Guru dan Strategi Pembelajaran

Guru dan Strategi Pembelajaran
Written by Suhartono, S.Pd.
Wednesday, 22 July 2009 09:17
Banyak tim sepakbola yang kalah karena strategi. Banyak tim sepakbola menang juga karena strategi. Strategi yang ada dijalankan setengah-setengah membahayakan tim. Dia harus dijalankan sepanjang pertandingan. Lihat saja, bagaimana Barcelona mampu menaklukan MU di final liga Champion 2008-2009 lalu. Dua nol tanpa balas. Strategi Pep Guardiola jitu. Apa strateginya: fokus dan menyerang. Fokus memantau pergerakan bola dan lawan terutama CR7.Menyerang,adalah metode sepakbola dengan menyerang bukan bertahan dan menguasai lapangantengah.
Hal yang sama juga dilakukan terhadap kelas-kelas pembelajaran. Memang output-nya bukan angka kemenangan di sepakbola, melainkan pencapaian kompetensi. Standar kompetensi sudah disusun. Bahkan ada Standar Kompetensi Lulusan pada setiap mata pelajaran dan setiapjenjangkelas.
Untuk menjamin pencapaian kompetensi itu, tidak pelak guru harus mempunyai strategi pembelajaran. Menurut Sudirdja dan Siregar (2004:6) Strategi pembelajaran adalah upaya menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated) pencapaiannya. Di sini, strategi mencerminkan keharusan untuk mempermudah tujuan pembelajaran. Miarso (2004:530) berpandangan bahwa strategi pembelajaran merupakan pendekatan yang menyeluruh dalam sebuah sistem pembelajaran dalam bentuk pedoman dan kerangka kegiatan untuk mencapai tujuan umum pembelajaran. Miarso menekankan bahwa strategi mencerminkan pendekatan mencapai tujuan pembelajaran. Lebih teknis yang diungkap oleh Gagne (1987:126) strategi pembelajaran meliputi sembilan aktivitas dalam pembelajaran yakni menarik perhatian siswa, memberikan informasi tujuan pembelajaran pada siswa, mengulang pembelajaran yang bersifat prasyarat untuk memastikan siswa menguasainya, memberikan stimulus, memberi petunjuk cara mempelajari materi yang bersangkutan, menunjukkan kinerja siswa terkait dengan apa yang sudah disampaikan, memberikan umpan balik terkait dengan kinerja atau tingkat pemahaman siswa, memberikan penilaian,danmemberikankesimpulan.
Satu lagi strategi pembelajaran ditawarkan oleh Munif Chatib dalam Sekolahnya Manusia : Sekolah Berbasis Inteligences di Indonesia. Ia (2009: 134-152) mengatakan ”Banyak guru menemui kesulitan dalam merancang dan mendesain strategi pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan gaya belajar siswa.” Di sini, ia menekankan guru tidak sekadar mempunyai strategi pembelajaran, tanpa menyelaraskan dengan gaya belajar yang ada pada siswa. Oleh karena itu, Munif menyarankan strategi pembelajaran yang berbasis kecerdasan majemuk ada limalangkah.
Langkah pertama, strategi pembelajaran yang baik adalah batasi waktu guru dalam melakukan presentasi (30%), limpahkan waktu terbanyak (70%) untuk aktivitas siswa. Dengan aktivitas tersebut, secara otomatis siswa akan belajar. Kompetensi yang telah disusun baru akan terbentuk bila ada sarana siswa untuk memperolehnya yakni pengalaman belajar. Dengan 70% siswa berarti terlibat aktif dan penuh dalam meraih kegiatan belajar untuk memperoleh pengalaman belajarnya. Venon Magnesen dari Texas University dalam laporan penelitiannya menyebutkan otak manusia lebih cepat menangkap informasi yang berasal dari modalitas visual yang bergerak dengan melihat, mengucapkan, dan melakukan yang mencapai90%
Langkah kedua, Untuk merancang strategi pembelajaran yang terbaik adalah gunakan modalitas belajar yang tertinggi, yaitu dengan modalitas kinestetis dan visual dengan akses informasi melihat, mengucapkan, dan melakukan sebagaimana penelitian Magnesen di atas.
Langkah ketiga, mengaitkan materi yang diajarkan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari yang mengandung keselamatan hidup. Pengalaman belajar siswa akan mendukung muatan emosi yang kuat pada diri peserta didik. Inilah yang oleh Bobby dePorter disebut AMBAK,Apamanfaatnyabagiku.
Langkah keempat, guru menyampaikan materi kepada siswa dengan melibatkan emosinya. Hindarkan pemberian materi secara hambar dan membosankan. Keberhasilan supercamp sebagai suatu model dalampembelajaran menunjukkan bahwa keterlibatan emosi dan suasanayangmenyenangkanmembuatsiswa berhasil dalam pembelajarannya.
Langkah kelima, pembelajaran dengan melibatkan partisipasi siswa untuk menghasilkan manfaat yang nyata dan dapat langsung dirasakan oleh orang lain. Siswa merasa mempunyai kemampuan untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Bagaimana agar pembelajaran guru diingat selalu oleh siswa dalam memori jangka panjang? Setidaknya ada 4 kategori informasi yang akan masuk ke memori jangka panjang di otak para siswa :

1) terkait dengan keselamatan hidup
2) memiliki muatan emosi yang kuat terhadap seseorang
3) memberikan penghargaan terhadap eksistensi diri
4) mempunyai frekuensi yang tinggi (selalu diulang-ulang)

Oleh karena itu, sangat baik bila guru selalu berpikir untuk mengajak para siswa menghasilkan produk tertentu dalam pembelajaran sebagai hasil belajar para siswa. Produk ini akan lebih bertahan lama dalam memori jangka panjang siswa. Yang termasuk dalam produk hasil belajar adalah : benda/karya intelektual yang dapat ditampilkan siswa (misalnya buletin sekolah, website sekolah karya siswa, lukisan, buku kumpulan karya siswa, antologi puisi, dan lain-lain), penampilan (yang menunjukkan kemampuannya di depan publik misalnya grup teater, pidato, debat, dan sebagainya), dan proyek edukasi (misalnya penelitian ilmiah remaja, proyek bantuan sosial, proyek pameran pendidikan, dan sebagainya).

Tampaknya langkah-langkah di atas mudah untuk ditulis. Belum tentu untuk dilaksanakan. Oleh karena itu, tidak ada jaminan Anda, pembaca, setelah membaca tulisan ini langsung mampu mempraktikkan strategi pembelajaran. Ini perlu proses.
Para guru yang budiman, sebenarnya sangat bervariasi strategi pembelajaran itu diterapkan oleh setiap guru. Yang terpenting adalah guru mempunyai strategi pembelajaran yang tepat, berlandaskan ilmu, dan strategi itu mencapai kompetensi siswa yang diinginkan bahkan lebih tinggi dari itu, jika memungkinkan. Mengapa tidak?.

http://nurulfikri.sch.id/index.php/isi-situs/artikel/pendidikan/227-strategi-pembelajaran.html