PARADIGMA PSIKOLOGI KEPRIBADIAN: KOGNITIF DAN BEHAVIORISTIK

PARADIGMA PSIKOLOGI KEPRIBADIAN: KOGNITIF DAN BEHAVIORISTIK

 A.     Latar Belakang

Reformasi pendidikan di tanah air terjadi sejak ditetapkan ketentuan perundang-undangan. Diawali UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dilengkapi dengan PP nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PerMendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi, PerMendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan, PerMendiknas nomor 24 tahun 2006 tentang Standar Proses, PerMendiknas nomor 18 tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru, serta PerMendiknas nomor 13 tentang Sertifikasi Kepala Sekolah. Ketentuan perundang-undangan tersebut merupakan hajat publik untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk karakter warga masyarakat Indonesia yang bermartabat.

Standar Nasional Pendidikan menetapkan 8 standar, yaitu: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan, (4) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelola, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar penilaian pendidikan. Tenaga Kependidikan di tingkat satuan pendidikan terdiri atas: Kepala TK/RA, Kepala SD/MI, Kepala SMP/MTs, Kepala SMA/MA, Kepala SMK/MAK, Kepala SDLB/SMPLB, dan SMALB, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga kebersihan.

Standar Kompetensi Kepala Sekolah meliputi (1) kompetensi kepribadian, (2) kompetensi manajerial, (3) kompetensi supervisi, dan (4) kompetensi sosial. Sub-Kompetensi kepribadian terdiri atas: (1) memiliki integritas sebagai pemimpin, (2) memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan diri sebagai Kepala Sekolah, (3) bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, (4) mengendalikan diri dalam menghadapi masalah sebagai Kepala Sekolah, dan (5) memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.

Dalam rangka meningkatkan mutu kinerja Kepala Sekolah senantiasa diselenggarakan DIKLAT berbasis kompetensi. Untuk mendukung kompetensi kepribadian Kepala Sekolah maka disiapkan bahan ajar Diklat Pengembangan Kepribadian. Diklat Pengembangan Kepribadian disusun menjadi 4 bagian, yakni (1) Psikologi Kepribadian tinjauan Teori dan Praktek, (2) Paradigma Psikologi Kepribadian Psikoanalitik dan Trait, (3) Paradigma Psikologi Kepribadian Kognitif dan Behavioristik, dan (4) Instrumen Pengembangan Diri.

Mata pelatihan ke 3 adalah Paradigma Psikologi Kepribadian: Kognitif dan Behavioristik. Kedua paradigma psikologi kepribadian itu dibahas karena kedua paradigma tersebut mengkaji lebih rinci karakteristik pribadi individu yang digunakan sebagai model pengembangan diri para pemimpin sesuai dengan tipologinya masing-masing.

 

B.     Konsep Psikologi Kepribadian: Kognitif

  1. 1.         Paradigma Kognitif Teori Medan

Ilmu fisika dan kimia mempengaruhi psikologi dengan memberi cara berpikir baru mengenai obyek, apa yang harus dipelajari, dan bagaimana mempelajarinya. Teori medan dalam fisika (dikembangkan oleh Michael Faraday, James Maxwell dan Henrich Hertz pada abad 19) menunjukkan fenomena listrik atau magnet, dan grafitasi mempengaruhi medan sekitarnya. Konsep pengaruh medan ini diadopsi ke dalam psikologi menjadi Psikologi Gestalt oleh Max Werheimer, Woalfgang Kohler, Kurt Koffka, dan ahli Gestalt lainnya. Fokus psikologi Gestalt adalah konsep-konsep persepsi, berpikir, dan belajar. Adopsi teori medan dalam psikologi kepribadian dilakukan oleh Kurt Lewin. Memakai asumsi Gestalt, Lewin mendasarkan pengembangan teorinya berdasarkan 3 asumsi:

  1. Dasar pemahaman psikologi bukan elemen (gambaran rincian jiwa) tetapi saling hubungan pola atau konfigurasi. Elemen digambarkan untuk memahami saling hubungannya bukan wujud dan ukurannya.
  2. Beberapa saling hubungan menjadi dasar dari saling hubungan dengan yang lain, sehingga dapat dideskripsikan kecenderungan kepribadian bergerak menuju kesatuan Gestalt.
  3. Psikologi seharusnya difahami dalam bentuk teori medan (field theory), dimana ”field” adalah sistem pengaturan diri yang ditentukan oleh saling hubungan antar bagian-bagian dari unsur yang mendukung sistem itu.

Walaupun Lewin sangat tertarik dengan aspek matematis dari teorinya, sebagian besar ide-ide pokok teorinya dapat dikomunikasikan dalam diagram yang lebih sederhana. Kalau diagram-diagram itu digambarkan dalam bentuk formula matematik, tidak dapat dihindari bentuk formula matematik yang rumit karena sifat jiwa yang sangat kompleks.

 

 

  1.  2.      Struktur Kepribadian

 

  1. a.         Unsur-Unsur Pembentuk Kepribadian

Lewin menggambarkan manusia sebagai pribadi berada dalam lingkungan psikologis, dengan pola hubungan dasar tertentu. Pendekatan matematis yang dipakai Lewin untuk menggambarkan ruang hidup di sebut topologi. Fokusnya adalah saling hubungan antara segala sesuatu di dalam jiwa manusia, hubungan antara bagian dengan bagian dan antara bagian dengan keseluruhan, lebih dari sekedar ukuran dan bentuk. Jadi dalam mempelajari diagram-diagram Lewin, harus diperhatikan saling hubungan dan komunikasi antar daerah alih-alih bentuk dan ukuran yang dipakai untuk menggambarkan daerah-daerah itu sebagaimana gambar 2.1 berikut.

 

1)      Ruang Hidup (Life Space)

Ruang hidup adalah seluruh isi elips: keseluruhan kumpulan fakta yang ada pada suatu saat, yang mempengaruhi/menentukan tingkah laku. Ruang hidup merupakan potret sesaat, yang terus menerus berubah, mencakup persepsi orang tentang dirinya sendiri dalam lingkungan fisik dan sosialnya saat itu, keinginan, kemauan, tujuan-tujuan, ingatan tentang peristiwa masa lalu, imajinasinya mengenai masa depan, perasaan-perasaannya, dan sebagainya. Ruang hidup merupakan gabungan antara daerah pribadi dan daerah lingkungan psikologis, yang secara matematis dapat dirumuskan dalam formula sebagai berikut:

Rh = (P + E)

Keterangan:

Rh = Ruang hidup

P = Daerah Pribadi

E = Daerah Lingkungan Psikologis


2)      Daerah Pribadi (Person Area)

Lewin biasanya menggambarkan daerah pribadi dengan lingkaran tertutup, menunjukkan bahwa pribadi adalah kesatuan yang terpisah dari hal lain di dunia tetapi tetap menjadi bagian dari dunia. Lingkaran itu berada dalam elips yang menggambarkan bahwa pribadi adalah bagian yang terpisah tetapi berada di dalam ruang hidup, menjadi bagian dari semua yang ada di dalam ruang hidup. Daerah pribadi terdiri dari dua bagian besar, daerah persepsi-motorik dan daerah pribadi-dalam:

  • Daerah persepsi motorik (perception-motor area): menjadi daerah antara yang menghubungkan pribadi-dalam dengan lingkungan psikologis. Pribadi-dalam mempengaruhi tingkah laku melalui fungsi motorik, sebaliknya lingkungan psikologis mempengaruhi pribadi-dalam melalui proses persepsi.
  • Daerah pribadi-dalam (inner-personal area): berisi aspek-aspek motivasional. Daerah ini dibatasi oleh daerah persepsi motorik sehingga tidak dapat berhubungan langsung dengan lingkungan psikologis. Aspek-aspek motivasional di dalm pribadi-dalam, digambarkan dalam pecahan-pecahan daerah, disebut sel.
  • Sel (cells): sel yang berdekatan dengan daerah persepsi-motorik disebut sel perifer, sedang sel yang berada di tengah-tengah lingkaran di sebut sel sentral. Semakin dekat dengan lingkaran daerah persepsi-motorik, dorongan motivasional itu semakin besar pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia. Jumlah dan posisi sel setiap saat bisa berubah-ubah tergantung kepada tujuan, keinginan, kebutuhan dan motivasi yang muncul pada saat dan yang mendesak untuk dilayani dengan tindakan motorik. Sel yang satu akan mempengaruhi sel yang lain, sel-sel itu saling berkomunikasi, saling bersentuhan, saling pengaruh-mempengaruhi, tergantung kepada sifat independensinya.

 

3)      Daerah Lingkungan Psikologis

Daerah di dalam elips tetapi diluar lingkaran adalah daerah lingkungan psikologis. Seperti daerah pribadi-dalam, daerah lingkungan psikologis dibagi-bagi dalam pecahan-pecahan, disebut region.

Region: Semua stimulus yang ditangkap oleh persepsi dan kemudian mempengaruhi atau menjadi bagian yang ‘menyibukkan’ fungsi kognitif manusia, berarti stimulus itu mempunyai tempat tertentu yang di sebut region dalam lingkungan psikologis seseorang. Satu stimulus atau seperangkat stimulus yang bermakna sebagai satu kesatuan menghuni satu region. Setiap saat region yang ada di lingkungan psikologis berubah-ubah jumlah dan jenisnya, tergantung kepada berapa banyaknya persepsi yang menggugah fungsi kognitifnya. Seperti pada sel, region saling berkomunikasi.

Bondaris: Semua garis yang tertera pada diagram itu di sebut bondaris, bisa merupakan batas antar sel, antar region atau antara daerah lingkungan psikologis dengan daerah persepsi-motorik dan antara daerah persepsi-motorik dengan daerah pribadi-dalam. Antara unsur-unsur struktur kepribadian yang dibatasi bondaris itu bisa saling berinteraksi (digambarkan dengan garis bondaris yang tipis), atau saling independen (garis tebal). Garis yang tipis menggambarkan sifat bondaris yang permeabel, artinya garis itu mudah ditembus dan dua daerah yang dibatasi garis itu bisa saling mempengaruhi. Garis yang tebal menggambarkan sifat bondaris yang tak-permeabel, artinya garis itu tidak bisa ditembus dan dua daerah yang dibatasi garis itu saling independen, tidak saling mempengaruhi.

 

4)      Lingkungan Non-Psikologis

Lingkungan non-psikologis luasnya tidak terhingga sehingga seharusnya tidak mempunyai bondaris (pada gambar dibatasi persegi empat). Apa saja yang ada tetapi tidak menjadi stimulus bagi diri seseorang, termasuk lingkungan non-psikologis, bisa berupa benda/obyek, fakta-fakta atau situasi sosial. Benda, fakta, atau situasi itu bisa sangat dekat secara fisik dengan orang itu, tetapi kalau tidak menyentuh fungsi psikologisnya, berarti benda itu secara psikologis tidak ada di sana, dia tidak ada di daerah psikologis–dia berada di daerah non psikologis (di sebut juga daerah kulit asing).

 

Isi-isi Ruang Hidup

Misalnya, ruang kehidupan seorang Kepala Sekolah yang duduk di kantor kepala sekolah di saat UAS, ruang kehidupannya mencakup beberapa hal seperti; keadaan ruang kelas, kursi dimana dia duduk, seorang siswa menghampiri sambil ketakutan karena menunggak SPP, para pengawas bergegas menuju ruang ujian, dan stimulus-stimulus lainnya yang dirasakannya (walaupun dalam tingkatan yang sangat lemah). Fakta-fakta itu termasuk kelompok region, bagian dari daerah lingkungan psikologis.

Pada saat itu juga Kepala Sekolah memikirkan untuk mengajak ngobrol siswa di dekatnya sambil makan kue, dia juga sedang memikirkan hajatan nanti malam, dan pikirannya terkadang meloncat ke rumahnya yang sangat sempit dan gaduh. Pikiran-pikiran itu masuk dalam kelompok sel, bagian dari pribadi- dalam. Sel (dan juga region) dapat terpecah-pecah menjadi sel yang lebih kecil. Pikiran terhadap hajatan, terpecah menjadi pikiran bagaimana perasaan senang ketika rekan-rekannya hadir, bagaimana bertemu dengan teman lama, bagaimana lezatnya hidangan, dan seterusnya.

Pengawas yang otoriter yang akan mempengaruhi ketenangan para siswa yang sedang mengerjakan soal ujian. Fakta itu sama sekali tidak ditangkap oleh Kepala Sekolah. Ia berada di dalam kantornya, tetapi atensinya tertuju kepada pribadi-dalam, dia sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri, sehingga kepanikan siswa tidak dapat merangsang persepsinya. Fakta UAS berada di luar ruang hidup – fakta itu berada di daerah non psikologis.

Setiap sel atau region dari ruang hidup dihuni oleh fakta yang terpisah. Bagi Lewin, fakta bisa semua hal, baik yang dirasakan (lapar, haus) maupun yang disimpulkan (masalah orang lain, dia orang yang bodoh). Fakta juga bersifat empiris, fenomenal, hipotesis, dinamik. Fakta yang ada di dalam daerah pribadi-dalam di sebut kebutuhan, dan fakta yang ada di lingkungan psikologis berupa objek. Setiap kebutuhan menghuni sel yang terpisah dalam pribadi-dalam, dan setiap objek menghuni region yang terpisah di lingkungan psikologis. Peristiwa (event) adalah hasil interaksi antara dua atau lebih fakta baik di daerah pribadi maupun di daerah lingkungan psikologis. Misalnya, ketika orang bergerak dari satu region ke region lain di daerah lingkungan psikologis, itu adalah peristiwa karena paling kurang melibatkan tiga fakta, region yang ditinggalkan, region yang dituju, dan lingkaran pribadi yang bergerak.

 

  1.  3.      Dinamika Kepribadian
  2. a.       Energi, Tegangan dan Kebutuhan

Energi

Bagi Lewin, manusia adalah sistem energi yang kompleks. Energi yang dipakai untuk kerja psikologis disebut Energi psikis (psychic energy). Energi muncul dari perbedaan tegangan antar sel atau antar region. Meningkatnya tegangan di salah satu sel lebih tinggi dibanding sel lain, akan menghasilkan ketidakseimbangan, dan usaha sistem pribadi-dalam untuk menyeimbangkan kembali tegangan antar sel itu akan menimbulkan energi psikis. Ketika sistem kembali seimbang, keluaran energi berhenti dan sistem menjadi istirahat. Ketidakseimbangan akibat peningkatan tegangan juga bisa terjadi antar region di sistem lingkungan psikologis.

Tegangan

Tension mempunyai dua sifat; pertama, tegangan cenderung menjadi seimbang, yaitu jika sistem a berada dalam keadaan tegangan tinggi dan sistem b, c, d dalam keadaan tegangan rendah, tegangan akan cenderung bergerak dari a ke b-c-d, sampai ke empat sistem itu berada dalam tegangan yang sama (bandingkan dengan prinsip entropi dari Jung).

Sifat ke dua dari tegangan adalah kecenderungan untuk menekan bondaris sistem yang mewadahinya. Sel atau region hampir selalu memiliki persinggungan dengan beberapa sel/region lain. Kalau bondaris antar region yang tegang itu dengan region tetangganya permeabel, tegangan akan mengalir kesana. Kalau bondaris itu tak permeabel aliran terhambat dan tegangan akan mencari bondaris yang permeabel.

Kebutuhan

Tegangan di satu sel meningkat karena munculnya kebutuhan. Misalnya; kondisi fisiologis seperti lapar, haus, atau seks, atau keinginan seperti ingin bekerja menghasilkan uang, atau bisa juga kemauan untuk mengerjakan sesuatu seperti menyelesaikan tugas atau menghadiri pertemuan. Jadi bagi Lewin, kebutuhan itu mencakup pengertian motif, keinginan, dan dorongan.

Menurut Lewin, kebutuhan yang bersifat spesifik jumlahnya tak terhingga, sebanyak keinginan spesifik manusia. Lewin tidak berusaha mendaftar semua need, dan juga tidak mereduksi jumlah kebutuhan menjadi satu beberapa kebutuhan umum. Dia merasa masih sangat sedikit yang diketahui tentang bagaimana mensistematisirnya. Dalam sistemnya, hanya kebutuhan yang muncul pada saat ini yang akan menghasilkan dampak terhadap situasi. Misalnya, setiap orang dapat merasakan lapar, tetapi hanya kalau kebutuhan itu perlu diperhitungkan. Kebutuhan bisa menjadi sangat spesifik, karena dihubungkan dengan objek tertentu, akibat pengaruh interaksi sosial dan budaya. Kebutuhan semacam itu di sebut kebutuhan semu (Quasy need). Lapar sebagai kebutuhan spesifik, menjadi kebutuhan semu dalam bentuk kebutuhan makan nasi. Kebutuhan mendengar konser piano, menari, atau memelihara ikan hias adalah contoh lain dari kebutuhan semu, karena kebutuhan-kebutuhan itu melibatkan interaksi dengan orang lain dan dengan aspek budaya.

b.      Tindakan (action)

Menurut Lewin, tegangan yang terkumpul dalam sistem pribadi-dalam, akan menekan bondaris dan kemudian energinya menerobos ke daerah persepsi-motorik, tidak langsung menghasilkan gerakan. Dibutuhkan dua konsep yakni valensi dan vektor untuk menghubungkan motivasi di pribadi-dalam dengan tindakan yang bertujuan di daerah lingkungan psikologis.

Valensi

Valensi adalah nilai region dari lingkungan psikologis bagi pribadi. Region dengan valensi positif berisi obyek tujuan yang dapat mengurangi tegangan pribadi, misalnya, bagi orang yang lapar region yang berisi makanan mempunyai valensi positif. Sebaliknya orang yang takut dengan anjing, region yang berisi anjing mempunyai valensi negatif, karena region itu justru dapat meningkatkan tegangan (rasa takut) pribadi. Pada dasarnya, besarnya valensi ditentukan oleh kebutuhan-nilai makanan tergantung kepada tingkat kelaparan seseorang. Di samping itu ada faktor-faktor lain seperti pengalaman dan budaya yang mempengaruhi valensi. Misalnya pada orang lapar, makanan tertentu mungkin mempunyai valensi negatif kalau makanan itu tidak disukainya.

Vektor

Tingkah laku gerak seseorang akan terjadi kalau ada kekuatan yang cukup yang mendorongnya. Meminjam dari matematika dan fisika, Lewin menyebut kekuatan itu dengan nama Vektor. Vektor digambar dalam ujud panah, merupakan kekuatan psikologis yang mengenai seseorang, cenderung membuatnya bergerak ke arah tertentu. Arah dan kekuatan vektor adalah fungsi dari valensi positif dan negatif dari satu atau lebih region dalam lingkungan psikologis. Jadi kalau satu region mempunyai valensi positif (misalnya berisi makanan yang diinginkan), vektor yang mengarahkan ke region itu mengenai lingkaran pribadi. Kalau region yang kedua valensinya negatif (berisi anjing yang menakutkan), vektor lain mengenai lingkaran pribadi mendorong menjauhi region anjing. Jika beberapa vektor positif mengenai dia, misalnya, jika orang payah – dan lapar – dan makanan harus disiapkan, atau orang harus hadir dalam pertemuan penting – dan tidak punya waktu untuk makan siang, hasil gerakannya merupakan jumlah dari semua vektor. Situasi ini sering melibatkan konflik, topik yang penelitiannya dimulai oleh Lewin dan menjadi topik yang sangat luas dari Miller dan Dollard.

Lokomosi

Lingkaran pribadi dapat pindah dari satu tempat ke tempat lain di dalam daerah lingkungan psikologis. Pribadi pindah ke region yang menyediakan pemuasan kebutuhan pribadi-dalam, atau menjauhi region yang menimbulkan tegangan pribadi-dalam. Perpindahan lingkaran pribadi itu disebut lokomosi (locomotion). Lokomosi bisa berupa gerak fisik, atau perubahan fokus perhatian. Dalam kenyataan sebagian besar lokomosi yang sangat menarik perhatian psikolog berhubungan dengan perubahan fokus persepsi dan proses atensi.

Event

Lewin menggambarkan dinamika jiwa dalam bentuk gerakan atau aksi di daerah ruang hidup, dalam bentuk peristiwa atau event. Telah dijelaskan di depan, bahwa peristiwa (event) adalah hasil interksi antara dua atau lebih fakta baik di daerah pribadi maupun di daerah lingkungan. Komunikasi (hubungan antar sel atau region) dan lokomosi (gerak pribadi) adalah peristiwa, karena keduanya melibatkan dua fakta atau lebih. Ada tiga prinsip yang menjadi prasyarat terjadinya suatu peristiwa; keterhubungan (relatedness), kenyataan (concretness), kekinian (contemporary), sebagai berikut:

  1. Keterhubungan: Dua atau lebih fakta berinteraksi, kalau antar fakta itu terdapat hubungan-hubungan tertentu, mulai dari hubungan sebab akibat yang jelas, sampai hubungan persamaan atau perbedaan yang secara rasional tidak penting.

Kenyataan: Fakta harus nyata-nyata ada dalam ruang hidup. Fakta potensial atau peluang yang tidak sedang eksis tidak dapat mempengaruhi event masa kini. Fakta di luar lingkungan psikologis tidak terpengaruh, kecuali mereka masuk ke ruang hidup.

Kekinian: Fakta harus kontemporer. Hanya fakta masa kini yang menghasilkan tingkah laku masa kini, fakta yang sudah tidak eksis tidak dapat menciptakan event masa kini. Fakta peristiwa nyata di masa lalu atau peristiwa potensial masa mendatang tidak dapat menentukan tingkah laku saat ini, tetapi sikap, perasaan, dan pikiran mengenai masa lalu dan masa mendatang adalah bagian dari ruang hidup sekarang dan mungkin dapat mempengaruhi tingkah laku. Jadi, ruang hidup sekarang harus mewakili isi psikologi masa lalu, sekarang, dan masa mendatang.

Event digambarkan dalam suatu topografi yang melibatkan unsur-unsur ruang hidup, valensi, vektor, region dan permeabilitas bondaris. Pada ilustrasi berikut (Gambar 2.2a, 2.2b, dan 2.2c) dicontohkan event seorang anak yang menginginkan permen yang dijual di sebuah toko. Hanya tergambar 3 vektor yang terlibat dalam event itu. Pada kasus yang sebenarnya, variabel yang terlibat dalam suatu peristiwa bisa sangat banyak sehingga topografi menjadi ilustrasi yang sangat kompleks.

Gambar 2.2a: Anak menginginkan permen yang dijual di toko

Misalnya, seorang anak melihat etalase toko yang menyajikan permen, dan dia menginginkan memiliki permen itu. Menurut Lewin, ujud permen itu membangkitkan kebutuhan, dan kebutuhan itu mengakibatkan tiga hal: melepaskan energi, sehingga membangkitkan tegangan di dalam sel pribadi-dalam yakni sel sistem keinginan permen; memberi valensi positif ke region dimana permen itu berada; dan menimbulkan vektor yang mendorong anak itu ke arah permen. Anak kemudian masuk toko dan membeli permen, seperti digambarkan pada diagram.

1

1: vector permen

 

Gambar 2.2b: ayah memberi uang untuk membeli permen

Kalau anak tidak mempunyai uang, berarti batas region permen tak permeabel. Dia bisa mendekatkan diri ke permen, misalnya dengan melekatkan hidungnya ke kaca etalase, tetapi tetap dia tidak dapat memperoleh permen. Kalau kemudian anak memutuskan meminta uang kepada ayahnya untuk membeli permen, (mendapat uang dari ayahnya, menurut Lewin merupakan contoh keinginan semu). Diagramnya memiliki 2 vektor, anak mencapai region permen melalui region ayah yang permeabel.

 2

1

1: vector permen

2: vector ayah

 

Gambar 2.2c: Ayah menolak memberi uang, anak meminjam uang temannya.

Tetapi kalau ayah ternyata menolak permintaannya, region ayah menjadi takpermeabel, dan anak kemudian berusaha meminjam uang dari temannya (quasy need). Diagram menjadi memiliki 3 vektor, dimana valensi dan vektor ayah negatif, anak mencapai permen melalui region teman yang permeabel.

 Teman

+

1

2

3

1: vector permen

2: vector teman

3: vector ayah

 

 

 

Konflik

Konflik terjadi di daerah lingkungan psikologis. Lewin mendefinisikan konflik sebagai situasi di mana seseorang menerima kekuatan-kekuatan yang sama besar tapi arahnya berlawanan. Vektor-vektor yang mengenai pribadi, mendorong pribadi ke arah tertentu dengan kekuatan tertentu. Kombinasi dari arah dan kekuatan itu di sebut jumlah kekuatan (resultant force), yang menjadi kecenderungan lokomosi pribadi (lokomosi psikologikal atau fisikal). Ada beberapa jenis kekuatan, yang bertindak seperti vektor, yakni:

1)   Kekuatan pendorong (driving force): menggerakkan, memicu terjadinya lokomosi ke arah yang ditunjuk oleh kekuatan itu.

2)   Kekuatan penghambat (restraining force): halangan fisik atau sosial, menahan terjadinya lokomosi, mempengaruhi dampak dari kekuatan pendorong.

3)   Kekuatan kebutuhan pribadi (forces corresponding to a persons need): menggambarkan keinginan pribadi untuk mengerjakan sesuatu.

4)   Kekuatan pengaruh (induced force): menggambarkan keinginan dari orang lain (misalnya orang tua atau teman) yang masuk menjadi region lingkungan psikologis.

5)   Kekuatan bukan manusia (impersonal force): bukan keinginan pribadi tetapi juga bukan keinginan orang lain. Ini adalah kekuatan atau tuntutan dari fakta atau objek.

 Konflik tipe 1:

Konflik yang sederhana terjadi kalau hanya ada dua kekuatan berlawanan yang mengenai individu. Konflik semacam ini di sebut konflik tipe 1. Ada tiga macam konflik tipe 1:

1)   Konflik mendekat-mendekat, dua kekuatan mendorong ke arah yang berlawanan, misalnya orang dihadapkan kepada dua pilihan yang sama-sama disenanginya.

2)   Konflik menjauh-menjauh, dua kekuatan menghambat ke arah yang berlawanan, misalnya orang dihadapkan kepada dua pilihan yang sama-sama tidak disenanginya.

3)   Konflik mendekat-menjauh, dua kekuatan mendorong dan menghambat muncul dari satu tujuan, misalnya orang dihadapkan pada pilihan sekaligus mengandung unsur yang disenangi dan tidak disenanginya.

 

Konflik tipe 2:

Konfik yang kompleks yang bisa melibatkan lebih dari dua kekuatan. Konflik sangat kompleks dapat membuat orang menjadi diam, terpukau atau terperangkap oleh berbagai kekuatan dan kepentingan sehingga dia tidak dapat menentukan pilihan, adalah konflik tipe 2.

 

Konflik tipe 3:

Orang berusaha mengatasi kekuatan-kekuatan penghambat, sehingga konflik menjadi terbuka, ditandai sikap kemarahan, agresi, pemberontakan, atau sebaliknya penyerahan diri yang neurotik. Pertentangan antar kebutuhan pribadi-dalam, konflik antar pengaruh, dan pertentangan antara kebutuhan dengan pengaruh, menimbulkan pelampiasan usaha untuk mengalahkan kekuatan penghambat. Anak yang dilarang makan permen oleh orang tuanya, berusaha memberontak mengalahkan aturan orang tua. Ketika pemberontakannya tidak berhasil, kemudian mengarahkan kemarahannya kepada teman atau objek disekitarnya, atau menyerah tunduk kepada arahan kekuatan orang tua yang sangat kuat.


Gambar 2.3 a: Konflik tipe 1

Mendekat-mendekat

(approach-approach)

 

Seorang anak harus memilih antara dua region yang sama-sama disenanginya:

Region piknik bersama keluarga

Region bermain bersama teman

 

Menjauh-menjauh

(Avoidance-avoidance)

Seorang anak akan menghindar dari dua region yang sama-sama tidak menyenangkan:

Region mengerjakan tugas dengan Region mendapat hukuman (kalau tugas tidak dikerjakan)

 

 Mendekat-menjauh

(approach-avoidance)

 Suatu destinasi yang mempunyai valensi positif dan negatif. Misalnya, anak ingin mengambil perahunya (+) di tengah kolam yang dalam (-)

Driving

Perahu

KOLAM

 Gambar b: Konflik tipe 2

Anak terperangkap dalam region bervalensi negatif dengan bondaris yang sangat kuat sifat tak permeabel-nya. Anak tidak bisa keluar – lokomosi ke region positif. Region aturan ayahnya harus belajar jam 7-9 malam (valensi negatif), dan anak tidak senang belajar (valensi negatif). Anak memperoleh kekuatan negatif dari arah yang berlawanan, tetapi tidak bisa lokomosi.

Restrain

Belajar

 Tingkat Realita

Konsep tingkat kerealitaan dari Lewin mengemukakan bahwa realita berisi lokomosi aktual, dan tak-realita berisi lokomosi imajinasi. Realita dan tak-realita adalah suatu kontinum, dari ekstrim realita sampai ekstrim tak-realita. Lokomosi mempunyai tingkat realita atau tak realita yang berbeda-beda. Misalnya, orang ingin menerima tawaran bekerja di tempat lain yang lebih prospektif (realistis), di tempat yang baru dia mengharapkan dapat mempunyai teman baru yang lebih bersahabat dibanding dengan teman-temannya sekarang (kurang realistis), dia juga melamun mengenai ingin menjadi presiden direktur di tempat baru (tidak realistis). Setiap aktivitas mempunyai tingkat realita yang berbeda-beda; merencanakan atau berfikir mengenai sesuatu berada di tingkat tengah-tengah, antara performansi yang realistik dan fantasi yang tidak realistik.

Konsep realita dan tingkat tak realita juga diterapkan pada daerah pribadi seperti pada daerah lingkungan psikologis. Misalnya, sel di pribadi-dalam mungkin mempengaruhi daerah motorik atau mungkin hanya melakukan hal itu dalam imajinasi. Sel yang berisi dorongan agresi, kalau tingkat realitanya tinggi akan muncul motorik menyerang dan merusak. Sedang agresi yang tingkat realita rendah atau takrealita akan muncul dalam bentuk imajinasi-imajinasi yang tidak realistis.

  1. 1.         Menstruktur Lingkungan

Lingkungan psikologi adalah konsep yang sangat mudah berubah. Dinamika dari lingkungan dapat berubah dengan tiga cara yakni melalui perubahan valensi, vektor dan bondaris. Masing-masing perubahan itu bisa disebabkan oleh berbagai kejadian, yang kalau semuanya dapat digambarkan dalam suatu topografi, akan diperoleh gambaran struktural lingkungan psikologis. Setiap lokomosi akan mengubah ruang hidup, baik lokomosi psikologis ataupun fisiologis. Pada contoh anak dan permen di atas, gerak mendekati ayah dan teman, serta gerak mendekati toko, adalah gerak fisik, tetapi pikirannya untuk mendapat permen dan mengubah fokus dari ayah ke teman, adalah lokomosi yang bersifat kognitif. Dengan memberi berbagai kemungkinan menstruktur lingkungan, Lewin jelas ingin menekankan sifat dinamik dari gambaran kepribadiannya. Setiap diagram dapat dipandang sebagai kerangka satu adegan film. Jadi untuk menggambarkan tingkah laku dari seseorang dalam satu hari, mungkin dibutuhkan gambaran beratus-ratus diagram.

 

Tabel 2.1 Menstruktur Lingkungan Psikologis

Fokus perubahan Deskripsi
Valensi Region bisa berubah secara kuantitatif – valensinya semakin positif atau semakin negatif, atau berubah secara kualitatif, dari positif menjadi negatif atau sebaliknya, region baru bisa muncul dan region lama bisa hilang
Vektor Vektor mungkin berubah dalam kekuatan dan arahnya.
Bondaris Bondaris mungkin menjadi semakin permeabel atau semakin tidak permeabel, mungkin muncul sebagai bondaris atau tidak muncul sebagai bondaris

Mempertahankan Keseimbangan

Bisa diduga, dalam sistem reduksi tegangan, tujuan dari proses psikologis adalah mempertahankan pribadi dalam keadaan seimbang (ingat dengan teori Freud, Jung, Sulivan). Akumulasi tegangan dalam satu sel pribadi-dalam akan menimbulkan berbagai peristiwa. Ketika bondaris tidak dapat lagi menahan tekanan dari daerah pribadi-dalam, mereka mungkin meledakkan energi ke daerah motor yang akan menghasilkan tingkah laku agitatif, seperti tantrum atau kekerasan yang eksplosif. Jika bondaris antara daerah pribadi-dalam dengan daerah motorik cukup permeabel, tegangan mungkin dapat disalurkan sedikit demi sedikit, dalam kegiatan yang tidak berhenti. Yang paling umum dan paling efektif untuk mengembalikan keseimbangan adalah melalui lokomosi dalam lingkungan psikologis – memindah pribadi ke region tempat objek yang bervalensi positif (yang memberi kepuasan). Tetapi kalau region yang diinginkan mempunyai bondaris yang tak permeabel, tegangan terkadang dapat dikurangi (dan keseimbangan diperoleh) dengan melakukan lokomosi pengganti, pindah ke region yang dapat memberi kepuasan lain (yang bondarisnya permeabel) ternyata dapat menghilangkan tegangan dari sistem kebutuhan semula. Misalnya marah yang tidak dapat diekspresikan, diganti dengan kepuasan menghabiskan energi fisik dengan bekerja keras atau berolah raga. (Bandingkan dengan konsep kompensasi dari psikoanalisis). Akhirnya, tegangan dapat dikurangi dengan melakukan lokomosi imajinatif. Orang dapat memperoleh kepuasan vikarius melalui melamunkan mengenai bagaimana seharusnya dirinya. Kecenderungan mencapai keseimbangan itu tidak berarti membuat diri seimbang sempurna, tetapi menyeimbangkan semua tegangan dalam dareah pribadi-dalam. Lewin menjelaskan bahwa dalam sistem yang komplek, menjadi seimbang bukan berarti hilangnya tegangan, tetapi memperoleh keseimbangan dari tegangan internal. Tujuan utama dari perkembangan psikologis adalah menciptakan semacam struktur internal yang menjamin keseimbangan psikologis, bukan membuat bebas tegangan.

 

  1. 4. Perkembangan Kepribadian

Teori Lewin murni psikologis, sehingga ketika membahas perkembangan dia tidak melibatkan diri dengan isu yang menjadi intrik pakar lain, yakni isu keturunan dan lingkungan. Lewin tidak menolak peran keturunan dan kemasakan dalam perkembangan individu, dan tidak menganggap pengaruhnya tidak penting. Ia hanya merasa bahwa psikologi sudah terlalu fokus dengan pola tipikal atau pola umum dari perkembangan dan mengabaikan perkembanagn psikologis lintas waktu dari ruang hidup individu. Perkembangan bagi Lewin adalah suatu yang konkrit dan kontinyu, usia dan tahapan perkembangan dianggapnya tidak terlalu banyak membantu memahami perkembangan psikologis. Konsep-konsep seperti diferensiasi, organisasi, dan integrasi lebih berguna dalam menggambarkan perubahan tingkah laku, alih-alih periodisasi perkembangan.

 

  1. a.         Perubahan Tingkah Laku

Menurut Lewin, sejumlah perubahan tingkah laku yang penting terjadi sepanjang perkembangan. Variasi aktivitas, emosi, kebutuhan, hubungan sosial, dan sebagainya semakin banyak ketika orang menjadi semakin tambah usia (variasi itu mungkin akan menurun pada usia udzur). Namun demikian, semakin bertumbuh orang semakin bebas bergerak, dan orientasi waktu semakin luas. Anak-anak adalah makhluk yang hanya berpikir kekinian, sedang orang dewasa yang masak akan berpikir tentang masa lalu dan merencanakan masa depan, sehingga memasukkan ke dalam ruang hidupnya perspektif waktu. Tingkah laku menjadi semakin teroganisir, hirarkis, realistis, dan efektif.

 Organisasi

Bertambahnya usia membuat orang semakin sadar pentingnya pengorganisasian. Misalnya, anak-anak dapat mempertahankan hubungannya dengan beberapa temannya waktu itu, semakin dewasa mereka akan berinteraksi dengan semakin banyak orang dalam berbagai kelompok. Dibutuhkan suatu sistematik, harus berbuat apa ketika berhubungan dengan orang dalam kelompok yang mana.

 Hirarkis

Tingkah laku menjadi hirarkis, anak-anak bermain untuk memperoleh kepuasan dari pemainan itu. Semakin dewasa mereka memakai permainan sebagai alat/teknik untuk memperoleh kepuasan bersaing dengan teman lain, dan bersaing menjadi alat/teknik untuk memacu diri berguna mencapai tujuan. Tingkah laku juga bisa menjadi semakin rumit; orang dapat mengubah-ubah tingkah lakunya, pindah dari region satu ke region lainnya.

Tingkah laku bayi merupakan reaksi yang kacau di seluruh tubuhnya. Lewin menyebut jenis aktivitas umum semacam itu sebagai tingkah laku saling ketergantungan sederhana (simple interdependence) dimana sistem tegangan saling mempengaruhi. Apapun sumber tegangannya – lapar, haus, kedinginan, takut – tegangan yang terjadi pada bayi menyebar rata ke seluruh organisme, menghasilkan aktivitas masal (menyeluruh). Semakin mencapai kemasakan, semakin diperoleh saling ketergantungan yang teroganisir (organizational interdependence). Dimana aksi yang independen menjadi terorganisir secara hirarkis. Aktivitas dan kebutuhan yang terpisah dikombinasikan dan diintegrasikan ke dalam keseluruhan yang lebih besar.

 

Realistis

Sesudah kemasakan dicapai, kemampuan kita untuk membedakan realitas dengan fantasi meningkat. Meningkatnya realisme persepsi lebih dikenali pada area hubungan sosial. Misalnya, anak kecil mungkin melihat tingkah laku orang lain sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Anak yang lebih tua memahami secara lebih realistik, bahwa orang lain mempunyai rencana dan tujuan dari tingkah laku mereka sendiri.

 Efektif

Kemasakan juga membuat tingkah laku menjadi semakin “ekonomis”. Orang berusaha untuk memperoleh hasil maksimal dengan usaha yang minimal. Tingkah laku yang efektif menuntut adanya penyesuaian ruang hidup dengan sifat-sifat yang sebenarnya dari lingkungan eksternal fisik dan sosial. Penyesuaian semacam itu hanya dapat dilakukan oleh orang dewasa yang masak.

Diferensiasi dan Integrasi

Diferensiasi menjadi salah satu konsep kunci Lewin, untuk menjelaskan peningkatan variasi tingkah laku, kebebasan bergerak dihubungkan dengan kemampuan untuk mengerjakan hal-hal yang berbeda-beda, perluasan orientasi waktu, dan perbedaan antara yang nyata dan yang tidak nyata. Diferensiasi adalah peningkatan jumlah bagian-bagian dari keseluruhan. Jumlah sel dalam pribadi-dalam berlipat dengan bertambahnya usia, dan jumlah region dalam lingkungan psikologis juga meningkat.

Ketika belajar membedakan kenyataan dan ketidaknyataan, orang belajar untuk membedakan bukan hanya antara benar dan salah, tetapi juga antara perbedaan tingkat peluang dan kemungkinan. Jadi, kalau pada anak-anak hanya melihat ibu ada disini atau tidak ada disini, semakin dewasa mereka menjadi memahami bahwa ibu tidak ada di rumah sampai sore, karena dia lembur hari itu, atau ibu sedang mampir di rumah tetangga dan segera sampai di rumah. Bertambahnya diferensiasi akan menciptakan bondari-bondaris yang baru. Kekuatan bondaris itu semakin meningkat bersama dengan pertambahan usia. Ini akan mengurangi kekacauan dan mengembangkan kemampuan untuk melakukan pola tingkah laku yang rumit. Anak-anak lebih mudah dipengaruhi oleh lingkungannya, lebih mudah menghilangkan tegangan secara langsung dibanding orang dewasa. Orang dewasa lebih persisten, mengatur tingkah lakunya dengan pola lokomosi yang rumit dan khas.

Konsep saling ketergantungan yang terorganisir (organizational interdependence) menjelaskan bagaimana daerah pribadi-dalam dan daerah lingkungan psikologis yang semakin terdiferensiasi dan semakin otonom, dapat bekerja sama menghasilkan tingkah laku yang integratif. Sel dan region diintegrasikan dalam keseluruhan yang lebih besar. Hirarki mengatur hubungan dominasi-subordinasi, region a mengatur region b, b mengatur c, dan d, dan seterusnya, misalnya bayi mungkin bermain dengan boneka dengan cara sederhana, misalnya dengan memukul-mukulkannya. Pada anak yang usianya lebih tua, mereka bermain boneka dengan melibatkan hirarki yang kompleks dari tujuan dan subtujuan. Boneka itu diajak berbicara (fantasi) atau digendong (perasaan kasih sayang), atau dimutilasi (rasa ingin tahu). Semuanya itu merupakan kebutuhan semu, dari kebutuhan untuk diperhatikan orang tua. Kebutuhan diperhatikan merupakan sub kebutuhan kasih sayang. Jadi, setiap subtujuan membentuk tujuan semu sementara, yang terkoordinasi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, dan memperoleh kepuasan dari pencapaian tujuan tinggi.

 

Regresi

Perkembangan bisa bergerak mundur. Walaupun tidak memerinci periodisasi perkembangan, Lewin malahan menemukan dua macam gerak mundur perkembangan, regresi dan retrogresi. Retrogresi adalah kembali ke bentuk tingkah laku lebih awal dalam sejarah kehidupan manusia, sedang regresi adalah pernah melakukan hal itu. Jadi semua bentuk kemunduran di sebut regresi, dan khusus regresi yang mengulangi tingkah laku yang pernah dialami pada masa yang lalu di sebut retrogresi. Ekspresi regresi, misalnya ketika orang dewasa menyatakan kegembiraannya dengan meloncat-loncat (seperti anak kecil). Kalau memang dari sejarahnya, orang itu pada masa anak-anak menyatakan kegembiraan hatinya dengan meloncat-loncat, respon itu di sebut retrogresi. Menurut Lewin, frustrasi menjadi salah satu faktor terpenting penyebab regresi.

 

  1.  5.        Aplikasi

1)       Zeigarnik Effect

Banyak penelitian dari Lewin dan pengikutnya, yang semula dimaksudkan untuk meneliti hipotesis dari teori itu, akhirnya dipakai untuk mengembangkan asumsi-asumsi baru dari teori medan. Salah satu contoh fenomena penelitian semacam itu, adalah penelitian yang dilakukan oleh Zeigarnik. Lokomosi, menurut Lewin ditentukan oleh resultansi kekuatan pendorong dan penghambat. Zeigarnik, salah seorang murid Lewin menemukan dalam penelitiannya bahwa lokomosi yang belum selesai tetap menyimpan sejumlah tegangan, yang hanya dapat diredakan kalau tugas lokomosi itu diselesaikan. Dampak dari tegangan yang mengarahkan orang ke tujuan menyelesaikan tugas yang tertunda itu, membuat ingatan orang tentang tugas-tugas yang belum selesai menjadi lebih efisien. Zeigranik effect ini menjelaskan mengapa tugas yang belum selesai lebih lama menempel dalam ingatan, dibanding tugas yang sudah selesai. Dalam kegiatan sehari-hari, sering orang mengalami kegelisahan, tidak dapat tidur, karena belum menyelesaikan suatu tugas. Temuan Zeigarnik oleh Lewin kemudian dikembangkan menjadi asumsi-asumsi berikut:

Asumsi 1:      Maksud-tujuan (intention) untuk mencapai tujuan tertentu, berhubungan dengan tegangan dalam suatu sistem pribadi. Intensi membuat jumlah tegangan meningkat (lebih besar dari nol).

Asumsi 2:    Ketika tujuan tercapai, tegangan (yang meningkat lebih besar dari nol) dari sistem yang terkait dengan tujuan itu menjadi reda (menjadi nol).

Asumsi 3:  Tegangan untuk mencapai tujuan (yang belum tercapai), akan memperkuat tenaga untuk bereaksi menuju tujuan itu.

Asumsi 4:   Kekuatan orang untuk mengingat tujuan (yang belum tercapai) tergantung kepada tegangan dari sistem tujuan itu. Jika tegangan dalam pribadi tinggi (lebih besar dari nol), ingatan mengenai tujuan yang terkait dengan tegangan itu juga tinggi (lebih besar dari nol).

2)         Psikologi Sosial

Teori Lewin yang semula dimaksudkan sebagai teori kepribadian, ternyata justru berkembang di ranah psikologi sosial. Sejak kematian Lewin, tidak ada kemajuan yang berarti dalam hal teori kepribadian-nya. Pendukung setianya banyak mengembangkan rintisannya dalam penelitian tentang proses-proses kelompok, penelitian tentang dinamika kelompok, encounter group, dan ketegangan antara ras.

C.  Psikologi Kepribadian: Behavioristik

  1. 1.    Struktur Kepribadian Stimulus-Response

Kebiasaan (habit) adalah satu-satunya elemen dalam Teori Dollard dan Miller yang memiliki sifat struktural. Habit adalah ikatan atau asosiasi antara stimulus dengan respon, yang relatif stabil dan bertahan lama dalam kepribadian. Karena itu gambaran kebiasaan seseorang tergantung pada event khas yang menjadi pengalamannya. Namun susunan kebiasaan itu bersifat sementara: kebiasaan hari ini mungkin berubah berkat pengalaman baru besok pagi. Dollard & Miller menyerahkan kepada ahli rincian perangkat habit tertentu yang mungkin menjadi ciri seseorang, karena mereka lebih memusatkan bahasannya mengenai proses belajar, bukan kepemilikan atau hasilnya. Namun mereka menganggap penting kelompok habit dalam bentuk stimulus verbal atau kata-kata – dari orang itu sendiri atau dari orang lain, dan responnya yang umumnya juga berbentuk verbal. Dollar & Miller juga mempertimbangkan dorongan sekunder (secondary drives), seperti rasa takut sebagai bagian kepribadian yang relatif stabil. Dorongan primer (primary drives) dan hubungan S-R yang bersifat bawaan (innate) juga menyumbang struktur kepribadian, walaupun kurang penting dibanding habit dan dorongan sekunder, karena dorongan primer dan hubungan S-R bawaan ini menentukan taraf umum seseorang, bukan membuat seseorang menjadi unik.

  1.  2.        Dinamika Kepribadian

1)         Motivasi – Dorongan (Motivation –Drives)

Dollar & Miller sangat memperhatikan motivasi atau drive. Mereka tidak menggambarkan atau mengklasifikasi motif tertentu, tetapi memusatkan perhatiannya pada motif-motif yang penting, seperti kecemasan. Dalam menganalisa perkembangan dan elaborasi kecemasan inilah mereka berusaha menggambarkan proses umum yang mungkin berlaku untuk semua motif. Dalam kehidupan manusia banyak sekali muncul dorongan yang dipelajari (secondary drives) dari atau berdasarkan dorongan primer seperti lapar, haus dan seks. Dorongan yang dipelajari itu berperan sebagai wajah semu yang fungsinya menyembunyikan dorongan bawaan. Kenyataannya, di masyarakat Barat yang modern, dari pengamatan sepintas terhadap mayarakat dewasa, pentingnya dorongan primer sering tidak jelas. Sebaliknya, yang kita lihat adalah dampak dari dorongan yang dipelajari seperti kecemasan, malu, dan kebutuhan kepuasaan. Hanya dalam proses perkembangan masa anak-anak atau dalam periode krisis dapat dilihat jelas beroperasinya dorongan primer. Dollar & Miller juga mengemukakan bahwa bukan hanya dorongan primer yang diganti oleh dorongan sekunder, tetapi hadiah atau penguat yang primer ternyata juga diganti dengan hadiah atau penguat sekunder. Misalnya, senyum orang tua secara bijak terus menerus dihubungkan dengan aktivitas pemberian makanan, penggantian popok dan aktivitas yang memberi kenyamanan lainnya: “senyum” akan menjadi hadiah sekunder yang sangat kuat bagi bayi sampai dewasa.

Penting diperhatikan bahwa kemampuan hadiah/penguat sekunder untuk memperkuat tingkah laku itu tidak tanpa batas. Hadiah/penguat sekunder lama kelamaan menjadi tidak efektif, kecuali kalau hadiah/penguat sekunder itu kadang masih berlangsung bersamaan dengan penguat primer. Dollar dan Miller setuju dengan Freud yang memandang kecemasan adalah tanda bahaya, semacam antisipasi menghindari rasa sakit (yang pernah dialami pada masa lalu). Behaviorisme menjelaskan perolehan kecemasan sebagai tanda bahaya itu melalui proses kondisioning klasik, dan penyebarannya ke dalam pribadi dijelaskan melalui perolehan reinforsemen dan generalisasi stimulus. Anak yang tersemprot oleh uap panas yang mendesis dari cerek, menjadi takut dengan cerek yang menimbulkan rasa sakit/kepanasan. Suara desis yang membarengi terpancarnya uap panas itu dimaknai sebagai tanda bahaya yang menimbulkan kecemasan. Anak kemudian menggeneralisir suara desis dan menjadi cemas ketika berdekatan dengan tempat tejadinya (cerek, tungku, api), dan mendengar suara-suara desisan lain. Kalau tingkah laku menghindar dari tungku dan dari suara mendesis ternyata dapat membuat dirinya tidak mengalami rasa sakit kepanasan (tidak peduli apakah memang tungku dan desisan yang dihindari berpotensi ancaman timbulnya rasa sakit), tingkah laku menghindar itu akhirnya berperan sebagai reinforsemen. Jadi, kecemasan dan ketakutan adalah bentuk kondisioning dari reaksi sakit, yang berfungsi untuk memotivasi dan mereinforse tingkah laku menghindar – agar tidak mengalami rasa sakit.

 

2)         Proses Belajar

Dollard dan Miller melakukan eksperimen rasa takut terhadap tikus. Peralatannya adalah kotak yang dasarnya diberi aliran listrik yang menimbulkan rasa sakit; kotak itu diberi sekat yang dapat diloncati tikus, sisi yang satu diberi warna putih dan sisi lain diberi warna hitam. Dibunyikan bel bersamaan dengan pemberian tujuan listrik pada kotak putih yang membuat tikus kesakitan, yang segera dihentikan kalau tikus itu meloncat dari kotak putih ke kotak hitam. Ternyata sesudah terjadi proses belajar, warna kotak putih dan atau bunyi bel saja (tanpa kejutan listrik) telah membuat tikus meloncati sekat. Ini adalah reaksi takut terhadap rasa sakit. Percobaan ditingkatkan dengan menutup sekat dan memasang pengumpil yang harus ditekan tikus agar pintu penghubung ke sekat hitam terbuka (tikus bisa lari ke kotak warna hitam yang bebas dari kejutan listrik dan bel berhenti). Ternyata kemudian tikus berhenti berusaha menabrak sekat (yang tidak dapat diloncati lagi), dan menemukan cara baru yakni menekan pengumpil untuk membuka pintu sekat. Eksperimen ini mendemonstrasikan beberapa prinsip belajar yakni:

1)   Classical conditioning (tikus terkondisi merespon bel sebagai tanda akan ada kejutan listrik)

2) Instrumental learning (tikus belajar respon meloncati sekat sebagai instrumental menghindari rasa sakit)

3)   Extinction (tingkah laku meloncat tidak dilakukan lagi, diganti dengan menekan pengumpil)

4)   Tampak pula, primary drive (rasa sakit dan tertekan) memunculkan learned atau secondary drive (rasa takut) yang kemudian memotivasi tingkah laku organisme bahkan ketika sumber rasa sakit sudah tidak muncul.

Dari eksperimen-eksperimennya, Dollard dan Miller menyimpulkan bahwa sebagian besar dorongan sekunder yang dipelajari manusia, dipelajari melalui belajar rasa takut dan anxiety. Mereka juga menyimpulkan bahwa untuk bisa belajar orang harus menginginkan sesuatu, mengenali sesuatu, mengerjakan sesuatu, dan mendapat sesuatu (want something, notice something, do something, get something). Inilah yang kemudian menjadi empat komponen utama belajar, yakni drive, cue, response, & reinforcement.

  1. Drive: adalah stimulus (dari dalam diri organisme) yang mendorong terjadinya kegiatan tetapi tidak menentukan bentuk kegiatannya. Dalam penelitian itu, drive rasa sakit mendorong tikus melakukan “sesuatu” tetapi tidak jelas harus bagaimana. Kekuatan drives tergantung kekuatan stimulus yang memunculkannya. Semakin kuat drive-nya, semakin keras usaha tingkah laku yang dihasilkannya. Drive sekunder atau drive yang dipelajari diperoleh berdasarkan drive primer; rasa takut (sekunder) diperoleh/dibangun di atas drive rasa sakit (primer). Sesudah drive sekunder dimiliki, itu akan memotivasi untuk mempelajari respon baru seperti fungsi dari drive primer. Kekuatan drive sekunder ini tergantung kepada kekuatan drive primer dan jumlah reinforsemen yang diperoleh.
  2. Cue: adalah stimulus yang memberi petunjuk perlunya dilakukan respon yang sesungguhnya. Pengertian cue mirip dengan pengertian realitas subjektif dari Rogers, yakni cue adalah petunjuk yang ada pada stimulus sepanjang pemahaman subjektif individu. Dalam penelitian itu, sesudah suara bel dipahami tikus sebagai tanda bahaya yang harus dihindari, bel menjadi cue bagi tikus untuk melocati sekat. Sesudah pengumpil dipahami dapat dijadikan alat untuk menghilangkan rasa sakit, maka pengumpil menjadi cue variasi itu menentukan bagaimana reaksinya terhadapnya.
  3. Response: adalah aktivitas yang dilakukan seseorang. Menurut Dollard dan Miller, sebelum suatu respon dikaitkan dengan suatu stimulus, respon itu harus terjadi lebih dahulu. Misalnya, anak tidak akan mulai belajar membaca sampai dia nyata-nyata mulai mencoba membaca. Dalam terapi, orang yang takut dengan orang lain dan tidak berpendirian, tidak dapat belajar bersikap tegas (assertive) sampai dia nyata-nyata merespon secara assertive. Dalam situasi tertentu, suatu stimulus menimbulkan respon-respon yang berurutan, disebut initial hierarchy of response. Belajar akan menghilangkan beberapa respon yang tidak perlu, menjadi resultant hierarchy yang lebih efektif mencapai tujuan yang diharapkan.
  4. Reinforcement: agar belajar terjadi, harus ada reinforcement atau hadiah. Dollard dan Miller mendefinisi reinforcement sebagai drive pereda dorongan (drive reduction). Penelitian membuktikan bahwa event yang mengikuti suatu respon sangat menentukan hubungan respon itu dengan stimulusnya. Event yang hanya meredakan sebentar stimuli pendorongnya akan memperkuat respon apapun yang terlibat. Bisa dikatakan, reduksi drive menjadi syarat mutlak dari reinforcement mengenai reduksi drive ini menimbulkan kontroversi, dan Miller sendiri terus berusaha mencari pembenarannya.

Terkadang, tidak ada respon yang sukses, atau respon yang semula sukses tidak mendapat penguatan lagi. Dilema belajar (Learning dilemma) semacam itu akan menghasilkan extinction, (hilangnya tingkah laku yang tidak efektif), dan berkembangnya respon baru. Dollar & Miller membandingkan rasa takut tikus terhadap event yang berbahaya dengan kecemasan manusia. Proses belajar awal dari tikus yang takut dan berusaha melarikan diri itu menjelaskan bagaimana tingkah laku neurotik orang yang menderita kecemasan. Salah satu metoda menghilangkan repon (neurotik) yang persisten (menetap) itu adalah dengan kondisioning tandingan (counterconditioning): respon yang lebih kuat dibanding dengan respon pertama dikondisikan dengan stimulu asli, untuk mendesak/mengganti respon pertama (yang neurotik) itu.

3)  Proses Mental yang Lebih Tinggi

Perluasan Stimulus-Respon

Seorang pilot yang pesawatnya meledak karena tertembak musuh, menyelamatkan diri dnegan kursi-lontar. Pilot ini menjadi fobia, takut dengan pesawat dan hal-hal yang berkaitan dengan pesawat dan pertempuran. Konsep drive-cue-respon-reinforcement menjadi kurang tepat karena stimuli penyebab rasa takut buka lagi suara ledakan, tetapi juga pikiran mengenai pesawat dan ingatan mengenai kecelakaan itu sendiri. Begitu pula respon bukan hanya meloncat dari pesawat tetapi mencakup mengubah topik pembicaraan atau memikirkan hal lain. Dollard dan Miller memperluas apa yang dimaksud dengan stimulus dan respon – dari suara ledakan menjadi pikiran mengenai pesawat atau pikiran mengenai kebakaran, dari respon meloncat menjadi pikiran mengenai keselamatan penerbangan – sehingga teori belajar bukan hanya menjelaskan tingkah laku yang sederhana, tetapi juga hal-hal yang makna dan terapannya berkaitan dengan persoalan kepribadian yang kompleks.

Pakar teori belajar tradisional umumnya beranggapan bahwa mengaburkan objektivitas dari definisi situmulus dan respon akan membuat teori belajar menjadi menghadapi bahaya yang sama dengan yang dihadapi psikoanalisis yakni; menjadi sangat tidak cermat dn menipu. Namun perluasan pengertian itu membuat teori belajar tradisional terhindar dari objektivitas yang steril.

 Generalisasi Stimulus

Menurut Dollard dan Miller, ada dua tipe interaksi individu dengan lingkungannya. Pertama, interaksi yang umumnya memiliki respon berdampak segera (immediate effect) terhadap lingkungan dan dituntun oleh cue atau situasi tunggal (segera menginjak pedal rem ketika tiba-tiba ada anak menyebrang jalan). Kedua, respon menghasilkan isyarat (cue-producing response) yang fungsi utamanya membuka jalan terjadinya generalisasi atau diskriminasi. Pakar psikologi sebelum Dollard dan Miller telah lama mengetahui bahwa respon yang dipelajari dalam kaitannya dengan suatu stimulus, dapat dipakai untuk menjawab stimulus lain yang bentuk dan ujud fisiknya mirip. Ini di sebut generalisasi stimulus (stimulus generalization). Semakin mirip stimulus lain itu dengan stimulus aslinya, peluang terjadinya generalisasi tingkah laku, emosi, pikiran atau sikap semakin besar. Pada manusia, bisa terjadi generalisasi mediasi (mediated stimulus generalization), yakni generalisasi karena stimulus lain dengan stimulus asli dimasukkan ke dalam klasifikasi yang sama berdasarkan alasan (reasoning) tertentu, atau diberi label (nama) yang sama.

 

Reasoning

Cue producing response itu umumnya terjadi melalui sejumlah event internal yang disebut alur berfikir (train of thought), misalnya; melihat toko peralatan à mengingatkan kamu sesuatu yang kamu inginkan à pikiran bahwa kamu membawa uang cukup à dan keputusan untuk masuk ke dalam toko itu. Reasoning memungkinkan orang menguji alternatif respon tanpa nyata-nyata mencobanya, sehingga menyingkat proses memilih tindakan. Reasoning juga memberi kemudahan untuk merencanakan, menekankan tindakan pada masa yang akan datang, mengantisipasi respon agar menjadi lebih efektif. Lebih lajut, urutan berpikir itu dapat dipandang sebagai hubungan stimulus-respon dalam kondisioning klasik. Pada contoh percobaan tikus, Miller menunjukkan bahwa tikus yang dimasukkan ke kotak putih sudah panik-ketakutan tanpa ada kejut listrik. Perasaan takut kotak putih yang diperoleh dari belajar (ada dalam pikiran tikus) menjadi drive (kecemasan) yang memotivasi tikus untuk lari dari kotak putih (bukan dari sakit karena kejut listrik lagi). Reinforcement nya bukan hilangnya rasa sakit, tetapi hilangnya warna putih atau hilangnya suara bel. Jadi pikiran yang satu mendorong pikiran yang lain, dan keberhasilan menjadi reinforcement bagi keberhasilan berikutnya.  Bahasa (Ucapan, Pikiran, Tulisan maupun Sikap tubuh) Merupakan respon isyarat yang penting sesudah resoning. Dua fungsinya yang penting sebagi respon isyarat adalah generalisasi dan diskriminasi. Dengan memberi label yang sama terhadap dua atau lebih event yang berbeda, terjadi generalisasi untuk meresponnya secara sama. Sebaliknya label yang berbeda terhadap event yang hampir sama memaksa orang untuk merespon event itu secara berbeda pula. Perbedaan antar stimuli dipengaruhi oleh faktor sosio kultural. Masyarakat Cook Islander yang sangat tergantung kepada nilai ekonomi kelapa, memiliki 12 label yang berbeda mengenai kelapa, masing-masing menjelaskan tahap yang berbeda dari kemasakan dan ciri buah kelapa (Budaya Jawa mengenal hanya 5 label, manggar = bunga, bluluk = buah sebesar kepalan tangan, cengkir = buah isinya air, degan = dagingnya lunak, krambil = kelapa tua). Diskriminasi itu akan menimbulkan respon yang juga berbeda-beda. Dollard dan Miller sangat mementingkan peran bahasa dalam motivasi, hadiah dan pandangan ke depan. Kata mampu membangkitkan drive dan memperkuat atau memberi jaminan. Kata dapat berfungsi sebagai pengatur waktu; kata dapat menguatkan tingkah laku sekarang secara verbal dengan menggambarkan konsekuensi masa yang akan datang. Jelasnya, intervensi verbal terhadap drive-cue-response-reinforcement telah membuat tingkah laku manusia menjadi semakin kompleks. Tanpa kata atau pikiran untuk mendukung motivasi lintas waktu, tingkah laku mungkin menjadi kurang konsisten dan kurang fleksibel.

Secondary Drives

Dalam masyarakat modern yang kompleks, tingkah laku tidak semata-mata diatur oleh penguat primer (misalnya: makanan dan air). Kehidupan manusia modern dibentuk oleh perjuangan memperoleh prestise, status, kebahagiaan, kekayaan, ketergantungan, dan sebagainya. Menurut Dollard dan Miller, stimulus atau cue apapun yang sering berasosiasi dengan kepuasan dorongan primer, dapat menjadi reknforcement sekunder. Bagi bayi, tampilan baru, dan sentuhan ibunya adalah cue yang berulang terjadi berkaitan langsung dengan terpuaskannya rasa lapar dan keadaan fisik yang tidak menyenangkan. Sesudah hubungan itu dipelajari, kehadiran ibu akan menjadi reinforcement yang kuat, mengganti reinforcement makanan. Semua drive sekunder dapat dianalisis asosiasinya dengan drive primer, walaupun terkadang asosiasi itu begitu kompleks sehingga sukar ditemukan jejaknya.

Umumnya drive sekunder bersifat rentan, manakala drive itu berulang-ulang gagal mendapat reinforcement, drive itu menjadi lemah. Anak yang gagal mendapat pujian orang tua karena usahanya tidak mencapai prestasi yang diharapkan, sering berakibat anak menjadi bosan dan menolak berusaha mendapat pujian. Pada drive primer hal itu tidak terjadi – orang yang berkali-kali gagal berusaha memuaskan kehausannya, tidak akan berhenti berusaha mencari air. Namun ada juga drive sekunder yang sangat mantap, bahkan lebih kuat dibandingkan dengan drive lapar dan rasa sakit. Misalnya, nilai kebenaran dan integritas tetap dipertahankan (sebagai sumber reinforcement) sampai mati.

Model Konflik

Formulasi tingkah laku konflik dari Dollard dan Miller sangat terkenal. Tidak ada seorangpun yang kalis dari konflik berbagai motif dan kecenderungan, dan konflik yang parah sering mendasari tingkah laku yang menyedihkan dan symptom neurotic, karena konflik itu membuat orang tidak dapat merespon yang secara normal dapat meredakan drives yang tinggi. Ada tiga bentuk konflik, yakni konflik approach-avoidance(orang dihadapkan dengan pilihan nilai positif dan negatif yang ada di satu situasi), konflik avoidance-avoidance (orang dihadapkan dengan dua pilihan yang sama-sama negatif), dan konflik approach-approach (orang dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama positif). Ketiga bentuk konflik itu yang mengikuti lima asumsi dasar mengenai tingkah laku konflik berikut:

  1. Kecenderungan mendekat (Gradient of approach): kecenderungan mendekati tujuan positif semakin kuat kalau orang semakin dekat dengan tujuannya itu.
  2. Kecenderungan menghindar (Gradient of avoidance): kecenderungan menghindar dari stimulus negatif semakin kuat ketika orang semakin dekat dengan stimulus negative itu.

Dua asumsi di atas sebagian dapat dijelakan dari prinsip yang lebih mendasar, yakni kecenderungan mendapat penguatan (gradient of reinforcement) dan generalisasi stimulus. Kecenderungan mendapat penguatan: hadiah dan hukuman yang segera diberikan memberi dampak lebih besar dibanding menundanya – semakin dekat ke tujuan, kenikmatan sebagai dampak dari pencapaian tujuan itu akan semakin segera diperoleh.  Generalisasi stimulus: semakin dekat dengan tujuan, semakin jelas tujuannya, terjadi proses generalisasi tujuan sebagai stimulus, dan semakin kuat stimulus itu mendorong terjadinya respon yang sesuai.

  1. Peningkatan gradient of avoidance lebih besar dibanding graient of approach.
  2. Meningkatnya dorongan yang berkaitan dengan mendekat atau menghindar akan meningkatkan tingkat gradient. Jadi meningkatnya motivasi akan memperkuat gradient mendekat atau gradient menjauh pada semua titik jarak dari tujuan. Hal sebaliknya akan terjadi kalau dorongannya menurun.
  3. Manakala ada dua respon bersaing, yang lebih kuat akan terjadi.

Ketidaksadaran

Dollard dan Miller memandang penting faktor ketidaksadaran, tetapi formula analisis asal muasal faktor ini berbeda dengan Freud. Dollard dan Miller membagi isi-isi ketidaksadaran mejadi dua. Pertama, ketidaksadaran berisi hal yang tidak pernah disadari, seperti stimuli, drive dan respon yang dipelajari bayi sebelum bisa berbicara sehingga tidak memiliki label verbal. Juga apa yag dipelajari secara nonverbal, dan detil dari berbagai keterampilan motorik. Kedua, berisi apa yang pernah disadari tetapi tidak bertahan dan menjadi tidak disadari karena adanya represi. Orang belajar melakukan represi, atau menolak memikirkan sesuatu yang menakutkan, rasa takut akan berkurang. Kurangnya rasa takut itu dapat dipandang sebagai suatu reinforcement dari tingkah laku tidak memikirkan (represi) hal yang menakutkan. Orang kemudian memiliki repertoire tingkah laku tidak mudah takut.

Kesadaran verbal sangat penting, karena label verbal sangat esensial dalam proses belajar. Generalisasi dan diskriminasi lebih efisien dengan memakai symbol verbal. Jika tanpa label maka kita dipaksa untuk bekerja dengan tingkat intelektual yang primitif. Kita harus terikat dengan ikatan stimulus yang nyata, dan tingkah laku kita mirip dengan tingkah laku bayi atau binatang yang tidak berbahasa.

  3.       Perkembangan Kepribadian

  1. a.   Perangkat Innate: Respon Sederhana dan Primary Process

Dollard dan Miller menganggap perubahan dari bayi yang sederhana mejadi dewasa yang kompleks sebagai proses yang menarik, sehingga banyak karyanya yang menjelaskan masalah ini. Bayi memiliki tiga repertoire primitif yang paling penting, yakni:

1)   Refleks spesifik (specific reflexes): Bayi memiliki beberapa refleks spesifik yang kebanyakan berupa respon tertentu terhadap stimulus atau kelompok stimulus tertentu. Misalnya, rooting reflex: sentuhan pada pipi direspon dengan memutar kepala kearah pipi yang disentuh.

2)  Respon bawaan yang hirarkis (innate hierarchies of response): Kecenderungan melakukan respon tertentu terharap situasi stimulus tertentu sebelum melakukan respon lainnya. Misalnya, bayi berusaha menghindari stimulus yang tidak menyenangkan sebelum menangis.

3)   Dorongan primer (primary drive): Stimulus internal yang kuat dan bertahan lama, yang biasanya berkaitan dengan proses fisiologik seperti lapar, haus da rasa sakit. Drives ini memotivasi bayi untuk melakukan sesuatu tetapi tidak menentukan aktivitas spesifik apa yang harus dilakukan. Melalui proses belajar, bayi berkembang dari tiga repertoir tingkah laku primitif di atas menjadi dewasa yang kompleks. Makhluk bayi itu terus menerus berusaha mengurangi tegangan dorongan, memunculkan respon-respon menjawab stimuli baru, memberi reinforcement respon baru, memunculkan motif sekunder dari drive primer, dan mengembangkan proses mental yang lebih tinggi melalui mediasi generalisasi stimulus.

b.    Konteks Sosial

Kemampuan memakai bahasa dan response isyarat sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dimana orang itu berkembang. Sebagian besar interaksi anak dengan lingkungannya berkenaan dengan bagaimana menghasilkan symbol komunikasi verbal (verbal cues), serta bagaimana memahami symbol verbal produk orang lain. Bahasa adalah produk sosial, dan kalu proses bahasa itu penting, lingkungan sosial pasti juga penting dalam perkembangan kepribadian. Dollard dan Miller menekankan saling ketergantungan antara tingkah laku dengan lingkungan sosiokultural. Ditunjukkannya bagaimana psikolog memberikan prinsip belajar yang membantu ilmuwan sosial memperhitungkan secara sistematik event cultural yang penting, dan sebaliknya bagaimana ilmuwan sosial membantu teoritisi belajar menyesuaikan prinsip-prinsip belajar dengan pengalaman nyata manusia yang menjadi kondisi belajar. Bagi Dollard dan Miller prinsip-prinsip belajarnya dapat diterapkan lintas budaya. Mereka yakin bahwa tingkah laku orang dipengaruhi oleh masyarakatnya.

  1. c.         Situasi Pembelajaran (Training situation)

Seperti teoritisi Psikoanalitik, Dollard dan Miller menganggap 12 tahun kehidupan awal sangat penting dalam menentukan tingkah laku dewasa. Berbeda dengan orang dewasa (dan anak) yang memiliki cara untuk keluar dari situasi yang sangat menimbulkan frustasi, bayi yang tidak berdaya sangat kecil kemampuannya untuk memanipulasi lingkungan sehingga sangat mudah menjadi korban dorongan stimuli yang tidak tertahankan dan frustasi yang berlebihan. Bayi belum belajar berpengharapan dan mengamankan diri sendiri, belum belajar berfikir dan merencanakan dan melarikan diri dari tekanan sekarang dengan membangun masa depan. Bayi selalu terdesak, tidak berdaya, tidak berencana, hidup dalam nyeri yang kekal, dan menemukan dirinya dimandikan dalam kebahagiaan yang juga kekal. Ada banyak peristiwa dimana konflik mental parah yang tidak disadari dapat terjadi. Dollard dan Miller mengemukakan empat hal yang mudah menimbulkan konflik dan gangguan emosi yakni; situasi pemberian makan, toilet training (latihan kebersihan), pendidikan seks awal, dan latihan mengatur marah dan agresi (Tabel 3.1). Analisi Dollard dan Miller terhadap empat situasi latihan di atas banyak memakai formulasi Freud.

1)   Situasi makan (Feeding situation): adalah situasi pertama yang banyak mengajarkan sesuatu. Misalnya, jika anak yang menangis kelaparan tidak segera diberi makan, akan belajar bersikap apatis dan gelisah (apprehensive). Sebaliknya situasi pemberian makanan yang memuaskan mejadi dasar belajar sikap sosial dan cinta. Bayi yang diberi makan sebelum lapar mungkin tidak pernah belajar menghargai nilai makanan serta kurang menghargai kehadiran ibunya; ini berakibat kurang berkembangnya rasa sosial. Hal penting yang perlu diingat adalah bayi belajar banyak hal dari rasa lapar dan pengaturan makannya, yang oleh Dollard dan Miller disebut: rahasia belajar pada usia awal (secret learning of the early years).

2)        Pendidikan kebersihan (Cleanliness training): Belajar mengontrol proses urinasi dan defakasi merupakan tugas yang kompleks dan sulit bagi bayi. Toilet training dianggap sangat penting bagi banyak orang tua. Anak yang gagal/lambat menguasai ketrampilan ini cepat dihukum, sehingga mengembangkan asosiasi orang tua dengan hukuman, menghindar atau menolak orang tua dapat mengurangi respon kecemasan. Pada kasus lain, anak mungkin merasa harus mengikuti kemauan orang tuanya yang superior, sehingga anak menjadi sangat penurut. Contoh-contoh itu menunjukkan bagaimana Dollard dan Miller menyempurnakan observasi Freud dengan kerangka belajar.

3)        Pendidikan seks awal (Early sex training): Tabu mengenai masturbasi yang membuat anak merasa sangat berdosa sesudah melakukan masturbasi, bersumber dari orang tua yang menanamkan dalam diri anak kecemasan yang sangat dalam seks.

4)        Pengendalian marah dan agresi (Anger-anxiety): Apabila anaknya marah, orang tua sering mengamuk, menghukum, sehingga anak belajar menekan rasa marahnya. Tanpa rasa marah ini akan membuat kepribadian anak tidak dapat berkembang.

 Tabel 3.1: Asal Muasal konflik Emosional: Situasi Belajar yang Kritis

Situasi Belajar Konflik yang dipelajari Kemungkinan Akibatnya
Pemberian makan (feeding) Kepuasan terhadap kebutuhan dasar –vs- Takut, kesendirian, ketidakberdayaan Gelisah, apatis

Takut kesendirian

Takut kegelapan

Tidak memiliki perasaan sosial

Kebersihan (Cleanliness) Senang dengan hal yang menyangkut diri sendiri –vs- takut, marah, berdosa Cemas dan berdosa mengenai kotoran atau sesuatu yang berkaitan dengan kotoran itu

Takut kehilangan cinta

Malu, tidak berpendirian, merasa tidak berharga

Perilaku Seksual Kenikmatan tubuh –vs- takut, marah Represi terhadap pikiran dan kebutuhan seksual

Problem masturbasi, homoseksualitas

Problem oedipal

Marah-Agresi Ketegasan diri –vs- celaan, hukuman, penolakan Persaingan dengan saudara

Tidak sabaran, berpikiran pendek, marah menghadapi frustrasi dengan kemampuannya untuk menyenangkan kondisi dirinya sendiri

Bentuk agresi yang ruwet; gossip, bohong, membingungkan orang lain

Jika sangat dihambat, orang menjadi tergantung, tidak mandiri, miskin kemampuan dan tidak otonom.

 4.    Aplikasi

  1. a.  Bagaimana Neurosis Dipelajari

Dollard dan Miller memandang tingkah laku normal dan neurotic dalam satu kontinum, dan bukannya dua hal yang terpisah. Karena itu tingkah laku neurotic dipelajari memakai prinsip yang sama dengan belajar tingkah laku normal. Inti setiap neurosis adalah konflik ketidaksadaran yang kuat dan hampir selalu bersumber di masa kanak-kanak. Sering selama empat situasi training anak mengembangkan kecemasan dan rasa berdosa yang kuat mengenai ekspresi kebutuhan dasarnya, membentuk konflik yang terus berlanjut sampai dewasa. Sama halnya dengan binatang di laboratorium yang belajar respon instrumental yang membuatnya bisa menghindar dari stimulus yang menakutkan, manusia juga mempelajari respon represi yang dapat dipakai untuk menghindar dari perasaan cemas dan berdosa. Represi dalam bentuk “tidak memikirkannya” membuat orang terbebas dari keharusan memakai kemampuan pemecahan masalahnya untuk mengatasi konflik dan tidak menyadari bahwa kondisi yang menimbulkan konflik telah hilang. Sepanjang konflik itu tetap tidak disadari, konflik itu akan terus berlanjut dan menghasilkan symptoms: sensasi spesifik atau tingkah laku yang dialami seseorang sebagai tidak menyenangkan dan tidak normal. Symptom sering membuat orang bisa menghindar (sementara) dari takut dan cemas; symptom itu tidak menyelesaikan konflik, tetapi dapat meredakannya. Manakala symptom yang sukses terjadi, itu akan diperkuat karena mengurangi kesengsaraan neurotic. Symptom itu dipelajari sebagai habit. Ada tiga cara yang biasa dipakai orang melakukan represi – agar tidak muncul fikiran-fikiran yang menimbulkan kecemasan:

1)    Memberi nama lain (mislabeling): Kehilangan uang dalam jumlah yang besar, dikatakan “sedikit”. (tidak timbul kecemasan karena yang hilang hanya sedikit).

2)   Respon pengganti (response substitution): Kecelakaan membuat kaki mejadi pincang, dan gerak dengan berjalan diganti dengan gerak motor tanpa mengenal lelah (tidak timbul kecemasan karena tidak perlu berjalan).

3)   Tidak memikirkan (not thinking): Marah karena difitnah, tidak memikirkan fitnahan itu (tidak timbul kecemasan karena tidak memikirkan fitnah yang terjadi).

b.   Psikoterapi

Jika tingkah laku neurotik itu hasil belajar, seharusnya itu dapat dihilangkan dengan beberapa kombinasi prinsip-prinsip yang dipakai ketika mempelajarinya. Psikoterapi memantapkan seperangkat kondisi dengan mana kebiasaan neurotik mungkin dapat dihilangkan dan kebiasaan yang tidak neurotik dipelajari. Terapis bertindak layaknya seorang guru dan pasien seorang siswa. Meskipun istilah-istilahnya berbeda, Dollard dan Miller memakai kondisi dan prosedur kondisi teraputik konvensional; terapis yang simpatik dan permisif mendorong pasien untuk berasosiasi bebas dan mengungkapkan perasaannya. Terapis kemudian berusaha membantu pasien untuk memahami perasaannya sendiri dan bagaimana perasaan itu berkembang. Pembaharuan Dollard dan Miller terhadap psikoterapi tradisional adalah pemakaian analisis teori belajar mengenai apa yang telah terjadi. Displacement: adalah merubah arah impuls yang dicegah agar tidak diekspresikan (baik oleh event eksternal maupun oleh kecaman dari diri sendiri). Displacement dapat berperan sebagai defense, orang yang takut mengekspresikan rasa marah, menekan rasa marah itu dan mengekspresikannya nanti dalam situasi yang lain. Tampak ada dua respon bertentangan, yakni marah dan respon kedua biasanya takut.

Sublimasi: adalah bentuk displacement yang lebih adaptif, karena energi yang ada tidak ditumpahkan pada bentuk asli yang dicegah, tetapi disalurkan ke dorongan lain yang bisa diterima (Pada displacement energi itu disalurkan ke objek lain dengan drive yang sama).

Belajar (menguasai) system syaraf otonom: eksperimen Dollard dan Miller menunjukkan bahwa binatang dan manusia pada tahap tertentu dapat belajar mengontrol respon system syaraf otonom; mereka dapat belajar mempercepat dan memperlambat denyut jantungnya atau konstruksi ususnya. Ini memberi peluang teknik kondisioning instrumental untuk dipakai mengobati gangguan fisik seperti denyut jantung dan tekanan darah. Fenomena ini mengembangkan ranah biofeedback dalam hal penenangan masalah gangguan fisik.

D.     Evaluasi

  1. 1.         Refleksi Diri

Setelah mengkaji materi pelatihan tentang Paradigma Psikologi Kepribadian Kurt Lewin dan Dollar & Miller baik konseptual maupun aplikasinya, peserta diharapkan mampu mengungkap kembali berdasarkan pengalaman diri melalui penyelesaian tugas berikut:

  1. Menemukenali arti kepribadian menurut Kurt Lewin dan Dollar & Miller!
  2. Menemukenali tipologi pribadi menurut paradigma Kurt Lewin!
  3. Menemukenali karakteristik pribadi menurut paradigma Dollar & Miller!
  4. Menemukenali empat komponen utama belajar, yakni drive, cue, response, & reinforcement dalam konteks manajerial, sertakan contohnya!

E.      Instrumen Pengembangan Diri

 TRUSTWORTHINESS INVENTORY

Alat Ukur ini dapat membantu Anda untuk memahami diri anda dengan lebih baik. Jawablah setiap pertanyaan dengan sejujur-jujurnya. Nilailah diri anda berdasarkan masing-masing pertanyaan dengan menggunakan sistem penilaian di bawah ini:

4.      Hampir selalu

3.      Sering

2.      Jarang

1.   Tidak pernah

  1. Ketika saya melakukan sesuatu, saya mengerjakanya sesuai dengan kata hati saya.

2.   Saya tidak akan membocorkan atau memberitahukan rahasia yang saya ketahui pada siapapun

3.   Saya menepati janji yang telah saya buat

4.  Saya tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain karena aktivitas yang saya jalani berdasarkan prinsip yang saya pegang

5.  Saya menyatakan kebenaran walaupun menyakitkan

6. Saya mengatakan kepada orang lain tujuan/maksud dan tindakan yang saya lakukan

7.  Saya diandalkan oleh teman-teman saya ketika mereka membutuhkan

8. Saya mempertahankan keyakinan saya, karenanya saya tidak mudahterpengaruh dengan apa yang diyakini oleh orang lain

9.      Tindakan yang saya lakukan adalah untuk mempertahankan reputasi diri

10.    Saya mengemukakan ide-ide yang saya miliki secara terbuka

11.    Saya mengembalikan buku yang saya pinjam dari perpustakaan

12.    Saya mengembalikan buku perpustakaan sebelum batas akhir pengembalian

13.    Saya menjaga rahasia orang lain

14.    Saya lebih memilih untuk melakukan sesuatu sesuai dengan prinsip yang saya anut dibandingkan mengikuti apa yang orang lain lakukan

15.    Saya terlambat datang ke sekolah

16.    Saya tidak akan bohong atas suatu fakta yang terjadi

17.    Saya mengubah suatu hal yang saya yakini

18.    Saya berkomitmen untuk tetap menjalani apa yang telah saya tetapkan

19.    Saya merasa teman-teman saya menganggap bahwa saya adalah teman yang baik

20.    Saya tidak peduli apakah hal baru yang akan saya jalankan itu sulit atau tidak

21.    Saya mengumpulakn tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan

22.    Bila saya memberi sesuatu saya berusaha untuk tidak mengharapkan imbalan

23.    Aktivitas yang saya lakukan adalah untuk membangun dan menjaga reputasi diri saya

24.    Jika saya memiliki teman yang baru, saya tidak akan melupakan teman lama saya

25.    Saya membayar utang atas uang yang saya pinjam

26.    Saya bersedia menanggung resiko dalam melakukan sesuatu yang saya anggap benar

27.    Saya dipercaya teman-teman saya untuk menjadi penanggung jawab dalam suatu kegiatan

28.    Saya menemani teman saya disaat ia membutuhkan

29.    Saya bertingkah laku sesuai dengan prinsip hidup saya

30.    Saya menjalin komunikasi dengan orang–orang yang peduli terhadap saya

31.    Saya berani bertindak atas sesuatu yang saya anggap benar

32.    Saya berusaha untuk dapat memahami perasaan teman-teman saya

33.    Saya mengingkari janji yang saya buat

34.    Saya tidak menjadikan rahasia orang lain yang ada pada diri saya sebagai bahan gosip

35.    Aktivitas yang saya lakukan sejalan dengan hati nurani saya

36.    Teman-teman saya menceritakan masalah/ rahasianya kepada saya

37.    Saya akan mengoreksi perlikaku teman saya apabila dirasa kurang baik

38.    Saya mengembalikan barang yang saya pinjam dari teman saya

39.    Saya mencoba melakukan hal-hal baru, meskipun saya tahu itu adalah hal yang sulit dan butuh pengorbanan

40.    Saya tahu kondisi/ keadaan orang-orang terdekat saya

41.    Saya berani membuat janji karena saya akan menepatinya

42.    Teman saya menghormati saya karena perilaku saya

43.    Saya berterus terang atas apa yang saya rasakan kepada orang lain

44.    Saya membiarkan teman saya menyakiti dirinya sendiri

45.    Saya melakukan suatu tindakan sesuai dengan apa yang saya ucapkan

46.    Saya melindungi teman-teman dan keluarga dari hal yang buruk

47.    Saya mengungkapkan dengan jujur apabila ada yang tidak saya suka pada diri orang lain

48.    Saya mengembalikan barang yang saya pinjam dari teman saya

49.    Saya membangun reputasi diri saya melalui perilaku yang saya lakukan

50.    Barang yang saya pinjam saya jadikan hal milik saya

51.    Saya tidak mengambil keuntungan dari orang lain yang saya bantu

52.    Saya memutuskan suatu pilihan berdasarkan kata hati saya

53.    Saya siap membantu apabila keluarga dan teman membutuhkan

LATIHAN GAMBARAN DIRI

 Pengantar

Latihan gambaran diri ini dimaksudkan untuk mengenal konsep diri seseorang, yaitu cara pandang seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri seseorang akan mempengaruhi perilaku dia sehari-hari dalam segala aspek kehidupannya, termasuk dalam aktivitas belajarnya.

Latihan gambaran diri kali ini dikhususkan bagi para peserta sebagai insan profesional. Tujuan latihan ini untuk membantu peserta dalam memperoleh gambaran dirinya, khususnya yang berkaitan dengan aktivitasnya.

 

Latihan 1 :

Latihan ini dilaksanakan dalam kelompok kecil (anggota kelompok 4-6 orang). Waktu yang diperlukan 10 menit.

Di bawah ini terdapat sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan akademik dan diri Anda. Jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan spontan, beri penjelasan secara singkat dan jelas. Tulis jawaban Anda pada lembar kertas yang telah disediakan.

(1)    Tujuan dalam bekerja.

—      Apakan anda mempunyai tujuan tertentu yang dapat mengarahkan tugas anda?

—   Apakah anda mempunyai suatu target dalam bekerja?

—   Apakan tujuan anda sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat anda?

(2)    Kesadaran atas realitas

—      Apakah tujuan bekerja anda didasarkan pada kemampuan dan keadaan lingkungan anda atau berdasarkan bayangan yang tidak nyata?

—      Apakan anda lebih suka merenung atau sebaliknya senang menyibukkan diri dalam melaksanakan tugas?

(3)    Prestasi Kerja

—      Di mana kedudukan/posisi anda dibandingkan dengan teman-teman anda?

—      Apakah anda merasa puas dengan prestasi kerja yang anda peroleh saat ini? Mengapa?

—      Adakah faktor yang mempengaruhi tugas anda? Sebutkan!

—      Adakah faktor yang menghambat tugas anda? Sebutkan!

(4)    Kondisi emosi

—      Apakah anda cenderung bersikap hangat, dingin, apatis, berubah-ubah terhadap seseorang ataupun kejadian di sekeliling anda?

—      Apakah anda merasa senang menekuni bidang karir anda sekarang ini atau sebaliknya?

—      Apakan anda merasa PD (percaya diri)? Atau cenderung kurang percaya diri?

—      Apakah anda menghargai diri anda sendiri?

—      Apakah anda peka terhadap perasaan orang lain?

(5)    Kekhawatiran dan tekanan-tekanan

—      Apakah anda sering merasa kesepian?

—      Apakah anda mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi anggota kelompok tertentu dan ingin diterima mereka?

—      Apakah suasana hati anda mudah berubah-ubah?

—      Apakah anda mempunyai rasa khawatir, takut bersalah atau tekanan-tekanan yang lain yang tak dapat diterangkan?

—      Apakah anda mampu menghadapi kesulitan dan bahaya dengan jujur dan berbuat sesuatu untuk mengatasinya?

—      Apakah anda cenderung menganggap segala sesuatu itu enteng dan bisa diatur serta menghindari situasi yang sulit?

(6)    Sejauh mana Anda dapat mengarahkan diri?

—      Dapatkah anda mengarahkan energi anda untuk melakukan sesuatu kegiatan yang sudah direncanakan?

—       Apakah anda menyerah apabila menemui sebuah kesulitan atau hambatan?

—       Apakah anda cenderung kaku dan tidak fleksibel?

Setelah anda selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan anda di atas, lanjutkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

(a)     Dalam kegiatan profesional, seperti apakah saya sekarang ini?

(b)     Menurut orang lain seperti apakah saya ini?

(c)     Seperti apakan saya pada waktu mendatang?

 

Latihan 2 :

Setelah anda selesai menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, maka kegiatan berikutnya, setiap anggota kelompok mengemukakan dalam kelompoknya tentang gambaran dirinya (hasil latihan 1). Pada waktu seorang anggota kelompok mengemukakan gambaran dirinya, maka anggota yang lain mendengarkan dan memperhatikan. Setelah selesai, berikutnya anggota kelompok yang lain memberi balikan, seperti apakah anggota kelompok yang baru saja mengemukakan dirinya? Seperti apakah dia pada waktu yang akan datang? Demikian seterusnya hingga semua anggota kelompok giliran. Perlu diperhatikan, dalam memberikan balikan tidak diperkenankan memberikan penilaian.

MENGENAL DIRI

MEMBUKA DIRI :

Berikan penilaian anda tentang diri anda, yang mengindikasikan seberapa besar anda ingin/ bersedia mengungkaokan diri anda. Penilaian bergerak dari score 1 sampai 6. Score 1 mengindikasikan bahwa anda tidak ingin dan tidak bersedia mengungkapkan apapun tentang diri anda, dan Score 6 mengindikasikan bahwa anda mau dan bersedia mengungkapkan segala sesuatu tentang diri anda.

Kesediaan saya untuk mengungkapkan :

1.      Tujuan hidup saya                                                                                . . . . . . .

2.      Kekuatan/ kelebihan yang saya miliki                                              . . . . . . .

3.      Kekurangan/ kelemahan yang saya miliki                                       . . . . . . .

4.      Perasaan-perasaan positif saya                                                        . . . . . . .

5.      Perasaan –perasaan negatif saya                                                    . . . . . . .

6.      Sistem nilai yang saya anut                                                                . . . . . . .

7.      Ide-ide/ gagasan saya                                                                         . . . . . . .

8.      Keyakinan saya tentang sesuatu                                                       . . . . . . .

9.      Ketakutan dan ketidak yakinan saya                                                . . . . . . .

10.    Kesalahan kekeliruan saya                                                                . . . . . . .

Jumlah                  . . . . . . .

 

MENERIMA UMPAN BALIK

Berikan penilaian anda tentang sejauh mana anda bersedia menerima umpan balik “feed back”.

Penilaian bergerak dari 1 sampai 6.

Score 1 mengindikasikan bahwa anda menolak umpan balik, dan

Score 6 mengindikasikan bahwa anda secara konsisten terdorong mencari umpan balik.

Keadaan saya menerima umpan balik tentang :

1.      Tujuan hidup saya                                                                                . . . . . . .

2.      Kekuatan/ kelebihan yang saya miliki                                              . . . . . . .

3.      Kekurangan/ kelemahan yang saya miliki                                       . . . . . . .

4.      Perasaan-perasaan positif saya                                                        . . . . . . .

5.      Perasaan –perasaan negatif saya                                                    . . . . . . .

6.      Sistem nilai yang saya anut                                                                . . . . . . .

7.      Ide-ide/ gagasan saya                                                                         . . . . . . .

8.      Keyakinan saya tentang sesuatu                                                       . . . . . . .

9.      Ketakutan dan ketidak yakinan saya                                                . . . . . . .

10.    Kesalahan kekeliruan saya                                                                . . . . . . .

Jumlah               . . . . . . .

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.

Boeree, C.G. 2006. Personality Theories.Melacak Kepribadian Anda Bersama Psikolog Dunia. Terjemahan oleh Inyik Rindwan Muzir. Yogyakarta: Prismasophie

Hurlock, E.B. 1987. Personality Development. New Delhi: McGraw-Hill Publishing Company.

Schneiders. A.A. 1964. Personal Adjusment and Mental Health. New York: Winston.

Suryabrata, S. 2003. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.

Wenzler, G dan Cremer. 1993. Proses Pengembangan Diri: Permainan dan Latihan Dinamika Kelompok. Jakarta: Grasindo.

Yusuf, Sy. 2002. Pengantar Teori Kepribadian. Bandung: Jurusan PPB FIP UPI.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s