Amukan Pendekar Edan

IBU-IBU yang masih menyusui anaknya sudah merasa takut dimana-mana. Kisah anak-anak yang diculik, yang kemudian ditinggalkan dibawah pohon dalam keadaan bolong kepalanya, semakin mengerikan.

Sudah banyak ibu-ibu di desa Serunai tidak berani hamil lagi. Sebab Jika pun hamil mereka merasa percuma karena nanti apabila lahir sehari dua hari akan kehilangan anaknya karena diculik. Juga di desa Surya Mulih yang aman damai semenjak diperintah Nyi Surya, mulai resah. Keresahan itu pun terasa sampai ke desa bukit Api yang terkenal memiliki banyak pendekar tersembunyi.
Tetapi desa Kumayan pun tak luput dari ketakutan yang sama. Ketika Gumara masih mengobati Ki Lading Ganda, muncullah diambang pintu Ki Putih Kelabu. Melihat keadaan Ki Lading Ganda, Ki Putih Kelabu bertanya: “Belum ada perubahan untuk sembuh?” “Belum, tuan Guru. Silahkan masuk”, ujar Gumara.
Ki Lading Ganda diangkut oleh orang utas setelah ditemukan jatuh dari Guha Lembah Surilam. la masih dalam keadaan gila.
“Guru Gumara”, ujar Ki Putih Kelabu, “Rasanya anda cuma menghabiskan waktu mengobati Ki Lading Ganda. Ki Jengger sendiri sudah gagal, karena memang cuma Pita Loka yang mampu menyembuhkan penyakit gila ini”.
“Memang saya cuma berusaha”, kata Gumara. “Tapi hal yang lebih penting lagi adalah harapan penduduk Kumayan kepada kita berdua. Memang Ki Jengger benar, Guru! Beliau memegang silsilah tujuh manusia harimau yang bukan palsu. Memang kita berdua disini yang sebenarnya sudah ditetapkan sebagai harimau-harimau yang syah. Bukti Ki Talim sendiri bayinya kena culik dan tetap tak berdaya. Sudah aku baca Kitab Tujuh yang aseli, memang tinggal kita berdua saja harimau-harimau yang syah !. Tapi kesahihan kita berdua belum syah apabila kita belum mampu menyergap wanita edan penculik bayi itu. Siapa menurut pendapat anda yang punya ilmu hitam yang kejam itu?” “Siapa saja boleh diduga, asal jangan tuan Guru menduga Harwati”, kata Gumara. “Tapi kuharap juga tuan jangan menyangka puteriku Pita Loka !” ujar Ki Putih Kelabu. “Yang membingungkan memang karena saksi mata yang kebetulan melihat penculikan bayi itu menyebutkan wanita penculik itu edan. Jadi saya tak bisa menyalahkan penduduk sini yang mengira itu Harwati. Kau sendiri tak bisa menyangkal bahwa Harwati masih dalam keadaan edan, kan ?”
Gumara tenang, kendati wajahnya merah padam. Dia lalu berkata; “Memang saya malah yang lebih mengetahui, bahwa pelajaran yang dituntut oleh Harwati selama ini, sampai dia gila, melalui guru-guru berilmu setan. Andaikata Ki Rotan masih hidup, dia akan lebih parah darisekarang. Ki Rotan ini bukan orang pertama yang menyeret Harwati ke ilmu setan. Harwati sendiri pernah belajar pada Ki Pata !” “Ki Pata”” mata Ki Putih Kelabu melotot. “Ya, Ki Pata…apa anda kenal dia?”
“Dia teman masa kecilku!”
“Dia penduduk desa Tulus, yang semula menjadi murid yoga Rama Yogi, lalu mendapat serangan kejam dari padepokan Ki Rotan. Ilmunya yang lebih mengutamakan samadhi dia tinggalkan. Dia murtad. Lalu dia mendirikan padepokan sendiri dengan Ilmu Kobra. Harwati pernah mewarisi ilmu ini, dan saya gagal mencegahnya. Tapi bagaimanapun, saya tidak yakin bahwa Hanwati mennpelajari ilmu pemakan bayi. Betapapun, dia berdarah Ki Karat, ayahku….Ayahku berdarah harimau seperti juga anda. Cobalah tuan Guru jangan berburuk sangka pada Harwati”. “Penduduk yang berburuk sangka, Guru Gumara!” kata Ki Putih Kelabu.
“Omongan mereka harus tuan cegah kalau begitu!” ujar Gumara. Gumara masih memijit bagian atas mata Ki Lading Ganda yang tak mau membuka matanya itu sejak diobati. Lalu dia memberi isyarat pada Alif supaya menggendong Ki Lading Ganda masuk kamar. Memang nasib pendekar ini amat buruk. Keluarganya tak sudi menerimanya kembali dalam keadaan gila. Dan muncullah pula diambang pintu pendekar muda Dasa Laksana, murid Ki Putih Kelabu. Dia melapor: “Tuan Guru, bayi Tankaya baru saja diculik oleh pendekar edan”. Gumara cepat menyela: “Pendekar edan? Kamu yakin orang edan bisa jadi pendekar dan kamu yakin gelar pendekar bisa pula menculik bayi?” “Mayit bayi itu ditemui dibawah pohon rusasa dekat sumur, dalam keadaan kepalanya bolong”, kata Dasa Laksana.
Gumara cepat menyambar kain sarung. Lalu diliiitkannya kain sarung itu ke lehernya, dan dia mengajak Ki Putih Kelabu dan muridnya menuju rumah Tankaya.
BEGITU mereka sampai di rumah Tankaya, maka Nyi Tankaya meratap. Tankaya langsung menuding Gumara: “Harap Tuan Guru buka mayit bayi kami, supaya engkau tahu betapa kejamnya Pendekar Edan Harwatimemakan benak bayi kami!”
Ucapan itu menyengat telinga Gumara. Namun kesabarannya luar biasa. Dia amat tenang menuju ke tempat bayi itu dibaringkan, tertutup kain batik. Dan disingkapkannya kain penutup itu. Lalu dia lihat kepala bayi itu bolong. Mayat itu tak lagi punya otak, sudah dihisap oleh wanita edan yang menculik itu. Ditutupnya kembaii kain batik itu. Gumara menatap Tankaya. Dia mencoba meyakinkan: “Katakanlah penculik yang kejam ini pendekar edan, walaupun sepengetahuanku tak pernah ada pendekar yang edan sebab orang edan tak layak disebut pendekar. Tapi, sekiranya ada pendekar edan, maka sebaiknya jangan dikaitkan dengan nama Harwati!” Suaranya lembut tapi hatinya tersiksa. Tankaya masih belum puas. Dan mempertanyakan: “Jika memang Harwati tidak menculik bayi, tentu dia menetap di satu tempat!” “Memang dia menetap di satu tempat. Sungguh menderita keadaannya di tempat itu!” ujar Gumara. “Dimana tempat itui” tanya Tankaya. “Disebuah guha, di Lembah Surilam”, ujar Gumara. “Anda menjamin dia ada disitu sekarang ini?” “Saya menjaminnya. Dia memang gila disana. Mungkin dia akan gila terus menerus disana, sampai mati. Jelas buat tuan jaminan saya?” tanya Gumara. Tankaya tak menjawab. Lalu menyeleluk Abung Legoyo: “Kunci dari semua bencana ini sebetulnya terpikul dibahu seorang pendekar wanita, puteri Tuan Guru Putih Kelabu. Hanya dia yang bisa menyembuhkan kegilaan Harwati. Tapi kita pernah mendengar sendiri, dia menolak. Karena cemburu”.
Wajah Ki Putih Kelabu merah padam.
“Baiklah kalau begitu tuduhannya. Ini baru satu orang yang menuduh dan mempersalahkan puteriku. Tapi jika nanti tuduhan ini menjalar ke seluruh Kumayan, mau tak mau saya tak bisa berdiam diri. Saya akan cari puteriku yang menghilang itu sampai ketemu. Lalu aku paksa dia mengobati kegilaan Harwati, supaya pendekar edan ini jangan lagi membuat kekacauan ibu-ibu yang memiliki bayi!” kata Ki Putih Kelabu, yang langsung membuat Gumara tak bisa menahan
kesabarannya, hingga Gumara bertanya: “Tahukah tuan Guru, bahwa anda terlalu agung untuk menuduh Harwati sebagai pendekar edan yang memakan otak bayi? Tidak menyesalkah tuan Guru yang mulia mengatakan hal itu didepan mayit di rumah duka ini? Bukankah tuduhan itu mencoreng muka semua turunan Ki Karat?”
“Aku ada usul, tuan-tuan”, Tankaya menengahi, “Kesucian hati Guru Gumara maupun Ki Putih Kelabu tidak pernah kami ragukan. Tapi kesucian hati Harwati maupun Pita Loka tentu belum kita buktikan. Kini kembali kepada jaminan Ki Gumara tadi…” “…Mengenai Harwati?” potong Gumara.
“Ya. Karena saya sangsi apa betul Harwati itu menetap di satu tempat yang disebut Guha Surilam. Tempat itu sulit ditempuh. Terutama bagi kami orang awam. Jangan-jangan keterangan ini sekedar melindungi nama baik Ki Karat.”
“Tuan bisa saya bantu untuk ke sana . Nah, baikiah sekarang.Juga tuan bersama saya, dengan saksi-saksi Ki Putih Kefabu dan muridnya Dasa Laksana dan kalau perlu seorang lagi. Abung Legoyo. Mari kita berangkat ke sana untuk memuaskan hati anda. Sekaligus membuktikan bahwa Harwati tidak terlibat dan menetap di guha itu dalam keadaan edan”” Tankaya maupun Abung Legoyo kebingungan dengan tantangan itu. Tapi ketika Tankaya menyatakan “Baik saya ikut anda”. Abung Legoyo pun menyatakan kesediaan. “Tuan Guru memegang tangan Abung Legoyo, dan saya memegang tangan Tankaya”, ujar Gumara pada Ki Putih Kelabu.
“Apa yang dimaksud memegang tangan kami?” tanya Tankaya.
“Supaya anda tak merasa letih berjalan ke sana . Dan waktu bisa lebih dipersingkat”, ujar Gumara. Lalu mereka meninggalkan rumah duka itu. Begitu memasuki semak dan jalan pintas, Gumara memegang tangan Tankaya. Langkahnya menggebubu, dan Tankaya keheranan karena irama langkahnya seakan-akan tidak pula berpijak di bumi. Begitupun Abung Legoyo, keheranan bersangatan .karena tidak merasa seperti melangkah melainkan sedikit melayang. Juga keheranan apabila dia menerjang pohonan maka robohlah pohonan itu. Dan lebih heran lagi ketika mereka menuruni lembah tanpa ngeri. JUGA, ketika mereka harus meloncat batu runcing demi batu runcing yang bagai tombak di dasar lembah itu, mereka berdua ini. Abung Legoyo dan Takaya sama keheranan. Mereka tak sempat bercakap. Tapi juga tak mengeluh lelah. “Itulah guha itu, di atas itu”, kata Gumara.
“Untuk pertama kali aku melihat ada guha disitu”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Guha itu kini menjadi guha setan”, ujar Gumara. “Saya tak ingin naik ke sana ”, kata Tankaya. “Saya juga tidak”, ujar Abung Legoyo. “Kalau begitu biarlah saya dan Ki Putih Kelabu saja yang memanjat ke atas. Tuan Tankaya… harap tuan percaya kesaksian Ki Putih Kelabu, bahwa Harwati ada di atas situ, dalam guha itu!” “Bagaimana supaya saya puas, kalian berdua sebagai pendekar besar membawanya ke bawah?” tanya Tankaya “Usul yang baik”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Baik kalau begitu, kendati susah menyergap Harwati karena tenaganya tenaga setan”. “Kalau perlu kita pingsankan”, kata Ki Putih Kelabu.
“Biar aku yang menetak urat darah pingsannya nanti”. Tankaya puas sekali. Baik dia maupun Abung Legoyo, sama terheran-heran melihat dua pendekar kesohor ini memanjati dinding lembah itu bagai dua ekor cicak yang saling berpacu. Setiba dibibir guha, memang dua pendekar itu agak kesulitan, namun akhirnya mereka berdua berhasil masuk ke dalam guha. Gelap Dan sunyi. Tak ada tanda nafas kehidupan. “Harwati, dimana kau?” tanya Gumara lembut, karena curiga bahwa Harwati bersembunyi. Tak ada jawaban. Ki Putih Kelabu lalu memoleskan ludahnya pada sepuluh kuku jari tangannya. Dan bersinarlah kuku itu bagaikan lampu. Dan teranglah keadaan dalam guha itu. Namun tak tampak Harwati dalam guha yang menyeramkan itu. Gumara terhempas malu. Dia menatap ke wajah Ki Putih Kelabu dan berkata: “Saya tak perlu turun lagi. Saya malu bertemu muka dengan dua orang awam itu. Orang awam hanya ingin bukti, bukan ingin penjelasan berupa alasan. Tuan turunlah ke bawah sendirian”. Grafity,
“Tuhan marah padamu karena jaminan kepastian”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Saya harus hukum diriku sendiri, Saya akan bertapa seorang diri di sini selama 40 hari, tuan Guru. Saya malu…”, dan Gumara menjatuhkan dirinya kepermukaan guha itu, dan airmatanya bercucuran. “Jangan bersedih hati. Tiap pendekar mesti kena uji”, kata Ki Putih Kelabu. “Kalau begitu turunlah, Katakan pada mereka berdua apa yang kita lihat, sebab anda dipercayakan sebagai saksi. Dan sampaikan salam maaf saya kepada mereka berdua”. “Baik”. “Juga maaf saya yang tulus kepada Tuan Guru sendiri”. “Baik”, kata Ki Putih Kelabu. Gumara masih menggeletak kecewa. Dan Ki Putih Kelabu turun dengan meluncur pada dinding guha itu. “Apa yang saya lihat adalah seperti dikatakan Guru Gumara,” ujar Ki Putih Kelabu kepada Tankaya dan Abung Legoyo. “Kami kurang jelas”, kata Tankaya.
“Apa yang dikatakan Gumara adalah apa yang saya lihat. Itulah keterangan saya sebagai saksi. Dan Gumara itu orang yang tulus, bisa dipercaya kata-katanya”.
“Jadi memang sulit membawa Harwati ke bawah?” tanya Tankaya.
“Yang tuan katakan itu betul”, kata Ki Putih Kelabu. Lalu dipegangnya tangan Tankaya dan tangan Abung Legoyo, dan berlompatanlah tiga manusia di malam kelam itu di atas tombak-tombak batu alam sampai ke tepi lembah, kemudian memanjati lembah dengan ringan dan kemudian sampai dipucuk lembah disambut oleh Dasa Laksana. Kemudian mereka sampai ke rumah duka Tankaya. Dan Tankaya mengumumkan keterangan pada orang yang melayat: “Ucapan Gumara bisa dipercaya. Bukan Harwati yang menculik dan memakan otak bayi kami, tapi wanita edan yang lain”. “Apa anda tidak tertipu?” tanya isteri Tankaya. “Kami membuktikannya sendiri, Sekarang pun Gumara masih dalam guha untuk membujuk Harwati turun tapi tak bisa”, kata Tankaya.
Tapi keterangan Tankaya itu tak menghibur para ibu-ibu , bukannya ingin tahusiapa pendekar edan itu. Mereka tak memerlukan pengusutan. Tapi mereka memerlukan penumpasan. Ketika bayi Tankaya dikuburkan, banyak orang hadir juga anak-anak sekolah. Tankaya berpidato : “Bayi kami ini adalah korban ketiga penculikan bayi. Kematian harus diiklaskan karena hal itu
pekerjaan Tuhan Maha Kuasa. Tapi kita yang hidup tak boleh menyerah. Banyak ibu-ibu di Kumayan ini yang kebetulan belum tertimpa musibah, sekarang ini dalam ketakutan. Kami harap, baik dari pihak keamanan, maupun dari pihak dunia persilatan akan membantu mengurangi kecemasan. Karena pendekar wanita memakan otak bayi, sekalipun pendekar itu bukannya Harwati puteri almarhum Ki Karat, namun kejadian ini tak lepas dari rimba persilatan yang kita orang awam kurang faham, Kebetulan hadir pada pemakaman ini Ki Putih Kelabu, yang mungkin dapat menjelaskan cara penumpasannya”.
“Baiklah saya sambut ucapan Tankaya sekarang juga”, ujar Ki Putih Kelabu, Tiap murid ada gurunya. Tiap persilatan ada medannya. Tak bisa disangkal, wanita gila yang kejam ini tentu ada gurunya. Cuma medan yang dia pilih ternyata sesat. Yaitu bayi tak berdosa. Saya sebagai orang tua yang dipercaya yang kebetulan memiliki beban ahlak untuk menumpas kejahatan, akan
menerima kewajiban ini. Tapi kalian yang mengaku awam pun jangan lengah. Tiap gelagat mencurigakan, lapor pada saya”.
Kebetulan hari itu hari Kamis. Besoknya hari Jum”at, karena itu malam itu malam Jum”at Kliwon. Banyak ibu-ibu melemparkan air berkembang tujuh dalam kendi yang dipecah di depan rumah. Banyak yang membakar setanggi dan menyan. Tapi malam Ju”mat Kliwon ini dirasa aneh. Sebab sejak waktu isya anjing banyak yang melolong.
“Setan sedang berkelilingdi sini”, ujar lbu Kabulono.
Ibu itu mendekapi bayinya. Dan bayinya menyedot putik teteknya amat kuat sehingga dia meringis. Pak Kabulono duduk di pinggir tempat tidur. Di rumahnya tidak memasang asap menyan atau setanggi. Tapi dia mendadak berkata pada isterinya : “Sepertinya saya merasakan bau menyan”.
“Saya juga “, ujar isterinya merinding. “Saya merinding, bu”, kata pak Kabulono. “Saya juga merinding, pak”, kata isterinya.Suami isteri itu ketakutan. Mereka sama-sama mencemaskan sang bayi. Lalu sang suami bertanya:”tadi pintu belakang ada kamu kunci?” “Ada ”.
“Wah, ketakutan kita kali ini melebihi ketakutan perampokan sengit 10 tahun yang lalu”, kata Kabulono. “Tolong periksa lagi pintu belakang dan depan, Pak”, ujar Bu Kabulono. “Ha? Aku takut!” ujar sang suami. Suami isteri itu menatap pada bayi yang sudah melepaskan kemotan bibirnya pada tetek sang ibu, Mereka cemas, jangan-jangan malam ini bayi mereka jadi korban penculikan.
“Seingatmu, masih ada berapa bayi lagi yang belum diculik di sini, Bu?” tanya Kabulono pada isterinya. “Aku bersama sebelas ibu lainnya. Tiga ibu sudah kena culik. Dan terakhir Pak Tankaya dan isterinya ketimpa musibah. Tadi pagi baru dikuburkan bayinya. Bagaimana perasaan kau, Pak?” “Aku sangsi pada anak ini”, kata Kabulono, lalu menundukkan kepala mencium kening bayinya. “Bau menyan lagi!” mendadak isterinya setengah kecut berucap. Dan Kabulono mulai kebingungan. “Ya, bau menyannya hebat”, kata Kabulono.
“Jangan-jangan pendekar edan itu sedang mengelilingi rumah kita”, kata sang isteri. “Mari kita menyerah saja”, ujar sang suami, yang mandi keringat dan merasakan lagi bau menyan. Lalu bau kembang. “Bau kembang mayit, Bu, apa kau rasakan?” tanya sang suami. Bu Kabulono memejamkan mata, dan mulai menangis: “Ya, bau kembang lagi, bau kembang mayit. Kurasa, penculik bayi ini bukan manusia. Tapi orang halus, Pak”. “Kita jangan tidur, Bu. Bau menyan dan kembang semakin menyengat”, kata suaminya. Ketika keduanya merinding ngeri, mendadak mereka saling bertatapan muka. Keduanya melotot ngeri! Mereka mendengar ada orang melangkah dibelakang dapur.“Wah, itu dia rupanya, Bu. Kini giliran bayi kita”, ujar Pak Kabulono, mulai mencucurkan air mata! SUAMI isteri itu saling berdekapan sembari mendekapi sang bayi. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dibelakang. “Aduh, Bu! Itu dia”, ujar sang suami, yang lebih ngeri dan merinding. Tapi isterinya berkata lebih sabar: “Tapi mungkin saja itu bukan penculik. Mungkin itu tetangga kita”.
Pintu itu diketuk lagi. Bu Kabulono memberanikan diri bertanya: “Siapa yang ngetok pintu itu?” Kali ini belum kedengaran sahutan. Dan sang suami berkata: “Jangan tanya lagil Itu pasti pendekar edan penculik!”
Keduanya tegang. Pintu itu diketuk-ketuk lagi, sampai Bu Kabulono memberanikan diri bertanya: “Siapa ngetok itu!” “Saya”. “Siapa?”
“Harwati, Saya haus. Saya lapar”, terdengar sahutan.
Bu Kabulono segera mendekapi bayinya, “Aduh, nak, kau akan celaka, nak”.
Menjeritlah, Bu supaya ketahuan orang”, kata sang suami. “Kaulah, Pak”.
“Suaraku tak mau keluar…”, ujar Kabulono. “Aku lapar… Buka… Buka,..”, terdengar suara. Pak Kabulono gemetaran, juga isterinya. Dan karena mereka tak mau membuka, rupanya pintu itu tak dikunci. Pintu itu terbuka,… Satu sosok wanita dengan rambut terurai, bertongkat melangkah masuk. Bu Kabulono biarpun ngeri mendekapi anaknya, memang yakin itu tentunya Harwati anak Ki Karat. Juga sang suami masih sempat mengingat wajah itu. Suami isteri yang ketakutan itu merengek. “Jangan ambil anak kami… jangan..,.”.
“Aku lapar”, ujar Harwati yang rambutnya kusut masai, bertongkat. Harwati semakin maju. Ada keinginan menjerit. Tapi Bu Kabulono tak kuasa. Suaranya tercekik sendiri si kerongkongan. Pak Kabulono sudah pasrah. Tubuhnya basah bermandi keringat. Namun dia mencoba memperkuat batin denga memperhatikan gerak-gerik Harwati. Harwati berdiri di ambang pintu kamar dengan bola mata mengerikan. Dia menyeringai. Rasanya seperti mengintip bayi yang didekap bu
Kabulono. Dalam ketegangan begitu, Harwati masih saja berdiri, menyeringai mengerikan. “Itu apa yang didekap ? makanan?” tanya Harwati.
“Aduh jangan…jangan…dia…kalau kau lapar, ambil apa saja makanan di meja itu!” Harwati melihat tunjuk bu Kabulono. Lalu dia keheranan mundar-mandir mengelilingi meja. Begitu tutup nasi dia buka, langsung saja dia angkat bakul nasi dan dia lahap makan nasi itu tanpa menyuap, mulutnya seperti mulut babi yang makan ampas dedak.” Dan dalam sekejap mata nasi sebakul itu habis. Sisa nasi itu masih ada di pinggir bibir. Suami isteri itu masih tegang, tak menyaksikan perbuatan Harwati. Lallu mereka berdekapan lagi melihat Harwati melintas pintu. Tapi dia terus melangkah sampai keluar rumah. Dan senyaplah!
Legalah hati suami isteri itu. Sang isteri berkata : “Ayoh segera tutup pintu belakang itu, pak!”
Aku belum pasti dia sudah pergi”, ujar sang suami.
“Kalau begitu dekapi bayi ini, Pak”, kata sang isteri.
Kabulono menggantikan posisi isterinya. Dia mendekapi bayi. Dan wanita itu menjadi berani turun dari tempat tidur lalu ke belakang. Memang dengan nafas yang megap-megap dia melangkah menuju pintu.
Lalu ditutupnya dengan kemampuan kilat. Dan lalu dia lari ngacir masuk kamar dan menghempas dengan nafas terhempas pula. Keesokan paginya, didepan kantor polisi bertekuk lututlah Pak Mujabir dengan meratap: “Pak, tolonglah! Anak kami diculik wanita gila itu subuh tadi dan belum ketemu”. Tiga polisi mengikuti Pak Mujabir setelah mencatat proses verbal. Dan bayi yang terculik itu
ternyata ditaruh dibalik pagar bambu sumur ditutupi karung. Kepalanya kerowak, bolong. Otaknya sudah disadap sang penyadap. “Kami tadi malam kebetulan melihat wanita edan itu”, ujar seorang anak muda. “Bagaimana rupanya?” “Rambutnya kusut. Bertongkat. Dan memang mirip Kak Harwati anaknya Ki Karat”, kata anak muda itu. “Kita harus minta bantuan Guru Gumara”, kata letnan polisi Jarusi. “Dia sedang bertapa di guha”, ujar Ki Putih Kelabu yang dimintai mengangkat bayi ke dalam rumah. Dalam kebingungan begitu, Ki Putih Kelabu berkata pada suami isteri yang berduka: “Biar aku jemput Gumara nanti malam!”
Ki PUTIH KELABU tiba-tiba menyadari, bahwa tidak ada gunaya menemui Gumara. Yang lebih penting lagi menemukan putrinya sendiri, Pita Loka. Dia akan berpegang pada ucapan Ki Jengger bahwa saat ini dia lah satu-satunya di Kumayan sebagai Harimau tertua. Dan karena itu harus memikul tanggung jawab apabila kekacauan terjadi akibat kejadian yang menyeret-nyeret nama dunia kependekaran.
Malam ini dia rembug dengan Dasa Laksana, muridnya. “Siapkan kuda dua ekor untuk kau dan untuk saya. Kit aharus menemukan Pita Loka dengan cara apapun. Sebab beberapa bukti sudah jelas bahwa Harwati dengan ilmu setan yang membuat dia gila ini sudah ngawur. Tidak boleh terjadi lagi dia menyedot otak bayi di Kumayan ini. Karena Cuma Pita Loka yang bisa menyembuhkannya maka kita harus cari Pita Loka sampai ketemu” demikian ujar Ki Putih Kelabu.
Dengan patuh Dasa Laksana pergi ke rumah Lurah. Lurah tentu saja dengan senang hati meminjamkan dua ekor kudanya, kuda jenis Sumbawa yang tegap.
Harusnya keberangkatan itu di rencanakan lewat tengah malam.
Tetapi di rumah keluarga Ayoman Burawa sedang terjadi kegaduhan. Seorang wanita dengan rambut kusut masai memasuki rumahnya untuk menculik bayi. Dan ternyata Ayoman berani melakukan perlawanan. Wanita mendadak mau membunuh Ayoman sehingga Ayoman berteriak. Ketika itu masuklah satu wanita lagi yang keadaan rambutnya lebih mengerikan. Wanita ini dikira Ayoman adalah komplotan wanita pertama. Tetapi mendadak wanita yang muncul itu menggetarkan suaranya mirip auman harimau. “Ayoh pulangkan bayi itu, kalau tidak turunan Ki Karat akan menerkammu!” Wanita penculik itu memulangkan bayi pada Ayoman Burawa yang sedang keheranan. “Siapa kamu?” tanya wanita penculik.
“Aku Ki Harwati, putri Ki Lebai Karat yang selalu menguntit kamu menculik dan memakan bayi-bayi disini. Kurang ajar! Keluar kau, perlihatkan padaku ilmu kau!” Ayoman Burawa ternganga heran. Dan lebih heran lagi ketika dilihatnya orang kusut masai yang mengaku Ki Harwati itu, menyeret wanita penculik keluar rumah Ayoman Burawa. Ayoman Burawa terkesima lalu menyerahkan bayinya pada isterinya. Ayoman keluar rumah melihat kejadian yang mentakjubkan!
Dua pendekar wanita sedang adu kekuatan dalam kegelapan malam. Tidak jelas baginya lagi mana yang Ki Harwati maupun lawannya. Ki Putih Kelabu maupun Dasa Laksana sudah berada ditempat kejadian karena ada orang yang melaporkan padanya. Tapi baginya belum jelas siapakah dua pendekar wanita itu. la kuatir, salah seorang diantara yang dua itu adalah Pita Loka putrinya sendiri. Maka dia segera berteriak: “Pita Loka Hati-hati menghadapi lawan!” Ki Harwati barusan saja melakukan tendangan berbalik sehingga wanita penculik itu tersungkur. Mungkin pingsan.Harwati lalu berdiri tegap dan berkata ke arah Ki Putih Kelabu: “Saya bukan Pita Loka! Saya Harwati! Saya tidak menculik bayi”. Ki Putih Kelabu tercengang. Lebih tercengang lagi dia melihat betapa cekatannya Harwati menangkis serangan mendadak dari wanita tak dikenal yang jadi lawannya itu. Sementara terjadi pergumulan seru, Ayoman Burawa mendekati Ki Putih Kelabu dan berkata: “Tuan guru, kita sudah salah tuduh. Lawan Harwati itulah penculik bayi yang sebenarnya. Bayisaya hampir saja berhasil dirampasnya, untung dibela oleh Harwati!” “Ha?”
“Saya tidak berdusta”, ujar Ayoman Burawa.
Ki Putih Kelabu langsung terjun ke arena, setelah dapat membedakan mana yang Harwati dan mana yang bukan. Bedanya cuma pada ikat kepala. Yang pakai ikat kepala itu lawannya Harwati.
Ki Putih Kelabu langsung memulai dengan jurus harimau mengitari lawan. Dia kemudian menghambur dengan cakar tertuju pada sasaran yang kebetulan sedang mundur mengambil kuda-kuda untuk menyerang Harwati. Sergapan itu mengenai kedua bahu lawannya, yang liat tangguh memutar badan dan menjungkirkan Ki Putih Kelabu, Tetapi dengan berkelebat Ki Putih Kelabu sudah menjelma jadi harimau, ini ketahuan ketika ekor harimau itu mengibas dan membelit leher wanita penculik itu. Wanita penculik itu menjerit lantang. Sang harimau tidak memberi ampunan lagi. Dia mencekiknya terus kendati dengan ligat sekali wanita penculik berjungkiran. Tampak pergumulan itu makin melemah dan melemah. Lalu
mengaumlah suara dahsyat. Tapi kemudian orang melihat Ki Putih Kelabu yang sudah berdiri. “Dimana Ki harwati ?”, tanya Ki Putih Kelabu. Barulah orang menjadi sadar dan mencari dimana Harwati. Ternyata Harwati tidak tampak lagi. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa Harwati barusan saja bicara dengan istri Ayoman Burawa. Katanya : “Untunglah bayimu selamat, Bu. Yang selama ini menculik adalah murid-murid Ki Kembar saja. Dia barusan muncul mencari mangsa karena mengetahui kepala anak ibu kucirnya tiga. Nah, selamat tinggal.”
“Kemana kau , Harwati?” “saya akan melanjutkan perjalanan, Bu.”
“Apa kamu perlu pakaian yang baik?” “Ini cukup”, kata Harwati
Lalu ia menghambur bagai roket dan meloncat dari pohon ke pohon tanpa diketahui orang. Di lapangan, Ki Putih Kelabu masih bertanya lagi pada Dasa Laksana : “Sudah kamu temukan Harwati Ki Dasa?” “Belum”, ujar Dasa Laksana, “Tapi barusan saya baru diberitahu seseorang bahwa ada wanita yang meloncat dari pohon ke pohon , terus ke arah selatan.” “Ah, sayang dia begitu berjasa tapi terlepas begitu saja.”, ujar Ki Putih Kelabu. Siang itu banyak orang yang menontoni mayat yang masih terkapar di lapangan itu. Sebagian besar mukanya babak belur. Memar. Tapi bahu dan dadanya koyak berbekas cakaran. Nama Ki Putih Kelabu dibicarakan seharian itu. Dan muncullah Ayoman Burawa membawa berita. Dia menceritakan Harwati mengucapkan selamat tinggal kepada isterinya. “Yang terpenting, isteri saya punya kesan Harwati tidak gila”, ujar Ayoman Burawa.
“Memang begitu adat persilatan. Pengertian edan dalam diri pendekar yang sedang menuntut ilmu berbeda dengan orang-orang gila biasa. Kini terbukti bahwa Ki Jengger benar. Itu dibacanya pada Kitab Tujuh yang aseli, yaitu , ada diantara turunan Ki Karat harus melakukan rimba edan bagai salah satu godokan kawah candradimuka. Tapi yang lebih penting lagi adalah kesaksian saya mengenai bajingan persilatan yang baru kubunuh , Ayoman!” “Kesaksian apa yang tuan guru lihat?” “Yang telah kubunuh itu adalah Nyi Kembar.”
“Nyi Kembar itu siapa, tuan guru?” tanya Ayoman Burawa.
“Isteri Ki Kembar. Ki Kembar adalah dua orang guru ilmu iblis yang padepokannya ada di Bukit Kembar. Ilmu itu aneh. Dua anak kembar yang kemudian disebut Ki Kembar, menuntut ilmu tapi dia harus mencari isteri yang terdiri dari dua bayi kembar wanita………………. Lalu mengembaralah dia kemana-mana melihat ibu-ibu yang baru melahirkan bayi. Tiap ibu yang baru melahirkan bayi satu bukan kembar lalu diculik dan dimakannya benaknya. Sampai kemudian ditemukan ibu yang melahirkan bayi kembar. Lalu Ki Kembar menyerahkan bayi kembar itu kepada sang guru. Menjelang bayi-bayi itu menjadi anak perawan, waktu itulah dua pemuda
kembar itu memperdalam ilmu iblisnya. Setelah dua bayi kembar tadi jadi perawan, lalu dikawini. Tapi dua-duanya mandul. Ki Kembar mati, yang tinggal adalah Nyi Kembar. Dua penganut ilmu iblis ini akhirnya menamakan dirinya juga Ki Kembar. Itulah cerita yang kudengar. Tapi sekarang sudah menjadi kenyataan bahwa satu dari pendekar yang kejam ini sudah mati. Kukira Harwati, pergi untuk mencari Ki Kembar yang satu lagi. Mudah-mudahan begitu. Namun kasihan, dia
masih dalam keadaan gila. Karena itu kita tetap perlu mencari Pita Loka”.
“Saya akan mengawal tuan”, ujar Dasa Laksana. “Tentu. Ini bagian dari mata pelajaranmu dariku!” kata Ki Putih Kelabu. Keberangkatan Ki Putih Kelabu kali ini tanpa rahasia. Sebab Lurah sudah memerintahkan penduduk Kumayan untuk melepas beliau. Beliau dianggap berjasa sekali. Memang selama ini nama beliau kurang kesohor sebab terhimpit oleh ketenaran almarhum Ki Lebai Karat.
Dua ekor kuda meringkik. Lalu Ki Putih Kelabu berkata: “Aku jamin, selama aku mengembara. tidak ada pendekar busuk yang bisa mengacau Kumayan. Ludahku akan kutinggalkan dibumi desa ini…”. beliau meludah ke empat jurusan, kemudian mengatakan “Selamat tinggal!” “Selamat jalan, tuan Gurul” suara penduduk gegap gempita. Suara derap kaki kuda itu kemudian menjauh ke arah selatan, Kuda-kuda itu menerobos semak belukar, dan ketika tiba diperbatasan beliau berkata pada Dasa Laksana: “Kita ke Bukit Api”. “Dimana dan siapa disana, Ki Guru?”
“Aku telah puluhan tahun tidak jumpa dengan Ki Surya Pinanti di Bukit Api. Agaknya Pita Loka memperdalam ilmunya disana”, ujar Ki Putih Kelabu.
KUDA—kuda itu menyeberangi sungai dan membelah sungai itu dengan belahan yang
mengagumkan seperti ketika Nabi Musa membelah Laut Merah.
Tepat ketika dua ekor kuda yang ditunggangi Ki Putih Kelabu dan Dasa Laksana itu mendaki Bukit Merah itu, maka muncullah di sore itu seekor harimau tua, sehingga Ki Putih Kelabu segera berkata pada Dasa Laksana: “Dasa, ayoh cepat turun. Kita disambut oleh seorang Guru Besar”. Mereka turun dari kuda. Lalu Ki Putih Kelabu berkata pada Dasa Laksana dengan tegas: “Tuntunlah kudaku keatas”.
Dasa Laksana dengan cekatan menuntun kuda menaiki bukit, Ki Putih Kelabu menggeram, lalu menjelma menjadi seekor harimau. Dua harimau saling berhadapan. Dan kemudian saling bergulat-gulatan jungkir balik!
Tapi…tentu tidak ada yang kalah dan yang menang. Itulah upacara rindu antara seperguruan. Dan kemudian, kemudian sekali, kedua-dua harimau yang sudah saling kangen itu sudah menjelma kembali sebagai dua pendekar Ki Buaya Pinanti dan Ki Putih Kelabu!“Anakmu sudah kulatih baik!” kata Ki Surya Pinanti.
“Dia ada disini sekarang ini!” “Ha?” “Dia ada disini?”
“Kau jangan mengigau. Aku hanya melatihnya sampai Ilmu Api. Selanjutnya ia harus mencarinya sendiri. Jadi kedatanganmu ke padepokan Bukit Api ada kaitannya dengan Pita Loka?” “Ya, Ki Surya Pinanti”
“Tentu ada sesuatu yang penting”, kata Ki Surya Pinanti.
Lalu Ki Putih Kelabu diajak memasuki padepokan. Nyi Surya Pinanti muncul membawa minuman. Minuman madu.
“Ada berita sedih dari salah satu saudara kita yang sudah almarhum”.
“Harwati puteri Ki Karat?” tanya Ki Surya Pinanti.
“Betul. Dia dalam keadaan gila”.
“Memang begitu yang aku dengar dari Ki Jengger”, ujar Ki Surya Pinanti.
“Anakku itu memang keras kepala”. kata Ki Putih Kelabu.
“Bukan dia yang keras kepala, Ki Putih Kelabu. Tetapi setiap pendekar yang akan mencapai kematangan setingkat Guru, perlu melalui berbagai cobaan. Apa bedanya dengan keadaan kita dulu. sebelum kita disyahkan Jadi harimau. Bukan begitu?”
Ki Putih Kelabu meminum madu itu lagi. Beliau lalu berkata: “Betapapun juga, setidaknya kedatangan saya in untuk mengucapkan terimakasih. Kalau Pita Loka tidak bermukim disini
sekarang, itu memang sudah suratan!”
“Bahkan dia menolak mengobati kegilaan Harwati adalah suratan. Semua sudah saya baca
kembali dalam Kitab Tujuh. Kegilaan Harwati ini pun sudah suratan. Mereka mewarisi Kitab Tujuh
hanya sebagai suatu lompatan ke jurus depan. Didepan mereka itu sedang menunggu suatu
Kitab yang lebih hebat dari Kitab yang kita warisi. Yaitu Kitab Harimau Putih. Semoga anak turunan yang mewarisi kitab itu kelak cukup tabah dan bukannya bercerai berai!”
Ki Putih Kelabu menunggu habisnya wejangan Ki Surya Pinanti. Baru dia kemudian berkata: “Jadi dunia persilatan ini masih akan berlanjut?”
“Akan berlanjut terus. seirama dengan persenjataan nuklir dan roket. Bedanya, roket tidak punya rohani. Tapi seorang pendekar memiliki rohani. Memiliki ruh. Coba tuan pikirkan, siapa yang mendorong tuan ke Bukit Api ini jika bukan ruh pendekar? Hanyamembuang waktu”.
“Karena ikatan batinku dengan Ki Karat”, ujar Ki Putih Kelabu, “Aku kasihan melihat Harwati mengembara dalam kegilaan. Sedangkan kunci obatnya ada ditangan anakku, yang sebenarnya mampu menyembuhkan Harwati”.
“Kini Ki Guru tak perlu risau lagi”, ujar Ki Surya Pinanti, “Semua soal sudah ada tatanannya dan ada yang Menata. Jadi bukan tidak mungkin bahwa gilanya Harwati tanpa suatu keperluan”.
Kata-kata orang bijaksana dan arif memang selalu terbukti kebenarannya. Dalam perjalanan mau pulang ke Kumayan, Ki Putih Kelabu dan Dasa Laksana harus berbelok ke desa Serunai karena tebing kulon runtuh. Desa Serunai dalam keadaan tegang! Seorang pendekar wanita sedang mengobrak-abrik desa itu
dan telah menewaskan sebelas orang penduduk. Padahal, desa ini pernah mengalami bencana hebat ketika kehilangan seratus orang yang terbaik sebagai tumbal dan mangsa ilmu iblis. Penduduk ketakutan, meratap, menjerit dan menangis! Ki Putih Kelabu berkata pada Dasa Laksana: “Kau awasi keadaanku disini! Ini tentu pendekar gila yang bikin gara-gara!” “Baik, tuan. Tuan akan saya awasi terus!”
Lalu menghamburlah Ki Putih Kelabu keudara dengan suara auman yang seram. Dia sudah sekelebatan tahu, bahwa satu perguruan sifat iblis sedang melakukan kezaliman di desa Serunai. Harimau tua itu segera mencakar seorang pendekar yang mau menelanjangi seorang gadis yang diseretnya dari dalam rumah.
DENGAN cakarnya dikoyaknya pendekar sinting itu sehingga tubuhnya benar-benar terbelah dua, kecuali kepalanya! Seketika itu juga terdengarlah suara gemuruh kaki kuda menghilang menuju ke tenggara. “Sekarang aku tahu”. ujar Ki Putih Kelabu, “Bahwa yang melakukan kejahatan ini sama dengan yang di Kumayan. Kembarannya Nyi Kembar. Terbukti mereka menuju ke Bukit Kembar itu”
“Saya akan memeriksa yang tinggal”. ujar Dasa Laksana.
“Yang tinggal cuma satu itulah. Yang sudah mampus saya koyak tadi dan itu cukup menjadi mata pelajaran bagi Kembaran lblis itu”.
“Kita pulang sekarang, tuan Guru!?”
“Kita minum tuak dulu disini. Tuak disini sangat enak karena dicampur sari madu”, Tapi di awal malam itu. warung sudah tutup sejak munculnya teror Nyi Kembar. Rumah–rumah pun sudah terkunci. Ki Putih Kelabu mengetuk pintu sebuah warung yang tutup. Pemiliknya, Tola ketakutan. “Saya Ki Putih Kelabu bukan orang jahat. Sayalah yang sudah mengusir penjahat dari Bukit
Kembar tadi”. Ki Putih Kelabu menjelaskan. Lalu agar lebih meyakinkan pemilik warung, beliau menambahi; “Saya sudah lama merindukan minuman tuak Serunai yang nikmat”. Tola menoleh pada isterinya. Isterinya mengangguk.
Lalu Tola membuka pintu. Ki Putih Kelabu membungkuk diikuti oleh Dasa Laksana.
“Ini muridku. Kami kebetulan lewat ke sini ketika kami mendengar desa ini dilanda ketakutan. Tapi percayalah, mereka tak berani kembali ke sini lagi. Boleh kami duduk?” “Silahkan tuan Guru”, ujar Tola.
Ki Putih Kelabu bersama Dasa Laksana duduk dengan sopan.
“Tuak panas ya!?” ujar sang Guru. “Baik, tuan”.
Sembari menikmati minuman tuak panas yang sedap itu,
Ki Putih Kelabu bertanya: “Sudah berapa kali Nyi Kembar menyerang desa kalian?”
“Ini yang kedua. Tapi untunglah yang pertama mereka dapat di usir oleh pendekar sinting yang mengamuk”.
“Kenalkah kalian pendekar edan itu?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Kami mengenalnya. Setahu kami dulu dia melatih silat disini, cuma saja silat itu mungkin silat sesat. Seratus penduduk semuanya mati ketika diajaknya menyerbu Desa Surya Mulih, begitupun
kuda-kuda semua mati. Dan lima pengawalnya hasil culikan dari desa Tulus pun mati. Mereka
menyerbu bersama Ki Rotan”.
“Sebentar nak”, ujar Ki Putih Kelabu seraya menghirup tuak, “Kamu katakan Ki Rotan terlibat bersama Harwati?”
“Ya. Kami selalu akan mengenang dukacita itu. Tapi ketika Ki Kembar mengobrak-abrik desa Serunai, justru Ki Harwati, dalam keadaan sinting, muncul membela kami dan telah diusirnya para penjahat itu ke tenggara”.
“Jangan ingat segala yang buruk mengenai Ki Harwati. Ingatlah yang baik-baik saja yang pernah dia sumbangkan untuk menentramkan hati kalian. Tanpa bantuannya, tentu sudah dihabisi desa kalian ini!”
“Bahkan mereka sudah membakar dua rumah”, ujar Tola. “Sungguh jahat ilmu iblis Ki Kembar. Tapi jika kami nanti melanjutkan perjalanan, aku ada pesan
untuk Harwati.” “Melanjutkan perjalanan ,tuan Guru?, tanya Tola.
“Tuan jangan meninggalkan desa kami dulu, tuan Guru! Kami mohon sangat, karena kami takut dan sudah tidak bisa tidur sejak serangan pertama. Mereka kejam dan beringas”, ujar isteri Tola. “Tapi aku tak bisa menunda.”, ujar Ki Putih Kelabu. “Sebab akupun sedang mencari puteriku.”
“Ah, tuan Guru. Kami kira tuan Guru mau bermukim di desa kami agak lebih lama”, ujar Tola. “Kami butuh ada pendekar yang melindungi kami”, kata isteri Tola. Lalu Ki Putih Kelabu menoleh pada Dasa Laksana.
“Pahamkah kau mengapa aku melihat wajahmu, Dasa?” tanya sang Guru. “Saya paham, tuan”. “Kalau begitu siapkan kudaku. Biar aku sendiri yang pergi. Dan kau kutitipkan amanat, agar menjadi anak panah pertama jika para pengacau itu datang ke sini.”, ujar Ki Putih Kelabu dengan nada takzim. Dasa Laksana berdiam sejenak. Tola bertanya :”Jadi pendekar muda inikah yang akan membela
kami?” “Kuulangi :Dia akan menjadi anak panah pertama yang melesat untuk menangkis serangan Nyi Kembar. Jelas?” “Ribuan terima kasih, tuan”, ujar Tola yang langsung memeluk dengkul Ki Putih Kelabu. Dan dalam perjalanan berkuda meninggalkan desa serunai di lembah bawah sana yang selama ini tak dikenalnya, terdengar suara jerit pekik manusia. Suara itu dibawa oleh angin dari lembah
bawah sana itu. Tapi Ki Putih Kel;abu mengalami kesulitan dengan kudanya.
Beliau melihat tebing ini terlalu curam. Namun beliau sudah menduga, pastilah jerit pekik manusia di bawah itu tentunya karena munculnya sang pengacau lagi. Jangan-jangan Nyi Kembar lagi!
Padahal yang membuat penduduk desa kecil itu menjerit bukanlah karena mereka yang terancam. Tetapi mereka belum pernah menyaksikan suatu perkelahian yang begitu seru semacam sekarang ini. Ketika itu matahari akan terbit. Gerombolan Nyi Kembar baru akan memasuki desa itu, namun sudah dicegat oleh seorang pendekar wanita compang-camping dengan sepasang pedang ditangannya.
Lima belas ekor kuda meringkik. Ketika itulah Harwati mencegat para pengacau itu, yang menurut par asaksi mata di desa itu, semula tidak menggunakan pedangnya. Pendekar wanita itu langsung meloncat ke udara, dengan bunyi auman harimau, namun dia bukan harimau! Dia tanpa pedang, tapi melayani lawan dengan tangan kosong! Mereka juga heran sejak kapan pendekar wanita itu mendapatkan pedang. Sebenarnya hal itu terjadi dalam sekelebatan. Denagn jurus kesintingan, dia mengamuk menerkam, tapi kemudian dikibaskan oleh Nyi Kembar, dan terjungkirlah dia ke semak dalam keadaan tak berdaya.
Mendadak dia mendengar suara berseru: Harwati! Surandar!”
Dua pedang melayang bagai kilatan di subuh hari itu………..langsung ditangkap gagangnya oleh Harwati. Dengan dua pedang itulah pertempuran itu dilayani oleh pendekar sinting yang numpang menginap di desa kecil itu.
Mereka semua terkagum-kagum. Orang yang numpang menginap selama tiga malam tanpa makan itu ternyata seorang pendekar yang luar biasa, Mereka intip dari celah rumah bambu mereka betapa dua pedang itu melayani tombak-tombak yang melayang dan meleset tak jadi mengenai tubuhnya.
Nyi Kembar penasaran. Dia menghambur keudara, dan dengan kayu bulat lima hasta itu sebagai senjatanya… dia menjatuhkan diri ke bumi lalu memutar tubuhnya. Ki Harwati justru masuk diantara putaran kayu bulat itu agar dua pedangnya berhasil membacok tubuh lawannya. Tapi tiap pedang itu mengenai, lalu membal. Dan membal terus sehingga Harwati cepat meloncat ke luar dari putaran kayu bulat di tangan Nyi Kembar. Pedang itu kini digunakannya untuk membacok kayu bulat itu, Mata pedang Surandar itu langsung masuk ke kayu bulat itu, dan disinilah teruji ketrampilan pendekar. Kayu bulat yang dipegang Nyi Kembar, dan pedang yang
sudah berkait dengan kayu bundar itu, yang gagangnya dipegang erat oleh Harwati, membuat keduanya harus saling “membantu keseimbangan” agar jangan terkena celaka. Rupanya mata pedang Surandar itu masuk begitu dalam ke kayu bulat itu sehingga dua pendekar yang sama kuat itu saling membantingkan diri ke tanah agar senjatanya tidak lepas. Harwati mengibaskan Pedang Surandar yang satu lagi, yang di tangan kiri agar mengenai kepala Nyi Kembar. Begitu pedang itu mengenai kening Nyi Kembar, ternyata hanya bunyi logam melenting saja yang kedengaran. Makin lama kegesitan dua pendekar yang bertahan memegangi senjata seraya menyeimbangkan diri dalam jumpalitan itu… semakin kuat, sehingga yang justru terbongkar adalah tanah-tanah sekitar. Bahkan bekas telapak kaki kedua pendekar itu membuat bolongan bekas di tanah. Anak buah Nyi Kembar ada yang tidak bisa menahan diri. Dia terjun dengan keberanian habis memasuki pertempuran seru itu, sebagai orang ketiga. Tapi pukulan tongkat bulat anak buah ini
ditangkis oleh pedang di tangan kiri Harwati! Pedang itu melengket memasuki tongkat bulat itu.,..
Anak buah Nyi Kembar ini sial. Dia lumat terinjak jumpalitan kaki Ki Harwati dan kaki Nyi Kembar
sendiri.
Tubuhnya hancur. Ketika itu pulalah seekor kuda menyeruduk dari arah kulon Ki Putih Kelabu mengaum seraya menghamburkan diri ke udara, dan dia telah menjelma menjadi harimau lapar. Dua cakarannya langsung menyergap dua anak buah Nyi Kembar yang terlambat naik ke kuda, lalu kedua-duanya jatuh dibanting oleh harimau tua yang muncul mendadak. Harimau tua itu menghambur memasuki pergulatan Ki Harwati lawan Nyi Kembar! Tapi ini pulalah yang membuat mata pedang Harwati lepas dari kayu bulat di tangan Nyi Kembar, dan dalam sekelebatan, lebih cepat dari kilat, Nyi Kembar menghambur ke punggung kudanya dan menghilang. Tapi anak buahnya yang kebingungan menjadi mangsa cakaran Ki Putih Kelabu yang mengamuk! Ketika sudah tak ada lawan lagi, Ki Putih Kelabu berseru: “Ki Harwatil” Harwati muncul dengan senyum menyeringai. Dia sudah mirip orang gila kembali dan… tanpa memegang pedang, Dia duduk disebuah bangku panjang, lalu tiduran di sana, seperti dia tidur di sana tiga hari yang lalu
tanpa makan.KI PUTIH KELABU merasa hiba melihat keadaan Harwati. Pakaiannya compang camping. Sebahagian rambutnva sudah menyatu satu dengan lainnya. Rambut itu sudah mirip sarang burung! Dan karena kehibaan hati itu Ki Putih Kelabu ingin sekali membawanya ke Kumayan. Diperhatikannya calon pendekar besar itu menggeletak dl atas bale bambu tanpa mempedulikan siapapun. Dihampirinya puteri almarhum pendekar besar Ki Karat itu…. “Nak Harwati”, ujarnya, dengan lembut. Tapi Harwati diam saja. “Nah, kenalkah kamu pada saya nak?” Harwati menatap Ki Guru itu. Mata itu cuma menatap kosong. Kosong bagai bola kaca. Seakan tidak mengenalnya! “Maukah kau pulang ke Kumayan?” tanya Ki Putih Kelabu Harwati menggeletak saja. Ki Putih Kelabu putus asa. Lalu dia berkata pada beberapa orang desa kecil itu: “Saya akan pergi. Saya akan mengucapkan terimakasih kepada kalian. Totonglah urus dia. Dia ini calon pendekar besar. Dan dia ini puteri pendekar besar yang saya sudah anggap saudara saya sendiri!” Ki Putih Kelabu lalu mencari kudanya. Setelah beliau naik ke punggung kuda, beliau bertanya pada penduduk desa itu: “Apa nama desa kalian ini?” “Desa Meranti, tuan Guru”, ujar seorang lelaki tua. “Baikiah. Saya titipkan orang ini. Sebenarnya gadis ini bukan orang gila. Dia dalam keadaan ngelmu. Dia orang baik”, kata Ki Putih Kelabu. “Memang dia baik, tuan Guru, Dia telah dua kali mem bantu kami untuk membela diri atas kebiadaban gerombolan Nyi Kembar”, ujar lelaki tua desa itu. “Maaf. Saya datang kesini sudah meninggalkan sampah-sampah. Mayat-mayat gerombolan Nyi Kembar itu yang saya maksudkan dengan sampah. Dan seperti juga sampah, dia mengotori
desa. Karena itu buanglah sampah-sampah itu”, lalu Ki Putih Kelabu menendang ujung tumitnya
pada paha kudanya, dan kuda itu meringkik seraya mengangkat kedua kaki depannya, dan
kemudian menghambur ke depan dipacu oleh pendekar tua itu.
Mendadak Harwati bagai tersintak dari tidur, padahal ia tak tidur. Lalu dia ketawa sendiri! Orang-orang desa yang awam itu hanya menontoninya. Ketua desa itu lalu berkata pada penduduk: “Marilah kita biarkan dia dengan dunianya. Kita kembali ke rumah masing-masing. Mayat-mayatitu lemparkan saja ke hutan supaya dimakan oleh srigala-srigala”.
“Kita coba membujuknya supaya dia mau makan, Pak”, ujar seorang perempuan tua.
“Ya, sudah tiga hari tiga malam dia tidak makan”, kata perempuan lain lagi. Tetapi tetua desa itu berkata: “Orang yang ilmunya tinggi, sudah tak membutuhkan makanan lagi. Dia makan dengan udara dari langit itu”.
Tetapi secara mendadak Harwati melangkah menghampiri seorang perempuan tua. Mulanya perempuan tua tadi ketakutan. Harwati berkata padanya: “Aku lapar, Bu!”
“Oh ya? Mari, mari ke rumahku, biar kau kujamu makan”, kata perempuan tua itu. la mendadak seperti manusia normal kembali. lbu itu menjamu Harwati makan di rumahnya. Tapi dia tidak menyentuh piring aluminium itu, melainkan langsung mengambil bakul berisi nasi. Dan dilahapnya nasi sebakul itu sampai habis.
“Kau tidur di sini, ya Nak?” bujuk perempuan tua itu.
Harwati diam saja. Lalu dia seperti tergoda oleh satu nada yang mendenging di telinganya! Dia melompat dengan cekatan ke luar rumah. Dan sebelum perempuan tua itu bertanya, dilihatnya Harwati sudah menghambur ke udara lalu hinggap dipohon sawo dan meloncat lagi ke pohon nangka dan kemudian dia hanya kelihatan bagai lompatan bola api dan pohon ke pohon, terus ke atas tebing.
“Sungguh ajaib”, ujar perempuan tua yang menyaksikan keanehan itu, Dan memanglah sungguh ajaib. Bagai angin membubu Harwati berlari terus ke satu arah, arah kuIon, sampai kemudian dia sudah berdiri di pintu gerbang desa Serunai.
Dia menyandar saja di bawah pohon beringin. Padahal seharusnya dia ikut terlibat dengan kejadian yang disaksikannya! Ya, sambil terkekeh-kekeh Harwati melihat seorang lelaki muda, pendekar Dasa Laksana, sedang menangkis pukulan-pukulan kayu bulat Nyi Kembar. Ketika satu sabetan melintang kayu bulat itu mengenai punggung Dasa Laksana, pendekar muda itu tersungkur. Namun dia masih sempat menangkis pukulan Nyi Kembar dengan kakinya, sebelum kayu bulat itu menghantam kepalanya. Dasa Laksana bangkit, dan dengan berdiri tegak
kini dia menangkis hantaman kayu bulat dengan kuakan kedua tangan. Itulah kuak tangkisan api. Tiap kayu bulat itu menghantam, kedua tangan Dasa Laksana menguakkannya lagi. Dan membersitlah percikan api! Harwati tertarik oleh apa yang dia saksikan. Dia melangkah meninggalkan pohon beringin itu, lalu mendekati tempat perkelahian. Mendadak tiga orang anak buah Nyi Kembar berlarian mencari kudanya, lalu melompat ke punggung kuda masing-masing. .
Padahal Harwati tidak melibatkan diri dalam persilatan yang dia kagumi itu. Dia terkekeh-kekeh apabila dilihatnya Nyi Kembar menghantamkan senjatanya lalu dia sendiri terbanting berguliran di tanah berkat tangkisan Dasa Laksana. Nyi Kembar kesal melihat ada orang terkekeh-kekeh.
Tapi ketika dilihatnya yang terkekeh itu adalah Harwati, dia langsung berbalik menghantamkan senjatanya ke arah tubuh Harwati. Tapi yang terkena adalah punggung Dasa Laksana, yang
mencegat hantaman itu dengan tubuhnya sendiri. Dan ketika hantaman berikutnya, kayu bulat
itu justru terpegang oleh genggaman Harwati dan dia langsung balikkan badan sehingga Nyi Kembar terlempar. Senjatanya kini berada di tangan Harwati. Nyi Kembar kebingungan. Dia kini merasa satu lawan dua. Ketika dia mau panggil anak buahnya, anak buahnya justru melarikan diri tertebih dahulu. Nyi Kembar putus asa seketika itu juga. Setelah tengak-tengok kiri kanan maka dia berlagak mau menyerang Dasa Laksana yang tetap berdiri tegak. Tapi seketika itu Juga
Nyi Kembar melarikan diri dan naik ke punggung kudanya. Harwati melemparkan kayu bulat itu kearah Nyi Kembar. Nyi Kembar menyanggep senjatanya. Ketika itu berhamburan pulalah tawa terkekeh Harwati. Nyi Kembar geram, lalu meludah. Dan kemudian memacu kudanya meninggalkan desa Serunai. Harwati menoleh pada Dasa Laksana. Matanya berbinar pada lelaki perkasa itu, seakan batinnya
tergoncang. Dasa Laksana bertanya padanya: “Kaukah puteri Ki Lebai Karat yang termashur itu?” “Ya. Mari mandi”, ujar Harwati.
“Mandi?” tanya Dasa Laksana keheranan.
“Mari kita mandi di Pancuran Burung lblis, di bukit Sana itu”, ajak Harwati.
“Tidak. Ilmu kami bukan ilmu iblis”, ujar Dasa Laksana.
“Kamu tentu murid Ki Putih Kelabu”, ujar Harwati.
“Benar”.
“Kau mesti diberi hadiah. Di sini ada tuak yang enak, karena penyadunya tukang tuak yang
ulung. Mari ikut aku”, kata Harwati. Dasa Laksana kali ini mengikuti Harwati. Dia cuma heran, tingkah lakunya kali ini bukan tingkah orang edan. Ketika memasuki warung, dia heran karena tak ada lagi bambu-bambu buluh yang biasanya digantungkan ditepi warung. Bambu itu biasanya ada, dan berisi tuak. Dengan kesal Harwati menggebrak meja dan berseru: “Ajang Batur! Hai Ajang Baturl Keluar! Beri aku tuakmu yang enak!” Seorang perempuan cantik keluar. Harwati membentaknya: “Mana Ajang Batur! Aku mau minum tuak!”
“Ki Kobra…”, ujar perempuan cantik itu.
“Aku bukan Ki Kobral Aku Ki Harwati! Mana Ajang Batur suamimu!”
“Apakah tuan lupa… bahwa suamiku tewas bersama 100 pasukan yang menyerbu Lembah Surya Mulih? Dia tewas bersama kudanya”, kata perempuan itu.
Mendengar keterangan itu, Harwati terbelalak kaget. Tiba-tiba dia ingat pasukan berkuda yang kocar-kacir karena serang Nenek Tua dengan senjatanya cambuk asap itu. Kuda dan manusia saling tabrakan, ada yang berhamburan masuk jurang tebing. “Bukan seratus orang yang tewas… Tapi 105 orang. Yang selamat cuma dua orang. Rupanya diantara anak buahku itu ada Ajang Batur, Oh…”, lalu dia merasa pusing. Dia jatuh di tanah dan menggelepar seperti orang ayan. Dan ketika Dasa Laksana mau
mengangkatnya, sebuah tenaga dalam yang dahsyat melemparkan pendekar muda itu keluar. Harwati mengamuk. Kegilaannya mengerikan! Dan kemudian dia berlompatan dari pohon ke pohon, turun ke lembah bawah dan kemudian tiba kembali ke desa Meranti dalam keadaan lelah terhuyung. Dia menggeletak kembali di atas bale bambu di depan rumah tetua. Begitu dia tiba-tiba tersentak setelah tidur beberapa jam, dia berkata: “Aku laparl Beri aku makan!”
“Mari ikut lbu”, ujar perempuan tua diantara yang menonton, “Bukankah kau sebelum ini juga makan di rumahku?” Tubuh Harwati bagaikan tidak berdaya. Dia dipapah perempuan tua itu, dibantu oteh Pak Tetua desa. Kali ini dia tak menunggu hidangan. Dia langsung menuju tungku. Nasi yang berada dikerucut kukusan itu dimakannya seketika itu juga dengan lahap dan tuntas.”
SEMENTARA itu, Ki Putih Kelabu sudah tiba di Kumayan. la langsung ke rumah Lurah memulangkan kuda. Kemudian bertanya: “Ada berita penting selama saya meninggalkan Kumayan, Pak Lurah?”
“Ada ”, sahut Pak Lurah. “Beritahu saya”.
“Guru Gumara sudah kembali. Bahkan sudah mengajar di SMP dan SMA kembali”, ujar sang Lurah. Ki Putih Kelabu sengaja lewat di sekolah tempat Gumara sedang mengajar. Tapi beliau tidak
mampir. Setiba dirumah, Ki Putih Kelabu menghempaskan tubuhnya di bale. Dia lelah sekali. Tetapi seraya menelentang begitu beliau membayangkan putri yang dia sayangi. Di mana Pita Loka sekarang? Mengapa aku mengikuti nasehat Ki Surya Pinanti agar membiarkannya mengembara? Ternyata sudah menjelang sore ketika Ki Putih Kelabu masih gelisah memikirkan nasib Pita Loka, dan kedengaran ketukan pintu. “Siapa?” “Gumara”.
“Oh, kaul Masuk, masuk!”
Ketika Gumara sudah dipersilakan duduk, Ki Putih Kelabu berkata ; “Di samping aku gembira kau sudah mengajar, perlu kuberitahukan padamu, bahwa adik tirimu Harwati sekarang ini berada di desa kecil Meranti. Tak jauh letaknya dari desa Serunai. Keadaannya compang-camping dan menyedihkan. Aku sudah membujuknya agar dia mau dibawa pulang ke sini, tapi dia hanya diam”, Gumara hanya berdiam diri. Kelihatannya dia tak hirau dengan cerita Ki Putih Kelabu. Lalu pendekar tua itu bertanya : “Tentu anda ke sini ada satu maksud”,
“Ya”.
“Ada yang ingin tuan tanyakan, Guru?”
“Saya ingin menanyakan Pita Loka. Saya kira Ki Guru membawa pulang Pita Loka. Tampaknya tidak ada”, lalu terdengarlah nafas panjang Gumara dan kemudian ia berdiri. “Dudukiah”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Cuma sekedar itu saya ke sini”, ujar Gumara, kemudian dia pamitan. Dan tak ada alasan pendekar tua itu untuk mencegahnya pergi. Setiba di rumahnya dia bertanya pada Alif : “Sudah kau antar sari daun sirih itu ke rumah Ki Lading Ganda?”
“Sudah. Tapi ia tetap saja tak sudi meminumnya”, kata Alif.
“Mungkin ruhku dalam keadaan kotor, Alif. Biasanya setiap mimpi berujud kenyataan. Kali ini gagal. Aku pernah bermimpi di guha Surilam, bahwa Harwati sedang bermukim di desa Meranti. Ketika aku ke sana , dia tak ada. Lalu aku bermimpi lagi mengenai daun sirih untuk pengobat sakit gila Ki Lading Ganda. Ternyata tak ada perubahan. Mungkin aku perlu membersihkan diri
lagi untuk satu jangka waktu yang agak lama”.
“Kasihan anak-anak SMP dan SMA akan terlantar jika tuan Guru bolos lagi mengajar. Tuan Guru Kepala sudah berkeluh kesah pada saya karena tuan amat sering membolos. Di sini, mana ada lagi tenaga pengajar, tuan?”
“Itu aku pahami, Bahkan aku pernah meminta dipecat saja. Tapi celakanya dia menganggap aku ini bukan sekedar Guru SMP dan SMA. Dia menganggap aku ini seorang superman. Aku pendekar hebat. Padahal aku hanya manusia biasa, yang memiliki kelebihan tapi juga kekurangan. Inilah susahnya jadi orang kampung”.
“Sekarang apa yang tuan Guru pikirkan?” tanya Alif.
“Aku merasa perlu bertapa. Aku ingin mendapatkan ilham, di mana kini Pita Loka berada”. “Tuan tentu amat mencintainya”, kata Alif.
“Memang saya mencintainya. Keadaan ini sejak semula sudah tidak menjadi cerita baru lagi jika sekiranya tidak ada Harwati. Sungguh aneh, dia, adik tiri sendiri, bisa mencintaiku!”
“Saya dengar itu tidak betul. Dia bukan sedarah dengan tuan, karena tuan sebetulnya cuma anak angkat Ki Karat”, ujar Alif. Gumara melongo ! Dia heran, belakangan ini banyak dia dengar cerita demikian. Ketika la pernah tersesat ke padepokan Ki Kembar, juga Ki Kembar menceritakan hal ini!
Tanpa ia sadari ia mengaum bagai harimau, sehingga Alif melompat ketakutan. Alif mandi
keringat. Dengan gemetar dia berkata : “Maafkan saya, tuan Guru. Saya takut tuan jadi marah”,
Gumara hanya berdiam diri. Ketika hidangan makan malam disediakan oleh Alif, Gumara berkata:
“Lupakah kau, aku masih menjalani puasa putih, siang malam?”
“Mana ada orang berpuasa siang malam, tuan Guru?”
“Orang mati puasa siang malam. Aku sekarang ini sedang menjalani mati”, Ucapan itu membuat Alif melongo. DAN pagi ini, pagi yang cemerlang ini, ketika Gumara bangun tidur didengarnya bisikan halus. Gumara bukan bermimpi! Ini adalah wisik.
“Guru. Ke mana pun saya pergi, engkau adalah Guru”, suara bisikan ini jelas adalah suara wanita. “Siapa anda?” tanya Gumara.
“Aku, Pita Loka”.
“Pita Loka?” Gumara terperanjat, hampir saja tak bisa menguasai diri.
“Jangan bimbang. Jangan heran. Betapapun Guru adalah Guru. Saya sekarang ini sudah sampai pada tingkatan mengirimkan wisik. Saya dapat menghubungi ruh anda dalam jarak tak terbatas dengan bisikan”.
“Pita Lokal Di mana kau sekarang ini?”
“Aku berada di dukuh salah seorang pendekar harimau yang tertinggi. Aku berada di dukuh Ki Ca Hya”. “Ki Ca Hya?”
“Ya. Kenapa harus kaget?”
“Ki Ca Hya adalah Guru dengan ilmu tertinggi, Beliau tidak bisa kita jumpai secara berhadapan muka. Karena dia hanya memperlihatkan cahayanya saja. Jadi kau sudah mendapatkan ilmu Cahaya?” tanya Gumara bersemangat. Lalu tak ada suara wisik lagi. “Pita Loka!” seru Gumara. Tak ada wisik lagi dan tak ada wisik lagi.
Ketika itu, di Dukuh Ki Ca Hya, Pita Loka sedang memejamkan mata dengan hening. Sedangkan di hadapannya Ki Ca Hya mengawasi, dua-duanya dalam keadaan bersila.
Lalu sang Guru membuka mata. Dengan suara perlahan dia bertanya : “Sampaikah getaran suaramu padanya?” “Sampai. Dia bercakap-cakap dengan bibirnya, tapi saya berbicara dengan getaran roh”, kata Pita Loka.
“Bagus”.
“Bagaimana dengan mata saya yang buta, Ki Guru?”
“Kau masih akan tetap dalam keadaan buta, anakkul Pekerjaan besarmu menunggu di depan. Kau harus terus melatih getaran roh sampai bisa menggetarkan rohmu itu semakin tajam. Ketajaman adalah rahasia semua ilmu putih. Tapi seputih-putih ilmu adalah ilmu yang tercantum dalam Kitab Harimau Putih”.
“Adakah harimau putih itu?”
“Ada bulunya putih seperti halusnya bulu kelinci. Tapi ilmu yang setinggi itu mungkin tidak akan pernah dimiliki oleh generasi Tujuh Harimau. Mungkin keturunannya kelak. Siapa tahu itu keturunan kau nanti, Pita Loka?”
“Saya? Si buta jelek ini akan punya turunan?” tanya Pita Loka.
“Aku bilang siapa tahu. Rahasia itu semuanya ada dalam Kitab Tujuh, tapi orang yang satu-satunya memiliki dan memahami isinya sudah mati, Ki Tunggal Surya Mulih. Pewarisnya kelak akan mengetahui soal itu, sedangkan saya tidak tahu siapa pewaris ilmu Ki Tunggal yang sebenarnya”. Pita Loka terdiam beberapa saat. Ada satu soal yang masih dirisaukannya, tentu. Siapapun yang
bernasib seperti dia akan risau semacamnya pula. Yaitu kebutaan mata. “Kenapa kau menangis, nak?” tanya Ki Ca Hya setelah melihat tetesan airmata Pita Loka berhamburan. “Ki Guru telah mengetahui”.
“Memang jika seorang pendekar wanita jatuh cinta, berbeda dengan pendekar pria, Saya yakin, babwa sebenarnya Gumara itu mencintaimu juga”, ujar Ki Ca Hya,
Aduh, inilah yang diharapkan Pita Loka. Kepastian ini.
Seorang pendekar besar seperti Ki Ca Hya, jika sudah bicara soal yakin, itu pertanda ucapannya bisa dipegang. “Cuma, anakku, untuk sampai ke sana , dibutuhkan berbagai pengalaman matang. Perkataan Kitidaklah semudah mengucapkannva. Semua pendekar yang sudah merasa pandai bersilat, lalu
merasa dirinya Ki. Ki itu Suhu dalam ilmu orang Cina. Suhu itu Guru. Dan setiap Guru sebetuinya harus sudah siap mewariskan ilmu. Selagi pewarisnya belum tersedia, dia belum berhak dianggap Ki, atau, Guru, atau, Suhu. Jelas?”
“Jadi Ki Guru sudah yakin jodohku ini Gumara?” tanya Pita Loka.
“Aku cuma yakin bahwa dia mencintaimu. Soal jodoh, itu bukan bagian saya maupun Gumara. Sekarang, kuharap kau bersabar, Tinggal saja di ruang pertapa ini untuk beberapa lama. Untuk mempertajam ilmu getaran. Ilmu getaran ini kunci semua cabang persilatan, nak”. Lalu sang Guru meninggalkan muridnya di ruang pertapa itu. Dan Pita Loka mencoba mempertajam getaran. Getaran itu harus dimulai dengan gerak duduk. Dalam duduk ada gerak yang bukan digerakkan otot, melainkan oleh getaran. Tubuh sang murid akan menggeletar. Lalu posisi kembali ke semula.
KI PUTIH KELABU barusan saja mandi bunga di malam Jum”at Kliwon itu. Beliau ingin mendapatkan ketenangan. Beliau sudah tak hendak memikirkan putrinya Pita Loka, maupun nasib muridnya Dasa Laksana. Ketika ia merebahkan diri di bale bambu dalam rumahnya, dia tiba-tiba mendengar desir suara nging yang panjang di telinga kanannya. Menurut Guru beliau dahulu, suara nging di telinga kanan bagi seorang pesilat haruslah dipertanyakan. Maka dengan agak gemetar, bibir Ki Putih Kelabu bertanya: “Roh siapa yang bergetar pada telingaku sekarang?”
“Pita Loka”, terdengar suara wisik. “Ha? Pita Loka?” “Aku. Putri bapak”.
“Oh, anakku. Rupanya kau dalam keadaan sejahlera. Di mana kau sekarang anakku?”
“Saya sedang meguru dengan teman ayahanda”, suara wisik menjelaskan.
“Ini tidak ada lain dari Ki Ca Hya. Hanya murid Ki Ca Hya yang pandai menyampaikan getaran roh. Jadi kau berada di pedukuhan Ki Ca Hya?”
“Benar, ayahanda”. Air mata Ki Putih Kelabu seketika itu juga bercucuran.
“O, nak. Aku bersyukur kau sampai pada beliau, Semua harimau menyegani Harimau Tua itu. Berapa lama kau akan meguru di sana , nak?” Lalu lenyaplah wisik itu, Pita Loka tak diperkenankan menceritakannya. Dan kegembiraan yang meluap-luap itu membuat Ki Putih Kelabu mengenakan pakaian kupluk sebo nya, lalu melangkah tegar menuju rumah Guru Gumara. Hanya Alif yang ada di rumah.
“Di mana Guru Gumara?” tanya Ki Putih Kelabu.
“Beliau hanya meninggalkan selembar surat ini untuk Guru Kepala SMP dan SMA yang mesti saya sampaikan besok pagi, tuan Guru”.
“Tidakkah kamu mendengar pesannya bahwa dia ke Pedukuhan tertentu?”
“Ya, ya, Ke pedukuhan. Guru Gumara cuma bilang akan meminjam kuda Ki Lading Ganda yang nganggur sejak guru itu gila. Lalu dibilangnya, akan pergi jauh. Ya, ya, disebutnya ke Pedukuhan”.
Ki Putih Kelabu terharu: “O, begitu besarnya cintanya kepada putriku, Tidak aku sangka ada lelaki yang cintanya sebesar cinta Guru Gumara”. Lagi-lagi, Ki Guru yang tua itu harus mencucurkan airmatanya. Dia memegang bahu Alif seraya berkata : “Alif. Jika dua orang awam, pria dan wanita, yang saling mencintai, mungkin tidak banyak ujian dan cobaannya, maka ujiannya akan berlipat ganda. lblis-iblis membenci mereka. Halangannya adalah raja-raja iblis
yang mewariskan ilmunya kepada pendekar-pendekar ilmu hitam!”
“Saya tak mengerti, tuan Guru”, ujar Alif. “Ya, tak apalah. Karena kau orang awam”, ujar Ki Putih Kelabu, lalu pamitan. Beliau mendatangi rumah Ki Lading Ganda. Didapatinya Ki Lading Ganda dalam keadaan mirip orang tolol. “Sayang, setelah aku ketahui dari Ki Jengger, temyata dia bukan seorang pewaris harimau yang tujuh, Nyi Lading Ganda. Tiap orang yang tidak berhak pada sesuatu secara syah, menanggung
beban. Tapi inilah suratan nasibnya. Memang berat”.
Dibelainya kepala orang yang mengira dirinya Harimau Kumayan itu, yang temyata Cuma tertipu oleh Kitab Tujuh yang palsu. Kependekaran yang didapatkannya selama ini ternyata disodorkan oleh iblis yang sengaja menggoda dirinya sehingga merasa salah seorang Harimau Kumayan.
“Jika anakku kembali, semoga dia sudi menyembuhkan Lading Ganda. Tapi kemampuan menyembuhkan itu berdasarkan ilham. Jika ilham tidak bersetuju, dia takkan mengobati, Tapi jika setuju, tentu dia mau. Contohnya Harwati. Bahkan Ki Jengger sendiri yang memintanya, ia menolak menyembuhkan kegilaan Harwatil”, ujar pendekar tua itu. Nyi Lading Ganda terisak-isak : “Kapankah putri tuan guru itu kembali? Kami pun selalu berharap la cepat kembali”.
“Langkah, jodoh, rejeki dan maut, bukan manusia yang bisa menentukannya. Hanya Tuhan Maha Pemilik Nasib yang menentukannya. Kita sekedar berusaha”.
“Tapi masih untung nasib suamiku ketimbang nasib Harwati. Kasihan anak Ki Karat itu, harus mengembara dengan segala cobaan”, kata Nyi Ganda.
“Bahkan kini pun dia masih menghadapi bahaya. Tapi itu semua perjalanan nasib seorang calon pendekar ulung. Karena ia turunan Ki Lebai Karat tidaklah mungkin ia akan menderita terus. Penderitaan seorang pendekar dengan landasan ilmu putih adalah mengusir iblis yang hinggap dalam tubuhnya. Kurasa kini Harwati mengalami perjuangan lebih berat!” Dugaan Ki Putih Kelabu itu betul. Harwati kini jadi tontonan. PENDUDUK desa Serunai rupanya sedang dibantai.Mayat-mayat bergelimpangan. Harwati
kelabakan. Dan, yang lebih kelabakan lagi adalah Dasa Laksana. Karena itulah Nyi Kembar semakin merajalela. Dia berputar dengan kudanya, dan dia sabet punggung pendekar muda itu hingga tersungkur tak bergerak lagi. Melihat Dasa Laksana tersungkur, Harwati mengamuk. Bagaikan terbang ketika satu jurus angin ribut melontarkan tubuhnya menghajar punggung Nyi
Kembar. Dua kaki Harwati menjepit pinggang Nyi Kembar, Kuda meringkik seketika! Dua kaki Harwati tetap menjepit, dan gebrakan telapak tangannya melakukan jurus bacokan ke leher Nyi Kembar yang merasa semakin lemah, urat darahnya di leher seperti membeku, lalu dia jatuh ke tanah dalam keadaan tertelungkup, terhimpit oleh Harwati … dan kuda yang ditunggangi itu meringkik dengan dua kaki ke atas. Kuda itu bagai menjerit melihat keadaan Nyi Kembar.
Harwati melihat lagi seorang penduduk Serunai, ibu tua renta, dibantai kepalanya dengan kayu bulat, senjata khas pasukan Nyi Kembar. Harwati jadi geram dan buas melihat keganasan itu. Dia berputar bagai gasing terbang menyergap si pembantai. Lima jarinya menembus dada anak buah Nyi Kembar dan ketika pengganas itu jatuh ke tanah, lima pancuran darah muncrat dari dada orang itu. Anak buah Nyi Kembar semuanya larl. Tinggal seekor kuda saja yang meringkik memutari Nyi
Kembar yang masih tertelungkup. Harwati melihat sekeliling. Pasukan pengacau sudah berlalu semuanya. Tapi mayat-mayat bergelimpangan dalam posisi mengerikan. Seakan-akan seluruh bumi Serunai tertimbun mayat.
Ketika Harwati lengah dalam batin terharu, ketika itu pulalah Nyi Kembar bangkit, lalu cepat berdiri dan cepat pula menyambar tubuh Dasa Laksana lalu membawanya naik ke punggung kuda. Melihat Dasa Laksana kena culik, Harwati jadi kaget. Dia terkesima sesaat karena menyangka Nyi Kembar tadi sudah mampus. Terkesima inilah yang membuat dia terlambat melompat untuk menerjunkan diri dari udara menghajar kepala Nyi Kembar yang dilarikan kudanya dan menggendong Dasa Laksana itu. Namun tetap meleset beberapa jari saja, sehingga terjangan Harwati tak mengenai. Malah tubuhnya menabrak pohon Serunai dan robohlah pohon
Serunai itu terbongkar dari tanah bersama akar-akamya yang tercerabut.
Nafas Harwati Jadi sesak. Tetapi waktu untuk mengejar sudah tidak ada lagi. la sedih melihat
keadaan desa Serunai yang punah oleh serbuan kejam Nyi Kembar yang sepertinya membalas dendam.
Waktu Harwati bersedih melihat duka-cita abadi begini, dia sepertinya tidak dalam keadaan edan. Dia menangis terisak-isak. Lalu dia mendengar suara seorang tua, rupanya satu-satunya lelaki yang masih hidup.
Harwati cepat mendekati tubuh tua yang menggelepar dalam keadaan sekarat itu. “Pak Bisu!” seru Harwati. Dia mencoba mengangkat lelaki tua itu, Lelaki tua yang selama ini dikenal bisu itu berkata ; “Tak perlu ditolong lagi, nak. Aku menepati janji turunan penduduk Serunai, Aku bukan bisu selama ini, nak. Aku hanya membisu. Aku mencoba memendam sejarah
masa silam desa ini. Aku melarikan diri dari pedukuhan Kembar di bukit sebelah sana itu, karena
ingkar pada ilmu dari dua lelaki kembar yang melamar dua adik kembarku. Sepuluh tahun
lamanya aku mencoba menghancurkan ilmu busuk itu. Sampai dua lelaki kembar itu tewas lalu
aku melarikan diri ke sini. Aku menyamar di sini sebagai orang bisu yang dikasihani. Tapi
rupanya, setetah matinya Ki Kembar, maka dua adik kembarku masih melanjutkan warisan ilmu
iblis itu … dan inilah akhirnya. Aku mati. Cuma sebelum aku mati aku ingin berpesan karena aku
salah seorang yang pernah membaca Rahasia Kitab Tujuh. Yaitu bahwa kau sebagai turunan Ki
Karat akan mewarisi kerja keras untuk memusnahkan semua ilmu hitam dan kotor di kawasan
Tujuh Bukit. Dan tentang lelaki yang diculik tadi, adalah tugasmu untuk menyelamatkan dia,
sebab dia pewaris ilmu Ki Putih Kelabu. Sekarang, babakan baru akan kau mulai lagi. lkuti terus
sampai ke mana pun salah seorang dari adik kembarku yang masih hidup. Namanya yang indah.
Sari Mawar, serukanlah … agar dia insyaf, nak. Kini aku hanya bisa menyatakan bahwa …”, lalu
tercerabutlah nyawa lelaki tua yang selama ini- disangka bisu.
Harwati menghela nafas. Inilah akhir sejarah desa Serunai setelah sebelumnya sudah
menyerahkan 100 nyawa penduduknya di Lembah Kulon. Sepi dan hening.
Harwati masih berdiri terpaku bagai patung. Dia mencucurkan airmata. Namun kemudian
dadanya sesak. Dan dia lantas berubah seperti orang edan kembali. Dia berputar-putar ibarat
bangau putih yang mengitari sarang, Tiap benda dan pohon yang terkena putarannya tumbang.
DAN KETIKA dia dalam putarannya yang penuh keedanan itu, yang menumbangkan rumah-
rumah yang tak ada gunanya lagi itu …. Harwati berteriak senyaring-nyaringnya. Teriakan itu
terdengar oleh Pita Loka yang sedang menyusuri sisi desa Serunai. Makin bergegas dia
melangkah. Makin jelas teriak edan itu. Sampai di gerbang dilihatnya sosok yang menggila itu.
Sungguh mengerikan ketika pesilat itu merubuhkan sebuah rumah dengan tenaga yang sangat
luar biasa.
“Apa yang sedang diperbuatnya?” tanya Pita Loka heran.
Dia sedang menjalani masa edan dari suatu gemblengan ilmu persilatan yang tinggi”,
kedengaran wisik. Pita Loka tidak lagi melakukan komunikasi dengan Ki Ca Hya, gurunya.
Tapi dia harus mendengar wisik hatinya sendiri, berupa suara. Suara yang konkrit. Ini justru lebih
sulit. Sebab tidak setiap wisik bisa dipercaya. Jika batin kotor, wisik itu bukan berarti suaranya
sendiri. Melainkan suara raja iblis. Dan bila salah tangkap telinganya yang mendengar itu bisa
mendapat petunjuk yang sesat!
“Bukankah dia Harwati?” ucap Pita Loka.
“Memang dia Harwati. Dia menjadi gila dan akan terus gila karena kau tidak sudi mengobatinya”,
terdesak wisik.
Lalu, roboh lagilah sebuah rumah. Rumah terakhir yang dirobohkan oleh tenaga edan Harwati.
Debu mengepul ke udara, disertai teriak Harwati.
Desa Serunai sudah rata. Dan Harwati secara tiba-tiba melihat sosok-sosok manusia berdiri dekat
gerbang. Harwati menyeringai menghampiri orang yang berdiri itu.Sebelum tiba dia bertanya :
“Siapa kau? Siapa?”
“Aku. Pita Loka”, sahut Pita Loka.
“Siapa Pita Loka?”
“Aku pendekar buta bermata satu”. Harwati melompat cekatan dan kemudian memegang bahu
Pita Loka : “Aku bisa mengobati orang buta!”
“Tapi aku tidak bisa mengobati orang gila”, kata Pita Loka.
“Siapa kamu?” tanya Harwati keheranan.
“Aku sainganmu”.
“Apa itu saingan?”
“Aku musuhmu”, kata Pita Loka. Harwati melompat mundur dan mulai memasang kuda-kuda.
Harwati berteriak dalam jarak 10 depa dan menantang : “Ayoh serang aku!”
Pita Loka mendengar wisik : “Jangan serang dia. Obati dia agar dia berhutang budi kepadamu”.
Wisik itu ditertawakan Pita Loka : “Aku tahu engkau Raja lblis yang menggodaku. Dalam ilmu
persilatan, tidak ada istilah hutang budi. Yang mempunyai istilah itu Cuma iblis, Aku tahu, nenek
moyang desa Serunai ini dulu mengikuti ilmu iblis, berguru pada Burung lblis bermandikan
pancuran iblis dan menyembahnya. Jangan goda aku”.
Harwati secara mendadak melakukan persiapan tempur. Dia mengitari Pita Loka dengan jurus
bangau putib mengitari sarang. Pita Loka tidak merubah tegak. Begitu dia mendengar wisik:
“Kanan!”, seketika dia melakukan tangkisan dari serangan arah kanan, dan dia tangkap kaki
Harwati yang hampir menerjang lehernya. Seketika ditangkap dipelintir dan dihamburkannya
tubuh Harwati dan Harwati dalam keadaan tegak, namun tak bisa bergerak lagi karena dua
telapak kaki Harwati terbenam. Tapi Harwati mengamuk cepat hingga terbongkarlah tanah itu.
Bagaikan bangau dia terbang ke udara. Tapi bagai harimau Pita Loka melompat ke udara dan
bertabrakanlah keduanya di udara dengan pukulan dan tangkisan sampai keduanya jatuh ke
tanah.
Dua pendekar itu sama merasa.telapak kakinya terbenam ke tanah. Dan sama menghambur lagi
sampai tanah yang tadi terinjak meninggalkan bekas dan tanah yang menghambur.
Keduanya kini malah bagaikan dua ekor harimau kumbang yang bertarung di udara. Ketika
tabrakan tubuh mereka terjadi, dua-duanya saling buyar tersebab benturan masing-masing. Dan
sama hinggap di pohonan, lalu menghambur lagi ke udara dan berbenturan lagi dengan dahsyat.
Dua-duanya hingga lagi di dahan, lalu sama menghambur lagi ke udara yang kali ini saling
menyergap dan sama-sama jatuh.
Di tanah keduanya berdiri berhadapan. Dalam jarak dekat dua-duanya melakukan pukulan-
pukulan lamban karena sama menggunakan tenaga dalam. Ketika keduanya menguji telapak
tangan masing-masing, telapak tangan itu saling menempel dan geser menggeser. Pada mulanya
keringat. Kemudian telapak tangan mereka seperti sama hangus. Sedikit demi sedikit asap keluar
dari telapak-telapak tangan yang bergesekan itu. Mata Harwati tampak melotot. Mata Pita Loka
juga melotot. Telapak tangan mereka melepuh. Sama melepuh! Sebagian kulit yang hangus
bahkan lepas dan berjatuhan. Tapi dua-duanya sama tangguh.Tapi tak seorangpun di antara dua
pendekar ini yang mau menyerah.
BIARPUN dua-duanya sama-sama bertahan dengan menahan pernafasan, namun tenaga mereka
belum tenaga seorang suhu. Tenaga itu habis. Dan dua-duanya jatuh ditanam dalam keadaan
tak sadarkan diri. Dan sampai malam menjadi gulita, Harwati dan Pita Loka masih sama-sama menggeletak,
Namun Pita Loka yang lebih dahulu sadarkan diri. Dia kaget karena di tubuhnya ada dua buah
pedang. Pedang itu tidak dikenalnya sebelumnya. Sebetulnya, pedang itu adalah pedang kembar
Surandar. Pita Loka tegak. Akan dipungutnya pedang itu karena mengira itu pedang hadiah secara ghaib.
Tapi didengarnya wisik : “Jangan ambil. Itu senjata milik Harwati”.
Pita Loka mundur. Mundur. Kemudian berlalu. Belum sempat sampai ke gerbang desa, Pita Loka
mendengar seruan : “Hai, jangan lari!” Pita Loka membalik. Dilihatnya Harwati sudah sadarkan diri. Malahan sudah tegak dengan gagah memegang dua pedang di tangannya.
“Jangan lari sebelum aku pisahkan kepalamu dengan badanmu, ayoh!” teriak Harwati.
“Musuh pantang dicari, tapi kalau menantang jangan dielakkan”, ujar wisik di telinganya.
Namun Pita Loka hanya tegak dengan tegap, menanti,menanti, sembari mengatur
pernafasannya. Dan ini membuat pendekar edan itu semakin keedanan. Dia hanya meloncat-
loncat mengelilingi Pita Loka dengan permainan pedangnya. Namun Pita Loka siap siaga.
Sementara itu, Nyi Kembar sedang meniup kepala Dasa Laksana. Tiupan sihir itu berhasil. Nyi
Kembar berseru:
“Ayoh berangkat ke Serunai untuk menyergap dua pendekar Kumayan. Tapi kamu harus memulai
dulu menghancurkan mereka, Dasa Laksana! Kami di belakangmu!”
“Baik, Nyi Kembar! Saya akan hancurkan mereka”, kata Dasa Laksana.
“Ayoh sekarang! Kita harus di sana sebelum fajar. Mata-matamu sudah meyakinkanku, bahwa
dua pendekar itu sedang siap bertempur…. kita masuk dalam keadaan mereka sedang
bertempur, karena kita akan memancing di air keruh dan musti merebut selendang Pita Loka dan
pedang Harwati …. Dan, ingat, Dasa Laksana, kamu harus mengutamakan kehancuran Harwati,
sebab pedang Surandar itu lebih kuinginkan daripada selendang hijau Pita Loka!”
“Siap, tuan Gurul” dan Dasa Laksana meloncat ke punggung kudanya. Dan ketika fajar menyingsing, Harwati masih saja mengitari Pita Loka dengan jurus bangau putih mengkitari sarang. Pita Loka waspada terus, menunggu kemungkinan serangan curian. Mata dua pedang Surandar berkilat-kilat yang dikibas-kibaskan Harwati dalam mengitari Pita Loka itu. Dan, seperti sudah ditebaknya, Pita Loka berkelit ketika Harwati menghambur untuk menebas lehernya, Mata pedang itu terpeleset ketika mengenai bahu kanan Pita Loka, dan Harwati terhambur ke udara oleh tendangan balasan. Harwati merubah jurusnya menjadi jurus bangau kawin agar dia dapat menebas dada lawannya, tetapi Pita Loka menangkisnya dengan menyergap pergelangan Harwati, lalu membantingnya seketika. Harwati membal ke udara karena dua pedang itu
menghantam tanah. Ketika ini pulalah Harwati seperti sadar beberapa saat! Dia ingat, kelebihan
pedang Surandar adalah bila dia dihentakkan ke bumi lalu membuat pemegangnya membal.
Begitulah ketika Pita Loka sudah ketemu cara penyergapan, dia meloncat dengan kaki keatas lalu
menyergap Harwati yang cepat menghantam mata pedang ke bumi. Sehingga dalam keadaan
tubuhnya dicengkeram Pita Loka, maka Pita Loka ikut terseret ke udara. Keduanya jatuh di bumi, dan menjelang jatuh pedang sudah dihantamkan ke bumi, sehingga dalam keadaan terkena sergap cengkeraman itu Pita Loka ikut bersama tubuh Harwati terbang ke udara. Matahari mulai menerangi bumi.
Harwati berhasil lepas dari cengkeraman Pita Loka, Ketika dia mengayunkan pedang Surandar
kanan dan kiri…ketika itulah terdengar derap telapak kaki kuda yang banyak sekali.
“Kita kena serbu!” seru Pita Loka.
Musuh pun sudah mengepung dari segala penjuru. Tetapi Harwati masih melakukan serangan
pada Pita Loka yang cuma menangkis dan menangkis karena dilihatnya seorang pendekar muda
melompat dari kuda dan memegang senjata kayu -bulat – toya yang dengan serta merta
menyerang Harwati. Harwati berteriak: “Hai Dasa Laksana kamu ya!” tetapi toya itu diayunkan ke
arah kepala Harwati, namunsudah dijepit oleh ketiak Pita Loka menjelang kepala Harwati remuk.
Dasa Laksana ikut bersama Pita Loka yang mengepit toya itu dan dengan jungkiran salto maka
terlepaskan kayu bulat itu dari tangan Dasa Laksana yang terlempar jumpalitan.
Pita Loka hampir membuang toya yang dianggapnya senjata murahan itu, tapi kemudian
didengarnya wisik: “Jangan. Awas kiri!”.
Dia memutar tubuh ke kiri dan melakukan tangkisan ketika mendadak Nyi Kembar
menghantamkan kayu bulat ke kepala Pita Loka dan gagal…

DASA Laksana kebingungan karena tiba-tiba sadar bahwa dia sudah terkena sihir Nyi Kembar.
Ketika dia melihat Nyi Kembar menyerang Harwati dengan ilmu setan kawin, maka dihantamnya
kepala Nyi Kembar sebelum beberapa kali tendangannya sulit ditangkis oleh pedang Harwati.
Ilmu kebal Nyi Kembar cukup ampuh. Sehingga pedang Surandar terlepas dari tangan Harwati,
jatuh ke tanah, membal lagi ke udara, dan Nyi Kembar ingin melompat untuk mengambil pedang
itu. Ketika itulah toya ditangan Dasa Laksana menyabet tulang kering kaki Nyi Kembar, dan Nyi
Kembar Jatuh jumpalitan. Ketika itu Pita Loka hanya berdiri tegak. la cuma menonton
pertempuran seru dua lawan satu. Nyi Kembar memang cukup kebal menghadapi pedang
Surandar yang dihantamkan berkali-kali oleh Harwati. Harwati lega karena pedang yang sebuah
lagi sudah ditangan Dasa Laksana. Betapapun kebalnya Nyi Kembar menahankan mata pedang dari sabetan Harwati dan Dasa Laksana, dia akhirnya kualahan juga. Dia lari secepat kilat menuju kudanya lalu melompat ke punggung kuda. Harwati mengejarnya dengan berlompatan dari dahan ke dahan pohonan terus menyusul Nyi Kembar dengan pasukannya ke arah tenggara. Dasa Laksana berhasil membacok anak buah Nyi
Kembar. Dan kudanya dia rebut dan dengan tenaga mudanya dia pacu kudanya menyusul Harwati. Tampak jelas Harwati melompat dari pohon ke pohon. Dan ketika kuda yang ditungganginya sudah sejajar dengan Harwati; Dasa Laksana berseru: “Melompat ke sini, Ki Harwati!” Harwati melompat dari pucuk pohon pucung, melayang dan kemudian pantatnya sudah menemplok dibelakang tubuh Dasa Laksana. Dasa memacu kudanya lebih cekatan, turun naik bukit.
Setiba di kaki Bukit Kembar, Harwati berkata: “Kita berhenti disini supaya dia mengira kita tidak
mengejamya lagi”. Dasa Laksana turun dari kuda. Harwati masih di punggung kuda. Dengan suara manja dia
berkata: “Gendonglah aku supaya aku bisa turun”.
“Kau bisa molompat sendiri kebawah”, ujar Dasa Laksana.
“Aku ingin supaya kau menggendong saya”, kata Harwati.
Perasaan pendekar muda itu mendadak tahu apa yang dikehendaki Harwati. Tapi karena merasa
berhutang budi bisa lepas dari sihir pendekar Nyi Kembar, dia menuruti keinginan Harwati. Ketika
itu ia cuma merasa terpaksa menggendong Harwati, lantas berkata: “Sebenarnya ilmuku pantang
menyentuh wanita”.
“memang itu pantangan jika wanitanya tidak suka. Beda dengan Jika kau gendong wanita yang
menolakmu”.
Harwati menggeletak diatas rumput. Matahari akan tenggelam ketika itu. Sinarnya yang
kekuningan, membuat dua paha Harwati tampak bagai tembaga yang menggiurkan.
“Aku letih. Tulang-tulangku merasa ngilu. Maukah kau menguruti saya! Cuma memijat-mijat
saja!”
“Itu pantang dalam ilmuku. Heran sekali memang, orang semua menganggap kamu pendekar
edan. Tapi berhadapan dengan saya kamu sepertinya wajar dan sehat”.
“Aku gila tanpa pria. Tapi aku segar dan sehat karena bersama kau”, kata Harwati.
Ketika itu pikiran Dasa Laksana kacau. Dan sesungguhnya dia tergoda ketika paha itu dilihatnya
sampai dua kali.
Cepat Dasa Laksana membuang muka. Lalu berkata:
“Aku jangan sampai kau goda hingga melanggar pantangan yang diwejang oleh Guruku”.
“Hei, itu sungai!” seru Harwati lagi.
“Kalau sungai, kenapa?”
“Aku ingin mandi!” kata Harwati.
“Mandilah sendiri kesana!”
“Tidak, aku ingin mandi bersamamu Dasa Laksana!”
“Itu lebih pantangan lagi! Seluruh pelajaranku akan kembali pada Guru jika aku melakukan
pelanggaran”, kata Dasa Laksana.
“Baik, aku akan mandi sendiri”, ujar Harwati.
Dasa Laksana langsung menghempaskan tubuhnya di rumputan. Terdengar suara tubuh Harwati
yang mencebur masuk ke sungai. Dasa Laksana belum habis heran. Mengapa dia yang sudah dikenal edan sepertinya berubah jadi manusia wajar? Diambilnya dua pedang Surandar. Dia mencoba meneliti huruf gundul yang tertera di pedang itu. Tapi ia tak dapat membacanya. Lalu terdengarlah suara: “Tolooong!”
Dasa Laksana berdiri, dan melihat Harwati sedang menggapai-gapai di sungai.
“Tolong…!”
“Apa!”
“Ambilkan pakaianku!” seru Harwati.
DASA LAKSANA hampir saja tergoda. Jika saja dia sempat melihat Harwati dalam keadaan
telanjang bulat, ia akan merana. Kesaktian kependekarannya yang sudah dia dapat dari Ki Putih
Kelabu akan copot dengan serta merta. Dia akan jadi orang awam menghadapi belantara yang
mengerikan ini. Lalu dia anggap saja teriakan Harwati tidak ada. Dia langsung melompat ke kuda
dan memacu kudanya kembali ke arah desa Serunai. Dia ingin berjasa pada gurunya dengan
jalan membujuk Pita Loka agar kembali ke Kumayan. Dia butuh agar disayang oleh Ki Putih
Kelabu jika berhasil membujuk Pita Loka!
Tapi Harwati yang melihat Dasa Laksana mendadak meninggalkannya, seketika itu juga bagai
orang edan memaki-maki dengan ucapan-ucapan kutukan yang kotor. Dengan bertelanjang bulat
dia melompat dari dalam sungai, lalu berpakaian dsngan menggerutu!
Dipegangnya pedang Surandar dengan dua tangannya! Dia mengamuk dengan membabi buta sehingga pedang yang saling beradu itu bagai kilat dan petir ketika malam mulai tiba. Dengan penuh kegilaan Harwati melompat ke atas pohon, lalu melompat lagi dan melompat lagi.
Barulah ketika matahari terbit, lompatan edan itu akhirnya sampai bertepatan ketika Dasa
Laksana selesai menguburkan mayat penduduk Serunai dengan penguburan satu lobang. Harwati
muncul diam-diam. Dua pedang di tangannya. Dia melihat Dasa Laksana bicara dengan Pita Loka
yang baru membuang pacul. .
“Katakan pada ayahku, bahwa pengembaraan ilmuku masih jauh”, ucap Pita Loka.
“Aku berharap, jika aku sudah naik ke punggung kuda, hendaknya kau ikut bersamaku ke
Kumayan”, ujar Dasa Laksana.
Tiba-tiba Pita Loka dan Dasa Laksana mendengar bunyi pedang beradu. Keduanya sama
serentak menoleh kearah suara itu. Tampaklah Harwati dengan gerak edan berteriak dahsyat:
“Bajingaaaaaaaaaaan!”
Dalam sekejap mata mata pedang itu berkelebatan hampir menebas leher Dasa Laksana jika
tidak segera dipintasi oleh Pita Loka yang menghadang pedang itu dengan gerak jurus diam.
Jurus diam itu adalah yang tersulit dari semua ilmu persilatan jasad wadag. Seluruh pernfasan
dengan hidung itulah yang membuat pedang Surandar itu membal kembali sebelum menyentuh
bagian tubuh Pita Loka. Harwati semakin edan dan dengan membabi buta serta penasaran
pedang Surandar itu berkali-kali disabetkannya ke tubuh lawannya. Terakhir, Pita Loka
mendengar wisik: “Hantam bahunya dengan sisi tetapak tangan kirimu!”
Sisi telapak tangan kiri Pita Loka mendarat cermat pada bahu Harwati. Pedang ditangan kanan
Harwati lepas. Harwati ambrol tersungkur dan tidak sadarkan diri.
Pita Loka masih tegak. Dia butuh wisik lagi. Lalu didengarlah wisik itu: “Berjalanlah ke timur.
Sekarang juga”.
Pita Loka tanpa mengucap sepatah kata meninggalkan Dasa Laksana yang terpelongo
menyaksikan dahsyatnya perang tanding yang barusan terjadi. la masih terpelongo menyaksikan
perginya Pita Loka. Lalu Dasa Laksana melangkah mendekati tubuh Harwati yang masih
menggeletak. Lalu perasaan kasihannya bangkit, Dia menyaksikan seorang pendekar yang
menderita penyakit edan ini haruslah melewati kesengsaraan.
Dasa Laksana mulai bimbang. Dia tidak tahu apa kewajiban yang mesti dilakukan selanjutnya.
Jika Harwati sadarkan diri nanti, ada dua kemungkinan akan terjadi. Kedua-duanya merugikan
bagi dirinya.
Pertama, jika Harwati sadar lalu masih marah dengan gila seperti tadi, bisa saja kepala terpisah
dari tubuh karena ditebas pendekar edan itu.
Kedua, jika dia sadarkan diri lalu kembali menggoda dengan rayuan birahi, mungkin saja godaan
itu mempan. Lalu seluruh ilmu pewarisan Ki Putih Kelabu akan menjadi abu. Musnah! Cuma, mengapa Harwati begitu marah? Apa karena ditinggalkan? Atau karena salah duga lalu cemburu? Dasa Laksana masih dibekali perasaan halus manusiawi, rasanya tak layak meninggalkan Harwati yang masih hidup. Sedang mayit penduduk Serunai saja pun dikuburkan! Tapi kebimbangan adalah bagian dari bakat kependekaran. Kebimbangan dalam melakukan tindakan yang belum terwujud, menjadi pendekar berjiwa besar. Itulah pesan Ki Putih Kelabu. Maka dia putuskan pergi dari situ, Entah kemana, terserahlah. Yang terang dia melompat ke punggung kuda. Tapi menjelang kuda itu dipacunya, kedengaran suara berhiba-hiba: “Tolong
aku…tolong aku!” Dasa Laksana hampir saja memacu kudanya kalau tidak segera dia mendengar jeritan
memilukan: “Kasihani aku….!” Dasa Laksana loncat turun dari kudanya. Dia hampiri Harwati. Harwati dalam keadaan lemah dan berkata: “Beri aku makan dan minum. Aku lapar dan haus.”
SIFAT mudah kasihannya Dasa Laksana menonjol sekali, Segala perbuatan manusia, kebaikan dan keburukannya memang tergantung dari niatnya. Dan niat Dasa Laksana bukanlah untuk mencari kenikmatan sewaktu dia menyuapi Harwati yang makan dengan lahap. Nasi dan makanan itu hampir basi, diperdapat dari puing-puing rumah yang roboh di Serunai itu. Harwati makan dan minum dengan lahap. Untunglah masih ada sisa tuak yang belum hancur tabung bambunya. Tuak adalah minuman pokok desa ini.
“Aku kedinginan”, ujar Harwati.
“Ya, aku tahu. Desa ini memang desa yang tinggi, bukan? Jadi udara disini dingin. Kau pendekar.
Harus mampu menahan dingin bukan?”
“Kamu baik sekali, Dasa Laksana”, ujar Harwati.
“Aku berbuat baik bukan sembarangan. Aku tahu kepada siapa aku musti berbuat baik. Aku tahu
turunan siapa kau”, kata Dasa Laksana.
“Aku putri pendekar Lebai Karat”, kata Harwati.
“Aku sudah tahu. Dan kelihatannya kau sehat-sehat saja”, (Padahal maksud ucapan itu adalah:
Kamu kelihatannya tidak gila.
“Aku lapar lagi”, ujar Harwati.
“Baiklah, Kau tunggu disini”.
“Nanti dulu!” ujar Harwati mencegah sebelum Dasa Laksana berlari.
“Ada apa?”
Duduklah dulu. Aku mau tanya sesuatu. Rasa-rasanya, kau meninggalkan saya ketika saya mandi
disungai. Ternyata kau sengaja menemui Pita Loka. Untuk apa kau menemuinya?”
“Aku menemui Pita Loka karena dua niat. Pertama ingin melihat keadaannya lalu membujuknya
pulang ke Kumayan. Sebab aku ini murid ayahnya. Jika aku membawanya ke Kumayan, tentu
sang Guru akan senang atas jasa baikku. Kau tahu, setiap murid ingin menanamkan jasa baik
pada Guru. Baru dia tidak dilupakan Guru. Bukan begitu?”
“Yang kedua?” tanya Harwati.
“Teringat olehku mayat bergelimpangan. Belum dikubur, Lalu aku mengajak Pita Loka untuk
menguburkan mayat itu dalam satu lobang, dan waktu itulah engkau datang, bukan?”
“Ya. Aku datang dengan amat kesal”, kata Harwati.
“Kau tentu curiga juga”, kata Dasa Laksana.
“Aku bukan saja curiga. Tapi aku benci! Benci!”
Dasa Laksana dilirik oleh Harwati, lalu tampaklah matanya berbinar-binar menyinarkan kebirahian
seseorang yang butuh kasih. “Sebentar aku akan mencari makanan untukmu.”, kata Dasa Laksana.
“Tapi sekarang ini aku tidak lapar lagi”, kata Harwati.
“Ha? Koq bisa gitu?”
“Aku sekarang kenyang. Aku jadi kenyang karena kamu temani aku berbicara, Maukah kau
menemani saya bicara sampai malam?”
“Tentu”.
“Aku ingin membicarakan tentang diriku yang malang ”.
“Silahkan”.
“Maka jawablah pribahasaku ini. Dalam ilmu silat pribahasa adalah bagian dari jurus hati.
Pernahkan kau dapat wejangan ini dari Gurumu?”
“Ya. Dalam persilatan, salah bicara, nyawa melayang”.
“Nah, kalau begitu kau pernah tahu apa itu kembang”, kata Harwati.
“Kembang itu bunga”, kata Dasa Laksana.
“Bunga itu wangi”.
“Tentu. Putik bunga itu wangi”, kata Dasa Laksana,
“Lalu pernah pula kamu mengetahui kumbang?”
“Tentu. Kumbang itu nama binatang”.
“Jika aku kembang, tentu kau kumbang”, kata Harwati.
Mendengar itu bulu roma Dasa Laksana merinding. Tapidia lebih merinding sewaktu melihat
mata Harwati yang menyorotkan binar birahinya yang kelihatannya bagai kilat di malam gelap.
“Sebaiknya aku pergi mencari makanan”, kata Dasa Laksana.
“Kalau begitu aku tahu isi hatimu”, kata Harwati.
“Janganlah kita bicara hal Itu”, kata Dasa Laksana.
“Kau mengelak. Tanda ada gadis yang kau cintai!” tuding Harwati.
“Aku hanya memegang amanat”, kata Dasa Laksana.
“Siapa yang memberimu amanat?”
“Guruku. Amanat itu berat”, kata Dasa Laksana.
“Sekarang aku tahu. Bukankah Gurumu adalah Ki Putih Kelabu?”, dan Harwati langsung berubah
jadi buas, berdiri tegap memegang dua pedang Surandar ditangannya.
“Akan kutebas siapa yang menghalangikul”, lalu pedang itu diadunya sehingga terdengar bunyi
gemerincing yang dahsyat. Bahkan kilatan api.
DASA LAKSANA ketakutan! Tetapi dia tidak boleh menyerah, menipu, ataupun munafik oleh
gertakan itu.
Seorang pendekar pantang bertekuk lutut dengan gertakan. Dan sekiranya dia mau memilih jalan
yang gampang, dia tentu bisa. Main gombal saja! Tetapi pantangan seorang pendekar justru
bermain gombal. Karena itu ketika dua mata pedang bergemerincing mengancam lehernya, dia
tetap Harwati dengan mata beringas.
“Kamu mempunyai ilmu. Saya pun mempunyai ilmu!” kata Dasa Laksana.
“Ayo keluarkan ilmumu”, ujar Harwati.
“Saya tidak akan menyerangmu!”
“Ayoh serang! Mana ilmumu!”
“Ilmu kami dimulai dengan perkataan. Aku hanya akan memperingatkanmu! Tapi ingat, jika kau
mulai menyerangku, ilmuku adalah tindakan. Kau bertindak, akupun akan bertindak”.
Sesungguhnva mereka bukan berdua. Ada seorang saksi yang baru turun dari punggung kuda
melihat pertengkaran itu. Tiba-tiba sang saksi ini menyaksikan gemerincing pedang itu. Dan
Harwati yang semula tegak lalu berubah bagai putaran roda pedati! Tubuhnya yang berputar
bagai roda pedati itu bagai menggelinding menuju sasarannya, Dasa Laksana sudah mengatur
nafas dengan dua tangan terjulur kedepan dengan telapak tangannya yang meratap. Gelindingan
itu disambut oleh dua telapak tangan Dasa Laksana, sehingga memballah sang penggelindingi
Dasa Laksana sendiri tercengang dengan keampuhannya mencobakan tangkisan tenaga
dalamnya. Lalu dia berkelebat memutar arah, sehingga dia berada disamping ketika Harwati
sekali lagi menyerang dengan tubuhnya yang menggelinding. Dari samping itulah Dasa Laksana
mengeluarkan jurus harimau mengibaskan ekor. Harwati berhasil menjebak jurus itu sehingga
kaki Dasa Laksana dengan tendangan kibasan ekor berhasil terkena jepitan kedua kaki Harwati.
Sebelum Dasa jatuh terjungkal kebelakang, pedang di tangan kanan Harwati menebas kearah
leher, tetapi untung Dasa segera menundukkan kepala. Saksi yang menonton tegang, cepat
membuang nafas karena dia kira leher Dasa Laksana akan terpenggal. Dia sebagai penonton
sudah tak sabaran lagi untuk ikut terlibat.
Tetapi kini dilihatnya Dasa Laksana sudah merebut pedang Surandar di tangan kiri Harwati.
Tanpa ragu pedang Surandar itu berbalik mau menghantam ke kepala Harwati. Tapi ajaib!
Pedang itu rupanya tak sudi menyakiti pemiliknya. Begitu mata pedang itu menghantam jidat
Harwati, terdengariah bunyi nyaring disertai api berkilat. Malah terlepas dari tangan Dasa
Laksana.
Keadaan Dasa Laksana berubah dalam situasi terancam. Dia mundur, dan mundurnya itu
membuat Harwati cepat membabatnya, apalagi pedang tadi sudah kembali ke tangannya. Dua
babatan kiri kanan yang ditangkis oleh Dasa Laksana dengan lompatan-lompatan keatas itu
adalah membahayakan. Sang saksi yang nonton dibalik kudanya itu semakin tegang. Tiap Harwati membabat dilayani Dasa Laksana dengan melompat, hingga tebasan itu cuma mengenai angin di bawah telapak
kaki. Tapi si penyaksi dibalik kuda itu kuatir, apabila Dasa Laksana terus melakukan hati itu, daya
lompatnya akan berkurang, dan pedang itu bisa membuntungkan kakinya. Maka dengan kekuatiran yang amat besar, sang penonton, dengan tak bisa sabar lagi menyaksikan bahaya itu, lalu berseru: “Rubah dengan jurus harimau terkepung! Jurus harimau terkepung!” Seruan ini didengar oleh Dasa Laksana. Semangatnya bergelora. Harwati juga mendengar. Beringasnya tambah buas. Dia sabetkan pedangnya untuk menebas kaki Dasa Laksana sebelum Dasa merubah jurus.dan ketika itu dengan tidak diduganya dia merasakan pedih pinggangnya diserang lawan lain dari belakang. Seperti kena kibasan ekor harimau.
Harwati sempat berkelit menjungkir terkena sabetan lawan lainnya. Begitu dia bangkit berdiri
untuk melayani dua lawan, dia merubah permainan. Dia cuma berdiri tegak tetapi
mempermainkan jurus permainan pedang sebagai dinding berputar. Jurus ini berat bagi lawan,
karena sifatnya tidak menyerang melainkan menjebak.
“Kau minggir Dasa!”
“Baik, Guru!” sahut Dasa Laksana minggir menuju kuda. Ya memang betul, penonton tadi
memanglah Guru, Ki Putih Kelabu, yang tak akan tega melihat muridnya terancam mati konyol.
Kini dengan melibatkan diri, pada sebenarnya dia bukan mau menghancurkan Harwati. Dia justru
ingin menyumbangkan Ilmu kepada putri almarhum sahabatnya ini!
Dengan suara mengaum dia menerjang dinding pedang berputar itu, tetapi harimau itu justru
terjungkal ke belakang. Dia mengaum dan menerjang lagi dengan berhasil kali ini karena kedua-
dua pedang itu terlempar ke udara. Harwati cepat melompat ke udara merebut dua pedangnya,
lalu mendarat di tanah dengan hantaman dua mata pedangnya kepunggung harimau. BUKAN punggung harimau itu yang terkena, melainkan tanah yang langsung berhamburan sementara tetakan dua pedang pada tanah itu membuat dua pedang itu membal ke udara bersama Harwati yang memegang dua gagangnya. Di udara Harwati mengadu dua mata pedang itu sehingga arah iatuhnya ke bumi menjauhkan jarak. Maka setiba di tanah, dengan dua kaki terbelesek masuk tanah hingga mata kaki, Harwati berdiri tegak kokoh dan berkata: “Baru aku tahu kamu itu Ki Putih Kelabu!” … ini diucapkan setelah Ki Putih Kelabu menjelma jadi manusia
kembali.
“Betul, nak”.
“Aku bangga melawan tuan”.
“Aku bukan mau menghabisi kamu. Cuma mau mengajarmu”.
“Yang penting aku tahu, bahwa kau begitu getol membayangi pertarungan saya melawan Dasa
Laksana agar dia bisa kau pungut mantu! “
“Jangan bertengkar denganku. Ayahmu dulu tidak pernah bertengkar denganku”. Lalu tampak tanah menghambur ketika dua kaki Harwati mencuat keatas, dan dalam sekebatan dua mata pedang menggedor bahu kiri dan bahu kanan Ki Putih Ketabu. Begitu berkelebat, sehingga Dasa Laksana kuatir gurunya akan tewas, Padahal tidak. Gedoran mata pedang itu Justru membuat Ki Putih Kelabu seketika itu pula menjelma jadi harimau dan mengeluarkan jurus harimau melihat bangkai. Jurus ini berbahaya. Karena apabila sang Guru kurang mengatur perasaan, kepala Harwati bisa kena terkamnya. Maka dia cuma mengembangkan bunga-
bunganya saja sekedar mengelak pedang itu sampai ke sasaran berbahaya, yaitu pada bagian
nyali. Perkelahian itu boleh dikatakan ibarat Kucing mempermainkan Tikus. Ini membuat Harwati
geram karena dirinya cuma dijadikan tikusnya, dan tidak memungkinkan dia mengambil inisiatip.
Dia sadar, Ki Putih Kelabu hanya menginginkan dia jadi lelah. Karena itu Harwati mengadu lagi
mata pedangnya dengan semangat edan.
Tapi dia sudah lelah. Kesempatan terakhir hanyalah dengan cara menetakkan dua mata pedang
ke bumi, agar dia membal ke udara. Dia membal ke udara, lalu mengayunkan dua kakinya ketika
di udara itu, agar dia dapat melayang jauh dan jatuhnya di atas pohon. Harwati hinggap di
pohon. Dari atas pohon itu terdengarlah ketawa edannya yang berderai-derai. Ketawa itulah
yang membuat Ki Putih Kelabu menyingkir mendekati Dasa Laksana. Lalu berkata: “Kasihan dia.
Sungguh aku mengasihani dia melebihi kasihanku pada Pita Loka”.
“Aku tak butuh dikasihani. Hayo jamah tubuhku ke sini!”… rupanya ucapan Ki Putih Kelabu itu
kedengaran sampai ke atas pohon itu.
“Kalau kau tidak ke sini, aku yang ke sana !” teriak Harwati lagi dan kedengaranlah suara
tertawanya yang berderai.
“Anakmu sudah membela Dasa Laksana. Kini kamu pun membela Dasa Laksana sehingga aku
makin tahu bahwa kalian semua itu menjadi penghalang seluruh tujuan hidupku!”
“Aku tak menghalangi tujuan hidupmu„nak. Aku Cuma menghalangi agar muridku tidak mati
konyol oleh pedang saktimu. Kuharap kau turun, supaya kau sudi mendengar wejanganku. Kau
tidak berbapak lagi, aku ingin menggantikan kedudukan ayahmu untuk menasehatimu!”
“Aku edaaaan! Pergiiiiiil” Teriakan itu bukan menimbulkan benci. Tapi menimbulkan belas
kasihan. Sebab setelah berteriak begitu Harwati kedengaran menangis dengan isakan yang
menghibakan hati.
Ki Putih Ketabu menatap pada Dasa Laksana. Katanya: “Kau sudah tabah memegang teguh
amanat guru. Bagaimana jika aku pertanyakan padamu, apakah kau bersimpati kepada dia?”
“Maksud tuan Guru, agar saya mencintai dia?” tanya Dasa Laksana.
“Begitulah. Tapi itu bukan amanat. Itu hanya buah pikiran”.
“Tidak, tuan Guru. Saya akan memilih amanat tuan yang pertama. Yaitu melanjutkan turunan
tuan agar tercipta bibit unggul yang kuat dan baik. Jika saya mencintai dia, turunan saya akan
kurang waras”.
“Tapi Pita Loka juga buta!”
“Bedanya lain, Tuan Guru. Saya mencintai Pita Loka karena saya patuh dari awal. Tapi jika tuan
Guru punya buah pikiran agar saya mencintai Harwati, itu anda temukan di tengah jalan. Padahal
perjalanan batin saya ini sudah agak jauh. Karena tadi itu cuma buah pikiran, bukannya amanat,
saya hanya akan tunduk pada amanat”.
Sang Guru menguji dengan pertanyaan: “Tidak kau dengar isak tangisnya di atas itu?”
“Saya mendengar. Tapi tidak tergoda. Dia edan”, kata Dasa Laksana.
“itu bukan edan yang sesungguhnya. Dia edan karena itu bagian dari perjalanan tuntutan
ilmunya”, kata sang Guru, menguji lagi.
KARENA KEASYIKAN memberi wejangan pada muridnya, Ki Putih Kelabu tercengang melihat
pancaran api kuat bagai bola api menghambur dari pohon ke pohon lain dan pohon lain menuju
tenggara.
“Kasihan. la harus mengembara lagi”, kata Ki Putih Kelabu.
“Mungkin dia ke desa Meranti”, kata Dasa Laksana.
“Bagaimana dengan Pita Loka?” tanya Ki Dasa Laksana.
“Saya kira dia masih akan mengembara lebih lama lagi”.
“Saya mengucapkan selamat atas permainanmu. Tapi ingat, seorang pendekar tak boleh asyik
dengan satu jurus permainan saja. Itu akan menguras tenaga, Setiap lompatan ke udara akan
lebih menguras daya tahanmu ketimbang kau melakukan permainan bawah”.
“Lain kali akan saya ingat pesan Tuan Guru”, ujar Dasa Laksana.
“Kukira ada baiknya kau menemani perjalanan saya. Saya barusan saja menemui Nyi Tunggal
Surya Mulih di padepokannya, Beliau tidak mewarisi ilmu suaminya. Tapi anjurannya sangat baik.
Aku mesti menemukan beberapa harimau asal, pewaris syah tujuh harimau. Menurut Nyi
Tunggal, tujuh manusia harimau harus mengadakan pertemuan. Banyak hal besar yang mesti
dirembugkan”.
“Boleh saya mengetahui nama Tujuh Manusia Harimau itu, tuan guru?” tanya Dasa Laksana.
“Boleh saja. Aku hanya akan menyebutkan nama yang aku ketahui. Sebab jumlah tujuh itu, yang
hanya mengetahui cumalah Ki Tunggal dan pewarisnya. Pewarisnya inilah yang masih gelap bagi
kami. Tapi beberapa nama seperti namaku, Ki Jengger, Ki Surya Pinanti, Ki Madu Prakasa, Ki Ca
Hya, setidaknya merupakan lima harimau yang syah berdasar Kitab Tujuh yang aseli”.
“Ki Lading Ganda bukan salah seorang tujuh harimau?”
“Ternyata ia bukan. Setelah jadi harimau syah, la suhu. Tak pernah terjadi seorang Suhu menjadi
gila seperti beliau. Tapi ia tabah”, kata Ki Putih Kelabu.
Lalu dia melompat ke punggung kuda.
“Aku sebetulnya amat rindu bertemu muka dengan puteriku”, ujar sang Guru ketika mereka
mulai memacu kudanya.
“Kita menuju ke pesanggerahan”, ujar Ki Putih Kelabu.
“Apa itu pesanggerahan?” tanya Dasa Laksana.
“Pesanggerahan adalah tempat istirahat seorang suhu”, ujar Ki Putih Kelabu, “Tapi penamaan itu
cuma aku yang menggunakan. Kuberikan khusus pada Ki Ca Hya. Aku mendapat wangsit, bahwa
puteriku Pita Loka sedang berguru pada beliau”.
Kuda itu semakin dipacu kencang.
Ketika kuda itu melintas desa Meranti, Dasa Laksana sempat menoleh ke desa itu, siapa tahu ia
mengetahui Harwati ada disitu.
Ketika Dasa menoleh, Ki Putih Kelabu tahu. Beliau barkata: “Rupanya kau masih menaruh
perhatian menengok desa itu”.
“Saya kuatir kalau kita kena jegal lagi oleh Harwati, tuan”.
“Maksudmu bukannya kau mengkhawatirkan nasib pendekar edan itu?” tanya sang guru
menjebak.Dasa Laksana hanya membungkam mulut, karena jika dia salah menjawab maka
nilainya bisa dianggap rendah oleh Ki Guru. Memang Harwati terjaga dari tidurnya di ambin
bambu ketika dia mendengar derap kaki kuda di lembah bawah.
Dia duduk, mengusutkan rambutnya lebih kusut lagi lalu ketawa menyeringai. Dia lalu berkata
dengan hiba dengan air matanya yang bercucuran: “Akan beginikah nasibku selalu? Tidak akan
pemah ada orang yang mencintaiku!”
Airmatanya bercucuran, Lalu dia memegang dua pedangnya, dan mengadu mata dua pedang itu
hingga bergemerincingan, Lalu berkumpullah penduduk Meranti itu seraya berseru: “Ayoh,
pendekar! Mainkan ilmu edanmu lagil”
“Ini edan! Ini edan!” kata Harwati mulai meloncat.
Tingkah lakunya membuat penduduk Meranti terhibur dan tertawa. Tetapi setiap dia
mengeluarkan jurus-jurus yang diminta, penduduk tak tahu airmatanya semakin banyak
berhamburan. Dan itu membuatnya lemas. Dia menangis merengek macam anak kecil, lalu
berjalan sempoyongan menuju nenek tua dan berkata: “Aku lapar, bu, Aku haus dan lapar.
Kasihani aku, aku lapar, lapar, laparrrr”.
“Mari ke rumahku”, ujar sang nenek. Tapi Harwati sudah meloncat lebih dahulu dan masuk ke
rumah perempuan tua itu dan mengambil nasi yang sedang dijarang dalam kukusan. Asap
mengepul, nasi itu hampir masak, tetapi sudah dikerumas oleh jari tangan pendekar edan itu,
dengan lahap masuk ke mulutnya.
Kemudian dia mengangkat gentong kecil berisi air. Mulut gentong yang lebar itu mengucurkan air
ke mulut Harwati, tapi sekalian pula dengan itu pendekar edan sudah mandi….
SEMENTARA itu, ditempat pertapaannya, di Lembah Tujuh Bidadari, Guru Gumara malam itu
melihat tumpukan cahaya melingkar di sekitarnya. Lingkaran itu bundar sekali dengan garis
tengah sekitar sepuluh meter. Ketika ia melihat ke langit, rupanya sinar cahaya itu tegak lurus ke
atas, bertepatan dengan bintang Venus.
Gumara memejamkan mata. Antara tidur dan tidak, dia menyaksikan dua ekor kuda dipacu
penuh menuju ke satu padepokan yang rumah-rumahnya bersih dengan cat putih. la metihat
seorang pendekar tua menyambut dua pendekar berkuda itu, Namun ia tidak jelas siapa mereka
bertiga itu. Mereka tampak saling beramah tamah.
Gumara lalu membuka mata. la belum puas. Tetapi sebelum dia mendapat jawaban firasat,
terdengarlah suara hiruk pikuk. Ada suara teriakan minta tolong dari arah selatan. Gumara berdiri
dengan sigap. Tampaknya suara teriakan itu semakin dahsyat. Lalu pendekar pendiam ini
melompat sigap meninggalkan Lembah Tujuh Bidadari kearah pedukuhan. Sesungguhnya pedukuhan itu jauh letaknya. Tetapi karena lembah ini menampung suara, kedengarannya amat dekat. Gumara menempuh jarak itu dengan jurus lompatan demi lompatan harimau api. Bagai harimau api ia langsung mengaum ketika dia dapati enam orang anak-anak muda buntung sedang dicambuk oleh Dasa Laksana Buntung. Pakaian mereka aneh. Semua anak remaja itu mampu menangkis cambukan itu. Dasa Laksana Buntung tampaknya gawat juga oleh perlawanan mereka. Gumara hanya menonton sejenak membiarkan penduduk pedukuhan itu
masih menjerit. Ketika Dasa Laksana Buntung akan mencambuk anak paling remaja yang dikenal Gumara di Kumayan bernama Caruk Putih itu, Gumara berseru tegas :
“Hentikan!” Dasa Laksana Buntung membalik, Begitu dia melihat Gumara, dia arahkan
cambuknya dan sekelebatan cambuk itu memecut ke arah Gumara. Gumara memegang cambuk
itu sebelum mengenai tubuhnya, lalu dalam sekebatan cambuk itu berbalik membuat Dasa
Laksana Buntung terlempar ke udara.
Caruk Putih berseru : “Pak Guru!” Lalu dia berlari memeluk Gumara. Anak-anak remaja buntung
yang lainpun memeluk Gumara : Talago Biru, Agung Kifli, Abang Ijo, Aria Kuning, Sura Jingga
yang kelihatannya mereka semua merasa rindu.
Dasa Laksana Buntung bangkit, lalu berteriak: “Nyi Kembar! Tolong aku!” Nyi Kembar masih
berpelukan dengan anak-anak buahnya, lelaki-lelaki tegap yang kesemuanya ketiduran karena
bermabuk-mabuk semalam suntuk. Gumara masih memegang ujung tali cambuk. Anak-anak remaja buntung itu merasa heran mengapa Dasa Laksana Buntung dibiarkan saja berteriak-teriak.
“Hajar dia. tuan Guru!” seru Agung Kifli.
“Aku ke sini cuma untuk menyelamatkan kalian. Hei, Pendekar Buntung. Sebaiknya tingkatkan
dulu ilmu kau sebelum melawanku. Aku perintahkan sampai sepuluh hitungan agar kau pergi dari
sini bersama sekutu setanmu!”
“Nanti dulu! Aku mohon satu jawaban!”
“Katakan padaku, di mana sekarang orang muda yang nenyamar memakai namaku?”
“Dasa Laksana?” tanya Gumara.
“Ya”.
“Apa perlunya denganku?”
“Ada perlunya untukku. Dia pernah berguru kepadaku! Kuperintahkan agar dia menyamar belajar
pada Ki Putih Kelabu. Tapi sepertinya dia berkhianat karena tidak kembali lagi”.
“Sungguh licik, kau! Kau suruh menyamar belajar pada Ki Putih Kelabu untuk apa?”
“Untuk menculik Pita Loka dikemudian hari. Kau tahu, aku mencintai Pita Loka. Aku ingin
ilmunya. Bukankah Pita Loka itu sainganmu? Musuhmu?” Gumara tersenyum. Katanya seraya menoleh pada Agung Kifli : “Ini, si pemain gitar dariKumayan, sepupunya, akan lebih tahu”.
Agung Kifli berkata : “Guru Gumara … saya pernah menjelaskan pada Ki Dasa Laksana Buntung
ini … bahwa tuanlah yang punya hak untuk jadi suami Ki Pita Loka. Bukan dia! Tapi kami selalu
kena siksa bila menjelaskannya. Kenapa tuan tidak bunuh saja dia sekarang? Atau kami
membunuhnya?”
Mendengar itu Dasa Laksana Buntung menyembah-nyembah. Dia berlutut di tanah.
“Aku akan hitung sampai sepuluh. Lalu kau dan sekutumu enyah dari pedukuhan ini. Ini dukuh
suci, penduduknya awam tak sudi melawan. Jangan kalian peras orang-orang awam, karena
do”a mereka akan langsung dikabulkan apabila kau berbuat kejam pada mereka. Satu …. Dua
….”
RUPANYA Nyi Kembar dan anak buahnya pun akhirnya mendengar ancaman itu. Sehingga, ketika
Gumara sudah menghitung : “Tujuh … delapan ,..”, dia segera memberi isyarat pada anak
buahnya untuk segera kabur.
“… Sembilan … sepuluh!”, seru Gumara dan membalik cambuk lalu melecut Dasa Laksana
Buntung. Pendekar buntung itu melolong kesakitan. Gumara melemparkan kembali pecut cambuk itu pada Dasa Laksana. Sehingga Agung Kifli bertanya : “Kenapa Guru kembalikan?” “Itu senjatanya. Sebaiknya kita jangan memakai senjata lawan”, ujar Gumara menjelaskan. Tak lama kemudian, hanya gumpalan debu yang beterbangan karena kuda-kuda pendekar bajingan itu berlomba cepat meninggalkan pedukuhan itu.
Setelah mereka pergi, Gumara berkata pada rejama-remaja bertangan buntung itu : “Jangan kecil hati karena tangan kalian yang cacad. Juga jangan menganggap bersalah karena kalian pernah ikut jadi anak buah Dasa Laksana Buntung. Jangan! Semua pengalaman ada gunanya. Asal tahu batasnya. Aku pernah bermimpi, pada suatu malam kalian berkumpul di Lembah Bidadari untuk memulai ilmu Persilatan Sejati bersama Ki Pita Loka. Salahkah mimpi saya itu?” “Mimpi itu betul, Guru!” ujar Caruk Putih.
“Dalam mimpi itu, Ki Pita Loka berkata, bahwa kalian semuanya kelak akan dikenal di kawasan
persilatan sebagai ENAM PENDEKAR BUNTUNG. Salahkah mimpiku itu?”
“Mimpi anda betul, Tuan Guru!”
“Nah, kalau itu betul, apa yang sudah kalian jalani selama ini adalah bagian dari
penggemblengan ilmu seperti yang tertera dalam Kitab Tujuh. Tapi harus kalian ingat. Banyak
pendekar sesat sekarang ini, yang menggunakan anak-anak semuda kalian. Seperti halnya Dasa
Laksana Buntung yang berdalih akan mendapatkan Kitab Tuiuh dengan menggunakan kalian
sebagai tameng. Masih kalian ingat, dulu pernah menyerbu dan bikin kacau di Kumayan? Nah,
sekarang aku ingin meluruskan jalan kalian atas kesesatan yang dibuat oleh Dasa Laksana
Buntung. Mari ke Lembah Bidadari agar kalian bisa kulatih melanjutkan latihan yang diberi oleh
Ki Pita Loka”.
“Di mana Ki Pita Loka sekarang ini, Guru?”
“Aku tidak tahu. Yang pasti, dia sedang memperdalam ilmunya. Tentu dia akan berjumpa suatu
kali dengan Nyi Kembar yang sudah bergabung dengan Dasa Laksana Buntung”, ujar Guru
Gumara. Lalu berangkatlah anak-anak muda itu mengikuti Guru Gumara menuju Lembah Bidadari untuk
mendapatkan gemblengan baru. Setiba di Lembah Bidadari, Agung Kifli bertanya pada Guru Gumara : “Tuan Guru, kenapa anda tidak bergabung saja dengan Ki Pita Loka?”
“Sulit sekali. Saudari sepupumu itu seorang keras kepala. Dia tak sudi menyembuhkan penyakit
gila adik tiriku Harwati. Hanya karena menduga-duga bahwa aku akan mencintai Harwati. Apa
masuk akal saudara sedarah bisa jadi suami-istri?”
“Tapi kami dengar Tuan Guru memang bukannya putra Ki Karat”, kata Agung Kifli.
“Darimana kau dengar?”
“Ketika kami diperkenalkan dengan Ki Kembar. Aku menyebut nama Ki Pita Loka untuk
men”elaskan dia sebagai saudara sepupuku. Lalu Dasa Laksana Buntung diberikan keterangan
oleh Ki Kembar bahwa anda, Tuan Guru …maaf, anda dikatakannya bukan kakak-beradik dengan
Harwati. Malahan dia ramalkan anda akan menjadi suami Ki Harwati. Mana yang benar?” tanya
Agung Kifli.
“Yang benar adalah Harwati mencintaiku. la sulit melepaskan cintanya. la mencintaiku setengah
mati. Aku adalah titisan darah Ki Karat. Dia pun titisan darah Ki Karat. Kalian sudah ditipu oleh
rangkaian cerita palsu. Untuk membedakan yang benar dan yang palsu mudah saja. Kalian
pernah ikut dengan gerombolan setan Dasa Laksana Buntung. Itu pengalaman hebat. Tapi
apakah pengalaman itu tak lebih dari pengalaman merampok dan memperkosa wanita? Begitu juga dengan Nyi Kembar, istri Ki Kembar! Bukankah pendekar wanita ini menyukal berhubungan dengan anak-anak lelaki berusia muda? Ini suatu bukti bahwa ilmu Ki Kembar diwariskan secara sesat. Semua pengikutnya sesat. Dan karena itu semua ceritanya sesat dan palsu pula. la sengaja menyebar kisah palsu mengenaiku agar aku kawin dengan Hanwati dan tidak jadi memperistri Pita Loka. Tahu kalian, bahwa para pendekar sesat ketakutan apabila aku mengawini Pita Loka kelak akan melahirkan bibit turunan pendekar unggul? Itulah soalnya. Karena cerita persilatan tidak akan musnah dari,bumi ini. Begitu pun turunan darahnya, Demi guru-guru terhormat sebelumku, ceritaku tak bohong”, ujar Guru Gumara.
MENDENGAR penjelasan itu, Agung Kifli maupun Caruk Putih terpana. Kedua anak remaja ini
sering membicarakan kisah segitiga Guru Gumara, Ki Pita Loka maupun Ki Harwati.
Caruk Putih bertanya pada Guru Gumara : “Jadi Ki Harwati tidak akan sembuh gilanya jika tidak
diobati oleh Ki Pita Loka?”
“Menurut Ki Jengger, salah seorang dari Harimau Tujuh memang begitulah. Sedangkan benda
sakti pengobatnya adalah Intan Solaiman Permata Hijau. Ketika Pita Loka menolak mengobati
kegilaan Harwati, dia buktikan penolakan itu dengan membuang intan sakti itu. Ke udara!”
“Alangkah sayangnya”, ujar Caruk Putih.
“Tapi itu tak bisa disalahkan. Peperangan ada dua macam. Peperangan dengan senjata. Dan
peperangan dengan mulut, yaitu fitnah. Kadangkala peperangan dengan fitnah ini justru bisa
membunuh. Dia mempengaruhi akal manusia, sehingga kawan pun jadi lawan. Ki Kembar sudah
mewarisi perang fitnah ini turun temurun. Mungkin yang terkena pengaruh kisah fitnah itu adalah
Pita Loka sendiri. Sehingga dia yakin aku ini bukan anak Ki Karat dan bisa kawin dengan Harwati.
Maka dia buang intan sakti yang bisa menyembuhkan orang gila”.
“Kalau begitu bukankah Ki Pita Loka bisa diluruskan? Tangkap dia, lalu paksa dia!” kata Caruk
Putih. Anjuran anak remaja itu membuat Guru Gumara tertawa kecil. “Tujuh Harimau harus bersatu! Saya sendiri mendengar bisik-bisik Nyi Kembar dengan anak buahnya beberapa hari yang lalu. Bahwa anda, Guru Gumara adalah salah seorang dari Tujuh Harimau. Dia juga mengatakan, Ki Pita Loka lawan berat. Karena dia pewaris dari salah sebrang Harimau Tujuh. Kalau Ki Pita Loka menolak anda, itu berarti dia belum lagi afdol untuk disebut salah satu Harimau Tujuh, bukan? Bukan?” “Dalam dunia persilatan, semua kemungkinan adalah mungkin. Tapi mungkin juga, dia masih dalam alam penggemblengan ilmu yang lebih tinggi. Memang usulmu baik. Enam harimau bersatu untuk menjinakkan Ki Pita Loka. Itu usul hebat. Tapi mungkin Pita Loka punya jalan sendiri karena dalam penggemblengan”, kata Guru Gumara.
“Lalu tuan tentu tahu, dimana Ki Pita Loka sekarang ini”, ujar Agung Kifli.
“Karena kamu mendesak untuk saya jawab, akan saya Jawab sekarang: Dia sekarang berada dalam bimbingan Ki Ca Hya, salah seorang pendekar Harimau yang melawan musuhnya cuma dengan cahaya!”
Anak-anak remaja itu tercengang. Caruk Putih bertanya:
“Tuan Guru tidak memiliki ilmu itu? Bisa kami diberi?”
“Itu ilmu tertinggi. Bahkan perang dijaman moderen ini kelak bukan lagi menggunakan peluru.
Tapi perang cahaya”, ujar Guru Gumara.
“Ki Pita Loka sekarang ini di pedukuhan Ki Ca Hya?” tanya Agung Kifli dengan penuh semangat.
Guru Gumara memejamkan mata sejenak. Dalam berpejam mata itu seakan-akan dia melihat
suatu kejadian dahsyat.
“Suatu kejadian dahsyat yang sulit kuceritakan”, ujar Gumara. Kejadian dahsyat itu memanglah
sedang terjadi. Rupanya, Ki Putih Kelabu menyuruh muridnya, Dasa Laksana, pulang ke
Kumayan naik kuda. Karena Ki Putih Kelabu ingin menetap sementara di pedukuhan Ki Ca Hya
menanti kembalinya puteri beliau tercinta, Pita Loka.
Tapi Dasa Laksana singgah dulu di desa Meranti. Dia berharap bertemu dengan Harwati. Namun
desa Meranti yang penduduknya cuma 97 orang itu sedang mengalami malapetaka. Dasa
Laksana buntung bersama Nyi Kembar sudah membantai 41 orang. Sedangkan Harwati cuma
berdiam diri saja, malahan dia seperti tak punya perasaan, tidur mengaeletak, mendengar jerit
pekik penduduk yang panik itu. Malahan dia tertawa sembari tiduran, Ketika rumah nenek tua digeledah Nyi Kembar, lalu nenek tua itu berteriak, barulah Harwati dengan cekatan mengambil dua pedang Surandar dan menghambur menghantam pinggang Nyi Kembar. Dia mengamuk dahsyat. Nyi Kembar jungkir balik sekeluar dari rumah. Harwati mengejarnya dengan teriakan mengerikan. Dasa Laksana Buntung mencegatnya. Cambuknya menangkis pedang Surandar, dan membelit di gagang pedang itu, dan dengan mudah membuat Harwati terjungkir, Namun pedang itu tidak lepas, sekali lagi dia harus hadapi dua kepungan pendekar setan. Harwati menjerit lantang sebelum dua pedang diarahkan ke pada dua kepala lawan. Tetapi lawan sudah menghambur ke udara. Harwati menekankan pedang ke bumi, dan menyusul lawan ke udara. Di udara dia terkena tubrukan dan jatuh ke bumi, Begitu dahsyat jatuhnya sampai tubuhnya memblesek masuk tanah hingga dengkulnya. Dan dia tak bisa berkutik dengan pedangnya. Dua kali pedang itu dia tetakkan ke bumi, baru kemudian tubuhnya keluar bagai air muncrat bersama muncratnya tanah! KETIKA itu keadaan Harwati tetap saja sulit. Rupanya Dasa Laksana Buntung maupun Nyi Kembar menginginkan pedang Surandar yang sakti itu. Berkali-kali terjadi pergulatan di udara dengan kemampuan ilmu masing-masing.
Yang beruntung adalah Nyi Kembar. Dengan menipu Harwati agar lebih lama lagi bertempur di
udara, waktu Dasa Laksana Buntung gagal merebut pedang, Nyi Kembarlah yang merebutnya.
Dia jatuh di bumi menanti jatuhnya Harwati yang sudah siap akan ditebasnya. Namun ketika dia
akan ditebas sebuah keajaiban timbul. Seekor kuda menyeruduk dan seorang pendekar muda
loncat dari kuda dan merebut pedang di tangan Nyi Kembar.
Dasa Laksana Buntung berseru: “Hai, dia muridku!”
Dasa Laksana menjawab: “Anda pendekar buntung yang keji! Aku bukan muridmu Aku
musuhmu!”
“Pengkhianat!” teriak Dasa Laksana Buntung yang melompati tubuh Dasa Laksana. Dasa Laksana
tanpa ragu menebas pedang Surandar ditangannya. Si buntung berlumuran darah, dan ketika ia
berusaha mundur untuk lari, satu tebasan lagi muncul dari belakang, kali ini dari Harwati.
Dasa Laksana Buntung tersungkur. Dia sempat memaki: “Kamu mcngkhianati diriku”.
“Kamu mengotori kesucian persilatan!” bantah Dasa Laksana, yang dengan cekatan berbalik
menguakkan kaki menangkis terjangan Nyi Kembar.
Dasa Laksana yang buntung, yang hampir sekarat, masih juga berusaha menangkap kaki Dasa
Laksana muda… dan pendekar muda ini tersungkur lalu kepalanya ditendang oleh Nyi Kembar.
Tendangan itu jadi tidak ampuh sebab pung gung Nyi Kembar dihantam pedang Surandar di
tangan Harwati. Dasa Laksana bangkit. Dia melibat Dasa Laksana Buntung masih berusaha
berdiri, ialu disabetnya pedang itu tepat mengenai leher. Kepala si buntung itu terpisah dari
badan, dan kepala itu menggelinding.
Harwati tertawa terbahak. Tapi Nyi Kembar menyergap lengannya ketika itu, dan pedang
Surandar lepas karena cengkeraman tadi. Dasa Laksana, sang pendekar muda yang berubah
beringas, menghantamkan pedangnya pada Nyi Kembar, Pedang beradu pedang. Tapi Dasa
Laksana ingat keampuhan pedang itu, Ialu dia tetakkan ke bumi, sehingga ketika Nyi Kembar
mengayunkan pedang mau menebas, Dasa Laksana sudah mengudara. Ketika Nyi Kembar mau
menetakkan pedang ke bumi, sebuah sergapan kepak bangau menerpa bahunya, sehingga Nyi
Kembar tersungkur, jumpalitan, menabrak pohon rambutan dan pohon itu roboh bercerabut
bersama akarnya.
Makin seru terkena sergapan begitu, semakin tangguh tenaga dalam Nyi Kembar. Tiba-tiba saja
muncul tiga pendekar lagi. Dua orang Ki Kembar yang sudah mati, dan satu lagi Nyi Kembar
yang sudah mati!
Nyi Kembar dibantu oleh tiga sosok roh halus! Nyi Kembar berteriak pada Harwati dan Dasa
Laksana: “Nyawa kalian tinggal sejengkal. Serahkan pedang kembar Surandar itu! Itu milikku
yang syah, yang dirampas oleh Ki Tunggal Surya Mulih!”
“Kau berdusta”, ujar Harwati. Dasa Laksana yang tadi sangat buas, kelihatan mulai bergidik.
Harwati juga kebingungan menghadapi tambahan tiga sosok roh halus yang menjelma menjadi
raga mengerikan.
“Kalian berdua sudah diambang kematian”, ancam Nyi Kembar, “Ilmuku dibantu oleh ruh
suamiku dan ruh saudara kembarku beserta suaminya. Kini serahkan pedang Surandar itu
sebelum kalian mati konyo!”.
“Jangan!” tiba-tiba muncul suara dari semak-semak.
Dan muncullah Pita Loka dengan sebuah cambuk ditangannya. Ketika Nyi Kembar melompat,
sebelum melompat bahkan Pita Loka sudah tahu bahwa dia akan menyerang Harwati. Cambuk
asap itu menciptakan asap seketika itu juga, sebelum Nyi Kembar sampai ke sasaran, dan
Harwati sudah mengelak ke samping sehingga Nyi Kembar tersungkur mencium tanah.
Langsung saja tiga kali cambukan asap diarahkan Pita Loka pada tiga ruh pendekar setan, maka
terdengarlah teriakan disertai api yang mengudara. Di udara tampak tiga bola api mengerikan,
semakin jauh dan semakin jauh. Nyi Kembar tahu, bantuan ruh sudah gagal, dan dia buru-buru
melarikan diri memasuki semak dan menemukan pasukannya di sana . Tak lama kemudian Nyi
Kembar sudah melarikan diri bersama anak buahnya meninggalkan lembah itu. Bunyi telapak
kaki kuda semakin menjauh dan menjauh.
Dasa Laksana, yang merasa berhutang budi, menghampiri Pita Loka. Harwati melirik, lalu
meludah.
“Kepandaian anda melebihi Guru”, ujar Dasa Laksana.
Mendadak sebuah terjangan menghantam dada Pita Loka. Tapi Pita Loka cuma berdiri tegap, dan
Harwati yang menendang malah jungkir balik ke belakang. Dasa Laksana heran dan berseru:
“Jangan turutkan hawa nafsu anda!”
Kini Harwati menerjang Dasa Laksana dan merebut kembali pedangnya.
HARWATI sudah berdiri tegap dengan dua pedang Surandar. Pita Loka masih berdiri saja
memegang cambuk asapnya. Dasa Laksana kebingungan. Juga kuatir jika dua pendekar wanita
itu akan bertempur.
“Kuharap kalian berdua dapat menahan diri”, kata Dasa Laksana. Perkataan itu dijawab Harwati
dengan mengadu dua mata pedang Surandar yang menerbitkan kilatan api ketika pedang itu
bergerincing satu dengan lainnya.
Harwati ragu, pedangnya yang dia adu satu sama lain kemudian dia kembangkan keatas dan
berteriak: “Aku tidak gila!”
“Kau memang tidak gila”, ujar Dasa Laksana, “Kau cuma tidak bisa menggunakan akalmu”.
Hanya Pita Loka yang masih berdiam diri. Batinnya kasihan melihat tingkah dan perkataan
Harwati. Dia tergoda untuk merubah sikap. Dia ingat, bahwa alat penyembuh sakit gila Harwati
hanyalah Permata Hijau Solaiman. Tapi permata itu sudah dia buang ke udara dulu.
“Harwati, aku akan menyembuhkanmu. Tapi jangan ganggu perjalananku”, kata Pita Loka.
“Aku akan ikut anda, Pita Loka!” ujar Dasa Laksana.
“Tidak. Kau jagalah Harwati. Dia perlu dikasihani!”
“Aku tak perlu dijaga! Aku tak perlu dikasihanil” kata Harwati dan melihat Pita Loka berlalu.
Dengan beringas Harwati menatap ke mata dua pedangnya.
Dan dengan sekuat tenaga dia hantamkan dua mata pedangnva ke bumi. Dia mengudara, lalu
tiba lagi di bumi dalam keadaan mencegat langkah Pita Loka.
Pita Loka tenang dengan cambuk ditangannya. Lalu Dasa Laksana melompat cepat. Dia berdiri di
tengah-tengah. Dia berhadapan dengan Harwati, lalu berhadapan lagi dengan Pita Loka. Kepada
Pita Loka dia berkata: “Cepatlah cari obat penyembuh pendekar gila ini”.
Mendengar itu, dalam sekelebatan dua kali hantaman pedang Surandar menggebuk punggung
Dasa Laksana, yang mengaum dua kali terkena gebukan itu. Auman itu mirip auman harimau.
Hal ini membuat Harwati heran karena pedangnya tak mempan.
Padahal, pada detik itu di pedukuhan Ki Ca Hya, Ki Putih Kelabu juga mengaum dua kali karena
merasa terkena gebukan. Ki Ca Hya berkata: “Murid anda tersungkur, namun tidak luka dan
mati”. Dan memanglah Dasa Laksana tidak luka dan tidak mati. Tapi dia pingsan! Harwati sendiri
malah mengira pendekar muda itu mati.
Dia bertutut dan menangis: “Aku tak bermaksud untuk membunuhmu…”, lalu dia menoleh lagi
mau melihat Pita Loka, tetapi Pita Loka sudah tidak ada lagi.
“Kau tidak mati, kan ?” ujar Harwati ketika tubuh Dasa Laksana ditelentangkannya.
“Hei, kau tidak mati kan ?”
“Aku masih hidup”, ujar Dasa Laksana, seraya berdiri.
“Aku tidak gila, bukan?”
“Kau tidak gila. Kau begini cantik. Kau dapat menjadi pendekar yang waras asal saja kau sudi
menyisiri rambutmu”, kata Dasa Laksana.
Dengan mengucapkan kata-kata itu, sebetulnya Dasa Laksana bukanlah jatuh cinta. Jatuh
cintanya pertama kali hanya kepada Pita Loka, ketika dia melihat vvajah yang begitu jelita, sesuai
dengan yang diceritakan oleh guru pertamanya yang kini sudah mati terbunuh.
Lalu dia menoleh kepada gurunya yang menganut ilmu sesat itu. Punggung itu terbelah. Dan
kepalanya sudah tidak bersatu lagi dengan lehernya. Dasa Laksana terharu sejenak saja, agar
tidak tergelincir pada sifat cengeng.
“Maukah kau membantuku?” tanya Dasa Laksana pada Harwati.
“Untuk anda sebagai pujaan hati saya, saya akan siap sedia”.
“Bantu aku menguburkan puluhan mayat tak berdosa ini. Juga mayat bekas guruku yang
pertama”, ujar Dasa Laksana.
Dan bersama penduduk desa Meranti, dikuburlah 41 mayat penduduk dan juga mayat Dasa
Laksana Buntung. Saat 41 mayat penduduk dimakamkan, tangis dan ratap kedengaran.
Sehabis pemakaman, nenek tertua berkata: “Biarpun 41 jiwa sudah melayang, sebagai orang
tertua saya mengucapkan syukur pada Tuhan dan kalian berdua. Kukira, orang jahat akan masih
mengganggu ketentraman orang baik seperti kami. Kalian berdua orang baik. Apa salahnya
kalian berdua tinggal bermukim di desa kami ini. Sebagai suami isteri. Menyambung keturunan.
Sebagai pengawal hati kami agar kami tidak dikejar rasa takut”.
Harwati memandang pada Dasa Laksana. Dia berharap senyum. Dia berharap Dasa Laksana
menjawab harapan penduduk desa Meranti itu.
TAPI lain yang diharap, lain pula kenyataan. Dasa Laksana berbicara sangat hati-hati: “Kalau
memang sudah jodoh, tentu harapan Nenek menjadi kenvataan. Tetapi kami berdua sama-sama
pendekar. Kami berdua ibarat bersaudara. Saya sendiri masih akan meneruskan perjalanan.
Sebab Guru saya, Ki Putih Kelabu, memberi amanah agar saya kembali ke Kumayan. Kebetulan
memang saya akan mampir ke Meranti sini, menengok keadaan dia apakah sehat. Rupanya
terjadi malapetaka. Sehingga saya terlibat”.
“Jadi anda menolak permintaan Nenek?” tanya Harwati.
“Saya hanya menjelaskan adanya saya di sini”, kata Dasa Laksana.
“Kalau kau tidak cinta pada saya, kenapa tidak berterus terang saja? Saya malu! Saya malu!”
Pertemuan yang mestinya terjaga oleh keluhuran budi itu, lantas jadi berubah kacau. Harwati
meloncat ke tengah-tengah upacara itu dengan membabi buta lalu mengacu-acukan dua pedang
Surandarnya. Dan berteriak berkali-kali: “Aku benci padamu! Aku jijik padamu! Aku benci! Benci!
Benciiii!”
Dasa Laksana menghadap! hal ini dengan tenang. Dia mendekati kudanya. Lalu memegang tali
kendali kuda itu, menuntunnya dan berkata pada orang sedesa: “Maafkan saya. Karena saya
sekedar singgah. Selamat tinggal”.
Harwati geram, Dua pedang Surandar ditangannya, seakan siap akan menebas kepala Dasa
Laksana. Dengan teriak lantang dia ayunkan pedang itu ke kepala Dasa Laksana. Pedang itu
membal disertai suara aum harimau yang keluar dari mulut Dasa Laksana.
Dasa Laksana tersungkur, Serentak dengan itu, di pedukuhan Ki Ca Hya, Ki Putih Kelabu pun
tersungkur.
Dan Harwati semakin mengamuk! Dia tetakkan pedang Surandar ke bumi, dan tubuhnya
menghambur ke udara bersama pedangnya. Di udara dia mengadu dua mata pedangnya,
tampak cahaya api berkilat-kilat.
“Jika kamu pergi juga, nyawamu akan melayang”.
“Aku memikul amanat guruku. Pendekar takkan berubah pendirian”, kata Dasa Laksana. Bagai
kilat pedang Surandar dua-duanya akan memenggal leher Dasa Laksana, yang segera
menundukkan kepala menghindari. Tetapi, ketika itu pedang itu tetap memenggal leher, dan
leher itu putus… yaitu leher kuda itu.
Tubuh kuda itu menggelepar ketika leher itu putus. Dasa Laksana ingat pesan guru agar G
menjaga nafsu amarah. Dia tekan rasa dongkolnya, lain cepat menghambur melarikan diri
meninggalkan desa Meranti.
Dia terus berlari kencang menerobos semak belukar, mengibas penghalang, kadangkala jatuh
jumpalitan. Namun dia merasa harus lari dan harus lari. Makin jauh larinya, semakin kuat
tenaganya, kadang diseling oleh tenaga dalam ketika dia menerjang pohon besar dan pohon itu
roboh. Dalam pelarian itu, Dasa Laksana mendadak berhenti, karena merasa tersesat. Dia mendengar
dua orang sedang berbicara. Satu suara wanita, satu lagi suara pria.
“Ki Jengger. Saya ke sini untuk meminta maaf karena saya pernah menghina hadiah sakti dari
anda. Tuan tentu berkecil hati karena Intan Permata Hijau yang dapat menyembuhkan orang gila
itu saya buang”.
“Ananda Pita Loka jangan mengira itu hadiah dari saya. Sesuai pesan Ki Tunggal Surya Mulih
sebelum matinya, barang sakti itu memang milik anda,Anda membuangnya, itu hak anda!”
“Tapi Ki Jenger. Saya minta bantuan anda untuk mencarinya!”
“Itu milik anda, anakku. Anda harus mencarinya sendiri”. Lalu Ki Jengger bertanya: “Untuk apa
bagimu barang sakti itu lagi?”
“Untuk menyembuhkan Harwati”, kata Pita Loka.
“Suatu niat yang luhur. Nah, silahkan anda cari sendiri”, kata Ki Jengger.
“Saya sudah mencarinya di Tujuh Bukit Sakti. Mungkin ia ada di sini”, kata Pita Loka.
“Sudah pasti tidak. Tidak di sini”, kata Ki Jengger.
Pita Loka menarik nafas panjang. Dia lalu menghatur sembah dan berlalu dari situ. Tiba-tiba
Dasa Laksana membuntutinya dari belakang. Dasa Laksana berusaha mengejar lebih cepat,
namun sulit. Di tengah hutan belantara barulah dia berhasil mencegat. Pita Loka heran: “Kenapa
anda di sini?”
“Untuk mengawal tuan. Saya kuatir tuan dihalangi musuh. Ini sesuai dengan pesan ayahanda
tuan. Bahwa saya akan mendampingi anda, sebab beliau berkeinginan kita berdua melanjutkan
keturunan beliau”. Mata Pita Loka melotot. Dia berkata: “Tidak kau lihat mataku cuma satu? Tak sadar kau bahwa aku buta?”
MEMANG jika dilihat dengan sebelah mata, tubuh Dasa Laksana gagah dan tegap sekali.
Ketegapan itu memang mirip Gumara. Pita Loka lalu berkata dengan nada kasihan: “Aku hormati
kemauan kerasmu untuk mengawalku. Tapi saya sekarang tidak membutuhkan pengawalanmu”.
“Anda memang keras hati”, kata Dasa Laksana.
“Dunia kita sama. Mungkin ilmu kita sumbernya sama. Tapi jalan kita berbeda”, ujar Pita Loka.
“Apa arti hidup ini bagi anda? Pengasingan?” tanya Dasa Laksana.
“Pengasingan atau bukan, itu urusanku sendiri!”
“Tapi jawablah: Apa arti hidup ini bagi anda? Jawablah!” Pita Loka melirik, lagi-lagi dia kasihan
melihat pendekar tegap dan gagah sepertinya manusia lugu.
“Arti hidup ini bagi saya adalah menyesuaikan gerak dengan hati. Dan menyesuaikan ucapan
dengan hati”, ujar Pita Loka.
“Sungguh tinggi ilmu anda”, kata Dasa Laksana.
“Tidak ada ilmu yang tinggi bagi siapa yang ingin menuntut ilmu. Tapi kamu sudah mencoba
mengalami, sebagaimana semua pendekar mencoba mengalami. Sebaiknya kamu renungi”.
“Saya sudah merenungi. Keluh kesah ayah anda, Ki Putih Kelabu tentang diri anda, pun sudah
saya dengar. Saya tambah tidak mengerti, mengapa anda seperti orang yang mengasingkan diri?
Saya ingin mengawal anda, menemani, membantu anda dalam keadaan bagaimanapun! Tapi
anda menghindar. Apakah anda merasa saya ini lebih rendah?”
“Tak ada yang rendah dan tak ada yang tinggi”, kata Pita Loka. Dasa Laksana merasa diberi
harapan. Lalu berkata: “Nah. semua sudah sesuai”.
“Sesuai? Sesuai berarti berimbang!” bantah Pita Loka.
“Maksud anda saya tidak dapat mengimbangi anda?” tanya Dasa Laksana.
“Kamu salah faham. Yang saya maksud seimbang adalah apabila apa yang dihati kamu, ada
dalam hati saya. Apa yang ada dihati saya, ada dihati kamu? Nah kalau belum faham juga apa
yang ada dihati kamu, tidak ada dihati saya. Mengerti kau?”
Mendengar itu Dasa Laksana terperangah. Tapi dia juga bukan pendekar sembarangan. Karena
ketabahannya dan keras hati dia bertekuk lutut, berguru pada Ki Putih Kelabu.
“Sebelum ayahanda tuan — Ki Putih Kelabu — memberi bayangan bahwa saya digemblengnya
untuk menjadi menantunya, saya sendiri sudah jatuh cinta pada tuan, pendekar Pita Loka yang
terhormat!”
“Cinta?” Pita Loka tersenyum geli.
“Ya”.
“Kamu mencintai saya?”
“Ya, saya mencintaimu, Pita Loka!”
“Apa kamu tidak salah alamat?”
“Tidak salah alamat, pendekar! “
“Mungkin salah…” Dasa Laksana justru tambah bersemangat: “Jika Guru sudah memberikan
fatwa bahwa anaknya akan dijodohkannya kepadaku, apa itu salah alamat?”
Pita Loka tertawa runyam. Lalu berkata: “Darimana ayahku Ki putih Kelabu dapat menerka masa
depanku sedangkan beliau bukan ahli ramal?”
“Dari Kitab Tujuh”, ujar Dasa Laksana.
“Apa kata ramalan itu?”
“Saya hanya diberi kesempatan membaca sebagian. Dan disitu saya baca, satu kalimat samar-
samar, bahwa pendekar tempat menyan menyebar bau sa”at matahari terbenam yang
janggutnya putih kelabu, suatu saat akan mendapatkan puteri yang berguru pada ahli silsilah dan
sejarah, dan calon suaminya adalah pendatang dari negeri jauh. Bukankah saya ini pendatang?”
“Pendatang itu ada dua. Sebagaimana Kitab Tujuh pun ada dua, yang satu palsu. Pendatang
pertama adalah guru saya, Guru Gumara, dan pendatang lainnya adalah kamu.Kamu tinggal
terka saja, hati saya pada kamu atau pada Guru Gumara”.
Dasa Laksana terperanjak. Dia jadi gugup. Dia heran dan bertanya: “Jadi anda masih mencintai
Gumara?”
“Cinta saya cuma satu kali”, kata Pita Loka.
“Jika Guru Gumara tidak mencintai anda?”
“Cinta saya tetap satu kali” kata Pita Loka tegas.
“Itukah sebabnya anda tak membutuhkan bantuan saya?”
“Sudah kamu jawab sendiri, bukan? Nah, jangan buntuti saya lagi”, ujar Pita Loka yang dengan
lugas melangkah meninggalkan Dasa Laksana.
Buyarlah perasaan dan pikiran Dasa Laksana seketika itu juga. Dia yang dinilai jujur oleh
gurunya, mendadak ingin membelot.
TETAPI andaikata membelot ini dia lakukan, ini berarti dia mengkhianati Guru. Pembelotan
adalah perbuatan keji. Yang terbaik adalah menanam budi. Lalu dia putuskan akan membuntuti
terus perjalanan Pita Loka, kemana pun! Ketika perjalanan Pita Loka sampai ke pancuran Guha Duri, terbitlah perasaan birahi Dasa Laksana. Tapi lalu budi suci seorang pendekar menerangi otaknya, dan segera dibuangnya muka sewaktu Pita Loka menanggalkan pakaian. Memang ada kolam yang membuat Pita Loka
menikmati air yang bersih itu santai berenang. Sehingga ia lupa bahwa senjatanya, cambuk
asap, ditaruh begitu saja di atas daunan pohon kaca piring.
Hati Dasa Laksana tergoda seketika. Dia sudah lolos membuang muka agar ilmunya tak kotor,
tapi kini dia terperangkap lagi untuk mencuri senjata sakti itu.
Untunglah sinar kesucian pendekar menerangi lagi otaknya. Kemudian dia telungkupkan
tubuhnya diantara rumputan. Sampai tak sadar, karena lelah, dia ketiduran.
Setelah Pita Loka berpakaian kembali, dia merasa haus senja itu. Dia panjat pohon kelapa. Dia
ambil sebutir kelapa hijau. Lalu dipukulkannya sisi telapak tangannya hingga kelapa itu terbelah.
Diminumnya airnya dan dinikmatinya dagingnya.
Belahan kelapa itu kemudian dia buang ke satu tempat. Dari tempat itu tampak sosok berdiri.
“Hai, kau lagi!” seru Pita Loka seraya ketawa.
“Aku membuntutimu”.
“O, apa kau tak punya pekerjaan lain?”
“Memang ada pekerjaan lain. Tapi aku kuatir anda diganggu dan membutuhkan bantuan”.
“Hah, sudahlah. Kau kerjakan pekerjaan lain saja. Percuma kau buntuti aku terus”.
“Aku mencintai anda, Pendekar Cantik”.
“Kau harus menyebutku Pendekar Buta”
“Biarpun anda buta dua-duanya, anda tetap cantik!” ujar Dasa Laksana.
“Harusnya kau berteman dengan Harwati. Sama-sama gilanya”, ujar Pita Loka.
Ditatapnya mata Dasa Laksana dengan tatapan tegas lalu berkata; “Jangan kau buntuti
perjalananku lagi”.
Dasa Laksana gemetar. Dia berdiri kaku kayak patung. Terpelongo sementara itu Pita Loka
melecutkan cambuknya. Asap menebar ke sekeliling. Dan tidak tampak lagi kemana arah
perginya Pita Loka dimata Dasa Laksana.
Kali ini Dasa Laksana terhempas. Dia tidak putus asa, karena sikap putus asa adalah
pantangannya para pendekar. Dia kesal dan jengkel. Karena itu dia terjang sebuah pohon jambu
mete yang rendah sehingga tumbang. Dia belum puas lagi! Dia seruduk sebuah pohon karangani
yang berdaun lebat dan batangnya ramping, Pohon itu roboh pula! Lalu karena kejengkelannya
belum habis, dia melakukan jurus putar gasing sehingga semua pohonan kecil rebah dan roboh,
sedang yang ditujunya sasaran terakhir adalah pohon pucung yang tinggi tegap itu: Bagai
harimau melompat mau menerjang sasaran, Dasa Laksana mendaratnya serentak telapak kaki
maupun telapak tangannya.
Jelengurrr…. Pohon pucung itu tumbang dengan akarnya tercerabut, bagai runtuhnya sebuah
tebing.
Tubuh Dasa Laksana sendiri terlempar ke pucuk pohon pucung itu yang sudah mencium tanah. Diantara daun-daunan pucuk yang agak rimbun itu, tubuh Dasa Laksana tergeletak. Tergeletak tak bergerak lagi. Ya, dia bukannya mati. Tapi dia pingsan. Begitu meluap jengkelnya, sehingga tenaga yang merobohkan pohon pucung itu adalah puncak tenaga dari seluruh ilmu silat yang dimilikinya. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Barulah Dasa Laksana sadar dari pingsannya terkena hujan yang membasahi tubuhnya. Tapi dia tidak menyingkir. Dia tergeletak menelentang, dengan kedua tangan melebar dan membiarkan tubuhnya basah kuyup
bermandikan hujan.
Setelah puas, baru dia berdiri. Dia melangkah sempoyongan di tengah hujan lebat itu. Dia terus
melangkah tanpa peduli kearah timur. Dia tembus hutan belantara yang lebat dalam hujan yang
lebat. Anehnya, binatang-binatang buas bukan menerkamnya. Mereka malahan menyingkir
seakan-akan melihat “raja hutan” sedang lewat basah kuyup.
Kemudian sampailah Dasa Laksana dalam keadaan masih basah kuyup itu ke sebuah gerbang
desa. Gerbang itu putih bersih. Ini pertanda bahwa desa ini dimukimi oleh orang baik-balk. la
melangkah terus, kemudian berteduh di sebuah warung. Dibukanya cincin emasnya, dan dia berkata pada penjaga warung: “Ini kekayaanku. Tukarkan dengan makanan dan minuman tuak”. CINCIN emas yang diberikan Dasa Laksana itu ditolak. Ujar penjaga warung itu: “Kami di desa ini tidak biasa menambah kesusahan orang yang menderita”. “Apa nama desa ini?” tanya Dasa Laksana.
“Desa Tulus, tuan. Apa tuan pendekar pengembara?” tanya penjaga warung itu.
“Ya. Saya sedang melacak jejak seorang pendekar”.
“Pendekar jahat?” tanya penjaga warung. la menuangkan tuak ke mangkuk batok kelapa yang
berukir. Dasa Laksana menenggak minuman itu, lalu menjawab: “Dia pendekar baik. Seorang
gadis cantik dengan senjata cambuk”.
“O, dia itu. Saya melihatnya memasuki Biara Putih”, ujarnya. Mendengar ujar itu, Dasa Laksana
tak jadi meneguk lagi.
“Engkau yakin?”
“Saya yakin. Karena kami disini mengenalnya”, kata penjaga warung itu.
“Kalau kau memang mengenalnya, coba sebutkan namanya”.
“Pendekar Pita Loka”, sahutnya. Lega rasanya dada Dasa Laksana. Kalaulah dia tidak lapar dan
haus, kalaulah tidak pula hujan lebat, mau rasanya dia ke Biara Putih itu.
Setelah menenggak tuak semangkok lagi, dia bertanya:
“Siapa Ketua desa ini?”
“ Rama Yogi”, sahut orang itu.
“Nama itu pernah kudengar dari Guruku. Beliau ahli tenaga dalam. Beliau menguasai ilmu Silat
Delapan Bayangan. Betul dia?” tanya Dasa Laksana.
“Tuan betul. Tapi sekarang ini beliau masih mati suri”.
“Mati suri?” Dasa Laksana ternganga. Karena mati suri adalah bagian dari kelanjutan persilatan
tingkat tinggi. Artinya, seorang pendekar yang baik akan selalu mengalaminya dan ketika setelah
mengalaminya seluruh gerak dan jurus persilatannya hanyalah “diam”.
“Kalau begitu aku akan makan dan menghabiskan minumanku dulu”, ujar Dasa Laksana, yang
langsung makan lahap dengan diseling minum tuak. Dia kemudian sudah memasuki Biara Putih
itu. Sepi sekali. Cuma seorang pemuda remaja berkepala botak yang menyambutnya.
“Tuan ingin menemui siapa?” tanya si botak.
“Saya akan menemui tamu yang menjenguk Ketua”, Kata Dasa Laksana.
“Maksud tuan menemui Pendekar Pita Loka?” tanya si botak.
“Betul”.
“Sayang beliau tidak dapat ditemui. Beliau sedang bersemedhi, mengobati Ketua kami agar
segra hidup kembali.Maksud saya, sadar dari mati surinya”.

“Lho, pendekar itu bisa mengobati?” tanya Dasa Laksana.
“Dia sekedar mencoba mengobati. Dengan arus tenaga dalamnya yang di pindahkan. Tiap beliau
lewat disini, usaha itu selalu dicobanya”, kata si botak.
Makin jelas bagi Dasa Laksana, bahwa ilmu Pita Loka sudah begitu tinggi. Kobaran asmara
semakin membakar diri pendekar muda itu. Oleh gejolak itu pulalah dia masuk sewaktu si botak
berlalu. Dia masuk saja. Tapi rupanya konsentrasi Pita Loka sudah demikian hebat, sehingga dia
tidak mendengar sedikitpun langkah masuknya Dasa Laksana,
Dasa Laksana duduk bersila dibelakang pendekar wanita itu. Mendadak sontak, perhatian Dasa
Laksana bercabang. Telinganya yang tajam mendengar suara geduru telapak kaki kuda. Dia
tempelkan daun telinganya ke lantai marmer ruangan itu. Makin jelas!
Mata Dasa Laksana segera terbumbuk pada cambuk sakti yang ditaruh dilantai, diujung dengkul
Pita Loka. Segera dia samber cambuk itu. Dia menghambur meninggalkan ruangan itu, dan langsung keluar Biara! Konsentrasi Pita Loka secemilpun tak berubah! Dasa Laksana meredakan penduduk desa yang
mulai kacau balau. Mereka mulai menjerit ketakutan setelah mendengar suara teriak-teriak
pasukan penyerbu berkuda yang sudah diambang pintu desa.
Melihat senjata kayu bulat sejenis toya yang diacu-acukan pasukan berkuda itu, Dasa Laksana
tahu, ini adalah gerombolan pendekar setan yang dipimpin oleh Nyi Kembar! Pasti!
Pasukan itu tak berani melewati pintu gerbang setelah Dasa Laksana melecutkan cambuk sakti
ditangan kanannya. Asap mengepul. Dan Dasa Laksana mengancam: “Ini baru senjatanya yang
menghadang kalian. Belum lagi orangnya. Sebaiknya kalian pergi”.
“Bunuh dia!” teriak Nyi Kembar dari atas kudanya,
“Rebut senjatanya”.
Lima pendekar setan dengan tongkat bulat langsung meloncat mengepung Dasa Laksana. Dasa
Laksana menggunakan tangkisan-tangkisan, dan sekali-sekali melecut cambuk dan asap pun
mengepul. Namun dia kuwalahan.
DASA LAKSANA tambah terdesak. Dalam keadaan terdesak itu, satu sabetan toya dari atas kuda
tepat mengenai siku tangan kanan Dasa sehingga cambuk sakti itu terlepas. Begitu melihat
cambuk itu terlepas, Nyi Kembar meloncat dari punggung kuda, bagai terbang, menyambar
cambuk itu, Cambuk itu sudah berada di tangan Nyi Kembar sekarang. Ditangan kirinya kini
senjata toya! Ketika itulah Pita Loka tersentak dari semedhinya pula! Dasa Laksana mengamuk untuk merebut kembali cambuk itu. Satu tendangan kaki disertai pukulan toya tangan kiri Nyi Kembar, membuat
Dasa Laksana terpelanting dan berputar bagai gasing. Dia sempat memanfaatkan putarannya
untuk menerjang empat anak buah Nyi Kembar hingga keempat-empatnya menggelepar berpusing debu.
Tapi Nyi Kembar lalu berseru: “Cepat pergi dari sini! Senjata ini lebih utama dari nyawa Dasa
Laksana!” Ketika Nyi Kembar memutar kudanya untuk meninggalkan pintu gerbang Desa Tulus, sebanyak
23 orang anak buahnya yang selamat pun memutar haluan kudanya. Kuda-kuda itu meringkik
karena dipaksa putar haluan. Kaki-kaki depan kuda itu mencuat terangkat keatas.
Tiba-tiba ketika kuda siap dipacu dan komando akan diucapkan, terdengar bagai guntur suara
menghadang:
“Lewati dulu mayatku sebelum kalian kembali ke Bukit Kembar”.
“Ki Harwati„.l” Nyi Kembar berkata gugup. Nyi Kembar melecutkan cambuk sakti itu agar dia
dilindungi tabir asap. Tapi cambuk itu berbunyi bagai petir namun tidak mengeluarkan asap.
Dalam kegugupan itu Harwati menghambur ke udara dengan dua pedang Surandar berkilat.
Pedang itu memenggal leher satu demi satu anak buah Nyi Kembar. Kepala-kepala itu secara
fantastis bergelindingan ditanah disaput debu. Dan Nyi Kembar tambah kebingungan. Lebih
bingung lagi setelah dia mau menghindar pedang malahan jatuh dari kuda. Cambuk itu
dipecutnya lagi! Tapi asap tidak keluar.
Dia tak tahu, dipintu gerbang dengan tegak tegap Pita Loka mengirimkan arus dingin ke cambuk
miliknya agar asap tak muncul. Harwati cepat melompat jumpalitan seraya menebas satu demi
satu leher lawannya, dengan tebasan tangan kiri dan tangan kanan, Darah mancur dari-tiap leher
yang terpenggal. Nyi Kembar mendengar teriakan dari sisa anak buahnya yang menjadi panik:
“lbu…tolong saya!”
Nyi Kembar melihat anaknya yang remaja, dua orang, Putera Puteri Kembar dalam keadaan
gawat disiksa oleh Dasa Laksana dengan tendangan jurus gasingnya. Melihat anaknya kejepit
dan terancam gawat, Nyi Kembar menghambur ke udara seraya memecutkan cambuknya. Ketika
itu Harwati nrenetakkan dua mata pedang Surandarnya ke bumi, dan dia menyusul menghambur
di udara dan ketika itu pulalah dua tangan Nyi Kembar disabet oleh dua pedang Surandar itu,
pontong seketika! Cambuk sakti itu jatuh ke bumi, dan terciptalah asap tebal yang sebelumnya
didahului bunyi macam petir.
Kini Harwati harus bertempur dengan Nyi Kembar dalam gelap asap. Dia berhati-hati memasang
telinga. Disinilah terjadi puncak adu tajam rasa, Nyi Kembar dengan dua tangannya yang
buntung terpenggal, tentulah berusaha menyelamatkan diri.
Ketika tiba-tiba dia dengar: “Jangan lari!”, tau-tau Harwati sudah berdiri dihadapannya. Harwati
dengan geram diantara tabir asap berkata: “Kini giliranmu dibunuh setelah kamu puas
membunuh”, dan dengan dua kelebatan kilat pedang, kepala Nyi Kembar lepas dari lehernya,
lantas dia roboh…
“Jangan bunuh anak-anak remaja itu”, kata Harwati kepada Dasa Laksana yang siap mengayunkan dua gebrakan pukulan sisi lengan pada leher dua putera puteri remaja itu. “Pendekar yang membunuh remaja dikutuk Kerajaan Langit!” seru Harwati lagi. Lalu Harwati menuntun kuda dan menghampiri Putera Puteri Kembar, anak kandung Nyi Kembar dan Nyi Kembar.
Dua remaja itu naik ke punggung kuda itu. Lalu Harwati menyepak pantat kuda itu dan dua
remaja putera puteri itu pun hilang dalam kekaburan tirai asap yang belum sirna.
Tak ada lagi yang bersisa. Seluruhnya mati, kecuali dua remaja yang diperkenankan pergi itu. Dasa Laksana menghela nafas dalam-dalam. Dia mencari-cari cambuk yang tadi jatuh, Tetapi cambuk itu sudah ditangan Pita Loka yang masih berdiri tegak. Harwati menatap Pita Loka. Pita Loka pun menatap Harwati.
Harwati melakukan permainan dua pedang dengan bunyi gemerincing yang menimbulkan api. Tiba-tiba dia mendengar suara pekik Pita Loka: “Berhenti main silat gila itu!” MENDENGAR teriak itu, Harwati berhenti bermain pedang. Dia berdiri tegak dengan sikap berang. “Siapa kau sebenarnya yang berani-berani mencegah sukacitaku?” “Kesini kau!”
“Untuk apa?” tanya Harwati angkuh seraya mengadu dua pedangnya.
“Aku akan menyembuhkan sakit gilamu!” seru Pita Loka.
“Aku tidak butuh pertolonganmu! Aku lebih unggul dari kau!” Harwati menetakkan dua
pedangnya ke bumi, sehingga dia membal ke udara dan ingin mendarat di bahu Pita Loka. Pita
Loka cuma memutar badan sedikit agar tak terkena sentuhan kaki lawannya.
Mereka berhadapan dalam jarak dekat. Harwati melempar pandang menghina: “Mukamu buruk! Matamu buta satu!” Pita Loka tetap tenang seraya semakin mengatur nafas longgar, longgar, dan longgar. Hal ini dirasakan arusnya oleh Harwati, Sehingga dia seperti merasa terkena arus listrik dalam jarak dekat itu, maka dia menjauh dan menjauh, Dalam jarak lima meter dia memaki: “Ayoh serang aku dengan cambuk
asapmu itu!”
Pita Loka diam. Harwati tambah sesumbar berteriak:
“Ayohhhh!” Pita Loka tetap tegak berdiri. Dan Dasa Laksana, dalam keadaan ngeri, mulai
mengangsur langkah mendekati Pita Loka.
“Lelaki gagah! Kau tolol mencintai orang buta sebelah!” hina Harwati setelah melihat Dasa
Laksana berdiri didekat Pita Loka.
Harwati memperlihatkan permainan silat gila kembali. Dia menghambur ke udara, menebas
pucuk-pucuk pohon kelapa dengan pedangnya, mendarat ditanah dan menetakkan dua mata
pedangnya sehingga dia membal lagi, Pita Loka hanya berdiri tegak.
“Biarkan dia, Ki Pita Loka”, ujar Dasa Laksana.
“Kau tak punya belas kasihan. Kau cegahlah dia main gila terus begitu! Mana sifat ksatria
jantanmu, he murid ayahku?” tanya Pita Loka.
Dasa Laksana menjawab: “Kalau aku mencegahnya berarti aku kasihan padanya. Aku kuatir dia
mengira aku mencintainya!”
“Jadi siapa lagi yang bisa kau cintai, pendekar muda?” tanya Pita Loka.
“Saya hanya mencintai tuan”, ujar Dasa Laksana.
“Cis, aku benci mendengarnya”, lalu Pita Loka berbalik masuk gerbang menuju Kuil Putih.
Dasa Laksana terpengaruh oleh anjuran Pita Loka tadi. Dia jengkel melihat tingkah polah Harwati
yang tambah edan itu. Banyak pucuk pohon kepala menjadi gundul karena tebasan pedangnya.
“Berhentiiiii!” teriak Dasa Laksana. Dalam kegilaannya diudara itu, mendengar suara Dasa
Laksana menyuruhnya berhenti, Harwati melayang ke arah Dasa Laksana berdiri, lalu jatuh
ditanah dihadapannya!
Bukan jatuh. Tapi ambruk. Kehabisan tenaga. Dengan nafas terengah-engah Harwati berkata:
“Itulah sukacita yang kunantikan. Tolonglah aku! Gendonglah aku!”
“Kau bisa jalan!”
“Gendonglah aku! Beri aku minum! Aku Haus! Beri aku makan! Aku lapar. Kasihanilah aku!
Cintailah aku!”, suaranya serak. Keringatnya berleleran. Dasa Laksana menoleh pada tubuh yang
menggeletak diujung kakinya. Tampak Harwati mendongak minta dikasihani. Airmatanya
mengalir. Nafasnya sesak. Namun Dasa Laksana bertahan untuk tidak sudi menggendongnya.
“Pita Lokaaaaaa!” teriak Harwati serak. Namun suaranya tak terdengar. Pita Loka sudah kembali
bersila didepan tubuh Rama Yogi yang telentang diatas ranjang berukir dalam keadaan mati suri itu.
“Sampai hati kamu dua kali menyakiti hatiku, Pita Lokaaaa!” dia berteriak serak dihadapan Dasa
Laksana.
“Dua kali…”, suaranya tambah serak, nafasnya semakin sesak dan Dasa Laksana yang tetap
tegak tiba-tiba kaget melihat Harwati terjengkang menggeletak.
Dia dalam keadaan pingsan. Barulah Dasa Laksana menggendong pendekar gila yang pingsan
itu. Barulah dia bawa tubuh merana itu ke warung. Dan berkata pada pemilik warung: “Ini cincin
emasku. Sirami kepalanya dengan air dingin yang bersih. Kalau dia sadar, beri dia minum air
kendi lebih dulu. Kalau dia minta tuak, baru beri. Kemudian beri dia makan. Aku akan
menguburkan mayat-mayat itu!”
“Tuan pendekar lupa. Ini cincin tuan, karena kami lebih suka menolong daripada menodong,
Untuk itu tak perlu uang dan cincin emas”, ujar si pemilik warung. Dasa Laksana malu, minta
maaf, lalu mengubur mayat-mayat.
KETIKA Dasa Laksana selesai menguburkan mayat-mayat itu, dia kembali ke warung bersama
penduduk Desa Tulus yang membantunya. Didapatinya Harwati masih dalam keadaan pingsan.
Dia sendiri disuguhi minuman tuak bersama beberapa orang tadi.
Belum selesai dia minum tuak dua mangkok, Harwati sadarkan dirinya. Dia kelihatan begitu Ietih
dengan nada suara minta dikasihani: “Aku lapar dan aku haus. Beri aku makanan. Beri aku
minuman”.
Harwati duduk, dan seketika itu juga mangkok-mangkok batok yang belum diminum bahkan
yang bersisa milik orang lain dalam sekelebatan disamber oleh Harwati dan dia menegak
minuman itu semuanya, termasuk yang punya Dasa Laksana, sampai tetesan terakhir.
“Tak ada makanan?” tanya Harwati, “Aku lapar! Laparl” Lalu Harwati melihat dengan jelalatan
pemilik warung memindahkan nasi dari kukusan ke cembung nesi.
Dia tidak sabaran lagi. Dia langsung melompat dan merebut kukusan dan cembung nasi. Dan dia
sikat habis nasi yang dicembung maupun yang dikukusan.
“Kau telah membuat malu para pendekar”, kata Dasa Laksana.
“Aku?” Harwati keheranan.
“Mestinya kau bertindak sopan santun. Penduduk desa Tulus ini punya kehalusan budi”.
“Aku haus. Aku lapar. Kamu marah? Kamu tidak senang? Kalau tidak senang mari keluar dan
tunjukkan ilmumu!” suaranya lantang, menggentarkan.
“llmumu tinggi! Tapi kesopananmu rendah”, ujar Dasa Laksana.
“Itu karena anda sudah memiliki gadis manis perkasa Pita loka itu. Apa kurangku dari pendekar
buta itu, ha? Apa kurangku?” tantang Harwati.
“Bedanya dia memiliki sifat kewanitaan. Dan kau lebih jantan dari pendekar pria. Perbedaan
kecil, namun menentukan”, kata Dasa Laksana. Karena terhina begitu, Harwati anehnya bukan
marah kepada Dasa Laksana, tapi kejengkelannya larut lagi kepada Pita Loka.
Dia gebrak meja! Dia bentak penjaga warung: “Hai! Kamu jadi saksi! Panggil pendekar Pita Loka
sekarangjuga! Aku akan mengamuk!” Penjaga warung itu ketakutan. Harwati menggebrak meja
lagi! Penjaga warung makin menggigil.
Harwati membentak: “Mana dia! Mana dia, kataku! Kamu tidak melihat dia, ha? Kamu mau
menyembunyikan dia? Apa kamu akan saya tebas dengan pedang ini, ha?”
Harwati mengacukan pedangnya. Karena orang itu semakin ketakutan, seakan-akan
menyembunyikan sesuatu, Harwati menempelkan pedang itu ke leher penjaga warung itu:
“Ayoh, katakan dimana dia!”
“Dia….dia…di Kuil Putih!” kata orang itu dengan napas sesak.
“O, disana dia ya?” kata Harwati dengan senyum sinis.
Lirikan matanya yang liar itu kemudian menatapi seorang demi seorang yang ketakutan di
warung itu, termasuk Dasa Laksana. Dasa Laksana bukannya takut pada Harwati. Tapi dia kuatir
kalau pedang itu menggesek leher orang itu si leher bisa putus!
“Sabarlah!” kata Dasa Laksana.
“Apa? Sabar? Kamu kuatir aku akan menebas leher kekasihmu itu, ha?” bentak Harwati dengan
nada beringas.
“Kau sudah merupakan pendekar besar. Tak ada yang mengalahkanmu di kawasan manapun.
Kau sudah habisi pula nyawa pendekar Nyi Kembar”, kata Dasa sengaja meneduhkan suasana.
“Memang nyawa Nyi Kembar sudah aku habisi. Kini nyawa Pita Loka yang perlu aku habisi”, kata
Harwati garang.
Dia gebrak meja itu lagi, sehingga mangkok-mangkok jadi buyar. Dia bersuara lantang: “Ayoh,
panggil pendekar buta Pita Loka sekarang juga! Aku sudah haus darah!Akan aku habisi
nyawanya!”
Justru ketika suara lantang itu menggema, Pita Loka sedang lewat tak jauh dari warung itu,
barusan keluar dari Biara Putih.
Langkahnya terhenti. Dan dia dengar lagi suara lantang dari warung itu: “Panggil Pita Loka
sekarang, kalau tidak leher kalian akan aku tebas!”
Pita Loka dengan nada agung menjawab: “Akulah Pita Loka”. Harwati meloncat keluar dari
warung dengan dua pedang ditangan kiri dan kanan. Dia adu dua mata pedang itu dan
bersesumbar:
“Aku akan habisi nyawamu, Pita Loka!”
“Jangan terburu nafsu!”
“Aku kini amat bernafsu!” Pita Loka tenang. Harwati maju beberapa langkah. Penduduk desa
bukannya menonton, tapi bertarian masuk rumah dan mengunci pintu,
PITA LOKA menjaga jarak. Dia berdiri tegak seakan-akan tidak akan melawan. Tetapi dengan
tenaga dalamnya, Pita Loka membakar pemafasannya dengan perlahan, lalu melalui kedua liang
hidungnya dia kirim arus api suci sampai jarak tempat berdirinya Harwati, Harwati merasakan
arus panas itu. Dia mundur selangkah, tetapi tetap menggertak dengan dua pedang
Surandarnya. Bunyi gerincing pedang memekakkan telinga ketika dua pedang itu diadu secara
mahir dan cepat.
“Ayo maju kau, bajingan!” teriak Harwati.
“Sebaiknya kau yang maju karena kau yang menantang!” Harwati jadi panas hati. Dia mainkan
pedangnya lagi, lalu dengan cekatan dia hantamkan mata pedangnya ke bumi dan memballah
dia ke udara dengan suara teriakan dahsyat.
Tetapi Pita Loka cuma mengikuti tubuh perkasa yang ke udara itu dengan saluran arus api
sucinya, sehingga ketika Harwati terjun dia berteriak: “Aduhhhhl” lalu mengalihkan loncatannya
mundur ke belakang. Tapi tanpa dia ketahui sebagian dari bajunya sudah terkena api. Lalu dia
berlompatan kesakitan kian kemari sampai api yang membakar pakaiannya itu padam.
la belum puas. la maju beberapa langkah.
Pita Loka menyiapkan cambuknya. Kali ini dia menghentikan saluran arus api sucinya. Dia biarkan
sampai Harwati mendekat sampai pada jarak lima meter, baru dia sabet cambuknya yang
seketika mengeluarkan asap. Agaknya sikapnya ini tidak ingin adu kekuatan secara langsung. Dia
sepertinya tahu kelebihan ilmunya serta kelemahan ilmu Harwati. Mungkin dalam diri pendekar
ini ada sikap kasihan oleh ketinggian budinya. Harwati seperti mencari-cari diantara gumpalan
asap itu dimana lawannya. Lalu dia kesal dan melakukan amukan pedangnya secara membabi
buta. Pita Loka cuma berpindah-pindah tempat sedikit-sedikit saja. Tapi pada satu saat secara
mendadak wajah Pita Loka sudah berhadapan dengan wajah Harwati dalam beberapa inci saja.
Harwati melotot kaget. Pita Loka kini perlahan mengirim arus api suci, sampai Harwati berteriak
lalu menetakkan dua pedang ke bumi dan tubuhnya membal ke udara, dan pemandangan
sekeliling gelap karena muka merasa terbakar, sampai kemudian dia ambruk diatas bubungan
atap kuil putih dan berguling-gulingan diatap kuil itu kian kemari seraya menjerit-jerit. Pita Loka
cepat melompat keatas bubungan. Dia usap muka Harwati seketika itu juga, sampai kemudian
Harwati merasa kehilangan rasa sakitnya. Laki membuka mata. Tapi begitu matanya dia buka,
dia yang mengira Dasa Laksana yang membelai mukanya tadi lalu melihat Pita Loka. Dua
pedangnya dia ayunkan, tertangkis oleh cambuk yang mengeluarkan asap, dan Pita Loka sudah
jatuh dipermukaan tanah dengan lompatan mundur.
Memang bagi Pita Loka, sabetan pedang tadi merupakan kejutan. Hingga ketika dia jatuh dibumi
betul-betul dia kurang menguasai diri dan posisinya tidak menguntungkan ketika itu untuk segera
bangun. Padahal Harwati dengan buas sudah melompat ke bawah dengan acuan pedang
Surandar kiri kanan untuk memenggal leher Pita Loka. Tapi reaksi Pita Loka justru menjelang
lehernya terkena pedang sudah menelungkup sehingga punggungnya yang terkena. Ketika itulah
Pita Loka mengaum dahsyat bagai auman harimau. Tapi cuma aumannya saja yang berbunyi
bagai aum harimau. Pita Loka sudah berdiri tapi dia membuang cambuknya ke samping. Jari-jari
tangannya mulai mempersiapkan satu jurus harimau siap menerkam. Kemudian dia melingkari
langkah bagai harimau siap mengepung musuh. Harwati kebingungan dengan dua pedangnya.
Sehingga ketika dia kebingungan itu, Pita Loka sudah menghambur menerkam bahu Harwati,
dua-duanya, yang…menyebabkan Harwati pun mendadak mengaum dahsyat dengan suara
auman harimau pula. Pedang Surandar dua-duanya entah kemana. Dia tidak menyadari diri lagi
bahwa dia melayani permainan silat Pita Loka sebagai seekor harimau pula. Keduanya sama-
sama mengaum dan bergumulan. Keduanya kadang saling terlepas satu dengan lainnya.
Keduanya saling melangkah dalam jurus permainan yang hampir mirip. Yaitu lingkaran jurus
jarum jam, yang putarannya satu sama lain berlawanan arah.
Penduduk Desa Tulus yang kecut cuma dapat mengintip keheranan. Tapi Dasa Laksana malah
tegang lalu keluar warung dan berteriak: “Jangan teruskan pertempuran! Kalian berdua satu
gurul”
Tetapi agaknva dua pendekar itu sudah berkonsentrasi penuh, hingga tak mendengar suara
cegahan Dasa Laksana.
Dua pendekar dengan silat jurus harimau itupun sama berhati-hati. Tetapi bagai dua jarum jam
yang bertentangan arah itupun pada akhirnya sama ketemu arah dan dua-duanya melompat
dengan auman sama saling bertubrukan tubuh tetapi cakar yang satu tak mengenai cakar yang
lain karena sudah terlempar kebelakang waktu bertubrukan tubuh…
PERTARUNGAN tanpa senjata itu berlangsung terus hingga matahari terbenam. Tenaga yang
betapapun ampuhnya selama berjam-jam itu sudah terkuras. Sampai ketika hujan deras turun,
kedua pendekar itu masih saja bertarung laksana dua ekor harimau lapar.
Ketika Harwati terhuyung-huyung man melompati Pita Loka, dia terpeleset. Kesempatan ini mau
digunakan oleh Pita Loka untuk menerkamnya. Tapi dia sendiri pun terpeleset. Gerak Harwati
untuk bangkit mulai lamban. Juga gerak Pita Loka ketika akan bangkit kelihatan lamban.
Keduanya saling maju untuk bersiap mencakar. Tetapi dua-duanya jatuh terpeleset dalam detik
yang bersamaan.
Lalu dua-duanya jatuh tertelungkup. Dan sama-sama tak bergerak lagi. Dua-duanya diguyur oleh
hujan yang semakin deras membasahi bumi desa Tulus.
Ternyata. hujan bukan hanya membasahi desa Tulus, Seluruh bumi kawasan tujuh bukit
persilatan diguyur hujan lebat. Juga di Lembah Tujuh Bidadari hujan semakin deras disaat malam
akan tiba itu. Ketika itu. Guru Gumara yang sedang melatih enam remaja buntung tangan,
terpaksa berteriak: “Latihan selesail”
“Semua masuk ke guha asrama”, ujar Guru Gumara lagi.
Anak-anak remaja buntung itu berlarian memasuki guha asrama itu. Sedangkan Guru Gumara
memasuki guha yang khusus untuknya sendiri.
Dalam basah kuyup. Guru Gumara melanjutkan membuat tikar pandannya, yang sudah jadi
separoh. Anak-anak di guha asrama pun menjalin tikar pandannya.
Gumara lelah melatih, lalu menggeletakkan tubuhnya di bagian tikar yang sudah dia anyam.
Ternyata menjelang tidur dia mengulangi bisikan batinnya: “Wahai Guru,masih kotorkah diriku
ini? Kenapa aku tidak diberi tamsil mimpi itu? Hanya perasaan firasat saja yang aku dapati.
bahwa adik tiriku Harwati mungkin sedang bertarung dengan gadis yang aku kasihi, Pita Loka!
Atau hatiku yang masih gelap?”
Matanya sambil menggeletak itu menatap pelita kecil yang nyalanya tetap bagai tak bergerak.
Bertepatan dengan padamnya pelita itu, mata Gumara tertutup. Dia sudah hanyut oleh tidur
pulas. Dalam tidur itu Guru Gumara seperti merasakan hujan lebat yang belum berhenti.
Memang dia melihat satu desa yang apik bersih, Sepertinya desa Tulus di kawasan Kuil Putih.
Mimpi menggambarkan dua pendekar yang semakin lama semakin tegas dilihatnya mandi kuyup
disirami hujan lebat. Dua-duanya makin tegas, bahwa itu adalah Pita Loka dan Harwati. Mereka
sedang mencari senjata masing-masing. Bagi Gumara di mimpi ini sudah jelas, yang pertama
menemukan senjata dua pedangnya sudahlah pasti Harwati. Juga yang kemudian menemukan
cambuknya, adalah Pita Loka. Anehnya, mereka berdua seperti akan berduel!
Berhadapan dalam jarak sekitar enam meter, kelihatannya mereka berdua muncul dengan
tenaga baru. Secara serentak pula, dua-duanya langsung memulai senjatanya. Baik Pita Loka
maupun Harwati. Harwati mengadu pedang serentak disertai bunyi petir, dan Pita Loka
melecutkan pecut serentak bunyi petir pula, dan asap mengepul.
Dan dua-duanya keheranan, serentak oleh susulan bunyi pedang cambuk, senjata-sentala
mereka sudah lepas dari tangan mereka, berganti oleh suara mereka yang sama mengaum dan
serentak menghambur dengan cakaran.
Guru Gumara terjaga dari mimpinya karena mendengar ada benda jatuh. Dia mengusap-usap
kelopak matanya, karena tak jauh dan tikar anyamannya itu tampak dua pedang dan di dekatnya
sebuah cambuk.
“O, Guru. Kalbuku kini sudah bersih!” dia gembira sekali karena mimpi itu langsung bertamsil.
Hampir saja dia samber pedang-pedang Surandar dan cambuk asap sakti itu. Tak jadi. Karena
mendengar suara wisik: “Jangan sentuh. Dua pedang itu untuk muridmu Caruk Putih dan Agung
Kifli. Dan satu cambuk itu untuk remaia pendiamyang bernama Abang Ijo.”
“Lalu apa selanjutnya?” tanya Gumara.
“Latihlah tiga muridmu itu secara khusus. Kelihatannya, pertempuran antara Pita Loka dan
Harwati ini tidak akan habis-habisnya. Tapi sejak ini, engkau sendiri tidak diperkenankan
melibatkan diri dalam pertarungan itu. Sebab jika engkau terlibat, salah satu diantara mereka
akan menemui kematian, atau dua-duanya hancur lebur”, demikian ujar wisik itu.
“Tapi saya melatih Enam Pendekar Buntung ini untuk mendamaikan mereka atau menumpas
salah satu dari mereka. Nama pendekar Harimau Yang Tujuh akan tercemar gara-gara ulah
mereka”, kata Guru Gumara. “Jangan membantah. Dan patuhi perintah”, ujar sang wisik.
“Boleh aku tahu, apa yang diperbuat dua pendekar keras kepala itu di Desa Tulus sekarang?”
tanya Guru Gumara.
“Lanjutan dari mimpimu itu”, ujar bisikan itu.
DAN memang penduduk Desa Tulus sedang menyaksikan pertarungan hari, ke-2. Bekas becek
hujan semalam sepertinya ditakdirkan untuk membuat dua pendekar berhati-hati dan tidak layak
terburu nafsu. Tiba-tiba, kendati dengan sebelah mata, Pita Loka melihat adanya bekas cakaran
pada punggung Harwati sewaktu Harwati mendapatkan jurus harimau balik menerkam.
“Punggungmu luka menganga, Harwati!” ujar Pita Loka. “Aku tak peduli”, kata Harwati geram.
“Itu akan membuat kamu mati perlahan-lahan!” “Persetan! Ayoh, mari kita lanjutkan dan kamulah yang akan mati! Bukan aku, tapi kamu, kamu, kamu!”, dengan serta merta dia menggeram dan mengibaskan Jurus harimau menampar dengan ekor. Yang menampar muka Pita Loka adalah kaki Harwati sehingga Pita Loka terpelantingdan bergulingan di lumpur… yang sekejap tampak oleh Harwati. Ketika Pita Loka akan mencoba berdiri, Harwati menggeledek ketawa: “Kamupun terkena cakaran dipunggungmu!” Pita Loka terdongak kaget. Kini dia mSnyadari, bahwa tidak ada kelebihan dan ketinggian ilmunya terhadap Harwati.
“Luka ini berbahaya, bagi kamu maupun bagi saya”, ujar Pita Loka. “Aku kehilangan pedang-pedangku!”, ujar Harwati. … “Aku bahkan kehilangan cambuk saktiku!” Tiba-tiba saja Harwati menyadari bahwa percakapan itu tidak berguna.
“Kita berdua bisa sama-sama mati”, kata Pita Loka memperingatkan.
“Tidak perduli! Aku tetap akan menghabisi nyawamu terlebih dulu!” suara Harwati lantang,
menyintakkan Dasa Laksana yang masih mengikuti buntut pertarungan yang ternyata belum juga
berakhir.
“Aku tetap akan mengamuk seperti macan tutul yang terluka”, teriaknya lagi lalu menghambur
menyerang Pita Loka dengan jurus serangan macan tutul dan ditangkis oleh Pita Loka dengan
aum harimau yang membalikkan tubuh dan menangkis dengan kibasan ekor, yaitu kaki kirinya.
Tubuh itu berputar dalam posisi berdiri di tanah yang licin, dan “ekor” yang mengibas itu
menangkis serangan Jurus macan tutul Harwati.
“Kini aku bukan macan tutul lagi. Akulah pewaris harimau Kumayan, ilmu ayahku yang syah!”
dan dia mengaum menghambur menerkam dada Pita Loka, tetapi Pita Loka cukup kokoh kakinya
terbenam dilumpur, dan dia menerima terkaman jari pita Loka dengan jarinya pula. Telapak-
telapak tangan kini beradu kuat. Jurus ini adalah Jurus tenaga dalam harimau tua, yang
kebetulan mereka sama-sama menemukan jurus ini secara tidak sengaja. Kekuatan jurus telapak
dan jari beradu begini tergantung dari pernafasan. Ketika Pita Loka mencoba mengirimkan arus
api sucinya lewat kedua lubang hidungnya, arus itu memang keluar dengan dahsyat, dalam jarak
dekat, namun… tidak membakar rambut atau wajah Harwati.
Melihat hal itu Pita Loka ingin mendengar wisik sang Guru. Tetapi lalu dia ingat, bahwa dia sudah
dilepas Ki Ca Hya untuk menemukan bentuk ilmunya sendiri. Ilmu itu hanya ditemukan sendiri
lewat pengembaraan yang penuh tantangan. Seorang pendekar harus sering terlibat dalam
berbagai pertarungan secara kongkret untuk mendapatkan jurus-jurus penemuan. Harwati mengaum dengan tekanan tenaga dalam sembari menjaga keseimbangan agar tubuh tidak jatuh di dasar telapak kaki bertanah licin. Pita Loka memperkuat jari-jarinya yang meremas jari-jar Pita Loka sembari menjaga posisi berdiri agar telapak kaki terbenam baik dalam pemukaan tanah.
“Kau jahanam!” gerutu Harwati.
“Kau edan”, sahut Pita Loka dengan gerutu pula.
“Kau buta sebelah. Kau gadis cacat!”
“Betapapun hebat kita, kita berdua terancam bahaya maut. Luka kita sama menganga di
punggung. Kau tentu letih dan lapar dan haus”, kata Pita Loka. Harwati tiba-tiba merasa lapar dan haus. Memang itu betul dan mulai terasa menjalari tubuhnya. Ketika konsentrasinya terbelah dua itulah, dengan kekuatan remasan dan tenaga dalam serta posisi berdirinya yang mantap, dia banting tubuh Harwati hingga terjungkal ke tanah sedangkan dia sendiri ikut terbanting ke tanah masih dalam cengkeraman Harwati, tapi lepas oleh bantuan licinnya lumpur.
Harwati menggelepar. Pita Loka meninggalkan Harwati buru-buru untuk memasuki kuil putih.
Seluruh tubuhnya merasa seperti terbakar api. Dia memasuki ruang dimana Rama Yogi terbaring
mati suri. Tetapi dia ingat sebuah botol yang berisi minyak tulang punggung harimau milik Raya
Rama Yogi untuk mengobati luka terkena taring harimau dan cakaran harimau yang sesungguhnya berbisa. Pelayan botak dipanggilnya: “Mari kau, Sakuntala!” Si remaja botak mendekatinya dan bertanya: “Apa saya bisa membantu?” “Polesi luka dipunggungku dengan minyak ini”, ujar Pita Loka. Remaja botak Sakuntala memoles luka di punggung Pita Loka, lantas bertanya pada Sakuntala: “Berapa lama kami berdua
bertarung, anak muda?”
“Sepuluh malam sembilan hari”, kata Sakuntala, “Kami penduduk sini menghitungnya”.
“Ha?” Pita Loka tidak percaya, sebab dia cuma merasa dua hari dua malam saja.
“Sepuluh malam sembilan hari”, kata Sakuntala botak lagi. Pita Loka tersenyum.
“Tanpa dipoles minyak punggung harimau ini, berapa lama seorang yang terluka oleh cakaran
harimau atau kena gigit taringnya?”
“Pendekar lebih tahu”, ujar Sakuntala.
“Saya bukan pura-pura tidak tahu. Kamu tentu lebih tahu”.
“Yang terkena bisa cakar dan taring harimau biasanya cuma bisa bertahan empatpuluh hari saja.
Saya rasa penderitaan anda sudah 9 hari”.
“Kalau begitu, daya tahan pendekar Harwati cuma mampu 31 hari lagi. Saya kasihan dia akan
mati dalam kegilaan. Semua cita-citanya tidak tercapai. Sedangkan saya harus melanjutkan
petualangan untuk meningkatkan ilmu saya. Sebentar lagi saya akan pergi”, kata Pita Loka.
“Ah sayang. Rama Yogi belum lagi sadar dari mati surinya, tuan pendekar akan meninggalkan
kami. Kami tentu akan diganggu lagi oleh pendekar edan itu setelah dia sadarkan diril”
“Obati luka punggungnya itu dengan minyak ini”, ujar Pita Loka.
“Obati? Setelah dia sembuh dia akan bunuh kamil” kata remaja botak.
“Kalau begitu, budimu belum begitu tinggi”, ujar Pita Loka, kemudian dia duduk bersila
dihadapan ranjang tempat berbaringnya Rama Yogi.
“Engkau memang teladan kesabaran dan kebaikan, Rama. Engkau masih lama akan beristirahat”,
kata Pita Loka.
Sakuntala botak, yang mendengar ucapan itu lalu mencu curkan airmata. Dia masih mengharap
dengan ucapannya yang menggigilkan rasa haru: “Tuan pendekar akan meninggalkan kami.
Kenapa tuan pergi?”
“Aku akan mencari permata hiiau Raja Solaimanku yang hilang. Cuma itu yang dapat
menyembuhkan edannya Harwati. Tapi andaikata dalam 31 hari ini permata itu tidak didapatkan,
dia akan mati”, kata Pita Loka berlalu.
Rupanya, percakapan itu didengar dan dilihat oleh Guru Gumara, kendati dalam jarak jauh antara
Desa Tulus dengan Lembah Tujuh Bidadari. Seketika itu juga dia terkejut. Dia ingat, wisik yang
didengarnya sepuluh hari yang lalu. Bahwa pertarungan antara Pita Loka dan Harwati akan
membawa korban: Salah satu mati, atau dua-duanya!
Guru Gumara lupa, bahwa dia tak boleh ikut campur. Dia lupa itu! Lalu dia berseru: “Hai para
pendekar buntung!Kalian perlu mendengar wejanganku.”
Enam pendekar remaja yang setiap orangnya bertangan satu itu, berkumpul dihadapan Sang
Guru. Lalu Sang Guru memberi wejangan: “Baru saja aku menerima wangsit, bahwa
saudara.tiriku Ki Harwati sedang dalam keadaan bahaya. Dia baru saja bertarung dengan Pita
Loka. Pita Loka sudah mendapat kesembuhan diobati oleh minyak punggung harimau. Dia sudah
berlalu dari sana, meninggalkan Harwati yang luka-luka dan diancam maut datam 31 hari ini. Jadi
sekarang ini aku putuskan: Kalian akan kulatih siang malam selama 21 hari. Kita harus
mengamankan Harwati dari bahaya maut, sebab aku dititipkan ayahku agar menjaga Harwati
setelah beliau wafat. Amanat ini adalah bagian dari ilmuku, pendekar muda! Ayoh kita mulai
mendalami latihan sekarang.” Lalu muncul beberapa orang berkuda. Mereka menyapa anak-anak remaja yang sedang berlatih. Pemimpin mereka menanyakan Guru Gumara. Guru Gumara sedang bersemedi “Kalau begitu
kami tinggalkan tujuh ekor kuda ini untuk kalian. Sebagai terima kasih dari Pedukuhan Bidadari
atas bantuan kalian yang lalu”, ujar pemimpin mereka seraya meninggalkan tujuh ekor kuda itu.
Dan pamitan.
Gumara masih mengadakan kontak wangsit melihat keadaan Desa Tulus. Dia melihat Harwati Grafity,
bangkit. Lalu mengamuk bagai harimau lapar. Dia masuk menerjang pintu setiap rumah lalu
makan dan minum dengan edan. Tubuhnya merasa panas kena bisa cakaran kuku harimau Pita
Loka dalam pertarungan sepuluh malam sembilan hari itu. Dia berteriak: “Mana Pita Loka!
Jangan kalian sembunyikan! Aku akan membunuhnya dengan cakaran! Panas! Panas!”, dan dia
mengamuk terus dengan liar di desa Tulus itu. Penduduk mengkirik ketakutan. Mereka berharap Ketua mereka, Rama Yogi, segera sadarkan dirinya dari mati surinya. Mereka ngeri melihat Pendekar Edan Harwati yang mengobrak-abrik desanya dan berteriak: “Panas! Tubuhku panas! Mana Pita Loka! Aku akan koyak perutnya dengan cakaran kukuku ini!”
TAMAT
http://admingroup.vndv.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s