LEMBAR SASTRA PEMBELAJARAN

LEMBAR SASTRA PEMBELAJARAN

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KAIDAH PENULIASAN SOAL PILIHAN GANDA (Oleh : NURIL ANWAR, S.Pd. Dari: Proyek Penulisan Kisi-kisi & Soal UN)

KAIDAH PENULIASAN SOAL PILIHAN GANDA
(Oleh : NURIL ANWAR, S.Pd. Dari: Proyek Penulisan Kisi-kisi & Soal UN)

§ MATERI
§ KONSTRUKSI
§ BAHASA

MATERI:
1. Soal harus sesuai dengan indikator
2. Pilihan jawaban harus homogen & logis.
3.Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar.

KONSTRUKSI
1.Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas
2.Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja.
3. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar.
4. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negatif ganda.
5. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.
6. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan,”semua pilihan jawaban di atas salah”, atau” semua pilihan jawaban di atas benar”.
7. Pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka tersebut.
8. Gambar,grafik, tabel, diagram, dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi.
9.Butir materi soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

BAHASA:
1. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa indonesia
2. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat
3. Pilihan jawaban jangan mengulang kata atau frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian

CONTOH:
1. Soal harus sesuai dengan indikator
Indikator:
disajikan sebuah kalimat, siswa dapat menentukan sinonim salah satu kata dari kalimat tersebut
Soal:
Kalimat berikut yang menggunakan sinonim kata adalah …
a. Bu ani mendidik anaknya dengan lemah lembut.
b. Orang kaya itu sukses dalam pekerjaannya
c. Adikku adalah anak cerdik dan pandai.
d. Perempuan itu ternyata masih gadis
Soal yang benar adalah:
Sumber daya alam belum dieksploitasi secara optimal.
Sinonim kata eksploitasi pada kalimat di tersebut adalah….

2. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas
Indikator:
Disajikan penggalan cerita siswa dapat mengungkapkan nilai yang terkandung dalam cerita tersebut

Beliau melarang saya naik ke atap rumah untuk bermain layang-layangnpada tengah hari. Menurut nenek, tengah hari adalah saatnya nenek sihir menangkap anak-anak keluyuran, untuk dimakan isi perutnya. Tampaknya nenek sihir sangat lapar pada tengah hari, dan makanan yang sangat disenangi adalah hati segar anak-anak. Sebenarnya saya ingin bertanya tentang nenek sihir, tetapi kata nenek bicara soal itu adalah tabu.
Pengungkapan nilai-nilai yang ada pada penggalan di atas adalah…
a. Nilai sosial budaya
b. Nilai pendidikan
c. Nilai hiburan
d. Nilai moral
kunci : b
(salah)

3. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar atau yang paling benar
Soal:
Puisi berikut yang merupakan karya chairil anwar adalah…
a. Diponegoro
b. Berdiri aku
c. Karangan bunga
d. Gadis peminta-minta
Kunci jawaban: a dan d
Catatan :
Pilihan a atau d seharusnya diganti dengan “doa ibu”

4. Pokok soal tidak memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar
Soal:
majas personifikasi yaitu majas yang mengibaratkan benda mati seolah-olah hidup. Kalimat berikut yang menggunakan majas personifikasi adalah…
a. Nyiur melambai-lambai di tepi pantai
b. Jeritan anak itu memecahkan telingaku.
c. Raja hutan akan keluar dari kandangnya
d. Mukanya pucat pasi bagai bulan kesiangan.
Kunci jawaban : a
Catatan:
Soal yang bercetak miring seharusnya tidak diperlukan.

5. Pokok soal tidak mengandun pernyataan yang bersifat negatif ganda
Soal:
Penggunaan kata depan pada kalimat di bawah ini tidak benar, kecuali…
a. Bekerja lebih baik dari diam.
b. Bandung lebih ramai dari solo.
c. Buku ani lebih tebal daripada buku siti.
d. Cincin daripada ibunya hilang kemarin.
Kunci : c

6. Pokok soal tidak mengandun pernyataan yang bersifat negatif ganda
Penjelasan :
adanya dua kata negatif sperti bukan, tidak, tanpa, kecuali pada pokok soal dapat membingungkan siswa. Siswa akan berpikir terlalu lama untuk memahami masalah pada soal karena adanya pernyataan negatif ganda.

7. Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama
Soal:
kalimat berikut yang menggunakan kata umum adalah…
a. Anggrek harganya mahal.
b. Bunga teratai tumbuh di rawa-rawa.
c. Wanita menyukai aroma bunga melati.
d. Pekarangan rumah sederhana itu akan terasa lebih indah bila ditanami bunga.
Kunci : d
Penjelasan
Pilihan jawaban d terlalu panjang sehingga jika diperbaiki menjadi:
rumah itu terasa indah bila ditanami bunga

8. Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan yang berbunyi”semua pilihan jawaban itu salah” atau”semua jawaban itu benar
Contoh soal:
kalimat di bawah ini yang menggunakan kata depan secara tepat adalah…
a. Bekerja lebih baik dari diam.
b. Bandung lebih ramai dari solo.
c. Cincin daripada ibunya hilang kemarin.
d. Semua jawaban di atas betul
kunci : d

9. Pilihan jawaban yang berbentuk angka/waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka (kronologis)
Contoh soal :
Tabet proyek pengembangan budidaya perkebunan
No.
Unit pelayanan
Areal Dalam Ha
Jumlah
Th.1995
Th.1996
Th.1997
Th.1998
1.
Pelabuhan Ratu
76
412
409
170
1067
2.
Sukanegara
70
432
542
70
1114
3.
Soreang
120
400
440
300
1260
4.
Bayongbong
150
317
703
512
1682
5.
Ciamis
170
273
213
432
1088
6.
200
250
314
487
1251
1251
10. Pilihan jawaban tidak mengulang kata/frase yang bukan satu kesatuan
Contoh soal:
A: have you ever been to bali?
B: yes, ….
Yes, i have been to bali twice.
a. Yes, i have been to bali last year.
b. Yes, i have been to bali since january.
c. Yes, i have been to bali two years ago.
Kunci jawaban : a
Penjelasan:
Seharusnya kata yes dalam pilihan jawaban dibuang

11. Gambar, grafik, diagram dll yang terdapat dalam soal harus jelas &berfungsi
Contoh soal:

Gambar di atas menunjukkan kedudukan matahari, bulan, dan bumi. Peristiwa yang sedang terjadi adalah…
a. Rotasi bumi
b. Gerhana bulan
c. Gerhana matahari
d. Revolusi bumi
Kunci jawaban: c
Penjelasan:
Gambar di atas kurang berfungsi, seharusnya ditambah gambar matahari lengkap dengan kode gambar dan bayangan hitam.

12. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja

Contoh soal:
Majas sering digunakan dalam kalimat. Salah satu kalimat yang menggunakan majas personifikasi adalah….
a. Hari masih pagi, gunung pun berselimut awan .
b. Pekik reformasi menggema di seluruh indonesia.
c. Wajah pemain itu pucat bagai bulan kesiangan.
d. Dewi malam telah keluar dari balik awan.
kunci jawaban: a

Penjelasan:
Soal yang benar:
kalimat di bawah ini yang menggunakan majas personifikasi adalah….

13. Butir soal tidak bergantung pada jawaban soal sebelumnya.

Contoh soal:
1. Peribahasa dari pernyataa “hanya orang bodoh sajalah yang terlalu banyak cakap” adalah….
a. Tong kosong nyaring bunyinya.
b. Tukang tidak membuang kayu.
c. Tinggal kulit pembalut tulang.
d. Tepuk sebelah tangan tak ada bunyi.
2. Ungkapan yang searti dengan kunci jawaban soal nomr 5 di atas terdapat pada kalimat…
a. Ia menerima cobaan dengan lapang dada.
b. Orang yang bermulut masis biasanya berbahaya.
c. Dia besar mulut sehingga tidak disuakai teman-temannya
d. Sejak suaminya meninggal dunia, ia menjadi lintah darat
Kunci jawabab: c

14. Rumusan butir soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa indonesia
Contoh soal:
Syakdiyah punya duit rp 20.000,00 dan maula rp 15.000,00. Mereka pengin beli bola voli seharga rp 30.000,00. Sisa duit syakdiyah dan maula adalah….
a. Rp 1.000,00
b. Rp 5.000,00
c. Rp 10.000,00
d. Rp 15.000,00
Kunci : b

Penjelasan:
Bahasa yang digunakan pada rumusan pokok soal tidak sesuai dengan kaidan bahasa indonesia yang baik dan benar.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013

PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
Kementerian pendidikan dan kebudayaan
November 2012

SISTEMATIKA
1.Pengantar
2.Strategi Pengembangan Pendidikan
3.Rasional Pengembangan Kurikulum
4.Kerangka Kerja Pengembangan Kurikulum
5.Elemen Perubahan Kurikulum
6.Standar Kompetensi Lulusan
7.Struktur Kurikulum
8.Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
9.Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kurikulum
10.Strategi Implementasi
11.Jadwal

1.Pengantar
PERKEMBANGAN KURIKULUM DI INDONESIA
1947 Rencana Pelajaran → Dirinci dalam Rencana Pelajaran Terurai
1964 Rencana Pendidikan Sekolah Dasar
1968 Kurikulum Sekolah Dasar
1973 Kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)
1975 Kurikulum Sekolah Dasar
1984 Kurikulum 1984
1994Kurikulum 1994
1997 Revisi Kurikulum 1994
2004 Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
2006 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
2013 Kurikulum 2013

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Aspek Filosofis
• Filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat
• Kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi

Aspek Yuridis
RPJMN 2010-2014 SEKTOR PENDIDIKAN
• Perubahan metodologi pembelajaran
• Penataan kurikulum
INPRES NOMOR 1 TAHUN 2010
Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional: Penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-Nilai Budaya bangsa Untuk Membentuk Daya Saing Karakter Bangsa

Aspek Konseptual
• Relevansi
• Model Kurikulum Berbasis Kompetensi
• Kurikulum lebih dari sekedar dokumen
• Proses pembelajaran
a.Aktivitas belajar
b. Output belajar
c. Outcome belajar
• Penilaian
Kesesuaian teknik penilaian dengan kompetensi Penjenjangan penilaian

STRATEGI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
* Pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi Efektivitas Pembelajaran (Kurikulum, Guru, ….)
* SD, SMP :Wajar Dikdas 9 Tahun Periode 1994-2012
* SMU: Mulai 2013 Dibahas sendiri
* Lama Tinggal di Sekolah :2-6 jam/minggu

STRATEGI PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN

RASIONALITAS PENAMBAHAN JAM PELAJARAN
• Perubahan proses pembelajaran [dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu] dan proses penilaian [dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output] memerlukan penambahan jam pelajaran
• Kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran [KIPP di AS, Korea Selatan]
• Perbandingan dengan negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat
• Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan pembelajaran tutorial

TOTAL NUMBER OF INTENDED INSTRUCTION HOURS IN PUBLIC INSTITUTIONS BETWEEN THE AGES OF 7 AND 14

3. RASIONAL PENGEMBANGAN KURIKULUM
Permasalahan Kurikulum 2006
• Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya matapelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
• Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
• Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
• Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.
• Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
• Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
• Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
• Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

ALASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

ALASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

ALASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

IDENTIFIKASI KESENJANGAN KURIKULUM

4. Kerangka Kerja Pengembangan Kurikulum

5. Elemen Perubahan

Elemen Perubahan 3

6. Standar Kompetensi Lulusan

Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional—————————————————————–( UU No.20/2003 Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 )————————————————–
Fungsi————————————————————————————————
Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,——————————————————————————————————————————————————————————
Tujuan————————————————————————————————-
* Untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan * * * Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) – RINCI

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) - RINCI

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) – RINCI

GRGRADASI ANTAR SATUAN PENDIDIKAN MEMPERHATIKAN:

 Perkembangan psikologis anak

  1. Lingkup dan kedalaman materi
  2. Kesinambungan
  3. Fungsi satuan pendidikan
  4. Lingkungan
  5. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) – RINGKAS

    STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) – RINGKAS

 

GRADASI ANTAR SATUAN PENDIDIKAN MEMPERHATIKAN;

  1. Perkembangan psikologis anak
  2. Lingkup dan kedalaman materi
  3. Kesinambungan
  4. Fungsi satuan pendidikan
  5. Lingkungan
  6. PERTIMBANGAN DALAM PERUMUSAN SKL
  7. Pertimbangan dalam Perumusan SKL

    Pertimbangan dalam Perumusan SKL

    RUANG  LINGKUP  SKL

  8. RUANG  LINGKUP  SKL

    RUANG LINGKUP SKL

  9. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN SIKAP

    STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN SIKAP+kETRAMPILAN

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN.jpg

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN.jpg

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN.jpg

STANDAR KOMPETENSI LULUSAN – DOMAIN PENGETAHUAN.jpg

Instruction time per subject

Instruction time per subject

 

7D  STRUKTUR KURIKULUM DIKMEN/SMK

ISU KURIKULUM SMK

  • Ujian nasional sebaiknya tahun ke XI sehingga tahun ke XII konsentrasi ke ujian sertifikasi keahlian
  • Bidang keahlian yang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan global
  • Penambahan life and career skills [bukan sebagai mata pelajaran]
  • Perlunya melibatkan pengguna [industri terkait] dalam penyusunan kurikulum
  • Pembelajaran SMK berbasis proyek dan sekolah terbuka bagi siswa untuk waktu yang lebih lama dari jam pelajaran.
  • Kesimbangan hard skill/competence dan soft skill/competence
  •  Perlunya membentuk kultur sekolah yang kondusif

 

STRUKTUR KURIKULUM SMK/MAK
Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi

Berdasarkan Permendikna

Berdasarkan Permendikna

***

  • Pendidikan menengah kejuruan berfungsi  a.l. membekali peserta didik dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kecakapan kejuruan para profesi sesuai dengan kebutuhan masyarakat (PP 17/2010 pasal 76)
  • Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.2

    Berdasarkan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi.2

 

CONTOH USULAN STRUKTUR KURIKULUM SMK

BIDANG STUDI KEAHLIAN TEKNOLOGI DAN REKAYASA

8. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR

PROSEDUR PENYUSUNAN KOMPETENSI DASAR BARU

Prosedur Penyusunan Kompetensi Dasar Baru

Prosedur Penyusunan Kompetensi Dasar Baru

9  FAKTOR  PENDUKUNG  KEBERHASILAN  IMPLEMENTASI  KURIKULUM

Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kurikulum.jpg

Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kurikulum.jpg

PENGEMBANGAN GURU

Pengembangan Guru

Pengembangan Guru

SISTEM IMPLEMENTASI KURIKULUM

Sistem Implementasi Kurikulum

Sistem Implementasi Kurikulum

10 STRATEGI IMPLEMENTASI

Kerangka Implementasi Kurikulum

Kerangka Implementasi Kurikulum

Kerangka Implementasi Kurikulum

Kelebihan Alternatif I

  1. Butuh waktu lebih singkat untuk menyiapkan:

-      Buku Teks

-      Pelatihan Guru

-      Administrasi Sekolah

-       Budaya Sekolah

  1. 2.      Memudahkan proses pendampingan karena jumlah kelas masih relatif terbatas
  2. 3.      Dapat dilakukan penyempurnaan untuk tahun berikutnya
  3. 4.      Tidak menyebabkan perubahan ditengah jalan bagi peserta didik karena implementasi dimulai pada awal tahapan jenjang satuan pendidikan
  4. 5.      Tidak mengganggu siswa yang sudah berada pada tahap akhir jenjang satuan pendidikan

 

Jadwal Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013

adwal Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013

adwal Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

KOMPETENSI GURU

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran

Posted on 12 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah:——————————————————————–
(1) pendekatan pembelajaran,——————————————————–
(2) strategi pembelajaran,———————————————————-
(3) metode pembelajaran;————————————————————
(4) teknik pembelajaran;————————————————————
(5) taktik pembelajaran; dan——————————————————–
(6) model pembelajaran.————————————————————
Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:——
(1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan————————————————————–
(2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
1.Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2.Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4.Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
1.Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2.Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4.Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
==========
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran

Posted on 12 September 2008 by AKHMAD SUDRAJAT
1. MAKNA BELAJAR DAN MENGAJAR——————————————————
Belajar dan mengajar adalah dua aktivitas yang hampir tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya, terutama dalam prakteknya di sekolah-sekolah. Bahkan apabila keduanya telah digerakkan secara sadar dan bertujuan, maka rangkaian interaksi belajar-mengajar akan segera terjadi. Sehubungan dengan hal ini ada baiknya kedua istilah tersebut untuk dibahas.——————————————————
A. Belajar————————————————————————–
Kita masih ingat bahwa “belajar” pernah dipandang sebagai proses penambahan pengetahuan. Bahkan pandangan ini mungkin hingga sekarang masih berlaku bagi sebagian orang di negeri ini. Akibatnya, “mengajar” pun dipandang sebagai proses penyampaian pengetahuan atau keterampilan dari seorang guru kepada siswanya.
Pandangan semacam itu tidak terlalu salah, akan tetapi masih sangat parsial, terlalu sempit, dan menjadikan siswa sebagai individu-individu yang pasif. Oleh sebab itu, pandangan tersebut perlu diletakkan pada perspektif yang lebih wajar sehingga ruang lingkup substansi belajar tidak hanya mencakup pengetahuan, tetapi juga keterampilan, nilai dan sikap.
Sebagai landasan pembahasan mengenai apa yang dimaksud dengan belajar, berikut ini kami kemukakan beberapa definisi belajar yang dikemukakan oleh Drs.M.Ngalim Purwanto.MP (1990).—————————————————————–
a) Hilgard dan Bower, dalam buku Theories of Learning (1975). “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat seseorang ( misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya ).”—————————————————
b) Gagne, dalam buku The conditions of Learning (1977). “ Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya ( performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”
c) Morgan, dalam buku Introduction to Psychology (1978). “ Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.”
d) Witherington,dalam buku Educational Psychology. “ Belajar adalah suatu perubahan didalam kepribadian yan menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.”
Dari definsi-definisi yang dikemukakan diatas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang merincikan pengertian tentang belajar, yaitu bahwa :
a)Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk.
b)Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman : dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar; seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.—————————————————————–
c)Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus relatif mantap; harus merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lam periode waktu itu berlangsung sulit dtentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun. Ini berarti kita harus mengenyampingkan perubahan-perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasanya hanya berlangsung sementara.——-
d)Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti: Perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah / berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, ataupun sikap.——————————————————————————
B.Mengajar————————————————————————–
Pada uraian di atas telah dikemukakan bahwa istilah belajar pernah dipandang sebagai proses penambahan pengetahuan. Senada dengan nuansa penafsiran terhadap belajar seperti itu, maka “mengajar “ pun pernah dianggap sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan. Pandangan demikian membawa konsekuensi logis terhadap situasi belajar –mengajar yang diwujudkan oleh guru, yakni proses belajar-mengajar (PBM) yang terjadi di dalamnya bersifat teacher-centered. Pengajaran menjadi berpusat pada guru mengajar lebih dominan daripada belajar. Guru berperan sebagai pemberi informasi sebanyak-banyaknya kepada para siswa (information givers) atau dengan nama lain sebagai instructor. Oleh sebab itu, sumber belajar yang digunakan, maksimal hanya sebatas apa yang ada diantara dua kulit buku dan empat dinding kelas. Bahkan, banyak diantara mereka yang menjadikan dirinya sebagai satu-satunya sumber belajar. Akibatnya, siswa-siswa menjadi individu-individu yang pasif, kedaulatan merekapun pada akhirnya harus tunduk pada kekuasaan guru. Mereka tidak dididik untuk berfikir kritis, berlatih menemukan konsep atau prinsip, ataupun untuk mengembangkan kreatifitasnya. Mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan yang perubahan-perubahannya sangat cepat, bahkan dapat terjadi dalam hitungan detik seperti sekarang ini. Hal ini bisa terjadi pada masa mendatang, karena dengan penerapan konsep mengajar semacam itu, siswa-siswa tidak dididik untuk belajar sebagai manusia seutuhnya, sementara kita berharap agar kelak siswa-siswa menjadi orang-orang yang terdidik, tidak sekedar tersekolah atau belajar.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka mengajar sepantasnya dipandang sebagai upaya atau proses yang dilakukan oleh seorang guru untuk membuat siswa-siswanya belajar. Dalam hal ini guru berupaya untuk membelajarkan siswa-siswanya, dan sebaliknya para siswa menjadi pembelajar-pembelajar yang aktif, kritis dan kreatif. Dengan cara ini interaksi belajar mengajar dapat terjadi, dan pengajaran tidak lagi bersifat teacher-centered, karena telah bergeser pada kontinum pengajaran yang lebih bersifat student-centered. Pertanyaan selanjutnya, yang menggelitik kita selaku guru yang bertugas pada era informasi ini yaitu : Apakah diantara kita yang terlanjur telah menerapkan pengajaran bersifat teacher-centered akan segera berubah kearah student-centered ?——————————————————————
2. MAKNA PEMBELAJARAN——————————————————————
Istilah pembelajaran mengundang berbagai kontroversi diberbagai kalangan pakar pendidikan, terutama di antara guru-guru di sekolah. Hal ini disebabkan oleh demikian luasnya ruang lingkup pembelajaran, sehingga yang menjadi subyek belajar atau pembelajarpun bukan hanya siswa dan mahasiswa, tetapi juga peserta penataran/pelatihan atau pendidikan dan pelatihan (diklat), kursus, seminar, diskusi panel, symposium, dan bahkan siapa saja yang berupaya membelajarkan diri sendiri.
Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatau system atau proses membelajarkan subyek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subyek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien (Depdiknas,Model pembelajaran IPA SD,2003). Dengan demikian, jika pembelajaran dianggap sebagai suatu system, maka berarti pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran. Sebaliknya bila pembelajaran dianggap sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Proses tersebut dimulai dari merencanakan program pengajaran tahunan, semester, dan penyusunan persiapan mengajar (lesson plan) berikut penyiapan perangkat kelengkapannya antara lain alat peraga, dan alat-alat evaluasi. Persiapan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan guru untuk membaca buku-buku atau media cetak lainnya yang berkaitan dengan materi pelajaran yang akan disajikan kepada para siswa dan mengecek jumlah dan keberfungsian alat peraga yang akan digunakan.
Setelah persiapan tersebut, guru melaksanakan kegiatan-kegiatan pembelajaran dengan mengacu pada persiapan pembelajaran yang telah dibuatnya. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, struktur dan dan situasi pembelajaran yang diwujudkan guru akan banyak dipengaruhi oleh pendekatan atau strategi dan meode-metode pembelajaran yang telah dipilih dan dirancang penerapannya, serta filosofi kerja dan komitmen guru yang bersangkutan, persepsi, dan sikapnya terhadap siswa. Jadi semuanya itu akan menentukan terhadap struktur pembelajaran.—————————————————————————————————————————–
Pengembangan Metode dan Teknik Pembelajaran
Dalam perkembangan di dunia pendidikan Pengembangan Metode dan Teknik Pembelajaran sangat pesat dan para pakar pendidikan pun lebih giat memikirkan metode apa yang akan di gunakan dalam pembelajaran Sesuai dengan cara penggunaannya, metode pembelajaran dikalangan pendidikan diantaranya:————————————-
1.Metode ceramah, inti kegiatannya adalah memberikan orientasi atau penjelasan mengenai suatu definisi, pengertian, konsep, hukum, dan sejenisnya. Metode ceramah akan efektif apabila digabungkan dengan metode lainnya.—————————–
2.Metode demonstrasi, yaitu pengajar melakukan peragaan suatu proses, suatu kerja, keterampilan tertentu, atau suatu penampilan, dihadapan pembelajar.Metode demonstrasi, terdiri atas metode demonstrasi pasif (pembelajar hanya mengamati) dan metode demonstrasi aktif (sebagian pembelajar mencoba mendemonstrasikan kembali). Penggunaan metode demonstrasi aktif dapat mempertinggi retensi dan metode ini sangat sesuai untuk mengajarkan ketrerampilan proses, penampilan, dan kerja.—————-
3.Metode diskusi, dapat diterapkan sebagai diskusi kelas atau kelompok. Diskusi akan lebih baik apabila dilakukan dalam kelompok. Dalam kegiatan diskusi menghasilkan interaksi antara siswa dengan siswa dan gguru dengan siswa—————————
4.Metode tutorial, lebih cenderung sebagai kegiatan melajar mandirii. Bahan ajar diberikan kepada pembelajar untuk dikembangkan. Selama melaksanakan pengembangan bahan ajar, pembelajar diberi kesempatan untuk konsultasi dengan pengajar.————–
5.Metode simulasi, mewajibkan kepada pembelajar untuk melakukan simulasi tentang suatu peran, kegiatan khusus atau ,menggunakan simulator.——————————-
6.Metode praktikum, menitikberatkan pada kegiatan untuk melakukan pengamatan, percobaan, pengumpulan data, yang dilakukan di laboratorium atau ditempat lain yang disamakan dengan laboratorium atau workshop.———————————————–
7.Metode proyek, pada umumnya sama dengan metode praktikum, akan tetapi pelaksanaannya memerlukan perencanaan (proposal) yang mencakup rancangan, penjadwalan, kebutuhan bahan, dan sebagainya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Penggunaan Indikator Kinerja Guru

Penggunaan Indikator Kinerja Guru

Tujuan: Memperkenalkan kepada calon penilai tentang cara menggunakan indikator kinerja sebagai pembanding untuk mengevaluasi kinerja guru.

Bahan: Satu video pembelajaran (SMPN 28 Bandung, Ibu Elis Rosdiawati, Bahasa Inggris); video yang digunakan berdurasi 2 x 10 menit (Segmen 1 dan 2); lembar kerja, lembar evaluasi dan laporan (versi lengkap), RPP tidak diperlukan karena tidak digunakan dalam penilaian di Kompetensi 6.

Kegiatan: Latihan ini fokus untuk melakukan penilaian pada Kompetensi 6:
1.Bacalah pernyataan kompetensi (deskripsi, indikator, dan proses penilaian) hanya untuk Kompetensi 6.
2.Simaklah segmen 1 contoh proses pembelajaran dan buatlah deskripsi/catatan proses pembelajaran yang diamati berdasarkan langkah-langkah dalam proses penilaian.
3.Sampaikanlah hal-hal yang telah dideskripsikan ke depan forum dan tentukanlah apakah informasi yang disampaikan sudah cukup untuk melakukan penilaian dari seluruh indikator atau belum. Bila belum cukup simaklah video segmen ke dua.
4.Lakukanlah penilaian untuk setiap indikator kompetensi dan hitunglah total nilai.
5.Nilai, alasan-alasan pemberian nilai, dan catatan-catatan lain yang dibuat oleh masing-masing peserta kemudian dibandingkan di dalam kelompok, dengan memperhatikan: a) tingkat kepentingan setiap rincian catatan; b) kecocokan antara catatan-catatan tersebut, indikatornya, dan nilai yang diberikan untuk setiap indikator.
6.Bandingkanlah jawaban kelompok dengan model jawaban.

PENGAMATAN

PENGAMATAN

PENILAIAN

PENILAIAN

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TEKNIK DAN BENTUK HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT

Teknik Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Pelaksanaan manajemen peran serta masyarakat yang baik tidak hanya tergantung pada perencanaan dan persiapan materi yang baik, tetapi sangat tergantung pada ketepatan dalam menentukan dan menggunakan teknik komunikasi yang digunakan. Elsbree dam Mc Nally menyatakan beberapa teknik hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut: Newspapers, Radio Programme, Parent Teacher Association Meeting, Special Bulleten for parent, Active Participation of Staff off staff in community organization.
Senada dengan pendapat di atas Leonard V Koes, juga menyatakan beberapa teknik dalam melakukan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut: The Public frequently reported as used with patrons and the general public exhibits, local newspaper, commencement exercisee, bulletins to home, home and school visitations, parent teachers assosiation, service to community organization report and radio.
Edward F DeRoche menyebutkan ada 25 cara dalam melaksanakan hubungan antara sekolah dengan masyarakat yaitu:
1.Education weeks
2.Recognition days
3.Home visits
4.Teachers aides
5.CARD (Community Agency Recognation Day)
6.Parent Teachers Conference
7.Speaker’s Bureau
8.Open House
9.Home Study
10.School and classroom newsletters
11.Calenders
12.Voting Reminder card
13.Success card
14.Local Newspaper
15.Career Specialist
16.Slide presentation
17.Coffe hour
18.Activity Displays
19.Class project in the community
20.Letters to the editor
21.Public performances
22.Fairs and tours
23.Telephone hotline
24.Strategy borrowing
25.Suggestion boxes
Apabila kita cermati dari beberapa pendapat tersebut, nampak bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara dan media baik media langsung (tatap muka) maupun media tidak langsung. Bahkan dalam perkembangan teknologi sekarang, hubungan sekolah dengan masyarakat sebenarnya dapat dilakukan menggunakan teknologi modern seperti telpon, internet dan sebagainya.
Berikut ini ada beberapa teknik yang dapat dipertimbangkan sebagai salah satu metode dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat yang umum dan memungkinkan untuk dilaksanakan di sekolah.

1. Siaran Radio
Siaran radio sebagai sarana penyebaran informasi memiliki keunggulan dalam luasnya wilayah penyebaran informasi yang dapat dijangkau dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian dalam waktu yang singkat dapat disebarkan informasi kesemua pelosok perdesaan. Tetapi ada beberapa kelemahan siaran radio sebagai media penyebaran informasi khususnya yang berkaitan dengan program pendidikan. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
Diperlukan kemampuan yang tinggi dalam membuat, mendesain kemasan acara siaran yang mampu menarik minat masyarakat untuk mendengarkan siaran radio. Ini berarti memerlukan waktu yang relatif lama dan terkendala tenaga yang dimiliki oleh sekolah belum memiliki kemampuan yang tinggi untuk merancang materi siaran secara profesional.
Masyarakat perdesaan pada umumnya lebih senang mendengarkan radio dalam bentuk hiburan seperti lagu-lagu dan drama.
Untuk itu maka, acara siaran radio apabila digunakan sebagai salah satu teknik hubungan sekolah dengan masyarakat maka, isi siaran/materi yang harus disampaikan dikemas melalui selingan-selingan pesan pendek diantara acara-acara yang menarik perhatian masyarakat seperti hiburan dan sendiwara radio. Di samping itu dapat pula dilakukan dialog radio dan dialog interaktif melalui radio yang digabungkan dengan acara hiburan. Dengan demikian acara tersebut akan diikuti oleh masyarakat.

2. Siaran TVRI (khusunya Siaran Lokal).
TVRI Lokal mempunyai keunggulan karena luasnya wilayah yang dapat dijangkau oleh siaran dan mampu menjangkau semua wilayah pedalaman/perdesaan serta cukup menarik. Tetapi ada beberapa kelemahan seperti:
Tidak semua masyarakat sasaran (masyarakat miskin), memiliki pesawat TV, Sulitnya membuat kemasan acara yang benar-benar menarik masyarakat .
Meskipun demikian akhir-akhir ini nampaknya acara TVRI lokal sudah mulai digemari dan diikuti oleh masayarakat, termasuk acara dialog interaktif yang disiarkan sesuai dengan permasalahan yang sedang berkembang. Hal ini merupakan kesempatan bagi sekolah untuk menampilkan prestasi yang dicapai kepada masyarakat secara luas. Untuk itu siaran perlu didesain dalam bentuk:
Dialog interaktif dengan menampilkan Pejabat Dinas Pendidikan setempat, Kepala Sekolah, Tokoh masyarakat (termasuk tokoh-tokoh dari dunia usaha) dan tokoh agama serta Tokoh Pendidik. Pada dialog ini masing-masing peserta berbicara menurut perspektif masing-masing. Tokoh agama membahas pandangan agama terhadap kewajiban belajar, dsb. Di samping itu dalam dialog ini akan dapat diungkap apa harapan masyarakat dan tokoh masyarakat tentang pendidikan dan masyarakat tahu/mengerti apa harapan lembaga pendidikan terhadap masyarakat.
Release-release berita tentang kegiatan yang berkaitan dengan keberhasilan Sekolah (prestasi akademik siswa maupun prestasi non akademi).
Diskusikan dalam kelompok:
Coba susun dan desain program sosialisasi tentang sekolah anda yang baru anda tempati melalui program siaran TV local.

3. Sticker dan Kalender (Almanak)
Sticker yang berisikan pesan-pesan singkat dan promosi tentang sekolah dan poster- poster menarik dan lucu merupakan media yang sangat efektif untuk digunakan sebagai media penyebaran informasi. Hal ini didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut :
Karena sticker diberikan langsung kepada anak-anak dan msyarakat/orang tua yang memiliki anak yang sedang sekolah (disekolah yang bersangkutan), sehingga informasi/pesan yang disampaikan dapat mencapai sasaran langsung tanpa perantara. Sticker dapat pula berisi ajakan, seruan kepada anak-anak untuk belajar (pengembangan minat baca) dan ajakan partisipasi kepada orang tua murid/masyarakat untuk melakukan pengawasan belajar anak-anak serta pengawasan perilaku dan pergaulannya.
Karena sticker ditempatkan/ditempel oleh anak-anak / masyarakat yang menjadi sasaran di berbagai tempat yang mudah dilihat (seperti : di rumah, mobil, sepeda motor, sepeda, kapal, perahu dll), maka frekwensi dan intensitas interaksi media dengan masyarakat sasaran menjadi lebih banyak dan intensif. Sebab menurut hasil penelitian semakin banyak suatu media berinteraksi dengan pembacanya, akan dapat merubah persepsi dan perilaku sasaran interaksi. Dengan sticker ini akan terjadi interaksi yang sangat banyak (setiap hari).
Dengan pembagian sticker kerumah-rumah masyarakat sasaran (anak-anak, warung dsb), akan mendapatkan penghargaan bagi masyarakat pedesaan. Kondisi ini akan menumbuhkan perhatian dan pada gilirannya akan menimbulkan sikap dukungan mereka terhadap program sekolah yang disosialisasikan.
Sticker sebagai media cukup murah dan mudah didesain. Disamping itu sticker ini akan mampu bertahan minimal satu tahun. Dengan demikian isi pesan yang ada akan selalu dilihat dan diingat oleh masyarakat sasaran. Misalnya dalam sticker ini dapat dimuat pesan-pesan singkat tentang :
Sekolah sukses masa depan cerah
Putus sekolah Masa depan suram
Belajar Yes !!!!!
Obat sekolah No!!!!!
Dan lain-lain.

4. Media Poster
Media Poster sebagai media penyebaran informasi akan sangat efektif untuk mencapai khalayak sasaran melalui distribusi dan penempatan yang sangat felksibel. Poster dapat ditempatkan ditengah-tengah masyarakat seperti pasar, (sebagai tempat pertemuan mingguan masyarakat perdesaan), kantor pelayanan masyarakat desa (kantor Kepala Desa, Rumah RT dsb), bahkan dapat diberikan langsung ke rumah-rumah ssaran, serta tempat-tempat lainnya. Dengan demikian poster diarahkan untuk mencapai khalayak sasaran sebagai berikut:
a. Masyarakat/orang tua yang memiliki anak usia sekolah, anaknya terancam DO dan orang tua yang anaknya lulus SD/MI tapi tidak melanjutkan atau diduga tidak akan melanjutkan ketingkat SLTP, lebih-lebih pada saat ini tentang pelaksanaan ujian akhir nasional, hal ini sangat penting untuk dikembangkan dan ditumbuhkan agar mereka siap dan mengantisipasi dengan pembimbingan tersebut.
b. Tokoh masyarakat dan tokoh agama.
c. Institusi-institusi masyarakat seperti tempat pengajian, langgar, mushola dan mesjid.
d. Kantor Pelayanan Masyarakat (Sekolah-sekolah dan kantor pendidikan di Kabupaten/Kodya dan Kecamatan.
Agar poster ini benar-benar dapat menyentuh dan menggugah kemauan orang tua murid/masyarakat untuk mendukung program belajar anak dan program sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah atau pengembangan sekolah, maka pesan harus didesain dengan pendekatan agama, dalam arti menyebutkan ayat-ayat Alqur’an atau Hadist yang berkaitan dengan kewajiban orang tua/masyarakat untuk mendidik, membimbing dan atau menyekolahkan anaknya sampai batas tertentu.
Pesan akan efektif dan dapat diterima oleh masyarakat apabila diucapkan oleh tokoh yang disegani (memiliki kharismatik yang tinggi) di tengah-tengah masyarakat.

5. Perlombaan-Perlombaan
Perlombaan-perlombaan merupakan kegiatan yang cukup menarik bagi anak-anak usia sekolah di perdesaan, hal ini akan mampu membuat dan meningkatkan motivasi anak berkompetisi secara sehat, seperti lomba cerdas cermat, debat Bahasa Inggris, mengarang ceritera, lomba KIR, lomba inovatif dan sebagainya. Hal ini sangat mendorong para siswa untuk berkompetisi dan memacu kemampuannya baik secara individu maupun secara kelompok yang mengatas namakan sekolah. Untuk itu maka kegiatan perlombaan perlu didesain secara tepat dan dilaksanakan sasaran dengan sasaran yang tepat, waktu yang tepat dan substansi yang akurat. Kegiatan-kegiatan perlombaan yang cukup menarik dan disaksikan oleh orang banyak (termasuk orang tua/masyarakat) adalah sebagai berikut:

6. Leaflet
Leaflet sebagai salah satu media untuk mnyebarkan informasi, merupakan salah satu cara yang cukup efektif. Sebab dengan media ini informasi dapat diberikan secara lebih jelas dan lengkap. Di samping itu apabila media ini diberikan kepada Tokoh masyarakt, tokoh agama, orang tua dan tokoh-tokoh lainnya, akan menjadi bahan informasi yang jelas agar mereka dapat menjelaskan secara lengkap tentang program belajar atau program sekolah/pendidikan kepada masyarakat sasaran. Dengan demikian mereka merupakan kepanjangan tangan Depdiknas, sekolah atau institusi pendidikan dalam menyebarlusakan informasi secara benar dan lengkap.

7. Dialog Langsung dengan Masyarakat (Pertemuan Sekolah dengan Masyarakat/ Orang Tua Murid)
Edward F DeRoche menyatakan bahwa ada 4 tujuan dilaksanakannya kegiatan pertemuan antara orangb tua murid/masyarakat dengan pihak sekolah, yaitu:
a. For the teacher and the parents to get to know each other
b. For the teachers to share information about the child’s academic progress and behavior with the parents
c. For parent to share information about the child’s out of school behavior and activities with the teacher
d. For both to examine solution to problems and to develop ways of maintaining positive behavior and achivement
Dialog langsung ini dapat dilakukan dengan orang tua murid, tokoh masyarakat dan atau tokoh agama serta tokoh pendidikan lainnya tentang program belajar dan program sekolah, lebih-lebih yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan baru yang diambil oleh pemerintah/sekolah, yang akan berakibat pada orang tua. Dialog akan sangat efektif apabila dilakukan langsung dengan masyarakat/orang tua murid yang menjadi sasaran khusus. Oleh sebab itu dialog dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sosial keagamaan yang ada di masyarakat seperti: Kelompok Pengajian, Kelompok Yasinan. Kelompok Shalawat dan kelompok-kelompok lainnya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat perdesaan.
Melalui pertemuan yang dilakukan secara berkala akan terjadi saling tukar menukar informasi (terjadi face to face relationship) antara sekolah dengan orang tua murid/masyarakat. Di dalam pertemuan atau dialog ini segala permasalahan yang dihadapi baik oleh sekolah maupun oleh orang tua murid/masyarakat minimal diketahui bersama yang pada gilirannya akan dapat dicari pemecahannya secara bersama. Pertemuan secara berkala ini dapat dilakukan pada awal tahun ajaran, setelah catur wulan (setelah pembagian raport) atau setelah tahun ajaran berakhir.
Salah satu pertemuan orang tua murid dengan pihak sekolah/guru/wali kelas yang selama ini cukup banyak digunakan oleh sekolah-sekolah adalah pembagian raport yang dilakukan melalui orang tua siswa.
Pembagian raport melalui orang tua murid ini memiliki keunggulan tersendiri sebagai teknik hubungan sekolah dengan masyarakat apabila dilakukan secara benar. Sebab melalui kegiatan ini orang tua akan mengetahui apa yang dikehendaki oleh pihak sekolah dalam membantu anak didik pada saat berada di rumah. Di samping itu orang tua akan tahu secara langsung dari guru (wali kelas) tentang kedudukan anaknya di dalam kelas (termasuk pandai, sedang, bodoh, nakal, disiplin, bahkan masalah yang dialami anak dalam belajar). Karena itu prosedur pembagian raport yang benar harus dilakukan. Hal terpenting yang harus terjadi pada saat pembagian raport bukanlah hanya sekedar orang tua murid datang dan menerima raport anaknya, tetapi terjadi dialog antara kepala sekolah, guru dengan orang tua murid tentang berbagai hal antara lain:
a. Progress atau kemajuan yang diperoleh anak dan prestasi sekolah, khususnya prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Secara khusus progress anak dalam satu semester atau satu tahun ajaran perlu disampaikan secara umum kepada semua orang tua murid. Pada anak tertentu (yang dianggap bermasalah) perlu disampaikan berbagai hal yang terkait dengan anak seperti perilaku keseharian, disiplin, motivasi belajar dan lain-lain secara khusus (face to face) oleh wali kelas.
b. Program. Program apa yang akan dilakukan sekolah dalam satu semester yang akan datang atau satu tahun yang akan datang, perlu diberitahukan kepada masyarakat/ orang tua murid agar mereka mendapat kejelasan kemana arah pengembangan sekolah ini di masa yang akan datang. Program jangka panjang maupun jangka pendek bahkan kalau perlu program harian sekolah dalam mempercepat peningkatan mutu pendidikan harus pula mendapat perhatian yang serius pada saat pertemuan dengan orang tua murid/masyarakat.
c. Problem, yaitu berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah, khususnya masalah yang dihadapi anak dalam proses pendidikan di sekolah, sehingga orang tuanya mengerti apa dan bagaimana mereka harus berperan dalam membantu sekolah untuk meningkatkan kualitas anaknya masing-masing.
Tugas diskusi problem solving:
Coba anda diskusikan kalau seandainya anda kepala sekolah beserta dewan guru akan menyelenggarakan pembagian raport di akhir semester melalui orang tua murid. Bagaimana prosedur yang baik dalam pembagian raport tersebut agar benar-benar dapat mencapai sasaran. Kondisi sekolah anda termasuk yang tidak menonjol dalam prestasi akademik dan beberapa siswa bermasalah dengan kemampuan akademik dan perilaku kedisiplinan.

8. Kunjungan Ke Rumah (Home Visitation)
Home visitation merupakan salah satu cara dalam melaksanakan hubungan sekolah dengan masyarakat/orang tua murid yang dapat mempererat hubungan antara sekolah deng orang tua murid. Melalui kunjungan ini ada beberapa manfaat yang diperoleh yaitu:
a. Sekolah mengenal situasi yang sebenarnya baik dari orang tua murid maupun dari siswa secara langsung. Hal ini dapat berfungsi sebagai cross chek bagi sekolah mengenai kondisi, karakter maupun kepribadian dan perilaku belajar anak di rumah.
b. Orang tua murid akan mendapat keterangan yang sebenarnya tentang anaknya di sekolah, yang berkenaan dengan: hasil belajarnya, tingkah laku dan pergaulan di sekolah, kehadiran di sekolah, prestasi non akademik dan lain sebagainya.
c. Sekolah akan memperoleh data dan gambaran yang lengkap dan akurat tentang siswa di rumah, sikap orang tua siswa dalam kehidupan di rumah atau pola pergaulan dalam keluarga.
d. Sekolah akan memperoleh data tentang kebutuhan orang tua akan pendidikan anaknya di sekolah, beserta berbagai harapan yang mereka inginkan terhadap sekolah.
Informasi-informasi tersebut sangat diperlukan, baik oleh sekolah maupun bagi orang tua murid dan keluarganya dalam upaya membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi siswa dalam belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Jacobson yang menyatakan bahwa: Knowledge of the childrens beckround in a teacher,s class or home is invaluable, because it result in clearer insight by teachers into the problems wich condition the particular children.
Diskusi.
Coba anda diskusikan instrument yang akan digunakan dlam kegiatan kunjungan ke rumah. Hal pokok yang diinginkan sekolah dalam kunjungan ke rumah adalah bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat terhadap sekolah.

9. Partisipasi Sekolah dengan Masyarakat Lingkungan
Sekolah dapat berpartisipasi dengan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat umum, misalnya turut kerja bakti, gotong royong kebersihan lingkungan dan sebagainya. Melalui kegiatan ini akan dapat menciptakan saling pengertian antara sekolah dengan masyarakat setempat. Adanya saling pengertian ini akan membuahkan tumbuhnya saling membantu. Apabila ini dapat tercipta maka :
a. Apa yang diperbuat sekolah akan sesuai dengan keinginan masyarakat
b. Masyarakat akan memberikan bantuannya sesuai dengan apa yang diharapkan sekolah.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Chamberlain and Kindred yang menyatakan bahwa: Throug this exchange of ideas teacher (and principal) can interpret the school to the community, and community can be interpreted to the school.
Melalui parrtisipasi sekolah dalam kegiatan masyarakat ini akanmenumbuhkan kepekaan social sekolah terhadap lingkungannya. Hal ini memberikan nilai tambah bagi anak didik dalam rangka pembentukan karakter yang peka terhadap lingkungan. Kegiatan seperti kebersihan lingkungan, penanaman pohon/penghijauan, membantu panti asuhan/ kunjungan, bantuan korban bencana (misalnya banjir, kebakaran) maupun kegiatan lainnya di masyarakat sangat mendukung pembentukan kepekaan social, solidaritas social.
Untuk terlaksananya kegiatan tersebut secara efektif, diperlukan persiapan yang matang oleh sekolah dengan terlebih dahulu dilakukan:
a. pembentukan kepanitiaan yang melibatkan guru dan siswa serta orang tua siswa (bila diperlukan)
b. penetapan sasaran kegiatan/lokasi dan jenis kegiatan.
c. Persiapan pembekalan awal kepada peserta kegiatan
d. Persiapan bahan yang diperlukan untuk kegiatan
e. Serta kemungkinan-kemungkinan lain yang tak terduga.

10. Surat Kabar Sekolah
Surat kabar sekolah merupakan media informasi yang dapat disebarkan keberbagai pihak, institusi maupun sasaran lainnya secara luas. Melalui surat kabar sekolah ini banyak informasi yang dapat diberikan/disosialisasikan kepada berbagai sasaran.
Penggunaan surat kabar sekolah sebagai media memberikan informasi kepada masyarakat memberikan nilai tambah yang besar, tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat sekolah dan orang tua/msyarakat umum tentang sekolah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi siswa khususnya dalam meningkatkan kemampuan menulis melalui latihan sebagai penulis/wartawan kecil. Hal ini mendorong siswa untuk banyak membaca dan menggunakan bahasa secara baik dan benar.
Diskusi:
Buat susunan redaktor pelaksana koran sekolah, dan rencana isi koran sekolah yang akan diterbitkan.

B. Bentuk-bentuk Pertisipasi orang Tua Murid/Masyarakat yang Diharapkan oleh Lembaga Pendidikan (khususnya Sekolah)
Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa: apabila masyarakat menganggap sekolah merupakan cara dan lembaga yang dapat member keyakinan untuk membina dan meningkatkan kualitas perkembangan anak-anaknya, mereka akan mau berpartisipasi kepada lembaga pendidikan (Walsh). Untuk mengikutsertakan masyarakat dalam pengembangan pendidikan para manajer pendidikan/kepala sekolah memegang peranan yang sangat strategis dan menentukan. Kepala sekolah dapat melalui tokoh-tokoh masyarakat secara aktif menggugah perhatian mereka untuk memahami dan membantu sekolah dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan sekolah dan masyarakat. Mereka dapat diundang untuk membahas bentuk-bentuk kerjasama dalam meningkatkan mutu pendidikan, tukar menukar pendapat bahkan adu argumentasi dan sebagainya dalam mencari solusi peningkatan mutu pendidikan. Bentuk partisipasi bagaimana yang diharapkan sekolah terhadap orang tua murid, tentunya didasarkan pada tujuan apa yang hendak dicapai oleh sekolah dalam proses pendidikan di sekolah.
Tujuan yang ingin dicapai sekolah pada hakekatnya adalah tujuan pendidikan secara nasional. Tujuan tersebut apabila kita butiri terlihat unsure-unsur sebagai berikut: Manusia yang bertaqwa, berbudi pekerti dan berkepribadian, Disiplin, bekerja keras, bertanggung jawab serta mandiri, Cerdas dan terampil, Sehat jasmani dan rohani, Cinta tanah air dan mempunyai semangat kebangsaan serta kesetiakawanan sosial.
Edawar F DeRoche menyebutkan ada beberapa hal pokok yang harus ditekankan dan menjadi perhatian utama untuk dibina, dikembangkan dan ditingkatkan sekolah melalui kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu:
1. Children’s and Parents work habits
2. Structur, routin and priorities
3. Time to study, work, play, sleep, read
4. Space to do these things
5. Responsibility, punctually and sharing
6. Academic guidance and support
7. encouragement, interest and commitment
8. prise, approval and reward
9. knowledge of the child’s strengths, weaknesses and learning problems
10. supervision of child’e homework, study and activities
11. use reference materials
12. Stimulation to explore and discuss ideas and events
13. family/parent/child activities
14. conversations, games, hobbies, play, reading
15. family cultural activities
16. discussion of books, television, enwspaper, magazines
17. language development in the home
18. mastery of mother tongue
19. correct language usage
20. good speech habits
21. vocabulary and sentence pattern development
22. listening, reading, talking and writing
23. Academic aspirations and expectations
24. motivation to learn well
25. support, encouragement
26. parents’knowledge of school activities, teachers, classes, subjects
27. standards and expectations
28. assistence to child’e aspirations
29. plans fir high school, college the future
30. friendships with others who have an interest in education
30. sacrifices of time and money
Apabila kita cermati pendapat di atas, nampak bahwa apa yang diinginkan sekolah dari orang tua murid sebenarnya lebih cenderung untuk meningkatkan prestasi akademik dan non akademik siswa. Jadi komunikasi antara sekolah dengan masyarakat sebenarnya tidak hanya mencari bantuan uang/material semata-mata, apalagi kalau bantuan materaial menjadi tujuan utama dalam hubungan sekolah dengan masyarakat. Kondisi inilah sebenarnya yang menyebabkan sering terjadi orang tua malas atau bahkan tidak mau datang ke sekolah kalau mendapat undangan dari pihak sekolah.
Apabila Masyarakat memandang sekolah (lembaga pendidikan) sebagai lembaga yang memiliki cara kerja yang meyakinkan dalam membina perkembangan anak-anak mereka, maka masyarakat akan berpartisipasi kepada sekolah. Namun keadaan demikian belum terjadi sepenuhnya di negara-negara berkembang, bahkan masih sangat banyak masyarakat (orang tua murid) yang belum meyakini, belum tahu atau belum mengerti apa dan bagaimana sekolah melakukan proses pendidikan bagi anak-anaknya. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketidaktahuan mereka tentang pentingnya keterlibatan orang tua/masyarakat dalam memajukan pendidikan, ketidakmampuan mereka dalam membantu sekolah/pendidikan karena status social ekonomi mereka yang tergolong rendah, bahkan dapat juga disebabkan karena ketidak pedulian mereka akan pendidikan padahal mereka sebenarnya memliki tingkat pendidikan yang memadai dan status social ekonomi yang tinggi.
Untuk melibatkan masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah, maka para manajer sekolah (kepala sekolah) sudah seharusnya aktif menggugah perhatian masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan sebagainya untuk bersama-sama berdiskusi atau bertukar pikiran untuk memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah sambiul memikirkan apa dan bagaimana seharusnya kegiatan dan program kerja di masa depan.
Komunikasi tentang ppendidikan kepada amasyarakat tidak cukup hanya dengan informasi verbal saja, tetapi perlu dilengkapi dengan pengalaman nyata yang ditunjukkan kepada masyarakat agar timbul citra positif tentang pendidikan di kalangan mereka, sebab masyarakat pada umumnya ingin bukti nyata sebelum mereka memberikan dukungan (National school Public Relation Association). Bukti itu dapat ditunjukkan berupa pameran hasil produk sekolah, tayangan keberhasilan siswa sebagai juara cerdas cermat, juara oleh raga, tayangan penemuan inovetif produktif siswa dan sekolah dan sebagainya.
Yang menarik bagi masyarakat sebenarnya adalah apabila lembaga pendidikan sanggup mencetak lulusan yang siap pakai. Lulusan yang bermutu (misalnya sebagian besar siswanya dapat melanjutkan sekolah ke sekolah yang lebih tinggi dan berkualitas).
Di negara-negara amaju, terutama yang menganut sistem desentralisasi sekolah dikreasikan dan dipertahankan oleh masyarakat (Walsh, 1979). Kesadaran mereka sebagai pemilik dan penangggung jawab pendidikan sudah sangat tinggi, sedangkan di negara yang sedang berkembang masyarakat masih sangat menggantungkan mutu pendidikan kepada pihak pemerintah, padahal pemerintah sendiri sangat kekurang dana untuk hal tersebut.
Beberapa contoh partisipasi masyarakat dalam pendidikan ialah:
1. Mengawasi perkembangan pribadi dan proses belajar putra-putrinya di rumah dan bila perlu memberi laporan dan berkonsultasi dengan pihak sekolah. Hal memang agak jarang dilakukan oleh orang tua murid, mengingat kesibukan bekerja atau karena alas an lain. Tetapi hal ini perlu ditingkatkan peran serta masyarakat untuk terlibat dalam pengawasan anak-anak mereka. Kenakalan anak sekolah dan lain-lain yang terjadi selama ini antara lain akibat lemahnya pengawasan yang dilakukan pada saat anak berada di luar sekolah.
2. Menyediakan fasilitan belajar di rumah dan membimbing putra-putrinya agar belajar dengan penuh motivasi dan perhatian. Hal ini sering menjadi masalah bagi orang tua murid, khususnya dalam fasilitas belajar dan membimbing anak.
3. Menyediakan perlengkapan belajar yang dibutuhkan untuk belajar di lembaga pendidikan (sekolah)
4. Berusaha melunasi SPP dan bantuan pendidikan lainnya
5. Memberikan umpan balik kepada sekolah tentang pendidikan, terutama yang menyangkut keadaan putra-putrinya. Umpan balik dari orang tua tentang keadaan yang sebenarnya putra-putrinya sangat jarang dilakukan, karena mereka beranggapan akan mempengaruhi penilaian sekolah dan guru tentang anaknya. Oleh sebab itu penegasan sekolah untuk memilah mana yang terkait dan berpengaruh terhadap penilaian dan mana informasi yang diperlukan untuk perbaikan dan pembinaan anak-anak perlu dilakukan oleh sekolah, dengan demikian tida ada perasaan takut dari orang tua untuk memberikan informasi kepada sekolah tentang anaknya.
6. Bersedia datang ke sekolah bila diundang atau diperlukan oleh sekolah. Upayakan memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa kedatangan mereka sangat penting untuk kemajuan anaknya di sekolah, dan hindarkan permintaan sumbangan dalam bentuk uang sebagai pokok persoalan yang dibahas apabila mengundang orang tua murid, lebih-lebih pada sekolah yang orang tuanya sebagian terbesar adalah masyarakat menengak ke bawah.
7. Ikut berdiskusi memecahkan masalah-masalah pendidikan seperti sarana, pra sarana, kegiatan, keuangan, program kerja dan sebagainya.
8. Membantu fasilitas-fasilitan belajar yang dibutuhkan sekolah dalam memajukan proses pembelajaran.
9. Meminjami alat-alat yang dibutuhkan sekolah untuk berpraktek, apabila sekolah memerlukannya
10. Bersedia menjadi tenaga pelatih/nara sumber bila diperlukan oleh sekolah
11. Menerima para siswa dengan senang hati bila mereka belajar di lingkungan masyarakat (praktikum misalnya)
12. Memberi layanan/penjelasan kepada siswa ayang sedang belajar di masyarakat
13. Menjadi responden yang baik dan jujur terhadap penelitian-penelitian siswa dan lembaga pendidikan
14. Bagi ahli pendidikan bersedia menjadi ekspert dalam membina lembaga pendidikan yang berkualitas
15. Bagi hartawan bersedia menjadi donator untuk pengembangan sekolah
16. Ikut memperlncar komunikasi pendidikan
17. Mengajukan usul-usul untuk perbaikan pendidikan
18. Ikut mengontrol jalannya pendidikan (kontrol sosial)
19. Bagi tokoh-tokoh masyarakat bersedia menjadi partner manajemer pendidikan dalam mempertahankan dan memajukan lembaga pendidikan
20. Ikut memikirkan dan merealisasikan kesejahteraan personalia pendidikan.
Di samping pendapat di atas, ada pendapat lain yang dikembangkan berdasarkan beberapa hasil kajian, yang secara rinci menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang sangat diharapkan sekolah adalah sebagai berikut:

1 . Mengawasi/membimbing kebiasaan anak belajar di rumah
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam memberikan bimbingan kebiasaan anak belajar di rumah adalah sebagai berikut:
a. Mendorong anak dalam belajar secara teratur di rumah, termasuk dalam hal ini peranan orang tua membimbing dan memberikan pengawasan terhadap kegiatan belajar anak di rumah.
b. Mendorong anak dalam menyusun jadwal dan struktur waktu belajar serta menetapkan prioritas kegiatan di rumah, pengawasan pelaksanaan jadwal belajar dirumah menjadi sangat penting bagi orang tua murid. Hal ini harus mendapat perhatian bagi sekolah untuk diberikan informasi yang jelas dan lengkap tentang apa dan bagaimana mereka bias melakukan kegiatan tersebut.
c. Membinbing dan mengarahkan anak dalam penggunaan waktu belajar, bermain dan istirahat.
d. Membimbing dan mengarahkan anak melakukan sesuatu kegiatan yang menunjang pelajaran di sekolah. Orang tua diharapkan berperan aktif dalam membimbing anakdan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang pembentukan dirinya kea rah kedewasaan.

2. Membimbing dan Mendukung Kegiatan Akademik anak
a. Mendorong dan menumbuhkan minat anak untuk rajin membaca dan rajin belajar (minat Baca). Penciptaan situasi yang kondusif ikloim yang menumbuhkan minat baca sangat diperlukan di lingkungan keluarga agar ada kesamaan antara iklim yang tercipta di sekolah dengan di rumah. Hal ini akan mempercepat peningkatan mutu belajar anak.
b. Memberikan penguatan kepada anak untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya. Pemberian hadiah, pujian dan lain-lain sangat diperlukan untuk memperkuat perilaku positif anak.
c. Menyediakan bahan yang tepat serta fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan anak dalam belajar
d. Mengetahui kekuatan dan kelemahan anak serta problem belajar dan berusaha untuk memberikan bimbingan
e. Mengawasi pekerjaan rumah, aktivitas belajar anak
f. Menciptakan suasana rumah yang mendukung kegiatan akademik anak
g. Membantu anak secara fungsional dalam belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah tepat waktu.

3. Memberikan dorongan untuk meneliti, berdiskusi tentang gagasan dan atau kejadian-kejadian aktual
a. Mendorong anak untuk suka meneliti serta mamiliki motivasi menulis analitis/ilmiah
b. Menyediakan fasilitas bagi anak-anak untuk melakukan penelitian
c. Mendorong anak untuk melakukan kegiatan ilmiah
d. Berdiskusi dan berdialog dengan anak tentang ide-ide, gagasan atau tentang bahan pelajaran yang baru, aktivitas yang bermanfaat, masalah-masalah aktual dan sebagainya.

4. Mengarahkan aspirasi dan harapan akademik anak
a. Memberikan motivasi kepada anak untuk belajar dengan baik sebagai bekal masa depan.
b. Mendorong dan mendukung aspirasi anak dalam belajar
c. Mengetahui aktivitas sekolah dan aktivitas anak dalam mempelajari sesuatu.
d. Mengetahui standar dan harapan sekolah terhadap anak dalam belajar
e. Hadir pada pertemuan guru dengan orang tua murid yang diselenggarakan oleh sekolah
f. Memberikan ganjaran positif terhadap performansi anak di rumah atau di sekolah yang mendukung belajar anak.

Mengingat besarnya pengaruh orang tua murid terhadap prestasi aspek kognitif, afektif dan psikomotor, Radin seperti dikutif oleh Seifert & Hoffnung (1991) menjelaskan ada enam kemungkinan caya yang dapat dilakukan orang tua murid dalam mempengaruhi anaknya, yaitu:
1. Modelling of behaviors (pemodelan perilaku), yaitu gaya dan cara orang tua berperilaku dihadapan anak-anak, dalam pergaulan sehari-hari atau dalam setiap kesempatan akan menjadi sumber imitasi bagi anak-anaknya. Yang diimitasi oleh oleh anak-anak tentunya tidak hanya perilaku yang baik-baik saja, tetapi juga yang berkaitan dengan perilaku yang buruk, kasar dan sebagainya di lingkungan masyarakat atau di lingkungan rumah seperti marah-marah, berbicara kasar dan sebagainya, maka kecenderungan peniruan perilaku tersebut oleh anak akan sangat besar. Oleh sebab itu orang tua ataupun lingkungan keluarga dan masyarakat yang menunjukkan perilaku negatif akan sangat mempengaruhi perilaku anak di rumah, di sekolah, maupun dimasyarakat. Dalam kaitan dengan hal ini diperlukan kesamaan nilai dan norma yang berlaku di sekolah dengan yang berlaku di keluarga dan masyarakat. Agar ketiga lingkungan tersebut memiliki kesamaan maka sekolah memiliki kewajiban untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana nilai dan norma yang berlaku di sekolah, dan harapan kepada keluarga (orang tua murid) dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga nilai dan norma tersebut.
2. Giving rewards and punishments (memberikan ganjaran dan hukuman). Cara orang tua memberikan ganjaran dan hukuman juga mempengaruhi terhadap perilaku anak. Ganjaran terhadap perilaku yang baik dari orang tua dapat memperkuat perilaku tersebut untuk diulang kembali pada kesempatan lain oleh anak, agar dia kembali mendapatkan ganjaran/hadiah dari orang tuanya. Sebaliknya hukuman (yang bersifat mendidik) akan memperlemah pengulangan kembali perilaku yang sama pada kesempatan lainnya.
3. Direct instruction (perintah langsung), pemberian perintah secara langsung atau tidak langsung memberi pengaruh terhadap perilaku, seperti ungkapan orang tua “ jangan malas belajar kalau ingin dapat hadiah” pernyatan ini sebenarnya perintah langsung yang lebih bijaksana, sehingga dapat menumbuhkan motivasi anak untuk lebih giat belajar. Hal ini disebabkan karena anak memahami apa yang diinginka oleh orang tua. Bagaimana sekolah memberikan informasi kepada orang tua tentang hal ini akan berpengaruh seberapa banyak hal ini juga dilakukan oleh sekolah terhadap anak-anaknya. Banyak masyarakat tidak mengerti bagaimana penghargaan dan hukuman yang akan memberikan dampak bagi proses pendidikan, misalnya pemberian orang tua yang berlebihan secara material yang sebenarnya akan berpengaruh negative, malah oleh orang tua tidak dipahami. Akibatnya setelah terjadi penyimpangan perilaku akibat pemberian yang berlebihan tersebut baru mereka sadar.
4. Stating rules (menyatakan aturan-aturan), menyatakan dan memjelaskan aturan-aturan oleh orang tua secara =berulang kali akan memberikan peringatan bagi anak tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindarkan oleh anak.
5. Reasoning (nalar). Pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bisa mempertanyakan kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orang tua untuk mempengaruhi anaknya, misalnyan orang tua bisa mengingatkan anaknya tentang kesenjangan perilaku dengan nilai-nilai yang dianut melalui pernyataan-pernyataan. Contohnya “ sekarang rangking kamu jelek, karena kamu malas belajar, bukan karena kamu bodoh! “.
6. Providing materials and settings. Orang tua perlu menyediakan berbagai fasilitas belajar yang diperlukan oleh anak-anaknya seprti buku-buku dan lain sebagainya. Tetapi buku apa dan fasilitas apa yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, banyak orang tua tidak memahaminya. Untuk itu dalam kegiatan hubungan dengan orang tua murid, kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu disampaikan agar mereka dapat menyesuaikannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN

A. Mengapa Pendidikan Memerlukan Masyarakat
Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah dan tersedianya sarana dan prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan keluarga dan atau masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah (sekolah), keluarga dan masyarakat. Ini berarti mengisyaratkan bahwa orang tua murid dan masyarakat mempumyai tanggung jawab untuk berpartisipasi, turut memikirkan dan memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Partisipasi yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauhmana masyarakat dapat diberdayakan dalam proses pendidikan di sekolah adalah indikator terhadap manajemen sekolah yang bersangkutan. Pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan ini merupakan sesuatu yang esensial bagi penyelenggaraan sekolah yang baik (Kumars, 1989). Tingkat partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah ini nampaknya memberikan pengaruh yang besara bagi kemajuan sekolah, kualitas pelayanan pembelajaran di sekolah yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemajuan dan prestasi belajar anak-anak di sekolah. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Husen (1988) dalam penelitiannya bahwa siswa dapat belajar banyak karena dirangsang oleh pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru dan akan berhasil dengan baik berkat usaha orang tua mereka dalam memberikan dukungan.
Penelitian lain yang memperkuat apa yang dikemukakan di atas dinyatakan oleh Levine & Hagigust, 1988) yang menyatakan bahwa Lingkungan keluarga, cara perlakuan orang tua murid terhadap anaknya sebagai salah satu cara/bentuk partisipasi mereka dalam pendidikan dapat meningkatkan intelektual anak. Partisipasi orang tua ini sangat tergantung pada ciri dan kreativitas sekolah dalam menggunakan pendekatan kepada mereka. Artinya masyrakata akan berpartisipasi secara optimal terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah sangat tergantung pada apa dan bagaimana sekolah melakukan pendekatan dalam rangka memberdayakan mereka sebagai mitra penyelenggaraan sekolah yang berkualitas. Hal ini ditegaskan oleh Brownell bahwa pengetahuan masyarakat tentang program merupakan awal dari munculnya perhatian dan dukungan. Oleh sebab itu orang tua/masyarakat yang tidak mendapatkan penjelasan dan informasi dari sekolah tentang apa dan bagaimana mereka dapat membantu sekolah (lebih-lebih di daerah perdesaan) akan cenderung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, bagaimana mereka harus melakukan untuk membantu sekolah. Hal tersebut sebagai akibat ketidakmengertian mereka.
Di negara-negara maju, sekolah memang dikreasikan oleh masyarakat, sehingga mutu sekolah menjadi pusat perhatian mereka dan selalu mereka upayakan untuk dipertahankan. Hal ini dapat terjadi karena mereka sudah meyakini bahwa sekolah merupakan cara terbaik dan meyakinkan untuk membina perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka. Mengingat keyakinana yang tinggi akan kemampuan sekolah dalam pembentukan anak-anak mereka dalam membangun masa depan yang baik tersebut membuat Mereka berpartisipasi secara aktif dan optimal mulai dalam perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah. Nampak mereka selain merasa sebagai pemilik sekolah juga sebagai penanggung jawab atas keberhasilan sekolah. Kondisi ini dapat terjadi karena kesadaran yang tinggi dari masyarakat yang bersangkutan.
Pentingnya keterlibatan orang tua/masyarakat akan keberhasilan pendidikan ini telah dibuktikan kebenarannya oleh Richard Wolf dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang sangat signifikan (0.80) antara lingkungan keluarga dengan prestasi belajar. Penelitian lain di Indonesia juga telah membuktikan hal yang sama.
Partisipasi yang tinggii tersebut nampaknya belum terjadi di negara berkembang (termasuk Indonesia). Hoyneman dan Loxley menyatakan bahwa di negara berkembang sebagian besar keluarga belum dapat diharapkan untuk lebih banyak membantu dan mengarahkan belajar murid, sehingga murid di negara berkembang sedikit waktu yang digunakan dalam belajar. Hal ini disebabkan banyak masyarakat/orang tua murid belum paham makna mendasar dari peran mereka terhadap pendidikan anak. Bahkan Made Pidarta menyatakan di daerah perdesaan yang tingkat status sosial ekonomi yang rendah, mereka hampir tidak menghiraukan lembaga pendidikan dan mereka menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya kepada sekolah.

B. Perlunya Pengelolaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari masyarakat beserta lingkungan yang ada disekitarnya. Semua keadaan lingkungan tersebut berperan dan memberikan kontribusi terhadap proses peningkatan kualitas pendidikan dan atau kualitas lulusan pendidikan. Perhatian manajer pendidikan/Top Manajemen (Kepala Sekolah) seharusnya adalah berupayan untuk mengintegrasikan sumber-sumber pendidikan dan memanfaatkannya secara optimal mungkin, sehingga semua sumber tersebut memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Salah satu sumber yang perlu dikelola adalah lingkungan masyarakat atau orang tua murid, termasuk stakeholders. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah: Mengapa Manajemen Pendidikan perlu Menangani Masyarakat (perlu Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat), secara optimal baik orang tua murid, stakeholders, tokoh masyarakat maupun institusi yang ada di lingkungan sekolah.
Organisasi sekolah adalah organisasi yang menganut sistem tebuka, sebagai sistem terbuka berarti lembaga pendidikan mau tidak mau, disadari atau tidak disadari akan selalu terjadi kontak hubungan dengan lingungannya yang disebut sebagai supra sistem. Kontak hubungan ini dibutuhkan untuk menjaga agar sistem atau lembaga itu tidak mudah punah. Suatu organisasi yang mengisolasi diri, termasuk sekolah sebagai organisasi apabila tidak melakukan kontak dengan lingkungannya maka dia lambat laun akan mati secara alamiah (tidak dapat eksis), karena organisasi hanya akan tumbuh dan berkembang apabila didukung dan dibutuhkan oleh lingkungannya. Hanya sistem terbuka yang memiliki megantropy, yaitu suatu usaha yang terus menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy atau kepunahan. Ini berarti hidup matinya lembaga pendidikan akan sangat tergantung dan ditentukan oleh usaha sekolah itu sendiri, dalam arti sejauhmana dia mampu menjaga dan memelihara komunikasinya dengan masyarakat luas atau dia mau menjadi organisasi terbuka.
Dalam kenyataan sering kita temui sekolah yang tidak punya nama baik di masyarakat akhirnya akan mati. Hal ini disebabkan karena sekolah itu tidak mampu membuat hubungan yang baik dan harmonis dengan masyarakat pendudkungnya. Dengan berbagai alasan masyarakat tidak mau menyekilahkan anaknya di suatu sekolah, yang akhirnya membuat sekolah itu mati dengan sendirinya. Demikian pula sebaliknya sekolah yang bermutu akan dicari bahkan masyarakat akan membayar dengan biaya mahal asalkan anaknya diterima di sekolah tersebut. Adanya sekolah pavorit dan tidak pavorit ini nampaknya sangat terkait dengan kemampuan kepala sekolah mengadakan pendekatan dan hubungan dengan para pendukungnya di masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh pengusaha, tokoh agama dan tokoh politik atau tokoh pemerintahan (stakeholders).
Karena itu sejak lama Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu berlangsung pada tiga lingkungan yaitu lingkungan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Konsep ini diperkuat oleh GBHN bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat. Artinya pendidikan tidak akan berhasil kalau ketiga komponen itu tidak saling bekerjasama secara harmonis. Kaufman menyebutkan patner/mitra pendidikan tidak hanya terdiri dari guru dan siswa saja, tetapi juga para orang tua/masyarakat.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa lembaga pendidikan bukanlah lembaga yang berdiri sendiri dalam membina pertumbuhan dan perkembangan putra-putra bangsa, melainkan ia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang luas, dan bersama masyarakat membangun dan meningkatkan segala upaya untuk memajukan sekolah. Hal ini akan dapat dilakukan apabila masyarakat menyadari akan pentingnya peranan mereka dalam lembaga pendidikan. Hal ini dapat tercipta apabila lembaga pendidikan mau membuka diri dan menjelaskan kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana masyarakat dapat berperan dalam upaya membantu sekolah/lembaga pendidikan memajukan dan meningkatkan kualiutas penyelenggaraan pendidikan.
Ada hubungan saling menguntungkan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat, yaitu dalam bentuk hubungan saling memberi, saling melengkapi dan saling menerima sebagai patner yang memiliki kedudukan setara.
Lembaga pendidikan pada hakekatnya melaksanakan dan mempunyai fungsi ganda terhadap masyarakat, yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaharuan bagi masyarakat sekitarnya, yang oleh Stoop disebutnya sebagai fungsi layanan dan fungsi pemimpin (fungsi untuk memajukan masyarakat melalui pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas).
Sebagai lembaga yang berfungsi sebagai pembaharu terhadap masyarakat maka sekolah mau tidak mau atau suka tidak suka harus mengikutsertakan masyarakat dalam melaksanakan fungsi dan peranannya agar pekerjaan dan tanggung jawab yang dipikul oleh sekolah akan menjadi ringan.
Setiap aktivitas pendidikan, apalagi yang bersifat inovatif, seharusnya dikomunikasikan dengan masyarakat khususnya orang tua siswa, agar merka sebagai salah satu penanggung jawab pendidikan menegrti mengapa aktoivitas tersebut harus dilakukan oleh sekolah dan pada sisi mana mereka dapat berperan membantu sekolah dalam merealisasikan program inovatif tersebut.
Dengan hubungan yang harmonis tersebut ada beberapa manfaat pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat (School Public Relation) yaitu:
Bagi Sekolah/lembaga pendidikan.
1.Memperbesar dorongan mawas diri, sebab seperti diketahui pada saat dengan berkembangnya konsep pendidikan oleh masyarakat, untuk masyarakat dan dari masyarakat serta mulai berkembangnya impelementasi manajemen berbasis sekolah, maka pengawasan sekolah khususnya kualitas sekolah akan dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat antara lain melalui dewan pendidikan dan komite sekolah.
2.Memudahkan/meringankan beban sekolah dalam memperbaiki serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Hal ini akan tercapai apabila sekolah benar-benar mampu menjadikan masyarakat sebagai mitra dalam pengembangan dan peningkatan sekolah. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada sekolah yang berkembang dan berkualitas baik apabila tidak mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat lingkungannya. Masyarakat akan mendukung sepenuhnya serta membantunya apabila sekolah mampu menunjukkan kinerja yang berkualitas.
3.Memungkinkan upaya peningkatan profesi mengajar guru. Melalui hubungan yang erat dengan masyarakat, maka profesi guru akan semakin mudah untuk tumbuh dan berkembang. Sebab pada dasarnya laboraturium terbaik bagi lembaga pendidikan seperti sekolah adalah masyarakatnya sendiri. Demikian pula laboraturium profesi guru yang professional akan dibuktikan oleh masyarakatnya.
4.Opini masyarakat tentang sekolah akan lebih positif/benar. Opini yang positif akan sangat membantu sekolah dalam mewujudkan segala program dan rencana pengembangan sekolah secara optimal, sebab opini yang baik merupakan modal utama bagi sekolah untuk mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Bantuan masyarakat hanya akan lahir apabila mereka memiliki opini dan persepsi yang positif tentang sekolah. Karena itu keterbukaan, kebersamaan dan komitmen bersama perlu ditumbuhkembangkan di lingkungan sekolah.
5.Masyarakat akan ikut serta memberikan kontrol/koreksi terhadap sekolah, sehingga sekolah akan lebih hati-hati.
6.Dukungan moral masyarakat akan tumbuh terhadap sekolah sehingga memudahkan mendapatkan bantuan material dari masyarakat dan akan memberikan kemudahan dalam penggunaan berbagai sumber belajar termasuk nara sumber yang ada dalam masyarakat.
Bagi Masyarakat, dengan adanya hubungan yang harmonis antar sekolah dengan masyarakat maka:
1.Masyarakat/orang tua murid akan mengerti tentang berbagai hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan di sekolah
2.Keinginan dan harapan masyarakat terhadap sekolah akan lebih mudah disampaikan dan direalisasikan oleh pihak sekolah.
3.Masyarakat akan memiliki kesempatan memberikan saran, usul maupun kritik untuk membantu sekolah menciptakan sekolah yang berkualitas.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

FUNGSI UMUM PENDIDIKAN/PERSEKOLAHAN

1.FUNGSI UMUM PENDIDIKAN/PERSEKOLAHAN
A.Pendidikan dan Persekolahan
Pendidikan pada dasarnya adalah upaya yang dilakukan secara sadar untuk mendewasakan peserta didik, yang ditandai oleh adanya kemandirian dari diri peserta didik. Kemandirian yang dimaksudkan disini adalah kemampuan mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri tanpa harus selalu tergantung pada orang lain. Kemandirian peserta didik dapat dilihat dari beberapa indikator:

1.Adanya sifat kestabilan dan kemantapan
Kestabilan ini mencakup kestabilan dalam tingkah laku, pandangan hidup dan kestabilan dalam nilai-nilai yang dianut. Kestabilan dalam perilaku berarti seseorang yang segala perbuatannya, tingkah lakunya senantgiasa berdasarkan atas suatu rencana yang telah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang. Artinya peserta didik yang memiliki kestabilan adalah mereka yang selalu berupaya memikirkan secara matang untung dan rugi, apa kaitannya dengan nilai-nilai yang di masyarakat sebelum dia berperilaku atau mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan kehidupan sosialnya di masyarakat.
Kestabilan disini bukanlah dalam pengertian kaku (tidak dapat diubah-ubah) tetapi kestabilan yang dinamis dalam arti perilaku daapat berubah meskipun sudah direncanakan, tetapi perubahan ini didasarkan pertiumbangan-pertimbangan yang sangat rasional. Dengan kata lain terjadinya perubahan terhadap suatu keputusan yang telah diambil seseorang atas dasar pemikiran yang matang juga berarti suatu kematapan dalam keputusan.
Kestabilan dalam pandangan hidup berarti bahwa dengan kesadaran dan keyakinan seseorang telah menganut suatu pandangan hidup/keagamaan tertentu secara utuh dengan tidak mudah tergoyahkan oleh factor apapun.
Kestabilan dalam nilai-nilai yaitu segala perbuatan/perilaku dan sikapnya selalu didasarkan kepada nilai-nilai kehidupan/kemasyarakatan serta nilai-nilai dalam berbangsa dan bernegara.

2. Adanya sikap tanggung jawab
Sikap tanggung jawab mencakup tiga hal pokok yaitu tanggung jaawab individu, tanggung jawab sosial dan tanggung jawab susila.
Tangung jawab individu berarti seorang yang berani berbuat, berani bertanggung jawab tentang segala resiko dari perbuatannya. Menolak tanggung jawab deang alas an yang benar dan dianggap benar oleh semua orang juga berarti bertanggung jawab.
Tanggung jawab sosial berarti bahwa semua perbuatan yang dilakukan seseorang harus sudah dipikirkan akibat-akibatnya atau untung ruginya bagi orang lain, masyarakat dan lingkungannya.
Tanggung jawab susila berarti bahwa perbuatan seseorang harus sesuai dengan norma-norma susula, moral dan etika.. Oleh sebab itu segala perilakukan harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan etika. Karena itu pendidikan pada dasarnya juga harus membentuk nilai moral dan ettika kepada peserta didik untuk dapat mempersiapkan ekemandirian dan kemampuan bertanggung jawab secara moral.

3. Adanya sifat mandiri
Mandiri berarti bahwa segala perbuatan yang dilakukan seseorang adalah atas dasar pilihannya sendiri, ditentukan dan diputuskan atas kemauan sendiri dengan pertimbangan yang matang. Apa yang dipilih, ditentukan dan diperbuat memang diputuskan atas dorongan dari dalam diri sendiri bukan karena desakan atau paksaan orang lain. Keputusan yang diambil berdasarkan masukan/saran-saran dari sejumlah orang juga berarti keputusannya sendiri, sejauh saran dan masukan dari olrang lain tersebut hanya manjadi bahan untuk memikirkan dan mempertimbangkan keputusan yang terbaik menurut dirinya sendiri, tanpa menggantungkan harapan kepada orang lain.
Mandiri secara ekonomi berarti bahwa seseorang yang mengaku dirinya dewasa maka ia sudah memiliki kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri, membeiayai kehidupannya atas dasar usahanya sendiri, bukan karena meminta atau disokong (support) oleh orang lain. Usaha sendiri bukan berartri tidak boleh bekerja pada orang lain.
Dengan demikian berarti pendidikan dapat pula diandang sebagai suatu lembaga yang melakukan kegiatan dalam rangka mendewasakan manusia melakukan berbagai aktivitas mendidik dalam wujud pemberian pengalaman-pengalaman belajar, berlatih dan melakukan berbagai kegiatan kepada semua peserta didik (manusia yang belum dewasa). Pengalaman-pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan-kegiatan pendidikan adalah merupakan gejala yang bersifat universal dari suatu masyarakat. Isi dan corak dari pengalaman-pengalaman pendidikan tersebut sangat bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, nilai, keyakinan, filosofi yang berbeda. Sifat-sifat universal dari pengalaman-pengalaman pendidikan dapat memberikan kontribusi pengembangan masyarakat dan kebutuhan bagi semua masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai warisan budayanya, dan menanamkan terhadap generasi muda nilai-nilai luhur budaya, cita-cita, kebiasaan-kebiasaan, dan standar perilaku dari budaya masyarakatnya.
Pendidikan sebagai suatu wahana untuk mendewasakan manusia lainnya dilakukan dalam suatu proses. Proses dimana anak belajar mengenal cara hidup dan berperilaku, kebiasaan-kebiasaan serta nilai-nilai budaya masyarakat yang disebut sebagai proses enkulturasi. Pada waktu yang sama semua anggota masyarakat harus belajar bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakatnya. Suatu proses dimana generasi muda belajar terhadap nilai-nilai atau kebiasaan-kebiasaan baru tersebut disebut alkulturasi. Dua proses enkulturasi dan alkulturasi tersebut berjalan seiring, berkesinambungan dan saling pengaruh mempengaruhi, sampai pada akhirnya masyarakat merasa memiliki kemantapan nilai-nilai tertentu yang diyakininya sebagai nilai yang dapat membawa kebaikan bagi kehidupannya. Semua orang di dalam masyarakat harus mengadaptasi pola-pola perilaku dan sistem nilai serta cara berfikir yang sudah mantap. Akan tetapi dalam kenyataannya sistem nilai, pola perilaku dan cara-cara berfikir tersebut juga mengalami perubahan, seiring dengan perubahan budaya baik sebagai akibat masuknya budaya lain maupun sebagai akibat kemajuan budaya masyarakat setempat akibat proses pendidikan itu sendiri. Kegagalan seseoran individu yang berada dalam suatu lingkungan untuk mengadaptasi nilai-nilai baru yang tumbuh dan berkembang di lingkungannya dapat mengakibatkan resiko konflik dan mungkin stagnasi, bahkan seseorang dapat terisolasi dari lingkungan masyarakat dimana dia berada apabila dia gagal dalam mengadaptasi diri. Oleh karena itu pendidikan berfungsi pula untuk mempersiapkan peserta didik kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Sehingga sekolah secara kelembagaan tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya dalam pembentukan anak secara utuh.
Ini berarti kegagalan dalam beradaptasi merupakan ancaman bagi eksistensi seorang individu dalam lingkungan dimana dia berada, agar mereka tidak mengalami kegagalan tersebutlah sekolah berperan membantu memfasilitas anak. Tingkat dan intensitas terjadinya modifikasi-modifikasi tersebut sangat bervariasi antar sistem budaya masyarakat yang satu dengan sistem budaya masyarakat yang lain. Akan tetapi secara umum, tanpa memandang tingkat kemajuan masyarakat, apakah masyarakat tersebut berpendidikan atau tidak, masyarakat pra-industri atau masyarakat industri, masyarakat tradisional ataupun masyarakat yang telah maju, proses-proses pembudayaan melalui proses sosialisasi dan edukasi dari generasi muda, selalu terjadi dan pasti menghadapi masalah-masalah. Berbagai permasalahan dalam proses adaptasi tersebut menjadi kewajiban orang tua, sekolah dan masyarakat untuk memfasilitasinya.
Pembicaraan tentang kebudayaan dan sekolah sering membatasi penggunaan istilah edukasi dan sosialisasi. Edukasi sering dihubungkan dengan belajar dalam sekolah formal, sedang sosialisasi dianggap suatu konsep yang memiliki makna yang lebih luas, yaitu meliputi segala hal yang berhubungan dengan upaya belajar untuk menyesuaikan dan mengadopsi nilai-nilai baru. Meskipun sebenarnya edukasi dan sosialisasi keduanya bermuara pada tujuan akhir pendewasaan seseorang. Adakalanya seseorang dapat beradaptasi terhadap nilai baru sebagai akibat dari keikutsertaannya dalam pencarian informasi melalui sosialisasi. Dengan demikian sosialisasi pada dasarnya merupakan salah satu cara dalam proses edukasi.
Tumbuh dan berkembangnua budaya masyarakat dapat terbentuk melalui kedua proses tersebut, yaitu proses sosialisasi dan edukasi, walau proses-proses tersebut tidak dapat diabstraksikan dari cakupan budaya dan struktur sosial, agaknya aspek-aspek tersebut dapat dimengerti sebagai bagian dari aspek kebudayaan.
Proses pendidikan secara formal dilakukan melalui system persekolahan, pada umumnya dipandang sebagai proses terbuka. Proses pendidikan secara formal ini bersifat terbuka sehingga dapat diketahui dan terlihat oleh siapapun, dan diorganisasi secara baik, mulai dari penagturan peserta didik sempai pada pengaturan kapan seseorang harus belajar dan apa yang harus dipelajari pada waktu tertentu sampai pada pengaturan system penilaian sebagai bukti terjadinya perubahan pada diri individu sebagai akibat proses pendidikan. Akan tetapi baik edukasi maupun sosialisasi juga dapat terjadi secara informal dan bersifat tertutup, dan bahkan sebagian tidak disadari oleh individu yang bersangkutan.
Dalam beberapa masyarakat, misalnya pada kelompok-kelompok masyarakat tribal, terutama di negara-negara sedang berkembang dari Dunia Ketiga, proses edukasi dan sosialisasi dari generasi muda berlangsung tidak selalu melalui prosedur dan jalur belajar formal yang ekstensif. Namun demikian proses “ schooling” atau persekolahan sebenarnya selalu terjadi dimana-mana, dan masyarakat sukar menghindari diri dari proses belajar mengajar formal tersebut, baik di dalam masyarakat di desa-desa, masyarakat yang hidup di padang pasir, masyarakat di lereng-lereng gunung, semuanya sekarang pasti telah dijamah oleh proses “schooling” tersebut. Sifat universal dari sekolah-sekolah dan proses schooling tersebut dapat digolongkan menjadi enam golongan besar :
1. Sekolah-sekolah yang memberikan dasar-dasar pengetahuan untuk menyadari dirinya sebagai warga masyarakat dan warga negara. Sekolah-sekolah ini meliputi pendidikan tingkat kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah lanjutan.
2. Sekolah-sekolah yang memberikan pengetahuan tingkat lanjut di perguruan tinggi, yang memberikan pendidikan dan latihan spesialist.
3. Sekolah-sekolah yang berorientasi pada pendidikan keagamaan.
4. Sekolah-sekolah yang menyiapkan generasi muda menjadi militer.
5. Sekolah-sekolah kejuruan yang berorientasi pada kerja, dan
6. Sekolah-sekolah dalam bentuknya yang lain misalnya sekolah yang dipersiapkan untuk menyebarluaskan pengetahuan tertentu, misalnya sekolah untuk kepentingan indoktrinasi, sekolah untuk menyiapkan guru-guru agama, dan sekolah-sekolah untuk mempersiapkan tenaga-tenaga profesional lainnya (Chesler and Cave, 1981:2)
Proses dari persekolahan bukan merupakan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Sekolah-sekolah seperti itu sejak lama telah dipersiapkan oleh masyarakat, dan dimaksudkan untuk melestarikan warisan budaya masyarakat, serta berfungsi untuk melangsungkan proses memajukan masyarakat. Lebih jelasnya tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan dimanapun proses pendidikan itu berlangsung (melalui persekolahan atau diluar persekolahan) adalah untuk menghasilkan orang-orang agar mereka mengenal dan menyadari dirinya serta bertanggungjawab untuk menyempurnakan/mengembangkan masyarakatnya atau dengan kata lain mendewasakan manusia yang ditandai oleh indikator: bertanggung jawab, mandiri, tidak tergantung atau selalu mengagntungkan diri kepada orang lain, berani mengambil keputusan terbaik untuk dirinya dan masyarakatnya serta menanggung resiko dari keputusan yang diambilnya.
Munculnya sekolah-sekolah formal sebagai konsekuensi dari perkembangan masyarakat, dan kompleksnya tatanan sosial yang ada, serta untuk merespon kebutuhan bagi upaya melestarikan warisan budaya, kontrol sosial dan untuk memajukan masyarakat yang bersangkutan. Kemunculan sekolah ini pada awalnya didasarkan pada kenyataan bahwa pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan keluarga oleh orang dewasa di sekitar keluarga, tidak mampu lagi berperan mempersiapkan anggota keluarganya secara intensif dalam memberikan pengalaman belajar untuk menghadapi berbagai kemajuan dan kompleksitas kehidupan dan tatanan sosial budaya yang berkembang secara cepat.
Bagi orang-orang/masyarakat yang menempatkan permikiran pada orientasi edukasi, untuk memajukan masyarakat, tidak menginginkan perubahan-perubahan masyarakat secara radikal, apalagi dengan jalan berontak atau kekerasan untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap institusi dan struktur sosial yang ada. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya kelembagaan pendidikan itu hakekatnya adalah merupakan lembaga konservatif, yang berfungsi untuk mempertahankan dan mewariskan budaya sambil berusaha mengembangkan budaya bagi kesejahteraan masyarakatanya. Titik tolak atau sentral segala upaya dalam pengembangan budaya yang dilakukan melalui proses persekolahan ataiu proses pendidikan di sekolah pada dasarnya adalah memajukan kehidupan masyarakat, meningkatkan kualitas kehidupan warga masyarakat atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pengertian yang utuh, yaitu sejahtera dalam arti lahir dan sejahtera dalam arti bathin. Dengan demikian orientasinya bukan semata pada aspek materialistis tetapi juga aspek psikologis dan spritualistis. Oleh sebab itulah maka sekolah dimanapun, dalam kondisi apapun sebagai lembaga pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakatnya. Mestinya dia tumbuh dan berkembang dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Pada sisi lain sekolah dihadapkan pada kenyataan perkembangan budaya masyarakat yang sangat cepat, perubahan-perubahan yang tejadi terhadap berbagai aspek-aspek budaya dan masyarakat yang begitu cepat menjadikan sekolah mempunyai misi sebagai alat untuk melakukan perubahan-perubahan (agen of change), sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat. Sekolah berfungsi sebagai alat untuk mengintrodusir nilai-nilai baru yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat tanpa meninggalkan nilai lama yang perlu dipertahankan agar dapat diadopsi oleh masyarakat, demi mengadaptasi perkembangan teknologi dan pengetahuan, yang pada akhirnya sebenarnya bertujuan agar kehidupan masyarakat lebih berkualitas.
Jadi adalah tidak mungkin kita berfikir dan memfungsikan sekolah hanya sebagai alat untuk melestarikan kebiasaan-kebiasaan dan tata nilai yang berlaku di dalam masyarakat serta sebagai alat untuk mentransmisikan warisan-warisan budaya masyarakat semata-mata, karena masyarakat akan tertingal dari budaya yang terus menerus berkembang, lebih-lebih pada masa sekarang perkembangan budaya masyarakat jauh lebih cepat dari apa yang dapat dilakukan oleh sekolah. Bersamaan dengan proses pelestarian tersebut, sekolah harus dipandang sebagai agen pembaharuan serta kekuatan yang mampu memciptakan kondisi-kondisi untuk melakukan perubahan-perubahan kearah peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian dalam pembicaraan mengenai sekolah ini kita dihadapkan dua kepentingan atau tujuan pokok, yaitu:Melakukan kegiatan-kegiatan pendidikan untuk mempersiapkan anak didik agar dapat mengantisipasi masa depan tanpa harus meninggalkan budaya dan nilai yang sudah menjadi karakteristik masyarakat. Jadi sekolah disatu pihak dapat dipandang sebagai lembaga konservasi nilai-nilai masa lampau dan kedua sebagai agent untuk melakukan perubahan.
Kepentingan tersebut di atas tidak perlu dianggap sebagai asumsi yang harus dipertentangkan, akan tetapi harus ditempatkan di dalam suatu kontinum, yang akan memberi kesempatan kepada pengambil kebijakan, untuk mengambil pilihan-pilihan yang diinginkan, atas pertimbangan-pertimbangan situasi, tempat dan kepentingan tertentu.
Dari uraian-uraian tersebut di atas, nampak bahwa pembicaraan tentang persekolahan tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang masyarakatnya, sebab sekolah diciptakan sebagai lembaga yang berperan dalam mengembangkan masyarakat kearah kemajuan, berkualitas dan sejahtera. Oleh sebab itu sangat tepat kalau tokoh pendidikan Inodonesia Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu berpusat pada tiga lembaga yaitu : keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lembaga tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dalam proses pembentukan masyarakat yang berkualitas

B. Keluarga sebagai Medium dari Proses Sosialisasi
Pada umumnya para ahli sosiologi menyatakan bahwa proses sosialisasi pertama dan utama serta mekanisme kunci dari proses sosialisasi di dalam semua kebudayaan masyarakat manusia adalah sosialisasi di lignkungan keluarga. Dari keluarga, hal-hal yang berhubungan dengan transformasi anak untuk menjadi anggota masyarakat dilakukan melalui hubungan perkawinan. Di dalam keluarga terjadi sistem interaksi yang intim dan berlangsung lama. Keluarga merupakan kelompok primer yang ditandai oleh loyalitas pribadi, cinta kasih, dan hubungan intim penuh kasih saying diantara anggota kelompok keluarganya masing-masing. Dalam keluarga, anak memenuhi sifat-sifat kemanusiaannya dan berkembang dari insting-insting biogenetik yang primitif untuk belajar terhadap respons-respons sosial. Di dalam keluarga anak belajar melakukan interaksi sosial yang pertama serta mulai mengenal tentang perilaku-perilaku yang diperankan oleh orang lain di lingkungannya. Dengan perkataan lain, pengenalan tentang nilai-nilai budaya masyarakat dimulai dari lingkungan keluarga. Di sini anak juga belajar tentang keunikan pribadi seseorang, dan sifat-sifat kelompok sosial di sekitarnya.
Hampir di semua masyarakat, keluarga dikenal sebagai unit sosial dimana anak mulai memperoleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Karena itu lingkungan keluarga merupakan awadah bagi anak-anak anggota keluarga untuk mengenal hubungan-hubungan prokreasi dan kreasi secara syah dan dibenarkan serta diyakini. Di dalam suatu masyarakat, keluarga inti men-jalankan fungsi yang sebenarnya dari masyarakat, sementara pada masyarakat lain, pola-pola kekerabatan memegang fungsi utama dalam membudayakan generasi muda.
Dalam kasus lain, keluarga sering menjalankan fungsi sebagai perantara antara budaya lokal dan unit sosial, dimana nilai-nilai budaya mulai ditanamkan dari generasi tua kepada generasi muda.
Keluarga juga menjalankan fungsi-fungsi pendidikan politik, dimana ke-luarga membantu mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dan kemampuan-kemampuan untuk hidup berkelompok dalam struktur kelompok yang mulai mengenal pembagian kekuasaan secara sederhana. Di dalam keluarga anak mengenal proses pengambilan keputusan, kepatuhan terhadap penguasa dan ketaatan untuk menjalankan aturan-aturan yang berlaku. Karena di dalam keluarga sebagai unit sosial terkecil, terjadi fungsi-fungsi pengambilan keputusan, maka keluarga merupakan sistem politik pada tingkat mikro. Di dalam keluarga, anak pertama kali belajar mengenai pola-pola kekuasaan, bagaimana kekuasaan terbagi, serta jaringan-jaringan hubungan kekuasaan berlangsung. Di sini anak mulai mengenal mengapa ayah/ibu memiliki power yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lebih tua, serta bagaimana pembagian kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, antara yang muda dengan yang lebih tua, antara ayah dan ibu, dan antara anak-anak dengan orang tua. Sifat-sifat kepatuhan anak di dalam keluarga akan dibawa dalam kepatuhan di sekolah dan di masyarakat. Demikia juga sifat-sifat suka memberontak, kebiasaan melawan dan tidak disiplin di dalam keluarga, juga akan mempengaruhinya dalam kehidupan di sekolah dan di masyarakat.
Di samping keluarga memiliki fungsi politik, keluarga juga memiliki fungsi ekonomi, yaitu fungsi-fungsi yang berhubungan dengan proses-proses mem-produksi dan mengkonsumsi tentang barang-barang dan jasa. Di dalam siklus hubungan intim di dalam keluarga, anak-anak belajar mengenai sikap-sikap dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk memainkan peranan dalam kegiatan produksi dan konsumsi, barang dan jasa. Setiap keluarga mengadopsi pembagian tugas yang merupakan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh keluarga. Di dalam keluarga juga ditemukan tentang nilai-nilai kerja, peng-hargaan tentang kerja dan hubungan antara kerja dan imbalan-imbalan yang dianggap layak.
Peranan keluarga bukan saja berupa peranan-peranan yang bersifat intern antara orang tua dan anak, serta anak yang satu dengan anak yang lain. Keluarga juga merupakan medium untuk menghubungkan kehidupan anak dengan kehidupan di masyarakat, dengan kelompok-kelompok sepermainan, lembaga-lembaga sosial seperti lembaga agama, sekolah dan masyarakat yang lebih luas. Setelah anak memiliki pergaulan dan pengalaman-pengalaman yang luas di dalam kehidupan masyarakatnya, sering pengaruh orang-orang dewasa di sekitarnya lebih mempengaruhi dan membentuk perilakunya dibandingkan dengan pengaruh dari keluarga. Dalam situasi semacam itu tidak jarang akan terjadi konflik di dalam diri anak. Pola perilaku manakah yang kemudian diadopsi untuk dijadikan pola anutan. Bagaimana jaringan-jaringan proses sosialisasi anak di dalam keluarga dan masyarakat tersebut dapat disederhanakan melalui gambar berikut :
SISTEM

Mengingat pentingnya peranan keluarga dalam pembentukan sikap budaya anak, maka sekolah perlu menjalin kerjasama yang erat dengan keluarga, sehingga dapat secara bersama-sama dalam satu persepsi, sikap dan tindakan untuk berupaya menyiapkan anak didik untuk siap menghadapi tantangan masa depan melalui proses persekolah.
Pendidikan memiliki fungsi-fungsi secara rinci dapat dilihat pada uraian berikut ini.

1.Memindahkan Nilai-nilai Budaya
Dalam hubungannya dengan nilai-nilai budaya, pendidikan dapat dirumuskan sebagai proses kegiatan yang direncanakan untuk memindahkan pengetahuan, sikap dan nilai-nilai serta kemampuan-kemampuan mental lainnya dari satu generasi yang lebih muda. Kebudayaan pada dasarnya mencakup pandangan-pandangan, sistem keyakinan, cita-cita serta harapan-harapan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, nilai-nilai, system perilaku, system symbol dan lain sebagainya. Dalam proses interaksi antara guru dan siswa, siswa akan memperoleh nilai-nilai budaya tersebut, di mana kemudian sebagian besar akan tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.

2.Nilai-nilai Pengajaran
Fungsi mengenai nilai-nilai pengajaran berhubungan dengan kontrol sosial. Sekolah merupakan tempat di mana siswa mengalami proses sosialisasi, dan mempengaruhi anak untuk menyatu (conform) dengan norma-norma yang berlaku. Selama dalam tahun-tahun pertama anak memasuki sekolah, sekolah lebih menekankan pentingnya fungsi kontrol sosial dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Pada tahun-tahun pertama tersebut anak diajarkan mengenai bagaimana harus mengikuti instruksi-instruksi dari gurunya, tunduk dan patuh pada pemerintah dan disiplin yang diberikan oleh gurunya, misalnya harus mengacungkan tangannya lebih dahulu sebelum mengangkat bicara, mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan jadwal yang lebih ditetapkan. Sekolah mengajarkan nilai-nilai baru yang dalam banyak hal mungkin sekali terdapat perberbedaan dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarga atau dalam masyarakat lingkungan sekitar anak berada. Sistem nilai di dalam keluarga lebih bersifat askripsi dan partikulasi. Orang tua menyayangi dan mencintai anaknya, bukan karena melakukan tugas dan kewajiban, akan tetapi karena hubungan orang tua – anak, “parent love their children because of who they are, not because of what they have done” (Metta Spencer : 365). Sisten nilai ini mungkin saja kurang sesuai dengan system nilai yang dikembangkan oleh sekolah, misalnya dalam keadaan anak terlalu disayangi oleh orang tuanya sehingga terkesan over protectif yang menyebabkan pembentukan kemandirian yang dikehendaki sekolah tidak optimal. Dalam kondisi demikian sekolah perlu melakukan perubahan system nilai dengan pendekatan cultural, sehingga perubahan yang dikehendaki sekolah akan berjalan secara alamiah dan tidak menimbulkan konfrontasi antara sekolah dengan masyarakat.

3.Peningkatan Mobilitas Sosial
Peningkatan mobilitas sosial merupakan hal yang dianggap penting dari fungsi pendidikan. Pendidikan menyediakan kesempatan yang sama bagi anak-anak untuk maju, untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan kerja. Siapa saja yang memiliki prestasi akan mendapat kesempatan untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Pekerjaan yang layak dan kondisi-kondisi kerja yang lebih baik, terbuka bagi siapa saja yang memiliki dan memenuhi persyaratan tertentu. Jadi walaupun semula seseorang berasal dari golongan masyarakat rendah, mereka akan memperoleh lapangan pekerjaan dengan kondisi-kondisi yang baik asal saja mereka memenuhi persyaratan yang diperlukan oleh lapangan pekerjaan tersebut. Ini berarti bahwa pendidikan dapat meningkatkan mobilitas sosial. Karena itu pendidikan harus melakukan tiga kegiatan utama dalam proses pendidikan yaitu kegiatan pendidikan, bimbingan dan pelatihan. Tanpa meninggalkan hakekat dasar proses pendidikan itu sendiri yaitu proses mendidik yang berkelanjutan.

4.Fungsi Sertifikasi
Lembaga-lembaga pendidikan selalu memberikan sertifikat bagi siswa-siswanya yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dalam bentuk ijazah, diploma atau surat keterangan tanda kecakapan. Surat keterangan tersebut bernilai bagi pemiliknya karena ia akan memiliki hak-hak tertentu untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidang yang dikuasainya sebagaimana diterangkan di dalam sertifikat. Dalam masyarakat industri pekerjaan-pekerjaan hanya bagi pemegang sertifikat/diploma. Pekerjaan yang lebih baik akan direbut oleh mereka yang memiliki sertifikat tertentu, sehingga sertifikat merupakan sesuatu yang sangat berharga. Pemegang sertifikat akan memiliki prestise tertentu. Dalam masyarakat dengan sistem kompetisi dalam menentukan jenjang karier, sertifikat tersebut merupakan ukuran tertentu bagi pencari pekerjaan.
Dalam hubungannya dengan hal tersebut nampak secara jelas fungsi pendidikan sebagai persiapan kerja dan pelatihan kerja sehingga keberhasilan sekolah, sebagian dari fungsinya adalah mempersiapkan anak/pemuda untuk memperoleh pekerjaan. Dalam masyarakat yang masih sederhana, fungsi job training belum begitu terasa merupakan suatu kebutuhan, dan oleh karena itu belum banyak mendapat perhatian. Akan tetapi dalam masyarakat modern, fungsi persiapan kerja melalui latihan kerja (fungsi job training) sudah merupakan sesuatu kebutuhan yang sangat mendesak. Adanya job training dimaksudkan untuk memberikan latihan-latihan sebelumnya, sebelum seseorang mengaku pekerjaannya yang tetap. Dengan demikian berarti bahwa pendidikan berfungsi memberikan bekal pengetahuan, terutama ketrampilan-ketrampilan menjelang pekerjaan yang sebenarnya. Di dalam masyarakat modern jenis-jenis pekerjaan begitu kompleks dan rumit sehingga tamatan pendidikan formal tertentu dikhawatirkan belum dapat langsung menyesuaikan diri dan kemampuannya terhadap peker-jaan yang harus dipangkunya. Dalam kondisi inilah sekolah harus mempersiapkan kemampuan-kemampuan peserta didik untuk dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang mungkin dapat dilakukannya di masyarakat masa akan dating. Untuk itu model pembelajaran dalam rangka persiapan ini harus terkait dengan apa yang sebenarnya diperlukan oleh jenis-jenis pekerjaan di masyarakat. Ini berarti kurikulum muatan local yang didesain secara manta akan sangat membantu pembentukan peserta didik yang akarab dengan jenis pekerjaan di masyarakatnya.

5.Mengembangkan dan Memantapkan Hubungan-hubungan Sosial.
Hubungan-hubungan sosial banyak dikembangkan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Walaupun anak-anak telah memperoleh pengalaman bergaul dalam lingkungan rumah/keluarga, akan tetapi aspek-aspek hubungan sosial tersebut lebih banyak terbentuk melalui kelompok-kelompok sebaya di sekolah. Di dalam kelompok-kelompok sebaya di sekolah, anak-anak selalu mengadakan interaksi secara kontinyu dalam kehidupannya sehari-hari. Melalui hubungan interpesonal antar anak, dan yang selalu diawasi oleh guru-guru mereka, anak-anak mengadakan hubungan interpesonal sehingga sifat-sifat anak akan berkembang dari sifat-sifat egois menjadi sifat-sifat menghargai pendapat kawan, sifat kerja sama, saling bantu membantu, rasa tepo seliro dan sebagainya. Berbagai bentuk organisasi siswa, seperti osis, kelompok belajar, kelompok-kelompok hobi (olah raga, kesenian), kelompok Palang Merah Pelajar, Kelompok Lalu Lintas, dan kelompok pramuka, semuanya merupakan wadah tempat dimana aspek-aspek sosial anak dapat dikembangkan.
Tumbuh kembangnya proses-proses sosialisasi di sekolah, sangat tergantung pada kesiapan sekolah merancang secara baik pola-pola interaksi yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah melalui kegiatan ekstra kurikuler. Tatapi kegiatan ekstra kurikuler yang dirancang harus tetap memperhatikan pola budaya masyarakat setempat agar tidak menimbulkan benturan budaya.

6.Membentuk Semangat kebangsaan (patriotisme)
Sekolah dalam kehidupannya sehari-hari mentransmisikan mitos, simbol-simbol kebangsaan, dan mengajarkan penghargaan terhadap para pahlawan bangsa serta peninggalan-peninggalan sejarah, semuanya tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan semangat serta loyalitas kejayaan bangsa. Sekolah mengajarkan sejarah bangsanya. Memajukan peninggalan dan monumen-monumen sejarah, hal itu dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebangsaan serta kesediaan membela tanah airnya terhadap serangan musuh.
Dalam konteks ini, maka kebudayaan di suatu daerah yang melekat bagi siswa harus dikaitkan dengan berbagai kebudayaan daerah lainnya. Artinya meskipun sekolah perlu mengembangkan budaya local, tetapi dalam konteks budaya nasional, sehingga tidak terbentuk anak yang hanya mengakui budaya daerahnya secara membabi buta. Apabila hal ini terjadi maka lambat laun akan merupakan benih-benih yang menyebabkan adanya keresahan atau benturan antar suku, antar etnis atau antar budaya tertentu. Oleh karena itu sikap mau mengakui, menghargai dan menghormati perbedaan perlu ditumbuh kembangkan oleh lembaga pendidikan kepada peserta didik.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s