About NURIL ANWAR SITE

THIS BLOG IS PROVIDED FOR ALL MEMBERS OF "VOCATIONAL HIGH SCHOOL TEN MALANG," : TEACHERS, STUDENTS, EMPLOYEES OR WANT TO IMPROVE HIS HUMAN RESOURCES THAT WILL BENEFITE FROM THIS BLOG AS A SOURCE OF LEARNING"

Mengenal Karakteristik Peserta Didik

Mengenal Karakteristik Peserta Didik

(Rangkuman Referensi Guru Bahasa Indonesia)

Pembahasan tentang dunia pendidikan selalu terkait dengan komponen yang melekat di dalamnya, seperti kurikulum,  pendidik, dan peserta didik. Ketiga komponen tersebut saling terkait satu dengan yang lain dalam membentuk sebuah proses pembelajaran yang efektif. Sebagai seorang pendidik, tugas kita tidak hanya wajib menguasai kurikulum dan tugas-tugas kependidikan tetapi hendaknya mengenali peserta didik atau anak didik kita terlebih karakteristik mereka. Karakteristik peserta didik yang perlu dikenal dan dipahami oleh para pendidik tidak hanya terbatas pada tipe kepribadian mereka saja, tetapi juga melingkupi kebutuhan  belajar, kemampuan mereka dalam belajar, potensi yang dimiliki, dan lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Faktor-faktor ini secara tidak langsung membantu atau menghambat para peserta didik dalam menerima dan memproses informasi yang diterima dari pendidiknya. Dengan mengetahui faktor-faktor di atas, para pendidik dapat mengembangkan hal-hal positif yang ada di dalam diri peserta didik dan mengurangi/meminimalisi  hal-hal yang negatif yang dapat menghambat kompetensi yang ada di dalam dirinya. Selain itu,  pendidik juga dapat mengenali karakter dan potensi yang ada di dalam dirinya sendiri.

` Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh para pendidik untuk menjadikan dirinya sebagai  pendidik yang profesional adalah selalu meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial. Di dalam kompetensi pedagogik, seorang pendidik wajib: 1) mengenali karakteristik dan potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan zengembangan kurikulum, 4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif, dan 5) menguasai sistem, mekanisme, dan prosedur penilaian. Di sini terlihat jelas bahwasanya mengenali karakteristik dan potensi  peserta didik merupakan komponen pertama dalam kompetensi pedagogik, tetapi seringkali terlupakan oleh seorang pendidik. Memang tidak mudah untuk mengenali karakter dan potensi pada setiap peserta didik, tapi hal ini sangatlah mungkin.

  1. Karakteristik Peserta Didik

Istilah karakter membuat banyak orang menyamakannya dengan kata sifat, watak, akhlak, atau tabiat. Kenyataannya tak selalu bisa dimaknai seperti itu. Kita perlu mempelajari pengertian karakter menurut para ahli agar memahami perbedaannya. Menurut Doni Kusuma,  karakter adalah ciri, karakteristik, gaya, atau sifat diri dari seseorang yang bersumber dari bentukan yang diterima dari lingkungannya.  Berdasarkan pendapat tersebut karakter peserta didik turut dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.  Tadkiroatun Musfiroh (2008: 25),  mengatakan karakter  mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).   Dari pendapat para ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa karakter adalah ciri, sifat diri, akhlak atau budi pekerti, kepribadian dari seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik.

Sebagai seorang pendidik  tentunya tidak hanya bertugas mengajar di kelas saja, akan tetapi mendidik dan juga melatih. Hal ini sangatlah tepat apabila dikaitkan dengan pembentukan karakter yang baik bagi para peserta didik. Seperti apa seorang pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana melatih para peserta didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu sendiri, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,  misalnya dengan  memunculkan kesan pertama pendidik yang positif saat kegiatan belajar di kelas.  Pendidik sangat perlu memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta  didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosio-sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental  atau perkembangan kognitifnya. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di  atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang  akan dilaksanakan.

Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan. Seorang pendidik mempunyai peran multifungsi, sebagai konselor, dia mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti yang positif, serta memberikan solusi yang tepat dan tuntas  dalam menyelesaikan masalah peserta didik. Selain itu juga memperhatikan karakter dan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Pendidik  juga bisa berperan sebagai seorang dokter yang memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya.

Perannya  sebagai seorang ulama, pendidik membimbing dan menuntun batin atau kejiwaan peserta didik, memberikan pencerahan yang menyejukkan dan menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan agama yang hasilnya akan lebih baik. Mengenal dan memahami peserta didik dapat dilakukan dengan cara memperhatikan dan menganalisa tutur kata (cara bicara),  sikap dan perilaku atau perbuatan anak didk, karena dari tiga aspek diatas setiap peserta didik mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya. Untuk itu seorang pendidik harus secara seksama dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap aktivitas pendidikan.

1.1  Perkembangan Fisik Peserta Didik

Di dalam Kurikulum 2013  pola pembelajaran berpusat pada peserta didik.   Peserta didik memiliki pilihan-pilihan  terhadap materi yang akan dipelajari dan gaya belajarnya (learning style) untuk memiliki kompetensi yang diharapkan oleh Kurikulum 2013. Oleh sebab itu, Anda  harus mengenal karakteristik setiap peserta didik di dalam proses pembelajaran, agar tujuan  pembelajaran dapat tercapai. Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah mengenal karakter peserta didik yang berkaitan dengan aspek perkembangan fisik peserta didik. Seperti kita ketahui fisik peserta didik mengalami perkembangan yang signifikan pada saat mereka menginjak remaja atau pada saat mereka di   sekolah menengah.  Pada dasarnya perkembangan merujuk kepada perubahan sistematis tentang fungsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi, dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral.

Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.  Semua organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan).

Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu: Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;

(a)  Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan    kemampuan motorik;

(b)  Sistem syaraf yang sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;

(c)  Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;

(d)  Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.

Seifert dan Hoffnung (1994) berpendapat perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti : pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan, dan sebagainya).

Berdasarkan pendapat di  atas, jelaslah bahwa perkembangan fisik setiap peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti telah dijelaskan di atas. Oleh sebab itu  Anda  sebagai pendidik harus mengenali karakteristik perkembangan peserta didik dari segi fisik, agar Anda bisa lebih memahami situasi pembelajaran di dalam kelas dan apabila ada situasi yang tidak Anda harapkan suatu saat terjadi, maka Anda akan lebih memahami situasi tersebut. Kalau Anda bisa memahami kejadian tersebut, maka Anda pun diharapkan akan bisa mencari solusinya dan kalau situasi sudah dapat dikuasai maka proses pembelajaran diharapkan akan lebih lancar dan tujuan akan tercapai.

 

1.2  Perkembangan Kognitif Peserta didik

Proses pembelajaran setiap peserta didik berlangsung baik di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat diperlukan peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam erkembangan  peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan Pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita, 2009).

Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang cukup penting bagi guru maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada  anak merupakan kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang termasuk dalam   proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik juga harus dapat dipahami semua pihak. Dengan pemahaman pada karakteristik perkembangan peserta didik, guru dan orang tua dapat mengetahui sebatas apa perkembangan yang dimiliki anak didiknya sesuai dengan usia mereka masing-masing, sehingga guru dan orang tua dapat menerapkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing anak didik.

Tidak kalah penting, guru juga harus mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peserta didik. Yang sangat sentral dalam faktor-faktor yang mempengaruhi   perkembangan kognitif adalah gaya pengasuhan dan lingkungan. Biasanya gaya pengasuhan lebih diterapkan pada anak-anak. Pada pengasuhan ini merupakan cikal-bakal perkembangan kognitif tersebut, karena ketika anak diasuh secara  tidak sesuai dengan semestinya, ini akan berakibat pada perkembangan kognitif anak, bahkan pada perkembangan mental anak tersebut. Lingkungan pun sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, semakin buruk lingkungan maupun pergaulan seseorang maka kemungkinan pengaruh lingkungan pada perkembangan kognitif anak semakin besar.

Dari uraian di  atas jelaslah bahwa perkembangan kognitif peserta didik sangat  berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan hasil yang dicapai.

1.3  Perkembangan Sosial-emosional  Peserta didik

Selain perkembangan karakteristik fisik dan kognitif peserta didik, yang tidak kalah penting adalah perkembangan sosial-emosional peserta didik.  Sosio-emosional berasal dari kata sosial dan emosi. Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial.  Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral agama. Sedangkan emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi dibedakan menjadi dua, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar. Emosi negatif sperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Selain itu, dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin  ‘movere’ yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e-‘ untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.

Perkembangan sosio-emosional peserta didik termasuk suatu pembahasan yang sangat penting karena dengan mengetahui perkembangan sosio-emosional peserta didik, para pendidik dapat mengambil tindakan pada permasalahan peserta didik dengan berbagai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Sosio-emosional adalah perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Dalam pembahasan sosio-emosional ini lebih ditekankan dalam  sosio-emosional pada  remaja.  Pada masa remaja, tingkat karakteristik emosional akan menjadi drastis tingkat kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai  pendidik. kita harus mengetahui setiap aspek  yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga kita bisa melakukan komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan emosi remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses dalam mencapai kedewasaan. Meskipun sikap kanak-kanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja karena pengaruh didikan orang tua.

Faktor yang sangat memengaruhi perkembangan peserta didik pada usia remaja yaitu didikan orang tua, lingkungan sekitar tempat tinggal dan perlakuan guru di sekolah. Pengaruh sosio-emosional yang baik pada remaja terhadap diri sendiri yaitu untuk mengendalikan diri, memutuskan segala sesuatu dengan baik, serta bisa lebih matang merencanakan segala hal yang akan diputuskannya, sedangkan terhadap orang lain, yaitu mampu menjalin kerjasama yang baik, saling menghargai dan mampu memposisikan diri di lingkungan dengan baik.

Agar seorang peserta didik dapat memiliki kecerdasan emosi dengan baik haruslah dibentuk sejak usia dini, karena pada saat itu sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan manusia selanjutnya. Sebab pada usia ini dasar-dasar kepribadian anak telah terbentuk. Jelaslah sudah betapa pentingnya seorang pendidik memahami perkembangan sosio-emosional peserta didik, agar dalam proses pembelajaran perkembangan sosio-emosional peserta didik yang berbeda-beda dapat diatasi dengan baik.

 

1.4 Perkembangan Moral dan Spritual Peserta Didik

Perkembangan moral dan spiritual peserta didik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita semua. Demikian pula dalam proses pendidikan peserta didik baik itu di sekolah maupun di rumah. Teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap yaitu:  Penalaran prakovensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Tingkat Satu : Penalaran Prakonvesional

Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori  perkembangan  moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.

Tingkat Dua: Penalaran Konvensional

Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.

Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional

Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.  Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spiritual meliputi komunikasi dengan Tuhan (fox 1983), dan upaya seseorang untuk bersatu dengan Tuhan (Magill dan Mc Greal 1988), spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).

Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda  kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal,  timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:

  1.  Kepercayaan
  2.  Pemaafan
  3.  Cinta dan hubungan
  4.  Keyakinan, kreativitas dan harapan
  5.  Maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan.

Karakteristik  dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengarahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang maladaptif.

1.5 Latar Belakang Sosial Budaya Peserta Didik

Sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan  masyarakat atau kemasyarakatan,  sementara budaya segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa, dan karsa. Jadi dapat disimpulkan dari segi istilah sosal budaya merupakan segala hal yang diciptakan oleh manusia dengan pikiran dan budinya dalam kehidupan bermasyarakat.  Unsur-unsur sosial budaya peserta didik  meliputi antara lain  bahasa, kesenian, sistem religi, sistem kemasyarakatan dan sistem ekonomi. Kehidupan dan nilai sosial budaya peserta didik dalam kehidupannya selalu mendapatkan dan dipengaruhi oleh nilai nilai sosio-budaya dari lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar.

  1. Potensi Peserta Didik

potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan individu untuk lebih berkembang. Setiap individu  memiliki potensi yang berbeda satu sama lainnya. Potensi peserta didik yang dimaksud adalah kemampuan yang mungkin dikembangkan  atau  menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral, dan religius.

Potensi fisik merupakan kondisi kesehatan fisik dan berfungsinya anggota tubuh dengan baik yang diperoleh dari pemeriksaan  oleh  tenaga medis, observasi perilaku, wawancara,  dan pengisian angket  akan menunjang kelancaran peserta didik melakukan aktivitas belajar dan memaksimalkan keberhasilan peserta didik dalam belajar.  Organ tubuh akan berfungsi dengan baik dan maksimal apabila kondisi kesehatan peserta didik juga baik.

Herry Wibowo (2007:19)  menyatakan bahwa  potensi yang  terbesar manusia adalah otak. Otak adalah pengatur seluruh fungsi tubuh, dan juga sebagai pusat yang mengendalikan perilaku individu. Adapun potensi intelektul atau kekuatan otak individu berkaitan dengan daya nalar dan logika yang berupa kemampuan untuk mempelajari keterampilan, menganalisa, dan lain lain  Faktor-faktor yang memengaruhi potensi intelektual individu    adalah    faktor internal, misalnya motivasi, kemauan, kemampuan  dan faktor eksternal, misalnya  sarana dan daya dukung penunjang.  Kedua faktor  ini  sangat memberikan pengaruh pada pencapaian kemampuan intelektual yang maksimal dari peserta didik. Faktor internal peserta didik yang dominan memberikan kecenderungan  kekuatan daya juang yang besar saat menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Gordon Allport (2005:23) mendeskripsikan kepribadian sebagai  suatu organisasi dinamis dari sistem psiko-fisik dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan  dengan cara yang unik.  Aspek-aspek sikap kepribadian  diantaranya mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi, responsibilitas,  dan  sosiabilitas.  Berdasarkan pandangan psikologi, sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga menghasilkan motif. Jalaluddin (1996:187) menyatakan sikap  terbentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang dan bukan faktor bawaan.

Minat didefinisikan sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.  Minat peserta didik dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam menerima pembelajaran.  Bakat menurut Slavin didefinisikan sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang peserta didik untuk belajar. Oleh karena itu bakat mempengaruhi keberhasilan individu mencapai sesuatu.  Ahli psikologi lainnya mengatakan bakat adalah kemampuan dasar untuk melakukan suatu tugas tanpa upaya pendidikan atau pelatihan.

Moral  merupakan  ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Adapun keagamaan peserta didik berkaitan dengan konsep ketuhanan yang dianutnya.  Moral dan keagamaan individu memberikan pengaruh pada pembentukan nilai dan keyakinan yang dianutnya. Peserta didik yang memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran, kearifan, dan saling menghargai akan berdampak pada proses dan hasil pencapaian potensi peserta didik.

2.1. Faktor- faktor yang memengaruhi potensi peserta didik

  1.  Faktor Fisik

Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang  diperoleh dari pengaruh lingkungan.  karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Natur dan nurture  merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan.

Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak  dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

  1.   Faktor Psikologis

Faktor psikologis berkaitan dengan hal kejiwaan, kapasitas mental, emosi, dan intelegensi individu. Kemampuan berpikir  peserta didik memberikan pengaruh pada  hal memecahkan masalah dan juga berbahasa.  Hal lain yang berkaitan dengan aspek psikologi peserta didik adalah:  Motivasi Intrinsik.  Menurut Arden N. F (Hayinah, 1992) motivasi Intrinsik meliputi:  dorongan ingin tahu;  sifat positif dan kreatif;   keinginan mencapai prestasi; dan kebutuhan untuk menguasai ilmu dan pengetahuan yang berguna bagi dirinya.  Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan belajar peserta didik.

2.2. Faktor eksternal yang memengaruhi potensi peserta didik

  1.  Lingkungan Sosial  Masyarakat

Lingkungan sosial  individu adalah  lingkungan di mana seorang individu berinteraksi dengan individu lainnya dalam suatu ikatan norma dan peraturan. Kondisi lingkungan yang sehat dan mendukung secara positif terhadap proses belajar peserta didik akan memberikan pengaruh yang  positif pada perkembangan potensi peserta didik. Lingkungan masyarakat yang kumuh, dan tidak mendukung secara positif seperti banyaknya pengangguran, dan anak terlantar akan memberikan pengaruh negatif pada aktivitas dan potensi peserta didik.

  1.   Lingkungan Sosial keluarga

Keluarga adalah lingkungan sosial terkecil pada peserta didik. Peran keluarga dalam menunjang potensi peserta didik sangat penting. Hal-hal seperti kedekatan dengan orang tua, dukungan, dan hubungan dengan anggota keluarga yang harmonis akan memberikan dampak pada perkembangan potensi peserta didik.

  1.   Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah, seperti teman sekelas, guru, dan staf administrasi dapat  memberikan pengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Hubungan baik dan harmonis  diantara ketiganya memberikan pengaruh pada proses belajar. Memberikan motivasi yang positif  dan kesempatan pada peserta didik untuk belajar dan berkembang akan sangat berpengaruh pada pencapaian potensinya. Guru harus dapat mengamati dengan baik karakteristik dari peserta didik.

  1.   Perbedaan ras, suku, budaya,

kelas sosial peserta didik Sekolah adalah wadah bagi seluruh peserta didik untuk mengembangkan potensinya tanpa memandang perbedaan. Memahami perbedaan karakteristik peserta didik adalah merupakan tantangan besar bagi pendidik dalam menunjang perkembangan potensi peserta didik. Bagaimana menciptakan kondisi kelas yang mendukung aktivitas belajar yang dapat mewadahi seluruh peserta didik merupakan salah satu peran penting dari pendidik. Perbedaan ras dan etnik akan memunculkan perbedaan dialek bahasa, nilai, dan keyakinan yang kesemuanya itu akan sangat membawa pengaruh dalam proses pengembangan potensi peserta didik. Pendidik harus peka dan memiliki sikap positif terhadap perbedaan karakteristik peserta didiknya. Mc. Graw Hill dalam bukunya Learning to Teach  (2009) menyatakan bahwa ketika penggunaan dialek bahasa keluarga yang dipakai oleh peserta didik di Amerika  dipaksa untuk dihapuskan, maka kecenderungan prestasi akademik siswa tidak mengalami peningkatan, justru memunculkan kondisi emosional yang negatif pada mereka. Pendidik sebaiknya senantiasa mampu memunculkan kondisi emosi positif pada peserta didik dengan segala keberagaman karakteristik mereka.

  1. Bekal  Awal Peserta Didik

Setiap peserta didik dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi awal peserta didik saat akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pembelajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik perseorangan peserta didik sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.  Kegiatan menganalisis peserta didik dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya. Hal ini dilakukan untuk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik  tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini sama sekali bukan untuk menentukan prasyarat dalam menyeleksi peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran.

3.1 Pengertian Bekal Ajar Awal Peserta Didik

Peserta didik  menurut Sudarwan Danim (2010:47)  merupakan sumber daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa  belajar tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. Karenanya kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilambangkan dengan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik.  Bekal ajar awal peserta didik dapat pula diartikan kemampuan awal (entry behavior) adalah kemampuan yang yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh peserta didik. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan darimana pengajaran harus dimulai.

Esensinya tidak ada peserta didik di muka bumi ini benar-benar sama. Hal ini bermakna bahwa masing-masing peserta didik memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik peserta didik adalah totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita.

3.2. Tujuan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik

Identifikasi bekal ajar awal peserta didik bertujuan untuk:

  1. Memperoleh informasi yang  lengkap dan akurat berkenaan dengan  kemampuan awal  peserta didik sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu;
  2. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan serta kecendrungan peserrta didik berkaitan dengan pemilihan program program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka; dan
  3.  Menentukan desain program pembelajaran dan atau  pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Teknik mengaktifkan bekal ajar awal peserta didik  digunakan  untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik. Seorang pendidik dapat melakukan tes awal (pre-test).  Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi,  dan memberikan kuisioner kepada peserta didik  atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut.

Teknik yang paling tepat untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik yaitu tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Sebelum memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau di syaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal  adalah tes untuk  mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai pelajaran yang hendak diikuti. Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen membuktikan bahwa “untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan atau kecakapan pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas pembelajaran tinggi, maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi”. Hasil pretest juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki  dan sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah mengikuti pelajaran.

Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling berhubungan.Contoh angket sederhana untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik  sebagai berikut:

Seberapa luas pengetahuanmu tentang native speaker:

  1. Saya belum pernah mendengar istilah itu
  2.  Saya pernah mendengar tapi belum tahu tentang native speaker
  3.  Saya hanya tahu sedikit tentang native speaker
  4.  Saya belum tahu pengertian native speaker secara luas
  1. Kesulitan Belajar Peserta Didik

4.1  Pengertian kesulitan belajar

Setiap individu tidak sama. Perbedaan individu ini menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan peserta didik. Sehingga memunculkan perbedaan kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran di kelas yang sering disebut sebagai kesulitan belajar. Hamalik  (hal:  1983) menyatakan  kesulitan belajar dapat diartikan sebagai keadaan  di mana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut tidak bisa diabaikan oleh seorang pendidik karena dapat menjadi penghambat tujuan pembelajaran.  Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh faktor intelegensi yang rendah,  akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor-faktor nonintelegensi. Oleh karena itu,  IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Wood  (2007:33) menyatakan kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan tersebut diakibatkan oleh faktor  yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun luar diri peserta didik.  Faktor-faktor penyebab tersebut, hendaklah dipahami oleh pendidik agar   setiap peserta didik  dapat mencapai tujuan belajar yang baik.

Peserta didik mempunyai hak yang sama untuk  mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Namun kenyataannya pendidik kurang memahami peserta didik yang memiliki perbedaan dalam  hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang, kebiasaan dan pendekatan belajar antara pesetrta didik satu dengan lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para peserta didik yang berkemampuan rata-rata, sehingga peserta didik yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Peserta didik yang berkategori di luar rata-rata itu (sangat pintar dan sangat rendah) tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya. Kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya dialami peserta didik berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh peserta didik yang berkemampuan  tinggi. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah suatu hambatan yang dialami oleh peserta didik  untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan.

Ciri-ciri kesulitan belajar  menurut Moh. Surya antara lain:

  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah  (di  bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok kelas);
  2.  Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, mungkin murid yang selalu errusaha dengan giat tetapi nilai yang dicapai selalu rendah;
  3.  Lambat dalam  melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia;
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta, dsb;
  5. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat,  tidak engerjakan pekerjaan rumah, menggangu didalam dan diluar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, mengsingkan diri, tersisih, tidak mau bekerja sama, dsb;
  6.  Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, mudah pemarah, tidak gembira dalam menmghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan sedih atau menyesal dsb. Pernyataan  tersebut, dapat dipahami adanya beberapa manifestasi dari gejala kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik.

Gejala-gejala yang termanifestasi dalam tingkah laku setiap peserta didik, diharapkan para pendidik dapat memahami dan mengidentifikasikan mana siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan mana  yang tidak.

4.2  Faktor-faktor kesulitan belajar

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, prevalensi anak dengan kesulitan belajarnya diperkirakan lebih besar. Para ahli mengemukakan bahwa penyebab kesulitan belajar itu kompleks dan luas. Secara umum, penyebab kesulitan belajar antara lain:

  1.  Faktor intelektual, yaitu inteligensi yang rendah dan terbatas;
  2.  Faktor kondisi fisik dan kesehatan, termasuk kondisi kelainan, seperti kurangnya gizi pada ibu hamil, bayi dan anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan  penyakit persalinan;
  3.  Faktor sosial,seperti  pengaruh teman bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar;
  4.  Faktor keluarga, seperti keadaan keluarga yang kurangnya dukungan belajar dari orang tua.

Berikut ini penjabaran faktor-faktor kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik  menurut Koestur Partowisastro dan Hadi Suprapto (1978:56) yaitu:

  1.  Kondisi fisiologis yang permanen  meliputi inteligensi yang terbatas, hambatan penglihatan dan pendengaran, dan masalah persepsi.
  2.  Kondisi fisiologis temporer  meliputi masalah makanan, kecenderungan, dan kecapaian.
  3.  Kondisi lingkungan sosial permanen  meliputi harapan dan tekanan orang tua tinggi dan konflik dalam keluarga.
  4.  Kondisi lingkungan sosial temporer  meliputi ada bagian-bagian dalam urutan yang belum dipahami dan persaingan interes.

Sedangkan  menurut Tidjan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar yaitu  interen dan ekstern. Faktor interen meliputi faktor fisiologis, yaitu kesehatan fisik terganggu, cacat  fisik  dan  sebagainya.  Faktor intelektual, misalnya  kecerdasan kurang, kecakapan kurang, bakat-bakat kurang. Faktor minat, tidak berminat atau kurang minat.  Faktor  konsentrasi perhatian kurang.  Faktor ingatan kurang.  Faktor emosi, misalnya rasa benci dan rasa tidak puas.

Faktor ekstern  meliputi  Faktor  tempat, misalnya tidak ada tempat khusus untuk  belajar.  Faktor alat, alat-alat yang diperlukan dalam belajar kurang atau tidak ada. Faktor waktu dan suasana, yaitu tidak dapat mengatur waktu   belajar, ramai dan gaduh, rumah dekat jalan yang cukup ramai.  Faktor lingkungan sekolah, misalnya bahan pelajaran kurang, metode guru mengajar tidak memuaskan, pengeruh teman yang tidak baik (negatif). Faktor lingkungan keluarga dan masyarakat, misalnya situasi keluarga yang tidak menguntungkan anak dalam belajar, begitu pula dengan masyarakatnya

 

4.3  Analisis kesulitan belajar peserta didik

Prinsip-prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan di dalam proses belajar mengajar. Seorang guru akan melaksanakan tugasnya dengan baik apabila dapat menerapkan  cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar. Dengan kata lain supaya dapat mengontrol sendiri apakah tugas-tugas mengajar yang dilakukannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip belajar maka guru perlu memahami prinsip-prinsip belajar. Belajar diperoleh dari sebuah pengalaman yang di dalamnya terdapat interaksi antara manusia dan lingkungan. Selain itu, belajar merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus secara bertahap yang dilakukan untuk mencapai tujuan atau cita-cita.

Menurut  para  pakar, belajar merupakan proses memiliki pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Selain itu, belajar merupakan perubahan secara fisik maupun motorik. Belajar juga merupakan perubahan yang menekankan aspek-aspek rohani. Di dalam belajar, ada tiga ranah yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor yang berhubungan dengan motorik kasar (melempar, menangkap, menendang) dan motorik halus (menulis dan menggambar). Ketiga ranah tersebut perlu dilatih dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajar yaitu:

  1.  Tujuan yang terarah;
  2.    Motivasi yang kuat;
  3.  Bimbingan untuk mengetahui hambatan dalam belajar;
  4.  Cara belajar dengan pemahaman;
  5.  Interaksi yang positif dan dinamis antara individu dan lingkungan;
  6.  Teknik-teknik belajar;
  7.  Diskusi dan pemecahan masalah;
  8.  Mampu menerapkan apa yang telah dipelajari dalam kegiatan sehari-hari

Seorang anak pergi ke sekolah tidak boleh karena terpaksa, melainkan karena suatu kebutuhan. Orang tua dan guru hendaknya mengarahkan anak bahwa belajar adalah suatu kebutuhan, serta membangun motivasi diri yang kuat bahwa dengan belajar di SD berarti mempersiapkan hidup untuk masa depan. Hubungan yang positif antara guru dan orang tua memungkinkan anak untuk belajar secara aktif. Misalnya, ketika anak mengalami kesulitan, guru atau orang tua memberikan bimbingan agar apa yang dipelajari dapat dipahami dengan mudah. Ada beberapa hal yang menyebabkan anak mengalami kesalahan belajar, diantaranya sebagai berikut:

  1.  Belajar tanpa adanya tujuan yang jelas;
  2.  Belajar tanpa rencana ( hanya insidental);
  3.  Hanya menghafal tanpa memahami;
  4.  Tidak dikaitkan dengan pengalaman dan  teknik-teknik yang bervariasi;
  5.  Tidak ada pengelolaan waktu belajar;
  6.  Tidak menggunakan alat bantu atau referensi yang utuh.

4.4. Jenis-jenis kesulitan belajar

Ada  empat  jenis kesulitan/gangguan  belajar yang seringkali ditemui dalam perkembangan seorang anak, yaitu sebagai berikut.

  1.  Kesulitan belajar akademis  

Meliputi  Kesulitan membaca, kesulitan  menulis, dan kesulitan berhitung. Kesulitan membaca merupakan suatu diagnosis yang ditandai oleh adanya kesulitan berat dalam mengerti bahan bacaan. Anak yang  mengalami gangguan membaca akan kesulitan dalam mengenal kata, mengucapkan, dan memahami apa yang dibaca. Ada dua macam gangguan dalam membaca, yaitu: aphasia, disebabkan karena anak kehilangan kemampuan membacanya.  Disleksia, disebabkan karena gangguan  fungsi saraf (neurologisnya rusak). Faktor yang menyebabkan kesulitan membaca, yaitu: (1)  Psikologis (gagap), anak merasa malu jika ditertawakan teman-temannya.  (2)  Hambatan didaktik-metodik, anak mengenal bunyi huruf tetapi mereka kesulitan membacanya apabila huruf itu dirangkai menjadi kata. Kesulitan menulis,  merupakan gangguan pada kemampuan menulis anak, yaitu kemampuan di bawah rata-rata anak seusianya. Gangguan ini tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pendidikan yang telah dijalaninya. Hal tersebut menimbulkan masalah pada akademik anak dan berbagai area kehidupan anak. Kesulitan menulis disebabkan kerena kemampuan psikomotor yang kurang terlatih. Anak yang memiliki kesulitan menulis sulit dalam membuat tulisan dan mengekspresikan diri melalui  tulisan. Macam-macam kesulitan menulis yaitu:  (a) Disgraphia, merupakan kesulitan menulis yang     disebabkan gangguan saraf.  (b)  Hyperkenesis, kesulitan menulis yang memiliki gerakan yang berlebih dan  tidak normal. Misalnya, menghentak-hentakkan kaki atau bergoyang-goyang terus ketika menulis. Kesulitan berhitung  merupakan gangguan matematik yang memiliki kesulitan dalam kemampuan aritmatik. Kesulitan ini tidak disertai dengan adanya gangguan penglihatan, pendengaran, fisik, atau emosi. Kesulitan berhitung disebut ”discalculia”. Anak akan mengalami kesulitan dalam memikirkan atau mengingat informasi yang melibatkan angka-angka.

  1.   Gangguan Simbolik

Gangguan simbolik yaitu ketidakmampuan anak untuk dapat memahami suatu obyek sekalipun ia tidak memiliki kelainan pada organ tubuhnya. Ciri-cirinya antara lain adalah :

1) Siswa mampu mendengar tapi tidak mengerti apa yang didengar;

2)  Mampu mengaitkan obyek yang dilihat, namun mengalami gangguan pengamatan (visual reseptive)

3)  Mengalami gangguan gerak-gerik (motoraphasia)

 

  1. Gangguan Nonsimbolik

Gangguan nonsimbolik merupakan ketidakmampuan anak untuk memahami isi pelajaran karena ia mengalami kesulitan untuk mengulang kembali apa yang telah dipelajarinya.  Kesulitan belajar yang telah dipaparkan tersebut sangat berdampak pada proses belajar. Namun, ada pula siswa SD yang karena proses kelahiran atau musibah   mengalami cidera otak, sehingga siswa itu tidak mampu untuk belajar. Ketidakmampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu yang tidak dapat dilakukan anak-anak yang sebaya seperti: mandi sendiri, sikat gigi, menulis, membaca disebut  learning disability. Anak yang mengalami kerusakan saraf yang berat disebut learning disorder. Anak yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata, namun prestasi akademiknya rendah disebut  underachiever. Sedangkan anak yang lamban belajar dan  tidak mampu menyelesaikan pekerjaannyadengan tepat serta waktu belajarnya lebih lama dibandingkan rata-rata anak seusianya disebut slow learner.

  1.   Gangguan Sosial Emosional

Sifat guru atau pendidik ingin mengajarkan anak didiknya yang berperilaku baik dan  pandai untuk membangun keberhasilan dalam proses belajar di kelas. Namun, kadang kala ada anak yang tergolong mempunyai gangguan sosial emosional yang nampak di kelas. Permasalahan sosial emosional dalam belajar antara lain:

(1)  Hiperaktif,  anak hiperaktif cenderung tidak bisa diam. Ia cenderung bergerak terus     menerus, kadang suka berlarian, melompat-lompat, bahkan teriak-teriak di kelas. Anak ini sulit untuk dikontrol, karena ia melakukan aktivitas sesuai kemauannya sendiri.

(2) Distractibility Child, anak distractibility seringkali mengalihkan perhatiannya ke berbagai obyek lain di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi, tetapi tidak bisa memusatkan perhatian pada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di kelas. Anak ini juga cepat bosan.

(3)  Poor Self Consept, anak yang poor self consept cenderung pendiam, pasif, dan mudah tersinggung. Mereka tidak berani bertanya atau menjawab karena merasa tidak mampu dan cenderung kurang berani bergaul serta suka menyendiri.

(4) Impulsif, anak yang impulsif cepat  sekali bereaksi terhadap sesuatu di sekitarnya, tetapi hal tersebut justru mencerminkan ketidakmampuannya. Misalnya, setiap guru memberi pertanyaan, anak ini cepat bereaksi untuk cepat menjawab. Anak ini seperti ingin menunjukkan bahwa ia pandai. Padahal  cara menjawabnya justru mencerminkan ketidakmampuannya.

(5) Distructive Behavior, anak ini memiliki perilaku yang agresif. Sikap agresif yang negatif dalam bentuk membanting dan melempar menunjukkan bahwa anak ini adalah anak yang bermasalah (troublemaker). Anak ini cepat tersinggung dan bertempramen tinggi, sehingga menjadi agresif.

(6) Distruptive Behavior, anak ini sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dengan nada mengejek, anak ini cenderung menentang guru.

(7) Dependency Child,  pada awalnya anak ini seperti sangat bergantung pada orangtuanya, dan sering merasa takut serta tidak ampu memberanikan diri untuk melakukan sesuatu sendiri. Hal ini terjadi karena sikap orangtua yang terlalu over protektif atau sangat melindungi.

(8) Withdrawal,  anak yang withdrawal yaitu anak yang suka menarik diri dan pemalu. Keadaan sosial ekonomi yang rendah akan mengakibatkan anak merasa bahwa dirinya bodoh dan enggan untuk mencoba membuat atau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan karena dirinya merasa tidak mampu.

(9) Learning Disability, anak ini tidak memiliki kemampuan mental yang setara dengan anak-anak normal yang sebayanya. Anak seperti ini sulit untuk menganalisis, menangkap isi pelajaran, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.

(10) Learning  Disorder,

anak ini mempunyai cacat bawaan baik kerusakan fisik maupun saraf. Anak seperti ini cenderung sulit belajar secara normal, sehingga membutuhkan penanganan para ahli yang dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus.

(11)  Underachiver, anak ini mempunyai potensi intelektual di atas rata-rata, namun potensi

akademiknya di kelas sangat rendah. Semangat belajarnya juga sangat rendah.

(12) Overachiver, anak ini mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi. Ia merespon dengan cepat. Anak ini tidak bisa menerima kegagalan dan tidak mudah menerima kritikan dari siapapun termasuk dari gurunya.

(13)  Slowlearner, anak ini sulit menangkap pelajaran di kelas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menjawab dan mengerjakan tugas-tugasnya.

(14)  Social  Interseption Child, anak ini kurang peka dan tidak peduli terhadap lingkungannya. Anak ini kurang tanggap dalam membaca ekspresi dan sulit bergaul dengan teman-teman yang ada di kelas.

  1. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik

Cara mengatasi kesulitan belajar, berdasarkan gejala yang teramati dan faktor penyebab kesulitan belajar, maka upaya  yang  dilakukan guru antara lain:

  1.  Tempat duduk siswa

Anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi tempat duduk bagian depan. Mereka akan dapat melihat tulisan di papan tulis lebih jelas. Begitu pula dalam mendengar semua informasi belajar yang diucapkan oleh guru.

  1.  Gangguan kesehatan

Anak yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberinya bahan pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan keluarga lainnya.

  1.  Program remedial

Siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, perlu ditolong dengan melaksanakan program remedial. Teknik program remedial dapat dilakukan  dengan berbagai cara. Di antaranya adalah  mengulang kembali bahan pelajaran yang belum dikuasai, memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa, dan lain sebagainya.

  1.  Bantuan media dan alat peraga

Penggunaan alat peraga pelajaran dan  media belajar kiranya cukup membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Boleh jadi kesulitan belajar itu timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit dipahami siswa.

  1.  Suasana belajar menyenangkan

Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan  suasana belajar kondusif. Suasana belajar yang nyaman dan menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami hambatan dalam menerima materi pelajaran.

  1.  Motivasi orang tua di rumah

Anak yang mengalami kesulitan belajar perlu mendapat perhatian orang tua dan anggota keluarganya. Peran orang tua sangat penting untuk memberikan motivasi ekstrinsik dan intrinsik agar anak mampu memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Selain itu juga orang tua perlu memperhatikan kesehatan tubuh anak dengan memberikan makanan dan miniman yang bergizi disertai dengan suplemen pembangun tubuh yang cukup.

  1. Rancangan Kegiatan Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik

Rancangan mengatasi kesulitan belajar peserta didik dapat dilakukan dengan cara:

  1.  Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut :

(1)  Identifikasi kasus;

Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar.

(2)  Call them approach;  melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.

(3)  Maintain good relationship;

menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.

(4)  Developing a desire for counseling;

menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.

(5) Melakukan analisis sosiometris;

dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

  1.  Identifikasi Masalah

Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks  proses belajar mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural –  fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i)  keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang. c.  Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus) Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :

1) Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;

2) Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan dan;

3) Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003:67) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan apabila

1)  Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya   masalah yang dihadapi.

2)   Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.

3)  Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri  dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).

4)  Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion  stress release).

5)    Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya

6)    Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam  mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.

7)   Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha  –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.

 

PENUTUP

Dengan tuntasnya mempelajari materi dalam modul  Guru  Pembelajar Bahasa Indonesia  SMA  Kelompok Kompetensi A  ini,  Anda  diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan  dalam mengembangkan pembelajaran  yang  efektif  dan bermakna  di kelas.    Guru sepatutnya mendapatkan pemahaman  terhadap kompetensi pedagogik dan profesional dengan komposisi yang ideal merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dilewatkan pada setiap pertemuan. Materi yang dipaparkan dalam kegiatan pembelajaran  ini diharapkan dapat  menambah wawasan   Anda dalam menentukan karakteristik, potensi, kesulitan belajar peserta didik    serta dapat merancang kegiatan  yang  dapat mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

.

Aliran-aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia. Diunduh dari  http://www.peutuah.com/makalah-pendidikan/pada tanggal 1 Juni 2012

Djamarah, Syaiful Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta

Effendi, Mukhlison dan Siti Rodliyah. (2004).Ilmu Pendidikan.Ponorogo: PPS Press

Fauzi, Ahmad. (2011). Analisis Karakteristik Siswa.

http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2011/02/analisis-karakteristik-siswa.pdf  pada tanggal 28 Mei 2012

Hamalik, Oemar. (2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara.

Hernawati, Kuswari. (2011). E-Learning Adaptif Berbasis Karakteristik Peserta Didik.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/adaptif%20elearning.pdf

Hurlock, E. B. (1997). Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan Tsandrasa, M.M.

dan Zarkasih, M. Jakarta: Penerbit Erlangga

Hurlock, E. B. 1980. Psikolog Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Terjemahan Istiwidanti & Soedarjarwo, Jakarta: Erlangga

Mardiya.(2009). Peranan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter dan Tumbuh Kembang Anak.http://mardiya.wordpress.com/2009/10/25/peranan-orang-tua-dalam-pembentukan-karakter-dan-tumbuh-kembang-anak/

Muda, Aslam Syah. (2012). Pengaruh Pola Asuh Terhadap Kepribadian Anak.http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/06/pengaruh-pola-asuh-terhadap-kepribadian-anak/

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al-Barry.(1994). Kamus Ilmiah Populer.Surabaya : Arkola

Purwanto, Ngalim.(1990). Psikologi Pendidikan.Bandung: CV Remaja Karya

Santrock, J.W. (2002). Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup

(Terjemahan). Jakarta: Erlangga

Semiawan, Cony. (2008). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT Grasindo

Suhadianto.(2009). Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa Untuk Meningkatkan Prestasi

Belajar.http://h2dy.wordpress.com/2009/02/17/pentingnya-mengenal-kepribadian-siswa-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. LAndasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (2008). PT Remaja Rosdakarya Bandung

Sumarmo, Alim. Memahami 9 Tipe Kecerdasan Jamak.Diunduh dari http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/memahami-9-tipe-kecerdasan-jamak.pada tanggal 22 Juni 2012

Uno, Hamzah. B.(2008).Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif . Jakarta: Bumi Aksara

Taimiyah, Ibnu (Syaikhul Islam). Iqtidha’ Ash Shiratil Mustaqim, Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim Al ‘Aql.

Zainudin, Akbar. (2010). Gaya belajar dan modalitas belajar siswa. Diunduh darihttp://ideguru.wordpress.com/2010/04/12/memahami-perbedaan-gaya-belajar-siswa/pada tanggal 31 Mei 2012

  1.  http://www.smartpassiveincome.com/are-people-talking-about-you-online-heres-what-you-need-to-know/
  2.  http://logodownload.blogspot.com/2012/11/logo-tamansiswa.html
  3.  http://ranjihistoris2012.wordpress.com/2012/07/15/wisata-sejarah-di-ins-kayu-tanam/
  4.  http://educ732.courseblock.com/module04/topic-4-2-gardner%E2%80%99s-multiple-intelligences-theory/
  5.  http://guruqungeblog.files.wordpress.com/2011/02/siswa-aktif.jpg

 

 

GLOSARIUM

 

Karakter : kata sifat, watak, akhlak, atau tabiat.
Minat : sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian,, prasangka, rasa takut atau

kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.

Motivasi ekstrinsik : faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi  pengaruh terhadap kemauan belajar.
Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) : salah satu aspek penting dari perkembangan individu.
Pertumbuhan fisik : yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja.
perubahan-perubahan fisik atau tubuh : Fisik atau tubuh manusiamerupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.
Potensi peserta didik : kemampuan yang mungkin dikembangkan  atau  menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral dan religius.
Sosio-emosional :

 

perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu

Refleksi Pembelajaran

Refleksi Pembelajaran

  1. Konsep Refleksi dalam Pembelajaran

Sesuai dengan yang diisyaratkan dalam Permendiknas No. 16 Tahun2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik, bahwapendidik harus melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam hal ini merupakan salah satu kompetensi pedagogik yang harus dilakukan oleh pendidik. Pendidik dituntut untuk melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan di kelas, dan memanfaatkan hasil refleksi tersebut untuk perbaikan dan pengembangan pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampu. Refleksi adalah kegiatan penilaian dalam berbagai bentuk yang dilakukan oleh peserta didik terhadap proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan oleh pendidik dengan maksud untuk memperbaiki proses belajar yang dilaksanakan oleh pendidik pada waktu yang akan datang. Definisi menurut Reid, 1995 “Reflection is a process of reviewing an experience of practice in order to describe, analyse, evaluate and so inform learning about practice”. Konsep tersebut dapat diartikan, bahwa refleksi adalah sebuah proses mereviu pengalaman dengan cara mendeskripsikan, menganalisis, mengevaluasi pembembelajaran yang telah dilakukan. Hanifah (1999) berpendapat, bahwa refleksi adalah “Proses merenung, menganalisis, mencari alasan, membuat cadangan dan tindakan untuk memperbaiki diri yang dilakukan secara berterusan.Refleksi kritikal menitikberatkan penerokaan domain afektif, kerohanian dan pemikiran rasional oleh seseorang dalam tindakannya untuk mencari kebenaran terhadap tindakannya bagi tujuan memperbaiki diri dan persekitaran”.

Konsep refleksi tidak lain sebagai metode pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya. (Chruickshark, 1987) Guru dapat merefleksi tentang metode atau model pembelajaran yangsudah digunakan, bahkan dapat juga merefleksi materi ajar yang disampaikan.Refleksi dapat juga dilakukan guru pada saat kegiatan pembelajaran akan breakhir atau pada kegiatan penutup.Kegiatan yang harus dilakukan setelah pembelajaran adalah melakukan refleksi. Tahap ini diperlukan untuk memperoleh gambaran tingkat keberhasilan rencana pembelajaran yang tertuang dalam Rencana Pelaksnaan Pembelajaran.Hasil refleksi akan menentukan langkah selanjutnya yang diperlukan dalam pembelajaran. Untuk dapat melakukan refleksi, guru peserta harus memiliki data yang telah dianalisis dan diinterpretasikan. Selain itu, guru peserta harus memahami betul tentang keterkaitan antara permasalahan, tujuan yang ingin dicapai, rencana tindakan yang telah disusun dan dilaksanakan, serta situasi dan kondisi saat tindakan dalam pembelajaran dilaksanakan.

Refleksi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk melihat kembali apakah pembelajaran yang dilaksanakan telah sesuai dengan yang kita rencanakan. Pada dasarnya refleksi merupakan kegiatan analisis-sintesis, interpretasi, dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan pembelajaran. Data atau informasi yang terkumpul perlu dianalisis, dicari kaitan antara yang satu dengan yang lainnya, dibandingkan dengan pengalaman sebelumnya atau dengan standar tertentu, untuk mengevaluasi keberhasilan pembelajaran yang dilakukan. Jika pembelajaran belum berhasil sebagaimana yang diharapkan, maka kita perlu menindaklanjuti dengan melakukan analisis untuk mencari penyebab ketidakberhasilan pembelajaran. Setelah menemukan akar permasalahan yang menjadi penyebab belum berhasilnya pembelajaran, maka langkah selanjutnya membuat rencana perbaikan pembelajaran untuk menghilangkan akar permasalahan tersebut pada pertemuan berikutnya. Saat itulah, guru peserta dapat merencanakan untuk melakukan penelitian tindakan kelas.Tentu harus didukung dengan data-data yang lengkap. Tahap refleksi bukan merupakan tahap yang mudah bagi guru, khususnya guru peserta yang belum terbiasa melakukan refleksi. Pada tahap ini diperlukan kemampuan untuk berpikir analitik secara kritis, terhadap semua data, fakta dan fenomena yang terjadi, kemudian menghubungkannya dengan rumusan, tujuan, serta rencana tindakan sebagai alternatif solusinya. Artinya, diperlukan upaya merenung dan berpikir secara serius dan mendalam, dengan mengingat tentang berbagai konsep, prinsip, pengalaman praktis yang terkait dengan pembelajaran yang telah dipertimbangkan dalam menyusun rencana tindakan. Hasil refleksi diungkapkan dalam bentuk narasi ilmiah.

 Prinsip Refleksi dalam Pembelajaran

Kegiatan refleksi merupakan kegiatan terakhir dari pelaksanaan pembelajaran. Pada kegiatan inilah guru akan dapat mengetahui berhasil tidaknya rencana pelaksanaan pembelajaran. Pada kegiatan refleksi ini pula guru dapat menentukan tindak lanjut yang harus dilakukan, yakni menyiapkan PTK, pengayaan atau perbaikan (remedial). Jika ternyata pembelajaran yang dilakukan belum berhasil optimal, guru peserta bias merencanakan PTK atau remedial. Oleh karena itu, para guru peserta harus mempunyai pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam merefleksi serta memilih tindak lanjut yang tepat.

Refleksi terhadap pembelajaran mutlak harus dilakukan oleh pendidik untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan meningkatkan kinerjanya sendiri. Refleksi pembelajaran dapat dilakukan secara mandiri maupun kolaborasi dengan teman yang mengampu mata pelajaran yang sejenis. Refleksi pembelajaran sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut, yakni: (1) Ada kesadaran bersama pendidik dan peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (2) Penilaian oleh peserta didik dilakukan dengan sangat kritis; (3) Penilaian dilaksanakan sejak awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran; (4) Hasil penilaian oleh peserta didik dijadikan masukan oleh pendidik untuk perbaikan pembelajaran.

  1. Tujuan dan Sasaran Refleksi dalam Pembelajaran

Tujuan dilakukan refleksi pembelajaran bagi pendidik antara lain: (1) Untuk menganalisis tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik; (2) Untuk melakukan evaluasi diri terhadap proses belajar yang telah dilakukan; (3) untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan; (4) untuk merancang upaya optimalisasi proses dan hasil belajar, (5) Untuk memperbaiki dan mengembangkan pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Refleksi pembelajaran penting dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi positif tentang bagaimana cara pendidik meningkatkan kualitas pembelajarannya sekaligus sebagai bahan observasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran itu tercapai. Selain itu refleksi terhadap pembelajaran bermanfaat bagi peserta didik yakni, untuk mencapai kepuasaan diri peserta didik memperoleh wadah yang tepat dalam menjalin komunikasi positif dengan pendidik.

  1. Teknik-teknik Refleksi dalam Pembelajaran

Untuk mengetahui keberhasilan belajar peserta didik, baik selama maupun setelah peserta didik mengikuti pembelajaran tertentu dapat dilihat melalui pengamatan keaktifan peserta didik dalam bekerjasama atau wawancara tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi peserta didik selama mengikuti pembelajaran. Sebelum melakukan wawancara atau pengamatan, sebagai pendidik kita perlu menetapkan kriteria seperti: sangat kurang, kurang, cukup, baik, sangat baik, atau kurang aktif, cukup aktif, aktif, atau sangat aktif. Langkah selanjutnya yaitu memberikan penjelasan tetang hasil wawancara atau pengamatan, misalnya mengapa peserta didik kita memberikan peserta didik kita memberikan respon negatif atas pelaksanaan pembelajaran yang kita lakukan, mengapa proses belajar peserta didik tidak sesuai dengan harapan, demikian pula mengapa hasil belajar peserta didik justru semakin menurun dari periode sebelumnya. Setelah langkah tersebut diatas pendidik perlu memberikan kesimpulan. Adapun teknik lain yang dapat dilakukan untuk merefleksi terhadap pembelajaran adalah melalui jurnal, buku harian, angket, dan pengamatan terhadap proses belajar mengajar. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat digunakan untuk refleksi diri guna menemukan masalah:

  1. Apakah kompetensi awal peserta didik untuk mengikuti pembelajaran cukup memadai?
  2. Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
  3. Apakah peserta didik cukup aktif dalam mengikuti pembelajaran?
  4. Apakah sarana/prasana pembelajaran cukup memadai?
  5. Apakah pemerolehan hasil pembelajaran cukup tinggi?
  6. Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
  7. Apakah ada unsur inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran?
  8. Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran inovatif tertentu?
  1. Penyusunan Instrumen Refleksi Pembelajaran

Instrumen adalah alat untuk merekam informasi yang akan dikumpulkan.Instrumen observasi digunakan berdasarkan teknik yang dilakukan.Berikut ini jenis instrumen yang dapat dikembangkan untuk kegiatan refleksi pembelajaran.

  1. Lembar Observasi

Lembar observasi adalah hasil pencatatan terhadap pengamatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematis. Instrumen observasi yang berupa pedoman pengamatan biasa digunakan dalam observasi sistematis, di mana observer bekerja sesuai dengan pedoman yang telah dibuat.

  1. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara (interview guide) adalah acuan percakapan yang dilaksanakan untuk memperoleh informasi dari responden. Secara minimal pedoman tersebut memuat rambu-rambu pertanyaan yang akan ditanyakan pada responden.

  1. Lembar Telaah Dokumen

Lembar telaah dokumen adalah instrumen yang yang digunakan untuk mengolah dokumen-dokumen yang dimiliki. Bentuk instrument dokumentasi terdiri atas dua macam yaitu pedoman dekomentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya, dan check list yang memuat daftar variabel yang akan dikumpulan datanya. Perbedaan antara kedua bentuk instrumen ini terletak pada intensitas gejala yang diteliti.

  1. Angket atau Kuisioner

Refleksi kegiatan pembelajaran dapat menggunakan metode angket atau kuisioner. Pada kegiatan ini, digunakan instrumen sesuai dengan nama metodenya. Bentuk lembaran angket dapat berupa sejumlah pertanyaan tertulis, tujuannya untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang dialami dan diketahui oleh peserta didik. Bentuk kuisioner yang dibuat sebagai instrumen dapat berupa:

  • Kuisioner terbuka, responden bebas menjawab dengan kalimatnya sendiri, bentuknya sama dengan kuisioner isian.
  • Kuisioner tertutup, responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan, bentuknya sama dengan kuisioner pilihan ganda.
  • Kuisioner langsung, responden menjawab pertanyaan seputar dirinya.
  • Kuisioner tidak langsung, responden menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan orang lain.
  • Check list, yaitu daftra isian yang bersifat tertutup, responden tinggal membubuhkan tanda check pada kolom jawaban yang tersedia.
  • Skala bertingkat, jawaban responden dilengkapi dengan pernyataan bertingkat, biasanya menunjukkan skala sikap yang mencakup rentang dari sangat setuju sampai sangat tidak setujua terhadap pertanyataannya.

Pada saat meyusun kuisioner, perlu ditimbangkan jumlah pertanyaan yang akan diajukan. Pertanyaan yang diajukan sebaiknya tidak menanyakan hal yang tidak perlu, yang tidak akan diolah dalam penelitian.

  1. Aktivitas Pembelajaran
  2. Pendahuluan

Silakan Anda pahami tujuan, kompetensi, dan indikator pencapaian kompetensi pada kegiatan pembelajaran ini supaya pembelajaran lebih terarah dan terukur.

  1. Curah Pendapat

Pada kegiatan ini Anda diminta untuk menyebutkan berbagai masalah yang dihadapi dalam pembelajaran, khususnya pada saat refleksi.  Sebagai langkah awal dan agar kegiatan curah pendapat berjalan dengan baik, Anda dapat mengisi pertanyaan berikut ini

  • Perlukah guru bahasa Indonesia melakukan refleksi? Mengapa?
  • Pernahkah Ibu/Bapak melaksanakan refleksi? Apa tujuan dan manfaat refleksi? Bagaimana cara melakukan refleksi?
  1. Telaah Materi

Masing-masing Anda dibagi ke dalam empat kelompok besar. Setelah itu, setiap kelompok membaca, mengkaji, dan menelaah sumber belajar yang berhubungan dengan refleksi pembelajaran. Adapun sumber belajar yang dirujuk adalah bahan bacaan yang terdapat pada bagian uraian materi dan sumber belajar lainnya yang relevan. Anda kerjakan LK 1.1 sebagai laporan hasil diskusi.

  1. Penugasan

Untuk mengukur pemahaman Anda terhadap kegiatan refleksi pembelajaran silakan Anda kerjakan LK 1.2

  1. Penutup

Setelah mengerjakan semua LK, Anda dapat mencocokan jawaban dengan kunci jawaban yang tersedia untuk mengukur dan menilai ketuntasan pembelajaran. Langkah terakhir silakan Anda melakukan kegiatan refleksi dengan menjawab pertanyaan pada bagian umpan balik dan tindak lanjut.

 Rangkuman

Refleksi adalah kegiatan penilaian dalam berbagai bentuk yang dilakukan oleh peserta didik terhadap proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan oleh pendidik dengan maksud untuk memperbaiki proses belajar yang dilaksanakan oleh pendidik pada waktu yang akan datang. Pada kegiatan refleksi ini pula guru dapat menentukan tindak lanjut yang harus dilakukan, yakni pengayaan atau perbaikan (remedial). Tujuan dilakukan refleksi pembelajaran bagi pendidik antara lain: (1) Untuk menganalisis tingkat keberhasilan proses dan hasil belajar peserta didik; (2) Untuk melakukan evaluasi diri terhadap proses belajar yang telah dilakukan; (3) untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kegagalan dan pendukung keberhasilan; (4) untuk merancang upaya optimalisasi proses dan hasilbelajar, (5) Untuk memperbaiki dan mengembangkan pembelajaran sesuai dengan mata pelajaran yang diampu Refleksi pembelajaran sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan beberapa prinsip berikut, yakni: (1) Ada kesadaran bersama pendidik dan peserta didik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran; (2) Penilaian oleh peserta didik dilakukan dengan sangat kritis; (3) Penilaian dilaksanakan sejak awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran; (4) Hasil penilaian oleh peserta didik dijadikan masukan oleh pendidik untuk perbaikan pembelajaran.                                         Adapun teknik lain yang dapat dilakukan untuk merefleksi terhadap pembelajaran adalah melalui jurnal, buku harian, angket, dan pengamatan terhadap proses belajar mengajar.Instrumen adalah alat untuk merekam informasi yang akan dikumpulkan. Instrumen observasi digunakan berdasarkan teknik yang dilakukan. Jenis instrumen yang dapat dikembangkan untuk kegiatan refleksi pembelajaran adalah lembar observasi, pedoman wawancara, lembar telaah dokumen, dan angket atau kuisioner.

 

Prinsip Dan Posedur Berbahasa Secara Tertulis

tps://docs.google.com/document/d/menulis/

Prinsip dan Prosedur Berbahasa secara Tertulis

Pengertian dan Konsep Menulis, Karekteristik Menulis, Tahap-tahap Menulis, dan Jenis-Jenis Tulisan

  1.  Pengertian  dan Konsep Menulis

Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara mengkomunikasikan dan mengatur ( Donn  Byrne. 1988:1) Sejalan dengan itu, menurut Lado (1964:14) menulis adalah meletakkan simbol grafis  yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu,  jika mengetahui bahwa itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. Semi (1990: 8)  juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnyamerupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa.                                                                                                                                                            Menurut Jago Tarigan (1995:117) menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimegerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara engkomunikasikan dan mengatur.  Semi (1990:8) juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan emindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa. Menurut Gere (1985:4), menulis dalam artikomunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek. Menulis berarti mendukung ide. Byrne (1988: 1), mengatakan bahwa menulis tidak hanya membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu dengan yang lain, dan dalam gaya tertentu. Rangkaian kalimat itu bisa pendek,berupa dua atau tiga kalimat. Akan tetapi, kalimat tersebut disusun secara teratur dan saling berhubungan (padu). Crimmon (1984.191), berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri atau mengomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan mempelajari sesuatu yang belum diketahui.  Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis  dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas jenisnya agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan bahasa  yang dimiliki penulis.                                                                                                 Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan kebahasaan  yang dimiliki seorang penulis.

Menulis sebagai Keterampilan Diskrit.  Kata ‘diskrit’ diadaptasi dari bahasa Inggris ‘discrete’ yang artinya terpisah atau tersendiri.  Bila pengertian ini dikaitkan dengan keterampilan berbahasa, maka kitadapat mengartikannya keterampilan berbicara sebagai keterampilan tersendiri yang terintegrasi dengan keterampilan berbahasa yang lain (membaca, menyimak, dan menulis).

  1. Karakteristik Keterampilan Menulis

Setiap guru keterampilan menulis harus sudah memahami karakteristik keterampilan menulis  karena sangat menentukan dalam ketepatan penyusunan perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian keterampilan menulis. Sudah dapat dipastikan tanpa memahami karakteristik keterampilan menulis guru yang bersangkutan tak mungkin menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran menulis yang akurat, bervariasi, dan menarik.  Ada empat karakteristik keterampilan menulis yang sangat menonjol, yakni;

  1.  keterampilan menulis merupakan kemampuan yang kompleks;
  2.  keterampilan menulis condong ke arah skill atau praktik;
  3.  keterampilan menulis bersifat mekanistik;
  4.  penguasaan keterampilan menulis harus melalui kegiatan yang bertahap atau akumulatif.

Keterampilan menulis menuntut kemampuan yang kompleks. Penulisan sebuah karangan yang sederhana sekalipun menuntut kepada penulisnya kemampuan memahami apa yang hendak ditulis dan bagaimana cara menulisnya. Persoalan pertama menyangkut isi karangan dan persoalan kedua menyangkut pemakaian bahasa serta bentuk atau struktur karangan. Pembelajaran keterampilan menulis yang tidak memerhatikan kedua hal tersebut di atas pasti akan mengalami ketidakberesan atau kegagalan. Keterampilan menulis lebih condong ke arah praktik ketimbang teori. Ini tidak berarti pembahasan teori menulis ditabukan dalam pengajaran menulis. Pertimbangan antarpraktik dan teori sebaiknya lebih banyak praktik dari teori. Keterampilan menulis bersifat mekanistik. Ini berarti bahwa penguasaan keterampilan menulis tersebut harus melalui latihan atau praktik. Dengan perkataan lain semakin banyak seseorang melakukan kegiatan menulis semakin terampil menulis yang bersangkutan. Karakteristik keterampilan menulis seperti ini menuntut pembelajaran menulis  yang memungkinkan siswa banyak latihan, praktik, atau mengalami berbagai pengalaman kegiatan menulis.

Di samping kegiatan menulis harus bervariasi juga sistematis, bertahap, dan akumulatif. Berlatih menulis yang tidak terarah apalagi kurang diawasi guru membuat kegiatan siswa tidak terarah bahkan sering membingungkan siswa. Mereka tidak tahu apakah mereka sudah bekerja benar, atau mereka tidak tahu membuat kesalahan yang berulang. Latihan mengarang terkendali disertai diskusi  sangat diperlukan dalam memahami dan menguasai keterampilan menulis.

3.    Tahap-Tahap Menulis

  1.  Perencanaan Karangan

Menurut Sabarti dkk.  (1995:6),secara teoretis proses penulisan meliputi tiga tahap utama, yaitu prapenulisan, penulisan, dan revisi. Ini tidak berarti bahwa kegiatan menulis dilakukan secara terpisah-pisah. Pada tahap prapenulisan kita membuat persiapan-persiapan yang akan digunakan pada enulisaan. Dengan kata lain, merencanakan karangan. Berikut ini dibahas cara merencanakan menulis/karangan.

  1. Pemilihan Topik

Kegiatan yang mula-mula dilakukan jika menulis suatu karangan menentukan topik. Hal ini untuk menentukan apa yang akan dibahas dalam tulisan. Ada beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih topik yaitu;

1)  topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas. Ada manfaatnya mengandung pengertiam bahwa bahasan tentang topik itu akan memberikan sumbangan kepada ilmu atau propesi yang ditekuni, atau berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Layak dibahas berarti topik itu memang memerlukan pembahasan dan sesuai dengan bidang yang ditekuni.

2)  topik itu cukup menarik terutama bagi penulis;

3)  topik itu dikenal baik oleh penulis;

4) bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai;

5)  topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Setelah berhasil memilih topik sesuai dengan syarat-syarat pemilihan tersebut, yang akan dilakukan selanjutnya membatasi topik. Proses pembatasan topik da-pat dipermudah dengan membuat diagram pohon atau diagram jam.  

Ide induk yang menjadi benih atau pangkal awal sesuatu karangan yang akan ditulishendaknya juga dikembangkan (diperinci). Setelah ide induk dikembangbiakkan sampai cukup tuntas. Langkah berikutnya ialah memilih salah satu di antara perincian ide yang muncul untuk dijadikan topik karangan dan topik yang dipilih sebagai pembatasan keluasan materi dengan sebuah tema tertentu. Jadi, berdasarkan topik dan tema inilah yang menjadi pembicaraan dalam karangan.

Langkah terakhir yang perlu dilakukan pengarang ialah menguraikan rumusan kalimat utama menjadi sebuah garis besar karangan. Garis besar, rangka atau disebut juga  outline  adalah suatu rencana kerangka yang menunjukkan ide-ide yang berhubungan satu sama lain secara tertib untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan yang lengkap dan utuh.

Berikut, secara ringkas proses ide induk menjadi garis besar karangan dikem-bangkan melalui enam langkah sebagai berikut. Konsep dasar menulis menurut Logan (1972: 104-105)  merupakan sarana berkomunikasi yang mencakup hal berikut:

Langkah  Aktivitas Pengarang  Pengarang Hasil

  1. Menemukan ide yang akan diungkapkan menjadi karangan ide pokok
  2. Menemukan ide yang akan  pencian ide
  3. Memilih salah satu ide menjadi topik karangan topik
  4. Membatasi topik dengan salah satu, yaitu segi/unsur/faktor tema
  5. Merumuskan topik berikut temanya dalam sebuah pokok pernyataan kalimat ide
  6. Menguraikan rumusan ide pokok menjadi rangka garis besar karangan

Setelah mengetahui cara-cara memulai dan teknik memberikan nafas ke dalam tulisan. Sekarang Anda melangkah ke proses penulisan.Pada tahap ini, Anda hanya membangun  suatu fondasi untuk topik yang berdasarkan pada engetahuan, gagasan, dan pengalaman.

Adapun proses penulisan tersebut sebagai berikut.

1) Draf kasar; membuat draf dimulai dengan menelusuri dan mengembangkan gagasan-gagasan. Pusatkan pada isi daripada tanda  baca, tata bahasa, atau ejaan. Ingat untuk menunjukkan bukan memberitahukan saat menulis.

2)  Berbagi; sebagai penulis kita sangat dekat dengan tulisan sehingga sulit untuk menilai secara objektif. Oleh sebab itu, kita perlu meminta orang lain untuk membaca dan memberikan umpan balik. Mintalah seorang teman membacanya dan mengatakan bagian mana yang benar-benar kuat dan menunjukkan ketidakkonsistenan, kalimat yang tidak jelas, atau transisi yang lemah. Inilah beberapa petunjuk untuk berbagi.

3) Perbaikan (revisi);  setelah mendapat umpan balik dari teman tentang mana yang baik dan mana yang perlu digarap lagi, ulangi dan perbaikilah. Ingat bahwa penulis adalah tuan dari tulisan Anda jadi Andalah yang membuat umpan balik itu. Manfaatkan umpan balik yang dianggap membantu. Ingat tujuan menulis adalah membuat tulisan sebaik mungkin.

4) Menyunting (editing); inilah saatnya untuk membiarkan “editor” otak kiriberperan. Pada tahap ini, perbaikilah semua kesalahan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca. Pastikanlah semua transisi berjalan mulus, penggunaan kata kerja tepat, dan kalimat-kalimat lengkap.

5) Penulisan kembali; tulis kembali tulisan Anda, masukkan isi yang baru dan perubahan-perubahan penyuntingan.

6) Evaluasi; periksalah kembali untuk memastikan bahwa Anda telah menyelesaikan apa yang Anda rencanakan dan apa yang ingin Anda. sampaikan. Walaupun ini merupakan proses yang terus berlangsung, tahap ini menandai akhir proses menulis.

Kegiatan menulis dapat dianalogikan seperti seorang arsitektur akan membangun sebuah gedung, biasanya ia membuat rancangan terlebih dahulu dalam bentuk gambar di atas kertas.

Demikian pula seorang penulis, membuat kerangka tulisan atau  outline  merupakan kebiasaan yang perlu dipupuk terus untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Penulis dalam hal ini diibaratkan sebagai seorang arsitek bahasa, yang selain mengetahui bagaimana membangun sebuah tulisan secara utuh, ia tidak boleh mengabaikan dasar-dasar penulisan.

Diari atau Buku Harian

Buku harian adalah sebuah catatan pribadi yang berisi kegiatan sehari-hari. Buku harian ini berisi antara lain:  kejadian atau peristiwa yang dialami penulis setiap hari, pikiran atau permasalahan yang sedang dihadapi penulis setiap hari, dan apa  saja yang ingin dituliskan ke dalam sebuah media.

Buku harian biasa memuat antara lain:

1)  Tanggal, bulan, dan tahun peristiwa

2)  Tempat terjadinya peristiwa

3)  Waktu terjadinya peristiwa

4)  Isi peristiwa

5)  Hikmah/refleksi atas peristiwa

Teknik Penulisan Buku Harian

  1. Catatlah peristiwa-peristiwa penting saja

  2. Urutkan peristiwa dengan rujukan waktu

  3. Tulislah kalimat-kalimat yang jelas dan ringkas

  3. Buatlah judul sesuai dengan isi karangan

  4. Panjang karangan 150 kata (20 baris)

Contoh Catatan harian:

Memo

Surat Memo sebenarnya merupakan singkatan dari surat memorandum. Namun, masyarakat lebih umum mengenal sebagai memo saja. Surat memo adalah sebuah surat yang isinya sangat singkat dari seorang pejabat atau atasan ditujukan kepada pejabat atau atasan lain, dan  kepada bawahannya yang masih dalam satu instansi. Isi dari  surat memo biasanya tentang pemberitahuan, permintaan akan saran-saran tertentu, pesan singkat, dan perintah atau instruksi kepada bawahannya. Karena hanya berlaku dalam satu instansi, tidak jarang surat memo hanya ditulis tangan tanpa cap dan kop surat. Surat memo biasanya bersifat mendadak dan keadaan terpaksa. Oleh karena itu, untuk alasan kepraktisan biasanya sebuah instansi menyediakan  form  surat memo  dalam ukuran kertas kuarto / A5.

Senin, 3 Agustus 2009

Waktu Saya pulang dari Sekolah, niatnya ingin belajar kelompok bersama temen-temen. Ketika belajar kelompok mau dimulai, tapi ada salah satu temenku yang belum datang. Terpaksa Saya dan temen-temen harus menunggunya, dan agar tidak bosan kami pun menunggu di sawah dekat dengan rumah tersebut. Kami pun menunggu cukup lama. Tetapi karena kelamaan menunggu kami malah tidak jadi belajarnya, dan malah bermain sepak bola di Lapangan sawah.

Rabu, 4 Agustus 2009

Ketika Saya pulang dari Sekolah, Saya dan teman-teman di halaman rumah bercerita tentang hal-hal yang menyeramkan/hantu. Hii..seremm.. Tetapi karena cerita tersebut, salah satu temenku ada yang malah ketakutan dan tidak berani pulang ke rumah sendiri.Begitu juga dengan Saya, karena cerita hantu saya menjadi takutt.. hii.. Serreemm..

Memo adalah tulisan singkat, padat, dan jelas yang ditujukan kepada  seseorang, serta bersifat informal. Biasanya penulisan tidak lebih dari sepuluh baris. Penulisannya bisa ditik atau ditulis tangan. Memo digunakan untuk mengingatkan atau menegaskan tentang suatu hal/urusan.

Adapun isi memo berupa pemberitahuan, permintaan, instruksi, saran, pesan, atau tugas tertentu. Seperti halnya surat biasa, memo mempunyai bagian-bagian seperti kepala, badan, dan kaki memo.

1)  Kepala /nama

2)  Alamat

3)  Lambang atau logo Instansi

4)  Badan/ isi pesan singkat ( memberikan perintah, informasi atau laporan)

5)  Kaki memo   

6)  Tanda tangan dan nama jelas pembuat memo

Langkah-Langkah Penulisan Memo:

1)  menyiapkan blangko memo yang akan digunakan;

2)  penulisan boleh diketik atau ditulis tangan;

3)  menyampaikan pesan/instruksi dengan bahasa yang tepat dan singkat;

4)  menandatangani dan menyertakan nama jelas pembuat memo;

5)  mengirim memo kepada orang yang di maksud.

Berikut ini contoh memo.

SMA Negeri 78

 Jalan Bhakti VI/1, Komp. Pajak, Kemanggisan

JAKARTA BARAT

Dari      :   Kepala Sekolah

Kepada:   Nabilla, MPd.  (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

Mohon Saudara mewakili saya untuk mengikuti rapat dinas di kantor Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan  Jakarta Barat yang akan diselenggarakan pada:

hari: Senin

tanggal: 21 Juli 2015

pukul: 10.00 WIB

tempat: Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Barat

acara: Persiapan penerimaan siswa baru

Mohon untuk dilaksanakan dengan sebaik – baiknya. Terima kasih.

Jakarta, 21 Juli 2015

Kepala Sekolah

Andriani, MPd..

 

Your Best Shot 2016 – Portraits — Flickr Blog

The Your Best Shot 2016 Flickr group is full of beautiful and inspiring images! There are already more than 8,000 members and nearly 6,000 photos. If you haven’t joined yet, all you need to do is upload your best photo from the past year and share it with the Flickr family here! We’ll publish our…

melalui Your Best Shot 2016 – Portraits — Flickr Blog

Pencapaian Kompetensi Belajar, Dari sebuah Gagasan

Pusat Sumber Belajar (PSB) sebagaimana  adalah bagian integral dalam sistem pembelajaran. Ini berarti keberadaan suatu Pusat Sumber Belajar (PSB) sudah menjadi keharusan dalam setiap lembaga (sekolah/perguruan tinggi), bila ingin mencapai kompetensi yang telah dirumuskan dari setiap mata pelajaran atau mata kuliah. Sebab tanpa pemberdayaan sumber-sumber belajar yang memadai serta pegalaman yang konkrit dari setiap mata pelajaran/mata kuliah yang dipelajari peserta didik, maka wujud kompetensi dari mata pelajaran/mata kuliah tersebut tidak pernah diperoleh secara optimal.  Bagaimana peranan Pusat Sumber Belajar (PSB) dalam mencapai setiap tujuan atau kompetensi dari setiap mata pelajaran? Secara teknis Pusat Sumber Belajar (PSB) dapat menjadi laboratorium untuk semua mata pelajaran yang ada. Baik itu untuk digunakan langsung oleh siswa maupun melalui perantara guru.

Digunakan langsung oleh siswa, artinya siswa dapat belajar secara individual atau kelompok di Pusat Sumber Belajar (PSB), melalui program-program media yang dirancang secara khusus untuk mencapai tujuan atau kompetensi dari mata pelajaran tertentu.

Sebab di Pusat Sumber Belajar (PSB)tersedia program-program audio-visual yang dapat menuntun siswa untuk mencapai kompetensi tertentu. Misalnya, untuk percobaan Fisika. Sebelum siswa melakukan percobaan terlebih dahulu ia diminta menonton program video tentang percobaan yang akan dilakukannya. Setelah ia paham tentang apa yang akan dilakukannya, barulah ia melakukan percobaan. Dengan demikian siswa dapat mencapai kompetensi tertentu sesuai dengan kecepatannya dalam belajar.

Melalui perantara guru, artinya guru mempersiapkan segala keperluan pengajarannya di Pusat Sumber Belajar (PSB) sebelum tampil di depan kelas. Baik itu media yang akan digunakan maupun teknik-teknik penyajiannya. Dengan meningkatnya kualitas pembelajaran yang dilakukannya, akan berdampak kepada hasil belajar siswa. Selain itu, Pusat Sumber Belajar (PSB) dengan fungsi-fungsinya akan bersinergi dalam meningkatkan kualitas SDM secara menyeluruh, khususnya mereka yang terlibat dalam pengembangan sistem instruksional (guru, dosen, fasilitator, dan pengelola pembelajaran). Dengan meningkatnya kualitas SDM, berarti meningkat pula kualitas penyelenggaraan pendidikan di setiap lembaga, baik itu sekolah maupun perguruan tinggi.

MANAJEMEN PERUBAHAN

Di dunia ini, semuanya berubah. Hanya perubahan itu sendiri yang tidak pernah berubah. Pada Kegiatan belajar ini Anda akan menelaah tentang pengelolaan perubahan. Dengan mengetahui perkara pengelolaan perubahan, Anda diharapkan menguasai sub kompetensi: Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju or ganisasi pembelajar yang efektif. Oleh karena itu, telaahlah teks bacaan berikut!
Alasan-alasan perubahan seringkali dipertanyakan, baik oleh anggota organisasi maupun mereka yang berada di luar organisasi. Ini disebabkan bahwa banyak orang, termasuk anggota organisasi, yang lebih menghendaki kemapanan dibandingkan dengan perubahan. Selain itu, perubahan juga menjadikan seseorang yang sudah merasa banyak belajar dari pengalaman di suatu organisasi, harus belajar lagi. Tetapi hendaklah diingat, bahwa di dunia ini, tidak ada sesuatu yang tidak berubah. Semua akan berubah. Perubahan tersebut, bahkan sudah menjadi bawaan dunia dengan segala isinya. Jika kita memperhatikan apa saja yang ada di dunia ini, hampir tidak ada sesuatu yang tidak berubah. Yang tidak berubah, barangkali hanyalah perubahan itu sendiri. Karena itu, organisasi besar dan kecil, dengan seluruh komponen dan sistemnya, pasti juga akan berubah. Mengapa organisasi berubah? Karena organisasi hidup dalam suatu lingkungan tertentu. Jika lingkungan berubah, organisasipun juga harus berubah, kalau ingin tetap survive. Kalau tidak, ia akan mengalami krisis dan bahkan mati. Robbin, dalam Organization Theory: Structure, Design and Appication (1990), mengontroduksi daya tahan hidup organisasi besar di Amerika Serikat, yang berentang dari 5 sampai 100 tahun. Selama rentang perkembangannya, menurut hasil studinya, organisasi tersebut mengalami fluktuasi. Atas dasar realitas tersebut, Robbin merekomendasikan sebuah perubahan berencana pada setiap organisasi yang ingin tetap eksis. Sebab, Manakalau tidak, menurut Robbin, akan mengalami nasib tragis seperti pendahulunya, ialah mengulang kematian organisasi-organisasi besar. Jika dipetakan, ada dua faktor pendorong perubahan organisasi, ialah: (1) faktor pendorong eksternal organisasi dan (2) faktor pendorong internal organisasi. Baik faktor eksternal organisasi maupun faktor internal organisasi, mempunyai kekuatan pendorong yang berbeda-beda. Dengan demikian dapatlah dinyatakan bahwa ada kalanya suatu organisasi berubah karena adanya faktor eksternal yang lebih dominan; dan ada kalanya suatu organisasi berubah karena lebih dominan didorong oleh faktor internalnya. Tetapi, yang lebih banyak karena kombinasi pengaruh eksternal dan internal organisasi. Hanson (1997) menggambarkan bagaimana antara faktor pendorong dan factor penolak perubahan sebagaimana pada Ada berbagai macam atau jenis perubahan, ialah perubahan tidak berencana dan perubahan berencana. Perubahan tidak berencana sendiri, dapat dikategorikan menjadi dua, ialah:                                                                                                                                                                   (1) perubahan karena perkembangan ( developmental change), dan                                               (2) perubahan secara tiba-tiba ( accidental change).
1. Perubahan Tidak Berencana
Perubahan karena perkembangan adalah suatu perubahan yang tidak direkayasa oleh manajemen. Perubahan ini terjadi sebagai suatu keniscayaan, bahwa yang namanya organisasi itu, makin lama cenderung makin berkembang. Tetapi arah perkembangan organisasi pada jenis ini, tidak senantiasa seperti yang diinginkan oleh pihak manajemen. Perubahan karena perkembangan ini seiring dengan lamanya usia organisasi tersebut. Perubahan secara tiba-tiba terjadi, karena ada persoalan emergency baik yang bersumber dari faktor internal maupun yang bersumber dari faktor eksternal. Perubahan secara tiba-tiba, dapat saja terjadi pada organisasi apapun, karena banyak faktor yang berada di luar kekuasaan organisasi tersebut.
Perubahan secara tiba-tiba karena adanya perubahan lingkungan fisik seperti gunung meletus, banjir besar, tanah longsor, gempa bumi, peperangan dan sebagainya. Perubahan secara tiba-tiba karena adanya revolosi, krisis ekonomi yang mendadak, dan masih banyak lagi. Pendeknya, perubahan yang tidak pernah diestimasi tersebut kerap menjadikan organisasi mengalami perubahan secara tiba-tiba.

2. PERUBAHAN BERENCANA (PLANNED CHANGE)
Perubahan berencana adalah perubahan yang disengaja atau bahkan direkayasa oleh pihak manajemen. Perubahan berencana ini adalah suatu perubahan yang memang diinginkan agar organisasi dapat tetap survive dan bahkan berkembang sesuai dengan tuntutan angota dan lingkungannya. Ada beberapa pengertian perubahan berencana yang dikedepankan oleh para ahli. Bennis, Benne dan Chin mengartikan perubahan berencana sebagai: Penerapan pengetahuan tentang manusia secara sistematis dan tepat dengan
maksud melakukan tindakan yang berarti. Kurt Lewin menyatakan bahwa perubahan berencana adalah: Usaha untuk mengumpulkan, menggunakan data dan informasi guna memecahkan persoalan sosial. Jadi, perubahan berencana adalah perubahan yang dilakukan secara sengaja, lebih banyak dilakukan atas kemauan sendiri, sehingga proses perubahan itu lebih banyak diusahakan oleh sistem itu sendiri. Banyak label yang diberikan kepada manajemen poerubahan, misalnya saja perubahan berencana ( change planed), pengembangan organisasi ( organizational development), inovasi organisasi, pembaharuan organisasi dan sebagainya. Yang dimaksud dengan manajemen perubahan adalah: Suatu upaya yang dilakukan manajemen guna melakukan perubahan berencana, dengan menggunakan jasa atau bekerja sama dengan intervenis/konsultan, agar
organisasi tersebut tetap survive dan bahkan mencapai puncak perkembangannya. Kult E. Osmosk mengemukakan beberapa strategi perubahan berencana antara lain: (1) political strategy, (2) economic strategy, (3) academic strategy, (4) enginering strategy, (6) military strategy, (7)confrontation strategy, (8) applied behavioral science mode, dan (9) followship strategy. Secara ringkas, beberapa strategi perubahan beencana tersebut dikedepankan sebagai berikut:
a. Political Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman mengenai struktur kekuasaan yang terdapat dalam sistem sosial: perorangan, kelompok, organisasi dan masyarakat. Dengan pemahaman tsb, agen perubahan berafiliasi dengan pusat kekuasaan (central of power). Central of power tsb, bisa formal dan bisa informal. Strategi ini, dengan sendirinya mengedepankan cara yang bersifat top down dalam setiap perubahan . Melalui figur perorangan yang berkuasa, perubahan digulirkan. Dengan demikian, asumsi strategi ini adalah, tatkala impinan puncaknya sudah mau berubah, maka mereka yang berada di lapisan bawah juga akan ikut berubah.
b. Economic Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bila seseorang memegang posisi pengaturan sumber ekonomik seperti anggaran, peralatan dan pembiayaan, maka orang tersebut memegang posisi kunci dalam proses
perubahan berencana. Dengan pemahaman tersebut, agen perubahan berafiliasi dengan pemegang posisi pengaturan ekonomik. Atau, agen pembaharuan, harus bisa meyakinkan orang ini terlebih dahulu.
Strategi yang didasarkan atas pendekatan kepada pemegang kendali ekonomik ini sangat lazimnya juga akan dapat diterapkan dengan baik, mengingat subyek yang hendak diubah juga menghajatkan aliran ekonomik
tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Academic Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bahwa setiap manusia itu rasional. Berarti, setiap orang sebenarnya akan bisa menerima perubahan, manakala kepadanya disodorkan data yang dapat diterima oleh akal sehat (rasio). Karena itu, seorang agen pembaharu, haruslah dapat menyajikan argumentasinya secara rasional tatkala bermaksud menawarkan perubahan; yang disertai dengan data lengkap dan terpercaya serta rasional.
d. Enginering Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bahwa setiap perubahan menyangkut setiap manusia. Pada saat lingkungan berubah, manusiapun berubah. Karena itu, agar manusia berubah, agen perubahan haruslah
mengubah lingkungan di mana manusia tersebut hidup, termasuk di mana ia berorganisasi. Contoh: kalau ingin pekerja rajin, perbanyaklah pekerjaannya. Kalau ingin karyawan berjas, dinginkan suhu ruangan.
e. Military Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bahwa perubahan agar dapat dilakukan dengan kekerasan/paksaan. Paksaan bisa berupa ancaman fisik dan psikologis. Cara ini ini memang ampuh untuk melakukan perubahan, tetapi umumnya tidak bertahan lama.
f. Confrontation Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, jika suatu tindakan bisa menimbulkan kemarahan seseorang, maka orang tersebut akan berubah. Jika ingin mengadakan suatu perubahan, orang yang akan diubah itu disudutkan
pada posisi yang ia tidak senang, atau terpojok. Perasaan terpojok diyakini dapat menjadikan seseorang bisa berubah sesuai dengan arah yang diinginkan oleh pembaharu. Ini terjadi karena orang yang akan diubah dihadapkan pada suatu kondisi: TIDAK ADA PILIHAN LAIN.
g. Applied Behavioral Science Model
Strategi yang didasarkan atas pemahaman terhadap ilmu perilaku ( behavioral science). Lazimnya, suatu perubahan dilakukan dengan mengggunakan jasa konsultasi ahli ilmu perilaku. Ahli-ahli ilmu perilaku ini,
memang punya kompetensi mengubah perilaku (behavior modification) terhadap individu, kelompok dalam setting sosial tertentu.
h. Followship Strategy
Strategi yang didasarkan atas pemahaman, bahwa perubahan itu dapat dilakukan dengan mengembangkan prinsip kepengikutan. Caranya dengan memberikan contoh dan memberikan bimbingan. Seseorang akan memberikan contoh dan bimbingan dengan baik, manakala punya kemampuan hubungan kemanusiaan yang baik.
Ada tiga langlah perubahan menurut Kurt Lewin, ialah:
a. Langkah Unfreezing : Pencairan dari keadaan sekarang.
b. Langkah Moving: Pembentukan pola perilaku yang baru.
c. Langkah Freezing : Pemantapan atau pembakuan dari perilaku yang baru
dibentuk, agar dapat dilembagakan.
Sementara itu, Lippit mengedepankan tujuh langkah perubahan berencana, ialah:
a. The development of need for change .
1) Mempersepsi adanya persoalan yang akan dipecahkan.
2) Mepesepsi bahwa persoalan tersebut memang harus dipecahkan.
3) Mempersepsi bahwa guna memecahkan persoalan tersebut perlu bantuan orang lain, atau mendayagunakan pihak lain.
b. The establishment of change relationship.
1) Pengguna agen perubahan melakukan hubungan kerja antar mereka.
2) Pengguna dan agen saling menjajagi sistem nilai yang dianut oleh kedua belah pihak.
3) Pengguna dan agen bertukar pikiran tentang metode perubahan yang
akan digunakan, hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan guna melakukan perubahan.
4) Penguna dan agen menentukan, mana pekerjaan yang menjadi kapling pengguna dan mana yang menjadi kapling agen.
5) Pengguna dan agen menyepakati sumber-sumber yang diperlukan guna melakukan perubahan.
c. Diagnosis of the client system’s problem(s).
1) Agen dan pengguna melakukan diagnosis terhadap persoalan yang dihadapi oleh organisasi.
2) Agen dan pengguna menetapkan jenis data yang diperlukan, berikut cara mengumpulkannya.
d. Examining alternatives and goal action.
1) Agen dan pengguna menentukan alternatif tindakan.
2) Agen dan pengguna menentukan strategi pelaksanaan tindakan.
3) Agen dan pengguna menentukan teknik intervensi yang akan digunakan.
4) Tekanan pada tahap ini adalah, pada perencanaan yang dibuat dikaitkan dengan sumber-sumber yang tersedia.
e. Action Implementation .
1) Dipandang sebagai tahapan paling berat.
2) Pengguna dan agen menerapkan strategi intervensi yang sudah diterapkan.
3) Pada tahap ini, pengguna dan agen akan berhadapan dengan dan mendapatkan halangan dari mereka yang selama ini resisten terhadap perubahan.
4) Pada tahap ini, pengguna dan agen berhadapan dengan persoalan nyata di lapangan.
5) Karena itu, umpan balik terhadap apa yang dilakukan senantiasa diperlukan, guna melakukan strategi yang dipilih.
f. Generalization and stabilization of change.
1) Pengguna dan agen perlu meyakini dan memberikan perhatian kepada hasil yang dicapai, betatapun kecilnya hasil tersebut.
2) Dengan fokus perhatian pada hasil yang telah dicapai, akan makin menumbuhkan keyakinan untuk meneruskan proses perubahan.
3) Pola-pola lama kemungkinan masih tampak padatahap ini, karena suatu proses perubahan itu membutuhkan waktu lama.
4) Karena itu, proses tersebut harus diteruskan dan ditingkatkan intensitasnya.
g. Terminating the change agent relationship and evaluation.
1) Bila perubahan tersebut telah dapat dilakukan secara melembaga, bantuan dari luar (agen, konsultan) tidak diperlukan lagi.
2) Pengguna dapat mengambil pelajaran dari proses kolaborasinya dengan agen.

STANDARDISASI PERPUSTAKAAN SEBUAH GAMBARAN OLEH: NURIL ANWAR .SPd

Standadisasi berasal dari kata dasar “standar” mendapat sufiks “isasi” yang mengandung nosi/arti “membuat jadi”. Dalam hal ini standardisasi dimaksudkan seperangkat langkah-langkah untuk membuat jadi ”Perpustakaan Sekolah yang standar” Karena itu standardisasi dalam tulisan sederhana ini memberi gambaran ”perpustakaan sekolah yang standar berdasarkan ” Badan Standardisasi Nasional, Standar Nasional Indonesia : Perpustakaan Sekolah, 2010”.
Perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar dan bagian integral dari sekolah bersama-sama dengan sumber belajar lainnya bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. SNI 7329:2009 tentang Perpustakaan Sekolah dimaksudkan untuk menyediakan acuan tentang manajemen perpustakaan yang berlaku pada perpustakaan sekolah baik negeri maupun swasta yang meliputi pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Pemerintah menetapkan kebijaksanaan khususnya dalam pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan informasi bagi semua masyarakat Indonesia yang diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa serta meningkatkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan. Mengingat betapa pentingnya keberadaan perpustakaan di pedesaan sebagai salah satu sarana/media yang amat efisien dan efektif untuk mendapatkan informasi, maka dipandang perlu untuk mengetahui penyelenggaraan pepustakaan Desa/Kelurahan, dan hal ini didukung dengan adanya SNI 7596:2010 tentang, Perpustakaan Desa/Kelurahan yang dimaksudkan untuk menyediakan acuan tentang organisasi dan penyelenggaraan, koleksi layanan, tenaga serta sarana prasarana yang berlaku pada perpustakaan desa.
Ruang lingkup Standar perpustakaan sekolah ini menetapkan dasar pengelolaan perpustakaan sekolah. Standar ini berlaku pada perpustakaan sekolah baik negeri maupun swasta yang meliputi :                                                                          (1) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat;                                      (2). Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.Misi perpustakaan sekolah yaitu :                    ( 1)Menyediakan informasi dan ide yang merupakan fondasi agar berfungsi secara baik di dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan;                                                                                                                               ( 2)Merupakan sarana bagi murid agar terampil belajar sepanjang hayat dan mampu mengembangkan daya pikir agar mereka dapat hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Perpustakaan sekolah bertujuan menyediakan pusat sumber belajar sehingga dapat membantu pengembangan dan peningkatan minat baca, literasi informasi, bakat serta kemampuan peserta didik. Perpustakaan memperkaya koleksinya dan menyediakan materi perpustakaan dalam berbagai bentuk media dan format dalam rangka mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Perpustakaan sekolah mengembangkan koleksinya disesuaikan dengan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Dalam upaya meningkatkan minat baca, pengembangan koleksi diarahkan pada rasio satu murid sepuluh judul buku. Perpustakaan menambah koleksi buku per tahun sekurang-kurangnya 10% dari jumlah koleksi. Perpustakaan melanggan minimal satu judul majalah dan satu judul surat kabar yang terkait dengan kelangsungan proses pembelajaran.
Perpustakaan menyediakan buku pelajaran pelengkap yang sifatnya membantu atau merupakan tambahan buku pelajaran pokok yang dipakai oleh siswa dan guru. Perpustakaan wajib menyediakan bacaan yang mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah yang meliputi koleksi non fiksi yang terkait dengan kurikulum dan koleksi buku fiksi dengan perbandingan 60 : 40
Koleksi materi perpustakaan referensi minimal meliputi kamus umum bahasa Indonesia dan kamus bahasa Inggris (untuk pendidikan dasar dan menengah), kamus bahasa daerah, kamus bahasa Jerman, Prancis, Jepang, Arab, Mandarin (untuk pendidikan menengah), kamus subyek, ensiklopedi, sumber biografi, atlas, peta, bola dunia, serta buku telepon.
Perpustakaan menyediakan akses sumber informasi elektronik termasuk internet. Pengolahan dan perawatan materi perpustakaan diorganisasikan agar dapat ditemubalik secara cepat dan tepat., dideskripsikan, diklasifikasi dan disusun secara sistematis dengan menggunakan : Pedoman deskripsi bibliografis; Bagan klasifikasi;Pedoman tajuk subjek dan atau tesaurus; Pedoman penentuan tajuk entri utama. Perawatan materi perpustakaan meliputi kegiatan yang bersifat pencegahan dan penanggulangan kerusakan.
Sumber Daya Manusia,: seperti:                                                                                                                                               (1) Kepala perpustakaan yang memimpin dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah. Kualifikasi kepala sekolah perpustakaan sekolah atau tenaga kependidikan dengan pendidikan minimal diploma dua di bidang ilmu perpustakaan dan informasi atau diploma dua bidang lain yang sudah memperoleh sertifikat pendidikan di bidang ilmu perpustakaan dan informasi dari lembaga pendidikan yang terakreditasi.                                                                                                          (2). Tenaga perpustakaan sekolah sebagai tenaga teknis berpendidikan minimal pendidikan menengah serta memperoleh pelatihan kepustakawanan dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang terakreditasi.                                                                      Pengembangan sumber daya manusia Perpustakaan memberikan kesempatan untuk pengembangan sumber daya manusianya melalui pendidikan formal dan nonformal kepustakawanan.
Layanan Perpustakaan Perpustakaan minimal melakukan layanan antara lain :                                                                      (1). Layanan sirkulasi Jasa perpustakaan untuk meminjamkan materi perpustakaan bagi pengguna sesuai dengan ketentuan yang berlaku.                                                                                                                                                          (2). Layanan referensi Jasa perpustakaan dalam menjawab pertanyaan, menelusur dan menyediakan materi perpustakaan dan informasi sesuai dengan permintaan pengguna dengan mendayagunakan koleksi referensi.                                             (3). Pendidikan pengguna Kegiatan perpustakaan yang bertujuan menjadikan pengguna mampu mendayagunakan koleksi perpustakaan secara mandiri sesuai dengan kebutuhannya.
Jam buka perpustakaan, Waktu yang diberikan oleh perpustakaan untuk memberikan layanan kepada pengguna minimal delapan jam sehari.
Dalam Penyelenggaraan Perpustakaan Setiap sekolah menyelenggarakan perpustakaan sekolah, sebagai bagian integral dari sekolah berada di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Dan sebagai sumber belajar, kedudukannya sejajar dengan sumber belajar lainnya. Perpustakaan sekolah juga merupakan unit kerja yang melakukan kegiatan/fungsi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan pendayagunaan materi perpustakaan untuk mendukung pembelajaran.
Kegiatan dan fungsi tersebut dalam bidang perpustakaan dikelompokkan menjadi dua:                                                            (1). layanan teknis yaitu kegiatan pengadaan dan pengolahan materi perpustakaan;                                                           (2). Layanan pembaca yaitu kegiatan yang memberikan layanan kepada pengguna perpustakaan.
Untuk melaksanakan fungsi tersebut, perpustakaan sekolah dipimpin oleh kepala perpustakaan sekolah yang ditunjuk/ditetapkan berdasarkan surat tugas/surat keputusan kepala sekolah. Unit perpustakaan sekolah dalam struktur organisasi sekolah:                                                                                                                                                                   1.  STRUKTUR ORGANISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH (MAKRO) :                                                                                     2.  STRUKTUR ORGANISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI BERIKUT (SECARA MICRO):

Perpustakaan menyediakan ruang yang cukup untuk koleksi, staf dan penggunanya. Perpustakaan menyediakan ruang dengan luas sekurang-kurangnya untuk SD/MI 56 m², untuk SMP/MTS 126 m², SMA, MA, SMK dan MAK 168 m². Area koleksi seluas 45% dari ruang yang tersedia, area baca pengguna seluas 25% dari ruang yang tersedia, area staf perpustakaan seluas 15% dari ruang yang tersedia, area lain-lain seluas 15% dari ruang yang tersedia.
Perpustakaan menyediakan sekurang-kurangnya rak buku, lemari katalog, meja dan kursi baca, meja dan kursi kerja, meja sirkulasi, mesin tik/perangkat komputer dan papan pengumuman/pameran. Sekolah menjamin tersedianya anggaran perpustakaan setiap tahun sekurang-kurangnya 5% dari total anggaran sekolah di luar belanja pegawai dan pemeliharaan serta perawatan gedung. Perpustakaan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk keperluan pengguna. Perpustakaan menyelenggarakan kerjasama dengan pendidik serta kerjasama dengan perpustakaan dan atau badan lain untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Dari uraian di atas standardisasi perpustakaan sekolah diharapkan dengan kerja sama dengan pihak-pihak terkait, khususnya Kepala Srkolah, Perpustakaan Sekolah dapat menyelenggarakan perpustakaan yang sesuai dengan standar, atau paling tidak ada upaya melakukan pembenahan, sehingga perpustakaan akan semakin berkembang menuju perpustakaan yang lebih baik untuk melayani mayarakat. Selain itu penulis berpendapat bahwa standardisasi perputakaan sekolah dapat terwujud jika pemerintah secara aktif mendukung standardisasi ini dengan usaha-usaha penyediaan fasilitas sarana, prasarana, penambahan koleliksi buku, dan non buku, juga peningkatan kualitas perguruan tinggi jurusan perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional, Standar Nasional Indonesia : Perpustakaan Sekolah, 2010.