat. Diamnya Ki Senik, membuat Ki Rotan curiga, lalu menuding:
“Kau mau merahasiakan kelebihan Pendekar wanita yang satu ini?”
““Bukan aku ingin merahasiakan pada anda. Bukankah anda suamiku? Tapi sekiranya aku menceritakan perihal dia ini, aku akan dikutuk oleh sumpah yang sudah aku janjikan pada Guru semua pendekar. Almarhum Ki Tunggal”. “ Ki rotan menjadi merah wajahnya. Dia berusaha menahan amarah. Namun yang akan dilampiaskan kemarahannya adalah bukan sembarang perempuan. Ketika rasa ngeri itu melintas, wujud pribadinya jadi lemah lembut. Dia bertanya dangan nada merendah:
“Bolehkah aku mengetahui, dari tujuh pendekar harimau itu, detik ini ada berapa pendekar yang bersibuk diri?”
“Tiap kejadian, selalu tiga pendekar bersibuk diri”. “Dari tujuh harimau itu?”
“Belum tujuh harimau itu seluruhnya bersibuk. Pokoknya, satu diantara tujuh harimau itu harus menjalani kesibukan “.
“Setidaknya kamu diberitahu ke mana Ki Harwati pergi?”, kata Ki Rotan.
“Jika pun dia berkata, belum tentu langkahnya ke sana . Pendeknya dia akan selalu dirundung kegelapan selagi dia campuradukkan Pedang Ratu Turki dengan memeli hara barang sakti selain Kitab Makom Mahmuda. Selagi minyak tidak dapat disatukan dengan air, begitupun ilmu hitam tidak dapat dibaurkan dengan ilmu putih”.
“Apakah pernah kau berjumpa dengan pendekar sinting?” tanya Ki Rotan.
“Oh, lelaki gila itu? Maksud tuan Ki Dasa Laksana?”
“Ya!”
““Dia pemilik ilmu Setan”;
“Setidaknya salah satu dari ramalannya bisa terbukti !” ujar Ki Rotan.
“Memang dia meramalkan ketika mampir kesini, bahwa Ki Harwati akan menyerbu Desa Kumayan, membunuh beberapa orang tak berdosa dan memenggal lengan 17 remaja sebagai tumbal mendapatkan buku Kitab Tujuh”.
“Dia juga manyebut nama tempat tersimpannya KitabTujuh”.
“Dia hanya menduga, Kitab Tujuh itu ada di Bukit Kumayan!”.
“Dia ke Bukit Kumayan?” desak Ki Rotan. “Entahlah. Tapi jangan dengar ucapan orang gila. Berteman dengan setan, penghulunya adalah iblis-iblis. Aku ngeri jika anda dipengaruhi oleh ucapannya”, kata Ki Senik. “Kini hampir jelas bagiku, apa yang kau rahasiakan pada saya tentang Ki Pita Loka. Dia puteri Ki putih Kelabu. Dia berasal dari Kumayan. Jadi anda merahasiakan ini sebab kuatir saya akan mengembara ke Kumayan, lalu meninggalkan anda. Sedangkan perkawinan kita baru satu malam” Mendengar tantangan itu, Ki Senik bersedih hati. Dia pernah dengar juga tentang ambisi Ki Rotan yang kobarannya bagai api. Ki Rotan pun tahu kelemahan wanita muda ini. Kelemahannya adalah sex..Jadi pada malam harinya, dicumbunya isterinya itu, tetapi setiap isterinya minta disetubuhi, dia selalu menolak. Hanya dibuatnya ketagihan birahi belaka! “Katakan dulu rahasia Kitab Tujuh itu, agar akulah jadi pemiliknya. Tidakkah kau bangga, apabila aku menjadi raja dari semua guru, temasuk raja dari harimau yang tujuh?
“Jangan bujuk aku sehingga melanggar sumpah”, kata Ki Senik.
““Kau takut anakmu akan cacat?”
“Tentu. Karena itulah inti sumpahku!”
“Kau kalau begitu berpihak kepada Ki Pita Loka? Dia toh musuh saya, dan musuh saya berarti musuh kau !”
Lalu terus saja dibelainya tubuh isterinya agar wanita itu ketagihan dengan rasa birahi dan memanglah usahanya mendekati hasil. Ki Senik meronta dengan dengus nafasnya yang deras, memeluk Ki Rotan secara membabi buta, tapi Ki Rotan mendorong tubuh isterinya sehingga jatuh lagi ke sampingnya.
“Berikan satu rahasia itu”, kata Ki Rotan.
“Tapi penuhi keinginankul” kata Ki Senik. “Tentu”. “Kau sertakan saya ikut ke sana ?” tanya Ki Senik. “Itu soal mudah. Sebutkan dulu rahasianya!” “Rahasianya di … Lembah Tujuh Bidadari”. ujar Ki Senik yang terus menerkam tubuh suaminya dan menyerangnya dengan beringas sampai tercapailah kebutuhan indahnya akan persetubuhan. Sepuas apa yang dia butuhi itu, dengan bermandi peluh dia pun tergelimpang di samping suaminya bagai seorang yang pingsan. Dia barusan terjaga dari tidur pulasnya, ketika cahaya matahari memasuki celah dinding nipah. Tapi ketika dia meraih pakaiannya, segera dia sadari, bahwa kenikmatannya semalam sudah dikhianati oleh sumpah yang dilanggar, dia meraba perutnya, dan yakin bahwa dia akan hamil sebagai akibat kepuasannya semalam. Ah, ketika dia mencari-cari suaminya, Ki Rotan sudah tak ada lagi. Ki Rotan sudah meninggalkan Bukit Tunggal, bahkan sudah terlibat dengan pergumulan menyeberangi sungai Selawi yang airnya buas akibat banjir. Ki rotan sebenarnya sudah hampir dapat meraih akar pohon ganjuling, namun dia lepas lagi. Lalu tubuhnya membentur satu batu besar, terbanting lagi ke kiri dan ke kanan. Di luar dugaan, Ki Harwati ternyata mengalami musibah banjir sungai Selawi, lebih hebat lagi dan yang dialami oleh Ki Rotan. Dia selama dua hari satu malam terombang – ambing dihempaskan arus sungai Selawi, karena kesalahan menempuh jalan setelah dia pergi meninggalkan Ki Senik menuju mudik. Dia yang merasa dirinya mampu meniti arus sungai, mendadak sontak diserbu oleh banjir raksasa dari arah hulu sungai itu. Dikiranya mudah melawan arus mendadak. Dan dia hampir saja tanggelam hanya karena ular piransa yang membelit keningnya copot dari lilitan kepalanya. Dia lebih mengutamakan mencari ular sebesar telunjuk jari itu ketimbang berusahamenyelamatkan diri. Dan seluruhnya berurusan dengan nasib malang atau melintang. Dia tersangkut pada akar pohon gading hijau yang akarnya mencengkeram sungai. Lalu tak bisa lepas lagi seperti masuk perangkap. Ketika itu pulalah, setelah beberapa jam dalam perangkap akar tanpa daya, dia melihat satu sosok terlempar membentur batu tebing ke kiri dan ke kanan. Ki Harwati berteriak:
“Tolong …..! Tolong!”. Ki Rotan segera mencoba mengendalikan diri dari hempasan arus sungai Selawi yang mengamuk itu, menuju suara minta tolong itu. Usahanya berhasil. Dan dia tercengang ketika memegang akar pohon gading hijau yang sepertinya memenjarakan Ki Harwati. “Ki Rotan, tolong cabut pedangku, dan tebaslah akar pohon gading hijau ini!”, ujar Ki Harwati dengan nafas terengah mau manyerah. “Aku bisa saja mengeluarkan kamu dari penjara musibah ini. Tapi kau harus bersedia bersamaku mencari Lembah Tujuh Bidadari”, kata Ki Rotan. “Kini, bahkan diriku sendiri pun seutuhnya kusediakan memberinya pada tuan, tidak menolak lagi seperti dulu, asal saya terlepas dari cengkeraman akar pohon gading hijau ini. Tolong cabutkan pedang saktiku ini, tuan Guru”. “Baik, baik, Jika kau langgar janjimu, kau akan celaka”, kata Ki Rotan. Dengan susah payah, Ki Rotan berusaha mencabut pedang Turki itu dari sarangnya yang terjepit di pinggang Ki Harwati. Tetapi rupanya mencabut pedang sakti begitu tidak semudah mencabut pisau di pinggang tukang mangga. Begitu semangatnya Ki Rotan berusaha untuk mencabut, sementara Ki Harwati pun sudah meronta-ronta dengan lebih bersemangat untuk membebaskan diri, segera setelah ….. pedang itu tercabut maka bergemuruhlah air yang mendadak datang dari arah hulu, banjir yang lebih besar sehingga pohon gading hijau di tepi tebing itu tumbang. Satu kilatan kelihatan, yakni kilatan mata pedang yang terpelanting entah ke mana. Sementara itu pula Ki Harwati terseret bersama-sama akar pohon yang hanyut menuju hilir, disertai oleh suara gegap gempita. Ki Rotan sendiri lebih mengutamakan keselamatan dirinya daripada dia sendiri tenggelam. Dia terseret labih cepat ketimbang Ki Harwati yang masih terkena cengkeraman akar pohon raksasa itu. Tapi dalam berusaha menyelamatkan nyawanya, Ki Harwati pun dapat membebaskan dirinya dari cengkeraman akar. Hanya karena suatu kebetulan pohon itu membelintang dan Ki Harwati tetap diseret arus lalu lepas. Dia berenang kian kemari untuk mencari keselamatan. Sampai akhirnya dia melihat tangan menggapai-gapai di tengah sungai lebih kehilir sana , tak lain tangan Ki Rotan yang mohon pertolongan. Banjir sungai Selawi yang bentuknya bagai lingkaran ular itu, telah menantikan nasib dua pendekar lain jenis ini berkali-kali saling tolong menolong. Dan kedua-duanya berhasil selamat dengan saling berpegangan sewaktu arus menyeret mereka ke cabang sungai yang ke kiri. Ketika itu hari senja, sewaktu Ki Harwati tanpa sengaja berseru:
“Lihatlah pelangi di langit itu! Aku sudah mnemukan tempat yang mesti dituju!” Tampak memang Bukit Segundul sebagai petunjuk di sebelah Bukit Api. Di belahannya itulah Lembah Tujuh Bidadari. Namun dalam kegembiraan itu Ki Harwati menyesali: “Sayang senjata saktiku dua-duanya lenyap karena musibah ini”. “Jangan berdukacita, Guru Muda. Saya siap mengawal tuan untuk sampai ke tempat itu. Bukankah yang tuan maksud, di tempat lengkung pelangi jatuh itu terletak Lembah Tujuh Bidadari, dan di sana pula bersemayam Kitab Tujuh?”. Ki Harwati terdongak kaget. Sebelum dia bertanya:”Jangan dikira hanya tuan Guru saja yang mengetahui rahasia itu. Istriku janda pendekar besar Ki Tunggal. Satu diantara kita akan menjadi pemilik Kitab Tujuh itu. Hal itu tak perlu anda rahasiakan lagi”, kata Ki Rotan, yang membuat Ki Harwati tambah melongo.  AKHIRNYA, Ki Harwati terpukau oleh ramalan – ramalan yang diucapkan Ki Rotan sehingga dia berkata: “Sekiranya aku ikuti apa yang dituturkan kakakku Gumara, mungkin segalanya dengan mudah aku petik”, lalu meneruskan langkah. “Itu tetap saja sulit, karena satu pekerjaan besar lebih baik dilakukan dua orang daripada satu orang” ujar Ki Rotan yang sebenarnya menjiplak ucapan Ki Senik. Mereka melanjutkan langkah sembari terus bicara. “Bagaimana caranya?”, tanya Ki Harwati. “Bukankah kau berjanji akan menyerahkan dirimu seutuh tubuhmu jika kau selamat dari bencana sungai Selawi?” usik Ki Rotan. “Itulah kelemahan tuan, Tuan Guru”, kata Ki Harwati. “Dan kelemahanmu aku tahu pula. Kau pendekar serakah. Kau yakinilah, bahwa bukan kamu yang akan mendapatkan Kitab Tujuh itu”, kata Ki Rotan. Mendengar ucapan itu, langkah Ki Harwati terhenti. Ki Rotan merasa terancam bahaya jika Ki Harwati mengamuk. Lalu dia merasa butuh teman dan ditempuhnya cara bijaksana dan damai. “Kita dari dulu selalu berkait dengan hutang budi. Jangan sampai kau tersinggung oleh ucapanku. Perjalanan kita masih jauh, setidaknya turun naik jurang sebanyak lekukan enam kali lagi. Mari kita tidak bicara sepatah kata pun. Kita menuju jatuhnya pelangi sekarang…” Dan alangkah terkejutnya Ki Harwati maupun Ki Rotan, sebab warna lengkung pelangi itu hilang seketika itu juga, kendati gerimis dan cahaya matahari masih ada. Keduanya kehilangan pedoman, saling bertanya:
“Di mana kita?” Ki Rotan melihat satu jalan lurus. Ki Harwati juga melihat jalan lurus itu. Keduanya kehilangan akal, sampai muncul seseorang dari balik sebuah bukit ilalang. Orang itu melangkah bagaikan orang mabuk, dari arah Bukit Anggun. Ketawanya membelah angkasa, langkahnya sempoyongan. “Kalian berdua tentu tak lupa siapa saya”, kata orang itu. “Ki Dasa Laksana!” seru Ki Harwati serentak dengan Ki Rotan. “Kalian berdua tersesat. Dan butuh aku tentunya”, kata Ki Dasa Laksana. “Betul, kau penolong kami”, kata Ki Harwati. “Jangan tuan guru muda”, kata Ki Rotan memperingatkan, “Janda Ki Tunggal yang aku kawini sudah meyakinkan diriku, bahwa ilmu Ki Dasa ini adalah ilmu Setan dengan iblis sebagai Penghulunya. Jika kita dengar apa yang diucapkannya, kita malah tidak mendapatkan apa yang kita cari”. “Aku potong pembicaraanmu, tikus tua bangka! Aku tahu apa yang kalian cari. Padahal aku telah memilikinya. Telah aku tumpas Ki Pita Loka, dan telah kusimpan Kitab Tujuh itu. Jika kalian berdua ingin mendapatkan tuah Kitab Tujuh, dan berguru kepadaku, syaratnya sedarhana”. “Apa?” tanya Ki Harwati terkena pesona. “Sederhana. Kalian berdua, bersama aku, menuju Desa Kumayan. Kita habisi nyawa enam harimau yang bercokol di sana , kita rubah tata hidup orang di Kumayan. Dan kita bertiga baru syah menjadi orang-orang sakti. Tahukah kalian, bahwa panghalang semua ilmu sakti itu hanya satu orang, yaitu Ki Pita Loka. Sedangkan dia sudah aku bunuh di Lembah Tujuh Bidadari dalam perang tanding yang dahsyat. Kalau kalian tidak percaya, mari kita lewati kuburannya”. Ki Rotan kini ikut terpesona. Langkahnya jadi besar mengikuti langkah Ki Dasa Laksana yang seleboran kayak orang mabok itu. Ketika sampai ke satu lembah, dia menunjuk tujuh pancang kuburan. Ki Harwati tercengang. Enam kuburan berisi enam potongan tangan dan satu kuburan lagi tidak. “Yang tidak sempat aku potong tangannya hanya satu ini, Ki Pita Loka. Tahukah kalian, mengapa Ki Pita Loka gagal mendapatkan Kitab Tujuh? Ini, enam pemuda remaja, pria-pria muda yang berguru padanya. semuanya dia ambil bujangnya melalui perkosaan halus. Dia kena laknat tujuh bidadari. Dan kampungnya Desa Kumayan pun dilaknat para guru, sebab dia anak Ki Putih Kelabu, salah satu dari harimau yang tujuh yang disegani, yang kini jumlahnya jadi enam karena matinya Ki Tunggal. Jadi, kalian berdua harus berterimakasih dipertemukan dengan saya. Ayoh melanjutkan perjalanan. Kita ke Kumayan. Kita goncang desa enam harimau itu. Kita bunuh satu persatu orang-orang yang disegani, sehingga seluruh penduduk jadi kecut. Dan kita bertiga akan ditakuti!” Semangat Ki Harwati, begitu juga Ki Rotan, berkobar. Dan ketika mereka menemukan seorang lelaki utas bersama isterinya, Ki Dasa Laksana memanggil mereka. Ternyata mereka orang utas asal Kumayan. Ki Dasa Laksana dalam sekelebatan memenggal lengan lelaki utas itu. Isterinya melolong ketakutan. “Jangan kuatir. Kami bertiga cuma butuh tumbal lengan suamimu ini. Kalian berdua tidak akan kami bunuh. Pulang tenang ke Kumayan, beritahu pada penduduk, bahwa tiga pendekar pimpinan Ki Harwati akan menyerang desa kalian, kecuali jika penduduk bertekuk lutut.” Gumara barusan saja melepas lelah di Bukit Kumayan setelah melalui perjalanan panjang. Dia kuatir, kembalinya ke Kumayan akan dielu – elukan penduduk secara berkelebihan. Pakaiannya yang compang camping merisaukannya dan pastilah akan dianggap keanehan. Dan apabila dia langsung kembali ke rumahnya yang masih terikat kontrak sewa itu, pastilah juga dia akan berpergokan dengan salah seorang tukang ronda. Dan mungkin pula rumahnya itu sudah dikontrakkan lagi kepada orang lain sebab bisa saja dirinya dianggap “hilang”, dan setiap perkataan hilang akan punya dua makna. Hilang mati, atau hilang sebagai manusia biasa yang akan menjelma menjadi manusia istimewa, Jika anggapan yang terakhir ini timbul, dia akan dikira nanti sudah menjadi “Dukun Sakti” Tapi pakaian kumal dan compang camping ini harus segera diganti sebelum dia dipergoki satu orang penduduk Kumayan. Dia tiba-tiba ingat pada mantera “ilmu silap mata” yang pernah diwariskan ayahnya sebelum Ki Karat itu wafat;
Ada karena aku ada
Aku ada karena ada
Aku tiada karena ada
Sembilan liang lima pancar Lima pancar sembilan liang
Aku ada karena sinar
Tiada sinar aku menghilang!
Lang kata berbilang
Aku hilang dalam Lang Karena keyakinannya pada ilmu hilang itu, diamalkannya membaca mantera itu. Seketika itu juga
menjelma seekor harimau. Dan di atas punggung harimau itulah kini Gumara berada Amalan mantera itu terus saja dia ucapkan. Dan dia telah tiba memasuki pekarangan rumah. Ternyata rumah itu sudah berpenghuni. Gumara memutar pegangan pintu, lalu pintu terbuka tanpa suara. Gumara melihat seorang lelaki tidur diambin. Lelaki itu tidur nyenyak. Gumara masuk ke kamar.
Dan dia melihat kopornya masih utuh. Dia ambil sepasang baju dan celana, lalu dia menukarnya di kamar mandi. Dia ganti sepatunya. Lalu dia buang pakaian usang dan sepatu usangnya yang lusuh dan koyak. Kemudian dia keluar rumah setelah bersisir rapi. Setiba di luar rumah dia diciumi harimau yang jadi tunggangannya tadi. Tanda harimau itu berpamitan dengan dia. Harimau itu menggelicik memasuki kebun jeruk. Dan menghilang. Amalan mantera dia akhiri dengan usiran halus, lalu dia coba memutar pegangan pintu rumah itu. Pintu tak bisa lagi dibuka seperti tadi Gumara puas, karena kini dia kembali menjadi manusia ragawi, nyata, dan terlihat orang. Barulah dia mengetuk pintu. Lelaki yang tadi tidur diambin bambu lalu melihat jam tangan . Tengah malam Ketukan itu didengarnya lagi. Lalu lelaki itu agak kecut bertanya: “Siapa di luar? Ada yang mengetuk?”
“Saya”.
“Siapa?!” agak merinding lelaki tadi berseru gemetar.
“Saya. Guru Gumara”, ujar Gumara
Lelaki tadi agak gentar sejenak. Dia ditugaskan menjadi Guru Matematika di Kumayan karena
alasan bahwa Guru Gumara telah meninggal dunia. Kini ada orang mengaku bernama Gumara?
Orang mati hidup lagi?
Didengarnya lagi ketukan pintu.
Lelaki itu tambah kecut, kendati suaranya lantang membentak: “Siapa di luar!”
“Saya. Guru Gumara”. sahut Gumara.
Lelaki itu jadi ketakutan. Kisah mengenai Guru Gumara sudah hampir jadi dongeng, termasuk
kisah Harwati dan Pita Loka di kawasan Kumayan ini.
“Apa saya tidak salah dengar?” tanya lelaki itu gugup.
“Bukalah dulu pintu ini”, ujar Gumara.
“Tidak, tidak! Saya tidak berani! Saya dengar Bapak sudah … mati!”. Gumara bersitenang
beberapa saat. Dia tahu dirinya sedang diintip. Dia tidak boleh membuat orang lain takut. “Bukalah. Aku masih hidup. Yang bicara pada anda sekarang ini manusia. Bukan roh. Tapi Gumara, guru SMP Kumayan”, ujar Gumara dangan nada meyakinkan.
Lelaki itu membuka pintu. Wajahnya basah kuyup oleh keringat dingin, pucat dan masih curiga.
Gumara masuk dan berkata: “Jangan takut. Aku bukan mahluk halus, kan ? Siapa namamu? Apa pekerjaanmu?”
“Silahkan duduk, Pak Gumara. Nama saya Alif. Pekerjaan saya guru matematika yang
menggantikan bapak selama Bapak menghilang”, dan Alif pun jadi ramah. Bahkan menawarkan
Gumara makan. Tapi Gumara sedang mengamalkan puasa yang mesti dilakukannya siang malam
bagi pembersihan diri. Alif merupakan manusia pertama yang tak dapat menyembunyikan kegembiraannya karena hadirnya Guru Gumara di desa Kumayan. Setelah disediakannya tempat tidur bagi tamunya, dan dipersilahkannya Gumara beristirahat,
maka guru matematika itu pertamakali memberanikan diri ke luar rumah di tengah malam itu. Yang dia datangi adalah Ki Putih Kelabu, dan langsung memberitakan kedatangan Gumara. Ki Putih Kelabu terdongak demi mendengar kedatangan Gumara.
“Beritakan juga pada Ki Lading Ganda dan semua pendekar di Kumayan ini, nak Alif”. kata Ki Putih Kelabu.
“Sudah lama penduduk Kumayan gusar. Baiklah, akan saya hubungi semua orang”, ujar Guru matematika itu dengan langkah girang meninggalkan rumah pendekar Kelabu itu. Risaunya hati Ki Putih Kelabu terhadap menghilangnya putrinya yang baru kembali, Ki Pita Loka —— bukannya kerisauannya yang besar. Tetapi yang sungguh merisaukannya adalah sebelas
orang anak remaja yang kembali ke Kumayan dalam keadaan tangan buntung. Justru kepergian Ki Pita Loka dengan enam anak remaja buntung lainnya itu seperti diberitakan 11 anak yang pulang, adalah kabar baik. Dia yakin Ki Pita Loka bukan pergi sembarang pergi. Ia pasti pergi untuk suatu maksud besar. Tapi, risaunya bangkit lagi ketika Lambada orang utas yang tangannya dibuntungi sembari dititip pesan: Bahwa penduduk Kumayan akan dihabisi. Tak jelas pula suami isteri Lambada orang utas siapa pengancam itu. Tapi dia sudah dibuntungi sedikit menciptakan keyakinan, bahwa pengancam itu menganut Ilmu Iblis. Kini, Guru Gumara sudah kembali. Harapan Ki Putih Kelabu mulai bersemai di hati. Begitupun Ki Lading Ganda setelah mendapat kabar dari Guru Alif, sedikitnya merasa terhibur. Tapi Ki Lading Ganda maupun Ki Putih Kelabu, pagi hari ketika mendatangi Guru Gumara lantas kecewa. “Tuan adalah Harimau Ketujuh, pendekar pelengkap. Anda yang membuat enam harimau bersatu, dan anda adalah Yang Ketujuh”, ujar Ki Lading Ganda.
“Saya manusia biasa. Saya kesini akan kembali jadi guru biasa, guru sekolah. Jangan sebutkan
diriku Harimau Ketujuh julukan itu terlalu berat bagiku”. Sungguh, kerendahan hati yang menjengkelkan dua guru yang datang. Tiga pendekar harimau yang lain sudah tak bersedia datang karena berpendapat bahwa Gumara dirasakan amat angkuh.
“Jadi anda tetap tidak bersedia jika desa Kumayan akan diobrak-abrrk pengacau?”
“Desa ini kan tersedia sarana keamanan?” kata Gumara.
“Memang sekiranya perampok, maling dan pemberontak yang datang ke sini, polisi kira – kira cukup untuk mengatasinya. Tapi saat ini desa kita justru mau dikacau oleh pemilik ilmu Hitam, ilmu iblis? Kita semua ini, yang merasa diri memiliki ilmu Putih harus turun tangan lebih dulu”. “Saya rasa semua itu baru gertak sambal”, ujar Gumara.
“Ha?” Ki Lading Ganda terdongak.
“Mau bukti?” tanya Ki Putih Kelabu sedikit geram,
“Nah, kalau tuan mau bukti, panggil sebelas remaja di luar itu, dan juga Lambada yang sudah dibuntungi! Ayoh panggil kesini tuan Khatib!” serunya. Tuan Khatib memanggil sebelas anak bertangan buntung. Ketika dilihatnya Lambada si orang utas, dia pun dipanggil Khatib: “Kamu juga, orang utas”.
Sebelas remaja, dan satu orang utas, dihadapkan pada Gumara. Gumara hanya diam. Tapi kendati wajahnya tak ada reaksi, namun keringat yang bermanik – manik dikeningnya itu adalah bukti terperangahnya dia. Dia diam membisu, kemudian berkata: “Aku menyatakan duka dan prihatin atas dibuntunginya lengan adik – adik tak berdosa ini. Mau pun anda, orang utas
Lambada. Tapi siapa di antara kalian yang jadi korban ini yang mengetahui pelaku kekejaman ini?”
“Seorang lelaki”, ujar anak buntung. “Dan kau?” “Juga seorang lelaki”, kata Lambada, “Cuma saya segan untuk menambahkan carita ini”. “Katakan saja padaku”, kata Gumara. “Soalnya dia ada pertalian darah dengan Guru yang dimuliakan di sini, yakni Tuan Guru Karat yang sudah meninggal”, kata orang utas itu.Gumara terdongak. Terbayang olehnya Harwati, adik
tirinya. Dia jadi malu oleh keterangan ini, berdiri tegak dan berkata tenang: “Dia yang dimaksud adalah saudara satu darah denganku. Lain Ibu. Aku meninggalkan Kumayan karena ingin meluruskan jalan ilmunya. Lalu apakah adik perempuanku itu yang memotong dengan Pedang Turki itu?” Orang utas yang digelari Lambada itu menggelengkan kepala. Hal ini membuat semua orang terheran-heran. Gumara lalu mendesak: “Jadi siapa yang memotong lengan anda. Lambada?”
“Lelaki itu!”
“Bukun Ki Harwati dengan pedang Turkinya?”
“Wanita itu tidak punya senjata. Apalagi pedang. Yang memegang golok panjang adalah lelaki itu.”, ujar Lambada.
“Ceritakan pada kami siapa lelaki itu!”
“Tak dia sebut namanya. Saya dipanggil, ditanyakan, lalu dipotong. Dia sepertinya orang gila”, kata Lambada.
“Ini tentu Dasa Laksana”, ujar Gumara.
“Betul, itulah orang menyebut namanya di desa Anggun waktu kami disekap”, kata beberapa anak buntung
“Ada yang lain?” tanya Gumara.
“Ada lagi satu lelaki tua, agak bongkok” Gumara lalu ingat Ki Rotan.
“Baiklah, kini aku tahu bahwa komplotan ilmu Hitam ini adalah Dasa Laksana yang menjadi biang keladinya. Jika adikku sudah tidak memegang senjata sakti Ki Turki itu, ini berarti dia tak memiliki daya apa-apa lagi namun Gumara bertanya sekali lagi pada orang utas itu: “Tuan tidak melihat ada ular Piransa membelit di kening wanita itu?”
“Hanya rambut terjurai, tidak ada apa – apanya”, kata Lambada.
Ki Lading Ganda yang tidak sabar lagi lalu berkata pada Gumara: “Tuan Guru Ketujuh, sekiranya hati tuan tak tergerak, mulut tuan membisu, maka tuan termasuk orang yang tidak berperasaan”. ““Hanya karena adik saya terlibat ya?” tanya Gumara kesal.
“Hanya karena mata tuan buta atas sebelah tangan remaja yang tak berguna lagi, dan satu tangan lelaki utas yang awam yang sudah dikorbankan gerombolan adik tiri tuan”, kata Lading Ganda. Gumara diam. Dia tutupi mukanya entah karena malu.
Tapi kemudian berkata pada yang hadir: “Pulanglah kalian semua ke rumah masing – masing dengan jiwa damai dan berserah pada takdir Tuhan”.
“Kami tak mau!” ujar seorang ibu, “Anakku sudah buntung!”
“Tapi ibu musti tahu, bukanlah saya yang membuntungi tangan putera ibu”.
“Kalau begitu tuan pengecut!” kata ibu itu. Gumara tak merasa perlu menjawab. Dia lalu duduk kembali. Tinjunya dia kepal.
Sementara itu, dimulai oleh Ki Putih Kelabu yang menyatakan pamit, disusul oleh Ki Lading Ganda, lalu satu demi satu penduduk yang berkumpul di pekarangan rumah Gumara yang kini jadi rumah Guru Alif itu, berangkat pergi meninggalka Gumara. Tapi masih ada lagi tiga orang ibu yang tidak bersedia pergi. Satu orang di antaranya minta izin bicara. Gumara pun mempersilahkan. “Saya bukan ibu dari anak yang sebelas. Saya ini ibu anak lelaki Talago biru yang menurut cerita temannya yang lain sudah dipotong tangannya oleh komplotan adik tiri tuan. Dari Ki Putih Kelabu saya sudah diberi jaminan, anakku akan diajari ilmu oleh puteri Pita Loka untuk menuntut bela atas kehormatannya. Kini saya ini wanita, janda, tak punya ilmu dan keberanian. Kalau saya sudah menyatakan kebulatan tekad membela negeri ini dihadapan Ki Putih Kelabu dan Ki Ganda, bagaimana tekad tuan? Saya ingin dengar!” Gumara menyahut singkat: “Saya hormat pada ibu!”
“Tuan tak usah menghormati saya. Lebih baik kambing yang menyatakan hormatnya kepadaku! yang saya ingin dengar sikap tuan!”
“Ibu tak usah mendengarnya. Buat apa saya bicara sekarang, karena nilainya hanyalah angjn, tanpa bukti nyata”, ujar Gumara.
“Mulut tuan cukup bebal. Saya meragukan cerita orang, bahwa tuan ini mewarisi titisan darah Ki Karat yang kami agungkan. Kami juga meragukan jaminan Ki Lading Ganda, bahwa tuan inilah Harimau Ketujuh di Kumayan ini, satu-satunya benteng utama negeri ini dari serangan musuh. Saya kira, tuan memang punya sedikit perasaan. Tapi karena adik tuan yang genit itu, Ki Harwati yang sudah bartekuk lutut pada ilmu Setan, maka pendirian tuan jadi bimbang”.
Gumara diam saja. Telinganya bagai terbakar. Tapi dia dapat mengendalikan kesabarannya!
Malamnya ketika ditawari makan, Gumara berkata pada guru Alif: “Aku malu menikmati hasil ladang penduduk sini. Aku akan pergi cari angin ke luar”. Gumara rupanya secara rahasia menuju Bukit Kumayan.
Di tengah “paku” Bukit Kumayan itu dia duduk bersila. Air matanya bercucuran.
Sunyi alam sekeliling. Burung-burung hantu yang biasanya berdekuk, kelihatannya enggan bersuara.
Juga jangkrik-jangkrik maupun kodok bangkong, enggan untuk memecah kesunyian tengah malam itu. Kadang terdengar deru angin, tapi saat ini angin pun seakan enggan berderu. Cemara-cemara yang susun bersusun di tepi bukit tidak bergoyang pertanda tak ada angin. Tetapi Gumara mendadak menghentikan tangisnya. Ketika telinganya mendengar sejarak tiga
ratus langkah di selatan sepertinya ada orang mendekat. Telinganya jadi tambah tajam ketika dia mendengar bunyi logam bergeser. Lalu hatinya berdetak: “Ini tentulah Lading Ganda. Dialah pemilik satu pedang yang jika dicabut menjadi dua pedang”.
Firasatnya timbul. Lading Ganda akan datang untuk menghabisi jiwanya. Kini berdasarkan ketajaman indera keenamnya, pendengarannya diberitahu bahwa langkah itu semakin dekat, tinggal sekira 100 langkah lagi. Benar, langkah itu cukup cepat untuk menjadi dua puluh satu langkah lagi dari jarak duduk Gumara, lalu berhenti. Gumara membelakang. Dia mendengar suara logam beradu, senjata Ki Lading Ganda.
“Tuan, aku datang untuk menghabisi diri tuan”, terdengar suara. Gumara menghembuskan nafas panjang, amat lama, seakan-akan mengeluarkan semua hawa dalam dirinya. Sedang ketika dia menghelanya lagi, pendek saja, dan hembusannya panjang lagi, hingga menggoyangkan daun-daun kaca piring yang berumpun sekitar 10 langkah dari duduknya. “Tuan, dulu saya berminat mengambilmu mantu. Juga Ki Putih Kelabu. Tapi kedatanganku di sini atas izin Ki Putih Kelabu maupun tiga harimau lainnya. Kami berlima sudah mengucapkan ikrar, bahwa tuan itu manusia tak berguna di Kumayan Ini. Hewan masih lebih berguna dari tuan. Jadi aku diutus untuk menghabisi tuan”.
Gumara tak bergerak sedikitpun. Juga ketika Ki Lading Ganda sudah memulai dengan bunga persilatan, termasuk tempelan kependekaran yang sudah diisikan oleh empat pendekar lainnya. Jadi Ki Lading Ganda sudah berisikan lima jenis persilatan dalam satu diri ! Gumara hanya bergerak sedikit sewaktu satu sabetan lading keramat mau menebas kapalanya,
yaitu gerakan menunduk. Angin dari dua ujung kaki pendekar bergolok itu sempat mendesing di kedua telinga Gumara. Lalu Gumara melihat dua logam tajam berkilau serentak terayun ke arah dirinya, tetapi sebelum membelah kepalanya, Gumara cuma berguling menghindar perlahan. Akibatnya satu tendangan manyamping mengenai bahunya. Tendangan Ki Lading Ganda itu
sedemikian kerasnya, sampai melemparkan tubuh Gumara yang tadinya membulat, membentur dua pohon cemara, dan membuat pohon cemara itu terpotong dua-duanya bagai digergaji rata. Gumara sendiri membinasakan tigabelas pohonan pisang berumpun, dan dia seakan – akan harus menggeletak di atas bantalan pohon pisang yang jadinya berjajar itu.
Ki Lading Ganda tiba-tiba yakin bahwa Gumara hancur karena buktinya dua batang pohon Damara patah terpotong seperti digergaji. “Mampus kau, manusia angkuh!”ujar Ki Lading Ganda mengutuk. Eh tiba – tiba pula muncul dengan sempoyongan Gumara dari balik rumpunan pohon sawo di arah timur. Dia seakan – akan mau menyerahkan diri kepada Ki Lading Ganda. Langkahnya tidak memperlihatkan kesiapan sedikitpun untuk bertarung. Hal ini membuat Ki Lading Ganda menantinya, membuat acuan untuk melakukan lompatan sembari akan menebas perut Gumara. Itu dilakukannya dalam jarak duabelas meter. Dia membuat jungkir balik dua kali sebagai tipuan salto, dan ketika menjungkir yang ketiga kali dia ayunkan dua golok kembarnya itu yang berkilat membabat tubuh Gumara. Tampaknya tubuh itu sudah terbabat, tapi Ki Lading Ganda terheran-
heran mencarinya entah kemana namun tak kelihatan. Meloncat tinggikah dia tadi? Lalu tampak ada orang turun dari pohon aru – aru yang tinggi. Turun begitu saja ibarat turunnya kera pemanjat kelapa yang terlatih. Sebelum orang itu, yang tak lain Gumara, sampai turun benar, maka Ki Lading Ganda ingin mempergunakan kesempatan terbaiknya: Dia nanti dan dua golok kembarnya membabat. Saking kuatnya, golok itu menancap di pohon aru-aru itu, begitu dalamnya. Yang dirasa Ki Lading Ganda ketika di babatkan goloknya itu adalah desingan angin di alas kepalanya. Memang betul. Ki Gumara sudah duduk bersila di tengah “paku” Bukit Kumayan itu. Ki Lading Ganda masih berusaha mencabut goloknya yang menancap. Saking kerasnya tebasan golok dan
tancapannya itu, hingga dua mata golok itu sudah hampir beradu, dalam jarak satu belahan lidi saja lagi! “Maafkan, saya menyusahkan tuan saja”, ujar Gumara, lalu meninggalkan Ki Lading Ganda. Barulah ketika fajar menyingsing Ki Lading Ganda berhasil melepaskan tancapan goloknya, sementara Gumara sudah ngorok di rumah ketika itu … Dan ketika Gumara tidur nyenyak itulah, dia dibangunkan oleh Guru Alif yang akan pergi mengajar. Ada lima orang tamu penting yang minta bertemu dengan Gumara. “Siapa mereka?” tanya Gumara.
“Selain Ki Lading Ganda dan Ki Putih Kelabu, yang tiga lagi saya tak mengenalinya”, kata Guru Alif.
“Di mana mereka sekarang?” tanya Gumara.
“Semuanya tak bersedia naik. Semuanya di pekarangan”, ujar Guru Alif. Gumara bersitenang sejenak. Lalu dia ke kamar mandi. Dia mencuci muka sejenak. Lalu bersisir merapikan rambut. Kemudian dia membuka pintu depan. Dalam sekelebatan dia tidak heran, di balik tiap rumpunan pohon telah terdengar deru auman harimau. Lima pendekar secara langsung sudah menjelmakan
diri mereka menjadi lima ekor harimau! Gumara sadar, bahwa dia sedang dalam ujian. Dan taruhan! Dia bebaskan dirinya dari sikap jengkel atau bangga. Dia tarik nafasnya dalam-dalam, seakan-akan seluruh nyawanya sudah kosong. Dan ketika dia merasa seluruh dirinya menjadi ringan, dia menuruni tangga rumah sampai ke pelataran tanah, pelataran pekarangan.
Setiba di sana , dia sudah merasa seringan awan bergantung. Dia telah melepaskan dirinya dari seluruh pengertian hayati dan ragani. Ujud raga kasarnya yang terlihat adalah wujud Guru Gumara yang tak meyakinkan sama sekali. Dia melangkah ringan menerobos semak-semak, diiring dari belakang oleh wujud ragani lima ekor harimau. Daun-daun seakan merunduk memberi salam takzim kepada Gumara yang melangkah santai. Kadang memang dia harus menyerempet daun-daun itu, namun “hanya sedikit yang terkibas. Bahkan daun singkong kuning yang sudah siap untuk rontok oleh hembusan angin, ketika tergeser oleh tubuh Gumara yang menyerempetnya, tak jadi gugur ke tanah. Gumara terus melangkah menginjak rumputan yang masih berembun. Tapi rumputan itu seakan-akan tidak meninggalkan bekas telapak kaki Gumara yang baru menginjaknya.
Setiba di tepi Bukit Kumayan, Gumara berhenti sejenak. Lima harimau yang menggiringnya dari belakang pun hati-hati berhenti.
Ada yang mengibaskan ekornya. Ada yang mulai mengaum. Tanda tak sabar. Gumara melirik, dia mengetahui itulah penjelmaan Ki Lading Ganda. Di bawah sana itu, di sudut tiga Bukit Kumayan, kedengaran suara gemericik Pancuran Mayang.
Air terjun itu dikenal tabu oleh penduduk. Tapi Gumara harus ke sana . Ketika langkahnya baru empat puluh kali pijakan menuju bawah itu, harimau yang paling geram aumannya mendadak meloncat ke depan, mencegat, mencekerkan cakarnya pada tanah kucing menggali. Ketegangan amat terasa. Seekor harimau yang lebih lembut gerakannya, dengan tanda khusus putih – putih bergaris di sela abu-abu mencegat pula. Ia tahu, dia ini tak lain pendekar paling disegani: Ki Putih Kelabu. Tiga lainnya pun sudah maju ke depan. Menghadang semuanya Ketika itu Gumara semestinya menampilkan kesejatiannya, menjelmakan
dirinya pula pada kependekaran, melengkapkan yang lima jadi enam. Tapi Gumara Cuma menghentakkan nafas dari ubun kepala ke pusar-pusarnya dangan satu hentakan nafas yang padat. Dirinya melayang melompati lima pendekar yang siap mencegatnya. Dia melayang bagai kapas diterbangkan angin. Satu lompatan layang itu mampu melampaui
jarak 12 meter, lalu turun bagaikan seekor bangau. Dan kakinya menciptakan suara gemericik cipratan air sewaktu sampai di depan Pancuran Mayang. Ketika dia menoleh ke atas bukit sana, yang disaksikannya adalah lima orang pendekar manusia:
Ki Lading Ganda. Ki Putih Kelabu, Ki Rangga dan Ki Zarah dan Ki Lafaz. “Hai tuan-tuan, mari mandi di Pancuran Mayang”, ujar Gumara. Gumara mendengar suara Ki Putih Kelabu yang menyahuti di atas itu: “Tuan muda, ajari kami”.
“Aku hanya mengajak kalian mandi”, sambut Gumara. “Ajari kami mandi”, kata Ki Putih Kelabu.
Gumara hanya menyahuti: “Lihatlah apa yang aku perbuat, dari jauh”.
Gumara menhenyakkan nafasnya dari ubun ke puser, sembari satu tangannya menebas air terjun itu. Lima pendekar menyaksikan air terjun itu terpotong dua. Yang di atas tak lagi mau turun ke bawah, tapi kemudian turun lagi sewaktu Gumara menghela nafasnya dari puser ke ubun kepala. Dia sabet lagi air terjun itu dengan tangan kiri. Kejadiannya sama seperti yang pertama. Seluruh amalan itu dia perlihatkan sebanyak 41 kali. Lima nafas besar di atas melepaskan ketegangan dan kekaguman. BELUM habis lima pendekar menyaksikan pelajaran itu, mereka semua menoleh ke arah suara seorang perempuan minta tolong. Perempuan itu dengan histeris memegang tubuh Ki Lading Ganda yang dia kenal jagoan; “Tuan
guru! Kumayan mandi darah ! banyak orang dibunuh oleh pendekar sinting!” Ki Putih Kelabu kalap, dan menoleh ke pancuran di bawah situ. Ki Lading Ganda malah memanggil ke bawah: “Gumara, bantulah kami!” Tapi guru yang tiga lagi justru melihat Gumara sudah tak berada di Pancuran Mayang sembari tercengang heran. Ya, dia sudah melakukan sebelas lompatan ke atas tanpa diketahui oleh lima pendekar itu, dan kini berhadepan dengan seorang pendekar yang mempermainkan goloknya, seorang wanita berambut sarang laba-laba yang tak lain Harwati yang ketawa cekikikan melulu, dan … Ki Rotan Sebenarnya baru tiga orang menggelimpang membasahi tanah Kumayan. Mereka terkena golok liar Ki Dasa laksana yang masih menari dengan goloknya. Gumara dalam sekelebatan seakan bagai seekor bangau yang mengibaskan telapak -tangannya ketika golok itu akan menyabet lehernya. Golok itu membal, lalu mata golok itu menghantam tangan Dasa Laksana. Darah manyembur dari pergelangan tangan pendekar sinting itu, dan dia berteriak Mendengar teriak itulah Ki Rotan bangkit dengan kemarahan hebat, menghambur dengan kedua kaki menjepit leher Gumara. Gumara cuma mengangguk sedikit, tapi tubuh Ki Rotan dan jepitan kakinya berbalik lepas, terlempar sekitar sepertiga lapangan bola. Detik itulah Gumara mencengkeram tubuh Ki Harwati yang menjerit histeris, dan berkata: “Ingat siapa dirimu!”
Ki Harwati menguakkan dua tangannya, lalu mundur membuka kuda-kuda. Dengan ayunan kaki ke kiri sekali, lalu kaki kanannya menguak lebar dari tubuhnya menerobos bagaikan seekor buaya menyarang dari bawah. Gumara terkena sabetan kaki adik tirinya itu bagaikan manusia terkena sabetan ekor buaya. Gumara melompat dangan dua tangan mengincar belahan mulut Harwati, ibaratnya pawing buaya menaklukkan buaya. Kendati kaki Harwti berkelabat bagai ekor buaya menyabet, namun
mulutnya sudah dikuak seakan-akan merusak pernafasan. Waktu itulah Ki Rotan menyabet tangan tongkatnya, tapi Gumara sudah menangkis sabetan itu dengan memiringkan tubuh dan tongkat itu terlempar kena telapak kaki Gumara.
Ki Harwati pingsan. Ki Dasa Laksana yang masih melintir bergulingan di tanah menahankan nyeri tangan kirinya yang
hampir buntung itu, begitu melihat Ki Harwati pingsan, lalu melarikan diri. Tapi di mulut jalan sudah muncul lima pendekar utama Kumayan, yang ingin menangkap musuhnya itu hidup-hidup. Melihat keadaannya terkepung, Ki Dasa Laksana menjatuhkan diri
dengan kata-kata sembahan:
“Aku menyerah. Aku akan segera menyingkir!”
Ki Lading Ganda tidak sabaran lagi, lalu dia berkelebat maju satu langkah, mencabut goloknya yang ampuh, dan golok itu menjadi kembar. Dia tancapkan golok kanannya tepat di tangan kiri Dasa Laksana yang baru akan berdiri sembari acukan tangan. Lunaslah tangan kirinya dalam keadaan buntung total. Tetapi dia sempat menyerempet lepas dari kepungan setelah terkena satu tendangan menyamping yang dihantamkan Ki Putih Kelabu, sehingga dia terlempar sejauh 44 depa dan menabrak satu pohon pinang yang roboh seketika. Buah pinang yang lepas dari jurai mengenai kepala Ki Dasa Laksana, yang justru mengisi kekuatan baru bagi pendekar sinting ini. Dengan tangan buntung satu, dia berubah menjadi menggila. Dia membabi buta menyerang siapa saja yang berdiri. Seorang anak kecil terpekik lalu tubuhnya menabrak dinding rumah. Dinding itu hancur dan anak itu mati, ibunya menjerit. Ya … Dasa Laksana mengamuk bagai seekor babi yang buta. Dia membabi buta menggasak tubuh Gumara tetapi cuma kena srempetannya saja sebab Gumara mengelak sembari mengelak pula menangkis pukulan
gandengan tinju sekeras batu yang dilampiaskan Harwati. Tinju Harwati mengenai batu kilo meter, dan batu itu hancur bagai es kena palu pembelah. Harwati bertambah semangat ketika dilihatnya Data Laksana dengan tangan buntung menyerang
membabi buta, saking butanya serangannya mendongkak tubuh Ki Rotan yang mental ke udara. Tapi dia sempat sadar, sebab menjelang kakinya jatuh ke tanah, sempat menyabet leher Gumara, yang tunduk hingga Ki Rotan jumpalitan. Ki Lading Ganda kini masuk dengan penasaran. Hanya kilatan goloknya saja yang tampak karena cepatnya permainan silatnya.
Tapi belum satupun pukulan goloknya yang tepat. Dua kepal daging paha Ki Rotan tercubit oleh golok, lalu Ki Rotan lari. Serasa hanya beberapa menit saja perkelahian itu seluruhnya, lalu … sepi sekitar. Sungguh dahsyat. Sungguh, jika dilihat begitu banyaknya debu sekeliling lapangan perkelahian yang barusan berlalu …. dan bagaimana begitu lama debu itu turun, itulah bukti nyata. Betapa lama dahsyatnya pertempuran yang barusan berlalu. Kependekaran kadang – kadang disertai kelicikan juga. Tapi Gumara tidaklah kaget seperti kagetnya Ki Lading Ganda sewaktu usai perkelahian tidak menyaksikan bagaimana caranya Ki Harwati, Ki Rotan dan Dasa Laksana melarikan diri. Lima pendekar itu semuanya cemas. Tapi Gumara tidak. Dia seakan-akan sudah mengetahui kemana mereka itu melarikan diri. “Kita akan tenteram selama 100 hari”, ujarnya. Ki Putih Kelabu yang paling yakin pada ucapan Gumara. Dia mendekati pendekar yang teramat tenang itu, dan bertanya “Apakah ramalan anda ini didapat dari mimpi?” “Ya” sahut Gumara. “Kalau begitu saya tambah yakin, Ki Guru berkata benar, bahwa dalam kurun waktu 100 hari desa Kumayan akan tenteram. Sebetulnya saya ingin bicara empat mata saja dengan Ki Gumara”, ujar Ki Putih Kelabu. Ki Lading Ganda cepat memotong: “Jika demikian saya akan mengundurkan diri bersama teman- teman. Oh ya, saya minta maaf atas kelancangan saya pada Tuan Guru Muda Gumara”. Mereka berpelukan. Setelah Ki Lading Ganda pergi, Ki Putih Kelabu berkata pada Gumara: “Tuan Guru. Saya ingin mengundang anda makan malam di rumah saya. Itulah yang akan saya sampaikan empat mata”.
“Baik. Pak. Saya akan datang setelah mahgrib”, ujar Gumara.
Gumara lalu pamitan, dan dia melangkah menuju sekolah SMP, bekas tempat dia mengajar. Di sekolah itu, tiada lagi bekas muridnya. Gumara mengetuk pintu ruang Dewan Guru, dan beberapa orang guru lama yang dia kenal menyambutnya. Tapi tidak ada seorang pun yang menanyakan soal kepergiannya yang misterius. Dan tidak pula ada yang berbasa basi kepadanya untuk kembali mengajar di SMP itu. Karena itu Gumara pula yang memulai: “Saya rindu berdiri di depan kelas kembali. Permohonan saya untuk mengajar, belum saya ajukan. Tapi apakah Kanwil disini kira – kira bersedia menerima saya kembali?”
Menyela Direktur SMP Kumayan: “Sebaiknya melamar mengajar matematika di SMA saja, yang baru akan diresmikan tak lama lagi” “.
“Sepertinya akan sulit. Kepergian saya tanpa izin. Tapi keinginan saya yang sesungguhnya justru mengajar di SMP ini. Apa Pak Direktur punya salinan berkas saya diberhentikan?”
“Sabaiknya ditanyakan pada Pak Kakanwil. Beliau lebih tahu”, kata Pak Direktur.
Lalu Gumara pamit dengan sopan. Diluar dugaan, di kantor Kanwil dia disambut hangat. Namun bukan sebagai guru SMP. Dia disambut karena sudah tersiar berita dari mulut ke mulut, bahwa dekat lapangan Bukit Kumayan barusan saja Guru Gumara menumpas pengacau. “Itu soal kebetulan, Pak Kakanwil”, ujar Gumara, “Setiap munculnya kekacauan, pasti akan muncul pula orang yang menertibkannya. Yang saya urus sekarang ini ke sini, soal status saya sebagai guru SMP Kumayan. Apakah saya sudah dipecat?”
“Saya sulit melindungi anda, Pak Gumara. Soalnya pemberhentian anda itu karena kurangnya anda menegakkan displin guru. Tiga Tahun lebih tanpa memberitahu anda ke mana, cukup merepotkan kami membela anda ketika Inspektur SMP datang ke Kumayan ini melakukan inspeksi, jadi posisi saya pun sulit”. Mendadak muncul seorang anak muda buntung, tangan menyerobot masuk: “Guru Gumara ada di sini, Pak?” “Saya Guru Gumara. Adik perlu apa?”
“Orang bilang, keadaan desa Kumayan akan tenteram 100 hari Apa betul itu, Pak?” tanya anak buntung itu. Gumara lebih tertarik melihat tangan buntung itu. Diraihnya bahu anak itu, dielusnya tangan butung itu. Dan bertanya: “Musibah apa yang menyebabkan tanganmu begini?” “Kami semuanya 17 orang mengalami musibah “, kata anak itu.
“Siapa namamu?”
“Makara, Pak”.
“Mana temanmu yang 16 orang lagi?” tanya Gumara.
“Kami yang kembali ke Kumayan cuma 11 orang”, kata Makara.
“Lalu yang enam lagi kemana ? “ tanya Gumara.
“Mereka diajak oleh puteri Ki Putih Kelabu entah ke mana, Pak!”
Gumara lalu menepuk bahu Makara dan berkata; “Kamu beruntung pulang ke Kumayan. Jadi bisa melanjutkan sekolah. Masih sekolah kan ?”
“Masih, Pak Tapi sekarang menulis dangan tangan kiri karena buntung. Tapi kami 11 orang dianggap jagoan di Kumayan ini, Pak”
“Ingatlah, jagoan hari ini belum tentu jagoan esok hari. Karena mungkin besok akan ada jagoan yang lebih jago. Tapi sejago-jago ayam jago, masih kalah dengan ayam betina. Ayam jago hanya menyumbangkan dagingnya, tapi ayam betina menyumbangkan dagingnya dan telur-telurnya bagi manusia. Nah, jangan kamu pikirkan lagi soal desa Kumayan. Dan jangan sekali-kali menganggap aku ini jagoan” Tetapi anak itu puas karena telah bertemu dengan seorang “pahlawan Kumayan” yang sudah jadi cerita dari mulut ke mulut sebab sudah mengusir tiga pengacau. Tapi hari itu sampai magrib Gumara diliputi perenungan. Tentu tidak lain dia merenungi nasib  Pita Loka yang pasti sebentar lagi akan ditanya oleh Ki Putih Kelabu. Ketika dia memasuki rumah Ki Putih Kelabu, dia merasakan ada satu tenaga, yang mirip kekuatan magnit. Di cobanya melayani tenaga itu dengan perlawanan nafas, tapi rasanya kekuatannya jauh besar. Langkah Gumara dirasanya berat sewaktu masuk ke ruang tamu. Ki Putih Kelabu belum nampak. Tapi dia sudah yakin, bahwa kekuatan magnit tadi bukannya dikirimkan oleh Ki Putih Kelabu. Orangtua itu bukan guru yang jahat yang punya kesukaan mencoba – cobakan.  Begitu Ki Putih Kelabu muncul, Gumara sudah duduk bersila di lantai yang dilapisi tikar rotan Bugis. “Apa yang tuan rasakan saat ini?” tanya Ki Putih Kelabu. Gumara hanya diam saja, sebab dia sedang melayani semacam serangan gaib entah dari mana.
“Apa tuan merasa ada kelainan?” tanya Ki Putih Kelabu. Gumara cuma mengangguk. Dia tidak akan bicara. Sebelum jelas siapa ssbenarnya di balik serangan berkekuatan magnit ini.
“Kalau begitu, apa yang anda rasakan tentu saya rasakan juga. Rasanya tengkuk saya ini berat
sekarang”. Ujar Ki Putih Kelabu dan lalu bertanya pada Gumara: “Anda juga merasakan tengkuk berat?”
Gumara mengangguk. Lalu Ki Putih Kelabu bertanya lagi:
“Ada semacam bau wangi?”
Juga Gumara mengangguk. “Apa guru mau pindah tempat duduk?” tanya Ki Putih Kelabu seraya menunjuk ke tempat dimaksud. Yaitu tempat yang menghadap ke pintu. Gumara menggelengkan kepala, menolak. “Tadi langkah kaki saya berat sekali, seperti digantung besi”, ujar Ki Putih Kelabu, lalu bertanya: “Anda juga merasa begitu waktu masuk ke sini?”
Gumara mengangguk.
“Wah. ini harus kita lawan”, kata Ki Putih Kelabu.
Gumara tidak memberi reaksi. Dia tiba-tiba merasa ada benda yang berat menghimpit kepalanya, sepertinya piring raksasa. Gumara mengatur pernafasan! Gumara mencoba memenuhi isi lambung dengan tarikan kepusar, dan kemudian manyalurkan gelombang udara itu merambat urat – urat darah ka atas, menuju ubun kepala. Ketika tiba di ubun kepala, Gumara seperti memompa ke luar udara gelombang tadi. Wajah Gumara bercucuran keringat. Keringat itu semakin menderas. Ubun kepala Gumara seperti mendidih, Ki Putih Kelabu melihat asap atau uap yang mengepul di ubun kepala Gumara. Tiba-tiba tampak ada semacam kilat yang melesat dari kepala Gumara. Lalu loteng yang terbuat dari papan kepayau itupun berlobang. Gumara waspada tidak menghentikan pangaturan nafasnya, ada gelombang di lambung bisa terus dihalau ke ubun kepala. Kelihatan lagi oleh Ki Putih Kelabu satu bundaran bagai kilat melesat. Bila benda itu membentur loteng kayu kepayau, tampak loteng itu berlubang. Kini Gumara benar – benar bermandi keringat. Benda yang bertengger di ubun kepalanya itu terasa jauh lebih berat dari sebelumnya, sehingga tanpa disadari Gumara terpaksa minta  bantuan ke dua belah lengannya. Tinju dia genggam. Tinju itu sejak ditaruh di dua dengkulnya sudah dicobanya berisi kekuatan pembantu. Kini, sembari bersila itu, Gumara mengumpulkan kekuatan pada dua ujung tinju itu. Tinju itu didorongnya ke depan, ke samping, ke bawah, dan kemudian dua tinju itu menghantam ke atas, tepat di depan batang hidungnya sendiri. Tinju itu mengenai satu benda yang menciptakan bunyi logam, tapi logamnya tak tampak. Namun kilatan cahaya yang melesat ke loteng cukup tegas. Loteng itu hancur. Dan dalam keadaan bersila, mengepal tinju. Gumara menganggap serangan musuh tak dikenal itu sudah berakhir. Ki putih kelabu yang selama terjadinya serangan tanpa raga itu begitu tegang, kini tampak tenang.
“Maaf, saya akan pamitan dulu”, ujar Gumara.
“Jangan, nak”.
“Sekali lagi, maaf”, ujar Gumara, dari bersila langsung berdiri.
“Saya ingin tahu siapa penyerang tadi?”
“Murid iblis”, kata Gumara.
Lalu dia memberi salam pada Ki Putih Kelabu, dengan cara penghormatan yang luar biasa
hebatnya. Telapak tangannya dia tempel ke kening, lalu merendahkan kepala, lalu berlalu.
Dan telapak tangan yang menempel di kening itu baru dia lepas dari keningnya setelah dia tiba di pekarangan. Jalan kecil menuju rumahnya lengang, Gumara melangkah dengan perlahan dan semakin perlahan. Sebab kakinya seperti diberati lagi. Gumara mencoba melangkah, semakin tebal rasanya tapak kakinya. Dan Gumara kini memutuskan untuk meladeni gangguan lawan, sekali lagi! Dalam berdiri itu Gumara menggenggam dua tinjunya. Lalu tinju itu dibuang kesamping kiri dan ke kanan. Dan bergantian, tinju kanan dan kiri menebah dada. Delapan kali debahan dada kiri dan kanan, Gumara tiba-tiba melihat satu lesatan sinar menuju ke arah mukanya, tapi cepat Gumara menangkisnya dengan dua tinjunya terhantamkan ke depan. Bunyi logam berdenting disertai kilatan sinar yang melesat berjumpalitan di udara. Di udara dia menjadi semacam kepulan asap ledakan. Dan ketika mata kanan Gumara melihat ada sinar menyerang dari kanan, Gumara menangkisnya dengan tinju dan kedengaran bunyi logam disertai kilat melesat ke udara. Lalu di udara tampak asap bagai kembang api pecah. Lalu datang lagi serangan dari kiri. Bunyi logam membentur kedengaran tepat ketika tinju tangan kiri Gumara dia buang ke kiri. Tanpa perduli dia kemudian meneruskan langkah yang ringan. Sampailah dia di pekarangan rumah yang ditempati Alif. Begitu akan masuk pekarangan. belum lagi sampai di tangga, Gumara melihat sosok berdiri di hadapannya, dalam jarak tiga meter, seperti mencegat. Sosok itu diam berdiri. Gumara pun mengambil posisi diam berdiri. Gumara mengepal tinju. Lawannya pun mengepal tinju. Gumara mengangkat dua tinjunya, lalu menebah tinju itu ke dada. Lawannya itu pun berbuat sama. Gumara memekarkan tinjunya, lawannya pun demikian. Jari-Jari mekar itu kemudian merambat dari paha, naik ke dada lalu dia buang ke depan. Di sini lawannya pun melakukan hal sama. Bahkan ketika sama – sama membuang telapak tangan ke depan, dua telapak tangan itu seakan – akan hampir saling menempel. Jarak dua telapak tangan yang hampir menempel itu hanya berjarak tiga centimeter saja. Tapi apakah yang sedang terjadi? Telapak tangan Gumara, maupun telapak tangan lawannya, sama-sama mengeluarkan keringat. Sama-sama keringat menetes. Bahkan kadang diseling oleh pijaran api. Gumara masih barada dalam hembusan satu helai nafas yang secara berangsur dikeluarkannya sedikit – sedikit Dia hematkan energi untuk mengangsur satu nafas itu agar tidak terlanjur terhambur. Wajah Gumara mulai mandi sinar kehijauan karena percikan keringat. Begitupun lawannya. Sehingga makin lama semakin jelas siapakah lawannya itu. Lama kelamaan wajah itu berupa wajah Ki Karat, ayah kandungnya sendiri. Tapi Gumara tidak tergoda untuk berseru setelah mengenal wajah itu, sebab dia kuatir itu cumalah godaan belaka. Dia terus mengontrol nafasnya, yang tiap per 1000 detik adalah pancaran kekuatan cahaya. Gumara tahu,dirinya dipenuhi mega elektro magnetik, yang demikian dahsyatnya, yang jika ditempelkan neon sekian ribu watt maka cahayanya akan menerangi seluruh desa Kumayan. Makin lama, yang dia kira lawannya, semakin jelas kehijauan, dan, dan, dan itu tak lain adalah ayahnya. Makin lama wajah ayahnya semakin nyata. Jika benar ini ayah, tentu ayah sedang mambuktikan dirinya sebagai lawan, bukan sebagai guru. Kekuatan yang dikirimkan ayah lewat gelombang sinar radiasi ini pun tampaknya tak tanggung-tanggung. Kekuatan begini, jika tak teliti, bisa membunuh. Gumara ingin memperingatkan ayahnya yang sudah mati itu, tapi dia sudah yakin. Ilham seakan datang arwah ayahnya sedang murka, khusus datang dalam alam kematian barzah ke bumi nyata ini, untuk suatu peringatan. Tapi aneh, lama kelamaan lawannya ini melemah dan melemah. Di tepi tebing dibalik lembah Air terjun Mayang, di malam gulita itu Harwati membanting tubuhnya ke permukaan makam. Makam itu mengepulkan asap. Ki Harwati putus asa. Matanya terbeliak nanar, menatap Ki Rotan yang kelihatan tegang. Ki Rotan bertanya : “Gagalkah roh Ki Karat membantumu?”
“Asap itu sebagai bukti”, ujar Ki Harwati.
“Aku memang menduga begitu. Betapapun hebatnya ilmu Ki Karat, mungkin masih lebih tinggi ilmu Ki Gumara. Selain itu, roh guru yang sudah mati tentu lebih rendah dari roh guru yang masih hidup”. Ki Harwati merangkul lagi makam ayahnya. Dan asap itu makin lama semakin menghilang. Yang tinggal hanyalah bau menyan. Tiba-tiba saja, dalam putus asa itu, Ki Harwati melihat ada benda kecil bergerak. Ternyata seekor kalajengking sedang merayap dari arah batu nisan pekuburan Ki Karat. Ki Rotan setengah berseru:”Itu dia bantuan baru ayahmu!”
Kalajengking itu merayap perlahan, lalu menyusul satu kalajengking lagi dan satu kalajengking lagi, kemudian puluhan dan ratusan kalajengking sudah mengerubungi permukaan kuburan Guru yang sudah mati itu. Ki Harwati mencoba menahan ketegangan dan kegembiraan. Ketika Ki Rotan mau berkata, dia memberi larangan:
“Jangan ganggu aku, Ki Rotan”.
Kalajengking itu sudah merayap dengan ramah melalui paha Harwati, terus berlomba menaiki dada dan punggungnya, lehernya, kemudian memenuhi rambut dan mukanya. Ki Rotan tambah tegang karena tidak memahami apa yang akan terjadi selanjutnya. Seluruh wajah Harwati sudah tertutup oleh Kalajengking. Dia kelihatan begitu mengerikan. Dia seakan menanti isyarat roh ayahnya, apa maksud dari “Kiriman kalajengking” ini. Lalu muncullah isyarat itu! Harwati seakan-akan diharuskan berdiri, sepertinya harus bangkit dari perasaan kalah dan putus asa. Dia kemudian melangkah lebih tegap tanpa menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Ki Rotan yang kebingungan. Dan dengan digayuti ribuan kalajengking itu, Ki Harwati agaknya dituntun ke arah Barat, ia menuju ke air terjun Mayang yang dianggap tabu mendatanginya kecuali atas izin. Ketika Ki Rotan ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan membuntuti Ki Harwati dari belakang, dia agak kaget. Sebab Ki Harwati berhenti mendadak, dan membalik ke arahnya. Lalu beberapa ekor kalajengking yang bergayutan turun dari tubuh Ki Harwati. Binatang-binatang mengerikan ini menjalar seakan mau menyerbu Ki Rotan. Ki Rotan mundur dengan panik, tapi dia tidak melihat pada jurang belakangnya. Yang kedengaran kemudian adalah teriakan Ki Rotan yang melolong memecah malam gulita. Dia terjatuh ke jurang di bawah itu. Dan Ki Harwati malanjutkan melangkah ke tujuannya setelah bebarapa ekor kalajengking itu kembali bergayutan ke tubuhnya. Ki Harwati tiba di air terjun Mayang menjelang terbitnya matahari. Di sini rupanya dia harus mandi mensucikan diri bersama ribuan kalajengking itu. Tubuh Ki Harwati menggigil. Dan dia merasakan sesuatu kekuatan yang maha hebat ketika tubuhnya itu, tanpa terasa, telah menyelusup secara ajaib sekali ribuan kalajengking itu …. seluruhnya seperti merayap ke dalam darahnya, dan dia merasakan ada kekuatan dahsyat yang sedang memasuki tubuhnya. Tapi, beginilah rupanya seorang pendekar yang sedang kehilangan guru. Dia tidak tahu apa yang  mesti diperbuatnya ketika tiba-tiba muncul satu tenaga yang membuat dia jumpalitan diantara batu-batuan itu, lalu ……. meloncat keatas dan hinggap di tepi tebing. Lalu seluruh geraknya bagai spiral angin puyuh. Beberapa pohonan terpaksa menyerah roboh apabila terkena tubuhnya yang melesat hebat. Tidak satu mahkluk pun dapat mengetahui kemana tujuannya. Hanya matahari cerah yang memberitahukan dimana kemudian Harwati berada. Dia sendiri tidak mengetahui dimana dia berada, apabila dia tidak bertemu secara mengejutkan dengan seorang pendekar muda. Pendekar muda itu bertangan buntung. Dia terkejut mendapatkan seorang wanita beringas yang seperti menancap mendadak berdiri dihadapannya.
“Siapa kau!” bentak Ki Harwati pada pemuda buntung itu.
“Aku Talago biru”, ujar pemuda buntung itu.
“Ikut aku!” perintah Ki Harwati
“Tidak, tidak, ….. saya tidak akan mengikuti anda. Anda bukan guru saya!”
Ki Harwati penasaran dan menghampiri pemuda buntung itu dengan sikap mengancam:
“Kalau begitu sebutkan guru kau.Dan hadapkan padaku!”
Talago biru dengan tenang menatap pada Ki Harwati. Dia tidak tahu persis siapa sebenarnya pendekar yang beringas ini. Pengalamannya selama berguru kepada Ki Pita Loka tidak pernahmendapatkan pelajaran untuk menggertak. Tapi kini? dia Temukan pendekar beringas yang masuk dengan gertakan, “Katakan siapa Gurumu, Buntung!” bentak Ki Harwati. “Itu bukan cara yang terhormat. Anda tidak usah berharap menemui dia sebelum anda melewati mayat saya”, ujar Talago biru. Ki Harwati bertambah beringas, dan serta mena dihantamnya muka Talago biru. Anak muda itu terbengong sejenak. Tinju yang mendarat dimukanya mirip sengatan binatang berbisa. Seketika wajahnya memar, membengkak dan tiba-tiba saja dia merasa amat haus. Talago biru dalam sekejap seperti edan, karena dia haus dan panas. Dia butuh air. Tetapdia selalu ingat, pantangan-pantangan yang pernah diajarkan Ki Pita Loka. Jika dia haus dan panas oleh sengatan binatang berbisa, dia bukan mencari air. Tetapi dia harus menciptakan api dan membakar diri ke dalam api. Dalam kaadaan jumpalitan seperti edan itu, Harwati mentertawakannya. Tapi batu yang dia pukul berkali-kali itu adalah usahanya menciptakan api. Benar. Pukulan terkeras pada batu itu membuat nyala api, yang segera menyambar ilalang.Batang kering itu terbakar. Dan ketika itulah Talago biru menghamburkan tubuhnya ke dalam ilalang yang terbakar itu!
“Pedekar gila kau!” teriak Harwati melihat pemuda buntung itu terkurung dalam ilalang yang menyala. Tapi,seteleh api itu padam, Harwati melihat keajaiban. Diantara hitamnya asap bekas api yang hampir padam itu, dia melihat sosok pemuda bunting tadi, keras dan menakutkan melangkah tegap kearahnya, lalu meludah dangan semburan.
Semburan ludah itu mengenai wajah Ki Harwati. Mulanya dia akan ngamuk, tetapi kemudian dia merasa ada beberapa benda yang menyangkut di wajahnya, bersama-sama dengan ludah itu. Ternyata bersama ludah yang disemburkan pendekar buntung itu adalah bangkai lima ekor kalajengking. “Sungguh ilmu anda rendah sekali, pendekar!” ujar Talago biru.
“Kalau demikian saya perlu belajar pada anda, anak muda!”
“Anda sudah menghabiskan usia anda. Anda tidak layak untuk diajak bicara”, kata Talago biru, yang berkelebat menyusup semak secara mencengangkan, Harwati berusaha mengejarnya, Tapi dia gagal. Talago biru dengan pelajaran terakhirnya untuk berkelebat cepat telah tiba di padepokan Tujuh Bidadari. Dia dapati Ki Pita Loka sedang bersemedi, sedangkan sejenak lagi hari pun akan jadimalam Talago biru harus menanti sampai semedi itu selesai. Begitu semadi itu selesai Ki Pita Loka menoleh ke arah Talago biru dan bertanya: “ Sudahkah kau lakukan apa yang saya perintahkan ?” “Belum “, sahut Talago biru. “Belum? Saya yakin sudah. Kau sudah pada tingkatan ilmu yang lebih tinggi. Yaitu braja-geni kokoh perkasa di sulut api !”
Talago biru tercengang. Dia berkata:”Itukah yang tuan Guru maksud kan ?”
“Itulah semuanya! Kau diserang musuh yang menyimpan ilmu barzah, kau disengat oleh
binatang peliharaannya berupa jin menyerupai binatang menyengat, lalu kau terkena bisa yang mengakibatkan panas dan haus. Lalu kau pukul batu dekat ilalang. Lalu terbitlah api yang membakar. Dan kau terjun ke api itu sesuai perintahku. Lalu kau selamat”
Talago biru tercengang. Dengan nada lugu dia berseru:” Rasanya yang saya alami tadi adalah
pendekar dan musuh yang mengerikan”.
“Dia sedang mengalami terus alam kemasukan. Tahukah kamu siapa dia ?” tanya Ki Pita Loka.
“Saya tak tahu. Dia beringas dan cukup mengerikan!”.
“Dialah Ki Harwati, sekutu dari pendekar Ki Dasa Laksana yang telah membuntungi tanganmu buntung. Di kawasan ini ada tiga pendekar liar, yang semuanya kehilangan guru karena rakusnya pada ilmu. Tapi pendekar wanita yang kamu temui itu kelak akan merupakan lawan kita yang tangguh. Kini ketiganya berpencar karena masing-masing tanpa ikatan ikrar dan semuanya kehilangan mata angin. Kau harus tahu, muridku, pendekar yang baik adalah yang tahu mata angin”. “Terima kasih, Tuan Guru”, ujar Talago biru. “Sebelum datang bencana, aku akan titiskan ke tubuhmu Kitab Pertama dari tujuh buah yang sedang kita cari”. kata Ki Pita Loka.
“Berikan ilmu itu padaku, Ki Guru!” “Pergilah mandi dengan bunga mayat”“, ujar Ki Pita Loka, “Nanti setelah selsai, kau harus datang ke Padepokan dengan selembar kain yang tanpa
jahitan”. Tubuh talago biru benar-benar memperlihatkan tubuh lelaki jantan yang perkasa dan kekar. Usianya yang enam belas tahun sepertinya tidak sesuai dengan bentuknya, karena ia lebih tepat jika dijuluki kuda. Kakinya, badannya, lengannya, kepalanya, hanya bisa ditandingi oleh bentuk kuda jantan. Terlebih ketika Talago biru harus mandi telanjang, dan membersihkan seluruh kotoran tubuhnya itu dengan air bunga mayat, maka siapapun yang melihatnya, termasuk lelaki (apalagi wanita)akan terkesan pada bentuk otot tubuhnya itu, mulai dari kaki sampai leher. Ketika itu pulalah Ki Harwati tergiur dari balik semak pohon bambu tulup. Apalagi sinar matahari terbenam seperti menyinari cahaya ke tubuh Talago biru, sehingga lekukan otot perkasa itu seakan-akan mampu memberi rangsang pada 10 wanita secara serempak. Ki Harwati kehilangan tujuan, kehilangan mata angin.Dia sebetulnya sudah tidak sabaran lagi sampai Talago biru mengenakan selembar pakaian lebar, yang seteteh digulung-gulung mirip seperti pendeta Budha. Tapi, begitu Talago biru akan meninggalkan pancuran mandi itu, dia sekelebat melihat sosok di balik rumpun bambu tulup. Dia terpana beberapa saat karena rasa-rasanya dia mengenal manusia itu , termasuk pakaian hitam yang dikena-kannya. Namun dia melangkah terus. Tapi dia kena cegat.
Ki Harwati telah berdiri di situ, dan berkata: “Kamu benar – benar salinan dari Gumara”.
“Anda siapa?”
“Aku dilahirkan untuk kaGuru kepada pendekar yang bernama Gumara. Kenalkah kau?”
“Belum”, sahut Talago Biru.
“Engkau rugi. Dia adalah pendekar merangkap Guru dari semua guru yang membentang dari kawasan Kumayan sampai Bukit Lebah di selatan. Man bersamaku menghadap beliau”. Talago Biru tergoda oleh buah dada yang jelas kelihatan, sewaktu wanita ttu menyediakan diri membuang sehelai daun bambu kering yang menyela pada jari kaki Talago. Kemudian Talago Biru terpesona sewaktu jari wanita itu meraba betisnya, seakan-akan menyelusupi bulu kakinya. Harwati terus meraba semakin ke atas. Talago Biru semakin berdiam diri dan dalam ketegangan lelaki yang amat sangat, dia seakan-akan melayang dalam
kenikmatan, yang dalam sekejap mata membuat dia terhambur dengan berkelebat sambil berseru: “Celaka aku! Celaka aku!” Dia menumpas setiap pohonan yang menghalanginya sewaktu dia berlari seperti seorang yang merasa salah. Dengan wajah yang masih dirundung rasa dosa, Talago Biru sampai ke tempat semedi Ki Pita Loka. Namun dia tidak berani masuk.
Tapi didengarnya suara sang guru dari dalam: “Kamukah itu, Talago Biru?”
“Ya, Tuan Guru”.
“Kamu tidak kuperkenankan bertemu denganku selama 21 hari”, ujar Ki Pita Loka, “Karena di
sekitar tempatku ini aku merasakan bau air mani yang basi yang membuat aku hampir muntah”. Belum pernah dia dimaki dengan ucapan lembut namun melukai ini. Mendadak saja Talago Biru tidak akan menjadikan dirinya pemimpin dari lima temannya yang lain. Yang selama ini lamban dalam kemajuan memperdalam ilmu. Mendadak saja Talago Biru teringat pada wanita jelita di sana tadi, lalu terangkum kembali ucapan wanita itu. Bahwa guru dari segala Guru adalah Gumara.
Seingat Talago, tak jauh dan pancuran mandi itu ada gundukan 17 buah batu besar, yang bentuknya mirip sebuah guha. Dia yakin, tentu wanita tadi ada di guha itu. Lalu secara rahasia dia susuri lebih dulu pancuran mandi. Dengan berkelebat langkah belalang, dia sudah tiba di depan pintu guha. “Ada orang di dalam?” tanya Talago Biru. Harwati mandengar suara itu. Dia yakin itu suara lelaki. Dan ketika dia berlompatan mendapatkannya, sungguh benar, yang heran dihadapannya adalah lelaki dengan bentuk kuda jantan. “Aku ke sini karena sudah kena kutuk oleh guruku?” kata Talago. “Maka sudah waktunya kau kubantu. Tapi kenalkan kepadaku siapa gurumu itu”, kata Ki Harwati dengan membujuk yang disertai jarinya yang meraba bulu dada Talago Biru. Anehnya, ketika dia akan menyebut nama Ki Pita Loka, ketika itu pulalah Talago menjadi seperti lupa, dan lidahnya pun kelu. “Jika sekarang kau tidak bersedia, nanti jika lelahmu telah kuakhiri tentu kau akan sudi menyebut namanya”, kata Harwati yang membawa masuk pemuda kekar itu ke dalam guha. Ki pita loka memang sedang disiapkan untuk menjadi seorang Guru yang sejati. Guru sejati adalah pendekar lahir dan batin yang dapat menangkap sepak terjang musuh tapi juga dapat
mendengar bisik angin. Dan Guru yang sempurna karena dapat menangkap gerak ketiga yaitu gerak kosong. Kini, dalam semedi yang kusyuk sekarang ini, Ki Pita Loka dapat menangkap gerak kosong itu. Tak ada isyarat. Kecuali itu keyakinan akan sesuatu. Yang telah terjadi dan akan terjadi. Ia seperti berkata pada dirinya sendiri seketika musuh menangkap gerak kosong itu: Lima muridku diperangkap musuh. Kini satu lagi muridku diperangkap musuh. Namun ini bukan sebuah musibah kekeliruanku menafsirkan pertamakali, bahwa KitabTujuh yang kucari akan diwariskan pada 7 orang: aku dan enam muridku”. Setelah dia diam sejenak, lalu dia menafsirkan gerak kosong ini lagi: “Kenapa harus berdukacita kehilangan enam murid? Bukankah dengan memiliki satu buku sekarang ini, aku akan mewariskan enam buku lagi?” Pita Loka merasa matanya berat. Dalam duduk bersila itu dia sebenarnya sedang tidur. Tidur seperti manusia sedang mati duduk. Dan rupanya dia mendapatkan mimpi! Mimpi itu amat luar biasa. Dia melihat enam buah bintang jatuh pada sebuah bukit yang dia rasanya kenal. Dan keenam tahi bintang itu ditelan oleh seekor harimau yang punya garis bulu 41 bulatan.  Lalu Ki Pita Loka terbangun.
Malam sudah menjelang tibanya fajar meyingsing di ufuk timur. Pita Loka masih duduk bersila, memikirkan makna mimpi hebat itu. Lalu dia teringat seorang Guru penafsir mimpi yang jago. Dia adalah Guru Gumara. Rupanya ingatan pada Gumara inilah menuntun Ki Pita Loka untuk menafsirkan mimpi yang baru terjadi. Baru dia ingat.
Bukit yang ada di mimpi itu adalah Bukit Kumayan. Kalau demikian: “Tafsir mimpi itu adalah,enam bintang jatuh diterima olah salah satu dari harimau-harimau Kumayan. Ki Pita Loka mencoba mempedalam tafsir mimpinya tadi. Bukankah itu berarti, aku harus merebut enam bintang itu dari jagoan Kumayan? Enam bintang itu pastilah enam dari tujuh Kitab Sakti itu, tentunya! Kini, tinggal lagi bagaimana melaksanakan mimpi itu. Dibukanya Kitab Pertama yang telah menjadi miliknya sekarang. Dia membaca huruf-huruf kuno gundul tak bertanda. Tapi dia mengerti. Dan dia telah amalkan tiap tafsiran dalam Kitab itu, mulai dari pensucian diri, latihan gerak bayi dalam rahim ibu sampai gerak bayi keluar dari kandungan serta teriakan pertama. Penutup keterangan Kitab Pertama itu adalah kalimat yang hampir sulit terbaca saking kunonya; “Kitab Pertama ini harus diamalkan, dan dia disebut juga  Kitab Asal. Apabila pemegang Kitab ini sudah menyempurnakan amalnya, maka dia mempunyai kewajiban yang akan diamalkannya berikutnya setelah melewati satu mimpi di waktu dini hari. Kini tergantung si Pemlik Kitab ini, apakah dia melakonkan tafsir mimpi itu dengan betul dan baik, sebab kesalahan langkah akan menjadi sebuah musibah”.
Ki Pita Loka menutup Kitab Pertama itu. Dia kembali menggulungrya dengan bungkusan berupa kain kuning. Kitab itu sesuai dengan pesan, harus diikat sebagai ikat pinggang, di atas pusar. Setetah selesai semua, Ki Pita Loka mencoba memantapkan tafsiran mimpinya. Hati kecilnya berseru:
“Kembalilah ke Kumayan, rebut enam kitab lainnya itu agar ilmu kau lengkap”.
Dia lain menyempurnakan pakaiannya dan ikat rambutnya yang panjang. Setelah sempurna berdiri, Ki Pita Loka berkata pada tubuh gadis di hadapannya: “Terima kasih tujuh bidadari yang mengawalku ketika ngelmu. Aku akan meninggalkan kalian dan aku tidak perlu dikawal lagi”.
Tujuh gadis yang samar dalam kabut subuh itu menghilang bagai menguapnya embun. Ketika ia siap meninggalkan Lembah Tujuh Bidadari itu, sekonyong hatinya gentar.
Tubuhnya menggigil, bulu romanya merinding. Dan rasa takut pun muncul menggoda batin.
Melalui pengalaman, dia mencoba mengusir godaan itu. Dan dia melangkah lebih tegap lagi. Tapi dia tidak menyadari, bahwa langkahnya dibuntuti. Andaikata dia mengetahui bahwa dia dibuntuti tentu dia akan berbalik, menghadapi orang yang membuntuti itu. Dan orang yang membuntuti itu kebetulan jaraknya agak jauh. Orang itu hanya melihat arah pintasan yang dituju Ki Pita Loka. Setelah orang itu yakin bahwa Pita Loka menuju Kumayan, orang itu mengambil jalan pintas.
Ketika Ki Pita Loka melewati celah terowong Karakeling, dia sepertinya menjadi ragu. Dia merasa tak pernah melewati terowongan ini. Keraguan ki Pita Loka rupanya diintai oleh dua orang pengintip. Dua orang ini pun rupanya sedang membuntuti Ki Pita Loka sejak keluar dari Lembah Tujuh Bidadari.
“Bohong kamu bilang dia telah memiliki Kitab itu”.
“Percayalah, bahkan aku melihatnya sendiri. Dibungkus dengan kain kuning, dan jatuh dari angkasa ke pangkuannya pada hari Rebo Legi. Aku berdosa jika aku mendustaimu. Lihat, dia duduk di batu itu”.
“Mungkin dia kuatir tersesat”.
Memang Ki Pita Loka kuatir akan tersesat. Pedoman baginya sudah tak ada lagi, kecuali bintang. Letak desa Kumayan adalah pada ekor dari Bintang Bimasakti yang baru akan muncul menjelang tengah malam. “Sekarang saja kita rampas Kitab itu”, kata pengintip wanita itu„ yang tak lain adalah Ki Harwati. Dan pengintip pria, Talago Biru, kemudian meraih bahu Ki Harwati dan berbisik: “ Lihat, dia siapakan melanjutkan perjalanan”. “Sssst”, bisik Ki Harwati, “Dia justru mendengar suara kita. Telinganya amat tajam. setajam telinga burung.”
Memang telinga Ki Pita Loka tajam. Dia mendengar seperti ada dua manusia bercakap-cakap di atas celah terowongan Karakeling. Dia mencoba memancing dangan mendehem. Lalu, terdengarlah suaranya yang menantang:
“Siapa lagi di atas itu jika bukan musuhku?” Dan tantangan itu dipertegas lagi, bagai bunyi gemuruh:
“Ayoh turun kamu singa betina Kumayan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu! Dan kau … kuda jantan muda pengkhianat, kuharap kau turun juga!”. Ki Harwati menatap mata Talago Biru dengan tegang. Dia meraih bahu Talago Biru dan berbisik: “Dia tajam sekali. Begitu tajam sehingga dia mengenal diri kita masing-masing”. “Benar, Harwati. Ketajaman pendengaran adalah bagian dari kependekaran. Kau harus turun ke bawah. Jika tidak, aku yang naik ke atas”, terdengar ancaman itu begitu dahsyat.
Harwati menghela lengan Talago Biru: “Ayohl”
Talago Biru kecut seketika. Begitu Harwati menghela lengan Talago sekali lagi, mendadak sudah menancap di cabang pohon genuk itu … dua kaki Ki Pita Loka kokoh berdiri, berkacak pinggang. Dalam sekelebatan dia sudah melayang dengan terjangan menghentak ke pinggang Ki Harwati. Tetapi ketika Ki Harwati akan jatuh, satu tungkai kaki Talago Biru membantu menghalangi. Namun tanpa diperkirakannya, Talago merasakan kepalanya terkena tamparan Ki Pita Loka. Dia terlempar kesamping, lalu cepat bergayut di dahan pohon, mengayunkan tubuh yang kemudian melayang menyerbu ke tubuh gurunya sendiri, yang sedang berkacak pinggang sehabis menendang Ki Harwati. Ki Pita Loka berbalik dengan tendangan membelakang mengenai pangkal leher Talago sementara tendangan satunya mengenai perut Ki Harwati yang barusan saja akan menerjang. Ki Harwati kena terjangan itu bagaikan terbang mundur, dan dengan seluruh perasaan marah ketika punggungnya menabrak pohon, dia meneriakkan kutukan: “Mampus kau digigit kalajengking!”
Teriakan kutukan itu ampuh. Seratus mungkin dua ratus ekor kalajengking menghambur menuju tubuh Ki Pita Loka. Tetapi ketika itu pula Ki Pita Loka sudah membuat “tutupan” yaitu kedua telapak tangannya dengan gerak perlahan silih banting bersilang. Dan seratus atau dua ratus ekor kalajengking itu merasa bagai menerjang bara api ketika menabrak telapak tangan Ki Pita Loka. Kesemuanya jatuh ke tanah sebagai bangkai – bangkai binatang yang mati hangus. “Demikian tinggi ilmumu, Ki Pita Loka”, ujar Ki Harwati setelah menyaksikan bangkai-bangkai kalajengkingnya yang mati hangus. “Aku akan belajar padamu,” ujar Ki Harwati. “Aku juga mohon ampun Ki Guru atas durhakaku menyalahi pelajaran. Terimalah kami berdua sebagai murid”, kata Talago Biru. Ki Pita Loka tenang. Dikira sedang mempertimbangkan. Tahu-tahunya dia bagai terbang menguakkan dua kaki, satu kaki menerjang bahu kiri Talago Biru, dan satunya lagi menendang bahu kanan Harwati. Dua-duanya jatuh ke samping dengan teriakan-teriakan mengerikan. “Tolong aku … aku akan mati…!” Ki Pita Loka mendengar suara wanita di bawah tebing curam itu. Rupanya memang benar, dilihatnya Ki Harwati perutnya tertembus dahan runcing. Rasa kasihannya bangkit, dan dia cuma melakukan dua lompatan ke kiri dan ke kanan, lalu tubuhnya menempel di dinding tebing di sebelah Harwati yang tersangkut di dahan runcing. Dengan darurat jempol tangannya dilekatkan ke langit-langit mulut, lalu diusapkan ke perut Harwati. MELIHAT kesungguhan Ki Pita Loka merawat Ki Harwati, Talago Biru sadar betapa besar jiwa pendekar itu. ia pernah mendengar ajaran Ki Pita Loka, bahwa seorang pendekar barulah berjiwa besar apabila dia tidak memancung kepala musuhnya yang sudah tak berdaya. Dan seseorang takkan bisa menjadi pendekar yang baik apabila dia tak bisa menahan nafsu, terutama nafsu kelamin. Inilah yang menginsyafkan seketika Talago Biru. Dia menghampiri pada guru yang dikhianati, dan mengulurkan tangan kiri untuk minta maaf. Ki Pita Loka menatap Talago seraya berkata: “Aku kasihan padamu. Sesungguhnya, aku ingin menukar lengan buntungmu itu dengan ilmu yang mesti kamu pelajari dengan prihatin, dan sabar. Seorang pendekar harus memiliki yang dua ini: prihatin dan sabar. Lihatlah orang ini … “, lalu Ki Pita Loka menunjuk Ki Harwati
“Dia pernah belajar pada saya di Guha Lebah. Saya mengajarkannya sungguh – sungguh. Dia telah mendapat ilmu itu, dan karena ilmu itu bukan ilmu tempelan maka dia takkan hilang selama-lamanya sehingga ketika dia mau memerangi saya tadi bersama kamu, ilmu yang saya berikanlah yang dia pakai. Termasuk kau. Tapi pelajaran yang kalian dapat dariku belum selasai, jadi kalian takkan mungkin mengalahkanku”.
Wajah keguruannya yang berwibawa tampak menelan dua bekas muridnya. Ki Pita Loka kemudian bertanya pada Ki Harwati dan Talago Biru: “Apa yang kalian cari?
Kalau kalian berdua ingin mendapatkan Kitab Tujuh, ayoh ikut mengawalku. Tapi ingat, jangan ada di antara kalian yang berkhianat, sebab kalian akan celaka”.
Dan di luar dugaan, Ki Harwati berkata: “Soal Kitab Tujuh, ini urusan tuan Guru. Saya tidak ingin ikut campur. Terserah pada Talago akan ikut mengawal pendekar besar ini. Tapi saya tidak ikut”. Talago Biru menjadi bimbang. Dalam kebimbangan itu Ki Harwati cepat mengambil keputusan. Dia seret tangan Talago dengan merentak: “ Kamu ikut saya! “
Kebimbangan Talago Biru berakhir dengan ikutnya dia menjelang matahari terbit. Terbitnya matahari inilah yang memberi petunjuk kepada Ki Pita Loka mengenai peta Kumayan, desa yang akan di tuju. Kesabaran adalah modalnya. Bisa saja dia melangkah secepat kilat menerjang kiri dan kanan, tetapi tergesa-gesa bukanlah sifat seorang pendekar yang akan memetik kenaikan derajat. Celah Karakeling dia tinggalkan dengan langkah sebaliknya. Dibuatnya tubuhnya seringan mungkin, sehingga rumput – rumput sikejut yang mestinya tertutup jika terinjak, tetap mekar karena tiada terkena sentuhan telapak sang guru. Menjelang bukit kecil si Enam yang dinaikinya, Ki Pita Loka melihat tujuh buah bintik hitam. Karena bukit si Enam itu warnanya merah saga, maka bentuk bintik semakin jelas olehnya. Tujuh manusia. Makin dekat semakin jelas, Tujuh manusia itu buntung semua. Beberapa puluh langkah menjelang dia harus menjelang puncak bukit itu, terdengar ancaman dari atas: “Tujuh pendekar buntung meminta anda tidak melewati bukit ini”. Ki Pita Loka tetap melangkah ringan. Makin dekat semakin dirasanya dirinya lebih ringan dari kapas. Dan tahulah dia dalam sekejap mata, bahwa enam orang muridnya yang buntung kini sudah bergabung dengan Ki Dasa Laksana. Ki Pita Loka merasa perlunya berhati-hati. Dan diluar dugaannya, muncul seorang dari sebelah bukit itu. Dia bertongkat Dan dia menyatakan siapa dirinya: “Aku, Ki Rotan, bergabung untuk melengkapi angka tujuh menjadi delapan”. Lalu muncul dua orang lain, yang tak lain Ki Harwati dan Talago Biru. Ki Dasa Laksana lalu berkata: “Dengan munculnya dua Pendekar di sampingku, kami seluruhnya menjadi sepuluh. Kami yang sepuluh inilah satu gabungan dalam namaku: Dasa Laksana, karena akulah pemilik Sepuluh Kitab Pendekar yang engkau takkan pernah tahu dan menyentuhnya”.
Ki Pita Loka masih melangkah, perlahan sekali. Jika ada nasi bubur di permukaan tanah ketika Grafity, itu, pastilah takkan tampak bekas telapak kaki Ki Pita Loka karena menginjak bubur itu. Apa yang dia perbuat seluruhnya seperti kosong. Tak di lihat lagi sepuluh lawannya ketika itu. “Gebrak!” perintah Ki Dasa Laksana yang serta merta diikuti dengan suara teriakan lantang bergemuruh bagai lompatan belalang. Ki Pita Loka menjatuhkan diri sebelum gebrakan serentak itu menyerodok tubuhnya, dan dia bergulingan bagai bantal guling. SEKETIKA itu juga angin ribut menerbangkan tanah merah saga bukit si Enam itu. Ki Pita Loka sudah sampai di lembah bawah yang seluruhnya padang rumput. Dia bangun dengan ringan, dan mendengar suara riuh di belakangnya ibarat riuhnya belalang menyerbu. Ki Pita Loka bangkit perlahan, menghirup nafas dalam-dalam dengan perlahan, lalu dia menyalurkan kekuatannya mulai dari ubun kepala sampai ke ujung telapak kaki kanan.
Sentakan perlahan tapak kaki kanan kebelakang itu menciptakan angin menggebu yang menerkam sepuluh pendekar yang hanya tinggal dua puluh langkah lagi mendekatinya. Kesepuluh pendekar itu semuanya jumpalitan dengan lolongan suara yang mengerikan sekali. Ki Pita Loka sedikitpun tak menoleh ke belakang untuk menyaksikan kecelakaan yang menimpa
lawan-lawannya. Dia berdiri lamban, lalu melangkah lamban di atas padang rumput itu sampai ke kaki Bukit Kumayan.
Bukit itu terletak di sebelah Barat desa itu, dibatasi oleh dua pancuran. Serasa ada yang membisiki Ki Pita Loka, agar senja itu dia mandi di Pancuran Mayang. Tapi dia kuatir ini semuanya godaan setan, ia tetap percaya pada pesan ayahnya, bahwa pancuran itu tabu untuk mandi bagi yang bukan pendekar yang lengkap kesaktiannya. Namun ketika dia melangkah ke kanan, kaki kirinya dirasanya berat. Dia seaka – akan diwajibkan untuk membelok ke kiri, dan suara bisikan itu seakan semakin kuat untuk memerintahtahkannya mandi di Pancuran Mayang. Tapi ketetapan jiwa kependekarannya tidak mantap, sehingga kaki kiri mengalah pada kaki kanan. Dia meniti Pancuran Suri yang batu-batunya amat licin. Dan kemudian, tibalah Ki Pita Loka di seberang Bukit Kumayan yang bau menyannya sudah mulai menerpa hidung sebab pertukaran malam dan siang.
Malam benderang datang.
Bulan purnama penuh memanjat pohonan cemara yang dua di antaranya sudah buntung seperti kena penggal. Malam itu malam Kamis Wage yang bertepatan dengan malam kelahiran Pita Loka. Dia kini sedang berfikir, apakah akan pulang ke rumah lebih dulu menemui bapak? Ketika itu pulalah Ki Putih Kelabu yang sedang makan malam merasakan bau yang aneh. Bau tujuh macam kembang mayat. Dia tinggalkan santapannya. Dia membuka pintu ruang pendapo, dan alangkah kagetnya dia ketika dilihatnya yang muncul adalah Guru Gumara. “Hah, Guru!” Ki Putih Kelabu kaget Guru Gumara berpakaian putih, menatapnya tajam dan berkata: “Harap malam ini tuan guru tidak tidur. Karena saya baru saja dibangunkan oleh mimpi yang jarang terjadi?”. “Akan dibinasakanlah penduduk Kumayan?” tanya Ki Putih Kelabu. “Tidak, Tapi sebaiknya anda jangan turun tangan jika ada peristiwa yang terjadi”.
Lalu Guru Gumara berlalu. Dia datangi Ki Ladang Ganda, dan diucapkan kata – kata yang sama, begitupun kepada guru-guru yang lain. Seluruh Harimau Kumayan malam itu menjalankan tirakat. Sudah lewat dua jam dari tengah malam yang menegangkan, tak kedengaran satu suarapun yang mencurigai. Rupanya perintah itu dipatuhi oleh seluruh guru penjaga Kumayan karena rasa hormatnya mereka kepada wibawa yang dipancarkan sorot mata Gumara. Ketika itu Gumara sedang menggali sepetak tanah tak jauh dari Bukit Kumayan. Seluruh yang dilakukannya persis seperti yang dialaminya pada mimpi. Dan ketika mata pacul terdengar meleduk, tahulah Gumara bahwa itulah papan kayu ruyung yang tahan rayap. Perlahan jari tangannya membersihkan permukaan papan ruyung itu. Dia mengumpulkan tenaga untuk menyibak susunan papan ruyung itu dengan hati-hati. Tampaknya seluruhnya jadi begitu cepat Ki Pita Loka merasa waktunya tiba untuk meninggalkan tempat persembunyiannya di balik semak pohon kopi. Dia melihat orang yang membongkar tadi sudah pasti masuk ke dalam tanah. Dia hampiri tempat penggalian itu. Dia lihat susunan papan ruyung yang berada di samping lobang. Dan tanpa menanti waktu lagi, dia masuk ke dalam lobang. Hati-hati dengan usaha peringatan tubuh sempurna. Kini peranan telinga sungguh diutamakannya. Dia mendengar ada benda yang digeser dan dibuka di tempat gelap itu. Dia mendengar ada lembaran-lembaran yang sedang dibuka. Tapi di dalam sana itu tak ada cahaya apalagi lampu! Siapa orang tadi?
Pastilah orang itu sedang membaca Kitab yang Enam. Namun Ki Pita Loka tetap saja tidak mengetahui, bahwa orang yang di dalam itu adalah Guru Gumara. Kini Ki Pita Loka, yang merasa bahwa enam buah kitab itu adalah pelengkap dari Kitab Pertama yang dia miliki dan berada dalam sampul kain kuning di pinggangnya… melangkah ringan lagi untuk tarus masuk.
Sementara Ki Pita Loka merayap dalam gelap tanpa menimbulkan suara, Gumara meraba Kitab Ketujuh dengan jari-jarinya. Dia dapat membaca tulisan pada sampul kitab ketujuh itu, lewat cahaya yang muncul bagai neon kecil dari sepuluh kuku jarinya.
“Kitab ini yang ketujuh yang berupa Kitab Perdamaian tapi perdamaian ini tidak sempurna sebelum engkau dapatkan Kitab Pertama. Jagalah kukumu yang tajam”.
Baru Gumara bisa menghela nafas, karena sejak mendapatkan Enam Kitab dia terheran-heran karena seluruhnya bukan tujuh melainkan enam. Sesuai dengan pesan Kitab kedua yang pada kulit buku itu tertera kemestian membungkusnya kembali dengan kain kuning, maka Gumara melaksanakannya. Lalu keenam kitab itu dia ikatkan pada pinggangnya. Sebelum dia
meninggalkan lubang bentuk guha di bawah Bukit Kumayan itu, dia sempat mencium peti tempat kitab itu yang terbuat dari tembaga dilarang membawanya. Semula dia begitu gembira dan mampu menahan kegembiraan itu. Semula dia akan menyelesaikan Tugasnya pada malam Kamis Wage itu dan akan merencanakan mencari Kitab Pertama pada malam Jum”at Kliwon besok. Semulanya memang begitu…
Tapi begitu dia lihat sosok tak jelas di hadapannya, yang telah memasang kuda-kuda tapi tak jelas siapa, Gumara menghentikan langkah. Dia melakukan puncak permainan kependekarannya, sebagaimana dia melayani tantangan Ki Karat. Dia cuma berdiri tegak dengan dua tangan melipat silang di dada, menghela nafas dalam, meringankan seluruh gerakan otot dan urat, sehingga seluruh perjalanan darah seakan-akan tak mempunyai getaran lagi. Getaran itu sudah terpusat pada permainan nafas. Dan seluruh gerak adalah nafas. Kedua tangan terlipat itu menghadap ke depan. Tapi ternyata begitu pula lawannya yang tak dikenalnya. Dia merasa lawannya cukup kuat, tarasa sekali ada getaran elektron yang mendorongnya agar bergeser dari tempat berdirinya. Gumara merasa yakin dirinya dapat menahan kiriman getaran elektron itu, dan dia. Berusaha agar tumitnya tak bergeser. Tapi tiba-tiba dia merasa tumitnya bergeser. Ini berarti kekuatan lawannya cukup tangguh dan mempunyai gaya yang sama. Keringatnya menetes. Keringatnya menetes lagi. Dan Ki Pita Loka juga sudah basah kuyup. Keringatnya pun menetes. Dia berusaha untuk mengetahui lawannya. Tapi wajah dan bentuk tubuhnya pun tak jelas. Dia terus bertahan dengan perang nafas. Jarak antara telapak tangannya dan telapak tangan Gumara sudah tinggal beberapa senti meter lagi. Apabila kedua telapak tangan ini sempat beradu, maka akan terciptalah malapetaka besar antara dua pendekar. Akan terdengarlah suara petir dan empat potong tangan pendekar ini akan buntung semuanya. Urat leher Gumara sudah kejang, begitupun Ki Pita Loka, dan kedua pendekar itu tidak dapat mengenali masing-masing. Bila dua-duanya mau memaksakan diri, maka akan celaka. Namun kedua-duanya pun tidak mau menahan diri, menjaga saja agar letak telapak tangan itu berhadap–hadapan saja, tanpa ada geseran. Empat Jam sudah pertarungan itu berlangsung. Cuma karena tadi malam ada bulan puurnama, pagi datang sepertinya lebih lambat. Karena seluruh desa Kumayan diliputi embun yang turun menyirami bumi. Sinar matahari tak dapat menembus embun tebal itu. Tapi memang tampak ada sepuluh bintik yang bergerak teratur menuju Bukit Kumayan itu. Satu
di antaranya, Ki Harwati, berkata: “Kita telah tiba di Bukit Kumayan. Karena ini wilayah kekuasaan almarhum ayah saya, kalian yang sembilan orang menunggu di sini”. “Uu tidak bisa”, membantah Dasa Laksana, “Kita yang sepuluh ini berada di bawah panji keilmuan Kitab Sepuluh Dasa Laksana”. “Ki Harwati”. cegah Talago Biru, “Aku tidak suka anda membantah beliau”.
Ki Harwati kali ini tunduk pada perintah Talago Biru. Dan berdasarkan petunjuk Dasa Laksana, maka sepuluh mereka itu semuanya diam di tempat melihat dulu keadaan. “Aneh, embun pekat baru sekali ini terjadi”“, kata Ki Harwati.
“Apa tafsirannya?” tanya Ki Rotan.
“Tentu ada sesuatu yang menyelimuti kita. Ini berarti sedang ada rahasia di sekitar Bukit Kumayan sakti ini”, kata Ki Harwati.
Apa yang sedang terjadi memanglah demikian. Perasaan Gumara ketika menahan letihnya telapak tangannya berhadapan dengan lawan, merasa lawannya semakin kabur. Dia tak menyadari, bahwa tirai embun menyelusup ke dalam guha itu.
KI PITA LOKA pun agak heran. Lawannya malahan semakin lama semakin kabur, sehingga dia tak menyadari bahwa sebenarnya embun sudah memasuki guha itu. Pertempuran macam begini berbahaya. Jika sedikit saja tumit bergeser maka dorongan telapak tangan akan keluar dari poros getaran. Ya, yang sedang bertempur sebenarnya getaran nafas lawan getaran nafas. Dan Gumara tiba-tiba merasa bahwa ada dorongan kuat dari telapak tangan lawannya. Dia harus imbangi. Dia bergeser ke kanan sedikit, dan dengan serta merta jurus telapak tangannya berubah dan dia rasakan kukunya mencapai sasaran. Ki Pita Loka menahan nyeri di mata kanannya terkena kuku lawan, sehingga dia melakukan putaran tendangan lamban, yang sebenarnya amat kuat menghentak ke paha Gumara. Gumara menahan sakit sembari tersungkur dan dia merasakan sekali lagi tendangan lamban mengenai dadanya. Darah muncrat oleh tendangan lamban yang menggedebuk keras ke dadanya. Gumara bangkit lagi tetapi kakinya terkena serimpung, sehingga kini dia tahu bahwa lawannya adalah wanita. “Kamu itu Harwati?”“ tanya Gumara menduga adik tirinya. Pita Loka yang menyesal baru tahu lawannya adalah Guru Gumara, berusaha melarikan diri. Tetapi dia tersungkur kena serimpungan Gumara. Dia langsung merenggut rambut yang kebetulan kena sambernya, dan dia mau mencekik sambil berkata geram: “Kamu dilaknat ayahmul” Embun menyingkir cepat dan cahaya matahari melintas sekejap. Ketika itulah Gumara kaget melolot melihat orang yang digeramkannya itu ternyata Pita Loka. “Ki Pita Loka”“ serunya sedikit menyesal karena dilihatnya mata kanan Ki Pita Loka terbeset jari kukunya dan luka. “Aku telah buta sebelah”. ujar Ki Pita Loka.
Gumara begitu gugup berusaha mengambil lendir langit-langit mulutnya dan mencoba menggosok ke mata Pita Loka.
“Percuma, Guru”. Rasa menyesal Gumara melebihi dari kecamuk cintanya yang berkobar-kobar pada Pita Loka. “Saya rasa kamulah yang pantas memiliki buku ini, karena saya baru saja melihat warna kuning yang membelit di pinggangmu”, ujar Gumara. Ki Pita Loka kaget. Gumara menyibakkan pakaian putihnya. Dan warna kuning yang membelit di pinggangnya itu semakin jelas oleh sorot cahaya matahari yang masuk ke celah lubang galian. Ketika Gumara akan mencopot kain kuning pembungkus enam buah kitab penemuannya itu, Ki Pita Loka mencegah: “Jangan tuan Guru. Anda yang harus memiliki Kitab Tujuh ini”. Ki Pita Loka akan melepas ikat pinggang kuning yang melapis Kitab Pertama yang terselip di pinggangnya, tetapi Ki Gumara menolak: “Aku baru.membuktikan mimpiku. itupun sudah memuaskanku!” “Ada pesan dalam kitab-kirtab itu?” tanya Ki Pita Loka. “Ada. Pada Kitab Keenam ada pesan, bahwa aku harus menemukan Kitab Pertama sebelum hari Jum”at besok tiba. Dan pagi ini pagi Jum”at Kliwon. Dan kitab itu ada padamu”. “Tidak, Guru. Tidak! Saya tidak berhak mendapatkan Kitab Tujuh itu karena ilmu saya masih rendah. Lagi pula saya akan buta mata sebelah, selama-lamanya!” “Buta atau tidak butanya kau, sama saja buatku!” ucap Gumara, yang segera melepaskan ikat pinggang yang berisi enam buku itu. Pita Loka meronta, “Tidak, tidak!”
Tanpa mereka sadari, Ki Harwati sudah mendengar seluruh perdebatan itu. Dia langsung bagaikan terbang ke bawah menyambar ikat panggang kuning yang membungkus buku enam kitab, begitupun Ki Dasa Laksana langsung mempreteli ikat pinggang kuning yang melilit di pinggang Ki Pita Loka. Namun Gumara tidak tinggal diam. Begitu Ki Rotan turun ke lubang dia sudah nanti dengan terjangan membalik, sehingga tumit Gumara menghantam dagu Ki Rotan. Ki Rotan tak berdaya karena kepalanya melintir kebelakang dan tidak kembali lagi. Dia cuma meronta-ronta dalam keadaan sekarat. Ki Harwati berhasil membebaskan diri dari tendangan gading Ki Pita Loka. Dia akan lari, tetapi lengannya disambar oleh Gumara, sehingga ikat pinggang kuning itu kembali berada dalam tangan Gumara. Dasa Laksana sudah berlari jauh dengan kecepatan luar biasa melarikan ikat pinggang kuning berisi Kitab Pertama. Biarpun dalam keadaan mata sebelah. Ki Pita Loka menghambur meloncat keluar lubang, kakinya disamber Harwati namun berhasil jumpalitan. Ki pita loka dengan lari sekencang angin limbubu menerjang semua pohon yang merintanginya untuk mengejar terus Ki Dasa Laksana. Ki Dasa Laksana membalik dan merobohkan pohon pucung. Pohon itu meluncur cepat hendak menimpa Ki Pita Loka, tapi Pita Loka sudah terlebih dulu meloncat terbang yang justru meloncati pohon yang roboh itu. Bunyi berdembam bagaikan bom menggelegar keseluruh Kumayan. Begitulah besar pohon pucung yang roboh itu. Akar pohon itu sempat menyabet lengan buntung Dasa Laksana, tapi dia cepat mundur sembari memasang kuda-kuda ketika mendadak sontak Ki Pita Loka melakukan tendangan bangau merobek pipinya. Darah mengucur dari pipi Dasa Laksana, dan dia membalik ke samping seraya menungkaikan kakinya yang menyerobot tangan Ki Pita Loka. Ki Pita Loka tersungkur dan sebelumnya merobohkan pohon cemara yang ditabrak tubuhnya. Gumara melihat Ki Pita Loka dalam bahaya. Dia meloncati tubuh Harwati yang rupanya mau menghalanginya. Harwati mengejarnya, dan menjegalnya dengan memelintirkan tubuhnya sebanyak 36 kali putaran, sehingga Gumara harus mengakui kegesitan itu dengan menyungkurkan diri dengan dua telapak tangan ke tanah tapi membuat salto putaran tujuh kali jungkir balik, yang pada akhirnya putaran salto terakhirnya menyempatkan telapak tumitnya menghantam leher Ki Dasa Laksana. Ketika dalam keadaan terpelanting itulah Ki Pita Loka sudah mencegat tubuh itu, lalu menangkapnya dan melemparkannya ke pohon jenggarang yang tegap. Tulang rusuknya keluar disertai teriak kesakitan. Kesempatan ini membuat Ki Pita Loka dengan ceat menerkam tubuhnya yang mandi darah itu. Dia lepaskan ikat pinggang kuning yang membelit pinggang Ki Dasa Laksana, yang kelihatannya merintih. Tulang rusuk itu masih nongol merobek isi perutnya, warnanya putih gading diseling oleh kucuran darah. Setumpuk rambutnya ternyata lengket pada kulit pohon jenggareng lepas dari kulit kepalanya. Gumara hanya diam, membiarkan Ki Pita Loka menyiksa Ki Dasa Laksana dengan tamparan mundar mandir dengan telapak kaki kanan.
Rupanya Ki Pita Loka sudah puas melampiaskan kemarahannya, yang bukan sifat aslinya, karena kebutaan telah membuat dia kehilangan kontrol. Ki Harwati masih ingin meneruskan perang tanding itu, tetapi dia kehabisan nafas Gumara masih berdiri, dan matanya melihat bagaimana tujuh anak-anak muda buntung tangan pada melarikan diri satu demi satu.
Ki Pita Loka akhirnya cukup puas dengan membentak Ki Dasa Laksana: “Pergi kau dari bumi Kumayan. Jangan kotori desaku dengan darahmu yang kotor itu !”
Dengan satu tendangan tempelengan pada muka Ki Dasa Laksana, Ki Pita Loka mengangkat tubuh Ki Dasa Laksana kemudian memakinya: “Matilah kamu di desa Anggun sana, desa dari bajingan tengik!”
“Begitukah kau memperlakukan ilmu kependekaranmu?” Ki Harwati dalam nafas sesak bertanya di bawah pohon ceremai padanya. Ini mengejutkan Ki Pita Loka. Dia sadar kini, bahwa apa yang telah diperbuatnya yang terakhir atas Ki Dasa Laksana memang tindakan di luar batas. “Jika kamu tersinggung karena tindakan kasarku kepada manusia binatang Dasa Laksana, mohon dimaafkan. Panca inderaku sekarang kurang satu. Kau lihat! Mataku! buta satu!”.
Gumara merasa terkena sindiran itu dan segera menerkam tubuh Pita Loka lalu meluncurkan diri  berlutut, bersembah: “Ampuni saya pewaris Ilmu Sakti Tertinggi !! Engkau begitu mulia, tapi apa daya saya tak sengaja mencolok matamu!”
Ki Pita Loka menyerahkan ikat pinggang kuning berisi Kitab Satu itu kepada Gumara, yang masih berjongkok:
“Kau, tuan Guru, adalah orang yang lebih berhak. Hidupmu hanya patut apabila didampingi Harwati, yang mestinya anda bimbing ke ilmu yang benar. Kekalahan saya bukan karena kekuatan otot maupun otaknya. Kekalahan saya hanya kalah bersaing dengan wanita yang penuh ambisi. Harap diketahui, sama sekali saya tidak ada ambisi pada tuan, sebab tuan guru
lebih mulia”.
Ki Harwati baru menyadari siapa dirinya. Dia seharusnya mengakui kenyataan ini, apabila dia melihat begitu gencarnya langkah Gumara berlari mengejar Ki Pita Loka. Gumara terusmengejarnya sampai Ki Pita Loka memasuki rumah ayahnya, lalu menerkam pendekar tua Ki Putih Kelabu dengan kata-kata mengharukan: “Ayah, terimalah saya sebagai gadis biasa yang durhaka ini. Ayah, tolonglah mataku yang buta ini supaya bisa melihat lagi”. Sementara Harwati masih menangis tersedu di Bukit Kumayan, Gumara masuk dan berkata pada Ki Putih Kelabu: “Maafkan, kebutaan puteri tuan hanyalah karena kelancangan jari saya.” “Anda tentu dapat mengobatinya”, kata Ki Putih Kelabu.
“Dengan sangat menyesal, saya tidak bisa mengobatinya. Tapi cacat Pita Loka menjadi tanggung jawab saya..”
“Jangan menghibur orang buta, tuan Guru”, kata Ki Pita Loka.
“Aku bersumpah, jika perlu aku mati untuk menyembuhkan butamu itu, Ki Pita Loka”, ujar Gumara.
Ki Harwati yang sudah berada di pekarangan rumah Ki Putih Kelabu, telah mendengar tiap ucapan Gumara.
Tangisnya bertambah hebat dan dia tidak habis pikir mengapa cintanya pada kakak tirinya itu tidak pernah bisa punah dari hatinya.
TAMAT

Pantang berdendam

Kumayan Negeri Ilmu Hitam
Sejak Gumara tiba di desa Kumayan, dia sudah diberitahu. Bahwa desa Kumayan adalah biang dari segala ilmu hitam. Tetapi Gumara sudah diajari orang tuanya bagaimana mesti bersikap rendah hati. Dia tahu, bahwa dia tidak akan sebentar tinggal di Kumayan. Begitu dia menerima tugas untuk mengajar di desa ini, dia telah menyelidiki lebih dahulu siapa orang-orang yang diakui sebagai “Tetua” di sini. Lepas waktu maghrib setelah menempati rumah jabatan dari Guru Yunus, Gumara berkata “Saya akan pergi sebentar, Pak Yunus.” “Menghadap kepala sekolah?”
“Tidak. Itu besok. Saya akan ke rumah Lebai Karat,” sahut Gumara.
“Lho, anda mengenal nama itu di mana?” Yunus tercengang.
“Sebelum saya menerima tugas mengajar di sini.”
“Dia orang sakti, lho,” kata Pak Yunus.
“Saya tahu.”
“Dan jika anda salah masuk padanya, anda celaka.”
“Itu saya juga tahu.”
“Hati-hatilah. Desa Kumayan ini sering membuat penghuninya celaka.” Gumara disalami oleh Pak Yunus. Ujar lelaki itu pada Gumara, “Semoga selamat anda menghuni rumah ini, juga selamat menjadi guru selama di sini. Saya hanya petugas yang menyambut guru baru. Tapi tahukah anda, setiap penghuni baru di sini dicoba oleh juara-juara?”
Gumara hanya bisa diam. Dia juga tahu, Pak Yunus ini termasuk orang yang “ada isinya”. Setelah lelaki tua itu berlalu, Gumara menatap sekeliling. Sepi sekeliling. Memang beginilah desa Kumayan jika waktu maghrib telah berlalu. Namun dia harus menemui Lebai Karat. Dan, setelah dia mengunci pintu rumah jabatan itu, belum lagi dia siap melangkah, dirasakannya bulu kuduknya merinding semua.
Gumara mencoba mengatur nafas. Tentu ada sesuatu yang ghaib. Dia mendehem. Dan tak jauh darinya terdengar sahutan orang mendehem pula. Kedengarannya memang itu suara manusia. Tapi di sini, di Kumayan ini, semua yang lahiriah tampak sebagai manusia, belum tentu manusia.
Dan tanpa menoleh ke arah sahutan dehem tadi, Gumara berkata “Saya penghuni baru di sini, mohon ijin.” Terdengar suara mendehem. Gumara pun membalas dengan mendehem. Lalu terdengar sekelebatan suara makhluk meloncat meluncur memasuki ilalang. Dan barulah Gumara menoleh ke sana . Ilalang itu masih bergoyang, pertanda “Inyit” baru berlalu.
Di Kumayan orang tak pernah menyebut nama harimau. Mereka harus menyebut dengan sebutan “Inyit” agar tidak kuwalat. Dan Gumara kini lega, karena salah seorang mahluk halus di desa ini sudah muncul dengan sikap yang layak untuk memperkenalkan diri. Gumara memperbaiki selendang shawl yang melilit di lehernya. Lalu dia turun tangga rumah. Dia
harus jalan kaki sejauh dua kilometer untuk sampai ke rumah Lebai Karat. Peta untuk ke sana sudah dia hafal luar kepala.
Beberapa langkah setelah keluar dari pekarangan, ia harus ikuti jalan lurus yang sepi itu. Di kiri kanan jalan tidak ada rumah. Hanya padang ilalang belaka. Dan tentu semua orang tahu, di balik ilalang haruslah dicurigai bersarangnya harimau.
Namun Gumara melangkah pasti. Langkah itu barulah terhenti ketika dia mendengar suara wanita merintih. Siapa itu? Gumara menoleh ke arah ilalang itu. Dia yakin, rintihan itu datangnya dari sela-sela ilalang itu. Tentulah wanita itu embutuhkan pertolongan. Kemungkinan dia baru mendapat musibah diterkam binatang buas, tapi binatang itu melarikan diri. “Hai, siapa di sana ?” tanya Gumara. Dia mencoba menekan knop senter di tangan. Tapi entah mengapa lampu senter itu mendadak
tak bisa menyala. Rintihan itu semakin memelas. Gumara mendekati. Lalu dia sibakkan pohonan ilalang itu.
Ya Allah!
Seorang wanita terkapar, telentang luka parah, dalam pakaian minim pula. Jika Gumara bukan lelaki beriman, tentu dia mempunyai kesempatan untuk memperkosanya. “Siapa kau?” “Tolong,” desah wanita itu, “Tolong gendong aku.”
Gumara menaruh kasihan. Cuma ia agak ragu. Belum tentu wanita ini manusia. Dia terlalu cantik. Dan ketika Gumara mengangkatnya untuk membopongnya, ada terasa bau ular. “Kau begitu gagah,” ujar wanita yang dibopong Gumara pada bahunya itu. Gumara terus melangkah, dan terus merasakan bau aneh itu. Langkahnya terhenti ketika Gumara merasa
lernya dililit mesra oleh tangan wanita itu.

ULAR MEMBELIT
Gumara merinding. Sebab lilitan lengan wanita ini melebihi kemesraan karena merangsang birahinya. Ketegangan perasaan jantan begini tak boleh. Dan untunglah Gumara segera ingat soal bau itu. Itu bukan bau yang wajar sebab dia mengenal bau ular.
“Kamu ular!” teriak Gumara dengan nada marah seraya menyeruakkan lengan yang melilit itu. Memang benar, karena mendadak saja menjelma kepala ular yang mengerikan ingin mematok kepalanya. Gumara segera membanting diri ke tanah lain berguling agar benar-benar terjadi pergumulan bila ular ini lepas dari membelitnya. Sungguh ajaib. Begitu Gumara memutar gerak pinggang dengan teriak “Fuh!”, ular tadi secara ghaib menghilang. Dan rupanya, perkelahian seru itu disaksikan oleh seorang tua yang kemudian berkata “Di mana engkau belajar ilmu tangkisan sehingga Siti Marfuah lari terbirit?” “Siapa anda, Pak Tua?” tanya Gumara. “Bagusnya kamu sebut dulu siapa kamu”, kata Pak Tua itu.
“Namaku Gumara. Lengkapnya Gumara Peto Alam. Aku guru muda yang baru dibenum di desa Kumayan ini”. “Cuma sekadar itu?” tanya Pak Tua. Mendengar hal itu Gumara gugup. Keringat dinginnya mengocor. Seakan rahasia pribadi siap dibongkar orang. “Saya tahu, anak muda, bahwa kamu ke sini dengan rencana panjang. Kau akan membalas dendam pada seseorang. Demi cintamu pada ibumu, bukan? Lalu kau akan menghadap Lebai Karat malain ini juga! Untuk mendapatkan ilmunya? Padahal, Lebai Karat inilah yang memperkosa ibumu” Mata Gumara melotot. Wah, tak disangka!
Gumara menjadi tertarik, lalu bertanya “Siapa anda sebenarnya?” “Saya? Pernah mengenal nama Hum Belang?”
Suara itu berat, bergetar. Mengerikan. Tapi yang lebih mangerikan lagi pada perasaan Gumara seketika itu adalah, karena dia kenal nama itu. Dia telah diberitahu jauh hari sebelum ini, bahwa, apabila dia tinggal di Kumayan, harus bisa menyesuaikan diri dengan tokoh Hum Belang. Hum Belang menatap Gumara. Dia menyeringai dan benar-benar mirip dengan seringai harimau. “Kalau mau selamat, jangan lanjutkan perjalananmu, nak”, ujar PakTua itu. “Lalu, apa nasehat Pak Tua selanjutnya?” tanya Gumara. “Kau akan diketahui oleh Lebai Karat, bahwa kedatanganmu menghadapnya bukan untuk belajar. Tapi untuk membalas dendam. Kau akan celaka, anak muda”, ujar lelaki tua yang misterius ini. “Lalu, Pak Tua ada di sini sekarang, untuk maksud apa?” tanya Gumara. “Hanya mencoba mencegah langkah engkau”. “Jika saya tetap ingin melanjutkan?” tanya Gumara bernada pasti, tanpa maksud melagak menantang. “Itu hakmu. Terserah”, ujar Pak Tua yang masih perlu diragukan, apakah dia benar-benar Hum Belang yang tersohor ataukah sekedar mengaku-ngaku. Gumara membungkuk hormat pada Pak Tua itu, lalu melanjutkan perjalanan. Semakin gelap menjelang tengah malam ketika dia merasa tersesat. Kalau benar jajaran bintang di langit itu adalah jajaran Bima Sakti, itu berarti kini waktu tengah malam. Padahal jarak yang harus ditempuhnya cuma berjalan kaki sekitar dua kilometer saja. Setidaknya kini dia telah berjalan sekitar hampir lima jam. Grafity, http://admingroup.vndv.com Gumara sadar, bahwa dia benar-benar tersesat, untuk kembali, dia bingung, hendak menempuh jalan yang mana. Tapi tekad Gumara memang bulat. Dia membersihkan kelopak matanya agar pemandangan yang dilihatnya di sekitar bukanlah palsu. Alangkah bahagianya dia, setelah bersih diucek-uceknya kelopak matanya itu, dia melihat di langit letak bintang Bima Sakti itu. Juga hutan sekitar dan satu jalan kecil itu, yang tadi tidak ada. Barulah ia kini yakin, bahwa pandangan matanya telah “dibalikkan” oleh Pak Tua yang melarangnya menemui Lebai Karat Gumara membelokkan langkah. Alangkah gembiranya ia, ketika didengarnya suara motor. Ini sebagai pertanda, bahwa dia tidak sesat jalan. Sudah sering dia dengar bahwa memang ada sepeda motor yang disewakan naik turun lembah bagi orang-orang Jakarta yang akan menemui Lebai Karat untuk keperluan sesuatu. Gumara tinggal mengikuti suara motor itu saja. Ya, di sana itu, di rumah terpencil itu, tentu di situlah tinggalnya Lebai itu. Ketika Gumara tiba di sana , dia mendapati dua orang yang sedang diguyur air kembang. Lain tamu yang baru datang tadi masih didaftar. Gumara ragu, apakah dia perlu mendaftar?

KETUA SEMUA HARIMAU
Gumara ingin memperlihatkan sikap rendah hati. Di antara dua orang tamu lain yang sudah mendaftar, dia duduk. Lalu petugas pencatat bertanya padanya “Anda mau ketemu Ki Karat?” “Ya”. “Silahkan maju”, ujar petugas pencatat. Gumara berdiri dan menunjukkan kartu penduduknya. “Mau berobat atau ada keperluan lain, misalnya guna-guna?” tanya pencatat itu. “Oh, sama sekali bukan”, kata Gumara. “Lalu ke sini mau apa?” “Cuma mau jumpa Lebai Karat”, ujar Gumara.
“Barangkali permintaan anda ditolak, Tadi kesini naik apa? Naik ojek juga?” tanya pencatat. “Saya? Oh, saya akan jadi penduduk Kumayan, mas”, kata Gumara. Pencatat itu agak curiga. Dia mempersilahkan Gumara kembali duduk di tempat. Dengan kecurigaan yang tidak dapat disembunyikannya, pencatat itu akhirnya masuk ke dalam rumah. Sementara pencatat itu masuk, Gumara bertanya pada dua orang tamu itu “Bapak mau berobat ke sini?” “Ya, saya diracun orang. Lihat, badan saya sudah kurus kering, uang sudah habis. Cuma karena berebut pangkat di kantor badan jadi begini”, kata yang kurus. “Dan ibu?” tanya Gumara pada tamu yang satu lagi. “Saya dimadu. Suami saya kawin lagi. Mau minta bantuan Ki Karat supaya ami saya benci pada bini mudanya”, ujar wanita yang datangnya hampir serempak dengan Gumara. Gumara hanya menghela nafas sejenak. Lalu dia melihat pencatat tadi begitu sibuk dalam ruangan. Kemudian dia berkata “Bapak tadi yang namanya Gumara ya?” “Betul”. kata Gumara. “Bapak disilahkan Ki Karat masuk menghadap”, kata orang itu. “Baik”. Gumara menarik nafas sejenak, lalu berdiri dengan sikap dada lapang. Lalu dia melangkah perlahan menuju orang yang memanggil, Kemudian sebuah pintu dibukakan bagi Gumara. Gumara pun masuk ke dalam. Dia membungkuk hormat memberi salam pada lelaki tua yang duduk bersila di atas kasur empat segi. “Silahkan duduk, juragan”, ujar lelaki tua itu, yang sudah diketahui Gumara adalah Lebai Karat. Gumara duduk. Lalu dia merasakan ada bau tidak nyaman di hadapannya. Gumara seperti ketakutan. kendati Cuma sedetik saja. “Ada perasaan tidak enak ya?” tanya lelaki tua berjanggut putih. “Ya”. “Itu tanda kamu ada maksud tidak baik mau mencari saya”. Ucapan itu jelas sebuah tuduhan. Gumara siap untuk diuji. “Barangkali kamu mau mencoba?” tanya Ki Karat. “Mencoba apa, Guru?”
“Jangan bohong. Kamu ke sini mau membalas dendam”, ujar Ki Karat. “Tidak demikian. Saya menghadap kesini karena tahu bahwa bapak adalah Ketua dari semua Tetua di kawasan ini. Sedangkan saya ke sini mau menjadi Guru SMP dalam mata pelajaran Fisika dan Matematika. Supaya saya aman selama menjadi penduduk Kumayan, Saya pun ke sini, menghadap Bapak. Saya sudah dengar kesaktian bapak”. Ki Karat tersenyum senang. Dia jarang mau dipuji, kecuali pada saat ini. “Jadi itukah keperluanmu menghadap saya?” tanya Lebai Karat. “Ya, pakGuru”. “Tapi saya ingin jawaban yang kesatria, nak”. “Maksud Pak Guru?” tanya Gumara. “Kau dengan rendah hati menghadap saya ke sini bukan untuk mempersiapkan suatu maksud jahat?” Gumara sengaja tak menjawab, kecuali tersenyum lebar sembari berkata; “Ah, anda yang ilmunya begitu tinggi, tentu lebih tahu dari segala orang pandai”. Lalu Gumara melihat perubahan sosok di hadapannya, ketika dia menyeringai. itu bukan lagi seringai Lebai Karat. Tapi seringai seekor raja harimau. Dan harimau itu siap menerkam Gumara. Ia mundur, tapi Gumara tetap tenang duduk bersila. Harimau tadi mundur lagi, seakan-akan mau Grafity, http://admingroup.vndv.com mengambil acuan untuk melompati dan menerkam Gumara. Namun Gumara hanya tenang saja, kecuali mengatur nafas. Dua tamu di luar, dan juru catat tadi, justru merekalah yang gelisah.

LEHER YANG DIPOTONG
Tidak berapa lama kemudian, mereka melihat lelaki muda yang tadi disuruh masuk sudah muncul di luar. Petugas pencatat berubah menjadi hormat melihat munculnya Gumara. Lalu petugas pencatat memanggil nama lelaki kurus. Lelaki kurus itu dipersilahkan masuk. Waktu itu, Gumara sudah meninggalkan rumah Lebai Karat. Dia menganggap tugasnya sudah selesai, yaitu menghadap Ketua dari semua Tetua di desa Kumayan. Malam semakin jauh, namun langit semakin benderang gemintang. Seekor babi melintas sekelebatan. Dan Gumara tahu, mungkin itu bukan babi. Memang hampir di seluruh desa ini dipenuhi oleh mahluk jadi-jadian. Buat yang tidak memiliki kelebihan indera dan sekedar cuma punya lima (panca) indera saja, memang sulit untuk meraba mana yang salah dan mana yang benar. Yang anehnya, setiba di rumah jabatan menjelang tengah malam, Gumara agak terheran-heran sudah ada tamu tak diundang. Dia duduk di sebuah kursi dengan kepala menekur. Gumara memberi salam. Tamu itu menyahut, tanpa menolehkan muka. Gumara agak berhati-hati bertanya
“Dari mana anda masuk tadi?”
“Dari belakang”, ujar tamu tak dikenal dan tak di undang itu.
“Bagaimana anda bisa masuk, Pak?”
“Ini milik saya dulu. Tapi pemilikan rumah ini ada permainan uang sogok, sehingga saya
ditendang. Karena saya masih protes terus, nak, inilah akibatnya”, lalu lelaki tak dikenal itu
memperlihatkan wajah. Dan wajah itu begitu mengerikan. Yaitu adanya lima enam lubang, dan
lubang itu keluar semacam getah pepaya.
“Ki Karat yang punya kerjaan begini, nak”, ujar tamu tak dikenal itu.
“Oh, dia yang punya kerja”, kata Gumara seraya menghela nafas.
“Camat di sini juga ikut main. Tanah saya sudah banyak yang dicomot, nak. Pendeknya, yang
bandel akhirnya jadi mangsa ilmunya Ki Karat”, kata tamu itu.
“Nama Bapak siapa?” tanya Gumara.
“Tohing”.
“Maksud ke sini mau apa?” tanya Gumara.
“Mau minta pertolongan”.
“Pertolongan? Lewat saya?”
“Ya, saya mau minta tolong pada anak”, kata orang yang mengaku Pak Tohing.
“Coba terangkan”, kata Gumara.
“Saya tahu, antara nak Gumara dengan Ki Karat ada satu kaitan. Tapi itu cuma cerita orang. Dan saya juga tahu, tadi barusan saya dengar bahwa nak Gumara datang menghadap Ki Karat. Ini tindakan aman jika orang mau selamat tinggal di Kumayan. Pendeknya, calon penduduk sini yang sudah laporan pada Ki Karat, aman selamanya tidak akan diganggu. Lalu mengenai permohonan saya minta tulung nak Gumara, yaitu soal penyakit saya ini. Wah, sejak kena pertama, di sini, di sini, di sini, gatalnya bukan main. Nanti muncul lagi lobang di bagian sini, lalu keluar getah begini…aduh gatalnya bukan main”. Gumara memotong “Jadi jelas yang bikin teluh ini Ki Karat”.
“Ya”.
“Kenapa musti lewat saya. Bapak Tohing kan bisa pergi sendiri, minta kesembuhan pada Ki Karat?”
Lelaki tua ini lalu meneteskan airmata. Dengan nada hiba dia berkata “Ki Karat ilmunya nakal. Dia pasti nanti minta kehormatan bini saya”.
“Oh ya?” Gumara terpelongo.
“Sedikit yang tahu mengenai kenakalannya ini”. “Dia dukun cabul ya?”
“Bukan cabul. Tapi itulah syaratnya. Kalau syaratnya diminta begitu, kita tidak bisa mengelak”.
“Aku sungguh-sungguh kaget”, Gumara menghempaskan pantatnya pada jok kursi rotan, lalu melirik ke wajah Pak Tohing yang mengerikan itu.
“Baiklah, Pak Tohing. Saya akan membujuk Ki Karat agar penyakit anda bersedia dia cabut”, kata Gumara. Tohing kelihatan girang sekali. Tetapi, sungguh mengherankan, sewaktu Tohing keluar dari pekarangan rumah Gumara, dari balik pohon kapuk berkelibat sebuah golok. Dan leher Tohing putus seketika. Tampak orang melarikan diri setelah melihat Tohing roboh. Dan paginya Gumara kaget melihat begitu banyak orang berkumpul. Lebih kaget lagi sewaktu polisi meminta keterangan dari Gumara.

FITNAH ATAS CALON GURU
Yang lebih mengagetkan Gumara lagi, sebelum polisi mengajukan pertanyaan, seorang lelaki berpici memperkenalkan diri. “Oh, Pak Direktur”. “Ya, saya Direktur SMP di Kumayan sini”, kata orang yang berpici dan mengaku bernama Jamhur
itu. Pak Yunus, yang mengurusi rumah jabatan semalam, muncul pula dengan pertanyaan “Apa anda khilaf ketika menebas leher Tohing?” “Saya menebas leher Tohing? Ya, Tuhan, ini fitnah!” seru Gumara geram. “Tapi semua orang menyebutkan hal itu”, ujar Pak Yunus. Inspektur polisi menyela, “Akhirnya hukum yang menegakkan kebenaran. Boleh kami mengganggu sedikit?” Inspektur itu memperlihatkan borgol. Jiwa Gumara terkoyak oleh cara begini. “Bukti belum cukup saya membunuh Tohing, kenapa tangan saya harus diborgo!?” protes Gumara. “Kami kuatir anda akan memotong leher yang lain atau leher kami petugas keamanan. Tentu anda tidak menginginkan kami keras kan ?” suara inspektur itu lembut namun menyakitkan hati Gumara. Gumara, masih dalam berpakaian kaos oblong dengan bercelana jean, harus mengikuti perintah petugas keamanan yang syah di kecamatan ini. Dan karena kejadian ini pulalah nama Gumara dalam tempoh satu hari menjadi terkenal di seluruh kecamatan Kumayan. Dan desa itu membangkitkan orang-orang pada seni keindahan. Sebab semua ibu-ibu, dan semua gadis-gadis, lalu berkata “Gumara berwajah tampan”.
Ya, Gumara tampan. Dan hal ini pulalah yang menyebabkan Wati memberanikan diri muncul di kantor polisi, langsung minta diizinkan bicara dengan Gumara. Dan di balik terali besi kamar tahanan itu, Gumara tentunya heran karena munculnya seorang gadis jelita berambut panjang ingin bicara dengannya. “Katakan siapa kamu sebenamya. Saya tidak ingin kamu hanya menyebut Wati saja, atau Harwati saja. Kamu anak siapa?” “Saya anak seorang yang suka menolong”, kata Wati. “Siapa ayahmu?” tanya Gumara. Gadis jelita itu diam beberapa saat. Lalu dia berkata; “Ayahku adalah seorang yang disegani di sini, yang kakak datangi tadi malam”. Gumara melongo. Lalu bertanya polos “Jadi kamu puteri Ki Karat?”
“Ya Tuhan, kenapa kamu bersusah payah mendatangi saya?” “Lewat ayahku, anda dapat bebas dari tahanan. Ini hanya fitnah dari orang yang berhati busuk di sini karena anda ingin mengajar. Mungkin yang membuat ulah adalah seorang guru tua yang akan dipensiun lalu akan anda gantikan. Tapi, dengan dipotongnya leher Tohing semalam sekembali dari rumah kakak, si pembunuh ingin menjelekkan nama kakak!” Gumara terperangah beberapa detik. Dia kemudian berkata “Terima kasih atas uluran tanganmu. Sampaikan salam saya untuk Bapak”. “Jadi anda menolak uluran bantuan keluarga kami?” tanya Wati. “Lain kali, jika saya membutuhkan benar”. “Dan kali ini kakak akan menyelesaikannya sendiri?”
“Memang begitu. Hidup ini ibarat ilmu berhitung. Jika kita mau menyelesaikan sebuah hitungan, yang penting memggunakan rumusnya yang tepat baru soal dapat dicari dan diselesaikan. Jika minta bantuan bapak, mungkin kami berbeda rumus”.
Tampak, Wati kesal. Dan dia tak dapat menyembunyikan kekesalannya dengan berkata “Tahukah kakak bahwa penduduk Kumayan mengagumi wajah kakak yang tampan itu? Seolah anda adalah dewa ketampanan di sini. Tapi mereka tak tahu, di balik ketampanan kakak ini ada kekurangan. Bahkan itu cacad” “Cacad apa?” tanya Gumara. “Engkau sombong dan angkuh!” “Lho, orang yang percaya dan itu memang memberikan kesan sombong dan angkuh! Itu kawanmu yang salah”, kata Gumara. Gadis manis itu berdiam diri. “Kamu pun punya kekurangan di samping kelebihanmu, dik manis. Kelebihanmu mungkin karena kau yang tercantik di Kumayan ini. Kekuranganmu yaitu bibirmu judes, ucapanmu nyelekit di hati lelaki,” kata Gumara, “Terimakasih atas penghinaan tuan guru”, ujar Wati lalu merentak berlalu meninggalkan lorong kamar tahanan.

TAMU MENGERIKAN
Harwati pulang dengan langkah-langkah gemas. Lebai Karat menyambut puterinya dengan ketenangan seorang Guru.
“Dia pasti menolak tawaran jasa baikmu, Wati”. “Benar, Pak”, sahut Wati. “Aku sudah menduga”. “Dan kesombongannya menjijikkan!”, gerutu gadis itu. “Ya. Dia mungkin merasa dirinya mampu membebaskan tuduhan pembunuhan itu. Tapi kamu lihat dia masih dalam tahanan polisi ? tanya Ki Karat. “Biarlah dia mampus. Tapi kesan saya dia meremeh kan Bapak”, kata Harwati dengan harapan agar ayahnya ikut jadi gemas. Tetapi sifat waskita seorang Guru, Ketua dari harimau-harimau Kumayan ini, justru lebih menonjol. “Namun aku tahu siapa yang bekerja di balik pembunuhan Tohing ini”, ujar Ki Karat, “Ini pasti pekerjaan kawanku juga”. “Maksud bapak, ini kerja Pak Humbalang?” tanya Harwati. “Bukan. Ini pasti pekerjaan si Lading Ganda”. “Di mana Bapak tahu?” tanya sang anak.
“Setiap kerja iseng dengan golok, itu pasti kerja si Lading Ganda. Dia pasti tak suka Gumara ada di Kumayan ini”, kata sang Guru. Ramalan itu tepat Memang benar kepala Tohing terpisah dari badannya adalah akibat tebasan sebuah golok. Dan golok itu ditemukan polisi berada di langkan atap rumah jabatan Gumara. Sehingga menambah lagi bukti bahwa memang Gumara yang membunuh Pak Tohing. Dan malam ini Gumara tak bisa tidur, Karena nyamuk sangat banyak di kamar tahanan. Sedangkan ia satu-satunya berada di kamar tahananan itu, Tapi, ketika dia mengebaskan kain sarong mengusir nyamuk, dia tiba-tiba melihat ada satu gerak aneh di luar jeruji besi itu. “Siapa itu!” Gumara berseru mematikan puntung rokok. “Aku”. “Siapa?” “Tohing”, jawab sosok yang berdiri di kegelapan itu. “Hei, bukankah kau sudah mati terbunuh?”
“Bukan aku yang dibunuh pagi tadi. Aku masih hidup. Boleh aku mendekati kau, guru muda?” Gumara bukan menjadi puas atas jawaban itu. Malahan dia jadi ngeri. Jangan-jangan itu hantu, atau roh si Tohing yang masih berkeliaran! Tetapi, sebelum Gumara melarang, tubuh tinggi itu mendekat Karena cahaya lampu lorong amat suram, tak jelas sosok yang mendekatinya itu. Semakin dia mendekat, sepertinya semakin tinggi tubuhnya. Dan ini membuat Gumara merinding lalu memejamkan mata. Namun langkah sosok orang tinggi itu semakin dan semakin mendekat menuju jeruji kamar
tahanan itu. Dan kini terasa pula ban yang amat menusuk. Yaitu bau bunga mayat. “Jangan takut. Aku bukan hantu”, Gumara mendengar suara. “Tapi siapa anda?!” “Aku Tohing”. “Tidak. Tidak!” “Aku Tohing” Bukalah matamu, jangan takut”, suara itu kini lembut. Tapi Gumara tetap takut untuk membuka mata. Dia benar-benar ngeri saat ini. Sebab yang semacam ini dirasakannya bersuasana aneh.
“Hai, guru muda. Dengarlah. Percayalah. Aku Tohing yang masih tetap hidup sepulang dari rumahmu semalam”, kata suara di balik terali besi itu. “Jika kau tak mau melihatku, ulurkan tanganmu. Supaya bisa kubantu untuk meraba wajahku yang penuh bintil ini, yang penuh getah yang mirip getah pepaya ini”. Biarpun punya rasa ngeri, tapi hatinya agak terpikat untuk menyaksikan kebenaran ini. Siapa tahu memang dia ini Tohing. Dan aku bisa bebas dari tuduhan membunuh Tohing. Agak enggan, Gumara mengulurkan tangan kirinya. Maksudnya sedikitpun tiada membuka mata. Tapi setelah jarinya merasakan bintil-bintil yang menjijikkan itu, Gumara cepat menarik tangannya. Lalu matanya dibukanya! Bah, benar! Benar Tohing masih hidup. Mata Gumara melotot heran. Lalu didengarnya Tohing berkata “Beri aku sebatang rokok”. Dan Gumara merogoh kantong. Karena rokok itu ada di kantong belakang celana dalam, ia agak sulit mengeluarkannya. Dan setelah rokok itu dia dapatkan, maksudnya akan menyodorkan pada Tohing. Tetapi … yang dilihatnya adalah tubuh tanpa kepala! Gumara menjerit dan ketika dilihatnya lagi, sosok itu tak berkepala itu sudah menghilang. Sersan jaga Ahmad mendekat, lalu bertanya; “Kau melihat setan ya?”. Gumara tidak menjawab. Keringat dinginnya bercucuran, tak henti-henti.

NGERI TAPI DILUDAHI
Seharusnya Gumara tak usah sekaget itu. Sampai pagi dia tak tidur. Dia menyesali diri, mengapa dia setolol dan sepengecut itu. Dia sudah banyak mendengar ciri khas desa Kumayan ini. Terutama dari ibunya. Sehingga khayal mengenai yang aneh-aneh tentang desa ini sudah hidup semenjak dia kecil. Karena itu ketika muncul tawaran mengajar ke desa, dari tujuh desa yang diajukan maka dipilihnyalah desa Kumayan. Tetapi yang sebenarnya menghendaki dia kesini adalah ibunya. Juga ibunya yang menyuruh dia menemui Lebai Karat melebihi Pak Camat atau Kakanwil setempat Seharusnya pagi ini Gumara letih sekali. Tapi karena dia sudah puas memaki-maki ketololannya semalam, pagi ini dia seperti sadar apa yang mesti dilakukannya. Gumara segar bugar. Dia berolahraga di kamar tahanan, sehingga mencengangkan polisi-polisi jaga di sana. Tiba-tiba saja, muncul seseorang yang tidak dia kenal. Orang itu tua, bercakap-cakap sejenak dengan petugas jaga, lalu menuju ke kamar tahanan. Letaki tua itu bersikap amat sopan.
Ketika dia mengulurkan tangan menyalami Gumara, dia memperkenalkan dirinya “Panggil saya Pak Lading Ganda”. Namun genggaman salamannya tidak dia lepaskan setelah Gumara memperkenalkan nama dirinya.
“Apa maksud Bapak ke sini?” tanya Gumara.
“Tadi kau tidak melihat seseorang yang saya serahkan pada polisi?”
“Siapa dia?” tanya Gumara.
“Pendekar Cacing. Dialah yang membunuh si Tohing. Dia taruh goloknya di Kelangkan atap rumahmu. Jadi saya ke sini bukan ingin menonjolkan jasa baik saya. Tetapi hanya memberitahu, bahwa saya telah tangkap pembunuh Tohing yang sebenarnya. Satu jam lagi paling-paling tuan guru muda akan dibebaskan dari tahanan”, barulah lelaki tua itumelepaskan salamannya. Gumara hampir tak yakin akan keterangan ini. Dadanya seakan sesak. Dia tak mengira, bahwa di desa ini masih ada seseorang yang berbudi baik.
“Siapa nama Bapak? Mau bapak mengulangi?” ujar Gumara.
“Lading Ganda, Mampirlah ke padepokan saya setelah keluar. Nah, selamat atas kebebasanmu!”
ujar Pak tua Lading Ganda.
Rasanya terlalu singkat bagi Gumara pertemuan indah ini. Dia akhimya memang dipersilahkan keluar dari tahanan dan menerima surat pembebasan. Cuma, dengan syarat untuk 15 hari
berikutnya dia tidak diperkenankan meninggalkan kecamatan Kumayan. Kemudian dia
mengucapkan Terimakasih pada Letnan Amir, tapi Letnan Amir ber tanya “Pak Guru tahu lewat
jalan mana untuk sampai ke rumah?”
“Saya bisa menanyakannya ke sekolah tempat saya mengajar”, kata Gumara. Kebetulan di
tengah jalan dia sendiri pun sudah jadi perhatian banyak anak sekolah dan orang-orang. Dia
menanyakan rumah Pak .Yunus. Seorang murid mengantarnya ke SMP. Ah, aku belum mandi.
Kepada anak itu Gumara bertanya
“Mau menunjukkan rumah tempat pembunuhan Tohing terjadi?”
“Kenapa kakak dibebaskan?” tanya anak itu.
“Karena aku seorang Guru, bukan pembunuh. Pembunuhnya Pendekar Cacing, yang kini
meringkuk di bekas kamar tahananku”, kata Gumara.
Dengan diiring beberapa anak sekolah, Gumara tiba di rumah jabatan. Dia berusaha ramah
kepada anak-anak yang baik hati itu. Tapi dia perlu segera mandi. Sebab dia mesti menghadap
Bapak Kakanwil, lalu ke sekolah tempat dia harus mengajar.
“Maaf, kalian terlambat masuk kelas nanti. Kakak akan mandi dulu ya?” ujar Gumara
ramah.Setelah anak-anak itu pergi, Gumara siap untuk mandi pagi. Dia membawa handuk, tetapi
secara naluriah dia seperti nya merasakan sesuatu bau. Bau amis. Bau darah yang sudah
menginap! Bulu romanya merinding. Tapi dia tak ingin sekonyol tadi malam. Dia harus berani
dan mengusir khayal yang mirip dongeng itu.
Tapi ketika dia mendorong pintu kamar mandi, dia rasakan lagi bau lain. Bau bunga tujuh
macam, yaitu bau bunga untuk orang mati. Namun terus didorongnya pintu. Dia belalakkan mata
melihat sekeliling. Lalu dia mandi. Tetapi, sewaktu Gumara selesai mengenakan celana dalam,
lehemya seperti kena tepuk tangan. Dan dia berbalik … Bah! Tampak ada satu kepala
bergantung tanpa tubuh. Kepala itu kepala Tohing, penuh bintil dan nanah, dengan leher terjulur
dan mata terbelalak. Gumara kali ini tak mau tertipu oleh pandangan matanya. Dia melotot terus
menatap kepala tergantung itu, kemudian meludahinya dan berteriak “Setan!”. Gumara berhasil,
Dalam sekelebatan, sehabis diludahi, kepala tergantung mengerikan itu tenyap dari pandangan
matanya. Hatinya lega. Dan dia tetap lega ketika melangkah ke luar rumah menuju Kantor
Kakanwil.

TAK SUDI GAYA PAKSA
Sebelum langkahnya berbelok di simpang jalan yang menuju Kantor Kakanwil, terdengar seorang menegur “Nak Gumara”. Gumara menoleh. Kaget sekali dia. Tapi juga senang sekali. Sebab orang yang menegurnya itu adalah seseorang tempat Dia seharusnya berterimakasih. Dialah Pak Lading Ganda. “Mau ke mana?” tanya Lading Ganda. “Pagi ini saya harus laporan pada Pak Kakanwil”. “Mari mampir ke padepokan saya dulu”, ujar Lading Ganda. Gumara ragu. Lalu Pak tua itu berkata “Jika kau berkeberatan, lain waktu saja”, “Wah, jika saya berkeberatan, saya jadi manusia tak berbudi, pak”.
“Nah katau begitu silahkan mampir”, ujar si tua itu. Gumara memindahkan letak map ketangan kiri, Dia mengikuti langkah lelaki tua itu. Jalan orang tua itu begitu cepat. Jadi Gumara harus mengepit map lebih kuat dan melangkah lebih cepat.
Tapi…
Jarak ke padepokan pak tua ini tampaknya jauh. Keringat sudah mulai terasa di sekitar ketiak dan krah baju, Namun Gumara harus melangkah lebih cepat lagi, sebab Lading Ganda setiap disusul tampaknya malah mempercepat. Dan karena lelaki tua itu beberapa meter di depan Gumara, Gumara merasakan ada bau bangkai dari arah depan. Ibunya dulu pernah berkata semasa dia kecil, bahwa orang yang memiliki ilmu penjelmaan harimau memiliki pula bau bangkai, walaupun pada saat-saat tertentu saja.
Tapi usaha Gumara untuk menyusul pak tua yang bersicepat itu akhirnya berhasil. Dan ada kesan mengejutkan ketika dia mengikuti masuk pekarangan padepokan itu. Yaitu satu tubuh melintas di depan Gumara, bagai baru terlempar. Tubuh berbaju hitam-hitam itu terlempar sungguhan, menerjang rumpun pohon nenas. Dan pohon nenas itu terbongkar sampal akar-akamya.
“Mereka muridku. Mereka latihan. Jangan kaget”, kata Pak Lading Ganda.
Hanya tiga orang sedang berlatih. Gumara terpaksa mencopot sepatu. ini mengikuti Pak Lading yang mencopot sandalnya.

“Mari masuk”, ujar Lading Ganda. Gumara agak ragu, sehingga orangtua tadi mengulangi ajakan masuknya. Lalu Gumara melewati pendopo latihan itu. Dan masuk lewat pintu tak berdaun itu. Ada ruangan lebar di dalam. Ditiap sudut ada pot-pot berisi menyan yang dalam keadaan berasap. Tapi baunya tak menyengat, sebab cukup semerbak bagi hidung Gumara.
Pak Lading Ganda sudah bersila. Ujarnya; “Silahkan bersila saja di hadapanku”. Gumara “menaruh map di pahanya ketika bersila. Tapi Pak Lading memungut map itu seraya berkata “Yang di dalam ini semua tidak begitu penting di bandingkan persahabatan di antara kita”. “Tentu, pak” “Jika kamu ke Kumayan cuma mau menjadi Guru di SMP itu, tentu ada seseorang yanq berkecil hati”, kata Pak Lading, “Kenapa begitu, pak?” tanya Gumara. “Yah. Ada guru tua yang harus kamu gantikan”, kata Pak tua itu. “Wah soal itu saya kurang tahu. Yang terang saya dibutuhkan mengajarkan ilmu matematika dan fisika di Kumayan ini”, kata Gumara. “Hidup ini jangan sampai mengecilkan hati orang lain. Sebelum kamu datang, Pak Tarikh sudah bersedih hati. Sebab dialah yang akan minggir dan kamu maju sebagai penggantinya. Nah, sebelum kamu mati konyol diracun si Tarikh, ada baiknya ikuti nasehatku!” Gumara, betapapun harus berterimakasih, betapapun harus menghormati Pak Lading yang berbudi ini, dia merasa harus terlebih dahulu menghormati tugas yang dibebankan padanya. “Atau kamu akan bersedia mati diracun?” tanya Pak Lading Ganda. “Tapi saya belum mengerti maksud Bapak”, kata Gumara.

“Mudah saja. Mari kita bakar saja map ini, yang aku tahu berisi surat perintah tugas mengajar di Kumayan sini, di SMP sini. Kau tahu, aku membutuhkan murid, dan itu adalah kau. Sebab kau seorang bibit unggul”, kata Lading Ganda. Suaranya berusaha menekan, mempengaruhi, dan ingin menaklukkan Gumara secara tuntas. Justru cara beginilah yang tak disukai Gumara, betapapun dia berhutang budi pada lelaki tua ini. Lalu Gumara berusaha tak menyinggungnya. Yaitu menampilkan sikap tanpa kata. Yaitu cuma mengambil map itu, seraya berkata “Terima kasih atas ajakan Bapak. Ajakan itu mulia. Cuma, itu lebih baik lain kali saja”.

BELUM PERNAH BERKELAHI
Semua sikap dan ucapannya serba polos. Tapi bagi Lading Ganda justru kepolosan demikian
tidak dikehendakinya. Dia merasa, tak pernah ada seseorang yang berani menolak ajakannya.
Baru anak muda inilah !
Yang pertamakali pula!
Jadi, fikir tua, orang begini mesti dicoba.

Sewaktu Gumara bangkit sehabis bersalaman pamitan pada Lading Ganda, sebelum ia tegak
lurus berdiri, sebuah tendagan sapu menyapu pantatnya. Gumara terjungkir di permukaan batu-
batu pualam di ruangan itu. Dia malahan menyerosot meluncur. Ketika kepalanya hampir
membentur dinding, untunglah ada gerak refleks sehingga bahunyalah yang menghantam
dinding. Memang cukup sakit juga. Gumara belum pernah berkelahi. Dengan siapapun, semenjak kanak. Jadi dia tidak tahu cara mengelakkan serangan sewaktu dia dengar ucapan Lading Ganda; “Anak Keparat!” disertai satu tendangan yang hampir mencopot kepalanya andaikan dia tak menghindari tendangan itu
dengan menunduk. Semua kemampuan mengelak itu bukannya karena dia pandai bersilat Bahkan dia sendiri tercengang sewaktu tubuh Pak tua melontar ke langit-langit lalu turun cepat mau menginjaknya, namun Gumara bergulung-gulung menghindari injakan demi injakan yang gagal itu.
Malahan, saking ngeri, akhirnya Gumara lari tunggang langgang meninggalkan padepokan. Dan
malahan dia amat terheran-heran, mengapa dia dapat lari sedemikian cepatnya seperti derasnya
angin limbubu.
Padahal tadi sewaktu mengikuti langkah cepat Pak tua Lading Ganda dia merasa lelah.
Kini, di depan kantor Kakanwil, Gumara sedikit pun tak merasa lelah. Dia malahan santai. Masuk
menghadap. Segala pembicaraan menjadi lancar. Juga dia merasa amat lancar sewaktu
menghadap Pak Camat memperkenalkan diri, terlebih lagi menghadap Pak Direktur SMP dan Grafity, http://admingroup.vndv.com
15
berkenalan dengan semua guru. Yang mencengangkan dia, dia cukup merasa aman ketika
berkenalan dengan pak Tarikh, malahan dipeluk oleh guru tua itu seperti bapak memeluk
anaknya.
“Nanti jam 10.30 giliran saya mengajar, sebaiknya Pak Gumara bersama saya masuk kelas dan
saya perkenalkan dengan murid-murid”, ujar Pak Tarikh. Keramahan Pak Tarikh ini pun
sebenarnya tidak menerbitkan rasa jengkelnya kepada Pak Lading Ganda. Atau mau
menuduhnya si tua pendusta Tidak! Dia cuma mendapatkan kesan tercengang-cengang saja dari
seluruh pengalaman singkat namun bertubi-tubi semenjak dia memasuki wilayah Kumayan ini.
Maka, ketika sehabis diperkenalkan dan dipersilakan mengajar di Kelas I B itu, Gumara
menganggap dirinya bukan sebagai guru baru di sekolah ini.
“Kalian pernah mendapatkan pelajaran matematika dari Pak Tarikh. Dan saya akan mengulangi
sedikit dari pelajaran dasar, sekedar sebagai ulangan. Dan ini bukan berarti pelajaran dari saya
berbeda dari Pak Tarikh. Maksud saya cuma menjelaskan, bahwa yang yang saya ulangi adalah
semua yang pernah diajarkan Pak Tarikh”, kata Gumara. Hal itu diucapkannya satelah guru tua
tadi keluar kelas.
“Jangan kira saya lebih pandai dari Pak Tarikh. Karena beliau guru senior, lebih tua. Lebih
berpengalaman. Tentulah beliau lebih pandai dari saya. Saya baru berpengalaman dua tahun
mengajar. Itupun sebagai guru bantu. Berhubung Pak Tarikh memasuki pensiun. saya ditawari
ke sini, dan saya mengajar”.
“Pak Guru”, seorang murid lelaki mengacungkan tangan,
“Yah, nama kamu siapa?”
“Dalip, pak. Saya ingin menanyakan apakah betul Pak Guru ditahan polisi kemarin pagi?”
Gumar hanya tersenyum dan menjawab ramah “Itu persoalan pribadi yang akan menghabiskan
waktu jika dibeberkan dikelas ini. Tapi baiklah saya jawab singkat Saya ditahan, itu benar. Tapi
saya tadi pagi dibebaskan dari tahanan, juga benar Buktinya sekarang saya mengajar disini”.
Enak memang pengalaman pertama pada siang ini bagi Gumara. Tapi yang tidak enak, setelah
dia diberi sepeda oleh Direktur SMP, masih menuntun sepeda, ada suara teguran dari arah
warung kopi “Pak Guru Gumara!”,
Gumara menoleh ke arah warung.
Bah! Ada seseorang yang nyengir. Melambai padanya. Dan dia adalah Pak Lading ganda, yang
melambai berseru “Mari masuk makan siang bersamaku!” Ajakan ini sungguh sebuah tantangan. Tak mungkin seorang guru makan di warung yang memberi kesan inilah warung preman, manusia-manusia koboi. Gumara hanya menghampir menuntun sepeda, lalu berkata “Maaf, terimakasih”. Lalu akan dinaikinya sepedanya itu. Tapi terdengar bunyi desis pada ban belakang. rupanya gembos. Eh, ban depan berdesis juga.
MASIH BERBAIK SANGKA
Sepeda itu terpaksa dituntun oleh Gumara. Tentu saja, mendorong sepeda yang kedua-dua Grafity,
bannya kempis, buat seorang guru baru, memalukan. Apa lagi dia tak tahu di mana tempat
tukang tambal ban. Tapi Gumara punya cukup peralatan yang dibawanya ke Kumayan ini,
bahkan sampai jarum pentul sekalipun. Dia berniat akan menambal ban itu sendiri di rumah.
Memang kadangkala dia menjadi orang aneh dengan menuntun sepeda begitu. Namun dia
berharap, orang yang menontonnya itu bukan karena mau menonton guru baru yang menuntun
sepeda, melainkan hanya ingin mengenal seorang penduduk baru saja. Tapi menjelang dia berbelok ke gang rumahnya, dia disapa seseorang. Orang itu memakai dastar, berkain sarung dililit ke leher, berpakaian hitam-hitam, bersandal jepit terbuat dari kulit Kayaknya orang ini pendekar silat Sapa orang ini cukup ramah “Dua ban kempes ya guru muda?”
“Betul”, sahut Gumara.
“Mampir ke rumah saya, guru!”
“Terimakasih”.
“Kalau begitu ke ladang saya!”
“Lain kali saja, Pak”.
Orang itu ramah memperkenalkan dirinya “Saya Ki Limbubu”. “Saya Gumara”.
“Saya sudah tahu. Tapi memang aneh dua ban kempes sekaligus. Apa anda melindas tumpukan
beling?” tanya Ki Limbubu. “Tidak”, sahut Gumara, “Dua-dua ban ini kempis dalam jarak semenit sebelum saya naiki”.
“Kalau begitu kempisnya bukan karena paku atau beling kaca. Ini tentunya dikempiskan oleh
kuku-kuku yang tajam”, ujar Ki Limbubu.
Gumara tak paham kata-kata itu. Atau dia kurang perhatian karena merasa perut lapar, Apalagi
dia tak enak jika Pak Yunus yang mengantarkan makanan rantangan harus menunggu lama di
depan rumahnya. Maka dia pun mengangguk hormat pertanda pamitan.
Maka, ketika dia tiba di pekarangan, dia pun menyatakan maaf pada Pak Yunus. Lalu dia tak lupa
menceritakan bertemu Ki Limbubu.
“Dia juga manusia harimau”, kata Pak Yunus.
“Oh ya”, Gumara agak heran, lalu “Pantas dia mengambil istilah kuku ketika dia mencurigai
penyebab kempisnya ban sepeda saya”.
“Di sini kita tak boleh melukai hati seseorang”, kata Pak Yunus. Ucapan ini membuat Gumara tak
dapat menghabiskan makanan rantangnya. Kini dia tatap lagi rantang yang masih ada isi itu.
Melintas perasaan ganjil yang membuatnya me rinding. Yaitu kenangan pada ucapan Pak Lading
Ganda soal peringatan akan diracun.
Lalu Gumara pun ingat pesan ibu, agar di Kumayan menghindari diri daripada makan di warung.
Ah, Gumara pada akhirnya menanakan lagi pesan ibu agar dia selalu berbaik sangka. Adalah Grafity,
buruk sangka jika menduga makanan rantang itu berisi racun. Tetapi ketika dia lihat sepedanya
yang belum dia tambal itu, Jika betul dugaan Ki Limbubu bahwa kempisnya ban karena torehan
kuku, bagaimana mungkin harus terus berbaik sangka?
Gumara buru-buru menanggalkan ban sepeda itu. Dan memeriksa ban dalamnya. Tampaknya,
melihat koyaknya amat lebar, mungkin saja yang mengoyak ban itu adalah harimau suruhan
lewat kukunya. Tapi, fikir Gumara lagi, daripada dia berburuk sangka, lebih baik ditambalnya saja
ban sepeda itu. Dan dia pun mulai menambal. Setelah selesai dua-duanya ditambalnya, lalu
dipompanya, dia sandarkan kembali sepeda itu pada tiang lunas rumah. Kemudian dia mencuci
pakaian. Dan senja pun tiba dengan cepat. Menjelang malam, muncul Pak Yunus membawa
rantang. Beliau heran makanan tak dihabisi Gumara.
“Kurang enak masakannya?” tanya Pak Yunus.
“Siapa yang memasak?”
“Isteri Pak Tarikh”, sahut Pak Yunus.
Seketika itu juga darah berdesir di dada Gumara. Namun dengan keberanian dan keyakinan pada
mujizad kata bismillah, Gumara melahap juga makanan rantang masakan Bu Tarikh. Dia merasa
tak diliputi firasat buruk. Tetapi pada hari ke lima , bukan saja firasat buruk yang dirasakan
Gumara sehabis makan malam. Gumara muntah. Dan gumpalan-gumpalan darah segar
berhamburan dari mulutnya. Bahkan dadanya sesak. Ketika itu Gumara harus memutuskan,
apakah dia mesti ke Puskesmas ataukah mendatangi Pak Lading Ganda. Gumara tak ingin pula
berburuk sangka. Dia cepat naik sepeda menuju Puskesmas. Dia mendapat suntikan. Dan darah
pun terhenti keluar dari mulutnya.
“Jangan menduga anda diracun orang, Pak Guru”, ujar dokter muda Kadir.
“Saya ke sini adalah bukti saya tak curiga. Kalau tidak, saya tentu ke dukun”, kata Gumara.
“Namun, kemungkinan anda diracun orang iseng pun ada”, ujar dr. Kadir.
Mendengar ucapan dr. Kadir itu pun wajah Gumara tidak berubah. Seolah-olah dia memang tidak
diracun seseorang pun. Lalu dia pamitan pada Dokter muda itu seraya berkata “Terimakasih,
dokter. Anda muda, saya pun muda. Anda bertugas di sini berbakti untuk Peri Kemanusiaan.
Saya pun mengajar di Kumayan ini atas keikhlasan yang bertolak dari dasar Peri kemanusiaan
jua. Tapi, sebelum saya pamit saya ingin bertanya, apakah anda bertugas di sini sudah cukup
lama?”
“Cukupanlah. Tiga tahun persis di bulan depan”.
“Pernahkah Anda diracun orang di sini?”
“Ya, pernah sekali”
“Lalu apa cara Anda mengatasi, dr, Kadir?”
“Saya terpaksa berguru”, ujar dr. Kadir.
“Siapa puru anda?”
“Tuan Putih Kelabu”, ucap sang dokter agak gugup.
“O, dia. Dia termasuk Tujuh Manusia Harimau di sini, bukan?”
Dokter” muda itu tercengang.
“Pak Guru mengetahuinya?” tanyanya.
“Ya”.
“Tetapi di Kumayan ini, termasuk guru saya Putih Kelabu itu, cuma ada Enam Harimau”, lalu dokter muda itu bertanya “ dari mana ada keterangan di Kumayan ini ada Harimau Tujuh? Buktinya, pancuran Pemandian Umum di sini pun cuma Enam Pancuran”. Gumara tersenyum lembut, lalu bertanya “Sulitkah untuk belajar pada Sang Guru Putih Kelabu?”
“Jika anda rajin membaca, kedalaman ilmunya berdasarkan Kitab. Dan dia tidak pernah
mengandalkan kekuatan fisik. Dia lebih cenderung pada dunia obat-obatan”.
Dr. Kadir lalu menambahkan “Murid anda ada yang anak syah Tuan Putih Kalabu jika saya tak salah duga”.
“Siapa nama murid saya itu?” tanya Gumara ingin tahu.
Tampaknya sang dokter agak berat menyebut nama itu. Dia cuma berkata “Pokoknya yang tercantik di kelas, yang namanya aneh”.
Dengan segera Gumara dapat Mengingatnya “O, nama itu memang aneh. Pita Loka. Rambutnya pun bagus. Memang diakah anak kandung Tuan Guru Putih Kelabu?”
“Betul. Tapi maaf jika saya terpaksa menyebutkan, bahwa si Pita Loka Konon kabarnya sudah ditaksir orang”.
“Ditaksir orang? Maksud pak dokter sudah bertunangan?” tanya Gumara seolah bernapsu. “Begitulah menurut pendengaran saya”,”, jawab sang dokter.
“Oh, jika wanita belum bersuami, apalagi belum bertunangan, itu masih berupa bunga di kebun yang jika Tuhan kehendaki dapat saja dipetik. Tapi harap tuan muda ketahui, saya bukanlah type lelaki yang mudah jatuh cinta. Oh, sudah banyak obrolan kita. Jadi sekedar mencegah keracunan, suntikan tadi sudah cukup, bukan?” “Sudah cukup”, sahut dokter muda itu.
“Terima kasih karena anda menolak pembayaran”, ujar Gumara lalu melambai hormat dan berlalu menuju rumahnya. Dan dalam perjalanan pulang ke rumahnya itu, dia dicegat seorang tua di tengah jalan. “Maaf, Bapak ingin bicara dengan saya?” tanya Gumara sopan, “Saya mau minta api.” Gumara buru-buru memberikan korek api gas. Setelah menyulut, sebelum sempat Gumara orangtua itu berlalu.
Yang agak aneh pada perasaan Gumara ketika itu adalah kopiah yang dikenakan orangtua itu. Warnanya mengingatkan kemungkinan itu. Kopiah itu berwama putih dan berwama kelabu, Jangan-jangan, dialah Tuan Guru Putih Kelabu. Setiba di rumah, Gumara masih mencoba mengingat kopiah orangtua tadi. Dan secara tiba-tiba saja terjadi kejutan. Pintu terdengar diketuk. Gumara tenang dan membuka pintu. Terdengar salam dan dilihatnya ada orang membungkukkan tubuh begitu hormatnya “Maafkan saya tadi jika kurang sopan meminta api rokok, Tuan Gumara”. “Bapak tentu Tuan Guru Putih Kelabu”, ujar Gumara seraya mempersilahkan masuk. “Benar”, sahut orangtua itu melangkah sopan.
“Tapi begitu secepat kilat secara mendadak Bapak sudah di sini. Dengan kendaraan apa Bapak ke sini?” tanya Gumara masih heran. “Katakanlah dengan angin”, ujar sang Guru. Gumara bukan orangnya yang sok merahasiakan rasa terkajut. Nafasnya terhempas dan bibirnya menanya “Berkendaraan angin Pak Guru ke sini? Wah, ilmu anda amat tinggi sekali?”
“Anak muda salah, Yang datang menghadap sebetulnya ilmunya rendah. Saya mendatangi anda, itu berarti ilmu andalah yang tinggi!” “Ha? Ilmu saya? Saya cuma Guru Ilmu Matematika, Tuan Guru!” “Itu bukti ilmu anda tinggi. Anda merendah sampai ke bawah bumi, sehingga saya tak dapat mengenali anda. Tapi agar saya jangan merasa terjerumus mengagumi anda, saya nyatakan apa maksud saya menemui Guru Gumara sekarang?” “Silahkan, Tuan Guru”, ujar Gumara amat sopan. “Begini! Saya dengar tuan menjadi guru di sini. Di sekolah tempat anda mengajar, di situ ada anak perempuan saya. Dia masih gadis mentah. Belum punya kematangan. Karena anda gurunya di sana , saya mohon anda melindungi Pita Loka dari segala kemungkinan!” Gumara terpelongo beberapa detik. “Jadi Pita Loka itu puteri Tuan Guru?” tanya Gumara. “Betul. Dia bandel, jika berkata melukai orang. Jadi ada kemungkinan anakku itu dijahati orang. Sebelum hal itu terjadi, mohon perlindungan anda, Tuan Guru Gumara”. Begitu santun dan hormatnya orangtua itu, sampai Gumara terlena di ambang pintu sewaktu melepasnya. Tapi terlena itu mendadak berubah menjadi terpelongo ketika orangtua itu dalam sekejap mata hilang
berbentuk asap putih kelabu Secepat angin beliung. Dan sewaktu mengajar di depan kelas, Gumara lebih dahulu bertanya “Siapa di antara kalian di kelas ini yang paling gemar pada matematika?” “Wah, itu pertanyaan bohong”, kata seorang murid
Dan waktu Gumara melihat murid itu, temyata suara jelas itu dari Pita Loka. “Kamu yang bernama Pita Loka?” tanya Gumara, “Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula”, jawab murid itu.
Memang mulutnya culas dan judes. Gumara hanya tersenyum. Lalu dia mencatat nama murid-murid yang menjadikan pelajaran matematika sebagai mata pelajaran favorit. Tapi Pita Loka tidak mengacukan telunjuknya. Sekedar menguji sejauh mana kemampuan murid di sini terhadap mata pelajaran matematika, Gumara membuat lima soal di papan tulis.
“Wuwwww”, gerutu murid sekelas.
Gumara membalik pada mereka, bertanya “Kenapa berteriak wuuu?”
“Guru baru jangan kejam, Pak!”
“Lho, koq saya dibilang kejam?” Gumara bertanya tertawa.
“Soalnya lima , sulit-sulit lagi”, ujar Pita Loka.
“Buat yang pandai tidak ada yang sulit”.
“Buat yang bodoh seperti saya, tentu itu sulit, Pak”, ujar Pita Loka. Gumara tertawa menyengir sejenak, lalu tidak dilayaninya lagi ocehan murid itu. Ketika semua murid menyerahkan jawaban soal, hanya Pita Loka yang menyerahkan kertas tanpa jawaban soal. Yang ditulis cuma salinan soal dari papan tulis belaka. Malahan, setelah salinan soal no. 5, Pita Loka menulis kalimat

KARENA GURU LEBIH PANDAI DARI MURID, SEBAIKNYA LIMA SOAL INI DIJAWAB OLEH PAK GURU SAJA.
Pita Loka …
Gumara ternyata bukan guru sembarangan. Setelah membaca itu, dia peragakan kertas itu ke hadapan murid-murid itu, disertai tanya “Siapa Pita Loka yang cukup sok ini?”
“Saya, Pak Guru” jawab gadis itu. “Oh kamu, ya. Saya minta kamu beristirahat di luar kelas saja”, ucap Gumara cukup lembut, tapi tegas. Seketika kelas pun hening. Wajah Pita Loka merah padam karena dlanggapnya dirinya dipermalukan guru baru itu. Tapi dia pun cukup tabah, Dia merentak berdiri, lalu melangkah dengan masgul meninggalkan kelas. Seperginya, Gumara berkata penuh wibawa “Harap kamu ketahui, setiap pekerjaan bersama, butuh pimpinan. Begitupun belajar, adalah pekerjaan
bersama. Guru, dalam hal ini saya, jadi pimpinan. Jadi setiap yang menciptakan hilangnya wibawa dalam satu pekerjaan bersama, dianggap melanggar konsensus, dan dia berhak menerima perintah agar minggir. Jelas oleh kalian?”
Murid-murid semuanya terdiam.
Murid-murid kelas yang terdiam itu mendadak menjerit. Karena mereka melihat Pak Guru Gumara muntah. Lalu bergumpal darah pun turut dimuntahnya.
“Pak Guru muntah darah!” teriak di antara mereka. Pita Loka mendengar juga suara itu. Lalu dia menjenguk ke dalam. Bahkan dia juga mendengar suara sumbang dalam kelasnya “Wah, Pak Guru dikerjain oleh Pita Loka”. Mendadak saja suara gumam dugaan itu terhenti karena terdengar bentakan seorang gadis yang baru masuk ke kelas itu, dari kelas lain “Kalian jangan menyebar fitnah!”
“Hai, Harwati!” seru Pita Loka yang meloncat masuk kelas. Pak Guru Gumara masih mengurut dadanya yang dirasanya terbakar, untuk mengurangi darah yang meleleh dari bibirnya.
“Saya jadi terkena fitnah, Wati”, kata Pita Loka. Tetapi Harwati rupanya tidak menjawab. Dia sedang berkonsentrasi dengan menyerap saringan napas, Tiap serapan yang dilakukannya, Gumara merasa napasnya teratur. Dan panas yang membakar dada berkurang. Harwati terus bagai orang bersemedi dengan kedua tangan bersilang di dada.
Rupanya Harwati membuat bejana abstrak antara pernapasan Gumara dengan pernapasannya. Lalu, puncaknya yang menegangkan semua orang, adalah sikap Harwati yang tenang meniupkan napasnya keluar mulut. Terciptalah pemandangan aneh mengagumkan. Dari mulutnya keluarlah gelembung-gelembung merah jambu bagai gelembung sabun. Tiap gelembung itu menabrak dinding dan pecah di sana , tampaklah bercik merah muda itu menjadi semacam percikan darah. Pada puncak yang paling menegangkan, ketika Harwati menghembuskan gelembung terakhir, bukan gelembung lagi yang terlempar dari mulutnya. Melainkan segumpal darah beku.
Baru setelah itu dia berkata; “Tolong berikan padaku segelas air putih”. Beberapa murid bersibuk
diri mendapatkan segelas air putih dari warung depan sekotah. Lalu Harwati berkumur-kumur
dengan air itu. Setelah itu barulah ada gema pembicaraan dari murid ke murid, guru ke guru,
dan juga Kepala Sekolah.
Pita Loka terkagum-kagum, lalu duduk di bangkunya, Gumara berkata pada Wati, “Terimakasih
atas bantuanmu, Dadaku kini lapang”.
Betapa gembira hati Harwati oleh ucapan itu. Wajahnya tak dapat menyembunyikan rasa bangga
dan bahagia. Matanya melirik pada Pak Guru Gumara dengan lirikan getaran asmara, Lalu
“Kembalilah kamu ke kelasmu”, ujar Gumara.
Harwati kembali ke kelasnya. Gumara kembali berdiri menghadapi muridnya. Dia menatap pada
Pita Loka. Kelas tegang sejenak, begitu pun Pita Loka.
“Bapak curiga pada saya?” Pita Loka bertanya dengan nada cemas.
“Kamu begitu manis, tak mungkin melakukan hal yang kecil”, jawab Gumara.
Mendengar itu Pita Loka tersenyum ceria . Dia mengacukan telunjuk. Gumara heran dan
bertanya “Mau apa kamu, Pita Loka?” tanya sang guru, “Saya mohon dapat menjawab lima soal Bapak di papan tulis”, ujar Pita Loka.
Gumara tercengang. Dia melihat ke papan tulis di mana tertera lima soal yang dibuatnya untuk seluruh murid, tapi yang tak dikerjakan Pita Loka.
“Silahkan ke depan”, ujar Gumara.
Pita Loka mengambil sebatang kapur tulis. Dengan cepat dikerjakan satu demi satu soal matematika itu. Seluruhnya diselesaikannya dalam lima menit saja, Gumara tercengang dan berseru “Wah, kamu anak genius!”
“Semua soal betul jawabannya”, tambah sang guru dengan nada kagum. Mendengar pujian itu,
Pita Loka kelihatan berbinar-binar matanya. Dan dengan malu-malu dia berkata bernada renyai,
“Tapi sepandai-pandai saya, tentu lebih pandai Pak Guru”.
“Ayahmu Tuan Guru Putih Kelabu, ya?” tanya Gumara.

“Koq Bapak tahu?” tanya Pita Loka senang.

“Saya tahu”, ujar sang guru.

Murid yang cantik itu tampak senang sembari memperbaiki bagian depan rambutnya. Karena
diperhatikan seluruh biji mata di kelas, gadis inipun jadi salah tingkah. Lalu dia berkata “Maafkan
kesalahan saya tadi sampai saya diusir. Tapi Pak. karena kebetulan Bapak saya Ki Putih Kelabu,
harap Bapak dan teman-teman sokelas ini jangan lagi mencurigai bahwa muntah darah Bapak
tadi karena perbuatan saya. Saya memang berilmu. Tapi ilmu matematika. Ilmu akal. Bukan ilmu
akal-akalan”.
“Percayalah, Bapak dan teman-temanmu tak mencurigaimu, Pita Loka dan selanjutnya marilah
kita lanjutkan pelajaran dengan rumus baru”, ujar Gumara.
Lalu ketika jam istirahat tiba, muncullah pembicaraan di emper-emper sekolah itu pertaruhan dan
spekulasi.
“Aku bertaruh, Pita Loka yang nantinya jadi isteri Pak Gumara”, ujar seorang gadis.
“O, tak mungkin. Harwati yang akan jadi tunangannya”.
“Apa alasanmu, Rika?”
“Alasanku berdasarkan budi baik. Orang Indonesia itu, betapapun tinggi derajat atau
kesombongannya, masih bertolak pada budi baik. Dan orang Indonesia termasuk penduduk bumi
yang suka membalas budi. Bukankah ketika Pak Gumara muntah darah, yang menolongnya
sembuh adalah Harwati? Tentu Pak Gumara suatu saat akan membalas budi itu, dan yang
terkekal adalah melamarnya?” Setelah Rika menjelaskan alasannya, temannya Dina menangkis pula “Tapi taruhlah Pak Gumara ingin membalas budi. Apakah harus selalu dengan Cinta?” “Pembalasan budi yang terbaik adalah memilih balasan yang terbaik dari semua yang baik. Yang
terbaik balasannya adalah jalinan kasih melalui cinta”, ujar Rika. Grafity,
“Tapi Pak Gumara tampaknya jenis lelaki yang berbeda”, kata Dina.
“Berbeda bagaimana?” tanya Rika.
“Istimewa. Kulihat dia tidak begitu kagum dengan pengobatan Harwati. Reaksi wajahnya wajar-
wajar saja. Tetapi ketika dilihatnya Pita Loka menyelesaikan lima soal dalam lima menit saja,
wajah Pak Gumara bersinar berbinar-binar. Kagum dan tercengang. Ini bisa membuat bibit
asmara ”.
Beberapa cewek bertepuk tangan atas analisa Dina. Rika sediri pun terecengang. Memang
penduduk Kumayan telah diwarisi sikap budaya yang merupakan paduan tehnologi dan cara
berfikir maju bersamaan dengan tradisi kuno yang dipelihara, termasuk ilmu-ilmu ghaib.
Remajanya paling suka menganalisa sesuatu secara rasional, namun tetap pula menghargai yang
tradisional tapi yang belum terpecahkan oleh tehnologi dan ilmu mutakhir, seperti ilmu-ilmu
ghaib dan soal paranormal.
Rika lalu berdebat; “Aku melihat, dan mendengar sendiri, bahwa Harwati menaruh cinta pertama
lewat pandangan pertama pada Pak Gumara”.
“Lalu kamu bikin kesimpulan Harwati bisa menarik simpati?”
Dina mendebat, dan melanjutkan debatnya “Lalu dengan demikian kamu beranggapan bahwa
Harwati dengan mudah bisa mencantol Pak Gumara?”
“Hai, aku koq jadi bahan gunjingan?” mendadak muncul saja Harwati ke kelompok itu bersama
Pita Loka.
“Kurasa akulah yang bisa mencantol Pak Guru”, ujar Pita Loka. Ucapan Pita Loka ini
mengagetkan Harwati. Telinganya merah padam seakan disengat kala. Harwati melirik pada Pita
Loka dan berkata “Kamu memang yang tercantik, Pita Loka. Tetapi dalam soal cantol menyantol
itu ada faktor nasib”.
“Wah Nasib? Apa itu ada rumusnya?” tanya Pita Loka.
Rumusnya di tangan Tuhan”, jawab Harwati.
“Jawabmu itu tidak ilmiah”, kata Pita Loka.
“Tapi cantol menyantol dan sejenisnya yang bernama cinta itu “kan masuk dalam klasifikasi
jodoh”, ucap Harwati.
“Jadi kamu akan memojokkan saya, yang pada akhirnya tiba kita pada dogma, bahwa jodoh,
langkah, rejeki dan maut ada di tangan Tuhan?” debat Pita Loka.
Dina dan Rika memperhatikan dengan tekun perdebatan itu, terlebih murid lain yang ber-IQ
rendah. Tampaknya Harwati terdesak, lalu berkata “Di atas kertas memang kamu yang paling
mendapat simpati Pak Guru. Karena kamu Jagoan matematika. Karena kamu cantik. Karena
kamu puteri Tuan Guru Terpandang, Putih Kelabu yang bijak bestari. Tetapi dari fihakku sudah
terekam sejarah, Yaitu kepada siapa pertama kali Pak Guru menghadap manusia di Kumayan ini.
Ya, semua tahu dia menghadap Ki Karat, kendati dia dijuluki Harimau Komersil dari yang iri hati.
Bukankah kau sendiri ketika kita bertengkar dulu menyebutku dengan ejekan Puteri Harimau
Komersil? Ingat?”
“Wah, sorry. Ini bukan debat sehat lagi. Unsur emosi sudah terlibat. Jadi saya mundur dari
pembicaraan”, kata Pita Loka lalu meninggalkan teman-teman gadis sebaya, masuk ke dalam
kelas.
“Aku pendukungmu”, ujar Rika memegang bahu Harwati,
“Dan aku pendukung Pita Loka”, kata Dina.
“Wajar, karena di kelasmu engkau juara matematika juga”, tuding Harwati dengan tertawa
renyai.
Setelah itu kelompok itu membubarkan diri sebab lonceng masuk kelas sudah berbunyi. Tetapi di
dalam kelas, Harwati tampak begitu gelisah. Seakan hatinya tak sabaran lagi menanti Pak
Gumara masuk mengajar di kelasnya.
Gumara memasuki kelas Harwati dengan senyum yang lega. Tentu hal ini membuat Harwati
senang, Tetapi dia benar-benar merasa risau karena sudah pasti Pak Gumara terkena racun.
Kebetulan Pak Gumara memberikan soalan matematika yang musti diselesaikan dalam kelas. Jadi
Pak Gumara harus berkeliling dari bangku-kebangku. Untuk memperhatikan apa yang diperbuat
setiap murid. Pada giliran Pak Gumara sampai ke bangku Harwati, Harwati bertanya
“Apa setelah maghrib Bapak ada waktu ke mmah saya?” Gumara agak kaget. Dia bertanya
“Untuk keperluan apa?”
“Ya, siapa tahu ada yang dapat Bapak bicarakan dengan Ayahku”, ujar Harwati.
Gumara segera faham. Harwati adalah puteri Lebai Karat, seorang guru yang disegani di
Kumayan.
“Saya rasa, saya memang perlu datang”, ujar Gumara.
“Terimakasih, Pak”, ujar gadis itu.
Gumara pulang dari mengajar dengan pikiran tenang, Ketika Yunus tiba membawa makanan
rantang, Gumara bertanya; “Pak Yunus. Saya ingin bertanya. Sebagai penduduk baru di
Kumayan ini, apa kedatangan saya melukai hati Pak Tarikh?”
“Melukai hati?” tanya Pak Yunus heran.
“Lebih baik Pak Yunus tidak menyembunyikan sesuatu. Tiap Pak Yunus membawa makanan ke
sini, apakah Bapak tak pernah curiga?”
“Curiga bagaimana?” tanya Yunus.
“Bahwa makanan itu berisi racun?” tanya Gumara.
Mata Gumara dengan tajam menatap pada Pak Yunus.
“Anda mungkin belum mengenal saya”, ujar Gumara.
“Jangan tuduh saya menjadi perantara si pemberi racun. Saya cuma membawa makanan rantang. Tapi tak pernah berfikir bahwa makanan yang saya bawa ini diberi racun oleh ibu atau Pak Tarikh”.
“Tadi siang saya muntah darah di depan kelas”, ujar Gumara. Yunus terdiam, tapi dia ketakutan.
“Kalau begitu sebaiknya masakan yang saya bawa ini jangan Pak Guru makan lagi”, kata Yunus,
“Wah, itu tindakan tidak terpuji”, Ujar Gumara. “Daripada anda mati terkena racun? Bukankah itu perbuatan tolol ?” “Biarkan makanan rantang ini dikirimi terus.
Tapi … “, Gumara mengambil rantang demi rantang. Lalu dia berkata “Mari ikuti saya!”
Pak Yunus mengikuti Gumara menuju kamar mandi. Dan dia terpelongo ketika Gumara
membuang makanan itu. Terlebih kaget lagi ketika Gumara didengarnya berkata geram
“Makanan dari setan, sebaiknya untuk setan”. Lalu makanan yang sudah ditumpah ke lantai kamar mandi itu disiram Gumara “Siapa yang belum kenal siapa Gumara Peto Alam mestilah menganggap dia leceh. Tapi aku pernah digelari ibuku sipahit lidah”.
Dengan meludahi bekas-bekas makanan itu, Gumara berkata geram; “Kembali pada yang mengirimkan”
Ia meludah lagi “Semoga pahit terus lidahku!” Ucapan Gumara bagaikan angin taufan yang dapat merubuhkan raksasa dalam sedetik. Pada detik itu pula, Bu Tarikh jatuh terpeleset di kamar mandi. Dia bagaikan orang kemasukan. Dia menggelepar. Pak Tarikh datang. Lalu menggotong isterinya masuk ke kamar tidur. Wanita itu mengigau “Aku melihat raja harimau ketika masuk kamar mandi!”
“Ha?” Tarikh melotot
“Raja Harimau!” teriak bu Tarikh.
“Tentu kamu lagi diteluh oleh si Lebai Karat!”
“Bukan! Bukan Lebai Karat!”
“Siapa? Lading Ganda?” desak Tarikh.
“Harimau yang tidak kukenal di sini. Harimau perkasa!”
Pak Tarikh mencoba memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba dia melotot melihat isterinya muntah darah.
Lelaki itu serentak berteriak “Kau muntah darah! Kau diracun orang!” Wanita itu menangis terus, dan menggugu-gugu. Lalu dalam keadaan tak sadarkan diri dia berkata “Tolong panggilkan Guru Peto Alam”.
“Siapa itu? Siapa Guru Peto Alam?” tanya Pak Tarikh.
“Yang mengajar matematika, guru baru!”
“Gumara?” tanya Tarikh lebih tercengang.
“Cepat panggilkan sebelum aku mati. Dialah harimau raksasa itu! Cepat, cepat, cepattttt!”,
Darah kental terus meleleh, sementara Pak Tarikh dengan naik sepeda cepat menuju rumah
Gumara. Ia cuma menemukan Pak Yunus yang berada di rumah itu.
“Dia sedang pergi”, kata Yunus.
“Kemana?”
“Entah”.
Pak Tarikh jadi kebingungan. Ki Lebai Karat menatap tajam pada mata Gumara “Anda sebaiknya segera pulang. Aku tahu, ada seseorang yang membutuhkan kau, Peto Alam. “Membutuhkan saya, Pak?”
“Ya. Dia dalam keadaan sekarat”.
“Siapa dia?” tanya Gumara heran.
“Seorang wanita”.
“Wanita?”
“Jika kau tidak segera menemuinya, dia akan mati”, ujar Ki Karat.
Gumara tenang bertanya “Katakan pada saya nama wanita itu !”
“Kau tau”.
“Tidak, Pak. Demi Tuhan saya tak kenal”.
Ki Lebai Karat hanya tersenyum ramah. Lalu dibelainya kepala Gumara seraya berkata; “Peto
Alam. Kau cepat saja meninggalkan tempat ini, Isteri si Tarikh sedang sekarat membutuhkan
kau. Kukatakan untuk kedua kalinya, jika kau tak segera menolongnya, dia mati. Nanti kau
berdosa, nak!”
Harwati berada di pintu, berusaha mencegat Gumara sewaktu Gumara akan keluar. Tapi tak
sempat dia mengucapkan sepotong katapun. Malah dia ternganga melihat Gumara meloncat dan
berlari secepat kilat bagaikan angin limbubu!
Dan bagaikan angin limbubu sepertinya Gumara menerjang pohon-pohon kecil yang berpatahan.
Konsentrasi Gumara yang hebat telah mengalahkan seluruh jurang kecil maupun sungai kecil
yang dia lompati, demi tertolongnya nyawa Bu Tarikh.
Aneh sekali, ketika Gumara memasuki rumah Tarikh, wanita yang tak sadar dan muntah darah
itu berteriak, bagai mengenalnya “Peto Alam, tolong hentikan muntahku”.
Gumara heran, dan tak tahu menahu bagaimana caranya. Sebab dia bukan dukun. Dia cuma
memekap mulut wanita itu. Lalu wanita itu menggelepar. Tetapi kemudian setelah Gumara
melihat wanita itu sudah sadarkan diri, pekapan telapak tangannya pada mulut Bu Tarikh
dilepasnya.
Darah tak keluar lagi. Bu Tarikh lalu duduk bersimpuh. Dia melihat Gumara berdiri, tapi
dijambanya kaki lelaki muda itu, seraya bersembah; “Ampuni kesalahan saya. Hampir saja saya
mati konyol, Peto Alam”.
Semua yang menyaksikan kejadian itu tercengang. Mereka bergumam. Tapi Gumara kemudian
berkata; “Tolong buatkan makanan yang lebih enak besok ya Bu Tarikh?” Pak Tarikh lalu
menoleh pada isterinya. Ada bahasa rahasia antara kedua suami isteri itu, tanpa berkata
sepatahpun.
Seperginya Gumara, Pak Tarikh memberitahu pada tetangga-tetangga yang menengok kejadian
seram tadi “Maaf, mungkin kalian semua sudah lelah, dan isteriku pun lelah”.
Semua tamu pulang. Sepulangnya mereka Pak Tarikh berkata pada isterinya, “Ternyata kau lebih
dulu dari saya”.
“Aku menyesal telah meracuni dia”, kata Bu Tarikh.
“Sekarang tahulah kita, dia bukan sembarang manusia. Jangan-jangan dia memiliki ilmu Harimau
Juga”, kata Pak Tarikh.
Sementara itu Gumara telah tiba di rumah.
Pak Yunus bertanya “Sempat bertemu dengan Lebai Karat?”
“Sempat”, sahut Gumara membuka jacketriya.
“Lalu, besok makanan rantang kita minta pada orang lain?”
“Jangan. Itu akan menyinggung perasaan. Tetap saja minta makanan rantang dari Bu Tarikh”.
Yunus melongo sesaat, lalu dia pamitan.
Dan Gumara kemudian menggeletak di balai-balai. Kedua telapak tangannya dijadikan bantalan.
Ketika itu dia seakan berbicara dengan dirinya sendiri “Aku datang ke Kumayan ini untuk
kebaikan. Kenapa aku disambut dengan kejahatan berturut-turut”.

Dan pagi harinya Gumara kaget sekali mendengar suara ketukan pintu yang agak keras. Ketika
dia buka, dilihatnya Pita Loka yang cantik sudah berdiri di depan pintu. Gadis itu bertanya “Pagi
ini Bapak tidak mengajar?”
“Pagi ini tidak”, ujar Gumara.
“Jam berapa Bapak mengajar?”
“Jam sepuluh”.
Dan barusan saja Pita Loka akan pamit, muncul pula Harwati. Harwati menyapa Pita Loka. lalu
dia bertanya pada Gumara; “Berhasilkah pak Guru tadi malam?”
“Berhasil. Tapi aku bukan dukun. Aku hanya menuruti perintah Ayahmu saja, Wati”.
Ucapan itu menjadi tanda tanya bagi Pita Loka, yang masih sempat mendengar seraya keluar
dari pekarangan. Maka ditunggunya Harwati di pekarangan. Tetapi sampai dekat lonceng masuk
kelas pelajaran pertama berbunyi, Pita Loka belum melihat Harwati muncul. Perasaan
cemburunya pun berkobar. Dan rupanya, persaingan antara Harwati dan Pita Loka tidak dapat dirahasiakan lagi. Bahkan hal ini sampai ke telinga Ki Putih Kelabu, ayah Pita Loka. Ayah yang bijak itu memanggil Pita Loka ketika gadis ini pulang dari sekolah.
“Saya gembira dan karena itu ingin bicara denganmu, nak”, ujar sang Ayah.
“Gembira karena apa, Ayah? Dan bicara tentang apa?” tanya Pita Loka.
“Saya gembira karena mendengar kau jatuh hati pada Guru Gumara”.
“Hmmm”.
“Dan saya ingin bicara tentang itu, nak.”
Sang Ayah memilin-milin Jenggotnya. Dia sebenarnya gemetaran. Tapi dia memaksakan diri juga
untuk berkata “Segembira-gembira seorang ayah, tetapi jika ada sesuatu yang kurang wajar,
perlu dikatakan juga, Pita Loka”
“Katakan saja. Jangan bicara bertele-tele”, kata Pita Loka.
“Kau . . . akan sia-sia, Pita Loka!”
“Saya akan berhasil. Berhasil menyantol Pak Guru Gumara”, ujar gadis itu dengan nada ketus.
“Nanti kau akan kecewa”, kata Ki Putih Kelabu.
“Dari sudut apa ayah berkesimpulan begitu?”
“Dari sudut ilmuku, tentu”.
“Ilmu ayah itu tidak rasional. Tapi alasan saya pasti masuk akal. Pak Gumara akan terpikat pada
saya, sebab saya menyenangi ilmu Matematika. Dan dia selalu kagum jika ada soal saya cepat
menjawabnya”.
“Itu sajakah alasanmu?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Alasan lain adalah karena saya lebih cantik dari Harwati. Semua teman bilang begitu”.
“Tapi saya tetap gembira, karena kamu selalu punya keyakinan teguh berdasarkan otak encermu
itu. Namun ada kenyataan lain yang tidak dapat kau bantah. Tahukah kau, sejak dia berada di
Kumayan ini tidak seorang pun guru-guru yang dia datangi rumahnya, kecuali Ki Lebai Karat?
Dia guru besar, memang itu wajar. Tapi aku tahu, Harwati lebih gesit mengajak Gumara ke
rumahnya dengan alasan berhubungan dengan ayahnya. Dalam matematika kamu memang
hebat, tapi dalam hal siasat Harwati lebih hebat”, Pita Loka hanya tersenyum sinis. Lalu berkata
gagah “Saya tidak sudi numpang bercinta dengan nama besar ayahku. Harwati menumpang
dengan nama besar Ki Lebai Karat. Saya ingin berjuang sendirian, tanpa bantuan. Tapi Harwati
juga berjuang mau merebut Gumara dengan bantuan ayah”,
“Dan dia akan menang”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Huh! Pak Guru tidak pernah kagum pada seseorang yang nebeng dengan kebesaran ayahnya.
Dia kagum padaku, aku yakini itu!” ujar Pita Loka tandas. Hal ini membuat Ki Putih Kelabu
penasaran. Tengah malam dia duduk bersila menyatukan konsentrasi. Lalu dia menjelma menjadi
seekor harimau. Dan dia menyelinap keluar rumah secara rahasia. Keluar masuk kebun jeruk dan
kebun pisang, di tengah malam itu Ki Putih Kelabu sampai juga ke pekarangan rumah Gumara.
Gumara sedang tidur pulas, Tapi kepulasannya terganggu oleh suatu bau yang amis. Bau
bangkai! Dia menyelidiki keadaan sekeliling.
Lalu dia membuka pintu.
Gumara tersentak sejenak begitu melihat seekor harimau bersimpuh tepat di depan tangga
rumahnya ia tahu, itu bukan harimau sejati, tapi harimau jadi-jadian. Dan ia yakin, ini salah
seekor dari harimau-harimau Kumayan yang sakti. Ia berkata pada harimau itu dalam bahasa
manusia “Silahkan bertamu, tuan. Tapi jika tuan memasuki rumahku ini, harap tuan menjelma
jadi manusia biasa saja”. Gumara sengaja meninggalkan pintu masuk ke dalam, lalu dia duduk
menanti. Lalu kedengaran pintu berciut. Gumara mendongak menatap, Tampak olehnya lelaki
tua berjenggot dan Gumara amat kagum melihat kebersihan wajah lelaki tua itu.
“Anda belum mengenal siapa saya”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Saya mengenal tuan, Bukankah tuan adalah Ki Putih Kelabu, ayah Pita Loka yang pintar
matematika?”
“Betul”.
“Tentu ada keperluan penting maka tuan di tengah malam ke sini”.
“Betul. Saya ingin membicarakan sesuatu. Sesuatu yang penting bagi diri saya, keluarga saya
maupun keturunan saya”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Saya kira ada baiknya tuan bicara terus terang”, kata Gumara.
“Baiklah. Kami dari keturunan baik-baik dan karena itu ingin menjalin darah dengan keturunan
yang baik pula. Maksud saya, sebelum didahului orang lain, ada baiknya saya mendahului.
Secara ringkas, saya ingin agar nak Gumara Peto Alam segera saja bertunangan dengan anak
saya Pita Loka. Saya kuatir, saya memiliki saingan berat, puteri Ki Lebai Karat yang konon
menaruh hati pada anda”. Gumara mencoba tersenyum. Kendati senyumnya pahit. Dan kepahitan senyum itu dirasakan oleh Ki Putih Kelabu. Orangtua itu mulai merasa tak enak badan. Dia menjadi rikuh. Apalagi
Gumara hanya berdiam diri saja.
Ki Putih Kelabu mencoba menatap mata Gumara. Dia mencoba mengukur sampai di mana ilmu
ghaib yang dimiliki Gumara.
Dan dengan memberanikan diri, Ki Putih Kelabu bertanya
“Anda menolak?”
Gumara hanya berdiam diri. Dia mencoba tersenyum lagi. Tapi pahit lagi! Dan Ki Putih Kelabu
seketika menjadi malu. Dia bertanya dengan menahan malu “Jadi anda telah ada pilihan?”
“Belum!”
“Anda jangan berdustal”
“Jangan marah, pak. Kita baik-baik saja. Saya tidak berdusta, dan saya memang belum ada
pilihan”, kata Gumara, tenang.
Ki Putih Kelabu mulai geram. Terdengar dengus nafasnya yang sesak, nafas harimau!
“Puteri tuan, Pita Loka, rasanya belum patut diperisteri. Baik oleh saya, maupun oleh lelaki lain.
Dia terlalu muda”, kata Gumara.
“Anda hanya berkilah, Peto A/am!” Aku ingin menguji, sampai mana batas maluku!” suara Ki
Putih Kelabu menjadi tambah geram.
“Tuan jangan tantang aku berkelahi, Ki Putih Kelabu!” ujar Gumara, “Aku tak pandai berkelahi.
Aku hanya guru matematika”. Tapi ucapan Gumara yang sabar, bukan menjadi air si dingin. Malah ucapan Gumara dianggap air mendidih yang disiramkan ke mukanya. Ki Putih Kelabu dengan secepat kilat meloncat dan tubuhnya langsung berubah menjadi seekor harimau.
“Pulanglah anda!” pinta Gumara.
Tetapi harimau itu menggeram dengan bengis. Dengan satu gerak mundur, dia lalu meloncat ke
depan menerkam Gumara. Gumara mencoba menangkis dengan tendangan sembari jatuh miring. tendangan itu agaknya begitu hebat, sehingga darah bercucuran dari tulang rusuk sang harimau. Harimau itu tetap saja
menghambur deras, menerkam Gumara. Tetapi Gumara mengibaskan lengan untuk mengelak,
sehingga sang lawan tersungkur setelah menghajar sebuah kursi sampai hancur.
Gumara tegak tegap menanti.
Dia berharap si tua itu kapok. Dia menghirup nafas sejenak, dan hampir saja lengah. Satu
tubrukan ditangkisnya dengan tinju. Tepat mengenai dada harimau itu sebelum cakarnya
mengenai muka Gumara.
Rupanya tinju itu begitu ampuh.
Terdengar suara hentakan nafas dari mulut harimau itu menjelang dia jatuh tertelentang.
Gumara tidak ingin melayaninya lagi. Gumara langsung ke kamar mandi. Dia handuki
keringatnya. Keringatnya menetes lagi. Dia berhanduk lagi! Dan kemudian dia melihat pada jam
dinding. Wah, satu jam kami telah berkelahi. Tapi rupanya perkelahian sedemikian hebat dan
cepatnya. Keringatnya dihapusnya lagi dan dipungutnya pecahan kursi tadi, sembari melirik ke
tubuh yang terlentang di lantai itu. Dan tubuh itu bukan tubuh harimau iagi. Tetapi tubuh lelaki
tua, Ki Putih Kelabu.
Jidatnya berbekas lima garis yang masih menetes luka.
Rusuk bajunya robek dan dari sana tampak juga darah.
Gumara kasihan juga padanya. Dalam keadaan si tua pingsan itu, Gumara mendekapkan telapak
tangan pada luka di jidat dan di perut. Hingga keringlah seketika.
Lalu Ki Putih Kelabu siuman dari pingsan. Dan bangun dengan meringis. Dia memegang
dadanya, Gumara berkata, “Pak, coba buka pakaian tuan. Tadi saya tinju dada tuan”.
Ki Putih Kelabu membuka pakaiannya. Tampak bekas tinju Gumara membiru di dadanya. Lalu
Gumara melekatkan jempol jari ke langit-langit mulut. Lumeran dari langit-langit mulut itu
digosokkan Gumara ke dada yang biru itu. Ki Putih Kelabu meringis, Gumara berkata, “Tahankan
sebentar”, lalu dia barut dengan jempol jarinya ke bekas tinju yang membiru itu.
“Aku ingin berguru padamu, Peto Alam”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Cukup puteri anda saja yang berguru matematika pada saya”, sahut Gumara.
“Di mana kamu belajr ilmu macanan begitu hebatnya?” ujar Pak Tua.
“Belajar? Saya tak pernah belajar kecuali untuk menjadi guru sekolah SMP saja”.
“Luar biasa!” ujar Ki Putih Kelabu.
“Ah, saya cuma orang biasa saja”.
Setelah mohon maaf pada Gumara, Ki Putih Kelabu pun pulang. Dia melihat wajahnya di cermin,
Bekas cakaran layaknya! Juga di perut bekas cakaran macan juga! Ha? Dan rupanya, perkelahian seru yang satu jam malam itu, membuat Ki Putih Kelabu lelah sekali. Dia tidur menggeletak begitu saja bagaikan orang mati, sampai tiba waktunya subuh. Betapa terkejutnya Pita Loka sewaktu kembali dari surau, mendapatkan ayahnya ketiduran. Dia kasihan melihat sang ayah bagai lelaki tua tidak diurus sepertinya! Diciumnya kening sang ayah dengan sayang. Tapi dia amat terkejut melihat bekas guratan luka yang mengering!
“Ayah!”
“Apa Pita?”
“Ini bekas luka?”
Lalu diguncangnya sang ayah dengan kesal. Tapi Ki Putih Kelabu pun kesal pula sebab letihnya
belum hilang.
“Ini di jidat ayah semacam bekas cakaran yang mengering, apa ayah kembali berkelahi dengan
Ki Lebai Karat?” tanya Pita Loka.
“Bukan”, sahut Ki Putih Kelabu.
Ayah jangan berdusta!”
“Sungguh bukan, Pita. ini cuma perkelahian dengan harimau biasa. Aku tadi malam ingin berlatih
silat lagi, lalu kuundang si Mantege”. Setelah menyiapkan sarapan pagi dengan kopi daun (kopi daun adalah ternikmat bagi pewaris ilmu harimau . . . maka Pita Loka menyelidiki lagi bekas luka di kening itu. “Itu bukan bekas cakaran harimau, pasti cakaran Ketua Harimau. Rupanya ayah ingin
membuktikan diri lebih hebat dari Ki Karat, ya?”
“Lagi-lagi kau sebut lagi nama Ki Karat! Kau kira ia pantas kulawan untuk menggertak dia? Untuk
membuktikan padanya, bahwa jika aku menang dari Ki Karat lantas kau patut jadi isteri
Gumara?”
“Ayah harimau tua yang konyol”, Pita Loka menggerutu.
“Sebentar, Pita!” ujar Ki Putih Kelabu geram.
“Aku mau menyiapkan buku-buku pelajaran”, Pita Loka tak acuh.
Ki Putih Kelabu mendatangi puterinya tercinta. Dibelainya rambut Pita Loka yang sedang berkaca
di kaca hias antik itu, lalu bertanya “Kau kira kamu begitu cantik dari Harwati, sehingga Gumara
Peto Alam bisa tergiur padamu?”

Mendengar ucapan ayahnya itu, Pita Loka berkata geram “Yang jelas, saya tidak membutuhkan
dukungan ayah dalam bersaing dengan Harwati !”

Dan Pita Loka mengulangi kemba!i kejengkelannya “Ayah konyol”.
Ki Putih Kelabu meninggalkan puterinya menuju ruang tengah. Sembari tegak dia menikmati kopi
daun. Dia berkata “Semoga kamu dengar, Ki Karat bukan sainganku. Tapi pasti, Harwati
sainganmu. Kau tidak memiliki kelebihan apa-apa dari sainganmu”.
Ucapan itu didengar Pita Loka yang sedang bersisir. Gadis itu melempar sisir ke tempat tidur. Dia
melangkah jantan mendekati sang ayah lalu membalas “Harwati tidak pantas jadi saingan saya”.
“Kau mengira Gumara mencintaimu, ya nak?” tanya sang ayah bernada sedih.
“Ya”. “Kalau ya, potong semua kuku-kuku harimauku”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Kenapa ayah begini pesimis? Tak layak seorang jagoan di antara enam jagoan Kumayan ini
untuk berkata demikian!” ujar Pita Loka.
“Kini di Kumayan bukannya enam jagoan lagi yang menjadi pagar kejantanan. Kini di Kumayan
telah ada tujuh jagoan, anakku!”
Tujuh?” tanya Pita Loka heran.
“Betul, tujuh. Yang ketujuh itu adalah Gumara Peto Alam”.
Mendengar itu, Pita Loka tersenyum menyeringai. Hatinya begitu yakin ketika berkata “Tidak
pernah saya dengar, jagoan yang berilmu tinggi pantas terkena racun sampai muntah darah”.
“Itu aku tahu. Aku sudah faham mendengar laporanmu ketika Gumara muntah darah di dalam
kelas. Lalu Harwati yang mengobatinya dengan ilmu warisan ayahnya yang hebat. Tapi siapa
tahu itu cuma siasat saja? Untuk mengelabui anggapan enam harimau Kumayan lainnya? Baru
terbukti dia bukan jagoan ilmu ghaib jika dia mati diracun!”
Pita Loka mencoba mencerca analisa ayahnya. Baru dia berkata kemudian dengan nada pasti
“Dia lebih menyukai ilmu matematika ketimbang ilmu ghaib yang tidak masuk akal itu. Dia bukan
tampang manusia yang gemar berkelahi. Dia lebih pantas untuk dicintai daripada untuk dilawan,
ayah!”
“Soal begitu, aku tak usah kau ajari, anakku! Akulah yang pantas mengajari kamu. bahwa Jagoan
yang menyamar lebih berbahaya daripada yang suka pamer kekuatan. Gumara hadir di Kumayan
ini bukan untuk jadi guru sekolah. Tapi untuk menggenapi kami yang enam menjadi tujuh. Harap
kau ketahui, angka tujuh adalah angka keramat, seperti semua angka ganjil 1, 3, 5, 7.
Sedangkan 8, 9, 10 pun masih bisa dibagi!”
Otak matematika Pita Loka lantas menjabarkan angka itu. Senyumlah dia.
Di depan kelas, Guru Gumara sedang menerangkan pelajaran “Berdasarkan penjabaran secara
matematis, angka 19 merupakan yang tertinggi. Dan itu penemuan saya, bukan Wagner dan
bukan Einstein. Angka 19 adalah pilar tertinggi dari semua angka!”
Pita Loka unjuk telunjuk “Bukannya angka 7 yang tertinggi, Pak?”
“Menurut saya, bukan angka 7. Menurut penelitian saya secara pribadi, angka 7 masih
mengandung unsur relativitas. Tetapi angka 19 adalah angka konkrit yang benar-benar tertinggi
dan tak bisa dibagi. Kalau kamu tak percaya, Pita Loka, tanyakan saja kepada ayahmu”.
Semua murid tertawa. Mereka mentertawakan Pita Loka, sebab selama ini Pita Loka mampu
menjawab, namun kali ini dia terbengong-bengong.
Dan dia pun tidak dapat menyembunyikan wajahnya yang kagum dan jatuh cinta itu, seketika dia
memberi komentar “Pak Guru lebih pandai dan sarjana dunia mana pun”.
“Aku cuma menemukan teori matematika yang kusebut tadi itu berdasarkan ayat Kitab Suci yang
berbunyi Di atas itu, ada 19. Apa maksud ayat ini kecuali sebuah teori berdasarkan matematika?
Ingatlah jika ayat itu berbunyi dalam Bahasa Inggerisnya Over it are nineteen. Di atas itu ada
sembilanbelas. Nah, kini ada baiknya kita membuat soal”.
“Wuuuuu”, gerutu murid di kelas, sebab mereka kurang senang apabila soalan matematika
dibuat dalam kelas.
Ketika murid sibuk menjawab soal, muncul Lading Ganda ke dalam kelas. Beliau dihormati ketika
masuk oleh Gumara yang bertanya “Tuan guru ingin bertemu dengan saya?”
“Ya. Saya ingin bicara sebentar, Peto Alam”, ujar Lading Ganda.
Mereka berdua menghindari kelas dan keluar. Lelaki tua itu berbisik “Maukah kau menolong
keluarga kami?”
“Apa yang bisa saya tolong?” tanya Gumara.
“Puteriku yang sudah bersuami, diguna-gunakan orang.
Dia sekarang membLiat aib keluarga kami, merangkaki dinding!” ujar Lading Ganda.
“Wah, saya bukan dukun, Tuan!” ujar Gumara.
“Jadi Tuan menolak” permohonan saya yang cukup rendah hati?” tanya Lading Ganda dengan
nada ancaman.
“Kalau begitu, akan saya coba sepulang mengajar nanti”, ujar Gumara. Tetapi Harwati
memperhatikan dari kelasnya dengan cermat. Dia melihat ada hal yang tidak wajar apabila
jagoan semacam Lading Ganda mendatangi Gumara ketika Gumara mengajar di kelas Pita Loka.
Maka ketika ada kesempatan pada jam istirahat, Harwati mendatangi Gumara yang kebetulan
sedang berdebat dengan Pita Loka. Kata Harwati pada Pita Loka “Maaf saya mengganggu
pembicaraanmu dengan Pak Guru. Saya bisa bicara sebentar saja dengan Pak Guru?”
“Boleh. Tapi Pita Loka sebaiknya ikut mendengar. Sebab saya tak suka pembicaraan rahasia”,
ujar Gumara.
“Ah, dia akan mentertawakan saya, Pak”, ujar Harwati.
“Kalau begitu saya menyingkir demi sopan santun”, ujar Pita Loka yang segera menghindar.
“Ada apa sih?” tanya Gumara.
“Tadi Lading Ganda menemui bapak?” tanya Harwati.
“Ya betul.”.
“Puterinya terkena guna-guna. Tentu bapak dimintainya pertolongan”, ujar Harwati.
“Betul. Saya sudah berjanji datang ke rumahnya”.
“Hati-hati, Pak. Itu cuma samaran. Bapak tahu, di Kumayan ini ada enam jagoan. Satu di
antaranya Lading Ganda. Tiap jagoan di Kumayan, ingin menguji ilmu bapak. Itu tipu muslihat
Lading Ganda saja, pak”.
Gumara hanya tersenyum santai “Ah, kita tak bolah buruk sangka pada siapa pun. Saya hadir di
Kumayan dengan maksud baik. Sebagai guru sekolah. Kamu tak usah risau”. Mendengar
penolakan sarannya itu, Harwati amat kecewa. Dan cemas! Sehingga dia ingin menanamkan budi
baiknya lagi kepada sang guru. Maka dia buru-buru pulang sebelum jam belajar habis hari itu.
Dia khusus berjalan melewati rumah Lading Ganda. Memang kedengaran suara teriakan histeris Grafity,
orang kesurupan. Dan karena itu pula ada alasan baginya untuk mampir ke rumah Ki Lading
Ganda, Ketika dilihatnya Pina– Puteri sulung Lading Ganda–merangkaki dinding dengan
berteriak-teriak, Harwati berkonsentrasi sejenak. Ki Lading Ganda tahu bahwa puteri Ki Lebai
Karat saat itu sedang berkonsentrasi. Tepat ketika itu Gumara memberi salam ke seisi rumah
untuk masuk.
Konsentrasi Harwati tetap tak buyar dengan datangnya Gumara. Gumara pun akhirnya tahu
Harwati sedang berkonsentrasi dan sedang mendapat kesulitan. Gumara ingin membantu
Harwati yang sedang mendapat kesulitan. Diam-diam dia menatap mata Pina yang kayak mata
setan. Tiga belas orang yang hadir tegang semuanya. Tapi semuanya tak mengetahui apa yang sedang
diperbuat Gumara, sebab semua mata memperhatikan tingkah Harwati yang begitu tegang
dalam konsentrasi. Juga semua orang tak mengetahui ketika Gumara melenguh dan lenguhannya
bagaikan menampar muka Pina. Dan Pina terbanting di lantai lalu sadarkan diri.
Ketika itu pula Harwati mengembangkan jari-jarinya yang tadi tergenggam bagai tinju.
“Nah, Ki Lading Ganda sebaiknya berterimakasih kepada puteri Ki Karat. Saya kira puteri anda
telah sembuh total”, ujar Gumara.
Harwati senang sekali, sebab di balik kalimat gurunya ini tersembunyi pujian tak langsung.
Lalu, ketika Harwati pamitan pada keluarga Lading Ganda, maka Gumara pun ikut berpamitan.
Dengan alasan terburu waktu, Gumara menolak minuman kopi daun yang disediakan Lading
Ganda untuknya, juga untuk Harwati. Gumara dan Harwati jalan beriringan. Jalan itu menuju rumah Gumara. Harwati berkata “Saya cemas sekali bapak akan lebih dulu tiba di rumah Ki Lading Ganda. Maka saya segera meninggalkan kelas sebelum pelajaran selesai”.
“Kau masih saja berburuk sangka”, kata Gumara.
“Itu hal yang pasti. Bapak tahu, yang meracun bapak sebetulnya bukannya bu Tarikh. Bu Tarikh
cuma minta rempah-rempah racun itu kepada Lading Ganda untuk dia masukkan ke dalam makanan rantang yang diantar Pak Yunus. Tahukah bapak bahwa ayahku mati-matian melakukan pengobatan terhadap Bu Tarikh dalam jarak jauh sewaktu ayahku menyuruh bapak segera menemui Bu Tarikh?”
“Salam terimakasihku pada Ki Karat, ayahmu, atas bantuan dari jauh itu. Juga terimakasih padamu yang tadi sudah mendahuluiku mengobati si Pina sebelum saya kena jebakan Lading Ganda”.
Di samping jalan itu, Pita Loka memergoki Harwati dan Guru Gumara sedang melangkah berdampingan. Pita Loka bukan menghindar, tetapi menggabung. Dan langsung saja berkata mengolok gurunya; “Wah, Pak Guru barusan saja jadi dukun menyembuhkan Ki Lading Ganda ya?”
Harwati mendongak kepada Pita Loka “Itu hanya jebakan, karena itu aku mendahului datang ke
rumah si Pina. Yang membuat si Pina histeris kayak orang gila itu kan ayahnya sendiri, Pita?”
“O, jadinya kau yang dukun, Wati?” Pita Loka sinis.
“Kau jangan menyindir, Pita”, ujar Harwati.
Kemudian Gumara berhenti melangkah “Saya akan istirahat. selamat siang”.
Harwati dan Pita Loka sadar bahwa mereka berdua ditinggalkan Gumara yang langsung
memasuki pekarangan rumahnya.
“Saya rasa kita berdua tak usah bersaing lagi, Wati”, ujar Pita Loka sewaktu keduanya sama
melangkah meninggalkan tempat mereka tercengang tadi.
“Apa kau merasa saya menyaingi kamu?” tanya Harwati.
“Saya merasa begitu”, kata Pita Loka.
“Saya hanya menyelamatkan Pak Guru”, ujar Harwati.
“Untuk menanam budi baik kedua kalinya?”
“Ya”. sahut Harwati tegas.
“Tapi budimu tetap saja tidak dibalasnya dengan cintanya. Dia lebih menyukai ilmu matematika
dari ilmu ghaibmu itu, Wati. Tapi jika pun dia bersimpati karena di kelasku akulah jagoan
matematika, toh Pak Guru tidak juga akan jatuh cinta pada saya. Itu maka kau dan saya tidak
perlu bersaing lagi. Secara singkat, Wati . . . di Kumayan ini tak ada satu manusia pun yang
ditakuti, dikagumi dan dicintai Pak Guru. Termasuk enam manusia harimau yang hebat-hebat
seperti ayahmu, ayah saya maupun Lading Ganda. Kita hanya kehabisan energi untuk
mamperebutkan Pak Guru”.
Harwati terdiam sejenak, meski hatinya jengkel.
Dan mereka berdua tetap berjalan seiring, sekalipun dengan batin yang bertentangan. Mereka
membelok ke kanan bersama. Jalan kecil ini kelak akan sampai di rumah Pita Loka. Namun
Harwati harus melewatinya sebelum dia menuju jalan pintas ke rumahnya.
“Berdasarkan akal sehat, Pak Guru datang ke Kumayan demi karirnya sebagai guru. Karir itu
memerlukan menjaga nama baik agar terhindar dari fitnah. Tapi kau dan saya cukup sehat pula
tergila-gila pada Pak Gumara. itu hal yang wajar. Namun setelah saya fikir secara sehat, kita
berdua bukan tergila-giia. Kita berdua sebenarnya gila. Mencintai pak guru itu kan gila?
Sedangkan tadi kita berdua tidak diajaknya mampir”.
“Itu karena kau muncul. Jika tadi kau tidak muncul sebagai orang ketiga, secara sehat Pak Guru
akan mengajak saya untuk mampir. Itu wajar saja, sebab saya telah menolong dia dari jebakan
Lading Ganda. Kini jelas olehmu bahwa kau salah duga. Kau menganggap saya ini saingan kamu.
Padahal saya tidak punya saingan seorang gadis pun dalam merebut hati Pak Guru”.
“Kau ingin mampir ke rumahku?” tanya Pita Loka setiba di depan rumah.
“Terimakasih. Dan renungi ucapan terakhirku tadi” ujar Harwati.
Setiba di rumah, Pita Loka benar-benar merenungi ucapan Harwati. Namun dia akhirnya berkata
sendiri “Tolol dia mengira menanam budi itu sebagai perbuatan konkrit. cuma perbuatan abstrak,
dan Pak Guru tidak kagum pada hal-hal abstrak”.
Ki Putih Kelabu yang mendengar Pita Loka bicara sendirian lalu nyeleluk “Kau bisa jadi gila,
anakku!” Pita Loka tersadar dan merasa malu. Namun dia cepat menjawab “Saya bisa jadi gila? Saya rasa
tidak”,
“Barusan saja aku duduk di warung. Orang-orang mengagumi Harwati, karena dia barusan saja
membela Gumara Peto Alam sebelum si Peto Alam terjebak dengan pancingan yang dibuat
Lading Ganda”.
“Lalu ayah kira itu budi baik?”
“Budi baik! Budi baik mengatasi harta kekayaan. Budi baik mengatasi orang-orang pintar berotak
encer sepertimu. Kau sudah ketinggalan dua langkah dari Harwati, kendati kau mengira kamu
cantik!”
Pita Loka merasa dilukai ayahnya.
“Lalu ayah gembira jika saya gagal memikat Gumara Peto Alam yang hebat itu? Lalu ayah
gembira jika Harwati yang lebih berhasil dari saya?”
“Aku malah jadi sedih!” Ki Putih Kelabu menghentakkan kaki ke lantai papan rumahnya,” Selain
sedih aku malu! Malu kalau semua orang tahu bahwa puteri Ki Putih Kelabu kalah bersaing
dengan puteri Ki Lebai Karat, Malu ini bagiku hanya dapat ditebus dengan nyawa”.
“Saya juga malu jika ada orang yang tahu bahwa ayah beradu kekuatan dengan Ki Lebai Karat
demi supaya saya menang dalam persaingan. Saya juga malu pada bekas luka cakaran di jidat
ayah, dicakar oleh Ketua Harimau yang tak bisa ayah tandingi”.
“Hei dengar, Pita Loka!” ujar Ki Putih Kelabu dengan nada sedih, Dia duduk di kursi goyang, dan
suaranya pun luruh “Jangan kaget, apabila bekas cakaran ini bukannya bekas kuku Ki Karat. Ini
bekas cakaran Gumara!”
“Ayah! Jangan memfitnah!” seru Pita Loka.
“Aku tak menggemari fitnah. Harap saja kau rahasiakan hal ini. Demi cintaku padamu, harus
kuceritakan hal ini kepadamu. Demi cintaku padamu, justru akulah yang menginginkan Gumara
jadi suamimu. Demi keturunan darah keluarga kita akan berkembangbiak, beranak pinak. Tengah
malam aku datangi dia. Aku secara jantan meminta kepadanya, agar dia sudi memperisterimu.
Tapi harap kau jangan sedih, dia menolak saranku itu!”
Pita Loka terdongak kaget.
“Aku sedih, demi cintaku padamu, Aku malu, demi kehormatanku sebagai ayah, lalu aku
keluarkan semua ilmuku. Kami berkelahi. Namun dia menang. Jadi, aku telah kalah dua kali,
anakku!” Pita Loka melihat ayahnya meneteskan airmata. Tanpa dia sadari, betapa pun dia coba
bertahan, airmatanya pun ikut berhamburan,
“Ayah salah langkah”, ujar Pita Loka dengan pilu.
“Memang aku salah langkah”.
“Tanpa sadar, ayah telah menjegal saya”, kata Pita Loka.
“Yah, ini terpaksa kau ketahui. Aku harus mengajarmu jujur, terus terang dan hal ini kupupuk
dalam jiwamu sejak kecil. Kini kau dan ayahmu sama sedih dan sama malu!”
Pita Loka melompat menyambar tubuh ayahnya, memeluknya “Jangan berkecil hati, ayah.
Memang saya pun jadi sedih dan malu karena tindakan ayah yang tergesa-gesa. Saya akan
berusaha untuk menjadi pemenang dalam persaingan merebut hati Pak Gumara”.
“Tidak perlu lagi. Persaingan itu sudah tak ada lagi. Dengan perbuatanku yang salah langkah itu,
persaingan itu musnah sudah, Dan kini, Harwati yang merupakan satu-satunya pemenang”.
“Tidak, ayah”, bantah Pita Loka, “Jalan apa pun akan saya tempuh untuk menebus sedih dan
malu ini, Jalan apa pun!”
“Lalu apa rencanamu?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Kini saya meyakini yang ghaib. Di atas segala yang konkrit dan nyata, ada keghaiban yang
tersembuyi, yang mesti dicari mata hati manusia. Saya akan meninggalkan cara konkrit, demi
sedih dan malu ini”.
Alangkah gembiranya sang ayah.
“Kau akan mencari guru penakluk?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Ya”.
“Alangkah senangnya hatiku! Kucoba mengajarkan, demi mewarisi ilmuku padamu, kau tolak
selama ini! Kini kau sendiri menyatakan padaku akan berguru. Boleh ayah tahu kepada siapa kau
akan berguru?” “
“Yang terang bukan kepada Pak Gumara Peto Alam. Ayah bilang, Peto Alam adalah harimau yang
ketujuh di Kumayan. Tapi saya akan berguru kepada Harimau Yang ke -19”.
Mendengar angka yang aneh itu, Ki Putih Kelabu kuatir puterinya sudah menjadi gila.
Sebaliknya, Gumara kini merasa dirinya lebih aman dari dulu. Kalau ibunya bercerita tentang
desa Kumayan begitu mengerikan, kini Gumara tidak melihat kengerian itu.
Tapi dia pun sadar, bahwa dia sebenarnya dicintai oleh dua gadis cantik di Kumayan ini. Namun
tujuan Gumara ke sini bukan untuk bercinta. Semata-mata memenuhi khayalannya di masa
kanak, lalu ingin bertemu dengan Ketua Para Harimau Kumayan, dan kebetulan ditugaskan
mengajar matematika ke sini.
Gumara mempunyai kesan, kota kecil kecamatan ini sesungguhnya memiliki bibit-bibit manusia
unggul dalam llmu Fisika dan llmu Matematika. Dia berharap, salah seorang daripada bibit unggul
itu dapat melanjutkan ilmu ke kota agar dia menjadi sarjana dan ilmuwan. Dia telah menguji
ketajaman otak bibit unggul ini. Pendeknya semua soal dapat dijawab tangkas oleh Pita Loka.
Dan suatu hari di depan kelas Gumara bertanya pada Pita Loka yang barusan menyelesaikan
soalan dalam waktu lima menit dari waktu setengah jam yang disediakan.
“Setamat SMP, ke mana kamu akan melanjutan pelajaran?” tanya Gumara.
“Kawin”, ujar murid lelaki. Ini membuat seisi kelas ketawa terkakah. Pita Loka biasanya tersipu-
sipu malu tapi setuju. Kini dia berubah banyak. Dia yang gemar bercanda dan suka mendebat,
berubah menjadi pendiam. Hal itu pun diketahui oleh Gumara.
“Kamu pendiam sekarang, Pita Loka”, ujar Gumara.
“Patah hati, Pak”, kata murid-murid lelaki. Seisi kelas tertawa terkakah-kakah lagi. Segera saja
Gumara ingat pada kedatangan Pak Putih Kelabu dulu, Yang menyuruhnya melamar puterinya
itu. Yang ditolaknya. Yang menyebabkan uji adu tenaga. Yang mungkin saja hal itu
diceritakannya pada Pita Loka, sehingga kelincahan Pita Loka yang dulu memikat, kini lenyap.
Hal ini pun diketahui oleh Hura Gatali, sekalipun hanya reka-rekaan saja. Hura Gatali yang
bertubuh kekar itu, yang pernah dianggap pahlawan muda setelah berhasil membunuh seekor
ular sanca yang panjanguya 15 meter itu, sekarang mencoba mendekati Pita Loka. Dicegatnya
Pita Loka sepulang dari sekolah.
“Boleh saya temani kau pulang?” tanya Hura Gatali.
“Tidak”.
“Wah, mentang-mentang kamu cantik ya, saya ini kau kira pengemis cinta!”
“Masa bodoh!” balas Pita Loka.
Memang teman kecantikan adalah judes dan angkuh”, ujar Hura Gatali.
Pita Loka berhenti sejenak. Ingin saja diludahinya pemuda iseng itu. Lalu dia melanjutkan
melangkah. Dan Hura Gatali melanjutkan menggoda.
“Percuma kamu mengharapkan cinta Pak Gurumu. Semua orang tahu, bahwa Pak Gurumu lebih
suka pada Harwati. Jadi sebaiknya kamu dengan saya saja”, ujar Hura Gatali menggoda.
Pita Loka menghentikan langkah. Dia menatap Hura Gatali. Kali ini bukan muka Hura Gatali yang
diludahinya. Tapi tanah bumi yang dia ludahi sembari memaki
“ Lelaki tak tahu sopan santun!”
Dan Pita Loka melangkah bergegas pergi. Dan Hura Gatali terdiam malu. Wajahnya merah
padam sampai Pita Loka hilang di simpang jalan.
Hura Gatali geram. Dilihatnya tanah bumi itu. Di situ masih tersisa air ludah Pita Loka. Niat jahat
pun memperangkap batinnya. Dikoreknya tanah yang terkena ludah Pita Loka. Lalu
dibungkusnya tanah itu dengan sapu-tangan, Dan dengan langkah dendam, Hura Gatali langsung
menuju rumah Ki Lading Ganda.
“Saya menyerah sekarang, Ki Lading Ganda”, ujar Hura Gatali.
“O, saya faham. Kamu menyerah untuk belajar ilmu pada saya sebab kamu membutuhkan
sesuatu. Dulu, ketika jadi pahlawan Kumayan karena berhasil membunuh ular sanca raksasa,
saya sendiri menganjurkan padamu untuk mempertinggi keberanianmu dengan belajar padaku.
Kini kamu menyerah, tentu ada sebabnya”.
“Ya, tentu ada sebabnya. Saya menyerah untuk belajar dengan tuan, tapi dengan syarat agar
tuan berikan bukti kepandaian tuan padaku lebih dulu”, ujar Hura Gatati seraya mengeluarkan
saputangan pembungkus tanah yang berisi bekas ludah Pita Loka. Digelarkannya saputangan
yang berisi tanah basah itu. Dan berkatalah pemuda itu.
“Selagi ludahnya belum kering, saya minta anda kerjakan puteri Ki Putih Kelabu. Namanya Pita
Loka, dia hina saya dan dia ludahi bumi. Tak ada malu paling besar selain penghinaan ini. Karena
ludah ini datang dari mulut, dapatkah anda rusak mulutnya yang cantik itu?”
Ki Lading Ganda tersenyum senang. Dia suruh Hura Gatali menghampirinya. Setelah Hura Gatali
mendekat, dibelainya kepala pemuda ganteng itu, Dia berbisik; “Sekarang aku senang. Karena
semua anak harimau di desa Kumayan ini perempuan termasuk semua anakku, kini ada yang
akan mewarisi ilmuku. Aku yakin dapat merusak mulut yang cantik itu menjadi buruk!”
Malam itu juga, Hura Gatali diminta untuk menyaksikan pekerjaan itu. Ki Lading Ganda duduk
bersila di kamar tempat dia selalu bersemedi. Hura Gatali di sampingnya. Lalu Ki Lading Ganda
mencabut dua goloknya sekaligus mengadu mata golok itu sehingga terdengar bunyi disertai
kilatan api. Dan golok itu seketika itu juga dari dua menjadi satu. Kalau tadi mata golok itu cuma
satu, kini mata golok itu menjadi berganda, muka dan belakang, tapi gagangnya pun menjadi
kembar. Golok dua yang menjadi satu itu pun ditaruh Lading Ganda di atas tikar. Lalu dia berkata pada
Hura Gatali “Taruh buah pepaya itu di depan golokku ini, Hura”.

Hura menaruh buah pepaya itu.
“Jika pepaya ini kepala si Pita Loka anak si Putih Kelabu anak si Mayang Saga anak si Peto
Gaharu . . . coba kamu tunjuk saja di mana mulut Pita Loka!” Hura Gatali menunjuk kira-kira
tempat mulut Pita Loka.
“Rupanya dari mulut ini keluar ludah penghinaan Pita Loka kepada Hura Gatali”, ujar sang guru
seraya memungut tanah bekas ludah Pita Loka dari saputangan, lalu memolesnya pada buah
pepaya yang ditunjuk Hura Gatali tadi.
Ujung golok lalu ditusuknya sedikit pada tepi bibir imajiner itu, dan getah pepaya itu mulai
menyembul. Lalu keluar.
“Beginilah jadinya mulut Pita Loka yang menghinamu”, ujar sang guru. Hura Gatali senang
seketika.
“Itu semacam koreng bernanah ya tuan?” tanya Hura Gatali.
“Dan tidak akan sembuh”, ujar Ki Lading Ganda.
“Tapi jika ayahnya Ki Putih Kelabu lalu minta pertolongan Ki Lebai Karat, bagaimana pak?” tanya
Hura Gatali.
“Dia takkan mau, itu merusak gengsi. Mereka berdua merasa sama berilmu tinggi”, ujar Ki Lading
Ganda. Lalu, bahu Hura Gatali ditepuknya.
“Kapan saya bisa melihat buktinya, bahwa mulut Pita Loka berkoreng dan bernanah ini, pak?”
tanya pemuda ganteng itu.
“Besok pagi mampir saja ke rumahnya. Cari alasan untuk bertemu muka. Dan kau berhak Grafity,
menghina mulutnya yang korengan dan bernanah itu”, ujar sang guru.
Ketika Hura Gatali tergesa hendak pergi, Ki Lading Ganda menyergap tangannya, “Kapan kamu
akan belajar padaku?”
“Jika ilmu bapak sudah saya saksikan”, sahut Hura Gatali.
“Memang kamu calon jagoan”, kata Ki Lading Ganda, “Sebab setiap jagoan senantiasa punya
kesan angkuh yang sebetulnya harga diri!”
Pada saat yang sama di tengah malam itu, Pita Loka merintih kesakitan. Dia merasa mulutnya
gatal. Ketika dirabanya mulutnya, terasa melendung bagai bisul. Cepat Pita Loka melompat
menuju kaca hias antik. Dan dilihatnya wajahnya di kaca itu. Melihat lendungan bisul di sekitar
mulutnya, Pita Loka bukan menjerit. Dia hanya menahankan rasa gatal itu, dan seketika itu juga
tahu siapa yang mengerjakan ini.
Dia bersitenang sejenak. Rasa gatal dia lawan. Rasa takut dia singkirkan. Dan ketika sebuah
koreng (bisul) itu pecah, nanah pun keluar. Pita Loka kembali ke kaca. Dia lihat nanah busuk itu
menetes sedikit demi sedikit. Dan ketika pagi ayahnya bangun, Pita Loka bukannya mengadu
pada sang ayah. Dia tunggu sampai reaksi ayah muncul. Betul. Ayahnya terpana sejenak melihat
mulut anaknya yang dihiasi koreng bernanah.
“Aku tahu siapa yang membuatku. Tapi kuharap, jangan ayah membantuku”, ujar Pita Loka.
“Bagaimana kamu ini, Pita? Aku sudah dapat menerka, bahwa ini diperbuat oleh si Hura Gatali
bin Dang Samar bin Abdi Kumat bin Taja Gugu. Dan dia pasti minta kepandaian si Lading Ganda,
sebab Lading Ganda bersimpati pada anak muda itu ketika berhasil membunuh ular sanca
tempohari. Nah, masihkah kau keras kepala tidak minta bantuanku?”
“Saya dapat mengatasinya sendiri”, ujar Pita Loka. Setelah melayani ayahnya sarapan pagi, Pita
Loka pergi ke rumah dr. Kadir. Dokter itu belum bangun. Begitu dia bangun dan melihat mulut
Pita Loka, sang dokter risau.
“Saya minta pak dokter menyuntikkan obat antibiotik”, kata Pita Loka.
“Ini bukan koreng biasa”, kata sang dokter.
“Persetan dengan ilmu setan, Pendeknya saya minta dokter menyuntik saya dengan obat anti
biotik beserta obatnya”, segera Pita Loka menaruhkan uang di atas meja.
Setelah Pita Loka disuntik, lalu dokter memberikan kapsul anti biotik pada Pita Loka seraya
berkata “Semoga cepat sembuh”.
Pita Loka ketika keluar dari pekarangan rumah dokter menjadi tontonan tetangga. Mereka saling
berbisik, “Kenapa dia tidak berobat pada ayahnya saja? Bukankah itu mudah disembuhkan?”
Setiba di rumah, Pita Loka kembali dibujuk ayahnya, Tapi Pita Loka menolak.
Pita Loka teramat tenang. Rasa gatal ditahannya. Dia mencoba penyakit ilmu teluh ini dapat
diatasi secara akal sehat saja. Namun tekadang dia tergoda untuk belajar ilmu sakti pada
seorang guru yang jauh melebihi enam harimau Kumayan tersohor. Cuma ketika dia digoda
untuk itu, hatinya bertanya “Tapi apa ilmu sakti begini di zaman moderen mampu melawan bom
kimia?”
Lalu dia persiapkan buku-buku sekolahnya. Ketika akan berangkat, Ki Putih Kelabu menegurnya,
“Pita, coba kau menghadap pada ayah”.
Pita Loka berbalik dan menghadap. Sang ayah tampak begitu sedihnya melihat puterinya yang
cantik berubah jadi buruk.
“Kenapa kau masih akan ke sekolah, padahal mukamu . . . . “
“ . . . Mukaku jelek? Ah, kecantikan dan keburukan itu pun relatif. Seorang gadis cantik setelah
usianya tua pun jadi jelek”, sahut Pita Loka, “Saya akan berangkat sekolah sekarang!”
“Pita!”
“Ya ayah?”
“Apa nanti pembicaraan orang-orang mengenai kau?”
“Justru itu yang saya harapkan. Mereka membicarakan saya. Dan mereka tahu, saya tidak minta
bantuan ayah. Lalu berobat pada dokter Kadir”, kata Pita Loka.
“Itu akan membuatku jadi malu”. kata Ki Putih Kelabu “Setidaknya mereka menganggap ilmuku
lebih rendah dari ilmu si Lading Ganda, sehingga tidak mampu mengobati teluhan dia”.
“Biarlah tiap orang Kumayan membicarakan itu, Agar mereka yakin, saya tidak bersedia
menerima warisan ilmu ayahku”, kata Pita Loka.
Susah bagi Ki Putih Kelabu untuk marah pada puterinya. Karena dia amat begitu sayang.
Setiba di sekolah, Pita Loka jadi tontonan murid -murid. Dia santai saja. Tapi Harwati memegang
kedua bahunya “Hai, kamu diteluh seseorang!”
“Ya”.
“Minta bantuanlah pada ayahmu!” ujar Harwati.
“Aku tidak membutuhkan bantuan siapa pun”.
“Atau kau sedia jika saya yang membantumu?” tanya Harwati.
Pita Loka tersenyum “Alangkah luhurnya budimu, Wati!”
“Kau bersedia kuobati,sekarang juga?” tanya Harwati.
“Aku menghormati kesucian hatimu, Tersentuh hati nuranimu melihat temanmu menderita teluh
musuh. Alangkah baiknya kau, Harwati”, ujar Pita Loka.
“Tapi kau menolak kuobati?” tanya Harwati.
“Ya”.
Ketika Pita Loka memasuki kelas, semua biji mata tertuju pada mulut Pita Loka. Dan hari itu tidak
ada jam pelajaran matematika. Tapi ketika jam pelajaran ilmu Fisika dan Pak Guru Gumara
memasuki kelas, murid-murid berkata “Pak, obatilah mulut Pita Loka”.
Barulah Gumara sempat melihat gadis manis yang kini sekitar bibirnya ditumbuhi koreng.
Wajahnya tenang. Tanpa kelihatan satu reaksi mengasihani. Ia seakan-akan sedang diuji seluruh
kelas untuk bersikap.
“Saya sudah pergi berobat pada dokter Kadir, pak. Sudah disuntik”, kata Pita Loka.
“Kenapa tidak berobat pada ayahmu sendiri?” tanya Parlindungan.
“Ayahku bukan seorang dokter”, sahut Pita Loka yang. membuat seluruh kelas heboh tertawa.
Tetapi, seharian mengajar itu, Guru Gumara risau. Dia kuatir apabila dia obati Pita Loka, akan
muncul dua macam isyu. Isyu pertama adalah, dia akan dianggap dukun sakti. Isyu kedua,
mungkin dia dianggap mencintai Pita Loka.
Ketika Pita Loka pulang ke rumah, ayahnya tak didapatinya. Tapi jelas, ayah tampaknya sudah
makan siang, Ada bekas tanda-tanda sudah makan siangnya ayah. Tapi kemana pula ayah pergi?
Pita Loka menduga, ayah akan menempuh jalan sendiri, demi cintanya padaku, mencoba
mengembalikan sakit teluh ini kepada pengirimnya.
Sehabis makan siang, Harwati muncul. Dia berkata ramah Ayoh ikut aku ke rumahku.
“Aku tahu kau risau melihat keadaanku. Dan kau akan minta bantuan ayahmu, sebab dia Ketua
Harimau Kumayan. Terimakasih atas simpatimu. Aku dapat sembuh sendiri”. Harwati pamit pada
Pita Loka. Setiba di rumahnya, kejadian yang dialami Pita Loka diceritakannya pada ayahnya.
Ki Lebai Karat menjawab singkat “Kalau memang Pita Loka itu turunan syah Ki Putih Kelabu, dia
akan sembuh sendiri”.
“Apa sikap ayah jika terjadi pertarungan antara dua harimau?”
“Maksudmu pertarungan Ki Putih Kelabu dan Ki Lading Ganda?” tanya Ki Karat.
“Jadi ayah mengetahui, teluh itu dibuat oleh Lading Ganda?”
“Ya, jika pun terjadi pertarungan, itu biasa di antara kami”.
Matahari mulai menggelincir. Tetapi dua lelaki tua itu masih saja bertarung sejak waktu asyar
tadi. Jadi sudah dua jam lebih dua jagoan itu beradu tenaga. Tubuh mereka sudah bercampur
tanah lumpur. Sebagian lagi menyelip daun-daunan.
Memang, Bukit Anggun konon tempat berkelahinya harimau-harimau Kumayan. Sebagian sisi
bukit itu berlumpur tempat turunnya bangau-bangau. Kini, menjelang magrib, Ki Putih Kelabu
dan Ki Lading Ganda masih saja bertarung. Pertarungan itu mungkin jadi lama karena tanpa
senjata. Juga mereka sudah berjanji secara satria, bahwa mereka satu sama lain tidak akan
menjelma menjadi harimau.
Kini, nafas kedua lelaki tua itu mulai sama sesak.
Tanaman liar berupa pohonan kecil setinggi badan umumnya sudah rusak, Biarpun lelah, kedua jagoan itu tak seorangpun yang mau mengusulkan dihentikannya perkelahian itu. Dengan sempoyongan, Ki Putih Kelabu maju lagi menuju Ki Lading Ganda yang juga melangkah sempoyongan.
Ki Putih Kelabu mengambil napas dalam-dalam, lalu menghantamkan tinjunya ke dada Ki Lading Ganda. Lading Ganda terlambat mengelak. Dia terpelanting jungkir balik sampai ke lumpur. Lain Ki Putth Kelabu menghampirinya. Ketika Ki Lading Ganda merasa sulit untuk ke luar dari lumpur,
waktu itulah Ki Putih Kelabu menghantam leher Ki Lading Ganda dengan ujung kakinya, Namun
dia sendiri berteriak kesakitan dan jatuh terhempas di tepi lumpur.
Ki Putih Kelabu berusaha bangkit. Hampir tegak, dia jatuh lagi.
Ki Lading Ganda pun berusaha untuk bangkit sekeluarnya dari lumpur. Tapi dia tidak berdaya,
lalu jatuh pula.
Kini kedua jagoan itu sama menelentang dalam jarak dekat dalam lelah dan sesak napas. Mata
mereka menatap langit. Ki Putih Kelabu berkata dengan napas sepotong sepotong “Kau belum
juga mau menyerah?”
“Belum”.
“Bangsat kau!”teriak Ki Putih Kelabu.
Langit semakin merah jingga, pertanda malam akan tiba. Ki Putih Kelabu berusaha sekuat tenaga
untuk berdiri. Begitu dia berdiri, setelah tiga langkah dia berjalan, dilangkah keempat dia
berteriak seraya mencuatkan tubuhnya ke udara, lalu kedua kakinya menghentak ke perut Ki
Lading Ganda.
“Adddduuuuuh!” teriak Lading Ganda menahankan nyeri perutnya.
“Mampus kau!” seru Ki Putih Kelabu.
Serentak dengan itu, setelah mengumpulkan tenaga, Lading Ganda bangkit yang langsung
mengejar dan menubruk tubuh Ki Putih Kelabu dengan sabetan gasingan. Ki Putih Kelabu tegak
teguh berdiri, lalu setelah itu dia jatuh tersungkur. Ketika dia menelentang untuk bangkit, dari
pandangan matanya di udara ada dua kaki yang mau menghentak perutnya. Cepat dia berkelit
berguling dan didengarnya suara teriakan, “Aduh kakiku patah!”
Memang kaki Ki Lading Ganda patah seketika.
Ki Putih Kelabu hanya menatapnya saja dengan menyeringai, lalu dia berucap “Patah kakimu
sudah cukup bagiku.”
Lalu Ki Putih Kelabu pulang dengan hati yang sudah puas. Sewaktu dia melintasi rumah Gumara,
ia berfikir sejenak. Perlukah aku mampir? Dia merasa perlu.
Begitu dia mengetuk pintu dan terbuka, tampaklah olehnya Gumara tercengang, Gumara
bertanya “Kenapa bapak mandi lumpur dan darah ?”
“Aku ingin pulang dalam keadaan bersih,bolehkah aku numpang mandi di sini?”
“Tentu.”
“Boleh aku memetik daun sirih di pekaranganmu itu . .sementara itu aku minta tolong dengan
sembah 10 jari agar kau sudi menjerang air panas?”
“Tentu, tuan Guru”, ujar Gumara dengan nada hormat. Gumara segera menjerang air panas,
sementara Ki Putih Kelabu memetik daun sirih. Setelah penuh dua kantong baju Cina, sirih itu
dibawa masuk. Dan langsung saja dimasukkan ke jerangan air. Dia membuka pakaiannya,
kecuali celana dalam. Gumara masuk ke kamar.
Tapi dia tak menyaksikan bagaimana Ki Putih Kelabu berbuat sesuatu di depan tungku. Dia
berkonsentrasi dengan mantera — Panas api panas matahari panas kau tungku panas kau
tungku panas matahari —.
Jerangan air berisi daun sirih itu menggelegak mendidih. Lalu dia basuh luka-luka di tubuhnya
dengan airpanas bercampur daun sirih yang jadi hancur macam bubur. Baru kemudian dia
mandikan seluruh tubuhnya. Tiba-tiba Ki Putih Kelabu mendengar suara Gumara “Pak, ini
pakaian untuk salin, pakaian Cina saya dan celana batik saya. Semoga muat di tubuh bapak.”
Aduh betapa senangnya hati si tua dengan penghormatan itu. Apalagi baju Cina maupun celana
batik itu begitu pas. Dia ke luar dari kamar mandi dia berkata “Pita Loka mengira aku barusan
kembali dari pesta.”
Setiba Ki Putih Kelabu di rumahnya. dia mengharapkan dipuji oleh Pita Loka karena berpakaian rapi. Tapi sekonyong yang muncul malah pertanyaan “Di mana ayah berkelahi dengan Ki Lading Ganda ?”
Sembari duduk menghempas, Ki Putih Kelabu terpaksa mengaku; “Kami bakuhantam di Bukit Anggun”
“Ayah menang?”
“Dia patah kaki. Aku tentu menang.”
“Ayah menang, tapi ayah tidak menaklukkan dia. Dia tidak menyerah, bukan?”
“Betul.”
“Lalu . ,. .. baju Cina yang rapi ini tentulah ayah pinjam pada Guru Gumara”, ujar Pita Loka.
“Dari mana kau tahu, heh?”
“Dari huruf G di kantong”.
Ki Putih Kelabu langsung duduk bersila pada tikar permadani Bagdad, menyantap makan malam.
“Masih gatal koreng teluh kamu itu?”
“Tidak lagi, ayah.”
“Besok akan sembuh. Percayalah. Biarpun dia tidak menyerah, patah kaki itu bukti kekalahannya.
Kami harimau yang berenam di Kumayan ini. seburuk-buruk laku kami, masih menghargai
kelebihan lawan. Dengan patah kaki, kini pun dia mengakui kelebihanku daripadanya. Pengakuan
itu mengurangi mantera-manteranya sewaktu dia menteluh kau. Kurasa besok pagi ketika kau
bangun, kau dapati wajahmu sudah cantik kembali!”
Pita Loka terharu. Sewaktu dia menunggui ayahnya yang makan dengan lahap, airmata gadis
jelita itu pun berluruhan. Lalu airmata itu disaksikan Ki Putih Kelabu. Tak ada bicara di antara Grafity,
keduanya. Tapi luruhnya airmata sang ayah, membuktikan, jalinan kasih antara anak dan ayah
maupun sebaliknya amat indah. Seindah angin yang menyanyi sembari mengipas keringat Ki
Putih Kelabu yang akhirnya kekenyangan makan.
Malam itu Pita Loka menyukuri nikmat kehidupan
“Ya Tuhan, aku bersyukur punya ayah seperti Ki Putih Kelabu yang selalu sayang padaku. Hanya
padamu jua aku bersyukur dan memohon kesembuhan.”
Lalu dia memicingkan mata, tertidur pulas. Paginya ketika dia membuka mata, pertama teringat
kembali ucapan ayahnya bahwa wajahnya akan sembuh. Ketika dia meraba mulut dan
sekitarnya, dia tak merasa ada bentolan-bentolan koreng teluh. Cepat dia melompat menuju kaca
hias. Dan dia berucap lagi dengan berlinangan airmata, “Terimakasih padaMu Tuhanku, aku
kausembuhkan.”
Ketika sarapan pagi, sang ayah berkata “Kini sudah waktunya kau menyediakan diri berguru
pada ayahmu.”
“Usulan yang baik. Tapi lebih baik lagi jika ayah mengusulkan supaya saya berguru pada
Harimau Ke Sembilan Belas, bukan Harimau ke Dua ayahku sendiri.”
“Tapi si Wati berguru juga pada Ki Karat”, ujar sang ayah.
“Dia berbeda dengan saya”, kata Pita Loka.
Dan Harwati pun kaget ketika Pita Loka memasuki pekarangan sekolahnya dalam keadaan cantik
kembali.
“Ini hasil kerja keras ayahmu membela anak. Kudengar dia berbakuhantam selama tiga jam di
Bukit Anggun melawan Ki Lading Ganda”, ujar Harwati.
“Benar. Dan ayah menang.”
“Tadi pagi ketika kutemui di jalan, Ki Lading Ganda kakinya pincang,”
“Itu hasil pekelahian seru itu”, ujar Pita Loka, “Tapi tawaran ayah agar aku mewarisi ilmunya,
aku tolak. Aku ingin jadi penerbang pesawat jet, bukan jadi harimau. Beda dengan kau, yang
belajar mantap dari ayahmu, Sudah sejauh mana ilmu yang kau dapat ?”
Harwati bangga menjawab, “Taruhlah tumpukan bara panas, aku akan berjalan di atasnya
dengan telapak telanjang.”
“Itu Ilmu Nabi Ibrahim”, kata Pita Loka.
“Ada baiknya kau belajar pada ayahmu”, anjur Harwati.
“Aku ingin belajar ilmu harimau pada Guru Gumara”, kata Pita Loka.
Seketika itu juga Harwati ternganga, lalu bertanya “Sudah kau kemukakan maksudmu?”
“Tidak, aku hanya sekedar mengujimu saja, kau cemburu atau tidak pada ucapanku.”
“Aku cemburu”, kata Harwati.
“Apa alasan cemburumu padaku?”
“Kurasa dia lebih sayang kepadamu”, kata Harwati.
Pita Loka kaget “Jangan kau bohong.”
“Buktinya kemarin sore dia minta ayahku agar menyembuhkan sakit terkena teluh yang kau
derita. Dia sendiri meminta pada ayahku, apakah itu bukannya bukti bahwa dia lebih cinta
padamu daripada pada saya?”
Pita Loka melongo.
Dan rupanya, ucapan Harwati itu telah melecut kembali semangat Pita Loka untuk memenangkan
persaingan. Ketika bubaran sekolah, Pita Loka menyamperi Guru Gumara dan berkata “Bapak
tidak pulang naik sepeda kan ?”
“Ya, betul. Ada apa?”
“Boleh saya berjalan pulang seiring dengan bapak?” tanya Pita Loka,
“Boleh saja”, sahut Gumara.
Harwati meneliti dari jarak jauh sewaktu Guru Gumara berjalan seiring dengan Pita Loka. Dia
ingin melihat akhir perjalanan itu.
Ketika membelok ke jalan kecil, Harwati juga ikut membuntut dari jarak jauh. Pita Loka dengan gugup berkata “Pak, besar terimakasihku pada Bapak, yang membuang waktu meringankan langkah ke rumah Guru Lebai Karat agar saya yang terkena teluh diobati beliau.”
“Saya?” Gumara terheran.
“Jadi bukannya kemarin sore bapak ke sana ?”
“Saya ada di rumah memperbaiki sepedaku yang suka dicakar kuku”, kata Guru Gumara.
“O,maafkan. Jadi bapak bukan ke sana ”, kata Pita Loka.
“Untuk apa saya ke sana . Saya tidak akan kedukun selagi ilmu kedokteran dapat menolong
diriku. Ketika saya muntah darah, saya ke dokter Kadir, murid ayahmu itu.” Pita Loka sulit untuk
menyembunyikan malu mukanya. Dia tahu Harwati membuntuti dari belakang tadi. Rupanya dia
ingin melihatku malumuka.
“Baiklah pak, kita pisah di sini”, ujar Pita Loka.
Pita Loka melangkah berbalik agar dia dapat bertemu dengan Harwati. Begitu dia berpapasan,
Pita Loka langsung menuding “Kamu . . . . si cantik busuk!”
Pada malam itu juga, mengingat betapa dongkolnya dia pada Harwati, Pita Loka ingin berbicara
resmi dengan ayahnya.
“Ayah, katakan padaku, siapa Guru Ayah?” Ki Putih Kelabu tentu saja gembira.
“Kau ingin belajar?”
“Saya ingin belajar. Tapi tidak menuntut ilmu pada ayah, Katakan padaku Guru Ayah.”
“Guruku Harimau Tunggal”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Guru dari enam harimau di Kumayan ini ?”
“Benar”.
“Tapi setelah mendapatkan ilmu dari Harimau Tunggal, lalu kalian yang berenam
mengembangkan ilmunya sendiri-sendiri.”
“Begitulah jalan yang kami tempuh”, kata Ki Putih Kelabu.
“Tunjukkan padaku di mana Harimau Tunggal berada”, kata Pita Loka.
“Kenapa?”
“Bukankah di Kumayan baru ada enam harimau? Aku akan menjadi Harimau Yang Ketujuh”, ujar
Pita Loka.
Mendengar ucapan puterinya itu, Ki Putih Kelabu bukan bersemangat. Tetapi beliau menyesali
“Sayang kamu terlambat, nak. Harimau yang ke Tujuh itu sudah hadir dan hidup di Kumayan
ini.”
“Siapa?”
“Kau sudah tahu”.
“Siapa, ayah?” Pita Loka agak memaksa.
“Guru matematikamu itu. Guru Gumara Peto Alam”, ujar sang ayah.
Pita Loka tertawa mencemooh “Tidak mungkin. Dia tak meyakini ilmu yang ghaib-ghaib. Sama
halnya dengan saya sebelum saya terperangkap dua tiga kali untuk membuktikan ilmu nyata
lebih tinggi dari ilmu tak nyata.”
Putih Kelabu dalam kesulitan. Dia kenal benar puterinya ini keras kepala. Tapi sikap keras kepala
ini cukup sebagai modal.
“Lewatilah Bukit Anggun. Jika tiba dibukit itu, kau pandang ke timur. Di situ ada satu bukit lagi,
namanya Bukit Kerambil. Di sana ada guru yang khusus mengajarkan silat kera. Lalu kau lewati
lembah di bawahnya untuk sampai kepada Bukit Cangang, di mana di situ kau akan menemukan
ahli-ahli sihir yang membikin orang tercengang-cengang. Semua bukit itu ada anaknya, kecuali
sebuah bukit terakhir, Bukit Tunggal. Di sana ada sebuah guha. Di situ ada seorang lelaki tua
pertapa. Beliaulah Harimau Tunggal. Tapi …..………. apakah kau sanggup, menempuh jarak itu
dengan syarat berpuasa siang malam? Seluruhnya 40 hari baru kau akan tiba di sana . Beliau
tentu akan gembira apabila kau minta diajari ilmu harimau, untuk pelengkap Harimau Yang Enam
di Kumayan. Beliau sudah lama berharap mempunyai murid wanita, tapi tak ada yang ke sini,
Apakah kau berani sendirian ?”
“Berani”, ujar Pita Loka dengan mantap.
“Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Sekolah untuk mendidik orang jadi pandai, tapi bukan mendidik bagaimana mengatasi dibikin malu orang.
Tekad Pita Loka semakin berkobar, ketika suatu pagi dia pergoki Harwati barusan saja ke luar
dari rumah Guru Gumara. Kobaran itu tak lain dan tak bukan adalah tujuan untuk berguru
kepada Harimau Tunggal yang tempat pertapaannya adalah di BukitTunggal. Pita Loka merasa
pedih hatinya karena dia telah dipotong kompas oleh Harwati secara kurang jujur. Hatinya
berkata “Suatu ketika, aku akan membalas dendam.”
Karena cemburu butanya itu, setiba Harwati di sekolah, Pita Loka mencegatnya. Matanya
bemyala, nafasnya sesak. Dia tidak lagi menggunakan akal sehat yang dia agungkan selama ini.
Dia langsung main todong tanya “Hai, sejak subuh atau sejak semalam kamu di rumah Guru
Gumara ?”
Harwati tahu apa maksud pertanyaan itu. Karena itu dia cuma berkilah, sekedar memanaskan
hati Pita Loka, dengan jawaban; “Itu rahasia pribadi.”
“Kau sudah melakukan persaingan tak jujur, Wati”, ujar Pita Loka.
“Itu wajar saja, kan ? Kurasa, aku sah yang pertama jatuh cinta dengan pandangan pertamaku.
Jadi aku berhak menghalangi siapapun untuk mencintai dia, dengan cara apapun. Kejujuran
dalam bercinta hanya bagi dua insan yang bercinta saja, kepada siapapun di luar yang berdua,
boleh saja kita berdusta. Dusta itu halal demi eratnya pertalian hidup.”
“O, begitu falsafahmu ya?” Pita Loka mulai panas.
“Kau jangan coba adu tenaga denganku. Injak dulu olehmu bara panas dengan telapak kaki
telanjang, nanti baru kau berhak melawanku”, ujar Harwati.
Ucapan Harwati semakin memperteguh tekad Pita Loka untuk mendapatkan gelar Harimau.
Gumara tak berhak untuk mendapatkan gelar Harimau Yang Ketujuh, sebab dia bukan orang
aseli Kumayan, fikirnya. Aku akan mendahului dia sebelum penduduk Kumayan menobatkannya
sebagai harimau terakhir di negeri ini.
“Berani kamu menginjak bara api?” tanya Harwati menantang.
Pertengkaran itu dekat pagar. Kebetulan ada orang merokok di warung. Harwati meminjam rokok
orang itu dan mendemonstrasikan ilmunya. Te!apak kakinya yang bersih kemerahan itu,
disundutnya dengan api di ujung rokok. Perlahan, perlahan, dan dengan perlahan api itu padam.
Harwati langsung berkata “Lihat, api padam, tapi tak ada bekas melepuh atau memar di
permukaan telapak kakiku. Kau mau coba seperti yang kulakukan tadi?”
Pita Loka jadi malu, kuatir dia akan gagal.
Dengan sedih tanpa sepatah kata pun, dia masuk kelas. Dalam kelas, pelajaran guru-guru lain,
diperhatikan dengan tekun. Terutama ketika ibu Wamiri mengajar mata pelajaran Sejarah. Pita
Loka bertanya “Apakah ibu pernah mendengar nama Harimau Tungga!?”
“Siapa itu, Pita ?”
“Dia seorang pahlawan besar. Apa tercatat dalam sejarah, Bu?”
“Kita kurang mengenalnya. Mungkin dia pahlawan kecil, pahlawan lokal”.
“Memang seorang Pahlawan, tidak selalu mesti terkenal. Ketika patroli Belanda akan menyerbu
desa Kumayan, pahlawan tak dikenal Harimau Tunggal membiarkan tank-tank musuh itu lewat,
Lalu dirubahnya pandangan mata Belanda itu, sehingga semuanya Jatuh masuk tebing. Ketika itu
orang berfikir cuma suatu kecelakaan, Bu Guru. Dan Harimau Tunggal tidak menceritakan kisah
kepahlawanan itu kecuali pada ayah saya. Maka ia tak dikenal, dia dianggap sebagai pahlawan
lokal. Padahal 20 tank musuh yang masuk jurang, Bu!”
“Terimakasih atas keteranganmu, Pita. Tapi ada pertanyaan lain sejalan dengan mata pelajaran
yang barusan ibu berikan pada kalian?”
“Ada lagi, Bu”, ujar Pita Loka.
“Silahkan, Pita!”
“Guru tidak pernah disebut oleh sejarah, Karena itu bisa saja seorang Hitler yang tak bermoral
diejek-ejek oleh sejarah. Tapi guru yang tak bermoral tak pernah diejek oleh Sejarah kan Bu?”
“Siapa guru yang tak bermoral, Pita?” tanya Bu Wamiri.
“Yaitu guru yang bermain cinta dengan murid perempuan”, ujar Pita Loka.
Seisi kelas tertawa berderai, dikira Pita Loka melucu. Padahal wajah Pita Loka tetap saja geram.
Dan dia tetap saja berwajah geram sewaktu Guru Gumara memasuki kelas. Seperti biasa, dia
mengembalikan buku-buku PR yang sudah beliau periksa. Pita Loka menerima buku PR-nya, dan
tentu dapat angka 10. Kemudian, seperti biasa, Gumara berkata, “Kalian akan bapak berikan
rumus baru.”
“Lagi-lagi rumus”, Pita Loka menggerutu.
“Siapa yang menggerutu itu?” tanya Gumara ramah.
Ketika dia menoleh mau melihat yang mengacungkan tangan, Gumara kaget. Sebab selama ini
Pita Loka paling getol dengan urusan rumus.
“Hai, koq kamu tiba-tiba seperti anti matematika?” tanya Gumara.
“Karena matematika tunduk pada rumus, maka matematika tidak mengenal moral. Jadi saya
berpendapat, matematika adalah musuh manusia”, ujar Pita Loka. Gumara tenang, lalu berkata
“Kalau tak suka, silahkan ke luar.”
Pita Loka bukannya sedih diusir dari dalam kelas. Malahan dia santai ke luar kelas. Dan Gumara
dengan tenang melanjutkan mengajar.
Tapi lebih dulu dia memberi komentar “Saya kagum pada orang pintar. Tapi saya tidak suka pada
orang kebelinger. Orang pinter sering kebelinger. Tahu kamu apa arti kebelinger? Inilah
rumusnya.”
Lalu Guru Gunnara menulis rumus matematikanya di papan tulis;
0 = 0
Barulah beliau mengajar rumus yang dia janjikan tadi. Hal ini tidak dibicarakannya kepada Dewan Guru yang biasanya duduk ngobrol pada jam istirahat. Tetapi keesokan harinya, ketika Guru Gumara memasuki kelas, dia melihat ada tulisan di papan tulis
MATEMATIKA = TANPA MORAL
TANPA MORAL = MUSUH MANUSIA
MATEMATIKA = MUSUH MANUSIA
MUSUH MANUSIA = NOL (0)
MATEMATIKA = NOL (0)
NOL = NOL
0 = 0
Belum pernah Gumara marah dengan wajah merah padam. Kali ini wajahnya merah padam. Dia
langsung menuding PitaLoka “Kamu yang membuat rumus konyol itu?”
“Betul, pak. Apa hukumannya kali ini?” tanya Pita Loka.
“Saya akan mengusulkan pada Dewan Guru supaya kamu dipecat. Ini kelas, bukan ruang sidang
DPR, mengerti ?”
“Saya tidak mengerti”, ujar Pita Loka, “Kalau matematika saya mengerti Pak. Tapi mengerti
bukan berarti setuju.”
“Kalau kamu tidak setuju dengan kurikulum, silahkan minta berhenti.” kata Gumara.
“Saya tak akan minta berhenti. Saya lebih suka dipecat”, ujar Pita Loka.
Gumara menahan geram. Lalu dengan tenang beliau berkata “Keluar kamu.”
Tapi dengan tenang pula Pita Loka ke luar kelas. Juga dengan tenang ketika dia menerima surat
pemecatan dari Kepala Sekolah yang disepakati oleh Dewan Guru. Surat itu diserahkannya pada
ayahnya. Ki Putih Kelabu hanya menggeleng-gelengkan kepala “Aku tahu. yang kau benci bukan
ilmu matematikanya. Tapi Gumara, guru matematikanya.
“Kenapa kau berubah picik?” Pita Loka tahu ayahnya marah, sekalipun berkata lembut. Tapi
semula dia kira, pemecatannya itu membuat ayahnya berpihak padanya. Bukan pada Gumara,
Maka dengan hati yang luluh, Pita Loka lari ke kamar, dan membanting diri ke kasur.
“Yang membuat kau merasa begini, adalah soal jodoh. Soal yang ghaib, yang cuma Tuhan Maha
Tahu. Ayah tidak menyangka, kamu begini gila mencintai Gumara. Padahal ada pemuda tampan
dan gagah, yang dulu begitu baik, yang mencintaimu, koq kamu tolak cintanya? Apakah kau
mencintai Gumara?”
“Tidak, saya membencinya”, sahut Pita Loka.
“Kalau kau sudah membencinya, apa tindakanmu selanjutnya?”
“Aku akan memohon suatu permintaan”, ujar Pita Loka seraya merangkul sang ayah. Dan Ki
Putih Kelabu merasa amat terharu karena belum pernah menyaksikan puterinya tersayang begini
sedih dan pilu.
“Katakan, akan ayah kabulkan, Pita”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Aku mohon, malam ini juga, supaya ayah mewariskan satu saja ilmu mantera untuk saya,” ujar
Pita Loka.
“Baiklah. Mantera apa yang kau minta?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Mantera untuk membikin pikiran seseorang menjadi kacau” ujar Pita Loka.
“Ha? Wah, itu tak baik, aku tak mau!” Ki Putih Kelabu menolak tegas.
Pita Loka menangis sejadi-jadinya. Dia peluk ayahnya erat, lalu berkata “Belum pernah saya
meminta pada ayah. Saya telah dibuatnya malu. Kali ini saya ingin membalas malu itu.”
“Tidak bisa, Pita”, ujar sang ayah berat.
Dia tetap merasa berat, sekalipun sudah tiga jam Pita Loka menangis sampai larut malam,
sampai bengkak matanya. Ki Putih Kelabu, demi cintanya pada anak gadis tunggalnya, akhirnya
menyerah, “Kendati berat, terpaksa kuberikan. Tapi selesai membaca mantera itu, kau harus
meninggalkan Kumayan, sekalipun tebusannya adalah mati bagimu.”
Airmata Ki Putih Kelabu tertahan lalu bercucuran melihat Pita Loka begitu teguh ampuh
berkonsentrasi membaca mantera itu, dengan telunjuk bergerak di atas sebuah piring sebagai
syaratnya. Ketika telunjuk itu berhenti, Ki Putih Kelabu terdongak kaget, dan, berseru, “Cepatlah
pergi dari sini”,
Rupanya Pita Loka sudah slap untuk pergi. Begitu cepat langkahnya ke luar masuk hutan rimba,
menjelang matahari terbit dia sudah melewati Bukit Anggun dan tanpa istirahat dia mulai
mendaki Bukit kedua, Bukit Kerambil.
Gumara resah seharian. Biasanya, sepulang dari mengajar dia masih sempat membaca beberapa
buku-buku atau catatan. Hari ini, sehabis makan siang dia langsung mengantuk dan tidur. Dan
sewaktu bangun dari tidur, dia kembali resah tanpa tahu sebab-sebab keresahan.
Keresahan itu tampak ketika dia mengajar matematika atau fisika di depan kelas. Hal ini
diketahui hanya oleh seseorang yang memperhatikannya dengan cara saksama.
Dan yang memperhatikan hal itu adalah Harwati. Maka pada jam istirahat terakhir, Harwati
sengaja mendekati Guru Gumara yang tidak berada di ruang Dewan Guru melainkan di bawah
pohon flamboyan di pekarangan sekolah. Pak Guru sedang memegang dahan flamboyan yang
merendah.
“Wah, kali ini koq Bapak ada di sini?” tanya Harwati. Gumara diam saja.
“Kalau pulang jalan kaki, boleh Wati menemani Bapak?” tanya Harwati. Juga Gumara diam saja.
Dan sewaktu guru itu pulang sehabis bubaran sekolah, dengan lngkah yang dipercepat seperti
di”kejar”nya Guru Gumara. Setelah seiring, Harwati bertanya “Sudah tahukah Bapak, setelah
dipecat si Pita Loka melarikan diri dari Kumayan?”
“Dia minggat?” tanya Gumara.
“Mungkin minggat. Hai ini diberitahukan sendiri oleh tuan guru Ki Putih Kelabu pada ayahku,
Sebagai laporan bahwa puterinya pergi entah ke mana.”
Langkah Gumara dan Harwati terus menyelusuri jalan kampung yang kecil itu. Dan Gumara tak
memberikan komentar apa-apa.
“Saya duga Bapak sedih atas kepergian Pita Loka”, tuding Harwati.
Karena Gumara diam saja, Harwati mengepungnya dengan pertanyaan, “Apa Bapak jadi risau
begini karena mencintainya ?”
“Mencintai Pita Loka? Ah. itu cuma tuduhanmu”, kata sang guru.
“Kalau begitu apa yang membuat Bapak kelihatan murung ?”
“Entah, saya tak tahu.”
Harwati lebih mengepungnya “Jadi kemurungan Bapak bukan karena kepergian Pita Loka dari
Kumayan?”
“Sama sekali bukan,” sahut Gumara.
Alangkah senangnya hati Harwati mendengar jawaban itu. Hal itulah yang dia harapkan, Tetapi
anehnya, malam itu Gumara bermimpi! Dia bermimpi melihat Pita Loka sedang dikerubungi kera-
kera besar di sebuah hutan. Ia menganggap mimpi ini ada takwilnya. Begitu terbangun, Gumara
memikirkan takwil mimpi itu untuk mencari tafsirannya.
Dan anehnya, apa yang ada dalam mimpi Guru Gumara itu, memang sedang dialami Pita Loka.
Pita Loka berputar di sekitar lorong-lorong-sesat yang diperbuat penduduk Bukit Kerambil. Dua
hari dua malam Pita Loka berjalan di sekitar tempat yang sama, digiring o!eh monyet-monyet
kecil, Karena letih, Pita Loka duduk pada sebuah batu. Seingat dia, ayahnya tidak menceritakan
lebih terperinci mengenai lorong sesat Bukit Kerambil ini. Namun dia usahakan agar dia tetap
memenuhi puasa, sebab puasa 40 hari itu musti dia lakukan sampai dia tiba di Bukit Tunggal
tujuan terakhirnya.
Mendadak melompat ke depannya seekor kera besar.
Jelas itu raja dari kera-kera yang menggiringnya. Waktu itu matahari telah terbit. Pita Loka
meneliti kera besar itu. Agaknya dia bukan kera, tapi manusia berwujud kera. Tampaknya kera
itu menawarkan kelapa yang sudah berlubang. Kelapa muda! Ah, tawaran yang ramah, Pita Loka
menggelengkan kepala. Kera besar itu memberikan contoh bahwa kelapa hijau yang diberinya itu
untuk minum. Kera itu minum dan tertawa. Pita Loka langsung berfirasat, bahwa ini jebakan.
“Saya puasa, tuan”, sahut Pita Loka ketika kera besar itu sepertinya memaksanya untuk minum.
Lalu kera itu membelah kelapa itu, dan mengambil daging kelapa. Baunya harum seakan menguji
daya tahan Pita Loka yang sudah 3 hari berpuasa siang malam. Kera itu menggodanya dengan
unjuk cara, memakan daging kelapa itu. Pita Loka mengulangi penolakannya “Saya puasa, tuan.”
Untuk mengelak, Pita Loka melanjutkan langkah. Namun dia kembali lagi ke tempat semula,
dengan bukti bekas belahan kelapa hijau tadi. Pita berkata “Aku tak sudi terjebak dalam
labyrinth. Lorong sesat ini sengaja menjebakku untuk menetap di Bukit Kerambil.”
“Ya, menetaplah di sini”, lalu dengan cepat Pita membalik tubuhnya dan mendengar seorang
berkata, ternyata memang manusia, berwujud orangtua. Orangtua itu memegang rantai.
“Jika kamu menolak, kamu kami tawan”, ujar lelaki tua itu.
Pita Loka melihat dirinya dikepung oleh kera-kera. Tetapi dia seketika itu juga merasa yakin
bahwa dia mampu mengalahkan si tua, Dia tidak menunggu sampai kena rantai. Dia hentakkan
kedua telapak kakinya ke dada si tua itu dengan sekuat tenaga dan loncatan macan. Lelaki tua
itu memang terjengkang jatuh, namun bangkit lagi dengan gerak gerik menyeramkan.
Pita Loka tidak menunggu waktu sampai lelaki tua itu berdiri teguh. Langsung saja dia lompati
dengan sebuah tendangan sebagaimana pemain bola sayap kanan menendang bola ke gol
dengan tujuan membobolkan gawang lawan. Di luar dugaan tendangan itu mengenai rusuk lelaki
tua itu. Lelaki tua itu tersungkur. Tapi kera-kera yang mengepungnya tampak hanya menontoni
saja.
Aneh! Begitu lelaki tua itu tersungkur, tampak ada jalan ke luar. Tampak bukit di hadapannya.
Itulah Bukit Cangang yang dikatakan ayah! Pita cepat melarikan diri melewati jalan “ke luar” di
hadapannya. Tetapi kalau dia tidak cekatan, tentulah dia sudah masuk ke jurang. Jalan “keluar”
itu rupanya jebakan bagi siapa yang mencoba melarikan diri dari Bukit Kerambil ini.
Bagai rem yang pakem, Pita Loka menghentikan langkah, sementara suara batu-batu
bergelundungan ke bawah menciptakan gema di lembah bawah. Pita Loka mau segera berbalik,
tapi lelaki tua yang tadi dia sungkurkan kini telah mencegatnya.
“Pilihan hanya dua, anak perawan. Kalau terus mati masuk jurang, atau menyerah dan belajar
pada kami”, kata lelaki tua itu.
“Belajar apa, tuan?” tanya Pita Loka berpura-pura ramah.
“Belajar ilmu silat kera,” sahut lelaki tua itu.
“Berapa lama pelajarannya?”
“Tujuh tahun”, sahut lelaki tua itu, mengulurkan tangan.
Uluran tangan itulah yang membuat Pita Loka mendapatkan siasat. Diterimanya jabat tangan itu,
tetapi kemudian dia remas telapak tangannya dengan tekukan kuat, sehingga lelaki tua itu
mendadak mencakar-cakar Pita Loka. Setika dia berteriak kesakitan, dia berubah menjadi seekor
kera besar. Ya kera besar yang pertama menawarkan minum air kelapa dan menawarkan daging
kelapa.
Pita Loka tidak sedikitpun mengurangi remasan dan tekukannya, membiarkan kera besar itu
menjerit-jerit. Pada saat yang sudah dianggapnya tepat, Pita Loka membungkuk sedikit untuk
mengambil tenaga mengentakan tubuh untuk membanting kera besar itu. Bantingan itu sangat
sempurna! Kera besar itu menggelepar begitu terjengkang di tanah. Dan pita Loka cepat melarikan diri
ketika dia melihat adanya batu bersusun kayak tangga. Dia tidak terjebak o!eh jalan lurus di
depan, karena dia menduga dalam sedetik bahwa itu cuma jalan “ke luar” jebakan lagi. Betullah.
Setelah sekuat tenaga dia naik tangga itu tampaklah rumpunan pohon-pohon kelapa dan dia
lintasi pohon-pohon kelapa itu mengarah ke Bukit nun jauh di sana , yang tak lain tentulah Bukit
Cangang. Dia tidak tercengang menatapi Bukit Cangang itu, tetapi dengan meluncur dia terus
turun ke lembah di bawah, berbelok-belok di sela-sela pohon petai cina.
Dan pada tengah hari, Pita Loka sudah sampai pada lembah yang terbawah. Nafasnya sesak, dan Grafity,
sungai yang mengalir itu membuat dirinya tambah sesak nafas. Lalu rasa haus mulai
menggodanya. Tapi dia ingin mempertahankan tekad bulat untuk tetap berpuasa 40 hari siang
malam dalam perjalanan ke Bukit Tunggal.
Tiba-tiba dia memutuskan untuk menyeberangi sungai itu. Ketika dia mencelupkan kaki,
dirasanya betapa nikmatnya air pada telapak kakinya. Menyegarkan tubuh secara menyeluruh!
Namun Pita Loka tak tergoda berlama-lama mencelupkan kaki. Dia melangkah di air, dan
terdengar bunyi kecipak air. Dia meloncat ke sebuah batu, Tapi ketika dia sudah meloncat pula
ke batu yang kedua, mendadak muncul seperti potongan kayu. Ternyata itu punggung seekor
huaya. Adanya sungai yang berbuaya itu pun tidak pernah dituturkan oleh ayahnya. Tapi satu hal
yang membuat dia selalu berani, karena ayah berpesan pada suatu malam dulu “Jika kau
menemui halangan menjelang tiba di Bukit Tunggal, kau mantapkan hati bahwa rintangan itu
dapat kau kalahkan.” Kini Pita Loka bersikuat batin. Dia kumpulkan tenaga untuk meloncat ke batu besar yang dirintangi oleh punggung buaya itu. Punggung buaya itu hanya jebakan saja.
Lalu . .. .. setelah tenaga terkumpul dan batin membaja, Pita Loka meloncat ke batu besar itu
melangkahi dahan kayu jebakan punggung buaya itu. Satu pukulan keras menampar tubuhnya
sehingga Pita Loka jatuh terjerembab ke permukaan batu. Dianggapnya saja punggungnya tak
sakit. Lalu dia berdiri tetapi di hadapannya dia melihat ada benda kayak gergaii yang mau menampar
mulanya. Pita Loka tidak mengelak. Dia nanti beberapa detik menjelang benda itu tepat untuk
dipegang sebelum menampar. Seketika dia pegang saja ekor buaya itu, yang licin, namun
akhirnya terpegang erat, yang kemudian ternyata sebuah kaki manusia.
Manusianya menggelepar dalam sungai, berkecipak-kecipak.
Pita Loka berusaha agar tidak kecebur. Dia terus bertahan dengan dua telapak kaki bagai
dipakukan pada permukaan batu besar itu. Dia biarkan manusia yang menggelepar itu mereguk
air sampai pengap dalam usaha membebaskan diri dari cengkeraman cekatan tangan Pita Loka.
Setelah dia sesak nafas, Pita Loka menghela ujud manusia itu. Yang ternyata lelaki tua berkaki
satu. Pita Loka bersikuat hati untuk tidak terbujuk oleh rasa kasihan padanya, karena kuatir
rengek si tua hanya jebakan. Malahan dia segera melompat ke sebuah batu dan kemudian ke
batu-batu yang menyembul di permukaan sungai, sampai dia mencapai tepi sungai di seberang
itu. Dia tidak tunggu waktu tergoda haus oleh wanginya bau sungai. Dia terus memanjati tebing
dengan berpegang pada akar-akar besar. Lalu memanjati Bukit Cangang.
Dikumayan, malam itu Gumara berteriak nyaring karena sebuah mimpi. Teriakan ini membuat
Talang Padu, jirannya di sebelah rumah yang dibatasi kebun sirih, terbangun dan segera menuju
rumah Gumara. Diketuknya pintu rumah guru yang dikenalnya amat berbudi itu,
“Siapa?” tanya Gumara menghapus keringat.
“Saya, Pak Talang”, sahut Talang Padu.
Talang Padu dikenal baik oleh Gumara setelah mendapat keterangan dan Harwati. Dia bernama
Sariman, tapi setelah berilmu dia digelari Ta!ang Padu. Dia terima gelar itu setelah bertaubat dari
ilmu hitam dan cuma bertani dan bersembahyang saja setelah bertobat itu. Begitu Gumara
membuka pintu, Talang Padu masuk.
“Sepertinya nak Gumara cuma bermimpi”, kata Talang Padu.
“Ya. Saya mimpi melihat seorang yang saya kenal sedang disihir oleh ahli telepati di satu bukit”,
kata Gumara.
“Oh, saya tahu bukit itu, Bukit Cangang. Di situ berkumpul ahli sihir, dan bahkan saya pun
sebelum bertobat menuntut ilmu sihir di sana . Yah, tak mungkin nak Gumara tak diceritakan
orang mengenai masa silam saya. Saya punya masa silam yang buruk, yaitu gemar mengganggu
rumah tangga orang yang sedang damai. Caranya menaruhkan sebuah batu di talang air rumah
orang yang damai suami isteri itu. Setelah itu, batu yang sudah saya isi dengan sihir itu akan
menciptakan pertengkaran rumah tangga. Akhirnya Ki Putih Kelabu yang menaklukkan saya
sampai saya digelari si Talang Padu.”
Setelah bicara tentang dirinya, kini dia bertanya “Boleh saya tahu siapa orang yang anda kenal
dalam mimpi itu?” Gumara menggelengkan kepala. Dia memejamkan mata sambil mengingat
mimpi yang barusan berlalu. Mimpi itu masih segar. Tampak olehnya Pita Loka dihadapkan pada
duabelas orang tua. Karena tidak sudi menjadi murid, satu dari 12-tua itu mencekik leher Pita
Loka. Ketika itulah karena kasihan menyaksikan, Gumara menjerit dengan teriakan ketakutan
…….. lalu dia terbangun dalam keadaan mandi peluh.
Talang Padu lalu pamitan pulang. Dan Gumara tak dapat tidur hingga pagi. Paginya setelah dia
berkemas untuk menomon pertandingan olahraga volley, muncullah Harwati dalam pakaian
celana panjang olahraga berwarna merah berstrip dua putih. Dalam pakaian “training” itu,
Harwati tampak lebih jelita dan gagah. Dia akan memperkuat regu SMP melawan regu Muspida.
Lalu Harwati berjalan seiring dengan Guru Gumara.
“Saya tadi pagi dapat informasi dari ayah”, ujar Harwati.
“Informasi? Mengenai apa?”
“Ada info mengenai Pita Loka. Dia rupanya bukan minggat. Tentu saja ayahnya merahasiakan
kepergiannya.
Ayah barusan kembali dari tempat pertapaan, dan menerima wangsit bahwa Pita Loka sedang
menuju Bukit Tunggal untuk menuntut ilmu ghaib pada Ki Harimau Tunggal. Anehnya, ayah
gembira!” Harwati menunggu reaksi Gumara. Tapi Gumara merahasiakan mimpinya semalam.
Dia berdiam diri.
Juga sehabis pertandingan volley, Gumara berdiam diri. Dia menolak Harwati untuk pulang
bersama. Dan ingin jalan sendirian ke suatu tempat. Dia ingin duduk di puncak Bukit Kumayan,
bukit satu-satunya di sebelah kidul yang tidak ditumbuhi pohonan. Anehnya, bukit itu bundar.
Dan mungkin di situ ada kadar menyan yang banyak, atau bisa juga seluruh bukit bundar itu
adalah bukit menyan. Menikmati bau menyan di Bukit Kumayan itu, bukan menciptakan
ketenangan. Malah dia gelisah. Lebih heran lagi muncul Lading Ganda. Lalu Ki Lading Ganda
berkata “Hati-hati duduk di bukit yang seluruhnya berisi menyan raksasa ini. Kalau di sini terjadi
perkelahian, maka yang mati akan masuk ke tanah tak ke luar lagi jadi tumbal dan jadi batu
menyan.”
Gumara hanya melirik. Ki Lading Ganda lalu bersimpuh menghadap pada Gumara yang
bersimpuh pula. Ki Lading Ganda berkata “Percuma tuan guru mengingat Pita Loka di sini.
Karena aku mendapatkan ilmu peramal dari guruku, aku ingin menyatakan ramalanku!”
“Tak usahlah, Ki. Saya tak percaya ramalan”, ujar Gumara.
“Namun ingin saya nyatakan. Saya ramalkan Pita Loka bukan minggat sebab malu dipecat, tapi
melarikan diri ke satu tempat menuntut ilmu. Harimau yang enam termasuk Ki Putih Kelabu pasti
sudah tahu ke mana perginya. Dia akan kembali ke Kumayan untuk jadi musuh tuan guru. Dan
Harwati? Saya ramalkan takkan jadi isteri anda. Memang dia mencintai tuan dan tuanpun
mencintainya. Tapi lebih tepat jika tuan mengawini Keni, puteriku, adik si Pina.”
Keni memang cantik, Tapi Gumara diam. Dan Ki Lading Ganda menjebaknya dengan berkata
“Kalau anda diam, berarti setuju.”
Gumara terpaksa jadi marah. Kemarahan inilah yang diharapkan Lading Ganda. Berdiri merentak,
Gumara berkata merentak pula “Jangan lamar aku. Sebab aku ingin hidup membujang!”. Ki
Lading Ganda bagai mencegatnya. Lalu orangtua itu berkata, “Penolakan berarti penghinaan.
Kalau anda jantan, jangan dulu pergi. Layani dulu permintaanku.
Aku ingin mencoba ilmumu.”
Gumara tenang. Teramat tenang. Matahari sore agak menyilaukan Gumara yang sedang berdiri
berhadapan dengan Ki Lading Ganda. Ki Lading Ganda menggertaknya “Jika kau tak menyerah,
kau akan kuhabisi sekarang!”
Langsung saja lelaki tua itu dengan dua tangannya mencabut dua buah golok dari pinggangnya.
Dalam sekelebatan golok itu diadunya dan menciptakan kilatan api dan bunyi nyaring, Golok itu
seketika berubah menjadi satu golok yang bergagang kembar dan bermata dua.
Gumara berdiam diri, namun tak mengucapkan kata-kata menyerah. Tetapi hatinya menganggap
ilmu si tua ini amat rendah. Sekelebatan tampak olehnya sinar yang melayang mau menebasnya,
membuat Gumara merunduk menjatuhkan diri sebab sinar itulah sinar mata golok yang mau
menebas lehernya. Begitu dia menjatuhkan diri, Ki Lading Ganda menyerang dari belakang,
tetapi kaki kanan Gumara menuat menangkis dengan putaran. Tepat mengenai Ki Lading Ganda
sampai ia terjengkang.
Gumara tidak mengambil sikap menyerang, melainkan bertahan. Terutama menyalurkan
ketenangan nafas. Waktu dia hendak berdiri, satu kilatan menghantam bahunya. Golok itu tepat
mengenai bahu kanan, tetapi golok itu membal, terpelanting lepas dari tangan Ki Lading Ganda.
Ki Lading Ganda sudah menduga bahwa itu akan membuat tangan kanan Gumara copot. Kini dia
terpelongo, terheran-heran. Dia tidak memungut goloknya. Tapi cepat menghatur sembah
sungkem layaknya, berlutut dihadapan dengkul Gumara. Katanya, “Anda rupanya diam-diam
punya ilmu kebal.”
Gumara berpekak-telinga seolah tak mendengar. Dia melangkah, dengan maksud meninggalkan
Ki Lading Ganda. Tetapi Ki Lading Ganda menungkai dengan kakinya sehingga Gumara jatuh
tersungkur. Dia bangun lagi. Tapi lalu pergi setelah membersihkan tanah yang diciumnya oleh
mukanya sewaktu tersungkur tadi.
Ki Lading Ganda masih duduk di puncak Bukit Kumayan itu bagai terpesona. Setelah diambil
goloknya yang tadi terpelanting itu, lalu golok itu ditetakannya ke keningnya. Sebuah dari
kembarannya meloncat ke udara, dan disanggep oleh tangan kiri Ki Lading Ganda. Dengan
serempak kedua golok itu masuk ke sarung-sarungnya kiri kanan di pinggang lelaki tua itu.
Ketika Gumara tiba di rumahnya, ia kaget melihat sudah tersedia hidangan di meja selain
rantang kiriman Pak Yunus. Lalu muncul Harwati dari dapur„ Rupanya dia!ah yang telah Grafity,
memasak makanan siang ini.
“Jika ayahmu tahu, kurasa dia akan marah kau ada di rumahku”, kata Gumara. Dan memang
benarlah apa yang dikatakan Gumara senja itu. Setiba di rumah Harwati dipanggil oleh ayahnya.
Sebelum ayahnya bicara, Harwati berkata “Sudah banyak orang yang mau berobat pada ayah.”
“Katakan pada mereka, hari ini aku tidak melayani tamu, kecuali orang yang sakit parah.”
“Tapi ada satu tamu, pejabat penting dari kota , ingin minta perkukuh jabatan pada bapak,
katanya. Malah dia ingin didahulukan”, ujar Harwati.
Dengan langkah geram Ki Lebai Karat keluar dari ruangannya menemui tamu itu. Dan tamu itu
memperkenalkan diri sebagai tamu dari kota . Drs. Jamal Wangsadan menyatakan hasratnya
untuk diangkat sebagai walikota.
“Oh, itu mudah saja. Tuan tak usah mendatangi Ki Karat. Berbakti pada kepentingan rakyat
dengan baik, sampai Pak Gubernur tahu bahwa anda paling tepat untuk menjadi walikota. Itu
saja. Saya kira tuan sakit atau berkelahi dengan isteri.”
Ucapannya yang kedengaran angkuh itu membuat Drs. Jamal Wangsa pun mengimbanginya
dengan keangkuhan.
Katanya “Saya kira, begitu saya dengar bapak adalah dukun sakti, bapak dapat berbuat segala-
galanya.”
“Oh, yang bisa berbuat Segala-Galanya itu, cuma Tuhan Maha Pencipta Semesta Alam. Bukan
saya. Saya rasa tuan salah alamat”, kata Ki Karat.
Lalu Ki Karat menyuruh masuk seorang ibu tua yang lumpuh, Setelah Ibu tua lumpuh itu ke luar lagi sehabis diobati, ia tak lagi dibimbing. Ia malahan menolak untuk dipegangi. Ia melangkah dengan sempurna. Sehabis seluruh pasien di obati oleh Ki Lebai Karat, kini Harwati mendengar namanya diteriaki oleh ayahnya. Dia merasa nada itu tinggi, terlalu tinggi, dan benarlah ramalan Pak Guru bahwa dia akan di marahi. Wajah ayahnya setelah berhadapan tampaknya begitu geram.
“Aku tidak setuju kau terlalu rapat dengan Peto Alam.
Gumara Peto Alam itu hanya tepat sebagai guru sekolahmu, saudaramu dan bukan calon
suamimu. Orang menyampaikan kau sibuk memasaki di rumahnya, padahal rumahnya tak
pernah ada asap dapur sebab dia menerima kiriman rantangan dari guru Tarikh,”
Mendengar kata-kata ayahnya itu, Harwati berlinang airmata. Dan dia tampaknya melawan
dengan tudingan tuduhan “Pantas ayah begitu senang mendengar Pita Loka pergi berguru ke
Bukit Tunggal. Jadi ayah lebih rela apabila kelak Pita Loka menjadi isteri Gumara Peto Alam
ketimbang aku, ya?”
Ayah yang berbudi itu lalu membelai kepala Harwati setelah tak kuasa mendengar isak tangis
anaknya, Katanya; “Gumara itu bukan dampinganmu, nak!”
Dibelai dengan ucapan yang begitu, bukannya membuat Harwati lega, malahan tambah terisak-
isak. Semalannan dia tak dapat tidur. Menjelang subuh tiba, Harwati menemukan keputusan
sendiri. Dia secara rahasia memasuki kamar-pertapaan ayahnya. Dibongkamya semua buku yang Grafity,
berisi mantera-mantera yang bertulisan arab-gundul. Tanpa tanda baca. Tapi Harwati dapat
membacanya karena tulisan arab-gundul itu bukan berbahasa Arab melainkan mantera-mantera
berbahasa daerahnya sendiri. Karena kamar ini jarang dimasuki ayahnya, Harwati bertambah
tekun mencari satu kitab yang berisi rumusan-rumusan pikat. Kitab Pikat yang dicarinya itu
agaknya disembunyikan ayah, fikirnya. Lalu dia melihat ada sebuah gembok pada lantai papan.
Rupanya ayah membuat lantai itu berpintu, Gembok itu membuat dia penasaran. Karena dia
harus mencari kunci. Dia cari tempat kunci itu. Dan dia temui. Semua kunci dicobakannya pada
gembok itu. Seluruhnya tujuhpuluh buah kunci. Dan pada kunci bernomor arabgundul 49,
Harwati lega karena kunci itu cocok.
Pintu rahasia itu kini dia buka. Jika saja dia tidak diwarisi keberanian, tentu dia menjerit melihat
seekor kelabang hitam berkaki 33 yang muncul dari lemari bawah tanah itu. Kelabang hitam itu
menatapnya lama, tapi lama-kelamaan mengerikan sekali.
Tiba-tiba Harwati menjerit sewaktu kelabang hitam itu melompat ke arah kepalanya. Ki Karat
yang sedang makan siang segera bertindak cekatan menuju kamar pertapaan. Dia dapati
puterinya pingsan, Dia langsung menoleh ke lemari bawah tanah yang pintunya terbuka. Dia
membaca-baca mantera. Lalu merangkaklah kelabang-hitam berkaki 33 itu. Begitu patuh. Begitu
ketakutan gayanya merangkak. Dia lalu merangkak ke kening Harwati. Tambah ada beberapa
tetes seperti minyak yang dipoleskannya dengan sungutnya ke kening yang membundar biru itu.
Makin lama kening itu berkurang birunya, tapi Harwati belum sadarkan diri. Tampaknya kelabang
hitam itu sudah menyelesaikan tugasnya, lalu kembali menuju sarangnya, yakni lemari rahasia
tadi. Ketika kelabang hitam itu hampir pada tepi pintu, Ki Karat membentak ke arahnya;
“Mampus kau!”
Kelabang itu terjengkang menelentang seketika.
Malahan dia diinjak-injak oleh Ki Lebai Karat. Dan rupanya Harwati tersadar dari pingaannya
karena bentakan ayahnya pada kelabang hitam tadi. Dia kemudian duduk. Dia belum tahu ada
ayahnya di kamar pertapaan itu. Dia mencari-cari kelabang hitam yang menyengat keningnya
tadi. Ketika dilihatnya kelabang itu sudah remuk, barulah Harwati sadar tentu ada seseorang
yang menginjaknya.
Barulah dia menoleh sekeliling. Tolehannya terhenti pada wujud ayahnya yang duduk tenang di
korsi goyang. Dan Ki Karat pun berkata “Terpaksa kubunuh si penjaga itu hanya karena kelakuan
kau. Memang kitab itu, Kitab Pikat itu, aku sengaja sembunyikan. Sudah kuterka sekali waktu
kau akan mencarinya. Tapi dengan menggembognya, itu berarti termasuk kamu dilarang
membacanya.”
“Kenapa ayah?”
“Kitab Pikat itu penemuanku sendiri setelah selesai berguru pada Ki Macan Tunggal.
Sesungguhnya dia sebuah kitab yang buruk dan merusak. Jadi kuharap, jangan sekali-kali kau
baca kitab itu, sekalipun si kelabang penjaga sudah mampus. Aku tahu, kau amat cinta pada
Peto Alam. Tapi masih banyak pria yang mungkin lebih baik sebagai dampinganmu. Cinta itu
berbuah perkawinan. Kau bukan sakedar dampingan suami, tetapi isteri itu harus menjadi garwa
suaminya. Tahukah kau arti garwa?”
“Tahu, ayah, ketika Wati berusia 12 dan mulai menstruasi, ayah menerangkan arti garwa itu.
Saya mohon maaf dan ampunan ayah atas kelancangan saya”, lalu dia meraung dengan suara
ratapan yang menghibakan hati.
Hati Ki Lebai Karat memang hiba. Tetapi dia tidak ingin mewarisi pada Harwati ilmu memikat Grafity,
yang dangkal. Dan batinnya tetap tidak rela apabila Harwati justru akan menjadi garwa bagi
Gumara Peto Alam.
Kemurungan Ki Lebai Karat itu membuat kawanan empat sekawan Harimau Kumayan yang
dipimpin Ki Lading Ganda, adalah termasuk yang ditolak oleh ayah Harwati. Empat lelaki tua itu
pulang dengan kecewa, juga orang-orang yang akan berdukun kecuali yang sakit keras.
Dan sejak larangan ayahnya itu dimaklumkan, Harwati tetap saja mengukuhkan perasaan
cintanya pada Gumara. Tapi memasuki pekarangan Gumara, dia tak berani. Dan takkan pernah
berani, sebab dia tahu jika ayah mengutuk seseorang. Akibatnya akan selalu negatif.
Dan di sekolah, pada hari Kamis itu, seluruh murid tercengang ketika melihat Guru Gumara jatuh
pingsan sewaktu mengajar, Guru itu digotong murid lelaki, namun Harwati ikut memegangi
kepala Gumara sambil berdesih-desih membaca mantera bagi seseorang yang pingsan. Harwati
gembira, manteranya kabul dan Guru Gumara sadarkan diri di ruang Dewan Guru.
Tak ada desas-desus, Tapi hari berikutnya, ketika Guru Gumara mengajar !agi di kelas IPA itu,
ucapannya tiba-tiba aneh Saya sering pusing, siapa di antara kalian yang sering bawa obat
pening kepala?”. Semuanya heran membisu.
Hari demi hari, pribadi Guru Gumara berubah. Anak-anak SMP Kumayan membicarakan hal ini.
Tetapi, yang paling cemas adalah Harwati. Dan pada suatu hari Harwati berkata pada ayahnya
“Ayah, jika saya melaporkan hal ini pada ayah, jangan ayah mengira karena saya mencintainya,
dan saya kepingin jadi garwa-nya. Ini adalah soal Prikemanusiaan”.
“Mengenai nasib Gumara?” tanya Ki Karat.
“Ya”.
“Aku sudah lebih dulu mendapat berita”.
“Dari mana?”
“Dari Harimau Yang Empat, dipimpin oleh Ki Lading .Ganda. Semua laporannya masuk akal.”
“Tentang pergunjingan orang mengenai Guru Gumara?”
“Ya, tentang si Peto Alam itu. Mulanya kukira karena Lading Ganda merasa iri tak habis-habis
kepada Ki Putih Kelabu,”
“Nah, itulah yang akan saya laporkan”, ujar Harwati gembira, “Yaitu terlibatnya Ki Putih Kelabu
dalam penyakit aneh Guru kami itu, Pak. Seakan dia diperbuat malu di hadapan murid-murid.
Tapi kami murid-murid tidak terpengaruh oleh kegugupan, mudah lupa kadangkala ketololan Pak
Guru kami itu. Saya sudah mempengaruhi teman sejak awal, bahwa pasti Pak Gumara dikerjain
orang. Pendeknya, wibawa Pak Gumara tidak menurun. Soalnya, Ayah . . . kasihan kita pada dia.
Kita harus selidiki siapa yang bikin gara-gara. Saya cenderung untuk menduga ini semua
perbuatan halus dan licik Ki Putih Kelabu. Dia membalas penghinaan terhadap Pita Loka.
Bayangkan halusnya teluh Ki Putih Kelabu. Sudah 21 hari Pita Loka melarikan diri, baru akhir-
akhir inilah muncul penyakit aneh Pak Gumara”.
Ki Lebai Karat terdiam. Ia sebetulnya kagum pada puterinya. Masuk akal memang, yang
mengerjai Gumara adalah Ki Putih Kelabu. Memang teluh. Tapi lelaki tua ini berkata yakin “Ki
Putih Kelabu mungkin saja terluka hatinya. Tapi dia tidak sejahat Lading Ganda”. Grafity,
Harwati jadi tidak puas. Namun dia kembali lega ketika ayahnya berkata “Nanti akan kupilih hari
memanggil dia. Kalau dia tak datang, itu suatu tanda bahwa dia perlu dicurigai”.
Keesokan harinya, ketika melalui jalan yang melewati rumah Guru Gumara, Harwati mampir.
Mampirnya dia kebetulan terlihat oleh Hura Gatali. Hura Gatali menyelidiki di bawah pohon randu
depan rumah Gumara. Harwati mengabarkan usulnya kepada ayahnya, agar sang guru
bersimpati padanya. Gumara berkata “Sebetulnya aku tak ingin melibatkan hal ini melalui
ayahmu. Tapi nyeri di kepala ini menyebalkan sekali”.
“Yang semacam mimpi aneh, pernah Pak Guru alami ndak?” tanya Harwati, Gumara hampir
menceritakan mimpinya yang dua kali, yaitu ketika dia mimpi Pita Loka di Bukit Kerambil disergap
kera dan mimpinya tentang Pita Loka yang terjebak dengan ahli-ahli sihir di Bukit Cangang.
“Yah, tak usahlah aku ceritakan”, ucap Gumara.
“Katakanlah, supaya ayahku dapat mempermudah pemecahannya”, kata Harwati.
“Mimpi itu mengerikan, semalam . . .. Ah, tak usah saya ceritakan. Mari kita berangkat ke
sekolah, sudah dekat setengah tujuh”, kata Gumara. Nah, ketika turun tangga rumah di
pekarangan, Hura Gatali yang penuh selidik itu pun mulai nguping. Dia mendengar percakapan
Gumara dan Harwati.
“Katakanlah mimpi Pak Guru itu”, ujar Harwati.
Saat itu Gumara kebetulan kurang kontrol. Penyakitnya kambuh. Dan dia bicara tanpa tahu
akibatnya, padahal dia ingin merahasiakannya agar orang-orang Kumayan tidak bertambah
jengkel pada Pita Loka atau Putih Kelabu.
Gumara bercerita, didengar baik oleh Hura Gatali “Begini, Wati. Tadi malam itu saya menjadi
yakin, bahwa Pita Loka sudah berguru pada ahli-ahli sihir dan teluh di Bukit Cangang!”
“Astagfir, ya Tuhan!”
“Dia berguru di sana, mungkin ilmunya kelak akan sejalan dengan Lading Ganda” Mendengar
ucapan ini, Hura Gatali yang sembunyi di balik pohon randu menjadi geram. Ditunggunya sampai
Gumara lewat dua langkah, lalu dia hantam dengan tendangan ke sudut pinggang.
“Aduh, sakitnya!” teriak Gumara. Dia seperti orang mabuk. Geraknya lamban . Dia hanya
menangkis tidak pernah menyerang. ia seperti satria mabuk. Tiga sampai lima kali tendangan
Gatali ditangkisnya jatuh bangun. Harwati menjadi murka sekali, lalu dia lepaskan tendangan
giling-tebu hingga Hura Gatali jatuh jungkir balik kayak orang bersalto. Hura Gataili jadi ragu.
Gumara seperti mabuk mendekatinya, dan menyodokkan kepalanya ke perut Hura dengan
lamban.
Kepala itu dipelintir oleh Hura.
Pelintiran itu menyebabkan Harwati dengan buas melakukan tendangan berbalik badan tepat
mengenai dada Hura Gatali. Darah kental menyembur seketika dari mulut pemuda yang sempat
dikenal sebagai Pahlawan Ular Sanca itu. Dia tersungkur. Lalu Harwati menggunakan
kesempatan itu menyeret tubuh gurunya sekuat tenaga, masuk kembali ke pekarangan rumah
Gumara.
Gumara tersenyum, lalu meronta minta dilepas. Dia macam orang gila merangkak memasuki
pintu rumah. Harwati kehilangan akal. Dia mau melihat dulu keadaan di luar. Di luar, di tempat
Hura jatuh muntah darah, dia pun tak ada lagi di situ!
Harwati kalang kabut kembali dia masuk rumah, dan didapatinya Gumara bukan duduk, tapi
macam binatang berkaki empat layaknya. Telapak tangan di lantai papan, dan dengkul pun
menekan lantai. Raut wajahnya macam orang bodo.
Harwati segera berlari kencang menuju rumah, Dengan nafas sesak, dia masuk rumah, “Ayah!
Ayah! Ayah!” Ki Lebai Karat tak di rumah. Ternyata beliau dengan lewat hutan kecil menempuh
jalan pintas yang begitu kencang langkahnya sampai merobohkan sekian pohon pisang, pohon
petai cina ataupun pohon akasia lainnya.
Dia tiba di rumah Gumara bagaikan harimau yang sedang cemas. Begitu dia masuk, didapatinya
Gumara menjulurkan lidah, Bengong. Macam binatang berkaki empat. Melihat kejadian itu,
teteslah airmata Ketua Harimau Yang Enam di Kumayan itu, dan menyergap Gumara dengan
pelukan erat “O, Peto Alam . . . Kenapa kau jadi menderita begini, nak?”
“He-he-he . . . . “
“Peto Alam!” bentak Ki Lebai Karat sembari terpaksa menampar Gumara agar segera sadar. Tapi
Gumara tersenyum lebar, seperti orang teler yang kesenangan disakiti;
“He-he-he . . . tuan Ki Karat ya?”
“O, Peto, bangkit dan berdirilah! Lawan musuhmu dengan kepala tegak!”, dan didekapnya kepala
Gumara. Diangkatnya untuk berdiri, tapi Gumara menjatuhkan dirinya lagi ke lantai bagai
binatang berkaki empat; “He, he . . . . “
Tampaklah kecemasan luarbiasa di wajah Ki Lebai Karat. Dibiarkannya Gumara begitu saja.
Orangtua itu lalu duduk di kursi, terperangah. Dia sedang memilih cara terbaik Menghancur-
luluhkan Ki Putih Kelabu . . . atau . . . mengobati Gumara lebih dulu. Untuk keduanya diperlukan
tindakan sportip. Lalu dilihatnya lagi Gumara. Hati Ki Karat hancur luluh tak tahan melihat Peto
Alam lebih gila dari orang gila, lebih pikun dari orang pikun, lebih teler dari orang mabuk.
“Gumara, sadarlah nak”” bentak Ki Lebai Karat. Bentakan dahsyat ini membuat Harwati tak jadi
masuk pintu. Dia, hanya mengintip lewat celah, memperhatikan apa yang diperbuat ayahnya.
Harwati melihat satu kejadian yang aneh. Dilihatnya ayahnya memeluk kepala Gumara,
membelainya dengan cucuran airmata, dan berkata “O, Peto Alam . , , sekiranya aku boleh
kembali pada ilmu kasar, aku mampu mengembalikan pikun kau ini pada pembuatnya.
Ah, kasihan aku melihat kau!”
Harwati bercucuran airmata babagia mendengarnya. Dia masuk tetapi kaget ketika ayahnya
mendadak berubah sikap menghapus airmata dengan cepat dan segera menjadi gugup namun
gagah.
Mendadak saja ayah itu meninggalkan Harwati dan Gumara. Dia kemudian menuju rumah Ki
Putih Kelabu, hal yang tak pernah diperbuatnya sebelumnya! Kesombongannya Karena dialah
ketua Harimau Kumayan ditanggalkannya. Dia sangat hormat ketika bertanya pada Ki Putih
Kelabu “Bolehkah hamba masuk?”
“O, tuan Ketua . . . kenapa tidak
Hati-hati ia duduk. Hati-hati ia berkata “Aku mohon pertolonganmu. Dengan segala kerendahan
hati, dengan sepuluh jari tanganku disertai satu kepalaku, kumohon kau obati si Peto Alam”.
Ki Putih Kelabu jadi terheran-heran melihat Sang Ketua begitu merendah. Dia jadi kebingungan.
Dan dengan nafas tersengal-sengal dia berkata menyerah
“Mungkin tuan Ketua tidak percaya, bahwa bukan saya membuatnya”.
“Kalau begitu aku mohon petunjuk”, ujar Ki Karat. Ki Putih Kelabu berada di persimpangan
pikiran. Jika diberinya petunjuk, Pita Loka puterinya tercinta akan menanggung akibatnya. Jika
ditolak, penolakan ini tidak sesuai dengan sifatnya yang dia punyai. Kalau berdalih, pasti Ki Karat
akan tahu alasannya dibuat-buat. Lalu dia Cuma bertanya “Kenapa tuan Ketua begitu
bersemangat membela nasib seorang yang tak ada kaitan darahnya dengan tuan?”
Di luar dugaan, itu membuat Ki Karat bukannya bersemangat, tapi mundur dan berkata “Kalau
begitu, baiklah aku akan atasi sendiri. Jika atap gagal diraih, terpaksalah anak tangga terbawah
yang kuperbuat. Kumaklumkan dari sekarang, kucopot kedudukanku sebagai Ketua. Aku terpaksa
menempuh anak tangga yang terendah”.
Dengan cekatan beliau pulang. Mandi kembang dan berkata “Harimau Tunggal aku terpaksa
melepaskan ilmu yang kau berikan, demi nyawa Peto Alam!”
Pada detik itu juga, di sebuah guha di Bukit Tunggal di tempat pertapaan nya, lelaki tua keriput
berambut putih tersentak dari duduk rapinya bersila.
Sebuah keris jatuh di hadapannya. Dibacanya huruf arab gundul pada gagang keris itu, tertera
nama Ki Putih Kelabu. Dan beliau cuma diam memegang keris itu. Gagangnya terbuat dari kayu
cendana mengering bagai areng pikulan. Dan batangan logam keris berukir itu meleleh hancur
berjatuhan di permukaan tanah.
Pada detik itu juga. Ki Lebai Karat dalam keadaan telanjang menebah dadanya sendiri, “Aku kini
Ki Gumilang yang dulu!”
Tindak-tanduknya jadi kasar. Dan ketika dia masuk ke rumah, dia dapati Harwati tersenyum-
senyum dan berkata “Dia sudah sembuh!”
“Apa kamu bilang?”
“Peto Alam yang ayah sayangi sudah sembuh. Saya kira dia sendiri yang menyembuhkan dirinya,
bukan saya dan bukan ayah”, ujar Harwati. Dan pada waktu makan malam, Harwati berkata
pada ayahnya, “Tahu ayah berita gembira yang perlu saya sampaikan?”
“Katakan, anak tolol” bentak lelaki tua yang kini merasa Ki Gumilang.
Hal pertama Hati saya luluh bahagia sewaktu ayah memeluk Gumara Dan hal kedua yang membahagiakan hatiku Cinta saya berbalas!”
“Apa katamu, goblok!”
“Dia membalas ucapan cinta saya. Dia juga berkata, bahwa dia bersedia melamar saya. Dan saya
akan dengan segera menjadi garwa atau isterinya. Oh, ayah, betapa bersyukurnya diriku sehabis
musibah ini
Ki Gumilang Jalang tersenyum menyeringai. Dia geleng-geleng kepala, lalu tertawa terkekeh-kekeh.
“Kalau kau bahagia dua kali, malam ini kumaklumkan padamu, bahwa aku benci dua kali.
Pertama benci pada diriku sendiri, kedua aku benci pada Gumara. Malu aku kalau dia melamar kamu, Harwati!”
“Ayah, betapa takaburnya ayah!” seru Harwati.
Dan tiba-tiba lelaki tua yang amat dihormati itu membuat Harwati jadi ngeri. Sorot matanya
jalang. Biarpun dalam jarak jauh, seakan-akan mata ayahnya berkobar nafsu sampai Harwati
berteriak, “Ayah! Ayah akan jadi gila! Itu bukan sorot mata Ki Lebai Karat yang mulia! Sorot mata
ayah adalah sorot mata lelaki pejantan yang suka melacur!”
Ki Gumilang bukannya jadi malu karena ucapan puterinya. Dia malah mendekat ingin meraih
rambut Harwati, tapi gadis itu segera melakukan tindakan cepat memutar tubuh dan menyepak
ke belakang sampai Ki Gumilang terjungkal setelah telapak Harwati mengenai dadanya.
“Baik, aku kalah”, kata lelaki tua itu.
“Nikahkan saya segera dengan Gumara!”
“Oh, itu boleh saja”, ujar Ki Gumilang.
Dan dengan nada terharu, Harwati berkata, “Terimakasih untuk ayah. Terimakasih untuk Ketua
Harimau Yang Enam atas dikabulkannya permohonan ini. Tapi kapan ayah menerima Guru
Gumara Peto Alam untuk melamar saya?”
“Pertama akan kujawab dulu soal yang sulit untuk dirahasiakan lagi. Kau tentu sudah melihat
bahwa ayahmu sudah berubah”, kata lelaki tua itu.
“Memang hari ini saya lihat ayah halus, tapi kepadaku berubah kasar, Toh ayah sayang pada
Gumara, dan sayang pada saya. Buat apa lama-lama ditunda perkawinan kami?” tanya Harwati.
“Perlu kau ketahui mengapa aku berubah watak?”
“Tidak perlu, yang perlu kawini kami segera”, ujar Harwati.
“Itu soal ringan. Tapi soal pelik yang menggoncang jiwaku sekarang ini mesti kau ketahui. Dulu,
ataupun malam ini, pada hakikatnya aku tak sudi kau mencintai Gumara, begitu pun aku tak sudi
Gumara mencintai kau, Apalagi Gumara kawin dengan kau!”
Harwati terdongak mendengarnya. Dia cepat membalik dan menuding.
”Kenapa ayah tidak semulia dulu?”
“Karena aku tak patut dimuliakan lagi. Tanyalah pada Ki Putih Kelabu, bahwa aku telah mencopot
gelar Ketuaku di Kumayan ini. Hanya karena Gumara. Lalu, apa masuk akal kalau lamarannya
kuterima?”
“Lidah ayah kini bercabang! Harimau yang aku segani, ayah yang aku hormati, kini lidahnya tak
dapat dipercaya lagi. Sebentar setuju, sebentar menolak. Di mana pendirian ayah yang Grafity,
sebenarnya?”
Lelaki tua itu hanya diam. Hatinya sedang membeku, Lalu secara mendadak dia tarik kaki kursi
kecil dan dia lempar kursi itu pada Harwati. Harwati kaget ketika ayahnya meloncat mau
menerkam dia. Dia terpaksa mengeluarkan tangkisan dengan tendangan melurus ke leher
ayahnya sampai ayahnya tersungkur. Tapi, kali ini sang anak terheran-heran. Pencak silat itu,
yang diajarkan ayah, sepertinya tak mampu ditangkis ayah, Kenapa? Jiwanya berubah, raganya
pun tidak memperlihatkan kemampuan bersilat seorang Ketua. Apalagi Ketua Macan. Dan
Harwati tambah kaget karena dilihatnya ayahnya pingsan! Jagoan pingsan?
Dan ternyata kemudian, sebelah badan ayahnya lumpuh. Harwati kuatir ilmu ayahnya yang dulu
itu sudah pudar. Mungkin sebagaimana ilmu itu rumah yang dikontrak penghuninya,
penghuninya pergi karena kontraknya habis.
Pagi buta, Harwati mendatangi Gumara. Gumara senang dan mengulangi ucapannya kemarin
“Terimakasih karena kamu yang pertama ketika saya sadar dari kemabukan aneh itu. Tapi tentu
terimakasih pada ayahmu yang baik hati. Dan barusan saja pergi Ki Putih Kelabu dari sini setelah
menjenguk saya”.
“Apa perlunya Putih Kelabu ke sini?” tanya Harwati.
“Mulanya kedatangannya ingin mengobati saya. Namun setelah dilihatnya saya segar bugar, dia
malahan heran. Setelah mengucapkan selamat sembuh, dia pergi. Barusan saja dia pergi”, ujar
Gumara.
“Hampir aku curiga atas kedatangannya”, kata Harwati.
“Apa lagi yang perlu kau curigai. Toh sebentar lagi aku menjadi suamimu dan kau jadi isteriku”.
Harwati tersenyum senang, lalu bertanya “Apakah tidak sebaiknya segera melamar?”
“Tak usah terburu-buru”, kata Gumara.
“Tapi ada kabar sedih. Ayahku lumpuh. Badannya mati sebelah. Aku kuatir ayah berlarut dan
mati, kita kehilangan waktu perkawinan yang tepat”, kata Harwati. Gumara tercengang
mendengar ayah Harwati bisa menderita sakit badan mati sebelah, Tapi Harwati tidak
menceritakan kejadian yang sesungguhnya.
“Kalau begitu aku perlu menemui beliau”” ujar Gumara.
“Maka pagi ini aku ke sini agak kepagian. Sebab selain hari ini hari Minggu, juga ayah sudah
memin
“Wah, kalau begitu sekarang sajalah kita ke rumahmu”, ujar Gumara.
Tak ada hal yang lebih menyenangkan bagi Harwati kecuali sikap Gumara Minggu pagi ini! Dia
memang tidak ingin terlambat, takut keduluan Pita Loka saja! Ya, siapa tahu Pita Loka mendadak
kembali dari perguruan sihir, lalu merebut hati Gumara dengan caranya sendiri?
Dan kedua pasangan insan itu melangkah. Jalan sunyi. Kesunyian itu bertambah lagi sunyinya
karena udara berkabut berhubung tibanya musim panas dl kawasan Kumayan. Harwati tiba-tiba
merasa perasaannya tak enak. Dia berbisik sembari memegangi lengan Gumara “Aku tiba-tiba
ngeri”.
Barulah saat ini Gumara menemukan pertanyaan yang selalu mengganggunya. Sejak tiba di
Kumayan yang dia teruji oleh beberapa orang lawan. Tapi semua bisa diatasi. Yang
mengherankannya ketika dihajar oleh Hura Gatali tempohari, dalam keadaan seperti teler dan
mabuk, dan masih bereaksi, cuma lamban. Tapi serangan Hura Gatali yang mengenai tubuhnya
tidak sakit. Seperti tidak lukanya dia dibacok golok sakti Lading Ganda di Bukit Menyan.
“Kaulah orang yang memberi jawaban dari pertanyaanku sejak kanak. Kenapa aku pandai
mengelak jika diserang. Yah, mungkin saja ini warisan dari ayahku”.
“Siapa ayahmu?” tanya Harwati.
“Aku cuma kagum cerita ibuku mengenai ayahku. Tapi tentu dia orang sakti. Ilmunya pasti
tinggi, sedemikian tingginya dia warisi pada diriku, kemungkinan ketika aku masih dalam
kandungan ibuku”, suaranya gembira, dan tanpa mereka sadari telah sampailah mereka ke
padepokan Ki Lebai Karat.
Begitu masuk ke rumah memberi salam, Gumara mempunyai perasaan bahwa rumah ini seperti
sedang mengalami perubahan. Entah apanya yang berubah. Dan dia terkejut melihat ayah
Harwati terbaring. Lalu disapanya ramah orangtua yang badannya mati sebelah itu.
“Jangan kalian berdua kuatir. Aku akan sembuh dan kuat perkasa lagi seperti masa mudaku. Apa
maksud kedatangan kau ke sini Peto Alam?”
“Pertama saya ingin menjenguk tuan yang sakit”, kata Gunnara.
“Lalu apa lagi, Peto Alam?” tanya ayah Harwati.
“Dia ingin melamar saya pada ayah”, potong Harwati yang tak sabaran. Sang ayah menatap
berang pada Harwati
“Kau sebaiknya tak mendengar kata-kata lamaran Gumara. Jika kau tak ngeri kesakitan kau tidak
akan luntur, ikuti nasehat ayahmu Kau keluar. Tinggalkan kami berdua. Dan jangan sekali-sekali
mengintip atau nguping apa yang kami bicarakan, mengerti?!”
“Mengerti, ayah”, ujar Harwati.
Dia sungguh-sungguh menepati janji. Dia malahan pergi ke sebuah kebun jeruk dan menikmati
keharuman limau-limau ranum itu.
“Aku hargai kau, Peto Alam, sebagai pria bujangan, bicara langsung melamar puteriku. Tapi aku
pun ingin menjawabuya secara jantan AKU MENOLAK LAMARANMU DAN TAK KURIDOI
JIKA KALIAN BERDUA KAWIN LARI”
Gumara terperangah. Airmatanya berlinang. Tapi anehnya, jiwanya tenteram dan langkah mereka berdua makin hati-hati. Derak suara dahan yang terpijak seakan menimbulkan gema. Kadangkala keduanya berhenti karena keraguan akan sesat. Mendadak Gumara merinding. Dan berbisik; “Bau apa yang kau rasakan?”
“Bau bangkai”, ujar Harwati. “Tentu ada salah seorang tua di sekitar sini”, ujar Gumara. Harwati mendadak merinding lagi. Dipegang eratnya lengan Gumara, lalu dia berbisik “Kau rasakan bau menyan?”
“Ya, bau setanggi”, ucap Gumara. “Kita berhenti dahulu”, ucap Harwati gemetaran.
Dia belum pernah segemetar pagi berkabut begini. Tadi pun sudah ada kabut ketika dia ke
rumah Gumara, lewat jalan ini juga. Tapi kini tambah tebal. Dan itu mempertebal kengeriannya kini !
“Ada bayang sosok mendekat”, bisik Harwati. Gumara berdiam diri. Mendadak angin kencang berhembus ketika bayangan sosok manusia mendekat itu semakin dekat. Kabut terusir oleh derasnya angin. Dan makin nyatalah siapa yang mendekat itu. “O, Kau, Hura Gutali”, ujar Gumara geram. “Apa yang kau mau lakukan?”
“Aku, bersama seluruh murid yang setia ke Ki Cangan siap menghabisimu. Dan kau harus tahu, ahwa Pita Loka sekarang sudah sealiran dengan kami. Kau berdua perlu dihabisi”, kata Hura Gutali.
“Ingatlah kau Jagoan muda usia. Bahwa siapa pun manusianya, di Kumayan ini harus mengenal pantangan. Disini pantang berdemdam,” ujar Gumara, yang mendadak dilihat Hura Gutali menjelma menjadi seekor harimau. Tapi Gumara sendiri tidak menyadari dirinya berubah bentuk. Geraknya bagai siap untuk menerkam. Dan Hura Gutali ingin mengalihkan perhatian Gumara dengan jalan seakan-akan hendak menerkam Harwati. Ketika Hura Gatali siap untuk melakukan, tendangan suara mengaum yang mengerikan Gumara sekaligus menerkam Hura Gutali. Hura Gutali berteriak kesakitan terkena cakaran, dan dengan meraung-raung kesakitan di melarikan diri. Sementara itu Harwati hanya berdiam diri bagai patung.
“Heran, ilmu apakah yang kau punyai sehingga dia meraung setelah kau serang”, kata Harwati. “Ilmu rasional saja, tanpa mantera. Ada aksi, ada reaksi. Tindakanku tadi diluar dugaanku, diluar kemauanku, datang saja secara mendadak”, kata Gumara. Cepat Harwati berkata, “kalau begitu ilmumu diwarisi ketika anda lahir. Jadi tanpa menuntut-nuntut!”
Lelaki tua itu batuk-batuk sejenak. Lalu, “Mari kulanjutkan alasanku menolak lamaran, Pertama kedatanganmu menemuiku karena disuruh ibumu, bila ke Kumayan, kau harus pertama kali menemuiku. Kau tahu, ibumu adalah wanita yang paling cantik? Dia bukan isteriku. Dia isteri seseorang yang malah tidak aku kenal. Dan ketika namaku termashur sampai jauh ke luar Kumayan, ibumu muncul ingin berobat padaku karena katanya dia mandul. Ingat, namaku ketika itu Ki Dukun Gumilang. Aku pada mulanya bukan berniat cabul pada ibumu. Tapi aku maupun dia, begitu saling pandang pertama kali, sama-sama jatuh cinta. Demikianlah, tiap dia berobat
padaku, kami melakukan hubungan gelap. Harap kau jangan sedih, itu semua bukan atas kemauanku. Lalu dia hamil. Sejak hamil tua dia tak ke sini lagi hingga hari ini. Sempat aku pesan padanya, agar kalau dia melahirkan, berilah nama anaknya Peto Alam. Tapi entah bagaimana dia menambah nama itu menjadi Gumara Peto Alam. Dalam bahasa kami di sini, dalam kamus kuno, Peto artinya Putera. Jadi Gumara adalah putera alam. Tapi kenapa kau tidak sedih?” Gumara berdiam diri. Dia terus berdiam diri. Tapi dalam diam itu jantungnya bergerak teratur, dan batinnya menyatakan ingin mengobati Ki Lebai Karat dan ingin mengembalikan wibawanya. Lalu dia menoleh pada Ki Lebai Karat. Lelaki tua itu terheran-heran, “Izinkan aku menyebut tuan dengan sebutan Ayah. Aku tak menolak takdir ini. Kuterima takdir ini. Coba bangunlah ayah, semoga ayah telah kusembuhkan”.
Ki Lebai Karat tercengang. Dia langsung bisa duduk. Dan tetap tegar berdiri. “Bagaimana caranya melunakkan hati Harwati? Bukankah dia adikmu, biarpun adik tirilah namanya namun dia sedarah denganmu, sama-sama titisanku!”, ucap Ki Lebai Karat.
“Akan kurubah secara berangsur lewat kekuatan batin yang kini makin yakin aku, bahwa ini kumiliki sebagai rahmat Maha Pencipta Alam, secara gaib. Ayah tak perlu merisaukannya. Aku akan mencoba secara sabar dan berangsur-angsur agar cintanya padaku pupus perlahan.” Gumara semakin tenang. Juga dia tenang tanpa haru ketika Ki Lebai Karat, ayah kontannya, memeluknya erat. Dan ketika itulah Harwati masuk lagi dan mendapatkan Gumara dan ayahnya sedang berpeluk erat. Dia tentu mengira, lamaran Gumara diterima ayahnya. Padahal perkiraan itu meleset. Perkawman itu tidak akan terjadi, tidak pernah akan dia alami, selama-lamanya. Ketika Gumara pamitan, Harwati melepas kepergiannya dengan hati yang sangat-sangat bahagia. Ki Lebai Karat pun lega saat itu, dan beliau pantas merasa bahagia yang paling bahagia da!am hidupnya.
TAMAT
(Berlanjut ke episode: Misteri Tirai Setanggi)
Grafity, http://admingroup.vndv.com

Misteri Tirai Setanggi

Lebah-lebah itu berbunyi mengerikan ibarat skuadron tempur pesawat udara. Lama -kelamaan keadaan itu semakin mengerikan. Dan gua tempat lebah-lebah yang jutaan jumlahnya itu amat gelap. Tetapi aneh sekali. Ada satu lingkaran asap yang tidak dapat diterobos oleh lebah itu. Lingkaran itu bagai sebuah dinding asap, sampai ke langit-langit gua itu. Dan di balik asap itu agak samar tampak benda kemerahan bergerak-gerak. Ternyata itu sebuah obor yang disulut pada tonggak pohon karet. Maka api obor itu sepertinya abadi. Melelehkan getah. Akan jelas kemudian, ada sosok yang sedang duduk bersila di sana . Dia lama kelamaan jelas seorang wanita, yang rambutnya panjang. Dan memang dia wanita dengan wajah cantik tapi seram. Dia, tak lain tak bukan, adalah Pita Loka. Dia rupanya sedang bersemedi. Satu perputaran suara sepatah kata dengan teratur dan amat halus bagai nada tunggal di antara suara lebah yang berdengung. Mendadak suara tunggal itu yang terdiri dari lima huruf menjadi secepat kilat. Dan tampak Pita Loka yang semula duduk bersila bagai patung itu memulai satu gerakan. Telapak tangannya yang semula bagai lengket di ujung dengkulnya tambah tergenggam. Lalu tinju itu serentak Terangkat sebatas dada. Dan tinju itu bagai secepat kilat menghantam dada Pita Loka seperti dia sedang menyiksa diri. Lalu dengan gerak bunga, Pita Loka serentak berdiri tegap. Tinju terkepal itu memukul dadanya sendiri sekali lagi dan dia berteriak: “Huah!” Dan sosok yang berada di luar gua saat itu seketika menjadi kaget. Dia bersembunyi di pinggir pintu gua. Sosok itu mendadak mendengar suara Pita Loka yang meneriakinya: “Aku tahu di luar ada musuh!” Sosok itu semakin ngeri. lalu menghindar. Rambutya yang sudah seperti berlumut dan mirip ijuk itu dia sibakkan. Wajahnya mengerikan. Dan tidak dinyana bahwa sosok mengerikan ini adalah wanita. “Aku tahu kau mencariku untuk menuntut balas”, ujar Pita Loka, yang seketika sudah berdiri di pintu gua. Beberapa ekor lebah hanya berada di belakang Pita Loka ibarat dinding yang menutupi pintu gua. “Kau percuma melawanku”, ujar Pita Loka dengan mata melirik ke kiri. Rupanya lirikan itu tepat sekali. Sebab sosok wanita berambut ijuk mengerikan tadi memang sedang bersembunyi di sebelah kiri. Pita Loka berteriak dahsyat: “Hai keluar kau konyol!” Tepat seketika itu juga. wanita seram itu mengayunkan tongkat rotan yang panjangnya tujuh hasta itu. Tongkat itu hampir saja menghantam muka Pita Loka. Jika dia tidak segera menangkis dengan telapak tangan kirinya. Tongkat itu bagai menghantam karet, membal berbalik. Karena wanita seram yang memegang tongkat itu memegang gagangnya begitu kuat, ketika tongkat itu berbalik membal, seketika dia ikut terpelanting bersama tongkat yang dipegangnya. Ia terjatuh sekitar duapuluh meter dari tempat Pita Loka masih berdiri tegap. “Kau jangan bangkit berdiri lagi! Percuma kau melawanku !” teriak Pita Loka. Wanita misterius yang seram itu tampaknya gentar juga mendengar ancaman Pita Loka tadi. Lalu dia mendapat akal licik untuk megelabui Pita Loka: “Aku datang ke Gua lebah ini atas perintah Gumara”. “Gumara? Kau berdusta”, kata Pita Loka. “Aku membawa suratnya”, kata wanita seram itu. Karena Pita Loka masih tercengang, wanita misterius tadi melanjutkan tipu muslihatnya. “Ini aku simpan dalam bajuku. Karena aku tak kuat bangkit, harap kau ke sini dan mengambilnya dari bajuku”. Pita Loka tergoda juga untuk mengetahui isi surat Gumara ttu. Cintanya pada Gumara tidak pernah luntur semenjak dia patah hati dan menghindar dari kehidupan dunia biasa. Dia sudah benar-benar terpisah dari dunia kehidupan normal di Kumayan. Mendengar nama Gumara, bulu roma Pita Loka merinding. Dia turun dari tangga gua itu yang terbuat rapi dari susunan batu- batu kali. Melihat Pita Loka turun itu, wanita buruk muka itu pun semakin berpura-pura merintih. Dia pernah mendengar kelemahan utama Pita Loka sekalipun namanya sudah kesohor dengan ilmu sakti yang tinggi. Rumput ilalang dikuakkan oleh kaki Pita Loka ketika dia melangkah dengan hati-hati menuju wanita buruk muka itu. “Buanglah senjatamu itu. kawan”, ujar Pita Loka. “Senjata itu tidak berarti apa-apa bagimu. Jika kau jujur kawan, tentulah aku akan memberikan setetes saja ilmuku yang melebihi kesaktian tongkatmu itu”. Mendengar dirinya dijuluki “kawan” oleh Pita Loka, wanita berwajah buruk itu semakin mempertinggi semangat liciknya. Dalam hatinya dia berkata; “Aku tidak sudi menerima hadiah ilmu dari kau. Aku justru akan merampok ilmumu!” Namun dia mempermainkan senyumnya dengan maksud manis kendati dia tetap saja jadi buruk. Seharusnya Pita Loka melihat mulut yang mengunyah-ngunyah itu. Tapi godaan dalam jiwanya yang bergelora untuk melihat surat Gumara itulah yang membuat dirinya lengah. Dia terus menghampiri dan mau saja dikibuli oleh wanita buruk muka itu, yang berkata ramah manis: “Tolong ambilkan surat itu di balik kutang bajuku”. Pita Loka berjongkok karena wanita buruk itu belum berdiri jua. Ketika Pita Loka menyatakan “maaf” sebelum tangannya masuk ke balik baju, wanita yang mengunyah itu melihat ubun-ubun kepala Pita Loka. Daun kelor yang sudah lumat itu menemplok tepat pada ubun-ubun Pita Loka. Pita Loka seketika itu juga roboh. Dia terguling di atas rerumputan. Wanita buruk muka itu dengan tegap berdiri dengan tumpuan tongkatnya. “Kau hina tongkat saktiku ini kau cobakan rasanya!” bentak wanita buruk muka itu seraya mengayunkan tongkat dan memukul punggung Pita Loka. Pukulan itu begitu kuat sehingga membuat Pita Loka dari telungkup lantas terlentang. Dia benar-benar dalam keadaan tak sadarkan diri. Dan wanita buruk muka itu kini meninju pintu gua. Dia mendadak kecut menghadapi lebah-lebah yang sepertinya menghadangnya. Ya. lebah-lebah itu ibarat dinding dengan suara hidup yang mengerikan. Mendadak akal liciknya mulai menguasai otaknya. Dengan tongkat tetap di tangan, dia berbalik kembali mendapati tubuh Pita Loka yang tergeletak. Dia menggerayangi tubuh Pita Loka. Ah, wajahnya kelihatan berkobar bagai api nyala sewaktu menemukan biji-biji tasbih yang melilit bagai ikat pinggang. Tentu biji-biji ini memiliki mukjizat, pikirnya. Langsung saja dia lucuti. Dan dia kenakan pada pinggangnya. Dugaan liciknya tadi memang terbukti. Ketika ia kembali ke pintu gua. Dia melihat lebah-lebah itu sebagian menyingkir. Hal ini memudahkan baginya melangkah tanpa kuatir kena sengat, dia berjalan dengan langkah bangga menuju dinding asap yang mirip tirai sutera itu. Di sini indera hidungnya merasakan bau stanggi. Dia agak kuatir menerobos tapi karena dalam dadanya bergelora keinginan serakah untuk merampok ilmu kesaktian Pita Loka, dia langsung menyerbu menerobos dinding asap itu. Kontan seketika itu juga dia menjerit melolong keras, karena dari dalam tanah menyerbu ular-ular belang hitam kuning. “Tolong . ..” teriaknya. Sementara itu, beberapa ekor lebah seperti binatang jinak sedang mengantup antup ubun-ubun Pita Loka. Pita Loka mulai sadarkan diri karena nyeri terkena antupan tawon-tawon itu. “Terimakasih binatang-binatangku yang baik” ujar Pita Loka segera bangun. punggungnya dirasanya nyeri ketika berdiri. Tapi dia cepat menempelkan jempol jarinya pada langit-langit mulutnya. Dengan meggosokkan ujung jempol itu ke tempat nyeri, segera otot yang tadi kena gebug itu pulih susunannya. Pita Loka sadar, bahwa wanita si buruk muka tadi sudah memasuki gua. Dia melangkah cepat menuju pintu gua. Dan ketika dia menerobos memasuki tabir asap setanggi itu, Pita Loka terseyum mendapatkan wanita buruk muka tadi. Ular belang piaraan Pita Loka yang menggigit wanita buruk muka itu, sudah memulihkan keburukan lukanya itu dengan bisa penyembuhan. Tapi memang untuk sementara wanita yang berubah jadi cantik itu harus pingsan sementara putaran setengah matahari. “Harwati . . . “. Pita Loka bergumam.”ilmu apa yang kau sudah pelajari hingga kau begini busuk hati?” Namun, Harwati yang diajaknya bicara itu tiada mendengar. Antupan bisa ular masih dalam proses pengobatan sampai kelak Harwati akan mantap menjadi manusia biasa, seperti apa adanya. Ilmu hitamnya yang buruk itu, seburuk wajahnya yarag mengerikan itu. akan musnah setelah putaran setengah matahari nanti. Dan saking ngebetnya untuk mendapatkan surat Gumara seluruh tubuh Harwati digeledahnya. Pita Loka terpaksa tutup hidung, sebab tubuh yang bagus itu bau. Memang inilah ciri ilmu hitam, yang pantangannya adalah mandi. Pita Loka tersenyum sinis: “O, betapa malang nasibmu Wati!” Dan enam jam setelah lewat masa pingsannya, wajah yang semula melepuh karena mengidap Grafity, ilmu hitam itu berangsur berubah menjadi licin. Mata Harwarti melek. Dia seperti keheranan dan berseru: “Pita Loka!” Dan Harwati tampak keheran-heranan melihat keadaan sekitar. Dia melihat obor yang menyala lestari. Dia melihat tabir asap yang muncul dan permukaan bumi dalam gua itu. “Begitu lama kau mengasingkan diri di sini?” tanya Harwati. “Dan kau? Berapa lama kau tidak mandi?” tanya Pita Loka. Pita Loka lalu tersenyum sejenak dan berkata: “Coba resapi bau tubuhmu itu dengan hidungmu!” “Ah bau sekali” kata Harwati kemalu-maluan setelah mencium bau tubuhnya. “Dengan siapa kau belajar, Wati?” tanya Pita Loka. “Seorang guru tua. Ki Rotan, apakah kau pernah mendengar namanya?” “Aku tahu siapa dia. Ketika aku menjelang sampai ke Gua Lebah ini, aku melewati hutan rotan. Seorang udik mengajak aku belajar pada Ki Rotan dengan syarat tidak menikah seumur hidup. Tapi akhirnya aku melarikan diri hingga sampailah aku di sini. Apa kabar Gumara sekarang? Dia tidak jadi menikah dengan kau, barangkali?” Harwarti hanya meggelengkan kepala. “Dia saudara seayah denganku”. katanya, yang membuat Pita Loka terkejut yang tak dapat disembunyikan lagi. “Kalau begitu aku berminat untuk meninggalkan gua terasing ini”. kata Pita Loka. “Ingin kembali ke Kumayan?” tanya Harwati. “Ya”, sahut Pita Loka. “Kalau begitu berikan ilmu kesaktianmu untukku!” ujar Harwati bersemangat. Pita Loka terdiam. Lalu menggelengkan kepala dan berkata: “Tidak bisa seluruhnya. Hanya setetes yang bisa kuberikan padamu. Dan sia-sia jika kau menganggap kesaktian ilmuku dari biji tasbih yang seribu biji ini. Tidak, Bukan di sini kekuatan ilmuku!” “Ajari aku!” kata Harwati. “Jiwamu harus bersih dari segala nafsu apa pun, baru kau mendapatkannya. Dan itu sulit bagimu. Harwati! “ kata Pita Loka dengan ucapan mantap. “Kenapa?” “Karena aku melihat dalam dirimu ada sikap tak jujur, iri hati, serakah. Tapi yang akan lebih menyulitkan kau adalah sifatmu yang suka berkhianat”. Itu diucapkan oleh Pita Loka dengan polos. Tanpa minta maaf lebih dulu. Ditatapnya mata Harwati. Dan Harwati yang memiliki sifat “rai gedeg” itu tidak memperlihatkan perasaan tersinggung. “Lalu untuk apa sebenarnya kau datang ke Gua Lebah ini, Wati?” Dengan nada selingkuh Harwati menjawab :”Aku belajar padamu!” “Betul?” “Betul”. “Dan siapakah gerengan yang menyuruh kau belajar padaku?” “Tidak ada. Hanya atas kemauanku sendiri”. ujar Harwati. Dan dia sudah berdusta. Tampaknya permainan dustanya itu begitu hebat, sehingga tak diketahui Pita Loka. “Lalu, apabila kau sudah mendapatkan ilmuku, apa yang hendak kau lakukan?” “Terserah pada Guru. Kau Guruku. Seorang murid harus patuh pada perintah sang Guru”, kata Harwati. “Bagus. Jadi kau ke sini secara mutlak ingin mendapatkan ilmu Sakti dariku. Tanpa ada yang meyuruh”, kata Pita Loka. “Ya, tanpa ada yang menyuruh”, “Pada Ki Rotan ilmumu sudah tamat?” “Aku justru melarikan diri. Aku diberi makan cacing-cacing. Aku tak diperkenankan tidur sepicing mata pun!” “Kasihan”, kata Pita Loka. “Dan bagaimana persyaratan mendapatkan ilmumu?” tanya Harwati. “Tidak bisa tidur itu termasuk mutlak. Hal itu ada dalam tuntutan ilmuku. Tapi berapa lama kau sudah menjadi murid Ki Rotan?” tanya Pita Loka. “Baru pada tahap pertama. Hanya seratus hari. Hal ini kulakan setelah aku patah hati. Karena ternyata Gumara adalah saudara seayah dariku, lain lbu”. “Oh, senang aku kali ini mendengar kejujuranmu. Tapi tahukah kau berapa lama kau harus belajar sampai dapat setetes ilmuku?” “Setetes? “ Harwati kaget. “Nah itu satu bukti kau serakah. Setetes ilmuku yang kau dapatkan itu harus kau tempuh dalam waktu 1000 hari, lebih dari 2 tahun setengah!” Harwati tersenyum licik dan berkata: “Kalau belajar dengan kau, buatku 1000 hari tak mengapa. Aku akan menjadi murid yang tekun, Pita Loka!” Diantara belitan pohon-pohon rotan yang rapat, Ki Rotan pada waktu matahari terbenam mendadak sontak berkelit seperti menangkis serangan. Dia seperti merasa mendapat serangan halus dari arah kulon. Dia berkelibat lagi memasang kuda-kuda seakan musuh sudah dalam jarak lima depa saja. Lima orang muridnya ikut berkelibat. “Ada apa Ki Guru?” tanya Pongga. “Ada yang berkhianat!” “Utusan tuan Guru?” “Ya. Puteri Ki Karat bangsat itu! Dia kuutus untuk mencuri ilmu Ki Pita Loka. taunya berkhianat”. “Ini matahari sudah terbenam dua kali. Dia belum juga kembali!” dan Ki Rotan berubah menjadi macan tutul beringas. “Perlu saya menyusul?”“ tanya Pongga. “Tidak perlu! Kalau perlu saya yang menyusul. Dua kali matahari terbenam Harwati belum kembali, itu berarti ada dua kemungkinan: Pertama, dia berkhianat menuntut ilmunya Ki Pita Loka. Kedua, kemungkinan dia salah siasat lalu mati dibunuh” Dugaan Ki Rotan meleset. Harwati tidak berkhianat. Dan Harwati tidak dibunuh. Dia dengan tekun sehari suntuk sejak matahari terbit sampai terbenam. mengangkat batu kali menuju gua, itu adalah latihan pertama yang harus dilakukanya selama 40 hari matahari terbit dan terbenam. Memang latihan itu amat berat. Tapi menurut Pita Loka, ketika dia mendapat ilham dari ilmunya yang sekarang dia miliki ini hal yang dia perbuat sama seperti Harwati. Harwati sendiri belum melihat setinggi apa mutu ilmu Pita Loka. Tapi setiap pagi dia melihat betapa terlatihnya Pita Loka melompat dari pohon ke pohon yang jaraknya sekitar 20 hasta, tanpa berpegangan tangan. Dan bila matahari tegak lurus di langit, Pita Loka turun dan latihan lompat melompat itu dengan membawa berbagai macam buah-buahan. Dengan makanan buah itulah makan siangnya. Di sekitar wilayah kekuasaamya ini tidak pernah mereka makan nasi. Pengalaman Harwati di perguruan Ki Rotan masih makan buah-buahan umbi yang direbus. Kadang kalau Pongga berhasil merampok, perbekalan beras cukup untuk dua minggu di perguruan. Biar pun jatah beras atau makan nasi atau ubi rebus tidaklah banyak, tapi di tempat Pita Loka ini rasanya suasana perbekalan makanan haruslah seadanya. Dan mengangkut batu-batu kali yang besar itu menguras tenaga dan membuat perut gampang lapar. “Apa kau tak kuat?” tanya Pita Loka di hari ketiga. “Kuat”, ujar Harwati. “Jika kau tak kuat, kau boleh kembali ke padepokan Ki Rotan”. “Tidak. Aku akan betah di sini”. Dan tanpa diduga rupanya hanya tujuh hari Harwati yang diberi jatah makan buah-buahan di siang hari. Pada malam menuju hari kedelapan, Harwati mendengar kata-kata gurunya; “Mulai hari kedelapan sampai hari ke limabelas, kau tidak dapat jatah makan buah-buahan siang. Tapi bukan kau saja. Aku ikut tak makan siang”. Sungguh letih pada hari-hari harus berpuasa menunggu sembari mesti mengangkat batu kali. Tetapi setelah dialami, memang dia mampu juga. Dan tidurnya sehabis berbuka ketika matahari terbenam, amatlah nyenyak. Dan ketika memasuki hari selikuran, Pita Loka berkata: “Ini hari ke-21 kau belajar. Tugasmu sekarang ini, sampai hari ke-40 adalah memulangkan kembali seluruh batu yang kau angkut ke Gua.” Harwati melotot kaget: “Memulangkannya kembali? Jadi apa gunanya diangkut?” “Semua latihan ada gunanya”, sahut Pita Loka. “Ki Pita, apa ini bukan olok-olok?” “Kau tak boleh membantah. Sekali lagi kau membantah kau akan aku usir kembali ke padepokan Ki Rotan”, kata sang Guru mengancam. Dengan perasaan jengkel, takut dan kuatir, Harwati mengikuti mata pelajaran yang baginya belum jelas itu. Dua hari menjelang hari ke-40, Harwati tergelincir ketika membawa batu kali ke kali lembah di bawah sana itu. Pita Loka bagai terbang dari pohon ke pohon dengan lompatan-lompatan yang agak mirip lompatan orang hutan. Dan dia mendapati Harwati di bawah dalam keadaan tidak pingsan. Pita Loka tersenyum dan menepik bahu Harwati: “Berdirilah dengan tegap. Kau baru mengalami jatuh satu kali. Ketika aku belajar lewat ilham, aku mengalami 7 kali jatuh. Kau bakal menjadi murid istimewa, Wati”. Pujian itulah yang mendorong semangat Harwati mengangkut batu dari gua ke lantai lembah. Dan sampai hari ke-40 itu selama dua hari dia mengalami jatuh tergelincir sebanyak 6 kali. “Baru aku tahu”, ujar sang Guru, “Tiap mata pelajaran akan mengalami 7 kecelakaan”…… Tengah malam ketika Harwati tidur pulas, Pita Loka masih memandangi bintang gemintang di langit yang biru kelembayungan. Sekitar setengah jam lagi, Pita Loka mesti melakukan upacara penting kenaikan tingkat ilmu. Yaitu awal dari pengisian ilmu pada muridnya. Kembang tujuh rupa sudah disiapkan dalam segentong air. Nanti tepat ketika bulan itu menyudut 45 derajat berarti tengah malam tepat, Harwati akan dimandikan dengan guyuran air kembang itu. Tapi waktu setengah jam itu masih cukup lama, pikirnya. Dia meresapi tatapannya ke bintang Kejora yang sinarnya gemerlap itu. Mendadak dia mendengar suara gemersik di sekitar sebelah kanan pintu gua. Pita Loka melirik ke sana . Memang ada sosok yang sedang menyusup di sela empat batang pohon langsat. Pita Loka membalikkan tubuhnya membelakangi sosok yang mendekati itu. Sosok itu semakin merasa aman. Makin jelas jika dilihat seksama, dia mengenakan destar merah darah. Ya. Pita Loka pun sudah tahu bahwa manusia yang mau menggempurnya adalah Ki Rotan. Dia tenang-tenang saja menghadapi kemungkinan itu. Tetapi, lima huruf yang terjalin dalam satu perkataan itu sudah mulai mengisi seluruh urat darahnya. Lidahnya bergerak, dan gerak lidah yang mengucapkan satu perkataan abadi itu semakin bergetar cepat, dan seluruh urat darah Pita Loka seakan sudah terisi dengan sekian juta kata-kata yang digerakkan lidahnya. Ki Rotan sudah berdiri tegap dari gerak semula yang merunduk. Tongkat di tangannya sudah siap untuk dihantamkannya ke kepala Pita Loka. Kalau diteliti, jarak tegaknya Ki Rotan dengan Pita Loka adalah syarat yang cukup untuk menghantam kepala Pita Loka sampai hancur. Yang gelisah justru lebah-lebah itu. Lebah-lebah itu sepertinya tak sabar untuk keluar dari pintu gua. Tapi melihat ketenangan majikan yang memeliharanya, lebah-lebah yang gelisah itu akhirnya seperti berbisik-bisik saja. Mendengar suara lebah itu berbisik. Ki Rotan jadi ragu. Bahkan dia makin tegang. Keringat dingin mulai mengalir sementara peganganya pada gagang tongkat semakin kuat. Mendadak Ki Rotan bagai mengamuk berteriak nyaring sembari menghantamkan tongkatnya tepat di tengah batok kepala Pita Loka. Dari permukaan kepala itu tampak bagai kilat disertai bunyi pecahan kaca. Tongkat itu sendiri setelah menghantam sasaran karena dipegang amat kuat gagangnya oleh Ki Rotan membuat Ki Rotan membal ke udara. Namun ia jatuh kembali ke bumi dengan pegangan tongkat yang kukuh dan telapak kaki tegak perkasa. Ki Pita Loka, yang masih berdiri tenang, dengan kedua tangan berlipat di dada, lalu membalik 90 derajat, ketika mana satu hantaman tongkat menghantam leher kirinya. Tapi kembali tongkat itu membal bersama Ki Rotan yang juga terlempar ke kiri. Pita Loka maju selangkah. Ketika Ki Rotan mengayunkan tongkatnya lagi mau menghantam leher kanan Pita Loka, ketika inilah Ki Pita Loka menyambut hantaman itu dengan tangan kirinya, kemudian tongkat yang sudah terpegang itu dia pusingkan melingkar di atas kepalanya. Ki Rotan seperti dipermainkan ibarat sirkus dengan keraguan tak berani melepaskan pegangan tongkatnya. Setelah sekian putaran mempermainkan Ki Rotan begitu tepat pada waktu pegangan Ki Pita Loka dia lepas hingga Ki Rotan dan tongkatnya menyerbu masuk pintu gua yang terdiri dari rubungan lebah-lebah. Lebah-lebah yang terkena tabrakan itu seketika itu juga jadi marah dan begitu Ki Rotan ambruk di sekitar pendapa gua, langsung saja dia dikerubuti lebah-lebah yang ribuan jumlahnya. Aneh sekali. Keadaan yang menghebohkan itu tidak membuat Harwati terbangun. Ketika Ki Rotan sudah diantup habis-habisan oleh pasukan lebah itu, tanpa bisa bergerak lagi, waktu itulah Ki Pita Loka memasuki pintu padepokanya itu dengan langkah tenang. Dia bangunkan Harwati. Tapi dia tak memberitahu apa yang terjadi agar konsentrasi Harwati jangan meleset Harwati dituntunnya menuju gentong besar yang terbuat dan tanah liat selama selikur hari dulu, di kala ia menuntut ilmu pertamakali sebelum Harwati diguyurnya, Ki Pita Loka mengajarkan satu perkataan yang terdiri dari lima hurup. Dan perkataan itu diulang-ulangi dengan lidah sampai meresap. Dari lambat semakin cepat. Dan begitu Harwati selesai diguyur…dia kemudian pingsan. Ketika itulah Harwati digotong oleh Pita Loka dan ditaruh di atas susunan batu batu, yang selama ini menjadi tempat tidurnya. Dan dalam tempo seperempat jam, Harwati kembali sadarkan diri. Begitu dia sadarkan diri dia kaget seketika karena dia sudah dalam keadaan berpakaian. Padahal tadi rasanya dia masih mandi diguyur. Harwati duduk. Dia tiba-tiba terdongak kaget melihat sosok yang membengkak, Ki Rotan, dalam keadaan mengerikan. Sungguh luar biasa! Harwati tercengang karena Ki Pita Loka, Gurunya, justru sedang melakukan pengobatan atas diri Ki Rotan. Pengobatan itu pun amat sederhana. Hanya ibu jari sang Guru digosokkan pada langit-langit mulutnya, lalu jempol itu diusapi pada kening Ki Rotan, dan bengkak di seluruh tubuh Ki Rotan jadi kempis. Ki Rotan sadarkan diri secara amat mencengangkan. Dia melihat Harwati dan berkata; “Kau murid yang tak pernah berhenti durhaka, Wati” “Sebaiknya anda pergi, Ki Rotan. Semua yang anda alami, merupakan bukti, bahwa saya ini bukan lawan anda” kata Ki Pita Loka. Harwati diam sembari memikirkan sesuatu. Sesuatu yang tak mungkin terbaca oleh perasaan Ki Pita Loka. Ki Rotan berdiri. Ketika ia mencari tongkatnya, Ki Pita Loka memberi tongkat itu kepadanya. Seraya berkata: “Ilmu yang anda punyai hanya sepanjang tongkat yang anda pegang”. “Tapi ilmu Tuan Guru pun sebanyak asap stanggi yang mengepul itu. Bila asap itu habis. Habislah ilmu anda, Ki Pita Loka”, kata Ki Rotan. “Sudah jangan banyak bicara lagi. Anda sudah saya usir secara baik-baik, Ki Rotan. Jangan masuki wilayah ini lagi, kecuali jika anda mau tidak selamat”, kata Ki Pita Loka. Namun dengan getol Ki Rotan menjawab: “Tahukah anda selain saya sekarang ini banyak lagi orang yang ingin mendapatkan Pedang Raja Turki dan Kitab Makom Mahmuda yang anda sembunyikan? Untuk itulah saya ke sini!” Ki Pita Loka terdongak kaget. Dia memang pernah menyaksikan dua benda yang disebut Ki Rotan itu. Tapi bukan dalam keadaan nyata atau konkret. Tapi hanya dalam enam kali mimpi! “Anda kaget dengan ucapanku, bukan? Pernah kutemui seorang pengembara tua, namanya Ki Ibrahim Arkam. Dia mengira akulah yang memiliki dua benda sakti itu. Dari dia aku mengetahui. Dan kini anda terkejut! Hah, jangan kuatir, Guru besar . . . saya akan kembali!” Menjelang dia melangkah berlalu, dia menoleh pada Harwati dan berkata dengan sopan: “Belajarlah dengan baik padanya. Lalu ambil ilmunya!” Harwati jadi gugup. Dia kuatir dianggap Ki Pita Loka pada suatu saat akan berkhianat. Begitu pun setelah Ki Rotan berlalu, dia tanpa diminta berkata: ““Tuan Guru, aku tidak akan mengkhianati anda!”. “Oh, buatku sama saja. Kau belajar padaku, setia atau berkhianat itu sama saja”, kata Ki Pita Loka. Lalu Ki Pita Loka bertanya pada Harwati: “Pernahkah kau dengar tentang Pedang Raja Turki itu?” “Tidak, Ki Guru!” “Pernah kau dengar tentang Kitab Makom Mahmuda?” “Juga tidak, Ki Guru!” “Lalu untuk apa kau datang ke sini?” “Hanya ingin belajar”. “Setelah selesai?” “Saya siap menjad pengawal anda”. kata Harwati. “Sekiranya Guru Gumara mendadak datang ke mari, apa tindakanmu?” Harwati cepat menjawab: “Saya anjurkan pada saudara tiriku itu agar menjadi pendamping anda!” “Dusta!” Ki Pita Loka menuding marah. “Kau kira aku tidak tahu isi hatimu? Kau mencintai Guru Gumara, betul kan ?! “ Terkena tanya yang amat mengerikan ituu, Harwati sigap menjawab: “Tidak! Kami lahir dari satu ayah. Mana mungkin dua anak Ki Karat saling mencintai? Apalagi menuju ke jenjang suami isteri? Cuma anda, Ki Guru yang mulia, yang masuk akal untuk menjadi pendamping Guru Gumara!” “Ucapanmu menghibur”, kata Ki Pita Loka. “Itu logis. itu masuk akal!” kata Harwati. “Beda denganku. Aku satu titiisan darah dengan dia” “Oh, begitu”, mata Ki Pita Loka lalu menjadi berbinar menahan marah, dan dia menuding lagi: “Kau mendustai aku ketika pertama kali kau datang mengecoh diriku, mengatakan membawa surat Guru Gumara. Atas dasar apa kau kecoh diriku dengan surat dustamu?” “Supaya saya diterima Tuan Guru dengan baik”, kata Harwati. Ki Pita Loka merasa ada bunyi berdenging dari arah tirai stanggi itu, pertanda tak baik. Dia langsung sadar bahwa iblis sedang menggodanya. Lalu dia berkata: “Mari kita habisi cerita Gumara. Kau tidak akan mendapatkannya seperti alasan yang kau katakan, dan aku pun tidak akan mendapatkannya karena alasan pribadiku pula” “Alasan apa. Tuan Guru, jika boleh saya tau?” tanya Harwati. “Syarat terberat, bahwa aku tidak boleh tergoda pada lelaki mana pun. Jadi ini berarti: termasuk Guru Gumara. Mari kau kutambah dengan tingkat ilmu lebih tinggi!” kata Ki Guru Pita Loka. Ki Rotan, sementara itu melangkah sempoyongan tanpa tahu arah lagi. ia beteriak-teriak di tengah hutan belantara. dan kehilangan arah mencari Bukit Rotan, padahal ia harus kembali ke padepokan. Sekonyong, sehabis suaranya menjadi serak karena beteriak, dia tercengang sudah tiga minggu perjalanan ternyata tersesat ke Bukit Tunggal! Ki Rotan gugup dan ketakutan. Sebab sudah menjadi ajang dongeng selama ini, siapa pun yang masuk ke wilayah Ki Tunggal maka jika tanpa izin, pasti akan mengalami hukuman. Ki Tunggal adalah Guru dari Semua Guru, sungguh pantangan menemui beliau tanpa ada petunjuk sebelumnya. Pondok padepokan Ki Tunggal seluruhnya terbuat dari daun nipah. Itu sudah tampak dari jauh oleh Ki Rotan. Tapi beradanya Ki Rotan di kawasan Bukit Tunggal sudah pula diketahui oleh Ki Tunggal. Kendati beliau ketika itu berada dalam kamar petapaannya. Dia melihat seorang lelaki sempoyongan di bawah pohonan cendana. Menuju Pondoknya. Dia melihat bukan dengan mata! Tapi dengan hati. Dan dengan ilmu gelombang dia lingkari tamu tak diundang itu, agar masuk ke dalam orbitnya. Dan memang, Ki Rotan berjalan sempoyongan seperti ditarik oleh magnet. Kekuatan daya tarik, yang membuat dia seakan-akan menyerah oleh tarikan itu. “Hai, Ki Rotan, sibakkan daun pintu itu. Dan masuklah”, terdengar suara Ki Tunggal dari dalam. Hal ini membuat Ki Rotan ngeri, tapi dia senang juga karena mendengar keramahan suara Guru Besar tadi. Dia sibakkan pintu daun nipah itu. Dengan amat santun dia masuk. Tapi tak ada orang. Dia lalu ngeri dan bagai orang mabuk dia ingin muntah-muntah. Lalu dia menggelepar-gelepar di lantai tanah liat itu, namun tetap memegang tongkatnya. Satu-satunya yang masih Grafity, sadar dia lakukan! Begitu Ki Tunggal muncul dari bilik pertapaannya, maka Ki Rotan pun berhenti menggelepar. Tubuh yang lemah itu lalu merangkak, dan dia ciumi kaki Guru Besar itu seraya berkata: “Ampuni aku, Raja dari semua Guru! Aku kesini tersesat!” “Aku tahu. Aku juga tahu, kau baru keluar dari tawanan Ki Pita Loka. Harap kau tidak menghampiri dia lagi, kecuali jika aku sudah mati. Masa istirahatku sudah dekat. Jadi aku akan lebih terbuka kepada siapa pun yang datang. Dan aku tahu. kau datang tanpa kau sengaja!” “Betul, Guru Besar”, Ki Rotan bersemangat, mencium kaki sang Guru lagi. “Sekarang, berhentilah menciumi kakiku. Kakiku hanya suci selama 100 tahun saja. Jika kaki ini melanggar debu. Itu berarti masa tugasku berakhir. Bukit Tunggal ini akan menjadi bernama Bukit Tinggal, karena dia kutinggalkan. Lalu, kau ke sini karena menginginkan sesuatu?” “Ya, Ki Guru mulia!” “Sebutkan apa yang kau inginkan?” “Sebuah Kitab”. “Oh, anda akan gila seperti muridku Ibrahim Arkam menginginkannya. Kitab itu sudah ditemukan oleh seseorang, untuk seseorang. Dia tidak akan jatuh kepada siapa pun kecuali pada seseorang!” “Jadi bukan tuan pemiliknya!” ujar Ki Rotan memberanikan diri. “Bukan aku. Aku hanya memiliki pasangannya!”, kata Ki Tunggal. “Berikan pasangan Kitab itu padaku, Ki Guru! Aku akan memeliharanya!” “Pedang Raja Turki yang kau maksud?”, Ki Tunggal tersenyum dan tersenyum itu sudah semacam tertawa lebar bagi Guru seagung dia. Dan sembari tersenyum pula Ki Tunggal berkata: “Kau terlalu kotor untuk memegang gagangnya, apalagi memilikinya. Kini sebaiknya kau pulang, sebelum bencana menimpamu!” “Aku kehilangan jalan pulang maka aku tersesat ke sini”, kata Ki Rotan. “Aku seperti kehilangan kesadaran karena terusir dari Gua Lebah”. “Bau stanggi itu yang membuatmu mabuk. Selagi asap stanggi di gua itu masih berada dalam paru-parumu, kau masih dalam keadaan setengah sadar. Tapi apa boleh buat, kau harus cepat enyah dan sini!”, mendadak suara Ki Tunggal menggelegar bagai petir, sehingga Ki Rotan keluar ketakutan, lari terbirit tanpa pamit. Ia kembali seperti orang gila, berteriak di hutan belantara maupun di lembah yang menimbulkan bunyi gema yang menakutkannya sendiri. Tapi Ki Rotan yang sempoyongan itu menghentikan langkahnya ketika ia merasa terkepung oleh sembilan orang memegang tongkat. “Siapa kalian?” tanyanya ketakutan. “Kami pengawal Tuan Guru!” Grafity, http://admingroup.vndv.com 12 Baru ia sadari, bahwa dia telah tiba di Bukit Rotan di kawasan padepokannya sendiri. Ketawanya menggelegar terbahak-bahak, dan semua muridnya heran. Seluruh pengalamannya di Bukit Tunggal malah ia lupa, tapi pengalamannya di Gua Lebah dia masih ingat. Jarang-jarang sekali Ki Tunggal kelihatan gelisah seperti sekarang ini. Seperginya Ki Rotan dia menganggap kedatangannya itu mengandung sial atau suatu pertanda buruk. Padepokannya hanya didatangi orang-orang yang benar-benar suci. Ini berarti, kekuatannya sebagai Harimau Tunggal sudah benar-benar diujung tugas kehidupannya. Dan malam ini ia bermimpi aneh seorang wanita muncul dan menyatakan dirinya sebagai isterinya! Ah, ini pasti pertanda buruk. Dia selama ini menepati janji tidak akan beristeri dan tidak membuat keturunan. Ia terjaga, dan dia penuh ketakutan karena dia melihat air maninya sudah tertumpah. Lalu, malam itu Ki Tunggal sengaja tirakatan. Dia sejak siang tak makan, juga dia berniat tak tidur. Tapi dia toh ketiduran juga pada dinihari. Dia bermimpi lagi. Seorang wanita muda lagi muncul, tapi bukannya wanita yang pertama tadi. “Tuan serahkan Pedang Turki kepadaku. Mengingat masa jabatan tuan sudah menjelang akhir”, kata wanita muda yang tak dikenalnya itu. “Siapa kau? Aku tak mengundangmu ke sini” “Aku anak orang sakti, dan murid orang sakti. Bila pedang itu tidak tuan serahkan padaku tuan akan mati dalam keadaan mengerikan, tidak diterima oleh bumi, tidak diterima oleh air, tidak diterima oleh udara!” Dalam inimpi yang amat mengerikan itu, Ki Tunggal menyerahkan Pedang Turki itu, satu benda yang merupakan kembaran Kitab Makom Mahmuda yang berisi petunjuk kehidupan. Pagi hari Ki Tunggal bangun dengan bermuram durja. Aku adalah harimau pertama dari dunia persilatan yang tujuh. Lalu dia menuju kolam ikan, sebelah sungai yang sudah 100 tahun dia aliri airnya menjadi empang ikan. Dia bukan saja terkejut melihat ikan-ikan itu menjauh. Tapi setelah permukaan empang itu tidak beriak lagi, Ki Tunggal melihat wajahnya bagai behadapan dengan kaca di permukaan kolam itu! Aduh, apa gerangan Yang membuat wajahku berubah jadi muda? Diperhatikannya lagi wajahnya di permukaan kolam itu. Dia melihat dirinya begitu muda perkasa. Namun ketika dirabanya raut mukanya, dia rasakan lipatan keriput ketuaan. “Tuan, tolong aku”“ terdengar suara berteriak. Ternyata ada gadis hanyut. Ki Tunggal biasanya mempertanyakan diri lebih dahulu apakah itu manusia atau jin. Apakah itu seruan baik atau buruk. Tapi kali ini Guru Besar itu begitu lincah meninggalkan empang ikannya berlari melompati batu-batu sungai itu, dan memungut gadis yang hanyut itu. Gadis itu cantik dan menerbitkan birahi. Buah dadanya yang tertutup kain basah itu memperlihatkan putiknya yang menggiurkan. Ki Tunggal heran, ketika gadis ttu memuji: “Tuan muda dan ganteng tetapi lebih dari segalanya, Tuan baik hati. Di mana rumah tuan?” “Di atas bukit itu”. “Siapa nama Tuan?” “Dadu Tunggal”…. Ujar Guru Besar itu, yang untuk pertamakali menyebut nama ketika mudanya. “Siapa kau?” tanya Dadu Tunggal. Grafity, http://admingroup.vndv.com 13 “Namaku Senik. Tadi malam aku bermimpi hanyut, dipungut oleh seorang Guru Perkasa, yang ternyata anda! Tapi tuan jangan terkejut, saya dihanyutkan air, sebetulnya dihanyutkan oleh Nasib!” “Nasib?” “Ya. Sayalah ladang tempat tuan menyebarkan benih keturunan!” Mendadak Ki Tunggal sadar pada janji semula, pada gurunya, Ki Turki yang memantangkan dia memberi keturunan kepada wanita. Maka dia membentak Senik dengan suara menggelegar: “Penggoda kau! Laknat kau! Aku tidak diperkenankan memberi turunan!” “Tuan boleh memakiku! Aku bukan wanita penggoda! Aku dibawa nasib. Dan tuan jangan coba-coba melawan hukum alam, sedangkan hewan dan tumbuhan pun mengalami perkawinan!” Ki Tunggal terperangah. Dia duduk di batu. Senik tergiur melihat kegantengan pria yang duduk di batu itu. Ganteng dan perkasa, dengan otot-otot yang kenyal bagai gulungan akar pohon. “Jangan kau hampiri padepokanku. Hanya orang suci yang berhak menghampirinya. Kau sudah kutolong, jangan kau celakakan saya lagi!” ujar Ki Tunggal. Tapi gadis itu menangis tersedu-sedu, bersimpuh di ujung kaki sang Guru Besar, dan hal ini merusakkan perasaan murni Guru Besar itu. Ia kuatir, kejadian ini menjadi ujud mimpi. Dan ia kuatir, kejadian ini bila dituruti akan berekor dengan munculnya satu wanita lagi yang meminta warisan Pedang Raja Turki, seperti dalam mimpi. Dan kejadian yang sedang berlaku di Bukit Tunggal ini justru sedang dituturkan oleh Ki Pita Loka kepada muridnya. Harwati. Sebenarnya Ki Pita Loka barusan saja menceritakan mimpinya semalam kepada Harwati. Dengan sarapan sari buah-buahan hutan dan umbi pohon kuwat, dari mulut Ki Pita Loka meluncur perkataan: “Wanita yang mendapatikan warisan Pedang Turki itu tak jelas parasnya olehku. Tapi mungkin akulah wanita itu”. “Kenapa kita berdua tak pergi ke saja, Ki Guru?”usul Harwati. “Pencaharian barang sakti hanya boleh akibat dari gerak ghaib yang tidak kita ketahui, ketika aku melarikan diri dari desa Kumayan, orang pertama yang memberitahukan padaku tentang benda kembar sakti itu, adalah Ki Ibrahim Arkam. Dia selalu sembunyi dalam sebuah guha yang pintunya amat tinggi. Ketika itu aku tak mampu memanjat tempat persembunyiannya kendati beliau mempersilahkan masuk. Hanya Guru Gumara yang mungkin dapat merayap seperti cicak untuk masuk ke pintu guha Ki Ibrahim Arkam. Beliau menyatakan, dua benda yang merupakan kembaran itu dicobanya mencari, tapi toh di tak mendapatkannya.” Harwati mendengarkannya dengan tekun. Lalu dia merasa, dialah yang disebut Ki Pita Loka sebagai gadis yang akan mewarisi pedang sakti itu. Perasaan Harwati itu seketika itu juga terbaca oleh Ki Pita Loka, yang mendadak bertanya : “Kau berkhayal bahwa kamulah yang nanti memiliki Pedang Guru Turki itu? “ “Oh. mana mungkin”, kata Harwati berdusta. Tapi godaan kisah mimpi sang Guru itu menjadi pikiran Harawati sehingga dia tidur mengigau, lalu berjalan sempoyongan dan berteriak histeris keluar dari Guha Lebah di tengah malam. Ki Pita Loka mengikuti langkah muridnya, karena ingin mengetahui apa penyebab Harwati mengigau ini. Dan ketika Harwati terpeleset hampir masuk jurang, dengan cekatan Ki Pita Loka melompat menyambar tangan Harwati, menyentaknya, dan menyadarkan sang murid : “Apa yang sedang kau jalani, Wati?” Harwati lupa pada semua yang sudah terjadi tadi. Sektika itu juga. Mendadak dia mengaum bagai harimau, tapi dia tidak menjelma jadi harimau. Biarpun begitu, bagi Ki Pita Loka, hal ini dianggapnya satu pertanda. Karena itu, pada siangnya sewaktu dia mengajarkan ilmu meniti air kepada Harwati, Pita Loka tak sengaja melontarkan ucapan : “Ketika aku mendengar kau mengaum sebagai auman macan, aku kuatir aku sekarang ini sedang memelihara seekor harimau kecil. Celaka bagi pemelihara harimau, adalah, jika harimau itu sudah besar, dia akan mencakar gurunya, pemeliharanya” Harwati tersinggung sekali dan berkata : “Kenapa Ki Guru yang memiliki sepuluh kesaktian kuatir pada saya? Kenapa Ki Guru selalu menganggap saya akan berkhianat?” “Karena aku selalu menandai dalam hatimu ada satu hal yang selalu kau rahasiakan” kata Ki Pita Loka. “Ajaib sekali! Saya sudah bersumpah menjadi pengawal setia, murid setia, kenapa muncul keraguan mendadak?” tanya Harwati. “Itu bukan keraguan, muridku tercinta! Itu firasat. Firasat tidak dapat ditelusuri akal. Sebab dia mengandung keghaiban! Dan tiap orang yang ilmunya tajam. Harus percaya kepada yang Ghaib!” kata Ki Pita Loka. “Sekarang mari lanjutkan pelajaran”, ujar Ki Pita Loka. Harwati dengan tekun mengatur pernafasan, Ki Pita Loka memberi petunjuk cara meniti air. “Air selalu pergi ke hilir. Maka jika kau meniti diatas air, ikuti arah arus air, bukan sebaliknya, dan kau harus merasa dirimu ringan. Dan dalam dirimu sepuluh rongga harus kau tutup secara imajiner. Maka gelembung yang tinggal di tubuhmu, yakni udara ibarat udara dalam bola. Kenapa bola tidak bisa tenggelam? Karena gelembung udara yang ada di dalamnya tak keluar, dan diri bola itu jadi ringan. Ayolah kau coba dan jangan lupa berdzikir!” Harwati mempraktekkan ajaran gurunya. Mulanya dia sempat melewati setengah sungai, lalu tenggelam. Tapi setelah empat puluh satu hari melatih diri, terutama membuat kedap gelembung udara di tubuhnya dengan menutup seluruh rongga dalam diri, ia berhasil. Ia coba lagi meniti air sungai itu. Dan berhasil lagi. Dan berhasil lagi dan berhasil lagi. Dia lalu memeluk gurunya. Dan bertekad tidak akan mengkhianati. Itu perasaan amat suci yang pernah singgah dihatinya. Kesetiaan sempurna. Tapi kadang dia ingat lagi mimpi Ki Guru Pita Loka yang sudah di dengarnya Pewaris Pedang Turki itu adalah wanita yang tak jelas. Jadi ini berarti, bukan Ki Pita Loka mungkin saja aku, fikirnya. Fikiran ini yang selalu bertarung dalam dirinya bagai warna putih dan hitam. Ia berupaya supaya hatinya jernih dalam asuhan Sang Guru, tapi godaan suka mengotori batinnya, dan keinginan untuk lari, atau berkhianat suka muncul hilang dan muncul dan hilang lagi. Setelah mandi air kelapa muda sebagai acara ritual selesainya satu tahap itu, Harwati disodorkan sebuah kelapa hijau oleh Ki Guru Pita Loka. “Kini aku izinkan kau memasuki lingkaran asap stanggi itu”, ujar Ki Pita Loka. “Lalu peganglah kelapa hijau itu, sekuat pegangan, dan tiupkan secara abstrak pada permukaan pernafasanmu. Bila warnanya berubah kuning, kau memang calon pemilik kesaktian, lalu makan daging kelapa hijau yang sudah berubah jadi kelapa puan. Jika tidak, terpaksa aku yang akan melakukanya, namun kau wajib meminum air kelapa puan itu, sekaligus menikmati dagingnya!” Harwati bersemangat Air kelapa mandian masih berbintik pada rambutnya. Dia memasuki lingkaran asap stanggi yang muncul dari permukaan lantai guha itu dengan rasa gembira. Lalu dia duduk bersila. Dia pegang erat kelapa hijau itu. Dia rasakan satu kekuatan ghaib bergetar dalam urat tubuhnya, membuat dia makin erat memegang kelapa hijau itu. Dilihatnya kelapa hijau itu berubah kulitnya menguning. Dan dia menoleh pada Sang Guru. Ki Pita Loka mengangguk tanda dia berhasil. Lalu Ki Pita Loka berkata: “Kupaslah…buat lobang dengan kekuatan gigi bajing yang suka membolongi kelapa”. “Dengan kekuatan kuku?” tanya Harwati. “Kau memang manusia berakal, murid yang tolol kurang memahami maksud sang Guru”. “Lihat, Ki Guru, kukuku mirip gigi bajing!”, ujar Harwati yang dengan cekatan mencakar permukaan kelapa puan itu. Dan ketika mencapai batok kelapa, dicoblosnya batok itu dengan telunjuknya. Air yang mengental bagai susu muncrat. Lalu dia minum. “Ilmumu telah mencapai derajat hebat, muridku…Tapi itu baru salah satu dari jari kelingking gurumu yang berjari sepuluh ini. Kau kini berhak menerima gelar Ki Harwati. Tapi jangan berkhianat, jika kau mengkhianati Guru, dua-dua kita akan mengalami bencana besar di kemudian hari!” Airmata Harwati bercucuran karena keharuan. Dia sampai terlupa menikmati daging kelapa puan, ketika mendadak dia merasakan dirinya disusupi kekuatan hebat yang membuat dia menatap Ki Pita Loka bukan lagi guru, melainkan orang berilmu sakti yang sejajar dan setaraf. “Kulihat kau ada maksud jahat padaku”. ujar Ki Pita Loka mendadak. Hal inilah yang membuat Ki Harwati tidak menunggu waktu. Padahal dia sedang duduk bersila berhadapan dengan Sang Guru, kontan mendadak dia buka lipatan kakinya yang seketika menampar muka Ki Pita Loka. Pita Loka masih berseru, “Hai, jangan kau serang Gurumu! Aku Gurumu!” Seketika lebah-lebah menyengatmya. Ki Harwati cepat memasukkan jempol jarinya ke dalam langit-langit mulutnya. Dengan lendir rongga mulut itu yang dia oleskan ke dahi, sengatan lebah tadi lenyap dari nyerinya semula dan dia kembali kalap melompat menerjang sang Guru. “Aku bukan sekelingkingmu? Aku lebih kuat! Akulah wanita yang tak jelas dalam mimpi kau itu, Pita Loka!” bentak Ki Harwati. Ki Pita Loka undur ke belakang, dan ia tetap melakukan gerak mundur seraya menangkis tendangan sang murid sampai keluar dari pintu Guha Lebah itu. Ki Harwati menyerang dengan semua jenis ilmu silat yang diajarkan Ki Pita Loka padanya. Karena itu, setiap jurusan serangan mampu dielakkan oleh bekas Guru itu. Ketika Pita Loka mendadak kalap, siap untuk menghabisi nyawa muridnya akibat dongkol, Ki Harwati mengingatkan: “Jangan coba bunuh aku, karena pantangan ini ada pada Guru. Dan tidak pada murid!” Tekad Harwati sudah penuh untuk menghabisi nyawa Guru Pita Loka. Tapi tiap jurus kilat yang dilakukan, pukulan sisi telapak tangan ke leher sang Guru, selalu saja membuat dia memukul angin. Sebab Ki Pita Loka lantas menunduk. Mendadak, dalam keadaan merasa aman karena murid khianat ini cuma memainkan ilmu yang diajarinnya, terdengar seketika Harwati mengeluarkan suara auman harimau. Gerak-gerik langkahnya berubah dan itu tidak pernah diajarkan. Ki Pita Loka sadar, tiap murid pasti ada keistimewaan yang khusus yang tak dihadiahkan guru. Dalam memilih kemungkinan selalu mengelak, kini Ki Pita Loka bertindak aktif, menyerang. Tapi serangannya ini berhasil ditangkis oleh Ki Harwati bahkan lengan Ki Pita Loka robek oleh guratan cakaran Harwati. Kini keduanya berkelahi dari dahan ke dahan. Dan pada dua dahan yang berhadapan dua-duanya saling mengeluarkan pukulan gaya golok agar mengenai kepala masing-masing. Tanpa diduga, Ki Harwati merubah pukulan tangan dengan tebasan kaki, hingga Ki Pita Loka jatuh ke bawah, namun selamat oleh dahan-dahan yang diraihnya silih berganti. Dia kejar Harwati yang lari dari dahan ke dahan, lalu melayang ke tebing seberang. Dengan ilmu menuruni lembah terjal serta cara melompat dari dahan ke dahan yang ia dapatkan dari Ki Pita Loka, Harwati berhasil kabur menuju arah utara yaitu Bukit Tunggal. Ki Pita Loka berkacak pinggang di atas dahan pohon seraya tersenyum. Dan dia berkata dengan dirinya sendiri: “Lari atau tidak larinya kamu, bagiku sama saja. Dalam sejarah, seorang guru akhirnya ditinggalkan oleh muridnya. Sebagai gurumu, aku tidak akan mengutukmu. Hanya guru yang bodoh yang mau mengutuk muridnya, sebab dengan mengutuk muridnya itu berarti dia mengutuk dirinya sendiri!” Dalam sekelebatan dia sudah seperti burung lincah yang amat indah berlompatan dari dahan ke dahan pohon-pohon raksasa sekitar Guha Lebah itu. Tapi Pita Loka tidak menyadari bahwa dia sedang diteropong dalam jarak satu kilometer, nun dari puncak Bukit Sejoli yang berada di selatan sana ! Yang sedang meneropong Pita Loka itu adalah seorang pemburu. Dia tidak sengaja melalui teropongnya menyaksikan seorang yang jelas-jelas manusia, lagi pula wanita, yang berlompatan bagai burung cicakrowo. Padahal sebelumnya dia barusan kecewa, karena burung cicakrowo yang ia bidik dan siap tembak itu, terbang sudah. Lompatan-lompatan lincah itu jelas bukan burung yang terbang hinggap dan terbang lagi, dari dahan ke dahan pohonan raksasa. Ia tidak ragu lagi bahwa itu manusia. Dan manusia istimewa. Juga jelas, pada akhirnya manusia wanita yang dianggapnya hebat itu memasuki sebuah mulut guha. Lalu pria pemburu itu menaruh teropongnya ke dalam tas. Dia berbenah dan kemudian menyandang senapan pemburunya. Lalu digelarkannya sebuah peta dan diperkirakannya bukit mana yang akan ditujunya itu. Terbaca olehnya tempat guha wanita dahsyat tadi masuk terbaca keterangan: Bukit Lebah. Lalu dilingkarinya dengan spidol merah. Dan kemudian dibuatnya ancang-ancang perjalanannya menuju ke sana . Tetapi, setelah dia turuni Bukit Sejoli menuju mobil Landrovernya, dia kembangkan lagi peta. Dia kecewa sekali. Sebab Bukit Lebah itu ternyata dilingkari sungai. Tak mungkin tertembus dengan kendaraan. Tapi dia coba juga untuk menstarter. Dan mobil itu pun mulai mencari celah-celah padang-padang rumput yang masih perawan. Sekeliling itu, tak ada desa. Jadi, pikirnya kini, tentulah wanita tadi hidup secara primitip, sendiri atau bersama, di Bukit Lebah itu. Menjelang senja, pria itu sudah melingkari setengah Bukit Lebah itu, lewat tepi-tepi sungai yang terjal. Dia malah hampir tertimpa musibah kecebur sungai di bawah sana itu apabila mobil Landrovernya tidak kejeblos kecelah batu-batuan di tepi tebing sungai yang tingginya sekitar 15 meter itu. Tapi dia puas. Biarpun hari telah menjelang senja, ternyata dia kini pada posisi berhadapan langsung dengan mulut guha tempat wanita burung tadi tampak masuk. Dia kini turun dari mobil. Teropong dia ambil lagi dari dalam tas. Dan matahari yang setengah jam lagi akan terbenam itu masih sempat menyorotkan sinarnya tepat-tepat ke arah Guha itu. Dia meneropong dan berharap dapat menyaksikan lagi kegiatan yang terjadi di sekitar guha itu. Nah, kini dia gembira! Gembira sangat. Dia melihat wanita tadi keluar dari guha itu! Jelas kini, tentulah dia bukan wanita yang sudah bersuami. Dia cantik, namun ketika sempat dia berdiri begitu keliatan sekali wajahnya keras berwibawa. Jelas sekali lewat teropongnya, bahwa wanita tadi itu berpakaian kain yang tidak dijahit. Bahkan sepertinya bekas kain seprei dengan motif burung merak seperti seprei-seprei wool Persia yang indah. Malah sepertinya mirip kimono, yang satu-satunya ikatannya tampaknya hanyalah seutas tali plastik saja. Hari sudah mulai agak gelap, sesaat lagi matahari tenggelam, pria pemburu itu sedang memikirkan bagaimana caranya berkomunikasi dengan wanita itu, atau, gadis itu! Gadis itu tampaknya sedang berdiam diri, tegak menghadap ke arah matahari tenggelam dengan tangan terlipat mirip orang Islam sedang tegak sembahyang. Ketika matahari terbenam, wanita tadi masuk ke guha. Ketika itulah pria itu punya akal. Yaitu akan menyenter wanita itu dari arah barat sini. Bukankah hari akan gelap sejenak lagi? Maka dia pun buru-buru membuka tas dan mengambil senter. Rencananya, kalau gadis tadi keluar lagi, maka akan dihidup-matikannya senter itu. Tapi agak lama juga. Oh, betapa senang hatinya ketika satu sosok muncul. Tapi kini bukan berpakaian seprei Persia lagi. Jelas ia mengenakan mukena, yaitu pakaian selubung wanita Islam apabila melakukan sembahyang. Dan memang betul. Tepat di hadapan mulut guha itu si gadis bermukena itu menggelarkan tikar sajadah. Arahnya agak dimencengkan sedikit dari ketepatan matahari terbenam. Lalu tampak gadis bermukena itu berdiri berkonsentrasi, dan mengangkat kedua tangannya. Ya, ia rupanya sedang melaksanakan sembahyang maghrib. Akibatnya, agar tidak mengganggu orang melaksanakan ibadah, si pria mengurungkan memainkan senter. Lalu, ketika wanita itu agaknya selesai melaksanakan sembahyangnya, pria pemburu ini sudah siap untuk memainkan senternya. Pemandangan depan pintu guha itu sudah agak gelap. Tapi petunjuk satu-satunya adalah warna putih itu. Pertanda wanita itu masih ada di situ. Memang, Pita Loka sudah selesai sholat menghrib. Namun dia masih bersila itu karena membacakan beberapa do”a yang amat panjang. Tapi menjelang dia habis berdoa panjang itu, dia melihat cahaya kelap-kelip di bukit sebelah barat seberang sungai sana . Apa itu? Musuhkah? Namun otak IPA yang dia miliki segera meyaksikan dirinya bahwa itu lampu senter sebagai isyarat komunikasi. Ah, tentu di situ ada manusia. Pasti bukan musuh. Dan pasti bukan orang dari padepokan atau perguruan ilmu tradisional! Setelah jelas baginya hal itu, Ki Pita Loka cepat menggulung tikar sembahyang dan berlari masuk guha lagi, pria yang mempermainkan lampu senter itu pun kecewa. Tapi Pita Loka masuk ke dalam guha untuk bersalin pakaian. Ya. dia masih mmiliki celana blue jean maupun jacket sewaktu dia minggat dari desa Kumayan. Dengan ketangkasan luar biasa, Pita Loka keluar dari guha Lebah itu dan hal ini tiada diketahui oleh pria pemburu yang sudah kalut kecewa itu. Sebelum dia meloncat ke sebuah dahan Ki Pita Grafity, http://admingroup.vndv.com 18 Loka membetulkan sepatu karet bergelantungan dan terbang sudah tak jelas lagi. Yang kedengaran adalah suara bias angin sewaktu dia mengayun tubuh untuk terbang ke dahan lain. Atau suara dahan patah lalu tubuh Pita Loka menabrak dahan lain tetapi dengan cekaten dia sudah memegang dahan lainnya. Selama seperempat jam dia sudah menempuh sekitar satu jarak yang agak jauh karena lompatannya adalah zig-zag. Kini dia sudah bergelantungan di sebuah pohon yang tegak kokoh tepat di tepi tebing sungai. Dari atas pohon ini kedengaran deru sungai yang mengalir sekitar 20 meter di bawah tempat Ki Pita gelantungan. Jarak antara tebing kawasan Bukit Lebah dengan tebing di Bukit Baturiuh sana itu adalah sekitar 17 meter. Satu-satunya pohon yang tepat untuk diloncati di seberang sana itu adalah pohon yang agak tinggian. Jarak antara pohon itu dengan mobil Landrover itu hanyalah sekitar 10 meter. Jadi tak boleh terdengar suara sedikitpun apabila Pita Loka terbang dan menangkap dahan pohon tinggi itu. Dia tak ingin diketehui. Dia hanya ingin mengetahui, siapa dan ingin apa orang yang tadi menyenternya. Malam yang mulai tiba dan gelap tidak menjadi soal. Dia sudah tahu ke dahan yang mana nanti dia akan hinggap setelah terbang melayang melompati dua tebing ini. Tiba-tiba saja Pita Loka agak kesal karena rupanya orang yang menyenternya itu menyalakan lampu neon baterai . Jadi kini teranglah sekitar mobil landrover itu. Rupanya orang itu sedang menggelarkan tikar plastik di rumputan sekitar batu-batu di pinggir tebing itu. Dan ketika Pita melihat rantang, tahulah dia bahwa pria itu saat untuk makan malam. Tampaknya dia memang seorang diri. Dan selalu siap menembak. Sebab ketika dia duduk bersila begitu, senapannya disandarkannya ke dada. Barulah dia mulai makan. Hal inilah yang bikin Ki Pita Loka jadi ngiler, selama ini dia hanya makan buah- buahan saja. Dia rindu makan nasi setelah lebih 1000 hari tak menikmatinya. Dan itulah yang mendorongnya mempersiapkan diri untuk melompati tebing curam dengan sungai di bawah itu! Kalau begitu aku harus menggunakan tenaga dalam kedap-suara! Ya. Ki Pita Loka berkonsentrasi sejenak. Nafasnya dia tarik dalam-dalam dan nafas ini tak boleh dihembuskan lagi sampai saatnya hinggap pasti di pohon sana itu. Dan ini memang cara lompatan kedap-suara yang tidak akan terdengar satu telinga pun. Begitu selesai dia tarik nafas dalam pada ketuntasan tenaga, dengan tenaga dalam itu pulalah Pita Loka melompat ke atas, lalu memegang satu dahan untuk acuan tenaga lompatan sejarak 17 meter ke sana. Ah, indah sekali tubuh yang melayang dan kemudian hinggap di dahan yang dituju, tanpa suara. Juga tak secemil suara pun kedengaran ketika satu tangannya hinggap di dahan pohon seberang itu, begitupun ketika kedua kakinya menjepit tubuh pohon tinggi itu. Dan dari ketinggian ini melihat pria yang lahap makan malam itu, Ki Pita Loka tambah jadi ngiler. Kini dengan nafas ditarik untuk kedap suara, dia turun bagaikan seekor cicak… Ki Pita Loka merayap dengan cepat takut kalau orang itu sudah keburu menghabisi makanannya. Dia merayap ke arah barat Tempat yang ditujunya adalah himpunan pohon savana yang cuma setinggi paha. Dia menyelinap terus sampai pada posisi langsung menghadap orang yang asyik makan itu. Setelah sampai pada posisi itu, Pita Loka yang sudah jongkok dan menghela nafas itu, langsung batuk dengan konsentrasi pandangan pada pria yang asyik makan itu. Pria pemburu itu kaget dan melihat ke arah suara batuk tadi, begitu dia meliat gadis bercelana blue jean berdiri di balik pohonan savana itu, pria itu terpana bagai kena hipnotis. Waktu lelaki itu terpana begitulah, Ki Pita Loka meniupkan udara dengan puncak kekuatan gelombang. Lelaki itu bagai patung. Nasi bergelantungan di bibirnya yang ternganga. Pita Loka merasa itu sudah cukup. Lelaki itu sudah beku bagai patung. Lalu Pita Loka mendekati pohonan savana itu. Dengan sedikit gaya bercanda, Pita Loka berkata: “Aku bukan merampok makan malammu. Tapi jika kau makan sendiri sedangkan aku ada dan lapar, itu berarti kau seorang asosial dan amoral”. Dengan bismillah, Pita Loka makan dengan lahap. Memang seluruh isi rantang-rantang itu disantap licin habis olehnya! Di ambilnya senapan yang tersandar pada dada pria itu. Pita Loka lalu berkata (yang pasti takkan disahuti pria itu): “Pemburu yang jahat juga anda ini. Anda manusia perusak di muka bumi. Tuhan tak menyukai itu. Tuhan melarang manusia melakukan kerusakan di muka bumi. Kau tembaki hewan-hewan sehingga hutan-hutan kesepian”. Setelah senapan itu diambilnya, Pita Loka mengambil lagi senter. Dan dia berkata, yang pasti takkan disahuti lawan bicaranya itu: “Kau coba main-main dengan senter ini itu nakal!” Dan tiba-tiba Pita Loka benci melihat mobil Landrover itu. Dia ingat pada masa sekolah, di mana buangan gas mobil melalui knalpotnya adalah mengotori kebersihan alam. Lalu dia melangkah ke belakang Landrover itu. Dengan tangan kanannya saja, ia dorong mobil itu. Tak lama kemudian, di bawah sana itu kedengaran suara dahsyat; byurrr! Mobil itu sudah kecebur dalam sungai. Pita Loka lalu melempar senapan pemburu tadi ke arah tempat mobil tadi menghambur masuk sungai. Tapi senter? “Ini perlu bagiku!” katanya. Dan tanpa menoleh sedikitpun pada pria yang duduk kaku bagai patung itu. Ki Pita Loka menerobos pohonan savana dan memanjat pohon tadi lalu dengan konsentrasi lincah gembira Pita Loka sudah terbang ke tebing seberang sana, lincah bergelantungan dan berlompatan sampai akhirnya dia melaksanakan lompatan terakhir tepat di mulut guha. Sejenak Pita Loka menoleh kesetumpak cahaya lampu neon baterai di sana , dengan silhoutte tubuh yang masih duduk kaku. Barulah kemudian, Pita Loka meniupkan satu konsentrasi angin dari mulutnya dalam radius gelombang tinggi. Angin menerjang punggung lelaki itu. Dia terbanting ke samping dan sadarkan diri. Pertama yang dirasanya hilang adalah senapan pemburu. Kedua: senter! Lho, yang juga tak dilihatnya lagi adalah mobil Landrovernya itu Bah…bah…bah! Peta! Peta di mobil! Dalam tas di mobil! Barulah yang terakhir dia melihat rantangnya sudah licin. Dan ketika dia kalap serta penasaran, dari arah timur ada dilihatnya cahaya berkedap-kedip ke arahnya. Kurang ajar….. pria itu menggerutu. Kemudian cahaya kelap-kelip senter itu pun lennyaplah. Sunyi perasaan pria pemburu ini. Selama ini dia tak pernah takut ke luar masuk hutan belantara. Tapi kini dia takut karena tidak memiliki senjata, ya, senapan pemburunya! Namun, betapapun marah dan dongkolnya. Namun dia seorang manusia praktis. Dia tak banyak pikir kemudian tidur saja di tikar itu setelah melemparkan rantangnya yang kosong ke kanan dan ke kiri. Dia tidur pulas disinari lampu neon baterai itu. Pada jam 3 dinihari kekuatan baterei lampu neon itu habis. Lalu gelaplah! Hal ini rupanya secara naluriah telah membuat pria itu terbangun. Dia ingat, kalau mau terang harus ganti baterai! Mulanya pikirnya memang begitu. Tapi ketika ia sadar karena mobilnya pun tak ada sedangkan butiran-butiran persediaan baterai ada di mobil, dengan gerak dia tendang lampu dalam itu seraya memaki: “Kamu tak ada gunanya bersamaku tanpa baterei!” Makian itu jelas kedengaran ke telinga Ki Pita Loka yang masih duduk bersila untuk mencari tahu, sudah sampai di manakah pelarian Harwati. Setelah batinnya menerima ilham bahwa Ki Harwati menuju padepokan Ki Rotan, Pita Loka tersenyum dan berkata: “Kau takkan bisa menjadi guru dari Gurumu!” Dingin di luar guha yang menggigit, menggugah Pita Loka untuk masuk. Ribuan Lebah mengiringinya dari belakang ketika Pita menuju pembaringan. Satu sosok tubuh pria sedang merayap pada dinding bukit terjal. Lagi-lagi kemeja putihnya koyak terkena sayatan batu-batu tajam. Namun pria itu terus merayap ke atas dan ke atas. Kadangkala dia mengasoh sejenak. Sinar matahari begitu menyengat pagi itu. Tetapi dari akar-akar yang sempat dia pegang, dia gembira. Sebab dia mengenal akar itu akar pohon rotan. Dan kegembiraan meluap ketika dia tiba di puncak dinding bukit terjal itu. Ya, sekeliling bukit itu penuh dengan rotan-rotan yang merimba dan amat rapat. Di sela-sela rotan-rotan yang bergelantungan itulah pria itu melangkah hati-hati. Dan dia mulai melihat asap. Kini ia yakin, tentu itu desa padepokan Ki Rotan yang terkenal angker: Dan dalam keraguan itulah sang pria terkena sergapan Kelompok Penyergap yang terdiri dari sepuluh orang. Semuanya adalah anak buah Ki Rotan. Pria yang tertawan itu sebetulnya bisa saja melepaskan diri dan sekali sikat mampu membuat rontok 10 orang yang menawannya. Dan ketika itu pula ia langsung dilemparkan ramai-ramai oleh Kelompok Penyergap itu ke sebuah lubang. Dalam lubang itu sudah menanti ujung-ujung bambu runcing. Dan semua penawan itu tercengang! “Aneh! Dia tak menjerit!” ujar Keruen dengan gugup. Sebagai kepala Kelompok Penyiksa sudah wajar dia menjadi gugup. Dia langsung melihat kepinggiran lubang. “Dia berdiri tegak” ujar Keruen lagi. Ini membuat Lanto ingin tahu. Dia kepinggir lubang, dan disaksikannya lelaki berkemeja putih yang sudah penuh koyak-koyak itu berdiri tegak. Kedua sepatu Phumanya berada pada ujung tombak- tombak rotan itu. Dan ketika Keruen dan Lanto meilhat lagi, dia berdua berteriak: “Dia berubah jadi kakek” “Ada Tuo di lobang siksa!” teriak ke delapan orang lainnya sembari lari lintang pukang. Ki Rotan keluar dari padepokannya yang atapnya seluruhnya terbuat dari jerami. Mendengar laporan Keruen yang ketakutan. Ki Rotan membetulkan destar merah pada kepalanya. Bukannya dia membenarkan anak buahnya. Tetapi dengan satu lecutan lingkaran ke sepuluh anak buahnya roboh sekali pecut putar. Grafity, http://admingroup.vndv.com 21 “Bikin malu aku, mana si Tuo itu?” tanyanya geram. Mata Ki Rotan menjadi liar meneliti sekeliling. Sebab dia pun musti berhati-hati karena mungkin saja laporan anak buahnya benar. Sebab gelar si Tuo adalah gelar kehormatan dari orang yang memiliki ilmu tinggi. Karena itu dia siap untuk melayani lawan yang mungkin punya ilmu harimau. Tapi yang dia lihat justru seorang lelaki bercelana jean dan berkemeja putih yang koyak-koyak. Berjalan terhuyung ke arahnya. Ki Rotan merasa mesti waspada agar tidak terjebak. Bisa saja seorang musuh berlagak lemas terhuyung seperti minta dikasihani, sebagai jebakan. Ki Rotan melihat lelaki itu menuju ke arahnya dengan wajah yang loyo dan gerak yang letoy. Dia siap dengan tongkat ampuhnya. Tongkat Rotan itu miring 45 derajat dari pegangan tangannya. Ketika lelaki berkemeja putih loyo itu sudah sejarak tujuh hasta. Ki Rotan dengan satu teriak di sertai lompatan menghayunkan tongkat saktinya itu menyabet bagian kiri tubuh lelaki itu. Lelaki itu terseruduk ke samping lalu jungkir balik. Tapi aneh! Dia tak mengaduh atau menjerit kesakitan. Dia malah bangkit berdiri lagi sehingga dalam sekelebatan Ki Rotan menghayunkan tongkat saktinya dari kebalikan pukulan pertama tadi. Lelaki loyo itu menunduk ke samping dan jatuh jumpalitan. Juga tak menjerit kesakitan! “Bangun kau!” beniak Ki Rotan. Letaki itu bagaikan patuh. Dia bangun. Dan Ki Rotan memegang gagang tongkat dengan kedua tangan, lalu menghayunkan ke arah jidat lelaki itu. Pukulan tegak lurus yang dahsyat membentur jidat musuhnya itu sampai menimbulkan cahaya arus listrik seperti palu melesat menghantam paku beton. “Kau tentu manusia tangguh”, gerutu Ki Rotan sembari mundur. Tapi dia cuma mundur tiga langkah saja. Dia siap untuk menerjang ke depan. Benarlah Ki Rotan membabi buta menghantamkan cakaran srigalanya yang sempat mengoyak tubuh lawannya. Satu loncatan sigap ke kiri dalam dua langkah sudah membuat dia piawai mengambil tongkat yang dalam sedetik dihayunkan untuk menebas dua tulang kering lawannya. Bunyi berdengking kedengaran, lawannya ambruk. Ketika itu disabetnya tongkat rotan itu berkali-kali. Tiap pukulan dahsyat itu disertai teriakan keras. Dan ini membut Harwati terbangun. Dia cepat merasa dapat ilham untuk segera keluar dan disaksikannya Ki Rotan sedang asyik menyiksa seseorang yang bergulingan telungkup telentang. Harwarti cepat berseru: “Hentikan Guru!” Mulanya Ki Rotan tak ambil peduli. Terus saja dia melecuti lawannya yang terus bergulung- gulung telungkup telentang. Barulah dia berhenti melecut setelah dia merasakan adanya bau stanggi yang membuat Ki Rotan gemetaran seketika. Bau stanggi ini membuat Ki Rotan merasa berkurang tenaga. Harwati melangkah. Langkah itu semakin mendekati tubuh yang tertelungkup itu. Tapak kaki Harwati sudah berada sejengkal pada tubuh telungkup itu. Dikuakkamya dengan ujung jari kakinya tubuh itu sehingga pria tersiksa itu telentang. Begitu Harwati melihat wajah pria itu dia menjerit dengan lantang. Ki Rotan terkesima. Lalu dia dengan cemas menghampiri Harwati yang kelihatan histeris setelah menjerit itu, sebab dia menggigit jarinya dan menangis mendadak. “Siapa dia?” tanya Ki Rotan kebingungan. “Dia kakakku! Dia Gumara!” kata Harwati. Ki Rotan tercengang. Dia pernah dengar nama itu, yang dianggapnya sederajat dengan Ki Karat. Rasa hormatnya timbul. “Bangun Tuan Guru Gumara”, ujar Ki Rotan, “Sebab aku tak layak menolong kau berdiri disebabkan hinanya ilmuku”. Orang berkemeja putih koyak-koyak yang disebut “Gumara” itu berdiri. Dia tetap tampak loyo. Tak selintas pun sorot matanya melirik Ki Rotan, sebab sorot mata yang berbinar itu sedang menatap Harwati. 10 Kelompok Penyiksa yang pingsan kena hukuman Guru Rotan sudah sadarkan diri. Tapi mereka terpana melihat tawanan mereka tadi sedang bercakap-cakap ramah dengan Gurunya dan Ki Harwati. “Saya ke sini hanya ingin menjemput Harwati. Adik tiri lain ibu”, kata Gumara. “Saya kuatir dia menolak”, kata Ki Rotan. “Memang aku tak sedia kembali ke Kumayan”, ujar Harwati. “ Lalu kenapa kau ada di sini?” “ “Aku akan memadukan ilmu Pita Loka dengan ilmu Sang Guru. Selain itu, aku tidak tertarik dengan kehidupan manusia moderen lagi”, kata Harwati dengan tegas. “Kalau begilu beritahu aku jalan menuju tempat Ki Pita Loka”, ujar Gumara. “O, kakak masih mencintainya ya?” tanya Harwati menyeringai. “Soalnya bukan itu”, sahut Gumara “Hmm. Jangan berdusta Aku tidak rela apabila kakak menemui dia, apalagi jika menjadi suami dia! Bukankah aku sudah bersumpah: demi isi perutku dan seluruh yang ada di badanku, aku akan selalu menghalangi perkawinan kalian!” Mata Harwati mulai berbinar mengerikan. Pembuluh darah Ki Harwati itu mencari jalan keluar dan menciptakan aroma bau stanggi. Dan Gumara mengangguk-angguk mengerti. “Kau satu perguruan dengan Pita Loka kalau begitu”, ujar Gumara. “Aku memang berguru pada dia. Tapi pada saat aku harus lulus ujian, aku mendapatkan wangsit tersendiri. Ilham yang hebat, bahwa ilmu Pita Loka digabung dengan ilmu Ki Rotan adalah ilmu yang khas punyaku!” “Dan saya nanti akan menjadi murid Ki Harwati”, tambah Ki Rotan. “Dan secara bersama, kalian berdua akan menumpas Ki Pita Loka”, ujar Gumara ingin kepastian. “Benar”, kata Harwati tegas. “Dan Tuan Gumara yang saya hormati, saya minta meninggalkan padepokan saya. Sembari saya mohon maaf anda karena saya salah siksa tadi”, kata Ki Rotan dengan sikap hormat yang palsu. “Baik”, kata Gumara, “Tapi aku sangat kecewa, Harwati. Betapapun, kamu sudah dtitipkan Ayah kita agar aku jaga. Pada akhirnya kita semua ini manusia moderen dalam arti manusia abad tehnologi, tak ada gunanya kembali ke zaman pra sejarah”. “Apa? Ulangi ejekanmu terhadap sikap kami! Manusia moderenlah yang melakukan perusakan dan kejahilan. Kini aku bebaskan sumpahku. Pergilah kakak mencari Pita Loka ke Bukit Lebah sana . Jika kakak berhasil membujuk dia untuk kembali ke Kumayan, iris-iris jantungku ini!” dan Harwati menebah-nebah dadanya dengan angkuh. Gumara geleng-geleng kepala dan berkata: “Ilmu purba ada yang baik. Dan ada yang sesat. Siapapun yang keluar dari Kumayan adalah orang sesat. Tapi seluruh desa Kumayan tetap mengharap kau kembali, Wati!”. Gumara kemudian tak bicara sepatah pun. Tidak juga ucapan selamat tinggal. Sementara itu, di kawasan Guha Lebah telah terjadi satu pertarungan batin dalam diri seorang yang cantik bertaraf “Guru”.Tiga hari lamanya dia membiarkan lelaki asing itu mundar-mandir seperti orang tolol. Dan ketololan itu perlu bagi seseorang yang memang berniat untuk mencari derajat ilmu. Juga kelaparan itu penting, sebab makanan dalam pencernaan perut manusia sering merubah caranya berfikir. Dengan mengamati tingkah laku pria tak dikenal itu dengan teropong selama tiga hari, munculah dalam hati nurani sang Guru Pita Loka, Ki Pita Loka telah kehilangan Harwati yang telah menipunya dengan khianat. Kini diperlukanya seorang anak buah! Bukankah lelaki tak dikenal itu bisa dijadikan anak buah, sekaligus pengawal? Suatu parasaan aneh laimya menyelinap ke hati Ki Pita Loka: Pria tak dikenal itu, selain tegap, juga gagah! Mirip Gumara! Dan melihat pria itu sudah mulai memakan urat kayu, di hari keempat Pita Loka merasa “kasihan”. Dari balik tebing dia berseru: “Hooi!” Pria yang hampir teler itu, karena makan urat kayu yang salah, lantas mendongak! “Hoooi!” didengarnya lagi. Dia lantas cepat menyahuti: “Hoooi!” “Siapa anda?” teriak Ki Pita Loka. “Aku?!”!” “Ya, kamu!” “Saya Dasa Laksana! Siapa anda?” seru lelaki itu di sebalik tebing sebelah. Mendadak Ki Pita Loka bimbang. Dia berdiam diri sembunyi di balik pohon. Dia mempertanyakan dirinya: “Apakah ini bukan godaan Iblis?!” “Tidak”, sahut dirinya pula, lalu dia memperlihatkan diri dan berkata: “Tunggu di sana ! Aku akan menolongmu!” Lelaki yang sudah putus asa kehilangan arah, harapan dan makanan itu, mendadak berbesar hati. Dia menyaksikan gadis berpakaian hitam itu jumpalitan di angkasa, dari dahan pohon ke dahan pohon laimya. Lalu ibarat burung cicakrowo yang terbang melayang, gadis tak dikenalnya itu tampak hinggap di sebuah pohon. Dalam jarak lima meter itu Dasa Laksana benar-benar takjub menyaksikan kecepatan gerak setiba di tanah. Jarak tegak gadis itu kini sudah tiga meter saja lagi! Dasa Laksana mengamati gadis itu dengan gentar. Memang penampilan Ki Pita Loka mendadak begitu berwibawa. Sebab dia sudah mempesenjatai dirinya dengan ketebalan mental. Jantungnya bergerak serentak dengan gerak lidahnya yang selalu menyebut sepatah kata mukjizat yang ampuh mengusir lblis. Ki Pita Loka kini dengan kekuatan daya ilmu gelombangnya, telah membuat Dasa Laksana sebagai tawananya. Tak ada kata. Lelaki itu bagai terkena hipnotis. Dia menuruti saja langkah Ki Pita Loka di belakang. Tanpa takut menuruni tebing curam. Juga tanpa mengeluh lelah. Lalu dia ikuti terus merayapi dinding curam. Juga dia bagaikan anjing yang patuh pada tuannya ketika tiba di depan pintu Guha Lebah. Ki Pita Loka ingin segera mengisi kekuatan batin orang yang akan dijadikanya pengawalnya. Begitu lelaki itu berdiri tegak di depan pintu guha, dia tendang pantatnya sehingga bagaikan bola dia terhambur memasuki pintu guha, menerobos kawalan lebah-lebah yang bertugas sebagai daun pintu. Sekitar lebih seratus lebah-lebah yang marah terkena sentuhan tubuh yang dijadikan “bola tendangan” tadi, menggigitnya dengan buas. Ki Pita Loka tersenyum berkacak pinggang. Setelah bisa lebah itu menyengat pria itu, Ki Pita Loka mencolokan jempol jarinya pada langit-langit mulut, dan jarinya dia tekankan pada kening lelaki itu. Dasa Laksana siuman! Dan, sejak hari itu, Dasa Laksana diajar mulai menjalani ketololan yang sama seperti Harwati dulu. Dia mengangkut batu dari sungai, ke guha, dan kemudian menaruh batu itu kembali ke sungai. Kemudian dia mengajari proses berikutnya. Dia harus memanjat pohon tinggi. Lalu turun. Lalu memanjat lagi. Dan pada suatu pagi, ketika Dasa Laksana sudah tiba di pucuk sebuah pohon, setinggi 21 meter itu, lalu dahan-dahan pohon itu ditebang sedahan demi sedahan oleh Ki Pita Loka. Dari bawah Ki Pita Loka momberi perintah: “Ayoh, turun kamu, Dasa !” Kelihatan kecut sekali Dasa Laksana ketika terpaksa mengikuti perintah sang Guru dengan patuhnya, turun meluncur ke bawah. Setiba di bawah dia amat kaget karena terkena tendangan lagi. Setelah jungkir balik, Ki Pita Loka mengejarnya dengan cambuk dan golok. Dasa Laksana ketakutan. Lalu membebaskan ancaman itu dengan cepat memanjat pohon. Dan Ki Pita Loka mengejarnya keatas. Dan dalam keadaan terdesak, Dasa Laksana dari pucuk terpaksa melompati dahan satu. Tapi karena ancaman cambuk, Dasa terpaksa meloncat ke dahan lain …. Sang murid yang patuh itu kagum pada dirinya sendiri yang sudah mampu melompat dari dahan ke dahan. Tambah kagum lagi dia karena seakan dia pernah melompat ke dahan satunya sepertinya terbang. Namun karena dilatih begitu selama tujuh hari. Dasa Laksana pada saat akhir latihan sorenya, mengeluh,”Saya tak sanggup latihan besok. Saya lelah”. “Hari ini terakhir, Dasa! Coba kamu melompati lagi pohon hutan ini, sampai kamu menemukan satu pohon kelapa. Petik sebuah kelapa muda yang kulitnya masih hijau, serahkan itu kepadaku!” Dasa Laksana gembira melaksanakan perintah Sang Guru. Dia berlompatan dari dahan ke dahan menerobos hutan lebat di kawasan Guha Lebah yang bentuknya mirip payung itu. Setelah dia menemukan salah sebuah pohon kelapa, dia memanjat dan memetiknya, lalu meluncur ke bawah. Dan dia tiba-tiba merasa tersesat Dia tak tahu jalan kembali. Untunglah ingatannya cukup kuat. Syarafnya memang bukan saja syaraf pemburu, tapi juga syaraf baja. Dia ingat, bentuk Guha Lebah itu mirip payung terkembang. Dia perhatikannya setiap bukit ketika dia melihat bukit berbentuk payung itu, biarpun sudah senja, dia berlompatan juga dari pohon ke pohon. Rupanya upaya mencari pohon kelapa itu amat sulit. Buktinya, letak itu amat jauh jaraknya. Cuma saja karena dia lakukan dengan kegembiraan dan besar hati rasanya dekat saja! Ternyata baru dekat tengah malam bisa tercapai olehnya Bukit Guha Lebah itu … Dia mempersembahkannya kelapa muda itu. Ki Pita Loka membawa Dasa Laksana memasuki guha bau stanggi mulai menyergap hidung lelaki gagah yang patuh itu. Sebab saat ini Ki Pita Loka berada pada dinding pembatas. Yaitu asap setanggi yang berupa lingkaran mirip kain nilon. Beliau bersila dalam lingkaran asap itu. Dasa Laksana memperhatikannya dengan ta”zim. Tampak sang Guru sedang memegang kulit kelapa itu. Lama kelamaan kelapa itu tampak menguning. Setelah itu Ki Pita Loka keluar dari lingkaran asap stanggi itu. “Kelapa ini sudah menjadi kelapa puan dalam proses penyingkatan waktu. Kamu harus meminum airnya. Dan memakan isiya, demi kepatuhanmu pada saya”, kata Ki Pita Loka. “Dengan cara bagaimana saya mendapatkannya?”, tanya Dasa. “Bolongi”, ujar Pita Loka. Dasa Laksana kebingungan. Tapi dia sempat juga dengan tolol bertanya “Beri aku petunjuk, Tuan Guru!” “Hah, tolol. Bukankah kamu punya kuku?” tanya Ki Pita Loka. Manis sekali cara Dasa Laksana tersenyum malu itu. Ki Pita Loka sadar. Iblis sedang menggoda bathinnya. Dia usir sang iblis dengan memompa jantungnya dengan nada tunggal menyebut kata-kata Agung yang Suci. Diperhatikannya Dasa Laksana mengorek, melubangi kelapa puan itu dengan buku jarinya. Jari telunjuk dan jari tengah! Dasa mulai luka. Ki Pita Loka membentaknya: “Terus, tolol!” Dasa Laksana ketakutan. Luka itu sampai tak dirasanya pedih lagi sampai mencapai batok kelapa.. “Bolongi dengan telunjukmu batok itu”, perintah Sang Guru. Dasa Laksana memaksakan diri menggenjot telunjuknya menetak batok kelapa itu. Saking terlalu keras, air kelapa muncrat dan telunjuknya tak bisa keluar lagi. Pita Loka tak sabaran, memegang kelapa dan menyentak telunjuk yang terbenam itu. “Minum! Minumlah dengan membaca nama Tuhanmu yang Pengasih Penyayang, Dasa!” perintah Ki Pita toka. Sang murid yang patuh mengikuti perintah Guru itu, meneguk terus sehingga jakunnya tampak turun naik. Cahaya obor kayu karet dalam guha itu menciptakan gerak goyangnya. Sehingga batin Ki Pita Loka tergoyang beberapa detik ketika menyaksikan jakun Dasa Laksana yang bergerak-gerak itu. “Bencana …”. Ki Pita Loka menggerutu, terdengar oleh Dasa Laksana yang selesai minum. “Bencana apa, Ki Guru?” tanya Dasa Laksana. “Jangan tanya! Kedatanganmu ini mungkin akan dibuntuti mala petaka di kemudian hari. Aku tiba-tiba membenci kamu!” kata Ki Pita Loka, yang ketika dilihatnya Dasa Laksana bengong, lalu membentak: “Ayoh belah kelapa puan itu dengan jarimu, dan makan dagingnya sampai habis!” Bentakan itu memang menggetarkan. Tak terlintas sedikitpun roman kecantikan wajah sang Guru di mata si murid. “Selesai? Nah, mulai malam ini kamu tidur di sebelah batu tempat aku selalu sembahyang di luar sana itu. Hadapkan matamu ke langit. Dan tunggulah datangnya ilham!” Sang Murid mematuhi dengan kontan. Dia sigap keluar guha. Dirasanya dalam dirinya sudah tak ada lagi keraguan maupun rasa takut. Langsung dia celentang di permukaan batu yang rata itu. Langit penuh dengan bintang gemintang. Dasa Laksana menatapinya dengan tak sengaja. Tapi heran, dia kini merasa dirinya seperti biasa saja. Dia heran mengapa dia dapat mengenal kembali kelompok Bintang Tujuh itu. Juga dia melihat. bintang Mars itu, juga dia mengenal bintang venus yang amat terang itu! Lalu Dasa Laksana mulai memikirkan kembali sejak awalnya dia tersesat dengan Landrovernya. Perasaan dirinya menjadi seorang pemburu bangkit lagi. Dan tiba-tiba dia bertanya: “Perlunya apa aku patuh terus pada Sang Gur? Aku bukan manusia purba yang senang jadi orang hutan melulu! Bukankah aku melompat dari dahan ke dahan tak lebih dari seekor kera?” Rupanya, tanpa dia ketahui. Sang Guru sudah tegak dengan tangan terlipat, memperhatikan sang murid … dirinya sendiri! Begitu melihat kecantikan Ki Pita Loka, hatinya tergiur. Birahinya meronta-ronta. Dan tiba-tiba ada melintas keinginannya untuk memperkosa gadis ini … Sementara itu, di Bukit Runtuh dalam keadaan celentang kelihatan berpakaian putih berlipat tangan di dada, menatapi bintang Bima Sakti, seorang pria yang tak dapat tidur. Namun dia tidak gelisah. Dia seakan-akan sedang mempertanyakan diri: “Untuk maksud apa aku berada di sini? Beberapa hari siang dan malam ilham tak pernah kuterima! Aku bisa gila! Aku sebaiknya ke Kumayan daripada penuh keraguan menemui Pita Loka!” “Memang pantas Harwati mengutuk saya.. Saya ini gila cinta, mabuk cinta” gerutunya lagi. Namun dia tidak berbicara, bibirnya terkatup, sedang matanya tetap menatap bintang Bima Sakti yang tersusun di langit itu. “Bukankah kembali ke Kumayan itu lebih baik? Percuma saja membujuk Pita Loka, karena akhimya dia toh tetap akan bertahan sebagai Guru ilmu Sakti di Guha Lebah sana itu !” Sekonyong dia bagai melompat. Duduk! Dipandangnya alam dini hari sekeliling Bukit Rotan nun sudah jauh di sana. Bukit Lebah. yang mirip payung upacara itu, padahal sudah dekat. Mendadak tekadnya menjadi goyah, dan hatinya bergelora ingin ke Bukit Lebah. Dan menjelang subuh, ketika dia merayap di balik sungai, dia mendengar teriakan-teriakan. Sepertinya dua manusia yang sedang berlatih silat! Lelaki berbaju putih itu menjadi ragu untuk menyeberangi tebing sungai yang dalam itu. Keraguan ini mendadak saja muncul. Dia merasa tertipu oleh satu ilham yang didapatnya ketika dia akan meninggalkan desa Kumayan. Dia semalam sebelumnya bermimpi, bahwa Pita Loka cuma seorang diri. Jangan-Jangan dia bukan sendirian. Tapi bedua! Dan jangan-jangan, Pita Loka justru sedang berlatih dengan suaminya! Tiba-tiba lelaki berkemeja koyak itu teringat dalam alam sadarnya, masa silam di SGA. Dia pernah membaca drama Hamlet karya Shakespeare. Tokoh Hamlet adalah tokoh pangeran Ragu. Dan seorang yang ragu selalu akan berhati dua. Menjelang matahari terbit, tampak olehnya memang dua orang sedang berlatih. Hebat sekali persilatan mereka! Terutama, agak jelas yang satu lagi! Pastilah Pita Loka. Rupanya persilatan inilah yang dikenal sampai jadi semacam dongeng di Kumayan. Mengagumkan. Makin jelas sinar matahari tampil, semakin jelas pula Pita Loka dalam intipannya di balik dedaunan. Kerinduannya pada muridnya kini bergumul dengan kecemburuan. Kecemburuan inilah yang membuat dadanya sesak…Dia cepat merayapi dinding tebing tanpa menyentuh lagi permukaan sungai. Demikian cepatnya gerak merayap itu mirip seekor cicak layaknya! Dan seketika dia muncul di tebing Bukit Lebah, menyaksikan Pita Loka seketika itu bersama pria, dia berteriak tanpa sadar, sekeras gemuruh dari kawasan langit: “Pita Loka! Aku Gumara!” Ki Pita Loka bangkit berdiri tegap. Matanya menatap tajam pada Gumara. Tangannya dilipat ke dada menambah wibawa. “Untuk apa Bapak ke sini?” tanya Pita Loka. Gumara terdiam. Matanya melirik pada pria yang tak dikenalnya itu. Pria itu berpakaian safari pemburu, begitu modern, begitu gagah. Dan tanpa diduga Pita Loka tersenyum melihat dua lelaki yang kelihatan berkobar cemburu. Kedua-duanya tak bisa merahasiakan. “Kesempatan bagimu, Dasa, belajar pada seorang Guru yang hebat Gumara seorang Guru, Dasa!” Dasa Laksana tanpa ragu lagi berkata bagai kilat: “Mari aku coba Guru!” dan satu tendangan melingkar membuat Gumara terpelanting ke dahan pohon. Ikat pinggangnya menyangkut. Dan tampaknya lucu sekali dia tergantung di dahan pohon itu. Dasa Laksana ketawa lebar mencemoohnya. Kejengkelan membuahkan rasa marah. Kemarahan membuat Gumara jadi kalap. Dia cuma berkelit sedikit sehingga dalam sekelebatan tubuhnya jatuh ke tanah yang seketika itu juga dia menguakkan lompatan tujuh kali untuk kemudian melakukan satu tendangan buas. Tendangan itu tepat membuat telapak kakinya menggedor dada Dasa Laksana. Melihat darah mancur dari mulutnya, Dasa Laksana bukannya takut tapi dia pun kalap. Ki Pita Loka cuma menonton mirip wasit. Dia hanya bergerak sedikit untuk memungut segumpal darah Dasa lalu melemparkan darah itu ke udara. Dasa bertambah kuat kembali, sehingga ketika satu tendangan lingkar Gumara mau menyabet tubuhnya, dia sergap perut Gumara dengan kedua tanganya dan dia sendiri ikut dalam lingkaran tubuh Gumara yang berputar bagai gasing sebab tendangannya kosong. Keduanya jatuh bergulingan. Dan ketika Gumara sudah berada di tepi tebing, melihat hal itu membuat Pita Loka berteriak: “Gumara… !” Dasa Laksana yang menoleh pada suara yang dia dengar. Kesempatan itu membuat Gumara memanfaatkan tendangan tumit kakinya yang menggedor leher Dasa Laksana yang berteriak nyeri. Namun, jika dia tak berteriak … dia pasti sudah mati. Teriaknya mengendorkan urat pernafasan lehernya, sahingga dalam keadaan wajahnya berlumuran darah dia langsung melakukan lompatan dari dahan ke dahan sembari kakinya silih berganti menghajar dada maupun punggung Gumara. Gumara tersungkur. Dasa Laksana melompat dari dahan dan dua kakinya sengaja diinjakkannya ke pinggang Gumara supaya tulangnya remuk. Gumara tiba-tiba ingin mengeluarkan ilmu harimaunya. Namun keraguan untuk menyembunyikan ilmunya dari kesaksian Pita Loka itulah yang membuat dia ditampar oleh telapak kaki kiri kanan Dasa Laksana yang bergelayutan lincah di dahan pohon. Tampaknya Gumara tak berdaya hanya karena dia ragu untuk mengeluarkan ilmunya. Kesabarannya untuk tidak mengeluarkan ilmunya yang aseli memang luar biasa! Ki Pita Loka tahu akan hal ini. Dia menaruh hormat pada Gumara yang sedang kenyang disiksa Dasa Laksana. Karena sikap sabar begini hanya dimiliki Guru-Guru Besar. Melihat Dasa Laksana keliwat bernafsu menghajar Gumara itu. Ki Pita Loka memperingatkan: “Berhentilah berkelahi! Percuma saja! Kalian berdua toh tidak akan mendapatkan apa yang kalian rebutkan!” Serentak Dasa Laksana menghentikan siksaannya menyepak kepala Gumara dan Gumara membenamkan nafas tunggal ke jantung, lalu mengisi tenaga dalamnya sebelum dia berdiri tegak. Siksaan sudah berhamburan dia terima. Namun melihat sosoknya yang berdiri dengan nafas teratur, menyebabkan semangat liar di hati Dasa. Dia terjang tubuh yang tegak berdiri itu dengan satu tendangan mencuat yang membuat Gumara terlempar jauh. Dua pohon langsat roboh akibat tendangan Dasa yang membuat tubuh Gumara membentur pohon-pohon itu. Ki Pita Loka menjadi jengkel…. Dia melakukan tiga lompatan lewat dahan dan pada lompatan keempat sekaligus dua kakinya mengepit lengan Dasa, nadinya terhenti sesaat yang membuat lelaki gagah itu pun pingsan,,, Kepingsanan ini memang dikehendaki Pita Loka. “Bukan perkelahian kalian berdua yang berjam-jam itu yang saya kagumi, Pak Guru”. ujar Pita Loka. Lalu dia teruskan ucapannya: “Pak Guru mungkin berkelahi dengan penuh kesadaran. Tapi si Dasa tidak. Saya sudah sembahyang subuh, sembahyang lohor dan asyar. Kalian tetap saja adu tenaga. Tapi saya rasa Pak Guru cuma memainkan jurus-Jurus bunga saja. Tujuan anda ke sini mungkin ingin mengetahui rahasia ilmu stanggi saya”. “Tidak”, ujar Gumara. “Ah, saudara tirimu ke sini, belajar dari saya, dan saya memberikannya dengan tulus. Tapi jika ilmuku sepuluh jari. Dia baru mendapatkan satu kelingkingku!” Pita Loka dengan sadar memancing kemarahan Gumara. “Saya ke sini…”, kalimatnya terhenti, karena Dasa Laksana yang mendadak siuman itu sudah bangkit dan seketika itu juga melompat bagai kesetanan dengan dua kaki menyergap tengkuk Gumara. Gumara membiarkan kaki itu mengepit. Tapi gumpalan tinjunya seketika menghajar tulang tumit Dasa Laksana, sehingga Dasa Laksana menjerit. Dia melangkah terpincang-pincang. Ki Pita Loka kali ini geram dan malu. Dengan prihatin dia hampiri sang murid yang pincang itu. Jempol jarinya dia usap pada langit-langit mulutnya, kemudian jempol itu membarut tumit Dasa Laksana. Tumit yang hancur itu mendadak utuh kembali, dan Dasa Laksana mendengar suara Sang Guru: “Usir dia dari kawasan ini!” Maghrib terlewatkan sehingga Ki Pita Loka tak sempat melaksanakan ibadat sembahyangnya. Ini karena dia berkonsentrasi melakukan perlindungan atas muridnya. Dia berdiri tegak meniupkan gelombang ernafasannya ke arah tubuh muridnya agar kekuatannya masuk ke tubuh Dasa Laksana. Gumara mengetahui bahwa Ki Pila Loka telah “mengisi” muridnya dengan gelombang tingkat tinggi. Ketika ia terlempar dalam jarak sepuluh meter menggelinding ke bagian bukit yang rendah, ia tetap pada keputusan tidak mengeluarkan ilmu intinya. Namun otak matematika dan fisika bekerja seketika. Satu kekuatan bergelombang tinggi. Bisa memisakahkannya. Hal itu harus dilawan dengan keuatan gelombang terendah. Ia segera mengosongkan tubuhnya, seperti seorang yang keluar dari gaya berat bumi. Ia melayani pukulan-pukulan Dasa Laksana yang dahsyat bukan dengan gerak maju, tapi seluruhnya menyediakan diri dengan gerak-balik. Satu tinju menghantam perutnya. Gumara menekuk perutnya ke belakang sehingga tinju itu hanya mengenai permukaan kulit perut. Gumara sempat melirik beberapa detik ketika ia mundur dihantam. Melirik pada Ki Pita Loka yang begitu bersemangat “mengisi” muridnya dengan tiupan- tiupan gelombang. Daun-daun dari ranting pohon mengikuti arah angin gelombang ketika Ki Pita Loka meniupkan isiannya ke setiap langkah Dasa Laksana. Dalam kelebatan perkelahian yang menuju waktu fajar menyingsing ini, Gumara sempat terjebak oleh emosi. Dia berniat untuk sekali waktu nanti, kembali ke Guha Lebah. Untuk mengambil ilmu inti yang penuh misteri ini. Ilmu inti tirai stanggi. Sebab sekeliling kawasan perkelahian dia rasakan sudah diliputi bau stanggi, bahkan bau belerang. Ia yakin, ilmu yang dimiliki Ki Pita Loka berasal dari inti lahar, magma dalam bumi,yang mungkin ada salurannya ke Guha Lebah. Waktu itu kesempatan berfikir ada padanya, karena tendangan Dasa Laksana yang menjurus ke kepalanya ia elakkan. Sehingga kaki Dasa Laksana kejeblos masuk ke dinding satu bukit kecil curam, hingga ke dengkul. Ki Pita Loka berlompatan dari dahan ke dahan menuju Dasa Laksana. Lalu mengeluarkan kaki muridnya yang kejeblos itu. Segera sang Guru mengobati muridnya dengan lendir langit-langit mulutnya. Gumara sebetulnya ada kesempatan untuk menghantam urat kematian pada leher belakang Ki Pita Loka saat itu. Tapi tidak! Dia tak mau main silat secara sekelit. Dia ingin tahu, dengan keasyikan yang belum pernah ada padanya seperti sekarang Ini: mencoba gelombang terendah, ibarat satu roket kecil, yang terbang amat rendah hingga berada di bawah radius radar, Dasa Laksana dengan teriakan nyaring melompat ke udara, terjun ke bumi dan membal beberapa kali untuk kemudian melakukan sapuan tendangan yang menabrak Gumara secara spiral. Gumara menekuk diri sehingga semua gelombang rendah terkumpul dalam dadanya. Hal ini membuat hantaman kaki kanan Dasa Laksana ibarat menghantam ban mobil. Dia membal terjungkir ke belakang. Dengan gerak spiral terbalik. Kepalanya menabrak pohon. Gumara tahu, murid setia Ki Pita Loka sudah pingsan seketika itu juga. Bayangkan! Benturan itu sempat mematahkan pohon! Gumara bersikap amat tenang menghadapi Ki Pita Loka! Guru berhadapan dengan Guru. Matahari yang mulai bersinar, kebetulan menimpa muka Pita Loka, sehingga jelas bahwa Pita Loka amat marah, dia dengar Pita Loka membentaknya: “Pergi kau dari sini! Aku tidak membutuhkan kamu!” Itu bagi Gumara satu penghinaan. Dia bukan ingin pergi, tapi ingin melanjutkan perkelahian, jika perlu dengan Guru terhormat dan terkenal ini. “Jika muridmu sudah pingsan, Ki Pita Loka, itu berarti dia harus diganti….. Tuan tentu maklum, Guru yang kuhormati” kata Gumara. “Aku? Aku tak layak untuk berhadapan dengan anda”, ujar Ki Pita Loka dengan nada angkuh. “Sekalipun kau bersama saudara tirimu Ki Harwati, Ki Rotan dan lain-lain itu, semuanya masih sebesar kelingkingku!” Dasa Laksana barusan sadar dari pingsannya. Dia berada di sebelah timur. Dilihatnya Ki Pita Loka berdiri berhadapan dengan Gumara. Sang Guru, berada di sebelah barat Sehingga sorot matahari seakan-akan mau memperlihatkan kecantikan sang Guru secara sempurna. Birahi sang murid bangkit, disertai cemburu besar. Gumara harus dimatikan! Dia telah didorong oleh keinginan mendapatkan ilmu Gurunya secara sempurna dengan bersatu tubuh sehabis perkelahian memusnahkan Gumara. Tekad itulah yang membuat Dasa Laksana sepenuh tenaga muncul di antara berdirinya Pita Loka dan Gumara. Ia langsung berhadapan dengan Gumara. Dia menjadi jengkel ketika Ki Pita Loka berkata: “Ayohlah! Bertempur melawan muridku! Dia muridku, bukan suamiku, bukan pula kekasihku! Ayoh lawan dia!”. “Kau tak suci lagi”, tuduh Gumara. “Tak suci? Jika kunodai hatiku dengan godaan iblis, maka tirai stanggi akan runtuh menjadi sumur. Itu harap anda ketahui, Guru! Dan aku tidak ingin melepaskan ilmu yang aku dapatkan secara ghaib dalam keadaan hati merasa karena sikap ragu engkau, Guru”. Jika demikian fikir Gumara seketika itu, tentulah dia mencintai saya! Dia lari ke pengasingan ini karera harga diri! Dia musuhi aku karena harga diri. Lalu, Gumara memutuskan menyerah kalah. “Gumara bukan bertekuk lutut atau kalah. Gumara juga bukan patah semangat. Sekiranya saja dia mau menampilkan kemampuan ilmunya yang dia warisi dari ayahnya sebagai tambahan pelengkap, itu saja sudah cukup untuk melawan semua Jurus yang sudah ditampilkan Dasa Laksana tadi. Tidak, fikir Gumara. Aku mesti bersaing secara sehat. Betapapun jengkelnya aku dengan ucapan Ki Pita Loka, setidaknya aku hormat pada pendiriannya. Dia masih suci. Lidah Pita Loka dapat dipercaya. Sebab setahu dia tak ada di dunia ini gadis dengan lidah yang ada bulunya. Lidah demikian mengandung pertanda kelebihan dari semua lidah berjuta-juta manusia normal. “Selamat atas kemenangan anda”, kata Gumara pada Dasa Laksana. Dia mengulurkan tangannya, lalu dia mengaduh-aduh karena dipencet oleh Dasa. Dan setelah mengerang kesakitan. Dasa lebih bersemangat untuk membuktikan kejantanannya di depan Pita Loka … diangkatnya secepat kilat lalu dibantingnya Guru Gumara. Terbanting begitu, Gumara menjerit kesakitan. “Sudah, tuan. Saya sudah mengaku kalah. Setidaknya dalam persaingan cinta dalam memperebutkan gadis sakti semacam Ki Pita Loka yang terhormat ini. Semoga kalian berdua dapat menikah secara konkrit dan berbahagia”, dan ucapannya yang merendah itu membanggakan hati Dasa Laksana, sebaliknya menyakitkan hati Pita Loka. Gumara membetulkan bekas-bekas tanah yang menempel di baju dan bagian tubuhnya karena bantingan terakhir Dasa tadi. Lalu dia melangkah. Tapi Pita Loka bergegas mengejar dan berseru: “Tunggu Guru Gumara!” Gumara, tanpa menoleh tapi menghentikan langkah, bertanya memunggung: “Apalagi yang kau akan katakan, Ki Pita?” “Anda mau ke mana?” “Mau ke mana tanya Ki Guru terhormat?” “Ya”. “Aku akan ke desaku Kumayan. Kembali ke masyarakat manusia biasa. Aku toh bukan manusia sakti seperti anda yang mulia dan Ki Dasa Laksana yang terhormat”. Tapi betapapun, maafkan saya”, kata Ki Pita Loka. “Kecuali andaikata jiwa saya bergetar kembali, tentu langkah sayapun akan tertuntun mengikuti getaran itu”, ujar Gumara. “Getaran apa itu?”“ bentak Dasa Laksana. “Anda pria. Saya pria. Kita sama-sama maklum”. Gumara melangkah lagi. Dasa bersemangat dan berteriak mengancam: “Nanti dulu, Bung! Tunggu!” Langkah Gumara henti seketika. Tapi sebagaimana dia bicara dengan Ki Pita Loka tadi, kali ini pun memunggungi: “Tuan sudah menang, perlu apa lagi?” “Kurasa kamu bermaksud kembali lagi untuk membalas dendam”. kata Dasa. “Ah..” . “Katakan kalau kau jantan, Gumara?” teriak Dasa. “Soal mengatakan atau tidak mengatakan itu hak saya. Tiap pribadi punya hak mutlak untuk berkata ya atau tidak. Dan tuan tidak perlu memaksa saya !” Gumara cepat melangkah menuruni Bukit Lebah itu. “Bangsat!” geram Dasa Laksana meninju kepal tinjunya ke telapak tangan. Akhirnya ditinjunya pohon langsat di sampingnya sehingga hancur dan roboh. Setelah melihat Gumara jauh dan jauh terus menuruni tebing menjadi bintik noktah di sana , Ki Pita Loka memejamkan mata. Satu perasaan retak di hati terasa pedih. Ketika matanya yang terpejam tadi dia buka, lalu dia menoleh ke samping, dia melihat Dasa Laksana duduk di batu besar dengan kepal tinju menupang dagu. Kedua insan itu saling bertatapan mata. “Kurasa setelah Guru Gumara pergi, anda pun pergi”, kata Pita Loka. Dasa Laksana terdongak kaget. Dari duduk dia berdiri. Dan berdiri dia melangkah menghampiri Pita Loka. Dari melangkah dia berhenti. Dan dari berhenti itu dia lantas berkata: “Ki Pita, guruku. Apa maksud anda supaya saya pergi? Bukankah itu berarti saya harus meninggalkanmu?” “Ya. Dia dan kau harus meninggalkan saya”, kata Ki Pita Loka. “Tapi bagaimana saya harus pergi? Kota terdekat adalah 100 KM dari sini. Sedangkan mobilku dan semua perlengkapanku sudah kau buang, Guru “Sebaiknya anda pergi, Dasa!” “Pita Loka!” Dasa berseru lantang saking kesal. “Ikuti ucapan Guru Gumara tadi. Kembalilah kamu ke masyarakat manusia biasa seperti kamu sebelum kenal saya”, ujar Pita Loka berwibawa. Hal ini membuat Dasa Laksana menyeringai sedih dan berkata seperti menguras seluruh isi kalbunya: “Saya sudah terikat dengan masyarakat kau, sekalipun masyarakat itu terdiri dari dua orang di sini: kau dan saya”. Sementara itu, Gumara bagai terlunta-lunta sudah melewati dua buah bukit. Dia lemaskan seluruh otot ketika melangkah. Dia seakan-akan kosong dari segala kekosongan. Dibilang dia bertenaga, sepertinya dia bukan melangkah melainkan mengapung. Dibilang tak bertenaga, dia mampu memanjati berbagai dinding-dinding curam di antara bukit dan bukit. Juga, jika dibilang dia seenaknya tak ambil perduli atau jatuh atau terpeleset pun tidak. Bahkan begitu hati-hatinya Gumara ketika terpeleset di jurang lain sempat menangkap satu akar dari pohon yang tumbuh di tepi jurang, lantas, begitu sadar dia menarik nafas dan berkata: “Ya Allah. syukur alhamdulillah umurku masih Kau perpanjang”. Masih dinaikinya satu bukit lagi menjelang pulang menuju desa Kumayan, yaitu Bukit Tunggal. Ketika pergi dari desa Kumayan hendak menjemput Harwati atau Pita Loka. dia memang sengaja menghindar dari jalur Bukit Tunggal .Tapi entah bagaimana dia menjadi tercengang saja sewaktu sadar bahwa dia sudah berada di kawasan kekuasaan Ki Tunggal. Berdasarkan mimpinya yang sama bentuk sebanyak tujuh kali mimpi pada tiap malam Jum”at berturut-turut, dia sudah dilarang oleh Ki Tunggal untuk menjumpai beliau. Jika berhadapan muka, akan terjadi bencana. Maka orangtua sakti itu pun merasa perasaannya tak enak di kala maghrib tiba sehingga dia berkata pada isterinya yang berusia 16 tahun itu: “Nik, apa kau tidak merasa malam ini kelihatannya seperti akan terjadi sesuatu?” Senik Makuto yang cantik talu tersenyum;;; “Ada barangkali seseorang yang mau menguji Tuan?” “Ha?, tebakanmu jitu! Itulah yang kurasakan!” “Kalau begitu pertanyakan!” ujar sang isteri. “Bawa ke sini dupa itu, Nik”, ujar sang Guru yang berusia 100 tahun itu. Bau asap dupa melingkupi tempat bertapa Guru Tunggal itu. Wajahnya diasapi. Asap itu seakan-akan masuk cepat ke paru-parunya, lalu paru-parunya seakan dipenuhi oleh asap, yang kemudian memasuki seluruh pembuluh darah. Beliau yang tadi keriput secara perlahan seperti tampak muda selama lebih dari dua jam perkembangan pengaturan nafas yang amat cepat dan mengerikan. Tapi Senik Makuto bukan ngeri, melainkan senang. Pertamakali dia jumpa dengan Sang Guru sampai tergila-gila bukannya menemukan orang tua loyo keriput. Dengan mata jelalatan penuh birahi. Senik Makuto memperhatikan wajah suaminya yang penuh ketegangan namun makin lama semakin muda. “Kini usiaku sudah semakin mendekati usia orang itu”, ujar Sang Guru. “Siapa orang itu yang tuan maksud?” “Ki Gumara. Manusia perkasa. Dia datang terlalu cepat. Belum semestinya dia hadir di sini!” “Apa yang tuan rasakan?” tanya Senik terheran. “Aku sedang membencinya”, geram Ki Tunggal dan matanya mulai merah. “Kenapa Tuan membencinya?” “Dia akan berguru kepadaku. Dia mencoba melawan ketetapan Yang Maha Kuasa. Dia datang ke sini kelewat cepat, sebelum keharusannya. Apa boleh buat. Semua soal selalu dengan dua kemungkinan. Ya atau tidak. Bila ya ini berarti aku harus mati. Sedangkan aku belum waktunya mati”. Senik Makuto yang polos itu segera memeluk suaminya:”Kak, jangan berkata begitu! Senik sudah dikutuk dan diusir orang tua dan orang sedesaku! Kakak jangan mati!” Ki Tunggal bahagia dan menoleh pada isterinya yang beda usianya 86 tahun dengan dia. Dia tersenyum dan berkata: “Kalau begitu, Ki Gumara yang wajib aku matikan! Jika aku yang mati. Ilmu tunggalku akan berpindah secara alami kepadanya. Tapi jika dia yang mati dan aku yang hidup, maka ilmunya memperganda ilmu yang aku punya. Tapi kenapa dia datang? Untuk apa dia datang? Pintu daun nipah itu berkibas-kibas, mulanya lambat. Lalu lebih cepat. Kepala Ki Tunggal terdongak. Senik Makuto yang melihat perubahan wajah suaminya juga menoleh ke pintu dengan rasa kecut. “Aku tahu kamu yang datang Ki Gumara!” teriak Ki Tunggal. “Betul Tuan Guru yang mulia. Bolehkan saya masuk?” “Boleh, hanya apabila daun Pintu itu berhenti berkipas!” Pintu daun nipah yang semula bergoyang kipas itu mendadak berhenti berkibas. Satu sosok berdiri dengan sepenuh keagungan membuat Senik Makuto harus melepaskan nafas; “hahhhh”, yang didengar oleh Ki Tunggal, suaminya Ki Tunggal menoleh dan menyindir: “Kau terpesona dengan lelaki muda itu?” Senik Makuto termalu-malu sipu. “Inilah justru yang aku kuatirkan, Gumara. Kau datang begitu cepat. sedangkan bulan maduku bersama isteriku tercinta ini barusan berlangsung 37 hari. Kenapa kau tidak datang di hari ke-41?” Gumara menghentikan langkahnya, lalu berkata: “Setahu saya, Tuan Guru lebih faham kenapa saya melangkah ke sini. Bukankah ilmu tuan yang agung itu pernah menyebar ke seluruh penjuru, hingga ayahku mendengar berita itu!” Berita apa itu?” “Ayahku berkata, bagi tuan ada empat patokan: Langkah. rejeki. jodoh dan maut, hanya Allah yang menentukan”, ujar Gumara hormat. “Hmmm. Apa belul si Ki Karat itu ayahmu?” tanya Ki Tunggal. “Saya ke sini atas nama kedamaian, bukan atas nama prahara. Kenapa tuan tuduh saya manusia tak punya Ayah. Hanya ada dua manusia setahu saya yang tak punya ayah, yaitu Adam dan Nabi Isa, bukan begitu?” “Yang kumaksud kau anak haram jadah”, kata Ki Tunggal seraya menoleh pada isterinya yang cantik dan bertanya: “Kau dengar ucapanku, Nik?” “Apa betul orang segagah ini anak jadah?” tanya Senik Makuto. “Betapapun tinggi ilmunya, dia manusia yang hina”, kata Ki Tunggal yang membuat Gumara yang semula sopan lantas merentakkan kakinya sampai mengagetkan Senik yang lantas menjerit. “Jangan menjerit”, kata Ki Tunggal memperingatkan isterinya, “Aku memang memancing kemarahannya, agar dia cepat mati karena melawan Guru Besar!” Ki Tunggal seketika itu juga merasa yakin usianya sama persis dengan lawannya, Gumara. Begitu cekatan dia ketika menerkam Gumara dengan auman mirip suara harimau. Tetapi Gumara menangkisnya lawannya dengan auman pula. Ini membuat Ki Tunggal kaget. Dalam hatinya dia berkata: wah, anak ini sudah seilmu denganku”. Ki Tunggal menghambur dengan auman lagi, tapi Gumara tegak kokoh dan mencakar mukanya dengan gerak diam tegak lurus. Setelah dia cakar dia pegang sebelah kaki lawannya dan dia banting. Tubuh Ki Tunggal melintir bagai gasing lepas tali! Gumara menggeram. Ki Tunggal menyeringai dan bangun lagi yang kali ini cepat menyergap lengan Gumara dan dibantingnya dalam sedetik itu juga. Debu lantai menguap ke udara. Tapi seketika itu pula ketika satu sodokan mencakar mau mengenai muka Gumara, Gumara pun menyergap pergelangan tangan Guru Besar itu dan membantingnya sedetik itu pula. Debu menguap lagi. Tapi Senik terpaku penuh pesona. Dia mengagumi suaminya maupun Gumara. “ Gumara lalu meringankan tubuhnya agar apabila dia kena serangan apapun, resiko remuk tidak dialami. Ketika dia melihat Ki Tunggal menjungkir dengan satu telapak tangan ke lantai, ia sudah terka bahwa satu kaki Guru itu akan menerjang dadanya. Jika ini dibiarkan tendangan itu akan merupakan hantaman telapak kaki yang bisa muntah darah. Untuk itulah analisa sedetik Gumara membuat dia mengosongkan udara di perutnya seraya mengangkat tubuh satu hasta. Tendangan telapak kaki yang miring itu tepat mengenai perut Gumara. Yah, dengan ringan perut Gumara menahannya, sementara saking kencangnya tendangan Guru Tunggal itu … tubuh Gumara terlempar, menghantam dinding nipah yang tebalnya sejengkal Dinding itu jebol, dan Gumara terlempar keluar. Dia melakukan salto, berjumpalitan di atas rumputan di depan padepokan Ki Tunggal. Tapi seketika salto itu berakhir dengan kedua kakinya berdiri tegap menghadap, muncullah Ki Tunggal keluar dari pintu. Dengan telapak tangan keduanya ia hadapkan kedepan serta tenaga dalam yang diolah dari pusar lewat puncak kepala lalu terhembus lewat mulutnya, terhembuslah gelombang udara panas dan mulut itu dengan kecepatan bintang pindah. Ki Tunggal menahan panasnya wajahnya terkena radiasi yang ia tahu datang dari mulut Gumara. Tokoh tertua yang pernah dikagumi oleh enam manusia harimau dari Kumayan ini terus bertahan menahan panas. Begitu panasnya radiasi gelombang yang dihembuskan mulut Gumara, hingga tampaklah asap pada kumis dan Janggut Ki Tunggal. Kumis dan janggutnya hangus kini … Tapi beliau tetap tegak dengan pertahanan tenaga dalam. Juga tenaga ini bersumber pada sari nafas yang diolah dari puser-puser. Begitu padatnya perang terhalus ini, sampai ubun-ubun Gumara menciptakan ucapan asap, dan ubun-ubun Ki Tunggal pun mengepulkan asap. Ketika pertempuran dalam diam beginilah Senik Makuto mulai ngeri Kalau tadi dia terkagum- kagum oleh pertempuran gaya persilatan yang berupa gerak anggauta tubuh, kini wanita muda usia itu bukan lagi terkagum. Senik ngeri! Senik ingin berteriak tapi lidahnya kelu saking tegang. Pada puncak ketegangan tempur gaya hening begini, maka hujan gerimis pun turun. Baik Ki Tunggal, maupun Gumara sama menahan nyeri. Kepala mereka ibarat kekenceng besi dijerangan yang tiba-tiba diguyur air. Ssssssssssss….. Suara itu sama muncul dari kepala Gumara dan Ki Tunggal, desis kehangusan mengerikan… Kekerasan hati adalah modal bagi seorang juara, itulah yang diperlihatkan oleh gerak diam Gumara maupun Ki Tunggal! Hujan gerimis berubah menjadi hujan deras, diselang seling oleh petir menyambar. Satu petir yang amat dahsyat yang menciptakan garis lurus kilatan listrik bergemuruh. Garis listrik itu memanjang jelas dari utara ke selatan, menciptakan bekas yang jelas. Garis petir itu seakan-akan dibagi dua yaitu jarak tiga meter ke Gumara dan tiga meter ke Ki Tunggal. Garis petir itu telah membedah hutan belantara melampaui dua bukit ke selatan. Pada bukit yang ketiga, Bukit Rotan. ujung garis petir itu menghantam satu-satunya pohon kelapa. Di sini menggelegarlah puncak suara dahsyat! Harwati melompat dan sekelebatan sudah berdiri depan rumah jeraminya. Matanya melotot melihat pucuk pohon nyiur yang terbakar, begitupun batang pohon nyiur itu kelihatan seperti gagang obor. Biar hujan lebat, api yang membakar pohon kelapa itu tidak padam. Api itu bagaikan api yang bertenaga nuklir dengan sulutan minyak bensol gas berdaya bakar tinggi. “Ada peristiwa besar, Guru!” teriaknya pada Ki Rotan yang juga muncul dari rumah jeraminya. “Apa pendapatmu!” teriak Ki Rotan. Harwati berlari di tengah hujan dan petir itu menuju pondok jerami gurunya. Dalam basah kuyup itu dia berkata; “Aku mengikuti kejadian ini sejak awal. Sekarang ini malam Selasa, Hujan akan tak berhenti selama tiga bulan mendatang. Kulihat bola api bagai bergulingan dari langit, jatuhnya tepat kira- kira di Bukit Tunggal di utara. Lalu bola api itu membentur kawasan Ki Guru Tunggal, menciptakan garis lurus ke wilayah kita ini setelah membakar dua bukit perantara; “Ah, aku yakin sedang terjadi pertempuran silat besar antara dua raksasa di sana !” “Siapa kira-kira yang melakoni perang dahsyat ini?” tanya Ki Rotan. “Ayahku pernah menceritakan bahwa suatu kali bola api akan turun dari langit, jatuh di ubun- ubun Bukit Tunggal. itu lambang perebutan ilmu dan yang akan bertanding di sana adalah turunan Ki Karat. Ya, turunan ayahku! Kurasa Ki Gumara sekembali dari sini lewat ke Bukit Tunggal itu, padahal itu pantangan. Di sana dia akan dicegat Ki Tunggal yang iri hati, lalu bertempurlah kakak tiriku dengan beliau. Tapi… bukankah ayahku berkata bahwa turunannya yang akan menang? Aku ini kan turunan Ki Karat?” Mendengar kisah Harwati itu, Ki Rotan berkata bersemangat pada muridnya: “Ayoh, Ki Wati, segera langkahi dua bukit itu supaya kau sampai ke Bukit Tunggal. Kau ganggu pertempuran dua orang itu! Kau jadi orang yang ketiga! Tipu keduanya, dan habisi keduanyal Bukankah kau yang akan jadi pemenang? Bukankah kau yang dimaksud ayahmu sebagai pewaris ilmu tertinggi itu?”. Ucapan sang Guru yang biarpun kini ilmunya lebih rendah daripadanya. membuat Ki Harwati bergelimang gelora bakaran semangat. Dia tak menuggu waktu setelah berkata: “Ki Guru benar!” “Kau telah membuktikan bisa mengambil sekeping ilmu stanggi Ki Pita Loka. Kini ambillah ilmu Ki Tunggal atau Gumara atau gabungan dari keduanya bila kau bisa membinasakan dua-duanya!” “Baik Ki Guru!” “Bawa tongkatmu!” kata Ki Rotan. Ki Harwati hanya tersenyum dalam hati, sebab senjata rotan itu sudah tak ada perlunya lagi. Dia berkelibatan dengan lincah melompati dahan demi dahan. Sampai subuh tiba dia masih berlompatan dari dahan ke dahan dalam rimba-rimba ke arah utara. Setelah dua setengah kali bola matahari bergelincir, pada siang bolong yang gemercik hujan gerimis, sampailah dia di tengah Bukit Tunggal. Matanya menyelidik. Dia tak melihat, bahwa di bawah satu pohon kemumu Ki Tunggal sedang duduk bersila seraya menghembuskan radiasi bertenaga neutron ke arah Gumara yang juga duduk bersila, dengan hembusan tenaga radiasi yang berkekuatan seimbang. Tampak sinar hijau berganti merah silih berhembus dari dua mulut jawara itu … tapi Ki Harwati tak melihatnya, sehingga ketika dia melintasi gadis itu … dia merasa terbakar dan berteriak seraya melompat, melolong kesakitan bagai anjing betina kena sulut. Waktu dia melompat mundur dan mundur sangatlah jelas oleh matanya dua perkelahian secara hening sedang terjadi. Nasehat gurunya dia laksanakan. Dia mendekati tempat Gumara duduk bersila di bawah pohon kemuning dan berseru lantang: “Aku membantu anda, kakakku Ki Gumara!” Teriakan ini membuat Ki Tunggal terkejut dan melompat menyiapkan kuda-kuda mempertahankan diri. Dengan sekelebatan bagai angin puting beliung, Ki Harwati sudah menyerbu menabrak membenturkan telapak kakinya, tepat mengenai dada Ki Tunggal. Seketika itu juga Ki Tunggal muntah darah …! Menyaksikan Ki Tunggal roboh, Ki Harwati jadi kesetanan. Dengan mata bernyala dia menoleh pada Gumara. Gumara merasa senang karena adik tirinya, satu titisan darah, bisa merubuhkan Ki Tunggal. Dengan basah kuyup dan juga dikuyupi keharuan jiwa, dia berdiri melangkah menuju Ki Harwati. Tetapi tanpa dia duga Harwati melompat dengan terjangan yang lebih dahsyat dari terjangan pertama. Untunglah sebelum telapak kaki adik tiri yang akan menggedor dadanya itu sampai, Ki Gumara menghembuskanya dengan napas inti, sehingga Harwati berteriak melolong! Telapak kaki sang adik tiri itu bolong seketika! Dia terus melolong. Rupanya sementara peristiwa ini terjadi. Ki Tunggal sudah bangkit kembali setelah dia sadap dengan hirupan seluruh darahnya yang sudah tumpah dari mulutnya tadi. Dengan gerak puting beliung dia sekaligus menyabet tubuh Harwati hingga terlempar masuk ke rumah nipah dan menjebol dinding yang lebarnya sejengkal itu. Sekaligus pula sabetan itu menabrak tubuh Gumara yang langsung terpeleset dan meluncur bagai meluncurnya bola bowling. Tubuh itu menabrak tiga pohon kelapa yang tumbang sampai akar-akamya mencuat, dan terakhir menabrak lagi satu pohon kecapi yang amat tinggi. Pohon ini juga tumbang. Bunyi pohon besar itu bergemuruh ke tebing di bawah. Dan Gumara meluncur jatuh memasuki tebing yang tingginya 80 meter itu. Untunglah tubuhnya nyangsang di sebuah pohon miring yang tumbuh di tengah tebing itu. Rupanya ikat pinggang Lee yang dia pakai itulah yang menyelamatkanya dari kehancuran. Sungguh hebat ilmu Ki Tunggal, fikir Gumara. Pujian itu memang sungguh-sungguh. Hal ini sesuai dengan apa yang pernah dikatakan oleh Ki Karat, ayahnya, maupun Ibunya. Tapi di balik pujian itu, sembari terengah-engah menuruni tebing lewat batu-batuan raksasa itu. Gumarapun sebenarnya tidak begitu silau pada kehebatan Ki Tunggal. Ilmunya baru dirasakan istimewa justru dalam memanfaatkan perkelahian segitiga. Yaitu setelah munculnya Ki Harwati secara mendadak. Jika Harwati tidak muncul mungkin keadaan akan sangat lain. Tetapi, baru ia ingat nasehat gurunya, bahwa perkataan “jika” bukan milik seorang ksatria. Gumara masih terengah-engah. Tentu saja perkelahian dengan Ki Tunggal itu bukan sembarang perkelahian. Itulah perkelahian dua malam tiga hari yang mungkin belum pernah dialami oleh seorang Jawara manapun. Tetapi dirasakan hebat karena masing-masing tidak menghadirkan harimau karena kuatir saling mengetahui kelebihan dan kekuranganya. Dalam lelah itu, Gumara duduk di batu. Rupanya musim penghujan sudah mulai. Jauh di sana, tampak Bukit Kumayan seperti mengepulkan kabut. Jelaslah itu pembalikan sinar matahari atas hujan yang sudah menderas di sana. Tapi di tempat Gumara duduk ini, dia tidak basah. Padahal gerimis ada di sekelilnginya!!!!! Gumara berdiri tegak dengan kaget? Dia heran! Hanya di seputarnya saja tiada gerimis? Ini tentu ngalamat! Ini tentu suatu pertanda, pikirnya. Jarak tujuh langkah dalam radius titik sentral dia berdiri itu, benar-benar seluruhnya kering!. Biasanya dia mendapatkan suatu ngalamat lewat mimpi. Kali ini tidak seperti biasanya. Mengapa? Lalu munculah seorang tua yang pakaianya lusuh. Tongkatnya yang bercabang dua pertanda bahwa orangtua tak dikenal ini adalah orang yang bukan manusia biasa. Pasti ada isi. Kesan Gumara orangtua berjanggut putih dengan jubah lusuh itu menampilkan watak pribadi berwibawa. Beliau memanggil tuan guru kepada Gumara. “Maaf Pak Tua. Saya bukan tuan guru. Saya memang guru, tapi guru SMP yang melihat keindahan alam di sini karena sekolah sedang libur kwartal”, kata Gumara dengan berendah hati. Namun orangtua itu tersenyum bijaksana. Gumara memperkenalkan diri lebih dulu, kemudian bertanya: Pak tua namanya siapa. Pak?” “Nama saya Ibrahim Arkam. Saya telah lima puluh tahun ingin mempertinggi ilmuku. Tapi seluruh penjuru yang kucari, tidak bersua”. “Apa yang Bapak cari. Pak Ibrahim?” tanya Gumara sopan. “Kitab.” “Kitab apa. Pak Ibrahim?” “Sebuah kitab sakti. Kitab Makom Mahmuda”, ujar Ibrahim tua. “Saya tak pernah mendengar nama Kitab itu!” kata Gumara. “Tapi andalah calon yang menemukanya”. Kata Ibrahim Arkam, Gumara tercengang. “Apa isi Kitab itu?” tanya Gumara. “Rahasia Kehidupan. Anda akan mengetahuinya jika sudah membacanya. Kehidupan ini penuh banyak rahasia. Tapi jika kita sudah menemukan satu kuncinya. kita mendapatkan derajat tinggi!” Ibrahim Arkam lalu mengulas ucapannya lagi: “Kau lihat, bukti bahwa kau terlahir sebagai anak sakti adalah ini. Di sekitarmu ini. Lihat, selingkaran tempat kau berdiri ini tidak terkena hujan. Bajumu kering. Sedengkan bajuku basah kuyup. Ini berariti aku sudah cukup puas bertemu seseorang yang kelak akan mewarisi Kitab sakti Makom Mahmudah itu”. “Kenapa harus saya?” tanya Gumara, “Bukankah Bapak mengembara selama ini untuk mencari Kitab itu?” “Memang begitulah jalan Nasib. Bukankah yang itu yang aku inginkan? Tuhan sendiri pernah berujar: “Apa yang kau sukai belum tentu engkau dapatkan. Dan apa yang engkau dapatkan belum tentu kau sukai. Tapi apa yang engkau sukai belum tentu baik bagimu”, maka aku cukup puas mengembara hingga titik akhir ini! Bila misalnya Kitab Sakti itu, yang aku sukai itu, aku dapatkan, belum tentu itu BAIK UNTUKKU. Tapi kau? Aku tahu kau tidak mencari-cari dengan ngoyo untuk mendapatkannya. Namun akhirnya kau yang akan mendapatkannya”, kata si tua Ibrabim Arkam pun kelihatan matanya berkaca-kaca. “Tapi kenapa Bapak begitu yakin bahwa sayalah orangnya yang terpilih mendapatkan Kitab Sakti itu?” “Guruku banyak. Salah seorang di antaranya adalah Ki Tunggal yang menjadi penguasa Bukit Tunggal di sana . Setidaknya calon pemilik Kitab Sakti itu biarpun cuma sekali saja, akan pernah bertemu dengan dia”. Sungguh kagum Gumara dengan ramalan yang memang ada bukti itu. “Ki Tunggal yang telah memberi tahu kepadaku, bahwa calon pemilik Kitab Sakti itu harus memiliki tiga unsur kekuatan: Kekuatan benda padat, kekuatan benda cair dan kekuatan gelombang, apa itu udara, cahaya ataupun gas yang bermutu tinggi. Bersyukurlah kau. Mari singgah ke pondokku”. Ujar Ki Ibrahim Arkam dengan ramah dan hormat. Dia ramah dan hormat karena dia telah lima puluh tahun ingin mendapatkan Sang Kitab. Tapi tenyata dia jumpa muka dengan calon pemilik syah kitab tersebut, sesuai dengan ramalan bekas gurunya. Pondok yang dimaksud lelaki tua yang berwibawa ini, tenyata satu lobang di sebuah tebing. Tak ada tangga untuk sampai ke lobang itu. Gumara keheranan karena dengan acuan tiga langkah dan dua telapak tangan si tua bertelekan pada permukaan tanah mendadak dia sudah jumpalitan bagai orang bersalto. Seketika itu juga beliau sudah sampai dekat pintu lubang dinding tebing itu. Dari atas sana . Ki Ibrahim Arkam berseru pada Gumara yang masih ada di bawah: “Hoi pendekar muda, naiklah ke sini”. “Bagaimana caranya, Pak Tua?” tanya Gumara. “Ah, kau jangan bercanda, anak muda”, kata Ibrahim Arkam. Gumara lalu merayap saja di dinding tebing itu seperti seekor cicak. Setiba dia di atas, Ibrahim Arkam menepuk-nepuk bahunya: “Tambah yakin aku bahwa kau yang akan menjadi pewaris Kitab Makom Mahmuda itu, setelah satu abad terlepas dari tangan Syekh Turki”. “Ah, jangan besar-besarkan hatiku. Pak”. kata Gumara. “Aku tak berdusta anak muda. Cuma tiga orang yang berasal dari Kumayan yang memiliki ilmu cicak. Pertama Syekh Turki. Kedua Ki Karat, ayahmu. Dan kini engkau yang ketiga”, ujar Ibrahim Arkam dengan sopan. Lalu dibawanya Gumara memasuki rumah “di dalam tebing” itu. Segalanya amat di luar dugaan. Rumah dalam tebing itu mirip guha. Kesamaannya dengan Guha Lebah tidak ada sama sekali. Kebersihan dalam “rumah kiayi tua” ini amat luar biasa, Beliau berkata setelah Gumara memuji kebersihan, atanya: “Sesuai dengan hadis Nabi, kebersihan itu sebahagian dari Iman”. Ada dua obor yang terbuat dari kayu belahan pohon karet. Begitu Gumara menoleh, dia melihat ada semacam kuburan. Dua kuburan malah. Namun sebelum Gumara bertanya. Ibrahim Arkam menjelaskan; “Itu kuburan istriku, yang wafat 50 tahun yang lalu. Menjelang pengembaraanku mencari Kitab. Dan satunya lagi, kuburan anak lelakiku, yang terbunuh oleh ilmu setan Ki Rotan. Dua-duanya akulah yang memasukkannya ke liang kubur. Tapi jika aku mati, kuharap seorang calon Pendekar Besar yang memasukkan diriku ke liang kubur!” “Siapa calon Pendekar Besar itu, Pak?” tanya Gumara. Orangtua itu melirik tepat ke muka Gumara seraya berkata:: “Anda!” “Siapa tahu saya yang duluan mati, Pak”, kata Gumara. “Tidak. Ketetapan itu sudah tiba. Guruku yang terakhir. Ki Sabda, pernah menyatakan padaku begini: Mungkin kau yang akan mendapatkan Kitab Makomam Mahmuda itu. Mungkin juga tidak. Tanda-tandanya tidak adalah, jika kau temukan seseorang pengembara yang bahkan hujan pun takut membasahi dia, seorang yang rendah hati, setelah bersua dengan orang itu, ikhlaslah, lalu bersiaplah untuk mati”. Mata Ki Ibrahim Arkam tampak berlinang. Gumara tak habis heran, dan sebetulnya sudah yakin. Tapi bagaimana mungkin seseorang meramalkan kematianya” Bukankah mati itu rahasia Tuhan? Tapi kesempatan ini ingin digunakan oleh Gumara. Dulu ia pernah membaca buku semasa masih Sekolah Guru Atas (SGA). Ia lupa nama pengarangnya.Tapi ia tidak lupa pesan pengarang itu yang berfatwa: “Berguru kepada orang yang hidup itu baik, tetapi berguru kepada ORANG YANG AKAN MATI itu lebih baik!” Jika benar Ibrahim Arkam akan mati, ia siap untuk berguru kepadanya. Pertama setelah dia dijamu minuman tebu yang sudah diperas, ia ingin bertanya, di manakah Ki Ibrahim Arkam medapatkan tebu. Lalu, kedua ketika tengah hari dia disuguhkan makan siang dengan hidangan singkong rebus. Dia bertanya dalam hati, dari manakah Ki Ibrahim dapat singkong rebus. Setelah makan siang itu, dia mengikuti bersembahyang lohor. Tapi ya Allah, betapa orangtua ini lamanya berdiri membaca ayat-ayat Kitab Suci Al-Quran. Juga betapa lama dia rukuk dan sujud. Apakah yang dibaca guru tua ini ketika berdiri, rukuk dan sujud?” Ketika Gumara melihat tumpukan singkong-singkong yang sebesar paha tak tahan lagi Gumara bertanya: “Dimanakah tuan guru membeli singkong ini?” “Di tanam sendiri”. “Tebu-tebu itu?”. “Juga hasil kebun tebuku” “O, mana kebun anda?” “Di sini. Di sini”, ujar pak tua itu menunjuk tempat mereka duduk. Gumara tercengang. Tapi sebelum dia bertanya lagi, orangtua itu mengajak Gumara menuju satu lorong. Tiap tiga meter ada obor kayu karet. Lalu tampaklah sebuah kebun. Bayangkan! Kebun di bawah tanah. Rupanya ada terowongan raksasa peninggalan Bala Tentara Jepang yang sudah diperlengkapi dengan gardu-gardu listrik. Dan kebun di bawah tanah ini benar-benar subur. Tenyata tebing itu tembus menghadap ke timur. Setidaknya sampai jam 10 pagi kebun di bawah ini sudah menikmati cahaya matahari secara total. Tinggi terowongan ini adalah 10 meter. Jadi pohonan seperti pohon singkong dan pohon tebu tidak akan sampai menjangkau langit-langit terowongan Jepang ini. Gumara sampai geleng-geleng kepala. Kalau sekiranya orang melihat dari arah timur, orang takkan percaya di sini ada kebun di bawah tanah. Paling yang tampak hanya kehijauan biasa saja… Keheranan Gumara rupanya tidak akan berhenti di situ saja. Ki Ibrahim Arkam menyeret lengan Gumara ke sudut tenggara. Ternyata di situ ada semacam pintu beroda. Ketika pintu beroda itu didorong Pak Tua itu, terbukalah satu ruangan. Alangkah terkejutnya Gumara! Bukan main! Satu ruangan yang indah dengan dekorasi rumah-rumah bangsawan Japang. Wallpaper yang menghiasi ruangan itu merupakan dekoratif khas Jepang. Tempat tidurnya pun tingginya cuma sejengkal. Di timur, di barat ruangan yang mirip kamar hotel ini, ada kaca setebal satu sentimeter. Kaca ini benar-benar berfungsi sebagai jendela yang akan menyerap sinar dan ultra violet matahari. Tak bisa dibayangkan jika malam, kebetulan Bulan Purnama! Ada pula wastafel dan kran-kran air ledeng. Juga ada kamar mandi. Maka yakinlah Gumara mengapa Ki Ibrahim Arkam ini terawat bersih. Di kamar mandi ada persediaan biji-biji buah klereg, yang bisa berfungsi sebegai sabun. “Bisa mandi di kamar mandi ini, Pak?” tanya Gumara. “Lho bisa saja. Kalau puteran itu (maksudnya kraan) diputar, maka akan keluar air. Setelah aku selidiki, air ini datangnya dari pipa yang menembus dua bukit. Air ini datangnya dari air terjun Ratu Stanggi!” “Ratu Stanggi!” seru Gumara tercengang, karena baru mendengar nama itu. “Kamu baru mengenal nama itu?” tanya Ki Ibrahim Arkam. “Baru kali ini. Ayahku pun tidak pernah menceritakan, Pak”. “Supaya kau kelak menyaksikannya sendiri, lalu merasa heran. Ratu itu sebetulnya Ratu Jin yang sepertinya bertugas sebagai saringan bagi orang-orang yang akan menjalani keutamaan hidup”, kata Ki Ibrahim Arkam. Gumara kini lebih tertarik untuk memutar kraan. Memang muncratlah air dari atas. Saking girangnya Gumara tak membuka baju kemeja putihnya maupun celananya, bahkan dia berbasah-basah kegirangan menikmati air bersih! Ki Ibrahim menyembunyikan perasaan gelinya. Ada handuk yang bersih berjajar, sekitar 12 buah. Kiranya melihat handuk ini berukiran motif Dai Nippon, tentulah ini persediaan Perwira Jepang yang melarikan diri ke sini. Lalu Gumara pun diberikan satu stel pakaian Tentara Jepang. Dengan demikian, ketika dia mengenakannya, dan melihat dirinya sendiri di kaca. hanya rambut gondrongnyalah yang kurang cocok dalam pakaian militer ini. “Masih ada satu soal lagi”, kata Ki Ibrahim. “Apa, itu Guru?” “Di sudut itu aku bersembahyang tahajud apabila malam mulai mendekati dinihari”. Gumara terpana. Hanya lewat Ki Putih Kelabu dia pernah mendengar anjuran bersembahyang tahajud. Kini dari Ki Ibrahim yang tua dan bersih ini. “Kalau begitu boleh saya amalkan sembahyang tahajud di sini?” tanya Gumara pada ki tua. “Ah, kau jadi tamuku. Kau akan kulengkapi dengan pelbagai kebutuhan selama menjadi tamuku. Asal saja kau bersedia menguburkanku di samping kuburan isteriku. Dan jangan sekali-kali engkau kuburkan aku di samping orang-orang itu!” Ki Ibrahim menyingkapkan satu tirai berupa gorden panjang. itu bukan ruang biasa. Dan itu hanya semacam terowongan kasar saja. Tapi ketika memegang obor mengajak Gumara memasukinya, Gumara heran sekali. Ternyata ruangan ini semacam kuburan. Ada dua belas pedang samurai ditancapkan di tiap-tiap kepala kuburan-kuburan itu. “Siapa mereka Ki Ibrahim!” tanya Gumara. “Mereka Perwira Jepang yang bersembunyi di sini. Aku sedang tergila-gila mencari Kitab Sakti itu, sampai kesasar memanjat dinding tebing yang menghadap ketimur itu … kebun singkong itu … lalu kutemui seorang Tentara Jepang siap dengan pedang samurai. Kami berhadapan. Aku sedang dalam tingkat ujian kekebalan ilmuku. Kulawan serdadu yang bersenjata pedang samurai itu. Cukup lihay dia … Tapi ketika muncul seorang lagi dan seorang lagi sampai semuanya 12 orang, aku tak mungkin mundur lagi. Kurebut senjata mereka, dan kutebas leher mereka satu demi satu. Pada hari itu juga aku harus menggali 12 kuburan sampai lepas dinihari berikutnya. Lalu aku kubur mereka, dan kutemukan pintu dorong kamar rahasia itu!” Dan si tua bersih itu kemudian berkata: “Akhir cerita, mereka semua mati seperti setan. Mati yang mengerikan, nak Gumara”. Gumara tambah betah. Tetapi dalam kepalanya tak sebagaimana biasa berisi pertanyaan dan keheranan. Dan malam itu dia menginap di kamar yang indah itu. Ketika ia terbangun di tengah malam, ia tiba-tiba merasa ngeri. Dilihatnya Ki Ibrahim tidak berada di sebelahnya. Oh, ternyata beliau sedang bersembahyang tahajud. Gumara lalu bangun dan menuju kamar mandi. Dia berwudhu. Dan ikut melaksanakan sembahyang tahajud tanpa setahu Ki Ibrahim, sebab dia mendirikannya di sudut lain. Gumara mulai lelah. Jika diikuti amalan sembahyang tahajud Ki Ibrahim maka dia akan teler. Dia cuma sanggup satu jam saja. Tak bisa dibayangkan, betapa konsentrasi kiayi tua itu amat hebatnya. Gumara sudah melihat fajar menyingsing dari kebun timur, kembali ia ke ruangan indah mendapati Ki Ibrahim masih bersembahyang. Dan setelah itu, Ki Tua ini memanggil Gumara. “Mari ikut bersama saya bersembahyang fajar” katanya. Lalu ikutlah Gumara selaku makmum yang diimami oleh Ki Ibrahim, melakukan sembahyang fajar. Ternyata sembahyang dua-dua rakaat itu belumlah dihabisi sang imam ketika beliau berkata: “Waktu subuh tiba. Ikutlah bersama mendirikan sholat subuh!” Begitulah, selaku tamu yang dihormati. Gumara mengikutinya. Tak lama setelah itu. Gumara mendengar kata-kata si tua: “Nak, ingin sekali aku melihat permainan silatmu”. “Dengan senjata?” tanya Gumara. “Tidak usah. Kau toh kuketahui orang hebat. Aku hanya ingin melihat jurus-jurus permainanmu. Hanya sebagai hiburan bagiku yang sudah dekat ajal”, kata si tua. Gumara lalu mengambil tempat. Dia bersila dengan hadap duduk yang menghadap langsung Ki Ibrahim, dalam jarak lima meter. Lalu dengan kedua telapak tangan yang dirapatkan dan melipat ke dada, Gumara menghatur sembah. Dia membuka “permainannya” dengan tarikan sembah ke kening, lalu telapak tangannya terkembang ke samping, dan dalam sekelebatan dia buka kedua kaki dan berdiri merentak dengan satu “tantangan”. Tantangan itu diterima oleh Ki Ibrahim dengan satu serbuan tendangan ke arah jidat Gumara, tetapi Gumara mengelak sehingga kaki Ki Ibrahim dipanggul di bahu Gumara, lalu Gumara banting orang tua itu sampai dia jumpalitan saperli salto ke sudut pintu kamar mandi. “Sudah, cukup segitu”, ujar si tua dengan nafas ngos-ngosan. “Aku baru mulai”, kata Gumara. “Aku sudah selesai”, ujar si tua, “Yah memang engkaulah pewaris Kitab Sakti itu … karena perkelahian singkat tadi kau lakukan tanpa main-main”. Lalu si tua itu mengajak Gumara ke kebun. Rupanya disuruh ikut menggali ubi dan menebang tebu. Itulah sarapan pagi mereka berdua. Minuman air tebu. Dan makan singkong rebus. “Bolehkah saya malam nanti diperkenankan tidur sendirian?” “Di mana?” “Di kebun. Malam ini saya merasa tak ingin tidur ditemani anda”, Ujar Gumara. Ki Ibrahim Arkam tersenyum meyakinkan, lalu berkata; “Begitulah ujar Guru saya yang kini saya temui buktinya. Katanya: “Hai putra Arkam, jika kau temui seorang lelaki yang suka berterus terang, jika perlu melukai perasaan orang lain demi keinginannya yang sudah matang, dialah calon Pendekar Besar” … dan nyatanya kau jadi tamuku, tapi kau minta syarat tidurmu tak ditemani dan yang kau pilih adalah kebunku. Kupersilahkan kau menyatakan apa saja, melakukan apa saja. Kau di sini bukan lagi tamu buatku!” Hal itu menyenangkan hati Gumara. Siang itu juga dia melakukan latihan yang ia sendiri tak mengetahui kenapa harus demikian. Tak ada bisikan, tak ada pembimbing, kecuali ingin melakukan “permainan” saja. Dan hal ini tanpa dia duga diperhatikan oleh Ki Ibrahim. Latihan itu cuma melompat dan melompat ke segala penjuru, di antara pohon singkong dan pohonan tebu, tanpa kesenggol sedikitpun dengan daun maupun batangnya. Ternyata selama dua jam dia harus menguras keringatnya yang berleleran sampai ketika tiba-tiba ia kaget satu benda seperti dilemparkan oleh seseorang kepadanya. Dan ternyata benda itu sebuah keris trisulo, yang saat melayang langsung dia tangkap, dan kembali melompat ke permukaan tanah dan tidak menyenggol daun tebu atau singkong. “Hadiah dariku untukmu”, ujar Ki Ibrahim Arkam di balik rumpun tebu yang di pinggir. Gumara ercengang, dan amat bahagia setelah mendengar pujian: “Aku senang permainanmu, nak Gumara. Sekiranya rumpun tebu dan singkong ini adalah susunan benang kusut kayak sarang laba-laba, maka satu benangpun tidak akan tersentuh ketika kau melompat ke segala penjuru!” “Pujian tuan dapat membuat saya kesasar”, kata Gumara. “Tapi tiap orang menuntut ilmu, pasti akan mengalami kesasar. Besar atau kecil. Ingatlah itu”, ujar Ki Ibrahim. Sampai sehabis selesainya sembahyang iesya di belakang imam Ibrahim Arkam, Gumara pun akhirnya menghatur sembah; “Kuharap maaf tuan, karena malam ini aku sudah katakan ingin tidur sendirian di kebun tuan”. “Kupersilakan dengan senang hati”, ujar Ki Ibrahim. Latihan permainan yang tak direncanakan tadi siang rupanya membuat Gumara tidur lelap di antara pohon singkong yang berdaun rimbun itu. Tak ada penerangan, tapi juga tak ada nyamuk. Gumara dalam keadaan ngorok lalu terjaga dengan tiba-tiba. Karena ia mendengar seperti bunyi benda gemerincing. Bulu romanya merinding, tidak sebagaimana biasa. Perasaan takut yang amat sangat- yang bukan menjadi ciri kebiasaannya – kini membuat dia seperti seorang penakut yang bulu romannya meremang, merinding tegak! Gumara mendengar lagi suara gemerincing itu. Mendadak secara mengerikan, kedengaranlah suara dari dua belas penjuru secara menggemuruh: “Banzaiii Tenno Heika! Banzaaaaai!” Dalam gelap itu Gumara mendengar suara gemerincing pedang, kadang kilatannya karena masih ada sejumut cahaya langit dari timur kebun itu. Kilatan pedang itu membabi buta, dan Gumara sudah melihat dua belas lawannya pada posisi mata angin, Mereka tegap dan berpakaian perwira Tentara Jepang. Tapi semuanya tidak berkepala. Tampaknya duabelas manusia tak berkepala itu penakut. Tak ada kesan mereka akan menyerbu. “Setan”“, gerutu Gumara sambil merebahkan diri lagi. Tetapi teriakan Banzai mendadak terdengar lagi disertai gemerincing pedang. Gumara berdiam diri saja. Teriakan itu semakin hebat dan gemerincing pedang semakin mendekat. Dan Gumara hanya berpeluk lutut saja, tanpa mengacuhkan musuh-musuhnya, Gumara sudah diberi patokan, bahwa dia tidak diperkenankan melawan setan. Namun teriak dan gemerincing pedang semakin lama membuat Gumara semakin marah, sehingga dia melompat dari tidurnya seraya berteriak: “Kamu bangsattt!!!”“ Teriak Gumara sempat membuat terdongak Ki Ibrahim yang baru selesai dari sembahyang tahajudnya. Sementara itu Gumara dengan kemarahan yang amat sangat melakukan pertempuran habis-habisan merebut pedang samurai seluruhnya. Dan dengan dua belas pedang yang silih berganti dia mainkan itu dia membabat musuhnya yang tunggang langgang. Dan ketika mereka sudah menghilang, Gumara heran mengapa dia menggenggam enam pedang samurai di tangan kanan, dan enam di tangan kiri. Keajaiban memang sering dia alami. Ketika dia permisi lewat di ruangan tahajud Ki Ibrahim dia ingin membuktikan apakah tadi perkelahian konkrit ataukah mimpi. Dia buka tirai keruangan kuburan itu. Samar-samar ditelitinya. Tak ada satupun pedang tertancap di sana sebagai nisan perwira-perwira Jepang itu. Lalu Gumara mendengar ucapan Ki Ibrahim: “Tancapkan saja 12 pedang itu kembali, di tempat semula”. Selesai Gumara menancapkan setiap pedang pada tiap kuburan itu, begitu dia masuk keruangan tahajud, didengarnya Ki Ibrahim Arkam berkata: “itulah kerjaan setan perwira Jepang yang sudah mati itu. Mereka mengira kamu tamu biasa.” KEMUDIAN Ki Ibrahim Arkam menjelaskan bahwa dia sering terbangun apabila muncul gangguan dari tamu-tamu tak diundang itu. Keramahan, kemurahan hati menceritakan pengalamannya, membuat Gumara betah hidup berdampingan dengan orang tua itu. Pada hari ketujuh, Ki Arkam bertanya: “Tadi malam, apakah anda bermimpi?” “Ada”, sahut Gumara. “Jangan lupa mencari takwil mimpi anda itu. Dan jangan katakan kecuali jika aku minta”, kata Ki Arkam. Gumara merinding sesaat. Sekiranya dia ceritakan mimpi itu, atas permintaan Ki Ibrahim Arkam, maka pastilah orangtua itu akan terkejut. Dan ketika Gumara memasuki tiga minggu sebagai tamu Ki Arkam pada suatu pagi seraya menikmati sarapan singkong rebus dan air tebu, bertanyalah dia pada Gumara; “Ada mimpi semalam?” “Ada ”, sahut Gumara. “Karena tadi malam pun aku bermimpi tentang anda, coba kita bertukar kisah mengenai mimpi masing-masing”, kata orangtua itu. “Mimpi saya tentang diri anda”, kata Gumara. “Justru karena itu, mimpi saya pun tentang diri anda”, kata Ki Ibrahim Arkam seraya senyum. “Selama di sini, saya dua kali bermimpi”, kata Gumara “Mimpi manakah yang tuan guru kehendaki?” “Mimpi yang pertama akupun sudah diberitahu, tapi mimpi yang kedua justru yang saya tak tahu”, kata Ki Ibrahim Arkam. “Saya didatangi oleh orangtua bersorban, lalu dia mengatakan supaya saya berhati-hati terhadap Pedang Raja Turki”. “Oh, itu. Pedang Raja Turki itu terakhir dimiliki oleh Ki Tunggal. Ini takwilnya adalah, anda suatu saat akan terancam oleh Ki Tunggal, muridnya, atau Pedang Raja Turki itu. Lalu apa lagi, nak Gumara?” “Saya akan melihat tengkorak aneh”, kata Gumara. “Itu takwilnya adalah, anda harus hati-hati. Ingatlah kiasan ini; Tengkorak itu mandi tiap hari dengan air yang sama dengan air mandi kita”, Ki Ibrahim bertanya lagi; “Lalu, apa mimpi anda itu lagi?” “Saya diberitahu, bahwa saya akan menemukan lawan seorang yang gemar menggunakan senjata. Dan orang itu kini dalam keadaan dirantai”, Gumara menerangkan, lalu bertanya: “Siapakah dia?” Ki Ibrahim Arkam dengan tekun memejamkan mata. Dia mencoba mengingat-ingat urutan takwil mimpi yang pernah dituturkan oleh gurunya dulu. Setelah sempurna terkumpul ingatannya: “Lima puluh tahun yang lalu sebelum aku ingin mengembara mencari Kitab Sakti itu, aku pernah diberitahu guruku. Bahwa, calon Pendekar Besar itu akan berhadapan dengan calon-calon yang hebat pula. Antara lain lelaki berantai besi. yang akan memiliki sepuluh ilmu. Lelaki itu bukan dengan sengaja untuk ngelmu. Tapi keadaan terpaksa dia terlibat menjadi seorang pendekar dunia persilatan di sepuluh kawasan. Lalu, apa lagi lanjutan mimpi anda?” “Oh ya, saya terlupa menceritakan awal mimpi. Mimpi itu sebetulnya berawal dari kejadian yang memalukan. Saya menjadi tukang perkosa gadis. Lalu saya merampok harta orang kaya. Lalu saya bertemu dengan seorang wanita cantik yang akan menjadi isteri saya. Barulah kemudian rentetannya tengkorak yang saya kisahkan Pada tuan itu. Kemudian, saya lanjutkan cerita tadi. Saya kemudian betemu dengan seorang pendekar pincang!” “Pendekar pincang?” tanya Ki Ibrahim tercengang, lalu menepuk tangan dengan girang: “Itu murid Ki Tunggal, nak!” “Dan maaf saja … dialah yang disebutkan orangtua dalam mimpi itu, yang akan membuka rahasia tirai Stanggi”, ujar Gumara. Ki Ibrahim juga terheran-heran setelah mendengar keterangan itu. Padahal dulu gurunya bilang, bahwa seorang lelaki calon Pendekar Besar itulah yang akan mengetahui kunci rahasia tirai stanggi. Pikiran murung ini terjadi pada hari ke-22 dan seterusnya. Pada hari ke-39, si tua itu lebih murung. Dia mengeluh sesak nafas. Dan tiba-tiba saja dia bertanya: “Wahai calon Guru Utama. Katakan padaku mimpimu yang pertama!”. “Tidak cemaskah tuan jika mendengarnya?” tanya Gumara. “Katakan saja”, ujar pak tua itu dengan wajah murung disertai nafas yang sesak. Gumara berkata: “Tiba-tiba saja aku seperti mendapatkan ilham, bahwa yang satu ini tidak boleh kukatakan pada tuan. Maha Pemilik Rahasia adalah Tuhan”. Dan airmata Ki Ibrahim Arkam menggelinding seketika. Butiran airmata berikut menggelinding lagi. Lalu dia berkata; “Tentara Jepang itu meninggalkan pacul, linggis dan sekop di gudang satu lagi, dekat kuburan mereka. Kalau terjadi sesuatu atas diriku, gunakanlah barang-barang itu”. “Ke mana anda akan pergi?”“ “Bersembahyang, itulah kegemaranku”. Dan. si tua itupun meninggalkan Gumara, sampai sore Gumara tidak melihatnya, begitupun ketika malam tiba. Aneh sekali! Di mana beliau bersembahyang? Di ruangan kamar Perwira Jepang itu tak ada. Dipanggil-panggil, tak menyahut. Kemudian Gumara pergi ke kebun. Juga tak ada. Paginya Gumara mencari lagi si tua itu ke Kuburan Perwira Yang 12 itu. Kali ini dia tertarik pada bunyi pintu yang bergerit. Dia lalu merinding. Pintu bergerit itu agak jauh ke barat daya. Gumara lalu memberanikan diri. Memang ada pintu. Ketika pintu itu dibuka, tampaklah lampu obor kayu karet yang akhirnya menerangi ruangan itu. Itu sebuah gudang, yang penuh dengan macam-macam benda, termasuk pipa listrik dan pipa ledeng. Bahkan ada ban mobil. “Ki Ibrahim … “, ujar Gumara. Ternyata dia melihat setumpuk kain putih. Bila Gumara mendekat, tampaklah orangtua itu menggeletak di atas tikar sembahyangnya, memegang biji tasbih. tapi sudah tak bernyawa lagi. Dekat tikar sembahyang itu ada sekop besar dan sekop kecil, pacul dan linggis. Itulah isyarat dia minta bantuan Gumara untuk menguburkannya. Setelah orangtua itu dia kuburkan sesuai amanatnya. Yaitu disamping kuburan isterinya. Gumara berfikir apa perlunya lagi di sini? Tanpa ada si tua yang hidup, tak enak di sini. Lalu Gumara pun berlalu. Langkahnya jadi ringan secara aneh. Dia seperti bocah kesenangan setelah meninggalkan padepokan sunyi almarhum Ki Ibrahim Arkam. Gumara gembira, sehabis dia terbangun dari mimpi itu. Tekadnya hendak kembali ke Kumayan, dia batalkan. Dia memutar pandangan untuk. mencari letak Bukit Lebah itu. Tak sulit. Bentuknya mirip sekali dengan payung terkembang. Di selatan sana itu. Dia harus kembali menemui Pita Loka, sesuai dengan mimpinya itu! Sebelum dia melangkah, dipetiknya buah kesemek. Dibersihkannya buah yang mirip buah apel itu. Dan setelah dia memakan dua buah, hanya seperempat jalan turunnya matahari, mendadak ada yang meronta dalam diri kasarnya! Ya, keinginan sexual untuk mengawini Pita Loka. Keinginan birahi yang berkobar bagai amukan api yang menyesakkan dada. Dan hal ini membuat Gumara yang tenang itu berubah lincah. Langkahnya cepat. Gumara seakan-akan kembali surut menjadi remaja yang digoda libido. Entahlah bagaimana, rupanya dia tersesat ke sebuah ladang timun. Di luar kebiasaan terdidiknya, kali ini dia tanpa permisi mengambil satu timun dan dilahapnya timun itu dengan lahap. Suara sap-sap-sap menghabisi timun itu membuat dia tak sadar sudah memakan bagian yang pahit. Karena dia melihat satu pinggul wanita yang sedang memetik timun, gairah sexualnya menyala hebat. Apa lagi wanita itu mengenakan kain merah. Terkena sorot matahari pinggul itu bagaikan secara amat halus terbelah dua. Gumara tak menunggu waktu lagi. Dia menuju wanita yang rupanya masih menungging itu. Begitu Gumara menyuruk-nyuruk kuatir tertangkap basah, setiba dekat kaki wanita itu, dia tarik kain merah itu. Wanita itu terpekik minta tolong. Gumara ketakutan. Dan lebih malu lagi karena wanita yang menunggingkan pinggulnya itu ternyata wanita yang sudah agak lanjut usia. Mendadak seorang kakek mencabut parangnya, Gumara makin ketakutan. Lebih ketakutan lagi ketika kakek itu sudah mendekatinya dengan kalap. Gumara begitu ngeri tanpa berkutik sedikitpun ketika parang tajam itu diayunkan padanya seraya si kakek berteriak; “Mati kamu!” Parang itu menancap ke bahu Gumara. Tapi kakek itu bengong. Mulutnya menganga. Dia heran tak ada darah menetes di bahu itu, padahal parang tajamnya sudah masuk sedalam tiga jari. Gumara lalu menghatur sembah: “Maaf kakek. Terutama Nenek, saya minta maaf”. Ia berlalu dengan tersipu malu, ia tidak lagi lincah. Ia mulai menyadari tujuannya semula. Bukan ke ladang ini lantas akan memperkosa seorang wanita yang ternyata lanjut usia, bukan! Ia harus menuju Bukit Lebah itu! Ke selatan itu! Bukan ke Barat itu! Kini langkahnya tidak cepat tidak pula lambat. Ketika menuju ke arah selatan itulah ia seperti mendapat pengetahuan baru. Bahwa setiap ilmu apapun godaan utama adalah soal sexual. Gumara lalu memukul sumber yang membuat ia tergoda, dan dia menjerit sendiri kesakitan. Kemudian dia melanjutkan langkah lagi. Dan langkahnya lebih pasti. Di sela-sela batu raksasa itu sudah didengarnya suara air terjun. Ini berarti hanya beberapa mil lagi akan mencapai sungai bundar yang dikenal melingkari Bukit Lebah itu. Dengan santai dia turuni tebing terjal itu. Tapi … bah! Tenyata ada perempuan mandi telanjang bulat pada air terjun itu. Mulanya dia bergairah untuk cepat mendekati dan melampiaskan nafsunya yang kini berkobar di dada. Tapi bukankah wanita mandi itu adalah Pita Loka? Gumara malu pada diri sendiri. Tapi yang lebih membuatnya malu adalah perasaan berdosanya. Bahwa libido sexual memang selalu menggoda ilmu yang akan diperolehnya itu. Gumara kembali bersembunyi sampai wanita telanjang itu berpakaian. Setelah diperkirakannya selesai, ia melanjutkan menuju tebing itu. Ternyata wanita itupun sedang menapaki jenjang-jenjang batu setapak, naik ke tebing. Bukan rambut ikal itulah yang pertama menggoda Gumara. Juga bukan buah dadanya yang sejenak tampak, sebelum wanita itu menutupinya dengan kedua telapak tangan dan membetulkan kain yang menyelimuti dirinya. Tapi kalung itu, yang bertatahkan permata. Andaikata kalung itu aku rampok, sekarang ini, tentu benda itu akan menggiurkan Pita Loka. Sehingga dia bersedia menceritakan misteri tirai stanggi. “Maaf, nona. Saya orang utas yang tersesat jalan. Isteriku sedang berdiam karena sedang mengidam. Yang dia idamkan yaitu sebuah kalung penuh permata. Bolehkah saya pinjam kalung nona?”. Wanita itu menjadi tidak ramah dan menjerit minta tolong. “Rampoooook”, teriaknya keras. Bintik keringat dingin ketakutan bukan membuat Gumara lari ke bawah, tapi lari ke atas mengikuti wanita itu. Wanita itu tambah takut dan berteriak lantang lagi: “Toloooong, ada rampok!” Seorang petani yang menyandang pacul, kontan menghantamkan mata paculnya ke kepala Gumara. Gumara terdongak kaget setelah melihat gagang pacul di depan hidungnya. Tapi lebih tercengang lagi sang petani, yang melihat mata paculnya masuk ke tengah kepala “sang perampok” tapi tak tampak luka. Juga ketika pacul itu ditarik dengan cabutan yang menguras tenaga. Bekas luka pun tak ada, apalagi darah. Petani itu berkata pada wanita tadi; “Dia perampok berilmu kebal. Mari kita pulang saja. Ilmu dipakai untuk merampok adalah ilmu sial!” Gumara tercengang. Dia meraba kepalanya. Memang tak ada bekas apapun, juga tak terasa rasa nyeri. Dia sadar, bahwa dia harus menemui Pita Loka. Bukan membujuknya dengan kalung permata yang akan dirampoknya dengan cara tipuan tadi. Dia menuruni tebing itu untuk menyeberangi sungai. Tapi mendengar derasnya bunyi air terjun itu. Gumara berhenti sejenak. Seperti ada yang mendorongnya untuk melihat bukit kenapa perasaan ini ingin menyaksikan air terjun. Padahal di kawasan ini sudah sering dia melihat air terjun. Tentu air terjun ini menyimpan sesuatu rahasia. Tapi ah … masa bodo Ia sudah tergoda dua kali, Pertama kali tergoda iman karena sex, dan yang kedua tergoda iman karena harta. Namun karena ia berusaha untuk mencari Kebenaran Mutlak, konsentrasinya melangkah di batu sungai kurang awas. Dia terpeleset. Dan jatuh! Lalu kedengaran suara orang mentertawakannya. Cekikikan lagi! Dan itu pasti suara wanita. Gumara yakin, mungkin saja yang tertawa itu Pita Loka. Gumara menoleh ke arah bunyi orang yang mentertawakannya. Ternyata ia menoleh ke air terjun. Hal ini membuat dia penasaran. Dia melangkahi batu-batuan sungai menuju ke air terjun tadi. Diperhatikan, apa benar di balik air terjun jtu ada wanita. Setelah dia perhatikan, dia coba lagi berseru; ”Hoi! Siapa anda!” Terdengar wanita tertawa, tapi terdengar pula dia berlari setelah melemparkan sebuah batu. Batu itu mengenai kepala Gumara, tapi dia segera menangkap batu itu sebelum batu itu kecemplung masuk sungai. Aneh sekali. Batu itu ternyata batu yang menebarkan bau stanggi. Hal ini membuat Gumara berfikir dua kali Dan ketika fikirannya yang ketiga muncul, ia memutuskan harus ke balik air terjun itu. Pakaian putihnya yang sudah koyak-koyak itu, sudah basah kuyup ketika dilintasinya air terjun itu. Ternyata di balik air terjun itu, setelah melangkah sekitar 21 langkah, ada semacam pintu guha. Gumara seperti bocah yang ingin tahu. Dan sebagaimana layaknya bocah, dia merasa ngeri tiba-tiba. Heran sekali, karena bulu kuduknya dan seluruh bulu romanya merinding? Dia seakan-akan melihat dalam kegelapan tanah menjorok ke dalam tebing air terjun ini sesuatu yang mengerikan. Ada dua mata yang tampak begitu besar di sana itu. Lalu ada yang bergoyang-goyang. Hihh, ngeri sekali! Itu lidah yang menjulur! Untuk surut, kakinya gemetar. Lalu dia rasakan pula bau stanggi sekitar tempat yang berbentuk guha itu. Batu yang sekepal di tangannya ia baui lagi. Ternyata batu ini lebih keras lagi aroma stangginya! “Jangan lepaskan!” terdengar suara. “Apa yang jangan dilepaskan?” “Batu itu!” terdengar lagi suara. Suara itu menggema. Dan jelas suara wanita. “Siapa yang bersuara itu?” tanya Gumara tambah gemetaran. Aku, Ratu Guha Stanggi” terdengar sahutan yang juga menggema. Jelas sekali suara itu suara wanita. Dan bukannya wanita tua! “Kenapa anda melemparku dengan batu stanggi ini, ha?” suara Gumara menggema. “Karena aku tahu, anda mencari saya”, kata Ratu Stanggi itu. “Mencari kau?” “Yah, karena anda ingin mengetahui misteri tirai stanggi! Misteri itu kini telah anda dapatkan! Dalam guha inilah letak misteri itu! Dan tirai yang ingin anda singkapkan itu, sudah anda lewati!” “Tirai apa itu?” tanya Gumara. “Tirai perlambang! Air terjun itu lambang dari maksud tirai. Bukannya ke Guha lebah itu anda harus pergi. Karena menemui Pita Loka, dan mencari misteri stanggi ke sana , hanya membuang waktu. Misteri itu ada di sini! Dan sekarang anda sudah memasuki misteri itu!” Dalam sekelebatan Gumara menyaksikan sosok yang tak jelas sedang melakukan bentuk persilatan yang luar biasa. Hanya kecepetan garis petir yang mampu menandingi bentuk gerak dan jurus persilatan itu. Bila sosok tak jelas itu menubruk dinding guha, terdengar benturan mirip petir yang menimbulkan percikan api! Gumara kagum sebagai penonton. “Yang anda ingin cari dibalik misteri itu adalah ilmu yang Tinggi. Tapi bukankah anda lihat ilmuku ini adalah ilmu yang tertinggi?” “Ya”, ujar Gumara, “Rupanya kepada andalah, Ratu Stanggi, saya harus belajar. Rupanya kepada anda saya musti berguru”. Gumara mendengar lagi suara wanita itu: “Anda harus maju lagi sekitar tujuh langkah”. Mendengar itu Gumara jadi ngeri. Di sini saja dia berdiri sudah ngeri. Dan seperti bocah yang menginginkan sesuatu, tapi kecut, maka dia melangkah selangkah saja, lalu berhenti. “Bulu romaku tegaaaak!” teriaknya. Gemetar dia, namun sempat mendengar wanita itu mentertawakannya. Dia mendengar suara lagi: “Maju lagi selangkah”. “Aku takut”, ujar Gumara. Namun dicobanya maju lagi. Pemandangan semakin gelap. Keringat dinginnya mulai dirasakannya. Bau stanggi itu semakin memadatkan indera hidungnya. Dan dia seakan-akan menyerah; “Aku takuttt”. “Jangan takut. Aku gurumu! Bukankah kau ingin mendapatkan ilmu melalui Kitab yang kau baca lewat mimpi, bahwa kau harus menyingkap misteri tirai setanggi? Semua orang ingin mempertinggi ilmunya. Tapi ilmu yang akan aku beri padamu adalah satu kedudukan ilmu yang Tertinggi, mengerti?!!!, wanita itu membentak. Dan karena gema suaranya bergemuruh, bentakan itu semakin menakutkan. Dan Gumara gemetar menjawab ketakutan: “Saya mengerti Ibu Betara Guru”. “Jangan takutttt!” teriak wanita itu juga membentak dan bergema menakutkan. “Saya mencoba berani”. Dan wanita itu membentak lagi: “Ayoh melangkah lagi, tolol!” Dan Gumara melangkah lagi dengan sangat rendah hati, bagai budak pada majikannya. Karena tiba-tiba merasakan bau bangkai, dia berhenti. Kenapa berhenti?!!!” bentak wanita itu. Namun, hanya suara saja yang kedengaran. Sosok wajah apalagi tubuhnya tak tampak. Gumara tambah takut. Dia merasakan bau bangkai. “Selangkah lagi. ayoh maju!!!” terdengar bentakan wanita itu lagi. Suasana semakin gelap. Gelap sekali. Bau sekali. Dan menakutkan sekali! Dan dengan terpaksa dan terseot.Gumara melangkah selangkah lagi. “Bagus”, kedengaran pujian Ratu Stanggi. “Aku memohon, pelajaran yang tuan Ibu Betara Guru akan berikan dipersingkat. Saya takut, takut sekali”. “Hah, mana ada ilmu yang gampang diperdapat! Semua ilmu ada jenjangnya. ngerti????” bentakan iagi. Dengan nada hampir menangis Gumara berkata: “Saya mengerti, Guru”. Lalu dia merasa dirinya semakin lemah dan berkata: “Saya lapar, Betara Guru!” “Kelaparan adalah bagian dari ilmu yang akan kuberikan”. “Tapi saya sekarang ini … lapar sekali!” “Diam, bangsat!” bentak suara wanita itu. Gumara merasa dirinya tak kuasa apa-apa lagi. Bau bangkai itu semakin menusuk hidung. Rasa lemah dan takut semakin membuatnya tak mampu berfikir. Dan dengan merengek dia bersuara melolong: “Tolong katakan padaku kelak saya akan menjadi apa. Betara Guru yang mulia!” “Kau akan manjadi sembahan seluruh jawara, dari Bukit Kumayan hingga ke Bukit Lebah. Bahkan Pita Loka akan menghatur sembah padamu!” Airmata Gumara meleleh. Dalam gelap airmata itu bagaikan mutiara yang antara tampak dan tiada berada di kerang terkelupas dalam lautan biru. Dan menjelmalah sosok tubuh yang luar biasa cantiknya. Dipergelangan tangannya teruntai gelang bertatah ratna mutu manikam. Tubuhnya seakan dilapisi sutra tipis sehingga menciptakan bentuk wanita yang menerbitkan birahi namun begitu kaya. Dan sungguh membuat Gumara tolol ternganga melihat wanita itu duduk di tahta emas, kursi yang takkan pernah dilihatnya, hanya kecuali dalam cerita-cerita lukisan. “Tuan memang pantas jadi ratu!” kata Gumara terpesona. “Dan engkau akan menjadi Rajaku!” “Aduh, saya orang lemah dan tolol. Saya muridmu! Mana mungkin?” “Ratu Stanggi sudah harus menjadi jodoh Raja Gumara. Kini ikuti perintahku! Pejamkan matamu!” “Baik Ratuku tercinta”. “Jongkoklah. Meraba di permukaan guha ini. Bila kau rasakan ada benda bulat seperti kelapa yang sudah dikupas sedikit, peganglah itu!” Gumara bagai orang dongok, berjongkok. Tangannya meraba. Hidungnya merasa bau amis. Tapi rasa ingin cepatnya mendapatkan ilmu tertinggi dengan kedudukan Sembahan Semua Juara, dia akhirnya berteriak setelah meraba kelapa dimaksud Guru itu. “Ini kelapa sudah kupegang!” “Batu stanggi di tangan kiri, kelapa di tangan kanan! Ayoh cepat keluar dan ikuti arus sungai dengan menghanyutkan dirimu!” Gembira Gumara menuruti perintah. Dia memegang kelapa dan batu stanggi tadi, meninggalkan Guha tadi, melewati air terjun dan berhanyut-hanyut ke arah Barat Timbul tenggelam dia dalam gelombang sungai, terhanyut mengikuti arus sungai seperti orang gila tak sadarkan diri. Kadang dibiarkan kepalanya terbentur pada batu sungai yang menghadang arus. Biarpun terasa sedikit, dia tak menjerit. Yang penting kelapa di tangan kanan, batu stanggi di tangan kiri … tak lepas dari pegangan! Tak terfikir lagi lapar dan haus. Juga dia tak menyadari hari telah malam. Dan di langit ada bulan. Bulan yang sedang purnama. Waktu itulah Gumara mendengar seruan dari atas batu tebing; “Pak Gumara …!” Dia mendahulukan kakinya. Sepatu Phuma yang melekat di kakinya dia sodok ke batu bawah air. Tubuhnya tertahan dan dia menyandarkan punggung bertahan ke batu curam. “Pak Gumara!” terdengar lagi suara dari atas tebing. Gumara mencoba melihat ke atas, tapi terhalang oleh rumpun bambu. Lalu dia merasakan bau amat busuk. Dicarinya sumbernya. Ternyata di tangan kirinya itu. Dia buka tangan kirinya…ternyata itu bukan batu. Tapi gigi manusia yang menggigit batu. Gigi bangkai manusia! Gumara membanting sehingga muncrat air sungai membuat waiahnya bersimbah air. Ini membantu penglihatannya. Dia lalu merasakan bau lagi! Ternyata bau di tangan kanan. Ternyata itu bukan kelapa tetapi kepala manusia, yang tampaknya baru mati. Begitu Gumara mau membantingnya, dia mendengar suara dari balik batu. Suara itu suara wanita. Yang berseru: “Jangan buang dia! Berikan dia padaku dan lemparkanlah!” Gumara melemparkan kepala manusia yang mengerikan itu. Tampak ada tangan menyambut kepala itu. Dan sekonyong tegaklah di atas batu itu satu sosok tanpa kepala. Kepala yang dilempar Gumara tadi dia jinjing. Dan sosok itu, yang menjinjing kepala itu, adalah wanita dalam pakaian compang camping. Melihat wanita tanpa kepala yang menjinjing kepala mengerikan itu. Gumara kontan berteriak bagai bocah ketakutan: “Tolong akuuu!!!” Dia berteriak lagi: “Tolong akuuuu!” Seorang wanita masih dalam pakaian mukena putih menuruni tebing dengan amat mudah. Lalu dia mengulurkan tangan untuk menolong Gumara. “Siapa kau?” tanya Gumara ragu. “Murid tuan Guru. Saya Pita Loka” ujar wanita berpakaian mukena itu. “Bukan sebuah godaan?” “Bukan godaan. Bukan setan. Bukan jin atau pun peri! Aku Pita Loka, puteri Ki Putih Kelabu” ujar Pita Loka pasti, “Mungkin anda ragu melihat diriku masih berpakaian mukena ini. Aku sedang menyelesaikan do”a sehabis shalat Iesya. Kulihat anda di bawah itu, diantara sinar bulan purnama, bagai hanyut! Ayoh, pegang tangan saya, Pak Guru, saya tolong angkat ke atas!” Begitu Gumara memegang telapak tangannya, Pita Loka merenggut tubuh itu dan melemparkannya. Tubuh Gumara terangkat setinggi tujuh meter di atas sana tetapi kemudian disambut oleh Pita Loka dengan gaya yang mirip orang menyambut barang yang ringan. Kemudian setelah disambut dia lepaskan Gumara dalam posisi berdiri. Dan Gumara berdiri dengan tercengang. Lalu Pita Loka melangkah duluan menuju satu tumpukan batu yang rata. Dipermukaan susunan batu yang rata itu ada tikar sejadah. Tikar itu diambil Pita Loka semudah pula menyambar satu kayu karet yang ujungnya menyala api. “Apa yang tadi anda lakukan maka hanyut, Pak Guru?”tanya Pita Loka. “Saya hanyut dalam godaan setan”. “Setan? Aneh sekali” ujar Pita Loka. Dengan memegang obor Pita Loka menggiring Gumara ke mulut Guha Lebah itu. Gumara berhenti melangkah. Pita Loka berdiri di hadapan pintu itu. Tampak lebah-lebah yang ribuan jumlahnya itu berdengung ramai. Lalu semuanya minggir ke tepi seakan memberi jalan penuh penghormatan. Gumara mengikuti langkah Pita Loka memasuki gerbang guha itu. Dalam Guha tampak cahaya terang, Ternyata dua obor menyala, yaitu api yang bergoyang di ujung kayu karet. Dengan menunjuk ke sebuah batu berbentuk kursi. Pita Loka berkata: “Silakan duduk”. “Menakjubkan! ““ ujar Gumara, “Dulu Bapak belum sempat masuk. Keburu bertempur dengan Dasa Laksana. Ah, kalau saya ingat itu, saya kasihan pada Bapak”, ujar Pita Loka. Sejak mendengar nama Dasa Laksana kembali, perasaan cemburunya menjalari urat darahnya. Namun dia diam. Dan rasanya ingin bertanya. “Mana Dasa Laksana?” tanya Gumara. “Ada di dalam”, sahut Pita Loka. “Ada di dalam? Apa di guha ini pun ada kamar?” Pita Loka tarsenyum. Dia menyadari nada tanya Gumara cemburu. Tapi dia tetap menjawab: “Di guha ini ada kamar”. “Oh”, nada singkat Gumara itu menandakan putus asanya. “Ini saya hadiahkan sebuah hidangan makan malam yang pasti belum anda coba,. ujar Pita Loka seraya menyerahkan satu buah-buahan yang baru dikupas. “Buah apa ini?” tanya Gumara heran. “Nikmati dulu”. kata Pita Loka. Tapi sebelum dia makan buah yang agak aneh itu, Gumara bertanya: “Boleh saya bertatap muka dengan Dasa Laksana?” “Boleh saja. Tapi makan buah hadiahku dulu”, kata Pita Loka. “Tidak. Saya ingin berjumpa dia”, kata Gumara. “Kenapa Pak Guru mendesak begitu?” Gumara menahan rasa malu, lalu berkata geram: “Mungkin aku sudah tertipu oleh si tua Ibrahim Arkam” “O, Ibrahim Arkam? Dia bukan penipu!” kata Pita Loka. “Jika demikian kau mengenal dia?” “Tentu”. Lalu Pita Loka berkata lagi: “Ayoh makan buah hadiah terhormat dariku!” “Jangan-jangan buah ini ada racunnya! “, ujar Gumara. Pita Loka. yang juga memegang satu buah yang sama, penasaran tertuduh begitu. dan dia berkata: “Ini buah yang sama. Jika buah ini mengandung racun, aku akan mati duluan dari anda!” Pita Loka memakan buah itu. Gumara jadi ngiler. Dan dia menggigitnya sedikit. Rasanya mirip jambu bol. Tapi jelas bukan jambu bol. “Buah apa ini?” tanya Gumara. “Buah mancina. Mungkin di Cina, sekitar pegunungan, buah ini pun ada. Jika buah ini sudah tertalu matang, rasanya mirip yoghurt, yaitu induk susu kegemaran orang Yugoslavia .” “Pernahkah kau menghadiahkan buah mancina ini pada Dasa Laksana?” tanya Gumara memancing. Pancingan itu membuat bekas muridnya yang cerdas itu tersenyum. Ujar Pita segera. “Hanya tamu terhormat. seperti Ibrahim Arkam yang pernah kuberi. Dasa Laksana tidak!” “Kau tak berbohong, Pita?” “Mana pernah aku bohong. Karena aku tak pernah bohonglah maka aku kini ada di sini”, ujar Pita Loka. “Apa yang menyebabkan kau sampai mengasingkan diri ke sini?” tanya Gumara bersemangat dan dia semakin bersemangat mengunyah pula karena buah mancina ini ternyata amat lezat. “Katakan Pita Loka, apa penyebab kau minggat sampai terdampar ke sini?” “Karena terbawa Nasib”. “Ah. Kau seorang yang cerdas, kaya logika dan matematis!” “Tapi saya pun punya perasaan sebanyak pikiranku, Pak!” “Apa perasaanmu ketika kau lari?” “Ingin menaklukan anda”. “Ha?” “Ilmu anda tinggi, ilmu Harwati tinggi. Sedangkan ayahku tidak mewariskan apa-apa bagiku kecuali seluas otak di kepalaku ini, Pak. Jika anda ingin saya berterus- terang mengapa saya minggat, penyebabnya amat sederhana! “ “Katakan penyebab itu. Sebab justru itulah yang ingin saya ketahui” “Penyebabnya karena patah hati. Karena cinta tak terbalas”. Mendengar itu. Gumara yang sedang asyik mengunyah buah mancina terhenti mengunyah. Dia Terpana menatap Pita Loka. “Pada siapa kamu patah hati, Pita Loka?” tanya Gumara. “Ah, tak usah dibicarakan lagi. Semua itu sudah lewat. Kini aku berada di dunia yang lain” “Di dunia suami isteri?” “Tidak” “Di dunia cinta?” “Jauh dari itu” “Jadi dunia macam apa yang kau maksud? Ah, aku ingin bertatap muka dengan Dasa Laksana. Boleh atau tidak?” “Boleh saja. Tapi nanti. Kalau buah mancina Bapak sudah habis. Mau satu lagi?” “Aku butuh makan nasi. Aku lapar sekali”, kata Gumara. “Saya sudah lama tak mengenal nasi, Pak. Hanya makan buah rimba. Mau Bapak satu buah mancina lagi?” “Saya hanya mau bertatap muka dengan Dasa Laksana. Hanya karena terhalang oleh rasa respect padamulah maka seluruh perkelahian dengan dia dulu saya akhiri dengan kekalahan saya”. “Bapak mengira saya tak mengetahuinya. Bapak sebetulnya bisa meremukkan dia. Saya tau itu … “ Untuk pertama kali, kecemburuan Gumara yang berkobar berubah jadi senyuman murni. Keduanya berpandangan. Pita Loka sesak dadanya menahankan nafsu birahi yang mengamuk- ngamuk dalam dada, tapi demikian pula Gumara. Ketika keduanya sama bangkit pada puncak ketegangan oleh gairah, satu cahaya kilatan disertai geledek membahana dengan dahsyat! Satu batu amat besar jatuh dari arah atas guha sampai satu obor yang tadi menyala padam seketika. Tinggal satu obor lagi yang menyala, membuat suasana semakin mencekam. “Ampuni saya. Tuhanku!” berseru Pita Loka, menyadari lintasan dosa, yang hampir terjalin sekalipun sudah bergumul berkecamuk dalam pikirannya. Gumara tak mengucapkan penyesalan, kecuali diam tertunduk, menyatakan rasa bersalah hanya dalam kalbu. Rupanya. Kilatan sinar petir berbentuk aliran listrik yang dahsyat itu muncul dari utara ke selatan. Hal ini dilihat oleh Harwati maupun Ki Rotan. Harwati yang telapak kakinya berlubang sebesar lidah manusia melangkah terseok-seok namun lincah ia menuju ke gubuk jerami Ki Rotan. Ki Rotan melihat Ki Harwati melangkah pincang menuju dirinya. Grafity, “Apa yang kira-kira sedang terjadi?” tanya Ki Rotan. “Bagai bola api itu jatuh di Bukit Selatan itu. Cahaya terang tampak olehku, jelas jatuh di Bukit Berpayung atau Bukit Lebah!” “Kalau begitu ada musibah di sana?” kata Ki Rotan bersemangat Ki Harwati berkonsentrasi sejenak. Tongkatnya dia colok ke kaki kanannya yang berlubang itu. Dia berkonsentrasi sejenak. “Kukira begitu”, ujarnya setelah selesai berkonsentrasi. “Apa yang kita lakukan?” “Suatu malapetaka besar sedang terjadi di Guha Lebah”. “Dari mana kau tahu, Ki Wati?” “Dari ucapan Ki Pita Loka sendiri. Bukankah dia mempercayaiku, sewaktu aku berguru padanya?” “Lantas?” “Dia mengatakan, suatu ketika ilmuku akan berakhir apabila ada bola api membentur Bukit Lebah ini. Semua lebah akan jatuh di lantai guha bagai anai-anai yang mati bergelimpangan. Waktu itu, kata Ki Pita Loka, seluruh ilmu yang aku miliki akan habis”. “Dia harus kita ambil sebelum jatuh ke tangan orang lain”, kata Ki Rotan. “Tak semudah itu”, ujar Ki Harwati “Jadi bagaimana caranya kita merebut ilmu Ki Pita Loka?” Ki Wati menjawab: “Kecuali jika kita pergi ke Bukit Tunggal. Kita bergabung dengan Guru Tua itu.” “Kalau begitu mari kita ke Guru Tua”. kata Ki Rotan bersemangat. “Tak mungkin saya membawa anda, Tuan Guru. Kedudukan anda, sekalipun bekas guru saya, anda ini adalah murid saya”. kata Ki Harwati. Ki Rotan kecewa. Lalu dia berkata: “Jika demikian keadaannya, maka baiklah anda pergi sendiri. Tapi jangan lupakan saya. Saya murid anda, seluruh ilmu yang baru anda dapatkan, berikan padaku”. “Saya tak pernah akan lupakan jasa Ki Guru” , kata Ki Harwati. Lalu dengan terlebih dulu mencolokkan ujung tongkatnya ke lubang kaki, dia Iantas berkonsentrasi. Petir menyambar lagi, Ki Harwati mendongak ke langit. Dia ikuti cahaya petir itu. Di tengah-tengah pajalanan bertempur dua buah garis petir. Lalu terciptalah bola api yang amat terang. Bola api itu bagai menggelinding menuju selatan dan tampak jelas menghantam Bukit Lebah yang bentuknya seperti payung itu. Tak jelas apa yang terjadi selanjutnya karena angin puting beliung menghantam dan memelintir kawasan Ki Rotan. Ki Harwati tak tunggu lagi. Dalam basah kuyup deras hujan dia dalam sekelebatan sudah hinggap di antara dahan pohon satu ke pohon lain. Perjalanan dua setengah malam itu seakan-akan percuma. Guru Tua, Ki Tunggal, yang dia Grafity, harapkan dapat memberikan inspirasi dalam keadaan terkapar. Agaknya dia sekarat. “Tuan akan menemui ajal?” tanya Ki Wati. “Benar. Aku sudah mendapatkan pertanda ngalamat, ketika dua hari yang lalu, pada tengah malam kulihat bola api beterbangan dari Bukit Tunggal ini, di antar oleh sang petir. Ya, di BuKit Lebah akan terjadi perang kebatinan yang dahsyat untuk memperebutkan Kitab itu … “ “Kitab? Kitab apa. Tuan Guru?” “Itulah yang namanya Kitab Ketujuh. Kitab yang hanya ayahmu dan Ki Putih Kelabu serta turunannya yang mengetahui namanya” “Apa nama Kitab itu, Guru?” “Namanya Kitab Makom Mahmuda” “Saya pernah mendengarnya! Tapi cuma dalam mimpi! Coba anda berikan sisa ilmu anda padaku, Tuan Guru. Biarpun sedikit, yaitu bahan yang saya tidak punyai”. “Semua berpangkal pada Tujuh Harimau”, kata Guru Tua sekarat itu. Tapi sementara itu Ki Rotan menempuh jalan sendiri. Dia tak sabar menanti kembalinya gurunya, Ki Harwati. Dia justru ingin mendahului Ki Wati menuju ke Bukit Lebah karena terlanjur mengetahui sebagian rahasia yang telah dia dengar dua setengah malam yang lalu. Di padepokannya, Ki Tunggal meneteskan air mata setelah berbaring. Katanya dengan sedih: “Tahukah kau, mengapa diriku jadi sial? Itu karena aku meremajakan diriku! Dan mengawini anak perawan. si Senik itu!” “Di mana beliau … Ratu Senik. Ki Guru?” “Setelah kamu berangkat dengan kuisi sedikit ilmu itu, dia cemburu padamu. Maka aku tampil sebagai sosok tua keriput. Aku dimaki-makinya sebagai lelaki tua tak tahu diri. Aku tak mengutuknya! Itulah salahku! Seorang guru tak boleh mencintai apapun kecuali ilmu. Dia minggat. Tapi aku tahu dengan siapa Ratu Senik akan mendapat teman. Dia akan menjadi lawan seluruh tujuh manusia harimau di kemudian hari. Tapi ilmu yang akan kuberikan padamu hanya satu kisah. Yaitu, setelah kematianku, akan lahir satu manusia harimau. Dialah harimau ke delapan degan kelebihan ilmu dari yang lain yang sudah mati atau yang masih hidup. Karena tujuh harimau terdahulu tidak mendapatkan Kitab Tujuh itu, mungkin hanya dia satu-satunya!” “Lalu?” “Untuk mendapatkan Kitab itu, akan terjadi perang hebat. Mungkin ada yang mati. Aku kuatir, jika kau kesana, kau terlibat dalam perang perebutan Kitab Sakti itu”. “Akibat lain?” tanya Ki Wati. “Ada yang gila”. “Tapi katakan pada saya, siapa pemilik Kitab tersebut? “ Ki Tua berdiam sedih. Dia tidak diperkenankan menyatakan siapa, kendati ia tahu. sesuai dengan sumpahnya, apabila dia katakan maka dia akan mati dalam keadaan mengerikan. Bukan mati Grafity, sebagai manusia. Tapi mati dalam bentuk: bangkai harimau. “Kurasa, aku sudah dekat”, kata Ki Tunggal. “Nanti dulu, Ki Guru!” “Nyawa tak bisa di tunda”. Ujar si Tua itu yang menggelepar sesaat lalu mengaum bagai macan dan kemudian, dalam keadaan tangan terlipat, beliau masih membaca-baca sesuatu, bergelepar sejenak. Dan nafasnya pun terhenti. Karena kesal dan sedih. Ki Wati menangis menggero-gero sampai pingsan beberapa saat. Dia seakan-akan orang yang mendapatkan satu kesempatan manis namun terlepas. Dan keberangkatannya yang mestinya segera itu harus tertunda. Betapapun, gurunya yang terakhir adalah Ki Tunggal!. Seorang guru harus dihormati. Dan seorang guru yang disaksikan mati, harus dikuburkan secara layak. Dalam hujan lebat itu juga, Ki Wati mengambil cangkul… Dia memilih tempat yang paling mudah dikenal, yaitu di bawah satu pohon yang berbunga harum. Berdaun harum. Berbatang harum. Yakni pohon cendana. Pacul menghantam tanah yang becek itu. Ketinggian ilmunya menyebabkan ringkasnya pekerjaan menggali lubang kubur itu. Tetapi tiba-tiba bulu romanya merinding, entah mengapa. Hujan henti seketika, berganti gerimis kecil. Dan pemandangan di sekitarnya bukan seperti di kawasan Bukit Tunggul lagi, melainkan di satu pertanahan kuburan yang begitu banyak disekeliling. Satu-satunya yang tak berubah adalah pohon cendana itu. Latu Ki Wati yang semestinya tak punya rasa takut itu, mendadak takut karena melihat samar-samar satu sosok berjubah makin dekat dan makin dekat. Lidah Ki Wati akan berteriak, namun kelu. Suara pun tersekat di kerongkongan. Orang berjubah itu tinggi besar. Makin dekat makin tinggi. Dan … wajahnya tampak rata. Bulu roma Ki Wati makin merinding, karena tiba-tiba orang itu berkata: “Pinjam cangkulmu. Orang sakti seperti beliau, kuburannya harus dalam. Ada nanti yang jahat menggali kuburan ini, mengambil satu dua helai rambut beliau “. “Siapa anda?” tanya Ki Wati mulai berani. “Aku bekas muridnya. Karena durhaka pada Guru, pada beliau, aku bertanding. Senjatanya yang ampuh, yaitu Pedang Raja Turki, telah membabat wajahku hingga rata. Aku bukan manusia lagi, bukan setan ataupun jin!” Orang misterius itu mencangkul. Begitu cekatan, bertambah lagi dalam lubang itu tujuh hasta. Ketika cangkul diserahkannya kembali, Ki Wati terjengkang ke belakang karena melihat wajah itu mirip harimau luka yang mengaum dahsyat. Entah bagaimana sosok harimau itu berlalu dari situ. Ki Wati teringat Pedang Raja Turki itu. Namun dia harus menguburkan Sang Guru terlebih dahulu. Ringkas sekali waktu penguburan oleh sang murid. Baru setelah itu, Ki Harwati menggeledah rumah. Dia menemukan pedang yang istimewa, adanya dalam salah satu tiang bambu. Dengan pedang itu, dia merasa tongkatnya tak ada arti lagi. Pedang itulah yang disandangnya pergi. Dan, di Guha Lebah memanglah sedang terjadi satu malapetaka dahsyat. Ki Pita Loka dengan wajah sedih menyaksikan lebah-lebah piaraannya yang setia selama ini begitu panik. Mereka tak bisa keluar karena sebuah batu raksasa jatuh tepat di depan pintu guha. Lebah-lebah itu mencari jalan keluar dengan kalap. Mereka menerjang atap guha, tapi lantas jatuh berguguran. Dalam sinar satu obor kayu karet itu, tampaklah lebah-lebah itu jatuh seratus demi seratus ekor. Mereka berguguran. Gumara sendiri duduk terpaku pada kursi batu seperti orang tolol. Apa yang dicarinya, sesuai dengan peutunjuk Ki Ibrahim Arkam berdasarkan takwil mimpi, sepertinya cuma berita bohong. Kitab Makom Mahmuda justru tidak ada. Bahkan Pita Loka sudah bersumpah, bahwa dia tidak memiliki Kitab sakti itu. Yang terjadi justru sebaliknya! Tirai stanggi yang konon merupakan dinding lingkaran asap yang selama ini jadi kisah kesaktian Pita Loka dari mulut para guru-guru besar, malahan tidak mengeluarkan bau stanggi lagi. Memang asap itu ada. Dan Gumara menyaksikannya. Asap itu mengepul dari dasar lantai guha. Namun tidak mengeluarkan bau stanggi. Asap itu malahan menyesakkan nafas. Sebab bau yang dipancarkannya berupa bau belerang. “Bagaimana jalan keluar kita?” tanya Gumara. “Kita sedang terkurung. Sejak meteor jatuh dari angkasa luar menutupi pintu guha, kita seakan-akan siap untuk mati terkurung”, kata Ki Pita Loka. Gumara yang dirinya kelihatan berubah menjadi tolol, lalu bertanya; “Bagaimana nasib Dasa Laksana?” “Persetan dengan dia”, kata Pita Loka. “Persetan? Kalau begitu kau membenci dia!” “Ya!” “Kukira kalian berdua sudah melangsungkan ikatan”. “Dia biang keladi bencana ini. Seorang manusia kota yang moderen, telah mencemarkan kebersihan ilmu kebatinan”. “Lalu, yang kau maksud kamarnya?” tanya Gumara. “ Lihat sendiri saja”, kata Pita Loka. “Boleh aku bertatap muka dengan dia?” “Silahkan”, kata Pita Loka. Gumara bertanya lagi: “Tunjuki padaku tempat di mana dia berada. Tampaknya kamu sangat merahasiakan”. “Itu. Di Sana. Sekarang tak ada kamus rahasia lagi”, kata Ki Pita Loka. Gumara menuju ke Grafity, tempat telunjuk Ki Pita Loka tertuju. Ada satu lorong sempit Makin Gumara masuk, makin terasa bau amis. Seperti bau bangkai ular! Tak ada penerangan ke sana. Jadi Gumara mesti meraba-raba dinding lorong itu. Lalu Gumera merasakan jalan ke sana licin. Berkali-kali hampir tergelincir dia, Sementara itu bau amis semakin mendahsyat. Gumara ingin tahu sumber bau itu. Dia tergelincir lagi sebab sepatu karetnya harus menginjak benda licin. Gumara lantas berhenti melangkah. Dia berjongkok. Dan dirabanya penyebab ia terpeleset sebab licinnya. Begitu dirabanya lantai guha yang licin itu, dia merasakan semacam sisik ular. Untunglah dia tak menjerit. Cuma bulu romanya meremang. dia melanjutkan perjalanan. Tampak ada sedikit cahaya obor. Ini membuat Gumara ingin tahu. Semakin terang cahaya itu, semakin besar rasa ingin tahu Gumara, mengapa ada semacam ular di lantai guha yang bikin dia terpeleset lagi! Ular! Benar-benar bangkai ribuan ular di lantai itu! Ular-ular yang jumlahnya begitu banyak, rupanya baru saja mati. Ular itu mati keracunan asap belerang yang memang memenuhi lorong yang sedang dilewati Gumara.Terdengar suara: “Siapa itu”“ Suara itu dari lorong yang ke kiri. Gumara menoleh ke suara itu. Barulah tampak olehnya, Dasa Laksana, dalam keadaan dirantai. Tubuhnya tinggal tulang di balut kulit. Bibirnya kering. Matanya menonjol keluar. Dan rupanya dia barusan saja makan bangkai ular. “Aku Gumara yang pernah anda kalahkan”, kata Gumara.” Mengapa anda dirantai begini?” “Aku dalam belajar dengan Ki Pita Loka. Lalu mendadak nafsu birahiku timbul dalam suatu upacara kenaikan tingkat ilmu yang kupelajari darinya. Aku mencoba memperkosanya. Tapi gagal. Lalu aku dibantingnya sampai pingsan. Dan kudapati diriku di sini, diawasi oleh ratusan dan ribuan ular berbisa, dalam keadaan dirantai”“ “Tahukah anda apa yang sedang terjadi?” tanya Gumara. “Aku tahu” ujar Dasa Laksana, “Aku kehilangan daya. Bencana ini tiba akibat kutukan. Kutukan dari langit. Ketika meteor itu dua kali membentur Bukit Lebah ini, kukira aku akan mati. Tapi tolonglah aku kini!” Gumara kehilangan akal. Lalu dia dengar ucapan Dasa Laksana: “Tahukah anda, saya mencoba memperkosa Ki Pita Loka berdasarkan mimpi?” “Kau juga termasuk percaya takwil mimpi?” tanya Gumara. ““Yah, sudah terlanjur terlibat dalam dunia asing ini …begitulah! Aku bermimpi ketemu orangtua yang bernama Ki Rotan. Mimpi itu selanjutnya menyatakan. agar aku menyetubuhi Ki Pita Loka agar mendapatkan tuah. Ilmu Ki Pita Loka akan sendirinya kupunyai bila berhasil menyetubuhinya. Nyatanya … itu semua godaan”. Lalu mendadak, amat mengejutkan, terdengar suara gemuruh! Gumara maupun Dasa Laksana sama menjerit. Satu kesan bahwa ada cahaya di lorong kanan itu sudah jelas. Grafity, Ya, cahaya dari arah selatan. Dari lorong mati. Lalu muncul bayang-bayang setelah setengah jam Gumara dan Dasa Laksana terpana bisu. Kebisuan itu terpecahkan oleh bunyi langkah orang mendekat Dari bayangan yang timbul bergerak di dinding lorong kanan itu, tampak bahwa manusia yang bergerak masuk itu memegang tongkat. “Itu orang yang kulihat dalam mimpi!” seru Dasa Laksana tak tahan, meronta. “Ki Rotan”, bisik Gumara. Gumara segera berkonsantrasi karena merasa dalam bahaya. Aneh? Biasanya jika dia berdzikir,,,, dia merasa ada getaran gelombang masuk ke dalam dirinya! Kali ini tidak ada getaran. Ia seperti bocah yang ketakutan sewaktu Ki Rotan mendekat wajah Ki Rotan jadi buas. Gumara dan Dasa Laksana sama mengkeret takut. Ki Rotan mengayunkan tongkat. Lalu disabetnya tubuh Gumara. Gumara menjerit lantang. Lalu Ki Rotan berkata. “Kini giliran akulah yang akan memiliki Kitab Sakti itu! Mana Ki Pita Loka!” Gumara tak menjawab. Satu sabetan tongkat itu telah membuat dia tersungkur mencium bangkai ular dalam keadaan pingsan. Dasa Laksana Tak berkutik. Dia hanya menyerahkan diri atas kekuasaan apapun yang akan melangkahinya. Tapi sikap penyerahan ini pulalah yang membuat Dasa Laksana merasa dirinya diisi oleh satu kekuatan. Tubuh yang loyo berbalut kulit tipis itu seakan-akan merasa dirinya kuat. Dia lihat tangannya yang dirantai dengan rantai besi itu. Dia coba merenggut rantai itu dengan membuka kedua tangan! Bunyi gemerincing rantai besi putus, membuat Dasa Laksana heran sendiri. Dan Ki Rotan yang sudah menuju ke dalam, menoleh. Dia kaget sekali karena melihat tokoh lemah yang tadi dibentaknya, berdiri tegap. Senjatanya rantai besi yang terjurai di tangan kiri. Dia tampak begitu mengerikan, sehingga Ki Rotan bukan bersikap mau menyerang, melainkan bertahan. Dia memutar-mutar rantai besi itu di atas kepalanya, sebagai acuan akan menjerat Ki Rotan. Ki Rotan mencoba menangkis dengan tongkatnya ketika rantai itu hampir menjerat lehernya. Tongkat itu patah, tapi membuat bentuknya mirip tombak runcing. Ki Rotan menyerang dengan suara teriakan dahsyat. Suara teriak ini yang menyadarkan Ki Pita Loka dari lamunan sedihnya menatapi tirai asap stanggi di depannya yang berubah bau menjadi bau belerang. “Hai, hentikan perkelahian itu!” ujarPita Loka melihat terjadi pergumulam seru di lorong itu. Suara lantang Ki Pita Loka, membuat Gumara yang baru siuman dari pingsannya segera berdiri. Dia berbeda dari Gumara yang biasa. Dia jadi beringas karena munculnya satu kekuatan dahsyat. Dia melompat menerkam dua orang yang sedang beradu kuat itu. Satu cakaran mengoyak muka Ki Rotan. Dan satu cakaran lagi mengoyak muka Dasa Laksana. Dua-duanya menjerit hebat kesakitan. Tapi dua-duanya pun mundur ke dalam, bahkan Ki Rotan ketika mundur membentur tubuh Pita Loka yang berdiri tercengang. Perkelahian seru terjadi. Kini Ki Rotan sudah kerjasama dengan Dasa Laksana karena naluri Grafity, mendadak. Dua-duanya mengeroyok Gumara. Satu belitan rantai yang dipecut Dasa Laksana membelit leher Gumara. Tapi dia mengaum sehingga belitan itu lepas. Kaki kiri Gumara menendang tegak lurus menghantam Ki Rotan yang meloncat mau menerjangnya. Dia tendangkan ke kanan mengenai leher Dasa Laksana sehingga orang ini terjungkal. Pita Loka tampaknya bengong. Tiap dia membangkitkan perkataan khas dari ilmu saktinya, sedikitpun tak ada kekuatan lagi. Gumara tampak menerkam dua lawannya dengan cakaran ketat lalu melempar tubuh dua lawan itu ke arah pintu guha. Teriak teriak serentak dari tiga mulut kedengaran mengalahkan suara benturan tubuh dua lawan Gumara itu.Batu langit itu kehilangan daya tahan, lalu bergulingan menciptakan suara amat gemuruh. Ketika batu besar itu mencebur ke dalam sungai, terdengar satu kali lagi bunyi gemuruh. Pita Loka menuju pintu untuk menyaksikan lanjutan perkelahian itu. Pita Loka tercengang karena Gumara yang melompat membabi buta itu ternyata berbentuk harimau mengerikan. Dengan buas Ki Rotan kena cakar sehingga satu biji matanya terkelupas. Dalam keaadan buta sebelah itu Ki Rotan melarikan diri. Tinggal Dasa Laksana yang wajahnya penuh gores cakaran itu masih menggunakan berbagai cara. Satu pohon dia cabut, dan dia ayunkan menghantam seekor harimau ganas yang akan menerkamnya. Ia tak mengetahui pohon apa itu. Tapi jelas, ketika ayunan pukulan itu tepat mengenai kepala, Gumara berteriak dan dirinya terjungkal, berubah bentuk dari bentuk harimau jadi manusia biasa. Dasa Laksana kalap. Tapi dia Justru tak tahu lagi apa yang mesti diperbuat. Mendadak sontak dia melolong keras. Suaranya membahana membentur tujuh buah bukit juga di dengar oleh Ki Harwarti yang barusan sadar dari pingsannya jatuh di jurang. Ki Harwati sedang akan menuju Guha Lebah. Tapi dia berpapasan dengan Ki Rotan yang satu matanya sudah copot. Mulanya Ki Harwati siap mau menebas Ki Rotan sebab curiga. Pedanq Raja Turki sudah disiapkannya akan menebas leher muridnya yang khianat itu. Tapi ucapan Ki Rotan menyadarkan dirinya. “Bahaya anda ke Guha Lebah. Semua menjelma serentak berubah!”, ujar Ki Rlotan, Ki Harwati malahan menjadi bersemangat. Dia mendapat kekuatan batin justru setelah mendengar ucapan Ki Rotan. Dia melompat ke sebuah dahan, lalu mendapatkan tenaga untuk terbang dan bergelayutan kian kemari dari pohon ke pohon. Lalu, ketika ia menclok di sebuah dahan, dilihatnya di bawah ada seorang pria melolong. Pakaiannya dalam safari pemburu. Orang itu mungkin pemburu gila. Tapi ditangan kirinya ada rantai yang selalu dia ayun-ayunkan. Ah, tentu dia mau mencari lawan, fikir Ki Wati. Ki Wati meloncat ke bawah disertai teriakan. Dan seketika itu juga Dasa Laksana melolong sembari mengayun-ayunkan rantainya. Jebakan jerat rantai itu tiap sejenak tertabrakan dengan mata pedang yang menimbulkan bunyi gemerincing. Pita Loka, yang kelihatannya seperti kurang ingatan, masih berdiri di pintu Guha Lebah yang tak ada lebahnya lagi. Tiba-tiba saja dia melihat serombongan manusia. Mereka tampak lelah dari perjalanan yang jauh. Dan begitu melihat wanita berikat kepala, kepala rombongan itu berseru: “Itu dia Ki Pita Loka!” Pita Loka!” Setelah mendekati Pita Loka, yang tertua berkata: “Saya Tongga Agun, kepala desa yang baru” “Desa apa?” “Desa Kumayan”. Desa itu kini tertimpa musibah. Seluruh penduduk sakit, termasuk ayah anda Ki Grafity, Putih Kelabu. Hanya anda yang dapat menyembuhkannya!” Pita Loka pada mulanya tak ingat lagi nama desa Kumayan.Tetapi setelah mendengar nama Ki Putih Kelabu. Hilang ingatannya berubah. Ya, kini dia sadar. “Musibah apa tuan Tongga?” Tanya Pita Loka. “Lebah-lebah menyerbu sewaktu batu langit meluncur menimpa jalanan depan rumah anda. Batu itu menciptakan lubang. Dari lubang itu mendadak saja keluar asap. Dan dari asap itu mendadak saja keluar lebah-lebah yang ribuan jumlahnya. Tiap penduduk terkena sengatan lebah itu. Dan seluruh desa Kumayan kini menderita sakit. Saya disuruh ke sini, karena kata ayah anda, anda memiliki ilmu penakluk lebah berdasarkan primbon harimau”. Semangat membela kampung halaman itu bergelora dalam jiwa Pita Loka, yang sebengrnya sudah hampir rontok seluruhnya. Tapi begitu dia melangkah sebentar, satu teriakan dahsyat muncul dari pohon kecapi. Ki Harwati secara tiba-tiba sudah mengayun-ayunkan pedang Raja Turki yang sudah berlumuran darah. Ki Pita Loka mundur, mundur. memberi aba-aba kepada utusan desa Kumayan agar melarikan diri. “Berikan Kitab Sakti itu padaku sekarang. Sebelum darahmu mengalir seperti darah kekasihmu. Dasa Laksana!” bentak Ki Harwati. “Dia tak memiliki Kitab Sakti itu, adikku!” Terdengar suara dari balik semak. yang ternyata Gumara. Ucapan Gumara ini membuat Ki Harwati kalap. Dia membentak: “Diam kau! Masih juga kau membela gadis yang kau cintai ini?” Satu ayunan pedang seketika itu juga akan menebas leher Gumara, andaikata dia tidak cepat tunduk. Gumara dalam sekejap berubah menjadi seekor harimau beringas. Dia terkam dengan cakarnya wajah Harwati, tetapi bukan wajah itu yang terpegang melainkan pedang itu. Anehnya, dalam sekejap Gumara berubah kembali dari bentuk harimaunya menjadi Gumara biasa. Pedang itu sepertinya bergerak dalam genggamannya, lalu ketika dia mencoba menebas Harwati, pedang itu melingkar lepas berupa benda melayang ke udara… dan jatuh tepat di atas Bukit Lebah. Satu suara nyaring bagai petir disertai kilatan bagai arus lirik terdengar. Gumara bersama Harwati menyerbu serentak masuk ke Guha itu. Pita Loka hanya tercengang dan bekata: “Ayoh tuan-tuan, kita cepat lari sekarang menuju Kumayan!” Sementara itu Gumara dan Harwati sama mengerem langkahnya. Karena tepat pada tempat asap stanggi berupa lingkaran sebelumnya yang berubah bau belerang mendadak ambles. Lingkaran itu berbentuk sumur yang dalam. Gumara tiba-tiba berseru: “Itu pedangmu menancap diatas permukaan air mendidih di dalam itu “ Ucapannya menimbulkan gema. Ki Harwati menoleh pada Gumara. Matanya berbinar penuh nafsu. Dan dia berkata: “Kakak, aku mencintai anda lahir dan batin!” Gumara berkata: “Kau ingin mendapat kutukan?” Gumara berteriak: “Lihat! Itulah Kitab yang selama ini kucari!” Harwati menjenguk ke sumur di bawah itu. Di antara air mendidih itu, dia memang melihat sebentuk Kitab yang mengambang, bergeletar mengikuti air mendidih. Hampir saja dia dengan kalap akan menerjuni sumur itu, untung saja lengannya dipegang oleh Gumara. Mendapat bantuan begitu, Ki Wati jadi bernafsu. Dia memeluk Gumara dan berkata: “Mari kita mengasingkan diri sehagai suami isteri. Kau toh dari Ibu yang lain, kendati kita dari ayah yang sama” “Kuhormati cintamu padaku, adikku! Tapi kita sama-sama satu darah. Kita dari titisan air mani Ki Karat. Dan kita terkutuk jika menjadi laki bini!” “Kalau kita sudah hidup terasing dari dunia ramai, siapa yang akan mengerti asal usul kita?”. Ki Harwati dengan kesetanan memeluk Gumara. Tapi Gumara mencoba melawan nafsu iblis adik tirinya itu, dan tanpa sengaja mendorong tubuh adiknya itu masuk ke sumur. Ki Harwati berteriak melolong. Ini membuat Gumara kalap. Ilmunya menjalari darahnya. Getaran demi getaran dirasanya Lalu dia mengaum dahsyat berubah bentuk menjadi harimau beringas. Namun telap saja dia berputar-putar mengelilingi sumur mendidih itu. Hanya berputar-putar. Dan berputar-putar sampai matahari tenggelam dan terbit lagi dan tenggelam lagi. Ki Pita Loka memasuki Desa Kumayan dengan langkah perkasa diiringi oleh sepuluh orang penjemputnya. Dia tidak lagi tolol seperti pertama kali ditemukan. Seluruh desa bagaikan mati. Di sana sini lebah-lebah mendengungkan suara. Lebah-lebah itu kini berkumpul seperti sebuah iring-iringan skuadron. Ki Pita Loka segera sadar, ilmunya bukan hilang oleh musibah bukit Lebah. Dia sampai di depan rumahnya, menatapi lubang besar jatuhnya batu meteor itu. Di hadapan ayahnya yang bengkak-bengkak itu Ki Pita Loka berkata agung: “Lebah-lebah ini seluruhnya akan aku hukum! “ TAMAT (Berlanjut ke episode: Rahasia Kitab Tujuh) Grafity, http://admingroup.vndv.com

Amukan Pendekar Edan

 

IBU-IBUdibawah yang masih menyusui anaknya sudah merasa takut dimana-mana. Kisah anak-anak yang diculik, yang kemudian ditinggalkan dibawah pohon dalam keadaan bolong kepalanya, semakin mengerikan.

Sudah banyak ibu-ibu di desa Serunai tidak berani hamil lagi. Sebab Jika pun hamil mereka merasa percuma karena nanti apabila lahir sehari dua hari akan kehilangan anaknya karena diculik. Juga di desa Surya Mulih yang aman damai semenjak diperintah Nyi Surya, mulai resah. Keresahan itu pun terasa sampai ke desa bukit Api yang terkenal memiliki banyak pendekar tersembunyi.
Tetapi desa Kumayan pun tak luput dari ketakutan yang sama. Ketika Gumara masih mengobati Ki Lading Ganda, muncullah diambang pintu Ki Putih Kelabu. Melihat keadaan Ki Lading Ganda, Ki Putih Kelabu bertanya: “Belum ada perubahan untuk sembuh?” “Belum, tuan Guru. Silahkan masuk”, ujar Gumara.
Ki Lading Ganda diangkut oleh orang utas setelah ditemukan jatuh dari Guha Lembah Surilam. la masih dalam keadaan gila.
“Guru Gumara”, ujar Ki Putih Kelabu, “Rasanya anda cuma menghabiskan waktu mengobati Ki Lading Ganda. Ki Jengger sendiri sudah gagal, karena memang cuma Pita Loka yang mampu menyembuhkan penyakit gila ini”.
“Memang saya cuma berusaha”, kata Gumara. “Tapi hal yang lebih penting lagi adalah harapan penduduk Kumayan kepada kita berdua. Memang Ki Jengger benar, Guru! Beliau memegang silsilah tujuh manusia harimau yang bukan palsu. Memang kita berdua disini yang sebenarnya sudah ditetapkan sebagai harimau-harimau yang syah. Bukti Ki Talim sendiri bayinya kena culik dan tetap tak berdaya. Sudah aku baca Kitab Tujuh yang aseli, memang tinggal kita berdua saja harimau-harimau yang syah !. Tapi kesahihan kita berdua belum syah apabila kita belum mampu menyergap wanita edan penculik bayi itu. Siapa menurut pendapat anda yang punya ilmu hitam yang kejam itu?” “Siapa saja boleh diduga, asal jangan tuan Guru menduga Harwati”, kata Gumara. “Tapi kuharap juga tuan jangan menyangka puteriku Pita Loka !” ujar Ki Putih Kelabu. “Yang membingungkan memang karena saksi mata yang kebetulan melihat penculikan bayi itu menyebutkan wanita penculik itu edan. Jadi saya tak bisa menyalahkan penduduk sini yang mengira itu Harwati. Kau sendiri tak bisa menyangkal bahwa Harwati masih dalam keadaan edan, kan ?”
Gumara tenang, kendati wajahnya merah padam. Dia lalu berkata; “Memang saya malah yang lebih mengetahui, bahwa pelajaran yang dituntut oleh Harwati selama ini, sampai dia gila, melalui guru-guru berilmu setan. Andaikata Ki Rotan masih hidup, dia akan lebih parah darisekarang. Ki Rotan ini bukan orang pertama yang menyeret Harwati ke ilmu setan. Harwati sendiri pernah belajar pada Ki Pata !” “Ki Pata”” mata Ki Putih Kelabu melotot. “Ya, Ki Pata…apa anda kenal dia?”
“Dia teman masa kecilku!”
“Dia penduduk desa Tulus, yang semula menjadi murid yoga Rama Yogi, lalu mendapat serangan kejam dari padepokan Ki Rotan. Ilmunya yang lebih mengutamakan samadhi dia tinggalkan. Dia murtad. Lalu dia mendirikan padepokan sendiri dengan Ilmu Kobra. Harwati pernah mewarisi ilmu ini, dan saya gagal mencegahnya. Tapi bagaimanapun, saya tidak yakin bahwa Hanwati mennpelajari ilmu pemakan bayi. Betapapun, dia berdarah Ki Karat, ayahku….Ayahku berdarah harimau seperti juga anda. Cobalah tuan Guru jangan berburuk sangka pada Harwati”. “Penduduk yang berburuk sangka, Guru Gumara!” kata Ki Putih Kelabu.
“Omongan mereka harus tuan cegah kalau begitu!” ujar Gumara. Gumara masih memijit bagian atas mata Ki Lading Ganda yang tak mau membuka matanya itu sejak diobati. Lalu dia memberi isyarat pada Alif supaya menggendong Ki Lading Ganda masuk kamar. Memang nasib pendekar ini amat buruk. Keluarganya tak sudi menerimanya kembali dalam keadaan gila. Dan muncullah pula diambang pintu pendekar muda Dasa Laksana, murid Ki Putih Kelabu. Dia melapor: “Tuan Guru, bayi Tankaya baru saja diculik oleh pendekar edan”. Gumara cepat menyela: “Pendekar edan? Kamu yakin orang edan bisa jadi pendekar dan kamu yakin gelar pendekar bisa pula menculik bayi?” “Mayit bayi itu ditemui dibawah pohon rusasa dekat sumur, dalam keadaan kepalanya bolong”, kata Dasa Laksana.
Gumara cepat menyambar kain sarung. Lalu diliiitkannya kain sarung itu ke lehernya, dan dia mengajak Ki Putih Kelabu dan muridnya menuju rumah Tankaya.
BEGITU mereka sampai di rumah Tankaya, maka Nyi Tankaya meratap. Tankaya langsung menuding Gumara: “Harap Tuan Guru buka mayit bayi kami, supaya engkau tahu betapa kejamnya Pendekar Edan Harwatimemakan benak bayi kami!”
Ucapan itu menyengat telinga Gumara. Namun kesabarannya luar biasa. Dia amat tenang menuju ke tempat bayi itu dibaringkan, tertutup kain batik. Dan disingkapkannya kain penutup itu. Lalu dia lihat kepala bayi itu bolong. Mayat itu tak lagi punya otak, sudah dihisap oleh wanita edan yang menculik itu. Ditutupnya kembaii kain batik itu. Gumara menatap Tankaya. Dia mencoba meyakinkan: “Katakanlah penculik yang kejam ini pendekar edan, walaupun sepengetahuanku tak pernah ada pendekar yang edan sebab orang edan tak layak disebut pendekar. Tapi, sekiranya ada pendekar edan, maka sebaiknya jangan dikaitkan dengan nama Harwati!” Suaranya lembut tapi hatinya tersiksa. Tankaya masih belum puas. Dan mempertanyakan: “Jika memang Harwati tidak menculik bayi, tentu dia menetap di satu tempat!” “Memang dia menetap di satu tempat. Sungguh menderita keadaannya di tempat itu!” ujar Gumara. “Dimana tempat itui” tanya Tankaya. “Disebuah guha, di Lembah Surilam”, ujar Gumara. “Anda menjamin dia ada disitu sekarang ini?” “Saya menjaminnya. Dia memang gila disana. Mungkin dia akan gila terus menerus disana, sampai mati. Jelas buat tuan jaminan saya?” tanya Gumara. Tankaya tak menjawab. Lalu menyeleluk Abung Legoyo: “Kunci dari semua bencana ini sebetulnya terpikul dibahu seorang pendekar wanita, puteri Tuan Guru Putih Kelabu. Hanya dia yang bisa menyembuhkan kegilaan Harwati. Tapi kita pernah mendengar sendiri, dia menolak. Karena cemburu”.
Wajah Ki Putih Kelabu merah padam.
“Baiklah kalau begitu tuduhannya. Ini baru satu orang yang menuduh dan mempersalahkan puteriku. Tapi jika nanti tuduhan ini menjalar ke seluruh Kumayan, mau tak mau saya tak bisa berdiam diri. Saya akan cari puteriku yang menghilang itu sampai ketemu. Lalu aku paksa dia mengobati kegilaan Harwati, supaya pendekar edan ini jangan lagi membuat kekacauan ibu-ibu yang memiliki bayi!” kata Ki Putih Kelabu, yang langsung membuat Gumara tak bisa menahan
kesabarannya, hingga Gumara bertanya: “Tahukah tuan Guru, bahwa anda terlalu agung untuk menuduh Harwati sebagai pendekar edan yang memakan otak bayi? Tidak menyesalkah tuan Guru yang mulia mengatakan hal itu didepan mayit di rumah duka ini? Bukankah tuduhan itu mencoreng muka semua turunan Ki Karat?”
“Aku ada usul, tuan-tuan”, Tankaya menengahi, “Kesucian hati Guru Gumara maupun Ki Putih Kelabu tidak pernah kami ragukan. Tapi kesucian hati Harwati maupun Pita Loka tentu belum kita buktikan. Kini kembali kepada jaminan Ki Gumara tadi…” “…Mengenai Harwati?” potong Gumara.
“Ya. Karena saya sangsi apa betul Harwati itu menetap di satu tempat yang disebut Guha Surilam. Tempat itu sulit ditempuh. Terutama bagi kami orang awam. Jangan-jangan keterangan ini sekedar melindungi nama baik Ki Karat.”
“Tuan bisa saya bantu untuk ke sana . Nah, baikiah sekarang.Juga tuan bersama saya, dengan saksi-saksi Ki Putih Kefabu dan muridnya Dasa Laksana dan kalau perlu seorang lagi. Abung Legoyo. Mari kita berangkat ke sana untuk memuaskan hati anda. Sekaligus membuktikan bahwa Harwati tidak terlibat dan menetap di guha itu dalam keadaan edan”” Tankaya maupun Abung Legoyo kebingungan dengan tantangan itu. Tapi ketika Tankaya menyatakan “Baik saya ikut anda”. Abung Legoyo pun menyatakan kesediaan. “Tuan Guru memegang tangan Abung Legoyo, dan saya memegang tangan Tankaya”, ujar Gumara pada Ki Putih Kelabu.
“Apa yang dimaksud memegang tangan kami?” tanya Tankaya.
“Supaya anda tak merasa letih berjalan ke sana . Dan waktu bisa lebih dipersingkat”, ujar Gumara. Lalu mereka meninggalkan rumah duka itu. Begitu memasuki semak dan jalan pintas, Gumara memegang tangan Tankaya. Langkahnya menggebubu, dan Tankaya keheranan karena irama langkahnya seakan-akan tidak pula berpijak di bumi. Begitupun Abung Legoyo, keheranan bersangatan .karena tidak merasa seperti melangkah melainkan sedikit melayang. Juga keheranan apabila dia menerjang pohonan maka robohlah pohonan itu. Dan lebih heran lagi ketika mereka menuruni lembah tanpa ngeri. JUGA, ketika mereka harus meloncat batu runcing demi batu runcing yang bagai tombak di dasar lembah itu, mereka berdua ini. Abung Legoyo dan Takaya sama keheranan. Mereka tak sempat bercakap. Tapi juga tak mengeluh lelah. “Itulah guha itu, di atas itu”, kata Gumara.
“Untuk pertama kali aku melihat ada guha disitu”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Guha itu kini menjadi guha setan”, ujar Gumara. “Saya tak ingin naik ke sana ”, kata Tankaya. “Saya juga tidak”, ujar Abung Legoyo. “Kalau begitu biarlah saya dan Ki Putih Kelabu saja yang memanjat ke atas. Tuan Tankaya… harap tuan percaya kesaksian Ki Putih Kelabu, bahwa Harwati ada di atas situ, dalam guha itu!” “Bagaimana supaya saya puas, kalian berdua sebagai pendekar besar membawanya ke bawah?” tanya Tankaya “Usul yang baik”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Baik kalau begitu, kendati susah menyergap Harwati karena tenaganya tenaga setan”. “Kalau perlu kita pingsankan”, kata Ki Putih Kelabu.
“Biar aku yang menetak urat darah pingsannya nanti”. Tankaya puas sekali. Baik dia maupun Abung Legoyo, sama terheran-heran melihat dua pendekar kesohor ini memanjati dinding lembah itu bagai dua ekor cicak yang saling berpacu. Setiba dibibir guha, memang dua pendekar itu agak kesulitan, namun akhirnya mereka berdua berhasil masuk ke dalam guha. Gelap Dan sunyi. Tak ada tanda nafas kehidupan. “Harwati, dimana kau?” tanya Gumara lembut, karena curiga bahwa Harwati bersembunyi. Tak ada jawaban. Ki Putih Kelabu lalu memoleskan ludahnya pada sepuluh kuku jari tangannya. Dan bersinarlah kuku itu bagaikan lampu. Dan teranglah keadaan dalam guha itu. Namun tak tampak Harwati dalam guha yang menyeramkan itu. Gumara terhempas malu. Dia menatap ke wajah Ki Putih Kelabu dan berkata: “Saya tak perlu turun lagi. Saya malu bertemu muka dengan dua orang awam itu. Orang awam hanya ingin bukti, bukan ingin penjelasan berupa alasan. Tuan turunlah ke bawah sendirian”. Grafity,
“Tuhan marah padamu karena jaminan kepastian”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Saya harus hukum diriku sendiri, Saya akan bertapa seorang diri di sini selama 40 hari, tuan Guru. Saya malu…”, dan Gumara menjatuhkan dirinya kepermukaan guha itu, dan airmatanya bercucuran. “Jangan bersedih hati. Tiap pendekar mesti kena uji”, kata Ki Putih Kelabu. “Kalau begitu turunlah, Katakan pada mereka berdua apa yang kita lihat, sebab anda dipercayakan sebagai saksi. Dan sampaikan salam maaf saya kepada mereka berdua”. “Baik”. “Juga maaf saya yang tulus kepada Tuan Guru sendiri”. “Baik”, kata Ki Putih Kelabu. Gumara masih menggeletak kecewa. Dan Ki Putih Kelabu turun dengan meluncur pada dinding guha itu. “Apa yang saya lihat adalah seperti dikatakan Guru Gumara,” ujar Ki Putih Kelabu kepada Tankaya dan Abung Legoyo. “Kami kurang jelas”, kata Tankaya.
“Apa yang dikatakan Gumara adalah apa yang saya lihat. Itulah keterangan saya sebagai saksi. Dan Gumara itu orang yang tulus, bisa dipercaya kata-katanya”.
“Jadi memang sulit membawa Harwati ke bawah?” tanya Tankaya.
“Yang tuan katakan itu betul”, kata Ki Putih Kelabu. Lalu dipegangnya tangan Tankaya dan tangan Abung Legoyo, dan berlompatanlah tiga manusia di malam kelam itu di atas tombak-tombak batu alam sampai ke tepi lembah, kemudian memanjati lembah dengan ringan dan kemudian sampai dipucuk lembah disambut oleh Dasa Laksana. Kemudian mereka sampai ke rumah duka Tankaya. Dan Tankaya mengumumkan keterangan pada orang yang melayat: “Ucapan Gumara bisa dipercaya. Bukan Harwati yang menculik dan memakan otak bayi kami, tapi wanita edan yang lain”. “Apa anda tidak tertipu?” tanya isteri Tankaya. “Kami membuktikannya sendiri, Sekarang pun Gumara masih dalam guha untuk membujuk Harwati turun tapi tak bisa”, kata Tankaya.
Tapi keterangan Tankaya itu tak menghibur para ibu-ibu , bukannya ingin tahusiapa pendekar edan itu. Mereka tak memerlukan pengusutan. Tapi mereka memerlukan penumpasan. Ketika bayi Tankaya dikuburkan, banyak orang hadir juga anak-anak sekolah. Tankaya berpidato : “Bayi kami ini adalah korban ketiga penculikan bayi. Kematian harus diiklaskan karena hal itu
pekerjaan Tuhan Maha Kuasa. Tapi kita yang hidup tak boleh menyerah. Banyak ibu-ibu di Kumayan ini yang kebetulan belum tertimpa musibah, sekarang ini dalam ketakutan. Kami harap, baik dari pihak keamanan, maupun dari pihak dunia persilatan akan membantu mengurangi kecemasan. Karena pendekar wanita memakan otak bayi, sekalipun pendekar itu bukannya Harwati puteri almarhum Ki Karat, namun kejadian ini tak lepas dari rimba persilatan yang kita orang awam kurang faham, Kebetulan hadir pada pemakaman ini Ki Putih Kelabu, yang mungkin dapat menjelaskan cara penumpasannya”.
“Baiklah saya sambut ucapan Tankaya sekarang juga”, ujar Ki Putih Kelabu, Tiap murid ada gurunya. Tiap persilatan ada medannya. Tak bisa disangkal, wanita gila yang kejam ini tentu ada gurunya. Cuma medan yang dia pilih ternyata sesat. Yaitu bayi tak berdosa. Saya sebagai orang tua yang dipercaya yang kebetulan memiliki beban ahlak untuk menumpas kejahatan, akan
menerima kewajiban ini. Tapi kalian yang mengaku awam pun jangan lengah. Tiap gelagat mencurigakan, lapor pada saya”.
Kebetulan hari itu hari Kamis. Besoknya hari Jum”at, karena itu malam itu malam Jum”at Kliwon. Banyak ibu-ibu melemparkan air berkembang tujuh dalam kendi yang dipecah di depan rumah. Banyak yang membakar setanggi dan menyan. Tapi malam Ju”mat Kliwon ini dirasa aneh. Sebab sejak waktu isya anjing banyak yang melolong.
“Setan sedang berkelilingdi sini”, ujar lbu Kabulono.
Ibu itu mendekapi bayinya. Dan bayinya menyedot putik teteknya amat kuat sehingga dia meringis. Pak Kabulono duduk di pinggir tempat tidur. Di rumahnya tidak memasang asap menyan atau setanggi. Tapi dia mendadak berkata pada isterinya : “Sepertinya saya merasakan bau menyan”.
“Saya juga “, ujar isterinya merinding. “Saya merinding, bu”, kata pak Kabulono. “Saya juga merinding, pak”, kata isterinya.Suami isteri itu ketakutan. Mereka sama-sama mencemaskan sang bayi. Lalu sang suami bertanya:”tadi pintu belakang ada kamu kunci?” “Ada ”.
“Wah, ketakutan kita kali ini melebihi ketakutan perampokan sengit 10 tahun yang lalu”, kata Kabulono. “Tolong periksa lagi pintu belakang dan depan, Pak”, ujar Bu Kabulono. “Ha? Aku takut!” ujar sang suami. Suami isteri itu menatap pada bayi yang sudah melepaskan kemotan bibirnya pada tetek sang ibu, Mereka cemas, jangan-jangan malam ini bayi mereka jadi korban penculikan.
“Seingatmu, masih ada berapa bayi lagi yang belum diculik di sini, Bu?” tanya Kabulono pada isterinya. “Aku bersama sebelas ibu lainnya. Tiga ibu sudah kena culik. Dan terakhir Pak Tankaya dan isterinya ketimpa musibah. Tadi pagi baru dikuburkan bayinya. Bagaimana perasaan kau, Pak?” “Aku sangsi pada anak ini”, kata Kabulono, lalu menundukkan kepala mencium kening bayinya. “Bau menyan lagi!” mendadak isterinya setengah kecut berucap. Dan Kabulono mulai kebingungan. “Ya, bau menyannya hebat”, kata Kabulono.
“Jangan-jangan pendekar edan itu sedang mengelilingi rumah kita”, kata sang isteri. “Mari kita menyerah saja”, ujar sang suami, yang mandi keringat dan merasakan lagi bau menyan. Lalu bau kembang. “Bau kembang mayit, Bu, apa kau rasakan?” tanya sang suami. Bu Kabulono memejamkan mata, dan mulai menangis: “Ya, bau kembang lagi, bau kembang mayit. Kurasa, penculik bayi ini bukan manusia. Tapi orang halus, Pak”. “Kita jangan tidur, Bu. Bau menyan dan kembang semakin menyengat”, kata suaminya. Ketika keduanya merinding ngeri, mendadak mereka saling bertatapan muka. Keduanya melotot ngeri! Mereka mendengar ada orang melangkah dibelakang dapur.“Wah, itu dia rupanya, Bu. Kini giliran bayi kita”, ujar Pak Kabulono, mulai mencucurkan air mata! SUAMI isteri itu saling berdekapan sembari mendekapi sang bayi. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dibelakang. “Aduh, Bu! Itu dia”, ujar sang suami, yang lebih ngeri dan merinding. Tapi isterinya berkata lebih sabar: “Tapi mungkin saja itu bukan penculik. Mungkin itu tetangga kita”.
Pintu itu diketuk lagi. Bu Kabulono memberanikan diri bertanya: “Siapa yang ngetok pintu itu?” Kali ini belum kedengaran sahutan. Dan sang suami berkata: “Jangan tanya lagil Itu pasti pendekar edan penculik!”
Keduanya tegang. Pintu itu diketuk-ketuk lagi, sampai Bu Kabulono memberanikan diri bertanya: “Siapa ngetok itu!” “Saya”. “Siapa?”
“Harwati, Saya haus. Saya lapar”, terdengar sahutan.
Bu Kabulono segera mendekapi bayinya, “Aduh, nak, kau akan celaka, nak”.
Menjeritlah, Bu supaya ketahuan orang”, kata sang suami. “Kaulah, Pak”.
“Suaraku tak mau keluar…”, ujar Kabulono. “Aku lapar… Buka… Buka,..”, terdengar suara. Pak Kabulono gemetaran, juga isterinya. Dan karena mereka tak mau membuka, rupanya pintu itu tak dikunci. Pintu itu terbuka,… Satu sosok wanita dengan rambut terurai, bertongkat melangkah masuk. Bu Kabulono biarpun ngeri mendekapi anaknya, memang yakin itu tentunya Harwati anak Ki Karat. Juga sang suami masih sempat mengingat wajah itu. Suami isteri yang ketakutan itu merengek. “Jangan ambil anak kami… jangan..,.”.
“Aku lapar”, ujar Harwati yang rambutnya kusut masai, bertongkat. Harwati semakin maju. Ada keinginan menjerit. Tapi Bu Kabulono tak kuasa. Suaranya tercekik sendiri si kerongkongan. Pak Kabulono sudah pasrah. Tubuhnya basah bermandi keringat. Namun dia mencoba memperkuat batin denga memperhatikan gerak-gerik Harwati. Harwati berdiri di ambang pintu kamar dengan bola mata mengerikan. Dia menyeringai. Rasanya seperti mengintip bayi yang didekap bu
Kabulono. Dalam ketegangan begitu, Harwati masih saja berdiri, menyeringai mengerikan. “Itu apa yang didekap ? makanan?” tanya Harwati.
“Aduh jangan…jangan…dia…kalau kau lapar, ambil apa saja makanan di meja itu!” Harwati melihat tunjuk bu Kabulono. Lalu dia keheranan mundar-mandir mengelilingi meja. Begitu tutup nasi dia buka, langsung saja dia angkat bakul nasi dan dia lahap makan nasi itu tanpa menyuap, mulutnya seperti mulut babi yang makan ampas dedak.” Dan dalam sekejap mata nasi sebakul itu habis. Sisa nasi itu masih ada di pinggir bibir. Suami isteri itu masih tegang, tak menyaksikan perbuatan Harwati. Lallu mereka berdekapan lagi melihat Harwati melintas pintu. Tapi dia terus melangkah sampai keluar rumah. Dan senyaplah!
Legalah hati suami isteri itu. Sang isteri berkata : “Ayoh segera tutup pintu belakang itu, pak!”
Aku belum pasti dia sudah pergi”, ujar sang suami.
“Kalau begitu dekapi bayi ini, Pak”, kata sang isteri.
Kabulono menggantikan posisi isterinya. Dia mendekapi bayi. Dan wanita itu menjadi berani turun dari tempat tidur lalu ke belakang. Memang dengan nafas yang megap-megap dia melangkah menuju pintu.
Lalu ditutupnya dengan kemampuan kilat. Dan lalu dia lari ngacir masuk kamar dan menghempas dengan nafas terhempas pula. Keesokan paginya, didepan kantor polisi bertekuk lututlah Pak Mujabir dengan meratap: “Pak, tolonglah! Anak kami diculik wanita gila itu subuh tadi dan belum ketemu”. Tiga polisi mengikuti Pak Mujabir setelah mencatat proses verbal. Dan bayi yang terculik itu
ternyata ditaruh dibalik pagar bambu sumur ditutupi karung. Kepalanya kerowak, bolong. Otaknya sudah disadap sang penyadap. “Kami tadi malam kebetulan melihat wanita edan itu”, ujar seorang anak muda. “Bagaimana rupanya?” “Rambutnya kusut. Bertongkat. Dan memang mirip Kak Harwati anaknya Ki Karat”, kata anak muda itu. “Kita harus minta bantuan Guru Gumara”, kata letnan polisi Jarusi. “Dia sedang bertapa di guha”, ujar Ki Putih Kelabu yang dimintai mengangkat bayi ke dalam rumah. Dalam kebingungan begitu, Ki Putih Kelabu berkata pada suami isteri yang berduka: “Biar aku jemput Gumara nanti malam!”
Ki PUTIH KELABU tiba-tiba menyadari, bahwa tidak ada gunaya menemui Gumara. Yang lebih penting lagi menemukan putrinya sendiri, Pita Loka. Dia akan berpegang pada ucapan Ki Jengger bahwa saat ini dia lah satu-satunya di Kumayan sebagai Harimau tertua. Dan karena itu harus memikul tanggung jawab apabila kekacauan terjadi akibat kejadian yang menyeret-nyeret nama dunia kependekaran.
Malam ini dia rembug dengan Dasa Laksana, muridnya. “Siapkan kuda dua ekor untuk kau dan untuk saya. Kit aharus menemukan Pita Loka dengan cara apapun. Sebab beberapa bukti sudah jelas bahwa Harwati dengan ilmu setan yang membuat dia gila ini sudah ngawur. Tidak boleh terjadi lagi dia menyedot otak bayi di Kumayan ini. Karena Cuma Pita Loka yang bisa menyembuhkannya maka kita harus cari Pita Loka sampai ketemu” demikian ujar Ki Putih Kelabu.
Dengan patuh Dasa Laksana pergi ke rumah Lurah. Lurah tentu saja dengan senang hati meminjamkan dua ekor kudanya, kuda jenis Sumbawa yang tegap.
Harusnya keberangkatan itu di rencanakan lewat tengah malam.
Tetapi di rumah keluarga Ayoman Burawa sedang terjadi kegaduhan. Seorang wanita dengan rambut kusut masai memasuki rumahnya untuk menculik bayi. Dan ternyata Ayoman berani melakukan perlawanan. Wanita mendadak mau membunuh Ayoman sehingga Ayoman berteriak. Ketika itu masuklah satu wanita lagi yang keadaan rambutnya lebih mengerikan. Wanita ini dikira Ayoman adalah komplotan wanita pertama. Tetapi mendadak wanita yang muncul itu menggetarkan suaranya mirip auman harimau. “Ayoh pulangkan bayi itu, kalau tidak turunan Ki Karat akan menerkammu!” Wanita penculik itu memulangkan bayi pada Ayoman Burawa yang sedang keheranan. “Siapa kamu?” tanya wanita penculik.
“Aku Ki Harwati, putri Ki Lebai Karat yang selalu menguntit kamu menculik dan memakan bayi-bayi disini. Kurang ajar! Keluar kau, perlihatkan padaku ilmu kau!” Ayoman Burawa ternganga heran. Dan lebih heran lagi ketika dilihatnya orang kusut masai yang mengaku Ki Harwati itu, menyeret wanita penculik keluar rumah Ayoman Burawa. Ayoman Burawa terkesima lalu menyerahkan bayinya pada isterinya. Ayoman keluar rumah melihat kejadian yang mentakjubkan!
Dua pendekar wanita sedang adu kekuatan dalam kegelapan malam. Tidak jelas baginya lagi mana yang Ki Harwati maupun lawannya. Ki Putih Kelabu maupun Dasa Laksana sudah berada ditempat kejadian karena ada orang yang melaporkan padanya. Tapi baginya belum jelas siapakah dua pendekar wanita itu. la kuatir, salah seorang diantara yang dua itu adalah Pita Loka putrinya sendiri. Maka dia segera berteriak: “Pita Loka Hati-hati menghadapi lawan!” Ki Harwati barusan saja melakukan tendangan berbalik sehingga wanita penculik itu tersungkur. Mungkin pingsan.Harwati lalu berdiri tegap dan berkata ke arah Ki Putih Kelabu: “Saya bukan Pita Loka! Saya Harwati! Saya tidak menculik bayi”. Ki Putih Kelabu tercengang. Lebih tercengang lagi dia melihat betapa cekatannya Harwati menangkis serangan mendadak dari wanita tak dikenal yang jadi lawannya itu. Sementara terjadi pergumulan seru, Ayoman Burawa mendekati Ki Putih Kelabu dan berkata: “Tuan guru, kita sudah salah tuduh. Lawan Harwati itulah penculik bayi yang sebenarnya. Bayisaya hampir saja berhasil dirampasnya, untung dibela oleh Harwati!” “Ha?”
“Saya tidak berdusta”, ujar Ayoman Burawa.
Ki Putih Kelabu langsung terjun ke arena, setelah dapat membedakan mana yang Harwati dan mana yang bukan. Bedanya cuma pada ikat kepala. Yang pakai ikat kepala itu lawannya Harwati.
Ki Putih Kelabu langsung memulai dengan jurus harimau mengitari lawan. Dia kemudian menghambur dengan cakar tertuju pada sasaran yang kebetulan sedang mundur mengambil kuda-kuda untuk menyerang Harwati. Sergapan itu mengenai kedua bahu lawannya, yang liat tangguh memutar badan dan menjungkirkan Ki Putih Kelabu, Tetapi dengan berkelebat Ki Putih Kelabu sudah menjelma jadi harimau, ini ketahuan ketika ekor harimau itu mengibas dan membelit leher wanita penculik itu. Wanita penculik itu menjerit lantang. Sang harimau tidak memberi ampunan lagi. Dia mencekiknya terus kendati dengan ligat sekali wanita penculik berjungkiran. Tampak pergumulan itu makin melemah dan melemah. Lalu
mengaumlah suara dahsyat. Tapi kemudian orang melihat Ki Putih Kelabu yang sudah berdiri. “Dimana Ki harwati ?”, tanya Ki Putih Kelabu. Barulah orang menjadi sadar dan mencari dimana Harwati. Ternyata Harwati tidak tampak lagi. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa Harwati barusan saja bicara dengan istri Ayoman Burawa. Katanya : “Untunglah bayimu selamat, Bu. Yang selama ini menculik adalah murid-murid Ki Kembar saja. Dia barusan muncul mencari mangsa karena mengetahui kepala anak ibu kucirnya tiga. Nah, selamat tinggal.”
“Kemana kau , Harwati?” “saya akan melanjutkan perjalanan, Bu.”
“Apa kamu perlu pakaian yang baik?” “Ini cukup”, kata Harwati
Lalu ia menghambur bagai roket dan meloncat dari pohon ke pohon tanpa diketahui orang. Di lapangan, Ki Putih Kelabu masih bertanya lagi pada Dasa Laksana : “Sudah kamu temukan Harwati Ki Dasa?” “Belum”, ujar Dasa Laksana, “Tapi barusan saya baru diberitahu seseorang bahwa ada wanita yang meloncat dari pohon ke pohon , terus ke arah selatan.” “Ah, sayang dia begitu berjasa tapi terlepas begitu saja.”, ujar Ki Putih Kelabu. Siang itu banyak orang yang menontoni mayat yang masih terkapar di lapangan itu. Sebagian besar mukanya babak belur. Memar. Tapi bahu dan dadanya koyak berbekas cakaran. Nama Ki Putih Kelabu dibicarakan seharian itu. Dan muncullah Ayoman Burawa membawa berita. Dia menceritakan Harwati mengucapkan selamat tinggal kepada isterinya. “Yang terpenting, isteri saya punya kesan Harwati tidak gila”, ujar Ayoman Burawa.
“Memang begitu adat persilatan. Pengertian edan dalam diri pendekar yang sedang menuntut ilmu berbeda dengan orang-orang gila biasa. Kini terbukti bahwa Ki Jengger benar. Itu dibacanya pada Kitab Tujuh yang aseli, yaitu , ada diantara turunan Ki Karat harus melakukan rimba edan bagai salah satu godokan kawah candradimuka. Tapi yang lebih penting lagi adalah kesaksian saya mengenai bajingan persilatan yang baru kubunuh , Ayoman!” “Kesaksian apa yang tuan guru lihat?” “Yang telah kubunuh itu adalah Nyi Kembar.”
“Nyi Kembar itu siapa, tuan guru?” tanya Ayoman Burawa.
“Isteri Ki Kembar. Ki Kembar adalah dua orang guru ilmu iblis yang padepokannya ada di Bukit Kembar. Ilmu itu aneh. Dua anak kembar yang kemudian disebut Ki Kembar, menuntut ilmu tapi dia harus mencari isteri yang terdiri dari dua bayi kembar wanita………………. Lalu mengembaralah dia kemana-mana melihat ibu-ibu yang baru melahirkan bayi. Tiap ibu yang baru melahirkan bayi satu bukan kembar lalu diculik dan dimakannya benaknya. Sampai kemudian ditemukan ibu yang melahirkan bayi kembar. Lalu Ki Kembar menyerahkan bayi kembar itu kepada sang guru. Menjelang bayi-bayi itu menjadi anak perawan, waktu itulah dua pemuda
kembar itu memperdalam ilmu iblisnya. Setelah dua bayi kembar tadi jadi perawan, lalu dikawini. Tapi dua-duanya mandul. Ki Kembar mati, yang tinggal adalah Nyi Kembar. Dua penganut ilmu iblis ini akhirnya menamakan dirinya juga Ki Kembar. Itulah cerita yang kudengar. Tapi sekarang sudah menjadi kenyataan bahwa satu dari pendekar yang kejam ini sudah mati. Kukira Harwati, pergi untuk mencari Ki Kembar yang satu lagi. Mudah-mudahan begitu. Namun kasihan, dia
masih dalam keadaan gila. Karena itu kita tetap perlu mencari Pita Loka”.
“Saya akan mengawal tuan”, ujar Dasa Laksana. “Tentu. Ini bagian dari mata pelajaranmu dariku!” kata Ki Putih Kelabu. Keberangkatan Ki Putih Kelabu kali ini tanpa rahasia. Sebab Lurah sudah memerintahkan penduduk Kumayan untuk melepas beliau. Beliau dianggap berjasa sekali. Memang selama ini nama beliau kurang kesohor sebab terhimpit oleh ketenaran almarhum Ki Lebai Karat.
Dua ekor kuda meringkik. Lalu Ki Putih Kelabu berkata: “Aku jamin, selama aku mengembara. tidak ada pendekar busuk yang bisa mengacau Kumayan. Ludahku akan kutinggalkan dibumi desa ini…”. beliau meludah ke empat jurusan, kemudian mengatakan “Selamat tinggal!” “Selamat jalan, tuan Gurul” suara penduduk gegap gempita. Suara derap kaki kuda itu kemudian menjauh ke arah selatan, Kuda-kuda itu menerobos semak belukar, dan ketika tiba diperbatasan beliau berkata pada Dasa Laksana: “Kita ke Bukit Api”. “Dimana dan siapa disana, Ki Guru?”
“Aku telah puluhan tahun tidak jumpa dengan Ki Surya Pinanti di Bukit Api. Agaknya Pita Loka memperdalam ilmunya disana”, ujar Ki Putih Kelabu.
KUDA—kuda itu menyeberangi sungai dan membelah sungai itu dengan belahan yang
mengagumkan seperti ketika Nabi Musa membelah Laut Merah.
Tepat ketika dua ekor kuda yang ditunggangi Ki Putih Kelabu dan Dasa Laksana itu mendaki Bukit Merah itu, maka muncullah di sore itu seekor harimau tua, sehingga Ki Putih Kelabu segera berkata pada Dasa Laksana: “Dasa, ayoh cepat turun. Kita disambut oleh seorang Guru Besar”. Mereka turun dari kuda. Lalu Ki Putih Kelabu berkata pada Dasa Laksana dengan tegas: “Tuntunlah kudaku keatas”.
Dasa Laksana dengan cekatan menuntun kuda menaiki bukit, Ki Putih Kelabu menggeram, lalu menjelma menjadi seekor harimau. Dua harimau saling berhadapan. Dan kemudian saling bergulat-gulatan jungkir balik!
Tapi…tentu tidak ada yang kalah dan yang menang. Itulah upacara rindu antara seperguruan. Dan kemudian, kemudian sekali, kedua-dua harimau yang sudah saling kangen itu sudah menjelma kembali sebagai dua pendekar Ki Buaya Pinanti dan Ki Putih Kelabu!“Anakmu sudah kulatih baik!” kata Ki Surya Pinanti.
“Dia ada disini sekarang ini!” “Ha?” “Dia ada disini?”
“Kau jangan mengigau. Aku hanya melatihnya sampai Ilmu Api. Selanjutnya ia harus mencarinya sendiri. Jadi kedatanganmu ke padepokan Bukit Api ada kaitannya dengan Pita Loka?” “Ya, Ki Surya Pinanti”
“Tentu ada sesuatu yang penting”, kata Ki Surya Pinanti.
Lalu Ki Putih Kelabu diajak memasuki padepokan. Nyi Surya Pinanti muncul membawa minuman. Minuman madu.
“Ada berita sedih dari salah satu saudara kita yang sudah almarhum”.
“Harwati puteri Ki Karat?” tanya Ki Surya Pinanti.
“Betul. Dia dalam keadaan gila”.
“Memang begitu yang aku dengar dari Ki Jengger”, ujar Ki Surya Pinanti.
“Anakku itu memang keras kepala”. kata Ki Putih Kelabu.
“Bukan dia yang keras kepala, Ki Putih Kelabu. Tetapi setiap pendekar yang akan mencapai kematangan setingkat Guru, perlu melalui berbagai cobaan. Apa bedanya dengan keadaan kita dulu. sebelum kita disyahkan Jadi harimau. Bukan begitu?”
Ki Putih Kelabu meminum madu itu lagi. Beliau lalu berkata: “Betapapun juga, setidaknya kedatangan saya in untuk mengucapkan terimakasih. Kalau Pita Loka tidak bermukim disini
sekarang, itu memang sudah suratan!”
“Bahkan dia menolak mengobati kegilaan Harwati adalah suratan. Semua sudah saya baca
kembali dalam Kitab Tujuh. Kegilaan Harwati ini pun sudah suratan. Mereka mewarisi Kitab Tujuh
hanya sebagai suatu lompatan ke jurus depan. Didepan mereka itu sedang menunggu suatu
Kitab yang lebih hebat dari Kitab yang kita warisi. Yaitu Kitab Harimau Putih. Semoga anak turunan yang mewarisi kitab itu kelak cukup tabah dan bukannya bercerai berai!”
Ki Putih Kelabu menunggu habisnya wejangan Ki Surya Pinanti. Baru dia kemudian berkata: “Jadi dunia persilatan ini masih akan berlanjut?”
“Akan berlanjut terus. seirama dengan persenjataan nuklir dan roket. Bedanya, roket tidak punya rohani. Tapi seorang pendekar memiliki rohani. Memiliki ruh. Coba tuan pikirkan, siapa yang mendorong tuan ke Bukit Api ini jika bukan ruh pendekar? Hanyamembuang waktu”.
“Karena ikatan batinku dengan Ki Karat”, ujar Ki Putih Kelabu, “Aku kasihan melihat Harwati mengembara dalam kegilaan. Sedangkan kunci obatnya ada ditangan anakku, yang sebenarnya mampu menyembuhkan Harwati”.
“Kini Ki Guru tak perlu risau lagi”, ujar Ki Surya Pinanti, “Semua soal sudah ada tatanannya dan ada yang Menata. Jadi bukan tidak mungkin bahwa gilanya Harwati tanpa suatu keperluan”.
Kata-kata orang bijaksana dan arif memang selalu terbukti kebenarannya. Dalam perjalanan mau pulang ke Kumayan, Ki Putih Kelabu dan Dasa Laksana harus berbelok ke desa Serunai karena tebing kulon runtuh. Desa Serunai dalam keadaan tegang! Seorang pendekar wanita sedang mengobrak-abrik desa itu
dan telah menewaskan sebelas orang penduduk. Padahal, desa ini pernah mengalami bencana hebat ketika kehilangan seratus orang yang terbaik sebagai tumbal dan mangsa ilmu iblis. Penduduk ketakutan, meratap, menjerit dan menangis! Ki Putih Kelabu berkata pada Dasa Laksana: “Kau awasi keadaanku disini! Ini tentu pendekar gila yang bikin gara-gara!” “Baik, tuan. Tuan akan saya awasi terus!”
Lalu menghamburlah Ki Putih Kelabu keudara dengan suara auman yang seram. Dia sudah sekelebatan tahu, bahwa satu perguruan sifat iblis sedang melakukan kezaliman di desa Serunai. Harimau tua itu segera mencakar seorang pendekar yang mau menelanjangi seorang gadis yang diseretnya dari dalam rumah.
DENGAN cakarnya dikoyaknya pendekar sinting itu sehingga tubuhnya benar-benar terbelah dua, kecuali kepalanya! Seketika itu juga terdengarlah suara gemuruh kaki kuda menghilang menuju ke tenggara. “Sekarang aku tahu”. ujar Ki Putih Kelabu, “Bahwa yang melakukan kejahatan ini sama dengan yang di Kumayan. Kembarannya Nyi Kembar. Terbukti mereka menuju ke Bukit Kembar itu”
“Saya akan memeriksa yang tinggal”. ujar Dasa Laksana.
“Yang tinggal cuma satu itulah. Yang sudah mampus saya koyak tadi dan itu cukup menjadi mata pelajaran bagi Kembaran lblis itu”.
“Kita pulang sekarang, tuan Guru!?”
“Kita minum tuak dulu disini. Tuak disini sangat enak karena dicampur sari madu”, Tapi di awal malam itu. warung sudah tutup sejak munculnya teror Nyi Kembar. Rumah–rumah pun sudah terkunci. Ki Putih Kelabu mengetuk pintu sebuah warung yang tutup. Pemiliknya, Tola ketakutan. “Saya Ki Putih Kelabu bukan orang jahat. Sayalah yang sudah mengusir penjahat dari Bukit
Kembar tadi”. Ki Putih Kelabu menjelaskan. Lalu agar lebih meyakinkan pemilik warung, beliau menambahi; “Saya sudah lama merindukan minuman tuak Serunai yang nikmat”. Tola menoleh pada isterinya. Isterinya mengangguk.
Lalu Tola membuka pintu. Ki Putih Kelabu membungkuk diikuti oleh Dasa Laksana.
“Ini muridku. Kami kebetulan lewat ke sini ketika kami mendengar desa ini dilanda ketakutan. Tapi percayalah, mereka tak berani kembali ke sini lagi. Boleh kami duduk?” “Silahkan tuan Guru”, ujar Tola.
Ki Putih Kelabu bersama Dasa Laksana duduk dengan sopan.
“Tuak panas ya!?” ujar sang Guru. “Baik, tuan”.
Sembari menikmati minuman tuak panas yang sedap itu,
Ki Putih Kelabu bertanya: “Sudah berapa kali Nyi Kembar menyerang desa kalian?”
“Ini yang kedua. Tapi untunglah yang pertama mereka dapat di usir oleh pendekar sinting yang mengamuk”.
“Kenalkah kalian pendekar edan itu?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Kami mengenalnya. Setahu kami dulu dia melatih silat disini, cuma saja silat itu mungkin silat sesat. Seratus penduduk semuanya mati ketika diajaknya menyerbu Desa Surya Mulih, begitupun
kuda-kuda semua mati. Dan lima pengawalnya hasil culikan dari desa Tulus pun mati. Mereka
menyerbu bersama Ki Rotan”.
“Sebentar nak”, ujar Ki Putih Kelabu seraya menghirup tuak, “Kamu katakan Ki Rotan terlibat bersama Harwati?”
“Ya. Kami selalu akan mengenang dukacita itu. Tapi ketika Ki Kembar mengobrak-abrik desa Serunai, justru Ki Harwati, dalam keadaan sinting, muncul membela kami dan telah diusirnya para penjahat itu ke tenggara”.
“Jangan ingat segala yang buruk mengenai Ki Harwati. Ingatlah yang baik-baik saja yang pernah dia sumbangkan untuk menentramkan hati kalian. Tanpa bantuannya, tentu sudah dihabisi desa kalian ini!”
“Bahkan mereka sudah membakar dua rumah”, ujar Tola. “Sungguh jahat ilmu iblis Ki Kembar. Tapi jika kami nanti melanjutkan perjalanan, aku ada pesan
untuk Harwati.” “Melanjutkan perjalanan ,tuan Guru?, tanya Tola.
“Tuan jangan meninggalkan desa kami dulu, tuan Guru! Kami mohon sangat, karena kami takut dan sudah tidak bisa tidur sejak serangan pertama. Mereka kejam dan beringas”, ujar isteri Tola. “Tapi aku tak bisa menunda.”, ujar Ki Putih Kelabu. “Sebab akupun sedang mencari puteriku.”
“Ah, tuan Guru. Kami kira tuan Guru mau bermukim di desa kami agak lebih lama”, ujar Tola. “Kami butuh ada pendekar yang melindungi kami”, kata isteri Tola. Lalu Ki Putih Kelabu menoleh pada Dasa Laksana.
“Pahamkah kau mengapa aku melihat wajahmu, Dasa?” tanya sang Guru. “Saya paham, tuan”. “Kalau begitu siapkan kudaku. Biar aku sendiri yang pergi. Dan kau kutitipkan amanat, agar menjadi anak panah pertama jika para pengacau itu datang ke sini.”, ujar Ki Putih Kelabu dengan nada takzim. Dasa Laksana berdiam sejenak. Tola bertanya :”Jadi pendekar muda inikah yang akan membela
kami?” “Kuulangi :Dia akan menjadi anak panah pertama yang melesat untuk menangkis serangan Nyi Kembar. Jelas?” “Ribuan terima kasih, tuan”, ujar Tola yang langsung memeluk dengkul Ki Putih Kelabu. Dan dalam perjalanan berkuda meninggalkan desa serunai di lembah bawah sana yang selama ini tak dikenalnya, terdengar suara jerit pekik manusia. Suara itu dibawa oleh angin dari lembah
bawah sana itu. Tapi Ki Putih Kel;abu mengalami kesulitan dengan kudanya.
Beliau melihat tebing ini terlalu curam. Namun beliau sudah menduga, pastilah jerit pekik manusia di bawah itu tentunya karena munculnya sang pengacau lagi. Jangan-jangan Nyi Kembar lagi!
Padahal yang membuat penduduk desa kecil itu menjerit bukanlah karena mereka yang terancam. Tetapi mereka belum pernah menyaksikan suatu perkelahian yang begitu seru semacam sekarang ini. Ketika itu matahari akan terbit. Gerombolan Nyi Kembar baru akan memasuki desa itu, namun sudah dicegat oleh seorang pendekar wanita compang-camping dengan sepasang pedang ditangannya.
Lima belas ekor kuda meringkik. Ketika itulah Harwati mencegat para pengacau itu, yang menurut par asaksi mata di desa itu, semula tidak menggunakan pedangnya. Pendekar wanita itu langsung meloncat ke udara, dengan bunyi auman harimau, namun dia bukan harimau! Dia tanpa pedang, tapi melayani lawan dengan tangan kosong! Mereka juga heran sejak kapan pendekar wanita itu mendapatkan pedang. Sebenarnya hal itu terjadi dalam sekelebatan. Denagn jurus kesintingan, dia mengamuk menerkam, tapi kemudian dikibaskan oleh Nyi Kembar, dan terjungkirlah dia ke semak dalam keadaan tak berdaya.
Mendadak dia mendengar suara berseru: Harwati! Surandar!”
Dua pedang melayang bagai kilatan di subuh hari itu………..langsung ditangkap gagangnya oleh Harwati. Dengan dua pedang itulah pertempuran itu dilayani oleh pendekar sinting yang numpang menginap di desa kecil itu.
Mereka semua terkagum-kagum. Orang yang numpang menginap selama tiga malam tanpa makan itu ternyata seorang pendekar yang luar biasa, Mereka intip dari celah rumah bambu mereka betapa dua pedang itu melayani tombak-tombak yang melayang dan meleset tak jadi mengenai tubuhnya.
Nyi Kembar penasaran. Dia menghambur keudara, dan dengan kayu bulat lima hasta itu sebagai senjatanya… dia menjatuhkan diri ke bumi lalu memutar tubuhnya. Ki Harwati justru masuk diantara putaran kayu bulat itu agar dua pedangnya berhasil membacok tubuh lawannya. Tapi tiap pedang itu mengenai, lalu membal. Dan membal terus sehingga Harwati cepat meloncat ke luar dari putaran kayu bulat di tangan Nyi Kembar. Pedang itu kini digunakannya untuk membacok kayu bulat itu, Mata pedang Surandar itu langsung masuk ke kayu bulat itu, dan disinilah teruji ketrampilan pendekar. Kayu bulat yang dipegang Nyi Kembar, dan pedang yang
sudah berkait dengan kayu bundar itu, yang gagangnya dipegang erat oleh Harwati, membuat keduanya harus saling “membantu keseimbangan” agar jangan terkena celaka. Rupanya mata pedang Surandar itu masuk begitu dalam ke kayu bulat itu sehingga dua pendekar yang sama kuat itu saling membantingkan diri ke tanah agar senjatanya tidak lepas. Harwati mengibaskan Pedang Surandar yang satu lagi, yang di tangan kiri agar mengenai kepala Nyi Kembar. Begitu pedang itu mengenai kening Nyi Kembar, ternyata hanya bunyi logam melenting saja yang kedengaran. Makin lama kegesitan dua pendekar yang bertahan memegangi senjata seraya menyeimbangkan diri dalam jumpalitan itu… semakin kuat, sehingga yang justru terbongkar adalah tanah-tanah sekitar. Bahkan bekas telapak kaki kedua pendekar itu membuat bolongan bekas di tanah. Anak buah Nyi Kembar ada yang tidak bisa menahan diri. Dia terjun dengan keberanian habis memasuki pertempuran seru itu, sebagai orang ketiga. Tapi pukulan tongkat bulat anak buah ini
ditangkis oleh pedang di tangan kiri Harwati! Pedang itu melengket memasuki tongkat bulat itu.,..
Anak buah Nyi Kembar ini sial. Dia lumat terinjak jumpalitan kaki Ki Harwati dan kaki Nyi Kembar
sendiri.
Tubuhnya hancur. Ketika itu pulalah seekor kuda menyeruduk dari arah kulon Ki Putih Kelabu mengaum seraya menghamburkan diri ke udara, dan dia telah menjelma menjadi harimau lapar. Dua cakarannya langsung menyergap dua anak buah Nyi Kembar yang terlambat naik ke kuda, lalu kedua-duanya jatuh dibanting oleh harimau tua yang muncul mendadak. Harimau tua itu menghambur memasuki pergulatan Ki Harwati lawan Nyi Kembar! Tapi ini pulalah yang membuat mata pedang Harwati lepas dari kayu bulat di tangan Nyi Kembar, dan dalam sekelebatan, lebih cepat dari kilat, Nyi Kembar menghambur ke punggung kudanya dan menghilang. Tapi anak buahnya yang kebingungan menjadi mangsa cakaran Ki Putih Kelabu yang mengamuk! Ketika sudah tak ada lawan lagi, Ki Putih Kelabu berseru: “Ki Harwatil” Harwati muncul dengan senyum menyeringai. Dia sudah mirip orang gila kembali dan… tanpa memegang pedang, Dia duduk disebuah bangku panjang, lalu tiduran di sana, seperti dia tidur di sana tiga hari yang lalu
tanpa makan.KI PUTIH KELABU merasa hiba melihat keadaan Harwati. Pakaiannya compang camping. Sebahagian rambutnva sudah menyatu satu dengan lainnya. Rambut itu sudah mirip sarang burung! Dan karena kehibaan hati itu Ki Putih Kelabu ingin sekali membawanya ke Kumayan. Diperhatikannya calon pendekar besar itu menggeletak dl atas bale bambu tanpa mempedulikan siapapun. Dihampirinya puteri almarhum pendekar besar Ki Karat itu…. “Nak Harwati”, ujarnya, dengan lembut. Tapi Harwati diam saja. “Nah, kenalkah kamu pada saya nak?” Harwati menatap Ki Guru itu. Mata itu cuma menatap kosong. Kosong bagai bola kaca. Seakan tidak mengenalnya! “Maukah kau pulang ke Kumayan?” tanya Ki Putih Kelabu Harwati menggeletak saja. Ki Putih Kelabu putus asa. Lalu dia berkata pada beberapa orang desa kecil itu: “Saya akan pergi. Saya akan mengucapkan terimakasih kepada kalian. Totonglah urus dia. Dia ini calon pendekar besar. Dan dia ini puteri pendekar besar yang saya sudah anggap saudara saya sendiri!” Ki Putih Kelabu lalu mencari kudanya. Setelah beliau naik ke punggung kuda, beliau bertanya pada penduduk desa itu: “Apa nama desa kalian ini?” “Desa Meranti, tuan Guru”, ujar seorang lelaki tua. “Baikiah. Saya titipkan orang ini. Sebenarnya gadis ini bukan orang gila. Dia dalam keadaan ngelmu. Dia orang baik”, kata Ki Putih Kelabu. “Memang dia baik, tuan Guru, Dia telah dua kali mem bantu kami untuk membela diri atas kebiadaban gerombolan Nyi Kembar”, ujar lelaki tua desa itu. “Maaf. Saya datang kesini sudah meninggalkan sampah-sampah. Mayat-mayat gerombolan Nyi Kembar itu yang saya maksudkan dengan sampah. Dan seperti juga sampah, dia mengotori
desa. Karena itu buanglah sampah-sampah itu”, lalu Ki Putih Kelabu menendang ujung tumitnya
pada paha kudanya, dan kuda itu meringkik seraya mengangkat kedua kaki depannya, dan
kemudian menghambur ke depan dipacu oleh pendekar tua itu.
Mendadak Harwati bagai tersintak dari tidur, padahal ia tak tidur. Lalu dia ketawa sendiri! Orang-orang desa yang awam itu hanya menontoninya. Ketua desa itu lalu berkata pada penduduk: “Marilah kita biarkan dia dengan dunianya. Kita kembali ke rumah masing-masing. Mayat-mayatitu lemparkan saja ke hutan supaya dimakan oleh srigala-srigala”.
“Kita coba membujuknya supaya dia mau makan, Pak”, ujar seorang perempuan tua.
“Ya, sudah tiga hari tiga malam dia tidak makan”, kata perempuan lain lagi. Tetapi tetua desa itu berkata: “Orang yang ilmunya tinggi, sudah tak membutuhkan makanan lagi. Dia makan dengan udara dari langit itu”.
Tetapi secara mendadak Harwati melangkah menghampiri seorang perempuan tua. Mulanya perempuan tua tadi ketakutan. Harwati berkata padanya: “Aku lapar, Bu!”
“Oh ya? Mari, mari ke rumahku, biar kau kujamu makan”, kata perempuan tua itu. la mendadak seperti manusia normal kembali. lbu itu menjamu Harwati makan di rumahnya. Tapi dia tidak menyentuh piring aluminium itu, melainkan langsung mengambil bakul berisi nasi. Dan dilahapnya nasi sebakul itu sampai habis.
“Kau tidur di sini, ya Nak?” bujuk perempuan tua itu.
Harwati diam saja. Lalu dia seperti tergoda oleh satu nada yang mendenging di telinganya! Dia melompat dengan cekatan ke luar rumah. Dan sebelum perempuan tua itu bertanya, dilihatnya Harwati sudah menghambur ke udara lalu hinggap dipohon sawo dan meloncat lagi ke pohon nangka dan kemudian dia hanya kelihatan bagai lompatan bola api dan pohon ke pohon, terus ke atas tebing.
“Sungguh ajaib”, ujar perempuan tua yang menyaksikan keanehan itu, Dan memanglah sungguh ajaib. Bagai angin membubu Harwati berlari terus ke satu arah, arah kuIon, sampai kemudian dia sudah berdiri di pintu gerbang desa Serunai.
Dia menyandar saja di bawah pohon beringin. Padahal seharusnya dia ikut terlibat dengan kejadian yang disaksikannya! Ya, sambil terkekeh-kekeh Harwati melihat seorang lelaki muda, pendekar Dasa Laksana, sedang menangkis pukulan-pukulan kayu bulat Nyi Kembar. Ketika satu sabetan melintang kayu bulat itu mengenai punggung Dasa Laksana, pendekar muda itu tersungkur. Namun dia masih sempat menangkis pukulan Nyi Kembar dengan kakinya, sebelum kayu bulat itu menghantam kepalanya. Dasa Laksana bangkit, dan dengan berdiri tegak
kini dia menangkis hantaman kayu bulat dengan kuakan kedua tangan. Itulah kuak tangkisan api. Tiap kayu bulat itu menghantam, kedua tangan Dasa Laksana menguakkannya lagi. Dan membersitlah percikan api! Harwati tertarik oleh apa yang dia saksikan. Dia melangkah meninggalkan pohon beringin itu, lalu mendekati tempat perkelahian. Mendadak tiga orang anak buah Nyi Kembar berlarian mencari kudanya, lalu melompat ke punggung kuda masing-masing. .
Padahal Harwati tidak melibatkan diri dalam persilatan yang dia kagumi itu. Dia terkekeh-kekeh apabila dilihatnya Nyi Kembar menghantamkan senjatanya lalu dia sendiri terbanting berguliran di tanah berkat tangkisan Dasa Laksana. Nyi Kembar kesal melihat ada orang terkekeh-kekeh.
Tapi ketika dilihatnya yang terkekeh itu adalah Harwati, dia langsung berbalik menghantamkan senjatanya ke arah tubuh Harwati. Tapi yang terkena adalah punggung Dasa Laksana, yang
mencegat hantaman itu dengan tubuhnya sendiri. Dan ketika hantaman berikutnya, kayu bulat
itu justru terpegang oleh genggaman Harwati dan dia langsung balikkan badan sehingga Nyi Kembar terlempar. Senjatanya kini berada di tangan Harwati. Nyi Kembar kebingungan. Dia kini merasa satu lawan dua. Ketika dia mau panggil anak buahnya, anak buahnya justru melarikan diri tertebih dahulu. Nyi Kembar putus asa seketika itu juga. Setelah tengak-tengok kiri kanan maka dia berlagak mau menyerang Dasa Laksana yang tetap berdiri tegak. Tapi seketika itu Juga
Nyi Kembar melarikan diri dan naik ke punggung kudanya. Harwati melemparkan kayu bulat itu kearah Nyi Kembar. Nyi Kembar menyanggep senjatanya. Ketika itu berhamburan pulalah tawa terkekeh Harwati. Nyi Kembar geram, lalu meludah. Dan kemudian memacu kudanya meninggalkan desa Serunai. Harwati menoleh pada Dasa Laksana. Matanya berbinar pada lelaki perkasa itu, seakan batinnya
tergoncang. Dasa Laksana bertanya padanya: “Kaukah puteri Ki Lebai Karat yang termashur itu?” “Ya. Mari mandi”, ujar Harwati.
“Mandi?” tanya Dasa Laksana keheranan.
“Mari kita mandi di Pancuran Burung lblis, di bukit Sana itu”, ajak Harwati.
“Tidak. Ilmu kami bukan ilmu iblis”, ujar Dasa Laksana.
“Kamu tentu murid Ki Putih Kelabu”, ujar Harwati.
“Benar”.
“Kau mesti diberi hadiah. Di sini ada tuak yang enak, karena penyadunya tukang tuak yang
ulung. Mari ikut aku”, kata Harwati. Dasa Laksana kali ini mengikuti Harwati. Dia cuma heran, tingkah lakunya kali ini bukan tingkah orang edan. Ketika memasuki warung, dia heran karena tak ada lagi bambu-bambu buluh yang biasanya digantungkan ditepi warung. Bambu itu biasanya ada, dan berisi tuak. Dengan kesal Harwati menggebrak meja dan berseru: “Ajang Batur! Hai Ajang Baturl Keluar! Beri aku tuakmu yang enak!” Seorang perempuan cantik keluar. Harwati membentaknya: “Mana Ajang Batur! Aku mau minum tuak!”
“Ki Kobra…”, ujar perempuan cantik itu.
“Aku bukan Ki Kobral Aku Ki Harwati! Mana Ajang Batur suamimu!”
“Apakah tuan lupa… bahwa suamiku tewas bersama 100 pasukan yang menyerbu Lembah Surya Mulih? Dia tewas bersama kudanya”, kata perempuan itu.
Mendengar keterangan itu, Harwati terbelalak kaget. Tiba-tiba dia ingat pasukan berkuda yang kocar-kacir karena serang Nenek Tua dengan senjatanya cambuk asap itu. Kuda dan manusia saling tabrakan, ada yang berhamburan masuk jurang tebing. “Bukan seratus orang yang tewas… Tapi 105 orang. Yang selamat cuma dua orang. Rupanya diantara anak buahku itu ada Ajang Batur, Oh…”, lalu dia merasa pusing. Dia jatuh di tanah dan menggelepar seperti orang ayan. Dan ketika Dasa Laksana mau
mengangkatnya, sebuah tenaga dalam yang dahsyat melemparkan pendekar muda itu keluar. Harwati mengamuk. Kegilaannya mengerikan! Dan kemudian dia berlompatan dari pohon ke pohon, turun ke lembah bawah dan kemudian tiba kembali ke desa Meranti dalam keadaan lelah terhuyung. Dia menggeletak kembali di atas bale bambu di depan rumah tetua. Begitu dia tiba-tiba tersentak setelah tidur beberapa jam, dia berkata: “Aku laparl Beri aku makan!”
“Mari ikut lbu”, ujar perempuan tua diantara yang menonton, “Bukankah kau sebelum ini juga makan di rumahku?” Tubuh Harwati bagaikan tidak berdaya. Dia dipapah perempuan tua itu, dibantu oteh Pak Tetua desa. Kali ini dia tak menunggu hidangan. Dia langsung menuju tungku. Nasi yang berada dikerucut kukusan itu dimakannya seketika itu juga dengan lahap dan tuntas.”
SEMENTARA itu, Ki Putih Kelabu sudah tiba di Kumayan. la langsung ke rumah Lurah memulangkan kuda. Kemudian bertanya: “Ada berita penting selama saya meninggalkan Kumayan, Pak Lurah?”
“Ada ”, sahut Pak Lurah. “Beritahu saya”.
“Guru Gumara sudah kembali. Bahkan sudah mengajar di SMP dan SMA kembali”, ujar sang Lurah. Ki Putih Kelabu sengaja lewat di sekolah tempat Gumara sedang mengajar. Tapi beliau tidak
mampir. Setiba dirumah, Ki Putih Kelabu menghempaskan tubuhnya di bale. Dia lelah sekali. Tetapi seraya menelentang begitu beliau membayangkan putri yang dia sayangi. Di mana Pita Loka sekarang? Mengapa aku mengikuti nasehat Ki Surya Pinanti agar membiarkannya mengembara? Ternyata sudah menjelang sore ketika Ki Putih Kelabu masih gelisah memikirkan nasib Pita Loka, dan kedengaran ketukan pintu. “Siapa?” “Gumara”.
“Oh, kaul Masuk, masuk!”
Ketika Gumara sudah dipersilakan duduk, Ki Putih Kelabu berkata ; “Di samping aku gembira kau sudah mengajar, perlu kuberitahukan padamu, bahwa adik tirimu Harwati sekarang ini berada di desa kecil Meranti. Tak jauh letaknya dari desa Serunai. Keadaannya compang-camping dan menyedihkan. Aku sudah membujuknya agar dia mau dibawa pulang ke sini, tapi dia hanya diam”, Gumara hanya berdiam diri. Kelihatannya dia tak hirau dengan cerita Ki Putih Kelabu. Lalu pendekar tua itu bertanya : “Tentu anda ke sini ada satu maksud”,
“Ya”.
“Ada yang ingin tuan tanyakan, Guru?”
“Saya ingin menanyakan Pita Loka. Saya kira Ki Guru membawa pulang Pita Loka. Tampaknya tidak ada”, lalu terdengarlah nafas panjang Gumara dan kemudian ia berdiri. “Dudukiah”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Cuma sekedar itu saya ke sini”, ujar Gumara, kemudian dia pamitan. Dan tak ada alasan pendekar tua itu untuk mencegahnya pergi. Setiba di rumahnya dia bertanya pada Alif : “Sudah kau antar sari daun sirih itu ke rumah Ki Lading Ganda?”
“Sudah. Tapi ia tetap saja tak sudi meminumnya”, kata Alif.
“Mungkin ruhku dalam keadaan kotor, Alif. Biasanya setiap mimpi berujud kenyataan. Kali ini gagal. Aku pernah bermimpi di guha Surilam, bahwa Harwati sedang bermukim di desa Meranti. Ketika aku ke sana , dia tak ada. Lalu aku bermimpi lagi mengenai daun sirih untuk pengobat sakit gila Ki Lading Ganda. Ternyata tak ada perubahan. Mungkin aku perlu membersihkan diri
lagi untuk satu jangka waktu yang agak lama”.
“Kasihan anak-anak SMP dan SMA akan terlantar jika tuan Guru bolos lagi mengajar. Tuan Guru Kepala sudah berkeluh kesah pada saya karena tuan amat sering membolos. Di sini, mana ada lagi tenaga pengajar, tuan?”
“Itu aku pahami, Bahkan aku pernah meminta dipecat saja. Tapi celakanya dia menganggap aku ini bukan sekedar Guru SMP dan SMA. Dia menganggap aku ini seorang superman. Aku pendekar hebat. Padahal aku hanya manusia biasa, yang memiliki kelebihan tapi juga kekurangan. Inilah susahnya jadi orang kampung”.
“Sekarang apa yang tuan Guru pikirkan?” tanya Alif.
“Aku merasa perlu bertapa. Aku ingin mendapatkan ilham, di mana kini Pita Loka berada”. “Tuan tentu amat mencintainya”, kata Alif.
“Memang saya mencintainya. Keadaan ini sejak semula sudah tidak menjadi cerita baru lagi jika sekiranya tidak ada Harwati. Sungguh aneh, dia, adik tiri sendiri, bisa mencintaiku!”
“Saya dengar itu tidak betul. Dia bukan sedarah dengan tuan, karena tuan sebetulnya cuma anak angkat Ki Karat”, ujar Alif. Gumara melongo ! Dia heran, belakangan ini banyak dia dengar cerita demikian. Ketika la pernah tersesat ke padepokan Ki Kembar, juga Ki Kembar menceritakan hal ini!
Tanpa ia sadari ia mengaum bagai harimau, sehingga Alif melompat ketakutan. Alif mandi
keringat. Dengan gemetar dia berkata : “Maafkan saya, tuan Guru. Saya takut tuan jadi marah”,
Gumara hanya berdiam diri. Ketika hidangan makan malam disediakan oleh Alif, Gumara berkata:
“Lupakah kau, aku masih menjalani puasa putih, siang malam?”
“Mana ada orang berpuasa siang malam, tuan Guru?”
“Orang mati puasa siang malam. Aku sekarang ini sedang menjalani mati”, Ucapan itu membuat Alif melongo. DAN pagi ini, pagi yang cemerlang ini, ketika Gumara bangun tidur didengarnya bisikan halus. Gumara bukan bermimpi! Ini adalah wisik.
“Guru. Ke mana pun saya pergi, engkau adalah Guru”, suara bisikan ini jelas adalah suara wanita. “Siapa anda?” tanya Gumara.
“Aku, Pita Loka”.
“Pita Loka?” Gumara terperanjat, hampir saja tak bisa menguasai diri.
“Jangan bimbang. Jangan heran. Betapapun Guru adalah Guru. Saya sekarang ini sudah sampai pada tingkatan mengirimkan wisik. Saya dapat menghubungi ruh anda dalam jarak tak terbatas dengan bisikan”.
“Pita Lokal Di mana kau sekarang ini?”
“Aku berada di dukuh salah seorang pendekar harimau yang tertinggi. Aku berada di dukuh Ki Ca Hya”. “Ki Ca Hya?”
“Ya. Kenapa harus kaget?”
“Ki Ca Hya adalah Guru dengan ilmu tertinggi, Beliau tidak bisa kita jumpai secara berhadapan muka. Karena dia hanya memperlihatkan cahayanya saja. Jadi kau sudah mendapatkan ilmu Cahaya?” tanya Gumara bersemangat. Lalu tak ada suara wisik lagi. “Pita Loka!” seru Gumara. Tak ada wisik lagi dan tak ada wisik lagi.
Ketika itu, di Dukuh Ki Ca Hya, Pita Loka sedang memejamkan mata dengan hening. Sedangkan di hadapannya Ki Ca Hya mengawasi, dua-duanya dalam keadaan bersila.
Lalu sang Guru membuka mata. Dengan suara perlahan dia bertanya : “Sampaikah getaran suaramu padanya?” “Sampai. Dia bercakap-cakap dengan bibirnya, tapi saya berbicara dengan getaran roh”, kata Pita Loka.
“Bagus”.
“Bagaimana dengan mata saya yang buta, Ki Guru?”
“Kau masih akan tetap dalam keadaan buta, anakkul Pekerjaan besarmu menunggu di depan. Kau harus terus melatih getaran roh sampai bisa menggetarkan rohmu itu semakin tajam. Ketajaman adalah rahasia semua ilmu putih. Tapi seputih-putih ilmu adalah ilmu yang tercantum dalam Kitab Harimau Putih”.
“Adakah harimau putih itu?”
“Ada bulunya putih seperti halusnya bulu kelinci. Tapi ilmu yang setinggi itu mungkin tidak akan pernah dimiliki oleh generasi Tujuh Harimau. Mungkin keturunannya kelak. Siapa tahu itu keturunan kau nanti, Pita Loka?”
“Saya? Si buta jelek ini akan punya turunan?” tanya Pita Loka.
“Aku bilang siapa tahu. Rahasia itu semuanya ada dalam Kitab Tujuh, tapi orang yang satu-satunya memiliki dan memahami isinya sudah mati, Ki Tunggal Surya Mulih. Pewarisnya kelak akan mengetahui soal itu, sedangkan saya tidak tahu siapa pewaris ilmu Ki Tunggal yang sebenarnya”. Pita Loka terdiam beberapa saat. Ada satu soal yang masih dirisaukannya, tentu. Siapapun yang
bernasib seperti dia akan risau semacamnya pula. Yaitu kebutaan mata. “Kenapa kau menangis, nak?” tanya Ki Ca Hya setelah melihat tetesan airmata Pita Loka berhamburan. “Ki Guru telah mengetahui”.
“Memang jika seorang pendekar wanita jatuh cinta, berbeda dengan pendekar pria, Saya yakin, babwa sebenarnya Gumara itu mencintaimu juga”, ujar Ki Ca Hya,
Aduh, inilah yang diharapkan Pita Loka. Kepastian ini.
Seorang pendekar besar seperti Ki Ca Hya, jika sudah bicara soal yakin, itu pertanda ucapannya bisa dipegang. “Cuma, anakku, untuk sampai ke sana , dibutuhkan berbagai pengalaman matang. Perkataan Kitidaklah semudah mengucapkannva. Semua pendekar yang sudah merasa pandai bersilat, lalu
merasa dirinya Ki. Ki itu Suhu dalam ilmu orang Cina. Suhu itu Guru. Dan setiap Guru sebetuinya harus sudah siap mewariskan ilmu. Selagi pewarisnya belum tersedia, dia belum berhak dianggap Ki, atau, Guru, atau, Suhu. Jelas?”
“Jadi Ki Guru sudah yakin jodohku ini Gumara?” tanya Pita Loka.
“Aku cuma yakin bahwa dia mencintaimu. Soal jodoh, itu bukan bagian saya maupun Gumara. Sekarang, kuharap kau bersabar, Tinggal saja di ruang pertapa ini untuk beberapa lama. Untuk mempertajam ilmu getaran. Ilmu getaran ini kunci semua cabang persilatan, nak”. Lalu sang Guru meninggalkan muridnya di ruang pertapa itu. Dan Pita Loka mencoba mempertajam getaran. Getaran itu harus dimulai dengan gerak duduk. Dalam duduk ada gerak yang bukan digerakkan otot, melainkan oleh getaran. Tubuh sang murid akan menggeletar. Lalu posisi kembali ke semula.
KI PUTIH KELABU barusan saja mandi bunga di malam Jum”at Kliwon itu. Beliau ingin mendapatkan ketenangan. Beliau sudah tak hendak memikirkan putrinya Pita Loka, maupun nasib muridnya Dasa Laksana. Ketika ia merebahkan diri di bale bambu dalam rumahnya, dia tiba-tiba mendengar desir suara nging yang panjang di telinga kanannya. Menurut Guru beliau dahulu, suara nging di telinga kanan bagi seorang pesilat haruslah dipertanyakan. Maka dengan agak gemetar, bibir Ki Putih Kelabu bertanya: “Roh siapa yang bergetar pada telingaku sekarang?”
“Pita Loka”, terdengar suara wisik. “Ha? Pita Loka?” “Aku. Putri bapak”.
“Oh, anakku. Rupanya kau dalam keadaan sejahlera. Di mana kau sekarang anakku?”
“Saya sedang meguru dengan teman ayahanda”, suara wisik menjelaskan.
“Ini tidak ada lain dari Ki Ca Hya. Hanya murid Ki Ca Hya yang pandai menyampaikan getaran roh. Jadi kau berada di pedukuhan Ki Ca Hya?”
“Benar, ayahanda”. Air mata Ki Putih Kelabu seketika itu juga bercucuran.
“O, nak. Aku bersyukur kau sampai pada beliau, Semua harimau menyegani Harimau Tua itu. Berapa lama kau akan meguru di sana , nak?” Lalu lenyaplah wisik itu, Pita Loka tak diperkenankan menceritakannya. Dan kegembiraan yang meluap-luap itu membuat Ki Putih Kelabu mengenakan pakaian kupluk sebo nya, lalu melangkah tegar menuju rumah Guru Gumara. Hanya Alif yang ada di rumah.
“Di mana Guru Gumara?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Beliau hanya meninggalkan selembar surat ini untuk Guru Kepala SMP dan SMA yang mesti saya sampaikan besok pagi, tuan Guru”.
“Tidakkah kamu mendengar pesannya bahwa dia ke Pedukuhan tertentu?”
“Ya, ya, Ke pedukuhan. Guru Gumara cuma bilang akan meminjam kuda Ki Lading Ganda yang nganggur sejak guru itu gila. Lalu dibilangnya, akan pergi jauh. Ya, ya, disebutnya ke Pedukuhan”.
Ki Putih Kelabu terharu: “O, begitu besarnya cintanya kepada putriku, Tidak aku sangka ada lelaki yang cintanya sebesar cinta Guru Gumara”. Lagi-lagi, Ki Guru yang tua itu harus mencucurkan airmatanya. Dia memegang bahu Alif seraya berkata : “Alif. Jika dua orang awam, pria dan wanita, yang saling mencintai, mungkin tidak banyak ujian dan cobaannya, maka ujiannya akan berlipat ganda. lblis-iblis membenci mereka. Halangannya adalah raja-raja iblis
yang mewariskan ilmunya kepada pendekar-pendekar ilmu hitam!”
“Saya tak mengerti, tuan Guru”, ujar Alif. “Ya, tak apalah. Karena kau orang awam”, ujar Ki Putih Kelabu, lalu pamitan. Beliau mendatangi rumah Ki Lading Ganda. Didapatinya Ki Lading Ganda dalam keadaan mirip orang tolol. “Sayang, setelah aku ketahui dari Ki Jengger, temyata dia bukan seorang pewaris harimau yang tujuh, Nyi Lading Ganda. Tiap orang yang tidak berhak pada sesuatu secara syah, menanggung
beban. Tapi inilah suratan nasibnya. Memang berat”.
Dibelainya kepala orang yang mengira dirinya Harimau Kumayan itu, yang temyata Cuma tertipu oleh Kitab Tujuh yang palsu. Kependekaran yang didapatkannya selama ini ternyata disodorkan oleh iblis yang sengaja menggoda dirinya sehingga merasa salah seorang Harimau Kumayan.
“Jika anakku kembali, semoga dia sudi menyembuhkan Lading Ganda. Tapi kemampuan menyembuhkan itu berdasarkan ilham. Jika ilham tidak bersetuju, dia takkan mengobati, Tapi jika setuju, tentu dia mau. Contohnya Harwati. Bahkan Ki Jengger sendiri yang memintanya, ia menolak menyembuhkan kegilaan Harwatil”, ujar pendekar tua itu. Nyi Lading Ganda terisak-isak : “Kapankah putri tuan guru itu kembali? Kami pun selalu berharap la cepat kembali”.
“Langkah, jodoh, rejeki dan maut, bukan manusia yang bisa menentukannya. Hanya Tuhan Maha Pemilik Nasib yang menentukannya. Kita sekedar berusaha”.
“Tapi masih untung nasib suamiku ketimbang nasib Harwati. Kasihan anak Ki Karat itu, harus mengembara dengan segala cobaan”, kata Nyi Ganda.
“Bahkan kini pun dia masih menghadapi bahaya. Tapi itu semua perjalanan nasib seorang calon pendekar ulung. Karena ia turunan Ki Lebai Karat tidaklah mungkin ia akan menderita terus. Penderitaan seorang pendekar dengan landasan ilmu putih adalah mengusir iblis yang hinggap dalam tubuhnya. Kurasa kini Harwati mengalami perjuangan lebih berat!” Dugaan Ki Putih Kelabu itu betul. Harwati kini jadi tontonan. PENDUDUK desa Serunai rupanya sedang dibantai.Mayat-mayat bergelimpangan. Harwati
kelabakan. Dan, yang lebih kelabakan lagi adalah Dasa Laksana. Karena itulah Nyi Kembar semakin merajalela. Dia berputar dengan kudanya, dan dia sabet punggung pendekar muda itu hingga tersungkur tak bergerak lagi. Melihat Dasa Laksana tersungkur, Harwati mengamuk. Bagaikan terbang ketika satu jurus angin ribut melontarkan tubuhnya menghajar punggung Nyi
Kembar. Dua kaki Harwati menjepit pinggang Nyi Kembar, Kuda meringkik seketika! Dua kaki Harwati tetap menjepit, dan gebrakan telapak tangannya melakukan jurus bacokan ke leher Nyi Kembar yang merasa semakin lemah, urat darahnya di leher seperti membeku, lalu dia jatuh ke tanah dalam keadaan tertelungkup, terhimpit oleh Harwati … dan kuda yang ditunggangi itu meringkik dengan dua kaki ke atas. Kuda itu bagai menjerit melihat keadaan Nyi Kembar.
Harwati melihat lagi seorang penduduk Serunai, ibu tua renta, dibantai kepalanya dengan kayu bulat, senjata khas pasukan Nyi Kembar. Harwati jadi geram dan buas melihat keganasan itu. Dia berputar bagai gasing terbang menyergap si pembantai. Lima jarinya menembus dada anak buah Nyi Kembar dan ketika pengganas itu jatuh ke tanah, lima pancuran darah muncrat dari dada orang itu. Anak buah Nyi Kembar semuanya larl. Tinggal seekor kuda saja yang meringkik memutari Nyi
Kembar yang masih tertelungkup. Harwati melihat sekeliling. Pasukan pengacau sudah berlalu semuanya. Tapi mayat-mayat bergelimpangan dalam posisi mengerikan. Seakan-akan seluruh bumi Serunai tertimbun mayat.
Ketika Harwati lengah dalam batin terharu, ketika itu pulalah Nyi Kembar bangkit, lalu cepat berdiri dan cepat pula menyambar tubuh Dasa Laksana lalu membawanya naik ke punggung kuda. Melihat Dasa Laksana kena culik, Harwati jadi kaget. Dia terkesima sesaat karena menyangka Nyi Kembar tadi sudah mampus. Terkesima inilah yang membuat dia terlambat melompat untuk menerjunkan diri dari udara menghajar kepala Nyi Kembar yang dilarikan kudanya dan menggendong Dasa Laksana itu. Namun tetap meleset beberapa jari saja, sehingga terjangan Harwati tak mengenai. Malah tubuhnya menabrak pohon Serunai dan robohlah pohon
Serunai itu terbongkar dari tanah bersama akar-akamya yang tercerabut.
Nafas Harwati Jadi sesak. Tetapi waktu untuk mengejar sudah tidak ada lagi. la sedih melihat
keadaan desa Serunai yang punah oleh serbuan kejam Nyi Kembar yang sepertinya membalas dendam.
Waktu Harwati bersedih melihat duka-cita abadi begini, dia sepertinya tidak dalam keadaan edan. Dia menangis terisak-isak. Lalu dia mendengar suara seorang tua, rupanya satu-satunya lelaki yang masih hidup.
Harwati cepat mendekati tubuh tua yang menggelepar dalam keadaan sekarat itu. “Pak Bisu!” seru Harwati. Dia mencoba mengangkat lelaki tua itu, Lelaki tua yang selama ini dikenal bisu itu berkata ; “Tak perlu ditolong lagi, nak. Aku menepati janji turunan penduduk Serunai, Aku bukan bisu selama ini, nak. Aku hanya membisu. Aku mencoba memendam sejarah
masa silam desa ini. Aku melarikan diri dari pedukuhan Kembar di bukit sebelah sana itu, karena
ingkar pada ilmu dari dua lelaki kembar yang melamar dua adik kembarku. Sepuluh tahun
lamanya aku mencoba menghancurkan ilmu busuk itu. Sampai dua lelaki kembar itu tewas lalu
aku melarikan diri ke sini. Aku menyamar di sini sebagai orang bisu yang dikasihani. Tapi
rupanya, setetah matinya Ki Kembar, maka dua adik kembarku masih melanjutkan warisan ilmu
iblis itu … dan inilah akhirnya. Aku mati. Cuma sebelum aku mati aku ingin berpesan karena aku
salah seorang yang pernah membaca Rahasia Kitab Tujuh. Yaitu bahwa kau sebagai turunan Ki
Karat akan mewarisi kerja keras untuk memusnahkan semua ilmu hitam dan kotor di kawasan
Tujuh Bukit. Dan tentang lelaki yang diculik tadi, adalah tugasmu untuk menyelamatkan dia,
sebab dia pewaris ilmu Ki Putih Kelabu. Sekarang, babakan baru akan kau mulai lagi. lkuti terus
sampai ke mana pun salah seorang dari adik kembarku yang masih hidup. Namanya yang indah.
Sari Mawar, serukanlah … agar dia insyaf, nak. Kini aku hanya bisa menyatakan bahwa …”, lalu
tercerabutlah nyawa lelaki tua yang selama ini- disangka bisu.
Harwati menghela nafas. Inilah akhir sejarah desa Serunai setelah sebelumnya sudah
menyerahkan 100 nyawa penduduknya di Lembah Kulon. Sepi dan hening.
Harwati masih berdiri terpaku bagai patung. Dia mencucurkan airmata. Namun kemudian
dadanya sesak. Dan dia lantas berubah seperti orang edan kembali. Dia berputar-putar ibarat
bangau putih yang mengitari sarang, Tiap benda dan pohon yang terkena putarannya tumbang.
DAN KETIKA dia dalam putarannya yang penuh keedanan itu, yang menumbangkan rumah-
rumah yang tak ada gunanya lagi itu …. Harwati berteriak senyaring-nyaringnya. Teriakan itu
terdengar oleh Pita Loka yang sedang menyusuri sisi desa Serunai. Makin bergegas dia
melangkah. Makin jelas teriak edan itu. Sampai di gerbang dilihatnya sosok yang menggila itu.
Sungguh mengerikan ketika pesilat itu merubuhkan sebuah rumah dengan tenaga yang sangat
luar biasa.
“Apa yang sedang diperbuatnya?” tanya Pita Loka heran.
Dia sedang menjalani masa edan dari suatu gemblengan ilmu persilatan yang tinggi”,
kedengaran wisik. Pita Loka tidak lagi melakukan komunikasi dengan Ki Ca Hya, gurunya.
Tapi dia harus mendengar wisik hatinya sendiri, berupa suara. Suara yang konkrit. Ini justru lebih
sulit. Sebab tidak setiap wisik bisa dipercaya. Jika batin kotor, wisik itu bukan berarti suaranya
sendiri. Melainkan suara raja iblis. Dan bila salah tangkap telinganya yang mendengar itu bisa
mendapat petunjuk yang sesat!
“Bukankah dia Harwati?” ucap Pita Loka.
“Memang dia Harwati. Dia menjadi gila dan akan terus gila karena kau tidak sudi mengobatinya”,
terdesak wisik.
Lalu, roboh lagilah sebuah rumah. Rumah terakhir yang dirobohkan oleh tenaga edan Harwati.
Debu mengepul ke udara, disertai teriak Harwati.
Desa Serunai sudah rata. Dan Harwati secara tiba-tiba melihat sosok-sosok manusia berdiri dekat
gerbang. Harwati menyeringai menghampiri orang yang berdiri itu.Sebelum tiba dia bertanya :
“Siapa kau? Siapa?”
“Aku. Pita Loka”, sahut Pita Loka.
“Siapa Pita Loka?”
“Aku pendekar buta bermata satu”. Harwati melompat cekatan dan kemudian memegang bahu
Pita Loka : “Aku bisa mengobati orang buta!”
“Tapi aku tidak bisa mengobati orang gila”, kata Pita Loka.
“Siapa kamu?” tanya Harwati keheranan.
“Aku sainganmu”.
“Apa itu saingan?”
“Aku musuhmu”, kata Pita Loka. Harwati melompat mundur dan mulai memasang kuda-kuda.
Harwati berteriak dalam jarak 10 depa dan menantang : “Ayoh serang aku!”
Pita Loka mendengar wisik : “Jangan serang dia. Obati dia agar dia berhutang budi kepadamu”.
Wisik itu ditertawakan Pita Loka : “Aku tahu engkau Raja lblis yang menggodaku. Dalam ilmu
persilatan, tidak ada istilah hutang budi. Yang mempunyai istilah itu Cuma iblis, Aku tahu, nenek
moyang desa Serunai ini dulu mengikuti ilmu iblis, berguru pada Burung lblis bermandikan
pancuran iblis dan menyembahnya. Jangan goda aku”.
Harwati secara mendadak melakukan persiapan tempur. Dia mengitari Pita Loka dengan jurus
bangau putib mengitari sarang. Pita Loka tidak merubah tegak. Begitu dia mendengar wisik:
“Kanan!”, seketika dia melakukan tangkisan dari serangan arah kanan, dan dia tangkap kaki
Harwati yang hampir menerjang lehernya. Seketika ditangkap dipelintir dan dihamburkannya
tubuh Harwati dan Harwati dalam keadaan tegak, namun tak bisa bergerak lagi karena dua
telapak kaki Harwati terbenam. Tapi Harwati mengamuk cepat hingga terbongkarlah tanah itu.
Bagaikan bangau dia terbang ke udara. Tapi bagai harimau Pita Loka melompat ke udara dan
bertabrakanlah keduanya di udara dengan pukulan dan tangkisan sampai keduanya jatuh ke
tanah.
Dua pendekar itu sama merasa.telapak kakinya terbenam ke tanah. Dan sama menghambur lagi
sampai tanah yang tadi terinjak meninggalkan bekas dan tanah yang menghambur.
Keduanya kini malah bagaikan dua ekor harimau kumbang yang bertarung di udara. Ketika
tabrakan tubuh mereka terjadi, dua-duanya saling buyar tersebab benturan masing-masing. Dan
sama hinggap di pohonan, lalu menghambur lagi ke udara dan berbenturan lagi dengan dahsyat.
Dua-duanya hingga lagi di dahan, lalu sama menghambur lagi ke udara yang kali ini saling
menyergap dan sama-sama jatuh.
Di tanah keduanya berdiri berhadapan. Dalam jarak dekat dua-duanya melakukan pukulan-
pukulan lamban karena sama menggunakan tenaga dalam. Ketika keduanya menguji telapak
tangan masing-masing, telapak tangan itu saling menempel dan geser menggeser. Pada mulanya
keringat. Kemudian telapak tangan mereka seperti sama hangus. Sedikit demi sedikit asap keluar
dari telapak-telapak tangan yang bergesekan itu. Mata Harwati tampak melotot. Mata Pita Loka
juga melotot. Telapak tangan mereka melepuh. Sama melepuh! Sebagian kulit yang hangus
bahkan lepas dan berjatuhan. Tapi dua-duanya sama tangguh.Tapi tak seorangpun di antara dua
pendekar ini yang mau menyerah.
BIARPUN dua-duanya sama-sama bertahan dengan menahan pernafasan, namun tenaga mereka
belum tenaga seorang suhu. Tenaga itu habis. Dan dua-duanya jatuh ditanam dalam keadaan
tak sadarkan diri. Dan sampai malam menjadi gulita, Harwati dan Pita Loka masih sama-sama menggeletak,
Namun Pita Loka yang lebih dahulu sadarkan diri. Dia kaget karena di tubuhnya ada dua buah
pedang. Pedang itu tidak dikenalnya sebelumnya. Sebetulnya, pedang itu adalah pedang kembar
Surandar. Pita Loka tegak. Akan dipungutnya pedang itu karena mengira itu pedang hadiah secara ghaib.
Tapi didengarnya wisik : “Jangan ambil. Itu senjata milik Harwati”.
Pita Loka mundur. Mundur. Kemudian berlalu. Belum sempat sampai ke gerbang desa, Pita Loka
mendengar seruan : “Hai, jangan lari!” Pita Loka membalik. Dilihatnya Harwati sudah sadarkan diri. Malahan sudah tegak dengan gagah memegang dua pedang di tangannya.
“Jangan lari sebelum aku pisahkan kepalamu dengan badanmu, ayoh!” teriak Harwati.
“Musuh pantang dicari, tapi kalau menantang jangan dielakkan”, ujar wisik di telinganya.
Namun Pita Loka hanya tegak dengan tegap, menanti,menanti, sembari mengatur
pernafasannya. Dan ini membuat pendekar edan itu semakin keedanan. Dia hanya meloncat-
loncat mengelilingi Pita Loka dengan permainan pedangnya. Namun Pita Loka siap siaga.
Sementara itu, Nyi Kembar sedang meniup kepala Dasa Laksana. Tiupan sihir itu berhasil. Nyi
Kembar berseru:
“Ayoh berangkat ke Serunai untuk menyergap dua pendekar Kumayan. Tapi kamu harus memulai
dulu menghancurkan mereka, Dasa Laksana! Kami di belakangmu!”
“Baik, Nyi Kembar! Saya akan hancurkan mereka”, kata Dasa Laksana.
“Ayoh sekarang! Kita harus di sana sebelum fajar. Mata-matamu sudah meyakinkanku, bahwa
dua pendekar itu sedang siap bertempur…. kita masuk dalam keadaan mereka sedang
bertempur, karena kita akan memancing di air keruh dan musti merebut selendang Pita Loka dan
pedang Harwati …. Dan, ingat, Dasa Laksana, kamu harus mengutamakan kehancuran Harwati,
sebab pedang Surandar itu lebih kuinginkan daripada selendang hijau Pita Loka!”
“Siap, tuan Gurul” dan Dasa Laksana meloncat ke punggung kudanya. Dan ketika fajar menyingsing, Harwati masih saja mengitari Pita Loka dengan jurus bangau putih mengkitari sarang. Pita Loka waspada terus, menunggu kemungkinan serangan curian. Mata dua pedang Surandar berkilat-kilat yang dikibas-kibaskan Harwati dalam mengitari Pita Loka itu. Dan, seperti sudah ditebaknya, Pita Loka berkelit ketika Harwati menghambur untuk menebas lehernya, Mata pedang itu terpeleset ketika mengenai bahu kanan Pita Loka, dan Harwati terhambur ke udara oleh tendangan balasan. Harwati merubah jurusnya menjadi jurus bangau kawin agar dia dapat menebas dada lawannya, tetapi Pita Loka menangkisnya dengan menyergap pergelangan Harwati, lalu membantingnya seketika. Harwati membal ke udara karena dua pedang itu
menghantam tanah. Ketika ini pulalah Harwati seperti sadar beberapa saat! Dia ingat, kelebihan
pedang Surandar adalah bila dia dihentakkan ke bumi lalu membuat pemegangnya membal.
Begitulah ketika Pita Loka sudah ketemu cara penyergapan, dia meloncat dengan kaki keatas lalu
menyergap Harwati yang cepat menghantam mata pedang ke bumi. Sehingga dalam keadaan
tubuhnya dicengkeram Pita Loka, maka Pita Loka ikut terseret ke udara. Keduanya jatuh di bumi, dan menjelang jatuh pedang sudah dihantamkan ke bumi, sehingga dalam keadaan terkena sergap cengkeraman itu Pita Loka ikut bersama tubuh Harwati terbang ke udara. Matahari mulai menerangi bumi.
Harwati berhasil lepas dari cengkeraman Pita Loka, Ketika dia mengayunkan pedang Surandar
kanan dan kiri…ketika itulah terdengar derap telapak kaki kuda yang banyak sekali.
“Kita kena serbu!” seru Pita Loka.
Musuh pun sudah mengepung dari segala penjuru. Tetapi Harwati masih melakukan serangan
pada Pita Loka yang cuma menangkis dan menangkis karena dilihatnya seorang pendekar muda
melompat dari kuda dan memegang senjata kayu -bulat – toya yang dengan serta merta
menyerang Harwati. Harwati berteriak: “Hai Dasa Laksana kamu ya!” tetapi toya itu diayunkan ke
arah kepala Harwati, namunsudah dijepit oleh ketiak Pita Loka menjelang kepala Harwati remuk.
Dasa Laksana ikut bersama Pita Loka yang mengepit toya itu dan dengan jungkiran salto maka
terlepaskan kayu bulat itu dari tangan Dasa Laksana yang terlempar jumpalitan.
Pita Loka hampir membuang toya yang dianggapnya senjata murahan itu, tapi kemudian
didengarnya wisik: “Jangan. Awas kiri!”.
Dia memutar tubuh ke kiri dan melakukan tangkisan ketika mendadak Nyi Kembar
menghantamkan kayu bulat ke kepala Pita Loka dan gagal…

DASA Laksana kebingungan karena tiba-tiba sadar bahwa dia sudah terkena sihir Nyi Kembar.
Ketika dia melihat Nyi Kembar menyerang Harwati dengan ilmu setan kawin, maka dihantamnya
kepala Nyi Kembar sebelum beberapa kali tendangannya sulit ditangkis oleh pedang Harwati.
Ilmu kebal Nyi Kembar cukup ampuh. Sehingga pedang Surandar terlepas dari tangan Harwati,
jatuh ke tanah, membal lagi ke udara, dan Nyi Kembar ingin melompat untuk mengambil pedang
itu. Ketika itulah toya ditangan Dasa Laksana menyabet tulang kering kaki Nyi Kembar, dan Nyi
Kembar Jatuh jumpalitan. Ketika itu Pita Loka hanya berdiri tegak. la cuma menonton
pertempuran seru dua lawan satu. Nyi Kembar memang cukup kebal menghadapi pedang
Surandar yang dihantamkan berkali-kali oleh Harwati. Harwati lega karena pedang yang sebuah
lagi sudah ditangan Dasa Laksana. Betapapun kebalnya Nyi Kembar menahankan mata pedang dari sabetan Harwati dan Dasa Laksana, dia akhirnya kualahan juga. Dia lari secepat kilat menuju kudanya lalu melompat ke punggung kuda. Harwati mengejarnya dengan berlompatan dari dahan ke dahan pohonan terus menyusul Nyi Kembar dengan pasukannya ke arah tenggara. Dasa Laksana berhasil membacok anak buah Nyi
Kembar. Dan kudanya dia rebut dan dengan tenaga mudanya dia pacu kudanya menyusul Harwati. Tampak jelas Harwati melompat dari pohon ke pohon. Dan ketika kuda yang ditungganginya sudah sejajar dengan Harwati; Dasa Laksana berseru: “Melompat ke sini, Ki Harwati!” Harwati melompat dari pucuk pohon pucung, melayang dan kemudian pantatnya sudah menemplok dibelakang tubuh Dasa Laksana. Dasa memacu kudanya lebih cekatan, turun naik bukit.
Setiba di kaki Bukit Kembar, Harwati berkata: “Kita berhenti disini supaya dia mengira kita tidak
mengejamya lagi”. Dasa Laksana turun dari kuda. Harwati masih di punggung kuda. Dengan suara manja dia
berkata: “Gendonglah aku supaya aku bisa turun”.
“Kau bisa molompat sendiri kebawah”, ujar Dasa Laksana.
“Aku ingin supaya kau menggendong saya”, kata Harwati.
Perasaan pendekar muda itu mendadak tahu apa yang dikehendaki Harwati. Tapi karena merasa
berhutang budi bisa lepas dari sihir pendekar Nyi Kembar, dia menuruti keinginan Harwati. Ketika
itu ia cuma merasa terpaksa menggendong Harwati, lantas berkata: “Sebenarnya ilmuku pantang
menyentuh wanita”.
“memang itu pantangan jika wanitanya tidak suka. Beda dengan Jika kau gendong wanita yang
menolakmu”.
Harwati menggeletak diatas rumput. Matahari akan tenggelam ketika itu. Sinarnya yang
kekuningan, membuat dua paha Harwati tampak bagai tembaga yang menggiurkan.
“Aku letih. Tulang-tulangku merasa ngilu. Maukah kau menguruti saya! Cuma memijat-mijat
saja!”
“Itu pantang dalam ilmuku. Heran sekali memang, orang semua menganggap kamu pendekar
edan. Tapi berhadapan dengan saya kamu sepertinya wajar dan sehat”.
“Aku gila tanpa pria. Tapi aku segar dan sehat karena bersama kau”, kata Harwati.
Ketika itu pikiran Dasa Laksana kacau. Dan sesungguhnya dia tergoda ketika paha itu dilihatnya
sampai dua kali.
Cepat Dasa Laksana membuang muka. Lalu berkata:
“Aku jangan sampai kau goda hingga melanggar pantangan yang diwejang oleh Guruku”.
“Hei, itu sungai!” seru Harwati lagi.
“Kalau sungai, kenapa?”
“Aku ingin mandi!” kata Harwati.
“Mandilah sendiri kesana!”
“Tidak, aku ingin mandi bersamamu Dasa Laksana!”
“Itu lebih pantangan lagi! Seluruh pelajaranku akan kembali pada Guru jika aku melakukan
pelanggaran”, kata Dasa Laksana.
“Baik, aku akan mandi sendiri”, ujar Harwati.
Dasa Laksana langsung menghempaskan tubuhnya di rumputan. Terdengar suara tubuh Harwati
yang mencebur masuk ke sungai. Dasa Laksana belum habis heran. Mengapa dia yang sudah dikenal edan sepertinya berubah jadi manusia wajar? Diambilnya dua pedang Surandar. Dia mencoba meneliti huruf gundul yang tertera di pedang itu. Tapi ia tak dapat membacanya. Lalu terdengarlah suara: “Tolooong!”
Dasa Laksana berdiri, dan melihat Harwati sedang menggapai-gapai di sungai.
“Tolong…!”
“Apa!”
“Ambilkan pakaianku!” seru Harwati.
DASA LAKSANA hampir saja tergoda. Jika saja dia sempat melihat Harwati dalam keadaan
telanjang bulat, ia akan merana. Kesaktian kependekarannya yang sudah dia dapat dari Ki Putih
Kelabu akan copot dengan serta merta. Dia akan jadi orang awam menghadapi belantara yang
mengerikan ini. Lalu dia anggap saja teriakan Harwati tidak ada. Dia langsung melompat ke kuda
dan memacu kudanya kembali ke arah desa Serunai. Dia ingin berjasa pada gurunya dengan
jalan membujuk Pita Loka agar kembali ke Kumayan. Dia butuh agar disayang oleh Ki Putih
Kelabu jika berhasil membujuk Pita Loka!
Tapi Harwati yang melihat Dasa Laksana mendadak meninggalkannya, seketika itu juga bagai
orang edan memaki-maki dengan ucapan-ucapan kutukan yang kotor. Dengan bertelanjang bulat
dia melompat dari dalam sungai, lalu berpakaian dsngan menggerutu!
Dipegangnya pedang Surandar dengan dua tangannya! Dia mengamuk dengan membabi buta sehingga pedang yang saling beradu itu bagai kilat dan petir ketika malam mulai tiba. Dengan penuh kegilaan Harwati melompat ke atas pohon, lalu melompat lagi dan melompat lagi.
Barulah ketika matahari terbit, lompatan edan itu akhirnya sampai bertepatan ketika Dasa
Laksana selesai menguburkan mayat penduduk Serunai dengan penguburan satu lobang. Harwati
muncul diam-diam. Dua pedang di tangannya. Dia melihat Dasa Laksana bicara dengan Pita Loka
yang baru membuang pacul. .
“Katakan pada ayahku, bahwa pengembaraan ilmuku masih jauh”, ucap Pita Loka.
“Aku berharap, jika aku sudah naik ke punggung kuda, hendaknya kau ikut bersamaku ke
Kumayan”, ujar Dasa Laksana.
Tiba-tiba Pita Loka dan Dasa Laksana mendengar bunyi pedang beradu. Keduanya sama
serentak menoleh kearah suara itu. Tampaklah Harwati dengan gerak edan berteriak dahsyat:
“Bajingaaaaaaaaaaan!”
Dalam sekejap mata mata pedang itu berkelebatan hampir menebas leher Dasa Laksana jika
tidak segera dipintasi oleh Pita Loka yang menghadang pedang itu dengan gerak jurus diam.
Jurus diam itu adalah yang tersulit dari semua ilmu persilatan jasad wadag. Seluruh pernfasan
dengan hidung itulah yang membuat pedang Surandar itu membal kembali sebelum menyentuh
bagian tubuh Pita Loka. Harwati semakin edan dan dengan membabi buta serta penasaran
pedang Surandar itu berkali-kali disabetkannya ke tubuh lawannya. Terakhir, Pita Loka
mendengar wisik: “Hantam bahunya dengan sisi tetapak tangan kirimu!”
Sisi telapak tangan kiri Pita Loka mendarat cermat pada bahu Harwati. Pedang ditangan kanan
Harwati lepas. Harwati ambrol tersungkur dan tidak sadarkan diri.
Pita Loka masih tegak. Dia butuh wisik lagi. Lalu didengarlah wisik itu: “Berjalanlah ke timur.
Sekarang juga”.
Pita Loka tanpa mengucap sepatah kata meninggalkan Dasa Laksana yang terpelongo
menyaksikan dahsyatnya perang tanding yang barusan terjadi. la masih terpelongo menyaksikan
perginya Pita Loka. Lalu Dasa Laksana melangkah mendekati tubuh Harwati yang masih
menggeletak. Lalu perasaan kasihannya bangkit, Dia menyaksikan seorang pendekar yang
menderita penyakit edan ini haruslah melewati kesengsaraan.
Dasa Laksana mulai bimbang. Dia tidak tahu apa kewajiban yang mesti dilakukan selanjutnya.
Jika Harwati sadarkan diri nanti, ada dua kemungkinan akan terjadi. Kedua-duanya merugikan
bagi dirinya.
Pertama, jika Harwati sadar lalu masih marah dengan gila seperti tadi, bisa saja kepala terpisah
dari tubuh karena ditebas pendekar edan itu.
Kedua, jika dia sadarkan diri lalu kembali menggoda dengan rayuan birahi, mungkin saja godaan
itu mempan. Lalu seluruh ilmu pewarisan Ki Putih Kelabu akan menjadi abu. Musnah! Cuma, mengapa Harwati begitu marah? Apa karena ditinggalkan? Atau karena salah duga lalu cemburu? Dasa Laksana masih dibekali perasaan halus manusiawi, rasanya tak layak meninggalkan Harwati yang masih hidup. Sedang mayit penduduk Serunai saja pun dikuburkan! Tapi kebimbangan adalah bagian dari bakat kependekaran. Kebimbangan dalam melakukan tindakan yang belum terwujud, menjadi pendekar berjiwa besar. Itulah pesan Ki Putih Kelabu. Maka dia putuskan pergi dari situ, Entah kemana, terserahlah. Yang terang dia melompat ke punggung kuda. Tapi menjelang kuda itu dipacunya, kedengaran suara berhiba-hiba: “Tolong
aku…tolong aku!” Dasa Laksana hampir saja memacu kudanya kalau tidak segera dia mendengar jeritan
memilukan: “Kasihani aku….!” Dasa Laksana loncat turun dari kudanya. Dia hampiri Harwati. Harwati dalam keadaan lemah dan berkata: “Beri aku makan dan minum. Aku lapar dan haus.”
SIFAT mudah kasihannya Dasa Laksana menonjol sekali, Segala perbuatan manusia, kebaikan dan keburukannya memang tergantung dari niatnya. Dan niat Dasa Laksana bukanlah untuk mencari kenikmatan sewaktu dia menyuapi Harwati yang makan dengan lahap. Nasi dan makanan itu hampir basi, diperdapat dari puing-puing rumah yang roboh di Serunai itu. Harwati makan dan minum dengan lahap. Untunglah masih ada sisa tuak yang belum hancur tabung bambunya. Tuak adalah minuman pokok desa ini.
“Aku kedinginan”, ujar Harwati.
“Ya, aku tahu. Desa ini memang desa yang tinggi, bukan? Jadi udara disini dingin. Kau pendekar.
Harus mampu menahan dingin bukan?”
“Kamu baik sekali, Dasa Laksana”, ujar Harwati.
“Aku berbuat baik bukan sembarangan. Aku tahu kepada siapa aku musti berbuat baik. Aku tahu
turunan siapa kau”, kata Dasa Laksana.
“Aku putri pendekar Lebai Karat”, kata Harwati.
“Aku sudah tahu. Dan kelihatannya kau sehat-sehat saja”, (Padahal maksud ucapan itu adalah:
Kamu kelihatannya tidak gila.
“Aku lapar lagi”, ujar Harwati.
“Baiklah, Kau tunggu disini”.
“Nanti dulu!” ujar Harwati mencegah sebelum Dasa Laksana berlari.
“Ada apa?”
Duduklah dulu. Aku mau tanya sesuatu. Rasa-rasanya, kau meninggalkan saya ketika saya mandi
disungai. Ternyata kau sengaja menemui Pita Loka. Untuk apa kau menemuinya?”
“Aku menemui Pita Loka karena dua niat. Pertama ingin melihat keadaannya lalu membujuknya
pulang ke Kumayan. Sebab aku ini murid ayahnya. Jika aku membawanya ke Kumayan, tentu
sang Guru akan senang atas jasa baikku. Kau tahu, setiap murid ingin menanamkan jasa baik
pada Guru. Baru dia tidak dilupakan Guru. Bukan begitu?”
“Yang kedua?” tanya Harwati.
“Teringat olehku mayat bergelimpangan. Belum dikubur, Lalu aku mengajak Pita Loka untuk
menguburkan mayat itu dalam satu lobang, dan waktu itulah engkau datang, bukan?”
“Ya. Aku datang dengan amat kesal”, kata Harwati.
“Kau tentu curiga juga”, kata Dasa Laksana.
“Aku bukan saja curiga. Tapi aku benci! Benci!”
Dasa Laksana dilirik oleh Harwati, lalu tampaklah matanya berbinar-binar menyinarkan kebirahian
seseorang yang butuh kasih. “Sebentar aku akan mencari makanan untukmu.”, kata Dasa Laksana.
“Tapi sekarang ini aku tidak lapar lagi”, kata Harwati.
“Ha? Koq bisa gitu?”
“Aku sekarang kenyang. Aku jadi kenyang karena kamu temani aku berbicara, Maukah kau
menemani saya bicara sampai malam?”
“Tentu”.
“Aku ingin membicarakan tentang diriku yang malang ”.
“Silahkan”.
“Maka jawablah pribahasaku ini. Dalam ilmu silat pribahasa adalah bagian dari jurus hati.
Pernahkan kau dapat wejangan ini dari Gurumu?”
“Ya. Dalam persilatan, salah bicara, nyawa melayang”.
“Nah, kalau begitu kau pernah tahu apa itu kembang”, kata Harwati.
“Kembang itu bunga”, kata Dasa Laksana.
“Bunga itu wangi”.
“Tentu. Putik bunga itu wangi”, kata Dasa Laksana,
“Lalu pernah pula kamu mengetahui kumbang?”
“Tentu. Kumbang itu nama binatang”.
“Jika aku kembang, tentu kau kumbang”, kata Harwati.
Mendengar itu bulu roma Dasa Laksana merinding. Tapidia lebih merinding sewaktu melihat
mata Harwati yang menyorotkan binar birahinya yang kelihatannya bagai kilat di malam gelap.
“Sebaiknya aku pergi mencari makanan”, kata Dasa Laksana.
“Kalau begitu aku tahu isi hatimu”, kata Harwati.
“Janganlah kita bicara hal Itu”, kata Dasa Laksana.
“Kau mengelak. Tanda ada gadis yang kau cintai!” tuding Harwati.
“Aku hanya memegang amanat”, kata Dasa Laksana.
“Siapa yang memberimu amanat?”
“Guruku. Amanat itu berat”, kata Dasa Laksana.
“Sekarang aku tahu. Bukankah Gurumu adalah Ki Putih Kelabu?”, dan Harwati langsung berubah
jadi buas, berdiri tegap memegang dua pedang Surandar ditangannya.
“Akan kutebas siapa yang menghalangikul”, lalu pedang itu diadunya sehingga terdengar bunyi
gemerincing yang dahsyat. Bahkan kilatan api.
DASA LAKSANA ketakutan! Tetapi dia tidak boleh menyerah, menipu, ataupun munafik oleh
gertakan itu.
Seorang pendekar pantang bertekuk lutut dengan gertakan. Dan sekiranya dia mau memilih jalan
yang gampang, dia tentu bisa. Main gombal saja! Tetapi pantangan seorang pendekar justru
bermain gombal. Karena itu ketika dua mata pedang bergemerincing mengancam lehernya, dia
tetap Harwati dengan mata beringas.
“Kamu mempunyai ilmu. Saya pun mempunyai ilmu!” kata Dasa Laksana.
“Ayo keluarkan ilmumu”, ujar Harwati.
“Saya tidak akan menyerangmu!”
“Ayoh serang! Mana ilmumu!”
“Ilmu kami dimulai dengan perkataan. Aku hanya akan memperingatkanmu! Tapi ingat, jika kau
mulai menyerangku, ilmuku adalah tindakan. Kau bertindak, akupun akan bertindak”.
Sesungguhnva mereka bukan berdua. Ada seorang saksi yang baru turun dari punggung kuda
melihat pertengkaran itu. Tiba-tiba sang saksi ini menyaksikan gemerincing pedang itu. Dan
Harwati yang semula tegak lalu berubah bagai putaran roda pedati! Tubuhnya yang berputar
bagai roda pedati itu bagai menggelinding menuju sasarannya, Dasa Laksana sudah mengatur
nafas dengan dua tangan terjulur kedepan dengan telapak tangannya yang meratap. Gelindingan
itu disambut oleh dua telapak tangan Dasa Laksana, sehingga memballah sang penggelindingi
Dasa Laksana sendiri tercengang dengan keampuhannya mencobakan tangkisan tenaga
dalamnya. Lalu dia berkelebat memutar arah, sehingga dia berada disamping ketika Harwati
sekali lagi menyerang dengan tubuhnya yang menggelinding. Dari samping itulah Dasa Laksana
mengeluarkan jurus harimau mengibaskan ekor. Harwati berhasil menjebak jurus itu sehingga
kaki Dasa Laksana dengan tendangan kibasan ekor berhasil terkena jepitan kedua kaki Harwati.
Sebelum Dasa jatuh terjungkal kebelakang, pedang di tangan kanan Harwati menebas kearah
leher, tetapi untung Dasa segera menundukkan kepala. Saksi yang menonton tegang, cepat
membuang nafas karena dia kira leher Dasa Laksana akan terpenggal. Dia sebagai penonton
sudah tak sabaran lagi untuk ikut terlibat.
Tetapi kini dilihatnya Dasa Laksana sudah merebut pedang Surandar di tangan kiri Harwati.
Tanpa ragu pedang Surandar itu berbalik mau menghantam ke kepala Harwati. Tapi ajaib!
Pedang itu rupanya tak sudi menyakiti pemiliknya. Begitu mata pedang itu menghantam jidat
Harwati, terdengariah bunyi nyaring disertai api berkilat. Malah terlepas dari tangan Dasa
Laksana.
Keadaan Dasa Laksana berubah dalam situasi terancam. Dia mundur, dan mundurnya itu
membuat Harwati cepat membabatnya, apalagi pedang tadi sudah kembali ke tangannya. Dua
babatan kiri kanan yang ditangkis oleh Dasa Laksana dengan lompatan-lompatan keatas itu
adalah membahayakan. Sang saksi yang nonton dibalik kudanya itu semakin tegang. Tiap Harwati membabat dilayani Dasa Laksana dengan melompat, hingga tebasan itu cuma mengenai angin di bawah telapak
kaki. Tapi si penyaksi dibalik kuda itu kuatir, apabila Dasa Laksana terus melakukan hati itu, daya
lompatnya akan berkurang, dan pedang itu bisa membuntungkan kakinya. Maka dengan kekuatiran yang amat besar, sang penonton, dengan tak bisa sabar lagi menyaksikan bahaya itu, lalu berseru: “Rubah dengan jurus harimau terkepung! Jurus harimau terkepung!” Seruan ini didengar oleh Dasa Laksana. Semangatnya bergelora. Harwati juga mendengar. Beringasnya tambah buas. Dia sabetkan pedangnya untuk menebas kaki Dasa Laksana sebelum Dasa merubah jurus.dan ketika itu dengan tidak diduganya dia merasakan pedih pinggangnya diserang lawan lain dari belakang. Seperti kena kibasan ekor harimau.
Harwati sempat berkelit menjungkir terkena sabetan lawan lainnya. Begitu dia bangkit berdiri
untuk melayani dua lawan, dia merubah permainan. Dia cuma berdiri tegak tetapi
mempermainkan jurus permainan pedang sebagai dinding berputar. Jurus ini berat bagi lawan,
karena sifatnya tidak menyerang melainkan menjebak.
“Kau minggir Dasa!”
“Baik, Guru!” sahut Dasa Laksana minggir menuju kuda. Ya memang betul, penonton tadi
memanglah Guru, Ki Putih Kelabu, yang tak akan tega melihat muridnya terancam mati konyol.
Kini dengan melibatkan diri, pada sebenarnya dia bukan mau menghancurkan Harwati. Dia justru
ingin menyumbangkan Ilmu kepada putri almarhum sahabatnya ini!
Dengan suara mengaum dia menerjang dinding pedang berputar itu, tetapi harimau itu justru
terjungkal ke belakang. Dia mengaum dan menerjang lagi dengan berhasil kali ini karena kedua-
dua pedang itu terlempar ke udara. Harwati cepat melompat ke udara merebut dua pedangnya,
lalu mendarat di tanah dengan hantaman dua mata pedangnya kepunggung harimau. BUKAN punggung harimau itu yang terkena, melainkan tanah yang langsung berhamburan sementara tetakan dua pedang pada tanah itu membuat dua pedang itu membal ke udara bersama Harwati yang memegang dua gagangnya. Di udara Harwati mengadu dua mata pedang itu sehingga arah iatuhnya ke bumi menjauhkan jarak. Maka setiba di tanah, dengan dua kaki terbelesek masuk tanah hingga mata kaki, Harwati berdiri tegak kokoh dan berkata: “Baru aku tahu kamu itu Ki Putih Kelabu!” … ini diucapkan setelah Ki Putih Kelabu menjelma jadi manusia
kembali.
“Betul, nak”.
“Aku bangga melawan tuan”.
“Aku bukan mau menghabisi kamu. Cuma mau mengajarmu”.
“Yang penting aku tahu, bahwa kau begitu getol membayangi pertarungan saya melawan Dasa
Laksana agar dia bisa kau pungut mantu! “
“Jangan bertengkar denganku. Ayahmu dulu tidak pernah bertengkar denganku”. Lalu tampak tanah menghambur ketika dua kaki Harwati mencuat keatas, dan dalam sekebatan dua mata pedang menggedor bahu kiri dan bahu kanan Ki Putih Ketabu. Begitu berkelebat, sehingga Dasa Laksana kuatir gurunya akan tewas, Padahal tidak. Gedoran mata pedang itu Justru membuat Ki Putih Kelabu seketika itu pula menjelma jadi harimau dan mengeluarkan jurus harimau melihat bangkai. Jurus ini berbahaya. Karena apabila sang Guru kurang mengatur perasaan, kepala Harwati bisa kena terkamnya. Maka dia cuma mengembangkan bunga-
bunganya saja sekedar mengelak pedang itu sampai ke sasaran berbahaya, yaitu pada bagian
nyali. Perkelahian itu boleh dikatakan ibarat Kucing mempermainkan Tikus. Ini membuat Harwati
geram karena dirinya cuma dijadikan tikusnya, dan tidak memungkinkan dia mengambil inisiatip.
Dia sadar, Ki Putih Kelabu hanya menginginkan dia jadi lelah. Karena itu Harwati mengadu lagi
mata pedangnya dengan semangat edan.
Tapi dia sudah lelah. Kesempatan terakhir hanyalah dengan cara menetakkan dua mata pedang
ke bumi, agar dia membal ke udara. Dia membal ke udara, lalu mengayunkan dua kakinya ketika
di udara itu, agar dia dapat melayang jauh dan jatuhnya di atas pohon. Harwati hinggap di
pohon. Dari atas pohon itu terdengarlah ketawa edannya yang berderai-derai. Ketawa itulah
yang membuat Ki Putih Kelabu menyingkir mendekati Dasa Laksana. Lalu berkata: “Kasihan dia.
Sungguh aku mengasihani dia melebihi kasihanku pada Pita Loka”.
“Aku tak butuh dikasihani. Hayo jamah tubuhku ke sini!”… rupanya ucapan Ki Putih Kelabu itu
kedengaran sampai ke atas pohon itu.
“Kalau kau tidak ke sini, aku yang ke sana !” teriak Harwati lagi dan kedengaranlah suara
tertawanya yang berderai.
“Anakmu sudah membela Dasa Laksana. Kini kamu pun membela Dasa Laksana sehingga aku
makin tahu bahwa kalian semua itu menjadi penghalang seluruh tujuan hidupku!”
“Aku tak menghalangi tujuan hidupmu„nak. Aku Cuma menghalangi agar muridku tidak mati
konyol oleh pedang saktimu. Kuharap kau turun, supaya kau sudi mendengar wejanganku. Kau
tidak berbapak lagi, aku ingin menggantikan kedudukan ayahmu untuk menasehatimu!”
“Aku edaaaan! Pergiiiiiil” Teriakan itu bukan menimbulkan benci. Tapi menimbulkan belas
kasihan. Sebab setelah berteriak begitu Harwati kedengaran menangis dengan isakan yang
menghibakan hati.
Ki Putih Ketabu menatap pada Dasa Laksana. Katanya: “Kau sudah tabah memegang teguh
amanat guru. Bagaimana jika aku pertanyakan padamu, apakah kau bersimpati kepada dia?”
“Maksud tuan Guru, agar saya mencintai dia?” tanya Dasa Laksana.
“Begitulah. Tapi itu bukan amanat. Itu hanya buah pikiran”.
“Tidak, tuan Guru. Saya akan memilih amanat tuan yang pertama. Yaitu melanjutkan turunan
tuan agar tercipta bibit unggul yang kuat dan baik. Jika saya mencintai dia, turunan saya akan
kurang waras”.
“Tapi Pita Loka juga buta!”
“Bedanya lain, Tuan Guru. Saya mencintai Pita Loka karena saya patuh dari awal. Tapi jika tuan
Guru punya buah pikiran agar saya mencintai Harwati, itu anda temukan di tengah jalan. Padahal
perjalanan batin saya ini sudah agak jauh. Karena tadi itu cuma buah pikiran, bukannya amanat,
saya hanya akan tunduk pada amanat”.
Sang Guru menguji dengan pertanyaan: “Tidak kau dengar isak tangisnya di atas itu?”
“Saya mendengar. Tapi tidak tergoda. Dia edan”, kata Dasa Laksana.
“itu bukan edan yang sesungguhnya. Dia edan karena itu bagian dari perjalanan tuntutan
ilmunya”, kata sang Guru, menguji lagi.
KARENA KEASYIKAN memberi wejangan pada muridnya, Ki Putih Kelabu tercengang melihat
pancaran api kuat bagai bola api menghambur dari pohon ke pohon lain dan pohon lain menuju
tenggara.
“Kasihan. la harus mengembara lagi”, kata Ki Putih Kelabu.
“Mungkin dia ke desa Meranti”, kata Dasa Laksana.
“Bagaimana dengan Pita Loka?” tanya Ki Dasa Laksana.
“Saya kira dia masih akan mengembara lebih lama lagi”.
“Saya mengucapkan selamat atas permainanmu. Tapi ingat, seorang pendekar tak boleh asyik
dengan satu jurus permainan saja. Itu akan menguras tenaga, Setiap lompatan ke udara akan
lebih menguras daya tahanmu ketimbang kau melakukan permainan bawah”.
“Lain kali akan saya ingat pesan Tuan Guru”, ujar Dasa Laksana.
“Kukira ada baiknya kau menemani perjalanan saya. Saya barusan saja menemui Nyi Tunggal
Surya Mulih di padepokannya, Beliau tidak mewarisi ilmu suaminya. Tapi anjurannya sangat baik.
Aku mesti menemukan beberapa harimau asal, pewaris syah tujuh harimau. Menurut Nyi
Tunggal, tujuh manusia harimau harus mengadakan pertemuan. Banyak hal besar yang mesti
dirembugkan”.
“Boleh saya mengetahui nama Tujuh Manusia Harimau itu, tuan guru?” tanya Dasa Laksana.
“Boleh saja. Aku hanya akan menyebutkan nama yang aku ketahui. Sebab jumlah tujuh itu, yang
hanya mengetahui cumalah Ki Tunggal dan pewarisnya. Pewarisnya inilah yang masih gelap bagi
kami. Tapi beberapa nama seperti namaku, Ki Jengger, Ki Surya Pinanti, Ki Madu Prakasa, Ki Ca
Hya, setidaknya merupakan lima harimau yang syah berdasar Kitab Tujuh yang aseli”.
“Ki Lading Ganda bukan salah seorang tujuh harimau?”
“Ternyata ia bukan. Setelah jadi harimau syah, la suhu. Tak pernah terjadi seorang Suhu menjadi
gila seperti beliau. Tapi ia tabah”, kata Ki Putih Kelabu.
Lalu dia melompat ke punggung kuda.
“Aku sebetulnya amat rindu bertemu muka dengan puteriku”, ujar sang Guru ketika mereka
mulai memacu kudanya.
“Kita menuju ke pesanggerahan”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Apa itu pesanggerahan?” tanya Dasa Laksana.
“Pesanggerahan adalah tempat istirahat seorang suhu”, ujar Ki Putih Kelabu, “Tapi penamaan itu
cuma aku yang menggunakan. Kuberikan khusus pada Ki Ca Hya. Aku mendapat wangsit, bahwa
puteriku Pita Loka sedang berguru pada beliau”.
Kuda itu semakin dipacu kencang.
Ketika kuda itu melintas desa Meranti, Dasa Laksana sempat menoleh ke desa itu, siapa tahu ia
mengetahui Harwati ada disitu.
Ketika Dasa menoleh, Ki Putih Kelabu tahu. Beliau barkata: “Rupanya kau masih menaruh
perhatian menengok desa itu”.
“Saya kuatir kalau kita kena jegal lagi oleh Harwati, tuan”.
“Maksudmu bukannya kau mengkhawatirkan nasib pendekar edan itu?” tanya sang guru
menjebak.Dasa Laksana hanya membungkam mulut, karena jika dia salah menjawab maka
nilainya bisa dianggap rendah oleh Ki Guru. Memang Harwati terjaga dari tidurnya di ambin
bambu ketika dia mendengar derap kaki kuda di lembah bawah.
Dia duduk, mengusutkan rambutnya lebih kusut lagi lalu ketawa menyeringai. Dia lalu berkata
dengan hiba dengan air matanya yang bercucuran: “Akan beginikah nasibku selalu? Tidak akan
pemah ada orang yang mencintaiku!”
Airmatanya bercucuran, Lalu dia memegang dua pedangnya, dan mengadu mata dua pedang itu
hingga bergemerincingan, Lalu berkumpullah penduduk Meranti itu seraya berseru: “Ayoh,
pendekar! Mainkan ilmu edanmu lagil”
“Ini edan! Ini edan!” kata Harwati mulai meloncat.
Tingkah lakunya membuat penduduk Meranti terhibur dan tertawa. Tetapi setiap dia
mengeluarkan jurus-jurus yang diminta, penduduk tak tahu airmatanya semakin banyak
berhamburan. Dan itu membuatnya lemas. Dia menangis merengek macam anak kecil, lalu
berjalan sempoyongan menuju nenek tua dan berkata: “Aku lapar, bu, Aku haus dan lapar.
Kasihani aku, aku lapar, lapar, laparrrr”.
“Mari ke rumahku”, ujar sang nenek. Tapi Harwati sudah meloncat lebih dahulu dan masuk ke
rumah perempuan tua itu dan mengambil nasi yang sedang dijarang dalam kukusan. Asap
mengepul, nasi itu hampir masak, tetapi sudah dikerumas oleh jari tangan pendekar edan itu,
dengan lahap masuk ke mulutnya.
Kemudian dia mengangkat gentong kecil berisi air. Mulut gentong yang lebar itu mengucurkan air
ke mulut Harwati, tapi sekalian pula dengan itu pendekar edan sudah mandi….
SEMENTARA itu, ditempat pertapaannya, di Lembah Tujuh Bidadari, Guru Gumara malam itu
melihat tumpukan cahaya melingkar di sekitarnya. Lingkaran itu bundar sekali dengan garis
tengah sekitar sepuluh meter. Ketika ia melihat ke langit, rupanya sinar cahaya itu tegak lurus ke
atas, bertepatan dengan bintang Venus.
Gumara memejamkan mata. Antara tidur dan tidak, dia menyaksikan dua ekor kuda dipacu
penuh menuju ke satu padepokan yang rumah-rumahnya bersih dengan cat putih. la metihat
seorang pendekar tua menyambut dua pendekar berkuda itu, Namun ia tidak jelas siapa mereka
bertiga itu. Mereka tampak saling beramah tamah.
Gumara lalu membuka mata. la belum puas. Tetapi sebelum dia mendapat jawaban firasat,
terdengarlah suara hiruk pikuk. Ada suara teriakan minta tolong dari arah selatan. Gumara berdiri
dengan sigap. Tampaknya suara teriakan itu semakin dahsyat. Lalu pendekar pendiam ini
melompat sigap meninggalkan Lembah Tujuh Bidadari kearah pedukuhan. Sesungguhnya pedukuhan itu jauh letaknya. Tetapi karena lembah ini menampung suara, kedengarannya amat dekat. Gumara menempuh jarak itu dengan jurus lompatan demi lompatan harimau api. Bagai harimau api ia langsung mengaum ketika dia dapati enam orang anak-anak muda buntung sedang dicambuk oleh Dasa Laksana Buntung. Pakaian mereka aneh. Semua anak remaja itu mampu menangkis cambukan itu. Dasa Laksana Buntung tampaknya gawat juga oleh perlawanan mereka. Gumara hanya menonton sejenak membiarkan penduduk pedukuhan itu
masih menjerit. Ketika Dasa Laksana Buntung akan mencambuk anak paling remaja yang dikenal Gumara di Kumayan bernama Caruk Putih itu, Gumara berseru tegas :
“Hentikan!” Dasa Laksana Buntung membalik, Begitu dia melihat Gumara, dia arahkan
cambuknya dan sekelebatan cambuk itu memecut ke arah Gumara. Gumara memegang cambuk
itu sebelum mengenai tubuhnya, lalu dalam sekebatan cambuk itu berbalik membuat Dasa
Laksana Buntung terlempar ke udara.
Caruk Putih berseru : “Pak Guru!” Lalu dia berlari memeluk Gumara. Anak-anak remaja buntung
yang lainpun memeluk Gumara : Talago Biru, Agung Kifli, Abang Ijo, Aria Kuning, Sura Jingga
yang kelihatannya mereka semua merasa rindu.
Dasa Laksana Buntung bangkit, lalu berteriak: “Nyi Kembar! Tolong aku!” Nyi Kembar masih
berpelukan dengan anak-anak buahnya, lelaki-lelaki tegap yang kesemuanya ketiduran karena
bermabuk-mabuk semalam suntuk. Gumara masih memegang ujung tali cambuk. Anak-anak remaja buntung itu merasa heran mengapa Dasa Laksana Buntung dibiarkan saja berteriak-teriak.
“Hajar dia. tuan Guru!” seru Agung Kifli.
“Aku ke sini cuma untuk menyelamatkan kalian. Hei, Pendekar Buntung. Sebaiknya tingkatkan
dulu ilmu kau sebelum melawanku. Aku perintahkan sampai sepuluh hitungan agar kau pergi dari
sini bersama sekutu setanmu!”
“Nanti dulu! Aku mohon satu jawaban!”
“Katakan padaku, di mana sekarang orang muda yang nenyamar memakai namaku?”
“Dasa Laksana?” tanya Gumara.
“Ya”.
“Apa perlunya denganku?”
“Ada perlunya untukku. Dia pernah berguru kepadaku! Kuperintahkan agar dia menyamar belajar
pada Ki Putih Kelabu. Tapi sepertinya dia berkhianat karena tidak kembali lagi”.
“Sungguh licik, kau! Kau suruh menyamar belajar pada Ki Putih Kelabu untuk apa?”
“Untuk menculik Pita Loka dikemudian hari. Kau tahu, aku mencintai Pita Loka. Aku ingin
ilmunya. Bukankah Pita Loka itu sainganmu? Musuhmu?” Gumara tersenyum. Katanya seraya menoleh pada Agung Kifli : “Ini, si pemain gitar dariKumayan, sepupunya, akan lebih tahu”.
Agung Kifli berkata : “Guru Gumara … saya pernah menjelaskan pada Ki Dasa Laksana Buntung
ini … bahwa tuanlah yang punya hak untuk jadi suami Ki Pita Loka. Bukan dia! Tapi kami selalu
kena siksa bila menjelaskannya. Kenapa tuan tidak bunuh saja dia sekarang? Atau kami
membunuhnya?”
Mendengar itu Dasa Laksana Buntung menyembah-nyembah. Dia berlutut di tanah.
“Aku akan hitung sampai sepuluh. Lalu kau dan sekutumu enyah dari pedukuhan ini. Ini dukuh
suci, penduduknya awam tak sudi melawan. Jangan kalian peras orang-orang awam, karena
do”a mereka akan langsung dikabulkan apabila kau berbuat kejam pada mereka. Satu …. Dua
….”
RUPANYA Nyi Kembar dan anak buahnya pun akhirnya mendengar ancaman itu. Sehingga, ketika
Gumara sudah menghitung : “Tujuh … delapan ,..”, dia segera memberi isyarat pada anak
buahnya untuk segera kabur.
“… Sembilan … sepuluh!”, seru Gumara dan membalik cambuk lalu melecut Dasa Laksana
Buntung. Pendekar buntung itu melolong kesakitan. Gumara melemparkan kembali pecut cambuk itu pada Dasa Laksana. Sehingga Agung Kifli bertanya : “Kenapa Guru kembalikan?” “Itu senjatanya. Sebaiknya kita jangan memakai senjata lawan”, ujar Gumara menjelaskan. Tak lama kemudian, hanya gumpalan debu yang beterbangan karena kuda-kuda pendekar bajingan itu berlomba cepat meninggalkan pedukuhan itu.
Setelah mereka pergi, Gumara berkata pada rejama-remaja bertangan buntung itu : “Jangan kecil hati karena tangan kalian yang cacad. Juga jangan menganggap bersalah karena kalian pernah ikut jadi anak buah Dasa Laksana Buntung. Jangan! Semua pengalaman ada gunanya. Asal tahu batasnya. Aku pernah bermimpi, pada suatu malam kalian berkumpul di Lembah Bidadari untuk memulai ilmu Persilatan Sejati bersama Ki Pita Loka. Salahkah mimpi saya itu?” “Mimpi itu betul, Guru!” ujar Caruk Putih.
“Dalam mimpi itu, Ki Pita Loka berkata, bahwa kalian semuanya kelak akan dikenal di kawasan
persilatan sebagai ENAM PENDEKAR BUNTUNG. Salahkah mimpiku itu?”
“Mimpi anda betul, Tuan Guru!”
“Nah, kalau itu betul, apa yang sudah kalian jalani selama ini adalah bagian dari
penggemblengan ilmu seperti yang tertera dalam Kitab Tujuh. Tapi harus kalian ingat. Banyak
pendekar sesat sekarang ini, yang menggunakan anak-anak semuda kalian. Seperti halnya Dasa
Laksana Buntung yang berdalih akan mendapatkan Kitab Tuiuh dengan menggunakan kalian
sebagai tameng. Masih kalian ingat, dulu pernah menyerbu dan bikin kacau di Kumayan? Nah,
sekarang aku ingin meluruskan jalan kalian atas kesesatan yang dibuat oleh Dasa Laksana
Buntung. Mari ke Lembah Bidadari agar kalian bisa kulatih melanjutkan latihan yang diberi oleh
Ki Pita Loka”.
“Di mana Ki Pita Loka sekarang ini, Guru?”
“Aku tidak tahu. Yang pasti, dia sedang memperdalam ilmunya. Tentu dia akan berjumpa suatu
kali dengan Nyi Kembar yang sudah bergabung dengan Dasa Laksana Buntung”, ujar Guru
Gumara. Lalu berangkatlah anak-anak muda itu mengikuti Guru Gumara menuju Lembah Bidadari untuk
mendapatkan gemblengan baru. Setiba di Lembah Bidadari, Agung Kifli bertanya pada Guru Gumara : “Tuan Guru, kenapa anda tidak bergabung saja dengan Ki Pita Loka?”
“Sulit sekali. Saudari sepupumu itu seorang keras kepala. Dia tak sudi menyembuhkan penyakit
gila adik tiriku Harwati. Hanya karena menduga-duga bahwa aku akan mencintai Harwati. Apa
masuk akal saudara sedarah bisa jadi suami-istri?”
“Tapi kami dengar Tuan Guru memang bukannya putra Ki Karat”, kata Agung Kifli.
“Darimana kau dengar?”
“Ketika kami diperkenalkan dengan Ki Kembar. Aku menyebut nama Ki Pita Loka untuk
men”elaskan dia sebagai saudara sepupuku. Lalu Dasa Laksana Buntung diberikan keterangan
oleh Ki Kembar bahwa anda, Tuan Guru …maaf, anda dikatakannya bukan kakak-beradik dengan
Harwati. Malahan dia ramalkan anda akan menjadi suami Ki Harwati. Mana yang benar?” tanya
Agung Kifli.
“Yang benar adalah Harwati mencintaiku. la sulit melepaskan cintanya. la mencintaiku setengah
mati. Aku adalah titisan darah Ki Karat. Dia pun titisan darah Ki Karat. Kalian sudah ditipu oleh
rangkaian cerita palsu. Untuk membedakan yang benar dan yang palsu mudah saja. Kalian
pernah ikut dengan gerombolan setan Dasa Laksana Buntung. Itu pengalaman hebat. Tapi
apakah pengalaman itu tak lebih dari pengalaman merampok dan memperkosa wanita? Begitu juga dengan Nyi Kembar, istri Ki Kembar! Bukankah pendekar wanita ini menyukal berhubungan dengan anak-anak lelaki berusia muda? Ini suatu bukti bahwa ilmu Ki Kembar diwariskan secara sesat. Semua pengikutnya sesat. Dan karena itu semua ceritanya sesat dan palsu pula. la sengaja menyebar kisah palsu mengenaiku agar aku kawin dengan Hanwati dan tidak jadi memperistri Pita Loka. Tahu kalian, bahwa para pendekar sesat ketakutan apabila aku mengawini Pita Loka kelak akan melahirkan bibit turunan pendekar unggul? Itulah soalnya. Karena cerita persilatan tidak akan musnah dari,bumi ini. Begitu pun turunan darahnya, Demi guru-guru terhormat sebelumku, ceritaku tak bohong”, ujar Guru Gumara.
MENDENGAR penjelasan itu, Agung Kifli maupun Caruk Putih terpana. Kedua anak remaja ini
sering membicarakan kisah segitiga Guru Gumara, Ki Pita Loka maupun Ki Harwati.
Caruk Putih bertanya pada Guru Gumara : “Jadi Ki Harwati tidak akan sembuh gilanya jika tidak
diobati oleh Ki Pita Loka?”
“Menurut Ki Jengger, salah seorang dari Harimau Tujuh memang begitulah. Sedangkan benda
sakti pengobatnya adalah Intan Solaiman Permata Hijau. Ketika Pita Loka menolak mengobati
kegilaan Harwati, dia buktikan penolakan itu dengan membuang intan sakti itu. Ke udara!”
“Alangkah sayangnya”, ujar Caruk Putih.
“Tapi itu tak bisa disalahkan. Peperangan ada dua macam. Peperangan dengan senjata. Dan
peperangan dengan mulut, yaitu fitnah. Kadangkala peperangan dengan fitnah ini justru bisa
membunuh. Dia mempengaruhi akal manusia, sehingga kawan pun jadi lawan. Ki Kembar sudah
mewarisi perang fitnah ini turun temurun. Mungkin yang terkena pengaruh kisah fitnah itu adalah
Pita Loka sendiri. Sehingga dia yakin aku ini bukan anak Ki Karat dan bisa kawin dengan Harwati.
Maka dia buang intan sakti yang bisa menyembuhkan orang gila”.
“Kalau begitu bukankah Ki Pita Loka bisa diluruskan? Tangkap dia, lalu paksa dia!” kata Caruk
Putih. Anjuran anak remaja itu membuat Guru Gumara tertawa kecil. “Tujuh Harimau harus bersatu! Saya sendiri mendengar bisik-bisik Nyi Kembar dengan anak buahnya beberapa hari yang lalu. Bahwa anda, Guru Gumara adalah salah seorang dari Tujuh Harimau. Dia juga mengatakan, Ki Pita Loka lawan berat. Karena dia pewaris dari salah sebrang Harimau Tujuh. Kalau Ki Pita Loka menolak anda, itu berarti dia belum lagi afdol untuk disebut salah satu Harimau Tujuh, bukan? Bukan?” “Dalam dunia persilatan, semua kemungkinan adalah mungkin. Tapi mungkin juga, dia masih dalam alam penggemblengan ilmu yang lebih tinggi. Memang usulmu baik. Enam harimau bersatu untuk menjinakkan Ki Pita Loka. Itu usul hebat. Tapi mungkin Pita Loka punya jalan sendiri karena dalam penggemblengan”, kata Guru Gumara.
“Lalu tuan tentu tahu, dimana Ki Pita Loka sekarang ini”, ujar Agung Kifli.
“Karena kamu mendesak untuk saya jawab, akan saya Jawab sekarang: Dia sekarang berada dalam bimbingan Ki Ca Hya, salah seorang pendekar Harimau yang melawan musuhnya cuma dengan cahaya!”
Anak-anak remaja itu tercengang. Caruk Putih bertanya:
“Tuan Guru tidak memiliki ilmu itu? Bisa kami diberi?”
“Itu ilmu tertinggi. Bahkan perang dijaman moderen ini kelak bukan lagi menggunakan peluru.
Tapi perang cahaya”, ujar Guru Gumara.
“Ki Pita Loka sekarang ini di pedukuhan Ki Ca Hya?” tanya Agung Kifli dengan penuh semangat.
Guru Gumara memejamkan mata sejenak. Dalam berpejam mata itu seakan-akan dia melihat
suatu kejadian dahsyat.
“Suatu kejadian dahsyat yang sulit kuceritakan”, ujar Gumara. Kejadian dahsyat itu memanglah
sedang terjadi. Rupanya, Ki Putih Kelabu menyuruh muridnya, Dasa Laksana, pulang ke
Kumayan naik kuda. Karena Ki Putih Kelabu ingin menetap sementara di pedukuhan Ki Ca Hya
menanti kembalinya puteri beliau tercinta, Pita Loka.
Tapi Dasa Laksana singgah dulu di desa Meranti. Dia berharap bertemu dengan Harwati. Namun
desa Meranti yang penduduknya cuma 97 orang itu sedang mengalami malapetaka. Dasa
Laksana buntung bersama Nyi Kembar sudah membantai 41 orang. Sedangkan Harwati cuma
berdiam diri saja, malahan dia seperti tak punya perasaan, tidur mengaeletak, mendengar jerit
pekik penduduk yang panik itu. Malahan dia tertawa sembari tiduran, Ketika rumah nenek tua digeledah Nyi Kembar, lalu nenek tua itu berteriak, barulah Harwati dengan cekatan mengambil dua pedang Surandar dan menghambur menghantam pinggang Nyi Kembar. Dia mengamuk dahsyat. Nyi Kembar jungkir balik sekeluar dari rumah. Harwati mengejarnya dengan teriakan mengerikan. Dasa Laksana Buntung mencegatnya. Cambuknya menangkis pedang Surandar, dan membelit di gagang pedang itu, dan dengan mudah membuat Harwati terjungkir, Namun pedang itu tidak lepas, sekali lagi dia harus hadapi dua kepungan pendekar setan. Harwati menjerit lantang sebelum dua pedang diarahkan ke pada dua kepala lawan. Tetapi lawan sudah menghambur ke udara. Harwati menekankan pedang ke bumi, dan menyusul lawan ke udara. Di udara dia terkena tubrukan dan jatuh ke bumi, Begitu dahsyat jatuhnya sampai tubuhnya memblesek masuk tanah hingga dengkulnya. Dan dia tak bisa berkutik dengan pedangnya. Dua kali pedang itu dia tetakkan ke bumi, baru kemudian tubuhnya keluar bagai air muncrat bersama muncratnya tanah! KETIKA itu keadaan Harwati tetap saja sulit. Rupanya Dasa Laksana Buntung maupun Nyi Kembar menginginkan pedang Surandar yang sakti itu. Berkali-kali terjadi pergulatan di udara dengan kemampuan ilmu masing-masing.
Yang beruntung adalah Nyi Kembar. Dengan menipu Harwati agar lebih lama lagi bertempur di
udara, waktu Dasa Laksana Buntung gagal merebut pedang, Nyi Kembarlah yang merebutnya.
Dia jatuh di bumi menanti jatuhnya Harwati yang sudah siap akan ditebasnya. Namun ketika dia
akan ditebas sebuah keajaiban timbul. Seekor kuda menyeruduk dan seorang pendekar muda
loncat dari kuda dan merebut pedang di tangan Nyi Kembar.
Dasa Laksana Buntung berseru: “Hai, dia muridku!”
Dasa Laksana menjawab: “Anda pendekar buntung yang keji! Aku bukan muridmu Aku
musuhmu!”
“Pengkhianat!” teriak Dasa Laksana Buntung yang melompati tubuh Dasa Laksana. Dasa Laksana
tanpa ragu menebas pedang Surandar ditangannya. Si buntung berlumuran darah, dan ketika ia
berusaha mundur untuk lari, satu tebasan lagi muncul dari belakang, kali ini dari Harwati.
Dasa Laksana Buntung tersungkur. Dia sempat memaki: “Kamu mcngkhianati diriku”.
“Kamu mengotori kesucian persilatan!” bantah Dasa Laksana, yang dengan cekatan berbalik
menguakkan kaki menangkis terjangan Nyi Kembar.
Dasa Laksana yang buntung, yang hampir sekarat, masih juga berusaha menangkap kaki Dasa
Laksana muda… dan pendekar muda ini tersungkur lalu kepalanya ditendang oleh Nyi Kembar.
Tendangan itu jadi tidak ampuh sebab pung gung Nyi Kembar dihantam pedang Surandar di
tangan Harwati. Dasa Laksana bangkit. Dia melibat Dasa Laksana Buntung masih berusaha
berdiri, ialu disabetnya pedang itu tepat mengenai leher. Kepala si buntung itu terpisah dari
badan, dan kepala itu menggelinding.
Harwati tertawa terbahak. Tapi Nyi Kembar menyergap lengannya ketika itu, dan pedang
Surandar lepas karena cengkeraman tadi. Dasa Laksana, sang pendekar muda yang berubah
beringas, menghantamkan pedangnya pada Nyi Kembar, Pedang beradu pedang. Tapi Dasa
Laksana ingat keampuhan pedang itu, Ialu dia tetakkan ke bumi, sehingga ketika Nyi Kembar
mengayunkan pedang mau menebas, Dasa Laksana sudah mengudara. Ketika Nyi Kembar mau
menetakkan pedang ke bumi, sebuah sergapan kepak bangau menerpa bahunya, sehingga Nyi
Kembar tersungkur, jumpalitan, menabrak pohon rambutan dan pohon itu roboh bercerabut
bersama akarnya.
Makin seru terkena sergapan begitu, semakin tangguh tenaga dalam Nyi Kembar. Tiba-tiba saja
muncul tiga pendekar lagi. Dua orang Ki Kembar yang sudah mati, dan satu lagi Nyi Kembar
yang sudah mati!
Nyi Kembar dibantu oleh tiga sosok roh halus! Nyi Kembar berteriak pada Harwati dan Dasa
Laksana: “Nyawa kalian tinggal sejengkal. Serahkan pedang kembar Surandar itu! Itu milikku
yang syah, yang dirampas oleh Ki Tunggal Surya Mulih!”
“Kau berdusta”, ujar Harwati. Dasa Laksana yang tadi sangat buas, kelihatan mulai bergidik.
Harwati juga kebingungan menghadapi tambahan tiga sosok roh halus yang menjelma menjadi
raga mengerikan.
“Kalian berdua sudah diambang kematian”, ancam Nyi Kembar, “Ilmuku dibantu oleh ruh
suamiku dan ruh saudara kembarku beserta suaminya. Kini serahkan pedang Surandar itu
sebelum kalian mati konyo!”.
“Jangan!” tiba-tiba muncul suara dari semak-semak.
Dan muncullah Pita Loka dengan sebuah cambuk ditangannya. Ketika Nyi Kembar melompat,
sebelum melompat bahkan Pita Loka sudah tahu bahwa dia akan menyerang Harwati. Cambuk
asap itu menciptakan asap seketika itu juga, sebelum Nyi Kembar sampai ke sasaran, dan
Harwati sudah mengelak ke samping sehingga Nyi Kembar tersungkur mencium tanah.
Langsung saja tiga kali cambukan asap diarahkan Pita Loka pada tiga ruh pendekar setan, maka
terdengarlah teriakan disertai api yang mengudara. Di udara tampak tiga bola api mengerikan,
semakin jauh dan semakin jauh. Nyi Kembar tahu, bantuan ruh sudah gagal, dan dia buru-buru
melarikan diri memasuki semak dan menemukan pasukannya di sana . Tak lama kemudian Nyi
Kembar sudah melarikan diri bersama anak buahnya meninggalkan lembah itu. Bunyi telapak
kaki kuda semakin menjauh dan menjauh.
Dasa Laksana, yang merasa berhutang budi, menghampiri Pita Loka. Harwati melirik, lalu
meludah.
“Kepandaian anda melebihi Guru”, ujar Dasa Laksana.
Mendadak sebuah terjangan menghantam dada Pita Loka. Tapi Pita Loka cuma berdiri tegap, dan
Harwati yang menendang malah jungkir balik ke belakang. Dasa Laksana heran dan berseru:
“Jangan turutkan hawa nafsu anda!”
Kini Harwati menerjang Dasa Laksana dan merebut kembali pedangnya.
HARWATI sudah berdiri tegap dengan dua pedang Surandar. Pita Loka masih berdiri saja
memegang cambuk asapnya. Dasa Laksana kebingungan. Juga kuatir jika dua pendekar wanita
itu akan bertempur.
“Kuharap kalian berdua dapat menahan diri”, kata Dasa Laksana. Perkataan itu dijawab Harwati
dengan mengadu dua mata pedang Surandar yang menerbitkan kilatan api ketika pedang itu
bergerincing satu dengan lainnya.
Harwati ragu, pedangnya yang dia adu satu sama lain kemudian dia kembangkan keatas dan
berteriak: “Aku tidak gila!”
“Kau memang tidak gila”, ujar Dasa Laksana, “Kau cuma tidak bisa menggunakan akalmu”.
Hanya Pita Loka yang masih berdiam diri. Batinnya kasihan melihat tingkah dan perkataan
Harwati. Dia tergoda untuk merubah sikap. Dia ingat, bahwa alat penyembuh sakit gila Harwati
hanyalah Permata Hijau Solaiman. Tapi permata itu sudah dia buang ke udara dulu.
“Harwati, aku akan menyembuhkanmu. Tapi jangan ganggu perjalananku”, kata Pita Loka.
“Aku akan ikut anda, Pita Loka!” ujar Dasa Laksana.
“Tidak. Kau jagalah Harwati. Dia perlu dikasihani!”
“Aku tak perlu dijaga! Aku tak perlu dikasihanil” kata Harwati dan melihat Pita Loka berlalu.
Dengan beringas Harwati menatap ke mata dua pedangnya.
Dan dengan sekuat tenaga dia hantamkan dua mata pedangnva ke bumi. Dia mengudara, lalu
tiba lagi di bumi dalam keadaan mencegat langkah Pita Loka.
Pita Loka tenang dengan cambuk ditangannya. Lalu Dasa Laksana melompat cepat. Dia berdiri di
tengah-tengah. Dia berhadapan dengan Harwati, lalu berhadapan lagi dengan Pita Loka. Kepada
Pita Loka dia berkata: “Cepatlah cari obat penyembuh pendekar gila ini”.
Mendengar itu, dalam sekelebatan dua kali hantaman pedang Surandar menggebuk punggung
Dasa Laksana, yang mengaum dua kali terkena gebukan itu. Auman itu mirip auman harimau.
Hal ini membuat Harwati heran karena pedangnya tak mempan.
Padahal, pada detik itu di pedukuhan Ki Ca Hya, Ki Putih Kelabu juga mengaum dua kali karena
merasa terkena gebukan. Ki Ca Hya berkata: “Murid anda tersungkur, namun tidak luka dan
mati”. Dan memanglah Dasa Laksana tidak luka dan tidak mati. Tapi dia pingsan! Harwati sendiri
malah mengira pendekar muda itu mati.
Dia bertutut dan menangis: “Aku tak bermaksud untuk membunuhmu…”, lalu dia menoleh lagi
mau melihat Pita Loka, tetapi Pita Loka sudah tidak ada lagi.
“Kau tidak mati, kan ?” ujar Harwati ketika tubuh Dasa Laksana ditelentangkannya.
“Hei, kau tidak mati kan ?”
“Aku masih hidup”, ujar Dasa Laksana, seraya berdiri.
“Aku tidak gila, bukan?”
“Kau tidak gila. Kau begini cantik. Kau dapat menjadi pendekar yang waras asal saja kau sudi
menyisiri rambutmu”, kata Dasa Laksana.
Dengan mengucapkan kata-kata itu, sebetulnya Dasa Laksana bukanlah jatuh cinta. Jatuh
cintanya pertama kali hanya kepada Pita Loka, ketika dia melihat vvajah yang begitu jelita, sesuai
dengan yang diceritakan oleh guru pertamanya yang kini sudah mati terbunuh.
Lalu dia menoleh kepada gurunya yang menganut ilmu sesat itu. Punggung itu terbelah. Dan
kepalanya sudah tidak bersatu lagi dengan lehernya. Dasa Laksana terharu sejenak saja, agar
tidak tergelincir pada sifat cengeng.
“Maukah kau membantuku?” tanya Dasa Laksana pada Harwati.
“Untuk anda sebagai pujaan hati saya, saya akan siap sedia”.
“Bantu aku menguburkan puluhan mayat tak berdosa ini. Juga mayat bekas guruku yang
pertama”, ujar Dasa Laksana.
Dan bersama penduduk desa Meranti, dikuburlah 41 mayat penduduk dan juga mayat Dasa
Laksana Buntung. Saat 41 mayat penduduk dimakamkan, tangis dan ratap kedengaran.
Sehabis pemakaman, nenek tertua berkata: “Biarpun 41 jiwa sudah melayang, sebagai orang
tertua saya mengucapkan syukur pada Tuhan dan kalian berdua. Kukira, orang jahat akan masih
mengganggu ketentraman orang baik seperti kami. Kalian berdua orang baik. Apa salahnya
kalian berdua tinggal bermukim di desa kami ini. Sebagai suami isteri. Menyambung keturunan.
Sebagai pengawal hati kami agar kami tidak dikejar rasa takut”.
Harwati memandang pada Dasa Laksana. Dia berharap senyum. Dia berharap Dasa Laksana
menjawab harapan penduduk desa Meranti itu.
TAPI lain yang diharap, lain pula kenyataan. Dasa Laksana berbicara sangat hati-hati: “Kalau
memang sudah jodoh, tentu harapan Nenek menjadi kenvataan. Tetapi kami berdua sama-sama
pendekar. Kami berdua ibarat bersaudara. Saya sendiri masih akan meneruskan perjalanan.
Sebab Guru saya, Ki Putih Kelabu, memberi amanah agar saya kembali ke Kumayan. Kebetulan
memang saya akan mampir ke Meranti sini, menengok keadaan dia apakah sehat. Rupanya
terjadi malapetaka. Sehingga saya terlibat”.
“Jadi anda menolak permintaan Nenek?” tanya Harwati.
“Saya hanya menjelaskan adanya saya di sini”, kata Dasa Laksana.
“Kalau kau tidak cinta pada saya, kenapa tidak berterus terang saja? Saya malu! Saya malu!”
Pertemuan yang mestinya terjaga oleh keluhuran budi itu, lantas jadi berubah kacau. Harwati
meloncat ke tengah-tengah upacara itu dengan membabi buta lalu mengacu-acukan dua pedang
Surandarnya. Dan berteriak berkali-kali: “Aku benci padamu! Aku jijik padamu! Aku benci! Benci!
Benciiii!”
Dasa Laksana menghadap! hal ini dengan tenang. Dia mendekati kudanya. Lalu memegang tali
kendali kuda itu, menuntunnya dan berkata pada orang sedesa: “Maafkan saya. Karena saya
sekedar singgah. Selamat tinggal”.
Harwati geram, Dua pedang Surandar ditangannya, seakan siap akan menebas kepala Dasa
Laksana. Dengan teriak lantang dia ayunkan pedang itu ke kepala Dasa Laksana. Pedang itu
membal disertai suara aum harimau yang keluar dari mulut Dasa Laksana.
Dasa Laksana tersungkur, Serentak dengan itu, di pedukuhan Ki Ca Hya, Ki Putih Kelabu pun
tersungkur.
Dan Harwati semakin mengamuk! Dia tetakkan pedang Surandar ke bumi, dan tubuhnya
menghambur ke udara bersama pedangnya. Di udara dia mengadu dua mata pedangnya,
tampak cahaya api berkilat-kilat.
“Jika kamu pergi juga, nyawamu akan melayang”.
“Aku memikul amanat guruku. Pendekar takkan berubah pendirian”, kata Dasa Laksana. Bagai
kilat pedang Surandar dua-duanya akan memenggal leher Dasa Laksana, yang segera
menundukkan kepala menghindari. Tetapi, ketika itu pedang itu tetap memenggal leher, dan
leher itu putus… yaitu leher kuda itu.
Tubuh kuda itu menggelepar ketika leher itu putus. Dasa Laksana ingat pesan guru agar G
menjaga nafsu amarah. Dia tekan rasa dongkolnya, lain cepat menghambur melarikan diri
meninggalkan desa Meranti.
Dia terus berlari kencang menerobos semak belukar, mengibas penghalang, kadangkala jatuh
jumpalitan. Namun dia merasa harus lari dan harus lari. Makin jauh larinya, semakin kuat
tenaganya, kadang diseling oleh tenaga dalam ketika dia menerjang pohon besar dan pohon itu
roboh. Dalam pelarian itu, Dasa Laksana mendadak berhenti, karena merasa tersesat. Dia mendengar
dua orang sedang berbicara. Satu suara wanita, satu lagi suara pria.
“Ki Jengger. Saya ke sini untuk meminta maaf karena saya pernah menghina hadiah sakti dari
anda. Tuan tentu berkecil hati karena Intan Permata Hijau yang dapat menyembuhkan orang gila
itu saya buang”.
“Ananda Pita Loka jangan mengira itu hadiah dari saya. Sesuai pesan Ki Tunggal Surya Mulih
sebelum matinya, barang sakti itu memang milik anda,Anda membuangnya, itu hak anda!”
“Tapi Ki Jenger. Saya minta bantuan anda untuk mencarinya!”
“Itu milik anda, anakku. Anda harus mencarinya sendiri”. Lalu Ki Jengger bertanya: “Untuk apa
bagimu barang sakti itu lagi?”
“Untuk menyembuhkan Harwati”, kata Pita Loka.
“Suatu niat yang luhur. Nah, silahkan anda cari sendiri”, kata Ki Jengger.
“Saya sudah mencarinya di Tujuh Bukit Sakti. Mungkin ia ada di sini”, kata Pita Loka.
“Sudah pasti tidak. Tidak di sini”, kata Ki Jengger.
Pita Loka menarik nafas panjang. Dia lalu menghatur sembah dan berlalu dari situ. Tiba-tiba
Dasa Laksana membuntutinya dari belakang. Dasa Laksana berusaha mengejar lebih cepat,
namun sulit. Di tengah hutan belantara barulah dia berhasil mencegat. Pita Loka heran: “Kenapa
anda di sini?”
“Untuk mengawal tuan. Saya kuatir tuan dihalangi musuh. Ini sesuai dengan pesan ayahanda
tuan. Bahwa saya akan mendampingi anda, sebab beliau berkeinginan kita berdua melanjutkan
keturunan beliau”. Mata Pita Loka melotot. Dia berkata: “Tidak kau lihat mataku cuma satu? Tak sadar kau bahwa aku buta?”
MEMANG jika dilihat dengan sebelah mata, tubuh Dasa Laksana gagah dan tegap sekali.
Ketegapan itu memang mirip Gumara. Pita Loka lalu berkata dengan nada kasihan: “Aku hormati
kemauan kerasmu untuk mengawalku. Tapi saya sekarang tidak membutuhkan pengawalanmu”.
“Anda memang keras hati”, kata Dasa Laksana.
“Dunia kita sama. Mungkin ilmu kita sumbernya sama. Tapi jalan kita berbeda”, ujar Pita Loka.
“Apa arti hidup ini bagi anda? Pengasingan?” tanya Dasa Laksana.
“Pengasingan atau bukan, itu urusanku sendiri!”
“Tapi jawablah: Apa arti hidup ini bagi anda? Jawablah!” Pita Loka melirik, lagi-lagi dia kasihan
melihat pendekar tegap dan gagah sepertinya manusia lugu.
“Arti hidup ini bagi saya adalah menyesuaikan gerak dengan hati. Dan menyesuaikan ucapan
dengan hati”, ujar Pita Loka.
“Sungguh tinggi ilmu anda”, kata Dasa Laksana.
“Tidak ada ilmu yang tinggi bagi siapa yang ingin menuntut ilmu. Tapi kamu sudah mencoba
mengalami, sebagaimana semua pendekar mencoba mengalami. Sebaiknya kamu renungi”.
“Saya sudah merenungi. Keluh kesah ayah anda, Ki Putih Kelabu tentang diri anda, pun sudah
saya dengar. Saya tambah tidak mengerti, mengapa anda seperti orang yang mengasingkan diri?
Saya ingin mengawal anda, menemani, membantu anda dalam keadaan bagaimanapun! Tapi
anda menghindar. Apakah anda merasa saya ini lebih rendah?”
“Tak ada yang rendah dan tak ada yang tinggi”, kata Pita Loka. Dasa Laksana merasa diberi
harapan. Lalu berkata: “Nah. semua sudah sesuai”.
“Sesuai? Sesuai berarti berimbang!” bantah Pita Loka.
“Maksud anda saya tidak dapat mengimbangi anda?” tanya Dasa Laksana.
“Kamu salah faham. Yang saya maksud seimbang adalah apabila apa yang dihati kamu, ada
dalam hati saya. Apa yang ada dihati saya, ada dihati kamu? Nah kalau belum faham juga apa
yang ada dihati kamu, tidak ada dihati saya. Mengerti kau?”
Mendengar itu Dasa Laksana terperangah. Tapi dia juga bukan pendekar sembarangan. Karena
ketabahannya dan keras hati dia bertekuk lutut, berguru pada Ki Putih Kelabu.
“Sebelum ayahanda tuan — Ki Putih Kelabu — memberi bayangan bahwa saya digemblengnya
untuk menjadi menantunya, saya sendiri sudah jatuh cinta pada tuan, pendekar Pita Loka yang
terhormat!”
“Cinta?” Pita Loka tersenyum geli.
“Ya”.
“Kamu mencintai saya?”
“Ya, saya mencintaimu, Pita Loka!”
“Apa kamu tidak salah alamat?”
“Tidak salah alamat, pendekar! “
“Mungkin salah…” Dasa Laksana justru tambah bersemangat: “Jika Guru sudah memberikan
fatwa bahwa anaknya akan dijodohkannya kepadaku, apa itu salah alamat?”
Pita Loka tertawa runyam. Lalu berkata: “Darimana ayahku Ki putih Kelabu dapat menerka masa
depanku sedangkan beliau bukan ahli ramal?”
“Dari Kitab Tujuh”, ujar Dasa Laksana.
“Apa kata ramalan itu?”
“Saya hanya diberi kesempatan membaca sebagian. Dan disitu saya baca, satu kalimat samar-
samar, bahwa pendekar tempat menyan menyebar bau sa”at matahari terbenam yang
janggutnya putih kelabu, suatu saat akan mendapatkan puteri yang berguru pada ahli silsilah dan
sejarah, dan calon suaminya adalah pendatang dari negeri jauh. Bukankah saya ini pendatang?”
“Pendatang itu ada dua. Sebagaimana Kitab Tujuh pun ada dua, yang satu palsu. Pendatang
pertama adalah guru saya, Guru Gumara, dan pendatang lainnya adalah kamu.Kamu tinggal
terka saja, hati saya pada kamu atau pada Guru Gumara”.
Dasa Laksana terperanjak. Dia jadi gugup. Dia heran dan bertanya: “Jadi anda masih mencintai
Gumara?”
“Cinta saya cuma satu kali”, kata Pita Loka.
“Jika Guru Gumara tidak mencintai anda?”
“Cinta saya tetap satu kali” kata Pita Loka tegas.
“Itukah sebabnya anda tak membutuhkan bantuan saya?”
“Sudah kamu jawab sendiri, bukan? Nah, jangan buntuti saya lagi”, ujar Pita Loka yang dengan
lugas melangkah meninggalkan Dasa Laksana.
Buyarlah perasaan dan pikiran Dasa Laksana seketika itu juga. Dia yang dinilai jujur oleh
gurunya, mendadak ingin membelot.
TETAPI andaikata membelot ini dia lakukan, ini berarti dia mengkhianati Guru. Pembelotan
adalah perbuatan keji. Yang terbaik adalah menanam budi. Lalu dia putuskan akan membuntuti
terus perjalanan Pita Loka, kemana pun! Ketika perjalanan Pita Loka sampai ke pancuran Guha Duri, terbitlah perasaan birahi Dasa Laksana. Tapi lalu budi suci seorang pendekar menerangi otaknya, dan segera dibuangnya muka sewaktu Pita Loka menanggalkan pakaian. Memang ada kolam yang membuat Pita Loka
menikmati air yang bersih itu santai berenang. Sehingga ia lupa bahwa senjatanya, cambuk
asap, ditaruh begitu saja di atas daunan pohon kaca piring.
Hati Dasa Laksana tergoda seketika. Dia sudah lolos membuang muka agar ilmunya tak kotor,
tapi kini dia terperangkap lagi untuk mencuri senjata sakti itu.
Untunglah sinar kesucian pendekar menerangi lagi otaknya. Kemudian dia telungkupkan
tubuhnya diantara rumputan. Sampai tak sadar, karena lelah, dia ketiduran.
Setelah Pita Loka berpakaian kembali, dia merasa haus senja itu. Dia panjat pohon kelapa. Dia
ambil sebutir kelapa hijau. Lalu dipukulkannya sisi telapak tangannya hingga kelapa itu terbelah.
Diminumnya airnya dan dinikmatinya dagingnya.
Belahan kelapa itu kemudian dia buang ke satu tempat. Dari tempat itu tampak sosok berdiri.
“Hai, kau lagi!” seru Pita Loka seraya ketawa.
“Aku membuntutimu”.
“O, apa kau tak punya pekerjaan lain?”
“Memang ada pekerjaan lain. Tapi aku kuatir anda diganggu dan membutuhkan bantuan”.
“Hah, sudahlah. Kau kerjakan pekerjaan lain saja. Percuma kau buntuti aku terus”.
“Aku mencintai anda, Pendekar Cantik”.
“Kau harus menyebutku Pendekar Buta”
“Biarpun anda buta dua-duanya, anda tetap cantik!” ujar Dasa Laksana.
“Harusnya kau berteman dengan Harwati. Sama-sama gilanya”, ujar Pita Loka.
Ditatapnya mata Dasa Laksana dengan tatapan tegas lalu berkata; “Jangan kau buntuti
perjalananku lagi”.
Dasa Laksana gemetar. Dia berdiri kaku kayak patung. Terpelongo sementara itu Pita Loka
melecutkan cambuknya. Asap menebar ke sekeliling. Dan tidak tampak lagi kemana arah
perginya Pita Loka dimata Dasa Laksana.
Kali ini Dasa Laksana terhempas. Dia tidak putus asa, karena sikap putus asa adalah
pantangannya para pendekar. Dia kesal dan jengkel. Karena itu dia terjang sebuah pohon jambu
mete yang rendah sehingga tumbang. Dia belum puas lagi! Dia seruduk sebuah pohon karangani
yang berdaun lebat dan batangnya ramping, Pohon itu roboh pula! Lalu karena kejengkelannya
belum habis, dia melakukan jurus putar gasing sehingga semua pohonan kecil rebah dan roboh,
sedang yang ditujunya sasaran terakhir adalah pohon pucung yang tinggi tegap itu: Bagai
harimau melompat mau menerjang sasaran, Dasa Laksana mendaratnya serentak telapak kaki
maupun telapak tangannya.
Jelengurrr…. Pohon pucung itu tumbang dengan akarnya tercerabut, bagai runtuhnya sebuah
tebing.
Tubuh Dasa Laksana sendiri terlempar ke pucuk pohon pucung itu yang sudah mencium tanah. Diantara daun-daunan pucuk yang agak rimbun itu, tubuh Dasa Laksana tergeletak. Tergeletak tak bergerak lagi. Ya, dia bukannya mati. Tapi dia pingsan. Begitu meluap jengkelnya, sehingga tenaga yang merobohkan pohon pucung itu adalah puncak tenaga dari seluruh ilmu silat yang dimilikinya. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Barulah Dasa Laksana sadar dari pingsannya terkena hujan yang membasahi tubuhnya. Tapi dia tidak menyingkir. Dia tergeletak menelentang, dengan kedua tangan melebar dan membiarkan tubuhnya basah kuyup
bermandikan hujan.
Setelah puas, baru dia berdiri. Dia melangkah sempoyongan di tengah hujan lebat itu. Dia terus
melangkah tanpa peduli kearah timur. Dia tembus hutan belantara yang lebat dalam hujan yang
lebat. Anehnya, binatang-binatang buas bukan menerkamnya. Mereka malahan menyingkir
seakan-akan melihat “raja hutan” sedang lewat basah kuyup.
Kemudian sampailah Dasa Laksana dalam keadaan masih basah kuyup itu ke sebuah gerbang
desa. Gerbang itu putih bersih. Ini pertanda bahwa desa ini dimukimi oleh orang baik-balk. la
melangkah terus, kemudian berteduh di sebuah warung. Dibukanya cincin emasnya, dan dia berkata pada penjaga warung: “Ini kekayaanku. Tukarkan dengan makanan dan minuman tuak”. CINCIN emas yang diberikan Dasa Laksana itu ditolak. Ujar penjaga warung itu: “Kami di desa ini tidak biasa menambah kesusahan orang yang menderita”. “Apa nama desa ini?” tanya Dasa Laksana.
“Desa Tulus, tuan. Apa tuan pendekar pengembara?” tanya penjaga warung itu.
“Ya. Saya sedang melacak jejak seorang pendekar”.
“Pendekar jahat?” tanya penjaga warung. la menuangkan tuak ke mangkuk batok kelapa yang
berukir. Dasa Laksana menenggak minuman itu, lalu menjawab: “Dia pendekar baik. Seorang
gadis cantik dengan senjata cambuk”.
“O, dia itu. Saya melihatnya memasuki Biara Putih”, ujarnya. Mendengar ujar itu, Dasa Laksana
tak jadi meneguk lagi.
“Engkau yakin?”
“Saya yakin. Karena kami disini mengenalnya”, kata penjaga warung itu.
“Kalau kau memang mengenalnya, coba sebutkan namanya”.
“Pendekar Pita Loka”, sahutnya. Lega rasanya dada Dasa Laksana. Kalaulah dia tidak lapar dan
haus, kalaulah tidak pula hujan lebat, mau rasanya dia ke Biara Putih itu.
Setelah menenggak tuak semangkok lagi, dia bertanya:
“Siapa Ketua desa ini?”
“ Rama Yogi”, sahut orang itu.
“Nama itu pernah kudengar dari Guruku. Beliau ahli tenaga dalam. Beliau menguasai ilmu Silat
Delapan Bayangan. Betul dia?” tanya Dasa Laksana.
“Tuan betul. Tapi sekarang ini beliau masih mati suri”.
“Mati suri?” Dasa Laksana ternganga. Karena mati suri adalah bagian dari kelanjutan persilatan
tingkat tinggi. Artinya, seorang pendekar yang baik akan selalu mengalaminya dan ketika setelah
mengalaminya seluruh gerak dan jurus persilatannya hanyalah “diam”.
“Kalau begitu aku akan makan dan menghabiskan minumanku dulu”, ujar Dasa Laksana, yang
langsung makan lahap dengan diseling minum tuak. Dia kemudian sudah memasuki Biara Putih
itu. Sepi sekali. Cuma seorang pemuda remaja berkepala botak yang menyambutnya.
“Tuan ingin menemui siapa?” tanya si botak.
“Saya akan menemui tamu yang menjenguk Ketua”, Kata Dasa Laksana.
“Maksud tuan menemui Pendekar Pita Loka?” tanya si botak.
“Betul”.
“Sayang beliau tidak dapat ditemui. Beliau sedang bersemedhi, mengobati Ketua kami agar
segra hidup kembali.Maksud saya, sadar dari mati surinya”.

“Lho, pendekar itu bisa mengobati?” tanya Dasa Laksana.
“Dia sekedar mencoba mengobati. Dengan arus tenaga dalamnya yang di pindahkan. Tiap beliau
lewat disini, usaha itu selalu dicobanya”, kata si botak.
Makin jelas bagi Dasa Laksana, bahwa ilmu Pita Loka sudah begitu tinggi. Kobaran asmara
semakin membakar diri pendekar muda itu. Oleh gejolak itu pulalah dia masuk sewaktu si botak
berlalu. Dia masuk saja. Tapi rupanya konsentrasi Pita Loka sudah demikian hebat, sehingga dia
tidak mendengar sedikitpun langkah masuknya Dasa Laksana,
Dasa Laksana duduk bersila dibelakang pendekar wanita itu. Mendadak sontak, perhatian Dasa
Laksana bercabang. Telinganya yang tajam mendengar suara geduru telapak kaki kuda. Dia
tempelkan daun telinganya ke lantai marmer ruangan itu. Makin jelas!
Mata Dasa Laksana segera terbumbuk pada cambuk sakti yang ditaruh dilantai, diujung dengkul
Pita Loka. Segera dia samber cambuk itu. Dia menghambur meninggalkan ruangan itu, dan langsung keluar Biara! Konsentrasi Pita Loka secemilpun tak berubah! Dasa Laksana meredakan penduduk desa yang
mulai kacau balau. Mereka mulai menjerit ketakutan setelah mendengar suara teriak-teriak
pasukan penyerbu berkuda yang sudah diambang pintu desa.
Melihat senjata kayu bulat sejenis toya yang diacu-acukan pasukan berkuda itu, Dasa Laksana
tahu, ini adalah gerombolan pendekar setan yang dipimpin oleh Nyi Kembar! Pasti!
Pasukan itu tak berani melewati pintu gerbang setelah Dasa Laksana melecutkan cambuk sakti
ditangan kanannya. Asap mengepul. Dan Dasa Laksana mengancam: “Ini baru senjatanya yang
menghadang kalian. Belum lagi orangnya. Sebaiknya kalian pergi”.
“Bunuh dia!” teriak Nyi Kembar dari atas kudanya,
“Rebut senjatanya”.
Lima pendekar setan dengan tongkat bulat langsung meloncat mengepung Dasa Laksana. Dasa
Laksana menggunakan tangkisan-tangkisan, dan sekali-sekali melecut cambuk dan asap pun
mengepul. Namun dia kuwalahan.
DASA LAKSANA tambah terdesak. Dalam keadaan terdesak itu, satu sabetan toya dari atas kuda
tepat mengenai siku tangan kanan Dasa sehingga cambuk sakti itu terlepas. Begitu melihat
cambuk itu terlepas, Nyi Kembar meloncat dari punggung kuda, bagai terbang, menyambar
cambuk itu, Cambuk itu sudah berada di tangan Nyi Kembar sekarang. Ditangan kirinya kini
senjata toya! Ketika itulah Pita Loka tersentak dari semedhinya pula! Dasa Laksana mengamuk untuk merebut kembali cambuk itu. Satu tendangan kaki disertai pukulan toya tangan kiri Nyi Kembar, membuat
Dasa Laksana terpelanting dan berputar bagai gasing. Dia sempat memanfaatkan putarannya
untuk menerjang empat anak buah Nyi Kembar hingga keempat-empatnya menggelepar berpusing debu.
Tapi Nyi Kembar lalu berseru: “Cepat pergi dari sini! Senjata ini lebih utama dari nyawa Dasa
Laksana!” Ketika Nyi Kembar memutar kudanya untuk meninggalkan pintu gerbang Desa Tulus, sebanyak
23 orang anak buahnya yang selamat pun memutar haluan kudanya. Kuda-kuda itu meringkik
karena dipaksa putar haluan. Kaki-kaki depan kuda itu mencuat terangkat keatas.
Tiba-tiba ketika kuda siap dipacu dan komando akan diucapkan, terdengar bagai guntur suara
menghadang:
“Lewati dulu mayatku sebelum kalian kembali ke Bukit Kembar”.
“Ki Harwati„.l” Nyi Kembar berkata gugup. Nyi Kembar melecutkan cambuk sakti itu agar dia
dilindungi tabir asap. Tapi cambuk itu berbunyi bagai petir namun tidak mengeluarkan asap.
Dalam kegugupan itu Harwati menghambur ke udara dengan dua pedang Surandar berkilat.
Pedang itu memenggal leher satu demi satu anak buah Nyi Kembar. Kepala-kepala itu secara
fantastis bergelindingan ditanah disaput debu. Dan Nyi Kembar tambah kebingungan. Lebih
bingung lagi setelah dia mau menghindar pedang malahan jatuh dari kuda. Cambuk itu
dipecutnya lagi! Tapi asap tidak keluar.
Dia tak tahu, dipintu gerbang dengan tegak tegap Pita Loka mengirimkan arus dingin ke cambuk
miliknya agar asap tak muncul. Harwati cepat melompat jumpalitan seraya menebas satu demi
satu leher lawannya, dengan tebasan tangan kiri dan tangan kanan, Darah mancur dari-tiap leher
yang terpenggal. Nyi Kembar mendengar teriakan dari sisa anak buahnya yang menjadi panik:
“lbu…tolong saya!”
Nyi Kembar melihat anaknya yang remaja, dua orang, Putera Puteri Kembar dalam keadaan
gawat disiksa oleh Dasa Laksana dengan tendangan jurus gasingnya. Melihat anaknya kejepit
dan terancam gawat, Nyi Kembar menghambur ke udara seraya memecutkan cambuknya. Ketika
itu Harwati nrenetakkan dua mata pedang Surandarnya ke bumi, dan dia menyusul menghambur
di udara dan ketika itu pulalah dua tangan Nyi Kembar disabet oleh dua pedang Surandar itu,
pontong seketika! Cambuk sakti itu jatuh ke bumi, dan terciptalah asap tebal yang sebelumnya
didahului bunyi macam petir.
Kini Harwati harus bertempur dengan Nyi Kembar dalam gelap asap. Dia berhati-hati memasang
telinga. Disinilah terjadi puncak adu tajam rasa, Nyi Kembar dengan dua tangannya yang
buntung terpenggal, tentulah berusaha menyelamatkan diri.
Ketika tiba-tiba dia dengar: “Jangan lari!”, tau-tau Harwati sudah berdiri dihadapannya. Harwati
dengan geram diantara tabir asap berkata: “Kini giliranmu dibunuh setelah kamu puas
membunuh”, dan dengan dua kelebatan kilat pedang, kepala Nyi Kembar lepas dari lehernya,
lantas dia roboh…
“Jangan bunuh anak-anak remaja itu”, kata Harwati kepada Dasa Laksana yang siap mengayunkan dua gebrakan pukulan sisi lengan pada leher dua putera puteri remaja itu. “Pendekar yang membunuh remaja dikutuk Kerajaan Langit!” seru Harwati lagi. Lalu Harwati menuntun kuda dan menghampiri Putera Puteri Kembar, anak kandung Nyi Kembar dan Nyi Kembar.
Dua remaja itu naik ke punggung kuda itu. Lalu Harwati menyepak pantat kuda itu dan dua
remaja putera puteri itu pun hilang dalam kekaburan tirai asap yang belum sirna.
Tak ada lagi yang bersisa. Seluruhnya mati, kecuali dua remaja yang diperkenankan pergi itu. Dasa Laksana menghela nafas dalam-dalam. Dia mencari-cari cambuk yang tadi jatuh, Tetapi cambuk itu sudah ditangan Pita Loka yang masih berdiri tegak. Harwati menatap Pita Loka. Pita Loka pun menatap Harwati.
Harwati melakukan permainan dua pedang dengan bunyi gemerincing yang menimbulkan api. Tiba-tiba dia mendengar suara pekik Pita Loka: “Berhenti main silat gila itu!” MENDENGAR teriak itu, Harwati berhenti bermain pedang. Dia berdiri tegak dengan sikap berang. “Siapa kau sebenarnya yang berani-berani mencegah sukacitaku?” “Kesini kau!”
“Untuk apa?” tanya Harwati angkuh seraya mengadu dua pedangnya.
“Aku akan menyembuhkan sakit gilamu!” seru Pita Loka.
“Aku tidak butuh pertolonganmu! Aku lebih unggul dari kau!” Harwati menetakkan dua
pedangnya ke bumi, sehingga dia membal ke udara dan ingin mendarat di bahu Pita Loka. Pita
Loka cuma memutar badan sedikit agar tak terkena sentuhan kaki lawannya.
Mereka berhadapan dalam jarak dekat. Harwati melempar pandang menghina: “Mukamu buruk! Matamu buta satu!” Pita Loka tetap tenang seraya semakin mengatur nafas longgar, longgar, dan longgar. Hal ini dirasakan arusnya oleh Harwati, Sehingga dia seperti merasa terkena arus listrik dalam jarak dekat itu, maka dia menjauh dan menjauh, Dalam jarak lima meter dia memaki: “Ayoh serang aku dengan cambuk
asapmu itu!”
Pita Loka diam. Harwati tambah sesumbar berteriak:
“Ayohhhh!” Pita Loka tetap tegak berdiri. Dan Dasa Laksana, dalam keadaan ngeri, mulai
mengangsur langkah mendekati Pita Loka.
“Lelaki gagah! Kau tolol mencintai orang buta sebelah!” hina Harwati setelah melihat Dasa
Laksana berdiri didekat Pita Loka.
Harwati memperlihatkan permainan silat gila kembali. Dia menghambur ke udara, menebas
pucuk-pucuk pohon kelapa dengan pedangnya, mendarat ditanah dan menetakkan dua mata
pedangnya sehingga dia membal lagi, Pita Loka hanya berdiri tegak.
“Biarkan dia, Ki Pita Loka”, ujar Dasa Laksana.
“Kau tak punya belas kasihan. Kau cegahlah dia main gila terus begitu! Mana sifat ksatria
jantanmu, he murid ayahku?” tanya Pita Loka.
Dasa Laksana menjawab: “Kalau aku mencegahnya berarti aku kasihan padanya. Aku kuatir dia
mengira aku mencintainya!”
“Jadi siapa lagi yang bisa kau cintai, pendekar muda?” tanya Pita Loka.
“Saya hanya mencintai tuan”, ujar Dasa Laksana.
“Cis, aku benci mendengarnya”, lalu Pita Loka berbalik masuk gerbang menuju Kuil Putih.
Dasa Laksana terpengaruh oleh anjuran Pita Loka tadi. Dia jengkel melihat tingkah polah Harwati
yang tambah edan itu. Banyak pucuk pohon kepala menjadi gundul karena tebasan pedangnya.
“Berhentiiiii!” teriak Dasa Laksana. Dalam kegilaannya diudara itu, mendengar suara Dasa
Laksana menyuruhnya berhenti, Harwati melayang ke arah Dasa Laksana berdiri, lalu jatuh
ditanah dihadapannya!
Bukan jatuh. Tapi ambruk. Kehabisan tenaga. Dengan nafas terengah-engah Harwati berkata:
“Itulah sukacita yang kunantikan. Tolonglah aku! Gendonglah aku!”
“Kau bisa jalan!”
“Gendonglah aku! Beri aku minum! Aku Haus! Beri aku makan! Aku lapar. Kasihanilah aku!
Cintailah aku!”, suaranya serak. Keringatnya berleleran. Dasa Laksana menoleh pada tubuh yang
menggeletak diujung kakinya. Tampak Harwati mendongak minta dikasihani. Airmatanya
mengalir. Nafasnya sesak. Namun Dasa Laksana bertahan untuk tidak sudi menggendongnya.
“Pita Lokaaaaaa!” teriak Harwati serak. Namun suaranya tak terdengar. Pita Loka sudah kembali
bersila didepan tubuh Rama Yogi yang telentang diatas ranjang berukir dalam keadaan mati suri itu.
“Sampai hati kamu dua kali menyakiti hatiku, Pita Lokaaaa!” dia berteriak serak dihadapan Dasa
Laksana.
“Dua kali…”, suaranya tambah serak, nafasnya semakin sesak dan Dasa Laksana yang tetap
tegak tiba-tiba kaget melihat Harwati terjengkang menggeletak.
Dia dalam keadaan pingsan. Barulah Dasa Laksana menggendong pendekar gila yang pingsan
itu. Barulah dia bawa tubuh merana itu ke warung. Dan berkata pada pemilik warung: “Ini cincin
emasku. Sirami kepalanya dengan air dingin yang bersih. Kalau dia sadar, beri dia minum air
kendi lebih dulu. Kalau dia minta tuak, baru beri. Kemudian beri dia makan. Aku akan
menguburkan mayat-mayat itu!”
“Tuan pendekar lupa. Ini cincin tuan, karena kami lebih suka menolong daripada menodong,
Untuk itu tak perlu uang dan cincin emas”, ujar si pemilik warung. Dasa Laksana malu, minta
maaf, lalu mengubur mayat-mayat.
KETIKA Dasa Laksana selesai menguburkan mayat-mayat itu, dia kembali ke warung bersama
penduduk Desa Tulus yang membantunya. Didapatinya Harwati masih dalam keadaan pingsan.
Dia sendiri disuguhi minuman tuak bersama beberapa orang tadi.
Belum selesai dia minum tuak dua mangkok, Harwati sadarkan dirinya. Dia kelihatan begitu Ietih
dengan nada suara minta dikasihani: “Aku lapar dan aku haus. Beri aku makanan. Beri aku
minuman”.
Harwati duduk, dan seketika itu juga mangkok-mangkok batok yang belum diminum bahkan
yang bersisa milik orang lain dalam sekelebatan disamber oleh Harwati dan dia menegak
minuman itu semuanya, termasuk yang punya Dasa Laksana, sampai tetesan terakhir.
“Tak ada makanan?” tanya Harwati, “Aku lapar! Laparl” Lalu Harwati melihat dengan jelalatan
pemilik warung memindahkan nasi dari kukusan ke cembung nesi.
Dia tidak sabaran lagi. Dia langsung melompat dan merebut kukusan dan cembung nasi. Dan dia
sikat habis nasi yang dicembung maupun yang dikukusan.
“Kau telah membuat malu para pendekar”, kata Dasa Laksana.
“Aku?” Harwati keheranan.
“Mestinya kau bertindak sopan santun. Penduduk desa Tulus ini punya kehalusan budi”.
“Aku haus. Aku lapar. Kamu marah? Kamu tidak senang? Kalau tidak senang mari keluar dan
tunjukkan ilmumu!” suaranya lantang, menggentarkan.
“llmumu tinggi! Tapi kesopananmu rendah”, ujar Dasa Laksana.
“Itu karena anda sudah memiliki gadis manis perkasa Pita loka itu. Apa kurangku dari pendekar
buta itu, ha? Apa kurangku?” tantang Harwati.
“Bedanya dia memiliki sifat kewanitaan. Dan kau lebih jantan dari pendekar pria. Perbedaan
kecil, namun menentukan”, kata Dasa Laksana. Karena terhina begitu, Harwati anehnya bukan
marah kepada Dasa Laksana, tapi kejengkelannya larut lagi kepada Pita Loka.
Dia gebrak meja! Dia bentak penjaga warung: “Hai! Kamu jadi saksi! Panggil pendekar Pita Loka
sekarangjuga! Aku akan mengamuk!” Penjaga warung itu ketakutan. Harwati menggebrak meja
lagi! Penjaga warung makin menggigil.
Harwati membentak: “Mana dia! Mana dia, kataku! Kamu tidak melihat dia, ha? Kamu mau
menyembunyikan dia? Apa kamu akan saya tebas dengan pedang ini, ha?”
Harwati mengacukan pedangnya. Karena orang itu semakin ketakutan, seakan-akan
menyembunyikan sesuatu, Harwati menempelkan pedang itu ke leher penjaga warung itu:
“Ayoh, katakan dimana dia!”
“Dia….dia…di Kuil Putih!” kata orang itu dengan napas sesak.
“O, disana dia ya?” kata Harwati dengan senyum sinis.
Lirikan matanya yang liar itu kemudian menatapi seorang demi seorang yang ketakutan di
warung itu, termasuk Dasa Laksana. Dasa Laksana bukannya takut pada Harwati. Tapi dia kuatir
kalau pedang itu menggesek leher orang itu si leher bisa putus!
“Sabarlah!” kata Dasa Laksana.
“Apa? Sabar? Kamu kuatir aku akan menebas leher kekasihmu itu, ha?” bentak Harwati dengan
nada beringas.
“Kau sudah merupakan pendekar besar. Tak ada yang mengalahkanmu di kawasan manapun.
Kau sudah habisi pula nyawa pendekar Nyi Kembar”, kata Dasa sengaja meneduhkan suasana.
“Memang nyawa Nyi Kembar sudah aku habisi. Kini nyawa Pita Loka yang perlu aku habisi”, kata
Harwati garang.
Dia gebrak meja itu lagi, sehingga mangkok-mangkok jadi buyar. Dia bersuara lantang: “Ayoh,
panggil pendekar buta Pita Loka sekarang juga! Aku sudah haus darah!Akan aku habisi
nyawanya!”
Justru ketika suara lantang itu menggema, Pita Loka sedang lewat tak jauh dari warung itu,
barusan keluar dari Biara Putih.
Langkahnya terhenti. Dan dia dengar lagi suara lantang dari warung itu: “Panggil Pita Loka
sekarang, kalau tidak leher kalian akan aku tebas!”
Pita Loka dengan nada agung menjawab: “Akulah Pita Loka”. Harwati meloncat keluar dari
warung dengan dua pedang ditangan kiri dan kanan. Dia adu dua mata pedang itu dan
bersesumbar:
“Aku akan habisi nyawamu, Pita Loka!”
“Jangan terburu nafsu!”
“Aku kini amat bernafsu!” Pita Loka tenang. Harwati maju beberapa langkah. Penduduk desa
bukannya menonton, tapi bertarian masuk rumah dan mengunci pintu,
PITA LOKA menjaga jarak. Dia berdiri tegak seakan-akan tidak akan melawan. Tetapi dengan
tenaga dalamnya, Pita Loka membakar pemafasannya dengan perlahan, lalu melalui kedua liang
hidungnya dia kirim arus api suci sampai jarak tempat berdirinya Harwati, Harwati merasakan
arus panas itu. Dia mundur selangkah, tetapi tetap menggertak dengan dua pedang
Surandarnya. Bunyi gerincing pedang memekakkan telinga ketika dua pedang itu diadu secara
mahir dan cepat.
“Ayo maju kau, bajingan!” teriak Harwati.
“Sebaiknya kau yang maju karena kau yang menantang!” Harwati jadi panas hati. Dia mainkan
pedangnya lagi, lalu dengan cekatan dia hantamkan mata pedangnya ke bumi dan memballah
dia ke udara dengan suara teriakan dahsyat.
Tetapi Pita Loka cuma mengikuti tubuh perkasa yang ke udara itu dengan saluran arus api
sucinya, sehingga ketika Harwati terjun dia berteriak: “Aduhhhhl” lalu mengalihkan loncatannya
mundur ke belakang. Tapi tanpa dia ketahui sebagian dari bajunya sudah terkena api. Lalu dia
berlompatan kesakitan kian kemari sampai api yang membakar pakaiannya itu padam.
la belum puas. la maju beberapa langkah.
Pita Loka menyiapkan cambuknya. Kali ini dia menghentikan saluran arus api sucinya. Dia biarkan
sampai Harwati mendekat sampai pada jarak lima meter, baru dia sabet cambuknya yang
seketika mengeluarkan asap. Agaknya sikapnya ini tidak ingin adu kekuatan secara langsung. Dia
sepertinya tahu kelebihan ilmunya serta kelemahan ilmu Harwati. Mungkin dalam diri pendekar
ini ada sikap kasihan oleh ketinggian budinya. Harwati seperti mencari-cari diantara gumpalan
asap itu dimana lawannya. Lalu dia kesal dan melakukan amukan pedangnya secara membabi
buta. Pita Loka cuma berpindah-pindah tempat sedikit-sedikit saja. Tapi pada satu saat secara
mendadak wajah Pita Loka sudah berhadapan dengan wajah Harwati dalam beberapa inci saja.
Harwati melotot kaget. Pita Loka kini perlahan mengirim arus api suci, sampai Harwati berteriak
lalu menetakkan dua pedang ke bumi dan tubuhnya membal ke udara, dan pemandangan
sekeliling gelap karena muka merasa terbakar, sampai kemudian dia ambruk diatas bubungan
atap kuil putih dan berguling-gulingan diatap kuil itu kian kemari seraya menjerit-jerit. Pita Loka
cepat melompat keatas bubungan. Dia usap muka Harwati seketika itu juga, sampai kemudian
Harwati merasa kehilangan rasa sakitnya. Laki membuka mata. Tapi begitu matanya dia buka,
dia yang mengira Dasa Laksana yang membelai mukanya tadi lalu melihat Pita Loka. Dua
pedangnya dia ayunkan, tertangkis oleh cambuk yang mengeluarkan asap, dan Pita Loka sudah
jatuh dipermukaan tanah dengan lompatan mundur.
Memang bagi Pita Loka, sabetan pedang tadi merupakan kejutan. Hingga ketika dia jatuh dibumi
betul-betul dia kurang menguasai diri dan posisinya tidak menguntungkan ketika itu untuk segera
bangun. Padahal Harwati dengan buas sudah melompat ke bawah dengan acuan pedang
Surandar kiri kanan untuk memenggal leher Pita Loka. Tapi reaksi Pita Loka justru menjelang
lehernya terkena pedang sudah menelungkup sehingga punggungnya yang terkena. Ketika itulah
Pita Loka mengaum dahsyat bagai auman harimau. Tapi cuma aumannya saja yang berbunyi
bagai aum harimau. Pita Loka sudah berdiri tapi dia membuang cambuknya ke samping. Jari-jari
tangannya mulai mempersiapkan satu jurus harimau siap menerkam. Kemudian dia melingkari
langkah bagai harimau siap mengepung musuh. Harwati kebingungan dengan dua pedangnya.
Sehingga ketika dia kebingungan itu, Pita Loka sudah menghambur menerkam bahu Harwati,
dua-duanya, yang…menyebabkan Harwati pun mendadak mengaum dahsyat dengan suara
auman harimau pula. Pedang Surandar dua-duanya entah kemana. Dia tidak menyadari diri lagi
bahwa dia melayani permainan silat Pita Loka sebagai seekor harimau pula. Keduanya sama-
sama mengaum dan bergumulan. Keduanya kadang saling terlepas satu dengan lainnya.
Keduanya saling melangkah dalam jurus permainan yang hampir mirip. Yaitu lingkaran jurus
jarum jam, yang putarannya satu sama lain berlawanan arah.
Penduduk Desa Tulus yang kecut cuma dapat mengintip keheranan. Tapi Dasa Laksana malah
tegang lalu keluar warung dan berteriak: “Jangan teruskan pertempuran! Kalian berdua satu
gurul”
Tetapi agaknva dua pendekar itu sudah berkonsentrasi penuh, hingga tak mendengar suara
cegahan Dasa Laksana.
Dua pendekar dengan silat jurus harimau itupun sama berhati-hati. Tetapi bagai dua jarum jam
yang bertentangan arah itupun pada akhirnya sama ketemu arah dan dua-duanya melompat
dengan auman sama saling bertubrukan tubuh tetapi cakar yang satu tak mengenai cakar yang
lain karena sudah terlempar kebelakang waktu bertubrukan tubuh…
PERTARUNGAN tanpa senjata itu berlangsung terus hingga matahari terbenam. Tenaga yang
betapapun ampuhnya selama berjam-jam itu sudah terkuras. Sampai ketika hujan deras turun,
kedua pendekar itu masih saja bertarung laksana dua ekor harimau lapar.
Ketika Harwati terhuyung-huyung man melompati Pita Loka, dia terpeleset. Kesempatan ini mau
digunakan oleh Pita Loka untuk menerkamnya. Tapi dia sendiri pun terpeleset. Gerak Harwati
untuk bangkit mulai lamban. Juga gerak Pita Loka ketika akan bangkit kelihatan lamban.
Keduanya saling maju untuk bersiap mencakar. Tetapi dua-duanya jatuh terpeleset dalam detik
yang bersamaan.
Lalu dua-duanya jatuh tertelungkup. Dan sama-sama tak bergerak lagi. Dua-duanya diguyur oleh
hujan yang semakin deras membasahi bumi desa Tulus.
Ternyata. hujan bukan hanya membasahi desa Tulus, Seluruh bumi kawasan tujuh bukit
persilatan diguyur hujan lebat. Juga di Lembah Tujuh Bidadari hujan semakin deras disaat malam
akan tiba itu. Ketika itu. Guru Gumara yang sedang melatih enam remaja buntung tangan,
terpaksa berteriak: “Latihan selesail”
“Semua masuk ke guha asrama”, ujar Guru Gumara lagi.
Anak-anak remaja buntung itu berlarian memasuki guha asrama itu. Sedangkan Guru Gumara
memasuki guha yang khusus untuknya sendiri.
Dalam basah kuyup. Guru Gumara melanjutkan membuat tikar pandannya, yang sudah jadi
separoh. Anak-anak di guha asrama pun menjalin tikar pandannya.
Gumara lelah melatih, lalu menggeletakkan tubuhnya di bagian tikar yang sudah dia anyam.
Ternyata menjelang tidur dia mengulangi bisikan batinnya: “Wahai Guru,masih kotorkah diriku
ini? Kenapa aku tidak diberi tamsil mimpi itu? Hanya perasaan firasat saja yang aku dapati.
bahwa adik tiriku Harwati mungkin sedang bertarung dengan gadis yang aku kasihi, Pita Loka!
Atau hatiku yang masih gelap?”
Matanya sambil menggeletak itu menatap pelita kecil yang nyalanya tetap bagai tak bergerak.
Bertepatan dengan padamnya pelita itu, mata Gumara tertutup. Dia sudah hanyut oleh tidur
pulas. Dalam tidur itu Guru Gumara seperti merasakan hujan lebat yang belum berhenti.
Memang dia melihat satu desa yang apik bersih, Sepertinya desa Tulus di kawasan Kuil Putih.
Mimpi menggambarkan dua pendekar yang semakin lama semakin tegas dilihatnya mandi kuyup
disirami hujan lebat. Dua-duanya makin tegas, bahwa itu adalah Pita Loka dan Harwati. Mereka
sedang mencari senjata masing-masing. Bagi Gumara di mimpi ini sudah jelas, yang pertama
menemukan senjata dua pedangnya sudahlah pasti Harwati. Juga yang kemudian menemukan
cambuknya, adalah Pita Loka. Anehnya, mereka berdua seperti akan berduel!
Berhadapan dalam jarak sekitar enam meter, kelihatannya mereka berdua muncul dengan
tenaga baru. Secara serentak pula, dua-duanya langsung memulai senjatanya. Baik Pita Loka
maupun Harwati. Harwati mengadu pedang serentak disertai bunyi petir, dan Pita Loka
melecutkan pecut serentak bunyi petir pula, dan asap mengepul.
Dan dua-duanya keheranan, serentak oleh susulan bunyi pedang cambuk, senjata-sentala
mereka sudah lepas dari tangan mereka, berganti oleh suara mereka yang sama mengaum dan
serentak menghambur dengan cakaran.
Guru Gumara terjaga dari mimpinya karena mendengar ada benda jatuh. Dia mengusap-usap
kelopak matanya, karena tak jauh dan tikar anyamannya itu tampak dua pedang dan di dekatnya
sebuah cambuk.
“O, Guru. Kalbuku kini sudah bersih!” dia gembira sekali karena mimpi itu langsung bertamsil.
Hampir saja dia samber pedang-pedang Surandar dan cambuk asap sakti itu. Tak jadi. Karena
mendengar suara wisik: “Jangan sentuh. Dua pedang itu untuk muridmu Caruk Putih dan Agung
Kifli. Dan satu cambuk itu untuk remaia pendiamyang bernama Abang Ijo.”
“Lalu apa selanjutnya?” tanya Gumara.
“Latihlah tiga muridmu itu secara khusus. Kelihatannya, pertempuran antara Pita Loka dan
Harwati ini tidak akan habis-habisnya. Tapi sejak ini, engkau sendiri tidak diperkenankan
melibatkan diri dalam pertarungan itu. Sebab jika engkau terlibat, salah satu diantara mereka
akan menemui kematian, atau dua-duanya hancur lebur”, demikian ujar wisik itu.
“Tapi saya melatih Enam Pendekar Buntung ini untuk mendamaikan mereka atau menumpas
salah satu dari mereka. Nama pendekar Harimau Yang Tujuh akan tercemar gara-gara ulah
mereka”, kata Guru Gumara. “Jangan membantah. Dan patuhi perintah”, ujar sang wisik.
“Boleh aku tahu, apa yang diperbuat dua pendekar keras kepala itu di Desa Tulus sekarang?”
tanya Guru Gumara.
“Lanjutan dari mimpimu itu”, ujar bisikan itu.
DAN memang penduduk Desa Tulus sedang menyaksikan pertarungan hari, ke-2. Bekas becek
hujan semalam sepertinya ditakdirkan untuk membuat dua pendekar berhati-hati dan tidak layak
terburu nafsu. Tiba-tiba, kendati dengan sebelah mata, Pita Loka melihat adanya bekas cakaran
pada punggung Harwati sewaktu Harwati mendapatkan jurus harimau balik menerkam.
“Punggungmu luka menganga, Harwati!” ujar Pita Loka. “Aku tak peduli”, kata Harwati geram.
“Itu akan membuat kamu mati perlahan-lahan!” “Persetan! Ayoh, mari kita lanjutkan dan kamulah yang akan mati! Bukan aku, tapi kamu, kamu, kamu!”, dengan serta merta dia menggeram dan mengibaskan Jurus harimau menampar dengan ekor. Yang menampar muka Pita Loka adalah kaki Harwati sehingga Pita Loka terpelantingdan bergulingan di lumpur… yang sekejap tampak oleh Harwati. Ketika Pita Loka akan mencoba berdiri, Harwati menggeledek ketawa: “Kamupun terkena cakaran dipunggungmu!” Pita Loka terdongak kaget. Kini dia mSnyadari, bahwa tidak ada kelebihan dan ketinggian ilmunya terhadap Harwati.
“Luka ini berbahaya, bagi kamu maupun bagi saya”, ujar Pita Loka. “Aku kehilangan pedang-pedangku!”, ujar Harwati. … “Aku bahkan kehilangan cambuk saktiku!” Tiba-tiba saja Harwati menyadari bahwa percakapan itu tidak berguna.
“Kita berdua bisa sama-sama mati”, kata Pita Loka memperingatkan.
“Tidak perduli! Aku tetap akan menghabisi nyawamu terlebih dulu!” suara Harwati lantang,
menyintakkan Dasa Laksana yang masih mengikuti buntut pertarungan yang ternyata belum juga
berakhir.
“Aku tetap akan mengamuk seperti macan tutul yang terluka”, teriaknya lagi lalu menghambur
menyerang Pita Loka dengan jurus serangan macan tutul dan ditangkis oleh Pita Loka dengan
aum harimau yang membalikkan tubuh dan menangkis dengan kibasan ekor, yaitu kaki kirinya.
Tubuh itu berputar dalam posisi berdiri di tanah yang licin, dan “ekor” yang mengibas itu
menangkis serangan Jurus macan tutul Harwati.
“Kini aku bukan macan tutul lagi. Akulah pewaris harimau Kumayan, ilmu ayahku yang syah!”
dan dia mengaum menghambur menerkam dada Pita Loka, tetapi Pita Loka cukup kokoh kakinya
terbenam dilumpur, dan dia menerima terkaman jari pita Loka dengan jarinya pula. Telapak-
telapak tangan kini beradu kuat. Jurus ini adalah Jurus tenaga dalam harimau tua, yang
kebetulan mereka sama-sama menemukan jurus ini secara tidak sengaja. Kekuatan jurus telapak
dan jari beradu begini tergantung dari pernafasan. Ketika Pita Loka mencoba mengirimkan arus
api sucinya lewat kedua lubang hidungnya, arus itu memang keluar dengan dahsyat, dalam jarak
dekat, namun… tidak membakar rambut atau wajah Harwati.
Melihat hal itu Pita Loka ingin mendengar wisik sang Guru. Tetapi lalu dia ingat, bahwa dia sudah
dilepas Ki Ca Hya untuk menemukan bentuk ilmunya sendiri. Ilmu itu hanya ditemukan sendiri
lewat pengembaraan yang penuh tantangan. Seorang pendekar harus sering terlibat dalam
berbagai pertarungan secara kongkret untuk mendapatkan jurus-jurus penemuan. Harwati mengaum dengan tekanan tenaga dalam sembari menjaga keseimbangan agar tubuh tidak jatuh di dasar telapak kaki bertanah licin. Pita Loka memperkuat jari-jarinya yang meremas jari-jar Pita Loka sembari menjaga posisi berdiri agar telapak kaki terbenam baik dalam pemukaan tanah.
“Kau jahanam!” gerutu Harwati.
“Kau edan”, sahut Pita Loka dengan gerutu pula.
“Kau buta sebelah. Kau gadis cacat!”
“Betapapun hebat kita, kita berdua terancam bahaya maut. Luka kita sama menganga di
punggung. Kau tentu letih dan lapar dan haus”, kata Pita Loka. Harwati tiba-tiba merasa lapar dan haus. Memang itu betul dan mulai terasa menjalari tubuhnya. Ketika konsentrasinya terbelah dua itulah, dengan kekuatan remasan dan tenaga dalam serta posisi berdirinya yang mantap, dia banting tubuh Harwati hingga terjungkal ke tanah sedangkan dia sendiri ikut terbanting ke tanah masih dalam cengkeraman Harwati, tapi lepas oleh bantuan licinnya lumpur.
Harwati menggelepar. Pita Loka meninggalkan Harwati buru-buru untuk memasuki kuil putih.
Seluruh tubuhnya merasa seperti terbakar api. Dia memasuki ruang dimana Rama Yogi terbaring
mati suri. Tetapi dia ingat sebuah botol yang berisi minyak tulang punggung harimau milik Raya
Rama Yogi untuk mengobati luka terkena taring harimau dan cakaran harimau yang sesungguhnya berbisa. Pelayan botak dipanggilnya: “Mari kau, Sakuntala!” Si remaja botak mendekatinya dan bertanya: “Apa saya bisa membantu?” “Polesi luka dipunggungku dengan minyak ini”, ujar Pita Loka. Remaja botak Sakuntala memoles luka di punggung Pita Loka, lantas bertanya pada Sakuntala: “Berapa lama kami berdua
bertarung, anak muda?”
“Sepuluh malam sembilan hari”, kata Sakuntala, “Kami penduduk sini menghitungnya”.
“Ha?” Pita Loka tidak percaya, sebab dia cuma merasa dua hari dua malam saja.
“Sepuluh malam sembilan hari”, kata Sakuntala botak lagi. Pita Loka tersenyum.
“Tanpa dipoles minyak punggung harimau ini, berapa lama seorang yang terluka oleh cakaran
harimau atau kena gigit taringnya?”
“Pendekar lebih tahu”, ujar Sakuntala.
“Saya bukan pura-pura tidak tahu. Kamu tentu lebih tahu”.
“Yang terkena bisa cakar dan taring harimau biasanya cuma bisa bertahan empatpuluh hari saja.
Saya rasa penderitaan anda sudah 9 hari”.
“Kalau begitu, daya tahan pendekar Harwati cuma mampu 31 hari lagi. Saya kasihan dia akan
mati dalam kegilaan. Semua cita-citanya tidak tercapai. Sedangkan saya harus melanjutkan
petualangan untuk meningkatkan ilmu saya. Sebentar lagi saya akan pergi”, kata Pita Loka.
“Ah sayang. Rama Yogi belum lagi sadar dari mati surinya, tuan pendekar akan meninggalkan
kami. Kami tentu akan diganggu lagi oleh pendekar edan itu setelah dia sadarkan diril”
“Obati luka punggungnya itu dengan minyak ini”, ujar Pita Loka.
“Obati? Setelah dia sembuh dia akan bunuh kamil” kata remaja botak.
“Kalau begitu, budimu belum begitu tinggi”, ujar Pita Loka, kemudian dia duduk bersila
dihadapan ranjang tempat berbaringnya Rama Yogi.
“Engkau memang teladan kesabaran dan kebaikan, Rama. Engkau masih lama akan beristirahat”,
kata Pita Loka.
Sakuntala botak, yang mendengar ucapan itu lalu mencu curkan airmata. Dia masih mengharap
dengan ucapannya yang menggigilkan rasa haru: “Tuan pendekar akan meninggalkan kami.
Kenapa tuan pergi?”
“Aku akan mencari permata hiiau Raja Solaimanku yang hilang. Cuma itu yang dapat
menyembuhkan edannya Harwati. Tapi andaikata dalam 31 hari ini permata itu tidak didapatkan,
dia akan mati”, kata Pita Loka berlalu.
Rupanya, percakapan itu didengar dan dilihat oleh Guru Gumara, kendati dalam jarak jauh antara
Desa Tulus dengan Lembah Tujuh Bidadari. Seketika itu juga dia terkejut. Dia ingat, wisik yang
didengarnya sepuluh hari yang lalu. Bahwa pertarungan antara Pita Loka dan Harwati akan
membawa korban: Salah satu mati, atau dua-duanya!
Guru Gumara lupa, bahwa dia tak boleh ikut campur. Dia lupa itu! Lalu dia berseru: “Hai para
pendekar buntung!Kalian perlu mendengar wejanganku.”
Enam pendekar remaja yang setiap orangnya bertangan satu itu, berkumpul dihadapan Sang
Guru. Lalu Sang Guru memberi wejangan: “Baru saja aku menerima wangsit, bahwa
saudara.tiriku Ki Harwati sedang dalam keadaan bahaya. Dia baru saja bertarung dengan Pita
Loka. Pita Loka sudah mendapat kesembuhan diobati oleh minyak punggung harimau. Dia sudah
berlalu dari sana, meninggalkan Harwati yang luka-luka dan diancam maut datam 31 hari ini. Jadi
sekarang ini aku putuskan: Kalian akan kulatih siang malam selama 21 hari. Kita harus
mengamankan Harwati dari bahaya maut, sebab aku dititipkan ayahku agar menjaga Harwati
setelah beliau wafat. Amanat ini adalah bagian dari ilmuku, pendekar muda! Ayoh kita mulai
mendalami latihan sekarang.” Lalu muncul beberapa orang berkuda. Mereka menyapa anak-anak remaja yang sedang berlatih. Pemimpin mereka menanyakan Guru Gumara. Guru Gumara sedang bersemedi “Kalau begitu
kami tinggalkan tujuh ekor kuda ini untuk kalian. Sebagai terima kasih dari Pedukuhan Bidadari
atas bantuan kalian yang lalu”, ujar pemimpin mereka seraya meninggalkan tujuh ekor kuda itu.
Dan pamitan.
Gumara masih mengadakan kontak wangsit melihat keadaan Desa Tulus. Dia melihat Harwati Grafity,
bangkit. Lalu mengamuk bagai harimau lapar. Dia masuk menerjang pintu setiap rumah lalu
makan dan minum dengan edan. Tubuhnya merasa panas kena bisa cakaran kuku harimau Pita
Loka dalam pertarungan sepuluh malam sembilan hari itu. Dia berteriak: “Mana Pita Loka!
Jangan kalian sembunyikan! Aku akan membunuhnya dengan cakaran! Panas! Panas!”, dan dia
mengamuk terus dengan liar di desa Tulus itu. Penduduk mengkirik ketakutan. Mereka berharap Ketua mereka, Rama Yogi, segera sadarkan dirinya dari mati surinya. Mereka ngeri melihat Pendekar Edan Harwati yang mengobrak-abrik desanya dan berteriak: “Panas! Tubuhku panas! Mana Pita Loka! Aku akan koyak perutnya dengan cakaran kukuku ini!”
TAMAT

http://admingroup.vndv.com

 

Ilmu Bahasa? Ada Apa?

KATA ungkapan Arab, al insan hayawan nathiq, artinya manusia adalah hewan yang mampu berpikir. tampaknya, klaim ini tidak otomatis berarti bahwa setiap manusia mampu berpikir kritis. Mungkin lebih tepat diartikan sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk berpikir kritis, seperti halnya potensi atau bekal kodrati (innate capacity) untuk menguasai bahasa yang dominan di lingkungannya.
Para pengamat bahasa sudah lama menyaksikan lemahnya disiplin berbahasa di kalangan ilmuwan dan birokrat. Lihat saja saat mereka diwawancara wartawan TV. Banyak yang bahasanya tidak bernalar, alias amburadul. Rohaniawan Franz Magnis-Suseno berpendapat bahwa kerancuan berbahasa ini merupakan akibat malas berpikir.
Para peneliti sudah mengidentifikasi sejumlah kesalahan sintaksis dalam berbahasa, antara lain: subjek kalimat tidak jelas, kekacauan penggunaan kata kerja aktif-pasif dalam kalimat, preposisi dalam kalimat tidak tepat, kata transisi tidak tepat pada bagian awal kalimat, kata perangkai di dalam kalimat tidak tepat, diksi tidak tepat dalam mengungkapkan kalimat, ada bagian kalimat tidak berkoherenasi, hubungan kalimat-kalimat tidak kohesif, ketidaksejajaran bentuk(an) kata dalam kalimat, aksentuasi dalam kalimat tidak jelas, susunan kata (bagian kalimat) tidak logis, variasi kata dalam kalimat tidak tepat, tidak berkaidah ejaan dan tanda baca, makna kalimat tidak jelas, dan hubungan paragraf-paragraf tidak logis.
Bila bahasa diyakini sebagai alat berpikir, studi ilmu bahasa (linguistik dan sastra) seyogiyanya membekali mahasiswa (apalagi dosennya) kemampuan berpikir kritis (KBK), lebih kritis daripada mahasiswa dan dosen bidang studi lain. Bila bahasa diyakini sebagai alat komunikasi, studi ilmu bahasa (linguistik dan sastra) seyogianya membekali mahasiswa (apalagi dosennya) kemampuan berkomunikasi tulis, lebih produktif dan komunikatif daripada mahasiswa dan dosen bidang studi lain.
Namun, dalam kenyataan, kedua hipotesis di atas tidak terbukti. Banyak orang yang kritis dan produktif berkarya tulis padahal mereka tidak berlatar belakang linguistik atau sastra. Artinya, penguasaan pengetahuan kebahasaan, baik pengetahuan deklaratif maupun prosedural, tidak menjamin KBK maupun produktivitas berkarya tulis. Persoalannya, ada apa dengan linguistik?
Linguistik secara keseluruhan membantu kita lebih memahami fenomena kebahasaan daripada fenomena sosial. Temuan ini bisa dijelaskan dengan pendekatan Saussure yang sejak awal menekankan bahasa lisan sebagai objek utama kajian linguistik modern. Mudah dipahami bila linguistik diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sebagai Allisaniyat bukan Ilmu Lughat. Perkuliahan linguistic Sebanyak 73 mahasiswa semester 8 yang telah mengambil 22 sks mata kuliah linguistik di¬survei untuk mengetahui pandangan mereka ihwal kontribusi mata-mata kuliah itu bagi pengembangan KBK. Para responden sudah cukup matang untuk bersikap kritis ihwal praktik pendidikan yang mereka lakoni selama ini. Mayoritas responden (72%) menilai bahwa secara keseluruhan bangsa Indonesia kurang mampu berpikir kritis, dan ini disebabkan oleh dua hal, yaitu pendidikan di Indonesia tidak membuat siswa berpikir kritis (46%), dan budaya Indonesia lebih berkarakter feodal (41%). Sebagai mahasiswa, mereka merasa memiliki KBK, dan kemampuan ini terutama disebabkan oleh pendidikan yang mereka peroleh (57%) dan karena pergaulan dan lingkungan tempat mereka tinggal (40%). Hanya 0,13% dari mereka yang menyebutkan karena mengambil perkuliahan linguistik.
Bagi mayoritas reponden (72%), bahasa Indonesia lebih berperan sebagai alat berinteraksi sosial dan hanya 0,41% yang menganggapnya sebagai alat berpikir. Artinya mereka hampir tidak merasa bahwa berpikir itu dengan bahasa. Ini mungkin berarti (1) berkomunikasi atau berbahasa (lisan) tidak identik dengan berpikir, (2) adanya bermacam tingkatan berpikir, dari yang tidak disadari sampai yang sangat disadari, dan (3) berpikir mungkin tidak selalu difasilitasi bahasa, karena yang berlogika itu si penutur, bukan bahasa.
Manfaat perkuliahan linguistik bagi responden terutama membantu memahami fenomena bahasa (57%) dan fenomena sosial (23%). Perkuliahan linguistik juga membuat mereka lebih sadar akan perilaku bahasa lisan (32%) daripada bahasa tulis (15%) pada diri sendiri, terutama pada orang lain. Andaikan ada kontribusinya terhadap KBK, yang paling berkontribusi adalah sosiologi bahasa (71%) dan yang paling tidak berkontribusi adalah fonetik dan fonologi (65%).
Mayoritas responden melihat akademisi yang kritis adalah mereka yang banyak karya tulisnya (53%) dan cenderung berbeda pendapat dengan orang lain (34%). Tidak satu responden pun (0%) menyebut tingginya gelar akademis sebagai indikator KBK. Agar mahasiswa mampu berpikir kritis, para responden menyarankan agar kurikulum S-1 menumbuhkan suasana pembelajaran demokratis di kelas dan dalam konsultasi dengan dosen (71%).
Pendidikan, nalar, dan bahasa
Nalar, seperti halnya matematika dan bahasa, lebih merupakan fasilitator daripada inisiator. Kita menggunaan nalar untuk mendapatkan yang kita mau bukan untuk menentukan yang kita mau. Menurut Calne dalam Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia (2004), nalar, bahasa, dan matematika sama-sama berakar pada asal-usul yang begitu dinamis dan praktis, namun demikian dengan terbentuknya data base budaya kita, dari generasi ke generasi, ketiganya mampu mencapai puncak abstrak yang tak terkira tingginya. Nalar sudah dinaikkan ke tingkat logika simbolik, bahasa ke tingkat puisi metafisik, dan matematika ke tingkat teori probabilitas.
Nalar merajut argumen, sedangkan tata bahasa merajut kalimat, dan kosa-kata adalah simbol dari konsep-konsep. Perkuliahan linguistik secara keseluruhan pada dasarnya membekali mahasiswa pengetahuan ihwal bahasa yang berguna untuk merajut kalimat. Ini sama sekali tidak menjamin bahwa mahasiswa akan produktif merajut kalimat apalagi dalam wujud karya tulis. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menguasai linguistik adalah X, dan berpikir kritis adalah Y. Antara X dan Y tidak ada kaitan sebab-akibat, tetapi saling memengaruhi. Pasti.
Kekuatan otak tidak berubah sejak Homo sapiens, umat manusia pertama kali muncul 200.000 tahun yang lalu, yang berevolusi adalah nalar (Calne 2004: 25), yakni tata bahasanya argumen. Nalar dan bahasa berkembang sama-sama sejak usia dini dan saling bergantung. Buktinya, antara lain, argumen-argumen dinyatakan lewat proposisi-proposisi, yakni kalimat-kalimat. Artinya, bernalar seperti halnya berbahasa harus dikembangkan lewat pembelajaran, baik formal maupun informal.
Pendidikan nasional sekarang ini belum membuat siswa berpikir kritis. Selama ini pendidikan bahasa melatih berbahasa sebagai proses berkomunikasi dengan kadar nalar yang rendah. Ini terbukti dengan amburadulnya bahasa di kalangan kaum terdidik Indonesia, yang tidak mungkin terjadi pada kaum terdidik yang berbahasa ibu bahasa Inggris.
Kelemahan ini dapat dijelaskaan sebagai berikut. Pertama, jumlah kosakata bahasa Inggris bisa jadi delapan kali lipat jumlah kosakata bahasa Indonesia. Artinya secara leksikal, konsep ihwal dunia para penutur bahasa Inggris jauh lebih banyak daripada konsep serupa yang dimiliki penutur bahasa Indonesia. Sebagai bahan perbandingan, penutur dewasa bahasa Inggris rata-rata memiliki perbendaharaan kata sekitar 50.000 kata, tetapi jumlah yang sebenarnya jauh lebih beragam. Pendidikan tinggi memberi perbendaharaan sekitar 80.000 kata (Calne 2004: 66).
Kedua, budaya literat menjadikan mereka, khususnya kaum terdidik, terbiasa menulis. Dalam pada itu, menulis telah terbukti sebagai kegiatan berbahasa yang paling mendukung terbentuknya keterampilan bernalar, yaitu kegiatan memecahkan masalah melalui proses linguistik dan kognitif yang kompleks seperti organizing, structuring, dan revising.
Sebuah penelitian dalam konteks SMA di AS juga berkesimpulan bahwa menulis mendukung nalar dan pembelajaran mata-mata pelajaran yang jauh lebih kompleks yang berguna bagi keberhasilan melakoni budaya berbasis teknologi dan informasi yang kompleks (Langer & Applebee, 1987). Jadi, pendidikan bahasa seharusnya didesain untuk menanamkan KBK, bukan sekadar keterampilan berbahasa.
Selama ini ada asumsi keliru bahwa mengajarkan keterampilan berbahasa secara otomatis berarti mengajarkan KBK. Kurikulum bahasa Indonesia selama ini tidak secara eksplisit menyatakan KBK sebagai tujuan pembelajaran bahasa. Ini berbeda misalnya dengan kurikulum Language Arts di sekolah-sekolah AS yang secara eksplisit mencantumkan penanaman KBK sebagai bagian dari tujuan kurikulernya. Simpulan Bagi masyarakat Indonesia yang berbudaya dengar-omong, komunikasi cenderung disinonimkan dengan komunikasi lisan yang tantangan nalarnya tidak secanggih komunikasi tulis. Secara kolektif, bangsa yang lemah budaya tulisnya cenderung lemah daya nalarnya. Secara individual, seorang yang produktif menulis akan lebih kritis daripada yang tidak produktif. Jamu yang paling murah, tapi manjur untuk mengobati lemahnya KBK adalah pembenahahan pelajaran menulis dari SD sampai PT. Saat menulislah kita sadar terhadap apa yang kita ketahui dan ingin kita ungkapkan. Inilah yang disebut meaning making atau proses mengikat makna. Kesadaran seperti ini merupakan indikator KBK.
Dulu istilah kritis dalam pembelajaran bahasa lazim diartikan hanya sebagai pemahaman tingkat tinggi dalam pembelajaran membaca dan respons personal terhadap karya sastra. Dalam perkembangan terkini istilah ini dipakai dalam konsep critical pedagogy dan critical discourse analysis (CDA). Pendekatan kritis ini berimplikasi pada semua aspek pembelajaran seperti materi perkuliahan, proses belajar mengajar, serta hubungan dosen dan mahasiswa.
Selama ini ada kesan bahwa diskusi dalam perkuliahan linguistik lebih terkekang oleh isu-isu bahasa atau sastra yang terkelupas dari dunia sosial politik di luar ruang kuliah. Pendekatan kritis terhadap pendidikan bahasa menuntut komitmen terhadap transformasi sosial, keadilan, dan persamaan hak dan kewajiban sebagai bagian dari ciri kehidupan demokratis. Dosen dan pengajar pada umumnya mesti berperan sebagai agen perubahan sosial dan agen transformasi kultural dan intelektual.
Linguistik dengan segala cabangnya menawarkan pengetahuan dengan tingkat relevansinya yang beragam bagi pengembangan KBK. Kajian linguistik dengan basis data bahasa berguna untuk memahami aspek internal bahasa. Untuk meningkatkan kontribusinya bagi pengembangan nalar, mahasiswa harus dilatih menganalisis secara kritis konteks sosial bahasa dalam masyarakat.
Berwacana itu sesungguhnya berideologi. Wacana sebagai teks mengeksploitasi simbol-simbol linguistik. Wacana sebagai ideologi penuh dengan dominasi dan eksploitasi. Para mahasiswa mesti mampu menganalisis potensi-potensi dominasi dan eksploitasi. Singkatnya, kurikulum program linguistik seyogianya menawarkan perkuliahan Analisis Wacana Kritis atau Critical Discourse Analysis untuk membekali mereka keterampilan berpikir kritis.***
Penulis, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
(hASIL dARI mENGIKUTI wORKSHOP bAHASA iNDONESIA, DEPAG MALANG)