BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

DRS. H. ENDANG ABUTARYA, M.PD KOORDINATOR PENGAWAS SMA/SMK DKI JAKARTA

  TEN MEGA TREND  

THINKING DEVELOPMENT  (LIFE LONG LEARNING)  KITA AKAN MENUJU:

  1. Belajar melalui kehidupan kita
  2. Belajar dalam organisasi, institusi, asosiasi, jaringan.
  3. Belajar berfokus pada kebutuhan nyata
  4. Belajar dengan seluruh kemampuan otak
  5. Belajar bersama
  6. Belajar melalui multi media, teknologi, format, dan gaya .
  7. Belajar langsung dari berpikir
  8. Belajar melalui Pengajaran/pembelajaran
  9. Belajar melalui sistem pendidikan kita yang akan berubah cepat (atau lambat?) untuk membantu belajar sepanjang hayat dan masyarakat belajar
  10. Belajar bagaimana belaja

 PEMBELAJARAN

  • Meningkatkan pemahaman dan memperbaiki proses belajar
  • Mendorong prakarsa belajar siswa
  • Mempreskripsikan strategi yang optimal
  • Kondisi membelajarkan siswa simultan
  • Memudahkan proses internal yg belajar
  • Menjadikan Belajar lebih efektif, efisien, dan menarik

PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN SEHARUSNYA

  • Merefleksikan tentang apa yang kita ketahui tentang bagaimana terjadinya proses belajar
  • Belajar merupakan proses interaktif dan sistem yang kompleks
  • Pemusatan belajar dapat menjadi luas dan interdisipliner
  • Kurikulum memberi ruang kepada sikap, persepsi, dan kebiasaan mental dalam memfasilitasi belajar
  • Pendekatan pembelajaran lebih berpusat pada siswa
  • Gunakan pengetahuan dan reasoning yg kompleks lebih bermakna dari pada menghafal informasi.

 TEORI BELAJAR

TEORI bELAJAR

TEORI bELAJAR                                                                                                                                             

 Kondisi Pembelajaran

  • Tujuan Pembelajaran
  • Karakteristik Mata Pelajaran
  • Struktur Mata Pelajaran
  • Tipe Isi
  • Kendala
  • Buku,Media, Waktu, personalia, dana
  • Karakteristik pebelajar
  • Bakat, motivasi, perilaku, kebiasaan, kemampuan awal, status sosek dsb.

METODE PEMBELAJARAN

  • Strategi Pengorganisasian Isi
  • Mikro
  • Makro
  • Strategi Penyampaian
  • Media
  • Interaksi pebelajar dengan media
  • Bentuk/struktur pembelajaran
  • Strategi Pengelolaan
  • Penjadwalan
  • Pembuatan catatan kemajuan bel.
  • Pengelolaan Motivasi
  • Kontrol belajar

HASIL PEMBELAJARAN

  • Keefektifan
  • Kecermatan penguasaan perilaku
  • Kecepatan unjuk kerja
  • Kesesuaian dengan prosedur
  • Kuantitas unjuk kerja
  • Kualitas hasil akhir
  • Tingkat alih belajar
  • Tingkat retensi
  • Efisiensi
  • Waktu
  • Personalia
  • Sumber Belajar
  • Daya tarik
  • Keinginan untuk terus belajar

 

Hasil Belajar
Hasil Belajar

PEMBELAJARAN YG BERKUALITAS

  • Memfasilitasi terjadinya belajar pada peserta didik, hasil belajar optimal sesuai dengan potensinya
  • Bentuk fasilitasi adalah penyediaan sumber belajar

Pola Pembelajaran DULU:
Guru merupakan satu-satunya sumber belajar

KURIKULUM                PENETAPAN ISI DAN METODE                  GURU                    SISWA

PENDIDIKAN DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

  • Era teknologi informasi & komunikasi menyebabkan ketidakselarasan pendidikan dengan tuntutan kebutuhan siswa dan  masa depan
  • Penguasaan teknologi informasi & komunikasi menjadi literasi dasar (di samping baca-tulis-hitung)
  • Sekolah/ pendidikan bukan lagi sebagai satu-satunya pangkalan ilmu pengetahuan
  • Proses pendidikan bergeser dari pendekatan konvensional ke arah multi sumber
  • Kesenjangan antara school knoledge dan out of school knowledge semakin lebar

Apakah para guru bisa menjadi manajer pembelajaran dengan menempatkan siswa menjadi klien, sama seperti klien pengacara atau profesi lain ?

PRAKTIKKAN SAJA

  • Anda belajar berbicara dengan berbicara
  • Anda belajar berjalan dengan berjalan
  • Anda belajar stir mobil dengan berkendara
  • Anda belajar mengetik dengan mengetik
  • Anda belajar paling baik adalah dengan mempraktikkan
  • Anda belajar memecahkan masalah dengan mempraktikkan memecahkan masalah
  • Anda belajar menulis, dengan anda mempraktikan menulis.

 TEN MEGA TREND  

THINKING DEVELOPMENT  (LIFE LONG LEARNING)  KITA AKAN MENUJU:

  1. Belajar melalui kehidupan kita
  2. Belajar dalam organisasi, institusi, asosiasi, jaringan.
  3. Belajar berfokus pada kebutuhan nyata
  4. Belajar dengan seluruh kemampuan otak
  5. Belajar bersama
  6. Belajar melalui multi media, teknologi, format, dan gaya .
  7. Belajar langsung dari berpikir
  8. Belajar melalui Pengajaran/pembelajaran
  9. Belajar melalui sistem pendidikan kita yang akan berubah cepat (atau lambat?) untuk membantu belajar sepanjang hayat dan masyarakat belajar
  10. Belajar bagaimana belaja

PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN SEHARUSNYA

  • Merefleksikan tentang apa yang kita ketahui tentang bagaimana terjadinya proses belajar
  • Belajar merupakan proses interaktif dan sistem yang kompleks
  • Pemusatan belajar dapat menjadi luas dan interdisipliner
  • Kurikulum memberi ruang kepada sikap, persepsi, dan kebiasaan mental dalam memfasilitasi belajar
  • Pendekatan pembelajaran lebih berpusat pada siswa
  • Gunakan pengetahuan dan reasoning yg kompleks lebih bermakna dari pada menghafal informasi.

 TEORI BELAJAR

Kondisi Pembelajaran

  • Tujuan Pembelajaran
  • Karakteristik Mata Pelajaran
  • Struktur Mata Pelajaran
  • Tipe Isi
  • Kendala
  • Buku,Media, Waktu, personalia, dana
  • Karakteristik pebelajar
  • Bakat, motivasi, perilaku, kebiasaan, kemampuan awal, status sosek dsb.

METODE PEMBELAJARAN

  • Strategi Pengorganisasian Isi
  • Mikro
  • Makro
  • Strategi Penyampaian
  • Media
  • Interaksi pebelajar dengan media
  • Bentuk/struktur pembelajaran
  • Strategi Pengelolaan
  • Penjadwalan
  • Pembuatan catatan kemajuan bel.
  • Pengelolaan Motivasi
  • Kontrol belajar

HASIL PEMBELAJARAN

  • Keefektifan
  • Kecermatan penguasaan perilaku
  • Kecepatan unjuk kerja
  • Kesesuaian dengan prosedur
  • Kuantitas unjuk kerja
  • Kualitas hasil akhir
  • Tingkat alih belajar
  • Tingkat retensi
  • Efisiensi
  • Waktu
  • Personalia
  • Sumber Belajar
  • Daya tarik
  • Keinginan untuk terus belajar

 PEMBELAJARAN YG BERKUALITAS

  • Memfasilitasi terjadinya belajar pada peserta didik, hasil belajar optimal sesuai dengan potensinya
  • Bentuk fasilitasi adalah penyediaan sumber belajar

Pola Pembelajaran DULU:
Guru merupakan satu-satunya sumber belajar

KURIKULUM                PENETAPAN ISI DAN METODE                  GURU                    SISWA

PENDIDIKAN DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

  • Era teknologi informasi & komunikasi menyebabkan ketidakselarasan pendidikan dengan tuntutan kebutuhan siswa dan  masa depan
  • Penguasaan teknologi informasi & komunikasi menjadi literasi dasar (di samping baca-tulis-hitung)
  • Sekolah/ pendidikan bukan lagi sebagai satu-satunya pangkalan ilmu pengetahuan
  • Proses pendidikan bergeser dari pendekatan konvensional ke arah multi sumber
  • Kesenjangan antara school knoledge dan out of school knowledge semakin lebar

Apakah para guru bisa menjadi manajer pembelajaran dengan menempatkan siswa menjadi klien, sama seperti klien pengacara atau profesi lain ?

PRAKTIKKAN SAJA

  • Anda belajar berbicara dengan berbicara
  • Anda belajar berjalan dengan berjalan
  • Anda belajar stir mobil dengan berkendara
  • Anda belajar mengetik dengan mengetik
  • Anda belajar paling baik adalah dengan mempraktikkan
  • Anda belajar memecahkan masalah dengan mempraktikkan memecahkan masalah
  • Anda belajar menulis, dengan anda mempraktikan menulis.

Recent Posts

Mengenal Karakteristik Peserta Didik

Mengenal Karakteristik Peserta Didik

(Rangkuman Referensi Guru Bahasa Indonesia)

Pembahasan tentang dunia pendidikan selalu terkait dengan komponen yang melekat di dalamnya, seperti kurikulum,  pendidik, dan peserta didik. Ketiga komponen tersebut saling terkait satu dengan yang lain dalam membentuk sebuah proses pembelajaran yang efektif. Sebagai seorang pendidik, tugas kita tidak hanya wajib menguasai kurikulum dan tugas-tugas kependidikan tetapi hendaknya mengenali peserta didik atau anak didik kita terlebih karakteristik mereka. Karakteristik peserta didik yang perlu dikenal dan dipahami oleh para pendidik tidak hanya terbatas pada tipe kepribadian mereka saja, tetapi juga melingkupi kebutuhan  belajar, kemampuan mereka dalam belajar, potensi yang dimiliki, dan lingkungan yang ada di sekitar mereka.

Faktor-faktor ini secara tidak langsung membantu atau menghambat para peserta didik dalam menerima dan memproses informasi yang diterima dari pendidiknya. Dengan mengetahui faktor-faktor di atas, para pendidik dapat mengembangkan hal-hal positif yang ada di dalam diri peserta didik dan mengurangi/meminimalisi  hal-hal yang negatif yang dapat menghambat kompetensi yang ada di dalam dirinya. Selain itu,  pendidik juga dapat mengenali karakter dan potensi yang ada di dalam dirinya sendiri.

` Salah satu upaya yang perlu dilakukan oleh para pendidik untuk menjadikan dirinya sebagai  pendidik yang profesional adalah selalu meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial. Di dalam kompetensi pedagogik, seorang pendidik wajib: 1) mengenali karakteristik dan potensi peserta didik, 2) menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif, 3) menguasai perencanaan dan zengembangan kurikulum, 4) menguasai langkah-langkah pembelajaran yang efektif, dan 5) menguasai sistem, mekanisme, dan prosedur penilaian. Di sini terlihat jelas bahwasanya mengenali karakteristik dan potensi  peserta didik merupakan komponen pertama dalam kompetensi pedagogik, tetapi seringkali terlupakan oleh seorang pendidik. Memang tidak mudah untuk mengenali karakter dan potensi pada setiap peserta didik, tapi hal ini sangatlah mungkin.

  1. Karakteristik Peserta Didik

Istilah karakter membuat banyak orang menyamakannya dengan kata sifat, watak, akhlak, atau tabiat. Kenyataannya tak selalu bisa dimaknai seperti itu. Kita perlu mempelajari pengertian karakter menurut para ahli agar memahami perbedaannya. Menurut Doni Kusuma,  karakter adalah ciri, karakteristik, gaya, atau sifat diri dari seseorang yang bersumber dari bentukan yang diterima dari lingkungannya.  Berdasarkan pendapat tersebut karakter peserta didik turut dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.  Tadkiroatun Musfiroh (2008: 25),  mengatakan karakter  mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).   Dari pendapat para ahli tersebut dapat kita simpulkan bahwa karakter adalah ciri, sifat diri, akhlak atau budi pekerti, kepribadian dari seseorang yang dalam hal ini adalah peserta didik.

Sebagai seorang pendidik  tentunya tidak hanya bertugas mengajar di kelas saja, akan tetapi mendidik dan juga melatih. Hal ini sangatlah tepat apabila dikaitkan dengan pembentukan karakter yang baik bagi para peserta didik. Seperti apa seorang pendidik mendidik, bagaimana mengajar, dan bagaimana melatih para peserta didik. Semua tantangan di atas berawal dari pendidik itu sendiri, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan,  misalnya dengan  memunculkan kesan pertama pendidik yang positif saat kegiatan belajar di kelas.  Pendidik sangat perlu memahami perkembangan peserta didik. Perkembangan peserta  didik tersebut meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosio-sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental  atau perkembangan kognitifnya. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik di  atas, sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang  akan dilaksanakan.

Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan. Seorang pendidik mempunyai peran multifungsi, sebagai konselor, dia mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti yang positif, serta memberikan solusi yang tepat dan tuntas  dalam menyelesaikan masalah peserta didik. Selain itu juga memperhatikan karakter dan kondisi kejiwaan peserta didiknya. Pendidik  juga bisa berperan sebagai seorang dokter yang memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya.

Perannya  sebagai seorang ulama, pendidik membimbing dan menuntun batin atau kejiwaan peserta didik, memberikan pencerahan yang menyejukkan dan menyelesaikan masalahnya dengan pendekatan agama yang hasilnya akan lebih baik. Mengenal dan memahami peserta didik dapat dilakukan dengan cara memperhatikan dan menganalisa tutur kata (cara bicara),  sikap dan perilaku atau perbuatan anak didk, karena dari tiga aspek diatas setiap peserta didik mengekspresikan apa yang ada dalam dirinya. Untuk itu seorang pendidik harus secara seksama dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik dalam setiap aktivitas pendidikan.

1.1  Perkembangan Fisik Peserta Didik

Di dalam Kurikulum 2013  pola pembelajaran berpusat pada peserta didik.   Peserta didik memiliki pilihan-pilihan  terhadap materi yang akan dipelajari dan gaya belajarnya (learning style) untuk memiliki kompetensi yang diharapkan oleh Kurikulum 2013. Oleh sebab itu, Anda  harus mengenal karakteristik setiap peserta didik di dalam proses pembelajaran, agar tujuan  pembelajaran dapat tercapai. Hal pertama yang harus Anda ketahui adalah mengenal karakter peserta didik yang berkaitan dengan aspek perkembangan fisik peserta didik. Seperti kita ketahui fisik peserta didik mengalami perkembangan yang signifikan pada saat mereka menginjak remaja atau pada saat mereka di   sekolah menengah.  Pada dasarnya perkembangan merujuk kepada perubahan sistematis tentang fungsi-fungsi fisik dan psikis. Perubahan fisik meliputi perkembangan biologis dasar sebagai hasil dari konsepsi, dan hasil dari interaksi proses biologis dan genetika dengan lingkungan. Sementara perubahan psikis menyangkut keseluruhan karakteristik psikologis individu, seperti perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan moral.

Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.  Semua organ ini terbentuk pada periode pranatal (dalam kandungan).

Berkaitan dengan perkembangan fisik ini Kuhlen dan Thompson mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu: Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;

(a)  Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan    kemampuan motorik;

(b)  Sistem syaraf yang sangat memengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi;

(c)  Kelenjar Endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan, yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis;

(d)  Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat, dan proporsi.

Seifert dan Hoffnung (1994) berpendapat perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti : pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam kemampuan fisik (seperti penurunan fungsi jantung, penglihatan, dan sebagainya).

Berdasarkan pendapat di  atas, jelaslah bahwa perkembangan fisik setiap peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti telah dijelaskan di atas. Oleh sebab itu  Anda  sebagai pendidik harus mengenali karakteristik perkembangan peserta didik dari segi fisik, agar Anda bisa lebih memahami situasi pembelajaran di dalam kelas dan apabila ada situasi yang tidak Anda harapkan suatu saat terjadi, maka Anda akan lebih memahami situasi tersebut. Kalau Anda bisa memahami kejadian tersebut, maka Anda pun diharapkan akan bisa mencari solusinya dan kalau situasi sudah dapat dikuasai maka proses pembelajaran diharapkan akan lebih lancar dan tujuan akan tercapai.

 

1.2  Perkembangan Kognitif Peserta didik

Proses pembelajaran setiap peserta didik berlangsung baik di sekolah maupun dalam lingkungan keluarga. Sehingga kemampuan kognitif sangat diperlukan peserta didik dalam proses pembelajaran tersebut. Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam erkembangan  peserta didik. Kita ketahui bahwa peserta didik merupakan objek yang berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga perkembangan kognitif sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam belajar. Kognitif atau pemikiran adalah istilah yang digunakan oleh ahli psikologi untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan dan Pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita, 2009).

Perkembangan kognitif pada peserta didik merupakan suatu pembahasan yang cukup penting bagi guru maupun orang tua. Perkembangan kognitif pada  anak merupakan kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah yang termasuk dalam   proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Karakteristik perkembangan kognitif peserta didik juga harus dapat dipahami semua pihak. Dengan pemahaman pada karakteristik perkembangan peserta didik, guru dan orang tua dapat mengetahui sebatas apa perkembangan yang dimiliki anak didiknya sesuai dengan usia mereka masing-masing, sehingga guru dan orang tua dapat menerapkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan kognitif masing-masing anak didik.

Tidak kalah penting, guru juga harus mengetahui tentang faktor-faktor yang mempengaruhi peserta didik. Yang sangat sentral dalam faktor-faktor yang mempengaruhi   perkembangan kognitif adalah gaya pengasuhan dan lingkungan. Biasanya gaya pengasuhan lebih diterapkan pada anak-anak. Pada pengasuhan ini merupakan cikal-bakal perkembangan kognitif tersebut, karena ketika anak diasuh secara  tidak sesuai dengan semestinya, ini akan berakibat pada perkembangan kognitif anak, bahkan pada perkembangan mental anak tersebut. Lingkungan pun sangat berpengaruh pada perkembangan kognitif, semakin buruk lingkungan maupun pergaulan seseorang maka kemungkinan pengaruh lingkungan pada perkembangan kognitif anak semakin besar.

Dari uraian di  atas jelaslah bahwa perkembangan kognitif peserta didik sangat  berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan hasil yang dicapai.

1.3  Perkembangan Sosial-emosional  Peserta didik

Selain perkembangan karakteristik fisik dan kognitif peserta didik, yang tidak kalah penting adalah perkembangan sosial-emosional peserta didik.  Sosio-emosional berasal dari kata sosial dan emosi. Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial.  Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan moral agama. Sedangkan emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi dibedakan menjadi dua, yakni emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat, atau rasa ingin tahu yang tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap aktivitas belajar. Emosi negatif sperti perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, individu tidak dapat memusatkan perhatiannya untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam belajarnya. Selain itu, dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin  ‘movere’ yang berarti ‘menggerakkan, bergerak’. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e-‘ untuk memberi arti ‘bergerak menjauh’. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi.

Perkembangan sosio-emosional peserta didik termasuk suatu pembahasan yang sangat penting karena dengan mengetahui perkembangan sosio-emosional peserta didik, para pendidik dapat mengambil tindakan pada permasalahan peserta didik dengan berbagai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda. Sosio-emosional adalah perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu. Dalam pembahasan sosio-emosional ini lebih ditekankan dalam  sosio-emosional pada  remaja.  Pada masa remaja, tingkat karakteristik emosional akan menjadi drastis tingkat kecepatannya. Gejala-gejala emosional para remaja seperti perasaan sayang, cinta dan benci, harapan-harapan dan putus asa, perlu dicermati dan dipahami dengan baik. Sebagai  pendidik. kita harus mengetahui setiap aspek  yang berhubungan dengan perubahan tingkah laku dalam perkembangan remaja, serta memahami aspek atau gejala tersebut sehingga kita bisa melakukan komunikasi yang baik dengan remaja. Perkembangan emosi remaja merupakan suatu titik yang mengarah pada proses dalam mencapai kedewasaan. Meskipun sikap kanak-kanak akan sulit dilepaskan pada diri remaja karena pengaruh didikan orang tua.

Faktor yang sangat memengaruhi perkembangan peserta didik pada usia remaja yaitu didikan orang tua, lingkungan sekitar tempat tinggal dan perlakuan guru di sekolah. Pengaruh sosio-emosional yang baik pada remaja terhadap diri sendiri yaitu untuk mengendalikan diri, memutuskan segala sesuatu dengan baik, serta bisa lebih matang merencanakan segala hal yang akan diputuskannya, sedangkan terhadap orang lain, yaitu mampu menjalin kerjasama yang baik, saling menghargai dan mampu memposisikan diri di lingkungan dengan baik.

Agar seorang peserta didik dapat memiliki kecerdasan emosi dengan baik haruslah dibentuk sejak usia dini, karena pada saat itu sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan manusia selanjutnya. Sebab pada usia ini dasar-dasar kepribadian anak telah terbentuk. Jelaslah sudah betapa pentingnya seorang pendidik memahami perkembangan sosio-emosional peserta didik, agar dalam proses pembelajaran perkembangan sosio-emosional peserta didik yang berbeda-beda dapat diatasi dengan baik.

 

1.4 Perkembangan Moral dan Spritual Peserta Didik

Perkembangan moral dan spiritual peserta didik adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita semua. Demikian pula dalam proses pendidikan peserta didik baik itu di sekolah maupun di rumah. Teori Kohlberg telah menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap yaitu:  Penalaran prakovensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Tingkat Satu : Penalaran Prakonvesional

Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori  perkembangan  moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.

Tingkat Dua: Penalaran Konvensional

Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain, seperti orangtua atau masyarakat.

Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional

Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi.  Spiritual berasal dari bahasa latin “spiritus” yang berarti nafas atau udara, spirit memberikan hidup, menjiwai seseorang. Spiritual meliputi komunikasi dengan Tuhan (fox 1983), dan upaya seseorang untuk bersatu dengan Tuhan (Magill dan Mc Greal 1988), spiritualitas didefinisikan sebagai suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirisendiri (Witmer 1989).

Karakteristik spiritual yang utama meliputi perasaan dari keseluruhan dan keselarasan dalam diri seorang, dengan orang lain, dan dengan Tuhan atau kekuatan tertinggi sebagai satu penetapan. Orang-orang, menurut tingkat perkembangan mereka, pengalaman, memperhitungkan keamanan individu, tanda-tanda  kekuatan, dan perasaan dari harapan. Hal itu tidak berarti bahwa individu adalah puas secara total dengan hidup atau jawaban yang mereka miliki. Seperti setiap hidup individu berkembang secara normal,  timbul situasi yang menyebabkan kecemasan, tidak berdaya, atau kepusingan. Karakteristik kebutuhan spiritual meliputi:

  1.  Kepercayaan
  2.  Pemaafan
  3.  Cinta dan hubungan
  4.  Keyakinan, kreativitas dan harapan
  5.  Maksud dan tujuan serta anugrah dan harapan.

Karakteristik  dari kebutuhan spiritual ini menjadi dasar dalam menentukan karakteristik dari perubahan fungsi spiritual yang akan mengarahkan individu dalam berperilaku, baik itu kearah perilaku yang adaptif maupun perilaku yang maladaptif.

1.5 Latar Belakang Sosial Budaya Peserta Didik

Sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan  masyarakat atau kemasyarakatan,  sementara budaya segala hal yang dibuat oleh manusia berdasarkan pikiran dan akal budinya yang mengandung cinta, rasa, dan karsa. Jadi dapat disimpulkan dari segi istilah sosal budaya merupakan segala hal yang diciptakan oleh manusia dengan pikiran dan budinya dalam kehidupan bermasyarakat.  Unsur-unsur sosial budaya peserta didik  meliputi antara lain  bahasa, kesenian, sistem religi, sistem kemasyarakatan dan sistem ekonomi. Kehidupan dan nilai sosial budaya peserta didik dalam kehidupannya selalu mendapatkan dan dipengaruhi oleh nilai nilai sosio-budaya dari lingkungan sekitarnya mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar.

  1. Potensi Peserta Didik

potensi adalah kesanggupan, daya, kemampuan individu untuk lebih berkembang. Setiap individu  memiliki potensi yang berbeda satu sama lainnya. Potensi peserta didik yang dimaksud adalah kemampuan yang mungkin dikembangkan  atau  menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral, dan religius.

Potensi fisik merupakan kondisi kesehatan fisik dan berfungsinya anggota tubuh dengan baik yang diperoleh dari pemeriksaan  oleh  tenaga medis, observasi perilaku, wawancara,  dan pengisian angket  akan menunjang kelancaran peserta didik melakukan aktivitas belajar dan memaksimalkan keberhasilan peserta didik dalam belajar.  Organ tubuh akan berfungsi dengan baik dan maksimal apabila kondisi kesehatan peserta didik juga baik.

Herry Wibowo (2007:19)  menyatakan bahwa  potensi yang  terbesar manusia adalah otak. Otak adalah pengatur seluruh fungsi tubuh, dan juga sebagai pusat yang mengendalikan perilaku individu. Adapun potensi intelektul atau kekuatan otak individu berkaitan dengan daya nalar dan logika yang berupa kemampuan untuk mempelajari keterampilan, menganalisa, dan lain lain  Faktor-faktor yang memengaruhi potensi intelektual individu    adalah    faktor internal, misalnya motivasi, kemauan, kemampuan  dan faktor eksternal, misalnya  sarana dan daya dukung penunjang.  Kedua faktor  ini  sangat memberikan pengaruh pada pencapaian kemampuan intelektual yang maksimal dari peserta didik. Faktor internal peserta didik yang dominan memberikan kecenderungan  kekuatan daya juang yang besar saat menghadapi kesulitan dalam proses belajar. Gordon Allport (2005:23) mendeskripsikan kepribadian sebagai  suatu organisasi dinamis dari sistem psiko-fisik dalam berinteraksi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan  dengan cara yang unik.  Aspek-aspek sikap kepribadian  diantaranya mencakup karakter, temperamen, sikap, stabilitas emosi, responsibilitas,  dan  sosiabilitas.  Berdasarkan pandangan psikologi, sikap mengandung unsur penilaian dan reaksi afektif, sehingga menghasilkan motif. Jalaluddin (1996:187) menyatakan sikap  terbentuk melalui hasil belajar dari interaksi dan pengalaman seseorang dan bukan faktor bawaan.

Minat didefinisikan sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.  Minat peserta didik dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam menerima pembelajaran.  Bakat menurut Slavin didefinisikan sebagai kemampuan umum yang dimiliki seorang peserta didik untuk belajar. Oleh karena itu bakat mempengaruhi keberhasilan individu mencapai sesuatu.  Ahli psikologi lainnya mengatakan bakat adalah kemampuan dasar untuk melakukan suatu tugas tanpa upaya pendidikan atau pelatihan.

Moral  merupakan  ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Adapun keagamaan peserta didik berkaitan dengan konsep ketuhanan yang dianutnya.  Moral dan keagamaan individu memberikan pengaruh pada pembentukan nilai dan keyakinan yang dianutnya. Peserta didik yang memiliki keyakinan akan nilai-nilai kebenaran, kearifan, dan saling menghargai akan berdampak pada proses dan hasil pencapaian potensi peserta didik.

2.1. Faktor- faktor yang memengaruhi potensi peserta didik

  1.  Faktor Fisik

Setiap individu mempunyai ciri dan sifat atau karakteristik bawaan (heredity) dan karakteristik yang  diperoleh dari pengaruh lingkungan.  karakteristik bawaan merupakan karakteristik keturunan yang dimiliki sejak lahir, baik yang menyangkut faktor biologis maupun faktor sosial psikologis. Hal tersebut merupakan dua faktor yang terbentuk karena faktor yang terpisah, masing-masing mempengaruhi kepribadian dan kemampuan individu bawaan dan lingkungan dengan caranya sendiri-sendiri. Natur dan nurture  merupakan istilah yang biasa digunakan untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu dalam hal fisik, mental, dan emosional pada setiap tingkat perkembangan.

Karakteristik yang berkaitan dengan perkembangan faktor biologis cenderung lebih bersifat tetap, sedangkan karakteristik yang berkaitan dengan sosial psikologis lebih banyak  dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

  1.   Faktor Psikologis

Faktor psikologis berkaitan dengan hal kejiwaan, kapasitas mental, emosi, dan intelegensi individu. Kemampuan berpikir  peserta didik memberikan pengaruh pada  hal memecahkan masalah dan juga berbahasa.  Hal lain yang berkaitan dengan aspek psikologi peserta didik adalah:  Motivasi Intrinsik.  Menurut Arden N. F (Hayinah, 1992) motivasi Intrinsik meliputi:  dorongan ingin tahu;  sifat positif dan kreatif;   keinginan mencapai prestasi; dan kebutuhan untuk menguasai ilmu dan pengetahuan yang berguna bagi dirinya.  Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan belajar peserta didik.

2.2. Faktor eksternal yang memengaruhi potensi peserta didik

  1.  Lingkungan Sosial  Masyarakat

Lingkungan sosial  individu adalah  lingkungan di mana seorang individu berinteraksi dengan individu lainnya dalam suatu ikatan norma dan peraturan. Kondisi lingkungan yang sehat dan mendukung secara positif terhadap proses belajar peserta didik akan memberikan pengaruh yang  positif pada perkembangan potensi peserta didik. Lingkungan masyarakat yang kumuh, dan tidak mendukung secara positif seperti banyaknya pengangguran, dan anak terlantar akan memberikan pengaruh negatif pada aktivitas dan potensi peserta didik.

  1.   Lingkungan Sosial keluarga

Keluarga adalah lingkungan sosial terkecil pada peserta didik. Peran keluarga dalam menunjang potensi peserta didik sangat penting. Hal-hal seperti kedekatan dengan orang tua, dukungan, dan hubungan dengan anggota keluarga yang harmonis akan memberikan dampak pada perkembangan potensi peserta didik.

  1.   Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah, seperti teman sekelas, guru, dan staf administrasi dapat  memberikan pengaruh terhadap proses belajar peserta didik. Hubungan baik dan harmonis  diantara ketiganya memberikan pengaruh pada proses belajar. Memberikan motivasi yang positif  dan kesempatan pada peserta didik untuk belajar dan berkembang akan sangat berpengaruh pada pencapaian potensinya. Guru harus dapat mengamati dengan baik karakteristik dari peserta didik.

  1.   Perbedaan ras, suku, budaya,

kelas sosial peserta didik Sekolah adalah wadah bagi seluruh peserta didik untuk mengembangkan potensinya tanpa memandang perbedaan. Memahami perbedaan karakteristik peserta didik adalah merupakan tantangan besar bagi pendidik dalam menunjang perkembangan potensi peserta didik. Bagaimana menciptakan kondisi kelas yang mendukung aktivitas belajar yang dapat mewadahi seluruh peserta didik merupakan salah satu peran penting dari pendidik. Perbedaan ras dan etnik akan memunculkan perbedaan dialek bahasa, nilai, dan keyakinan yang kesemuanya itu akan sangat membawa pengaruh dalam proses pengembangan potensi peserta didik. Pendidik harus peka dan memiliki sikap positif terhadap perbedaan karakteristik peserta didiknya. Mc. Graw Hill dalam bukunya Learning to Teach  (2009) menyatakan bahwa ketika penggunaan dialek bahasa keluarga yang dipakai oleh peserta didik di Amerika  dipaksa untuk dihapuskan, maka kecenderungan prestasi akademik siswa tidak mengalami peningkatan, justru memunculkan kondisi emosional yang negatif pada mereka. Pendidik sebaiknya senantiasa mampu memunculkan kondisi emosi positif pada peserta didik dengan segala keberagaman karakteristik mereka.

  1. Bekal  Awal Peserta Didik

Setiap peserta didik dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang cenderung berbeda. Dalam pembelajaran, kondisi ini penting untuk diperhatikan karena dengan mengidentifikasi kondisi awal peserta didik saat akan mengikuti pembelajaran dapat memberikan informasi penting untuk guru dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pembelajaran, khususnya komponen-komponen strategi pengajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik perseorangan peserta didik sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.  Kegiatan menganalisis peserta didik dalam pengembangan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima peserta didik apa adanya. Hal ini dilakukan untuk menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan peserta didik  tersebut. Dengan demikian, mengidentifikasi kemampuan awal peserta didik adalah bertujuan untuk menentukan apa yang harus diajarkan tidak perlu diajarkan dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Karena itu, kegiatan ini sama sekali bukan untuk menentukan prasyarat dalam menyeleksi peserta didik sebelum mengikuti pembelajaran.

3.1 Pengertian Bekal Ajar Awal Peserta Didik

Peserta didik  menurut Sudarwan Danim (2010:47)  merupakan sumber daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa  belajar tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta didik. Karenanya kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilambangkan dengan menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik.  Bekal ajar awal peserta didik dapat pula diartikan kemampuan awal (entry behavior) adalah kemampuan yang yang telah diperoleh peserta didik sebelum dia memperoleh kemampuan terminal tertentu yang baru. Kemampuan awal menunjukkan status pengetahuan dan keterampilan peserta didik sekarang untuk menuju ke status yang akan datang yang diinginkan guru agar tercapai oleh peserta didik. Dengan kemampuan ini dapat ditentukan darimana pengajaran harus dimulai.

Esensinya tidak ada peserta didik di muka bumi ini benar-benar sama. Hal ini bermakna bahwa masing-masing peserta didik memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik peserta didik adalah totalitas kemampuan dan perilaku yang ada pada pribadi mereka sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita.

3.2. Tujuan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik

Identifikasi bekal ajar awal peserta didik bertujuan untuk:

  1. Memperoleh informasi yang  lengkap dan akurat berkenaan dengan  kemampuan awal  peserta didik sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu;
  2. Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan serta kecendrungan peserrta didik berkaitan dengan pemilihan program program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka; dan
  3.  Menentukan desain program pembelajaran dan atau  pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

Teknik mengaktifkan bekal ajar awal peserta didik  digunakan  untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik. Seorang pendidik dapat melakukan tes awal (pre-test).  Tes yang diberikan dapat berkaitan dengan materi ajar sesuai dengan panduan kurikulum. Selain itu pendidik dapat melakukan wawancara, observasi,  dan memberikan kuisioner kepada peserta didik  atau calon peserta didik, serta guru yang biasa mengampu pelajaran tersebut.

Teknik yang paling tepat untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik yaitu tes. Teknik tes ini menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Sebelum memasuki pelajaran sebaiknya guru membuat tes prasyarat dan tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah peserta didik telah memiliki pengetahuan keterampilan yang diperlukan atau di syaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal  adalah tes untuk  mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai pelajaran yang hendak diikuti. Benjamin S. Bloom melalui beberapa eksperimen membuktikan bahwa “untuk belajar yang bersifat kognitif apabila pengetahuan atau kecakapan pra syarat ini tidak dipenuhi, maka betapa pun kualitas pembelajaran tinggi, maka tidak akan menolong untuk memperoleh hasil belajar yang tinggi”. Hasil pretest juga sangat berguna untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang dimiliki  dan sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah mengikuti pelajaran.

Jadi kemampuan awal sangat diperlukan untuk menunjang pemahaman siswa sebelum diberi pengetahuan baru karena kedua hal tersebut saling berhubungan.Contoh angket sederhana untuk mengetahui bekal ajar awal peserta didik  sebagai berikut:

Seberapa luas pengetahuanmu tentang native speaker:

  1. Saya belum pernah mendengar istilah itu
  2.  Saya pernah mendengar tapi belum tahu tentang native speaker
  3.  Saya hanya tahu sedikit tentang native speaker
  4.  Saya belum tahu pengertian native speaker secara luas
  1. Kesulitan Belajar Peserta Didik

4.1  Pengertian kesulitan belajar

Setiap individu tidak sama. Perbedaan individu ini menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan peserta didik. Sehingga memunculkan perbedaan kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran di kelas yang sering disebut sebagai kesulitan belajar. Hamalik  (hal:  1983) menyatakan  kesulitan belajar dapat diartikan sebagai keadaan  di mana peserta didik tidak dapat belajar sebagaimana mestinya. Keadaan tersebut tidak bisa diabaikan oleh seorang pendidik karena dapat menjadi penghambat tujuan pembelajaran.  Kesulitan belajar tidak hanya disebabkan oleh faktor intelegensi yang rendah,  akan tetapi bisa disebabkan oleh faktor-faktor nonintelegensi. Oleh karena itu,  IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Wood  (2007:33) menyatakan kesulitan belajar adalah suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. Hambatan-hambatan tersebut diakibatkan oleh faktor  yang berasal dari dalam diri peserta didik maupun luar diri peserta didik.  Faktor-faktor penyebab tersebut, hendaklah dipahami oleh pendidik agar   setiap peserta didik  dapat mencapai tujuan belajar yang baik.

Peserta didik mempunyai hak yang sama untuk  mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Namun kenyataannya pendidik kurang memahami peserta didik yang memiliki perbedaan dalam  hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang, kebiasaan dan pendekatan belajar antara pesetrta didik satu dengan lainnya. Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para peserta didik yang berkemampuan rata-rata, sehingga peserta didik yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Peserta didik yang berkategori di luar rata-rata itu (sangat pintar dan sangat rendah) tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kepasitasnya. Kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya dialami peserta didik berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh peserta didik yang berkemampuan  tinggi. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan kesulitan belajar adalah suatu hambatan yang dialami oleh peserta didik  untuk mencapai hasil belajar yang memuaskan.

Ciri-ciri kesulitan belajar  menurut Moh. Surya antara lain:

  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah  (di  bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompok kelas);
  2.  Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan, mungkin murid yang selalu errusaha dengan giat tetapi nilai yang dicapai selalu rendah;
  3.  Lambat dalam  melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia;
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta, dsb;
  5. Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat,  tidak engerjakan pekerjaan rumah, menggangu didalam dan diluar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, mengsingkan diri, tersisih, tidak mau bekerja sama, dsb;
  6.  Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, mudah pemarah, tidak gembira dalam menmghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan sedih atau menyesal dsb. Pernyataan  tersebut, dapat dipahami adanya beberapa manifestasi dari gejala kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik.

Gejala-gejala yang termanifestasi dalam tingkah laku setiap peserta didik, diharapkan para pendidik dapat memahami dan mengidentifikasikan mana siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan mana  yang tidak.

4.2  Faktor-faktor kesulitan belajar

Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, prevalensi anak dengan kesulitan belajarnya diperkirakan lebih besar. Para ahli mengemukakan bahwa penyebab kesulitan belajar itu kompleks dan luas. Secara umum, penyebab kesulitan belajar antara lain:

  1.  Faktor intelektual, yaitu inteligensi yang rendah dan terbatas;
  2.  Faktor kondisi fisik dan kesehatan, termasuk kondisi kelainan, seperti kurangnya gizi pada ibu hamil, bayi dan anak, kerusakan susunan dan fungsi otak, dan  penyakit persalinan;
  3.  Faktor sosial,seperti  pengaruh teman bermain, pergaulan dan lingkungan sekitar;
  4.  Faktor keluarga, seperti keadaan keluarga yang kurangnya dukungan belajar dari orang tua.

Berikut ini penjabaran faktor-faktor kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik  menurut Koestur Partowisastro dan Hadi Suprapto (1978:56) yaitu:

  1.  Kondisi fisiologis yang permanen  meliputi inteligensi yang terbatas, hambatan penglihatan dan pendengaran, dan masalah persepsi.
  2.  Kondisi fisiologis temporer  meliputi masalah makanan, kecenderungan, dan kecapaian.
  3.  Kondisi lingkungan sosial permanen  meliputi harapan dan tekanan orang tua tinggi dan konflik dalam keluarga.
  4.  Kondisi lingkungan sosial temporer  meliputi ada bagian-bagian dalam urutan yang belum dipahami dan persaingan interes.

Sedangkan  menurut Tidjan, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar yaitu  interen dan ekstern. Faktor interen meliputi faktor fisiologis, yaitu kesehatan fisik terganggu, cacat  fisik  dan  sebagainya.  Faktor intelektual, misalnya  kecerdasan kurang, kecakapan kurang, bakat-bakat kurang. Faktor minat, tidak berminat atau kurang minat.  Faktor  konsentrasi perhatian kurang.  Faktor ingatan kurang.  Faktor emosi, misalnya rasa benci dan rasa tidak puas.

Faktor ekstern  meliputi  Faktor  tempat, misalnya tidak ada tempat khusus untuk  belajar.  Faktor alat, alat-alat yang diperlukan dalam belajar kurang atau tidak ada. Faktor waktu dan suasana, yaitu tidak dapat mengatur waktu   belajar, ramai dan gaduh, rumah dekat jalan yang cukup ramai.  Faktor lingkungan sekolah, misalnya bahan pelajaran kurang, metode guru mengajar tidak memuaskan, pengeruh teman yang tidak baik (negatif). Faktor lingkungan keluarga dan masyarakat, misalnya situasi keluarga yang tidak menguntungkan anak dalam belajar, begitu pula dengan masyarakatnya

 

4.3  Analisis kesulitan belajar peserta didik

Prinsip-prinsip belajar adalah konsep-konsep yang harus diterapkan di dalam proses belajar mengajar. Seorang guru akan melaksanakan tugasnya dengan baik apabila dapat menerapkan  cara mengajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip orang belajar. Dengan kata lain supaya dapat mengontrol sendiri apakah tugas-tugas mengajar yang dilakukannya telah sesuai dengan prinsip-prinsip belajar maka guru perlu memahami prinsip-prinsip belajar. Belajar diperoleh dari sebuah pengalaman yang di dalamnya terdapat interaksi antara manusia dan lingkungan. Selain itu, belajar merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus secara bertahap yang dilakukan untuk mencapai tujuan atau cita-cita.

Menurut  para  pakar, belajar merupakan proses memiliki pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Selain itu, belajar merupakan perubahan secara fisik maupun motorik. Belajar juga merupakan perubahan yang menekankan aspek-aspek rohani. Di dalam belajar, ada tiga ranah yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan, yaitu: ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor yang berhubungan dengan motorik kasar (melempar, menangkap, menendang) dan motorik halus (menulis dan menggambar). Ketiga ranah tersebut perlu dilatih dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajar yaitu:

  1.  Tujuan yang terarah;
  2.    Motivasi yang kuat;
  3.  Bimbingan untuk mengetahui hambatan dalam belajar;
  4.  Cara belajar dengan pemahaman;
  5.  Interaksi yang positif dan dinamis antara individu dan lingkungan;
  6.  Teknik-teknik belajar;
  7.  Diskusi dan pemecahan masalah;
  8.  Mampu menerapkan apa yang telah dipelajari dalam kegiatan sehari-hari

Seorang anak pergi ke sekolah tidak boleh karena terpaksa, melainkan karena suatu kebutuhan. Orang tua dan guru hendaknya mengarahkan anak bahwa belajar adalah suatu kebutuhan, serta membangun motivasi diri yang kuat bahwa dengan belajar di SD berarti mempersiapkan hidup untuk masa depan. Hubungan yang positif antara guru dan orang tua memungkinkan anak untuk belajar secara aktif. Misalnya, ketika anak mengalami kesulitan, guru atau orang tua memberikan bimbingan agar apa yang dipelajari dapat dipahami dengan mudah. Ada beberapa hal yang menyebabkan anak mengalami kesalahan belajar, diantaranya sebagai berikut:

  1.  Belajar tanpa adanya tujuan yang jelas;
  2.  Belajar tanpa rencana ( hanya insidental);
  3.  Hanya menghafal tanpa memahami;
  4.  Tidak dikaitkan dengan pengalaman dan  teknik-teknik yang bervariasi;
  5.  Tidak ada pengelolaan waktu belajar;
  6.  Tidak menggunakan alat bantu atau referensi yang utuh.

4.4. Jenis-jenis kesulitan belajar

Ada  empat  jenis kesulitan/gangguan  belajar yang seringkali ditemui dalam perkembangan seorang anak, yaitu sebagai berikut.

  1.  Kesulitan belajar akademis  

Meliputi  Kesulitan membaca, kesulitan  menulis, dan kesulitan berhitung. Kesulitan membaca merupakan suatu diagnosis yang ditandai oleh adanya kesulitan berat dalam mengerti bahan bacaan. Anak yang  mengalami gangguan membaca akan kesulitan dalam mengenal kata, mengucapkan, dan memahami apa yang dibaca. Ada dua macam gangguan dalam membaca, yaitu: aphasia, disebabkan karena anak kehilangan kemampuan membacanya.  Disleksia, disebabkan karena gangguan  fungsi saraf (neurologisnya rusak). Faktor yang menyebabkan kesulitan membaca, yaitu: (1)  Psikologis (gagap), anak merasa malu jika ditertawakan teman-temannya.  (2)  Hambatan didaktik-metodik, anak mengenal bunyi huruf tetapi mereka kesulitan membacanya apabila huruf itu dirangkai menjadi kata. Kesulitan menulis,  merupakan gangguan pada kemampuan menulis anak, yaitu kemampuan di bawah rata-rata anak seusianya. Gangguan ini tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan dan pendidikan yang telah dijalaninya. Hal tersebut menimbulkan masalah pada akademik anak dan berbagai area kehidupan anak. Kesulitan menulis disebabkan kerena kemampuan psikomotor yang kurang terlatih. Anak yang memiliki kesulitan menulis sulit dalam membuat tulisan dan mengekspresikan diri melalui  tulisan. Macam-macam kesulitan menulis yaitu:  (a) Disgraphia, merupakan kesulitan menulis yang     disebabkan gangguan saraf.  (b)  Hyperkenesis, kesulitan menulis yang memiliki gerakan yang berlebih dan  tidak normal. Misalnya, menghentak-hentakkan kaki atau bergoyang-goyang terus ketika menulis. Kesulitan berhitung  merupakan gangguan matematik yang memiliki kesulitan dalam kemampuan aritmatik. Kesulitan ini tidak disertai dengan adanya gangguan penglihatan, pendengaran, fisik, atau emosi. Kesulitan berhitung disebut ”discalculia”. Anak akan mengalami kesulitan dalam memikirkan atau mengingat informasi yang melibatkan angka-angka.

  1.   Gangguan Simbolik

Gangguan simbolik yaitu ketidakmampuan anak untuk dapat memahami suatu obyek sekalipun ia tidak memiliki kelainan pada organ tubuhnya. Ciri-cirinya antara lain adalah :

1) Siswa mampu mendengar tapi tidak mengerti apa yang didengar;

2)  Mampu mengaitkan obyek yang dilihat, namun mengalami gangguan pengamatan (visual reseptive)

3)  Mengalami gangguan gerak-gerik (motoraphasia)

 

  1. Gangguan Nonsimbolik

Gangguan nonsimbolik merupakan ketidakmampuan anak untuk memahami isi pelajaran karena ia mengalami kesulitan untuk mengulang kembali apa yang telah dipelajarinya.  Kesulitan belajar yang telah dipaparkan tersebut sangat berdampak pada proses belajar. Namun, ada pula siswa SD yang karena proses kelahiran atau musibah   mengalami cidera otak, sehingga siswa itu tidak mampu untuk belajar. Ketidakmampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu yang tidak dapat dilakukan anak-anak yang sebaya seperti: mandi sendiri, sikat gigi, menulis, membaca disebut  learning disability. Anak yang mengalami kerusakan saraf yang berat disebut learning disorder. Anak yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata, namun prestasi akademiknya rendah disebut  underachiever. Sedangkan anak yang lamban belajar dan  tidak mampu menyelesaikan pekerjaannyadengan tepat serta waktu belajarnya lebih lama dibandingkan rata-rata anak seusianya disebut slow learner.

  1.   Gangguan Sosial Emosional

Sifat guru atau pendidik ingin mengajarkan anak didiknya yang berperilaku baik dan  pandai untuk membangun keberhasilan dalam proses belajar di kelas. Namun, kadang kala ada anak yang tergolong mempunyai gangguan sosial emosional yang nampak di kelas. Permasalahan sosial emosional dalam belajar antara lain:

(1)  Hiperaktif,  anak hiperaktif cenderung tidak bisa diam. Ia cenderung bergerak terus     menerus, kadang suka berlarian, melompat-lompat, bahkan teriak-teriak di kelas. Anak ini sulit untuk dikontrol, karena ia melakukan aktivitas sesuai kemauannya sendiri.

(2) Distractibility Child, anak distractibility seringkali mengalihkan perhatiannya ke berbagai obyek lain di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi, tetapi tidak bisa memusatkan perhatian pada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di kelas. Anak ini juga cepat bosan.

(3)  Poor Self Consept, anak yang poor self consept cenderung pendiam, pasif, dan mudah tersinggung. Mereka tidak berani bertanya atau menjawab karena merasa tidak mampu dan cenderung kurang berani bergaul serta suka menyendiri.

(4) Impulsif, anak yang impulsif cepat  sekali bereaksi terhadap sesuatu di sekitarnya, tetapi hal tersebut justru mencerminkan ketidakmampuannya. Misalnya, setiap guru memberi pertanyaan, anak ini cepat bereaksi untuk cepat menjawab. Anak ini seperti ingin menunjukkan bahwa ia pandai. Padahal  cara menjawabnya justru mencerminkan ketidakmampuannya.

(5) Distructive Behavior, anak ini memiliki perilaku yang agresif. Sikap agresif yang negatif dalam bentuk membanting dan melempar menunjukkan bahwa anak ini adalah anak yang bermasalah (troublemaker). Anak ini cepat tersinggung dan bertempramen tinggi, sehingga menjadi agresif.

(6) Distruptive Behavior, anak ini sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dengan nada mengejek, anak ini cenderung menentang guru.

(7) Dependency Child,  pada awalnya anak ini seperti sangat bergantung pada orangtuanya, dan sering merasa takut serta tidak ampu memberanikan diri untuk melakukan sesuatu sendiri. Hal ini terjadi karena sikap orangtua yang terlalu over protektif atau sangat melindungi.

(8) Withdrawal,  anak yang withdrawal yaitu anak yang suka menarik diri dan pemalu. Keadaan sosial ekonomi yang rendah akan mengakibatkan anak merasa bahwa dirinya bodoh dan enggan untuk mencoba membuat atau mengerjakan tugas-tugas yang diberikan karena dirinya merasa tidak mampu.

(9) Learning Disability, anak ini tidak memiliki kemampuan mental yang setara dengan anak-anak normal yang sebayanya. Anak seperti ini sulit untuk menganalisis, menangkap isi pelajaran, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.

(10) Learning  Disorder,

anak ini mempunyai cacat bawaan baik kerusakan fisik maupun saraf. Anak seperti ini cenderung sulit belajar secara normal, sehingga membutuhkan penanganan para ahli yang dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus.

(11)  Underachiver, anak ini mempunyai potensi intelektual di atas rata-rata, namun potensi

akademiknya di kelas sangat rendah. Semangat belajarnya juga sangat rendah.

(12) Overachiver, anak ini mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi. Ia merespon dengan cepat. Anak ini tidak bisa menerima kegagalan dan tidak mudah menerima kritikan dari siapapun termasuk dari gurunya.

(13)  Slowlearner, anak ini sulit menangkap pelajaran di kelas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menjawab dan mengerjakan tugas-tugasnya.

(14)  Social  Interseption Child, anak ini kurang peka dan tidak peduli terhadap lingkungannya. Anak ini kurang tanggap dalam membaca ekspresi dan sulit bergaul dengan teman-teman yang ada di kelas.

  1. Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik

Cara mengatasi kesulitan belajar, berdasarkan gejala yang teramati dan faktor penyebab kesulitan belajar, maka upaya  yang  dilakukan guru antara lain:

  1.  Tempat duduk siswa

Anak yang mengalami kesulitan pendengaran dan penglihatan hendaknya mengambil posisi tempat duduk bagian depan. Mereka akan dapat melihat tulisan di papan tulis lebih jelas. Begitu pula dalam mendengar semua informasi belajar yang diucapkan oleh guru.

  1.  Gangguan kesehatan

Anak yang mengalami gangguan kesehatan sebaiknya diistirahatkan di rumah dengan tetap memberinya bahan pelajaran dan dibimbing oleh orang tua dan keluarga lainnya.

  1.  Program remedial

Siswa yang gagal mencapai tujuan pembelajaran akibat gangguan internal, perlu ditolong dengan melaksanakan program remedial. Teknik program remedial dapat dilakukan  dengan berbagai cara. Di antaranya adalah  mengulang kembali bahan pelajaran yang belum dikuasai, memberikan tugas-tugas tertentu kepada siswa, dan lain sebagainya.

  1.  Bantuan media dan alat peraga

Penggunaan alat peraga pelajaran dan  media belajar kiranya cukup membantu siswa yang mengalami kesulitan menerima materi pelajaran. Boleh jadi kesulitan belajar itu timbul karena materi pelajaran bersifat abstrak sehingga sulit dipahami siswa.

  1.  Suasana belajar menyenangkan

Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah menciptakan  suasana belajar kondusif. Suasana belajar yang nyaman dan menggembirakan akan membantu siswa yang mengalami hambatan dalam menerima materi pelajaran.

  1.  Motivasi orang tua di rumah

Anak yang mengalami kesulitan belajar perlu mendapat perhatian orang tua dan anggota keluarganya. Peran orang tua sangat penting untuk memberikan motivasi ekstrinsik dan intrinsik agar anak mampu memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Selain itu juga orang tua perlu memperhatikan kesehatan tubuh anak dengan memberikan makanan dan miniman yang bergizi disertai dengan suplemen pembangun tubuh yang cukup.

  1. Rancangan Kegiatan Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik

Rancangan mengatasi kesulitan belajar peserta didik dapat dilakukan dengan cara:

  1.  Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut :

(1)  Identifikasi kasus;

Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar.

(2)  Call them approach;  melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.

(3)  Maintain good relationship;

menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.

(4)  Developing a desire for counseling;

menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.

(5) Melakukan analisis sosiometris;

dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

  1.  Identifikasi Masalah

Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks  proses belajar mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural –  fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i)  keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang. c.  Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus) Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa. Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :

1) Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;

2) Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan dan;

3) Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003:67) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan apabila

1)  Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya   masalah yang dihadapi.

2)   Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.

3)  Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri  dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).

4)  Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion  stress release).

5)    Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya

6)    Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam  mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.

7)   Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha  –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.

 

PENUTUP

Dengan tuntasnya mempelajari materi dalam modul  Guru  Pembelajar Bahasa Indonesia  SMA  Kelompok Kompetensi A  ini,  Anda  diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan  dalam mengembangkan pembelajaran  yang  efektif  dan bermakna  di kelas.    Guru sepatutnya mendapatkan pemahaman  terhadap kompetensi pedagogik dan profesional dengan komposisi yang ideal merupakan sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dilewatkan pada setiap pertemuan. Materi yang dipaparkan dalam kegiatan pembelajaran  ini diharapkan dapat  menambah wawasan   Anda dalam menentukan karakteristik, potensi, kesulitan belajar peserta didik    serta dapat merancang kegiatan  yang  dapat mengatasi kesulitan belajar peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

.

Aliran-aliran klasik dalam pendidikan dan pengaruhnya terhadap pemikiran pendidikan di Indonesia. Diunduh dari  http://www.peutuah.com/makalah-pendidikan/pada tanggal 1 Juni 2012

Djamarah, Syaiful Bahri. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta

Effendi, Mukhlison dan Siti Rodliyah. (2004).Ilmu Pendidikan.Ponorogo: PPS Press

Fauzi, Ahmad. (2011). Analisis Karakteristik Siswa.

http://pengantarpendidikan.files.wordpress.com/2011/02/analisis-karakteristik-siswa.pdf  pada tanggal 28 Mei 2012

Hamalik, Oemar. (2003). Proses Belajar Mengajar.Jakarta : Bumi Aksara.

Hernawati, Kuswari. (2011). E-Learning Adaptif Berbasis Karakteristik Peserta Didik.http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/adaptif%20elearning.pdf

Hurlock, E. B. (1997). Perkembangan Anak Jilid 1. Terjemahan Tsandrasa, M.M.

dan Zarkasih, M. Jakarta: Penerbit Erlangga

Hurlock, E. B. 1980. Psikolog Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang rentang Kehidupan. Terjemahan Istiwidanti & Soedarjarwo, Jakarta: Erlangga

Mardiya.(2009). Peranan Orang Tua dalam Pembentukan Karakter dan Tumbuh Kembang Anak.http://mardiya.wordpress.com/2009/10/25/peranan-orang-tua-dalam-pembentukan-karakter-dan-tumbuh-kembang-anak/

Muda, Aslam Syah. (2012). Pengaruh Pola Asuh Terhadap Kepribadian Anak.http://edukasi.kompasiana.com/2012/09/06/pengaruh-pola-asuh-terhadap-kepribadian-anak/

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan Al-Barry.(1994). Kamus Ilmiah Populer.Surabaya : Arkola

Purwanto, Ngalim.(1990). Psikologi Pendidikan.Bandung: CV Remaja Karya

Santrock, J.W. (2002). Life Span Development, Perkembangan Masa Hidup

(Terjemahan). Jakarta: Erlangga

Semiawan, Cony. (2008). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: PT Grasindo

Suhadianto.(2009). Pentingnya Mengenal Kepribadian Siswa Untuk Meningkatkan Prestasi

Belajar.http://h2dy.wordpress.com/2009/02/17/pentingnya-mengenal-kepribadian-siswa-untuk-meningkatkan-prestasi-belajar/

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. LAndasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. (2008). PT Remaja Rosdakarya Bandung

Sumarmo, Alim. Memahami 9 Tipe Kecerdasan Jamak.Diunduh dari http://blog.elearning.unesa.ac.id/alim-sumarno/memahami-9-tipe-kecerdasan-jamak.pada tanggal 22 Juni 2012

Uno, Hamzah. B.(2008).Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif . Jakarta: Bumi Aksara

Taimiyah, Ibnu (Syaikhul Islam). Iqtidha’ Ash Shiratil Mustaqim, Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdul Karim Al ‘Aql.

Zainudin, Akbar. (2010). Gaya belajar dan modalitas belajar siswa. Diunduh darihttp://ideguru.wordpress.com/2010/04/12/memahami-perbedaan-gaya-belajar-siswa/pada tanggal 31 Mei 2012

  1.  http://www.smartpassiveincome.com/are-people-talking-about-you-online-heres-what-you-need-to-know/
  2.  http://logodownload.blogspot.com/2012/11/logo-tamansiswa.html
  3.  http://ranjihistoris2012.wordpress.com/2012/07/15/wisata-sejarah-di-ins-kayu-tanam/
  4.  http://educ732.courseblock.com/module04/topic-4-2-gardner%E2%80%99s-multiple-intelligences-theory/
  5.  http://guruqungeblog.files.wordpress.com/2011/02/siswa-aktif.jpg

 

 

GLOSARIUM

 

Karakter : kata sifat, watak, akhlak, atau tabiat.
Minat : sebagai suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian,, prasangka, rasa takut atau

kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.

Motivasi ekstrinsik : faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi  pengaruh terhadap kemauan belajar.
Perkembangan fisik atau pertumbuhan biologis (biological growth) : salah satu aspek penting dari perkembangan individu.
Pertumbuhan fisik : yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja.
perubahan-perubahan fisik atau tubuh : Fisik atau tubuh manusiamerupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan.
Potensi peserta didik : kemampuan yang mungkin dikembangkan  atau  menunjang potensi lain. Potensi ini meliputi potensi fisik, intelektual, kepribadian, minat, potensi moral dan religius.
Sosio-emosional :

 

perubahan yang terjadi pada diri setiap individu dalam warna afektif yang menyertai setiap keadaan atau perilaku individu
  1. Refleksi Pembelajaran Comments Off on Refleksi Pembelajaran
  2. Prinsip Dan Posedur Berbahasa Secara Tertulis Comments Off on Prinsip Dan Posedur Berbahasa Secara Tertulis
  3. Your Best Shot 2016 – Portraits — Flickr Blog Comments Off on Your Best Shot 2016 – Portraits — Flickr Blog
  4. Pencapaian Kompetensi Belajar, Dari sebuah Gagasan Comments Off on Pencapaian Kompetensi Belajar, Dari sebuah Gagasan
  5. MANAJEMEN PERUBAHAN Comments Off on MANAJEMEN PERUBAHAN
  6. STANDARDISASI PERPUSTAKAAN SEBUAH GAMBARAN OLEH: NURIL ANWAR .SPd Comments Off on STANDARDISASI PERPUSTAKAAN SEBUAH GAMBARAN OLEH: NURIL ANWAR .SPd
  7. PRINCIPAL ROLE IN THE FIELD OF SCHOOL LIBRARY SERVICE By Papa Ovi aishiteru Arema Comments Off on PRINCIPAL ROLE IN THE FIELD OF SCHOOL LIBRARY SERVICE By Papa Ovi aishiteru Arema
  8. The school library Development . Nuril Anwar Comments Off on The school library Development . Nuril Anwar
  9. STANDARDISASI PERPUSTAKAAN SEBUAH GAMBARAN OLEH: NURIL ANWAR .SPd Comments Off on STANDARDISASI PERPUSTAKAAN SEBUAH GAMBARAN OLEH: NURIL ANWAR .SPd