Prinsip Dan Posedur Berbahasa Secara Tertulis

tps://docs.google.com/document/d/menulis/

Prinsip dan Prosedur Berbahasa secara Tertulis

Pengertian dan Konsep Menulis, Karekteristik Menulis, Tahap-tahap Menulis, dan Jenis-Jenis Tulisan

  1.  Pengertian  dan Konsep Menulis

Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara mengkomunikasikan dan mengatur ( Donn  Byrne. 1988:1) Sejalan dengan itu, menurut Lado (1964:14) menulis adalah meletakkan simbol grafis  yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu,  jika mengetahui bahwa itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. Semi (1990: 8)  juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnyamerupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa.                                                                                                                                                            Menurut Jago Tarigan (1995:117) menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimegerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara engkomunikasikan dan mengatur.  Semi (1990:8) juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan emindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa. Menurut Gere (1985:4), menulis dalam artikomunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek. Menulis berarti mendukung ide. Byrne (1988: 1), mengatakan bahwa menulis tidak hanya membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu dengan yang lain, dan dalam gaya tertentu. Rangkaian kalimat itu bisa pendek,berupa dua atau tiga kalimat. Akan tetapi, kalimat tersebut disusun secara teratur dan saling berhubungan (padu). Crimmon (1984.191), berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri atau mengomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan mempelajari sesuatu yang belum diketahui.  Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis  dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas jenisnya agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan bahasa  yang dimiliki penulis.                                                                                                 Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan kebahasaan  yang dimiliki seorang penulis.

Menulis sebagai Keterampilan Diskrit.  Kata ‘diskrit’ diadaptasi dari bahasa Inggris ‘discrete’ yang artinya terpisah atau tersendiri.  Bila pengertian ini dikaitkan dengan keterampilan berbahasa, maka kitadapat mengartikannya keterampilan berbicara sebagai keterampilan tersendiri yang terintegrasi dengan keterampilan berbahasa yang lain (membaca, menyimak, dan menulis).

  1. Karakteristik Keterampilan Menulis

Setiap guru keterampilan menulis harus sudah memahami karakteristik keterampilan menulis  karena sangat menentukan dalam ketepatan penyusunan perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian keterampilan menulis. Sudah dapat dipastikan tanpa memahami karakteristik keterampilan menulis guru yang bersangkutan tak mungkin menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran menulis yang akurat, bervariasi, dan menarik.  Ada empat karakteristik keterampilan menulis yang sangat menonjol, yakni;

  1.  keterampilan menulis merupakan kemampuan yang kompleks;
  2.  keterampilan menulis condong ke arah skill atau praktik;
  3.  keterampilan menulis bersifat mekanistik;
  4.  penguasaan keterampilan menulis harus melalui kegiatan yang bertahap atau akumulatif.

Keterampilan menulis menuntut kemampuan yang kompleks. Penulisan sebuah karangan yang sederhana sekalipun menuntut kepada penulisnya kemampuan memahami apa yang hendak ditulis dan bagaimana cara menulisnya. Persoalan pertama menyangkut isi karangan dan persoalan kedua menyangkut pemakaian bahasa serta bentuk atau struktur karangan. Pembelajaran keterampilan menulis yang tidak memerhatikan kedua hal tersebut di atas pasti akan mengalami ketidakberesan atau kegagalan. Keterampilan menulis lebih condong ke arah praktik ketimbang teori. Ini tidak berarti pembahasan teori menulis ditabukan dalam pengajaran menulis. Pertimbangan antarpraktik dan teori sebaiknya lebih banyak praktik dari teori. Keterampilan menulis bersifat mekanistik. Ini berarti bahwa penguasaan keterampilan menulis tersebut harus melalui latihan atau praktik. Dengan perkataan lain semakin banyak seseorang melakukan kegiatan menulis semakin terampil menulis yang bersangkutan. Karakteristik keterampilan menulis seperti ini menuntut pembelajaran menulis  yang memungkinkan siswa banyak latihan, praktik, atau mengalami berbagai pengalaman kegiatan menulis.

Di samping kegiatan menulis harus bervariasi juga sistematis, bertahap, dan akumulatif. Berlatih menulis yang tidak terarah apalagi kurang diawasi guru membuat kegiatan siswa tidak terarah bahkan sering membingungkan siswa. Mereka tidak tahu apakah mereka sudah bekerja benar, atau mereka tidak tahu membuat kesalahan yang berulang. Latihan mengarang terkendali disertai diskusi  sangat diperlukan dalam memahami dan menguasai keterampilan menulis.

3.    Tahap-Tahap Menulis

  1.  Perencanaan Karangan

Menurut Sabarti dkk.  (1995:6),secara teoretis proses penulisan meliputi tiga tahap utama, yaitu prapenulisan, penulisan, dan revisi. Ini tidak berarti bahwa kegiatan menulis dilakukan secara terpisah-pisah. Pada tahap prapenulisan kita membuat persiapan-persiapan yang akan digunakan pada enulisaan. Dengan kata lain, merencanakan karangan. Berikut ini dibahas cara merencanakan menulis/karangan.

  1. Pemilihan Topik

Kegiatan yang mula-mula dilakukan jika menulis suatu karangan menentukan topik. Hal ini untuk menentukan apa yang akan dibahas dalam tulisan. Ada beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih topik yaitu;

1)  topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas. Ada manfaatnya mengandung pengertiam bahwa bahasan tentang topik itu akan memberikan sumbangan kepada ilmu atau propesi yang ditekuni, atau berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Layak dibahas berarti topik itu memang memerlukan pembahasan dan sesuai dengan bidang yang ditekuni.

2)  topik itu cukup menarik terutama bagi penulis;

3)  topik itu dikenal baik oleh penulis;

4) bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai;

5)  topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Setelah berhasil memilih topik sesuai dengan syarat-syarat pemilihan tersebut, yang akan dilakukan selanjutnya membatasi topik. Proses pembatasan topik da-pat dipermudah dengan membuat diagram pohon atau diagram jam.  

Ide induk yang menjadi benih atau pangkal awal sesuatu karangan yang akan ditulishendaknya juga dikembangkan (diperinci). Setelah ide induk dikembangbiakkan sampai cukup tuntas. Langkah berikutnya ialah memilih salah satu di antara perincian ide yang muncul untuk dijadikan topik karangan dan topik yang dipilih sebagai pembatasan keluasan materi dengan sebuah tema tertentu. Jadi, berdasarkan topik dan tema inilah yang menjadi pembicaraan dalam karangan.

Langkah terakhir yang perlu dilakukan pengarang ialah menguraikan rumusan kalimat utama menjadi sebuah garis besar karangan. Garis besar, rangka atau disebut juga  outline  adalah suatu rencana kerangka yang menunjukkan ide-ide yang berhubungan satu sama lain secara tertib untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan yang lengkap dan utuh.

Berikut, secara ringkas proses ide induk menjadi garis besar karangan dikem-bangkan melalui enam langkah sebagai berikut. Konsep dasar menulis menurut Logan (1972: 104-105)  merupakan sarana berkomunikasi yang mencakup hal berikut:

Langkah  Aktivitas Pengarang  Pengarang Hasil

  1. Menemukan ide yang akan diungkapkan menjadi karangan ide pokok
  2. Menemukan ide yang akan  pencian ide
  3. Memilih salah satu ide menjadi topik karangan topik
  4. Membatasi topik dengan salah satu, yaitu segi/unsur/faktor tema
  5. Merumuskan topik berikut temanya dalam sebuah pokok pernyataan kalimat ide
  6. Menguraikan rumusan ide pokok menjadi rangka garis besar karangan

Setelah mengetahui cara-cara memulai dan teknik memberikan nafas ke dalam tulisan. Sekarang Anda melangkah ke proses penulisan.Pada tahap ini, Anda hanya membangun  suatu fondasi untuk topik yang berdasarkan pada engetahuan, gagasan, dan pengalaman.

Adapun proses penulisan tersebut sebagai berikut.

1) Draf kasar; membuat draf dimulai dengan menelusuri dan mengembangkan gagasan-gagasan. Pusatkan pada isi daripada tanda  baca, tata bahasa, atau ejaan. Ingat untuk menunjukkan bukan memberitahukan saat menulis.

2)  Berbagi; sebagai penulis kita sangat dekat dengan tulisan sehingga sulit untuk menilai secara objektif. Oleh sebab itu, kita perlu meminta orang lain untuk membaca dan memberikan umpan balik. Mintalah seorang teman membacanya dan mengatakan bagian mana yang benar-benar kuat dan menunjukkan ketidakkonsistenan, kalimat yang tidak jelas, atau transisi yang lemah. Inilah beberapa petunjuk untuk berbagi.

3) Perbaikan (revisi);  setelah mendapat umpan balik dari teman tentang mana yang baik dan mana yang perlu digarap lagi, ulangi dan perbaikilah. Ingat bahwa penulis adalah tuan dari tulisan Anda jadi Andalah yang membuat umpan balik itu. Manfaatkan umpan balik yang dianggap membantu. Ingat tujuan menulis adalah membuat tulisan sebaik mungkin.

4) Menyunting (editing); inilah saatnya untuk membiarkan “editor” otak kiriberperan. Pada tahap ini, perbaikilah semua kesalahan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca. Pastikanlah semua transisi berjalan mulus, penggunaan kata kerja tepat, dan kalimat-kalimat lengkap.

5) Penulisan kembali; tulis kembali tulisan Anda, masukkan isi yang baru dan perubahan-perubahan penyuntingan.

6) Evaluasi; periksalah kembali untuk memastikan bahwa Anda telah menyelesaikan apa yang Anda rencanakan dan apa yang ingin Anda. sampaikan. Walaupun ini merupakan proses yang terus berlangsung, tahap ini menandai akhir proses menulis.

Kegiatan menulis dapat dianalogikan seperti seorang arsitektur akan membangun sebuah gedung, biasanya ia membuat rancangan terlebih dahulu dalam bentuk gambar di atas kertas.

Demikian pula seorang penulis, membuat kerangka tulisan atau  outline  merupakan kebiasaan yang perlu dipupuk terus untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Penulis dalam hal ini diibaratkan sebagai seorang arsitek bahasa, yang selain mengetahui bagaimana membangun sebuah tulisan secara utuh, ia tidak boleh mengabaikan dasar-dasar penulisan.

Diari atau Buku Harian

Buku harian adalah sebuah catatan pribadi yang berisi kegiatan sehari-hari. Buku harian ini berisi antara lain:  kejadian atau peristiwa yang dialami penulis setiap hari, pikiran atau permasalahan yang sedang dihadapi penulis setiap hari, dan apa  saja yang ingin dituliskan ke dalam sebuah media.

Buku harian biasa memuat antara lain:

1)  Tanggal, bulan, dan tahun peristiwa

2)  Tempat terjadinya peristiwa

3)  Waktu terjadinya peristiwa

4)  Isi peristiwa

5)  Hikmah/refleksi atas peristiwa

Teknik Penulisan Buku Harian

  1. Catatlah peristiwa-peristiwa penting saja

  2. Urutkan peristiwa dengan rujukan waktu

  3. Tulislah kalimat-kalimat yang jelas dan ringkas

  3. Buatlah judul sesuai dengan isi karangan

  4. Panjang karangan 150 kata (20 baris)

Contoh Catatan harian:

Memo

Surat Memo sebenarnya merupakan singkatan dari surat memorandum. Namun, masyarakat lebih umum mengenal sebagai memo saja. Surat memo adalah sebuah surat yang isinya sangat singkat dari seorang pejabat atau atasan ditujukan kepada pejabat atau atasan lain, dan  kepada bawahannya yang masih dalam satu instansi. Isi dari  surat memo biasanya tentang pemberitahuan, permintaan akan saran-saran tertentu, pesan singkat, dan perintah atau instruksi kepada bawahannya. Karena hanya berlaku dalam satu instansi, tidak jarang surat memo hanya ditulis tangan tanpa cap dan kop surat. Surat memo biasanya bersifat mendadak dan keadaan terpaksa. Oleh karena itu, untuk alasan kepraktisan biasanya sebuah instansi menyediakan  form  surat memo  dalam ukuran kertas kuarto / A5.

Senin, 3 Agustus 2009

Waktu Saya pulang dari Sekolah, niatnya ingin belajar kelompok bersama temen-temen. Ketika belajar kelompok mau dimulai, tapi ada salah satu temenku yang belum datang. Terpaksa Saya dan temen-temen harus menunggunya, dan agar tidak bosan kami pun menunggu di sawah dekat dengan rumah tersebut. Kami pun menunggu cukup lama. Tetapi karena kelamaan menunggu kami malah tidak jadi belajarnya, dan malah bermain sepak bola di Lapangan sawah.

Rabu, 4 Agustus 2009

Ketika Saya pulang dari Sekolah, Saya dan teman-teman di halaman rumah bercerita tentang hal-hal yang menyeramkan/hantu. Hii..seremm.. Tetapi karena cerita tersebut, salah satu temenku ada yang malah ketakutan dan tidak berani pulang ke rumah sendiri.Begitu juga dengan Saya, karena cerita hantu saya menjadi takutt.. hii.. Serreemm..

Memo adalah tulisan singkat, padat, dan jelas yang ditujukan kepada  seseorang, serta bersifat informal. Biasanya penulisan tidak lebih dari sepuluh baris. Penulisannya bisa ditik atau ditulis tangan. Memo digunakan untuk mengingatkan atau menegaskan tentang suatu hal/urusan.

Adapun isi memo berupa pemberitahuan, permintaan, instruksi, saran, pesan, atau tugas tertentu. Seperti halnya surat biasa, memo mempunyai bagian-bagian seperti kepala, badan, dan kaki memo.

1)  Kepala /nama

2)  Alamat

3)  Lambang atau logo Instansi

4)  Badan/ isi pesan singkat ( memberikan perintah, informasi atau laporan)

5)  Kaki memo   

6)  Tanda tangan dan nama jelas pembuat memo

Langkah-Langkah Penulisan Memo:

1)  menyiapkan blangko memo yang akan digunakan;

2)  penulisan boleh diketik atau ditulis tangan;

3)  menyampaikan pesan/instruksi dengan bahasa yang tepat dan singkat;

4)  menandatangani dan menyertakan nama jelas pembuat memo;

5)  mengirim memo kepada orang yang di maksud.

Berikut ini contoh memo.

SMA Negeri 78

 Jalan Bhakti VI/1, Komp. Pajak, Kemanggisan

JAKARTA BARAT

Dari      :   Kepala Sekolah

Kepada:   Nabilla, MPd.  (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

Mohon Saudara mewakili saya untuk mengikuti rapat dinas di kantor Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan  Jakarta Barat yang akan diselenggarakan pada:

hari: Senin

tanggal: 21 Juli 2015

pukul: 10.00 WIB

tempat: Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Barat

acara: Persiapan penerimaan siswa baru

Mohon untuk dilaksanakan dengan sebaik – baiknya. Terima kasih.

Jakarta, 21 Juli 2015

Kepala Sekolah

Andriani, MPd..

 

PRINCIPAL ROLE IN THE FIELD OF SCHOOL LIBRARY SERVICE By Papa Ovi aishiteru Arema

        The school principal as educational administrators should know how to manage the school library that meets the standards, so the library can be used optimally. It is the responsibility of principals to take leadership in developing school libraries that meet the standards.Thus the principal should consider the following matters: 

(1) school library should be located under the “direction” man / school staff are well trained and well educated in the library field,(2) the school library should have a number of “reference” enough (including encyclopedias, atlases, dictionaries and the like), a number of books of all subjects taught in school (which should be used as supplementary reading students) and common materials are selected according to the interests and needs,  (3) using an adequate system of a particular classification, where the collection (books) are classified, on the label, and in “Shelving” based system,       (4) presence of adequate supplies in the shape of the room, equipment and materials for repair, it also disampinng “road enter “accessioning”,  (5) complete and spell out a “record system” that includes borrowing and repayment records, records of books hilanng, damaged or removed. (6) complete with a number of facilities for the purchase of books, including publications and other information about the new books are published,  (7) of equipment for students, including a complete schedule.
Perpuskaan to manage the school, principals should also understand the areas related to the library. These areas include: the area of ​​”personnel”, “service”, “using and the user” (as proposed by the Guidelines for Implementation of Rusina Syahrial School Library).In the Field “personnel” Principal must understand the qualifications of personnel who will have the ability orgasisator, administrator, librarian, as well as personnel deorang-worker not only despenser of books alone.
The success of the school library as a means of supporting education and teaching in schools is dependent on the qualifications of the personnel’s own library. Given this, one, a school principal should pay attention to the personnel and management, namely: (1) choose a leader or head of the library is not just as a divider book (dispenser of books), but more than that is a library leader, organizer, teacher, administrator, and a personnel-worker;. Besides, it not only as a “librarian” who are trained and educated in the field of libraries, but also must know and understand how to provide stimulation to the students and teachers to utilize the maximum use of the library, (2) menggembangkan library representative organization of students in the student peerintahan (OSIS) and an election committee of the student library.
In the field of “service” as the chief Sekoplah [rogramere implementation of education at the school, the principal task in the field of “service” will come to fruition apabiola consider the following: (1) recognize, understand and develop the role of libraries in order to develop a program teaching, (2) know the community, state, national library institutions dam,          (3) provide adequate and attractive, the room / library building and equipment, (4) develop a schedule to the library service so that more effective services,  (5) assist the leadership of the library schools in mengembagkan policy, drafters of staff, and discipline in the library.  (6) The school principal has the responsibility to stimulate and guide staff working with the leadership, as well as forming the ‘library-committes “to select and order new books for the library materials collection to decide which ones should be” removed “from the library for classroom teaching, and help develop regulation / order and scheduling;  (7) Provide adequate fee based on the annual budget, also with a workable plan (aplicable)
In the Field “and the user using” the principal needs to pay attention to the issue of use (using) the school library primarily addressed to “user” (the students). Need instructions tentanng use books, how to find books that are needed, use the book catalog, the use of reference books, as well as the creation and placement of bibliographic records. Hence the use of school libraries should: (1) the head of the school library to take the time to make observations on the ability of students to use library materials and scope of its use,  (2) the principal expects to all school staff to always know the library and how use of library materials for teaching and learning activities,  (3) the principal has always held a reading guidance in advancing students’ reading and hold a “cheking” with the leadership of the library.  (4) the principal tried to develop the use of school libraries to carry out supervision of the teachers teaching.
The final activity of the library management is the evaluation of school libraries. Library evaluation should be based on criteria related to library staff, library use by students, administration and library organizations, the selection of library materials, and special characteristics of the material library services, school. For schools that have implemented ISO management, bureaucratic system run to its full potential still remains without subtracting the criteria in the evaluation in the school library.

Sekedar Catatan referensi bahasa Indonesia

                Berdasarkan sejarah Bahasa Indonesia termasuk dalam rumpun proto bahasa Austronesia atau Melayu -Polinesia[1]. Bahasa Indonesia berada dalam posisi antara Melayu dan Australia. Seperti dikatakan Alfred Russel Wallace dalam Malay Archipelago dan Jan Huyghen van Linschoten dalam Itinerario  bahwa Malaka yang berada di semanjung Sumatera merupakan kawasan berkumpulnya nelayan dari berbagai Negara. Posisi ini memungkinkan bahasa Indonesia menerima pengaruh dari luar, sehingga pada perkembangannya,  bahasa Indonesia tidak luput dari pengaruh geografis bahasa serumpun. Setiap kali kontak antarbahasa lewat penggunanya menimbulkan tarik menarik dan saling mempengaruhi bahasa.  Peminjaman istilah, penyerapan kata, dan penggunaan kata-kata asing yang belum dibakukan menjadi hal yang biasa. Mulai dari tataran bunyi, kosa kata hingga struktur kalimat. Selain itu munculnya variasi bahasa dalam percakapan harian dapat menciptakan kosa kata  dan bentuk bahasa baru serta pergeseran makna.

Fenomena bahasa Indonesia di atas mengimplikasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang terbuka. Bahasa yang terlahir dari proses penciptaan dan kreativitas pemakaianya. Kreativitas tersebut dapat menimbulkan dampak positif dan negative terhadap eksistensi bahasa Indonesia. Di satu sisi keadaan demikian memperkaya khasanah progesivitas bahasa Indonesia, sementara di sisi lain realita tersebut mengancam resistensi dan konsistensi bahasa Indonesia. Boleh jadi, keterbukaan bahasa ini dapat mereduksi identitas bahasa Indonesia. Karakter dan ciri khas bahasa Indonesia tidak lagi menjadi suatu kebanggaan bagi penggunanya. Bukan tidak mungkin bahasa Indonesia akan ditinggalkan oleh penggunanya dan lambat laun akan punah, terjadilah kematian bahasa. Penegasan tersebut didukung dalam realita sehari-hari bahasa Indonesia ‘hampir’ tersingkir oleh bahasa daerah dan bahasa asing. Seperti sering kita jumpai tulisan-tulisan pada media cetak dan elektronik baik berisi iklan, berita, maupun informasi lain yang mana terdapat penggunaan bahasa-bahasa serapan baik daerah ataupun asing. Dalam komunikasi pun bahasa Indonesia kurang mendapatkan tempat yang ‘tenang’. Masyarakat lebih senang dan bahkan bangga menggunakan bahasa campuran (asing) agar terlihat lebih menarik dan memiliki wawasan luas hingga melupakan bahasa sendiri (Indonesia). Pada gilirannya berkembanglah masyarakat bilingualist dwibahasawan, orang yang menggunakan dua bahasa.

Dengan demikian akan semakin jelas dan tegas mengancam tidak hanya identitas bahasa Indonesia melainkan pula identitas bangsa, karena bahasa itu menunjukkan bangsa. Padahal telah kita ketahui bersama bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, sebagaimana tertuang dalam teks sumpah pemuda. Bahasa Indonesia menunjukan jatidiri bangsa indonesia. Deklarasi sumpah pemuda bukan hanya sebagai simbol persatuan bangsa Indonesia belaka tetapi juga tonggak lahirnya identitas dan karakter bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan bahasa Indonesia.

Semenjak itu BI mengaIami perkembangan yang cukup pesat. Mulai dari percakapan non-formal hingga percakapan formal, masyarakat Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dalam bermkomunikasi antardaerah dan antarsuku. Komunikasi antardaerah tersebut mendorong intensitas pertemuan-pertemuan antar kelompok sehingga lahirlah oraganisasi dan lembaga yang menggeluti bahasa. Selain itu munculnya sastrawan-satrawan menunjukkan eksistensi bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Adanya periodesasi angkatan sastrawan mulai Pujangga Lama, Sastra “Melayu Lama”, Angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan 50-an, Angkatan 66-70-an, Dasawarsa 80-an, hingga Angkatan Reformasi menjadi bukti perhatian besar masyarakat Indonesia terhadap bahasanya.

Selanjutnya, secara tata bahasa bahasa Indonesia, dalam proses perjalanannya, bahasa Indonesia mengalami perkembangan dan penyempurnaan yang cukup dinamis. Mulai penyempurnaan ejaan, peminjaman istilah asing dan daerah, penyerapan kosa kata hingga penambahan konsep-konsep gramatikal. Bahkan, kini seiring dengan berkembangnya ilmu teknologi, bahasa Indonesia banyak meminjam dan menyerap kata-kata asing  sebagai bukti sulitnya mencari padanan kosa kata dalam tata bahasa bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa Indonesia asli (bukan serapan) di bidang teknologi ini semakin jarang ditemukan. Hal  ini berdampak pada lahirnya bahasa Indonesia ‘baru’, artinya bahasa Indonesia yang banyak mengandung unsur-unsur bahasa asing baik pengucapan, bentuk,maupun konsep gramatikal.

Fenomena BI yang cukup memprihatinkan ini dapat mereduksi peningkatan kesadaran berbahasa di kalangan lingkungan pendidikan, seperti dalam hal pengajaran di sekolah-sekolah yang bertaraf Internasional, yang manasejumlah sekolah menggunakan bahasa pengantar bahasa Ingris dalam setiap pelajaran. Bobot pelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulam SBI sangat kecil, kesempatan siswa berkomunikasi saat proses pembelajaran pun masih terasa kurang. Misalnya ketika siswa bertanya, menjawab, atau mengugkapkan pendapat saat diskusi, mereka lebih banyak  menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Bahkan yang sungguh ironis tatkala guru pengampu matapelajaran bahasa Indonesia menjelaskan dan memberikan materi pelajaran bahasa Indonesia dengan mengggunakan bahasa Inggris. Lalu bagaimana dan kemana nasib BI?

Bahasa akan bertahan dan berkembang tergantung dari masyarakat penggunanya. Bahasa yang digunakan oleh sekelompok masyarakat dapat menunjukkan identitas dan karakter masyarakat tersebut. Bahasa mencerminkan budaya suatu bangsa, karena bahasa merupakan hasil olah pikir manusia (Safir-Whorf, ). Demkian pula dengan bahasa Indonesia,  masyarakat Indonesia sudah  sepatutnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar demi mempertahankan dan melestarikan bahasa Indonesia, sekaligus melestarikan budaya bangsa Indonesia.

 

 

 

 

MITOS MEMBACA

MITOS MEMBACA
LAGU BINTANG KECIL
BINTANG KECIL DI LANGIT YANG BIRU
AMAT BANYAK MENGHIAS ANGKASA
AKU INGIN TERBANG DAN MENARI
JAUH TINGGI KE TEMPAT KAU BERADA

MITOS BACA ITU ADA EMPAT
BACA ITU SULIT
TAK BOLEH MENUNJUK
NOMER TIGA BACA KATA PER KATA
AGAR PAHAM BACA HARUS PELAN/LAMBAT

IDE BARU MEMBACA “LAGU BALONKU ADA LIMA”