STANDARDISASI PERPUSTAKAAN SEBUAH GAMBARAN OLEH: NURIL ANWAR .SPd

Standadisasi berasal dari kata dasar “standar” mendapat sufiks “isasi” yang mengandung nosi/arti “membuat jadi”. Dalam hal ini standardisasi dimaksudkan seperangkat langkah-langkah untuk membuat jadi ”Perpustakaan Sekolah yang standar” Karena itu standardisasi dalam tulisan sederhana ini memberi gambaran ”perpustakaan sekolah yang standar berdasarkan ” Badan Standardisasi Nasional, Standar Nasional Indonesia : Perpustakaan Sekolah, 2010”.
Perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar dan bagian integral dari sekolah bersama-sama dengan sumber belajar lainnya bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. SNI 7329:2009 tentang Perpustakaan Sekolah dimaksudkan untuk menyediakan acuan tentang manajemen perpustakaan yang berlaku pada perpustakaan sekolah baik negeri maupun swasta yang meliputi pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Pemerintah menetapkan kebijaksanaan khususnya dalam pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan informasi bagi semua masyarakat Indonesia yang diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan bangsa serta meningkatkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan. Mengingat betapa pentingnya keberadaan perpustakaan di pedesaan sebagai salah satu sarana/media yang amat efisien dan efektif untuk mendapatkan informasi, maka dipandang perlu untuk mengetahui penyelenggaraan pepustakaan Desa/Kelurahan, dan hal ini didukung dengan adanya SNI 7596:2010 tentang, Perpustakaan Desa/Kelurahan yang dimaksudkan untuk menyediakan acuan tentang organisasi dan penyelenggaraan, koleksi layanan, tenaga serta sarana prasarana yang berlaku pada perpustakaan desa.
Ruang lingkup Standar perpustakaan sekolah ini menetapkan dasar pengelolaan perpustakaan sekolah. Standar ini berlaku pada perpustakaan sekolah baik negeri maupun swasta yang meliputi :                                                                          (1) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat;                                      (2). Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.Misi perpustakaan sekolah yaitu :                    ( 1)Menyediakan informasi dan ide yang merupakan fondasi agar berfungsi secara baik di dalam masyarakat masa kini yang berbasis informasi dan pengetahuan;                                                                                                                               ( 2)Merupakan sarana bagi murid agar terampil belajar sepanjang hayat dan mampu mengembangkan daya pikir agar mereka dapat hidup sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Perpustakaan sekolah bertujuan menyediakan pusat sumber belajar sehingga dapat membantu pengembangan dan peningkatan minat baca, literasi informasi, bakat serta kemampuan peserta didik. Perpustakaan memperkaya koleksinya dan menyediakan materi perpustakaan dalam berbagai bentuk media dan format dalam rangka mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Perpustakaan sekolah mengembangkan koleksinya disesuaikan dengan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah. Dalam upaya meningkatkan minat baca, pengembangan koleksi diarahkan pada rasio satu murid sepuluh judul buku. Perpustakaan menambah koleksi buku per tahun sekurang-kurangnya 10% dari jumlah koleksi. Perpustakaan melanggan minimal satu judul majalah dan satu judul surat kabar yang terkait dengan kelangsungan proses pembelajaran.
Perpustakaan menyediakan buku pelajaran pelengkap yang sifatnya membantu atau merupakan tambahan buku pelajaran pokok yang dipakai oleh siswa dan guru. Perpustakaan wajib menyediakan bacaan yang mendukung kegiatan pembelajaran di sekolah yang meliputi koleksi non fiksi yang terkait dengan kurikulum dan koleksi buku fiksi dengan perbandingan 60 : 40
Koleksi materi perpustakaan referensi minimal meliputi kamus umum bahasa Indonesia dan kamus bahasa Inggris (untuk pendidikan dasar dan menengah), kamus bahasa daerah, kamus bahasa Jerman, Prancis, Jepang, Arab, Mandarin (untuk pendidikan menengah), kamus subyek, ensiklopedi, sumber biografi, atlas, peta, bola dunia, serta buku telepon.
Perpustakaan menyediakan akses sumber informasi elektronik termasuk internet. Pengolahan dan perawatan materi perpustakaan diorganisasikan agar dapat ditemubalik secara cepat dan tepat., dideskripsikan, diklasifikasi dan disusun secara sistematis dengan menggunakan : Pedoman deskripsi bibliografis; Bagan klasifikasi;Pedoman tajuk subjek dan atau tesaurus; Pedoman penentuan tajuk entri utama. Perawatan materi perpustakaan meliputi kegiatan yang bersifat pencegahan dan penanggulangan kerusakan.
Sumber Daya Manusia,: seperti:                                                                                                                                               (1) Kepala perpustakaan yang memimpin dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah. Kualifikasi kepala sekolah perpustakaan sekolah atau tenaga kependidikan dengan pendidikan minimal diploma dua di bidang ilmu perpustakaan dan informasi atau diploma dua bidang lain yang sudah memperoleh sertifikat pendidikan di bidang ilmu perpustakaan dan informasi dari lembaga pendidikan yang terakreditasi.                                                                                                          (2). Tenaga perpustakaan sekolah sebagai tenaga teknis berpendidikan minimal pendidikan menengah serta memperoleh pelatihan kepustakawanan dari lembaga pendidikan dan pelatihan yang terakreditasi.                                                                      Pengembangan sumber daya manusia Perpustakaan memberikan kesempatan untuk pengembangan sumber daya manusianya melalui pendidikan formal dan nonformal kepustakawanan.
Layanan Perpustakaan Perpustakaan minimal melakukan layanan antara lain :                                                                      (1). Layanan sirkulasi Jasa perpustakaan untuk meminjamkan materi perpustakaan bagi pengguna sesuai dengan ketentuan yang berlaku.                                                                                                                                                          (2). Layanan referensi Jasa perpustakaan dalam menjawab pertanyaan, menelusur dan menyediakan materi perpustakaan dan informasi sesuai dengan permintaan pengguna dengan mendayagunakan koleksi referensi.                                             (3). Pendidikan pengguna Kegiatan perpustakaan yang bertujuan menjadikan pengguna mampu mendayagunakan koleksi perpustakaan secara mandiri sesuai dengan kebutuhannya.
Jam buka perpustakaan, Waktu yang diberikan oleh perpustakaan untuk memberikan layanan kepada pengguna minimal delapan jam sehari.
Dalam Penyelenggaraan Perpustakaan Setiap sekolah menyelenggarakan perpustakaan sekolah, sebagai bagian integral dari sekolah berada di bawah tanggung jawab kepala sekolah. Dan sebagai sumber belajar, kedudukannya sejajar dengan sumber belajar lainnya. Perpustakaan sekolah juga merupakan unit kerja yang melakukan kegiatan/fungsi pengadaan, pengolahan, penyimpanan, dan pendayagunaan materi perpustakaan untuk mendukung pembelajaran.
Kegiatan dan fungsi tersebut dalam bidang perpustakaan dikelompokkan menjadi dua:                                                            (1). layanan teknis yaitu kegiatan pengadaan dan pengolahan materi perpustakaan;                                                           (2). Layanan pembaca yaitu kegiatan yang memberikan layanan kepada pengguna perpustakaan.
Untuk melaksanakan fungsi tersebut, perpustakaan sekolah dipimpin oleh kepala perpustakaan sekolah yang ditunjuk/ditetapkan berdasarkan surat tugas/surat keputusan kepala sekolah. Unit perpustakaan sekolah dalam struktur organisasi sekolah:                                                                                                                                                                   1.  STRUKTUR ORGANISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH (MAKRO) :                                                                                     2.  STRUKTUR ORGANISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI BERIKUT (SECARA MICRO):

Perpustakaan menyediakan ruang yang cukup untuk koleksi, staf dan penggunanya. Perpustakaan menyediakan ruang dengan luas sekurang-kurangnya untuk SD/MI 56 m², untuk SMP/MTS 126 m², SMA, MA, SMK dan MAK 168 m². Area koleksi seluas 45% dari ruang yang tersedia, area baca pengguna seluas 25% dari ruang yang tersedia, area staf perpustakaan seluas 15% dari ruang yang tersedia, area lain-lain seluas 15% dari ruang yang tersedia.
Perpustakaan menyediakan sekurang-kurangnya rak buku, lemari katalog, meja dan kursi baca, meja dan kursi kerja, meja sirkulasi, mesin tik/perangkat komputer dan papan pengumuman/pameran. Sekolah menjamin tersedianya anggaran perpustakaan setiap tahun sekurang-kurangnya 5% dari total anggaran sekolah di luar belanja pegawai dan pemeliharaan serta perawatan gedung. Perpustakaan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk keperluan pengguna. Perpustakaan menyelenggarakan kerjasama dengan pendidik serta kerjasama dengan perpustakaan dan atau badan lain untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Dari uraian di atas standardisasi perpustakaan sekolah diharapkan dengan kerja sama dengan pihak-pihak terkait, khususnya Kepala Srkolah, Perpustakaan Sekolah dapat menyelenggarakan perpustakaan yang sesuai dengan standar, atau paling tidak ada upaya melakukan pembenahan, sehingga perpustakaan akan semakin berkembang menuju perpustakaan yang lebih baik untuk melayani mayarakat. Selain itu penulis berpendapat bahwa standardisasi perputakaan sekolah dapat terwujud jika pemerintah secara aktif mendukung standardisasi ini dengan usaha-usaha penyediaan fasilitas sarana, prasarana, penambahan koleliksi buku, dan non buku, juga peningkatan kualitas perguruan tinggi jurusan perpustakaan.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Standardisasi Nasional, Standar Nasional Indonesia : Perpustakaan Sekolah, 2010.

KOMUNIKASI


Komunikasi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam berorganisasi. Hasil penelitian seorang pakar komunikasi menyimpulkan bahwa sekitar 75%- 90% waKepala Sekolah kerja digunakan pimpinan atau manajer untuk berkomunikasi. Jika dua orang atau lebih bekerjasama, maka perlu adanya komunikasi antar mereka. Makin baik komunikasi mereka, makin baik pula kemungkinan kerjasama mereka. Komunikasi yang efektif menuntut rasa saling: menghormati, percaya, terbuka, dan tanggung jawab. Leader atau manajer menyampaikan semua fungsi manajemen dan tugas manajemen melalui saluran komunikasi. Leader atau manajer melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian semuanya melalui komunikasi kepada bawahannya.
Demikian juga pemberian tugas-tugas seperti administrasi:
(a) peserta didik,
(b) tenaga pendidik dan tenaga kependidikan,
(c) keuangan,
(d) sarana dan prasarana,
(e) hubungan sekolah dengan masyarakat, dan
(f) layanan-layanan khusus juga dilakukan melalui komunikasi.
Keterampilan berkomunikasi dalam rangka membina hubungan sosial. Perusahaan besar Rockefeler di Amerika Serikat memberikan bonus khusus bagi pegawainya yang mempunyai kelebihan dalam berkomunikasi.
Modul ini membahas pengertian komunikasi, manfaat komunikasi, proses komunikasi, jalur komunikasi, bentuk komunikasi, prinsip-prinsip komunikasi, dan hambatan-hambatan komunikasi.
Komunikasi ialah proses penyampaian atau penerimaan pesan dari satu orang kepada orang lain baik langsung maupun tidak langsung, baik tertulis, lisan maupun bahasa isyarat. Seseorang yang melakukan komunikasi disebut komunikator. Orang yang diajak berkomunikasi disebut komunikan. Orang yang mampu berkomunikasi disebut komunikatif.
Proses komunikasi yang efektif terjadi jika pesan yang disampaikan cocok dengan yang diterima oleh penerima.
Jalur komunikasi dapat bersifat formal dan nonformal, tertulis dan lisan, perorangan dan kelompok. Jalur komunikasi formal tercermin dari Kepala Sekolah –struk organisasi formal, dan antara organisasi formal satu dengan lainnya.
Bentuk komunikasi dapat dilakukan dalam bentuk seperti berikut.
1. Komunikasi tunggal timbal balik
2. Komunikasi searah
3. Berantai (chain)
4. Komunikasi O (lingkaran)
5. Komunikasi Y
6. komunikasi roda (wheel)
7. komunikasi segala arah (star)
8.Komunikasi gosip
Ada beberapa hal yang dapat menjadi penghambat atau penghalang dalam proses berkomunikasi. Penghambat tersebut dikenal dengan istilah barrier, noises, atau bottle neck communication. (Verma, 1988).
Untuk menjadi komunikator dan komunikan yang baik, atasilah hambatan-hambatan komunikasi tersebut.
Di samping itu dalam berkomunikasi jadilah:
(1) pendengar yang baik,
(2) pembicara yang efektif,
(3)pembaca yang baik,
(4) penulis yang baik.

Pendengar yang baik
Jadilah ACTIVE LISTEN yaitu singkatan dari:
a. Attention (penuh perhatian)
b. Concern (tertarik)
c. Timing (pilih waKepala Sekolah yang tepat)
d. Involvement (merasa turut terlibat)
e. Vocal tones (irama suara memiliki saham 38% terhadap komunikasi)
f. Eyes contact (adakan kontak mata)
g. Look (lihat bahasa tubuh)
h. Interest (tunjukkan minat)
i. Summarize (singkat intisari pesan)
j. Territory (batasi hal-hal penting)
k. Empathy (penuh perasaan)
l. Nod (mengangguklah tanda Anda sudah memahami atau setuju).
(Verma,1988).

Pembicara yang baik
1)Kuasai materi yang akan dibicarakan
2)Buat sistematika pembicaraan (pembukaan, isi, dan penutup)
3)Usahakan isi pesan bermakna dan berkesan bagi pendengar
4)Siapkan diri agar tampil dalam keadaan segar bugar dan bersemangat.
5)Berpakaian yang sopan dan rapi
6)Timbulkan rasa percaya diri, anggap Andalah yang paling menguasai materi pembicaraan dibandingkan dengan pendengarnya.
7)Lakukan kontak mata untuk meningkatkan komunikasi
8)Konsentrasi pada materi pembicaraan.
9)Gunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami pendengarnya (disesuaikan dengan kemampuan pendengarnya)
10) Berbicara jangan terlalu cepat atau terlalu lambat.
11) Memberi tekanan nada suara (intonasi) pada bagian-bagian yang penting agar tidak monoton.
12) Gunakan variasi gerakan badan, dan mimik wajah
13) Gunakan multi media bervariasi pada presentasi
14) Adakan pertanyaan untuk umpan balik.
15) Gunakan homor seperlunya yang relevan dan sopan agar suasana menjadi tidak membosankan.
Albert Meharabian memberikan rumus komunikasi sebagai berikut. Pengaruh pesan keseluruhan = kata-kata (7%) + nada suara (38%) + mimik wajah (55%). Sebagai pembicara yang baik menurut Verma (1996) harus memenuhi tiga langkah:
(1) pendahuluan (katakan apa yang akan dikatakan),
(2) menerangkan (jelaskan sesuatu), dan
(3) ringkasan (sampaikan inti yang telah Anda katakan tadi).

Penulis surat yang baik
1)Kuasai substansi yang akan ditulis
2)Kuasai dan terapkan pedoman format surat dinas yang berlaku.
3)Kuasai bahasa.
(lihat Buku Surat-Menyurat Resmi Yang Baku,Drs. Soejito)

Pembaca yang baik

Gunakan PQRST atau SQ3R. Prereview (melihat keseluruhan bahan acaan biasanya melalui daftar isi), Questions (bertanya dalam hati, “Mana yang perlu dibaca atau mana yang dibutuhkan”.? . Read (Baca), Self-evaluation (adakan penilaian sendiri, bacaan mana yang cocok untuk diterapkan sesuai dengan sosial budaya kita), Test (uji penerapan bacaan itu berdasarkan data lapangan). Atau dapat pula menggunakan prinsip SQ3R yaitu Survey = prereview di atas, Question, Read, Review. Setiap leader atau manajer suka atau tidak suka selalu terlibat dalam rapat (meeting). Dalam rapat terjadi komunikasi. Agar komunikasi rapat efektif, Verma (1996) memberikan sarannya seperti singkatan GREAT berikut ini.
Goals (tujuan rapat harus memenuhi kriteria smart (specific, measurable, achievement, Results-oriented, and timely).
Roles and Rules; Peran dan aturan main dipatuhi.
Expectation (harapan haarus didefinisikan dengan jelas)
Agendas (agenda harus dibagikan)
Timely (waKepala Sekolah adalah uang menjadi sensitif bagi anggota untuk
mematuhi jadwal hadir. Tentukan jam berapa mulai dan berakhirnya rapat).

SIMPULAN
Komunikasi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam berorganisasi. Komunikasi ialah proses penyampaian atau penerimaan pesan dari satu orang kepada orang lain baik langsung maupun tidak langsung, baik tertulis, lisan maupun bahasa isyarat. Jalur komunikasi dapat bersifat formal dan nonformal, tertulis dan lisan, perorangan dan kelompok. Ada tujuh bentuk komunikasi. Ada beberapa hal yang dapat menjadi penghambat atau penghalang dalam proses berkomunikasi. Untuk menjadi komunikator dan komunikan yang baik, atasilah hambatan-hambatan komunikasi tersebut.
Di samping itu jadilah: (1) pendengar yang baik, (2) pembicara yang efektif, (3)pembaca yang baik, (4) penulis yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Verma, V.K. 1996. The Human Aspects of Project Management
Human Resource Skills for the Project Manager. Volume
Two. Upper Darby: Project Management Institute.

MENGGALANG DUKUNGAN MASYARAKAT

A.Upaya Menggalang Masyarakat
Hal yang perlu diperhatikan untuk menggalang dukungan masyarakat agar bersedia dan turut mendukung lembaga pendidikan adalah isu yang akan digunakan. Oleh sebab itu pemilihan isu yang tepat akan berpengaruh terhadap perhatian dan dukungan mereka terhadap sekolah. Sekolah perlu memiliki kepekaan yang tajam dalam menangkap isu yang ada dimasyarakat untuk diangkat menjadi isu pendidikan dalam rangka menggalang dukungan masyarakat terhadap pendidikan di sekolah. Isu yang menarik untuk dipakai sebagai upaya menggalang dukungan harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
1. Isu memang benar-benar penting dan berarti bagi masyarakat. Isu sebaiknya dalam lingkup yang terbatas lebih dahulu serta isu tersebut memiliki kekhasan. Misalnya isu tentang standar kelulusan ujian nasional mata pelajaran Bahasa Inggris, matematika dan bahasa Indonesia, isu ini tergolong terbatas hanya pada 3 (tiga) mata pelajaran, tetapi karakter/kekhasannya sangat menarik masyarakat untuk terlibat dalam isu tersebut.
2. Isu harus tetap mencerminkan adanya tujuan perubahan yang lebih besar dalam jangka panjang.
3. Isu yang diungkapkan memiliki landasan untuk membangun kerjasama lebih lanjut dimasa depan,
4. Apabila memungkinkan ajak beberapa tokoh masyarakat untuk merumuskan isu penting yang perlu diangkap sebagai dasar untuk membangun kerjasama dan dukungan.
Agar dukungan masyarakata terhadap lembaga pendidikan (sekolah) benar-benar memiliki Meaning fullness, maka kerjasama dengan kelompok pendukung tersebut harus benar-benar efektif. Ada beberapa Ciri-ciri kerjasama dalam suatu kelompok dengan para pendukung yang efektif, yaitu:
1. Terfokus pada tujuan atau sasaran yang disepakati.
2. Tegas dalam menetapkan jenis isu yang akan digarap/ditanggulangi serta diantisipasi bersama.
3. Ada pembagian peran dan tugas yang jelas diantara semua partisipan
4. Jaga dinamika dalam setiap proses kerjasama, karena itu kelenturan (fleksibilitas) harus benar-benar dijaga.
5. Adanya mekanisme komunikasi yang baik dan lancar, dan jelas, sehingga semua tahu harus menghubungi siapa tentang apa dan pada saat kapan serta dimana.
6. Dibentuk untuk jangka waktu tertentu yang jelas.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka ada beberapa saran yang perlu mendapatkan perhatian dan pertimbangan untuk menjaga tingkat efektivitas kerjasama tersebut di atas:
1. Hindari membentuk struktur organisasi formal, kecuali memang benar-benar dibutuhkan. Meskipun demikian suasana non formal dalam struktur formal harus tetap dijaga dan terpelihara. Dalam rangka membangun dukungan tidak perlu membentuk unit baru dalam struktur di sekolah, tetapi gunakan struktur yang ada untuk menangani kegiatan tersebut.
2. Delegasikan tanggung jawab dan peran seluas mungkin, kecuali pada hal-hal yang memang sangat strategis dan hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu. Hal ini untuk membangun partisipasi seluruh anggota organisasi, dengan keterlibatan semua orang maka rasa tanggung jawab keberhasilan juga akan tumbuh pada semua orang yang dilibatkan.
3. Setiap produk keputusan hendaknya hasil keputusan bersama, bukan hasil pemikiran seseorang. Berdayakan semua orang yang memiliki kompetensi untuk mengambil keputusan, dan sejauh mungkin memiliki data dan informasi yang valid dan akurat untuk keputusan yang akan diambil. Dengan demikian semua orang akan memahami secara mendasar kebijakan atau keputusan yang akan diambil.
4. Pahami berbagai kendala, kekurangan atau keterbatasan yang dimiliki semua pihak. Dengan kata lain lakukan SWOT analisis terhadap kelompok pendukung dan pihak lembaga pendidikan.
5. Ambil prakarsa dan inisiatif untuk selalu menghidupkan saluran komunikasi dengan semua pihak. Kegagalan pelaksanaan kegiatan, adanya saling curiga, tuduh menuduh dan lain-lain sering bukan disebabkan ketidak mampuan kepemimpinan, tetapi sebagai akibat buntunya komunikasi dengan semua orang.
Diskusikan dalam Kelompok:
Coba rumuskan isu-isu strategis, yang perlu dibangun dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat terhadap sekolah saudara. Tema yang ingin dicapai di sekolah adalah: peningkatan mutu pendidikan, peningakatan akses pendidikan, pengurangan angka DO.

B. Mempromosikan Sekolah Kepada Masyarakat
Seperti apa yang pernah dikatakan oleh pakar hubungan sekolah dengan masyarakat bahwa pemahaman masyarakat akan pendidikan akan menumbuhkan penghargaan, dan penghargaan mereka merupakan dasar tumbuhnya dukungan. Dalam pepatah yang sangat lazim digunakan masyakat kita bahwa : tak kenal maka tak saying, konsep tersebut memberikan pandangan kepada kita bahwa apabioa kita menginginkan lembaga kita dikenal masyarakat, maka kita harus melakukan kegiatan promosi kepada masyarakat tentang sekolah kita. Penitngnya promosi ini telah dilakukan oleh dunia usaha, sehingga tidak heran kalau perusahaan menganggarkan biaya promosi yang sangat besar. Promosi ini hendaknya dilakukan sejak awal anak-anak/putra-putri merekan masuk di sekolah atau bahkan sebelum mereka memasukkan anaknya ke sekolah kita. Beberapa hal penting yang harusnya kita promosikan adalah:
1. Prestasi yang sudah dicapai oleh sekolah, khsususnya prestasi akademik dan non akademik seperti tingkat prosentasi kelulusan, nilai ujian akhir nasional dibandingkan sekolah lain, prestasi lomba karya ilmiah dan lain-lain.
2. Keunggulan sekolah kita. Yang dimaksudkan keunggulan ini adalah segala sesuai (program atau kegiatan) yang berbeda dengan sekolah lain dan menjadi andalan bagi sekolah. Misalnya sekolah memiliki program keterampilan ICT, sedangkan sekolah lain tidak. Berarti sekolah kita memiliki keunggulan dalam kemampuan ICT bagi lulusannya. Hal ini harus dikomunikasikan oleh sekolah secara jelas kepada masyarakat. Keunggulan ini dapat pula disebut sebagai kehususan bagi sekolah yang tidak dimiliki oleh sekolah lain. Pemilihan keunggulan sekolah harus benar-benar dipikirkan oleh sekolah agar apa yang kita unggulkan betul-betul dapat dilihat oleh masyarakat sebagai suatu keunggulan, artinya keunggulan tersebut menjadi nilai tambah bagi siswa yang memilikinya, menjadi trend bagi masyarakat (misalnya sekarang yang menjadi trend adalah kemampuan ICT dan kepribadian, maka keunggulan tersebut memang dapat dilihat oleh masyarakat terhadap lulusan/siswa-siswa kita.
3. Ketersediaan berbagai sarana dan prasarana sekolah yang akan memberikan kontribusi dalam menghasilkan kualitas lulusan, misalnya sekolah memiliki laboraturium bahasa Inggris, laboraturium komputer dan internet, atau mungkin sekolah memiliki asrama khusus untuk siswa.
4. Lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah yang asri misalnya perlu dikomunikasikan secara jelas (misalnya dengan gambar) kepada masyarakat. Termasuk dalam kategori lingkungan ini adalah keamanan, ketertiban dan kenyamanan. Misalnya letak sekolah strategis karena bias dilewati oleh semua jalur kendaraan angkutan umum.
5. Jaminan kualitas pembelajaran yang dilakukan. Dalam hal ini misalnya sekolah mempromosikan bahwa: status akreditasinya adalah A, tenaga pengajar 80% berijazah S2, berpengalaman, sekolah menyiapkan lembaga konsultasi psikologi dlll. Tetapi apa yang diinformasikan harus keadaan obyektif, jangan membuat sesuatu untuk dipromosikan, tetapi kenyataan yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang dipromosikan.
Untuk lebih menjamin efektivitas kegiatan promosi sekolah, maka seharusnya dilakukan oleh suatu tim tertentu yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan promosi sekolah. Oleh sebab itu sebaiknya dalam struktur organisasi sekolah ada wakil kepala sekolah/bagian/unit yang mengelola kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Promosi ini hendaknya dilakukan secara terus menerus dengan menggunakan berbagai media yang ada ditengah-tengah masyarakat dan menjadi perhatian masyarakat.
Diskusikan dalam kelompok
Buatlah program promosi sekolah secara lengkap, mulai dari penitia sampai pada isi yang akan dipromosikan, siapa dan bagaimana mempromosikannya.

C. Peranan Manajer Pendidikan Menggalang dukungan Masyarakat
Untuk dapat mengaktifkan orang tua murid, tokoh tokoh masyarakat, komite sekolah dan stakeholders, salah satu strategi yang dapat ditempuh di luar badan-badan formal seperti komite sekolah adalah menarik perhatian masyarakat melalui mutu pendidikan yang dihasilkan oleh staf pengajar. Artinya hubungan akrab dengan masyarakat dimulai dengan memajukan dan menunjukkan mutu pendidikan yang meyakinkan mereka, hal ini dapat ditunjukkan melalui produk kualitas lulusan. Untuk itu disarankan untuk dilakukan beberapa langkah berikut:
1. Bina pengajar secara aktif, seringga mereka berdedikasi dan professional. Dalam kaitan ini maka kepala sekolah perlu mengembangkan budaya kerja yang berkualitas di lingkungannya. Budaya kerja harus dimulai oleh pimpinan untuk selanjutnya kembangkan suasana kerja (iklim kerja) yang kondusif sehingga melahirkan kemauan untuk bersikap dan bertindak professional oleh semua warga sekolah.
Dalam kaitan ini Suyata (1996) menyatakan bahwa karakteristik budaya kerja sekolah yang dapat membangun mutu adalah:
a. Kedisiplinan. Kedisiplinan semua warga sekolah merupakan salah satu cerminan/indikator budaya kerja di sekolah. Kedisiplinan tidak akan terbentuk secara otomatis, tetapi terbentuk melalui suatu proses. Dalam proses pembentukan kedisiplinan lebih banyak berlangsung secara imitasi atau peniruan. Karena itu maka agar terjadi imitasi yang baik harus dimulai dari kepala sekolah yang selalu mencerminkan sikap kedisiplinan dalam melaksanakan tugas-tugasnya di sekolah. Tidak akan pernah ada sekolah yang berdisiplin tinggi tanpa kepala sekolah yang berdisiplin. Dengan demikian kepala sekolah hendaknya menjadi contoh dan tauladan bagi semua warga sekolah.
b. Monitoring progress siswa, seberapa banyak frekuensi yang deprogram sekolah untuk memonitor progress yang diperoleh siswa, akan memberikan informasi yang selalu up to date tentang perkembangan siswa. Di samping itu perlu diperhatikan apa dan bagaimana proses monitoring tersebut di lakukan dan siapa yang diberi tanggung jawab untuk melakukan monitoring progress tersebut. Yang pasti monitoring perkembangan siswa harus dilakukan dan diinformasikan kepada pelanggan eksternal dan internal sekolah. Pada dasarnya masyarakat sebagai pelanggan eksternal mengharapkan informasi yang akurat dan up to date tentang perkembangan yang terjadi di sekolah setiap saat. Kebutuhan akan informasi ini ,menjadi peluang bagi sekolah untuk menjalin kerjasam yang harmonis.
c. Harapan yang tinggi terhadap siswa. Harapan yang tinggi terhadap performansi siswa dan warga sekolah perlu dibangun dan ditumbuh kembangkan agar dapat berfungsi sebagai penggerak bagi semua orang untuk mencapainya.
d. Focus perhatian warga sekolah pada proses pembelajaran. Semua warga sekolah harus berupaya memfokuskan perhatian bahwa prestasi sekolah dihasilkan dari proses pembelajaran, karena itu semua komponen harus mendukung terciptanyan proses pembelajaran berkualitas dari peran dan fungsinya masing-masing.
Untuk itu Niron (2001) menyatakan bahwa kepala sekolah harus memperhatikan beberapa hal pokok berikut ini agar dapat mencapai target mutu yaitu:
a. Mengidentifikasi pelanggan sekolah. Siapa pelanggan sekolah sebenarnya, Sallis (1993) menyatakan setiap orang di sekolah memiliki peran ganda yaitu sebagai pelayan sekaligus sebagai pelanggan, yaitu mereka sebagai pelayan untuk orang lain (guru terhadap muridnya), tetapi dia juga sebagai pelanggan pelayanan (guru dari pelayanan kepala sekolah). Untuk itu maka kepala sekolah sudah seharusnya memberikan pelayanan yang bermutu kepada semua staf sekolah. Sebab pada dasarnya staflah (guru-guru dan staf tata usaha) yang membuat kualitas menjadi baik atau menurun. Dengan demikian maka pelanggan internal ini perlu mendapat perhatian utama agar mereka mendapatkan kepuasan dalam bekerja. Kepuasan yang diperoleh pelanggan internal (guru dan siswa serta staf yang ada di lingkungan sekolah) akan memberikan pengaruh terhadap pelayanan yang mereka berikan terhadap pelanggan eksternal.
b. Mengidentifikasi kebutuhan pelanggan. Kepala sekolah perlu mengetahui secara jelas apa yang diinginkan oleh pelanggan, khususnya pelanggan internal yaitu guru-guru, staf dan siswa. Sebab merekalah sebenarnya ujung tombak bermutu tidaknya produk sekolah yang dihasilkan. Hal ini sangat strategis mengingat peran mereka selain sebagai pelanggan yang harus mendapatkan pelayanan dari kepala sekolah, mereka juga sebagai pelayan yang memberikan pelayanan kepada orang lain seperti guru kepada siswanya.
c. Menetapkan target produk yang diinginkan, khususnya kualitas produk yang ingin dicapai. Dari sisi menajamen pendidikan tampilan produk suatu sekolah menjadi citra bagi sekolah di tengah-tengah masyarakatnya. Produk yang berkualitas menjadi cerminan akan kualitas pelayanan yang diberikan. Hal yang harus disadari sepenuhnya oleh semua warga sekolah adalah bahwa pusat utama kegiatan di sekolah adalah pelayanan proses pembelajaran. Karena itu kualitas pembelajaran harus menjadi target utama perhatian kepala sekolah.
d. Mengembangkan misi, visi dan tujuan secara jelas.
Triguno (1977) menyatakan bahwa warna budaya kerja adalah suatu produktivitas berupa perilaku kerja yang dapat diukur seperti kerja keras, ulet, disiplin, produktif, tanggung jawab, bermotivasi, kreatif, inovatif, responsive dan mandiri. Ini berarti bahwa budaya kerja seperti terseburt merupakan dasar yanag akan menghasilkan kualitas proses kerja. Dengan demikian maka apabila seseorang ingin berkualitas kerja maka dia harus memiliki proses kerja yang berkualitas, proses kerja yang berkualitas hanya mungkin ada apabila seseorang memiliki budaya kerja.
2. Agar lebih berhasil dalam melakukan perubahan yang berorientasi pada mutu, Sukardi (2001) menyarankan kepada para kepala sekolah hendaknya mengakomodasi lima prasyarat penting untuk terjadinya Manajemen Mutu Terpadu. Implementasinya manajemen mutu menggunakan prinsip-prinsip ilmiah yaitu:
a. Penggunaan 4 langkah siklus yaitu: merencanakan (planning), melaksanakan (do), Mengontrol (controlling) dan bertindak (Action) atau oleh Deming sering disebut dengan singkatan PDCA.
b. Data emperik merupakan dasar dalam setiap pengambilan keputusan, menentukan prioritas dan perubahan-perubahan dalam organisasi. Tanpa data yang akurat dan valid maka keputusan yang diambil tidak akan memberikan dampak terhadap peningkatan mutu proses kegiatan serta hasilnya.
c. Melakukan prediksi, sebagai upaya antisipasi untuk lebih menyempurnakan produk di masa yang akan datang. Dengan demikian produk dan mutu yang dihasilkan akan selalu up to date dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta selalu unggul dibandingkan dengan pesaing lainnya.
d. Berfokus pada kepuasan pelanggan. Artinya bahwa segala kegiatan dan pelayanan harus selalu ditingkatkan secara terus menerus agar didapat kepuasan pelanggan. Dalam dunia pendidikan di sekolah, pelanggan internalnya adalah guru, siswa, staf dan sebagainya. Untuk itu maka kepuasan kerja guru, staf dan kepuasan siswa dalam belajar adalah pertimbangan sentral utama yang harus diperhatikan oleh seorang kepala sekolah. Makin tinggi kepuasan para pelanggan, akan memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu proses kegiatan yang dilakukan oleh mereka.
e. Lebih menekankan pendekatan siklus dalam memperbaiki organisasi. Konsep ini beranggapan bahwa perbaikan dan perubahan organisasi tidak dapat dilakukan seperti membalik telapak tangan, tetapi memerlukan waktu yang cukup dan berkelanjutan. Untuk itu maka perbaikan dan perubahan organisasi ditempauh melalui siklus tertentu atau menggunakan tahapan-tahap perbaikan.
3. Para pemimpin struktural dalam organisasi sekolah perlu memiliki pandangan jauh ke depan tentang kemana lembaga sekolah akan diarahkan. Dalam hal ini para pemimpin harus mengerti Visi, Misi dan Tujuan Institusinya masing-masing secara mendalam.
4. Para civitas akademika (semua warga sekolah) perlu memiliki kemampuan profesi yang mancakup kemampuan individual, kemampuan kelompok yang diciptakan secara sistimatis melalui program pendidikan dan pelatihan. Artinya perlu pembinaan berkelanjutan melalui diklat, lokakarya, seminar, atau pembinaan internal oleh sekolah melalui diskusi bulanan, semesteran dan sebagainya.
5. Adanya apresiasi insentif baik materi maupun insentif psikologis seperti kemungkinan dan kemudahan promosi, penghargaan atas prestasi pekerjaan
6. Tersedianya sumber daya dan mekanisme penempatan yang sesuai dengan keahliannya masingt-masing. Meskipun demikian perlu juga dipertimbangkan aspek psikologis seperti kemauan dan komitmen tugas selian keahlian dalam menempatkan seseorang pada pekerjaan tertentu. Keahlian saja tidak akan membawa orang berprestasi tanpa adanya kemauan dan kmoitmen yang kuat untuk berprestasi kerja.
7. Adanya rencana kerja dan strategi sekolah yang tergambar dalam Visi, Misi dan tujuan organisasi serta rencana operasional (Renstra dan Renops).
8. Pacu para pengajar untuk berprestasi dan melaksanakan pembelajaran secara efektif, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berprestasi. Banyak contoh sekolah favorit diserbu oleh masyarakat dengan biaya mahal karena lulusannya berprestasi tinggi, dapat melanjutkan ke sekolah yang bermutu (lanjutan maupun perguruan tinggi). Apabila hal ini dapat dilakukan masyarakat akan sangat mudah diminta bantuannya, tenaga, waktu bahkan materi sekalipun. Untuk memacu percepatan mutu melalui percepatan peningkatan mutu tenaga ini maka suasana kondusif yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya motivasi kerja, kemauan (willingness) dan komitmen kerja merupakan prasyarat yang harus dipernuhi. Pendekatan manajemen modern memungkinkan terciptanya suasana yang menumbuhkan kemauan, komitmen dan motivasi karyawan dalam meningkatkan mutu kerjanya. Untuk itu maka pimpinan sekolah perlu mengetahui secara jelas apa dan bagaimana kebutuhan para karyawan di sekolahnya, sehingga apa yang menjadi kebutuhan karyawan sejalan dengan apa yang diinginkan oleh lembaga sekolah.
9. Bina semua staf sekolah agar mereka memahami secara jelas dan tepat apa yang diinginkan oleh sekolah terhadap masyarakat. Sebab setiap tenaga pendidikan di sekolah mau tidak mau dan sengaja atau tidak sengaja bahkan disadari atau tidak disadari adalah juru bicara sekolah yang suatu saat akan ditanya masyarakat tentang sekolahnya. Apabila staf sekolah tidak memahami sejara jelas dan tepat tentang berbagai program serta kebijakan sekolah, ada kemungkinan akan memberikan penjelasan yang tidak tepat. Hal ini akan berakibat pada image yang kurang baik terhadap sekolah. Oleh sebab itu semua staf sudah semestinya harus mengetahui apa dan bagaimana kebijakan sekolah dalam pengelaolaan sekolah.

D. Program Manajemen Peranserta Masyarakat

1. Pengertian Program
Pada dasarnya setiap kegiatan apapun jenisnya dan pada organisasi apapun, apalagi bagi organisasi pendidikan seperti institusi sekolah, maka perencanaan program kegiatan merupakan suatu keharusan yang tidak dapat dihindari.
Perencanaan program pada dasarnya adalah proses penetapan kegiatan di masa akan datang, dengan mengatur berbagai sumber daya secara efektif dan efesien untuk mencapai hasil yang seoptimal mungkin sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Rogers, A. Kauffman seperti dikutif Fattah (1996) menyatakan bahwa perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan sefektif dan seefesien mungkin.
Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa perencanaan program itu adalah merancang kegiatan yang akan dilaksanakan, bagaimana melaksanakan, apa dan siapa yang harus melaksanakan, kapan, dimana dan apa yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Dari definisi perencanaan program tersebut maka program adalah kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi/lembaga dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
Program pada dasarnya adalah rencana berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan dimasa yang akan datang. Rumusan rencana program yang matang akan menghasilkan suatu program kerja yang efektif. Rumusan program yang matang ini sebaiknya didasarkan pada landasan fakta/data, landasan berpikir yang sehat dan cerdas, jelas arah dan tujuannya sesuai dengan visi dan misi yang akan dicapai oleh lembaga yang bersangkutan.

2. Aspek Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Penyusunan Program
Koontz seperti dikutif Fattah (1996) menyatakan bahwa penyusunan program merupakan proses intelektual dalam menentukan secara sadar tindakan apa yang akan ditempuh dan mendasarkan keputusan-keputusan pada tujuan yang akan dicapai, informasi yang tepat waktu dan dapat dipercaya serta memperhatikan perkiraan keadaan masa akan datang. Ini berarti kegiatan perencanaan program harus membutuhkan pendekatan rasional ilmiah. Di samping itu perencanaan perlu memperhatikan sifat, kondisi dan kecenderungan masa akan datang (pendekatan futuralistik).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat perencanaan program, agar program tersebut benar-benar terarah kepada apa yang ingin dicapai. Beberapa hal pokok tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kegaiatan yang akan diprogramkan hendaknya didasarkan pada hasil analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan (SWOT) serta data-data pendukung lainnya yang akurat dan up to date. Dengan demikian maka program yang akan dilaksanakan sudah mengantisipasi berbagai hal baik yang menyangkut hambatan maupun dukungan. Apabila hal ini dapat dilakukan maka, kemungkinan kegagalan dalam melaksanakan program yang direncanakan akan dapat diminimalkan sekecil mungkin dan peluang keberhasilan akan semakin luas.
b. Kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan harus benar-benar kegiatan yang sangat urgen dalam mendukung upaya pencapaian tujuan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Oleh sebab itu pemahaman yang mendalam tentang visi, misi, tujuan dan strategi sekolah harus benar-benar mantap. Dalam istilah lain disebut bahwa program yang direncanakan harus termasuk special events (event penting yang mampu mempercepat pencapaian tujuan). Misalnya diprogramkan kegiatan pameran, pertemuan dan sebagainya, perlu dipertanyakan apakah kegiatan itu memang benar-benar dapat mempercepat pencapaian tujuan dan mendapat perhatian dari khalayak sasaran. Apabila jawabannya meragukan, perlu dikaji lagi lebih mendalam apakah kegiatan tersebut layak untuk diprogramkan atau tidak.
Diskusikan.
Coba anda kaji bersama kelompok anda apa yang menjadi special events pada saat ini untuk dapat dijadikan dasar penyusunan program di sekolah dalam meningkatkan peran serta masyarakat terhadap pendidikan.
c. Rencana program yang akan dilaksanakan harus mempunyai tujuan yang jelas dan mendukung pencapaian tujuan lainnya. Artinya tujuan kegiatan tersebut merupakan rangkaian dan memiliki keterkaitan dengan tujuan yang lain, sehingga saling mendukung dalam mencapai tujuan yang lebih tinggi atau tujuan sekolah secara keseluruhan.
d. Rencana kegiatan harus memiliki nilai ganda dan multy player effect. Artinya kegiatan yang akan diprogramkan harus memberikan nilai tambah baik untuk sekolah maupun nilai tambah bagi masyarakat, orang tua murid atau stakeholders. Dengan demikian akan mendorong keterlibatan semua komponen dan warga sekolah lainnya untuk ikut aktif dalam semua kegiatan yang akan dilaksanakan di kemudian hari.
e. Rencana kegiatan harus mampu membangun citra positif bagi lembaga dan bagi masyarakat sekolah. Citra positif dapat diindikasikan dari dampak program dalam bentuk prestasi sekolah, prestasi siswa secara individual yang pada gilirannya akan menumbuhkan rasa bangga para orang tua murid terhadap anaknya dan sekolah dimana anaknya sedang belajar. Prestasi ini tidak hanya menyangkut aspek akademik atau penguasaan pengetahuan saja, tetapi juga aspek non akademik seperti olah raga, seni, ketrampilan lebih-lebih lagi prestasi dalam bidang keagamaan yang menjadi pusat perhatian masyarakat sekarang ditengah-tengah kegelisahan mereka akan kenakalan remaja.
f. Program yang disusun, hendaknya beroirentasi pada produk yang akan dihasilkan. Jadi perlu diperhatikan terlebih dahulu produk apa yang diinginkan melalui program yang sedang direncanakan. Apabila kita telah memiliki gambaran tentang produk secara jelas, akan memudahkan perencana program dalam menetapkan kegiatan yang akan dilaksanakan. Produk dalam kegiatan pendidikan, khsusunya peningkatan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan harus dirumuskan secara jelas, apakah partisipasi dalam membantu pengembangan sarana, pengembangan sumber daya (termasuk SDM) atau partisipasi dalam aspek lain. Sekedar mengingat kembali kita dapat melihat dari peran dan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yaitu: advisor, support, mediator dan control. Apakah produk yang kita inginkan pada empat aspek tersebut atau salah satu aspek saja. Oleh sebab itu rumuskan secara rinci tentang produk yang diinginkan oleh sekolah.
g. Sumber daya yang tersedia di dalam sekolah. Sejauhmana sumber daya yang tersedia baik dilihat dari kuantitas maupun kualitas yang akan mendukung implementasi kegiatan di masa depan. Ketersediaan jumlah dan kualitas sumber daya merupakan factor penentu keberhasilan dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang telah diprogramkan. Program akan menjadi sis-sia dan hanya baik diatas kertas saja, apabila tidak tditunjang oleh adanya sumberdaya yang memadai dilihat dari kuantitas dan kualitas. Bahkan sumber daya yang berkualitas menjadi lebih besar pengaruhnya terhadap efektivitas pelaksanaan program. Oleh sebab itu program yang baik tidak harus selalu merencanakan kegiatan yang sangat edial, apabila lembaga tidak memiliki sumber daya yang memadai.
h. Membuat Program Hubungan Lembaga Pendidikan (sekolah) dengan Orang Tua Murid/Masyarakat.
i. Perencanaan program yang efektif dan efesien menjadi pusat perhatian bagi semua orang yang merasa bertanggung jawab terhadap keberhasilan lembaga yang dipimpinnya atau anggota organisasi yang merasa memilki organisasinya.
Agar perencanaan program memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang menjadi tujuan organisasi, Ruslan (2002) menyatakan bahwa perencanaan program harus didasarkan pada analisis tentang hal-hal sebagai berikut:
a. A searching look backward, yaitu penelusuran masa lampau, pengalaman organisasi untuk mengetahui faktor penentu yang memegang peranan penting dalam setiap program. Dalam hal ini sekolah perlu mengkaji pengalaman masa lampau tentang keberhasilan dan kegagalan dalam menjalankan kegiatan atau program, factor apa yang biasanya menjadi pendukung dan factor apa yang menjadi penghambat. Pengalaman masa lampau ini akan memberikan pelajaran yang bermakna dalam melaksanakan program-program di masa akan datang. Banyak kegagalan dalam pelaksanaan program akibat ketidak mampuan pelaksana belajar dari pengalaman masa lampau, dan ada kecenderungan melupakan masa lampau, padahal pengalaman adalah guru yang paling berharga dalam pembelajaran masa depan.
b. A deep look inside, penelaahan mendalam tentang fakta dan pendapat di lingkungan internal organisasi. Pemahaman yang mendalam tentang berbagai hal yang berkaitan dengan fakta dan informasi dari dalam maupun luar oragnisasi sekolah memberikan pemahaman tentang kebutuhan mendasar yang harusnya menjadi perhatian dalam merumuskan program institusi. Kebanyakan program gagal mencapai sasaran atau tujuan yang diingikan antara lain disebabkan apa yang diprogramkan bukan kebutuhan mendasar warga/anggota institusi tersebut. Mengapa hal ini terjadi, semua akibat pengambil kebijakan tidak mendasarkan pada pemahaman yang dalam tentang lingkungannya. Pengambil kebijakan cenderung mempelajari tentang masyarakat lingkungannya menurut persepsinya, tanpa mau belajar dari masyarakat lingkungannya dari persepsi masyarakat itu sendiri. Akibatnya perspesi pengambil kebijakan tidak sesuai dengan apa sebenarnya yang dipersepsi oleh masyarakat/ lingkungan institusi itu.
c. A wide look around, yaitu melihar kecenderungan-kecenderungan yang ada di sekitar kita, serta situasi dan kondisi saat ini untuk merancang rencana mendatang. Kesecendrung yang ada di sekitar memberikan indikasi tentang apa dan bagaimana keinginan sekitar tentang perubahan di masa mendatang. Karena itu kepekaan sekolah tentang kecenderungan tersebut sangat diperlukan.
d. A long, long ahead, yaitu melihat pada apa yang menjadi misi dan visi utama organisasi. Semua program pada bidang apapun di sekolah harus disusun untuk mencapai visi dan misi serta tujuan yang telah dirumuskan. Program yang dirumuskan tanpa memperhatikan visi dan misi, berarti program tersebut tidak memiliki arah. Karena itu arah tersebut harus menjadi pertimbangan utama dalam merumuskan kegiatan yang akan direncanakan.
Pada saat ini telah banyak dikembangakan model perencanan program yang efektif. Model yang sangat banyak dipakai dan dimasyarakatkan di berbagai lembaga dunia usaha, bahkan saat ini sudah merambah ke dalam dunia pendidikan adalah perencanaan program strategik. Dalam bidang pendidikan apabila menggunakan perencanaan strategik ternyata akan memberikan kecenderungan pada hasilnya yaitu program yang lebih operasional, sehingga peluang akan keberhasilan program menjadi lebih tinggi. Hal ini disebabkan dengan pendekatan ini semua peluang faktor eksternal dan internal telah diperhitungkan secara matang. Perencanaan strategik ternyata telah dibuktikan berhasil membawa organisasi mencapai tujuan yang diinginkan secara optimal. Sehubungan dengan hal ini R.G. Murdick (1983) menyebutkan beberapa langkah yang harus ditempuh dalam melakukan perencanaan strategik bagi suatu lembaga yaitu:
a. Analisis keadaan sekarang dan akan datang
b. Identifikasi kekuatan dan kelemahan lembaga
c. Mempertimbangkan norma-norma
d. Identifikasi kemungkinan dan resiko
e. Menentukan ruang lingkup hasil dan kebutuhan masyarakat
f. Menilai faktor-faktor penunjang
g. Merumuskan tujuan dan kriteria keberhasilan
h. Menetapkan penataan distribusi sumber-sumber
Secara sederhana aspek-aspek yang mutlak ada dalam perencanaan program kegiatan berisikan aspek-aspek sebagai berikut:
a. Masalah yang dihadapi. Rumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat terhadap pendidikan/sekolah. Misalnya rendahnya keterlibatan orang tua siswa dalam pengawasan putra-putrinya, sehingga sering terjadi kenakalan anak seperti membolos, tidak disiplin dan sebagainya. Masalah yang dirumuskan harus dilihat dari akar masalahnya, sehingga pemecahan masalah menjadi terfokus. Artinya jangan dampak dari masalah yang dirumuskan sebagai masalah, apabila ini terjadi maka yang diselesaikan hanya dampaknya dan dapat bersifat sementara, dan pada beberapa waktu berikutnya akan muncul masalah baru.
Coba anda buat analisis sebagai berikut:
1. Rumuskan gejala-gejala yang nampak sebagai masalah di sekolah saudara masing-masing dan ada hubungannya dengan peran serta masyarakat/orang tua murid terhadap pendidikan anak-anaknya di sekolah.
2. Rumuskan akar masalah berdasarkan gejala-gejala yang Nampak tersebut.
b. Kegiatan yang akan dilakukan. Uraikan secara rinci kegiatan apa yang akan dilakukan atau direncanakan untuk mengatasi masalah tersebut. Ingat kembali bahwa kegiatan yang direncanakan harus ditujukan pada upaya mengatasi akar permasalahan yang terjadi disekolah. Misalnya saja rendahnya nilai ujian akhir nasional mata pelajaran bahasa Inggris, apakah bersumber dari guru, siswa atau sarana penunjang pembelajaran. Hal ini dapat dianalisis secara mendalam untuk menentukan akar masalah. Untuk itu perlu diidentifikasi barbagai fakta yang terkait dalam aspek sarana penunjang pembelajaran (jumlah dan kualitasnya), factor guru (jumlah, kompetensi dan kualifikasi), factor siswa (motivasi, kemampuan intelektuan, kedisiplinan, partisipasi orang tua dll) dan factor proses pembelajaran.
c. Tujuan kegiatan. Tujuan apa yang ingin dicapai untuk satu kegiatan yang dierencanakan. Misalnya kegiatan pertemuan orang tua murid dengan guru dan pihak sekolah, tentukan tujuannya: meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya pengawasan mereka terhadap anak dan bagaimana mengawasi anak-anak di luar rumah dan sekolah. Tujuan semestinya dirumuskan secara rinci dan terukur, sehingga dapat diketahui seberapa besar tujuan dapat dicapai setelah kegiatan dilaksanakan. Ada yang merumuskan tujuan harus memenuhi criteria specific, measurable (terukur), dan ada batas waktu pencapaian.
d. Target/Sasaran Kegiatan. Tentukan siapa sasaran kegiatan yang akan menjadi subjek dan objek kegiatan, serta berapa target yang ingin dicapai.
e. Indikator keberhasilan. Tentukan indikator apa yang dapat menunjukkan bahwa suatu kegiatan yang dilaksanakan dapat dikatakan berhasil atau gagal. Misalnya kegiatan pertemuan antara orang tua murid dengan pihak sekolah dikatakan berhasil apabila: siswa yang terlambat semakin sedikit (tentukan berapa orang atau prosentasi yang diinginkan), siswa disiplin, tidak ada siswa yang membolos, kehadiran orang tua murid pada saat pertemuan minimal 80%, dan seterusnya. Perumusan indikator ini sangat penting untuk mengetahui apakah kegiatan yang kita lakukan dapat tercapai tujuannya atau tidak, sehingga dapat dijadikan feed back untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan di masa yang akan datang. Hasil evaluasi dan analisis dari pencapaian indikator keberhasilan ini sangat penting dilakukan untuk menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya.
f. Strategi/teknik pelaksanaan kegiatan. Tentukan strategi apa yang akan digunakan untuk melaksanakan kegiatan tersebut di atas, misalnya melalui panel diskusi, dialog dan sebagainya. Sesuaikan strategi yang digunakan dengan audience yang akan mengikuti kegiatan. Yang perlu kita ingat bahwa orang tua murid/masyarakat yang menjadi sasaran kegiatan sekolah terdiri dari berbagai strata/jenjang, baik dilihat dari tingkat pendidikan, status social ekonomi, kepedulian terthadap pendidikan maupun status pekerjaan yang sedang mereka geluti. Hal ini menuntut strategi yang variatif agar semua jenjang dan strata masyarakat dapat terakomodasi. Sebab hal utama yang ingin kita capai dalam kegiatan ini adalah terjadinya perubahan pemahaman, sikap dan tindakan meraka untuk menyesuaikan dengan apa dan bagaimana harapan kita.
g. Waktu dan tempat Pelaksanaan kegiatan. Tentukan kapan kegiatan akan dilaksanakan dan dimana kegiatan tersebut akan dilakukan. Pemilihan tempat harus benar-benar dipertimbangkan dari berbagai aspek, mulai dari kelayakan tempat, kenyamanan dan keamanannya, sebab tempat yang kurang tepat dapat mengakibatkan ketidak hadiran orang yang diundang atau mengganggu kegiatan yang sedang berjalan. Demikian pula halnya dengan pemilihan waktu, harus benar-benar mempertimbangkan sasaran audience yang diundang, yang memiliki karakteristik sendiri.
h. Penanggung jawan dan pelaksana kegiatan. Tentukan siapa yang menjadi penanggung jawab kegiatan dan siapa yang menjadi pelaksana kegiatan. Pemilihan orang yang akan dilibatkan hendaknya memperhatikan prinsip berdasarkan kemampuan dan kemauan orang yang akan diberi kepercayaan. Kemampuan saja tidak cukup untuk menunjuk pelaksana tanpa diiringi oleh kemauan dari yang bersangkuatan, atau dengan kata lain pilih mereka yang komitmen tinggi dan kompetensi tinggi.
i. Pembiayaan. Rumuskan berapa biaya yang diperlukan dan dari mana sumber biaya tersebut. Dalam penentuan besaran biaya prinsip efesiensi hendaknya menjadi pertimbangan utama.
Diskusikan dalam Kelompok.
Buat program hubungan sekolah dengan masyarakat, dalam rangka peningkatan peran serta masyarakat terhadap pendidikan di sekolah dengan kondisi sekolah saudara masing-masing (pilih salah satu kondisi sekolah anggota kelompok saudara untuk dijadikan studi kasus)

TEKNIK DAN BENTUK HUMAS

A.Teknik Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Pelaksanaan manajemen peran serta masyarakat yang baik tidak hanya tergantung pada perencanaan dan persiapan materi yang baik, tetapi sangat tergantung pada ketepatan dalam menentukan dan menggunakan teknik komunikasi yang digunakan. Elsbree dam Mc Nally menyatakan beberapa teknik hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut: Newspapers, Radio Programme, Parent Teacher Association Meeting, Special Bulleten for parent, Active Participation of Staff off staff in community organization.
Senada dengan pendapat di atas Leonard V Koes, juga menyatakan beberapa teknik dalam melakukan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut: The Public frequently reported as used with patrons and the general public exhibits, local newspaper, commencement exercisee, bulletins to home, home and school visitations, parent teachers assosiation, service to community organization report and radio.
Edward F DeRoche menyebutkan ada 25 cara dalam melaksanakan hubungan antara sekolah dengan masyarakat yaitu:
1.Education weeks
2.Recognition days
3.Home visits
4.Teachers aides
5.CARD (Community Agency Recognation Day)
6.Parent Teachers Conference
7.Speaker’s Bureau
8.Open House
9.Home Study
10.School and classroom newsletters
11.Calenders
12.Voting Reminder card
13.Success card
14.Local Newspaper
15.Career Specialist
16.Slide presentation
17.Coffe hour
18.Activity Displays
19.Class project in the community
20.Letters to the editor
21.Public performances
22.Fairs and tours
23.Telephone hotline
24.Strategy borrowing
25.Suggestion boxes
Apabila kita cermati dari beberapa pendapat tersebut, nampak bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara dan media baik media langsung (tatap muka) maupun media tidak langsung. Bahkan dalam perkembangan teknologi sekarang, hubungan sekolah dengan masyarakat sebenarnya dapat dilakukan menggunakan teknologi modern seperti telpon, internet dan sebagainya.
Berikut ini ada beberapa teknik yang dapat dipertimbangkan sebagai salah satu metode dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat yang umum dan memungkinkan untuk dilaksanakan di sekolah.

1. Siaran Radio
Siaran radio sebagai sarana penyebaran informasi memiliki keunggulan dalam luasnya wilayah penyebaran informasi yang dapat dijangkau dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian dalam waktu yang singkat dapat disebarkan informasi kesemua pelosok perdesaan. Tetapi ada beberapa kelemahan siaran radio sebagai media penyebaran informasi khususnya yang berkaitan dengan program pendidikan. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
Diperlukan kemampuan yang tinggi dalam membuat, mendesain kemasan acara siaran yang mampu menarik minat masyarakat untuk mendengarkan siaran radio. Ini berarti memerlukan waktu yang relatif lama dan terkendala tenaga yang dimiliki oleh sekolah belum memiliki kemampuan yang tinggi untuk merancang materi siaran secara profesional.
Masyarakat perdesaan pada umumnya lebih senang mendengarkan radio dalam bentuk hiburan seperti lagu-lagu dan drama.
Untuk itu maka, acara siaran radio apabila digunakan sebagai salah satu teknik hubungan sekolah dengan masyarakat maka, isi siaran/materi yang harus disampaikan dikemas melalui selingan-selingan pesan pendek diantara acara-acara yang menarik perhatian masyarakat seperti hiburan dan sendiwara radio. Di samping itu dapat pula dilakukan dialog radio dan dialog interaktif melalui radio yang digabungkan dengan acara hiburan. Dengan demikian acara tersebut akan diikuti oleh masyarakat.

2. Siaran TVRI (khusunya Siaran Lokal).
TVRI Lokal mempunyai keunggulan karena luasnya wilayah yang dapat dijangkau oleh siaran dan mampu menjangkau semua wilayah pedalaman/perdesaan serta cukup menarik. Tetapi ada beberapa kelemahan seperti:
Tidak semua masyarakat sasaran (masyarakat miskin), memiliki pesawat TV, Sulitnya membuat kemasan acara yang benar-benar menarik masyarakat .
Meskipun demikian akhir-akhir ini nampaknya acara TVRI lokal sudah mulai digemari dan diikuti oleh masayarakat, termasuk acara dialog interaktif yang disiarkan sesuai dengan permasalahan yang sedang berkembang. Hal ini merupakan kesempatan bagi sekolah untuk menampilkan prestasi yang dicapai kepada masyarakat secara luas. Untuk itu siaran perlu didesain dalam bentuk:
Dialog interaktif dengan menampilkan Pejabat Dinas Pendidikan setempat, Kepala Sekolah, Tokoh masyarakat (termasuk tokoh-tokoh dari dunia usaha) dan tokoh agama serta Tokoh Pendidik. Pada dialog ini masing-masing peserta berbicara menurut perspektif masing-masing. Tokoh agama membahas pandangan agama terhadap kewajiban belajar, dsb. Di samping itu dalam dialog ini akan dapat diungkap apa harapan masyarakat dan tokoh masyarakat tentang pendidikan dan masyarakat tahu/mengerti apa harapan lembaga pendidikan terhadap masyarakat.
Release-release berita tentang kegiatan yang berkaitan dengan keberhasilan Sekolah (prestasi akademik siswa maupun prestasi non akademi).
Diskusikan dalam kelompok:
Coba susun dan desain program sosialisasi tentang sekolah anda yang baru anda tempati melalui program siaran TV local.

3. Sticker dan Kalender (Almanak)
Sticker yang berisikan pesan-pesan singkat dan promosi tentang sekolah dan poster- poster menarik dan lucu merupakan media yang sangat efektif untuk digunakan sebagai media penyebaran informasi. Hal ini didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut :
Karena sticker diberikan langsung kepada anak-anak dan msyarakat/orang tua yang memiliki anak yang sedang sekolah (disekolah yang bersangkutan), sehingga informasi/pesan yang disampaikan dapat mencapai sasaran langsung tanpa perantara. Sticker dapat pula berisi ajakan, seruan kepada anak-anak untuk belajar (pengembangan minat baca) dan ajakan partisipasi kepada orang tua murid/masyarakat untuk melakukan pengawasan belajar anak-anak serta pengawasan perilaku dan pergaulannya.
Karena sticker ditempatkan/ditempel oleh anak-anak / masyarakat yang menjadi sasaran di berbagai tempat yang mudah dilihat (seperti : di rumah, mobil, sepeda motor, sepeda, kapal, perahu dll), maka frekwensi dan intensitas interaksi media dengan masyarakat sasaran menjadi lebih banyak dan intensif. Sebab menurut hasil penelitian semakin banyak suatu media berinteraksi dengan pembacanya, akan dapat merubah persepsi dan perilaku sasaran interaksi. Dengan sticker ini akan terjadi interaksi yang sangat banyak (setiap hari).
Dengan pembagian sticker kerumah-rumah masyarakat sasaran (anak-anak, warung dsb), akan mendapatkan penghargaan bagi masyarakat pedesaan. Kondisi ini akan menumbuhkan perhatian dan pada gilirannya akan menimbulkan sikap dukungan mereka terhadap program sekolah yang disosialisasikan.
Sticker sebagai media cukup murah dan mudah didesain. Disamping itu sticker ini akan mampu bertahan minimal satu tahun. Dengan demikian isi pesan yang ada akan selalu dilihat dan diingat oleh masyarakat sasaran. Misalnya dalam sticker ini dapat dimuat pesan-pesan singkat tentang :
Sekolah sukses masa depan cerah
Putus sekolah Masa depan suram
Belajar Yes !!!!!
Obat sekolah No!!!!!
Dan lain-lain.

4. Media Poster
Media Poster sebagai media penyebaran informasi akan sangat efektif untuk mencapai khalayak sasaran melalui distribusi dan penempatan yang sangat felksibel. Poster dapat ditempatkan ditengah-tengah masyarakat seperti pasar, (sebagai tempat pertemuan mingguan masyarakat perdesaan), kantor pelayanan masyarakat desa (kantor Kepala Desa, Rumah RT dsb), bahkan dapat diberikan langsung ke rumah-rumah ssaran, serta tempat-tempat lainnya. Dengan demikian poster diarahkan untuk mencapai khalayak sasaran sebagai berikut:
a. Masyarakat/orang tua yang memiliki anak usia sekolah, anaknya terancam DO dan orang tua yang anaknya lulus SD/MI tapi tidak melanjutkan atau diduga tidak akan melanjutkan ketingkat SLTP, lebih-lebih pada saat ini tentang pelaksanaan ujian akhir nasional, hal ini sangat penting untuk dikembangkan dan ditumbuhkan agar mereka siap dan mengantisipasi dengan pembimbingan tersebut.
b. Tokoh masyarakat dan tokoh agama.
c. Institusi-institusi masyarakat seperti tempat pengajian, langgar, mushola dan mesjid.
d. Kantor Pelayanan Masyarakat (Sekolah-sekolah dan kantor pendidikan di Kabupaten/Kodya dan Kecamatan.
Agar poster ini benar-benar dapat menyentuh dan menggugah kemauan orang tua murid/masyarakat untuk mendukung program belajar anak dan program sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah atau pengembangan sekolah, maka pesan harus didesain dengan pendekatan agama, dalam arti menyebutkan ayat-ayat Alqur’an atau Hadist yang berkaitan dengan kewajiban orang tua/masyarakat untuk mendidik, membimbing dan atau menyekolahkan anaknya sampai batas tertentu.
Pesan akan efektif dan dapat diterima oleh masyarakat apabila diucapkan oleh tokoh yang disegani (memiliki kharismatik yang tinggi) di tengah-tengah masyarakat.

5. Perlombaan-Perlombaan
Perlombaan-perlombaan merupakan kegiatan yang cukup menarik bagi anak-anak usia sekolah di perdesaan, hal ini akan mampu membuat dan meningkatkan motivasi anak berkompetisi secara sehat, seperti lomba cerdas cermat, debat Bahasa Inggris, mengarang ceritera, lomba KIR, lomba inovatif dan sebagainya. Hal ini sangat mendorong para siswa untuk berkompetisi dan memacu kemampuannya baik secara individu maupun secara kelompok yang mengatas namakan sekolah. Untuk itu maka kegiatan perlombaan perlu didesain secara tepat dan dilaksanakan sasaran dengan sasaran yang tepat, waktu yang tepat dan substansi yang akurat. Kegiatan-kegiatan perlombaan yang cukup menarik dan disaksikan oleh orang banyak (termasuk orang tua/masyarakat) adalah sebagai berikut:

6. Leaflet
Leaflet sebagai salah satu media untuk mnyebarkan informasi, merupakan salah satu cara yang cukup efektif. Sebab dengan media ini informasi dapat diberikan secara lebih jelas dan lengkap. Di samping itu apabila media ini diberikan kepada Tokoh masyarakt, tokoh agama, orang tua dan tokoh-tokoh lainnya, akan menjadi bahan informasi yang jelas agar mereka dapat menjelaskan secara lengkap tentang program belajar atau program sekolah/pendidikan kepada masyarakat sasaran. Dengan demikian mereka merupakan kepanjangan tangan Depdiknas, sekolah atau institusi pendidikan dalam menyebarlusakan informasi secara benar dan lengkap.

7. Dialog Langsung dengan Masyarakat (Pertemuan Sekolah dengan Masyarakat/ Orang Tua Murid)
Edward F DeRoche menyatakan bahwa ada 4 tujuan dilaksanakannya kegiatan pertemuan antara orangb tua murid/masyarakat dengan pihak sekolah, yaitu:
a. For the teacher and the parents to get to know each other
b. For the teachers to share information about the child’s academic progress and behavior with the parents
c. For parent to share information about the child’s out of school behavior and activities with the teacher
d. For both to examine solution to problems and to develop ways of maintaining positive behavior and achivement
Dialog langsung ini dapat dilakukan dengan orang tua murid, tokoh masyarakat dan atau tokoh agama serta tokoh pendidikan lainnya tentang program belajar dan program sekolah, lebih-lebih yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan baru yang diambil oleh pemerintah/sekolah, yang akan berakibat pada orang tua. Dialog akan sangat efektif apabila dilakukan langsung dengan masyarakat/orang tua murid yang menjadi sasaran khusus. Oleh sebab itu dialog dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sosial keagamaan yang ada di masyarakat seperti: Kelompok Pengajian, Kelompok Yasinan. Kelompok Shalawat dan kelompok-kelompok lainnya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat perdesaan.
Melalui pertemuan yang dilakukan secara berkala akan terjadi saling tukar menukar informasi (terjadi face to face relationship) antara sekolah dengan orang tua murid/masyarakat. Di dalam pertemuan atau dialog ini segala permasalahan yang dihadapi baik oleh sekolah maupun oleh orang tua murid/masyarakat minimal diketahui bersama yang pada gilirannya akan dapat dicari pemecahannya secara bersama. Pertemuan secara berkala ini dapat dilakukan pada awal tahun ajaran, setelah catur wulan (setelah pembagian raport) atau setelah tahun ajaran berakhir.
Salah satu pertemuan orang tua murid dengan pihak sekolah/guru/wali kelas yang selama ini cukup banyak digunakan oleh sekolah-sekolah adalah pembagian raport yang dilakukan melalui orang tua siswa.
Pembagian raport melalui orang tua murid ini memiliki keunggulan tersendiri sebagai teknik hubungan sekolah dengan masyarakat apabila dilakukan secara benar. Sebab melalui kegiatan ini orang tua akan mengetahui apa yang dikehendaki oleh pihak sekolah dalam membantu anak didik pada saat berada di rumah. Di samping itu orang tua akan tahu secara langsung dari guru (wali kelas) tentang kedudukan anaknya di dalam kelas (termasuk pandai, sedang, bodoh, nakal, disiplin, bahkan masalah yang dialami anak dalam belajar). Karena itu prosedur pembagian raport yang benar harus dilakukan. Hal terpenting yang harus terjadi pada saat pembagian raport bukanlah hanya sekedar orang tua murid datang dan menerima raport anaknya, tetapi terjadi dialog antara kepala sekolah, guru dengan orang tua murid tentang berbagai hal antara lain:
a. Progress atau kemajuan yang diperoleh anak dan prestasi sekolah, khususnya prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Secara khusus progress anak dalam satu semester atau satu tahun ajaran perlu disampaikan secara umum kepada semua orang tua murid. Pada anak tertentu (yang dianggap bermasalah) perlu disampaikan berbagai hal yang terkait dengan anak seperti perilaku keseharian, disiplin, motivasi belajar dan lain-lain secara khusus (face to face) oleh wali kelas.
b. Program. Program apa yang akan dilakukan sekolah dalam satu semester yang akan datang atau satu tahun yang akan datang, perlu diberitahukan kepada masyarakat/ orang tua murid agar mereka mendapat kejelasan kemana arah pengembangan sekolah ini di masa yang akan datang. Program jangka panjang maupun jangka pendek bahkan kalau perlu program harian sekolah dalam mempercepat peningkatan mutu pendidikan harus pula mendapat perhatian yang serius pada saat pertemuan dengan orang tua murid/masyarakat.
c. Problem, yaitu berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah, khususnya masalah yang dihadapi anak dalam proses pendidikan di sekolah, sehingga orang tuanya mengerti apa dan bagaimana mereka harus berperan dalam membantu sekolah untuk meningkatkan kualitas anaknya masing-masing.
Tugas diskusi problem solving:
Coba anda diskusikan kalau seandainya anda kepala sekolah beserta dewan guru akan menyelenggarakan pembagian raport di akhir semester melalui orang tua murid. Bagaimana prosedur yang baik dalam pembagian raport tersebut agar benar-benar dapat mencapai sasaran. Kondisi sekolah anda termasuk yang tidak menonjol dalam prestasi akademik dan beberapa siswa bermasalah dengan kemampuan akademik dan perilaku kedisiplinan.

8. Kunjungan Ke Rumah (Home Visitation)
Home visitation merupakan salah satu cara dalam melaksanakan hubungan sekolah dengan masyarakat/orang tua murid yang dapat mempererat hubungan antara sekolah deng orang tua murid. Melalui kunjungan ini ada beberapa manfaat yang diperoleh yaitu:
a. Sekolah mengenal situasi yang sebenarnya baik dari orang tua murid maupun dari siswa secara langsung. Hal ini dapat berfungsi sebagai cross chek bagi sekolah mengenai kondisi, karakter maupun kepribadian dan perilaku belajar anak di rumah.
b. Orang tua murid akan mendapat keterangan yang sebenarnya tentang anaknya di sekolah, yang berkenaan dengan: hasil belajarnya, tingkah laku dan pergaulan di sekolah, kehadiran di sekolah, prestasi non akademik dan lain sebagainya.
c. Sekolah akan memperoleh data dan gambaran yang lengkap dan akurat tentang siswa di rumah, sikap orang tua siswa dalam kehidupan di rumah atau pola pergaulan dalam keluarga.
d. Sekolah akan memperoleh data tentang kebutuhan orang tua akan pendidikan anaknya di sekolah, beserta berbagai harapan yang mereka inginkan terhadap sekolah.
Informasi-informasi tersebut sangat diperlukan, baik oleh sekolah maupun bagi orang tua murid dan keluarganya dalam upaya membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi siswa dalam belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Jacobson yang menyatakan bahwa: Knowledge of the childrens beckround in a teacher,s class or home is invaluable, because it result in clearer insight by teachers into the problems wich condition the particular children.
Diskusi.
Coba anda diskusikan instrument yang akan digunakan dlam kegiatan kunjungan ke rumah. Hal pokok yang diinginkan sekolah dalam kunjungan ke rumah adalah bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat terhadap sekolah.

9. Partisipasi Sekolah dengan Masyarakat Lingkungan
Sekolah dapat berpartisipasi dengan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat umum, misalnya turut kerja bakti, gotong royong kebersihan lingkungan dan sebagainya. Melalui kegiatan ini akan dapat menciptakan saling pengertian antara sekolah dengan masyarakat setempat. Adanya saling pengertian ini akan membuahkan tumbuhnya saling membantu. Apabila ini dapat tercipta maka :
a. Apa yang diperbuat sekolah akan sesuai dengan keinginan masyarakat
b. Masyarakat akan memberikan bantuannya sesuai dengan apa yang diharapkan sekolah.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Chamberlain and Kindred yang menyatakan bahwa: Throug this exchange of ideas teacher (and principal) can interpret the school to the community, and community can be interpreted to the school.
Melalui parrtisipasi sekolah dalam kegiatan masyarakat ini akanmenumbuhkan kepekaan social sekolah terhadap lingkungannya. Hal ini memberikan nilai tambah bagi anak didik dalam rangka pembentukan karakter yang peka terhadap lingkungan. Kegiatan seperti kebersihan lingkungan, penanaman pohon/penghijauan, membantu panti asuhan/ kunjungan, bantuan korban bencana (misalnya banjir, kebakaran) maupun kegiatan lainnya di masyarakat sangat mendukung pembentukan kepekaan social, solidaritas social.
Untuk terlaksananya kegiatan tersebut secara efektif, diperlukan persiapan yang matang oleh sekolah dengan terlebih dahulu dilakukan:
a. pembentukan kepanitiaan yang melibatkan guru dan siswa serta orang tua siswa (bila diperlukan)
b. penetapan sasaran kegiatan/lokasi dan jenis kegiatan.
c. Persiapan pembekalan awal kepada peserta kegiatan
d. Persiapan bahan yang diperlukan untuk kegiatan
e. Serta kemungkinan-kemungkinan lain yang tak terduga.

10. Surat Kabar Sekolah
Surat kabar sekolah merupakan media informasi yang dapat disebarkan keberbagai pihak, institusi maupun sasaran lainnya secara luas. Melalui surat kabar sekolah ini banyak informasi yang dapat diberikan/disosialisasikan kepada berbagai sasaran.
Penggunaan surat kabar sekolah sebagai media memberikan informasi kepada masyarakat memberikan nilai tambah yang besar, tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat sekolah dan orang tua/msyarakat umum tentang sekolah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi siswa khususnya dalam meningkatkan kemampuan menulis melalui latihan sebagai penulis/wartawan kecil. Hal ini mendorong siswa untuk banyak membaca dan menggunakan bahasa secara baik dan benar.
Diskusi:
Buat susunan redaktor pelaksana koran sekolah, dan rencana isi koran sekolah yang akan diterbitkan.

B. Bentuk-bentuk Pertisipasi orang Tua Murid/Masyarakat yang Diharapkan oleh Lembaga Pendidikan (khususnya Sekolah)
Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa: apabila masyarakat menganggap sekolah merupakan cara dan lembaga yang dapat member keyakinan untuk membina dan meningkatkan kualitas perkembangan anak-anaknya, mereka akan mau berpartisipasi kepada lembaga pendidikan (Walsh). Untuk mengikutsertakan masyarakat dalam pengembangan pendidikan para manajer pendidikan/kepala sekolah memegang peranan yang sangat strategis dan menentukan. Kepala sekolah dapat melalui tokoh-tokoh masyarakat secara aktif menggugah perhatian mereka untuk memahami dan membantu sekolah dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan sekolah dan masyarakat. Mereka dapat diundang untuk membahas bentuk-bentuk kerjasama dalam meningkatkan mutu pendidikan, tukar menukar pendapat bahkan adu argumentasi dan sebagainya dalam mencari solusi peningkatan mutu pendidikan. Bentuk partisipasi bagaimana yang diharapkan sekolah terhadap orang tua murid, tentunya didasarkan pada tujuan apa yang hendak dicapai oleh sekolah dalam proses pendidikan di sekolah.
Tujuan yang ingin dicapai sekolah pada hakekatnya adalah tujuan pendidikan secara nasional. Tujuan tersebut apabila kita butiri terlihat unsure-unsur sebagai berikut: Manusia yang bertaqwa, berbudi pekerti dan berkepribadian, Disiplin, bekerja keras, bertanggung jawab serta mandiri, Cerdas dan terampil, Sehat jasmani dan rohani, Cinta tanah air dan mempunyai semangat kebangsaan serta kesetiakawanan sosial.
Edawar F DeRoche menyebutkan ada beberapa hal pokok yang harus ditekankan dan menjadi perhatian utama untuk dibina, dikembangkan dan ditingkatkan sekolah melalui kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu:
1. Children’s and Parents work habits
2. Structur, routin and priorities
3. Time to study, work, play, sleep, read
4. Space to do these things
5. Responsibility, punctually and sharing
6. Academic guidance and support
7. encouragement, interest and commitment
8. prise, approval and reward
9. knowledge of the child’s strengths, weaknesses and learning problems
10. supervision of child’e homework, study and activities
11. use reference materials
12. Stimulation to explore and discuss ideas and events
13. family/parent/child activities
14. conversations, games, hobbies, play, reading
15. family cultural activities
16. discussion of books, television, enwspaper, magazines
17. language development in the home
18. mastery of mother tongue
19. correct language usage
20. good speech habits
21. vocabulary and sentence pattern development
22. listening, reading, talking and writing
23. Academic aspirations and expectations
24. motivation to learn well
25. support, encouragement
26. parents’knowledge of school activities, teachers, classes, subjects
27. standards and expectations
28. assistence to child’e aspirations
29. plans fir high school, college the future
30. friendships with others who have an interest in education
30. sacrifices of time and money
Apabila kita cermati pendapat di atas, nampak bahwa apa yang diinginkan sekolah dari orang tua murid sebenarnya lebih cenderung untuk meningkatkan prestasi akademik dan non akademik siswa. Jadi komunikasi antara sekolah dengan masyarakat sebenarnya tidak hanya mencari bantuan uang/material semata-mata, apalagi kalau bantuan materaial menjadi tujuan utama dalam hubungan sekolah dengan masyarakat. Kondisi inilah sebenarnya yang menyebabkan sering terjadi orang tua malas atau bahkan tidak mau datang ke sekolah kalau mendapat undangan dari pihak sekolah.
Apabila Masyarakat memandang sekolah (lembaga pendidikan) sebagai lembaga yang memiliki cara kerja yang meyakinkan dalam membina perkembangan anak-anak mereka, maka masyarakat akan berpartisipasi kepada sekolah. Namun keadaan demikian belum terjadi sepenuhnya di negara-negara berkembang, bahkan masih sangat banyak masyarakat (orang tua murid) yang belum meyakini, belum tahu atau belum mengerti apa dan bagaimana sekolah melakukan proses pendidikan bagi anak-anaknya. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketidaktahuan mereka tentang pentingnya keterlibatan orang tua/masyarakat dalam memajukan pendidikan, ketidakmampuan mereka dalam membantu sekolah/pendidikan karena status social ekonomi mereka yang tergolong rendah, bahkan dapat juga disebabkan karena ketidak pedulian mereka akan pendidikan padahal mereka sebenarnya memliki tingkat pendidikan yang memadai dan status social ekonomi yang tinggi.
Untuk melibatkan masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah, maka para manajer sekolah (kepala sekolah) sudah seharusnya aktif menggugah perhatian masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan sebagainya untuk bersama-sama berdiskusi atau bertukar pikiran untuk memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah sambiul memikirkan apa dan bagaimana seharusnya kegiatan dan program kerja di masa depan.
Komunikasi tentang ppendidikan kepada amasyarakat tidak cukup hanya dengan informasi verbal saja, tetapi perlu dilengkapi dengan pengalaman nyata yang ditunjukkan kepada masyarakat agar timbul citra positif tentang pendidikan di kalangan mereka, sebab masyarakat pada umumnya ingin bukti nyata sebelum mereka memberikan dukungan (National school Public Relation Association). Bukti itu dapat ditunjukkan berupa pameran hasil produk sekolah, tayangan keberhasilan siswa sebagai juara cerdas cermat, juara oleh raga, tayangan penemuan inovetif produktif siswa dan sekolah dan sebagainya.
Yang menarik bagi masyarakat sebenarnya adalah apabila lembaga pendidikan sanggup mencetak lulusan yang siap pakai. Lulusan yang bermutu (misalnya sebagian besar siswanya dapat melanjutkan sekolah ke sekolah yang lebih tinggi dan berkualitas).
Di negara-negara amaju, terutama yang menganut sistem desentralisasi sekolah dikreasikan dan dipertahankan oleh masyarakat (Walsh, 1979). Kesadaran mereka sebagai pemilik dan penangggung jawab pendidikan sudah sangat tinggi, sedangkan di negara yang sedang berkembang masyarakat masih sangat menggantungkan mutu pendidikan kepada pihak pemerintah, padahal pemerintah sendiri sangat kekurang dana untuk hal tersebut.
Beberapa contoh partisipasi masyarakat dalam pendidikan ialah:
1. Mengawasi perkembangan pribadi dan proses belajar putra-putrinya di rumah dan bila perlu memberi laporan dan berkonsultasi dengan pihak sekolah. Hal memang agak jarang dilakukan oleh orang tua murid, mengingat kesibukan bekerja atau karena alas an lain. Tetapi hal ini perlu ditingkatkan peran serta masyarakat untuk terlibat dalam pengawasan anak-anak mereka. Kenakalan anak sekolah dan lain-lain yang terjadi selama ini antara lain akibat lemahnya pengawasan yang dilakukan pada saat anak berada di luar sekolah.
2. Menyediakan fasilitan belajar di rumah dan membimbing putra-putrinya agar belajar dengan penuh motivasi dan perhatian. Hal ini sering menjadi masalah bagi orang tua murid, khususnya dalam fasilitas belajar dan membimbing anak.
3. Menyediakan perlengkapan belajar yang dibutuhkan untuk belajar di lembaga pendidikan (sekolah)
4. Berusaha melunasi SPP dan bantuan pendidikan lainnya
5. Memberikan umpan balik kepada sekolah tentang pendidikan, terutama yang menyangkut keadaan putra-putrinya. Umpan balik dari orang tua tentang keadaan yang sebenarnya putra-putrinya sangat jarang dilakukan, karena mereka beranggapan akan mempengaruhi penilaian sekolah dan guru tentang anaknya. Oleh sebab itu penegasan sekolah untuk memilah mana yang terkait dan berpengaruh terhadap penilaian dan mana informasi yang diperlukan untuk perbaikan dan pembinaan anak-anak perlu dilakukan oleh sekolah, dengan demikian tida ada perasaan takut dari orang tua untuk memberikan informasi kepada sekolah tentang anaknya.
6. Bersedia datang ke sekolah bila diundang atau diperlukan oleh sekolah. Upayakan memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa kedatangan mereka sangat penting untuk kemajuan anaknya di sekolah, dan hindarkan permintaan sumbangan dalam bentuk uang sebagai pokok persoalan yang dibahas apabila mengundang orang tua murid, lebih-lebih pada sekolah yang orang tuanya sebagian terbesar adalah masyarakat menengak ke bawah.
7. Ikut berdiskusi memecahkan masalah-masalah pendidikan seperti sarana, pra sarana, kegiatan, keuangan, program kerja dan sebagainya.
8. Membantu fasilitas-fasilitan belajar yang dibutuhkan sekolah dalam memajukan proses pembelajaran.
9. Meminjami alat-alat yang dibutuhkan sekolah untuk berpraktek, apabila sekolah memerlukannya
10. Bersedia menjadi tenaga pelatih/nara sumber bila diperlukan oleh sekolah
11. Menerima para siswa dengan senang hati bila mereka belajar di lingkungan masyarakat (praktikum misalnya)
12. Memberi layanan/penjelasan kepada siswa ayang sedang belajar di masyarakat
13. Menjadi responden yang baik dan jujur terhadap penelitian-penelitian siswa dan lembaga pendidikan
14. Bagi ahli pendidikan bersedia menjadi ekspert dalam membina lembaga pendidikan yang berkualitas
15. Bagi hartawan bersedia menjadi donator untuk pengembangan sekolah
16. Ikut memperlncar komunikasi pendidikan
17. Mengajukan usul-usul untuk perbaikan pendidikan
18. Ikut mengontrol jalannya pendidikan (kontrol sosial)
19. Bagi tokoh-tokoh masyarakat bersedia menjadi partner manajemer pendidikan dalam mempertahankan dan memajukan lembaga pendidikan
20. Ikut memikirkan dan merealisasikan kesejahteraan personalia pendidikan.
Di samping pendapat di atas, ada pendapat lain yang dikembangkan berdasarkan beberapa hasil kajian, yang secara rinci menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang sangat diharapkan sekolah adalah sebagai berikut:

1 . Mengawasi/membimbing kebiasaan anak belajar di rumah
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam memberikan bimbingan kebiasaan anak belajar di rumah adalah sebagai berikut:
a. Mendorong anak dalam belajar secara teratur di rumah, termasuk dalam hal ini peranan orang tua membimbing dan memberikan pengawasan terhadap kegiatan belajar anak di rumah.
b. Mendorong anak dalam menyusun jadwal dan struktur waktu belajar serta menetapkan prioritas kegiatan di rumah, pengawasan pelaksanaan jadwal belajar dirumah menjadi sangat penting bagi orang tua murid. Hal ini harus mendapat perhatian bagi sekolah untuk diberikan informasi yang jelas dan lengkap tentang apa dan bagaimana mereka bias melakukan kegiatan tersebut.
c. Membinbing dan mengarahkan anak dalam penggunaan waktu belajar, bermain dan istirahat.
d. Membimbing dan mengarahkan anak melakukan sesuatu kegiatan yang menunjang pelajaran di sekolah. Orang tua diharapkan berperan aktif dalam membimbing anakdan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang pembentukan dirinya kea rah kedewasaan.

2. Membimbing dan Mendukung Kegiatan Akademik anak
a. Mendorong dan menumbuhkan minat anak untuk rajin membaca dan rajin belajar (minat Baca). Penciptaan situasi yang kondusif ikloim yang menumbuhkan minat baca sangat diperlukan di lingkungan keluarga agar ada kesamaan antara iklim yang tercipta di sekolah dengan di rumah. Hal ini akan mempercepat peningkatan mutu belajar anak.
b. Memberikan penguatan kepada anak untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya. Pemberian hadiah, pujian dan lain-lain sangat diperlukan untuk memperkuat perilaku positif anak.
c. Menyediakan bahan yang tepat serta fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan anak dalam belajar
d. Mengetahui kekuatan dan kelemahan anak serta problem belajar dan berusaha untuk memberikan bimbingan
e. Mengawasi pekerjaan rumah, aktivitas belajar anak
f. Menciptakan suasana rumah yang mendukung kegiatan akademik anak
g. Membantu anak secara fungsional dalam belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah tepat waktu.

3. Memberikan dorongan untuk meneliti, berdiskusi tentang gagasan dan atau kejadian-kejadian aktual
a. Mendorong anak untuk suka meneliti serta mamiliki motivasi menulis analitis/ilmiah
b. Menyediakan fasilitas bagi anak-anak untuk melakukan penelitian
c. Mendorong anak untuk melakukan kegiatan ilmiah
d. Berdiskusi dan berdialog dengan anak tentang ide-ide, gagasan atau tentang bahan pelajaran yang baru, aktivitas yang bermanfaat, masalah-masalah aktual dan sebagainya.

4. Mengarahkan aspirasi dan harapan akademik anak
a. Memberikan motivasi kepada anak untuk belajar dengan baik sebagai bekal masa depan.
b. Mendorong dan mendukung aspirasi anak dalam belajar
c. Mengetahui aktivitas sekolah dan aktivitas anak dalam mempelajari sesuatu.
d. Mengetahui standar dan harapan sekolah terhadap anak dalam belajar
e. Hadir pada pertemuan guru dengan orang tua murid yang diselenggarakan oleh sekolah
f. Memberikan ganjaran positif terhadap performansi anak di rumah atau di sekolah yang mendukung belajar anak.

Mengingat besarnya pengaruh orang tua murid terhadap prestasi aspek kognitif, afektif dan psikomotor, Radin seperti dikutif oleh Seifert & Hoffnung (1991) menjelaskan ada enam kemungkinan caya yang dapat dilakukan orang tua murid dalam mempengaruhi anaknya, yaitu:
1. Modelling of behaviors (pemodelan perilaku), yaitu gaya dan cara orang tua berperilaku dihadapan anak-anak, dalam pergaulan sehari-hari atau dalam setiap kesempatan akan menjadi sumber imitasi bagi anak-anaknya. Yang diimitasi oleh oleh anak-anak tentunya tidak hanya perilaku yang baik-baik saja, tetapi juga yang berkaitan dengan perilaku yang buruk, kasar dan sebagainya di lingkungan masyarakat atau di lingkungan rumah seperti marah-marah, berbicara kasar dan sebagainya, maka kecenderungan peniruan perilaku tersebut oleh anak akan sangat besar. Oleh sebab itu orang tua ataupun lingkungan keluarga dan masyarakat yang menunjukkan perilaku negatif akan sangat mempengaruhi perilaku anak di rumah, di sekolah, maupun dimasyarakat. Dalam kaitan dengan hal ini diperlukan kesamaan nilai dan norma yang berlaku di sekolah dengan yang berlaku di keluarga dan masyarakat. Agar ketiga lingkungan tersebut memiliki kesamaan maka sekolah memiliki kewajiban untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana nilai dan norma yang berlaku di sekolah, dan harapan kepada keluarga (orang tua murid) dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga nilai dan norma tersebut.
2. Giving rewards and punishments (memberikan ganjaran dan hukuman). Cara orang tua memberikan ganjaran dan hukuman juga mempengaruhi terhadap perilaku anak. Ganjaran terhadap perilaku yang baik dari orang tua dapat memperkuat perilaku tersebut untuk diulang kembali pada kesempatan lain oleh anak, agar dia kembali mendapatkan ganjaran/hadiah dari orang tuanya. Sebaliknya hukuman (yang bersifat mendidik) akan memperlemah pengulangan kembali perilaku yang sama pada kesempatan lainnya.
3. Direct instruction (perintah langsung), pemberian perintah secara langsung atau tidak langsung memberi pengaruh terhadap perilaku, seperti ungkapan orang tua “ jangan malas belajar kalau ingin dapat hadiah” pernyatan ini sebenarnya perintah langsung yang lebih bijaksana, sehingga dapat menumbuhkan motivasi anak untuk lebih giat belajar. Hal ini disebabkan karena anak memahami apa yang diinginka oleh orang tua. Bagaimana sekolah memberikan informasi kepada orang tua tentang hal ini akan berpengaruh seberapa banyak hal ini juga dilakukan oleh sekolah terhadap anak-anaknya. Banyak masyarakat tidak mengerti bagaimana penghargaan dan hukuman yang akan memberikan dampak bagi proses pendidikan, misalnya pemberian orang tua yang berlebihan secara material yang sebenarnya akan berpengaruh negative, malah oleh orang tua tidak dipahami. Akibatnya setelah terjadi penyimpangan perilaku akibat pemberian yang berlebihan tersebut baru mereka sadar.
4. Stating rules (menyatakan aturan-aturan), menyatakan dan memjelaskan aturan-aturan oleh orang tua secara =berulang kali akan memberikan peringatan bagi anak tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindarkan oleh anak.
5. Reasoning (nalar). Pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bisa mempertanyakan kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orang tua untuk mempengaruhi anaknya, misalnyan orang tua bisa mengingatkan anaknya tentang kesenjangan perilaku dengan nilai-nilai yang dianut melalui pernyataan-pernyataan. Contohnya “ sekarang rangking kamu jelek, karena kamu malas belajar, bukan karena kamu bodoh! “.
6. Providing materials and settings. Orang tua perlu menyediakan berbagai fasilitas belajar yang diperlukan oleh anak-anaknya seprti buku-buku dan lain sebagainya. Tetapi buku apa dan fasilitas apa yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, banyak orang tua tidak memahaminya. Untuk itu dalam kegiatan hubungan dengan orang tua murid, kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu disampaikan agar mereka dapat menyesuaikannya.

MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN

A. Mengapa Pendidikan Memerlukan Masyarakat
Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah dan tersedianya sarana dan prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan keluarga dan atau masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah (sekolah), keluarga dan masyarakat. Ini berarti mengisyaratkan bahwa orang tua murid dan masyarakat mempumyai tanggung jawab untuk berpartisipasi, turut memikirkan dan memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Partisipasi yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauhmana masyarakat dapat diberdayakan dalam proses pendidikan di sekolah adalah indikator terhadap manajemen sekolah yang bersangkutan. Pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan ini merupakan sesuatu yang esensial bagi penyelenggaraan sekolah yang baik (Kumars, 1989). Tingkat partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah ini nampaknya memberikan pengaruh yang besara bagi kemajuan sekolah, kualitas pelayanan pembelajaran di sekolah yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemajuan dan prestasi belajar anak-anak di sekolah. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Husen (1988) dalam penelitiannya bahwa siswa dapat belajar banyak karena dirangsang oleh pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru dan akan berhasil dengan baik berkat usaha orang tua mereka dalam memberikan dukungan.
Penelitian lain yang memperkuat apa yang dikemukakan di atas dinyatakan oleh Levine & Hagigust, 1988) yang menyatakan bahwa Lingkungan keluarga, cara perlakuan orang tua murid terhadap anaknya sebagai salah satu cara/bentuk partisipasi mereka dalam pendidikan dapat meningkatkan intelektual anak. Partisipasi orang tua ini sangat tergantung pada ciri dan kreativitas sekolah dalam menggunakan pendekatan kepada mereka. Artinya masyrakata akan berpartisipasi secara optimal terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah sangat tergantung pada apa dan bagaimana sekolah melakukan pendekatan dalam rangka memberdayakan mereka sebagai mitra penyelenggaraan sekolah yang berkualitas. Hal ini ditegaskan oleh Brownell bahwa pengetahuan masyarakat tentang program merupakan awal dari munculnya perhatian dan dukungan. Oleh sebab itu orang tua/masyarakat yang tidak mendapatkan penjelasan dan informasi dari sekolah tentang apa dan bagaimana mereka dapat membantu sekolah (lebih-lebih di daerah perdesaan) akan cenderung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, bagaimana mereka harus melakukan untuk membantu sekolah. Hal tersebut sebagai akibat ketidakmengertian mereka.
Di negara-negara maju, sekolah memang dikreasikan oleh masyarakat, sehingga mutu sekolah menjadi pusat perhatian mereka dan selalu mereka upayakan untuk dipertahankan. Hal ini dapat terjadi karena mereka sudah meyakini bahwa sekolah merupakan cara terbaik dan meyakinkan untuk membina perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka. Mengingat keyakinana yang tinggi akan kemampuan sekolah dalam pembentukan anak-anak mereka dalam membangun masa depan yang baik tersebut membuat Mereka berpartisipasi secara aktif dan optimal mulai dalam perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah. Nampak mereka selain merasa sebagai pemilik sekolah juga sebagai penanggung jawab atas keberhasilan sekolah. Kondisi ini dapat terjadi karena kesadaran yang tinggi dari masyarakat yang bersangkutan.
Pentingnya keterlibatan orang tua/masyarakat akan keberhasilan pendidikan ini telah dibuktikan kebenarannya oleh Richard Wolf dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang sangat signifikan (0.80) antara lingkungan keluarga dengan prestasi belajar. Penelitian lain di Indonesia juga telah membuktikan hal yang sama.
Partisipasi yang tinggii tersebut nampaknya belum terjadi di negara berkembang (termasuk Indonesia). Hoyneman dan Loxley menyatakan bahwa di negara berkembang sebagian besar keluarga belum dapat diharapkan untuk lebih banyak membantu dan mengarahkan belajar murid, sehingga murid di negara berkembang sedikit waktu yang digunakan dalam belajar. Hal ini disebabkan banyak masyarakat/orang tua murid belum paham makna mendasar dari peran mereka terhadap pendidikan anak. Bahkan Made Pidarta menyatakan di daerah perdesaan yang tingkat status sosial ekonomi yang rendah, mereka hampir tidak menghiraukan lembaga pendidikan dan mereka menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya kepada sekolah.

B. Perlunya Pengelolaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari masyarakat beserta lingkungan yang ada disekitarnya. Semua keadaan lingkungan tersebut berperan dan memberikan kontribusi terhadap proses peningkatan kualitas pendidikan dan atau kualitas lulusan pendidikan. Perhatian manajer pendidikan/Top Manajemen (Kepala Sekolah) seharusnya adalah berupayan untuk mengintegrasikan sumber-sumber pendidikan dan memanfaatkannya secara optimal mungkin, sehingga semua sumber tersebut memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Salah satu sumber yang perlu dikelola adalah lingkungan masyarakat atau orang tua murid, termasuk stakeholders. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah: Mengapa Manajemen Pendidikan perlu Menangani Masyarakat (perlu Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat), secara optimal baik orang tua murid, stakeholders, tokoh masyarakat maupun institusi yang ada di lingkungan sekolah.
Organisasi sekolah adalah organisasi yang menganut sistem tebuka, sebagai sistem terbuka berarti lembaga pendidikan mau tidak mau, disadari atau tidak disadari akan selalu terjadi kontak hubungan dengan lingungannya yang disebut sebagai supra sistem. Kontak hubungan ini dibutuhkan untuk menjaga agar sistem atau lembaga itu tidak mudah punah. Suatu organisasi yang mengisolasi diri, termasuk sekolah sebagai organisasi apabila tidak melakukan kontak dengan lingkungannya maka dia lambat laun akan mati secara alamiah (tidak dapat eksis), karena organisasi hanya akan tumbuh dan berkembang apabila didukung dan dibutuhkan oleh lingkungannya. Hanya sistem terbuka yang memiliki megantropy, yaitu suatu usaha yang terus menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy atau kepunahan. Ini berarti hidup matinya lembaga pendidikan akan sangat tergantung dan ditentukan oleh usaha sekolah itu sendiri, dalam arti sejauhmana dia mampu menjaga dan memelihara komunikasinya dengan masyarakat luas atau dia mau menjadi organisasi terbuka.
Dalam kenyataan sering kita temui sekolah yang tidak punya nama baik di masyarakat akhirnya akan mati. Hal ini disebabkan karena sekolah itu tidak mampu membuat hubungan yang baik dan harmonis dengan masyarakat pendudkungnya. Dengan berbagai alasan masyarakat tidak mau menyekilahkan anaknya di suatu sekolah, yang akhirnya membuat sekolah itu mati dengan sendirinya. Demikian pula sebaliknya sekolah yang bermutu akan dicari bahkan masyarakat akan membayar dengan biaya mahal asalkan anaknya diterima di sekolah tersebut. Adanya sekolah pavorit dan tidak pavorit ini nampaknya sangat terkait dengan kemampuan kepala sekolah mengadakan pendekatan dan hubungan dengan para pendukungnya di masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh pengusaha, tokoh agama dan tokoh politik atau tokoh pemerintahan (stakeholders).
Karena itu sejak lama Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu berlangsung pada tiga lingkungan yaitu lingkungan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Konsep ini diperkuat oleh GBHN bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat. Artinya pendidikan tidak akan berhasil kalau ketiga komponen itu tidak saling bekerjasama secara harmonis. Kaufman menyebutkan patner/mitra pendidikan tidak hanya terdiri dari guru dan siswa saja, tetapi juga para orang tua/masyarakat.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa lembaga pendidikan bukanlah lembaga yang berdiri sendiri dalam membina pertumbuhan dan perkembangan putra-putra bangsa, melainkan ia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang luas, dan bersama masyarakat membangun dan meningkatkan segala upaya untuk memajukan sekolah. Hal ini akan dapat dilakukan apabila masyarakat menyadari akan pentingnya peranan mereka dalam lembaga pendidikan. Hal ini dapat tercipta apabila lembaga pendidikan mau membuka diri dan menjelaskan kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana masyarakat dapat berperan dalam upaya membantu sekolah/lembaga pendidikan memajukan dan meningkatkan kualiutas penyelenggaraan pendidikan.
Ada hubungan saling menguntungkan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat, yaitu dalam bentuk hubungan saling memberi, saling melengkapi dan saling menerima sebagai patner yang memiliki kedudukan setara.
Lembaga pendidikan pada hakekatnya melaksanakan dan mempunyai fungsi ganda terhadap masyarakat, yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaharuan bagi masyarakat sekitarnya, yang oleh Stoop disebutnya sebagai fungsi layanan dan fungsi pemimpin (fungsi untuk memajukan masyarakat melalui pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas).
Sebagai lembaga yang berfungsi sebagai pembaharu terhadap masyarakat maka sekolah mau tidak mau atau suka tidak suka harus mengikutsertakan masyarakat dalam melaksanakan fungsi dan peranannya agar pekerjaan dan tanggung jawab yang dipikul oleh sekolah akan menjadi ringan.
Setiap aktivitas pendidikan, apalagi yang bersifat inovatif, seharusnya dikomunikasikan dengan masyarakat khususnya orang tua siswa, agar merka sebagai salah satu penanggung jawab pendidikan menegrti mengapa aktoivitas tersebut harus dilakukan oleh sekolah dan pada sisi mana mereka dapat berperan membantu sekolah dalam merealisasikan program inovatif tersebut.
Dengan hubungan yang harmonis tersebut ada beberapa manfaat pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat (School Public Relation) yaitu:
Bagi Sekolah/lembaga pendidikan.
1.Memperbesar dorongan mawas diri, sebab seperti diketahui pada saat dengan berkembangnya konsep pendidikan oleh masyarakat, untuk masyarakat dan dari masyarakat serta mulai berkembangnya impelementasi manajemen berbasis sekolah, maka pengawasan sekolah khususnya kualitas sekolah akan dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat antara lain melalui dewan pendidikan dan komite sekolah.
2.Memudahkan/meringankan beban sekolah dalam memperbaiki serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Hal ini akan tercapai apabila sekolah benar-benar mampu menjadikan masyarakat sebagai mitra dalam pengembangan dan peningkatan sekolah. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada sekolah yang berkembang dan berkualitas baik apabila tidak mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat lingkungannya. Masyarakat akan mendukung sepenuhnya serta membantunya apabila sekolah mampu menunjukkan kinerja yang berkualitas.
3.Memungkinkan upaya peningkatan profesi mengajar guru. Melalui hubungan yang erat dengan masyarakat, maka profesi guru akan semakin mudah untuk tumbuh dan berkembang. Sebab pada dasarnya laboraturium terbaik bagi lembaga pendidikan seperti sekolah adalah masyarakatnya sendiri. Demikian pula laboraturium profesi guru yang professional akan dibuktikan oleh masyarakatnya.
4.Opini masyarakat tentang sekolah akan lebih positif/benar. Opini yang positif akan sangat membantu sekolah dalam mewujudkan segala program dan rencana pengembangan sekolah secara optimal, sebab opini yang baik merupakan modal utama bagi sekolah untuk mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Bantuan masyarakat hanya akan lahir apabila mereka memiliki opini dan persepsi yang positif tentang sekolah. Karena itu keterbukaan, kebersamaan dan komitmen bersama perlu ditumbuhkembangkan di lingkungan sekolah.
5.Masyarakat akan ikut serta memberikan kontrol/koreksi terhadap sekolah, sehingga sekolah akan lebih hati-hati.
6.Dukungan moral masyarakat akan tumbuh terhadap sekolah sehingga memudahkan mendapatkan bantuan material dari masyarakat dan akan memberikan kemudahan dalam penggunaan berbagai sumber belajar termasuk nara sumber yang ada dalam masyarakat.
Bagi Masyarakat, dengan adanya hubungan yang harmonis antar sekolah dengan masyarakat maka:
1.Masyarakat/orang tua murid akan mengerti tentang berbagai hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan di sekolah
2.Keinginan dan harapan masyarakat terhadap sekolah akan lebih mudah disampaikan dan direalisasikan oleh pihak sekolah.
3.Masyarakat akan memiliki kesempatan memberikan saran, usul maupun kritik untuk membantu sekolah menciptakan sekolah yang berkualitas.