Refleksi Pembelajaran

Refleksi Pembelajaran

  1. Konsep Refleksi dalam Pembelajaran

Sesuai dengan yang diisyaratkan dalam Permendiknas No. 16 Tahun2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik, bahwapendidik harus melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam hal ini merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dilakukan oleh pendidik. Pendidik dituntut untuk melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan di kelas, dan memanfaatkan hasil refleksi tersebut untuk perbaikan dan pengembangan pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampu. Refleksi adalah kegiatan penilaian dalam berbagai bentuk yang dilakukan oleh peserta didik terhadap proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan oleh pendidik dengan maksud untuk memperbaiki proses belajar yang dilaksanakan oleh pendidik pada waktu yang akan datang. Definisi menurut Reid, 1995 “Reflection is a process of reviewing an experience of practice in order to describe, analyse, evaluate and so inform learning about practice”. Konsep tersebut dapat diartikan, bahwa refleksi adalah sebuah proses mereviu pengalaman dengan cara mendeskripsikan, menganalisis, mengevaluasi pembembelajaran yang telah dilakukan. Hanifah (1999) berpendapat, bahwa refleksi adalah “Proses merenung, menganalisis, mencari alasan, membuat cadangan dan tindakan untuk memperbaiki diri yang dilakukan secara berterusan.Refleksi kritikal menitikberatkan penerokaan domain afektif, kerohanian dan pemikiran rasional oleh seseorang dalam tindakannya untuk mencari kebenaran terhadap tindakannya bagi tujuan memperbaiki diri dan persekitaran”.

Konsep refleksi tidak lain sebagai metode pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya. (Chruickshark, 1987) Guru dapat merefleksi tentang metode atau model pembelajaran yangsudah digunakan, bahkan dapat juga merefleksi materi ajar yang disampaikan.Refleksi dapat juga dilakukan guru pada saat kegiatan pembelajaran akan breakhir atau pada kegiatan penutup.Kegiatan yang harus dilakukan setelah pembelajaran adalah melakukan refleksi. Tahap ini diperlukan untuk memperoleh gambaran tingkat keberhasilan rencana pembelajaran yang tertuang dalam Rencana Pelaksnaan Pembelajaran.Hasil refleksi akan menentukan langkah selanjutnya yang diperlukan dalam pembelajaran. Untuk dapat melakukan refleksi, guru peserta harus memiliki data yang telah dianalisis dan diinterpretasikan. Selain itu, guru peserta harus memahami betul tentang keterkaitan antara permasalahan, tujuan yang ingin dicapai, rencana tindakan yang telah disusun dan dilaksanakan, serta situasi dan kondisi saat tindakan dalam pembelajaran dilaksanakan.

Refleksi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk melihat kembali apakah pembelajaran yang dilaksanakan telah sesuai dengan yang kita rencanakan. Pada dasarnya refleksi merupakan kegiatan analisis-sintesis, interpretasi, dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan pembelajaran. Data atau informasi yang terkumpul perlu dianalisis, dicari kaitan antara yang satu dengan yang lainnya, dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya atau dengan standar tertentu, untuk mengevaluasi keberhasilan pembelajaran yang dilakukan. Jika pembelajaran belum berhasil sebagaimana yang diharapkan, maka kita perlu menindaklanjuti dengan melakukan analisis untuk mencari penyebab ketidakberhasilan pembelajaran. Setelah menemukan akar permasalahan yang menjadi penyebab belum berhasilnya pembelajaran, maka langkah selanjutnya membuat rencana perbaikan pembelajaran untuk menghilangkan akar permasalahan tersebut pada pertemuan berikutnya. Saat itulah, guru peserta dapat merencanakan untuk melakukan penelitian tindakan kelas.Tentu harus didukung dengan data-data yang lengkap. Tahap refleksi bukan merupakan tahap yang mudah bagi guru, khususnya guru peserta yang belum terbiasa melakukan refleksi. Pada tahap ini diperlukan kemampuan untuk berpikir analitik secara kritis, terhadap semua data, fakta dan fenomena yang terjadi, kemudian menghubungkannya dengan rumusan, tujuan, serta rencana tindakan sebagai alternatif solusinya. Artinya, diperlukan upaya merenung dan berpikir secara serius dan mendalam, dengan mengingat tentang berbagai konsep, prinsip, pengalaman praktis yang terkait dengan pembelajaran yang telah dipertimbangkan dalam menyusun rencana tindakan. Hasil refleksi diungkapkan dalam bentuk narasi ilmiah.

 Prinsip Refleksi dalam Pembelajaran

Kegiatan refleksi merupakan kegiatan terakhir dari pelaksanaan pembelajaran. Pada kegiatan inilah guru akan dapat mengetahui berhasil tidaknya rencana pelaksanaan pembelajaran. Pada kegiatan refleksi ini pula guru dapat menentukan tindak lanjut yang harus dilakukan, yakni menyiapkan PTK, pengayaan atau perbaikan (remedial). Jika ternyata pembelajaran yang dilakukan belum berhasil optimal, guru peserta bias merencanakan PTK atau remedial. Oleh karena itu, para guru peserta harus mempunyai pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam merefleksi serta memilih tindak lanjut yang tepat.

Refleksi terhadap pembelajaran mutlak harus dilakukan oleh pendidik untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan meningkatkan kinerjanya sendiri. Refleksi pembelajaran dapat dilakukan secara mandiri maupun kolaborasi dengan teman yang mengampu mata pelajaran yang sejenis. Refleksi pembelajaran sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut, yakni: (1) Ada kesadaran bersama pendidik dan peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (2) Penilaian oleh peserta didik dilakukan dengan sangat kritis; (3) Penilaian dilaksanakan sejak awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran; (4) Hasil penilaian oleh peserta didik dijadikan masukan oleh pendidik untuk perbaikan pembelajaran.

  1. Tujuan dan Sasaran Refleksi dalam Pembelajaran

Tujuan dilakukan refleksi pembelajaran bagi pendidik antara lain: (1) Untuk menganalisis tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik; (2) Untuk melakukan evaluasi diri terhadap proses belajar yang telah dilakukan; (3) untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan; (4) untuk merancang upaya optimalisasi proses dan hasil belajar, (5) Untuk memperbaiki dan mengembangkan pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Refleksi pembelajaran penting dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi positif tentang bagaimana cara pendidik meningkatkan kualitas pembelajarannya sekaligus sebagai bahan observasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran itu tercapai. Selain itu refleksi terhadap pembelajaran bermanfaat bagi peserta didik yakni, untuk mencapai kepuasaan diri peserta didik memperoleh wadah yang tepat dalam menjalin komunikasi positif dengan pendidik.

  1. Teknik-teknik Refleksi dalam Pembelajaran

Untuk mengetahui keberhasilan belajar peserta didik, baik selama maupun setelah peserta didik mengikuti pembelajaran tertentu dapat dilihat melalui pengamatan keaktifan peserta didik dalam bekerjasama atau wawancara tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Sebelum melakukan wawancara atau pengamatan, sebagai pendidik kita perlu menetapkan kriteria seperti: sangat kurang, kurang, cukup, baik, sangat baik, atau kurang aktif, cukup aktif, aktif, atau sangat aktif. Langkah selanjutnya yaitu memberikan penjelasan tetang hasil wawancara atau pengamatan, misalnya mengapa peserta didik kita memberikan peserta didik kita memberikan respon negatif atas pelaksanaan pembelajaran yang kita lakukan, mengapa proses belajar peserta didik tidak sesuai dengan harapan, demikian pula mengapa hasil belajar peserta didik justru semakin menurun dari periode sebelumnya. Setelah langkah tersebut diatas pendidik perlu memberikan kesimpulan. Adapun teknik lain yang dapat dilakukan untuk merefleksi terhadap pembelajaran adalah melalui jurnal, buku harian, angket, dan pengamatan terhadap proses belajar mengajar. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan untuk refleksi diri guna menemukan masalah:

  1. Apakah kompetensi awal peserta didik untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai?
  2. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
  3. Apakah peserta didik cukup aktif dalam mengikuti pembelajaran?
  4. Apakah sarana/prasana pembelajaran cukup memadai?
  5. Apakah pemerolehan hasil pembelajaran cukup tinggi?
  6. Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
  7. Apakah ada unsur inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran?
  8. Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran inovatif tertentu?
  1. Penyusunan Instrumen Refleksi Pembelajaran

Instrumen adalah alat untuk merekam informasi yang akan dikumpulkan.Instrumen observasi digunakan berdasarkan teknik yang dilakukan.Berikut ini jenis instrumen yang dapat dikembangkan untuk kegiatan refleksi pembelajaran.

  1. Lembar Observasi

Lembar observasi adalah hasil pencatatan terhadap pengamatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematis. Instrumen observasi yang berupa pedoman pengamatan biasa digunakan dalam observasi sistematis, di mana observer bekerja sesuai dengan pedoman yang telah dibuat.

  1. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara (interview guide) adalah acuan percakapan yang dilaksanakan untuk memperoleh informasi dari responden. Secara minimal pedoman tersebut memuat rambu-rambu pertanyaan yang akan ditanyakan pada responden.

  1. Lembar Telaah Dokumen

Lembar telaah dokumen adalah instrumen yang yang digunakan untuk mengolah dokumen-dokumen yang dimiliki. Bentuk instrument dokumentasi terdiri atas dua macam yaitu pedoman dekomentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya, dan check list yang memuat daftar variabel yang akan dikumpulan datanya. Perbedaan antara kedua bentuk instrumen ini terletak pada intensitas gejala yang diteliti.

  1. Angket atau Kuisioner

Refleksi kegiatan pembelajaran dapat menggunakan metode angket atau kuisioner. Pada kegiatan ini, digunakan instrumen sesuai dengan nama metodenya. Bentuk lembaran angket dapat berupa sejumlah pertanyaan tertulis, tujuannya untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang dialami dan diketahui oleh peserta didik. Bentuk kuisioner yang dibuat sebagai instrumen dapat berupa:

  • Kuisioner terbuka, responden bebas menjawab dengan kalimatnya sendiri, bentuknya sama dengan kuisioner isian.
  • Kuisioner tertutup, responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan, bentuknya sama dengan kuisioner pilihan ganda.
  • Kuisioner langsung, responden menjawab pertanyaan seputar dirinya.
  • Kuisioner tidak langsung, responden menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan orang lain.
  • Check list, yaitu daftra isian yang bersifat tertutup, responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom jawaban yang tersedia.
  • Skala bertingkat, jawaban responden dilengkapi dengan pernyataan bertingkat, biasanya menunjukkan skala sikap yang mencakup rentang dari sangat setuju sampai sangat tidak setujua terhadap pertanyataannya.

Pada saat meyusun kuisioner, perlu ditimbangkan jumlah pertanyaan yang akan diajukan. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menanyakan hal yang tidak perlu, yang tidak akan diolah dalam penelitian.

  1. Aktivitas Pembelajaran
  2. Pendahuluan

Silakan Anda pahami tujuan, kompetensi, dan indikator pencapaian kompetensi pada kegiatan pembelajaran ini supaya pembelajaran lebih terarah dan terukur.

  1. Curah Pendapat

Pada kegiatan ini Anda diminta untuk menyebutkan berbagai masalah yang dihadapi dalam pembelajaran, khususnya pada saat refleksi.  Sebagai langkah awal dan agar kegiatan curah pendapat berjalan dengan baik, Anda dapat mengisi pertanyaan berikut ini

  • Perlukah guru bahasa Indonesia melakukan refleksi? Mengapa?
  • Pernahkah Ibu/Bapak melaksanakan refleksi? Apa tujuan dan manfaat refleksi? Bagaimana cara melakukan refleksi?
  1. Telaah Materi

Masing-masing Anda dibagi ke dalam empat kelompok besar. Setelah itu, setiap kelompok membaca, mengkaji, dan menelaah sumber belajar yang berhubungan dengan refleksi pembelajaran. Adapun sumber belajar yang dirujuk adalah bahan bacaan yang terdapat pada bagian uraian materi dan sumber belajar lainnya yang relevan. Anda kerjakan LK 1.1 sebagai laporan hasil diskusi.

  1. Penugasan

Untuk mengukur pemahaman Anda terhadap kegiatan refleksi pembelajaran silakan Anda kerjakan LK 1.2

  1. Penutup

Setelah mengerjakan semua LK, Anda dapat mencocokan jawaban dengan kunci jawaban yang tersedia untuk mengukur dan menilai ketuntasan pembelajaran. Langkah terakhir silakan Anda melakukan kegiatan refleksi dengan menjawab pertanyaan pada bagian umpan balik dan tindak lanjut.

 Rangkuman

Refleksi adalah kegiatan penilaian dalam berbagai bentuk yang dilakukan oleh peserta didik terhadap proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan oleh pendidik dengan maksud untuk memperbaiki proses belajar yang dilaksanakan oleh pendidik pada waktu yang akan datang. Pada kegiatan refleksi ini pula guru dapat menentukan tindak lanjut yang harus dilakukan, yakni pengayaan atau perbaikan (remedial). Tujuan dilakukan refleksi pembelajaran bagi pendidik antara lain: (1) Untuk menganalisis tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik; (2) Untuk melakukan evaluasi diri terhadap proses belajar yang telah dilakukan; (3) untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan; (4) untuk merancang upaya optimalisasi proses dan hasilbelajar, (5) Untuk memperbaiki dan mengembangkan pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampu Refleksi pembelajaran sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut, yakni: (1) Ada kesadaran bersama pendidik dan peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (2) Penilaian oleh peserta didik dilakukan dengan sangat kritis; (3) Penilaian dilaksanakan sejak awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran; (4) Hasil penilaian oleh peserta didik dijadikan masukan oleh pendidik untuk perbaikan pembelajaran.                                         Adapun teknik lain yang dapat dilakukan untuk merefleksi terhadap pembelajaran adalah melalui jurnal, buku harian, angket, dan pengamatan terhadap proses belajar mengajar.Instrumen adalah alat untuk merekam informasi yang akan dikumpulkan. Instrumen observasi digunakan berdasarkan teknik yang dilakukan. Jenis instrumen yang dapat dikembangkan untuk kegiatan refleksi pembelajaran adalah lembar observasi, pedoman wawancara, lembar telaah dokumen, dan angket atau kuisioner.

 

Prinsip Dan Posedur Berbahasa Secara Tertulis

tps://docs.google.com/document/d/menulis/

Prinsip dan Prosedur Berbahasa secara Tertulis

Pengertian dan Konsep Menulis, Karekteristik Menulis, Tahap-tahap Menulis, dan Jenis-Jenis Tulisan

  1.  Pengertian  dan Konsep Menulis

Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara mengkomunikasikan dan mengatur ( Donn  Byrne. 1988:1) Sejalan dengan itu, menurut Lado (1964:14) menulis adalah meletakkan simbol grafis  yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu,  jika mengetahui bahwa itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. Semi (1990: 8)  juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnyamerupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa.                                                                                                                                                            Menurut Jago Tarigan (1995:117) menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimegerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara engkomunikasikan dan mengatur.  Semi (1990:8) juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan emindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa. Menurut Gere (1985:4), menulis dalam artikomunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek. Menulis berarti mendukung ide. Byrne (1988: 1), mengatakan bahwa menulis tidak hanya membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu dengan yang lain, dan dalam gaya tertentu. Rangkaian kalimat itu bisa pendek,berupa dua atau tiga kalimat. Akan tetapi, kalimat tersebut disusun secara teratur dan saling berhubungan (padu). Crimmon (1984.191), berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri atau mengomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan mempelajari sesuatu yang belum diketahui.  Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis  dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas jenisnya agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan bahasa  yang dimiliki penulis.                                                                                                 Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan kebahasaan  yang dimiliki seorang penulis.

Menulis sebagai Keterampilan Diskrit.  Kata ‘diskrit’ diadaptasi dari bahasa Inggris ‘discrete’ yang artinya terpisah atau tersendiri.  Bila pengertian ini dikaitkan dengan keterampilan berbahasa, maka kitadapat mengartikannya keterampilan berbicara sebagai keterampilan tersendiri yang terintegrasi dengan keterampilan berbahasa yang lain (membaca, menyimak, dan menulis).

  1. Karakteristik Keterampilan Menulis

Setiap guru keterampilan menulis harus sudah memahami karakteristik keterampilan menulis  karena sangat menentukan dalam ketepatan penyusunan perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian keterampilan menulis. Sudah dapat dipastikan tanpa memahami karakteristik keterampilan menulis guru yang bersangkutan tak mungkin menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran menulis yang akurat, bervariasi, dan menarik.  Ada empat karakteristik keterampilan menulis yang sangat menonjol, yakni;

  1.  keterampilan menulis merupakan kemampuan yang kompleks;
  2.  keterampilan menulis condong ke arah skill atau praktik;
  3.  keterampilan menulis bersifat mekanistik;
  4.  penguasaan keterampilan menulis harus melalui kegiatan yang bertahap atau akumulatif.

Keterampilan menulis menuntut kemampuan yang kompleks. Penulisan sebuah karangan yang sederhana sekalipun menuntut kepada penulisnya kemampuan memahami apa yang hendak ditulis dan bagaimana cara menulisnya. Persoalan pertama menyangkut isi karangan dan persoalan kedua menyangkut pemakaian bahasa serta bentuk atau struktur karangan. Pembelajaran keterampilan menulis yang tidak memerhatikan kedua hal tersebut di atas pasti akan mengalami ketidakberesan atau kegagalan. Keterampilan menulis lebih condong ke arah praktik ketimbang teori. Ini tidak berarti pembahasan teori menulis ditabukan dalam pengajaran menulis. Pertimbangan antarpraktik dan teori sebaiknya lebih banyak praktik dari teori. Keterampilan menulis bersifat mekanistik. Ini berarti bahwa penguasaan keterampilan menulis tersebut harus melalui latihan atau praktik. Dengan perkataan lain semakin banyak seseorang melakukan kegiatan menulis semakin terampil menulis yang bersangkutan. Karakteristik keterampilan menulis seperti ini menuntut pembelajaran menulis  yang memungkinkan siswa banyak latihan, praktik, atau mengalami berbagai pengalaman kegiatan menulis.

Di samping kegiatan menulis harus bervariasi juga sistematis, bertahap, dan akumulatif. Berlatih menulis yang tidak terarah apalagi kurang diawasi guru membuat kegiatan siswa tidak terarah bahkan sering membingungkan siswa. Mereka tidak tahu apakah mereka sudah bekerja benar, atau mereka tidak tahu membuat kesalahan yang berulang. Latihan mengarang terkendali disertai diskusi  sangat diperlukan dalam memahami dan menguasai keterampilan menulis.

3.    Tahap-Tahap Menulis

  1.  Perencanaan Karangan

Menurut Sabarti dkk.  (1995:6),secara teoretis proses penulisan meliputi tiga tahap utama, yaitu prapenulisan, penulisan, dan revisi. Ini tidak berarti bahwa kegiatan menulis dilakukan secara terpisah-pisah. Pada tahap prapenulisan kita membuat persiapan-persiapan yang akan digunakan pada enulisaan. Dengan kata lain, merencanakan karangan. Berikut ini dibahas cara merencanakan menulis/karangan.

  1. Pemilihan Topik

Kegiatan yang mula-mula dilakukan jika menulis suatu karangan menentukan topik. Hal ini untuk menentukan apa yang akan dibahas dalam tulisan. Ada beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih topik yaitu;

1)  topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas. Ada manfaatnya mengandung pengertiam bahwa bahasan tentang topik itu akan memberikan sumbangan kepada ilmu atau propesi yang ditekuni, atau berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Layak dibahas berarti topik itu memang memerlukan pembahasan dan sesuai dengan bidang yang ditekuni.

2)  topik itu cukup menarik terutama bagi penulis;

3)  topik itu dikenal baik oleh penulis;

4) bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai;

5)  topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Setelah berhasil memilih topik sesuai dengan syarat-syarat pemilihan tersebut, yang akan dilakukan selanjutnya membatasi topik. Proses pembatasan topik da-pat dipermudah dengan membuat diagram pohon atau diagram jam.  

Ide induk yang menjadi benih atau pangkal awal sesuatu karangan yang akan ditulishendaknya juga dikembangkan (diperinci). Setelah ide induk dikembangbiakkan sampai cukup tuntas. Langkah berikutnya ialah memilih salah satu di antara perincian ide yang muncul untuk dijadikan topik karangan dan topik yang dipilih sebagai pembatasan keluasan materi dengan sebuah tema tertentu. Jadi, berdasarkan topik dan tema inilah yang menjadi pembicaraan dalam karangan.

Langkah terakhir yang perlu dilakukan pengarang ialah menguraikan rumusan kalimat utama menjadi sebuah garis besar karangan. Garis besar, rangka atau disebut juga  outline  adalah suatu rencana kerangka yang menunjukkan ide-ide yang berhubungan satu sama lain secara tertib untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan yang lengkap dan utuh.

Berikut, secara ringkas proses ide induk menjadi garis besar karangan dikem-bangkan melalui enam langkah sebagai berikut. Konsep dasar menulis menurut Logan (1972: 104-105)  merupakan sarana berkomunikasi yang mencakup hal berikut:

Langkah  Aktivitas Pengarang  Pengarang Hasil

  1. Menemukan ide yang akan diungkapkan menjadi karangan ide pokok
  2. Menemukan ide yang akan  pencian ide
  3. Memilih salah satu ide menjadi topik karangan topik
  4. Membatasi topik dengan salah satu, yaitu segi/unsur/faktor tema
  5. Merumuskan topik berikut temanya dalam sebuah pokok pernyataan kalimat ide
  6. Menguraikan rumusan ide pokok menjadi rangka garis besar karangan

Setelah mengetahui cara-cara memulai dan teknik memberikan nafas ke dalam tulisan. Sekarang Anda melangkah ke proses penulisan.Pada tahap ini, Anda hanya membangun  suatu fondasi untuk topik yang berdasarkan pada engetahuan, gagasan, dan pengalaman.

Adapun proses penulisan tersebut sebagai berikut.

1) Draf kasar; membuat draf dimulai dengan menelusuri dan mengembangkan gagasan-gagasan. Pusatkan pada isi daripada tanda  baca, tata bahasa, atau ejaan. Ingat untuk menunjukkan bukan memberitahukan saat menulis.

2)  Berbagi; sebagai penulis kita sangat dekat dengan tulisan sehingga sulit untuk menilai secara objektif. Oleh sebab itu, kita perlu meminta orang lain untuk membaca dan memberikan umpan balik. Mintalah seorang teman membacanya dan mengatakan bagian mana yang benar-benar kuat dan menunjukkan ketidakkonsistenan, kalimat yang tidak jelas, atau transisi yang lemah. Inilah beberapa petunjuk untuk berbagi.

3) Perbaikan (revisi);  setelah mendapat umpan balik dari teman tentang mana yang baik dan mana yang perlu digarap lagi, ulangi dan perbaikilah. Ingat bahwa penulis adalah tuan dari tulisan Anda jadi Andalah yang membuat umpan balik itu. Manfaatkan umpan balik yang dianggap membantu. Ingat tujuan menulis adalah membuat tulisan sebaik mungkin.

4) Menyunting (editing); inilah saatnya untuk membiarkan “editor” otak kiriberperan. Pada tahap ini, perbaikilah semua kesalahan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca. Pastikanlah semua transisi berjalan mulus, penggunaan kata kerja tepat, dan kalimat-kalimat lengkap.

5) Penulisan kembali; tulis kembali tulisan Anda, masukkan isi yang baru dan perubahan-perubahan penyuntingan.

6) Evaluasi; periksalah kembali untuk memastikan bahwa Anda telah menyelesaikan apa yang Anda rencanakan dan apa yang ingin Anda. sampaikan. Walaupun ini merupakan proses yang terus berlangsung, tahap ini menandai akhir proses menulis.

Kegiatan menulis dapat dianalogikan seperti seorang arsitektur akan membangun sebuah gedung, biasanya ia membuat rancangan terlebih dahulu dalam bentuk gambar di atas kertas.

Demikian pula seorang penulis, membuat kerangka tulisan atau  outline  merupakan kebiasaan yang perlu dipupuk terus untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Penulis dalam hal ini diibaratkan sebagai seorang arsitek bahasa, yang selain mengetahui bagaimana membangun sebuah tulisan secara utuh, ia tidak boleh mengabaikan dasar-dasar penulisan.

Diari atau Buku Harian

Buku harian adalah sebuah catatan pribadi yang berisi kegiatan sehari-hari. Buku harian ini berisi antara lain:  kejadian atau peristiwa yang dialami penulis setiap hari, pikiran atau permasalahan yang sedang dihadapi penulis setiap hari, dan apa  saja yang ingin dituliskan ke dalam sebuah media.

Buku harian biasa memuat antara lain:

1)  Tanggal, bulan, dan tahun peristiwa

2)  Tempat terjadinya peristiwa

3)  Waktu terjadinya peristiwa

4)  Isi peristiwa

5)  Hikmah/refleksi atas peristiwa

Teknik Penulisan Buku Harian

  1. Catatlah peristiwa-peristiwa penting saja

  2. Urutkan peristiwa dengan rujukan waktu

  3. Tulislah kalimat-kalimat yang jelas dan ringkas

  3. Buatlah judul sesuai dengan isi karangan

  4. Panjang karangan 150 kata (20 baris)

Contoh Catatan harian:

Memo

Surat Memo sebenarnya merupakan singkatan dari surat memorandum. Namun, masyarakat lebih umum mengenal sebagai memo saja. Surat memo adalah sebuah surat yang isinya sangat singkat dari seorang pejabat atau atasan ditujukan kepada pejabat atau atasan lain, dan  kepada bawahannya yang masih dalam satu instansi. Isi dari  surat memo biasanya tentang pemberitahuan, permintaan akan saran-saran tertentu, pesan singkat, dan perintah atau instruksi kepada bawahannya. Karena hanya berlaku dalam satu instansi, tidak jarang surat memo hanya ditulis tangan tanpa cap dan kop surat. Surat memo biasanya bersifat mendadak dan keadaan terpaksa. Oleh karena itu, untuk alasan kepraktisan biasanya sebuah instansi menyediakan  form  surat memo  dalam ukuran kertas kuarto / A5.

Senin, 3 Agustus 2009

Waktu Saya pulang dari Sekolah, niatnya ingin belajar kelompok bersama temen-temen. Ketika belajar kelompok mau dimulai, tapi ada salah satu temenku yang belum datang. Terpaksa Saya dan temen-temen harus menunggunya, dan agar tidak bosan kami pun menunggu di sawah dekat dengan rumah tersebut. Kami pun menunggu cukup lama. Tetapi karena kelamaan menunggu kami malah tidak jadi belajarnya, dan malah bermain sepak bola di Lapangan sawah.

Rabu, 4 Agustus 2009

Ketika Saya pulang dari Sekolah, Saya dan teman-teman di halaman rumah bercerita tentang hal-hal yang menyeramkan/hantu. Hii..seremm.. Tetapi karena cerita tersebut, salah satu temenku ada yang malah ketakutan dan tidak berani pulang ke rumah sendiri.Begitu juga dengan Saya, karena cerita hantu saya menjadi takutt.. hii.. Serreemm..

Memo adalah tulisan singkat, padat, dan jelas yang ditujukan kepada  seseorang, serta bersifat informal. Biasanya penulisan tidak lebih dari sepuluh baris. Penulisannya bisa ditik atau ditulis tangan. Memo digunakan untuk mengingatkan atau menegaskan tentang suatu hal/urusan.

Adapun isi memo berupa pemberitahuan, permintaan, instruksi, saran, pesan, atau tugas tertentu. Seperti halnya surat biasa, memo mempunyai bagian-bagian seperti kepala, badan, dan kaki memo.

1)  Kepala /nama

2)  Alamat

3)  Lambang atau logo Instansi

4)  Badan/ isi pesan singkat ( memberikan perintah, informasi atau laporan)

5)  Kaki memo   

6)  Tanda tangan dan nama jelas pembuat memo

Langkah-Langkah Penulisan Memo:

1)  menyiapkan blangko memo yang akan digunakan;

2)  penulisan boleh diketik atau ditulis tangan;

3)  menyampaikan pesan/instruksi dengan bahasa yang tepat dan singkat;

4)  menandatangani dan menyertakan nama jelas pembuat memo;

5)  mengirim memo kepada orang yang di maksud.

Berikut ini contoh memo.

SMA Negeri 78

 Jalan Bhakti VI/1, Komp. Pajak, Kemanggisan

JAKARTA BARAT

Dari      :   Kepala Sekolah

Kepada:   Nabilla, MPd.  (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

Mohon Saudara mewakili saya untuk mengikuti rapat dinas di kantor Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan  Jakarta Barat yang akan diselenggarakan pada:

hari: Senin

tanggal: 21 Juli 2015

pukul: 10.00 WIB

tempat: Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Barat

acara: Persiapan penerimaan siswa baru

Mohon untuk dilaksanakan dengan sebaik – baiknya. Terima kasih.

Jakarta, 21 Juli 2015

Kepala Sekolah

Andriani, MPd..

 

Your Best Shot 2016 – Portraits — Flickr Blog

The Your Best Shot 2016 Flickr group is full of beautiful and inspiring images! There are already more than 8,000 members and nearly 6,000 photos. If you haven’t joined yet, all you need to do is upload your best photo from the past year and share it with the Flickr family here! We’ll publish our…

melalui Your Best Shot 2016 – Portraits — Flickr Blog

Pencapaian Kompetensi Belajar, Dari sebuah Gagasan

Pusat Sumber Belajar (PSB) sebagaimana  adalah bagian integral dalam sistem pembelajaran. Ini berarti keberadaan suatu Pusat Sumber Belajar (PSB) sudah menjadi keharusan dalam setiap lembaga (sekolah/perguruan tinggi), bila ingin mencapai kompetensi yang telah dirumuskan dari setiap mata pelajaran atau mata kuliah. Sebab tanpa pemberdayaan sumber-sumber belajar yang memadai serta pegalaman yang konkrit dari setiap mata pelajaran/mata kuliah yang dipelajari peserta didik, maka wujud kompetensi dari mata pelajaran/mata kuliah tersebut tidak pernah diperoleh secara optimal.  Bagaimana peranan Pusat Sumber Belajar (PSB) dalam mencapai setiap tujuan atau kompetensi dari setiap mata pelajaran? Secara teknis Pusat Sumber Belajar (PSB) dapat menjadi laboratorium untuk semua mata pelajaran yang ada. Baik itu untuk digunakan langsung oleh siswa maupun melalui perantara guru.

Digunakan langsung oleh siswa, artinya siswa dapat belajar secara individual atau kelompok di Pusat Sumber Belajar (PSB), melalui program-program media yang dirancang secara khusus untuk mencapai tujuan atau kompetensi dari mata pelajaran tertentu.

Sebab di Pusat Sumber Belajar (PSB)tersedia program-program audio-visual yang dapat menuntun siswa untuk mencapai kompetensi tertentu. Misalnya, untuk percobaan Fisika. Sebelum siswa melakukan percobaan terlebih dahulu ia diminta menonton program video tentang percobaan yang akan dilakukannya. Setelah ia paham tentang apa yang akan dilakukannya, barulah ia melakukan percobaan. Dengan demikian siswa dapat mencapai kompetensi tertentu sesuai dengan kecepatannya dalam belajar.

Melalui perantara guru, artinya guru mempersiapkan segala keperluan pengajarannya di Pusat Sumber Belajar (PSB) sebelum tampil di depan kelas. Baik itu media yang akan digunakan maupun teknik-teknik penyajiannya. Dengan meningkatnya kualitas pembelajaran yang dilakukannya, akan berdampak kepada hasil belajar siswa. Selain itu, Pusat Sumber Belajar (PSB) dengan fungsi-fungsinya akan bersinergi dalam meningkatkan kualitas SDM secara menyeluruh, khususnya mereka yang terlibat dalam pengembangan sistem instruksional (guru, dosen, fasilitator, dan pengelola pembelajaran). Dengan meningkatnya kualitas SDM, berarti meningkat pula kualitas penyelenggaraan pendidikan di setiap lembaga, baik itu sekolah maupun perguruan tinggi.

MANAJEMEN PERUBAHAN

Di dunia ini, semuanya berubah. Hanya perubahan itu sendiri yang tidak pernah berubah. Pada Kegiatan belajar ini Anda akan menelaah tentang pengelolaan perubahan. Dengan mengetahui perkara pengelolaan perubahan, Anda diharapkan menguasai sub kompetensi: Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju or ganisasi pembelajar yang efektif. Oleh karena itu, telaahlah teks bacaan berikut!
Alasan-alasan perubahan seringkali dipertanyakan, baik oleh anggota organisasi maupun mereka yang berada di luar organisasi. Ini disebabkan bahwa banyak orang, termasuk anggota organisasi, yang lebih menghendaki kemapanan dibandingkan dengan perubahan. Selain itu, perubahan juga menjadikan seseorang yang sudah merasa banyak belajar dari pengalaman di suatu organisasi, harus belajar lagi. Tetapi hendaklah diingat, bahwa di dunia ini, tidak ada sesuatu yang tidak berubah. Semua akan berubah. Perubahan tersebut, bahkan sudah menjadi bawaan dunia dengan segala isinya. Jika kita memperhatikan apa saja yang ada di dunia ini, hampir tidak ada sesuatu yang tidak berubah. Yang tidak berubah, barangkali hanyalah perubahan itu sendiri. Karena itu, organisasi besar dan kecil, dengan seluruh komponen dan sistemnya, pasti juga akan berubah. Mengapa organisasi berubah? Karena organisasi hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Jika lingkungan berubah, organisasipun juga harus berubah, kalau ingin tetap survive. Kalau tidak, ia akan mengalami krisis dan bahkan mati. Robbin, dalam Organization Theory: Structure, Design and Appication (1990), mengontroduksi daya tahan hidup organisasi besar di Amerika Serikat, yang berentang dari 5 sampai 100 tahun. Selama rentang perkembangannya, menurut hasil studinya, organisasi tersebut mengalami fluktuasi. Atas dasar realitas tersebut, Robbin merekomendasikan sebuah perubahan berencana pada setiap organisasi yang ingin tetap eksis. Sebab, Manakalau tidak, menurut Robbin, akan mengalami nasib tragis seperti pendahulunya, ialah mengulang kematian organisasi-organisasi besar. Jika dipetakan, ada dua faktor pendorong perubahan organisasi, ialah: (1) faktor pendorong eksternal organisasi dan (2) faktor pendorong internal organisasi. Baik faktor eksternal organisasi maupun faktor internal organisasi, mempunyai kekuatan pendorong yang berbeda-beda. Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa ada kalanya suatu organisasi berubah karena adanya faktor eksternal yang lebih dominan; dan ada kalanya suatu organisasi berubah karena lebih dominan didorong oleh faktor internalnya. Tetapi, yang lebih banyak karena kombinasi pengaruh eksternal dan internal organisasi. Hanson (1997) menggambarkan bagaimana antara faktor pendorong dan factor penolak perubahan sebagaimana pada Ada berbagai macam atau jenis perubahan, ialah perubahan tidak berencana dan perubahan berencana. Perubahan tidak berencana sendiri, dapat dikategorikan menjadi dua, ialah:                                                                                                                                                                   (1) perubahan karena perkembangan ( developmental change), dan                                               (2) perubahan secara tiba-tiba ( accidental change).
1. Perubahan Tidak Berencana
Perubahan karena perkembangan adalah suatu perubahan yang tidak direkayasa oleh manajemen. Perubahan ini terjadi sebagai suatu keniscayaan, bahwa yang namanya organisasi itu, makin lama cenderung makin berkembang. Tetapi arah perkembangan organisasi pada jenis ini, tidak senantiasa seperti yang diinginkan oleh pihak manajemen. Perubahan karena perkembangan ini seiring dengan lamanya usia organisasi tersebut. Perubahan secara tiba-tiba terjadi, karena ada persoalan emergency baik yang bersumber dari faktor internal maupun yang bersumber dari faktor eksternal. Perubahan secara tiba-tiba, dapat saja terjadi pada organisasi apapun, karena banyak faktor yang berada di luar kekuasaan organisasi tersebut.
Perubahan secara tiba-tiba karena adanya perubahan lingkungan fisik seperti gunung meletus, banjir besar, tanah longsor, gempa bumi, peperangan dan sebagainya. Perubahan secara tiba-tiba karena adanya revolosi, krisis ekonomi yang mendadak, dan masih banyak lagi. Pendeknya, perubahan yang tidak pernah diestimasi tersebut kerap menjadikan organisasi mengalami perubahan secara tiba-tiba.

2. PERUBAHAN BERENCANA (PLANNED CHANGE)
Perubahan berencana adalah perubahan yang disengaja atau bahkan direkayasa oleh pihak manajemen. Perubahan berencana ini adalah suatu perubahan yang memang diinginkan agar organisasi dapat tetap survive dan bahkan berkembang sesuai dengan tuntutan angota dan lingkungannya. Ada beberapa pengertian perubahan berencana yang dikedepankan oleh para ahli. Bennis, Benne dan Chin mengartikan perubahan berencana sebagai: Penerapan pengetahuan tentang manusia secara sistematis dan tepat dengan
maksud melakukan tindakan yang berarti. Kurt Lewin menyatakan bahwa perubahan berencana adalah: Usaha untuk mengumpulkan, menggunakan data dan informasi guna memecahkan persoalan sosial. Jadi, perubahan berencana adalah perubahan yang dilakukan secara sengaja, lebih banyak dilakukan atas kemauan sendiri, sehingga proses perubahan itu lebih banyak diusahakan oleh sistem itu sendiri. Banyak label yang diberikan kepada manajemen poerubahan, misalnya saja perubahan berencana ( change planed), pengembangan organisasi ( organizational development), inovasi organisasi, pembaharuan organisasi dan sebagainya. Yang dimaksud dengan manajemen perubahan adalah: Suatu upaya yang dilakukan manajemen guna melakukan perubahan berencana, dengan menggunakan jasa atau bekerja sama dengan intervenis/konsultan, agar
organisasi tersebut tetap survive dan bahkan mencapai puncak perkembangannya. Kult E. Osmosk mengemukakan beberapa strategi perubahan berencana antara lain: (1) political strategy, (2) economic strategy, (3) academic strategy, (4) enginering strategy, (6) military strategy, (7)confrontation strategy, (8) applied behavioral science mode, dan (9) followship strategy. Secara ringkas, beberapa strategi perubahan beencana tersebut dikedepankan sebagai berikut:
a. Political Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman mengenai struktur kekuasaan yang terdapat dalam sistem sosial: perorangan, kelompok, organisasi dan masyarakat. Dengan pemahaman tsb, agen perubahan berafiliasi dengan pusat kekuasaan (central of power). Central of power tsb, bisa formal dan bisa informal. Strategi ini, dengan sendirinya mengedepankan cara yang bersifat top down dalam setiap perubahan . Melalui figur perorangan yang berkuasa, perubahan digulirkan. Dengan demikian, asumsi strategi ini adalah, tatkala impinan puncaknya sudah mau berubah, maka mereka yang berada di lapisan bawah juga akan ikut berubah.
b. Economic Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bila seseorang memegang posisi pengaturan sumber ekonomik seperti anggaran, peralatan dan pembiayaan, maka orang tersebut memegang posisi kunci dalam proses
perubahan berencana. Dengan pemahaman tersebut, agen perubahan berafiliasi dengan pemegang posisi pengaturan ekonomik. Atau, agen pembaharuan, harus bisa meyakinkan orang ini terlebih dahulu.
Strategi yang didasarkan atas pendekatan kepada pemegang kendali ekonomik ini sangat lazimnya juga akan dapat diterapkan dengan baik, mengingat subyek yang hendak diubah juga menghajatkan aliran ekonomik
tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Academic Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bahwa setiap manusia itu rasional. Berarti, setiap orang sebenarnya akan bisa menerima perubahan, manakala kepadanya disodorkan data yang dapat diterima oleh akal sehat (rasio). Karena itu, seorang agen pembaharu, haruslah dapat menyajikan argumentasinya secara rasional tatkala bermaksud menawarkan perubahan; yang disertai dengan data lengkap dan terpercaya serta rasional.
d. Enginering Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bahwa setiap perubahan menyangkut setiap manusia. Pada saat lingkungan berubah, manusiapun berubah. Karena itu, agar manusia berubah, agen perubahan haruslah
mengubah lingkungan di mana manusia tersebut hidup, termasuk di mana ia berorganisasi. Contoh: kalau ingin pekerja rajin, perbanyaklah pekerjaannya. Kalau ingin karyawan berjas, dinginkan suhu ruangan.
e. Military Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bahwa perubahan agar dapat dilakukan dengan kekerasan/paksaan. Paksaan bisa berupa ancaman fisik dan psikologis. Cara ini ini memang ampuh untuk melakukan perubahan, tetapi umumnya tidak bertahan lama.
f. Confrontation Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, jika suatu tindakan bisa menimbulkan kemarahan seseorang, maka orang tersebut akan berubah. Jika ingin mengadakan suatu perubahan, orang yang akan diubah itu disudutkan
pada posisi yang ia tidak senang, atau terpojok. Perasaan terpojok diyakini dapat menjadikan seseorang bisa berubah sesuai dengan arah yang diinginkan oleh pembaharu. Ini terjadi karena orang yang akan diubah dihadapkan pada suatu kondisi: TIDAK ADA PILIHAN LAIN.
g. Applied Behavioral Science Model
Strategi yang didasarkan atas pemahaman terhadap ilmu perilaku ( behavioral science). Lazimnya, suatu perubahan dilakukan dengan mengggunakan jasa konsultasi ahli ilmu perilaku. Ahli-ahli ilmu perilaku ini,
memang punya kompetensi mengubah perilaku (behavior modification) terhadap individu, kelompok dalam setting sosial tertentu.
h. Followship Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bahwa perubahan itu dapat dilakukan dengan mengembangkan prinsip kepengikutan. Caranya dengan memberikan contoh dan memberikan bimbingan. Seseorang akan memberikan contoh dan bimbingan dengan baik, manakala punya kemampuan hubungan kemanusiaan yang baik.
Ada tiga langlah perubahan menurut Kurt Lewin, ialah:
a. Langkah Unfreezing : Pencairan dari keadaan sekarang.
b. Langkah Moving: Pembentukan pola perilaku yang baru.
c. Langkah Freezing : Pemantapan atau pembakuan dari perilaku yang baru
dibentuk, agar dapat dilembagakan.
Sementara itu, Lippit mengedepankan tujuh langkah perubahan berencana, ialah:
a. The development of need for change .
1) Mempersepsi adanya persoalan yang akan dipecahkan.
2) Mepesepsi bahwa persoalan tersebut memang harus dipecahkan.
3) Mempersepsi bahwa guna memecahkan persoalan tersebut perlu bantuan orang lain, atau mendayagunakan pihak lain.
b. The establishment of change relationship.
1) Pengguna agen perubahan melakukan hubungan kerja antar mereka.
2) Pengguna dan agen saling menjajagi sistem nilai yang dianut oleh kedua belah pihak.
3) Pengguna dan agen bertukar pikiran tentang metode perubahan yang
akan digunakan, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan guna melakukan perubahan.
4) Penguna dan agen menentukan, mana pekerjaan yang menjadi kapling pengguna dan mana yang menjadi kapling agen.
5) Pengguna dan agen menyepakati sumber-sumber yang diperlukan guna melakukan perubahan.
c. Diagnosis of the client system’s problem(s).
1) Agen dan pengguna melakukan diagnosis terhadap persoalan yang dihadapi oleh organisasi.
2) Agen dan pengguna menetapkan jenis data yang diperlukan, berikut cara mengumpulkannya.
d. Examining alternatives and goal action.
1) Agen dan pengguna menentukan alternatif tindakan.
2) Agen dan pengguna menentukan strategi pelaksanaan tindakan.
3) Agen dan pengguna menentukan teknik intervensi yang akan digunakan.
4) Tekanan pada tahap ini adalah, pada perencanaan yang dibuat dikaitkan dengan sumber-sumber yang tersedia.
e. Action Implementation .
1) Dipandang sebagai tahapan paling berat.
2) Pengguna dan agen menerapkan strategi intervensi yang sudah diterapkan.
3) Pada tahap ini, pengguna dan agen akan berhadapan dengan dan mendapatkan halangan dari mereka yang selama ini resisten terhadap perubahan.
4) Pada tahap ini, pengguna dan agen berhadapan dengan persoalan nyata di lapangan.
5) Karena itu, umpan balik terhadap apa yang dilakukan senantiasa diperlukan, guna melakukan strategi yang dipilih.
f. Generalization and stabilization of change.
1) Pengguna dan agen perlu meyakini dan memberikan perhatian kepada hasil yang dicapai, betatapun kecilnya hasil tersebut.
2) Dengan fokus perhatian pada hasil yang telah dicapai, akan makin menumbuhkan keyakinan untuk meneruskan proses perubahan.
3) Pola-pola lama kemungkinan masih tampak padatahap ini, karena suatu proses perubahan itu membutuhkan waktu lama.
4) Karena itu, proses tersebut harus diteruskan dan ditingkatkan intensitasnya.
g. Terminating the change agent relationship and evaluation.
1) Bila perubahan tersebut telah dapat dilakukan secara melembaga, bantuan dari luar (agen, konsultan) tidak diperlukan lagi.
2) Pengguna dapat mengambil pelajaran dari proses kolaborasinya dengan agen.

STANDARDISASI PERPUSTAKAAN SEBUAH GAMBARAN OLEH: NURIL ANWAR .SPd

Standadisasi berasal dari kata dasar “standar” mendapat sufiks “isasi” yang mengandung nosi/arti “membuat jadi”. Dalam hal ini standardisasi dimaksudkan seperangkat langkah-langkah untuk membuat jadi ”Perpustakaan Sekolah yang standar” Karena itu standardisasi dalam tulisan sederhana ini memberi gambaran ”perpustakaan sekolah yang standar berdasarkan ” Badan Standardisasi Nasional, Standar Nasional Indonesia : Perpustakaan Sekolah, 2010”.
Perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar dan bagian integral dari sekolah bersama-sama dengan sumber belajar lainnya bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. SNI 7329:2009 tentang Perpustakaan Sekolah dimaksudkan untuk menyediakan acuan tentang manajemen perpustakaan yang berlaku pada perpustakaan sekolah baik negeri maupun swasta yang meliputi pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Pemerintah menetapkan kebijaksanaan khususnya dalam pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan informasi bagi semua masyarakat Indonesia yang diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa serta meningkatkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan. Mengingat betapa pentingnya keberadaan perpustakaan di pedesaan sebagai salah satu sarana/media yang amat efisien dan efektif untuk mendapatkan informasi, maka dipandang perlu untuk mengetahui penyelenggaraan pepustakaan Desa/Kelurahan, dan hal ini didukung dengan adanya SNI 7596:2010 tentang, Perpustakaan Desa/Kelurahan yang dimaksudkan untuk menyediakan acuan tentang organisasi dan penyelenggaraan, koleksi layanan, tenaga serta sarana prasarana yang berlaku pada perpustakaan desa.
Ruang lingkup Standar perpustakaan sekolah ini menetapkan dasar pengelolaan perpustakaan sekolah. Standar ini berlaku pada perpustakaan sekolah baik negeri maupun swasta yang meliputi :                                                                          (1) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat;                                      (2). Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.Misi perpustakaan sekolah yaitu :                    ( 1)Menyediakan informasi dan ide yang merupakan fondasi agar berfungsi secara baik di dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan;                                                                                                                               ( 2)Merupakan sarana bagi murid agar terampil belajar sepanjang hayat dan mampu mengembangkan daya pikir agar mereka dapat hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Perpustakaan sekolah bertujuan menyediakan pusat sumber belajar sehingga dapat membantu pengembangan dan peningkatan minat baca, literasi informasi, bakat serta kemampuan peserta didik. Perpustakaan memperkaya koleksinya dan menyediakan materi perpustakaan dalam berbagai bentuk media dan format dalam rangka mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Perpustakaan sekolah mengembangkan koleksinya disesuaikan dengan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Dalam upaya meningkatkan minat baca, pengembangan koleksi diarahkan pada rasio satu murid sepuluh judul buku. Perpustakaan menambah koleksi buku per tahun sekurang-kurangnya 10% dari jumlah koleksi. Perpustakaan melanggan minimal satu judul majalah dan satu judul surat kabar yang terkait dengan kelangsungan proses pembelajaran.
Perpustakaan menyediakan buku pelajaran pelengkap yang sifatnya membantu atau merupakan tambahan buku pelajaran pokok yang dipakai oleh siswa dan guru. Perpustakaan wajib menyediakan bacaan yang mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah yang meliputi koleksi non fiksi yang terkait dengan kurikulum dan koleksi buku fiksi dengan perbandingan 60 : 40
Koleksi materi perpustakaan referensi minimal meliputi kamus umum bahasa Indonesia dan kamus bahasa Inggris (untuk pendidikan dasar dan menengah), kamus bahasa daerah, kamus bahasa Jerman, Prancis, Jepang, Arab, Mandarin (untuk pendidikan menengah), kamus subyek, ensiklopedi, sumber biografi, atlas, peta, bola dunia, serta buku telepon.
Perpustakaan menyediakan akses sumber informasi elektronik termasuk internet. Pengolahan dan perawatan materi perpustakaan diorganisasikan agar dapat ditemubalik secara cepat dan tepat., dideskripsikan, diklasifikasi dan disusun secara sistematis dengan menggunakan : Pedoman deskripsi bibliografis; Bagan klasifikasi;Pedoman tajuk subjek dan atau tesaurus; Pedoman penentuan tajuk entri utama. Perawatan materi perpustakaan meliputi kegiatan yang bersifat pencegahan dan penanggulangan kerusakan.
Sumber Daya Manusia,: seperti:                                                                                                                                               (1) Kepala perpustakaan yang memimpin dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah. Kualifikasi kepala sekolah perpustakaan sekolah atau tenaga kependidikan dengan pendidikan minimal diploma dua di bidang ilmu perpustakaan dan informasi atau diploma dua bidang lain yang sudah memperoleh sertifikat pendidikan di bidang ilmu perpustakaan dan informasi dari lembaga pendidikan yang terakreditasi.                                                                                                          (2). Tenaga perpustakaan sekolah sebagai tenaga teknis berpendidikan minimal pendidikan menengah serta memperoleh pelatihan kepustakawanan dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang terakreditasi.                                                                      Pengembangan sumber daya manusia Perpustakaan memberikan kesempatan untuk pengembangan sumber daya manusianya melalui pendidikan formal dan nonformal kepustakawanan.
Layanan Perpustakaan Perpustakaan minimal melakukan layanan antara lain :                                                                      (1). Layanan sirkulasi Jasa perpustakaan untuk meminjamkan materi perpustakaan bagi pengguna sesuai dengan ketentuan yang berlaku.                                                                                                                                                          (2). Layanan referensi Jasa perpustakaan dalam menjawab pertanyaan, menelusur dan menyediakan materi perpustakaan dan informasi sesuai dengan permintaan pengguna dengan mendayagunakan koleksi referensi.                                             (3). Pendidikan pengguna Kegiatan perpustakaan yang bertujuan menjadikan pengguna mampu mendayagunakan koleksi perpustakaan secara mandiri sesuai dengan kebutuhannya.
Jam buka perpustakaan, Waktu yang diberikan oleh perpustakaan untuk memberikan layanan kepada pengguna minimal delapan jam sehari.
Dalam Penyelenggaraan Perpustakaan Setiap sekolah menyelenggarakan perpustakaan sekolah, sebagai bagian integral dari sekolah berada di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Dan sebagai sumber belajar, kedudukannya sejajar dengan sumber belajar lainnya. Perpustakaan sekolah juga merupakan unit kerja yang melakukan kegiatan/fungsi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan pendayagunaan materi perpustakaan untuk mendukung pembelajaran.
Kegiatan dan fungsi tersebut dalam bidang perpustakaan dikelompokkan menjadi dua:                                                            (1). layanan teknis yaitu kegiatan pengadaan dan pengolahan materi perpustakaan;                                                           (2). Layanan pembaca yaitu kegiatan yang memberikan layanan kepada pengguna perpustakaan.
Untuk melaksanakan fungsi tersebut, perpustakaan sekolah dipimpin oleh kepala perpustakaan sekolah yang ditunjuk/ditetapkan berdasarkan surat tugas/surat keputusan kepala sekolah. Unit perpustakaan sekolah dalam struktur organisasi sekolah:                                                                                                                                                                   1.  STRUKTUR ORGANISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH (MAKRO) :                                                                                     2.  STRUKTUR ORGANISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI BERIKUT (SECARA MICRO):

Perpustakaan menyediakan ruang yang cukup untuk koleksi, staf dan penggunanya. Perpustakaan menyediakan ruang dengan luas sekurang-kurangnya untuk SD/MI 56 m², untuk SMP/MTS 126 m², SMA, MA, SMK dan MAK 168 m². Area koleksi seluas 45% dari ruang yang tersedia, area baca pengguna seluas 25% dari ruang yang tersedia, area staf perpustakaan seluas 15% dari ruang yang tersedia, area lain-lain seluas 15% dari ruang yang tersedia.
Perpustakaan menyediakan sekurang-kurangnya rak buku, lemari katalog, meja dan kursi baca, meja dan kursi kerja, meja sirkulasi, mesin tik/perangkat komputer dan papan pengumuman/pameran. Sekolah menjamin tersedianya anggaran perpustakaan setiap tahun sekurang-kurangnya 5% dari total anggaran sekolah di luar belanja pegawai dan pemeliharaan serta perawatan gedung. Perpustakaan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk keperluan pengguna. Perpustakaan menyelenggarakan kerjasama dengan pendidik serta kerjasama dengan perpustakaan dan atau badan lain untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Dari uraian di atas standardisasi perpustakaan sekolah diharapkan dengan kerja sama dengan pihak-pihak terkait, khususnya Kepala Srkolah, Perpustakaan Sekolah dapat menyelenggarakan perpustakaan yang sesuai dengan standar, atau paling tidak ada upaya melakukan pembenahan, sehingga perpustakaan akan semakin berkembang menuju perpustakaan yang lebih baik untuk melayani mayarakat. Selain itu penulis berpendapat bahwa standardisasi perputakaan sekolah dapat terwujud jika pemerintah secara aktif mendukung standardisasi ini dengan usaha-usaha penyediaan fasilitas sarana, prasarana, penambahan koleliksi buku, dan non buku, juga peningkatan kualitas perguruan tinggi jurusan perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional, Standar Nasional Indonesia : Perpustakaan Sekolah, 2010.

PRINCIPAL ROLE IN THE FIELD OF SCHOOL LIBRARY SERVICE By Papa Ovi aishiteru Arema

        The school principal as educational administrators should know how to manage the school library that meets the standards, so the library can be used optimally. It is the responsibility of principals to take leadership in developing school libraries that meet the standards.Thus the principal should consider the following matters: 

(1) school library should be located under the “direction” man / school staff are well trained and well educated in the library field,(2) the school library should have a number of “reference” enough (including encyclopedias, atlases, dictionaries and the like), a number of books of all subjects taught in school (which should be used as supplementary reading students) and common materials are selected according to the interests and needs,  (3) using an adequate system of a particular classification, where the collection (books) are classified, on the label, and in “Shelving” based system,       (4) presence of adequate supplies in the shape of the room, equipment and materials for repair, it also disampinng “road enter “accessioning”,  (5) complete and spell out a “record system” that includes borrowing and repayment records, records of books hilanng, damaged or removed. (6) complete with a number of facilities for the purchase of books, including publications and other information about the new books are published,  (7) of equipment for students, including a complete schedule.
Perpuskaan to manage the school, principals should also understand the areas related to the library. These areas include: the area of ​​”personnel”, “service”, “using and the user” (as proposed by the Guidelines for Implementation of Rusina Syahrial School Library).In the Field “personnel” Principal must understand the qualifications of personnel who will have the ability orgasisator, administrator, librarian, as well as personnel deorang-worker not only despenser of books alone.
The success of the school library as a means of supporting education and teaching in schools is dependent on the qualifications of the personnel’s own library. Given this, one, a school principal should pay attention to the personnel and management, namely: (1) choose a leader or head of the library is not just as a divider book (dispenser of books), but more than that is a library leader, organizer, teacher, administrator, and a personnel-worker;. Besides, it not only as a “librarian” who are trained and educated in the field of libraries, but also must know and understand how to provide stimulation to the students and teachers to utilize the maximum use of the library, (2) menggembangkan library representative organization of students in the student peerintahan (OSIS) and an election committee of the student library.
In the field of “service” as the chief Sekoplah [rogramere implementation of education at the school, the principal task in the field of “service” will come to fruition apabiola consider the following: (1) recognize, understand and develop the role of libraries in order to develop a program teaching, (2) know the community, state, national library institutions dam,          (3) provide adequate and attractive, the room / library building and equipment, (4) develop a schedule to the library service so that more effective services,  (5) assist the leadership of the library schools in mengembagkan policy, drafters of staff, and discipline in the library.  (6) The school principal has the responsibility to stimulate and guide staff working with the leadership, as well as forming the ‘library-committes “to select and order new books for the library materials collection to decide which ones should be” removed “from the library for classroom teaching, and help develop regulation / order and scheduling;  (7) Provide adequate fee based on the annual budget, also with a workable plan (aplicable)
In the Field “and the user using” the principal needs to pay attention to the issue of use (using) the school library primarily addressed to “user” (the students). Need instructions tentanng use books, how to find books that are needed, use the book catalog, the use of reference books, as well as the creation and placement of bibliographic records. Hence the use of school libraries should: (1) the head of the school library to take the time to make observations on the ability of students to use library materials and scope of its use,  (2) the principal expects to all school staff to always know the library and how use of library materials for teaching and learning activities,  (3) the principal has always held a reading guidance in advancing students’ reading and hold a “cheking” with the leadership of the library.  (4) the principal tried to develop the use of school libraries to carry out supervision of the teachers teaching.
The final activity of the library management is the evaluation of school libraries. Library evaluation should be based on criteria related to library staff, library use by students, administration and library organizations, the selection of library materials, and special characteristics of the material library services, school. For schools that have implemented ISO management, bureaucratic system run to its full potential still remains without subtracting the criteria in the evaluation in the school library.