PSIKOLOGI KEPRIBADIAN: PSIKOANALITIK

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN: PSIKOANALITIK

  1. Paradigma Psikoanalitik Carl Gustav Jung

Ada beberapa tokoh Psikoanalitik di antaranta Carl Gustav Jung. Jung pada mulanya seorang pengikut setia Freud, namun kemudian mempunyai beberapa pandangan penting yang berbeda.

Pertama, Jung menolak pandangan Freud mengenai pentingnya seksualitas. Menurutnya, kebutuhan seks setara dengan kebutuhan manusia lainnya, seperti makan, kebutuhan spiritual, dan pengalaman religius.

Kedua, Jung menentang pandangan mekanistik terhadap dunia dalam dari Freud; bagi Jung tingkah laku manusia dipicu bukan hanya oleh masa lalu tetapi juga oleh padangan orang mengenai masa depan, tujuan dan aspirasinya. Pandangan Jung bersifat purposive-mechanistic; event masa lalu dan antisipasi masa depan dapat mempengaruhi atau membentuk tingkah laku. Freud memandang kehidupan sebagai usaha memusnahkan atau menekan kebutuhan insting yang terus menerus timbul, sedang Jung memandang kehidupan sebagai perkembangan yang kreatif.

Ketiga, Jung mengumakakan teori kepribadian yang bersifat racial atau phylogenis (Filogenik: evolusi genetika yang berkait dengan sekelompok makhluk hidup). Asal muasal kepribadian secara filogenik berada pada garis keturunan, melalui jejak ingatan dari pengalaman masa lalu ras manusia). Dasar kepribadian bersifat persona, earth mother, child, wise old man, dan anima, semuanya menjadi predisposisi bagaimana orang menerima dan merespon dunia.

B.Struktur Kepribadian C.G Jung

Kepribadian atau psyche adalah mencakup keseluruhan pikiran, perasaan dan tingkah laku, kesadaran dan ketidak sadaran. Kepribadian membimbing orang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik. Sejak awal kehidupan, kepribadian adalah kesatuan atau berpotensi membentuk kesatuan. Ketika mengembangkan kepribadian, orang harus berusaha mempertahankan kesatuan dan harmoni antar semua elemen kepribadian. Kepribadian disusun oleh sejumlah sistem yang beroperasi dalam tiga tingkat kesadaran; ego beroperasi pada tingkat sadar, kompleks beroperasi pada tingkat tak sadar pribadi, dan arkhetip beroperasi pada tingkat tak sadar kolektif. Di samping sistem-sistem yang terikat dengan daerah operasinya masing-masing, terdapat sikap (introvers-ekstravers) dan fungsi (pikiran-perasaan-persepsi-intuisi) yang beroperasi pada semua tingkat kesadaran. Ada juga self yang menjadi pusat kepribadian. Struktur kepribadaian Jung digambarkan pada Gambar berikut.

Struktur Kepribadian Menurut Jung

1.            Kesadaran (consciusness) dan ego

Consciusness muncul pada awal kehidupan, bahkan mungkin sebelum dilahirkan. Secara berangsur kesadaran bayi yang umum-kasar, menjadi semakin spesifik ketika bayi itu mulai mengenal manusia dan objek di sekitarnya. Menurut Jung, hasil pertama dari proses diferensiasi kesadaran itu adalah ego. Sebagai organisasi kesadaran ego berperan penting dalam menentukan persepsi, pikiran, perasaan, dan ingatan yang bisa masuk ke kesadaran. Tanpa seleksi ego, jiwa manusia bisa menjadi kacau karena terbanjiri oleh pengalaman yang semua bebas masuk ke kesadaran. Dengan menyaring pengalaman, ego berusaha memelihara keutuhan dalam kepribadian dan memberi orang perasaan kontinuitas dan identitas.

2.            Tak Sadar Pribadi (Personal Unconsciuous) dan Kompleks (Complexes)

Pengalaman yang tidak disetujui ego untuk muncul ke sadar tidak hilang, tetapi disimpan daam personal unconscious (taksadar pribadi mirip dengan prasadar dari Freud), sehingga taksadar pribadi berisi pengalaman yang ditekan, dilupakan, dan yang gagal menimbulkan kesan sadar. Bagian terbesar dari isi tak sadar pribadi mudah dimunculkan ke kesadaran, yakni ingatan siap yang sewaktu-waktu dapat dimunculkan ke kesadaran.Di dalam taksadar pribadi, sekelompok idea (perasaan-perasaan, pikiran-pikiran, persepsi-persepsi, ingatan-ingatan) mungkin mengorganisir diri menjadi satu, di sebut complexes. Jung menemukan kompleks ini melalui risetnya dalam asosiasi kata. Sering terjadi orang kesulitan dalam ketidaksadaran pribadi berhubungan dengan organisasi pikiran-perasaan-ingatan yang bermuatan emosi yang kuat. Kata apapun yang menyentuh organisasi itu akan menghasilkan respon yang tidak wajar (misalnya respon membutuhkan waktu yang lama sebelum muncul).

Istilah Kompleks telah menjadi bahasa sehari-hari. Orang dikatakan mempeunyai komplek kalau orang itu jenuh (preoccupied) dengan sesuatu yang mempengaruhi hampir semua tingkah lakunya, sampai-sampai dikatakan oleh Jung, bukan orang itu yang memiliki kompleks, tetapi komplekslah yang memiliki orang itu. Kompleks mempunyai inti, yaitu inti kompleks yang bertindak sebagai magnet menarik atau mengkonsentrasikan berbagai pengalaman kearahnya, sehingga inti itu dipakai untuk menamai kompleks itu. Inti dan unsur yang terkait dengannya bersifat taksadar, tetapi kaitan-kaitan tersebut dapat dan sering menjadi sadar.Misalnya, pegawai atau guru baru di sekolah memiliki kompleks inferior, dia terobsesi dengan penilaian bahwa dirinya kurang berkemampuan, kurang berbakat, kurang menarik, dibanding orang lain. Dia yakin (sadar) bahwa inferioritasnya akibat dari prestasi buruknya di sekolah atau di tempat kerja, hanya mempunyai sedikit teman, dan tidak mampu mengemukakan kemauan dan keinginannya. Orang yang mengidap kompleks pemimpin, maka pikiran, perasaan dan perbuatannya dituntun oleh konsepsi tentang pemimpin-profesionalitas, otoritas, kesuksesan seorang pemimpin. Napoleon terobsesi oleh kekuasaan yang membuatnya mampu mendirikan kekaisaran, Tolstoy terobsesi oleh kesederhanaan, dam Michael Angelo terobsesi oleh keindahan. Mula-mula, Jung berpendapat bahwa pengalaman masa kecil memicu berkembangnya suatu kompleks. Namun sesudah menganalisis bagaimana pengalaman masa kecil itu dapat menimbulkan kekuatan yang sangat besar, Jung menemukan faktor pendukung timbulnya kompleks di dalam tingkat kesadaran yang paling dalam, yaitu taksadar kolektif.

3.            Taksadar Kolektif (Collective unconscious)

Tak sadar kolektif di sebut juga transpersonal unconscious, konsep asli Jung yang paling kontroversial; suatu sistem psikis yang paling kuat dan paling berpengaruh, dan pada kasus-kasus patologik mengungguli ego dan ketidaksadaran pribadi. Menurut Jung, evolusi makhluk (manusia) memberi blue-print bukan hanya mengenai fisik atau tubuh tetapi juga mengenai kepribadian. Tak sadar kolektif adalah gudang ingatan laten yang diwariskan oleh leluhur, baik leluhur dalam wujud manusia maupun leluhur pramanusia atau binatang (ingat teori evolusi Darwin). Ingatan yang diwariskan adalah pengalaman-pengalaman umum yang terus menerus berulang lintas generasi. Namun yang diwariskan itu bukanlah memori atau pikiran yang spesifik, tetapi lebih sebagai predisposisi (kecenderungan untuk bertindak) atau potensi untuk memikirkan sesuatu. Adanya predisposisi membuat orang menjadi peka, dan mudah membentuk kecenderngan tertentu, walaupun tetap membutuhkan pengalaman dan belajar. Manusia lahir dengan potensi kemampuan mengamati tiga dimensi, dan kemampuan itu baru diperoleh sesudah manusia belajar melalui pengalamannya. Proses yang sama terjadi pada kecenderungan rasa takut pada ular dan kegelapan, menyayangi anak, serta keyakinan adanya Tuhan.

Taksadar kolektif merupakan fondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Di atasnya dibangun ego, taksadar pribadi, dan pengalaman individu. Jadi apa yang dipelajari dari pengalaman secara substansial dipengaruhi oleh taksadar kolektif yang menyeleksi dan mengarahkan tingkah laku sejak bayi. Bentuk dunia yang dilahirkan telah dihadirkan dalam dirinya, dan gambaran yang ada di dalam itu mempengaruhi pilihan-pilihan pengalaman secara taksadar. Taksadar pribadi dan taksadar kolektif sangat membantu manusia dalam menyimpan semua yang telah dilupakan atau diabaikan, dan semua kebijakan dan pengalaman sepanjang sejarah. Mengabaikan taksadar dapat merusak ego, karena delusi dan sipmtom gangguan psikologik. Isi utama dari taksadar kolektif adalah arsetip, yang dapat muncul ke kesadaran dalam wujud simbolisasi. Sebagaimana digambarkan pada Struktur Kepribadian menurut Jung.

4.            Arsetip (Archetype)

Tak sadar kolektif berisi image dan bentuk pikiran yang banyaknya tak terbatas tetapi Jung memusatkan diri pada image dan bentuk pikirian yang muatan emosinya besar, yang dinamakannya archetype (dinamakan juga dominan, primordial image, imago, mitologic image, atau pola tingkah laku). Seperti gambaran primordial lainnya, arsetip adalah bentuk tanpa isi, mewakili atau melambangkan peluang munculnya jenis persepsi dan aksi tertentu. Mereka memiliki kekuatan yang sangat besar, kekuatan pengalaman manusia yang berusia ribuan tahun.Arkhetip yang muncul pada pengalaman awal manusia membentuk pusat kompleks yang mampu menyerap pengalaman lain kepadanya. Arkhetip “kekuatan” misalnya; sepanjang sejarah manusia telah dihadapkan dengan kekuatan alam yang dahsyat, arus sungai, air terjun, banjir, badai, petir, kebakaran hutan, gempa bumi, tsunami, lapindo, dan lain-lain. Nenek moyang kita pada generasi manapun mengagumi kekuatan dan berkeinginan kuat untuk menciptakan dan mengontrol kekuatan. Sikap terhadap kekuatan lintas generasi itu akhirnya menjadi unsur yang ikut diturunkan dalam proses kelahiran, dalam bentuk arsetip kekuatan. Bayi yang baru lahir telah memiliki predisposisi untuk mengagumi kekuatan dan hasrat untuk menciptakan dan mengontrolnya. Arsetip ibu menghasilkan gambaran tentang ibu dalam taksadar kolektif yang kemudian diidentifikasikan dengan ibu yang senyatanya. Dengan kata lain bayi mewarisi kosepsi mengenai ibu yang bersifat umum (yang sudah terbentuk ratusan generasi sebelumnya), yang akan ikut menentukan bagaimana bayi mempersepsikan ibunya. Jadi persepsi bayi kepada ibunya ditentukan oleh arsetip ibu dan pengalaman nyata bayi tersebut dengan ibunya. Kedua faktor itu berpadu secara harmonis, karena arsetip merupakan kumpulan pengalaman universal, yang cocok dipakai siapa saja.

Jung mengidentifikasi berbagai arsetip; lahir, kebangkitan (lahir kembali), kematian, kekuatan, magi, uniti, pahlawan, Tuhan, setan, orang bijak, ibu pertiwi, binatang, dll. Di antaranya yang paling penting dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku adalah; persona, anima-animus, shadow, dan self. Keempat archetype ini telah berkembang jauh dan sering dipandang sebagai sistem terpisah dalam kepribadian:

Persona: topeng, wajah yang dipakai menghadapi publik. Itu mencerminkan persepsi masyarakat mengenai peran yang harus dimainkan seseorang dalam hidupnya. Itu juga mencerminkan harapan bagaimana seharusnya diri diamati orang lain. Persona adalah kepribadian publik, aspek-aspek pribadi yang ditunjukkan kepada dunia luar, atau pendapat publik mengenai diri individu- sebagai lawan dari kepribadian diri yang berada di balik wajah sosial.Persona dibutuhkan untuk survival, membantu diri mengontrol perasaan, pikiran, dan tingkah laku. Tujuannya adalah menciptakan kesan tertentu kepada orang lain dan sering juga menyembunyikan hakekat pribadi yang sebenarnya. Namun manakala orang mengidentifikasi diri seutuhnya dengan personanya, itu akan membuat dirinya asing dengan dirinya sendiri dan dengan perasaan-perasaanya sendiri. Ia menjadi manusia palsu, sekedar pantulan masyarakat, bukan manusia yang otonom. (Dalam beberapa hal persona mirip dengan konsep superego dari Freud).Anima dan Animus: Manusia pada dasaranya biseks. Begitu pula dalam kepribadian, ada arsetip femini dalam kepribadian pria, disebut anima, dan arsetip maskulin dalam kepribadian wanita disebut animus. Arsetip itu merupakan produk pengalaman ras manusia. Sesudah mengalami hidup bersama berabad-abad, pria menjadi memiliki sifat feminin dan sebaliknya wanita menjadi memiliki sifat maskulin. Sifat-sifat itulah yang diturunkan dalam bentuk arsetip, anima dan animus. Karakter yang digambarkan oleh Jung itu mewujud pada perilaku Kepala Sekolah atau Pemimpin berjenis kelamin perempuan menunjukkan arsetip maskulin di sebut animus, demikian terjadi bagi laki-laki yang berprofesi sebagai Koki cenderung berpelilaku gambaran arsetip feminim di sebut anima.

Anima dan animus menyebabkan masing-masing jenis menunjukkan ciri lawan jenisnya, sekaligus berperan sebagai gambaran kolektif yang memotivasi masing-masing jenis untuk tertarik dan memahami lawan jenisnya. Pria memahami wanita berdasarkan animanya, dan wanita memahami kodrat pria berdasarkan animusnya. Namun identifikasi gambaran ideal anima dan animus tanpa menghiraukan perbedaannya dengan kenyataan, bisa menimbulkan kekecawaan karena keduanya tidak identik. Harus ada kompromi antara tuntunan taksadar kolektif dengan realitas dunia, agar terjadi penyesuaian yang sehat.Shadow: bayangan adalah arsetip yang mencerminkan insting kebinatangan yang diwarisi manusia dari evolusi makhluk tingkat rendahnya. Menurut Darwin manusia adalah evolusi dari binatang, dan sifat-sifat kebinatangan tetap ada dalam diri manusia, dalam wujud arsetip shadow atau bayangan. Jadi bayangan adalah sisi binatang dalam kepribadian manusia, arsetip yang sangat kuat dan berpotensi menimbulkan bahaya. Namun karena bermuatan emosi yang kuat, spontanitas, dan dorongan kreatif, bayangan juga menjadi sumber penggerak kehidupan (ingat konsep id dari Freud).

Bayangan bila diprojeksikan keluar apa adanya akan menjadi iblis atau musuh. Bayangan juga mengakibatkan ke dalam kesadaran muncul pikiran-perasaan-tindakan yang tidak menyenangkan dan dicela masyarakat. Karena itu bayangan disembunyikan di balik persona, atau ditahan oleh taksadar pribadi. Itulah sebabnya arsetip itu mempengaruhi taksadar pribadi dan pada gilirannya juga akan mempengaruhi ego.Apabila bayangan dan ego bekerja sama, kekuatan bayangan tersalur ke dalam tingkah laku yang berguna, dan dampaknya orang menjalani hidup dengan penuh semangat. Tetapi jika bayangan tidak tersalur dengan baik, kekuatan bayangan menjadi agresi, kekejian yang merusak diri sendiri dan orang lain. Bayangan adalah insting dasar yang menuntun penyesuaian dengan realita berdasarkan pertimbangan untuk menyelamatkan diri (survival). Insting semacam itu sangat penting dalam situasi yang menuntut keputusan dan reaksi segera, karena bayangan dapat membuat tingkah laku dalam situasi bahaya tetap efektif. Sebaliknya apabila bayangan tidak dapat dimanfaatkan, atau direpress, pikiran sadar dari ego tidak mengambil keputusan dengan cepat, orang akan kebingungan ketika mengahadapi situasi bahaya sehingga tidak dapat bertindak.Self: Konsep keutuhan dan kesatuan kepribadian dipandang sangat penting oleh Jung. Self adalah arsetip yang memotivasi perjuangan orang menuju keutuhan. Arsetip self menyatakan diri dalam berbagai simbol, seperti lingkaran magis atau mandala (simbol meditrasi Agama budha, mandala dalam bahasa sansekerta artinya lingkaran), dimana self menjadi pusat lingkaran itu. Bentuk mandala itu di dalamnya sering terdapat segi empat. Lingkaran menjadi simbol dari kesatuan-keutuhan, dan segi empat mempunyai banyak makna, bisa arah mata angin, bisa empat elemen dunia: api-air-tanah-angin.Self menjadi pusat kepribadian, dikelilingi oleh semua sistem lainnya. Self mengarahkan proses individuasi, melalui self aspek kreativitas dalam ketidaksadaran diubah menjadi disadari dan disalurkan ke aktivitas produktif. Kalau digambarkan kesadaran dengan ego berada dipusatnya, dapat dibayangkan proses asimilasi isi-isi taksadar ke dalam sadar membutuhkan pusat yang mengatur keduanya. Titik tengah-tengah antara sadar dan taksadar itu menjadi tempat self, yang menyeimbangkan antara sadar dan taksadar, yang menjamin kepribadian memiliki fondasi baru yang lebih kokoh.Sebelum self muncul, berbagai komponen kepribadian harus lebih dahulu berkembang sepenuhnya dan terindividuasikan. Karena alasan ini, arsetip diri tidak akan tampak sebelum orang mencapai usia setengah baya. Pada usia itu orang mulai berusaha dengan sungguh-sungguh dan disiplin mengubah pusat kepribadiannya dari ego sadar ke ego yang berada di antara kesadaran dan ketidak sadaran (daerah tempat self). Konsep tentang self mungkin merupakan penemuan psikologik Jung yang terpenting dan merupakan puncak penelitian yang intensif mengenai arsetip.

C.            Simbolisasi (Symbolization)

Simbol adalah tanda yang tampak yang mewakili hal lain (yang tidak tampak). Arsetip yang terbenam di dalam taksadar kolektif hanya dapat mengekspresikan diri melalui simbol-simbol. Hanya dengan menginterpretasikan simbo-simbol ini, yang muncul dalam mimpi, fantasi, penampakan (vision), mythe, seni, dll, dapat diperoleh pengetahuan mengenai taksadar kolektif dan arsetipnya.

Simbol beroperasi dalam dua cara. Pertama, dalam bentuk retrospektif, dibimbing oleh insting simbol mungkin secara sederhana menunjukkan impuls yang karena alasan tertentu tidak terpuaskan. Misalnya, dansa mungkin simbolik dari perilaku seks. Simbolisasi retrospektif semacam ini mirip dengan konsep sublimasi dari Anna Freud.Kedua, dalam bentuk prospektif, dibimbing oleh tujuan akhir kemanusiaan, simbol mengekspresikan kumpulan kebijaksanaan yang telah dicapai, yang dapat diterapkan pada masa yang akan datang. Misalnya, belajar atau sekolah mungkin simbol dari harapan dan cita-cita. Simbol prospektif menggambarkan tingkat perkembangan yang mendahului keberadaan manusia saat itu. Kebenaran, kesucian, kedermawanan (mirip dengan ego ideal Freud) adalah simbol dari perbuatan yang mengarah ke keyakinan ke Tuhan-an, sebagai puncak evolusi jiwa manusia.

1.            Sikap dan Fungsi (Attitude and Function)

Kecuali ego, semua aspek kepribadian yang telah dibahas berfungsi pada tingkat taksadar. Ada dua aspek kepribadian yang beroperasi di tingkat sadar dan tidak sadar, yakni attitude (introversion-ekstroversion) dan function (thinking, feeling, sensing and intuiting).

2.            Sikap Introversi (Introversion) dan Ekstroversion (Extraversion)

Sikap introversi mengarahkan pribadi ke pengalaman subjektif, memusatkan diri pada dunia dalam dan pribadi di mana realita hadir dalam bentuk hasil pengamatan, cenderung menyendiri, pendiam atau tidak ramah, bahkan kehidupan internal mereka sendiri. Tentu saja mereka juga mengamati dunia luar, tetapi mereka melakukannya secara selektif, dan memakai pandangan subjektif mereka sendiri.

Sikap ekstraversi mengarahkan pribadi ke pengalaman objektif, memusatkan perhatiannya ke dunia luar alih-alih berpikir mengenai persepsinya, cenderung berinteraksi dengan orang sekitarnya, aktif dan ramah. Orang yang ekstravertif sangat menaruh perhatian mengenai orang lain dan dunia sekitarnya, aktif, santai, tertarik dengan dunia luar. Ekstravert lebih terpengaruh oleh dunia di sekitarnya, alih-alih oleh dunia dalamnya sendiri.Kedua sikap yang berlawanan itu ada dalam kepribadian, tetapi biasanya salah satunya dominan dan sadar, sedangkan yang lainnya kurang dominan dan taksadar. Apabila ego lebih bersifat ekstravert dalam berhubungan dengan dunia luar, maka tak sadar pribadi akan bersifat introvert. Sebaliknya kalau ego introvert, maka taksadar pribadinya akan ekstravert. Hanya sedikit orang yang murni introvert, demikian murni ekstravert. Umumnya orang memiliki beberapa elemen dari dua sisi itu, artinya manusia umumnya dipengaruhi oleh dunia dalam dan dunia luar secara bersamaan. Juga, keduanya mempunyai nilai yang sama, masing-masing mempunyai kelemahan dan kekuatan. Orang yang sehat psikisnya adalah orang yang mecapai keseimbangan antara dua sikap itu, merasa sama-sama nyamannya dengan dunia dalam dan dunia luarnya.

3.            Pikiran (Thinking) – Perasaan (Feeling) – Pengindraan (Sensing) – Intuisi (Intuiting)

Pikiran adalah fungsi intelektual, mencari saling hubungan antar ide untuk memahami alam dunia dan memecahkan masalah. Perasaan adalah fungsi evaluasi, menerima atau menolak ide dan obyek berdasarkan apakah mereka itu membangkitkan perasaan positif atau negatif, memberi pengalaman subjektif manusia seperti kenikmatan, rasa sakit, marah, takut, sedih, gembira, dan cinta. Pikiran dan perasaan adalah fungsi rasional karena keduanya melibatkan keharusan memutuskan sesuatu; misalnya apakah dua ide saling berhubungan atau tidak (berpikir) atau sesuatu itu menyenangkan atau tidak menyenangkan (perasaan). Pengindraan (pendriaan) melibatkan operasi dari indera-melihat, mendengar, meraba, menjilat, membau, serta merespon rangsang dari dalam tubuh sendiri. Jadi pengindraan adalah fungsi perseptual atau kenyataan, menghasilkan fakta-fakta kongkrit atau bentuk representasi dunia. Intuisi adalah persepsi secara taksadar atau subliminal, memperoleh kebenaran tanpa melalui fakta yang kongkrit. Pengindraan dan intuisi adalah fungsi non-rasional. Keduanya merespon stimuli, baik yang nyata maupun tidak nyata, tidak melalui pikiran atau evaluasi.

Keempat fungsi itu ada pada setiap orang, biasanya dalam tingkat opersional dan perkembangan yang berbeda. Satu fungsi yang paling berkembang dominan di sebut fungsi superior, dibawahnya ada fungsi pelengkap (auxilary) yang akan mengambil peran superior kalau fungsi yang paling dominan itu kerjanya terganggu. Fungsi yang paling kurang berkembang di sebut fungsi inferior, yang direpres menjadi tidak disadari, yang terungkap dalam mimpi dan fantasi. Dalam kelompok rasional, berpikir bertentangan dengan perasaan, sehingga kalau berpikir superior, perasaan menjadi inferior, dan salah satu—penginderaan atau intuisi—akan menjadi auxilary. Begitu pula halnya, kalau pengideraan superior, intuisi menjadi inferior, dan auxilary berfikir atau berperasaan.Tujuan ideal yang diperjuangkan oleh kepribadian adalah mengembangkan keempat fungsi itu dalam tingkat yang sama, sehingga tidak ada yang superior dan inferior. Sintesa semacam itu hanya terjadi apabila diri telah diaktualisasikan sepenuhnya, hal yang tidak pernah dapat dicapai sepenuhnya.

D.            Tipologi Jung (Gabungan Sikap-Fungsi)

Jung memakai kombinasi sikap dan fungsi ini untuk mendeskripsi tipe-tipe kepribadian manusia. Jadi Jung pada dasarnya mengembangkan teori dalam paradigma Psikoanalisis, pada elaborasi konsep sikap dan fungsi memakai paradigma tipe. Dari kombinasi sikap (ekstravers dan introvers) dengan fungsi (perasaan, pikiran, pengindraan, intuisi) dan pada akhirnya diperoleh delapan macam tipe manusia, yakni tipe ekstraversi-pikiran, ekstraversi-perasaan, ekstraversi-pengindraan, ekstraversi-intuisi, introversi-pikiran, introversi-perasaan, introversi-pengindraan, introversi-intuisi. Setiap orang memiliki dua tipe kepribadian, satu beroperasi di kesadaran dan lainnya di ketidaksadaran. Kedua tipe itu saling bertentangan. Kalau tipe sadarnya pikiran ekstravert tipe taksadarnya perasaan intravert, kalau tipe sadarnya ekstraversi-pengindraaan maka tipe taksadarnya introversi-intuisi, atau sebaliknya. Tipologi Jung disajikan dalam ikhtisar pada Tabel 2.1 deskripsi masing-masing tipe itu sebagai berikut:

1)            Introversi-pikiran: orang yang emosinya datar, mengambil jarak dengan orang lain, cenderung menyenangi ide-ide abstrak alih-alih menyenangi orang dan benda kongkrit lainnya. Mereka mengembara dengan pikirannya sendiri, tidak peduli apakah ide-idenya bisa diterima orang lain. Terkesan keras kepala, kurang perhatian, arogan, dan dingin atau tidak ramah (kaku). Kata kuncinya adalah sifat mengambil jarak – intelektual – tidak praktis, tipe kepribadian dari filsuf, teoritisi, sehingga kurang cocok dimiliki oleh seorang pemimpin.

2)            Ekstraversi-pikiran: orang yang cenderung tampil seperti tidak kenal orang (impersonal), dingin atau angkuh, menekan fungsi perasaannya, orang berprinsip kenyataan objektif, bukan hanya untuk dirinya tapi juga mengharap orang lain seperti dirinya. Tidak semua fikiran obyektif bersifat produktif. Kalau sama sekali tidak ada interpretasi individu, yang muncul adalah paparan fakta, tanpa orisinalitas atau kreativitas. Kata kuncinya adalah sifat obyektif – kaku- dingin, tipe kepribadian dari matematikawan, fisikawan, peneliti, ahli mesin, akuntan.

3)            Introversi-perasaan: orang yang mengalami perasaan emosional yang kuat tetapi menyembunyikan perasaan itu. Orang yang menilai segala hal dengan memakai persepsi-subyektif alih-alih fakta obyektif, mengabaikan pandangan dan keyakinan tradisional, pendiam, sederhana, tidak dapat diduga. Terkesan memiliki rasa percaya diri dan kehidupan jiwa yang harmonis, tetapi perasaanya tiba-tiba bisa hancur oleh badai emosi. Mengabaikan dunia obyektif, membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman, atau bersikap dingin kepadanya. Kata kunci adalah pendiam, kekanak-kanakan, tidak acuh, tipe kepribadian seniman, pengarang, dan kritikus seni.

4)            Ekstraversi-perasaan: orang yang perasaannya mudah berubah begitu situasinya berubah. Emosional dan penuh perasaan, tetapi juga senang bergaul dan pamer. Mudah bergaul akrab dalam waktu yang pendek, mudah menyesuaikan diri. Kata kuncinya adalah sifat bersemangat – periang – sosiabel, tipe kepribadian dari aktor, penaksir harga real-estate, politisi, pengacara.

5)            Introversi-pengindraan: cenderung terbenam dalam sensasi-sensasi jiwanya sendiri, dan memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak menarik. Orang yang tampil kalem, bisa mengontrol diri, tetapi juga membosankan. Dia bukan tidak dipengaruhi fakta atau kenyataan, tetapi fakta atau kenyataan itu diterima dan dimaknai secara subyektif, yang bisa-bisa tidak ada hubungannya dengan fakta aslinya. Introversi-pengindraan yang ekstrim ditandai oleh halusinasi, bicara yang tidak bisa difahami, atau esoteris (hanya bisa dipahami orang tertentu saja). Kata kuncinya adalah sifat pasif – kalem – artistik, tipe kepribadian dari pelukis impresionis, pemusik klasik.

6)            Ekstraversi-pengindraan: orang yang realistik, praktis dan keras kepala. Menerima fakta apa adanya tanpa pikiran mendalam. Terkadang mereka juga sensitif, menikmati cinta dan kegairahan. Sensasi indranya tidak dipengaruhi oleh sikap subyektif, mampu membedakan fakta secara rinci. Kata kuncinya adalah sifat realistis – merangsang – menyenangkan, tipe kepribadian dari pekerjaan kuliner, pencicip anggur, ahli cat, pemusik pop, tetapi juga bisa pebisnis

7)            Introversi-intuisi: terisolir dalam dunia gambaran primordial mereka sendiri kadang tidak tahu maknanya. Mereka mungkin juga tidak mampu berkomunikasi dengan orang lain secara efektif. Cenderung praktis, memahami fakta secara subyektif. Namun persepsi intuitif sering sangat kuat dan mampu mendorong orang lain mengambil keputusan yang istimewa. Kata kuncinya adalah sifat mistik – pemimpin – unik, tipe kepribadian dari dukun supranatural/peramal nasib, pemeluk agama yang fanatik. Sepertinya seorang pemimpin perlu memiliki modal sifat introversi-intuisi dalam suatu orgnanisasi.

8)            Ekstraversi-intuisi: orientasinya faktual, tetapi pemahamannya sangat dipengaruhi oleh intuisi, yang mungkin sekali bertentangan dengan fakta itu. Data sensoris justru menjadi sarana untuk menciptakan data baru secara intuitif, untuk memecahkan suatu masalah. Selalu mencari dunia baru untuk ditaklukkan. Mereka sangat hebat dalam mendirikan dan mengembangkan usaha baru, tetapi minatnya terus menerus berubah atau bergerak. Kata kuncinya adalah sifat efektif – berubah – kreatif, tipe kepribadian dari penanam modal, wiraswastawan, penemu (inventor).

Tabel 2.1: Ikhtisar Tipologi C.G Jung

SIKAP    FUNGSI                TIPE       CIRI KEPRIBADIAN

Ekstraversi          Pikiran  Ekstraversi-pikiran           Manusia ilmiah, aktivitas intelektual berdasarkan data obyektif

Perasaan             Ekstraversi-perasaan      Manusia dramatik, mnyatakan emosinya secara terbuka dan cepat berubah

Pengindraan      Ekstraversi-pengindraan               Pemburu kenikmatan, memandang dan menyenagi dunia apa adanya

Intuisi    Ekstraversi-intuisi            Pengusaha, bosan denga rutinitas, terus menerus menginginkan dunia baru untuk ditaklukkan

Introversi            Pikiran  Introversi-pikiran             Manusia filsuf, penelitian intelektual internal

Perasaan             Introversi-perasaan        Penulis kreatif, menyembunyikan perasaan, sering mengalami badai emosional

Pengindraan      Introversi-pengindraan Seniman, mengalami dunia dengan cara pribadi & berusaha mengekspresikannya secara pribadi

Intuisi    Introversi-intuisi               Manusi peramal, pemimpin, sukar mengkomunikasikan intuisinya

E.            Dinamika Kepribadian

1.            Interaksi antar Struktur Kepribadian

Prinsip Oposisi

Berbagai sistem, sikap dan fungsi kepribadian saling berinteraksi dengan tiga cara, saling bertentangan (oppose), saling mendukung (compensate), dan bergabung menjadi kesatuan (synthese). Prinsip oposisi paling sering tejadi, karena kepribadian berbagai kecenderungan konflik. Menurut Jung, tegangan (akibat konflik) adalah esensi hidup; tanpa itu tidak ada energi dan tidak ada kepribadian. Oposisi muncul dimana-mana–ego versus shadow, introversi versus ekstraversi, berfikir versus berperasaan, dan anima atau animus versus ego (juga saling kompensasi). Oposisi juga terjadi antar tipe kepribadian, ekstraversi versus introversi, pikiran versus perasaan dan pengideraan versus intuisi.

Prinsip Kompensasi

Dipakai untuk menjaga agar kepribadian tidak menjadi neurotik. Umumnya terjadi antara sadar dan taksadar; fungsi yang dominan pada kesadaran dikompensasi oleh hal lain yang direpres. Misalnya kalau sikap sadar mengalami frustasi, sikap taksadar akan mengambil alih. Ketika orang tidak mencapai apa yang dipilihnya, dalam tidur sikap taksadar mengambil alih dan muncul ekspresi mimpi. Arsetip berkompensasi dengan pikiran sadar, anima atau animus berkompensasi dengan karakter feminin atau maskulin.

Prinsip Penggabungan

Menurut Jung, kepribadian terus menerus berusaha untuk menyatukan pertentangan-pertentangan yang ada. Berusaha untuk mensintesakan pertentangan untuk mencapai kepribadian yang seimbang dan integral. Integrasi ini hanya sukses dicapai melalui fungsi transenden.

2.            Energi Psikis

Fungsi Energi

Interaksi antar struktur kepribadian membutuhkan energi. Jung berpendapat bahwa personaliti adalah sistem yang relatif tertutup, bersifat kesatuan yang saling mengisi, terpisah dari sistem energi lainnya. Kepribadian dapat mengambil energi baru dari proses biologik dan dari sumber eksternal, yakni pengalaman individu, untuk memperkuat energi psikis. Berfungsinya kepribadian tergantung kepada bagaimana energi dipakai. Energi yang dipakai oleh kepribadian di sebut energi prikis, atau energi hidup (life energy). Energi itu tampak dari kekuatan semangat, kemauan dan keinginan, serta berbagai proses seperti mengamati, berpikir, dan memperhatikan. Jung berpendapat ada hubungan saling mempengaruhi antara kekuatan energi fisik dengan kekuatan energi psikis, nemun tidak dijelaskan bagaimana hubungan itu terjadi. Energi prikis berasal dari pengalaman; melalui pengalaman hidup terjadi perubahan energi fisik menjadi energi psikis. Energi psikis kemudian dikonsumsi oleh kepribadiam untuk melakukan semua aktivitas psikis. Namun Jung menyatakan energi psikis sebagai konstruk hipotesis, tidak dapat diukur secara langsung. Energi psikis itu hanya bisa dipahami dari besarnya usaha yang dilakukan pada suatu kegiatan.

Nilai Psikis (Psychic Value)

Ukuran banyaknya energi psikis yang tertanam dalam salah satu unsur kepribadian di sebut nilai psikis (psychic vslue) dari unsur itu. Suatu ide atau perasaan tertentu dikatakan memiliki value psikis yang tinggi kalau ide atau perasaan itu memainkan peran penting dalam mencetuskan dan mengarahkan tingkah laku. Ide tentang keindahan dikatakan mempunyai nilai psikis yang tinggi pada diri seseorang kalau orang itu mencurahkan energinya (fisik ke psikis) agar dirinya dikelilingi oleh obyek-obyek yang indah, berwisata ke tempat-tempat yang indah, dan seterusnya. Pegawai kebersihan di sekolah yang bekerja sekedar untuk mendapat gaji, bekerja memakai energi fisik yang besar tetapi hanya memakai energi psikis sedikit. Sebaliknya pegawai yang bekerja penuh perasaan dan perhatian (karena senang dengan jenis pekerjaannya) dan dengan penuh semangat dan pengabdian (karena senang dengan perlakuan pimpinannya), memakai energi fisik yang besar dibarengi dengan energi psikis yang juga besar.

Nilai psikis suatu ide atau perasaan tidak dapat ditentukan secara absolut, tetapi nilai relatifnya (mana yang lebih kuat dari yang lain) dapat dianalisis, misalnya dengan menanyakan dan mengobservasi mana yang lebih dipilih atau lebih disukai seseorang di antara beberapa ide yang diperbandingkan, berapa lama waktu yang disediakan untuk berusaha mencapainya, dan besarnya usaha untuk menembus halangan dalam usaha mencapainya.

Tabel 2.2: Menaksir Value Unconscious

METODE              DESKRIPSI

Observasi dan

deduksi                Mengamati tingkah laku dan mengamati lingkungan, misalnya, diamati—seorang wanita yang membicarakan ibunya hampir semua percakapan, meniru minat ibunya, meluangkan waktu teman-teman ibunya, memilih membaca buku tentang ibu dan anak, semua pertanda mengacu adanya kompleks ibu.

Jika komplek hanya tampak dalam bentuk tersembunyi, bisa dianalisis elemen tingkah laku yang terpisah dan disimpulkan secara deduktif penyebab yang melatar belakanginya. Misalnya, diamati seorang pria yang patuh tetapi juga semaunya sendiri. Orang tsb mungkin ingin mengintrol oranglaian memakai manipulasi yang lembut, suatu kompleks kekuasaan

Indikator Kompleks         Mencatat dan meneliti berbagai gangguan tingkah laku seperti salah ucap atau hambatan ingatan. Memanggil istrinya memakai nama ibunya mungkin ungkapan kompleks ibu. Lupa nama temannya (bernama Siti) ketika ingin mengenalkan kepada orang lain

Reaksi emosional             Ditunjukkan kepeda seseorang senarai kata atau kaliman dan mencatat reaksinya, antara lain waktu reaksinya dan pola respon fisiologiknya. Respon lambat mungkin menandai bahwa kata itu berasosiasi dan menyentuh komplek yang disembunyikan. Respon fisiologi yang tidak umum (misalnya denyut jantung meningkat) mungkin menunjukkan emosi yang meningkat.

Cara di atas hanya bermanfaat untuk energi psikis yang dipakai dalam kegiatan di tingkat sadar dan tidak banyak menjelaskan energi psikis di tingkat tak sadar. Nilai psikis tak sadar harus ditentukan dengan menganalisis “daya konstelasi unsur inti suatu kompleks”. Kekuatan kompleks adalah jumlah kelompok item atau pengalaman yang dapat disimpulkan berhubungan oleh inti kompleks. Inti kompleks seks misalnya mempengaruhi banyak tingkah laku di sekitarnya, seperti pilihan judul buku yang dibaca, kegiatan olah raga, minat bergaul, koleksi barang, jenis pekerjaan, dan lain-lain. Menaksir kekuatan kompleks itu dapat dilakukan dengan metoda observasi & deduksi, indikator kompleks, dan reaksi emosional sebagaimana diringkas dalam Tabel 2.2.

3.            Kesamaan (Equivalence) dan Keseimbangan (Entropy)

Energi psikis bekerja mengikuti hukum termodinamika, yakni prinsip ekuivalen dan prinsip entropi. Prinsip ekuivalen menyatakan, jumlah energi psikik selalu tetap hanya distribusinya yang berubah. Jika energi pada suatu elemen menurun, energi pada elemen lain akan menaik. Misalnya, jika perhatian anak kepada orang tuanya menurun, maka perhatiannya kepada teman sebayanya akan naik. Orang yang energi sadarnya bertambah, energi taksadarnya akan berkurang.

Prinsip entropi mengemukakan tentang kecenderungan energi menuju ke keseimbangan. Dua benda yang panasnya berbeda, manakala bersentuhan maka benda yang lebih panas akan mengalirkan panasnya ke benda yang lebih dingin, sampai temperatur keduanya sama. Jadi apabila dua nilai psikis kekuatannya tidak sama, maka energi yang lebih tinggi akan mengalir ke energi yang lebih rendah, sampai terjadi keseimbangan. Misalnya, ekstraversi yang tinggi akan mengalirkan energinya sehingga dalam taksadar introversinya juga semakin tinggi. Tujuan entropi adalah keseimbangan homostatik. Keseimbangan yang sempurna tidak pernah dapat dicapai, karena sistem kepribadian hanya relatif tertutup – masih dimungkinkan adanya perubahan energi akibat dari adanya konflik di dalam maupun pengaruh dari luar. Naik turunnya energi itu disamping disebabkan oleh perpindahan energi dari bagian satu ke bagian yang lain (ekuivalen) dan mengalirnya energi dari yang kuat ke yang lemah (entropi), bisa juga karena penambahan atau pengurangan energi dari luar, baik dari sistem fisik maupun dari lingkungan.

Hukum umum dari Jung menyatakan bahwa perkembangan hanya satu sisi dari kepribadian akan menimbulkan konflik, sedang tegangan dan perkembangan simultan semua aspek akan menghasilkan harmoni dan kepuasan. Karena bagian atau sistem yang lemah akan selalu berusaha untuk menjadi kuat, bagian dari kepribadian yang sangat kuat terus menerus ditekan oleh bagian lain yang lemah.

4.            Tujuan Penggunaan Energi

Energi psikis dipakai untuk dua tujuan utama, memelihara kehidupan (preservation of life) dan pengembangan aktivitas kultural dan spiritual (development of cultural and spiritual activity). Ketika manusia menjadi lebih efisien dalam memuaskan kebutuhan dasar dan kebutuhan biologisnya, mereka mempunyai energi lebih banyak untuk mengembangkan minat kultural. Tujuan-tujuan itu diraih melalui gerak progresi (progression) dan/atau gerak regresi (regression):

a.            Progresi adalah gerak maju, berkat keberhasilan ego sadar menyesuaikan tuntutan lingkungan dan kebutuhan taksadar secara memuaskan, energi akan mendukung gerak progresif dimana kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan disatukan dalam arus yang harmonis.

b.            Regresi adalah gerak mundur dari energi psikis akibat adanya frustrasi, sehingga energi psikis itu banyak dikuasai atau dipakai di dalam proses taksadar. Regresi tidak selalu buruk, karena gerak mundur itu dapat membantu ego menemukan cara mengatasi hambatan, misalnya regresi itu mungkin dapat mengungkap pengetahuan atau kebijaksanaan yang ada dalam ketidaksadaran sebagai arsetip. Regresi semacam itu biasa muncul dalam bentuk mimpi.

Gerakan yang didukung energi bukan hanya maju atau mundur. Ketika lingkungan menentang pemuasan kebutuhan instingtif, ego mempunyai dua macam pilihan pemakaian energi, yakni sublimasi atau represi.

a.            Sublimasi adalah mengubah tujuan instingtif yang tidak dapat diterima dengan tujuan yang dapat diterima lingkungan. Ini berarti memindahkan energi dari proses instingtif yang kabur menjadi lebih tegas dan mementingkan tujuan kultural dan spiritual.

b.            Represi adalah menekan instingtif yang tidak mendapat penyaluran rasional di lingkungan, tanpa mengganggu ego. Insting itu ditekan ke tak sadar, energi dipakai untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat membuat insting yang ditekan tidak muncul ke kesadaran.

F.            Perkembangan Kepribadian

1.            Mekanistik (Mechanistic), Purposif (Purposive), dan Sinkronisitas (Synchronicity)

Perkembangan kepribadian adalah salah satu peristiwa yang sangat penting. Pendekatan Jung untuk menjelaskan mengapa peristiwa psikis itu terjadi lebih lengkap dibanding Freud. Pandangan Freud bersifat mekanistik atau kausalistik, menurutnya semua peristiwa disebabkan oleh sesuatu yang terjadi pada masa lalu. Jung mengedepankan pandangan purposif atau teleologik, yang menjelaskan kejadian sekarang ditentukan oleh masa depan atau tujuan. Jung yakin bahwa dua pandangan ini, mekanistik dan purposif dibutuhkan untuk melengkapi pemahaman terhadap kepribadian; masa kini ditentukan bukan hanya oleh masa lalu tetapi juga oleh masa depan. Prinsip mekanistik akan membuat manusia menjadi sengsra karena terpenjara masa lalu. Manusia tidak bisa bebas menentukan tujuan atau membuat rencana karena masa lalu yang tidak dapat diubah itu yang menentukan apa yang akan terjadi. Sebaliknya, prinsip purposif membuat orang mempunyai perasaan penuh harapan, ada sesuatu yang membuat orang berjuang dan bekerja.

Menurut Jung peristiwa psikis tidak selalu dapat dijelaskan dengan prinsip sebab akibat. Dua peristiwa psikis yang terjadi secara bersamaan dan tampak saling berhubungan, yang satu tidak menjadi penyebab dari yang lain, karena keduanya tidak dapat ditunjuk mana yang masa lalu dan mana yang masa depan. Ini dinamakan prinsip sinkronisitas (synchronicity). Jung menyimpulkan dari pengalaman-pengalaman dalam telepati mental, pengindraan batin (clairvoyance), dan fenomena paranormal lainnya; bahwa ada jenis aturan lain di alam semesta di samping aturan sebab-akibat, aturan itulah prinsip sinkronisitas. Dalam banyak kasus, sering orang menjelaskan suatu peristiwa itu terjadi karena orang sangat memikirkan hal itu, atau karena yakin bahwa hal itu akan terjadi. Sekedar memikirkan atau keyakinan jelas tidak mempunyai hubungan sebab akibat dengan peristiwanya. Jung memakai prinsip sinkronisitas untuk menjelaskan tatakerja arsetip. Arsetip sebagai isi taksadar tidak menjadi sebab terjadinya peristiwa mental atau fisik. Prinsip sinkronisitaslah yang membuat peristiwa mental atau fisik terjadi bersamaan dengan aktifnya isi-isi taksadar.

2.            Individuasi (Individuation) dan Transendensi (Transcendent)

Tujuan hidup manusia adalah mencapai kesempurnaan yang disebut realisasi diri. Orang dikatakan mencapai realisasi diri, kalau dia dapat mengintegrasikan semua kutub-kutub yang berseberangan dalam jiwanya, menjadi kesatuan pribadi yang homogen. Realisasi diri berarti meminimalkan persona, menyadari anima atau animusnya, menyeimbangkan introversi dan ekstraversi, serta meningkatkan empat fungsi jiwa—pikiran, perasaan, pengindraan, intuisi—dalam posisi tertinggi. Realisasi diri juga berarti asimilasi taksadar ke dalam keseluruhan kepribadian, dan menyatukan ego dengan self sebagi pusat kepribadian. Realisasi diri ini umumnya hanya dapat dicapai sesudah usia pertengahan. Untuk mencapainya, seluruh aspek kepribadian harus dikembangkan melalui proses individuasi, namun harus dijaga agar perkembangan itu tetap dalam satu kebulatan—unitas melalui proses transendensi.

Individuasi

Proses analitik, memilah-milah, merinci, dan mengelaborasi aspek-aspek kepribadian. Semua aspek beserta percabangan atau rinciannya harus ikut berkembang bersama-sama dalam satu kebulatan. Apabila ada suatu bagian kepribadian yang terabaikan, maka sistem yang terabaikan itu menjadi pusat resistensi. Sistem itu akan berusaha merampas energi dari sistem yang sudah berkembang, agar dia dapat ikut berkembang. Jiwa yang mempunyai banyak resistensi bisa memunculkan gejala-gejala neurotik. Arsetip-arsetip, insting-insting tak sadar harus diberi kesempatan untuk mengungkapkan diri melalui ego. Bayangan atau shadows misalnya, harus dikembangkan dengan menyalurkan energinya ke arah yang positif. Orang yang mengabaikan kekuatan bayangan ini, akan menjadi orang yang kelelahan, kehilangan semangat.

Transendensi

Proses sintetik, mengintegrasikan materi tak sadar dengan materi kesadaran. Mengintegrasikan aspek-aspek di dalam suatu sistem, dan mengintegrasikan sistem-sistem secara keseluruhan agar dapat berfungsi dalam satu kesatuan secara efektif. Represi dan regresi mungkin menghambat proses transendensi, tetapi arsetip transenden ini sangat kuat. Jung banyak menemukan arsetip transendensi atau kebutuhan integrasi ini pada mimpi, mitos, dan simbolisasi mandala. Menurut Jung gambar atau lukisan mandala bisa mempunyai efek teraputik (karena mendorong proses integrasi) dan banyak pasien Jung yang membayangkan lukisan mandala secara spontan. Jung yakin, tidak ada orang yang dapat mengabaikan pengaruh arsetip integrasiunitas, walaupun tingkat pencapaiannya bervariasi. Mencapai kesempurnaan, diferensiasi yang tuntas, keseimbangan dan unitas yang sempurna, mungkin hanya dimiliki oleh para nabi.

G.           Tahap-Tahap Perkembangan

Hereditas diberi peranan penting dalam psikologi Jung. Pertama, hereditas berkenaan dengan insting biologik yang berfungsi memelihara kehidupan dan reproduksi. Insting-insting merupakan sisi binatang pada kodrat manusia. Pandangan semacam itu tidak berbeda dengan padangan biologi modern. Kedua, hereditas juga mewariskan pengalaman leluhur dalam bentuk arsetip; ingatan tentang ras yang telah menjadi bagian hereditas karena diulang berkali-kali lintas generasi. Biologi modern mempertanyakan pandangan ini (bagaimana pengalaman dapat mengubah gen?) begitu juga psikologi modern (bagaimana nurture dapat mengubah nature?).

Jung tidak menyusun tahap-tahap perkembangan seacra rinci seperti Freud. Ada 4 tahap perkembangan, masa anak, remaja & dewasa awal, usia pertengahan, dan usia tua. Perhatian utamanya tertuju pada tujuan-tujuan perkembangan, khususnya tahap ke dua pada tekanan perkembangannya terletak pada pemenuhan syarat sosial dan ekonomi, dan tahap ke tiga ketika orang mulai membutuhkan nilai spiritual.

1.            Usia Anak (Childhood)

Jung membagi usia anak menjadi tiga tahap, yakni tahap anarkis (anachic), tahap monarkis (monarchic), dan tahap dualistik (dualistic). Tahapan-tahapan itu tidak memakai batasan usia secara kaku, karena ketiganya berada dalam kontinum dan perubahannya terjadi secara perlahan atau berangsur-angsur.

Tahap anarkis (0-6 tahun): ditandai dengan kesadaran yang kacau dan sporadis (kadang ada kadang tidak). Mungkin muncul “pulau-pulau kesadaran” tetapi antar pulau satu dengan yang lain tidak saling berhubungan. Pengalaman pada fase anarkis ini sering muncul ke dalam kesadaran sebagai gambaran primitif, yang tidak dapat dijelaskan secara akurat.

Tahap monarkis (6 – 8 tahun): pada anak-anak ditandai dengan perkembangan ego, dan mulainya pikiran verbal dan logika. Pada tahap ini anak memandang dirinya secara obyektif, sehingga sering secara tidak sadar mereka menganggap dirinya sebagai orang ketiga. Pulau-pulau kesadaran semakin luas, semakin banyak (sehingga ada saling hubungan menjadi satu), dihuni oleh ego-primitif.

Tahap dualistik (8 – 12 tahun): ditandai dengan pembagian ego menjadi dua, obyektif dan subyektif. Anak kini memandang dirinya sebagai orang pertama, dan menyadari eksistensinya sebagai individu yang terpisah. Pada tahap dualistik ini kesadaran terus berkembang, pulau-pulau kesadaran menyatu, dihuni oleh ego-kompleks yang menyadari diri sendiri baik sebagai obyek maupun sebagai subyek. Jung mengamati bahwa anak-anak sering mengalami kesulitan emosional. Menurutnya, hampir pasti kesulitan itu merefleksikan “pengaruh buruk di rumah”. Sampai anak masuk sekolah, mereka masih belum memiliki kesadaran identitas diri. Menurut Jung, anak hidup dalam atmosfer jiwa yang tertutup yang diberikan orang tuanya, dan kehidupan psikisnya diatur oleh insting. Kecuali ritme tidur, makan, defakasi, dan tingkah laku biologis dasar lain yang diatur oleh insting, tingkah laku lain bersifat anarkis dan kacau kalau tidak diprogram oleh orang tuanya. Jelas salah sekali menginterpretasi anak yang aneh – keras kepala – tidak patuh atau sukar diasuh, sebagai tingkah laku yang sengaja atau tingkah laku yang terganggu secara serius. Dalam kasus semacam itu selalu harus diuji iklim psikologis dan sejarah pengasuhan anak. Hampir tanpa kecuali akan ditemukan bahwa penyebab “anak sulit” adalah orang tuanya.

2.            Usia Pemuda

Tahap pemuda berlangsung mulai dari pubertas sampai usia pertengahan. Pemuda berjuang untuk mandiri secara fisik dan psikis dari orang tuanya; menemukan pasangan, membina rumah tangga, dan mempunyai tempat tinggal. Tahap ini ditandai oleh meningkatnya kegiatan, kematangan seksual, tumbuh-kembangnya kesadaran, dan pemahaman bahwa era bebas masalah dari kehidupan anak-anak sudah hilang. Kesulitan utama yang dihadapi pemuda adalah bagaimana melupakan hidup dengan kesadaran yang sempit pada masa anak-anak. Kecenderungan untuk hidup seperti anak-anak dan menolak menghadapi kelumpuhan pribadi pada separo kehidupannya yang akan datang, mengalami hambatan usaha mencapai realisasi diri, tidak mampu menciptakan tujuan baru, dan tidak bisa mencari makna baru dalam kehidupan. “kelahiran jiwa” terjadi pada awal pubertas, mengikuti terjadinya perubahan-perubahan fisik dan ledakan seksualitas. Tahap ini ditandai oleh perbedaan perlakuan orang tua, dari perlakukan kepada anak-anak menjadi perlakuan kepada orang dewasa. Tiba-tiba kepribadian harus banyak membuat keputusan dan menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial. Jika pemuda disiapkan secara baik, perubahan dari aktivitas anak-anak menjadi aktivitas vokasional akan berlangsung lancar. Jika pemuda terikat dengan ilusi anak-anak, atau mengembangkan harapan yang tidak realistik, dia akan menghadapi masalah yang luar biasa besar. Misalnya pemuda yang bercita-cita menjadi pilot, ternyata ketajaman matanya tidak memenuhi syarat, kalau dia tidak segera menggeser tujuannya (berarti dia terikat ilusi masa kecilnya), dia mungkin akan mengalami distres. Tidak semua masalah tahap kedua ini datang dari luar, seperti pilihan pekerjaan tadi.

Kesulitan bisa datang dari dalam, misalnya yang disebabkan oleh insting seksual, atau terlalu peka, atau perasaan tidak aman. Di dalam lubuk jiwa seseorang, dia mungkin ingin tetap menjadi anak, tetap berada dalam tahap dimana tidak ada masalah nyata dan tidak ada tanggung jawab. Namun tugas dari usia perkembangan tahap kedua ini yang lebih penting adalah menangani masalah yang datang dari luar. Orang harus mampu membuat keputusan, mengatasi hambatan, dan memperoleh kepuasan bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.

3.            Usia Pertengahan

Tahap ini dimulai antara usia 35 atau 40 tahun. Puncak perkembangan sudah lewat, tetapi periode ini justru ditandai dengan aktualisasi potensi yang sangat bervariasi. Pada usia ini orang yang ingin tetap memakai nilai-nilai sosial dan moral usia pemuda, menjadi kaku dan fanatik dalam mempertahankan postur dan kelenturan fisiknya, mereka mungkin berjuang habis-habisan untuk mempertahankan tampang dan gaya hidup masa mudanya. Menurut Jung, kebanyakan orang tidak siap melangkah menuju usia pertengahan, orang berada di usia pertengahan dengan menganggap nilai-nilai mudanya masih bisa berlaku sampai sekarang. Sesuatu yang mustahil karena orang tidak dapat hidup di masa pertengahan dengan aturan anak-anak, apa yang bagus pada masa anak-anak menjadi buruk pada masa pertengahan, apa yang dulu dianggap benar kini menjadi penipuan.

Menurut Jung, tahap ini ditandai dengan munculnya kebutuhan nilai spiritual, kebutuhan yang selalu menjadi bagian dari jiwa, tetapi pada usia muda dikesampingkan karena pada usia itu orang lebih tertarik dengan nilai materialistik. Pada usia pertengahan orang sudah berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan, memiliki pekerjaan mantap, kawin, punya anak, ikut serta dalam kegiatan sosial. Tiba-tiba mereka menemukan dirinya kehilangan tidak tahu makna dan tujuan hidupnya sendiri. Mereka tidak lagi berminat kepribadiannya menjadi kosong. Mereka membutuhkan nilai-nilai baru yang dapat memperluas pandangan hidup yang materialistik. Usia pertengahan adalah usia realisasi diri. Mereka ingin memahami makna kehidupan dirinya, ingin memahami kehidupan di dalam diri mereka sendiri.

4.            Usia Tua

Tahap usia tua kurang mendapat perhatian Jung. Menurutnya, usia tua mirip dengan usia anak-anak; pada kedua tahap itu fungsi jiwa sebagian besar bekerja di tidak sadar. Pada anak-anak belum terbentuk pikiran dan kesadaran ego, sedang pada orang tua mereka berangsur-angsur tenggelam dalam taksadar, dan akhirnya hilang-masuk ke dalamnya. Jika pada awal kehidupan orang takut hidup (nanti kerja apa, rumahnya dimana, dan seterusnya), pada usia tua hampir pasti orang takut mati. Takut mati mungkin sesuatu yang normal, namun menurut Jung mati adalah tujuan hidup. Hidup hanya benar-benar bermakna kalau kematian dipandang sebagai tujuan hidup.

Kebanyakan klien Jung berusia pertengahan dan usia tua, dan banyak di antara mereka yang mengalami kesengsaraan karena berorientasi ke belakang, merangkul kuat-kuat tujuan dan gaya hidup masa lalu dan menjalani hidup tanpa tujuan. Jung mengobati mereka dengan membantu memantapkan tujuan baru dan menemukan makna kehidupan melalui pemahaman yang benar makna kematian. Jung menggarap hal itu melalui interpretasi mimpi, karena mimpi orang usia tua sering penuh dengan simbol-simbol kelahiran kembali, seperti; mimpi mengembara ke tempat yang jauh atau mimpi pindah rumah. Jung memakai simbol-simbol itu untuk memahami sikap taksadar klien terhadap kematian, dan membantu mereka memahami makna kehidupan secara filosofis.

H.            Aplikasi

1.            Psikometeri: Tes Asosiasi kata

Jung bukan orang pertama yang memakai teknik asosiasi, tetapi dia dihargai karena mengembangkan dan menyempurnakan tes itu. Pada mulanya dia memakai teknik itu untuk menunjukkan validitas hipotesa Freud, bahwa taksadar beroperasi sebagai proses otonom. Kini, tujuan tes asosiasi Jung adalah untuk mengungkap perasaan-perasaan yang bermuatan kompleks. Gambaran-gambaran yang terikat dalam lingkaran kompleks mempunyai muatan emosi yang besar, dan ungkapan emosional itu dapat diukur. Jung memakai 100 kata sebagai stimulus, yang dipilih dan disusun untuk memancing reaksi emosi. Klien diperintah untuk merespon setiap kata dengan kata pertama yang muncul dalam pikirannya. Respon kata itu dicatat, dilengkapi dengan pengukuran waktu reaksi, detak jantung, dan respon galvanik kulit. Dilakukan tes ulang untuk memperoleh konsistensi jawaban. Reaksi-reaksi tertentu menjadi pertanda bahwa stimulus kata itu menyentuh kompleks.

2.            Psikoterapi

Teori Jung tidak banyak berpengaruh dalam psikoterapi-psikoanalisis. Secara tidak langsung teori Jung justru tampak pada pendekatan terapi dari Rogers (fenomolog) dan dari Maslow (humanistik), keduanya mengembangkan teori kepribadian memakai paradigma di luar paradigma psikoanalitik.

Ketika menjalani terapi, menurut Jung kliennya akan melewati empat tahapan yakni pengakuan (confession), pencerahan (elucidation), pendidikan (education), dan perubahan (transformation).

a.            Konfesi: mirip dengan katarsis dari Freud, klien memuntahkan isi-isi taksadar yang mengganggunya, dengan memakai obyek di sekitarnya (terutama terapis) sebagai sarana.

b.            Eludikasi: termasuk di dalamnya interpretasi dan penjelasan, penyebab timbulnya tingkah laku neurosis yang tidak dikehendaki, mirip dengan trasferensi dari Freud.

c.             Edukasi: terapis mendorong klien untuk mempelajari tingkah laku baru, agar klien dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menjawab tantangan-tantangan yang muncul.

d.            Transformasi: memberi jalan klien mencapai realisasi-diri. Membantu klien belajar membedakan berbagai aspek jiwa sehingga pasien itu mampu mengatur aspek-aspek itu dalam harmoni dan merealisasi semua potensinya.

Jung memakai pendekatan eklektik dalam teori dan praktek psikoterapinya, perlakuannya kepada klien bervariasi, tergantung kepada usia, tahap perkembangan, dan jenis neurosisnya. Dua pertiga kliennya berusia pertengahan, dan kebanyakan menderita karena kehilangan makna hidup, kehilangan tujuan hidup dan takut mati. Jung berusaha membantu klien semacam itu menemukan orientasi filosofis mereka masing-masing. Dia sangat hati-hati, untuk tidak memakai filosofisnya sendiri sebagai resep kepada kliennya, dan mendorong mereka menemukan makna hidup pribadi mereka sendiri.

Tujuan terapi Jung adalah membantu klien neurotik menjadi lebih sehat dan mendorong klien yang lebih sehat untuk bekerja mandiri mencapai realisasi-dirinya. Teknik analisis mimpi dipakai untuk menemukan materi taksadar (yang mengganggu) dan membawanya ke kesadaran.

Analisis Mimpi

Pandangan Jung mengenai mimpi ada yang sama dengan Freud ada pula yang berbeda. Persamaannya; mimpi itu mempunyai makna yang harus dicermati secara saksama, mimpi muncul dari dalam dunia taksadar, dan makna mimpi diekspresikan dalam bentuk simbolik.

Perbedaannya, Freud memandang mimpi sebagai pemenuhan hasrat (wish fulfillment) dan simbolisasi mimpi berhubungan dengan dorongan seksual, sedang Jung memandang mimpi sebagai usaha spontan mengetahui hal yang tidak diketahui dalam taksadar sebagai bagian dari pengembangan kepribadian. Mimpi bisa merupakan proses kompensasi (perasaan dan sikap yang tidak dapat diekspresikan ketika terjaga, menemukan celah untuk muncul pada waktu tidur), atau proses taksadar yag menggambarkan recana masa depan dan pemecahan suatu masalah (membimbing fungsi sadar membuat adaptasi yang lebih memuaskan). Jadi simbolisasi Jung bisa mewakili konsep apapun, bukan hanya representasi seksual. Tujuan interpretasi mimpi dari Jung adalah mengungkap elemen-elemen yang ada di taksadar pribadi dan taksadar kolektif, mengintegrasikannya ke dalam kesadaran untuk mempermudah proses realisasi-diri.

BAB III

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN: TRAIT

A. Paradigma Trait Abraham Maslow

Teori Abraham Maslow dimasukkan ke dalam paradigma Traits karena teori itu menekankan pentingnya kebutuhan dalam pembentukan kepribadian. Dalam hal ini kedudukan Maslow menjadi unik. Pada mulanya dia adalah pengikut setia John Watson, sehingga dapat dimasukkan ke dalam kelompok behavioris. Namun kemudian dia menyadari bahwa Behaviorisme dan Psikoanalisis yang mengembangkan teori berdasarkan penelitian binatang dan orang neurotik, tidak berhasil menangkap kewajiban nilai-nilai kemanusiaan. Abraham Maslow akhirnya menjadi orang pertama yang memproklamirkan aliran humanistik sebagai kekuatan ketiga dalam psikologi (kekuatan pertama: psikoanalisis, dan kekuatan kedua behaviorisme). Humanisme menegaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri (self-realization). Humanisme menentang pesimisisme dan keputusasaan pandangan psikoanalitik dan konsep kehidupan “robot” pandangan behaviorisme. Humanisme yakin bahwa di dalam dirinya manusia memiliki potensi untuk berkembang sehat dan kreatif, dan jika orang mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri, dia akan menyadari potensinya, mengatasi pengaruh kuat dari pendidikan orang tua, sekolah dan tekanan sosial lainnya. Pandangan humanisme dalam kepribadian menekankan hal-hal berikut:

1.  Holisme

Holisme menegaskan bahwa organisme selalu bertingkahlaku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian bagian/komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsur yang terpisah tetapi bagian dari satu kesatuan, dan apa yang terjadi di bagian satu akan mempengaruhi bagian lain. Hukum yang berlaku umum mengatur fungsi setiap bagian. Hukum inilah yang mestinya ditemukan agar dapat dipahami berfungsinya tiap komponen.

Kepribadian normal ditandai dengan unitas, integrasi, konsistensi, dan koheren (unity, integration, consistency, dan coherence). Organisasi adalah keadaan normal, dan disorganisasi berarti patologik.

a.   Organisme dapat dianalisis dengan membedakan tiap bagiannya, tetapi tidak ada bagian yang dapat dipelajari dalam isolasi. Keseluruhan berfungsi menurut hukum-hukum yang tidak terdapat dalam bagian-bagian.

b. Organisme memiliki suatu drive yang berkuasa, yakni aktualisasi diri (self- actualization). Orang berjuang tanpa henti (continuous) untuk merealisasi potensi inheren yang dimilikinya pada ranah manapun yang terbuka baginya.

c.     Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal. Potensi organisme, jika bisa terungkap di lingkungan yang tepat, akan menghasilkan kepribadian yang sehat dan integral.

d.  Penelitian yang komprehensif terhadap satu orang lebih berguna daripada penelitian ekstensif terhadap banyak orang mengenai fungsi psikologis yang diisolir.

2.   Menolak Riset Binatang

Psikologi humanistik menekankan perbedaan antara tingkah laku manusia dengan tingkah laku binatang. Riset binatang memandang manusia sebagai mesin dan mata rantai refleks-kondisioning, mengabaikan karakteristik manusia yang unik seperti idea, nilai-nilai, keberanian, cinta, humor, cemburu, dosa, serta puisi, musik, ilmu, dan hasil kerja berfikir lainnya. Menurut Maslow, behaviorisme secara filosofis berpandangan dehumanisasi.

3.            Pandangan Tentang Manusia: Baik dan Bukan Setan

Menurut Maslow, manusia memiliki struktur psikologik yang analog dengan struktur fisik: mereka memiliki “kebutuhan, kemampuan, dan kecenderungan yang sifat dasarnya genetik.” Beberapa sifat menjadi ciri umum kemanusiaan, sifat-sifat lainnya menjadi ciri unik individual. Kebutuhan, kemampuan, dan kecenderungan ini secara esensial suatu yang baik, atau paling tidak suatu yang netral, itu bukan setan. Pandangan Maslow ini menjadi pembaharuan terhadap pandangan yang menganggap kebutuhan dan tendensi manusia itu buruk atau antisosisal (misalnya apa yang di sebut dosa warisan oleh ahli agama dan konsep id dari Freud). Sifat setan yang jahat, destruktif dan kekerasan adalah hasil dari frustasi atau kegagalan memuaskan kebutuhan dasar, dan bukan bagian dari hereditas. Manusia mempunyai struktur yang potensional untuk berkembang positif.

4. otensi Kreatif

Kreativitas merupakan ciri universal manusia, sejak dilahirkan. Itu adalah sifat alami, sama dengan sifat biji yang menumbuhkan daun, burung yang terbang, maka manusia kreatif. Kreativitas adalah potensi semua orang yang tidak memerlukan bakat dan kemampuan yang khusus. Sayangnya umumnya orang justru kehilangan kreativitas ini karena proses pembudayaan (enculturated). Termasuk di dalamnya pendidikan formal, yang memasung kreativitas dengan menuntut keseragaman berfikir kepada semua siswanya. Hanya sedikit orang yang kemudian menemukan kembali potensi kreatif yang segar, naif, dan langsung dalam memandang segala sesuatu.

5.    Menekankan Kesehatan Psikologik

Pendekatan humanistik mengarahkan pusat perhatiannya kepada manusia sehat, kreatif dan mampu mengaktualisasikan diri. Ilmu jiwa seharusnya memusatkan analisisnya kepada tema pokok kehidupan manusia, yakni aktualisasi diri. Maslow berpendapat psikopatologi umumnya hasil dari penolakan, frustasi, atau penyimpangan dari hakekat alami seseorang. Dalam pandangan ini, apa yang baik adalah semua yang memajukan aktualisasi diri, dan yang buruk atau abnormal adalah segala hal yang menggagalkan atau menghambat atau menolak kemanusiaan sebagai hakekat alami. Karena itu psikoterapi adalah usaha mengembalikan orang ke jalur aktualisasinya dan berkembang sepanjang lintasan yang diatur oleh alam di dalam dirinya.

Teori psikoanalisis tidak komprehensif karena didasarkan pada tingkahlaku abnormal atau tingkah laku sakit. Maslow berpendapat bahwa penelitian pada orang lumpuh dan neurotik hanya akan menghasilkan psikologi “lumpuh.” Karena ia justru meneliti orang yang berhasil merealisasikan potensinya secara utuh, memiliki aktualisasi diri, memakai dan mengeksploitasi sepenuhnya bakat, kapasitas dan potensinya. Obyek penelitiannya adalah orang-orang yang terkenal, tokoh-tokoh idola yang kreativitas dan aktuaslisasi-dirinya mendapat pengakuan dari masyarakat luas, misalnya: Eleanor Roosevelt, Albert Einstein, Walt Whiteman, dan Ludwig Bethoven.

B.  Motivasi: Teori Hirarki Kebutuhan

Maslow menyusuri teori motivasi manusia, di mana variasi kebutuhan manusia dipandang tersusun dalam bentuk hirarki atau berjenjang. Setiap jenjang kebutuhan dapat dipenuhi hanya kalau jenjang sebelumnya telah (relatif) terpuaskan.

1. Hubungan Antar Kebutuhan

Jenjang motivasi bersifat meningkat, maksudnya bahwa kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus relatif terpuaskan sebelum orang menyadari atau dimotivasi oleh kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi. Jadi kebutuhan fisiologi harus terpuaskan terlebih dahulu sebelum muncul kebutuhan rasa aman. Sesudah kebutuhan fisiologis dan rasa aman terpuaskan, baru muncul kebutuhan kasih sayang, begitu seterusnya sampai kebutuhan dasar terpuaskan-baru akan muncul kebutuhan meta.

Pemisahan kebutuhan tidak berarti masing-masing bekerja secara eksklusif, tetapi kebutuhan bekerja tumpang tindih sehingga orang dalam suatu ketika dimotivasi oleh dua kebutuhan atau lebih. Tidak ada orang yang basic need-nya terpuaskan 100%. Maslow memperkirakan rata-rata orang dapat terpuaskan kebutuhan fisiologisnya 85%, kebutuhan keamanan terpuaskan 70%, kebutuhan mencintai dan dicintai terpuaskan 50%, self-esteem terpuaskan 40%, dan kebutuhan aktualisasi terpuaskan sampai 10%. Orang bukannya bergerak lurus dari kebutuhan fisiologis→terpuaskan→rasa aman→terpuaskan→ belonging→dan seterusnya, tetapi tingkat kepuasan pada suatu jenjang mungkin masih sangat rendah, orang sudah memperoleh kepuasan yang lebih besar dari pada jenjang yang lebih tinggi. Tidak peduli seberapa tinggi jenjang yang sudah dilewatinya, kalau jenjang di bawah mengalami ketidakpuasan atau tingkat kepuasannya masih sangat kecil, dia akan kembali ke jenjang yang tak terpuaskan itu sampai memperoleh tingat kepuasan yang dikehendaki.

2.  Kebutuhan Rendah versus Kebutuhan Tinggi

Pada umumnya kebutuhan yang lebih rendah mempunyai kekuatan atau kecenderungan yang lebih besar untuk diprioritaskan. Namun bisa terjadi perkecualian, akibat sejarah perkembangan perasaan, minat, dan pola berpikir sejak anak-anak, orang yang kreatif lebih mementingkan ekspresi bakat khususnya alih-alih memuaskan dorongan sosialnya, orang memprioritaskan kebutuhan kepuasan self-esteem di atas kebutuhan kasih sayang dan cinta, atau orang memprioritaskan nilai-nilai atau idea tertentu dan mengabaikan kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Perkecualian yang lain, kebutuhan itu tidak muncul berurutan dari rendah ke tinggi, tetapi kebutuhan yang lebih tinggi muncul lebih awal mendahului kebutuhan yang lebih rendah. Misalnya pada orang tertentu kebutuhan self-esteem muncul lebih dahulu daripada kebutuhan cinta dan afeksi; dan mungkin pada orang tertentu kebutuhan kreatif-nya mendahului kebutuhan lainnya. Jika orang tidak pernah kekurangan kebutuhan dasar mungkin mereka menjadi cenderung menganggap ringan kebutuhan itu, sehingga kebutuhan itu tidak menjadi motivator tingkah lakunya. Dia meloncat ke kebutuhan kasih sayang yang menjadi sangat kuat karena kedua orang tuanya sibuk-tidak punya waktu untuk memberi perhatian dan cinta kepada anaknya. Baru ketika terjadi bencana, muncul kebutuhan fisiologis yang mungkin mereka tidak segera mampu menanganinya. Penbandingan antara kebutuhan-kebutuhan itu dipostulatkan oleh Maslow sebagai berikut:

1)  Kebutuhan meta muncul belakangan dalam evolusi perkembangan manusia. Semua makhluk hidup membutuhkan makan dan minum, tetapi hanya manusia yang memiliki kebutuhan aktualisasi diri, mengetahui dan memahami. Karena itu semakin tinggi tingkat kebutuhan yang dimilikinya semakin jelas beda nilai kemanusiaannya.

2).  Kebutuhan yang lebih tinggi muncul belakangan dalam perkembangan individu. Aktualisasi diri mungkin baru akan muncul pada usia pertengahan. Bayi hanya memiliki kebutuhan fisiologis dan keamanan, dan pada masa adolesen muncul belonging, cinta, dan self-esteem.

3). Kebutuhan yang semakin lebih tinggi, semakin kurang kaitannya dengan usaha mempertahankan kehidupan, perolehan kepuasan bisa ditunda semakin lama. Gagal memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi tidak mengakibatkan keadaan darurat atau reaksi krisis seperti pada kegagalan memuaskan kebutuhan yang lebih rendah. Kegagalan untuk memuaskan kebutuhan dasar mengakibatkan individu merasakan kekurangan sesuatu, karena itu kebutuhan dasar juga di sebut defisit atau kebutuhan karena kekurangan (deficit need or deficiency need).

4). Kebutuhan meta memberi sumbangan yang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang, dalam bentuk kesehatan yang lebih baik, usia panjang, dan memperluas efisiensi biologis. Karena alasan-alasan itulah kebutuhan meta di sebut juga kebutuhan berkembang atau kebutuhan menjadi (growth need or being need).

5).  Kebutuhan yang lebih rendah hanya menghasilkan kepuasan biologis, sedang kebutuhan yang lebih tinggi memberi keuntungan biologis dan psikologis, karena menghasilkan kebahagiaan yang mendalam, kedamaian jiwa, dan keutuhan kebutuhan batin.

6) Kepuasan pada kebutuhan yang lebih tinggi melibatkan lebih banyak persyaratan dan lebih kompleks dibanding kepuasaan pada tingkat yang lebih rendah. Misalnya usaha memperoleh aktualisasi diri memerlukan prasyarat: semua kebutuhan sebelumnya telah dipuaskan dan melibatkan tingkah laku dan tujuan yang rumit dan canggih dibanding usaha mendapatkan makanan.

7)            Kepuasan pada kebutuhan yang lebih tinggi memerlukan kondisi eksternal-sosial, ekonomi, politik yang lebih baik dibanding kepuasan yang lebih rendah. Misalnya aktualisasi diri memerlukan kebebasan ekspresi dan memperoleh peluang dibanding kebutuhan rasa aman.

3. Kebutuhan Dasar 1: Kebutuhan Fisiologis

Umumnya kebutuhan fisiologis bersifat homeostatik (usaha menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik) seperti makan, minum, gula, garam, protein, serta kebutuhan istirahat dan seks. Kebutuhan fisiologis ini sangat kuat, dalam keadaan absolut (kelaparan dan kehausan) semua kebutuhan lain ditinggalkan dan orang mencurahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini. Bisa terjadi kebutuhan fisiologis harus dipuaskan oleh pemuas yang seharusnya (misalnya orang yang kehausan harus minum atau dia mati); tapi ada juga kebutuhan yang dapat dipuaskan dengan pemuas yang lain (misalnya orang minum atau merokok untuk menghilangkan rasa lapar). Bahkan bisa terjadi pemuas fisiologis itu dipakai untuk memuaskan jenjang yang lebih tinggi, misalnya orang yang tidak terpuaskan cintanya, merasa kurang puas secara fisiologis sehingga terus menerus makan untuk memuaskannya.

4.  Kebutuhan Dasar 2: Kebutuhan Keamanan (Savety)

Sesudah kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya, muncul kebutuhan keamanan, stabilitas, proteksi, struktur hukum, keteraturan, batas, kebebasan dari rasa takut dan cemas. Kebutuhan fisiologis dan keamanan pada dasarnya adalah kebutuhan mempertahankan kehidupan. Kebutuhan fisiologis adalah pertahanan hidup jangka pendek, sedang keamanan adalah pertahanan hidup jangka panjang.

Kebutuhan keamanan sudah muncul sejak bayi, dalam bentuk menangis dan berteriak ketakutan karena perlakuan yang kasar atau karena perlakuan yang dirasa sebagai sumber bahaya. Anak akan merasa lebih nyaman pada suasana keluarga yang teratur, terencana, terorganisir, dan disiplin, karena suasana semacam itu mengurangi kemungkinan adanya perubahan, dadakan, kekacauan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pengasuhan yang bebas tidak mengenakan batasan-batasan, misalnya tidak mengatur interval kapan bayi tidur dan makan, akan membuat bayi bingung dan takut, bayi tidak terpuaskan kebutuhan keamanan dan keselamatannya. Begitu pula peristiwa-peristiwa orang tua berkelahi (adu mulut atau pemukulan), perceraian dan kematian membuat lingkungan tidak stabil-tidak terduga-sehingga bayi merasa tidak aman. Pada masa dewasa kebutuhan rasa aman mewujud dalam berbagai bentuk:

a.     Kebutuhan pekerjaan dan gaji yang mantap, tabungan dan asuransi (jelas dan taspen), memperoleh jaminan masa depan

b.  Praktek beragama dan keyakinan filsafat tertentu yang membantu orang untuk mengorganisir dunianya menjadi lebih bermakna dan seimbang, sehingga orang merasa lebih “selamat” (semasa hidup dan sesudah mati).

c.   Pengungsian, manusia perahu dampak perang, bencana alam atau kerusuhan ekonomi.

Menurut Maslow gejala neurotik obsesif-kompulsif banyak dilatar belakangi oleh kegagalan memenuhi keamanan. Misalnya orang berulang-ulang meneliti pintunya sudah terkunci atau belum, atau orang kompulsi mencuci pakaian terus menerus agar kumannya hilang.

5. Kebutuhan Dasar 3: Kebutuhan Dimiliki dan Cinta (Belonging and Love)

Sesudah kebutuhan fisiologi dan keamanan relatif terpuaskan, kebutuhan dimiliki atau menjadi bagian dari kelompok sosial dan cinta menjadi tujuan yang dominan. Orang sangat peka dengan kesendirian, pengasingan, ditolak lingkungan, dan kehilangan sahabat atau kehilangan cinta. Kebutuhan dimiliki ini terus penting sepanjang hidup. Maslow menolak pandangan Freud bahwa cinta adalah sublimasi dan insting seks. Menurutnya, cinta tidak sinonim dengan seks, cinta adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai, menghormati, dan mempercayai. Dicintai dan diterima adalah jalan menuju perasaan yang sehat dan berharga, sebaliknya tanpa cinta menimbulkan kesia-siaan, kekosongan, dan kemarahan.

Ada dua jenis cinta (dewasa) yakni Deficiency atau D-love dan Being atau B-love. Kebutuhan cinta karena kekurangan, itulah D-love; orang yang mencintai sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti harga diri, seks, atau seseorang yang membuat dirinya menjadi tidak sendirian. Misalnya, hubungan pacaran, hidup bersama, atau perkawinan yang membuat seseorang terpuaskan keamanan dan kenyamanannya. D-love adalah cinta yang mementingkan diri sendiri, lebih memperoleh daripada memberi. B-love didasarkan pada penilaian mengenai orang lain apa adanya, tanpa keinginan mengubah dan memanfaatkan orang lain. Cinta yang tidak berniat memiliki, tidak mempengaruhi, dan terutama bertujuan memberi orang lain gambaran positif, penerimaan diri dan perasaan dicintai, yang membuka kesempatan orang itu untuk berkembang. Menurut Maslow, kegagalan memenuhi kebutuhan dimiliki dan cinta menjadi sebab hampir semua bentuk psikopatologi. Pengalaman kasih sayang anak menjadi dasar perkembangan kepribadian yang sehat. Gangguan penyesuaian bukan disebabkan oleh frustasi keinginan sosial, tetapi lebih karena tidak adanya keintiman psikologik dengan orang lain.

6. Kebutuhan Dasar 4: Kebutuhan Harga Diri (Self-Esteem)

Manakala kebutuhan dimiliki dan mencintai lebih telah relatif terpuaskan, kekuatan motivasinya melemah, diganti motivasi harga diri. Ada dua jenis harga diri:

a.            Menghargai diri sendiri (self-respect): kebutuhan kekuatan, penguasaan, kompetensi, prestasi, kepercayaan diri, kemandirian, dan kebebasan. Orang membutuhkan pengetahuan tentang dirinya sendiri, bahwa dirinya berharga, mampu menguasai tugas dan tantangan hidup.

b. Mendapat penghargaan dari orang lain (respect from others): kebutuhan prestise, penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi menjadi penting, kehormatan, diterima, apresiasi. Orang membutuhkan pengetahuan bahwa dirinya dikenal baik dan dinilai baik oleh orang lain.

Kepuasan kebutuhan harga diri menimbulkan perasaan sikap percaya diri, diri berharga, diri mampu, dan perasaan berguna dan penting di dunia. Sebaliknya, frustasi karena kebutuhan harga diri tak terpuaskan akan menimbulkan perasaan dan sikap inferior, canggung, lemah, pasif, tergantung, penakut, tidak mampu mengatasi tuntutan hidup dan rendah diri dalam bergaul. Menurut Maslow, penghargaan dari orang lain hendaknya diperoleh berdasarkan penghargaan diri kepada diri sendiri. Orang seharusnya memperoleh harga diri dari kemampuan dirinya sendiri, bukan dari ketenaran eksternal yang tidak dapat dikontrolnya, yang membuatnya tergantung kepada orang lain.

7.            Kebutuhan Meta: Kebutuhan Aktualisasi Diri

Akhirnya setelah semua kebutuhan dasar terpenuhi, muncullah kebutuhan meta atau kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan menjadi seseorang itu mampu mewujudkannya memakai (secara maksimal) seluruh bakat-kemampuan- potensinya. Aktualisasi diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan diri sendiri (self-fulfilment), untuk menyadari seluruh potensi dirinya, untuk menjadi apa saja yang dapat dia lakukan, dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencari puncak prestasi potensinya. Manusia yang dapat mencapai tingkat aktualisasi diri ini menjadi manusia yang utuh, memperoleh kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan yang orang lain bahkan tidak menyadari ada kebutuhan semacam itu. Mereka mengekspresikan kebutuhan dasar kemanusiaan secara alami dan tidak mau ditekan oleh budaya.

Empat kebutuhan dasar adalah kebutuhan karena kekurangan atau D-need (deficiency need), sedang kebutuhan meta atau kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan karena ingin berkembang-ingin berubah, ingin mengalami transformasi menjadi lebih bermakna- atau B-need (being need). Menurut Maslow kebutuhan dasar berisi kebutuhan konatif, sedangkan kebutuhan meta berisi kebutuhan estetik dan kebutuhan kognitif.

Maslow menemukan 17 kebutuhan estetika dan kognitif. Keduanya tidak dapat dipisahkan secara tajam mana yang masuk kebutuhan estetik dan mana yang masuk kebutuhan kognitif, karena keduanya saling tumpang tindih. Pada dasar kebutuhan meta need, nomor-nomor kecil lebih banyak muatan kebutuhan estetiknya, semakin besar nomornya-muatan kognitifnya semakin banyak. Kebutuhan-kebutuhan memang tidak dapat dipandang sesuatu yang saling asing. Bahkan saling tumpang tindih itu terjadi antara kebutuhan konatif, estetik, dan kognitif sekaligus, misalnya pada kebutuhan keteraturan (order), dapat masuk ke kebutuhan estetik dalam hal sifat harmoni dan simetri, bisa masuk ke kebutuhan konatif karena menjamin perasaan aman (dari keteraturan hidup), dan juga bisa masuk ke kebutuhan kognitif ketika keteratuan itu menyangkut penyusunan rumus matematik dan alur berfikir yang teratur.

Tabel 3.1 Kebutuhan Meta: Kebutuhan Estetik dan Kognitif

No.   /      Metaneed  /        Karakter yang sama/berhubungan

1.   Keanggunan (beauty)/    Keindahan, keseimbangan bentuk, menarik perhatian

2. Bersemangat (Aliveness) / Hidup, bergerak spontan, berfungsi penuh, berubah dalam aturan

3.  Keunikan (Uniqueness)  / Keistimewaan, kekhasan, tak ada yang sama, kebaruan

4              Bermain-main (Playfullness)       Gembira, riang, senang, menggelikan, humor

5.   Kesederhanaan (Simplicity)  Jujur, terbuka, menasar, tidak berlebihan, tidak rumit

6.  Kebaikan (Goodness)   / Positif, bernilai, sesuai dengan yang diharapkan

7. Teratur (Order)/ Rapi, terencana, mengikuti aturan, seimbang

8 . Kemandirian (Self sufficiency)/ Otonom, menentukan diri sendiri, tidak tergantung

9 . Kemudahan (Effortlessness) /  Ringan, tanpa usaha, tanpa hambatan, bergaya

10. sempurnaan (Perfection) /      Mutlak, pantas, tidak berlebih dan tidak kurang, optimal

11.  Kelengkapan (Completion) /Selesai, tamat, sampai akhir, puas terpenuhi, tanpa sisa

12 . Berisi (Richness)/ Kompleks, rumit, penuh, berat, semua sama penting

13 .Hukum (Justice)  Tidak berat sebelah, menurut hukum, yang seharusnya

14 .Penyatuan (Dicotomy/Transcendence) Menerima perbedaan, perubahan, penggabungan

15. Keharusan (Necessily)   Tidak dapat ditolak, syarat sesuatu harus seperti itu

16   Kebulatan (Wholeness)   Kesatuan, integrasi, kecenderungan menyatu, saling berhubungan

17  Kebenaran (Truth)  Kenyataan, apa adanya, faktual, tidak berbohong

8.   Kebutuhan Neurotik

Kepuasan kebutuhan hirarkis (konatik, estetik, dan kognitif) menjadi dasar dari kesehatan fisik dan psikis seseorang, dan frustasi karena kegagalan memperoleh kepuasan akan menimbulkan gangguan, penyakit pada taraf tertentu. Maslow mengemukakan, manusia masih mempunyai satu kebutuhan, yakni kebutuhan neurotik, yang bekerja terpisah dari tiga kebutuhan itu. Frustasi karena kebutuhan hirarkis yang tidak terpenuhi, dalam keadaan yang ekstrim dan berjangka lama dapat berubah menjadi kebutuhan neurotik. Sesudah berubah wujud menjadi kebutuhan neurotik, kebutuhan ini membuat sistem sendiri yang terpisah dari sistem kebutuhan yang sehat. Kebutuhan neurotik membuat orang mengalami stagnasi atau patologis tak peduli apakah kebutuhan itu terpenuhi atau tidak terpenuhi. Kebutuhan neurotik bersifat non-produktif, mengembangkan gaya hidup yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak memiliki nilai dalam kaitannya dengan perjuangan mencapai aktualisasi diri, gaya hidup reaktif, berperan sebagai kompensasi dari kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. Orang yang kebutuhan keamanannya tidak terpuaskan, mungkin mengembangkan keinginan yang kuat untuk menimbun uang dan harta benda. Dorongan menimbun semacam itu adalah dorongan neurotik, tidak berharga sebagai motivator menuju kesehatan jiwa. Orang yang kebutuhan dimiliki dan cinta-nya terpuaskan, mengembangkan tingkah laku agresif dan marah kepada orang lain secara berlebihan. Kebutuhan agresif dan marah yang berlebih itu adalah kebutuhan neurotik yang tidak mempunyai peran positif dalam gerak menuju aktualisasi diri. Kebutuhan neurotik berbeda dengan kebutuhan hirarkis karena kepuasan kebutuhan neurotik tidak membuat orang berkembang menjadi sehat. Memberi semua kekuatan yang diinginkan oleh orang yang kebutuhan neurotiknya haus kekuasaan, tidak membuat neurotiknya mereda, dan jenuh. Berapapun makanan yang disediakan, dia masih tetap lapar (karena dia melihat makanan lain). Apakah kebutuhan neurotik itu terpenuhi atau tidak, kesehatan jiwa tidak menjadi lebih baik. Frustasi (karena tidak terpuaskan) pada setiap jenjang kebutuhan dapat berubah menjadi kebutuhan neurotik, khususnya frustasi pada kebutuhan keamanan dan kebutuhan dimiliki atau cinta.

C.  Mencapai Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri dapat dipandang sebagai kebutuhan tertinggi dari suatu hirarki kebutuhan, namun juga dapat dipandang sebagai tujuan final, tujuan ideal dari kehidupan manusia. Konsep tujuan hidup sebagai motivator ini mirip dengan konsep arsetif-self dari Jung, kekuatan-kreatif-self dari Adler, atau realisasi-diri dari Horney. Menurut Maslow, tujuan mencapai aktualisasi diri itu bersifat alami, yang dibawa sejak lahir. Secara genetik manusia mempunyai potensi dasar yang positif. Di samping itu manusia juga mempunyai potensi dasar jalur perkembangan yang sehat untuk mencapai aktualisasi diri. Jadi orang yang sehat adalah orang yang mengembangkan potensi positifnya mengikuti jalur perkembangan yang sehat, lebih mengikuti hakekat alami di dalam dirinya, alih-alih mengikuti pengaruh lingkungan diluar dirinya. Kebutuhan neurotik merupakan perkembangan kebutuhan yang menyimpang dari jalur alami. Menurut Maslow penolakan, frustrasi, dan penyimpangan dari perkembangan hakekat alami akan menimbulkan psikopatologi. Dalam pandangan ini, apa yang baik adalah semua yang mendekat ke aktualisasi diri, dan yang buruk atau abnormal adalah segala hal yang menggagalkan atau menghambat atau menolak aktualisasi diri sebagai hakekat alami kemanusiaan. Karena itu psikoterapi adalah usaha mengembalikan orang ke jalur aktualisasi diri-nya dan berkembang sepanjang lintasan yang diatur alam di dalam dirinya.

Aktualisasi sebagai tujuan final-ideal hanya dapat dicapai oleh sebagian kecil dari populasi, itupun hanya dalam prosentase kecil. Menurut Maslow rata-rata kebutuhan aktualisasi diri hanya terpuaskan 10%. Kebutuhan aktualsasi ini jarang terpenuhi karena orang sukar menyeimbangkan antara kebanggaan dengan kerendahan hati, antara kemampuan memimpin dengan bertanggung jawab yang harus dipikul, antara mencemburui kebesaran orang lain dengan perasaan kurang berharga. Orang akhirnya menyangkal dan menarik diri karena perkembangan pribadi justru menimbulkan sejenis perasaan takut, terpesona, lemah dan tidak mampu. Orang menyangkal dan menolak kemampuan dan potensi tertingginya dan kreativitasnya. Maslow menamakan perasaan takut, gamang, perasaan tidak berharga, dan meragukan kemampuan diri memperoleh kemasyhuran dan aktualisasi diri sebagai Kompleks Junus – Jonah Complex- (diambil dari kisah Nabi Junus, yang menolak mengingatkan umatnya yang kafir/penyembah setan, dan malahan melarikan diri naik kapal. Tuhan kemudian mengirim badai dan ikan Paus untuk memakannya).

1.   Pengembangan Diri

Orang gagal mencapai aktualisasi diri karena mereka takut menyadari kelemahan dirinya sendiri. Masyarakat dapat mendorong atau merintangi aktualisasi diri. Sekolah misalnya, dapat mendorong siswanya mengejar aktualisasi diri dengan memberi siswa kepuasan rasa aman, kebersamaan dan esteem. Maslow mengemukakan dua jalur untuk mencapai aktualisasi diri; jalur belajar (mengembangkan diri secara optimal pada semua tingkat kebutuhan hirarkis) dan jalur pengalaman puncak. Ada delapan model tingkah laku yang harus dipelajari dan dilakukan agar orang dapat mencapai aktualisasi diri melalui jalur belajar-pengembangan diri, sebagai berikut:

a.   Alami sesuatu dengan utuh, gamblang, tanpa pamrih. Masukkan diri ke dalam pengalaman mengenai sesuatu, berkonsentrasi mengenainya seutuhnya, biarkan sesuatu itu menyerapmu.

b.            Hidup adalah perjalanan proses memilih antara keamanan (jauh dari rasa sakit dan kebutuhan bertahan) dengan resiko (demi kemajuan dan perkembangan): buat pilihan pertumbuhan “sesering mungkin tiap hari.”

c.  Biarkan self tegak. Usahakan untuk mengabaikan tuntutan eksternal mengenai apa yangs seharusnya kamu pikirkan, rasakan, dan ucapkan. Biasakan pengalaman membuatmu dapat mengatakan apa yang sesungguhnya kamu rasakan.

d.  Apabila ragu, jujurlah. Jika kamu melihat ke dalam dirimu dan jujur, kamu akan mengambil tanggung jawab, bertanggung jawab adalah aktualisasi diri.

e.   Dengar dengan seleramu sendiri, bersiaplah untuk tidak populer.

f.   Gunakan kecerdasanmu, kerjakan sebaik mungkin apa yang ingin kamu kerjakan, apakah itu latihan jari di atas tuas piano, mengingat nama setiap tulang-otot-hormon, atau belajar bagaimana memelitur kayu sehingga menjadi halus seperti sutra.

g.  Buatlah pengalaman puncak (peak experience) seperti terjadi, buang ilusi dan pandangan salah, pelajari apa yang kamu tidak bagus dan kamu tidak potensial.

h.  Temukan siapa dirimu, apa pekerjaanmu, apa yang kamu senangi dan tidak kamu senangi, apa yang baik dan buruk bagimu, kemana kamu pergi, apa misimu. Bukalah dirimu kamu dapat mengenali pertahanan dirimu, dan usahakan mendapat keberanian untuk menyerah.

2.  Pengalaman Puncak (Peak Experience)

Maslow menemukan dalam penelitiannya bahwa banyak orang yang mencapai aktualisasi diri ternyata mengalami pengalaman puncak: suatu pengalaman mistik mengenai perasaan dan sensasi yang mendalam, psikologik dan fisiologik. Suatu keadaan dimana seseorang mengalami ekstasi-keajaiban-terpesona-kebahagiaan yang luar biasa, seperti pengalaman keilahian yang mendalam, dimana saat itu diri seperti hilang atau mengalami transendensi. Pengalaman puncak itu bisa diperoleh dari mengalami sesuatu yang sempurna, nyata dan luar biasa, menuju keadilan atau nilai yang sempurna. Sepanjang mengalami hal itu, orang merasa sangat kuat, sangat percaya diri dan yakin. Pengalaman puncak itu mengubah seseorang menjadi merasa lebih harmoni dengan dunia, pemahaman dan pandangannya menjadi luas. Maslow menerima gambaran pengalaman puncak yang disusun oleh William James, sebagai berikut:

a.   Tak terlukiskan (ineffability): Subjek sesudah mengalami pengalaman puncak segera mengatakan bahwa itu adalah ekspresi keajaiban, yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, yang tidak dapat dijelaskan kepada orang lain.

b.  Kualitas kebenaran intelektual (neotic quality): Pengalaman puncak adalah pengalaman menemukan kebenaran dari hakikat intelektual.

c.  Waktunya pendek (transiency): Keadaan mistis tidak bertahan lama. Umumnya hanya berlangsung 30 menit atau paling lama satu atau dua jam (jarang sekali berlangsung lebih lama), pengalaman itu menjadi kabur dan orang kembali ke dunianya sehari-hari.

d. Pasif (passivity): Orang yang mengalami pengalaman mistis merasa kemauan dirinya tergusur (abeyance), dan terkadang dia merasa terperangkap dan dikuasai oleh kekuatan yang sangat besar. Pada mulanya Maslow berpendapat bahwa pengalaman puncak ini hanya dapat dialami oleh orang-orang tertentu saja, khususnya mereka yang sudah mencapai aktualisasi diri akan mengalaminya secara teratur berkali-kali. Namun sesudah Maslow semakin terampil mewawancari orang mengenai pengalaman-pengalaman orang itu, dia menemukan bahwa sebagian besar “orang rata-rata” pernah mengalami pengalaman puncak. Masalahnya, orang cenderung mereaksinya dengan melarikan diri alih-alih dengan penerimaan yang “terbuka”. Orang yang pandangan hidupnya materialis dan mekanistik adalah orang yang secara sengaja menghilangkan bagian kehidupan spiritual yang sangat penting dari kehidupannya. Pengaruh pengalaman puncak berjangka lama – tidak mudah hilang (lasting), antara lain:

a.  Hilangnya simptom neurotik

b.  Kecenderungan melihat diri sendiri lebih sehat

c. Perubahan pandangan mengenai orang lain dan hubungan dirinya dengan mereka

d.  Perubahan padangan diri mengenai dunia

e. Munculnya kreativitas, spontanitas dan kemampuan mengekspresikan diri

f.  Kecenderungan mengingat pengalaman puncak itu dan berusaha mengulanginya

g.  Kecenderungan melihat kehidupan secara umum sebagai lebih berharga

Dapat disimpulkan, aktualisasi diri yang dicapai melalui pengalaman puncak membuat orang lebih religius, mistikal, sholeh, dan indah (poetical) dibanding dengan aktualisasi yang diperoleh melalui pengembangan diri (yang lebih praktis, membumi, terikat dengan urusan keduniaan). Namun secara umum orang yang mencapai aktualisasi diri mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a.   Orientasinya realistik, memandang realitas secara efisien

b.  Menerima diri, orang lain dan alam sekitar apa adanya.

c.  Spontan, sederhana, alami

d.   Lebih memperhatikan masalah (problem-centered) alih-alih memperhatikan diri sendiri (self-centered)

e.  Berpendirian kuat dan membutuhkan privacy

f.   Otonom dan bebas dari kultur lingkungan

g.  Memahami orang dan sesuatu secara segar dan tidak stereotip

h.  Memiliki pengalaman mistikal atau spiritual, walaupun tidak harus religius

i.   Mengenal harkat kemanusiaan, memiliki minat sosial (gemeinschaft)

j.   Cenderung memiliki hubungan dengan sedikit orang tercinta alih-alih hubungan renggang dengan banyak orang

k.     Memiliki nilai dan sikap demokratis

l.    Tidak mengacaukan sarana dengan tujuan

m.   Rasa humornya filosofik, tidak berlebihan

n.   Luluh dengan lingkungan alih-alih sekedar menanganinya

o.     Sangat kreatif

p.     Menolak bersetuju dengan kultur

D.      Organisasi Kepribadian

1.     Sindrom Kepribadian

Unit utama dari kepribadian adalah sindrom kepribadian (personality syndrome): sejumlah sifat-sifat yang berbeda (tingkah laku, persepsi, pikiran, dorongan untuk berbuat, dll) yang terstruktur, terorganisir, dan saling berhubungan, muncul bersama-sama. Maslow baru meneliti tiga sindrom yang terpenting, yakni sindrom harga diri (self-esteem), sindrom keamanan (security), dan sindrom kecerdasan (intelectual). Penelitian dilakukan dengan memakai metode holistik-analitik. Metode ini mementingkan pandangan menyeluruh, manusia sebagai organisme sekaligus analisis terhadap bagian-bagian rincinya. Pendekatan holistik menjelaskan bagaimana interaksi bagian-bagian dalam oragnisasi dinamik dari individu sebagai satu kesatuan. Pendekatan memahami detil, apa, bagaimana dan peran-peran unsur-unsur yang terlibat di dalamnya. Tentu saja, ketika menganalisis komponen-komponen suatu sindrom, harus tetap diingat bahwa komponen-komponen itu menjadi bagian dari unit yang lebih besar lagi, berturut-turut sampai ke unit yang paling besar, yaitu sindrom kepribadian.

Tabel 3.2: Contoh Sindrom keamanan

Level 1  Personality Syndrome   Security – Insecurity

Level 2  Subsyndrome    Kekuatan – Kepatuhan

Level 3  Su-subsyndrome             Curiga – Persamaan Derajat

Level 4  Sub-sub-subsyndrome  Warna kulit – Ciri terdalam manusia

Level 5  Sub-sub-sub-subsyndrome     Menekankan perbedaan – Menekankan persamaan antar manusia antar manusia Konsep sindrom kepribadian yang berisi sub sindrom, merupakan bagian dari usaha. Maslow menolak pandangan yang memecah atau memerinci manusia menjadi bagian-bagian kecil yang saling tidak berhubungan, menjadi bagian elementer dalam situasi yang spesifik. Perasaan mudah curiga, itu bukan bagian atau unsur yang menandai adanya sindrom kepribadian, tetapi perasaan curiga itu merupakan wujud lain dari sindrom keamanan. Hubungan antara kecurigaan, kekuatan, dan keamanan, akan menjelaskan bagaimana perasaan aman berubah menjadi perasaan curiga.

2.  Kekurangan dan Menjadi (Deficiency – Being)

Menurut Maslow, orang berhubungan dengan dunia luar dalam dua bentuk, alam-kekurangan dan alam-menjadi. Alam kekurangan atau D-realm adalah D-need, bisa berwujud D-love. D-value, dan D-lainnya, (D = deficiency = kekurangan); merupakan bentuk hubungan dimana orang terlibat dengan kegiatan memuaskan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup – orang berusaha untuk mengatasi atau menghindari kebutuhan kekurangan seperti makanan, minuman, tempat istirahat. Alam menjadi, atau B-realm adalah B-need, bisa berwujud B-love, B-value, dan B-lainnya (B = being = menjadi) lainnya. Bentuk hubungan alam menjadi adalah hubungan orang dengan dunia luarnya sesudah kebutuhan dan motiv dasar terpenuhi. Orang kemudian terlibat dalam kegiatan mengembangkan aktualisasi diri dan memperluas eksisitensi.

Sebagai tambahan dan untuk membedakan motiv/kebutuhan D dengan B, Maslow membedakan jenis kognisi yang menjadi ciri dari dua alam itu, D-cognition dengan B-cognition. Orang mungkin berpikir bahwa B-kognisi lebih diharapkan, namun Maslow mengingatkan bahwa D-kognisi sama-sama dibutuhkan. Semata-mata B-Kognisi bisa membuat orang hanya memikirkan diri sendiri, dan tidak mempedulikan orang lain. Itu tidak sehat, orang harus tetap memikirkan tentang kekurangan dirinya sendiri, membandingkan dirinya dengan orang lain, dan berkomunikasi memakai pikiran orang lain yang “lebih baik” dari pemikiran yang dia miliki. Jadi, mengejar aktualisasi diri berarti harus lebih banyak berfikir B-kognisi dengan D-kognisSegala sesuatu dipandang tergantung kepada yang lain, sebagai tidak lengkap. Beberapa aspek dari sesuatu yang diperhatikan; perhatian yang bersamaan diberikan kepada hal lain, faktor yang berkaitan atau kausal. Sesuatu dipandang sebagai anggota dari suatu kelas, contoh, atau sampel. Segala sesuatu dipandang berhubungan dengan urusan manusia, kegunaannya, keberbahayaannya, dan semacamnya. Segala sesuatu menjadi kurang menarik, kesamaan mengarah ke kebosanan. Pelaku mengalami bukan hanya objek semata, tetapi objek yang terikat dengan self. Segala sesuatu dipandang sebagai sarana bagi yang lain. Segala sesuatu dipandang pilah-pilah tidak saling berhubungan, sering bertentangan. Dunia dalam dan dunia luar dipandang sebagai yang semakin tidak sama. Obyek dipandang sebagai hal yang normal, sehari-hari, tidak ada yang luar biasa. Hal yang serius dipandang sangat berbeda dengan sesuatu yang menyenangkan, humor adalah musuh atau tidak ada.   Segala sesuatu dipandang utuh, lengkap Segala sesuatu diperhatikan secara khusus dan dipandang mendalam dan menyeluruh. Sesuatu dipandang apa adanya, hal itu saja tanpa dipersaingkan dengan hal lainnya. Segala sesuatu dipandang tidak berhubungan urusan manusia. Segala sesuatu menjadi semakin menarik dengan mengulang mengalaminya. Penerima pengalaman menjadi terlarut dan tidak memunculkan self; pengalaman diorganisir disekitar obyek alih-alih disekitar ego.  Segala sesuatu dipandang berakhir sampai itu sebagai hal yang menarik secara hakiki (intrinsik). Dikotomi, polaritas, konflik antar segala sesuatu dipandang perlu dan dibutuhkan oleh keseluruhan. Dunia dalam dan dunia luar dipandang sebagai hal semakin sama. Obyek sering dipandang sebagai suci, sakral, sangat spesial. Dunia dan self sering dipandang menarik dan pedas; kelucuan dan tragis digabungkan; humor adalah filosofi.

E.  Aplikasi

1. Personal Orientation Inventory (Shostrom)

POI adalah tes yang disusun berdasarkan teori Maslow mengenai aktualisasi diri, dan bertujuan untuk mengukur aktualisasi diri itu dalam diri seseorang, Shostrom melaporkan tes yang disusunnya cukup valid dan reliabel menghasilkan ukuran yang komprehensif mengenai nilai-nilai dan tingkah laku- tingkah laku dari aktualisasi diri seseorang. Tes ini terdiri dari 150 item pilihan ganda, testee diminta untuk memilih mana yang sesuai dengan dirinya, pernyataan (a) atau (b), tetapi mereka boleh tidak menjawab kalau dua pertanyaan itu tidak ada yang cocok dengan dirinya, atau dia sama sekali tidak tahu mengenai pernyataan itu. POI mempunyai 2 skala utama dan 10 subskala. Skor tinggi pada 12 skala itu menunjukkan tingginya tingkat aktualisasi diri, sedang skor rendah memberi petunjuk kekurangan-kekurangan dalam nilai-nilai dan tingkah laku-tingkah laku yang membuat orang terhambat mencapai aktualisasi diri. Nilai rendah ini tidak berarti orangnya patologis. Menurut Shostrom, ketika Maslow mengisi POI dengan jujur, dia hanya mencapai skor “berada dalam jalur menuju aktualisasi diri” yang tentu tidak setinggi skor orang yang sudah mencapai aktualisasi diri.

2.  Neurotik

Sejak awal telah dikemukakan bahwa Maslow tidak banyak tertarik dengan abnormalitas dan psikoterapi, dan lebih banyak menganalisis orang yang normal bahkan supernormal. Karena itu konsep-konsepnya tentang neurotik tidak utuh, tersebar diberbagai elaborasi konsep lainnya. Menurut Maslow, manusia itu lahir dengan keinginan dasar berkembang sehat, bergerak menuju aktualisasi diri. Gagal dalam mengembangkan keinginan dasar itu akan menimbulkan neurosis dan perkembangan abnormal. Penderita neurotik adalah orang yang terhalang atau menghalangi diri sendiri dari memperoleh kepuasan kebutuhan dasar mereka sendiri. Halangan itu menghentikan gerak maju menuju akutalisasi diri. Jika orang tidak mempunyai makanan dan tempat tinggal, mereka tidak akan mencapai perkembangan ootensi psikologis sepenuhnya. Bayi yang tidak memperoleh pengalaman cinta yang sehat dari orang tuanya, akan mengalami hambatan dalam mengekspresikan kebutuhan dimiliki dan cinta. Individu yang merasa terancam dan tidak aman banyak yang memiliki kepercayaan diri dan harga diri yang rendah. Kompleks Junus (Jonah Complex) merupakan bentuk hambatan neurotik, yang pada kadar tertentu dimiliki oleh semua orang.

3.  Psikoterapi

Walaupun Maslow bukan praktisi psikoterapis, dia berpendapat teorinya dapat diaplikasikan ke dalam psikoterapi. Menurutnya, kepuasan kebutuhan dasar hanya dapat terjadi melalui hubungan interpersonal, karena itu terapi harus bersifat interpersonal. Suasana terapi harus melibatkan perasaan saling berterus terang/jujur, saling percaya, dan tidak defensif. Suasana itu juga mengijinkan ekspresi yang kekanak-kanakan dan memalukan. Ekspresi kelemahan diri ini bisa terjadi kalau hubungan terapi mendukung, tidak menimbulkan ancaman. Dalam suasana yang demokratis, terapis harus memberi klien penghargaan, cinta, dan perasaan bahwa klien itu berada dalam alur perkembangan yang benar. Dengan kata lain, terapis harus memuaskan kekurangan kebutuhan dasar klien. Tetapi terapi efektif harus maju lebih jauh. Hubungan teraputik bukan hanya dibangun melalui cinta yang diberikan kepada klien, tetapi juga ekspektasi cinta dan afeksi dari klien kepada terapisnya. Klien secara umum didorong untuk menampilkan nilai-nilai yang berhubungan dengan perkembangan positif. Ia didorong untuk berani membuka diri, belajar memahami lebih lanjut mengenai kompleksitas kehidupan manusia. Maslow menyadari bahwa terapi yang suportif dan hangat tidak dapat dipakai dengan klien tertentu, misalnya mereka yang kronis, neurotik yang melibatkan ketidakpercayaan dan kemarahan kepada orang lain. Pada kondisi semacam itu, Maslow yakin analisis memakai pendekatan Freud lebih berhasil.

F.   Evaluasi

1.  Refleksi Diri

Setelah mengkaji materi pelatihan tentang Paradigma Psikologi Kepribadian C.G. Jung dan Abraham Maslow baik konseptual maupun aplikasinya, peserta diharapkan mampu mengungkap kembali berdasarkan pengalaman diri melalui penyelesaian tugas berikut:

a.  Menemukenali arti kepribadian menurut C.G.Jung dan Abraham Maslow!

b.  enemukenali tipologi pribadi menurut paradigma C.G Jung!

c.   Menemukenali karakteristik pribadi menurut paradigma Abraham Maslow!

d.  Menemukenali strategi aktualisasi diri melalui pengalaman puncak, sertakan contohnya!

e.   Cara-cara yang mana dapat digunakan untuk membantu kolega yang “minder atau menarik diri”!

2.   Kasuistik

Sebagai wujud aktualisasi diri seseorang di antaranya adalah menduduki posisi penting dalam suatu institusi. Seorang Kepala Sekolah perempuan lebih berhasil karena animusnya ketimbang laki-laki. Faktor lain yang mendukung keberhasilan pemimpin perempuan adalah jujur, loyal terhadap tupoksi, disiplin tinggi, sekalipun kekurangan itu terjadi dan wajar. Analisislah kasuistik tersebut menurut pandangan Jung dan Maslow!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s