KONSEP PEMANFAATAN INTERNET DALAM PEMBELAJARAN

 

Internet,  singkatan  dari  interconnection  and  networking ,  adalah jaringan informasi global, yaitu  “The largest global network of computers, that enables  people  throughout  the  world  to  connect  with  each  other¨.   Internet diluncurkan  pertama  kali  oleh  J.C.R.  Licklider  dari MIT  (Massachusetts Institute Technology)  pada bulan Agustus 1962. Untuk dapat menggunakan Internet  diperlukan  sebuah  komputer  yang  memadai,  harddisk  yang cukup,  modem  (berkecepatan  minimal  14.400  kilobyte  per  second/kbps), sambungan  telepon  (multifungsi:  telepon,  faksimili,  dan  Internet),  ada program  Windows, dan sedikit banyak tahu cara mengoperasikannya.Selanjutnya  hubungi  provider  terdekat.  Andaikan  semua  prasyarat  tadi  tidak  dimiliki,  cukup  mendatangi  warnet  (warung  Internet)  terdekat yang  banyak  terdapat  di  kota-kota  besar,  bahkan  sampai  ke  desa-desa, kita dapat mengakses situs-situs apa saja sesuai dengan kebutuhan kita. Internet disebut juga media massa kontemporer, karena memenuhi syarat-syarat sebagai sebuah media massa, seperti antara lain: ditujukan kepada  sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim serta melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima  secara  serentak  dan  sesaat  oleh  khalayaknya.    Bahkan  Rusman (2007)  menyebutkan  bahwa  Internet  merupakan  perpustakaan  raksasa dunia,  karena  di  dalam  Internet  terdapat  milyaran  sumber  informasi,

sehingga  kita  dapat  menggunakan  informasi  tersebut  sesuai  dengan kebutuhan.

Pemanfaatan Internet sebagai media pembelajaran mengkondisikan siswa  untuk  belajar  secara  mandiri.  “Through  independent  study,  students become  doers,  as  well  as  thinkers”  (Cobine,  1997).  Para  siswa  dapat mengakses secara online dari berbagai perpustakaan, museum, database , dan  mendapatkan  sumber  primer  tentang  berbagai  peristiwa  sejarah,

biografi,  rekaman,  laporan,  data  statistik,  (Gordin  et.  al.,  1995).  Informasi yang  diberikan  server-computers   itu  dapat  berasal  dari  commercial businesses (.com),  goverment services   (.gov),   nonprofit organizations  (.org), educational institutions (.edu) atau  artistic and cultural groups  (.arts)Siswa  dapat  berperan  sebagai  seorang  peneliti,  menjadi  seorang analis, tidak hanya konsumen informasi saja. Mereka menganalisis informasi yang  relevan  dengan  pembelajaran  IPS  dan  melakukan  pencarian  yang sesuai  dengan  kehidupan  nyatanya  (real  life) .  Siswa  dan  guru  tidak perlu  hadir  secara  fisik  di  kelas (classroom  meeting),  karena  siswa  dapat mempelajari bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas pembelajaran serta ujian  dengan  cara  mengakses  jaringan  komputer  yang  telah  ditetapkan secara  online.  Siswa  juga  dapat  belajar  bekerjasama  (collaborative)   satu sama  lain.  Mereka  dapat  saling  berkirim  e-mail  (electronic  mail)   untuk mendiskusikan  bahan  ajar.  Kemudian,  selain  mengerjakan  tugas-tugas pembelajaran  dan  menjawab  pertanyaan-pertanyaan  yang  diberikan guru siswa dapat berkomunikasi dengan teman sekelasnya. Pemanfaatan  Internet  sebagai  media  pembelajaran  memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut : Dimungkinkan  terjadinya  distribusi  pendidikan  ke  semua  penjuru  1.  tanah  air  dan  kapasitas  daya  tampung  yang  tidak  terbatas  karena tidak memerlukan ruang kelas;Proses pembelajaran tidak terbatas oleh waktu seperti halnya tatap

2.  muka biasa; Pembelajaran  dapat  memilih  topik  atau  bahan  ajar  yang  sesuai          3.  dengan keinginan dan kebutuhan masing-masing;Lama  waktu  belajar  juga  tergantung  pada  kemampuan  masing-                                                                                 4.  masing siswa;Adanya keakuratan dan kekinian materi pembelajaran;

5.  Pembelajaran  dapat  dilakukan  secara  interaktif,  sehingga  menarik

6.  siswa;  dan  memungkinkan  pihak  berkepentingan  (orang  tua siswa  maupun  guru)  dapat  turut  serta  menyukseskan  proses pembelajaran, dengan cara mengecek tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara online. Perkembangan/kemajuan  teknologi  Internet  yang  sangat  pesat dan  merambah  ke  seluruh  penjuru  dunia  telah  dimanfaatkan  oleh berbagai negara, institusi, dan ahli untuk berbagai kepentingan termasuk di  dalamnya  untuk  pendidikan/pembelajaran.    Berbagai  percobaan untuk  mengembangkan  perangkat  lunak  (program  aplikasi)  yang  dapat menunjang  upaya  peningkatan  mutu  pendidikan/pembelajaran  terus dilakukan. Perangkat  lunak  yang  telah  dihasilkan  akan  memungkinkan  para pengembang pembelajaran  (instructional developers) bekerjasama dengan ahli materi  (content specialists)  mengemas materi pembelajaran elektronik (online learning materials) .  Pembelajaran melalui Internet di Sekolah Dasar dapat diberikan dalam beberapa format (Wulf, 1996), di antaranya adalah:

(1)  Electronic  mail  (delivery  of  course  materials,  sending  in  assignments, getting and giving feedback, using a course listserv., i.e., electronic discussion group),   (2)  Bulletin  boards/newsgroups  for  discussion  of  special  group,  (3) Downloading of course materials or tutorials, (4)  Interactive tutorials on the Web, dan (5)  Real time, interactive conferencing using MOO (Multiuser Object Oriented) systems or Internet Relay Chat.Setelah  bahan  pembelajaran  elektronik  dikemas  dan  dimasukkan ke dalam jaringan sehingga dapat diakses melalui Internet, maka kegiatan berikutnya  yang  perlu  dilakukan  adalah  mensosialisasikan  ketersediaan program  pembelajaran  tersebut  agar  dapat  diketahui  oleh  masyarakat luas  khususnya  para  calon  peserta  didik.    Para  guru  juga  perlu  diberikan pelatihan agar mereka mampu mengelola dengan baik penyelenggaraan kegiatan  pembelajaran  melalui  Internet.    Karakteristik/potensi  Internet sebagaimana yang telah diuraikan di atas tentunya masih dapat diperkaya lagi  dengan  yang  lainnya.    Namun,  setidak-tidaknya  ketiga  karakteristik/ potensi  Internet  tersebut  dipandang  sudah  memadai  sebagai  dasar pertimbangan  untuk  penyelenggaraan  kegiatan  pembelajaran  melalui Internet.

6.2   PENGGUNAAN INTERNET DALAM PEMBELAJARAN

Internet  merupakan  sebuah  jaringan  global  yang  merupakan kumpulan  dari  jaringan-jaringan  komputer  di  seluruh  dunia.  Internet mempermudah  para  pemakainya  untuk  mendapatkan  informasi-informasi di dunia  cyber, lembaga-lembaga milik pemerintah dan institusi pendidikan  dengan  menggunakan  komunikasi  protokol  yang  terdapat

pada  komputer,  seperti Transmission  Control  Protocol  (TCP)   yaitu  suatu

protokol  yang  sanggup  memungkinkan  sistem  apapun  antar  sistem jaringan  komputer  dapat  berkomunikasi  baik  secara  lokal  maupun internasional,  yaitu  dengan  modus  koneksi  Serial  Line  Internet  Protocol (SLIP)  atau  Point  to  Point  Protocol  (PPP) .  Tahun  1983  merupakan  tahun kelahiran Internet yang ditandai dengan diadopsinya Transmission Control Protocol (TCP)  sebagai standar bagi  ARPANET . Protokol yang lainnya adalah IP (Internet Protocol).

Berikut  ini  hal-hal  yang  dapat  difasilitasi  oleh  adanya  Internet: Discovery   (penemuan),  ini  meliputi  browsing   dan  pencarian  informasi-informasi  tertentu.  Communication  (komunikasi),  Internet  menyediakan jaringan komunikasi yang cepat dan murah dari mulai pesan-pesan yang berupa  buletin  sampai  dengan  pertukaran  komunikasi  yang  bersifat

kompleks antar atau inter-organisasi. Juga termasuk diantaranya transfer informasi (antar komputer) dan proses informasi. Adapun contoh-contoh media  komunikasi  yang  utama  seperti  e-mail,  chat  group  (percakapan secara berkelompok), dan  newsgroup (gabungan kelompok yang bertukar berita). Collaboration (kolaborasi), seiring dengan semakin meningkatnya

komunikasi, dan kolaborasi antar media elektronik baik itu antar individu maupun antar kelompok maka beberapa fasilitas canggih dan modern pun mulai digunakan dari mulai screen sharing  sampai dengan  teleconferencing . Kolaborasi  juga  meliputi  jasa/pelayanan  resource-sharing   (pertukaran sumber-sumber  informasi),  yang  menyediakan  akses  pada server-server yang sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Internet juga dapat digunakan dalam bidang pendidikan dan dunia hiburan.  Selain  itu  untuk  mempermudah  perusahaan  dalam  melakukan berbagai transaksi bisnisnya, Internet juga menyediakan fasilitas electronic commerce  (EC)  yang  membantu  berbagai  kegiatan  bisnis  yang  beragam dari  mulai  periklanan  sampai  dengan  berbagai  jasa  pelayanan  yang ditawarkan pada para konsumen. Beberapa peralatan yang dikembangkan dalam  Internet  juga  dikembangkan  dalam network  yang  berada  dalam suatu  organisasi  tertentu  yang  dikenal  dengan  nama  fasilitas  intranet. Karena  jumlah  informasi  yang  terdapat  pada  Internet  bertambah  dua kali  lipat  dalam  setiap  tahunnya,  maka  untuk  mempermudah  pencarian data  yang  dibutuhkan,  beberapa  perusahaan  mengembangkan  fasilitas pencari data yang bersifat otomatis yang dikenal dengan nama  software agents .

INTERNET SEBAGAI SUMBER BELAJAR

Peranan Internet dalam organisasi sangat menguntungkan karena kemampuannya dalam mengolah data dengan jumlah yang sangat besar. Teknologi informasi sudah menjadi  jaringan komputer  terbesar di dunia,  yang dapat berfungsi dengan baik jika didukung oleh perangkat komputer dengan  perangkat  lunak  yang  baik,  dan  dengan  guru  yang  terlatih  baik. Menggunakan  Internet  dengan  segala  fasilitasnya  akan  memberikan kemudahan  untuk  mengakses  berbagai  informasi  untuk  pendidikan yang  secara  langsung  dapat  meningkatkan  pengetahuan  siswa  bagi keberhasilannya  dalam  belajar.  Karena  Internet  merupakan  sumber  data utama  dan  pengetahuan.  Melalui  teknologi  ini  kita  dapat  melakukan  di antaranya untuk Penelusuran dan pencarian bahan pustaka; 1.  Membangun  program  2.   Artificial  Intelligence  (kecerdasan  buatan) untuk memodelkan sebuah rencana pembelajaran;

Memberi kemudahan untuk mengakses apa yang disebut dengan  3.  virtual classroom  ataupun  virtual university ;Pemasaran dan promosi hasil karya penelitian; 4.  Kegunaan-kegunaan seperti di atas itu dapat diperluas bergantung kepada peralatan komputer yang dimiliki jaringan dan fasilitas telepon yang tersedia dan provider yang bertanggungjawab untuk tetap terpeliharanya

penggunaan  jaringan  komunikasi  dan  informasi  tersebut.  Dari  waktu ke  waktu  jika  dilihat  dari  jumlah  pemakaian  yang  makin  meningkat secara  eksponensial  setiap  tahunnya  memungkinkan  fasilitas  yang  pada mulanya  hanya  dapat  dinikmati  segelintir  orang,  dan  sekelompok  kecil sekolah  terkemuka  dengan  biaya  operasional  yang  tinggi,  ke  depan

besar  kemungkinan  biaya  yang  besar  itu  akan  dapat  ditekan  sehingga pemanfaatannya  benar-benar  dapat  menjadi  penunjang  utama  bagi pengelolaan pendidikan khususnya bagi pendidikan di daerah.

INTERNET UNTUK MANAJEMEN PEMBELAJARAN

Telah  kita  ma’fum  bersama  bahwa  perkembangan  dunia  saat ini  memasuki  era  informasi  sebagai  konsekuensi  dari  revolusi  digital yang  berdampak  merubah  masyarakat  industri  menjadi  masyarakat informasi.  Oleh  karena  itu  diperkirakan  pada  masa  datang  kehidupan

manusia akan banyak ditandai dengan munculnya fenomena information superhighway , semakin melubernya  information appliance , tergunakannya digital  and  virtual  libraries   dalam  proses  pendidikan  dan  pembelajaran, dan terwujudnya tele-working yang mengurangi pergerakan manusia ke perkantoran.

Agar pemanfaatan teknologi informasi tersebut dapat memberikan hasil  yang  maksimal  maka  juga  dibutuhkan  kemampuan  pengelola teknologi  komunikasi  dan  informasi  yang  baik  yang  dapat  diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan baik untuk tingkat pembuat kebijakan

pendidikan  di  daerah  maupun  pada  tingkat  sekolah.  Pemahaman  dan kemampuan  manajerial  kepala  sekolah  berkaitan  dengan  pemanfaatan teknologi  komunikasi  dan  infomasi  tersebut  merupakan  salah  satu persyaratan  pokok  dalam  pemilihan  kepala  sekolah.  Mintzberg  misalnya mengemukan  sepuluh  peran  pemimpin  yang  meliputi:  1)  informational  roles menempatkan  manajer  sebagai  monitor,  disseminator  dan   spokes person,

2)  decisional roles yang melibatkan  manajer  sebagai entrepreneur, disturbance  handler,  allocator  dan   negotiator,

3)  interpersonal  roles melibatkan  manajer  sebagai  figurhead,  liason  dan   leader.  Perhatikan gambar berikut:Sistem  informasi  telah  dikembangkan  untuk  mendukung  ketiga peranan  itu.  Dalam  tulisan  ini  akan  difokuskan  pada  peranan  pembuat keputusan  khusus  dalam  bidang  pendidikan.  Keberhasilan  seorang manajer dalam membuat keputusan bergantung atas pelaksanaan fungsi manajerial  seperti  planning,  organizing,  directing  dan   controlling .  Di  era informasi para pembuat keputusan harus menguasai alat dan teknik baru untuk  membantu  membuat  keputusan.  Saat  membuat  keputusan  para manajer  pendidikan  akan  melalui  proses  yang  sistematis.  Simon  (1977) mengatakan  bahwa  proses  ada  tiga  tahap  yaitu: intelligence ,  design ,  dan choice ,  kemudian  dia  menambahkan  dengan  implementation .  Proses ini  sebenarnya  cukup  dikenal  dan  dapat  didukung  dengan  alat  bantu keputusan  dan  modelling.  Untuk  memperoleh  modelling  dan  alat  bantu keputusan  itu  para  manajer  dapat  mengakses  dan  mengambil  software  dari Internet.

 

JENIS-JENIS PEMANFAATAN INTERNET

  1. PEMBELAJARAN BERBASIS WEB

Pembelajaran  berbasis  web  yang  populer  dengan  sebutan  Web-Based Training (WBT) atau kadang disebut  Web-Based Education (WEB) dapat didefinisikan  sebagai  aplikasi  teknologi  web  dalam  dunia  pembelajaran untuk  sebuah  proses  pendidikan.  Secara  sederhana  dapat  dikatakan bahwa  semua  pembelajaran  dengan  memanfaatkan  teknologi  Internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya maka kegiatan itu dapat disebut sebagai pembelajaran berbasis web. Kemudian  yang  ditawarkan  oleh  teknologi  ini  adalah  kecepatan dan tidak terbatasnya pada tempat dan waktu untuk mrngakses informasi. Kegiatan belajar dapat dengan mudah dilakukan oleh peserta didik kapan saja  dan  di  mana  saja  dirasakan  aman  oleh  peserta  didik  tersebut.  Batas ruang,  jarak  dan  waktu  tidak  lagi  menjadi  masalah  yang  rumit  untuk dipecahkan.

Bagaimana cara belajar melalui web? Ada persyaratan utama yang perlu  dipenuhi  yaitu  adanya  akses  dengan  sumber  informasi  melalui Internet.  Selanjutnya  adanya  informasi  tentang  di  mana  letak  sumber informasi  yang  ingin  kita  dapatkan  berada.  Ada  beberapa  sumber  data yang  dapat  diakses  dengan  bebas  dan  gratis,  tanpa  proses  administrasi pengaksesan  yang  rumit.  Ada  beberapa  sumber  informasi  yang  hanya dapat  diakses  oleh  pihak  yang  memang  telah  diberi  otorisasi  pemilik sumber informasi.

Teknologi  Internet  memberikan  kemudahan  bagi  siapa  saja  untuk mendapatkan informasi apa saja dari  mana saja dan kapan saja dengan mudah  dan  cepat.  Informasi  yang  tersedia  di  berbagai  pusat  data  di berbagai komputer di dunia. Selama komputer-komputer tersebut saling terhubung  dalam  jaringan  Internet,  dapat  kita  akses  dari  mana  saja.  Ini merupakan salah satu keuntungan belajar melalui Internet. Mewujudkan pembelajaran berbasis web bukan sekedar meletakkan materi belajar pada web untuk kemudian diakses melalui komputer web digunakan bukan hanya sebagai media alternatif pengganti kertas untuk menyimpan berbagai dokumentasi atau informasi. Web digunakan untuk mendapatkan  sisi  unggul  yang  tadi  telah  diungkap.  Keunggulan  yang tidak dimiliki media kertas ataupun media lain. Pada sub-bab judul sengaja dikatakan pembelajaran berbasis web itu  unik  tapi  serius.  Kata  serius  dipakai  untuk  mengungkapkan  bahwa merancang sampai dengan mengimplementasikan pembelajaran berbasis web  tidak  semudah  yang  dibayangkan.  Selain  infrastruktur  Internet, pembelajaran  berbasis  web    memerlukan  sebuah  model  instruksional yang  memang  dirancang  khusus  untuk  keperluan  itu.  Sebuah  model instruksional  merupakan  komponen  vital  yang  menentukan  keefektifan proses belajar. Apapun model instruksional yang dirancang, interaktifitas antara  peserta  didik,  guru,  pihak  pendukung  dan  materi  belajar  harus

mendapatkan  perhatian  khusus.  Ini  bukan  merupakan  pekerjaan  yang mudah. Banyak  pihak  mencoba  menggunakan  teknologi  web  untuk pembelajaran  dengan  meletakkan  materi  belajar  secara  online,  lalu menugaskan  peserta  didik  untuk  mendapatkan (downloading)  materi belajar  itu  sebagai  tugas  baca.  Setelah  itu  mereka  diminta  untuk mengumpulkan laporan, tugas dan lain sebagainya kembali ke guru juga melalui Internet. Jika ini dilakukan tentunya tidaklah menimbulkan proses belajar yang optimal.

Kita  dapat  membayangkan  suasana  di  ruang  kelas  ketika  sebuah “proses  belajar”  sedang  berlangsung.  Berapa  banyak  di  antara  peserta didik aktif terlibat dalam diskusi dan sesi tanya-jawab? Apa yang mereka lakukan di kelas? Dan tentunya masih banyak lagi pertanyaan-eranyaan lain  yang  sebenarnya  kita  sudah  mengetahui  jawabannya.  Proses Monitoring dalam pembelajaran berbasis web lebih sulit daripada di ruang kelas. Menyediakan bahan belajar online tidak cukup. Diperlukan sebuah desain  instruksional  sebagai  model  belajar  yang  engundang  sejumlah (sama  banyaknya  dengan  kegiatan  di  ruang  kelas)  peserta  didik  unuk terlibat dalam  berbagai kegiatan belajar. Satu  hal  yang  perlu  diingat  adalah  bagaimana  teknologi  web  ini dapat  membantu  proses  belajar.  Untuk  kepentingan  ini  materi  belajar perlu dikemas berbeda dengan penyampaian yang berbeda pula.

  1. IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS WEB

Model  pembelajaran  dirancang  dengan  mengintegrasikan pembelajaran  berbasis  web  dalam  program  pembelajaran  konvensional tatap  muka.  Proses  pembelajaran  konvensional  tatap  muka  dilakukan dengan  pendekatan  Student  Centered  Learning  (SCL)  melalui  kerja

kelompok. Model ini menuntut partisipasi peserta didik yang tinggi.Untuk  merancang  dan  mengimplementasikan    pembelajaran berbasis web, langkahnya adalah sebagai berikut:

Sebuah program pendidikan untuk peningkatan mutu pembelajaran

1.  di lingkungan kampus dengan berbasis web. Program ini dilakukan idealnya selama 5-10 bulan dan dibagi menjadi 5 tahap. Yaitu tahap 1, 3, 5  dilakukan secara jarak jauh dan untuk itu dipilih media web sebagai alat komunikasi. Sedangkan fase 2 dan 4 dilakukan secara konvensional tatap muka.

2.  Menetapkan  sebuah  mata  kuliah  pilihan  di  jurusan.  Pembelajaran           .

dengan tatap muka dilakukan secara rutin tiap minggu pada tujuh minggu pertama. Setelah itu tatap muka dilakukan setiap 2  atau 3  minggu sekali.Dua program pendidikan itu disampaikan melalui berbagai macam kegiatan belajar secara kelompok. Belajar dan mengerjakan tugas secara kolaboratif  dalam  kelompok  sangat  dominan  pada    kedua  program tersebut.

  1. INTERAKSI TATAP MUKA DAN VIRTUAL

Sekalipun  teknologi  web  memungkinkan  pembelajaran  dilakukan virtual   secara  penuh  namun  kesempatan  itu  tidak  dipilih.  Interaksi  satu sama lain untuk dapat berkomunikasi langsung secara tatap muka masih dibutuhkan. Ada tiga alasan mengapa forum tatap muka masih dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran ini. Alasan tersebut adalah:

1.   Perlunya forum untuk menjelaskan maksud  dan mekanisme belajar   yag akan dilalui  bersama secara langsung dengan semua peserta didik.  Keberhasilan  sebuah  proses  pembelajaran  juga  ditentukan oleh  pemahaman  peserta  didik  tentang  apa,  mengapa  dan bagaimana proses  belajar dan mengerjakan tugas akan berlangsung. Peserta didik perlu mengetahui keluaran dan kompetensi apa yang akan  didapat  setelah  mengikuti  suatu  kegiatan  pembelajaran. Berdasarkan  pengalaman,  menjelaskan  maksud  dan  mekanisme belajar  merupakan  langkah  awal  yang  sangat  vital.  Kelancaran proses belajar selanjutnya sangat ditentukan pada tahapan ini;

2.  Perlunya  memberikan  pemahaman  sekaligus  pengalaman  belajar                                    dengan mengerjakan tugas secara kelompok dan kolaboratif  pada setiap  peserta  didik.  Karena  model  pembelajaran  yang  dirancang menuntut  kerja  kelompok  maka  peserta  didik  perlu  memiliki kompetensi  dan  komunikasi.  Iklim  partisipatoris  dan  aktif  terlibat dalam  berbagai  kegiatan  perlu  dikenalkan  sekaligus  dialami  oleh etiap  siswa.  Untuk  itu  mengenal  pribadi  satu  dengan  yang  lain perlu dilakukan secara langsung guna membangun suatu kelompok yang kokoh selama kerja secara virtual  selanjutnya; Perlunya  pemberian  pelatihan  secukupnya  dalam  menggunakan                3.  komputer  yang  akan  digunakan  sebagai  media  komunikasi berbasis  web  kepada  setiap  peserta  didik.  Dengan  menyertakan berbagai  keiatan  menggunakan  komputer  beserta  fasilitas  sistem komunikasi  pendukungnya,  maka  setiap  peserta  didik  harus mempunyai keterampilan mengoperasikannya. Kekurangpahaman dalam  mengoperasikan  peralatan  tersebut  sangat  berdampak pada  kemungkinan  rendahnya  partisipasi  mereka  dalam  berbagai kegiatan diskusi  virtual  selanjutnya.

Di negara-negara majau seperti Amerika Serikat, teknologi informasi sudah  betul-betul  merasuk  ke  dalam  kehidupan  sehari-hari.  Dalam berbagai  hal  dapat  kita  lihat  implikasinya.  Berbagai  dokumen  dapat  kita baca untuk melihat hal ini. Di bawah ini akan dibahas implikasi TI dalam bidang Pendidikan.

Sejarah  teknologi  informasi  tidak  dapat  dilepaskan  dari  bidang pendidikan.  Di  Amerika,  TI  mulai  tumbuh  dari  lingkungan  akademis (NSFNET), (Nerds 2.0.1). Demikian halnya di Indonesia, TI mulai tumbuh di lingkungan akademis, seperti di, ITB, UPI, dan UI. Adanya TI  atau  Internet  membuka  sumber  informasi  yang  tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan menjadi masalah lagi.  Perpustakaan  merupakan  salah  satu  sumber  informasi  yang  mahal harganya.  Adanya  Jaringan  TI  atau  Internet  memungkinkan  seseorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat. Aplikasi telnet (seperti pada aplikasi hytelnet) atau melalui  web browser ( Netscape  dan  Internet Explorer ). Sudah banyak cerita tentang pertolongan Internet dalam  penelitian  pendidikan,  tugas  akhir. Tukar  menukar  informasi  atau tanya  jawab  dengan  pakar  dapat  dilakukan  melalui  Internet.  Tanpa adanya  Internet  banyak  tugas  akhir,  tesis,  dan  disertasi  yang  mungkin membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk diselesaikan.

Kerjasama  antar  ahli  dan  juga  dengan  mahasiswa  yang  letaknya berjauhan  secara  fisik  dapat  dilakukan  dengan  lebih  mudah.  Dahulu, seseorang  harus  berkelana  atau  berjalan  jauh  untuk  menemui  seorang pakar  untuk  mendiskusikan  sebuah  masalah.  Saat  ini  hal  ini  dapat dilakukan dari rumah dengan mengirimkan e-mail . Makalah dan penelitian dapat  dilakukan  dengan  saling  tukar  menukar  data  melalui  Internet,  via e-mail  ataupun dengan menggunakan mekanisme  file sharing. Bayangkan apabila  seorang  mahasiswa  di  Sumatera  dapat  berdiskusi  masalah kedokteran dengan seorang pakar di universitas terkemuka di pulau Irian.

Mahasiswa  di  manapun  di  Indonesia  dapat  mengakses  para  ahli  atau dosen yang terbaik di Indonesia dan bahkan di dunia. Batasan geografis bukan menjadi masalah lagi.

Sharing  information   juga  sangat  dibutuhkan  dalam  bidang penelitian  agar  penelitian  tidak  berulang  (reinvent  the  wheel).  Hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat digunakan bersama-sama sehingga mempercepat proses pengembangan ilmu dan teknologi.Distance  learning  dan  virtual  campus  merupakan  sebuah  aplikasi baru  bagi  Internet.  Bahkan  tak  kurang  pakar  ekonomi  Peter  Drucker mengatakan  bahwa “Triggered  by  the  Internet,  continuing  adult  education may  wll  become  our  greatest  growth  industry”.  Virtual  university   memiliki karakteristik  yang  scalable,  yaitu  dapat  menyediakan  pendidikan  yang diakses oleh orang banyak. Jika pendidikan hanya dilakukan dalam kelas biasa, berapa jumlah orang yang dapat ikut serta dalam satu kelas? Jumlah peserta  mungkin  hanya  dapat  diisi  50  orang. Virtual  university   dapat diakses oleh siapa saja, dari mana saja.

Bagi  Indonesia,  manfaat-manfaat  yang  disebutkan  di  atas  sudah dapat  menjadi  alasan  yang  kuat  untuk  menjadikan  Internet  sebagai infrastruktur bidang pendidikan. Untuk erangkumkan manfaat Internet bagi bidang pendidikan di Indonesia melalui akses ke perpustakaan; akses ke pakar; dan penyediaan fasilitas kerjasama.Dalam kegiatan pembelajaran dengan munculnya berbagai software  yang  dapat  digunakan  untuk  kepentingan  pembelajaran,  sekarang  ini

para  guru  dapat  merancang  pembelajaran  dengan  berbasis  komputer, yaitu  dengan  menggunakan  salah  satu  bahasa  pemrograman  baik  itu Borland  Delphi,  Pascal,  Adobe/Macromedia  Flash,  SWiSH  dan  lainnya.  Hal ini dapat memberikan variasi dalam  mengajar. Seorang guru tidak harus selalu  menjejali  siswa  dengan  informasi  yang  membosankan.  Dengan menggunakan  Teknologi  Informasi  seorang  guru  dapat  memanfaatkan komputer sebagai  total teaching , di mana guru hanya sebagai fasilitator dan siswa dapat belajar dengan berbasis komputer baik dengan menggunakan model pembelajaran  drills , tutorial, simulasi ataupun instructional games .

  1. PEMANFAATAN E-LEARNING UNTUK PEMBELAJARAN

Menurut Jaya Kumar C. Koran (2002),  e-learning adalah pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik ( LAN ,  WAN , atau Internet) untuk menyampaikan  isi  pembelajaran,  interaksi,  atau  bimbingan.  Adapula yang  menafsirkan  e-learning  sebagai  bentuk  pendidikan  jarak  jauh  yang dilakukan  melalui  media  Internet.  Sedangkan  Dong  (dalam  Kamarga, 2002)  mendefinisikan e-learning  sebagai  kegiatan  belajar asynchronous  melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar

yang sesuai dengan kebutuhannya. Atau e-learning didefinisikan sebagai berikut:  “e-Learning  is  a  generic  term  for  all  technologically  supported learning using an array of teaching and learning tools as phone bridging, audio  and  videotapes,  teleconferencing,  satellite  transmissions,  and  the more  recognized  web-based  training  or  computer  aided  instruction  also commonly referred to as online courses (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).”

Rosenberg  (2001)  menekankan  bahwa  e-learning  merujuk  pada penggunaan  teknologi  Internet  untuk  mengirimkan  serangkaian  solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan  Cambell  (2002),  Kamarga  (2002)  yang  intinya  menekankan penggunaan  Internet  dalam  pendidikan  sebagai  hakikat  e-learning.

Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari  elektronik  dalam e-learning  digunakan  sebagai  istilah  untuk  segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pembelajaran lewat  teknologi  elektronik  Internet.  Internet,  Intranet,  satelit,  tape  audio/video,  TV  interaktif  dan  CD-ROM  adalah  sebagian  dari  media  elektronik yang digunakan pembelajaran boleh disampaikan secara ‘synchronously’

(pada  waktu  yang  sama)  ataupun  ‘asynchronously’   (pada  waktu  yang berbeda).  Materi  pembelajaran  dan  pembelajaran  yang  disampaikan melalui  media  ini  mempunyai  teks,  grafik,  animasi,  simulasi,  audio  dan video.  Ia  juga  harus  menyediakan  kemudahan  untuk ‘discussion  group’ dengan bantuan profesional dalam bidangnya.Perbedaan  Pembelajaran  Tradisional  dengan  e-learning  yaitu kelas  ‘tradisional’,  guru  dianggap  sebagai  orang  yang  serba  tahu  dan ditugaskan  untuk  menyalurkan  ilmu  pengetahuan  kepada  pelajarnya.

Sedangkan  di  dalam  pembelajaran  ‘e-learning’  fokus  utamanya  adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggungjawab untuk pembelajarannya.  Suasana  pembelajaran ‘e-learning’   akan  ‘memaksa’ pelajar  memainkan  peranan  yang  lebih  aktif  dalam  pembelajarannya. Pelajar  membuat  perancangan  dan  mencari  materi  dengan  usaha,  dan inisiatif sendiri.

Khoe Yao Tung (2000) mengatakan bahwa setelah kehadiran guru/dosen  dalam  arti  sebenarnya,  Internet  akan  menjadi  suplemen  dan komplemen dalam menjadikan wakil dosen/guru yang mewakili sumber belajar yang penting di dunia.Cisco (2001) menjelaskan filosofi  e-learning sebagai berikut.Pertama ,  e -learning  merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara online. Kedua ,  e-learning  menyediakan  seperangkat  alat  yang  dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian  terhadap  buku  teks,  CD-ROM,  dan  pelatihan  berbasis  komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi. Ketiga ,  e-learning  tidak  berarti  menggantikan  model  belajar konvensional  di  dalam  kelas,  tetapi  memperkuat  model  belajar  tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan. Keempat , kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk, isi  dan  cara  penyampaiannya.  Makin  baik  eselarasan  antar  content  dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik. Sedangkan  karakteristik  e-learning,  antara  lain:  Pertama , Memanfaatkan  jasa  teknologi  elektronik;  di  mana  guru  dan  siswa,  siswa dan  sesama  siswa  atau  guru  dan  sesama  guru  dapat  berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler; Kedua , Memanfaatkan keunggulan komputer ( digital media dan  computer networks ).  Ketiga , Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials)  disimpan  di  komputer  sehingga  dapat  diakses  oleh  guru  dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya. Keempat , Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer. Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib  dipenuhi  dalam  merancang  e-learning,  yaitu:  sederhana,  personal, dan cepat. Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel  yang  disediakan,  akan  mengurangi  pengenalan  sistem e-learning itu  sendiri,  sehingga  waktu  belajar  peserta  dapat  diefisienkan  untuk proses  belajar  itu  sendiri  dan  bukan  pada  belajar  menggunakan  sistem e-learning-nya. Syarat  personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan baik  seperti  layaknya  seorang  guru  yang  berkomunikasi  dengan  murid di  depan  kelas.  Dengan  pendekatan  dan  interaksi  yang  lebih  personal, peserta  didik  diperhatikan  kemajuannya,  serta  dibantu  segala  persoalan yang  dihadapinya.  Hal  ini  akan  membuat  peserta  didik  betah  berlama-lama di depan layar komputernya. Kemudian layanan ini ditunjang dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta didik lainnya. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar atau pengelola.

  1. TEKNOLOGI PENDUKUNG E-LEARNING

Dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah:  Computer Based Learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya  menggunakan  komputer;  dan  Computer  Assisted  Learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.

Teknologi  pembelajaran  terus  berkembang.  Namun  pada  prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:  Technology-based  learning  dan  Technology-based  web-learning.  Technology-based learning   ini  pada  prinsipnya  terdiri  dari  Audio  Information  Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone)  dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging) . Sedangkan  technology-based web-learning   pada  dasarnya  adalah  Data  Information  Technologies  (bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration).

Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas  (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering dipakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimaksudkan agar komunikasi antara murid dan guru  bisa  terjadi  dengan  keunggulan  teknologi  e-learning  ini.  Di  antara banyak fasilitas Internet, menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar Internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e-mail ,  Mailing List (milis),  News Group ,  File Transfer Protocol (FTP), dan World Wide Web (WWW)”.Sedangkan  Rosenberg  (2001)  mengkategorikan  tiga  kriteria  dasar yang  ada  dalam  e-learning.  Pertama,  e-learning  bersifat  jaringan,  yang membuatnya  mampu  memperbaiki  secara  cepat,  menyimpan  atau memunculkan  kembali,  mendistribusikan,  dan  sharing  pembelajaran dan  informasi.  Kedua,  e-learning  dikirimkan  kepada  pengguna  melalui komputer  dengan  menggunakan  standar  teknologi  Internet.  Ketiga, e-learning  terfokus  pada  pandangan  pembelajaran  yang  paling  luas, solusi  pembelajaran  yang  menggungguli  paradigma  tradisional  dalam pelatihan.

Ada  beberapa  alternatif  paradigma  pendidikan  melalui  Internet ini  yang  salah  satunya  adalah  system  “dot  com  educational  system”  (Kardiawarman,  2000).  Paradigma  ini  dapat  mengintegrasikan  beberapa sistem  seperti, Pertama ,  paradigma  virtual  teacher  resources ,  yang  dapat mengatasi terbatasnya jumlah guru yang berkualitas, sehingga siswa tidak haus  secara  intensif  memerlukan  dukungan  guru,  karena  peranan  guru maya (virtual teacher)  dan sebagian besar diambil alih oleh sistem belajar tersebut.  Kedua,  virtual  school  system ,  yang  dapat  membuka  peluang menyelenggarakan  pendidikan  dasar,  menengah  dan  tinggi  yang  tidak memerlukan ruang dan waktu. Keunggulan paradigma ini daya tampung siswa  tak  terbatas.  Siswa  dapat  melakukan  kegiatan  belajar  kapan  saja,

di  mana  saja,  dan  dari  mana  saja.  Ketiga ,  paradigma  cyber  educational resources  system ,  atau  dot  com  learning  resources  system .  Merupakan pedukung  kedua  paradigma  di  atas,  dalam  membantu  akses  terhadap artikel atau jurnal elektronik yang tersedia secara bebas dan gratis dalam Internet. Penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut  Williams  (1999).  Internet  adalah ‘a  large  collection  of  computers in  networks  that  are  tied  together  so  that  many  users  can  share  their  vast resources’.

  1. PENGEMBANGAN MODEL E-LEARNING

Pendapat  Haughey  (Rusman,  2007)  tentang  pengembangan e-learning.  Menurutnya  ada  tiga  kemungkinan  dalam  pengembangan sistem  pembelajaran  berbasis  Internet,  yaitu  web  course,  web  centric course ,  dan  web enhanced course . Web  course  adalah  penggunaan  Internet  untuk  keperluan pendidikan, yang mana mahasiswa dan dosen sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui Internet. Dengan kata lain model ini  enggunakan sistem jarak jauh.

Web centric course  adalah penggunaan Internet yang memadukan  antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan  melalui  Internet,  dan  sebagian  lagi  melalui  tatap  muka. Fungsinya  saling  melengkapi.  Dalam  model  ini  dosen  bisa  memberikan petunjuk pada mahasiswa untuk mempelajari materi perkuliahan melalui web  yang  telah  dibuatnya.  Mahasiswa  juga  diberikan  arahan  untuk mencari  sumber  lain  dari  situs-situs  yang  relevan.  Dalam  tatap  muka, mahasiswa dan dosen lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui Internet tersebut.

Web  enhanced  course  adalah  pemanfaatan  Internet  untuk menunjang  peningkatan  kualitas  pembelajaran  yang  dilakukan  di  kelas. Fungsi  Internet  adalah  untuk  memberikan  pengayaan  dan  komunikasi antara mahasiswa dengan dosen, sesama mahasiswa, anggota kelompok, atau  mahasiswa  dengan  nara  sumber  lain.  Oleh  karena  itu  peran  dosen dalam  hal  ini  dituntut  untuk  menguasai  teknik  mencari  informasi  di Internet,  membimbing  mahasiswa  mencari  dan  menemukan  situs-situs yang relevan dengan bahan perkuliahan, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui  Internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.

  1. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN E-LEARNING

Petunjuk tentang manfaat penggunaan Internet, khususnya dalam pendidikan  terbuka  dan  jarak  jauh  (Elangoan,  1999;  Soekartawi,  2002; Mulvihil, 1997; Utarini, 1997), antara lain:

Pertama ,  Tersedianya  fasilitas  e-moderating   di  mana  dosen  dan mahasiswa  dapat  berkomunikasi  secara  mudah  melalui  fasilitas  Internet secara  regular   atau  kapan  saja  kegiatan  berkomunikasi  itu  dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu.                                                                                                                                   Kedua , Dosen dan mahasiswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui Internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari.                                                                       Ketiga , Mahasiswa dapat belajar atau me review  bahan perkuliahan setiap  saat  dan  di  mana  saja  kalau  diperlukan  mengingat  bahan  ajar tersimpan di komputer.                      Keempat ,  Bila  mahasiswa  memerlukan  tambahan  informasi  yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet secara lebih mudah.     Kelima ,  Baik  dosen  maupun  mahasiswa  dapat  melakukan  diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.                                                                    Keenam,  Berubahnya  peran  mahasiswa  dari  yang  biasanya  pasif menjadi aktif dan lebih mandiri.                                                                                                                   Ketujuh,  Relatif  lebih  efisien.  Misalnya  bagi  mereka  yang  tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional. Walaupun  demikian  pemanfaatan  internet  untuk  pembelajaran atau e-learning  juga  tidak  terlepas  dari  berbagai  kekurangan.  Berbagai kritik (Bullen, 2001, Beam, 1997), antara lain.                                                      Pertama , Kurangnya interaksi antara  dosen  dan  mahasiswa  atau  bahkan  antar  siswa  itu  sendiri.  Kurangnya  interaksi  ini  bisa  memperlambat  terbentuknya  values  dalam proses  pembelajaran.                                                                                                                    Kedua ,  Kecenderungan  mengabaikan  aspek akademik  atau  aspek  sosial  dan  sebaliknya  mendorong  tumbuhnya aspek  bisnis/komersial.                                            Ketiga ,  Proses  pembelajarannya  cenderung  ke arah  pelatihan  daripada  pendidikan.  Keempat ,  Berubahnya  peran  dosen dari  yang  semula  menguasai  teknik  pembelajaran  konvensional,  kini juga  dituntut  mengetahui  teknik  pembelajaran  yang  menggunakan  ICT.                                                                                                              Kelima ,  Mahasiswa  yang  tidak  mempunyai  motivasi  belajar  yang  tinggi cenderung gagal.                                                                                                                                 Keenam, Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet.                                                         Ketujuh, Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilanmengoperasikan  internet. Kedelapan ,  Kurangnya  personil  dalam  hal penguasaan bahasa pemrograman komputer.

204

Prinsip Dan Posedur Berbahasa Secara Tertulis

tps://docs.google.com/document/d/menulis/

Prinsip dan Prosedur Berbahasa secara Tertulis

Pengertian dan Konsep Menulis, Karekteristik Menulis, Tahap-tahap Menulis, dan Jenis-Jenis Tulisan

  1.  Pengertian  dan Konsep Menulis

Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara mengkomunikasikan dan mengatur ( Donn  Byrne. 1988:1) Sejalan dengan itu, menurut Lado (1964:14) menulis adalah meletakkan simbol grafis  yang mewakili bahasa yang dimengerti orang lain. Jadi, orang lain dapat membaca simbol grafis itu,  jika mengetahui bahwa itu menjadi bagian dari ekspresi bahasa. Semi (1990: 8)  juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnyamerupakan pemindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa.                                                                                                                                                            Menurut Jago Tarigan (1995:117) menulis berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Sarana mewujudkan hal itu adalah bahasa. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimegerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. Menulis bukan sesuatu yang diperoleh secara spontan, tetapi memerlukan usaha sadar “menuliskan” kalimat dan mempertimbangkan cara engkomunikasikan dan mengatur.  Semi (1990:8) juga mengatakan bahwa menulis pada hakikatnya merupakan emindahan pikiran atau perasaan ke dalam bentuk lambang bahasa. Menurut Gere (1985:4), menulis dalam artikomunikasi ialah menyampaikan pengetahuan atau informasi tentang subjek. Menulis berarti mendukung ide. Byrne (1988: 1), mengatakan bahwa menulis tidak hanya membuat satu kalimat atau hanya beberapa hal yang tidak berhubungan, tetapi menghasilkan serangkaian hal yang teratur, yang berhubungan satu dengan yang lain, dan dalam gaya tertentu. Rangkaian kalimat itu bisa pendek,berupa dua atau tiga kalimat. Akan tetapi, kalimat tersebut disusun secara teratur dan saling berhubungan (padu). Crimmon (1984.191), berpendapat bahwa menulis adalah kerja keras, tetapi juga merupakan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang diri sendiri atau mengomunikasikan gagasan kepada orang lain, bahkan mempelajari sesuatu yang belum diketahui.  Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis  dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas jenisnya agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan bahasa  yang dimiliki penulis.                                                                                                 Mengombinasikan dan menganalisis setiap unsur kebahasaan dalam sebuah karangan merupakan suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akan terlihat sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis dalam menciptakan sebuah karangan yang efektif. Kosakata dan kalimat yang digunakan dalam kegiatan menulis harus jelas agar mudah dipahami oleh pembaca. Di samping itu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat menentukan arah penulisan sebuah karya tulis atau karangan yang berkualitas. Dengan kata lain, hasil sebuah karangan yang berkualitas umumnya ditunjang oleh keterampilan kebahasaan  yang dimiliki seorang penulis.

Menulis sebagai Keterampilan Diskrit.  Kata ‘diskrit’ diadaptasi dari bahasa Inggris ‘discrete’ yang artinya terpisah atau tersendiri.  Bila pengertian ini dikaitkan dengan keterampilan berbahasa, maka kitadapat mengartikannya keterampilan berbicara sebagai keterampilan tersendiri yang terintegrasi dengan keterampilan berbahasa yang lain (membaca, menyimak, dan menulis).

  1. Karakteristik Keterampilan Menulis

Setiap guru keterampilan menulis harus sudah memahami karakteristik keterampilan menulis  karena sangat menentukan dalam ketepatan penyusunan perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian keterampilan menulis. Sudah dapat dipastikan tanpa memahami karakteristik keterampilan menulis guru yang bersangkutan tak mungkin menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran menulis yang akurat, bervariasi, dan menarik.  Ada empat karakteristik keterampilan menulis yang sangat menonjol, yakni;

  1.  keterampilan menulis merupakan kemampuan yang kompleks;
  2.  keterampilan menulis condong ke arah skill atau praktik;
  3.  keterampilan menulis bersifat mekanistik;
  4.  penguasaan keterampilan menulis harus melalui kegiatan yang bertahap atau akumulatif.

Keterampilan menulis menuntut kemampuan yang kompleks. Penulisan sebuah karangan yang sederhana sekalipun menuntut kepada penulisnya kemampuan memahami apa yang hendak ditulis dan bagaimana cara menulisnya. Persoalan pertama menyangkut isi karangan dan persoalan kedua menyangkut pemakaian bahasa serta bentuk atau struktur karangan. Pembelajaran keterampilan menulis yang tidak memerhatikan kedua hal tersebut di atas pasti akan mengalami ketidakberesan atau kegagalan. Keterampilan menulis lebih condong ke arah praktik ketimbang teori. Ini tidak berarti pembahasan teori menulis ditabukan dalam pengajaran menulis. Pertimbangan antarpraktik dan teori sebaiknya lebih banyak praktik dari teori. Keterampilan menulis bersifat mekanistik. Ini berarti bahwa penguasaan keterampilan menulis tersebut harus melalui latihan atau praktik. Dengan perkataan lain semakin banyak seseorang melakukan kegiatan menulis semakin terampil menulis yang bersangkutan. Karakteristik keterampilan menulis seperti ini menuntut pembelajaran menulis  yang memungkinkan siswa banyak latihan, praktik, atau mengalami berbagai pengalaman kegiatan menulis.

Di samping kegiatan menulis harus bervariasi juga sistematis, bertahap, dan akumulatif. Berlatih menulis yang tidak terarah apalagi kurang diawasi guru membuat kegiatan siswa tidak terarah bahkan sering membingungkan siswa. Mereka tidak tahu apakah mereka sudah bekerja benar, atau mereka tidak tahu membuat kesalahan yang berulang. Latihan mengarang terkendali disertai diskusi  sangat diperlukan dalam memahami dan menguasai keterampilan menulis.

3.    Tahap-Tahap Menulis

  1.  Perencanaan Karangan

Menurut Sabarti dkk.  (1995:6),secara teoretis proses penulisan meliputi tiga tahap utama, yaitu prapenulisan, penulisan, dan revisi. Ini tidak berarti bahwa kegiatan menulis dilakukan secara terpisah-pisah. Pada tahap prapenulisan kita membuat persiapan-persiapan yang akan digunakan pada enulisaan. Dengan kata lain, merencanakan karangan. Berikut ini dibahas cara merencanakan menulis/karangan.

  1. Pemilihan Topik

Kegiatan yang mula-mula dilakukan jika menulis suatu karangan menentukan topik. Hal ini untuk menentukan apa yang akan dibahas dalam tulisan. Ada beberapa yang harus dipertimbangkan dalam memilih topik yaitu;

1)  topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas. Ada manfaatnya mengandung pengertiam bahwa bahasan tentang topik itu akan memberikan sumbangan kepada ilmu atau propesi yang ditekuni, atau berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Layak dibahas berarti topik itu memang memerlukan pembahasan dan sesuai dengan bidang yang ditekuni.

2)  topik itu cukup menarik terutama bagi penulis;

3)  topik itu dikenal baik oleh penulis;

4) bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai;

5)  topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Setelah berhasil memilih topik sesuai dengan syarat-syarat pemilihan tersebut, yang akan dilakukan selanjutnya membatasi topik. Proses pembatasan topik da-pat dipermudah dengan membuat diagram pohon atau diagram jam.  

Ide induk yang menjadi benih atau pangkal awal sesuatu karangan yang akan ditulishendaknya juga dikembangkan (diperinci). Setelah ide induk dikembangbiakkan sampai cukup tuntas. Langkah berikutnya ialah memilih salah satu di antara perincian ide yang muncul untuk dijadikan topik karangan dan topik yang dipilih sebagai pembatasan keluasan materi dengan sebuah tema tertentu. Jadi, berdasarkan topik dan tema inilah yang menjadi pembicaraan dalam karangan.

Langkah terakhir yang perlu dilakukan pengarang ialah menguraikan rumusan kalimat utama menjadi sebuah garis besar karangan. Garis besar, rangka atau disebut juga  outline  adalah suatu rencana kerangka yang menunjukkan ide-ide yang berhubungan satu sama lain secara tertib untuk kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan yang lengkap dan utuh.

Berikut, secara ringkas proses ide induk menjadi garis besar karangan dikem-bangkan melalui enam langkah sebagai berikut. Konsep dasar menulis menurut Logan (1972: 104-105)  merupakan sarana berkomunikasi yang mencakup hal berikut:

Langkah  Aktivitas Pengarang  Pengarang Hasil

  1. Menemukan ide yang akan diungkapkan menjadi karangan ide pokok
  2. Menemukan ide yang akan  pencian ide
  3. Memilih salah satu ide menjadi topik karangan topik
  4. Membatasi topik dengan salah satu, yaitu segi/unsur/faktor tema
  5. Merumuskan topik berikut temanya dalam sebuah pokok pernyataan kalimat ide
  6. Menguraikan rumusan ide pokok menjadi rangka garis besar karangan

Setelah mengetahui cara-cara memulai dan teknik memberikan nafas ke dalam tulisan. Sekarang Anda melangkah ke proses penulisan.Pada tahap ini, Anda hanya membangun  suatu fondasi untuk topik yang berdasarkan pada engetahuan, gagasan, dan pengalaman.

Adapun proses penulisan tersebut sebagai berikut.

1) Draf kasar; membuat draf dimulai dengan menelusuri dan mengembangkan gagasan-gagasan. Pusatkan pada isi daripada tanda  baca, tata bahasa, atau ejaan. Ingat untuk menunjukkan bukan memberitahukan saat menulis.

2)  Berbagi; sebagai penulis kita sangat dekat dengan tulisan sehingga sulit untuk menilai secara objektif. Oleh sebab itu, kita perlu meminta orang lain untuk membaca dan memberikan umpan balik. Mintalah seorang teman membacanya dan mengatakan bagian mana yang benar-benar kuat dan menunjukkan ketidakkonsistenan, kalimat yang tidak jelas, atau transisi yang lemah. Inilah beberapa petunjuk untuk berbagi.

3) Perbaikan (revisi);  setelah mendapat umpan balik dari teman tentang mana yang baik dan mana yang perlu digarap lagi, ulangi dan perbaikilah. Ingat bahwa penulis adalah tuan dari tulisan Anda jadi Andalah yang membuat umpan balik itu. Manfaatkan umpan balik yang dianggap membantu. Ingat tujuan menulis adalah membuat tulisan sebaik mungkin.

4) Menyunting (editing); inilah saatnya untuk membiarkan “editor” otak kiriberperan. Pada tahap ini, perbaikilah semua kesalahan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca. Pastikanlah semua transisi berjalan mulus, penggunaan kata kerja tepat, dan kalimat-kalimat lengkap.

5) Penulisan kembali; tulis kembali tulisan Anda, masukkan isi yang baru dan perubahan-perubahan penyuntingan.

6) Evaluasi; periksalah kembali untuk memastikan bahwa Anda telah menyelesaikan apa yang Anda rencanakan dan apa yang ingin Anda. sampaikan. Walaupun ini merupakan proses yang terus berlangsung, tahap ini menandai akhir proses menulis.

Kegiatan menulis dapat dianalogikan seperti seorang arsitektur akan membangun sebuah gedung, biasanya ia membuat rancangan terlebih dahulu dalam bentuk gambar di atas kertas.

Demikian pula seorang penulis, membuat kerangka tulisan atau  outline  merupakan kebiasaan yang perlu dipupuk terus untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang baik. Penulis dalam hal ini diibaratkan sebagai seorang arsitek bahasa, yang selain mengetahui bagaimana membangun sebuah tulisan secara utuh, ia tidak boleh mengabaikan dasar-dasar penulisan.

Diari atau Buku Harian

Buku harian adalah sebuah catatan pribadi yang berisi kegiatan sehari-hari. Buku harian ini berisi antara lain:  kejadian atau peristiwa yang dialami penulis setiap hari, pikiran atau permasalahan yang sedang dihadapi penulis setiap hari, dan apa  saja yang ingin dituliskan ke dalam sebuah media.

Buku harian biasa memuat antara lain:

1)  Tanggal, bulan, dan tahun peristiwa

2)  Tempat terjadinya peristiwa

3)  Waktu terjadinya peristiwa

4)  Isi peristiwa

5)  Hikmah/refleksi atas peristiwa

Teknik Penulisan Buku Harian

  1. Catatlah peristiwa-peristiwa penting saja

  2. Urutkan peristiwa dengan rujukan waktu

  3. Tulislah kalimat-kalimat yang jelas dan ringkas

  3. Buatlah judul sesuai dengan isi karangan

  4. Panjang karangan 150 kata (20 baris)

Contoh Catatan harian:

Memo

Surat Memo sebenarnya merupakan singkatan dari surat memorandum. Namun, masyarakat lebih umum mengenal sebagai memo saja. Surat memo adalah sebuah surat yang isinya sangat singkat dari seorang pejabat atau atasan ditujukan kepada pejabat atau atasan lain, dan  kepada bawahannya yang masih dalam satu instansi. Isi dari  surat memo biasanya tentang pemberitahuan, permintaan akan saran-saran tertentu, pesan singkat, dan perintah atau instruksi kepada bawahannya. Karena hanya berlaku dalam satu instansi, tidak jarang surat memo hanya ditulis tangan tanpa cap dan kop surat. Surat memo biasanya bersifat mendadak dan keadaan terpaksa. Oleh karena itu, untuk alasan kepraktisan biasanya sebuah instansi menyediakan  form  surat memo  dalam ukuran kertas kuarto / A5.

Senin, 3 Agustus 2009

Waktu Saya pulang dari Sekolah, niatnya ingin belajar kelompok bersama temen-temen. Ketika belajar kelompok mau dimulai, tapi ada salah satu temenku yang belum datang. Terpaksa Saya dan temen-temen harus menunggunya, dan agar tidak bosan kami pun menunggu di sawah dekat dengan rumah tersebut. Kami pun menunggu cukup lama. Tetapi karena kelamaan menunggu kami malah tidak jadi belajarnya, dan malah bermain sepak bola di Lapangan sawah.

Rabu, 4 Agustus 2009

Ketika Saya pulang dari Sekolah, Saya dan teman-teman di halaman rumah bercerita tentang hal-hal yang menyeramkan/hantu. Hii..seremm.. Tetapi karena cerita tersebut, salah satu temenku ada yang malah ketakutan dan tidak berani pulang ke rumah sendiri.Begitu juga dengan Saya, karena cerita hantu saya menjadi takutt.. hii.. Serreemm..

Memo adalah tulisan singkat, padat, dan jelas yang ditujukan kepada  seseorang, serta bersifat informal. Biasanya penulisan tidak lebih dari sepuluh baris. Penulisannya bisa ditik atau ditulis tangan. Memo digunakan untuk mengingatkan atau menegaskan tentang suatu hal/urusan.

Adapun isi memo berupa pemberitahuan, permintaan, instruksi, saran, pesan, atau tugas tertentu. Seperti halnya surat biasa, memo mempunyai bagian-bagian seperti kepala, badan, dan kaki memo.

1)  Kepala /nama

2)  Alamat

3)  Lambang atau logo Instansi

4)  Badan/ isi pesan singkat ( memberikan perintah, informasi atau laporan)

5)  Kaki memo   

6)  Tanda tangan dan nama jelas pembuat memo

Langkah-Langkah Penulisan Memo:

1)  menyiapkan blangko memo yang akan digunakan;

2)  penulisan boleh diketik atau ditulis tangan;

3)  menyampaikan pesan/instruksi dengan bahasa yang tepat dan singkat;

4)  menandatangani dan menyertakan nama jelas pembuat memo;

5)  mengirim memo kepada orang yang di maksud.

Berikut ini contoh memo.

SMA Negeri 78

 Jalan Bhakti VI/1, Komp. Pajak, Kemanggisan

JAKARTA BARAT

Dari      :   Kepala Sekolah

Kepada:   Nabilla, MPd.  (Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum)

Mohon Saudara mewakili saya untuk mengikuti rapat dinas di kantor Dinas  Pendidikan dan Kebudayaan  Jakarta Barat yang akan diselenggarakan pada:

hari: Senin

tanggal: 21 Juli 2015

pukul: 10.00 WIB

tempat: Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Barat

acara: Persiapan penerimaan siswa baru

Mohon untuk dilaksanakan dengan sebaik – baiknya. Terima kasih.

Jakarta, 21 Juli 2015

Kepala Sekolah

Andriani, MPd..

 

PRINCIPAL ROLE IN THE FIELD OF SCHOOL LIBRARY SERVICE By Papa Ovi aishiteru Arema

        The school principal as educational administrators should know how to manage the school library that meets the standards, so the library can be used optimally. It is the responsibility of principals to take leadership in developing school libraries that meet the standards.Thus the principal should consider the following matters: 

(1) school library should be located under the “direction” man / school staff are well trained and well educated in the library field,(2) the school library should have a number of “reference” enough (including encyclopedias, atlases, dictionaries and the like), a number of books of all subjects taught in school (which should be used as supplementary reading students) and common materials are selected according to the interests and needs,  (3) using an adequate system of a particular classification, where the collection (books) are classified, on the label, and in “Shelving” based system,       (4) presence of adequate supplies in the shape of the room, equipment and materials for repair, it also disampinng “road enter “accessioning”,  (5) complete and spell out a “record system” that includes borrowing and repayment records, records of books hilanng, damaged or removed. (6) complete with a number of facilities for the purchase of books, including publications and other information about the new books are published,  (7) of equipment for students, including a complete schedule.
Perpuskaan to manage the school, principals should also understand the areas related to the library. These areas include: the area of ​​”personnel”, “service”, “using and the user” (as proposed by the Guidelines for Implementation of Rusina Syahrial School Library).In the Field “personnel” Principal must understand the qualifications of personnel who will have the ability orgasisator, administrator, librarian, as well as personnel deorang-worker not only despenser of books alone.
The success of the school library as a means of supporting education and teaching in schools is dependent on the qualifications of the personnel’s own library. Given this, one, a school principal should pay attention to the personnel and management, namely: (1) choose a leader or head of the library is not just as a divider book (dispenser of books), but more than that is a library leader, organizer, teacher, administrator, and a personnel-worker;. Besides, it not only as a “librarian” who are trained and educated in the field of libraries, but also must know and understand how to provide stimulation to the students and teachers to utilize the maximum use of the library, (2) menggembangkan library representative organization of students in the student peerintahan (OSIS) and an election committee of the student library.
In the field of “service” as the chief Sekoplah [rogramere implementation of education at the school, the principal task in the field of “service” will come to fruition apabiola consider the following: (1) recognize, understand and develop the role of libraries in order to develop a program teaching, (2) know the community, state, national library institutions dam,          (3) provide adequate and attractive, the room / library building and equipment, (4) develop a schedule to the library service so that more effective services,  (5) assist the leadership of the library schools in mengembagkan policy, drafters of staff, and discipline in the library.  (6) The school principal has the responsibility to stimulate and guide staff working with the leadership, as well as forming the ‘library-committes “to select and order new books for the library materials collection to decide which ones should be” removed “from the library for classroom teaching, and help develop regulation / order and scheduling;  (7) Provide adequate fee based on the annual budget, also with a workable plan (aplicable)
In the Field “and the user using” the principal needs to pay attention to the issue of use (using) the school library primarily addressed to “user” (the students). Need instructions tentanng use books, how to find books that are needed, use the book catalog, the use of reference books, as well as the creation and placement of bibliographic records. Hence the use of school libraries should: (1) the head of the school library to take the time to make observations on the ability of students to use library materials and scope of its use,  (2) the principal expects to all school staff to always know the library and how use of library materials for teaching and learning activities,  (3) the principal has always held a reading guidance in advancing students’ reading and hold a “cheking” with the leadership of the library.  (4) the principal tried to develop the use of school libraries to carry out supervision of the teachers teaching.
The final activity of the library management is the evaluation of school libraries. Library evaluation should be based on criteria related to library staff, library use by students, administration and library organizations, the selection of library materials, and special characteristics of the material library services, school. For schools that have implemented ISO management, bureaucratic system run to its full potential still remains without subtracting the criteria in the evaluation in the school library.

Sekedar Catatan referensi bahasa Indonesia

                Berdasarkan sejarah Bahasa Indonesia termasuk dalam rumpun proto bahasa Austronesia atau Melayu -Polinesia[1]. Bahasa Indonesia berada dalam posisi antara Melayu dan Australia. Seperti dikatakan Alfred Russel Wallace dalam Malay Archipelago dan Jan Huyghen van Linschoten dalam Itinerario  bahwa Malaka yang berada di semanjung Sumatera merupakan kawasan berkumpulnya nelayan dari berbagai Negara. Posisi ini memungkinkan bahasa Indonesia menerima pengaruh dari luar, sehingga pada perkembangannya,  bahasa Indonesia tidak luput dari pengaruh geografis bahasa serumpun. Setiap kali kontak antarbahasa lewat penggunanya menimbulkan tarik menarik dan saling mempengaruhi bahasa.  Peminjaman istilah, penyerapan kata, dan penggunaan kata-kata asing yang belum dibakukan menjadi hal yang biasa. Mulai dari tataran bunyi, kosa kata hingga struktur kalimat. Selain itu munculnya variasi bahasa dalam percakapan harian dapat menciptakan kosa kata  dan bentuk bahasa baru serta pergeseran makna.

Fenomena bahasa Indonesia di atas mengimplikasikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang terbuka. Bahasa yang terlahir dari proses penciptaan dan kreativitas pemakaianya. Kreativitas tersebut dapat menimbulkan dampak positif dan negative terhadap eksistensi bahasa Indonesia. Di satu sisi keadaan demikian memperkaya khasanah progesivitas bahasa Indonesia, sementara di sisi lain realita tersebut mengancam resistensi dan konsistensi bahasa Indonesia. Boleh jadi, keterbukaan bahasa ini dapat mereduksi identitas bahasa Indonesia. Karakter dan ciri khas bahasa Indonesia tidak lagi menjadi suatu kebanggaan bagi penggunanya. Bukan tidak mungkin bahasa Indonesia akan ditinggalkan oleh penggunanya dan lambat laun akan punah, terjadilah kematian bahasa. Penegasan tersebut didukung dalam realita sehari-hari bahasa Indonesia ‘hampir’ tersingkir oleh bahasa daerah dan bahasa asing. Seperti sering kita jumpai tulisan-tulisan pada media cetak dan elektronik baik berisi iklan, berita, maupun informasi lain yang mana terdapat penggunaan bahasa-bahasa serapan baik daerah ataupun asing. Dalam komunikasi pun bahasa Indonesia kurang mendapatkan tempat yang ‘tenang’. Masyarakat lebih senang dan bahkan bangga menggunakan bahasa campuran (asing) agar terlihat lebih menarik dan memiliki wawasan luas hingga melupakan bahasa sendiri (Indonesia). Pada gilirannya berkembanglah masyarakat bilingualist dwibahasawan, orang yang menggunakan dua bahasa.

Dengan demikian akan semakin jelas dan tegas mengancam tidak hanya identitas bahasa Indonesia melainkan pula identitas bangsa, karena bahasa itu menunjukkan bangsa. Padahal telah kita ketahui bersama bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, sebagaimana tertuang dalam teks sumpah pemuda. Bahasa Indonesia menunjukan jatidiri bangsa indonesia. Deklarasi sumpah pemuda bukan hanya sebagai simbol persatuan bangsa Indonesia belaka tetapi juga tonggak lahirnya identitas dan karakter bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan bahasa Indonesia.

Semenjak itu BI mengaIami perkembangan yang cukup pesat. Mulai dari percakapan non-formal hingga percakapan formal, masyarakat Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dalam bermkomunikasi antardaerah dan antarsuku. Komunikasi antardaerah tersebut mendorong intensitas pertemuan-pertemuan antar kelompok sehingga lahirlah oraganisasi dan lembaga yang menggeluti bahasa. Selain itu munculnya sastrawan-satrawan menunjukkan eksistensi bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Adanya periodesasi angkatan sastrawan mulai Pujangga Lama, Sastra “Melayu Lama”, Angkatan Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan 50-an, Angkatan 66-70-an, Dasawarsa 80-an, hingga Angkatan Reformasi menjadi bukti perhatian besar masyarakat Indonesia terhadap bahasanya.

Selanjutnya, secara tata bahasa bahasa Indonesia, dalam proses perjalanannya, bahasa Indonesia mengalami perkembangan dan penyempurnaan yang cukup dinamis. Mulai penyempurnaan ejaan, peminjaman istilah asing dan daerah, penyerapan kosa kata hingga penambahan konsep-konsep gramatikal. Bahkan, kini seiring dengan berkembangnya ilmu teknologi, bahasa Indonesia banyak meminjam dan menyerap kata-kata asing  sebagai bukti sulitnya mencari padanan kosa kata dalam tata bahasa bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa Indonesia asli (bukan serapan) di bidang teknologi ini semakin jarang ditemukan. Hal  ini berdampak pada lahirnya bahasa Indonesia ‘baru’, artinya bahasa Indonesia yang banyak mengandung unsur-unsur bahasa asing baik pengucapan, bentuk,maupun konsep gramatikal.

Fenomena BI yang cukup memprihatinkan ini dapat mereduksi peningkatan kesadaran berbahasa di kalangan lingkungan pendidikan, seperti dalam hal pengajaran di sekolah-sekolah yang bertaraf Internasional, yang manasejumlah sekolah menggunakan bahasa pengantar bahasa Ingris dalam setiap pelajaran. Bobot pelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulam SBI sangat kecil, kesempatan siswa berkomunikasi saat proses pembelajaran pun masih terasa kurang. Misalnya ketika siswa bertanya, menjawab, atau mengugkapkan pendapat saat diskusi, mereka lebih banyak  menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Bahkan yang sungguh ironis tatkala guru pengampu matapelajaran bahasa Indonesia menjelaskan dan memberikan materi pelajaran bahasa Indonesia dengan mengggunakan bahasa Inggris. Lalu bagaimana dan kemana nasib BI?

Bahasa akan bertahan dan berkembang tergantung dari masyarakat penggunanya. Bahasa yang digunakan oleh sekelompok masyarakat dapat menunjukkan identitas dan karakter masyarakat tersebut. Bahasa mencerminkan budaya suatu bangsa, karena bahasa merupakan hasil olah pikir manusia (Safir-Whorf, ). Demkian pula dengan bahasa Indonesia,  masyarakat Indonesia sudah  sepatutnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar demi mempertahankan dan melestarikan bahasa Indonesia, sekaligus melestarikan budaya bangsa Indonesia.

 

 

 

 

MITOS MEMBACA

MITOS MEMBACA
LAGU BINTANG KECIL
BINTANG KECIL DI LANGIT YANG BIRU
AMAT BANYAK MENGHIAS ANGKASA
AKU INGIN TERBANG DAN MENARI
JAUH TINGGI KE TEMPAT KAU BERADA

MITOS BACA ITU ADA EMPAT
BACA ITU SULIT
TAK BOLEH MENUNJUK
NOMER TIGA BACA KATA PER KATA
AGAR PAHAM BACA HARUS PELAN/LAMBAT

IDE BARU MEMBACA “LAGU BALONKU ADA LIMA”