KONSEP PEMANFAATAN INTERNET DALAM PEMBELAJARAN

 

Internet,  singkatan  dari  interconnection  and  networking ,  adalah jaringan informasi global, yaitu  “The largest global network of computers, that enables  people  throughout  the  world  to  connect  with  each  other¨.   Internet diluncurkan  pertama  kali  oleh  J.C.R.  Licklider  dari MIT  (Massachusetts Institute Technology)  pada bulan Agustus 1962. Untuk dapat menggunakan Internet  diperlukan  sebuah  komputer  yang  memadai,  harddisk  yang cukup,  modem  (berkecepatan  minimal  14.400  kilobyte  per  second/kbps), sambungan  telepon  (multifungsi:  telepon,  faksimili,  dan  Internet),  ada program  Windows, dan sedikit banyak tahu cara mengoperasikannya.Selanjutnya  hubungi  provider  terdekat.  Andaikan  semua  prasyarat  tadi  tidak  dimiliki,  cukup  mendatangi  warnet  (warung  Internet)  terdekat yang  banyak  terdapat  di  kota-kota  besar,  bahkan  sampai  ke  desa-desa, kita dapat mengakses situs-situs apa saja sesuai dengan kebutuhan kita. Internet disebut juga media massa kontemporer, karena memenuhi syarat-syarat sebagai sebuah media massa, seperti antara lain: ditujukan kepada  sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim serta melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima  secara  serentak  dan  sesaat  oleh  khalayaknya.    Bahkan  Rusman (2007)  menyebutkan  bahwa  Internet  merupakan  perpustakaan  raksasa dunia,  karena  di  dalam  Internet  terdapat  milyaran  sumber  informasi,

sehingga  kita  dapat  menggunakan  informasi  tersebut  sesuai  dengan kebutuhan.

Pemanfaatan Internet sebagai media pembelajaran mengkondisikan siswa  untuk  belajar  secara  mandiri.  “Through  independent  study,  students become  doers,  as  well  as  thinkers”  (Cobine,  1997).  Para  siswa  dapat mengakses secara online dari berbagai perpustakaan, museum, database , dan  mendapatkan  sumber  primer  tentang  berbagai  peristiwa  sejarah,

biografi,  rekaman,  laporan,  data  statistik,  (Gordin  et.  al.,  1995).  Informasi yang  diberikan  server-computers   itu  dapat  berasal  dari  commercial businesses (.com),  goverment services   (.gov),   nonprofit organizations  (.org), educational institutions (.edu) atau  artistic and cultural groups  (.arts)Siswa  dapat  berperan  sebagai  seorang  peneliti,  menjadi  seorang analis, tidak hanya konsumen informasi saja. Mereka menganalisis informasi yang  relevan  dengan  pembelajaran  IPS  dan  melakukan  pencarian  yang sesuai  dengan  kehidupan  nyatanya  (real  life) .  Siswa  dan  guru  tidak perlu  hadir  secara  fisik  di  kelas (classroom  meeting),  karena  siswa  dapat mempelajari bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas pembelajaran serta ujian  dengan  cara  mengakses  jaringan  komputer  yang  telah  ditetapkan secara  online.  Siswa  juga  dapat  belajar  bekerjasama  (collaborative)   satu sama  lain.  Mereka  dapat  saling  berkirim  e-mail  (electronic  mail)   untuk mendiskusikan  bahan  ajar.  Kemudian,  selain  mengerjakan  tugas-tugas pembelajaran  dan  menjawab  pertanyaan-pertanyaan  yang  diberikan guru siswa dapat berkomunikasi dengan teman sekelasnya. Pemanfaatan  Internet  sebagai  media  pembelajaran  memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut : Dimungkinkan  terjadinya  distribusi  pendidikan  ke  semua  penjuru  1.  tanah  air  dan  kapasitas  daya  tampung  yang  tidak  terbatas  karena tidak memerlukan ruang kelas;Proses pembelajaran tidak terbatas oleh waktu seperti halnya tatap

2.  muka biasa; Pembelajaran  dapat  memilih  topik  atau  bahan  ajar  yang  sesuai          3.  dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing;Lama  waktu  belajar  juga  tergantung  pada  kemampuan  masing-                                                                                 4.  masing siswa;Adanya keakuratan dan kekinian materi pembelajaran;

5.  Pembelajaran  dapat  dilakukan  secara  interaktif,  sehingga  menarik

6.  siswa;  dan  memungkinkan  pihak  berkepentingan  (orang  tua siswa  maupun  guru)  dapat  turut  serta  menyukseskan  proses pembelajaran, dengan cara mengecek tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara online. Perkembangan/kemajuan  teknologi  Internet  yang  sangat  pesat dan  merambah  ke  seluruh  penjuru  dunia  telah  dimanfaatkan  oleh berbagai negara, institusi, dan ahli untuk berbagai kepentingan termasuk di  dalamnya  untuk  pendidikan/pembelajaran.    Berbagai  percobaan untuk  mengembangkan  perangkat  lunak  (program  aplikasi)  yang  dapat menunjang  upaya  peningkatan  mutu  pendidikan/pembelajaran  terus dilakukan. Perangkat  lunak  yang  telah  dihasilkan  akan  memungkinkan  para pengembang pembelajaran  (instructional developers) bekerjasama dengan ahli materi  (content specialists)  mengemas materi pembelajaran elektronik (online learning materials) .  Pembelajaran melalui Internet di Sekolah Dasar dapat diberikan dalam beberapa format (Wulf, 1996), di antaranya adalah:

(1)  Electronic  mail  (delivery  of  course  materials,  sending  in  assignments, getting and giving feedback, using a course listserv., i.e., electronic discussion group),   (2)  Bulletin  boards/newsgroups  for  discussion  of  special  group,  (3) Downloading of course materials or tutorials, (4)  Interactive tutorials on the Web, dan (5)  Real time, interactive conferencing using MOO (Multiuser Object Oriented) systems or Internet Relay Chat.Setelah  bahan  pembelajaran  elektronik  dikemas  dan  dimasukkan ke dalam jaringan sehingga dapat diakses melalui Internet, maka kegiatan berikutnya  yang  perlu  dilakukan  adalah  mensosialisasikan  ketersediaan program  pembelajaran  tersebut  agar  dapat  diketahui  oleh  masyarakat luas  khususnya  para  calon  peserta  didik.    Para  guru  juga  perlu  diberikan pelatihan agar mereka mampu mengelola dengan baik penyelenggaraan kegiatan  pembelajaran  melalui  Internet.    Karakteristik/potensi  Internet sebagaimana yang telah diuraikan di atas tentunya masih dapat diperkaya lagi  dengan  yang  lainnya.    Namun,  setidak-tidaknya  ketiga  karakteristik/ potensi  Internet  tersebut  dipandang  sudah  memadai  sebagai  dasar pertimbangan  untuk  penyelenggaraan  kegiatan  pembelajaran  melalui Internet.

6.2   PENGGUNAAN INTERNET DALAM PEMBELAJARAN

Internet  merupakan  sebuah  jaringan  global  yang  merupakan kumpulan  dari  jaringan-jaringan  komputer  di  seluruh  dunia.  Internet mempermudah  para  pemakainya  untuk  mendapatkan  informasi-informasi di dunia  cyber, lembaga-lembaga milik pemerintah dan institusi pendidikan  dengan  menggunakan  komunikasi  protokol  yang  terdapat

pada  komputer,  seperti Transmission  Control  Protocol  (TCP)   yaitu  suatu

protokol  yang  sanggup  memungkinkan  sistem  apapun  antar  sistem jaringan  komputer  dapat  berkomunikasi  baik  secara  lokal  maupun internasional,  yaitu  dengan  modus  koneksi  Serial  Line  Internet  Protocol (SLIP)  atau  Point  to  Point  Protocol  (PPP) .  Tahun  1983  merupakan  tahun kelahiran Internet yang ditandai dengan diadopsinya Transmission Control Protocol (TCP)  sebagai standar bagi  ARPANET . Protokol yang lainnya adalah IP (Internet Protocol).

Berikut  ini  hal-hal  yang  dapat  difasilitasi  oleh  adanya  Internet: Discovery   (penemuan),  ini  meliputi  browsing   dan  pencarian  informasi-informasi  tertentu.  Communication  (komunikasi),  Internet  menyediakan jaringan komunikasi yang cepat dan murah dari mulai pesan-pesan yang berupa  buletin  sampai  dengan  pertukaran  komunikasi  yang  bersifat

kompleks antar atau inter-organisasi. Juga termasuk diantaranya transfer informasi (antar komputer) dan proses informasi. Adapun contoh-contoh media  komunikasi  yang  utama  seperti  e-mail,  chat  group  (percakapan secara berkelompok), dan  newsgroup (gabungan kelompok yang bertukar berita). Collaboration (kolaborasi), seiring dengan semakin meningkatnya

komunikasi, dan kolaborasi antar media elektronik baik itu antar individu maupun antar kelompok maka beberapa fasilitas canggih dan modern pun mulai digunakan dari mulai screen sharing  sampai dengan  teleconferencing . Kolaborasi  juga  meliputi  jasa/pelayanan  resource-sharing   (pertukaran sumber-sumber  informasi),  yang  menyediakan  akses  pada server-server yang sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Internet juga dapat digunakan dalam bidang pendidikan dan dunia hiburan.  Selain  itu  untuk  mempermudah  perusahaan  dalam  melakukan berbagai transaksi bisnisnya, Internet juga menyediakan fasilitas electronic commerce  (EC)  yang  membantu  berbagai  kegiatan  bisnis  yang  beragam dari  mulai  periklanan  sampai  dengan  berbagai  jasa  pelayanan  yang ditawarkan pada para konsumen. Beberapa peralatan yang dikembangkan dalam  Internet  juga  dikembangkan  dalam network  yang  berada  dalam suatu  organisasi  tertentu  yang  dikenal  dengan  nama  fasilitas  intranet. Karena  jumlah  informasi  yang  terdapat  pada  Internet  bertambah  dua kali  lipat  dalam  setiap  tahunnya,  maka  untuk  mempermudah  pencarian data  yang  dibutuhkan,  beberapa  perusahaan  mengembangkan  fasilitas pencari data yang bersifat otomatis yang dikenal dengan nama  software agents .

INTERNET SEBAGAI SUMBER BELAJAR

Peranan Internet dalam organisasi sangat menguntungkan karena kemampuannya dalam mengolah data dengan jumlah yang sangat besar. Teknologi informasi sudah menjadi  jaringan komputer  terbesar di dunia,  yang dapat berfungsi dengan baik jika didukung oleh perangkat komputer dengan  perangkat  lunak  yang  baik,  dan  dengan  guru  yang  terlatih  baik. Menggunakan  Internet  dengan  segala  fasilitasnya  akan  memberikan kemudahan  untuk  mengakses  berbagai  informasi  untuk  pendidikan yang  secara  langsung  dapat  meningkatkan  pengetahuan  siswa  bagi keberhasilannya  dalam  belajar.  Karena  Internet  merupakan  sumber  data utama  dan  pengetahuan.  Melalui  teknologi  ini  kita  dapat  melakukan  di antaranya untuk Penelusuran dan pencarian bahan pustaka; 1.  Membangun  program  2.   Artificial  Intelligence  (kecerdasan  buatan) untuk memodelkan sebuah rencana pembelajaran;

Memberi kemudahan untuk mengakses apa yang disebut dengan  3.  virtual classroom  ataupun  virtual university ;Pemasaran dan promosi hasil karya penelitian; 4.  Kegunaan-kegunaan seperti di atas itu dapat diperluas bergantung kepada peralatan komputer yang dimiliki jaringan dan fasilitas telepon yang tersedia dan provider yang bertanggungjawab untuk tetap terpeliharanya

penggunaan  jaringan  komunikasi  dan  informasi  tersebut.  Dari  waktu ke  waktu  jika  dilihat  dari  jumlah  pemakaian  yang  makin  meningkat secara  eksponensial  setiap  tahunnya  memungkinkan  fasilitas  yang  pada mulanya  hanya  dapat  dinikmati  segelintir  orang,  dan  sekelompok  kecil sekolah  terkemuka  dengan  biaya  operasional  yang  tinggi,  ke  depan

besar  kemungkinan  biaya  yang  besar  itu  akan  dapat  ditekan  sehingga pemanfaatannya  benar-benar  dapat  menjadi  penunjang  utama  bagi pengelolaan pendidikan khususnya bagi pendidikan di daerah.

INTERNET UNTUK MANAJEMEN PEMBELAJARAN

Telah  kita  ma’fum  bersama  bahwa  perkembangan  dunia  saat ini  memasuki  era  informasi  sebagai  konsekuensi  dari  revolusi  digital yang  berdampak  merubah  masyarakat  industri  menjadi  masyarakat informasi.  Oleh  karena  itu  diperkirakan  pada  masa  datang  kehidupan

manusia akan banyak ditandai dengan munculnya fenomena information superhighway , semakin melubernya  information appliance , tergunakannya digital  and  virtual  libraries   dalam  proses  pendidikan  dan  pembelajaran, dan terwujudnya tele-working yang mengurangi pergerakan manusia ke perkantoran.

Agar pemanfaatan teknologi informasi tersebut dapat memberikan hasil  yang  maksimal  maka  juga  dibutuhkan  kemampuan  pengelola teknologi  komunikasi  dan  informasi  yang  baik  yang  dapat  diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan baik untuk tingkat pembuat kebijakan

pendidikan  di  daerah  maupun  pada  tingkat  sekolah.  Pemahaman  dan kemampuan  manajerial  kepala  sekolah  berkaitan  dengan  pemanfaatan teknologi  komunikasi  dan  infomasi  tersebut  merupakan  salah  satu persyaratan  pokok  dalam  pemilihan  kepala  sekolah.  Mintzberg  misalnya mengemukan  sepuluh  peran  pemimpin  yang  meliputi:  1)  informational  roles menempatkan  manajer  sebagai  monitor,  disseminator  dan   spokes person,

2)  decisional roles yang melibatkan  manajer  sebagai entrepreneur, disturbance  handler,  allocator  dan   negotiator,

3)  interpersonal  roles melibatkan  manajer  sebagai  figurhead,  liason  dan   leader.  Perhatikan gambar berikut:Sistem  informasi  telah  dikembangkan  untuk  mendukung  ketiga peranan  itu.  Dalam  tulisan  ini  akan  difokuskan  pada  peranan  pembuat keputusan  khusus  dalam  bidang  pendidikan.  Keberhasilan  seorang manajer dalam membuat keputusan bergantung atas pelaksanaan fungsi manajerial  seperti  planning,  organizing,  directing  dan   controlling .  Di  era informasi para pembuat keputusan harus menguasai alat dan teknik baru untuk  membantu  membuat  keputusan.  Saat  membuat  keputusan  para manajer  pendidikan  akan  melalui  proses  yang  sistematis.  Simon  (1977) mengatakan  bahwa  proses  ada  tiga  tahap  yaitu: intelligence ,  design ,  dan choice ,  kemudian  dia  menambahkan  dengan  implementation .  Proses ini  sebenarnya  cukup  dikenal  dan  dapat  didukung  dengan  alat  bantu keputusan  dan  modelling.  Untuk  memperoleh  modelling  dan  alat  bantu keputusan  itu  para  manajer  dapat  mengakses  dan  mengambil  software  dari Internet.

 

JENIS-JENIS PEMANFAATAN INTERNET

  1. PEMBELAJARAN BERBASIS WEB

Pembelajaran  berbasis  web  yang  populer  dengan  sebutan  Web-Based Training (WBT) atau kadang disebut  Web-Based Education (WEB) dapat didefinisikan  sebagai  aplikasi  teknologi  web  dalam  dunia  pembelajaran untuk  sebuah  proses  pendidikan.  Secara  sederhana  dapat  dikatakan bahwa  semua  pembelajaran  dengan  memanfaatkan  teknologi  Internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya maka kegiatan itu dapat disebut sebagai pembelajaran berbasis web. Kemudian  yang  ditawarkan  oleh  teknologi  ini  adalah  kecepatan dan tidak terbatasnya pada tempat dan waktu untuk mrngakses informasi. Kegiatan belajar dapat dengan mudah dilakukan oleh peserta didik kapan saja  dan  di  mana  saja  dirasakan  aman  oleh  peserta  didik  tersebut.  Batas ruang,  jarak  dan  waktu  tidak  lagi  menjadi  masalah  yang  rumit  untuk dipecahkan.

Bagaimana cara belajar melalui web? Ada persyaratan utama yang perlu  dipenuhi  yaitu  adanya  akses  dengan  sumber  informasi  melalui Internet.  Selanjutnya  adanya  informasi  tentang  di  mana  letak  sumber informasi  yang  ingin  kita  dapatkan  berada.  Ada  beberapa  sumber  data yang  dapat  diakses  dengan  bebas  dan  gratis,  tanpa  proses  administrasi pengaksesan  yang  rumit.  Ada  beberapa  sumber  informasi  yang  hanya dapat  diakses  oleh  pihak  yang  memang  telah  diberi  otorisasi  pemilik sumber informasi.

Teknologi  Internet  memberikan  kemudahan  bagi  siapa  saja  untuk mendapatkan informasi apa saja dari  mana saja dan kapan saja dengan mudah  dan  cepat.  Informasi  yang  tersedia  di  berbagai  pusat  data  di berbagai komputer di dunia. Selama komputer-komputer tersebut saling terhubung  dalam  jaringan  Internet,  dapat  kita  akses  dari  mana  saja.  Ini merupakan salah satu keuntungan belajar melalui Internet. Mewujudkan pembelajaran berbasis web bukan sekedar meletakkan materi belajar pada web untuk kemudian diakses melalui komputer web digunakan bukan hanya sebagai media alternatif pengganti kertas untuk menyimpan berbagai dokumentasi atau informasi. Web digunakan untuk mendapatkan  sisi  unggul  yang  tadi  telah  diungkap.  Keunggulan  yang tidak dimiliki media kertas ataupun media lain. Pada sub-bab judul sengaja dikatakan pembelajaran berbasis web itu  unik  tapi  serius.  Kata  serius  dipakai  untuk  mengungkapkan  bahwa merancang sampai dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis web  tidak  semudah  yang  dibayangkan.  Selain  infrastruktur  Internet, pembelajaran  berbasis  web    memerlukan  sebuah  model  instruksional yang  memang  dirancang  khusus  untuk  keperluan  itu.  Sebuah  model instruksional  merupakan  komponen  vital  yang  menentukan  keefektifan proses belajar. Apapun model instruksional yang dirancang, interaktifitas antara  peserta  didik,  guru,  pihak  pendukung  dan  materi  belajar  harus

mendapatkan  perhatian  khusus.  Ini  bukan  merupakan  pekerjaan  yang mudah. Banyak  pihak  mencoba  menggunakan  teknologi  web  untuk pembelajaran  dengan  meletakkan  materi  belajar  secara  online,  lalu menugaskan  peserta  didik  untuk  mendapatkan (downloading)  materi belajar  itu  sebagai  tugas  baca.  Setelah  itu  mereka  diminta  untuk mengumpulkan laporan, tugas dan lain sebagainya kembali ke guru juga melalui Internet. Jika ini dilakukan tentunya tidaklah menimbulkan proses belajar yang optimal.

Kita  dapat  membayangkan  suasana  di  ruang  kelas  ketika  sebuah “proses  belajar”  sedang  berlangsung.  Berapa  banyak  di  antara  peserta didik aktif terlibat dalam diskusi dan sesi tanya-jawab? Apa yang mereka lakukan di kelas? Dan tentunya masih banyak lagi pertanyaan-eranyaan lain  yang  sebenarnya  kita  sudah  mengetahui  jawabannya.  Proses Monitoring dalam pembelajaran berbasis web lebih sulit daripada di ruang kelas. Menyediakan bahan belajar online tidak cukup. Diperlukan sebuah desain  instruksional  sebagai  model  belajar  yang  engundang  sejumlah (sama  banyaknya  dengan  kegiatan  di  ruang  kelas)  peserta  didik  unuk terlibat dalam  berbagai kegiatan belajar. Satu  hal  yang  perlu  diingat  adalah  bagaimana  teknologi  web  ini dapat  membantu  proses  belajar.  Untuk  kepentingan  ini  materi  belajar perlu dikemas berbeda dengan penyampaian yang berbeda pula.

  1. IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS WEB

Model  pembelajaran  dirancang  dengan  mengintegrasikan pembelajaran  berbasis  web  dalam  program  pembelajaran  konvensional tatap  muka.  Proses  pembelajaran  konvensional  tatap  muka  dilakukan dengan  pendekatan  Student  Centered  Learning  (SCL)  melalui  kerja

kelompok. Model ini menuntut partisipasi peserta didik yang tinggi.Untuk  merancang  dan  mengimplementasikan    pembelajaran berbasis web, langkahnya adalah sebagai berikut:

Sebuah program pendidikan untuk peningkatan mutu pembelajaran

1.  di lingkungan kampus dengan berbasis web. Program ini dilakukan idealnya selama 5-10 bulan dan dibagi menjadi 5 tahap. Yaitu tahap 1, 3, 5  dilakukan secara jarak jauh dan untuk itu dipilih media web sebagai alat komunikasi. Sedangkan fase 2 dan 4 dilakukan secara konvensional tatap muka.

2.  Menetapkan  sebuah  mata  kuliah  pilihan  di  jurusan.  Pembelajaran           .

dengan tatap muka dilakukan secara rutin tiap minggu pada tujuh minggu pertama. Setelah itu tatap muka dilakukan setiap 2  atau 3  minggu sekali.Dua program pendidikan itu disampaikan melalui berbagai macam kegiatan belajar secara kelompok. Belajar dan mengerjakan tugas secara kolaboratif  dalam  kelompok  sangat  dominan  pada    kedua  program tersebut.

  1. INTERAKSI TATAP MUKA DAN VIRTUAL

Sekalipun  teknologi  web  memungkinkan  pembelajaran  dilakukan virtual   secara  penuh  namun  kesempatan  itu  tidak  dipilih.  Interaksi  satu sama lain untuk dapat berkomunikasi langsung secara tatap muka masih dibutuhkan. Ada tiga alasan mengapa forum tatap muka masih dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran ini. Alasan tersebut adalah:

1.   Perlunya forum untuk menjelaskan maksud  dan mekanisme belajar   yag akan dilalui  bersama secara langsung dengan semua peserta didik.  Keberhasilan  sebuah  proses  pembelajaran  juga  ditentukan oleh  pemahaman  peserta  didik  tentang  apa,  mengapa  dan bagaimana proses  belajar dan mengerjakan tugas akan berlangsung. Peserta didik perlu mengetahui keluaran dan kompetensi apa yang akan  didapat  setelah  mengikuti  suatu  kegiatan  pembelajaran. Berdasarkan  pengalaman,  menjelaskan  maksud  dan  mekanisme belajar  merupakan  langkah  awal  yang  sangat  vital.  Kelancaran proses belajar selanjutnya sangat ditentukan pada tahapan ini;

2.  Perlunya  memberikan  pemahaman  sekaligus  pengalaman  belajar                                    dengan mengerjakan tugas secara kelompok dan kolaboratif  pada setiap  peserta  didik.  Karena  model  pembelajaran  yang  dirancang menuntut  kerja  kelompok  maka  peserta  didik  perlu  memiliki kompetensi  dan  komunikasi.  Iklim  partisipatoris  dan  aktif  terlibat dalam  berbagai  kegiatan  perlu  dikenalkan  sekaligus  dialami  oleh etiap  siswa.  Untuk  itu  mengenal  pribadi  satu  dengan  yang  lain perlu dilakukan secara langsung guna membangun suatu kelompok yang kokoh selama kerja secara virtual  selanjutnya; Perlunya  pemberian  pelatihan  secukupnya  dalam  menggunakan                3.  komputer  yang  akan  digunakan  sebagai  media  komunikasi berbasis  web  kepada  setiap  peserta  didik.  Dengan  menyertakan berbagai  keiatan  menggunakan  komputer  beserta  fasilitas  sistem komunikasi  pendukungnya,  maka  setiap  peserta  didik  harus mempunyai keterampilan mengoperasikannya. Kekurangpahaman dalam  mengoperasikan  peralatan  tersebut  sangat  berdampak pada  kemungkinan  rendahnya  partisipasi  mereka  dalam  berbagai kegiatan diskusi  virtual  selanjutnya.

Di negara-negara majau seperti Amerika Serikat, teknologi informasi sudah  betul-betul  merasuk  ke  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Dalam berbagai  hal  dapat  kita  lihat  implikasinya.  Berbagai  dokumen  dapat  kita baca untuk melihat hal ini. Di bawah ini akan dibahas implikasi TI dalam bidang Pendidikan.

Sejarah  teknologi  informasi  tidak  dapat  dilepaskan  dari  bidang pendidikan.  Di  Amerika,  TI  mulai  tumbuh  dari  lingkungan  akademis (NSFNET), (Nerds 2.0.1). Demikian halnya di Indonesia, TI mulai tumbuh di lingkungan akademis, seperti di, ITB, UPI, dan UI. Adanya TI  atau  Internet  membuka  sumber  informasi  yang  tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi.  Perpustakaan  merupakan  salah  satu  sumber  informasi  yang  mahal harganya.  Adanya  Jaringan  TI  atau  Internet  memungkinkan  seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat. Aplikasi telnet (seperti pada aplikasi hytelnet) atau melalui  web browser ( Netscape  dan  Internet Explorer ). Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam  penelitian  pendidikan,  tugas  akhir. Tukar  menukar  informasi  atau tanya  jawab  dengan  pakar  dapat  dilakukan  melalui  Internet.  Tanpa adanya  Internet  banyak  tugas  akhir,  tesis,  dan  disertasi  yang  mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.

Kerjasama  antar  ahli  dan  juga  dengan  mahasiswa  yang  letaknya berjauhan  secara  fisik  dapat  dilakukan  dengan  lebih  mudah.  Dahulu, seseorang  harus  berkelana  atau  berjalan  jauh  untuk  menemui  seorang pakar  untuk  mendiskusikan  sebuah  masalah.  Saat  ini  hal  ini  dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan e-mail . Makalah dan penelitian dapat  dilakukan  dengan  saling  tukar  menukar  data  melalui  Internet,  via e-mail  ataupun dengan menggunakan mekanisme  file sharing. Bayangkan apabila  seorang  mahasiswa  di  Sumatera  dapat  berdiskusi  masalah kedokteran dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Irian.

Mahasiswa  di  manapun  di  Indonesia  dapat  mengakses  para  ahli  atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.

Sharing  information   juga  sangat  dibutuhkan  dalam  bidang penelitian  agar  penelitian  tidak  berulang  (reinvent  the  wheel).  Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.Distance  learning  dan  virtual  campus  merupakan  sebuah  aplikasi baru  bagi  Internet.  Bahkan  tak  kurang  pakar  ekonomi  Peter  Drucker mengatakan  bahwa “Triggered  by  the  Internet,  continuing  adult  education may  wll  become  our  greatest  growth  industry”.  Virtual  university   memiliki karakteristik  yang  scalable,  yaitu  dapat  menyediakan  pendidikan  yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta  mungkin  hanya  dapat  diisi  50  orang. Virtual  university   dapat diakses oleh siapa saja, dari mana saja.

Bagi  Indonesia,  manfaat-manfaat  yang  disebutkan  di  atas  sudah dapat  menjadi  alasan  yang  kuat  untuk  menjadikan  Internet  sebagai infrastruktur bidang pendidikan. Untuk erangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia melalui akses ke perpustakaan; akses ke pakar; dan penyediaan fasilitas kerjasama.Dalam kegiatan pembelajaran dengan munculnya berbagai software  yang  dapat  digunakan  untuk  kepentingan  pembelajaran,  sekarang  ini

para  guru  dapat  merancang  pembelajaran  dengan  berbasis  komputer, yaitu  dengan  menggunakan  salah  satu  bahasa  pemrograman  baik  itu Borland  Delphi,  Pascal,  Adobe/Macromedia  Flash,  SWiSH  dan  lainnya.  Hal ini dapat memberikan variasi dalam  mengajar. Seorang guru tidak harus selalu  menjejali  siswa  dengan  informasi  yang  membosankan.  Dengan menggunakan  Teknologi  Informasi  seorang  guru  dapat  memanfaatkan komputer sebagai  total teaching , di mana guru hanya sebagai fasilitator dan siswa dapat belajar dengan berbasis komputer baik dengan menggunakan model pembelajaran  drills , tutorial, simulasi ataupun instructional games .

  1. PEMANFAATAN E-LEARNING UNTUK PEMBELAJARAN

Menurut Jaya Kumar C. Koran (2002),  e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik ( LAN ,  WAN , atau Internet) untuk menyampaikan  isi  pembelajaran,  interaksi,  atau  bimbingan.  Adapula yang  menafsirkan  e-learning  sebagai  bentuk  pendidikan  jarak  jauh  yang dilakukan  melalui  media  Internet.  Sedangkan  Dong  (dalam  Kamarga, 2002)  mendefinisikan e-learning  sebagai  kegiatan  belajar asynchronous  melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar

yang sesuai dengan kebutuhannya. Atau e-learning didefinisikan sebagai berikut:  “e-Learning  is  a  generic  term  for  all  technologically  supported learning using an array of teaching and learning tools as phone bridging, audio  and  videotapes,  teleconferencing,  satellite  transmissions,  and  the more  recognized  web-based  training  or  computer  aided  instruction  also commonly referred to as online courses (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).”

Rosenberg  (2001)  menekankan  bahwa  e-learning  merujuk  pada penggunaan  teknologi  Internet  untuk  mengirimkan  serangkaian  solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan  Cambell  (2002),  Kamarga  (2002)  yang  intinya  menekankan penggunaan  Internet  dalam  pendidikan  sebagai  hakikat  e-learning.

Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari  elektronik  dalam e-learning  digunakan  sebagai  istilah  untuk  segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pembelajaran lewat  teknologi  elektronik  Internet.  Internet,  Intranet,  satelit,  tape  audio/video,  TV  interaktif  dan  CD-ROM  adalah  sebagian  dari  media  elektronik yang digunakan pembelajaran boleh disampaikan secara ‘synchronously’

(pada  waktu  yang  sama)  ataupun  ‘asynchronously’   (pada  waktu  yang berbeda).  Materi  pembelajaran  dan  pembelajaran  yang  disampaikan melalui  media  ini  mempunyai  teks,  grafik,  animasi,  simulasi,  audio  dan video.  Ia  juga  harus  menyediakan  kemudahan  untuk ‘discussion  group’ dengan bantuan profesional dalam bidangnya.Perbedaan  Pembelajaran  Tradisional  dengan  e-learning  yaitu kelas  ‘tradisional’,  guru  dianggap  sebagai  orang  yang  serba  tahu  dan ditugaskan  untuk  menyalurkan  ilmu  pengetahuan  kepada  pelajarnya.

Sedangkan  di  dalam  pembelajaran  ‘e-learning’  fokus  utamanya  adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggungjawab untuk pembelajarannya.  Suasana  pembelajaran ‘e-learning’   akan  ‘memaksa’ pelajar  memainkan  peranan  yang  lebih  aktif  dalam  pembelajarannya. Pelajar  membuat  perancangan  dan  mencari  materi  dengan  usaha,  dan inisiatif sendiri.

Khoe Yao Tung (2000) mengatakan bahwa setelah kehadiran guru/dosen  dalam  arti  sebenarnya,  Internet  akan  menjadi  suplemen  dan komplemen dalam menjadikan wakil dosen/guru yang mewakili sumber belajar yang penting di dunia.Cisco (2001) menjelaskan filosofi  e-learning sebagai berikut.Pertama ,  e -learning  merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara online. Kedua ,  e-learning  menyediakan  seperangkat  alat  yang  dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian  terhadap  buku  teks,  CD-ROM,  dan  pelatihan  berbasis  komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi. Ketiga ,  e-learning  tidak  berarti  menggantikan  model  belajar konvensional  di  dalam  kelas,  tetapi  memperkuat  model  belajar  tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. Keempat , kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk, isi  dan  cara  penyampaiannya.  Makin  baik  eselarasan  antar  content  dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik. Sedangkan  karakteristik  e-learning,  antara  lain:  Pertama , Memanfaatkan  jasa  teknologi  elektronik;  di  mana  guru  dan  siswa,  siswa dan  sesama  siswa  atau  guru  dan  sesama  guru  dapat  berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler; Kedua , Memanfaatkan keunggulan komputer ( digital media dan  computer networks ).  Ketiga , Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials)  disimpan  di  komputer  sehingga  dapat  diakses  oleh  guru  dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya. Keempat , Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer. Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib  dipenuhi  dalam  merancang  e-learning,  yaitu:  sederhana,  personal, dan cepat. Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel  yang  disediakan,  akan  mengurangi  pengenalan  sistem e-learning itu  sendiri,  sehingga  waktu  belajar  peserta  dapat  diefisienkan  untuk proses  belajar  itu  sendiri  dan  bukan  pada  belajar  menggunakan  sistem e-learning-nya. Syarat  personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan baik  seperti  layaknya  seorang  guru  yang  berkomunikasi  dengan  murid di  depan  kelas.  Dengan  pendekatan  dan  interaksi  yang  lebih  personal, peserta  didik  diperhatikan  kemajuannya,  serta  dibantu  segala  persoalan yang  dihadapinya.  Hal  ini  akan  membuat  peserta  didik  betah  berlama-lama di depan layar komputernya. Kemudian layanan ini ditunjang dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta didik lainnya. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar atau pengelola.

  1. TEKNOLOGI PENDUKUNG E-LEARNING

Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah:  Computer Based Learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya  menggunakan  komputer;  dan  Computer  Assisted  Learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.

Teknologi  pembelajaran  terus  berkembang.  Namun  pada  prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:  Technology-based  learning  dan  Technology-based  web-learning.  Technology-based learning   ini  pada  prinsipnya  terdiri  dari  Audio  Information  Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone)  dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging) . Sedangkan  technology-based web-learning   pada  dasarnya  adalah  Data  Information  Technologies  (bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration).

Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas  (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering dipakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimaksudkan agar komunikasi antara murid dan guru  bisa  terjadi  dengan  keunggulan  teknologi  e-learning  ini.  Di  antara banyak fasilitas Internet, menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar Internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e-mail ,  Mailing List (milis),  News Group ,  File Transfer Protocol (FTP), dan World Wide Web (WWW)”.Sedangkan  Rosenberg  (2001)  mengkategorikan  tiga  kriteria  dasar yang  ada  dalam  e-learning.  Pertama,  e-learning  bersifat  jaringan,  yang membuatnya  mampu  memperbaiki  secara  cepat,  menyimpan  atau memunculkan  kembali,  mendistribusikan,  dan  sharing  pembelajaran dan  informasi.  Kedua,  e-learning  dikirimkan  kepada  pengguna  melalui komputer  dengan  menggunakan  standar  teknologi  Internet.  Ketiga, e-learning  terfokus  pada  pandangan  pembelajaran  yang  paling  luas, solusi  pembelajaran  yang  menggungguli  paradigma  tradisional  dalam pelatihan.

Ada  beberapa  alternatif  paradigma  pendidikan  melalui  Internet ini  yang  salah  satunya  adalah  system  “dot  com  educational  system”  (Kardiawarman,  2000).  Paradigma  ini  dapat  mengintegrasikan  beberapa sistem  seperti, Pertama ,  paradigma  virtual  teacher  resources ,  yang  dapat mengatasi terbatasnya jumlah guru yang berkualitas, sehingga siswa tidak haus  secara  intensif  memerlukan  dukungan  guru,  karena  peranan  guru maya (virtual teacher)  dan sebagian besar diambil alih oleh sistem belajar tersebut.  Kedua,  virtual  school  system ,  yang  dapat  membuka  peluang menyelenggarakan  pendidikan  dasar,  menengah  dan  tinggi  yang  tidak memerlukan ruang dan waktu. Keunggulan paradigma ini daya tampung siswa  tak  terbatas.  Siswa  dapat  melakukan  kegiatan  belajar  kapan  saja,

di  mana  saja,  dan  dari  mana  saja.  Ketiga ,  paradigma  cyber  educational resources  system ,  atau  dot  com  learning  resources  system .  Merupakan pedukung  kedua  paradigma  di  atas,  dalam  membantu  akses  terhadap artikel atau jurnal elektronik yang tersedia secara bebas dan gratis dalam Internet. Penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut  Williams  (1999).  Internet  adalah ‘a  large  collection  of  computers in  networks  that  are  tied  together  so  that  many  users  can  share  their  vast resources’.

  1. PENGEMBANGAN MODEL E-LEARNING

Pendapat  Haughey  (Rusman,  2007)  tentang  pengembangan e-learning.  Menurutnya  ada  tiga  kemungkinan  dalam  pengembangan sistem  pembelajaran  berbasis  Internet,  yaitu  web  course,  web  centric course ,  dan  web enhanced course . Web  course  adalah  penggunaan  Internet  untuk  keperluan pendidikan, yang mana mahasiswa dan dosen sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui Internet. Dengan kata lain model ini  enggunakan sistem jarak jauh.

Web centric course  adalah penggunaan Internet yang memadukan  antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan  melalui  Internet,  dan  sebagian  lagi  melalui  tatap  muka. Fungsinya  saling  melengkapi.  Dalam  model  ini  dosen  bisa  memberikan petunjuk pada mahasiswa untuk mempelajari materi perkuliahan melalui web  yang  telah  dibuatnya.  Mahasiswa  juga  diberikan  arahan  untuk mencari  sumber  lain  dari  situs-situs  yang  relevan.  Dalam  tatap  muka, mahasiswa dan dosen lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui Internet tersebut.

Web  enhanced  course  adalah  pemanfaatan  Internet  untuk menunjang  peningkatan  kualitas  pembelajaran  yang  dilakukan  di  kelas. Fungsi  Internet  adalah  untuk  memberikan  pengayaan  dan  komunikasi antara mahasiswa dengan dosen, sesama mahasiswa, anggota kelompok, atau  mahasiswa  dengan  nara  sumber  lain.  Oleh  karena  itu  peran  dosen dalam  hal  ini  dituntut  untuk  menguasai  teknik  mencari  informasi  di Internet,  membimbing  mahasiswa  mencari  dan  menemukan  situs-situs yang relevan dengan bahan perkuliahan, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui  Internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.

  1. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN E-LEARNING

Petunjuk tentang manfaat penggunaan Internet, khususnya dalam pendidikan  terbuka  dan  jarak  jauh  (Elangoan,  1999;  Soekartawi,  2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997), antara lain:

Pertama ,  Tersedianya  fasilitas  e-moderating   di  mana  dosen  dan mahasiswa  dapat  berkomunikasi  secara  mudah  melalui  fasilitas  Internet secara  regular   atau  kapan  saja  kegiatan  berkomunikasi  itu  dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu.                                                                                                                                   Kedua , Dosen dan mahasiswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui Internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.                                                                       Ketiga , Mahasiswa dapat belajar atau me review  bahan perkuliahan setiap  saat  dan  di  mana  saja  kalau  diperlukan  mengingat  bahan  ajar tersimpan di komputer.                      Keempat ,  Bila  mahasiswa  memerlukan  tambahan  informasi  yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah.     Kelima ,  Baik  dosen  maupun  mahasiswa  dapat  melakukan  diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.                                                                    Keenam,  Berubahnya  peran  mahasiswa  dari  yang  biasanya  pasif menjadi aktif dan lebih mandiri.                                                                                                                   Ketujuh,  Relatif  lebih  efisien.  Misalnya  bagi  mereka  yang  tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional. Walaupun  demikian  pemanfaatan  internet  untuk  pembelajaran atau e-learning  juga  tidak  terlepas  dari  berbagai  kekurangan.  Berbagai kritik (Bullen, 2001, Beam, 1997), antara lain.                                                      Pertama , Kurangnya interaksi antara  dosen  dan  mahasiswa  atau  bahkan  antar  siswa  itu  sendiri.  Kurangnya  interaksi  ini  bisa  memperlambat  terbentuknya  values  dalam proses  pembelajaran.                                                                                                                    Kedua ,  Kecenderungan  mengabaikan  aspek akademik  atau  aspek  sosial  dan  sebaliknya  mendorong  tumbuhnya aspek  bisnis/komersial.                                            Ketiga ,  Proses  pembelajarannya  cenderung  ke arah  pelatihan  daripada  pendidikan.  Keempat ,  Berubahnya  peran  dosen dari  yang  semula  menguasai  teknik  pembelajaran  konvensional,  kini juga  dituntut  mengetahui  teknik  pembelajaran  yang  menggunakan  ICT.                                                                                                              Kelima ,  Mahasiswa  yang  tidak  mempunyai  motivasi  belajar  yang  tinggi cenderung gagal.                                                                                                                                 Keenam, Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet.                                                         Ketujuh, Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilanmengoperasikan  internet. Kedelapan ,  Kurangnya  personil  dalam  hal penguasaan bahasa pemrograman komputer.

204

GURU PROFESIONAL DARI SEGI BAHASA, TERMOLOGI, MAUPUN UNDANG-UNDANG

Profesional mempunyai makna yang mengacu kepada sebutan tentang orang yang mempunyai profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang yang menunjukkan keahlian /unjuk kinerja  sesuai dengan profesinya.

Pengakuan secara formal diberikan suatu lembaga atau badan yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah dan atau organisasi profesi. Sedangkan secara informal pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa suatu profesi.. misalnya Guru professional adalah guru yang telah mendapat pengakuan secara formal berdasarkan ketentuan yang berlaku Baik dalam kaitan dengan jabatan ataupun latar belakang pendidikan formalnya.

Pengakuan ini dinyatakan dalam bentuk surat keputusan, ijazah, akta, sertifikat, dsb. Baik yang menyangkut kualifikasi maupun kompetensi.

Profesionalisme adalah sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi  untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya . Seorang guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan tercermin dalam sikap mental serta komitmennya terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas proesional melalui berbagai cara dan strategi.

Kata “professional “artinya bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian Khusus untuk menjalankannya, professional, mutu kualitas, dan tindak-tanduk yang merupakan ciri suatu profesi orang professional(kamus Besar Bahasa Indonesia)

Dengan demikian, sebutan professional didasarkan pengakuan formal  terhadap kualifikasiSebutan guru professional juga dapat mengacu kepada pengakuan terhadap kompetensi penampilan unjuk kerja seorang guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai guru. Dan kompetensi penampilan unjuk kerja suatu jabatan atau pekerjaan tertentu. Dalam RUU Guru (paal 1 ayat 4) dinyatakan bahwa “Profesional adalah kemampuan melakukan pekerjaan sesuai dengan keahlian dan pengabdian diri kepada pihak lain”.

Profesionalisme  adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualita profesionalismenya. Eorang guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan tercermin dalam sikap mental serta komitmennya terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas profesional melalui berbagai cara dan strategi.

Ia selalu akan mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman sehingga keberadaannya senantiasa memberikan makna profesional.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata profesional artinya bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, profesional, mutu kualita dan tindak-tanduk yang merupakan ciri suatu profesi yang profesional.

Profesi pada hakekatnya merupakan suatu pernyataan atau janji terbukauntuk professional, maksudnyamenyatakan bahwa seseorang itu mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan karena merasa terpanggil menjabat pekerjaan itu . Mengenai kata profesi ini Everett Hughes menjelaskan bahwa istilah profesi merupakan suatu simbul dari suatu pekerjaan dan selanjutnya menjadi pekerjaan itu itu sendiri(Piet A. Sahertian, 1994:26)

Pengertian Guru Profesional menurut Mohammad Uzer Usman, sebagaimana dikutip oleh Piet A Sahertian adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.(Piet A.Sahertian, 1994:26).

“Profesionalisme” adalah suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tuganya.

Dengan demikian , sebutan profesionaliatas lebih menggambarkan suatu keadaan derajat keprofesionan seseorang dilihat dari sikap, pengetahuan, dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.

Dalam hal ini guru diharapkan memiliki profesionalitas keguruan yang memadai sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara efektif.

Adapun guru profesional ialah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal, mengakui dan sadar akan profesinya, memiliki sikap dan mampu mengembangkan profesinya serta ikut dalam mengkomunikasikan usaha pengembangan profesi dan bekerjasama dengan profesi lain.

“Profesionalisasi” berasal dari bentuk dasar profesional, mendapat sufiks “isasi: yang berarti proses jadi profesionalisasi adalah suatu proses menuju ke perwujudan dan peningkatan profesi dalam mencapai suatu kreteria yang sesuai dengan standar yang tel;ah ditetapkan. Dengan profesialisasi, para guru secara bertahap diharapkan akan mencapai derajat kreteria profesional seuai dengan standar yang telah ditetapkan menurut Undang-undang nomor 14 tahun 2005 yaitu berpendidikan akademik minimal S1 atau D-IV dan telah lulus Sertifikasi Pendidikan. Pada dasarnya profesionalisasi merupakan suatu proses erkesinambungan melalui berbagai program pendidikan dalam jabatan(in-service).

Guru adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan melalui interaksi edukatif secara terpola, formal, dan sistematis.

Dalam Undang-undang nomor 14 2005 Tentang Guru dan Dosen(pasal 1) dinyatakan bahwa: Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didi pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”

Guru profesional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Keahlian yang dimiliki oleh guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatian yang diprogramkan secara khusus untuk itu.

Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi, dan lisensi dari pihak yang berwenang(dalam hal ini pemerintah dan organisasi profesi). Dengan keahliannya itu seorang guru mampu

menunjukkan otonominya, baik secara pribadi maupun sebagai pemangku profeinya.

Di samping dengan keahliannya, sosok profesional guru ditunjukkan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru profesional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peerta didik, orang tua, masyarakat, bangsa. Negara, dan agamanya.

Guru profesional mempunyai tanggung jawab pribadi, sosial, intelektual, moral, dan spiritual. Dan Tanggung jawab pribadi menjadi sosok yang mampu mandiri yang mampu memahami dirinya.

Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui komptensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaksi secara efektif.

Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya.

Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma agama dan moral.

Ciri profesi selanjutnya adalahkesejawatan , yaitu rasa kebersamaan antara sesama guru. Kesejawatan ini diwujudkandalam persatuan para guru melalui organisasi, dan perjuangan yaitu, PGRI. Melalui PGRI para guru mewujudkan rasa kebersamaannya dan memperjuangkan martabat diri dan profesinya di atas, pada dasarnya te;lah tersirat dalam kode etik Guru Indonesia sebagai pegangan profesional guru.

Sementara itu, para guru diharapkan akan memiliki jiwa profesionalisme, yaitu sikap mental yang senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan profesional. Kualitas profesionalisme didukung oleh lima kompetensi sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang ideal.
  2. Meningkatkan dan memelihara citra profesi
  3. Senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan ketrampilannya.
  4. mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi.

 

Dalam Undang-undang Guru pasal 5 ayat(1) dikatakan bahwa profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional sebagai berikut:

  1. Memiliki bakat, minat, panggilam jiwa dan idealisme.
  2. Memiliki kualifikasi pendidik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya(liniar).
  3. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya.
  4. Mematuhi kode etik profesi.
  5. Memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugasnya.
  6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai denganprofesi kerjanya.
  7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara berkelanjutan.
  8. Memperoleh perlindunganhukum dalam melaksanakan tuga profesionalnya.
  9. Memiliki organisasi profesi yang berbadab hukum.

(1) .  Kualifikasi Kompetensi Guru: yang men-syaratkan kualifikasi akademik guru minimal S1 atau Diploma-IV, dengan kompoeteni sebagai agenpembelajaran yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.

(2). Hak Guru: yang berupa penghasilan di atas kebutuhan hidup minimal berupa gaji pokok, tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait tugasnya sebagai guru.(pasal 15 ayat 1)

(3). Kewajiban Guru: untuk mengisi keadaan darurat adanya wajib kerja sebagai guru bagi PNS yang memenuhi persyaratan.

(4).  Pengembangan Profesi Guru: melalui pendidikan guru yang lebih berorientasi pada pengembangan kepribadian dan profesi dalam satu lembaga yang terpadu.

(5).  Perlindungan: Guru mendapat perlindungan hukum dalam berbagai tindakan yang merugikan profesi, kesejahteraan, dan keselamatana kerja.

(6).  Organisasi profesi sebagai wadah independen untuk meningkatkan kompetensi karir wawasan kependidikan, perlindungan prfesi, kesejahteraan, dan atau pengabdian, menetapkan kode etik guru, memperjuangkan aspirasi dan hak-hak guru.

Menurut UUSPN guru harus memiliki empat kompetensi: Pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Sedangkan ciri-ciri sederhananya guru profesional itu yang pertama menguasai materi atau ilmu yang akan diajarkan dan yang kedua menguasai metodologi pengajaran.

  1. Selalu mempunyai egergi untuk siwanya

Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuan mendengar dengan seksama.

  1. Mempunyai Tujuan Yang Jelas Untuk Pelajaran

Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

  1. Mempunyai ketrampilan mendisiplinkan yang efektif.

Seorang guru yang baik memiliki ketrampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

  1. Bisa berkomunikasi baikdengan orang tua

Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, SMS. rapat, email, akun orang tua di kelas online, atau twitter.

  1. Mempunyai harapan tinggi pada siswanya.

seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan memdorong semua siswa di kelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

  1. Pengetahuan Tentang kurikulum

Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

  1. Pengetahuan Tentang Subjek Yang Diajar

Hal ini sudah jekas, namun sering diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antosiasme untuk subjek didik yang mereka ajar.Mereka siap untuk bertanya-jawab dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboiratif.

  1. Selalu Memberikan Yang Terbaik untuk Anak-anak dan Proses pembelajaran

Guru selalu bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka bergembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, untuk masa sekarang atau nanti saat sudah beranjak dewasa.

  1. Mempunyai hubungan yang berkualitas dengan siswa

Guru mampu mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat-menghormati dengan siswanya sehingga terbentuk hubungan yang dapat dipercaya.

 

 

Atas terlaksananya UNBK SMK 2017 hari keempat Sumber Belajar mengucapkan Selamat

Atas terlaksananya UNBK SMK 2017 hari keempat                                                          Sumber Belajar mengucapkan  Selamat                                                                            Semoga semua siswa mampu mengerjakan soal dengan benar

Mengenal Karakteristik Peserta Didik

Mengenal Karakteristik Peserta Didik

(Rangkuman Referensi Guru Bahasa Indonesia)

Pembahasan tentang dunia pendidikan selalu terkait dengan komponen yang melekat di dalamnya, seperti kurikulum,  pendidik, dan peserta didik. Ketiga komponen tersebut saling terkait satu dengan yang lain dalam membentuk sebuah proses pembelajaran yang efektif. Sebagai seorang pendidik, tugas kita tidak hanya wajib menguasai kurikulum dan tugas-tugas kependidikan tetapi hendaknya mengenali peserta didik atau anak didik kita terlebih karakteristik mereka. Karakteristik peserta didik yang perlu dikenal dan dipahami oleh para pendidik tidak hanya terbatas pada tipe kepribadian mereka saja, tetapi juga melingkupi kebutuhan  belajar, kemampuan mereka dalam belajar, potensi yang dimiliki, dan lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Faktor-faktor ini secara tidak langsung membantu atau menghambat para peserta didik dalam menerima dan memproses informasi yang diterima dari pendidiknya. Dengan mengetahui faktor-faktor di atas, para pendidik dapat mengembangkan hal-hal positif yang ada di dalam diri peserta didik dan mengurangi/meminimalisi  hal-hal yang negatif yang dapat menghambat kompetensi yang ada di dalam dirinya. Selain itu,  pendidik juga dapat mengenali karakter dan potensi yang ada di dalam dirinya sendiri.

` Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh para pendidik untuk menjadikan dirinya sebagai  pendidik yang profesional adalah selalu meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial. Di dalam kompetensi pedagogik, seorang pendidik wajib: 1) mengenali karakteristik dan potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan zengembangan kurikulum, 4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif, dan 5) menguasai sistem, mekanisme, dan prosedur penilaian. Di sini terlihat jelas bahwasanya mengenali karakteristik dan potensi  peserta didik merupakan komponen pertama dalam kompetensi pedagogik, tetapi seringkali terlupakan oleh seorang pendidik. Memang tidak mudah untuk mengenali karakter dan potensi pada setiap peserta didik, tapi hal ini sangatlah mungkin.

  1. Karakteristik Peserta Didik

Istilah karakter membuat banyak orang menyamakannya dengan kata sifat, watak, akhlak, atau tabiat. Kenyataannya tak selalu bisa dimaknai seperti itu. Kita perlu mempelajari pengertian karakter menurut para ahli agar memahami perbedaannya. Menurut Doni Kusuma,  karakter adalah ciri, karakteristik, gaya, atau sifat diri dari seseorang yang bersumber dari bentukan yang diterima dari lingkungannya.  Berdasarkan pendapat tersebut karakter peserta didik turut dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.  Tadkiroatun Musfiroh (2008: 25),  mengatakan karakter  mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).   Dari pendapat para ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa karakter adalah ciri, sifat diri, akhlak atau budi pekerti, kepribadian dari seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik.

Sebagai seorang pendidik  tentunya tidak hanya bertugas mengajar di kelas saja, akan tetapi mendidik dan juga melatih. Hal ini sangatlah tepat apabila dikaitkan dengan pembentukan karakter yang baik bagi para peserta didik. Seperti apa seorang pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana melatih para peserta didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu sendiri, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,  misalnya dengan  memunculkan kesan pertama pendidik yang positif saat kegiatan belajar di kelas.  Pendidik sangat perlu memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta  didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosio-sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental  atau perkembangan kognitifnya. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di  atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang  akan dilaksanakan.

Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan. Seorang pendidik mempunyai peran multifungsi, sebagai konselor, dia mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti yang positif, serta memberikan solusi yang tepat dan tuntas  dalam menyelesaikan masalah peserta didik. Selain itu juga memperhatikan karakter dan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Pendidik  juga bisa berperan sebagai seorang dokter yang memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya.

Perannya  sebagai seorang ulama, pendidik membimbing dan menuntun batin atau kejiwaan peserta didik, memberikan pencerahan yang menyejukkan dan menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan agama yang hasilnya akan lebih baik. Mengenal dan memahami peserta didik dapat dilakukan dengan cara memperhatikan dan menganalisa tutur kata (cara bicara),  sikap dan perilaku atau perbuatan anak didk, karena dari tiga aspek diatas setiap peserta didik mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya. Untuk itu seorang pendidik harus secara seksama dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap aktivitas pendidikan.

1.1  Perkembangan Fisik Peserta Didik

Di dalam Kurikulum 2013  pola pembelajaran berpusat pada peserta didik.   Peserta didik memiliki pilihan-pilihan  terhadap materi yang akan dipelajari dan gaya belajarnya (learning style) untuk memiliki kompetensi yang diharapkan oleh Kurikulum 2013. Oleh sebab itu, Anda  harus mengenal karakteristik setiap peserta didik di dalam proses pembelajaran, agar tujuan  pembelajaran dapat tercapai. Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah mengenal karakter peserta didik yang berkaitan dengan aspek perkembangan fisik peserta didik. Seperti kita ketahui fisik peserta didik mengalami perkembangan yang signifikan pada saat mereka menginjak remaja atau pada saat mereka di   sekolah menengah.  Pada dasarnya perkembangan merujuk kepada perubahan sistematis tentang fungsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi, dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral.

Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.  Semua organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan).

Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu: Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;

(a)  Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan    kemampuan motorik;

(b)  Sistem syaraf yang sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;

(c)  Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;

(d)  Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.

Seifert dan Hoffnung (1994) berpendapat perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti : pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan, dan sebagainya).

Berdasarkan pendapat di  atas, jelaslah bahwa perkembangan fisik setiap peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti telah dijelaskan di atas. Oleh sebab itu  Anda  sebagai pendidik harus mengenali karakteristik perkembangan peserta didik dari segi fisik, agar Anda bisa lebih memahami situasi pembelajaran di dalam kelas dan apabila ada situasi yang tidak Anda harapkan suatu saat terjadi, maka Anda akan lebih memahami situasi tersebut. Kalau Anda bisa memahami kejadian tersebut, maka Anda pun diharapkan akan bisa mencari solusinya dan kalau situasi sudah dapat dikuasai maka proses pembelajaran diharapkan akan lebih lancar dan tujuan akan tercapai.

 

1.2  Perkembangan Kognitif Peserta didik

Proses pembelajaran setiap peserta didik berlangsung baik di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat diperlukan peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam erkembangan  peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan Pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita, 2009).

Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang cukup penting bagi guru maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada  anak merupakan kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang termasuk dalam   proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik juga harus dapat dipahami semua pihak. Dengan pemahaman pada karakteristik perkembangan peserta didik, guru dan orang tua dapat mengetahui sebatas apa perkembangan yang dimiliki anak didiknya sesuai dengan usia mereka masing-masing, sehingga guru dan orang tua dapat menerapkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing anak didik.

Tidak kalah penting, guru juga harus mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peserta didik. Yang sangat sentral dalam faktor-faktor yang mempengaruhi   perkembangan kognitif adalah gaya pengasuhan dan lingkungan. Biasanya gaya pengasuhan lebih diterapkan pada anak-anak. Pada pengasuhan ini merupakan cikal-bakal perkembangan kognitif tersebut, karena ketika anak diasuh secara  tidak sesuai dengan semestinya, ini akan berakibat pada perkembangan kognitif anak, bahkan pada perkembangan mental anak tersebut. Lingkungan pun sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, semakin buruk lingkungan maupun pergaulan seseorang maka kemungkinan pengaruh lingkungan pada perkembangan kognitif anak semakin besar.

Dari uraian di  atas jelaslah bahwa perkembangan kognitif peserta didik sangat  berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan hasil yang dicapai.

1.3  Perkembangan Sosial-emosional  Peserta didik

Selain perkembangan karakteristik fisik dan kognitif peserta didik, yang tidak kalah penting adalah perkembangan sosial-emosional peserta didik.  Sosio-emosional berasal dari kata sosial dan emosi. Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial.  Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral agama. Sedangkan emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi dibedakan menjadi dua, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar. Emosi negatif sperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Selain itu, dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin  ‘movere’ yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e-‘ untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.

Perkembangan sosio-emosional peserta didik termasuk suatu pembahasan yang sangat penting karena dengan mengetahui perkembangan sosio-emosional peserta didik, para pendidik dapat mengambil tindakan pada permasalahan peserta didik dengan berbagai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Sosio-emosional adalah perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Dalam pembahasan sosio-emosional ini lebih ditekankan dalam  sosio-emosional pada  remaja.  Pada masa remaja, tingkat karakteristik emosional akan menjadi drastis tingkat kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai  pendidik. kita harus mengetahui setiap aspek  yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga kita bisa melakukan komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan emosi remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses dalam mencapai kedewasaan. Meskipun sikap kanak-kanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja karena pengaruh didikan orang tua.

Faktor yang sangat memengaruhi perkembangan peserta didik pada usia remaja yaitu didikan orang tua, lingkungan sekitar tempat tinggal dan perlakuan guru di sekolah. Pengaruh sosio-emosional yang baik pada remaja terhadap diri sendiri yaitu untuk mengendalikan diri, memutuskan segala sesuatu dengan baik, serta bisa lebih matang merencanakan segala hal yang akan diputuskannya, sedangkan terhadap orang lain, yaitu mampu menjalin kerjasama yang baik, saling menghargai dan mampu memposisikan diri di lingkungan dengan baik.

Agar seorang peserta didik dapat memiliki kecerdasan emosi dengan baik haruslah dibentuk sejak usia dini, karena pada saat itu sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan manusia selanjutnya. Sebab pada usia ini dasar-dasar kepribadian anak telah terbentuk. Jelaslah sudah betapa pentingnya seorang pendidik memahami perkembangan sosio-emosional peserta didik, agar dalam proses pembelajaran perkembangan sosio-emosional peserta didik yang berbeda-beda dapat diatasi dengan baik.

 

1.4 Perkembangan Moral dan Spritual Peserta Didik

Perkembangan moral dan spiritual peserta didik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita semua. Demikian pula dalam proses pendidikan peserta didik baik itu di sekolah maupun di rumah. Teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap yaitu:  Penalaran prakovensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Tingkat Satu : Penalaran Prakonvesional

Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori  perkembangan  moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.

Tingkat Dua: Penalaran Konvensional

Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.

Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional

Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.  Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spiritual meliputi komunikasi dengan Tuhan (fox 1983), dan upaya seseorang untuk bersatu dengan Tuhan (Magill dan Mc Greal 1988), spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).

Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda  kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal,  timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:

  1.  Kepercayaan
  2.  Pemaafan
  3.  Cinta dan hubungan
  4.  Keyakinan, kreativitas dan harapan
  5.  Maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan.

Karakteristik  dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengarahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang maladaptif.

1.5 Latar Belakang Sosial Budaya Peserta Didik

Sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan  masyarakat atau kemasyarakatan,  sementara budaya segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa, dan karsa. Jadi dapat disimpulkan dari segi istilah sosal budaya merupakan segala hal yang diciptakan oleh manusia dengan pikiran dan budinya dalam kehidupan bermasyarakat.  Unsur-unsur sosial budaya peserta didik  meliputi antara lain  bahasa, kesenian, sistem religi, sistem kemasyarakatan dan sistem ekonomi. Kehidupan dan nilai sosial budaya peserta didik dalam kehidupannya selalu mendapatkan dan dipengaruhi oleh nilai nilai sosio-budaya dari lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar.

  1. Potensi Peserta Didik

potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan individu untuk lebih berkembang. Setiap individu  memiliki potensi yang berbeda satu sama lainnya. Potensi peserta didik yang dimaksud adalah kemampuan yang mungkin dikembangkan  atau  menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral, dan religius.

Potensi fisik merupakan kondisi kesehatan fisik dan berfungsinya anggota tubuh dengan baik yang diperoleh dari pemeriksaan  oleh  tenaga medis, observasi perilaku, wawancara,  dan pengisian angket  akan menunjang kelancaran peserta didik melakukan aktivitas belajar dan memaksimalkan keberhasilan peserta didik dalam belajar.  Organ tubuh akan berfungsi dengan baik dan maksimal apabila kondisi kesehatan peserta didik juga baik.

Herry Wibowo (2007:19)  menyatakan bahwa  potensi yang  terbesar manusia adalah otak. Otak adalah pengatur seluruh fungsi tubuh, dan juga sebagai pusat yang mengendalikan perilaku individu. Adapun potensi intelektul atau kekuatan otak individu berkaitan dengan daya nalar dan logika yang berupa kemampuan untuk mempelajari keterampilan, menganalisa, dan lain lain  Faktor-faktor yang memengaruhi potensi intelektual individu    adalah    faktor internal, misalnya motivasi, kemauan, kemampuan  dan faktor eksternal, misalnya  sarana dan daya dukung penunjang.  Kedua faktor  ini  sangat memberikan pengaruh pada pencapaian kemampuan intelektual yang maksimal dari peserta didik. Faktor internal peserta didik yang dominan memberikan kecenderungan  kekuatan daya juang yang besar saat menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Gordon Allport (2005:23) mendeskripsikan kepribadian sebagai  suatu organisasi dinamis dari sistem psiko-fisik dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan  dengan cara yang unik.  Aspek-aspek sikap kepribadian  diantaranya mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi, responsibilitas,  dan  sosiabilitas.  Berdasarkan pandangan psikologi, sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga menghasilkan motif. Jalaluddin (1996:187) menyatakan sikap  terbentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang dan bukan faktor bawaan.

Minat didefinisikan sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.  Minat peserta didik dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam menerima pembelajaran.  Bakat menurut Slavin didefinisikan sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang peserta didik untuk belajar. Oleh karena itu bakat mempengaruhi keberhasilan individu mencapai sesuatu.  Ahli psikologi lainnya mengatakan bakat adalah kemampuan dasar untuk melakukan suatu tugas tanpa upaya pendidikan atau pelatihan.

Moral  merupakan  ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Adapun keagamaan peserta didik berkaitan dengan konsep ketuhanan yang dianutnya.  Moral dan keagamaan individu memberikan pengaruh pada pembentukan nilai dan keyakinan yang dianutnya. Peserta didik yang memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran, kearifan, dan saling menghargai akan berdampak pada proses dan hasil pencapaian potensi peserta didik.

2.1. Faktor- faktor yang memengaruhi potensi peserta didik

  1.  Faktor Fisik

Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang  diperoleh dari pengaruh lingkungan.  karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Natur dan nurture  merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan.

Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak  dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

  1.   Faktor Psikologis

Faktor psikologis berkaitan dengan hal kejiwaan, kapasitas mental, emosi, dan intelegensi individu. Kemampuan berpikir  peserta didik memberikan pengaruh pada  hal memecahkan masalah dan juga berbahasa.  Hal lain yang berkaitan dengan aspek psikologi peserta didik adalah:  Motivasi Intrinsik.  Menurut Arden N. F (Hayinah, 1992) motivasi Intrinsik meliputi:  dorongan ingin tahu;  sifat positif dan kreatif;   keinginan mencapai prestasi; dan kebutuhan untuk menguasai ilmu dan pengetahuan yang berguna bagi dirinya.  Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan belajar peserta didik.

2.2. Faktor eksternal yang memengaruhi potensi peserta didik

  1.  Lingkungan Sosial  Masyarakat

Lingkungan sosial  individu adalah  lingkungan di mana seorang individu berinteraksi dengan individu lainnya dalam suatu ikatan norma dan peraturan. Kondisi lingkungan yang sehat dan mendukung secara positif terhadap proses belajar peserta didik akan memberikan pengaruh yang  positif pada perkembangan potensi peserta didik. Lingkungan masyarakat yang kumuh, dan tidak mendukung secara positif seperti banyaknya pengangguran, dan anak terlantar akan memberikan pengaruh negatif pada aktivitas dan potensi peserta didik.

  1.   Lingkungan Sosial keluarga

Keluarga adalah lingkungan sosial terkecil pada peserta didik. Peran keluarga dalam menunjang potensi peserta didik sangat penting. Hal-hal seperti kedekatan dengan orang tua, dukungan, dan hubungan dengan anggota keluarga yang harmonis akan memberikan dampak pada perkembangan potensi peserta didik.

  1.   Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah, seperti teman sekelas, guru, dan staf administrasi dapat  memberikan pengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Hubungan baik dan harmonis  diantara ketiganya memberikan pengaruh pada proses belajar. Memberikan motivasi yang positif  dan kesempatan pada peserta didik untuk belajar dan berkembang akan sangat berpengaruh pada pencapaian potensinya. Guru harus dapat mengamati dengan baik karakteristik dari peserta didik.

  1.   Perbedaan ras, suku, budaya,

kelas sosial peserta didik Sekolah adalah wadah bagi seluruh peserta didik untuk mengembangkan potensinya tanpa memandang perbedaan. Memahami perbedaan karakteristik peserta didik adalah merupakan tantangan besar bagi pendidik dalam menunjang perkembangan potensi peserta didik. Bagaimana menciptakan kondisi kelas yang mendukung aktivitas belajar yang dapat mewadahi seluruh peserta didik merupakan salah satu peran penting dari pendidik. Perbedaan ras dan etnik akan memunculkan perbedaan dialek bahasa, nilai, dan keyakinan yang kesemuanya itu akan sangat membawa pengaruh dalam proses pengembangan potensi peserta didik. Pendidik harus peka dan memiliki sikap positif terhadap perbedaan karakteristik peserta didiknya. Mc. Graw Hill dalam bukunya Learning to Teach  (2009) menyatakan bahwa ketika penggunaan dialek bahasa keluarga yang dipakai oleh peserta didik di Amerika  dipaksa untuk dihapuskan, maka kecenderungan prestasi akademik siswa tidak mengalami peningkatan, justru memunculkan kondisi emosional yang negatif pada mereka. Pendidik sebaiknya senantiasa mampu memunculkan kondisi emosi positif pada peserta didik dengan segala keberagaman karakteristik mereka.

  1. Bekal  Awal Peserta Didik

Setiap peserta didik dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi awal peserta didik saat akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pembelajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik perseorangan peserta didik sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.  Kegiatan menganalisis peserta didik dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya. Hal ini dilakukan untuk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik  tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini sama sekali bukan untuk menentukan prasyarat dalam menyeleksi peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran.

3.1 Pengertian Bekal Ajar Awal Peserta Didik

Peserta didik  menurut Sudarwan Danim (2010:47)  merupakan sumber daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa  belajar tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. Karenanya kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilambangkan dengan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik.  Bekal ajar awal peserta didik dapat pula diartikan kemampuan awal (entry behavior) adalah kemampuan yang yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh peserta didik. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan darimana pengajaran harus dimulai.

Esensinya tidak ada peserta didik di muka bumi ini benar-benar sama. Hal ini bermakna bahwa masing-masing peserta didik memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik peserta didik adalah totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita.

3.2. Tujuan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik

Identifikasi bekal ajar awal peserta didik bertujuan untuk:

  1. Memperoleh informasi yang  lengkap dan akurat berkenaan dengan  kemampuan awal  peserta didik sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu;
  2. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan serta kecendrungan peserrta didik berkaitan dengan pemilihan program program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka; dan
  3.  Menentukan desain program pembelajaran dan atau  pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Teknik mengaktifkan bekal ajar awal peserta didik  digunakan  untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik. Seorang pendidik dapat melakukan tes awal (pre-test).  Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi,  dan memberikan kuisioner kepada peserta didik  atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut.

Teknik yang paling tepat untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik yaitu tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Sebelum memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau di syaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal  adalah tes untuk  mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai pelajaran yang hendak diikuti. Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen membuktikan bahwa “untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan atau kecakapan pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas pembelajaran tinggi, maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi”. Hasil pretest juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki  dan sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah mengikuti pelajaran.

Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling berhubungan.Contoh angket sederhana untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik  sebagai berikut:

Seberapa luas pengetahuanmu tentang native speaker:

  1. Saya belum pernah mendengar istilah itu
  2.  Saya pernah mendengar tapi belum tahu tentang native speaker
  3.  Saya hanya tahu sedikit tentang native speaker
  4.  Saya belum tahu pengertian native speaker secara luas
  1. Kesulitan Belajar Peserta Didik

4.1  Pengertian kesulitan belajar

Setiap individu tidak sama. Perbedaan individu ini menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan peserta didik. Sehingga memunculkan perbedaan kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran di kelas yang sering disebut sebagai kesulitan belajar. Hamalik  (hal:  1983) menyatakan  kesulitan belajar dapat diartikan sebagai keadaan  di mana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut tidak bisa diabaikan oleh seorang pendidik karena dapat menjadi penghambat tujuan pembelajaran.  Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh faktor intelegensi yang rendah,  akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor-faktor nonintelegensi. Oleh karena itu,  IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Wood  (2007:33) menyatakan kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan tersebut diakibatkan oleh faktor  yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun luar diri peserta didik.  Faktor-faktor penyebab tersebut, hendaklah dipahami oleh pendidik agar   setiap peserta didik  dapat mencapai tujuan belajar yang baik.

Peserta didik mempunyai hak yang sama untuk  mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Namun kenyataannya pendidik kurang memahami peserta didik yang memiliki perbedaan dalam  hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang, kebiasaan dan pendekatan belajar antara pesetrta didik satu dengan lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para peserta didik yang berkemampuan rata-rata, sehingga peserta didik yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Peserta didik yang berkategori di luar rata-rata itu (sangat pintar dan sangat rendah) tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya. Kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya dialami peserta didik berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh peserta didik yang berkemampuan  tinggi. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah suatu hambatan yang dialami oleh peserta didik  untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan.

Ciri-ciri kesulitan belajar  menurut Moh. Surya antara lain:

  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah  (di  bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok kelas);
  2.  Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, mungkin murid yang selalu errusaha dengan giat tetapi nilai yang dicapai selalu rendah;
  3.  Lambat dalam  melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia;
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta, dsb;
  5. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat,  tidak engerjakan pekerjaan rumah, menggangu didalam dan diluar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, mengsingkan diri, tersisih, tidak mau bekerja sama, dsb;
  6.  Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, mudah pemarah, tidak gembira dalam menmghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan sedih atau menyesal dsb. Pernyataan  tersebut, dapat dipahami adanya beberapa manifestasi dari gejala kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik.

Gejala-gejala yang termanifestasi dalam tingkah laku setiap peserta didik, diharapkan para pendidik dapat memahami dan mengidentifikasikan mana siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan mana  yang tidak.

4.2  Faktor-faktor kesulitan belajar

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, prevalensi anak dengan kesulitan belajarnya diperkirakan lebih besar. Para ahli mengemukakan bahwa penyebab kesulitan belajar itu kompleks dan luas. Secara umum, penyebab kesulitan belajar antara lain:

  1.  Faktor intelektual, yaitu inteligensi yang rendah dan terbatas;
  2.  Faktor kondisi fisik dan kesehatan, termasuk kondisi kelainan, seperti kurangnya gizi pada ibu hamil, bayi dan anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan  penyakit persalinan;
  3.  Faktor sosial,seperti  pengaruh teman bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar;
  4.  Faktor keluarga, seperti keadaan keluarga yang kurangnya dukungan belajar dari orang tua.

Berikut ini penjabaran faktor-faktor kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik  menurut Koestur Partowisastro dan Hadi Suprapto (1978:56) yaitu:

  1.  Kondisi fisiologis yang permanen  meliputi inteligensi yang terbatas, hambatan penglihatan dan pendengaran, dan masalah persepsi.
  2.  Kondisi fisiologis temporer  meliputi masalah makanan, kecenderungan, dan kecapaian.
  3.  Kondisi lingkungan sosial permanen  meliputi harapan dan tekanan orang tua tinggi dan konflik dalam keluarga.
  4.  Kondisi lingkungan sosial temporer  meliputi ada bagian-bagian dalam urutan yang belum dipahami dan persaingan interes.

Sedangkan  menurut Tidjan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar yaitu  interen dan ekstern. Faktor interen meliputi faktor fisiologis, yaitu kesehatan fisik terganggu, cacat  fisik  dan  sebagainya.  Faktor intelektual, misalnya  kecerdasan kurang, kecakapan kurang, bakat-bakat kurang. Faktor minat, tidak berminat atau kurang minat.  Faktor  konsentrasi perhatian kurang.  Faktor ingatan kurang.  Faktor emosi, misalnya rasa benci dan rasa tidak puas.

Faktor ekstern  meliputi  Faktor  tempat, misalnya tidak ada tempat khusus untuk  belajar.  Faktor alat, alat-alat yang diperlukan dalam belajar kurang atau tidak ada. Faktor waktu dan suasana, yaitu tidak dapat mengatur waktu   belajar, ramai dan gaduh, rumah dekat jalan yang cukup ramai.  Faktor lingkungan sekolah, misalnya bahan pelajaran kurang, metode guru mengajar tidak memuaskan, pengeruh teman yang tidak baik (negatif). Faktor lingkungan keluarga dan masyarakat, misalnya situasi keluarga yang tidak menguntungkan anak dalam belajar, begitu pula dengan masyarakatnya

 

4.3  Analisis kesulitan belajar peserta didik

Prinsip-prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan di dalam proses belajar mengajar. Seorang guru akan melaksanakan tugasnya dengan baik apabila dapat menerapkan  cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar. Dengan kata lain supaya dapat mengontrol sendiri apakah tugas-tugas mengajar yang dilakukannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip belajar maka guru perlu memahami prinsip-prinsip belajar. Belajar diperoleh dari sebuah pengalaman yang di dalamnya terdapat interaksi antara manusia dan lingkungan. Selain itu, belajar merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus secara bertahap yang dilakukan untuk mencapai tujuan atau cita-cita.

Menurut  para  pakar, belajar merupakan proses memiliki pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Selain itu, belajar merupakan perubahan secara fisik maupun motorik. Belajar juga merupakan perubahan yang menekankan aspek-aspek rohani. Di dalam belajar, ada tiga ranah yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor yang berhubungan dengan motorik kasar (melempar, menangkap, menendang) dan motorik halus (menulis dan menggambar). Ketiga ranah tersebut perlu dilatih dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajar yaitu:

  1.  Tujuan yang terarah;
  2.    Motivasi yang kuat;
  3.  Bimbingan untuk mengetahui hambatan dalam belajar;
  4.  Cara belajar dengan pemahaman;
  5.  Interaksi yang positif dan dinamis antara individu dan lingkungan;
  6.  Teknik-teknik belajar;
  7.  Diskusi dan pemecahan masalah;
  8.  Mampu menerapkan apa yang telah dipelajari dalam kegiatan sehari-hari

Seorang anak pergi ke sekolah tidak boleh karena terpaksa, melainkan karena suatu kebutuhan. Orang tua dan guru hendaknya mengarahkan anak bahwa belajar adalah suatu kebutuhan, serta membangun motivasi diri yang kuat bahwa dengan belajar di SD berarti mempersiapkan hidup untuk masa depan. Hubungan yang positif antara guru dan orang tua memungkinkan anak untuk belajar secara aktif. Misalnya, ketika anak mengalami kesulitan, guru atau orang tua memberikan bimbingan agar apa yang dipelajari dapat dipahami dengan mudah. Ada beberapa hal yang menyebabkan anak mengalami kesalahan belajar, diantaranya sebagai berikut:

  1.  Belajar tanpa adanya tujuan yang jelas;
  2.  Belajar tanpa rencana ( hanya insidental);
  3.  Hanya menghafal tanpa memahami;
  4.  Tidak dikaitkan dengan pengalaman dan  teknik-teknik yang bervariasi;
  5.  Tidak ada pengelolaan waktu belajar;
  6.  Tidak menggunakan alat bantu atau referensi yang utuh.

4.4. Jenis-jenis kesulitan belajar

Ada  empat  jenis kesulitan/gangguan  belajar yang seringkali ditemui dalam perkembangan seorang anak, yaitu sebagai berikut.

  1.  Kesulitan belajar akademis  

Meliputi  Kesulitan membaca, kesulitan  menulis, dan kesulitan berhitung. Kesulitan membaca merupakan suatu diagnosis yang ditandai oleh adanya kesulitan berat dalam mengerti bahan bacaan. Anak yang  mengalami gangguan membaca akan kesulitan dalam mengenal kata, mengucapkan, dan memahami apa yang dibaca. Ada dua macam gangguan dalam membaca, yaitu: aphasia, disebabkan karena anak kehilangan kemampuan membacanya.  Disleksia, disebabkan karena gangguan  fungsi saraf (neurologisnya rusak). Faktor yang menyebabkan kesulitan membaca, yaitu: (1)  Psikologis (gagap), anak merasa malu jika ditertawakan teman-temannya.  (2)  Hambatan didaktik-metodik, anak mengenal bunyi huruf tetapi mereka kesulitan membacanya apabila huruf itu dirangkai menjadi kata. Kesulitan menulis,  merupakan gangguan pada kemampuan menulis anak, yaitu kemampuan di bawah rata-rata anak seusianya. Gangguan ini tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pendidikan yang telah dijalaninya. Hal tersebut menimbulkan masalah pada akademik anak dan berbagai area kehidupan anak. Kesulitan menulis disebabkan kerena kemampuan psikomotor yang kurang terlatih. Anak yang memiliki kesulitan menulis sulit dalam membuat tulisan dan mengekspresikan diri melalui  tulisan. Macam-macam kesulitan menulis yaitu:  (a) Disgraphia, merupakan kesulitan menulis yang     disebabkan gangguan saraf.  (b)  Hyperkenesis, kesulitan menulis yang memiliki gerakan yang berlebih dan  tidak normal. Misalnya, menghentak-hentakkan kaki atau bergoyang-goyang terus ketika menulis. Kesulitan berhitung  merupakan gangguan matematik yang memiliki kesulitan dalam kemampuan aritmatik. Kesulitan ini tidak disertai dengan adanya gangguan penglihatan, pendengaran, fisik, atau emosi. Kesulitan berhitung disebut ”discalculia”. Anak akan mengalami kesulitan dalam memikirkan atau mengingat informasi yang melibatkan angka-angka.

  1.   Gangguan Simbolik

Gangguan simbolik yaitu ketidakmampuan anak untuk dapat memahami suatu obyek sekalipun ia tidak memiliki kelainan pada organ tubuhnya. Ciri-cirinya antara lain adalah :

1) Siswa mampu mendengar tapi tidak mengerti apa yang didengar;

2)  Mampu mengaitkan obyek yang dilihat, namun mengalami gangguan pengamatan (visual reseptive)

3)  Mengalami gangguan gerak-gerik (motoraphasia)

 

  1. Gangguan Nonsimbolik

Gangguan nonsimbolik merupakan ketidakmampuan anak untuk memahami isi pelajaran karena ia mengalami kesulitan untuk mengulang kembali apa yang telah dipelajarinya.  Kesulitan belajar yang telah dipaparkan tersebut sangat berdampak pada proses belajar. Namun, ada pula siswa SD yang karena proses kelahiran atau musibah   mengalami cidera otak, sehingga siswa itu tidak mampu untuk belajar. Ketidakmampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu yang tidak dapat dilakukan anak-anak yang sebaya seperti: mandi sendiri, sikat gigi, menulis, membaca disebut  learning disability. Anak yang mengalami kerusakan saraf yang berat disebut learning disorder. Anak yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata, namun prestasi akademiknya rendah disebut  underachiever. Sedangkan anak yang lamban belajar dan  tidak mampu menyelesaikan pekerjaannyadengan tepat serta waktu belajarnya lebih lama dibandingkan rata-rata anak seusianya disebut slow learner.

  1.   Gangguan Sosial Emosional

Sifat guru atau pendidik ingin mengajarkan anak didiknya yang berperilaku baik dan  pandai untuk membangun keberhasilan dalam proses belajar di kelas. Namun, kadang kala ada anak yang tergolong mempunyai gangguan sosial emosional yang nampak di kelas. Permasalahan sosial emosional dalam belajar antara lain:

(1)  Hiperaktif,  anak hiperaktif cenderung tidak bisa diam. Ia cenderung bergerak terus     menerus, kadang suka berlarian, melompat-lompat, bahkan teriak-teriak di kelas. Anak ini sulit untuk dikontrol, karena ia melakukan aktivitas sesuai kemauannya sendiri.

(2) Distractibility Child, anak distractibility seringkali mengalihkan perhatiannya ke berbagai obyek lain di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi, tetapi tidak bisa memusatkan perhatian pada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di kelas. Anak ini juga cepat bosan.

(3)  Poor Self Consept, anak yang poor self consept cenderung pendiam, pasif, dan mudah tersinggung. Mereka tidak berani bertanya atau menjawab karena merasa tidak mampu dan cenderung kurang berani bergaul serta suka menyendiri.

(4) Impulsif, anak yang impulsif cepat  sekali bereaksi terhadap sesuatu di sekitarnya, tetapi hal tersebut justru mencerminkan ketidakmampuannya. Misalnya, setiap guru memberi pertanyaan, anak ini cepat bereaksi untuk cepat menjawab. Anak ini seperti ingin menunjukkan bahwa ia pandai. Padahal  cara menjawabnya justru mencerminkan ketidakmampuannya.

(5) Distructive Behavior, anak ini memiliki perilaku yang agresif. Sikap agresif yang negatif dalam bentuk membanting dan melempar menunjukkan bahwa anak ini adalah anak yang bermasalah (troublemaker). Anak ini cepat tersinggung dan bertempramen tinggi, sehingga menjadi agresif.

(6) Distruptive Behavior, anak ini sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dengan nada mengejek, anak ini cenderung menentang guru.

(7) Dependency Child,  pada awalnya anak ini seperti sangat bergantung pada orangtuanya, dan sering merasa takut serta tidak ampu memberanikan diri untuk melakukan sesuatu sendiri. Hal ini terjadi karena sikap orangtua yang terlalu over protektif atau sangat melindungi.

(8) Withdrawal,  anak yang withdrawal yaitu anak yang suka menarik diri dan pemalu. Keadaan sosial ekonomi yang rendah akan mengakibatkan anak merasa bahwa dirinya bodoh dan enggan untuk mencoba membuat atau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan karena dirinya merasa tidak mampu.

(9) Learning Disability, anak ini tidak memiliki kemampuan mental yang setara dengan anak-anak normal yang sebayanya. Anak seperti ini sulit untuk menganalisis, menangkap isi pelajaran, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.

(10) Learning  Disorder,

anak ini mempunyai cacat bawaan baik kerusakan fisik maupun saraf. Anak seperti ini cenderung sulit belajar secara normal, sehingga membutuhkan penanganan para ahli yang dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus.

(11)  Underachiver, anak ini mempunyai potensi intelektual di atas rata-rata, namun potensi

akademiknya di kelas sangat rendah. Semangat belajarnya juga sangat rendah.

(12) Overachiver, anak ini mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi. Ia merespon dengan cepat. Anak ini tidak bisa menerima kegagalan dan tidak mudah menerima kritikan dari siapapun termasuk dari gurunya.

(13)  Slowlearner, anak ini sulit menangkap pelajaran di kelas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menjawab dan mengerjakan tugas-tugasnya.

(14)  Social  Interseption Child, anak ini kurang peka dan tidak peduli terhadap lingkungannya. Anak ini kurang tanggap dalam membaca ekspresi dan sulit bergaul dengan teman-teman yang ada di kelas.

  1. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik

Cara mengatasi kesulitan belajar, berdasarkan gejala yang teramati dan faktor penyebab kesulitan belajar, maka upaya  yang  dilakukan guru antara lain:

  1.  Tempat duduk siswa

Anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi tempat duduk bagian depan. Mereka akan dapat melihat tulisan di papan tulis lebih jelas. Begitu pula dalam mendengar semua informasi belajar yang diucapkan oleh guru.

  1.  Gangguan kesehatan

Anak yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberinya bahan pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan keluarga lainnya.

  1.  Program remedial

Siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, perlu ditolong dengan melaksanakan program remedial. Teknik program remedial dapat dilakukan  dengan berbagai cara. Di antaranya adalah  mengulang kembali bahan pelajaran yang belum dikuasai, memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa, dan lain sebagainya.

  1.  Bantuan media dan alat peraga

Penggunaan alat peraga pelajaran dan  media belajar kiranya cukup membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Boleh jadi kesulitan belajar itu timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit dipahami siswa.

  1.  Suasana belajar menyenangkan

Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan  suasana belajar kondusif. Suasana belajar yang nyaman dan menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami hambatan dalam menerima materi pelajaran.

  1.  Motivasi orang tua di rumah

Anak yang mengalami kesulitan belajar perlu mendapat perhatian orang tua dan anggota keluarganya. Peran orang tua sangat penting untuk memberikan motivasi ekstrinsik dan intrinsik agar anak mampu memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Selain itu juga orang tua perlu memperhatikan kesehatan tubuh anak dengan memberikan makanan dan miniman yang bergizi disertai dengan suplemen pembangun tubuh yang cukup.

  1. Rancangan Kegiatan Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik

Rancangan mengatasi kesulitan belajar peserta didik dapat dilakukan dengan cara:

  1.  Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut :

(1)  Identifikasi kasus;

Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar.

(2)  Call them approach;  melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.

(3)  Maintain good relationship;

menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.

(4)  Developing a desire for counseling;

menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.

(5) Melakukan analisis sosiometris;

dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

  1.  Identifikasi Masalah

Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks  proses belajar mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural –  fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i)  keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang. c.  Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus) Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :

1) Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;

2) Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan dan;

3) Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003:67) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan apabila

1)  Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya   masalah yang dihadapi.

2)   Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.

3)  Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri  dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).

4)  Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion  stress release).

5)    Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya

6)    Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam  mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.

7)   Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha  –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.

 

PENUTUP

Dengan tuntasnya mempelajari materi dalam modul  Guru  Pembelajar Bahasa Indonesia  SMA  Kelompok Kompetensi A  ini,  Anda  diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan  dalam mengembangkan pembelajaran  yang  efektif  dan bermakna  di kelas.    Guru sepatutnya mendapatkan pemahaman  terhadap kompetensi pedagogik dan profesional dengan komposisi yang ideal merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dilewatkan pada setiap pertemuan. Materi yang dipaparkan dalam kegiatan pembelajaran  ini diharapkan dapat  menambah wawasan   Anda dalam menentukan karakteristik, potensi, kesulitan belajar peserta didik    serta dapat merancang kegiatan  yang  dapat mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

.

Aliran-aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia. Diunduh dari  http://www.peutuah.com/makalah-pendidikan/pada tanggal 1 Juni 2012

Djamarah, Syaiful Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta

Effendi, Mukhlison dan Siti Rodliyah. (2004).Ilmu Pendidikan.Ponorogo: PPS Press

Fauzi, Ahmad. (2011). Analisis Karakteristik Siswa.

http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2011/02/analisis-karakteristik-siswa.pdf  pada tanggal 28 Mei 2012

Hamalik, Oemar. (2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara.

Hernawati, Kuswari. (2011). E-Learning Adaptif Berbasis Karakteristik Peserta Didik.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/adaptif%20elearning.pdf

Hurlock, E. B. (1997). Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan Tsandrasa, M.M.

dan Zarkasih, M. Jakarta: Penerbit Erlangga

Hurlock, E. B. 1980. Psikolog Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Terjemahan Istiwidanti & Soedarjarwo, Jakarta: Erlangga

Mardiya.(2009). Peranan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter dan Tumbuh Kembang Anak.http://mardiya.wordpress.com/2009/10/25/peranan-orang-tua-dalam-pembentukan-karakter-dan-tumbuh-kembang-anak/

Muda, Aslam Syah. (2012). Pengaruh Pola Asuh Terhadap Kepribadian Anak.http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/06/pengaruh-pola-asuh-terhadap-kepribadian-anak/

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al-Barry.(1994). Kamus Ilmiah Populer.Surabaya : Arkola

Purwanto, Ngalim.(1990). Psikologi Pendidikan.Bandung: CV Remaja Karya

Santrock, J.W. (2002). Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup

(Terjemahan). Jakarta: Erlangga

Semiawan, Cony. (2008). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT Grasindo

Suhadianto.(2009). Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa Untuk Meningkatkan Prestasi

Belajar.http://h2dy.wordpress.com/2009/02/17/pentingnya-mengenal-kepribadian-siswa-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. LAndasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (2008). PT Remaja Rosdakarya Bandung

Sumarmo, Alim. Memahami 9 Tipe Kecerdasan Jamak.Diunduh dari http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/memahami-9-tipe-kecerdasan-jamak.pada tanggal 22 Juni 2012

Uno, Hamzah. B.(2008).Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif . Jakarta: Bumi Aksara

Taimiyah, Ibnu (Syaikhul Islam). Iqtidha’ Ash Shiratil Mustaqim, Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim Al ‘Aql.

Zainudin, Akbar. (2010). Gaya belajar dan modalitas belajar siswa. Diunduh darihttp://ideguru.wordpress.com/2010/04/12/memahami-perbedaan-gaya-belajar-siswa/pada tanggal 31 Mei 2012

  1.  http://www.smartpassiveincome.com/are-people-talking-about-you-online-heres-what-you-need-to-know/
  2.  http://logodownload.blogspot.com/2012/11/logo-tamansiswa.html
  3.  http://ranjihistoris2012.wordpress.com/2012/07/15/wisata-sejarah-di-ins-kayu-tanam/
  4.  http://educ732.courseblock.com/module04/topic-4-2-gardner%E2%80%99s-multiple-intelligences-theory/
  5.  http://guruqungeblog.files.wordpress.com/2011/02/siswa-aktif.jpg

 

 

GLOSARIUM

 

Karakter : kata sifat, watak, akhlak, atau tabiat.
Minat : sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian,, prasangka, rasa takut atau

kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.

Motivasi ekstrinsik : faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi  pengaruh terhadap kemauan belajar.
Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) : salah satu aspek penting dari perkembangan individu.
Pertumbuhan fisik : yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja.
perubahan-perubahan fisik atau tubuh : Fisik atau tubuh manusiamerupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.
Potensi peserta didik : kemampuan yang mungkin dikembangkan  atau  menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral dan religius.
Sosio-emosional :

 

perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu

Refleksi Pembelajaran

Refleksi Pembelajaran

  1. Konsep Refleksi dalam Pembelajaran

Sesuai dengan yang diisyaratkan dalam Permendiknas No. 16 Tahun2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik, bahwapendidik harus melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam hal ini merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dilakukan oleh pendidik. Pendidik dituntut untuk melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan di kelas, dan memanfaatkan hasil refleksi tersebut untuk perbaikan dan pengembangan pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampu. Refleksi adalah kegiatan penilaian dalam berbagai bentuk yang dilakukan oleh peserta didik terhadap proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan oleh pendidik dengan maksud untuk memperbaiki proses belajar yang dilaksanakan oleh pendidik pada waktu yang akan datang. Definisi menurut Reid, 1995 “Reflection is a process of reviewing an experience of practice in order to describe, analyse, evaluate and so inform learning about practice”. Konsep tersebut dapat diartikan, bahwa refleksi adalah sebuah proses mereviu pengalaman dengan cara mendeskripsikan, menganalisis, mengevaluasi pembembelajaran yang telah dilakukan. Hanifah (1999) berpendapat, bahwa refleksi adalah “Proses merenung, menganalisis, mencari alasan, membuat cadangan dan tindakan untuk memperbaiki diri yang dilakukan secara berterusan.Refleksi kritikal menitikberatkan penerokaan domain afektif, kerohanian dan pemikiran rasional oleh seseorang dalam tindakannya untuk mencari kebenaran terhadap tindakannya bagi tujuan memperbaiki diri dan persekitaran”.

Konsep refleksi tidak lain sebagai metode pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya. (Chruickshark, 1987) Guru dapat merefleksi tentang metode atau model pembelajaran yangsudah digunakan, bahkan dapat juga merefleksi materi ajar yang disampaikan.Refleksi dapat juga dilakukan guru pada saat kegiatan pembelajaran akan breakhir atau pada kegiatan penutup.Kegiatan yang harus dilakukan setelah pembelajaran adalah melakukan refleksi. Tahap ini diperlukan untuk memperoleh gambaran tingkat keberhasilan rencana pembelajaran yang tertuang dalam Rencana Pelaksnaan Pembelajaran.Hasil refleksi akan menentukan langkah selanjutnya yang diperlukan dalam pembelajaran. Untuk dapat melakukan refleksi, guru peserta harus memiliki data yang telah dianalisis dan diinterpretasikan. Selain itu, guru peserta harus memahami betul tentang keterkaitan antara permasalahan, tujuan yang ingin dicapai, rencana tindakan yang telah disusun dan dilaksanakan, serta situasi dan kondisi saat tindakan dalam pembelajaran dilaksanakan.

Refleksi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk melihat kembali apakah pembelajaran yang dilaksanakan telah sesuai dengan yang kita rencanakan. Pada dasarnya refleksi merupakan kegiatan analisis-sintesis, interpretasi, dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan pembelajaran. Data atau informasi yang terkumpul perlu dianalisis, dicari kaitan antara yang satu dengan yang lainnya, dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya atau dengan standar tertentu, untuk mengevaluasi keberhasilan pembelajaran yang dilakukan. Jika pembelajaran belum berhasil sebagaimana yang diharapkan, maka kita perlu menindaklanjuti dengan melakukan analisis untuk mencari penyebab ketidakberhasilan pembelajaran. Setelah menemukan akar permasalahan yang menjadi penyebab belum berhasilnya pembelajaran, maka langkah selanjutnya membuat rencana perbaikan pembelajaran untuk menghilangkan akar permasalahan tersebut pada pertemuan berikutnya. Saat itulah, guru peserta dapat merencanakan untuk melakukan penelitian tindakan kelas.Tentu harus didukung dengan data-data yang lengkap. Tahap refleksi bukan merupakan tahap yang mudah bagi guru, khususnya guru peserta yang belum terbiasa melakukan refleksi. Pada tahap ini diperlukan kemampuan untuk berpikir analitik secara kritis, terhadap semua data, fakta dan fenomena yang terjadi, kemudian menghubungkannya dengan rumusan, tujuan, serta rencana tindakan sebagai alternatif solusinya. Artinya, diperlukan upaya merenung dan berpikir secara serius dan mendalam, dengan mengingat tentang berbagai konsep, prinsip, pengalaman praktis yang terkait dengan pembelajaran yang telah dipertimbangkan dalam menyusun rencana tindakan. Hasil refleksi diungkapkan dalam bentuk narasi ilmiah.

 Prinsip Refleksi dalam Pembelajaran

Kegiatan refleksi merupakan kegiatan terakhir dari pelaksanaan pembelajaran. Pada kegiatan inilah guru akan dapat mengetahui berhasil tidaknya rencana pelaksanaan pembelajaran. Pada kegiatan refleksi ini pula guru dapat menentukan tindak lanjut yang harus dilakukan, yakni menyiapkan PTK, pengayaan atau perbaikan (remedial). Jika ternyata pembelajaran yang dilakukan belum berhasil optimal, guru peserta bias merencanakan PTK atau remedial. Oleh karena itu, para guru peserta harus mempunyai pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam merefleksi serta memilih tindak lanjut yang tepat.

Refleksi terhadap pembelajaran mutlak harus dilakukan oleh pendidik untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan meningkatkan kinerjanya sendiri. Refleksi pembelajaran dapat dilakukan secara mandiri maupun kolaborasi dengan teman yang mengampu mata pelajaran yang sejenis. Refleksi pembelajaran sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut, yakni: (1) Ada kesadaran bersama pendidik dan peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (2) Penilaian oleh peserta didik dilakukan dengan sangat kritis; (3) Penilaian dilaksanakan sejak awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran; (4) Hasil penilaian oleh peserta didik dijadikan masukan oleh pendidik untuk perbaikan pembelajaran.

  1. Tujuan dan Sasaran Refleksi dalam Pembelajaran

Tujuan dilakukan refleksi pembelajaran bagi pendidik antara lain: (1) Untuk menganalisis tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik; (2) Untuk melakukan evaluasi diri terhadap proses belajar yang telah dilakukan; (3) untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan; (4) untuk merancang upaya optimalisasi proses dan hasil belajar, (5) Untuk memperbaiki dan mengembangkan pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Refleksi pembelajaran penting dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi positif tentang bagaimana cara pendidik meningkatkan kualitas pembelajarannya sekaligus sebagai bahan observasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran itu tercapai. Selain itu refleksi terhadap pembelajaran bermanfaat bagi peserta didik yakni, untuk mencapai kepuasaan diri peserta didik memperoleh wadah yang tepat dalam menjalin komunikasi positif dengan pendidik.

  1. Teknik-teknik Refleksi dalam Pembelajaran

Untuk mengetahui keberhasilan belajar peserta didik, baik selama maupun setelah peserta didik mengikuti pembelajaran tertentu dapat dilihat melalui pengamatan keaktifan peserta didik dalam bekerjasama atau wawancara tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Sebelum melakukan wawancara atau pengamatan, sebagai pendidik kita perlu menetapkan kriteria seperti: sangat kurang, kurang, cukup, baik, sangat baik, atau kurang aktif, cukup aktif, aktif, atau sangat aktif. Langkah selanjutnya yaitu memberikan penjelasan tetang hasil wawancara atau pengamatan, misalnya mengapa peserta didik kita memberikan peserta didik kita memberikan respon negatif atas pelaksanaan pembelajaran yang kita lakukan, mengapa proses belajar peserta didik tidak sesuai dengan harapan, demikian pula mengapa hasil belajar peserta didik justru semakin menurun dari periode sebelumnya. Setelah langkah tersebut diatas pendidik perlu memberikan kesimpulan. Adapun teknik lain yang dapat dilakukan untuk merefleksi terhadap pembelajaran adalah melalui jurnal, buku harian, angket, dan pengamatan terhadap proses belajar mengajar. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan untuk refleksi diri guna menemukan masalah:

  1. Apakah kompetensi awal peserta didik untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai?
  2. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
  3. Apakah peserta didik cukup aktif dalam mengikuti pembelajaran?
  4. Apakah sarana/prasana pembelajaran cukup memadai?
  5. Apakah pemerolehan hasil pembelajaran cukup tinggi?
  6. Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
  7. Apakah ada unsur inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran?
  8. Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran inovatif tertentu?
  1. Penyusunan Instrumen Refleksi Pembelajaran

Instrumen adalah alat untuk merekam informasi yang akan dikumpulkan.Instrumen observasi digunakan berdasarkan teknik yang dilakukan.Berikut ini jenis instrumen yang dapat dikembangkan untuk kegiatan refleksi pembelajaran.

  1. Lembar Observasi

Lembar observasi adalah hasil pencatatan terhadap pengamatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematis. Instrumen observasi yang berupa pedoman pengamatan biasa digunakan dalam observasi sistematis, di mana observer bekerja sesuai dengan pedoman yang telah dibuat.

  1. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara (interview guide) adalah acuan percakapan yang dilaksanakan untuk memperoleh informasi dari responden. Secara minimal pedoman tersebut memuat rambu-rambu pertanyaan yang akan ditanyakan pada responden.

  1. Lembar Telaah Dokumen

Lembar telaah dokumen adalah instrumen yang yang digunakan untuk mengolah dokumen-dokumen yang dimiliki. Bentuk instrument dokumentasi terdiri atas dua macam yaitu pedoman dekomentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya, dan check list yang memuat daftar variabel yang akan dikumpulan datanya. Perbedaan antara kedua bentuk instrumen ini terletak pada intensitas gejala yang diteliti.

  1. Angket atau Kuisioner

Refleksi kegiatan pembelajaran dapat menggunakan metode angket atau kuisioner. Pada kegiatan ini, digunakan instrumen sesuai dengan nama metodenya. Bentuk lembaran angket dapat berupa sejumlah pertanyaan tertulis, tujuannya untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang dialami dan diketahui oleh peserta didik. Bentuk kuisioner yang dibuat sebagai instrumen dapat berupa:

  • Kuisioner terbuka, responden bebas menjawab dengan kalimatnya sendiri, bentuknya sama dengan kuisioner isian.
  • Kuisioner tertutup, responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan, bentuknya sama dengan kuisioner pilihan ganda.
  • Kuisioner langsung, responden menjawab pertanyaan seputar dirinya.
  • Kuisioner tidak langsung, responden menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan orang lain.
  • Check list, yaitu daftra isian yang bersifat tertutup, responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom jawaban yang tersedia.
  • Skala bertingkat, jawaban responden dilengkapi dengan pernyataan bertingkat, biasanya menunjukkan skala sikap yang mencakup rentang dari sangat setuju sampai sangat tidak setujua terhadap pertanyataannya.

Pada saat meyusun kuisioner, perlu ditimbangkan jumlah pertanyaan yang akan diajukan. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menanyakan hal yang tidak perlu, yang tidak akan diolah dalam penelitian.

  1. Aktivitas Pembelajaran
  2. Pendahuluan

Silakan Anda pahami tujuan, kompetensi, dan indikator pencapaian kompetensi pada kegiatan pembelajaran ini supaya pembelajaran lebih terarah dan terukur.

  1. Curah Pendapat

Pada kegiatan ini Anda diminta untuk menyebutkan berbagai masalah yang dihadapi dalam pembelajaran, khususnya pada saat refleksi.  Sebagai langkah awal dan agar kegiatan curah pendapat berjalan dengan baik, Anda dapat mengisi pertanyaan berikut ini

  • Perlukah guru bahasa Indonesia melakukan refleksi? Mengapa?
  • Pernahkah Ibu/Bapak melaksanakan refleksi? Apa tujuan dan manfaat refleksi? Bagaimana cara melakukan refleksi?
  1. Telaah Materi

Masing-masing Anda dibagi ke dalam empat kelompok besar. Setelah itu, setiap kelompok membaca, mengkaji, dan menelaah sumber belajar yang berhubungan dengan refleksi pembelajaran. Adapun sumber belajar yang dirujuk adalah bahan bacaan yang terdapat pada bagian uraian materi dan sumber belajar lainnya yang relevan. Anda kerjakan LK 1.1 sebagai laporan hasil diskusi.

  1. Penugasan

Untuk mengukur pemahaman Anda terhadap kegiatan refleksi pembelajaran silakan Anda kerjakan LK 1.2

  1. Penutup

Setelah mengerjakan semua LK, Anda dapat mencocokan jawaban dengan kunci jawaban yang tersedia untuk mengukur dan menilai ketuntasan pembelajaran. Langkah terakhir silakan Anda melakukan kegiatan refleksi dengan menjawab pertanyaan pada bagian umpan balik dan tindak lanjut.

 Rangkuman

Refleksi adalah kegiatan penilaian dalam berbagai bentuk yang dilakukan oleh peserta didik terhadap proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan oleh pendidik dengan maksud untuk memperbaiki proses belajar yang dilaksanakan oleh pendidik pada waktu yang akan datang. Pada kegiatan refleksi ini pula guru dapat menentukan tindak lanjut yang harus dilakukan, yakni pengayaan atau perbaikan (remedial). Tujuan dilakukan refleksi pembelajaran bagi pendidik antara lain: (1) Untuk menganalisis tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik; (2) Untuk melakukan evaluasi diri terhadap proses belajar yang telah dilakukan; (3) untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan; (4) untuk merancang upaya optimalisasi proses dan hasilbelajar, (5) Untuk memperbaiki dan mengembangkan pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampu Refleksi pembelajaran sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut, yakni: (1) Ada kesadaran bersama pendidik dan peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (2) Penilaian oleh peserta didik dilakukan dengan sangat kritis; (3) Penilaian dilaksanakan sejak awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran; (4) Hasil penilaian oleh peserta didik dijadikan masukan oleh pendidik untuk perbaikan pembelajaran.                                         Adapun teknik lain yang dapat dilakukan untuk merefleksi terhadap pembelajaran adalah melalui jurnal, buku harian, angket, dan pengamatan terhadap proses belajar mengajar.Instrumen adalah alat untuk merekam informasi yang akan dikumpulkan. Instrumen observasi digunakan berdasarkan teknik yang dilakukan. Jenis instrumen yang dapat dikembangkan untuk kegiatan refleksi pembelajaran adalah lembar observasi, pedoman wawancara, lembar telaah dokumen, dan angket atau kuisioner.

 

Prinsip Dan Posedur Berbahasa Secara Tertulis

tps://docs.google.com/document/d/menulis/

Prinsip dan Prosedur Berbahasa secara Tertulis

Pengertian dan Konsep Menulis, Karekteristik Menulis, Tahap-tahap Menulis, dan Jenis-Jenis Tulisan

  1.  Pengertian  dan Konsep Menulis

Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara mengkomunikasikan dan mengatur ( Donn  Byrne. 1988:1) Sejalan dengan itu, menurut Lado (1964:14) menulis adalah meletakkan simbol grafis  yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu,  jika mengetahui bahwa itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. Semi (1990: 8)  juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnyamerupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa.                                                                                                                                                            Menurut Jago Tarigan (1995:117) menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimegerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara engkomunikasikan dan mengatur.  Semi (1990:8) juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan emindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa. Menurut Gere (1985:4), menulis dalam artikomunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek. Menulis berarti mendukung ide. Byrne (1988: 1), mengatakan bahwa menulis tidak hanya membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu dengan yang lain, dan dalam gaya tertentu. Rangkaian kalimat itu bisa pendek,berupa dua atau tiga kalimat. Akan tetapi, kalimat tersebut disusun secara teratur dan saling berhubungan (padu). Crimmon (1984.191), berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri atau mengomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan mempelajari sesuatu yang belum diketahui.  Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis  dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas jenisnya agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan bahasa  yang dimiliki penulis.                                                                                                 Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan kebahasaan  yang dimiliki seorang penulis.

Menulis sebagai Keterampilan Diskrit.  Kata ‘diskrit’ diadaptasi dari bahasa Inggris ‘discrete’ yang artinya terpisah atau tersendiri.  Bila pengertian ini dikaitkan dengan keterampilan berbahasa, maka kitadapat mengartikannya keterampilan berbicara sebagai keterampilan tersendiri yang terintegrasi dengan keterampilan berbahasa yang lain (membaca, menyimak, dan menulis).

  1. Karakteristik Keterampilan Menulis

Setiap guru keterampilan menulis harus sudah memahami karakteristik keterampilan menulis  karena sangat menentukan dalam ketepatan penyusunan perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian keterampilan menulis. Sudah dapat dipastikan tanpa memahami karakteristik keterampilan menulis guru yang bersangkutan tak mungkin menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran menulis yang akurat, bervariasi, dan menarik.  Ada empat karakteristik keterampilan menulis yang sangat menonjol, yakni;

  1.  keterampilan menulis merupakan kemampuan yang kompleks;
  2.  keterampilan menulis condong ke arah skill atau praktik;
  3.  keterampilan menulis bersifat mekanistik;
  4.  penguasaan keterampilan menulis harus melalui kegiatan yang bertahap atau akumulatif.

Keterampilan menulis menuntut kemampuan yang kompleks. Penulisan sebuah karangan yang sederhana sekalipun menuntut kepada penulisnya kemampuan memahami apa yang hendak ditulis dan bagaimana cara menulisnya. Persoalan pertama menyangkut isi karangan dan persoalan kedua menyangkut pemakaian bahasa serta bentuk atau struktur karangan. Pembelajaran keterampilan menulis yang tidak memerhatikan kedua hal tersebut di atas pasti akan mengalami ketidakberesan atau kegagalan. Keterampilan menulis lebih condong ke arah praktik ketimbang teori. Ini tidak berarti pembahasan teori menulis ditabukan dalam pengajaran menulis. Pertimbangan antarpraktik dan teori sebaiknya lebih banyak praktik dari teori. Keterampilan menulis bersifat mekanistik. Ini berarti bahwa penguasaan keterampilan menulis tersebut harus melalui latihan atau praktik. Dengan perkataan lain semakin banyak seseorang melakukan kegiatan menulis semakin terampil menulis yang bersangkutan. Karakteristik keterampilan menulis seperti ini menuntut pembelajaran menulis  yang memungkinkan siswa banyak latihan, praktik, atau mengalami berbagai pengalaman kegiatan menulis.

Di samping kegiatan menulis harus bervariasi juga sistematis, bertahap, dan akumulatif. Berlatih menulis yang tidak terarah apalagi kurang diawasi guru membuat kegiatan siswa tidak terarah bahkan sering membingungkan siswa. Mereka tidak tahu apakah mereka sudah bekerja benar, atau mereka tidak tahu membuat kesalahan yang berulang. Latihan mengarang terkendali disertai diskusi  sangat diperlukan dalam memahami dan menguasai keterampilan menulis.

3.    Tahap-Tahap Menulis

  1.  Perencanaan Karangan

Menurut Sabarti dkk.  (1995:6),secara teoretis proses penulisan meliputi tiga tahap utama, yaitu prapenulisan, penulisan, dan revisi. Ini tidak berarti bahwa kegiatan menulis dilakukan secara terpisah-pisah. Pada tahap prapenulisan kita membuat persiapan-persiapan yang akan digunakan pada enulisaan. Dengan kata lain, merencanakan karangan. Berikut ini dibahas cara merencanakan menulis/karangan.

  1. Pemilihan Topik

Kegiatan yang mula-mula dilakukan jika menulis suatu karangan menentukan topik. Hal ini untuk menentukan apa yang akan dibahas dalam tulisan. Ada beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih topik yaitu;

1)  topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas. Ada manfaatnya mengandung pengertiam bahwa bahasan tentang topik itu akan memberikan sumbangan kepada ilmu atau propesi yang ditekuni, atau berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Layak dibahas berarti topik itu memang memerlukan pembahasan dan sesuai dengan bidang yang ditekuni.

2)  topik itu cukup menarik terutama bagi penulis;

3)  topik itu dikenal baik oleh penulis;

4) bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai;

5)  topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Setelah berhasil memilih topik sesuai dengan syarat-syarat pemilihan tersebut, yang akan dilakukan selanjutnya membatasi topik. Proses pembatasan topik da-pat dipermudah dengan membuat diagram pohon atau diagram jam.  

Ide induk yang menjadi benih atau pangkal awal sesuatu karangan yang akan ditulishendaknya juga dikembangkan (diperinci). Setelah ide induk dikembangbiakkan sampai cukup tuntas. Langkah berikutnya ialah memilih salah satu di antara perincian ide yang muncul untuk dijadikan topik karangan dan topik yang dipilih sebagai pembatasan keluasan materi dengan sebuah tema tertentu. Jadi, berdasarkan topik dan tema inilah yang menjadi pembicaraan dalam karangan.

Langkah terakhir yang perlu dilakukan pengarang ialah menguraikan rumusan kalimat utama menjadi sebuah garis besar karangan. Garis besar, rangka atau disebut juga  outline  adalah suatu rencana kerangka yang menunjukkan ide-ide yang berhubungan satu sama lain secara tertib untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan yang lengkap dan utuh.

Berikut, secara ringkas proses ide induk menjadi garis besar karangan dikem-bangkan melalui enam langkah sebagai berikut. Konsep dasar menulis menurut Logan (1972: 104-105)  merupakan sarana berkomunikasi yang mencakup hal berikut:

Langkah  Aktivitas Pengarang  Pengarang Hasil

  1. Menemukan ide yang akan diungkapkan menjadi karangan ide pokok
  2. Menemukan ide yang akan  pencian ide
  3. Memilih salah satu ide menjadi topik karangan topik
  4. Membatasi topik dengan salah satu, yaitu segi/unsur/faktor tema
  5. Merumuskan topik berikut temanya dalam sebuah pokok pernyataan kalimat ide
  6. Menguraikan rumusan ide pokok menjadi rangka garis besar karangan

Setelah mengetahui cara-cara memulai dan teknik memberikan nafas ke dalam tulisan. Sekarang Anda melangkah ke proses penulisan.Pada tahap ini, Anda hanya membangun  suatu fondasi untuk topik yang berdasarkan pada engetahuan, gagasan, dan pengalaman.

Adapun proses penulisan tersebut sebagai berikut.

1) Draf kasar; membuat draf dimulai dengan menelusuri dan mengembangkan gagasan-gagasan. Pusatkan pada isi daripada tanda  baca, tata bahasa, atau ejaan. Ingat untuk menunjukkan bukan memberitahukan saat menulis.

2)  Berbagi; sebagai penulis kita sangat dekat dengan tulisan sehingga sulit untuk menilai secara objektif. Oleh sebab itu, kita perlu meminta orang lain untuk membaca dan memberikan umpan balik. Mintalah seorang teman membacanya dan mengatakan bagian mana yang benar-benar kuat dan menunjukkan ketidakkonsistenan, kalimat yang tidak jelas, atau transisi yang lemah. Inilah beberapa petunjuk untuk berbagi.

3) Perbaikan (revisi);  setelah mendapat umpan balik dari teman tentang mana yang baik dan mana yang perlu digarap lagi, ulangi dan perbaikilah. Ingat bahwa penulis adalah tuan dari tulisan Anda jadi Andalah yang membuat umpan balik itu. Manfaatkan umpan balik yang dianggap membantu. Ingat tujuan menulis adalah membuat tulisan sebaik mungkin.

4) Menyunting (editing); inilah saatnya untuk membiarkan “editor” otak kiriberperan. Pada tahap ini, perbaikilah semua kesalahan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca. Pastikanlah semua transisi berjalan mulus, penggunaan kata kerja tepat, dan kalimat-kalimat lengkap.

5) Penulisan kembali; tulis kembali tulisan Anda, masukkan isi yang baru dan perubahan-perubahan penyuntingan.

6) Evaluasi; periksalah kembali untuk memastikan bahwa Anda telah menyelesaikan apa yang Anda rencanakan dan apa yang ingin Anda. sampaikan. Walaupun ini merupakan proses yang terus berlangsung, tahap ini menandai akhir proses menulis.

Kegiatan menulis dapat dianalogikan seperti seorang arsitektur akan membangun sebuah gedung, biasanya ia membuat rancangan terlebih dahulu dalam bentuk gambar di atas kertas.

Demikian pula seorang penulis, membuat kerangka tulisan atau  outline  merupakan kebiasaan yang perlu dipupuk terus untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Penulis dalam hal ini diibaratkan sebagai seorang arsitek bahasa, yang selain mengetahui bagaimana membangun sebuah tulisan secara utuh, ia tidak boleh mengabaikan dasar-dasar penulisan.

Diari atau Buku Harian

Buku harian adalah sebuah catatan pribadi yang berisi kegiatan sehari-hari. Buku harian ini berisi antara lain:  kejadian atau peristiwa yang dialami penulis setiap hari, pikiran atau permasalahan yang sedang dihadapi penulis setiap hari, dan apa  saja yang ingin dituliskan ke dalam sebuah media.

Buku harian biasa memuat antara lain:

1)  Tanggal, bulan, dan tahun peristiwa

2)  Tempat terjadinya peristiwa

3)  Waktu terjadinya peristiwa

4)  Isi peristiwa

5)  Hikmah/refleksi atas peristiwa

Teknik Penulisan Buku Harian

  1. Catatlah peristiwa-peristiwa penting saja

  2. Urutkan peristiwa dengan rujukan waktu

  3. Tulislah kalimat-kalimat yang jelas dan ringkas

  3. Buatlah judul sesuai dengan isi karangan

  4. Panjang karangan 150 kata (20 baris)

Contoh Catatan harian:

Memo

Surat Memo sebenarnya merupakan singkatan dari surat memorandum. Namun, masyarakat lebih umum mengenal sebagai memo saja. Surat memo adalah sebuah surat yang isinya sangat singkat dari seorang pejabat atau atasan ditujukan kepada pejabat atau atasan lain, dan  kepada bawahannya yang masih dalam satu instansi. Isi dari  surat memo biasanya tentang pemberitahuan, permintaan akan saran-saran tertentu, pesan singkat, dan perintah atau instruksi kepada bawahannya. Karena hanya berlaku dalam satu instansi, tidak jarang surat memo hanya ditulis tangan tanpa cap dan kop surat. Surat memo biasanya bersifat mendadak dan keadaan terpaksa. Oleh karena itu, untuk alasan kepraktisan biasanya sebuah instansi menyediakan  form  surat memo  dalam ukuran kertas kuarto / A5.

Senin, 3 Agustus 2009

Waktu Saya pulang dari Sekolah, niatnya ingin belajar kelompok bersama temen-temen. Ketika belajar kelompok mau dimulai, tapi ada salah satu temenku yang belum datang. Terpaksa Saya dan temen-temen harus menunggunya, dan agar tidak bosan kami pun menunggu di sawah dekat dengan rumah tersebut. Kami pun menunggu cukup lama. Tetapi karena kelamaan menunggu kami malah tidak jadi belajarnya, dan malah bermain sepak bola di Lapangan sawah.

Rabu, 4 Agustus 2009

Ketika Saya pulang dari Sekolah, Saya dan teman-teman di halaman rumah bercerita tentang hal-hal yang menyeramkan/hantu. Hii..seremm.. Tetapi karena cerita tersebut, salah satu temenku ada yang malah ketakutan dan tidak berani pulang ke rumah sendiri.Begitu juga dengan Saya, karena cerita hantu saya menjadi takutt.. hii.. Serreemm..

Memo adalah tulisan singkat, padat, dan jelas yang ditujukan kepada  seseorang, serta bersifat informal. Biasanya penulisan tidak lebih dari sepuluh baris. Penulisannya bisa ditik atau ditulis tangan. Memo digunakan untuk mengingatkan atau menegaskan tentang suatu hal/urusan.

Adapun isi memo berupa pemberitahuan, permintaan, instruksi, saran, pesan, atau tugas tertentu. Seperti halnya surat biasa, memo mempunyai bagian-bagian seperti kepala, badan, dan kaki memo.

1)  Kepala /nama

2)  Alamat

3)  Lambang atau logo Instansi

4)  Badan/ isi pesan singkat ( memberikan perintah, informasi atau laporan)

5)  Kaki memo   

6)  Tanda tangan dan nama jelas pembuat memo

Langkah-Langkah Penulisan Memo:

1)  menyiapkan blangko memo yang akan digunakan;

2)  penulisan boleh diketik atau ditulis tangan;

3)  menyampaikan pesan/instruksi dengan bahasa yang tepat dan singkat;

4)  menandatangani dan menyertakan nama jelas pembuat memo;

5)  mengirim memo kepada orang yang di maksud.

Berikut ini contoh memo.

SMA Negeri 78

 Jalan Bhakti VI/1, Komp. Pajak, Kemanggisan

JAKARTA BARAT

Dari      :   Kepala Sekolah

Kepada:   Nabilla, MPd.  (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

Mohon Saudara mewakili saya untuk mengikuti rapat dinas di kantor Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan  Jakarta Barat yang akan diselenggarakan pada:

hari: Senin

tanggal: 21 Juli 2015

pukul: 10.00 WIB

tempat: Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Barat

acara: Persiapan penerimaan siswa baru

Mohon untuk dilaksanakan dengan sebaik – baiknya. Terima kasih.

Jakarta, 21 Juli 2015

Kepala Sekolah

Andriani, MPd..

 

Your Best Shot 2016 – Portraits — Flickr Blog

The Your Best Shot 2016 Flickr group is full of beautiful and inspiring images! There are already more than 8,000 members and nearly 6,000 photos. If you haven’t joined yet, all you need to do is upload your best photo from the past year and share it with the Flickr family here! We’ll publish our…

melalui Your Best Shot 2016 – Portraits — Flickr Blog